Category Archives: Domestik

Nggak Sekadar Ngabuburit di Taman Suropati



Jakarta

Taman Suropati berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat bisa menjadi pilihan untuk ngabuburit. Di sini, traveler enggak cuma bersantai, tetapi juga bisa melakukan aktivitas lainnya.

Terletak di jantung kota Jakarta dan mudah dijangkau dengan transportasi umum, Taman Suropati menjadi destinasi favorit masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Sudah begitu, taman ini berdekatan dengan Masjid Agung Sunda Kelapa.

Taman ini dilengkapi dengan fasilitas umum seperti toilet, gazebo, bangku taman, dan jogging track.


Berikut 8 kegiatan saat ngabuburit di Taman Suropati:

1. Olahraga ringan

Salah satu kegiatan favorit yang dilakukan pengunjung Taman Suropati adalah berolahraga. Selain memiliki lahan yang cukup luas, Taman Suropati juga dilengkapi dengan jogging track.

Berbagai olahraga lain seperti jalan santai, senam, ataupun yoga bisa dilakukan di Taman Suropati. Memiliki tanaman-tanaman asri dan selalu terawat membuat siapapun akan merasa betah berolahraga di sini.

Nah, saat bulan Ramadan, pengunjung bisa jalan santai atau jogging.

2. Kumpul Komunitas

Banyaknya spot untuk bersantai menjadikan Taman Suropati tempat berkumpul banyak komunitas. Beberapa di antaranya melakukan perkumpulan rutin. Salah satunya Taman Suropati Chamber, komunitas musik biola yang rutin melakukan latihan setiap hari Minggu di sana.

3. Piknik

Taman Suropati memiliki lahan terbuka dengan udara yang sejuk meskipun siang hari. Traveler bisa membawa alas duduk dan bekal untuk berbuka seolah piknik kecil-kecilan di Taman Suropati. Namun, tetap pastikan tidak mengganggu aktivitas pengunjung lainnya dan membuang sampah pada tempatnya ya.

4. Membaca Buku

Tempat yang tenang dan sejuk selalu menjadi pilihan untuk beristirahat sambil membaca buku. Tak perlu khawatir jika sudah bosan dengan buku yang traveler miliki, di Taman Suropati terdapat perpustakaan mini milik bersama.

Di sana traveler bisa meminjam ataupun mendonasikan buku secara gratis. Perpustakaan yang dibangun oleh Jakarta Bookhive ini juga memiliki koleksi buku yang cukup lengkap mulai dari novel, majalah, hingga komik. Jika sudah selesai membaca harap mengembalikan buku pinjaman ke tempat semula ya Traveller.

5. Foto-Foto

Di zaman sekarang tak afdol rasanya jika pergi ke suatu tempat tanpa mengabadikannya dalam jepretan foto. Tenang saja meskipun rindang dengan pepohonan dan tanaman, Taman Suropati memiliki banyak spot estetik mulai dari air mancur, bagian tengah taman, hingga monumen persahabatan ASEAN, yang bisa menjadi opsi Traveller untuk berpose.

6. Bermain bersama Satwa

Taman Suropati kerap menjadi pilihan para pecinta hewan untuk mengajak peliharaan kesayangannya berjalan-jalan. Beberapa catlovers juga terlihat melakukan street feeding kepada kucing-kucing yang ada di Taman Suropati.

Tenang saja, meskipun liar kucing-kucing tersebut sudah di steril dan ramah dengan para pengunjung. Selain itu, traveler juga bisa memberi makan burung-burung merpati yang terbang bebas di kawasan Taman Suropati.

Kendati banyak hewan menyinggahi, taman ini selalu terjaga kebersihannya berkat jasa para petugas kebersihan yang setiap harinya membersihkan kawasan Taman Suropati.

7. Bersantai sambil menghirup udara segar

Jika tidak ingin melakukan aktivitas yang terlalu berat, opsi bersantai sambil menghirup udara segar di Taman Suropati bisa menjadi pilihan. Tersebar banyak tempat duduk yang bisa digunakan untuk bersantai ditemani angin sepoi-sepoi dan pemandangan asri taman.

8. Menjadi pilihan lokasi Work From Anywhere

Selain memiliki udara segar dan pemandangan asri, Taman Suropati juga memiliki fasilitas free WiFi dengan kecepatan hingga 100 Mbps. Tak heran hal ini membuat banyak pengunjung semakin betah berlama-lama di Taman Suropati. Dengan kecepatan WiFi tersebut, Taman Suropati bisa menjadi pilihan jika Traveller penat bekerja dalam kantor.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Akses Menuju Jakarta International Stadium (JIS), Sejarah, dan Fasilitasnya


Jakarta

Jakarta International Stadium (JIS) adalah salah satu fasilitas umum yang banyak dikenal publik. Stadion ini telah banyak digunakan untuk pertandingan hingga konser pasca diresmikan tahun 2022.

Dikutip dari laman Pemerintah Provinsi Jakarta, JIS mengusung tema modern dengan memprioritaskan akses transportasi publik untuk acara nasional hingga internasional. Beberapa transportasi umum yang dapat diakses kesana yaitu.

1. TransJakarta

  • Rute JIS 3 (JIS – Harmoni)
  • Rute 14 (JIS – Senen)
  • Rute 10K (Tanjung Priok – Senen via Taman BMW).

2. KRL Commuter Line Jabodetabek

  • Stasiun Ancol (3,5 km dari JIS)
  • Stasiun Tanjung Priok (4 km dari JIS)
  • Stasiun Bekasi-Stasiun Manggarai-Stasiun Ancol
  • Stasiun Tangerang-Stasiun Duri-Stasiun Kampung Badan-Stasiun Ancol.

3. Mikrotrans

  • Jak 77 (Tanjuk Priok-Jembatan Item)
  • Jak 88 (Tanjung Priok-Ancol Barat).

Sejarah Pembangunan JIS

Jakarta International Stadium (JIS) diresmikan oleh Gubernur Jakarta, Anies Baswedan pada tahun 2022. Awalnya stadion ini akan dinamakan Stadion BMW sesuai nama lahan awalnya yaitu Taman Bersih Manusia Wibawa (BMW).


Latar belakang didirikannya stadion atap buka tutup pertama di Indonesia ini adalah kebutuhan stadion bertaraf Internasional di Indonesia yang masih terbatas. Dengan menggandeng PT Jakarta Propertindo (Jakpro), pemerintah Kota Jakarta membangun pengganti stadion Lebak Bulus dan mewadahi klub sepak bola lokal di Jakarta.

Namun ternyata proyek ini telah digagas terlebih dahulu oleh Fauzi Bowo (Foker) sejak tahun 2008 ketika masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dengan melakukan penggusuran tepat pada 24 Agustus.

Sengketa yang pelik antara masyarakat di wilayah Taman BMW seluas 66,6 hektar atas bangunan liar yang ada akhirnya mandek dan dilanjutkan kembali di masa pemerintahan Joko Widodo. Klaim 2 sertifikat yang dimiliki Pemprov DKI ternyata belum cukup memenangkan gugatan dan akhirnya dilanjutkan kembali oleh Djarot Saiful Hidayat di tahun 2017.

Meskipun Djarot telah meletakkan batu pertama dan sertifikat hak pakai pada tanggal 18 Agustus 2017, pembangunan JIS belum bisa dilakukan. Anies Baswedan sebagai pimpinan berikutnya memperkenalkan JIS pada 14 Maret 2019 dengan menggandeng Jakpro hingga akhirnya selesai dibangun 2022.

JIS pertama kali diluncurkan pada tanggal 19 April 2022 dan resmi dibuka pada 24 Juli 2022 sebagai bukti bahwa kebesaran dan kekuasaan bangsa Indonesia.

Fasilitas Mewah dan Lengkap JIS

Lisensi internasional pada stadion modern ini tentu ditunjang dengan fasilitas yang apik. Berlokasi di Kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok, Kota Jakarta Utara, DKI Jakarta, berikut beberapa fasilitas menarik JIS yang menghabiskan dana sekitar Rp 4,08 Triliun.

1. Ruang Ganti Pemain+Bak Mandi Air Panas

Tidak seperti ruang ganti pada umumnya, khusus tim yang bertanding di stadion ini akan dimanjakan dengan fasilitas ruang ganti yang mewah. Pasalnya di area ruang ganti pemain terdapat bak mandi air panas dan area pemanasan yang mampu membuat pemain relaks sebelum bertanding.

2. Bilik Korporasi

Bilik ini terdapat di lantai 5 dan 6 sisi tribun barat dan timur yang berguna untuk rapat dan bekerja. Ruang ini memberikan pemandangan langsung ke tribun stadion sehingga dapat bekerja sekaligus menonton pertandingan sepak bola yang ada.

3. Media Room

Selain menyediakan ruang untuk rapat, JIS juga memberikan ruangan bagi media untuk melakukan konferensi pers. Terdapat parkir khusus bagi media untuk mempermudah akses dan peliputan informasi terkini dari kegiatan di Jakarta International Stadium (JIS).

4. Jogging Track

Terdapat dua area jogging yang ada di JIS yaitu di ring luar dan rangka bangunan atas. Disini detikers dapat merasakan olahraga dengan nuansa berbeda pemandangan Jakarta di atas ketinggian 72 meter.

5. Sistem Audio dan Internet

Karena juga digunakan untuk konser tingkat internasional, JIS dilengkapi oleh Speech Transmission Index (STI) Pro Sound dengan tekanan suara lebih dari 100dBA-105dBA. Seluruh ruangan juga terkoneksi dengan Wi-Fi yang memudahkan komunikasi di stadion internasional tersebut.

6. Atap Stadion Buka Tutup

Hal yang membuat stadion ini bak di Eropa adalah teknologi buka tutup yang ada di bagian atapnya. Fasilitas unggulan ini sangat fleksibel dan mempermudah kinerja acara hingga tercatat oleh MURI sebagai teknologi stadion tercanggih pertama di Indonesia.

7. Kursi Premium dan Perawatan Eksklusif

Tribun penonton di JIS dapat menampung sekitar 82 ribu penonton dengan sistem kursi tunggal dengan bahan plastik tebal berwarna jingga. Kursi VIP juga dibuat dari jok busa layaknya kursi bus premium yang selalu dibersihkan setiap hari oleh petugas yang ada.

Jakarta International Stadium (JIS) menjadi saksi perhelatan penghargaan bergengsi Golden Disc Award (GDA) ke-38 pada 6 Januari 2024. JIS juga menjadi lokasi konser girlgroup populer dari Korea, Twice, pada 23 Desember 2023.

(row/row)



Sumber : travel.detik.com

Sunan Sendangduwur dan Masjid Ajaibnya di Lamongan



Lamongan

Sunan Sendangduwur atau Raden Noer Rahmat adalah penyebar agama Islam di Lamongan. Ia mendirikan masjid dengan kisah ‘ajaib’ di kota itu. Seperti apa kisahnya?

Raden Noer Rahmat merupakan keturunan Syekh Abdul Qohar dari Baghdad yang merantau ke pulau Jawa dan menikah dengan putri dari Tumenggung Sedayu bernama Dewi Sukarsih.

Hal ini diungkapkan oleh Irfan Masyhuri yang mengaku sebagai keturunan ke-13, sekaligus juru kunci makam Sunan Sendangduwur. Hingga kini, makamnya yang terletak di kawasan dataran tinggi Desa Sendangduwur, Kecamatan Paciran masih banyak dikunjungi para peziarah.


“Raden Noer Rohmat lahir pada tahun 1520 masehi dan saat remaja kemudian berpindah dari Sedayulawas, lalu babat alas di tempat yang bernama Dukuh Tunon ini,” ujar Irfan.

Sejumlah peninggalannya masih terawat dan digunakan hingga kini. Salah satunya yakni masjid yang berada di area pemakaman Sunan Sendangduwur. Ada cerita menarik terkait pembangunan masjid ini.

Menurut cerita, terang Navis, masjid yang berada di makam Sendangduwur ini dibangun tidak secara bertahap. Namun ada beberapa versi cerita yang melingkupi pembangunan masjid ini.

Cerita pertama, masjid tersebut ‘diboyong’ oleh Sunan Sendangduwur dalam waktu kurang dari semalam dari wilayah Mantingan, Jepara, tempat Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono yang saat itu mempunyai masjid.

“Setelah mendapat gelar sunan, Raden Noer Rahmat berharap bisa mendirikan masjid di Desa Sendangduwur. Karena tidak mempunyai kayu, Sunan Drajad menyampaikan masalah ini kepada Sunan Kalijogo yang mengarahkannya pada Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono di Mantingan, Jepara, yang saat itu mempunyai masjid,” ungkap Navis.

Cerita lain terkait masjid ini, ungkap Navis, masjid tersebut dibawa rombongan melalui laut dari Mantingan Jepara menuju KE Lamongan hanya dalam waktu satu malam.

Ketika mendarat di Lamongan, rombongan pengantar masjid ini diterima langsung oleh Sunan Sendangduwur dan Sunan Drajat beserta pengikutnya.

“Saat istirahat inilah sunan menjamu rombongan dari Mantingan itu dengan kupat atau ketupat dan lepet serta legen, minuman khas daerah setempat,” papar Navis.

Pendirian masjid sendiri ditandai dengan surya sengkala yang berbunyi ‘gunaning seliro tirti hayu’ yang berarti menunjukkan angka tahun baru 1483 Saka atau Tahun 1561 Masehi.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Pohon Kantil Ini Jadi Saksi Bisu Masjid Berusia 4 Abad di Klaten



Klaten

Di Klaten, ada sebuah masjid yang konon usianya sudah 4 abad. Saksi bisunya adalah sebuah pohon kantil yang tumbuh di depannya. Begini kisahnya:

Masjid Roudlotuzzahidin yang berada di Dusun Tegalarum, Desa Kunden, Kecamatan Karanganom, merupakan salah satu masjid tua yang tersisa di Klaten. Masjid tersebut konon didirikan sekitar tahun 1000 H atau 1581 Masehi pada masa kesultanan Pajang, Solo, 443 tahun silam.

Jejak masjid tua itu terlihat dari arsitektur di dalamnya. Ada empat tiang kayu jati utuh yang menjadi penopang utama bangunan masjid meski temboknya kini tampak keramik.


Pada bagian atapnya, bangunan masjid ini menggunakan kayu. Bangunan Masjid Roudlotuzzahidin ini mirip Masjid Golo dan Masjid Kajoran di sekitar kompleks makam Sunan Pandanaran, Desa Paseban, Kecamatan Bayat.

Lalu di sisi utara masjid masih terdapat kolam air sebagaimana masjid kuno umumnya. Kolam air tersebut masih dipertahankan meskipun tidak lagi digunakan untuk bersuci.

Arsitektur Masjid Roudlotuzzahidin di Tegalarum, Klaten. Banguna masjid ini diperkirakan berusia 443 tahun. Foto diambil Sabtu (30/3/2024).Kolam air di Masjid Roudlotuzzahidin Klaten Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Tak hanya kolam air, model bangunan masjid kuno juga terlihat dari pohon kantil tua di depan masjid. Pohon kantil berdiameter sekitar 80 sentimeter itu menyisakan kulit kayunya yang mengelupas karena usia.

Pohon yang memiliki berbagai mitos bagi masyarakat Jawa itu juga masih berdiri kokoh di badan jalan kampung. Pengurus masjid pun tak berencana menebang pohon kantil itu karena menjadi saksi bisu sejarah masjid berusia lebih dari 400 tahun ini.

“Usia masjid ini sudah 400-an tahun. Ini (pohon kantil) termasuk peninggalan karena ditanam bersamaan pendirian masjid,” kata Penasihat Takmir Masjid, Muhammad Asrori (80) dalam bahasa Jawa, Sabtu (30/3) akhir pekan lalu.

Sejarah Berdirinya Masjid

Asrori yang juga sesepuh masjid, Dusun Tegalarum dulunya berupa tegalan tanpa penduduk. Pada masa itu, tahun 1581 masa Kasultanan Pajang, Solo, ada seorang bangsawan yang meminta lokasi itu dijadikan tempat penyebaran agama Islam.

“Bangsawan itu minta diajari ngaji, kemudian meminta kepada Kiai Syarifuddin di Gading Santren (Desa Belang wetan, Kecamatan Klaten Utara) mengirim guru ngaji. Lalu dikirim Mbah Kiai Ahmad Mahrom ke sini,” tutur Asrori.

Asrori menerangkan Kiai Ahmad Mahrom lalu membersihkan tegalan yang ditumbuhi ilalang untuk didirikan masjid. Semakin lama pengajian semakin ramai sehingga santri membangun rumah di sekitar masjid.

“Terus santri buat rumah sekitar sini terus sampai sekarang pada bisa ngaji, ada sekolah ada pesantren. Makam Mbah Kiai Ahmad Mahrom di belakang masjid,” lanjut Asrori.

Asrori menuturkan masjid ini kini sudah dipugar dari bangunan aslinya. Dulunya ada tangga yang terbuat dari kayu papan dan mimbar yang kini sudah tidak ada. Namun, pohon kantil tua itu masih dipertahankan sebagai pengingat sejarah.

“Tidak ditebang karena untuk sejarah, karena bunga kantil banyak dan harum baunya, di sini dinamakan Tegalarum,” imbuhnya.

Arsitektur Masjid Roudlotuzzahidin di Tegalarum, Klaten. Banguna masjid ini diperkirakan berusia 443 tahun. Foto diambil Sabtu (30/3/2024).Masjid Roudlotuzzahidin di Tegalarum, Klaten. Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Penasihat masjid lainnya, Muhammad Busairi (79) menambahkan, dulunya mimbar masjid berasal dari kerajaan. Ada ukiran dan ada tongkatnya untuk khotbah.

“Ada tongkatnya, ukiran karena dari kerajaan tapi sudah rusak dan tidak ada lagi. Kalau bunga kantil dulu banyak yang cari ke sini,” kata Busairi.

Peninggalan lain, sebut Busairi, adalah kolam air untuk bersuci. Dia mengenang ada banyak orang yang mengambil air dari kolam itu untuk berbagai keperluan.

“Orang sakit dimandikan di sini, orang mau cari jabatan mandi ke sini. Tapi itu zaman dulu, ya hanya sebagai sarana, tapi sekarang sudah tidak ada,” terang Busairi.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

5 Bangunan Saksi Sejarah Penyebaran Islam di Jakbar



Jakarta

Jejak penyebaran Islam di Jakarta Barat terekam melalui deretan masjid ini. Apa saja?

Bersama Sudin Parekraf Jakbar (30/3/24) detikTravel berkesempatan mengunjungi sejumlah masjid untuk menelusuri sejarah penyebaran agama islam di Jakbar.

1. Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari

Banyak orang mengira bahwa Masjid Istiqlal merupakan masjid raya pertama di Jakarta, namun nyatanya Masjid Istiqlal merupakan milik negara. Adalah Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari yang menjadi masjid raya pertama di Jakarta.


Masjid itu berada di Duri Kosambi, Kecamatan Cengkareng, Kota Jakarta Barat. Dibangun pada lahan seluar 2,4 hektar, masjid yang dibangun pada masa pemerintahan Ahok itu memiliki daya tampung hingga 12.500 jamaah.

Diresmikan pada 15 April 2017, Adhi Moersid selaku arsitek merancang masjid itu dengan nuansa budaya budaya Betawi yang kental, terlihat bangunan atap limas runcing tanpa kubah, ornamen gigi balang pada bangunan, dan pagar langkan juga menghiasi masjid ini.

Berada di lokasi yang luas membuat masjid ini juga kerap digunakan untuk berbagai kegiatan ekonomi dan menjadi salah satu tempat isolasi para pasien Covid pada masa pandemi.

2. Masjid Jami An-Nawier

Masjid ini menjadi bukti bahwa komunitas Arab pernah berjaya di Batavia. Meskipun berada di kawasan Pekojan, masjid itu tak hanya berarsitektur Arab, namun juga memiliki perpaduan gaya Timur Tengah, Tionghoa, Eropa, dan Jawa pada bangunannya.

Didirikan pada tahun 1760 Masehi, masjid itu mulanya memiliki luas 500 meter persegi. Kini, masjid itu diperluas hingga hampir 2000 meter persegi.

Menurut Ketua Pengurus Masjid Jami An-Nawier Ustaz Dikky di masjid itu juga masih menjaga tempat wudu yang orisinil berbentuk kolam dengan sebagai saksi sejarah umat muslim zaman dahulu.

“Ada juga tempat wudu yang menjadi satu saksi sejarah peninggalan yang sudah langka di berbagai wilayah,” kata dia.

Tak hanya sebagai masjid, terdapat bangunan 400 meter persegi yang digunakan sebagai rumah wakaf untuk berdagang yang hasilnya digunakan untuk kesejahteraan masjid.

3. Masjid Langgar Tinggi

Masjid itu merupakan bangunan musala tua yang masih terlestarikan sebagai cagar budaya hingga saat ini. Populer dengan nama Langgar Tinggi karena memiliki 2 lantai yang dijadikan tempat untuk beribadah.

Masjid itu dibangun oleh Syekh Said bin Naum selaku Kapiten Arab pertama di Batavia pada tahun 1829. Masjid itu menjadi asal-usul kampung sekitarnya diberi nama Pekojan. Masjid itu lama-lama dikepung permukiman warga setelah didatangi oleh orang-orang India saat itu.

Bangunan masjid itu juga menyerap berbagai nilai kebudayaan dari berbagai suku dan etnis. Pilar-pilar pada masjid ini mencerminkan kebudayaan Eropa, penyangga bagian luar diserap dari kebudayaan China, dan penggunaan balok-balok rangka payung yang mencerminkan kebudayaan Jawa.

4. Masjid Jami Angke

Berada di Kampung Angke sebagai pusat transit para pedagang dan pendakwah dari mancanegara membuat bangunan masjid ini juga memiliki arsitektur yang unik.

Dibangun pada tahun 1761 Masehi, pada masa pemerintahan Pangeran Jayakarta II, itu menunjukkan perpaduan budaya Bali, Belanda, Maroko, China, dan Jawa. Itu menunjukkan filosofi masjid itu, yakni pada masa lampau hidup berdampingan berbagai suku dan etnis di Kampung Angke.

Muhammad Abyan, Ketua Sarpras dan Sejarah Masjid Jami Angke, mengatakan bahwa toleransi keberagaman yang ada di lingkungan sekitar masjid pun terlihat sangat erat hingga saat ini.

“Dari dulu sudah ditanamkan nilai kerukunan dan kesatuan, yang tionghoa tidak merasa minoritas kami yang muslim juga tidak merasa mayoritas,” kata dia.

Pada bagian barat dan timur masjid terdapat beberapa makam tokoh-tokoh terkait sejarah Kampung Angke. Di antaranya, Syekh Jafar, Syekh Syarif Hamid Al-Qadri dari Kesultanan Pontianak.

5. Makam Pangeran Wijaya Kusuma

Makam ini menjadi cikal bakal terbentuknya nama Wijaya Kusuma sebagai salah satu nama kelurahan di Grogol, Jakarta Barat.

Pangeran Wijaya Kusuma adalah seorang penasehat sekaligus panglima perang pada masa kejayaan Pangeran Jayakarta. Pangeran Jayakarta berasal dari Banten dan sangat menentang Belanda pada abad ke-17.

Hingga kini makam Pangeran Wijaya Kusumarutin dikunjungi oleh para peziarah untuk melakukan tahlilan atau pengajian yang biasanya dilaksanakan pada malam Jumat.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Di Masjid Ini, Khatib Berkhotbah Sambil Pegang Tombak



Jakarta

Biasa masjid memiliki mimbar untuk berkhotbah. Berbeda dengan masjid yang satu ini, selain mimbar sang khatib diwajibkan untuk memegang tombak saat berkhotbah.

Tradisi unik itu ada di Masjid Jami Angke Al-Anwar, Tambora, Jakarta Barat, masjid tertua di Jakarta. Masjid yang juga mempunyai pembeda dengan sentuhan arsitektur Bali, Belanda, Jawa, dan China yang menunjukkan keberagaman.

Bukan mimbar kayu layaknya masjid masa kini, mimbar Masjid Jami Angke dibangun dengan beton bergaya Eropa dan dibuat lebih tinggi daripada mihrab.


Selain microphone dan kursi kayu, di mimbar Masjid Jami Angke Al-Anwar terdapat benda unik yang jarang sekali ditemukan di mimbar masjid lainnya yakni, satu buah tombak yang akan di genggam oleh sang khatib ketika menyampaikan khotbahnya.

Menurut Muhammad Abyan Ketua Sarpras dan Sejarah Masjid Jami Angke, tradisi tersebut dilakukan secara turun temurun sejak zaman dahulu. Berdirinya tombak kayu yang ada di mimbar ini bukan tanpa maksud. Itu menggambarkan ketegasan dan seorang khatib dan menyimbolkan semangat para pejuang kemerdekaan di Kampung Angke.

“Memang sudah tradisi dari dulu, menyimbolkan ketegasan,” kata Abyan.

Tombak kayu tersebut memiliki tinggi sekitar 150 cm dengan mata tombak berbahan kayu berwarna kuning emas. Sangat disayangkan, mata tombak asli dari tombak tersebut telah dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Kemudian, mata tombak tersebut digantikan dengan mata tombak baru yang dibuat semirip mungkin dengan aslinya.

Tradisi unik ini berkaitan dengan Kampung Angke yang pada abad ke-17 menjadi pusat pertahanan Batavia saat itu. Hal ini karena Belanda tidak mencium adanya pergerakan pemberontakan di Kampung ini dan hanya dianggap sebagai lokasi ibadah saja. Sehingga, kawasan Kampung Angke menjadi lokasi yang aman untuk menyusun strategi pemberontakan para pejuang Tanah Air.

“Kenapa di Angke ini menjadi sentral karena Belanda tidak mencium adanya pergerakan disini, padahal masyarakat di sini selain beribadah, syiar, dan berdagang juga melatih strategi peperangan di sini untuk melawan VOC,” kata Abyan saat Kunjungan Wisata Religi Jakarta Barat pada Minggu (30/3/24).

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

5 Fakta Gunung Api Dieng, Punya Banyak Kawah dengan Kaldera Raksasa



Jakarta

Dieng, yang berada di ketinggian sekitar 2.000 mdpl, dijuluki negeri di atas awan. Pernah ada tragedi hingga mayat bergelimangan.

View menawan membuat Dieng yang berada di Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah diburu wisatawan. Tanahnya juga subur menjadi sumber penghidupan warga lokal.

Tetapi, di balik keindahan tersebut ada bahaya mematikan. Di sana terdapat kompleks gunung api dengan puluhan kawah dan kaldera raksasa. Dieng adalah dataran vulkanik aktif yang sewaktu-waktu mengeluarkan gas beracun.

Di masa lalu, Dieng adalah sebuah kompleks gunung berapi yang terdiri dari Gunung Prau, Gunung Jimat, Bukit Rogo Jembangan, dan Tlerep. Saat ini, gunung-gunung tersebut telah menjadi lembah alam yang melingkupi wilayah Dieng.

Di tengah-tengah kompleks itu terletak kaldera raksasa yang terbentuk berabad-abad yang lalu. Potensi vulkanik yang tetap aktif telah menghasilkan beberapa gunung baru seperti Gunung Bismo-Sidede, Seroja, Nagasari, Pangonan, dan Pager Kandang.

Gunung Api Dieng terletak di KabKota Banjarnegara, Wonosobo, Batang, Jawa Tengah dengan posisi geografis di Latitude -7.2°LU, Longitude 109.92°BT dan memiliki ketinggian 2565 mdpl.

Gunung Api Dieng merupakan kawasan vulkanik aktif di Jawa Tengah yang memiliki potensi erupsi freatik. Baru-baru ini kembali viral kisah ratusan orang yang tewas di kawasan Dieng akibat menghirup gas beracun karbondioksida.


Beberapa peristiwa dari gunung api Dieng tentu pernah menelan korban jiwa yang tidak sedikit.

Berikut ini adalah 5 fakta gunung api di Dataran Tinggi Dieng.

1. Dapat Julukan Volcano Complex

Dieng berasal dari bahasa Jawa Kawi, yang berarti “tempat atau gunung” (Di) dan “Dewa/Dewi” (Hyang). Artinya secara harfiah, Dieng merupakan “tempat Dewa/Dewi bersemayam”.

Para ahli gunung api menggambarkan Dieng bukan hanya sebagai sebuah gunung api tunggal, melainkan sebagai kompleks gunung api atau “volcano complex”. Itu menunjukkan bahwa di bawah kawasan Dieng terdapat banyak bentukan puncak gunung api akibat banyaknya lokasi magma yang mencapai permukaan.

Dari citra udara, terlihat bahwa dataran tinggi Dieng adalah satu tubuh gunung api besar yang telah hancur karena erupsi, membentuk puncak-puncak gunung api baru di sekitar bekas gunung api yang lama serta di bagian tengah kaldera Dieng.

2. Terdapat 22 Kawah

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan terdapat 22 kawah di kawasan Dieng. Di Kabupaten Banjarnegara, terdapat delapan kawah di Gunung Api Dieng, yakni Kawah Timbang, Kawah Sinila, Kawah Sigludug, Kawah Sileri, Kawah Condrodimuko, Kawah Sikidang, Kawah Sibanteng, dan Kawah Bitingan.

Sementara itu, di Kabupaten Batang terdapat lima kawah, termasuk Kawah Sibanger, Kawah Wanapria, Kawah Wanasida, Kawah Siglagah, dan Kawah Pagerkandang. Di Kabupaten Wonosobo, terdapat empat kawah, yaitu kawah Sikidang, kawah Sikunang, kawah Pulosari, dan kawah Pakuwojo.

Kawah yang paling berpotensi mematikan adalah kawah Timbang. Tiga kawah juga berpotensi mengeluarkan gas beracun, yakni Kawah Timbang, Sinila, dan Sikendang.

3. Sejarah Erupsi Gunung Api Dieng

Gunung Berapi Dieng terletak di dataran tinggi Jawa Tengah dan telah mengalami berbagai aktivitas vulkanik selama beberapa abad. Sebagian besar aktivitasnya terdiri dari letusan freatik dan kegiatan panas bumi seperti fumarol, solfatar, kolam lumpur, dan sumber air panas.

Letusan paling mematikan terjadi pada tahun 1979, ketika emisi karbon dioksida yang disertai dengan letusan freatik menewaskan 149 orang. Pada tahun 1992, emisi gas beracun dari Kawah Sikidang juga mengakibatkan satu orang tewas.

Erupsi lainnya tercatat pada tahun 1944, menyebabkan hujan abu dan lumpur di beberapa desa dengan korban jiwa mencapai puluhan orang. Erupsi freatik juga terjadi pada tahun 1939, menghasilkan retakan lereng dan pancaran lumpur.

Selain itu, terdapat catatan erupsi pada tahun-tahun lainnya, termasuk pada tahun 1943, 1928, 1883 – 1884, 1847, 1826, 1825, 1786, 1776, dan 1375.

4. Ada Monumen Bencana Alam

Gunung Dieng tergolong dalam kategori gunung api tipe A, yang artinya gunung ini memiliki catatan letusan sejak tahun 1600. Meskipun tidak ada catatan sejarah yang detail mengenai hal ini, namun terdapat monumen bencana alam di lokasi tersebut yang mencatat aktivitas letusan gunung tersebut pada abad ke-19.

Catatan bencana paling lama yang terdapat di monumen tersebut adalah pada tahun 1776, yang diambil dari dokumen Belanda kuno, menunjukkan bahwa Gunung Dieng pernah mengalami letusan dahsyat di masa lalu.

5. Masuk Kawasan Rawan Bencana

Dataran Tinggi Dieng terbagi menjadi tiga kawasan rawan bencana. Kawasan Rawan Bencana III merupakan area yang berpotensi menghasilkan gas beracun, hujan lumpur, dan aliran lumpur, termasuk daerah sekitar Kawah Timbang, Telaga Nila, dan Sumur Jalatunda. Karena risiko gas beracun yang bisa keluar kapan saja, penduduk tidak diperbolehkan tinggal di kawasan ini.

Kawasan Rawan Bencana II adalah area yang berpotensi terkena lontaran batu, hujan lumpur, dan aliran lahar. Termasuk di sini adalah lereng barat daya Kawah Timbang, bagian utara Kawah Sinila, dan bagian timur Sumur Jalatunda. Sekitar 10.000 jiwa tinggal di kawasan rawan bencana ini.

Kawasan Rawan Bencana I adalah area yang diperkirakan akan menjadi perluasan dari Kawasan Rawan Bencana II jika terjadi letusan yang cukup besar. Kawasan ini termasuk tiga dusun di Desa Sumberejo dan Kota Kecamatan Batur.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

12 Wisata Malang yang Murah untuk Keluarga, Ada Pantai hingga Kebun Teh


Malang

Malang adalah salah satu provinsi yang banyak dituju oleh wisatawan. Sebab, Malang menyajikan berbagai wisata menarik untuk dikunjungi.

Beberapa wisatanya cocok untuk didatangi bersama keluarga dengan harga yang murah. Apa saja? Simak beberapa rekomendasi wisatanya berikut ini.

Wisata Malang Murah untuk Keluarga

Ada banyak wisata malang yang murah untuk dikunjungi bersama keluarga. Mulai dari pantai, alun-alun, hingga kebun teh.


1. Pantai Balekambang

Balekambang merupakan salah satu pantai terkenal di Malang. Di sini terdapat Pura Amertha Jati yang berada di pulau karang dan kerap disebut mirip Tanah Lot di Bali.

Wisatawan yang ingin berkunjung ke pulau karang yang bernama Pulau Ismoyo tersebut harus menyeberangi jembatan sepanjang 70 meter. Menurut laman resmi Pemkot Malang, akses jalan menuju pantai mulus dan wisatawan akan disuguhi pemandangan pepohonan rindang serta udara yang sejuk.

Lokasi: Dusun Sumber Jambe, Desa Srigonco, Jalan Balekambang, Balekambang, Sumberbening, Bantur, Malang.
Harga tiket: Rp 20.000
Jam operasional: 24 jam

2. Alun-alun Kota Malang

Alun-alun Malang adalah salah satu destinasi yang sayang untuk dilewatkan.
Menurut buku Cintaku Tertambat di Kota Malang oleh Muslimin dan Kalista, ada dua alun-alun di kota Malang, yaitu Alun-alun Merdeka dan Alun alun Bunder.

Di alun-alun Merdeka terdapat air mancur menari, area skateboard, playground, masjid jami’, jalur sepeda hingga jalur pejalan kaki yang rapi. Semenara di Alun-alun bunder yang lokasinya tak jauh dengan alun-alun merdeka terdapat Monumen Tugu dan Balai Kota Malang

Lokasi:

Alun-alun Merdeka: Jalan Merdeka Selatan, Kecamatan Klojen, Malang, Jawa Timur
Alun-alun Bunder:Jalan Tugu, Kidul Dalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Hanya berjarak 700 meter dari Alun-alun Merdeka.
Harga Tiket: Gratis
Jam operasional: 24 jam

3. Kampung Warna-warni

Wisatawan berjalan di jembatan kaca saat mengunjungi Kampung Warna-Warni Jodipan di Malang, Jawa Timur, Kamis (20/7/2023). Kampung warna-warni yang dibuka sebagai objek wisata sejak tahun 2016 tersebut saat ini dicat ulang secara bertahap pada ratusan rumah milik warga setempat yang dimulai dari awal tahun 2023 untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisata. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/rwa.Kampung warna-warni yang dibuka sebagai objek wisata sejak tahun 2016 tersebut saat ini dicat ulang secara bertahap pada ratusan rumah milik warga setempat yang dimulai dari awal tahun 2023 untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisata. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/rwa. Foto: ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

Sesuai warnanya, kampung warna warni memiliki rumah-rumah yang dicat dengan aneka warna. Rumah-rumahnya terlihat indah dan menjunjung nilai seni.

Kamu bisa berfoto di spot-spotnya yang menarik. Menurut laman pemprov Malang, kampung warna-warni kini dikenal semakin luas. Sehingga, banyak wisatawan domestik hingga mancanegara berdatangan.

Lokasi:Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur
Harga Tiket: Rp 3.000
Jam operasional: 07.00-18.00 WIB

4. Pantai Batu Bengkung

Salah satu wisata Pantai di Malang Selaan ini menawarkan keunikan berupa adanya kolam alami di bibir pantai. Mengutip laman Kabupaten Malang, dinamakan Batu Bengkung disebabkan karena pada bibir pantai terdapat batu melengkung

Pemandangan pantai yang menawan dapat dilihat dari atas bukit. Terlihat pula pantai terpisah dengan bukit karang serta bebatuan yang dipadu dengan pasir putih agak kecoklatan.

Lokasi: Desa Gajahrejo, Gedangan, Kabupaten Malang.
Harga Tiket: Rp 10.000
Jam operasional: 24 jam

5. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kamis (7/12/2023).Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kamis (7/12/2023). Foto: Weka Kanaka/detikcom

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memiliki luas mencapai 50.276,3 hektare.
Mengutip laman Kabupaten Malang, taman ini memiliki pohon-pohon besar dan berusia ratusan tahun seperti cemara gunung, jamuju, edelweis, dan berbagai jenis anggrek serta rumput langka.

Adapun satwa langka yang dilindungi di antaranya luwak, rusa, kera ekor panjang, kijang, hingga elang bondol. Dari rute Malang, traveler yang mau hiking di Bromo bisa menikmati keindahan lautan pasir yang begitu panjang.

Lokasi: Secara administratif, TN Bromo Tengger Semeru berada di Kabupaten Malang, Pasuruan, Lumajang, dan Probolinggo.
Harga tiket: Weekdays Rp 29.000 dan Weekend 34.000.
Jam operasional: 24 jam

6. Hutan Pinus Semeru

Hutan Pinus Semeru berada di bawah kaki Gunung Semeru, sehingga udaranya begitu sejuk. Suguhan pohon pinusnya masih begitu alami.

Mengutip laman instagramnya, Hutan Pinus Semeru menyediakan beragam spot foto dengan pemandangan yang Indah. Tempat ini dikelola oleh warga dusun Sumber Putih Wajar.

Lokasi: Sumberputih, Wajak, Kabupaten Malang
Harga Tiket: Rp 5.000
Jam Operasional: 24 jam

7. Taman Langit

Di Taman Langit, wisatawan bisa berfoto bertemakan negeri dongeng. Menurut salah satu laman agen travel, destinasi ini berada di kawasan Gunung Banyak di ketinggian 1.315 mdpl.

Traveler bisa mendapatkan pemandangan indah dari ketinggian. Ada banyak spot foto yang disediakan untuk wisatawan. Hawanya begitu sejuk dan juga dingin.

Lokasi: Jl. Gunung Banyak, Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Harga tiket masuk: Rp 10.000
Jam operasional: 07.00-23.00

8. Goa Pinus Pujon

Pada awalnya hutan pinus ini adalah bekas penambangan pasir. Berkat kreativitas pengelolanya, jadilah kawasan wisata yang menarik dikunjungi.

Gua-gua yang terdapat di kawasan ini adalah buatan. Namun di dalamnya terdapat stalaktit dan stalakmit seperti gua alami. Adapun beberapa spot yang bisa dinikmati di antaranya pemandangan dari atas bukit, rumah papua, dan rumah kayu.

Lokasi: Gunungѕаrі, Bumіаjі, Kota Bаtu, Prоvіnѕі Jаwа Tіmur
Harga tiket: Rp 10.000
Jam operasional: 07.00-17.30.

9. Wisata Agro Wonosari

tidak perlu jauh datang keluar kota untuk bisa menuju puncak pegunungan. cukup ke Agrowisata Kebun Teh Wonosaritidak perlu jauh datang keluar kota untuk bisa menuju puncak pegunungan. cukup ke Agrowisata Kebun Teh Wonosari Foto: detik

Melihat instagram resminya, ada banyak spot cantik yang dapat dijadikan tempat berfoto. Mulai dari kebun tehnya, jembatan kayu hingga di depan tulisan WONOSARI dengan latar pegunungan, hingga pabrik teh.

Kebut teh ini merupakan salah satu unit kebun milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII. Selain berfoto-foto ada juga ATV yang bisa dinaiki untuk mengelilingi kebun teh.

Lokasi: Bodean Putuk, Toyomarto, Kecamatan Singosari, Malang, Jawa Timur
Harga tiket: Senin-Jumat Rp 15.000, Sabtu-Minggu Rp 20.000.
Jam operasional: 06.00-17.00 WIB.

10. Pantai Tiga Warna

pantai tiga warna malangpantai tiga warna malang Foto: Hailani Masita/d’Traveler

Pantai Tiga Warna adalah kawasan rehabilitasi dan konservasi terumbu karang, mangrove dan hutan lindung. Menurut laman Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang, pantai ini mempunyai warna air yang berbeda-beda, yaitu biru, hijau, dan coklat.

Ombak pantai cukup tenang dan memang menjadi spot snorkeling di Malang. Pantai ini berhadapan langsung dengan Pulau Sempu.

Lokasi: Jl. Sendang Biru, Area Sawah/Kebun, Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Harga tiket: Rp 10.000
Jam operasional: 07.00-16.00 WIB (Kamis tutup)

11. Taman Kunang-kunang

Menurut laman Pemkot Malang, bentuk Taman Kunang-kunang terinspirasi dari indahnya kunang-kunang. Taman ini diresmikan pada bulan April 2015.

Traveler disarankan untuk datang di malam hari. Sebab, ada banyak lampu yang menghiasi seluruh sudut taman. Di sini terdapat fasilitas perpustakaan untuk wisatawan.

Lokasi: Jalan Jakarta Oro-Oro Dowo, Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang
Harga tiket: Rp 10.000
Jam operasional: 24 jam

12. Monumen Juang 45 Malang

Monumen Juang 45 cocok untuk didatangi untuk kamu dan keluarga yang suka sejarah. Tempat ini hanya berjarak 750 meter dari Stasiun Malang.

Monumen yang ada memiliki makna mengenai perlawanan rakyat Malang saat mempertahankan kemerdekaan.

Lokasi: Jalan Kertanegara, Klojen, Kecamatan Klojen, Kota Malang
Harga tiket: Gratis
Jam Operasional: Setiap hari dari 09.00-17.00 WIB

Itulah 10 wisata Malang yang murah untuk keluarga. Semoga liburanmu menyenangkan ya.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Ini 10 Tempat Wisata Keluarga di Batu yang Asyik dan Menarik


Jakarta

Kota Batu, Jawa Timur menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi masyarakat di Jawa Timur. Apalagi, menjelang libur Lebaran jumlah wisatawan yang berkunjung ke Batu bisa membeludak.

Sebab, ada sejumlah tempat wisata keluarga di Batu yang wajib dikunjungi. Bahkan beberapa tempat wisata sudah sangat terkenal dan selalu ramai didatangi saat libur Lebaran atau sekolah.

Penasaran, apa saja tempat wisata keluarga di Batu yang pas untuk seru-seruan? Simak daftarnya dalam artikel ini.


Tempat Wisata Keluarga di Batu

Kota Batu cukup dekat dari sejumlah kota besar di sekitarnya, seperti Surabaya dan Malang. Jika detikers bosan berwisata ke tempat yang itu-itu saja, cobalah berkunjung ke Batu.

Jangan khawatir, detikTravel telah merangkum sejumlah tempat wisata keluarga di Batu yang asyik dan menarik. Simak di bawah ini yuk!

1. Museum Angkut

Rekomendasi yang pertama ada Museum Angkut. Tempat wisata yang satu ini sudah sangat populer di telinga masyarakat, sebab ada berbagai aktivitas seru yang bisa dilakukan di sini.

Sesuai namanya, Museum Angkut menampilkan beragam koleksi kendaraan, mulai dari mobil klasik sampai yang menyimpan sejarah penting bagi Indonesia.

Salah satunya yang menarik perhatian adalah mobil dinas milik Presiden Sukarno, yaitu Chrysler Windsor Deluxe lansiran 1952.

Lalu ada juga berbagai pertunjukan yang memukau pengunjung, di antaranya Man On Fire, Vehicle Live Action, serta Cars and Costume Parade.

  • Lokasi: Jl. Terusan Sultan Agung Nomor 2, Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur.
  • Harga tiket masuk: Rp 100.000-Rp120.000/orang.

2. Taman Langit

Tempat wisata berikutnya adalah Taman Langit. Di sini, detikers akan disuguhkan berbagai spot foto dengan tema negeri dongeng.

Selain itu, tempat ini juga terkenal akan ‘Cahaya Cakra Manusia’ yang dipresentasikan oleh sosok bidadari seperti dua patung perempuan bersayap yang ada di dalam lokasi wisata.

Selain itu, Taman Langit juga menghadirkan patung-patung lain dengan beragam bentuk, mulai dari angsa, sarang burung, garuda, singa, dan masih banyak lagi.

  • Lokasi: Jl. Gunung Banyak, Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
  • Harga tiket masuk: Rp 10.000/orang.

3. Goa Pinus Pujon

Tempat ini awalnya merupakan bekas penambangan pasir. Namun, kreatifitas dari pihak pengelola berhasil mengubah tempat ini menjadi wisata yang menarik untuk dikunjungi, baik bersama teman-teman ataupun keluarga.

Untuk masuk ke dalam Goa Pinus Pujon harus hati-hati, sebab goa ini hanya memiliki tinggi sekitar 1 meter saja. Jadi, travelers harus sedikit membungkuk ketika berjalan.

  • Lokasi: Gunungѕаrі, Bumіаjі, Kota Bаtu, Prоvіnѕі Jаwа Tіmur.
  • Harga tiket masuk: Rp 10.000/orang.

4. Batu Night Spectacular (BNS)

Tempat wisata berikutnya adalah Batu Night Spectacular atau disingkat BNS. Di sini, kamu bisa seru-seruan bareng anggota keluarga dengan bermain di sejumlah wahana.

Selain itu, ada juga sejumlah spot foto menarik di BNS, mulai dari balon udara hingga replika tempat dari film atau suatu negara. Contohnya ada spot foto Menara Eiffel Prancis atau kereta ala film Cinderella.

  • Lokasi: Jalan Hayam Wuruk No.1, Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu.
  • Harga tiket masuk: Rp 35.000-Rp 40.000/orang.

5. Batu Love Garden

Apakah kamu suka ke tempat yang penuh dengan pemandangan alam dan kebun? Jika iya, coba datang ke Batu Love Garden (Baloga). Di sini, travelers bisa melihat ratusan jenis bunga yang tumbuh di dalam taman bunga indoor.

Selain itu, di Baloga juga terdapat berbagai wahana outdoor, mulai dari wahana menaiki unta, taman bermain anak, go kart, hingga memetik sayur dan buah.

  • Lokasi: Jalan Raya Pandanrejo Nomor 91, Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
  • Harga tiket masuk: Rp 60.000-Rp80.000/orang.

6. Jatim Park 1

Kurang lengkap rasanya kalo ke Kota Batu namun tak sempat berkunjung ke Jatim Park 1. Tempat wisata ini cocok banget untuk keluarga karena ada banyak wahana menarik dan edukatif.

Kalau ingin seru-seruan bareng teman, di Jatim Park 1 juga ada wahana roller coaster ekstrim yang memacu adrenalin. Bagi si kecil yang penasaran akan ilmu pengetahuan, destinasi wisata ini juga menghadirkan museum science.

  • Lokasi: Jl. Kartika No.2, Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur.
  • Harga tiket masuk: mulai dari Rp 100.000/orang.

7. Jatim Park 2

Tak puas hanya ke Jatim Park 1? Ajak sekeluarga untuk berkunjung ke Jatim Park 2. Tempat yang satu ini masih tergabung dalam Jatim Park Group, kok. Hanya saja, Jatim Park 2 menawarkan konsep yang berbeda.

Di Jatim Park 2 mengusung konsep kebun binatang yang terdapat banyak koleksi hewan dari berbagai negara yang bisa dilihat. Lalu, ada juga sejumlah koleksi fosil hewan purba yang dipamerkan di sini.

So, Jatim Park 2 lebih cocok bagi detikers yang mengajak anak-anak karena bisa jalan-jalan sambil memberikan pengetahuan.

  • Lokasi: Jl. Raya Oro-Oro Ombo No.9, Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur.
  • Harga Tiket: mulai dari Rp 140.000/orang.

8. Jatim Park 3

Jatim Park 3 merupakan tempat wisata terbaru yang dibuat oleh Jatim Park Group. Tempat wisata ini mengusung tema yang lebih unik lagi karena bertemakan dinosaurus. Maka dari itu, Jatim Park 3 sering disebut sebagai Dino Park.

Ada banyak wahana seru yang hadir di sini, mulai dari Dino Park dengan nuansa Timur Tengah hingga Ice Age yang identik dengan zaman es purba. Uniknya, di Jatim Park 3 juga menghadirkan wahana Fun Tech yang bertemakan masa depan.

  • Lokasi: Jl. Ir. Soekarno No.144, Beji, Kec. Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur.
  • Harga Tiket: mulai dari Rp 70.000/orang.

9. Coban Talun

Tempat wisata berikutnya adalah Coban Talun. Di tempat ini detikers bakal dimanjakan dengan air terjun yang tinggi dan indah sekali.

Dahulu, Coban Talun hanyalah air terjun pada umumnya. Namun seiring waktu tempat ini mulai dikembangkan oleh pihak pengelola menjadi objek wisata. Bahkan, travelers bisa menginap di tempat ini, lho.

  • Lokasi: Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo, Bumiaji, Kota Wisata Batu.
  • Harga tiket masuk: Rp 10.000/orang.

10. Alun-alun Kota Batu

Destinasi wisata yang terakhir adalah Alun-alun Kota Batu. Tempat ini sangat cocok untuk kamu yang ingin mencicipi berbagai kuliner lezat dan mengenyangkan.

Alun-alun ini kerap dijuluki sebagai ‘Pasar Laron’ karena tempat ini selalu ramai dikunjungi wisatawan yang ingin membeli jajanan. Agar tidak antre terlalu lama, disarankan datang sejak pukul 17.00.

Tenang saja, tempat ini tidak dipatok tiket masuk alias gratis. Hanya saja, siapkan uang untuk parkir bagi travelers yang membawa kendaraan pribadi.

  • Lokasi: Jalan Diponegoro, Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur.
  • Harga tiket masuk: gratis.

Itu dia 10 tempat wisata keluarga di Batu yang asyik dan menarik untuk dikunjungi. Jadi, siapa yang nggak sabar untuk datang ke salah satu tempat wisata di atas?

(ilf/fds)



Sumber : travel.detik.com

Sabana Tersembunyi di Pantai Baros, Ijo-ijonya Menyegarkan Mata



Yogyakarta

Sabana Pantai Baros yang berlokasi di Bantul, Yogyakarta kini sedang hijau-hijaunya. Padang rumput yang mengarah langsung ke Sungai Opak itu menjadi lokasi yang pas untuk berpiknik atau mendirikan tenda.

Butuh waktu sekitar satu jam dari pusat jantung kota Jogja menuju lokasi itu. Aksesnya mudah, namun harus melewati jalan setapak dengan kiri kanan kebun warga yang belum beraspal. Traveler yang hendak datang ke lokasi ini bisa menggunakan kendaraan motor maupun mobil. Pada aplikasi maps cukup ketikkan Sabana Pantai Baros.

Setibanya di area parkir, traveler cukup membayar sebesar Rp 2.000, kemudian berjalan sebentar sekitar 100 meter menuju area sabana. Sepanjang jalan, traveler akan menjumpai banyak burung kuntul bertengger di atas pohon. Pohon tersebut menjadi habitat alami burung yang masih satu spesies dengan bangau.


“Itu (burung kuntul) emang habitatnya disini, dulu burung migran trus beranak pinak akhirnya jadi banyak di sini,” kata Burham, penjaga Sabana dan Camping Ground Pantai Baros.

Burung Kuntul setiap hari menghiasi pemandangan Pantai Baros. Pada sekitar Maret jumlahnya lebih banyak karena kedatangan burung migrasi lainnya.

Cukup dengan mata telanjang traveler bisa menikmati keindahan ratusan burung kuntul dari area Sabana Pantai Baros. Jika ingin mengabadikannya, siapkan kamera drone untuk bisa melihatnya lebih jelas dari atas.

Memasuki area sabana, traveler akan disambut dengan sepetak warung milik Burham. Di sini traveler akan dikenai biaya masuk sebesar Rp 3.000 per orang. Kemudian, berjalan sebentar melintasi jembatan kayu yang sudah sedikit lapuk.

“Iya ini masih swadaya pribadi, pengelolanya saya sendiri juga. Ditarik tiket masuk karena butuh dana untuk kebersihan, perawatan jembatan, apalagi kalo abis banjir gitu banyak sampah, saya sendiri yang bersihkan,” kata Burham

Sejauh mata memandang terhampar padang rumput yang menghijau. Di depannya langsung mengarah ke Sungai Opak. Lokasi ini kerap digunakan sebagai camping ground oleh wisatawan, atau sekadar berpiknik ria. Traveler juga bisa berenang di tepian sungai.

Aktivitas lain yang dapat dilakukan di sini adalah memancing alam liar. Saat dikunjungi detikTravel, banyak pemancing yang sedang bersantai menunggu kailnya dimakan para penghuni Sungai Opak.

Tak jauh dari area sabana, terdapat konservasi hutan magrove. Hutan itulah menjadi pagar alami untuk mencegah abrasi pantai. Biasanya beberapa komunitas maupun mahasiswa kerap mengadakan kegiatan tanam magrove pada area tersebut.

Burham menuturkan, meski tak seramai pantai selatan lainnya, Baros memiliki ciri khasnya sendiri yang berdampingan dengan Sungai Opak. Area nya yang masih sedikit tersembunyi juga sangat cocok dinikmati oleh traveler yang ingin mencari ketenangan.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com