Category Archives: Domestik

NTT Bukan Provinsi Biasa, Ini 10 Kepingan Surga untuk Wisatawan



Jakarta

Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki spot wisata yang aduhai indahnya. Ini sederet objek wisata yang wajib dikunjungi wisatawan saat mengunjungi pulau-pulau di sana.

Provinsi yang berada di bagian tenggara Indonesia itu memiliki sederet pulau-pulau cantik mempesona. Mulai dari Pulau Flores, Pulau Sumba, Pulau Timor, Pulau Alor, Pulau Lembata, Pulau Rote, Pulau Sabu, Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Ende, Pulau Komodo, hingga Pulau Palue.

Lautan, bukit, budaya, dan adat, bahkan hamparan padang rumput menjadi sesuatu yang menawan di sini. Ditambah lagi satwa endemik komodo (Varanus komodoensis), burung garugiwa atau kancilan flores (Pachycephala nudigula), dan flora endemik cendana wangi (Santalum album) yang tiada dua. Juga kekayaan hutan, mulai dari kopi, kemiri, cengkeh, pala, hingga jahe.


detikTravel telah merangkum beberapa destinasi wisata yang bikin list perjalanan kamu menjadi mudah saat vakansi ke NTT. Berikut adalah rangkumannya:

1. Taman Nasional Komodo

Taman Nasional Komodo berada di antara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores di kepulauan Indonesia Tengah. Secara administratif termasuk dalam Wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

Kawasan itu ditetapkan sebagai Taman Nasional Komodo pada tanggal 6 Maret 1980 dan dinyatakan sebagai Cagar Manusia dan Biosfer pada tahun 1977 dan juga sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada 1991, sebagai Simbol Nasional oleh Presiden RI pada 1992, sebagai Kawasan Perlindungan Laut pada tahun 2000 dan juga sebagai salah satu Taman Nasional Model di Indonesia pada 2006.

Taman Nasional Komodo memiliki luas 173.300 ha meliputi wilayah daratan dan lautan dengan lima pulau utama yakni Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Rinca, Gili Motang, Nusa Kode dan juga pulau-pulau kecil lainnya.

Kepulauan tersebut dinyatakan sebagai Taman nasional untuk melindungi Komodo yang terancam punah dan habitatnya serta keanekaragaman hayati di dalam wilayah tersebut. Taman lautnya dibentuk untuk melindungi biota laut yang sangat beragam yang terdapat disekitar kepulauan tersebut, termasuk yang terkaya di bumi.

Taman Nasional komodo terletak di kawasan Wallacea Indonesia. Kawasan Wallacea terbentuk dari pertemuan dua benua yang membentuk deretan unik kepulauan bergunung api, dan terdiri atas campuran burung serta hewan dari kedua benua Autralia dan Asia. Terdapat 254 spesies tumbuhan yang berasal dari Asia dan Australia di Taman Nasional Komodo. Selain itu, terdapat 58 jenis binatang dan 128 jenis burung.

2. Labuan Bajo

Labuan Bajo merupakan pintu masuk terbesar ke wilayah NTT lainnya. Kawasan ini memiliki banyak hotel, restoran, kafe, agen travel, persewaan kapal, dll.

Di sini juga terdapat sejumlah objek wisata, di antaranya perbukitan Golo Mori, Puncak Waringin, Goa Batu Cermin, Desa Wisata Loha, air terjun Cunca Rami, dan Waterfront City Marina Labuan Bajo.

3. Pantai Dintor

Pantai yang terletak di Desa Satar Ruwuk, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai ini menyuguhkan keindahan yang menakjubkan. Dengan hamparan pasir putih dan batuan-batuan kecil di bibir pantai bisa membuat kamu terpukau.

Di Pantai Dintor kamu juga akan mendapatkan bonus melihat kawasan yang tak kalah indahnya yaitu Pulau Mules, tepat berada di seberang Pantai Dintor.

Kamu bisa menikmati pesona pantai ini dengan berbagai cara, bisa menikmatinya dengan berjalan di bibir pantai ataupun hanya duduk-duduk di bawah pohon kelapa sambil mendengarkan syahdunya gemericik ombak.

4. Desa Wae Rebo

Disebut juga sebagai desa di atas awan, berada di dataran tinggi bagian selatan Pulau Flores. Yang menjadi daya tarik bagi wisatawan ke Desa Wae Rebo adalah pesona alam serta budaya masyarakatnya yang masih kental dengan adat leluhur.

Jika kamu berkunjung ke desa ini, kamu bakalan melihat bagaimana masyarakat Desa Wae Rebo memegang teguh adat-istiadat. Tentunya juga terdapat rumah khas yang bernama Mbaru Niang, Mbaru yang artinya rumah dan Niang adalah tinggi dan bulat.

5. Danau Kelimutu

Pernah melihat ikon danau tiga warna dipecahan uang Rp 5000 dulu? Ya danau tersebut adalah Danau Kelimutu yang berada di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Danau itu disebut danau tiga warna karena memiliki warna merah, biru, dan putih.

Untuk bisa menikmati pesona Danau Kelimutu, terlebih dahulu kamu perlu berjuang mendaki Gunung Kelimutu dengan ketinggian 1.631 meter di atas permukaan laut. Tapi sehabis melakukan pendakian tersebut, dijamin semua rasa lelah akan terbayarkan dengan melihat keindahan danau itu.

6. Bukit Warinding

Hamparan perbukitan di Nusa Tenggara Timur memang tak kalah menariknya dari destinasi lainnya, termasuk Bukit Warinding. Bukti yang berlokasi di Desa Pambotanjara, Kabupaten Sumba Timur ini juga pernah dijadikan sebagai set film Pendekar Tongkat Emas besutan Mira Lesmana.

Sudah terbukti indahnya lanskap bukit ini sehingga menjadi tempat syuting film, pesona yang membuat Bukit Warinding ini adalah bentuk bukitnya yang menyerupai raksasa yang tengah tidur terlentang.

7. Cunca Wulang

Cunca Wulang merupakan air terjun yang berada di Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat. Air terjun ini memiliki ketinggian 200 meter di atas permukaan laut dengan air yang jernih dan segar mengalir dari air terjun tersebut.

Dikelilingi hutan dan perbukitan, Cunca Wulang menyuguhkan pengalaman yang berbeda. Wisatawan yang datang juga bisa merasakan air terjun ingin dengan berenang di tepian aliran atau sekadar berendam saja.

Masih banyak lagi destinasi yang Nusa Tenggara Timur suguhkan untuk dijelajahi, agar tak bingung menentukan tujuan pelesiran. Pastinya yang perlu diperhatikan adalah mempersiapkan segala sesuatu sebelum melangsungkan keberangkatan mulai dari budgeting, akomodasi hingga tempat mana saja yang akan dituju.

8. Desa Wisata Ululoga

Desa Wisata Ululoga di Kecamatan Mauponggo, Nagekeo menawarkan wisata tidak biasa, yakni paket wisata tur rempah-rempah.

Desa ini memang kaya akan rempah-rempah. Mulai dari pala, merica, hingga jahe.

9. Perburuan Paus Tradisional di Lembata

Merujuk situs kemendikbud, masyarakat Lamalera di Kabupaten Lembata memiliki tradisi berburu paus dengan cara tradisional. Perburuan paus yang dalam bahasa setempat dikenal sebagai Baleo itu menjadi gambaran kearifan lokal para nelayan Lamalera yang tangguh, pemberani, dan dan pantang menyerah.

Perburuan paus itu bukan membantai paus, tetapi perburuan paus oleh nelayan Lamalera yang sudah ada sejak abad ke-17 itu dilaksanakan dengan aturan terkait waktu, peralatan, pelaksanaan, hingga jenis paus yang dapat ditangkap.

Selain itu, Lembata memiliki banyak objek wisata, mulaidi antaranya Pulau Pasir Putih Awelolong/Awololo, Gua Maria Lewoleba. Pantai Rekreasi Pasir Putih Waijarang, Sumber Air Panas Sabu Tobo, Adum, dan Labalimut, rumah adat dan ritus Pesta Kacang Jontona, dll

10. Pulau Alor

Alor boleh dibilang merupakan surga bagi para penggemar selam. Di sini tercatat memiliki 42 spot diving.

Selain diving, di Alor terdapat banyak pantai, di antaranya Ling Al, Maimol, dan batu Putih.

Kemudian, ada Museum 1000 Moko. Mako adalah alat musik khas Alor dari perunggu. Moko juga berfungsi sebagai mas kawin dan alat untuk membayar denda. Di Alor Museum 1000 Moko berada di Jalan Diponegoro, Kalabahi, Alor.

Di Alor juga terdapat Al Quran kuno berusia ratusan tahun, tepatnya berada di Desa Alor Besar, Kecamatan Alor Barat Laut. Al Quran ini terbuat dari kulit kayu dan memuat 30 juz (114 surat) dan diperkirakan telah berusia 500 tahun. Konon Al Quran ini dibawa dari Ternate sebagai misi penyebaran agama Islam ke Alor.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Akasa Specialty Coffee, Tempat Ngopi di Atas Awan dengan View Gunung Batur



Kintamani

Satu lagi tempat ngopi yang estetik di daerah Kintamani, Bangli. Di tempat ini, traveler bisa menyeruput segelas kopi dengan bonus pemandangan awan bergumpal-gumpal dan Gunung Batur. Cantik banget!

Lagi berlibur di daerah Kintamani, traveler wajib menyambangi kafe estetik yang jadi primadona warlok Bali. Namanya Akasa Specialty Coffee. Berlokasi di Jalan Raya Penelokan No.777, Batur Tengah, Kintamani, Bangli.

Putu Martawan, operasional sekaligus executive chef Akasa Specialty Coffee, menyebut nama kafe itu terinspirasi dari nama anak dari sang owner, yakni Akasa. Kafe itu mulai beroperasi sejak 27 Maret 2019 atau sebelum pandemi.

Anita, owner Akasa, mempelajari berbagai hal tentang kopi dari sang nenek.

Akasa Specialty Coffee di Kintamani, BaliAkasa Specialty Coffee di Kintamani, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

“Akasa berdiri sejak 27 Maret 2020. Berdiri atas dasar inspirasi owner dari sang nenek yang merupakan pengepul kopi. Akhirnya, owner belajar tentang kopi dan mencoba peruntungan membuka coffee shop di Kintamani. Menggunakan nama sang anak, yaitu Akasa,” kata Martawan.

Akasa menjadi salah dua coffee shop pertama di daerah Kintamani. Martawan menyebut Akasa menjadi salah satu kafe unik yang berada di kawasan Kintamani. Bahkan banyak pengunjung yang kaget dengan kecantikan interior Akasa.


Akasa Specialty Coffee di Kintamani, BaliAkasa Specialty Coffee di Kintamani, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Kecantikan interior dengan pemandangan lautan awan dan Gunung Batur yang memukau membuat Akasa sempat viral di sosial media. Martawan menyebut, saat viral Akasa melakukan pelebaran kapasitas dan menambah beberapa spot estetik.

Inspirasi desain interior Akasa yang unik mengangkat konsep perpaduan antara warna terakota dan hitam yang menghadirkan atmosfer yang nyaman dan cozy bagi para pengunjungnya. Beberapa spot unik yang bisa traveler temukan seperti spot sangkar burung hingga jembatan kaca dengan latar belakang Gunung Batur.

“Tempat yang jadi rebutan saat ini itu tempat duduk yang dekat dengan jembatan kaca. Karena dari sini pengunjung langsung bisa dapet pemandangan Gunung Batur plus spot foto estetik,” ujar Martawan.

Akasa Specialty Coffee buka mulai pukul 05.30 hingga 19.00 WITA saat weekdays dan 05.30 hingga 20.00 WITA saat weekend. Karena menjadi spot yang oke untuk berburu sunrise, Martawan menyebut, Akasa sudah dipadati pengunjung sejak pukul 05.00 WITA.

Tak hanya menikmati keindahan sunrise di pagi hari. Martawan menyebut dari Akasa traveler juga bisa menikmati keindahan sunset, melihat perubahan warna langit dan turunnya lautan awan di daerah Kintamani.

“Rata-rata orang kesini untuk sunrise, tapi jarang orang tau kalau dari Akasa juga bisa menikmati keindahan sunset. Perubahan warna langit dan turunnya awan hingga menutup Gunung Batur,” katanya.

Menu Akasa Specialty Coffee sudah tak perlu diragukan lagi. Menurut Martawan Akasa selalu melakukan pembaharuan menu setiap empat hingga lima bulan, untuk mengikuti trend pasar. Jika berkunjung, traveler wajib mencoba beberapa menu favorit pengunjung, seperti Nasi Bakar Pindang Sambal Bongkot dan Crispy Chicken Chili Paste. Harga menu makanan di Akasa berkisar antara Rp 38 ribu hingga Rp 85 ribu.

Untuk menu kopi, Akasa menggunakan 100% arabika dengan konsep “from farm to cup”. Traveler wajib mencoba perpaduan coffee dengan sari buah. Signature menu Akasa, seperti Sunkissed coffee hingga stromso. Harga menu minuman di Akasa berkisar antara Rp 19 ribu hingga Rp 59 ribu.

Akasa Speciality Coffee menjadi salah satu tempat yang wajib traveler kunjungi jika ingin menjauh dari hiruk pikuk perkotaan. Menghadirkan konsep “Second Home”, Akasa memberikan kenyamanan, dengan bonus view lautan awan dan Gunung Batur yang cantik. Jika traveler kedinginan, Akasa sudah menyediakan selimut. Semua tempat duduknya pun sudah dilengkapi dengan sofa, sehingga membuat ngopimu semakin nyaman.

Akasa Specialty Coffee di Kintamani, BaliAkasa Specialty Coffee di Kintamani, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Martawan mengungkap Akasa tak memberlakukan sistem reservasi atau booking, melainkan sistem first come first service. Setiap harinya, Akasa Speciality Coffee bisa dikunjungi 150 hingga 175 pengunjung dan meningkat dua kali lihat saat weekend atau hari libur.

Beberapa fasilitas yang disediakan oleh Akasa Speciality Coffee yang dapat traveler nikmati seperti parkir yang luas hingga toilet estetik dengan view gunung.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Penampakan Makam Han Siong Kong di Lasem yang Bikin Marga Han Dikutuk



Lasem

Orang-orang bermarga Han dikutuk di Lasem. Semua itu gara-gara Han Siong Kong yang makamnya masih ada sampai sekarang dan bisa dikunjungi wisatawan.

Kutukan untuk orang-orang bermarga Han itu adalah mereka dilarang untuk menginjakkan kaki di Lasem. Jika melanggar, mereka dipercaya akan hidup sengsara dan jatuh miskin.

Kutukan itu diberikan oleh Han Siong Kong kepada anak-anaknya dan keturunan mereka. Cerita bermula ketika keluarga Han Siong Kong datang dan tinggal di Lasem dari Tian Bao (Fujian), China pada era tahun 1700-an.


Atas usaha dagangnya yang sukses besar, Han Siong Kong pun berhasil mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. Namun, kesuksesan itu malah dimanfaatkan oleh anak-anaknya.

Mereka disebut suka menghambur-hamburkan harta milik sang ayah. Mereka hobi berfoya-foya dan doyan bermain judi.

Jenazah Sang Ayah Ditelantarkan Anaknya

Ketika Han Siong Kong meninggal, anak-anaknya pun ikut menandu jenazah sang ayah untuk dibawa menuju ke tempat peristirahatan terakhir di Desa Babagan, Lasem.

Setibanya di area makam, tiba-tiba hujan lebat datang mengguyur. Anak-anak Han Siong Kong yang semula menandu jenazah bapaknya, malah pergi meninggalkan begitu saja jenazah itu.

Setelah hujan reda, anak-anak Han Siong Kong kembali ke lokasi dimana mereka meninggalkan jenazah sang ayah. Betapa kagetnya mereka ketika mengetahui jenazah sang ayah sudah menghilang dan berganti jadi gundukan makam.

“Tiba-tiba petir muncul dan terdengarlah kutukan, bahwa keturunan Han tidak boleh tinggal di Lasem. Apabila melanggar akan jatuh miskin,” ujar Agni Malagina, peneliti Sejarah Cina di Lasem.

Makam Han Siong Kong Masih Ada dan Bisa Dikunjungi

Makam Han Siong Kong hingga kini ternyata masih dapat dijumpai wisatawan. Lokasinya berada di Desa Babagan, Kecamatan Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

Makam itu terletak berdekatan dengan permukiman warga dan area tegalan. Jarak antara lokasi pohon tempat jenazah Han Siong Kong ditelantarkan anaknya, dengan lokasi makamnya terbilang cukup jauh, sekitar 300-an meter.

Makam Han Wee Sing atau Han Siong Kong di Desa Babagan, Lasem, Rembang, Rabu (29/5/2024).Makam Han Wee Sing atau Han Siong Kong di Desa Babagan, Lasem, Rembang. Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

Ada papan nama penunjuk lokasi makam. Di papan penunjuk lokasi tertulis ‘Makam Keramat Han Wee Sing (Nama lain Han Siong Kong) di Desa Babagan’.

Di lokasi makam Han Siong Kong, suasana sepi begitu terasa. Makam itu dikelilingi tanaman semak-semak sebagai pagar pembatas.

Di lokasi itu hanya ada dua makam. Dua-duanya berciri khas makam Tionghoa. Material bangunannya memakai tembok, dicat berwarna putih.

Satu makam ukurannya cenderung lebih besar dan makam yang satunya lagi berukuran lebih kecil. Kedua makam itu ada bongpainya atau batu nisan China. Masing-masing bongpai itu memakai tulisan aksara China.

Ketua Pokdarwis Desa Babagan, yang sekaligus Pemerhati Budaya dan Sejarah di Lasem mengatakan, makam keramat Han Wee Sing di desanya itu adalah makamnya Han Siong Kong.

“Ya makamnya di situ (Desa Babagan). Ada papan petunjuk, ‘Makam Keramat Han Wee Sing di Desa Babagan’. Itu Makamnya Han Siong Kong. Dia dikenal juga dengan nama Han Wee Sing atau Han Siong Kong. Yang besar itu makamnya Han Siong Kong, kalau kecil itu Dewa Bumi. Orang Tionghoa kalau mau nyekar harus nyembayangi dulu Dewa Bumi. Ibarat orang Jawa kalau mau kirim doa orang tuanya, harus nyebut Nabi Muhammad dulu,” tutur Agik.

——

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Kopi Wongso, Tempat Ngopi dan Bikin Pizza dengan View Sawah di Jogja



Yogyakarta

Siapa sangka kedai kopi yang belakangan ramai jadi rujukan tempat nongkrong anak muda di Jogja ini adalah cara dari sang owner memaknai hidupnya. Penasaran bagaimana kisahnya?

Kafe itu adalah Kopi Wongso. Nama kedai kopi itu sesuai nama belakang pemiliknya, Ali Wongso. Wongso berasal dari nama sang kakek.

Saat ditemui detikTravel di lokasi langsung, Ali tampak sedang asyik bercengkerama dengan pelanggan dengan cara tidak biasa. Ali mengajak tamu-tamunya mengolah pizza.


Dengan tekun, Ali meniti setiap bahan pizza yang akan diolah. Dia mengajari pengunjung bagaimana memipihkan adonan pizza yang benar. Lalu membolak balik pizza di tungku api tradisional agar matang sempurna. Tampak jelas guratan senyum di wajahnya seolah ini adalah pekerjaan terbaik di dunia.

“Kenapa penasaran? Aku heran, semua orang yang datang selalu bertanya begitu, bukankah ini ide bisnis yang biasa saja dibanding kapital besar?” ujar Ali saat disodori pertanyaan awal mula membangun ide Kopi Wongso.

Saat pertama dirilis, yakni pada 2010, Kopi Wongso tidak di Sewon, Bantul seperti saat ini. Sebelumnya, Kopi Wongso berada di Perum Permata Hijau, Bangunharjo.

Tetapi, soal kopi tidak berubah. Dulu dan kini, Ali memilih kopi luwak original sebagai signaturenya.

Perbedaan lain adalah Kopi Wongso mulai mengenalkan pizza self-made by customer di kedai baru.

Meski sekarang fokus di pizza, penjualan kopi luwak tetap berjalan bahkan sudah merambah sampai ekspor ke Jepang.

“Di online amazon Jepang no 1 kopi luwak milikku,” kata Ali.

Kopi luwak dijual dalam bentuk per 100 gram. Ali menyebut dalam seminggu bisa mengirim hingga 81 paket per 100 gram. Kopi luwak tersebut ia ambil dari berbagai daerah yang sudah bekerja sama sejak tahun 2010.

Hingga di tahun 2020 lokasinya pindah ke Sewon, Bantul, di tengah pedesaan yang berseberangan langsung dengan sawah. Tahun kedua setelah pembukaan di lokasi baru, Kopi Wongso mulai menerapkan konsep pizza self-made by customer.

Terkuak juga bahwa ide konsep pembuatan pizza oleh customer datang tanpa disengaja. Ali menyebut, awalnya hanya iseng meminta temannya yang datang untuk membuat sendiri, tapi tanpa disangka menjadi konsep yang menarik pengunjung datang.

“Belum ada pizza di tahun pertama. Mulai ada di tahun kedua. Awalnya dari teman motor vespa, motor gede, bingung kan waktu covid, kusuruh bikin (pizza) sendiri. Dari dulu emang waktu masih di eropa, seneng liat tungku, vibesnya otentik menarik gitu. Lalu pada masak sendiri, terus waktu ada pengunjung, tak suruh bikin sendiri, lha kok pada suka, dan menjadi konsep sampai sekarang,” kata Ali.

Perjalanannya menikmati hidup, mengamati dan memaknai arti kehidupan membawa Ali menjadi sosok yang dicintai customernya yang datang ke Kopi Wongso. Ali menuturkan ia tidak butuh marketing yang berisik dengan mengundang banyak influencer agar Kopi Wongso ramai. Berjalan dengan alami menurutnya akan jauh lebih menyenangkan.

Setiap hari pengunjung ramai berdatangan, bahkan dari luar kota sekalipun. Rata-rata merupakan muda mudi berpasangan, atau segerombolan sahabat. Konsepnya yang tanpa reservasi bahkan bisa membuat antrian hingga 4 jam. Saat ditanya tentang rencana perluasan lahan atau pembukaan cabang, Ali menyebut ia belum kepikiran.

“Saya tidak takut disaingi, karena kelebihan vibe ku ga akan bisa dimiliki tempat lain. Belum ada rencana perluasan atau cabang, karena nanti akan hilang eksklusivitasnya. Sengsara membawa nikmat. Vibes menunggu lama itu juga suatu kelebihan menurutku,” kata Ali.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Surganya Aktivitas Outdoor di NTT



Jakarta

Siapa sih yang nggak kenal sama Taman Nasional Komodo, tempat hewan purba yang masih hidup hingga kini. Traveler bisa menikmati aneka aktivitas outdoor di sini!

Bukan hanya terdapat hewan endemik Indonesia saja, tapi kawasan ini juga merupakan surga bagi para pelancong yang datang.

Terletak di antara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores di Kepulauan Indonesia Tengah, taman nasional tersebut juga mencakup tiga pulau lainnya yakni Pulau Komodo, Pulau Padar, dan Pulau Rinca.


Keindahan pulau serta kekayaan bahari jadi magnet buat wisatawan datang, begitu eksotis padu padan alam yang ada di Taman Nasional Komodo ini. Jika traveler memiliki kesempatan datang ke Taman Nasional Komodo, tentunya bisa melihat si kadal raksasa dari jarak yang dekat.

Pengalaman itu tak bisa didapatkan jika berkunjung ke destinasi lainnya, karena komodo hanya terdapat di pulau ini saja.

Selain bisa melihat Komodo secara langsung, kamu juga bisa menikmati keindahan bentangan alam khas kepulauan, hamparan laut yang megah serta deretan pegunungan yang indah.

Taman Nasional Komodo menjadi salah satu dari destinasi super prioritas yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia, dengan upaya ini menjadikan Taman Nasional Komodo tujuan utama untuk pelesir seraya menikmati keindahan alam Indonesia.

Buat kamu yang senang dengan aktivitas outdoor, tentunya Taman Nasional Komodo jadi tempat yang menyediakan paket komplet akan hal itu.

1. Trekking

komodo di Loh LiangMencari komodo di Loh Liang Foto: (Bonauli/detikcom)

Untuk yang minta trekking bisa banget melakukannya di Loh Buaya yang berada di Pulau Rinca. Nantinya kamu bakalan diajak untuk melewati wilayah hutan dan savana yang berada di lembah Loh Buaya.

Tentunya untuk bisa mengikuti trekking di sini, kamu perlu memastikan kondisi kesehatan diri. Trekking ke Loh Buaya juga memiliki syarat dan ketentuan, batas usia untuk ikut trekking ke Loh Buaya maksimal 65 tahun dan tak memiliki riwayat penyakit berat.

2. Snorkeling dan Diving

Long Pink BeachLong Pink Beach Foto: (Bonauli/detikcom)

Dan untuk yang senang dengan kegiatan snorkeling atau diving, di Pulau Komodo memiliki surga di bawah lautnya. Biota laut di kawasan ini memang menawarkan keindahan yang tak terbayarkan. Tak perlu khawatir karena di kawasan ini juga banyak terdapat penyewaan alat-alat snorkeling ataupun diving.

Yang pasti untuk melakukan segala aktivitas di kawasan ini perlu didampingi oleh guide atau pun orang profesional, agar kelancaran wisatawan bisa terjaga dan bisa menikmati keindahan Taman Nasional Komodo dengan maksimal.

3. Menikmati Sunset-Sunrise

Taman Nasional Komodo, selain daya tariknya tentang kadal raksasa, trekking, snorkeling hingga divingnya juga yang paling diincar oleh wisatawan adalah berburu sunset dan sunrise. Karena kawasan ini dikelilingi deretan bukit jadi kamu bakalan bisa menikmati peristiwa matahari terbit dan tenggelam.

Saat berada di atas puncak bukit, lanskap alam Taman Nasional Komodo ini akan terlihat dengan jelas, belum lagi disandingkan dengan sunset yang merona.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Museum Sejarah Jakarta Pernah Jadi Kantor Gubernur Jabar-Tempat Eksekusi Mati



Jakarta

Museum Sejarah Jakarta yang terletak di kawasan Kota Tua itu ternyata pernah menjadi kantor gubernur Jawa Barat. Gedung putih itu juga menjadi saksi perkembangan Jakarta dari masa ke masa.

Gedung itu dibangun pada tahun 25 Januari 1707 dan diresmikan pada tahun 10 Juli 1710 kendati belum rampung secara keseluruhan. Di tahun 1712 lah gedung yang bergaya Neoklasik itu utuh. Gedung itu dibangun atas perintah Gubernur Jenderal Joan van Hoorn.

Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara, juga area eksekusi hukum mati.


Tanggal 10 Juli 1710 gedung balai kota itu diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck sesuai dengan Prasasti yang ada di Museum Sejarah Jakarta. Pada awal berdirinya, gedung ini berfungsi sebagai” StadHuis” (balai kota) dan ” Raad Van Justitie ” (Dewan Pengadilan)

Saat detikTravel berkunjung ke museum itu ada hal menarik yang didapat, ternyata gedung itu Ternyata, tidak hanya pernah menjadi balai kota Batavia, tetapi juga pernah menjadi kantor gubernur Jawa Barat pada saat Belanda berada di Nusantara.

Didik Cahyono, pemandu yang mengajak detikTravel berkeliling, menceritakan kisah itu.

Di masa kekuasaan Belanda dan sebelum Jepang menduduki tanah ini bangunan tersebut pernah menjadi kantor gubernur Jawa Barat.

“Mulai 1925 sampai 1942 (gedung ini) digunakan untuk kantor gubernur Provinsi Jawa Barat, ini masih zaman Belanda. Jadi kantor gubernur Provinsi Jawa Barat nah itu masih zaman kekuasaan Belanda, terus Jepang masuk 1942 sampai 1945 gedung ini dijadikan kantor logistik Dai Nippon (kekaisaran Jepang),” kata Didik, Kamis (6/6/2024).

Museum Sejarah JakartaMuseum Sejarah Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Saat itu, pemerintah kolonial Belanda memiliki kebijakan untuk menyatukan Banten, Batavia, Cirebon, dan Priangan menjadi satu wilayah atau yang disebut provinsi. Di masa peralihan balai kota yang baru itulah bangunan tersebut dijadikan sebagai kantor gubernur Jawa Barat.

Hingga Jepang datang, kantor gubernur Jawa Barat itu kembali beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan logistik Kekaisaran Jepang.

Dan pada 30 Maret 1974, gedung itu diresmikan sebagai Museum Sejarah Jakarta diresmikan oleh Gubernur DKI Bapak Ali Sadikin.

Interior Gedung Terjaga Keasliannya

Selain itu, di Museum Sejarah Jakarta juga banyak segudang informasi yang telah tersaji bagi pengunjung. Bagaimana perjalanan dari mulai zaman prasejarah, masa emas Sunda Kelapa, era penjajahan Belanda-Jepang, hingga setelah kemerdekaan.

Didik pun membawa detikTravel ke setiap ruangan yang ada di gedung ini, semua interior dalam gedung pun masih terjaga keasliannya.

“Ini ya aslinya seperti ini kalau interior 90 persen lebih masih asli karena kayu-kayu ini nggak kena panas dan hujan jadi awet bisa ratusan tahun jadi ini juga dikonservasi. Kalau ngepel juga pake minyak lopi jadi ada minyak khusus supaya nggak dimakan serangga,” kata dia.

Dengan lantai yang terbuat dari kayu dan pintu-pintu besar yang kokoh membuat bangunan ini masih terasa seperti dulu kala saat masih berfungsi sebagai kantor pemerintahan. Terdapat bangku, meja, lemari hingga lukisan zaman dulu tersimpan baik jadi menambah kesan yang mendalam.

Museum Sejarah JakartaMuseum Sejarah Jakarta Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikcom

Bangunan yang terdiri dari tiga lantai ini memberikan pengalaman yang menarik tentang perjalanan panjang Kota Jakarta. Di bagian atas, Didik menunjukkan salah satu spot yang pernah dipakai oleh orang-orang penting zaman dahulu untuk memantau dan melihat eksekusi mati.

Terletak di area balkon yang menghadap ke area terbuka di tengah-tengah kawasan Kota Tua, di sinilah para tokoh saat itu melihat eksekusi mati yang berada di area bawa balkon tersebut.

“Ini digunakan untuk para hakim dan gubernur jenderal untuk melihat proses eksekusi hukuman mati dan,” ujarnya sembari menunjukkan tempat di mana eksekusi dilakukan.

Selagi detikTravel berkeliling gedung ini, terlihat wisatawan tak henti-hentinya mendatangi gedung ini. Beberapa rombongan wisatawan mancanegara pun penasaran dengan sejarah yang terdapat di Museum Sejarah Jakarta.

Menurut Didik banyak wisatawan mancanegara yang datang ke museum ini, terutama wisatawan mancanegara yang berasal dari Belanda. Alasannya karena ada ikatan emosional, sekaligus napak tilas nenek moyangnya yang dimakamkan di Indonesia.

“Kalau di sini pengunjung (asing) kebanyakannya dari Belanda karena ada hubungan emosional ya dengan Belanda jadi banyak yang ke sini. Banyak juga orang Belanda yang datang ke sini nyari makam-makam leluhurnya, saya pernah ketemu generasi ke-6 Antonio van Diemen (Gubernur Jenderal Hindia-Belanda ke-9). Jadi pengen lihat jejak-jejaknya gitu loh,” katanya.

Jam Operasional dan Harga Tiket Masuk

Ternyata memang museum ini menjadi salah satu museum yang banyak didatangi oleh wisatawan setiap harinya, dari Senin sampai Minggu. Didik mengatakan sebelum pandemi lalu kunjungan ke Museum Sejarah Jakarta bisa mencapai 15 ribu orang.

“Weekdays itu kalau lagi ramainya bisa dua ribu lebih, kalau musim liburan lebih rame lagi. Dan weekend itu pernah waktu sebelum pandemi sampai 15 ribu satu hari, nah kalau setelah pandemi ini paling-paling lima ribuan lah,” ujar dia.

Museum Sejarah JakartaMuseum Sejarah Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Untuk kamu yang penasaran dengan Museum Sejarah Jakarta waktu yang pas untuk datang ke sini adalah ketika hari kerja karena tak begitu ramai. Jam operasional museum ini dimulai pukul 09.00 – 15.00 WIB pada Selasa sampai Minggu.

Untuk biaya masuk museum di hari kerja berkisar Rp 5.000 untuk mahasiswa, pelajar, dan anak-anak, sementara untuk dewasa dikenakan biaya Rp 10.000, dan untuk wisatawan mancanegara dibanderol Rp 50.000. Kemudian, jika berkunjung di hari libur biaya masuk untuk dewasa naik menjadi Rp 15.000, sementara yang lainnya harga normal.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Upgrade Ide Kencanmu dengan Bikin Pizza di Kopi Wongso



Yogyakarta

Ada satu kafe menarik di sudut Jogja yang menawarkan pengalaman membuat pizza langsung bersama pemiliknya. Lokasinya masih asri dekat dengan alam, cocok untuk ide ngedate traveler bareng pasangan.

Namanya Kopi Wongso, lokasinya di Sewon, Bantul. Butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan dari Stasiun Tugu Yogyakarta. Lokasinya menjadi viral karena tempatnya yang estetik dan langsung disuguhi pemandangan alam berupa persawahan dan gunung.

“Saya senang mengelola Kopi Wongso ini awalnya bersama istri, bagaimana mensinergikan alam dan knowledge saya tentang art, dan pengalaman dulu sering berinteraksi dengan customer saat jadi pemandu,” kata Ali Wongso, pemilik Kopi Wongso.


Kopi Wongso di Yogyakarta jadi rujukan tempat nongkrong anak muda. Ternyata kedai kopi ini adalah cara sang owner Ali Wongso memaknai hidupnya.Kopi Wongso di Yogyakarta jadi rujukan tempat nongkrong anak muda. Ternyata kedai kopi ini adalah cara sang owner Ali Wongso memaknai hidupnya. (Arawinda Dea Alisia)

Kopi Wongso sendiri telah berdiri sejak tahun 2010. Dulu saat masih berada di Bangunharjo, Ali mengandalkan kopi luwak alami sebagai signature-nya.

Sejak 2020 kedai dipindah ke Sewon dan di tahun kedua pembukaan, Ali menyediakan pizza sebagai menjadi salah satu menu andalan. Uniknya lagi, pengunjung diajak untuk membuat pizza sendiri.

Ya, Kopi Wongso menawarkan pengalaman membuat pizza sendiri yang cukup unik ditemani oleh owner langsung. Selain itu, lokasi yang asri dan masih sejuk, membuat suasana outdoor tidak begitu panas di siang hari.

Dengan merogoh kocek Rp 105.000, traveler akan disediakan satu loyang pizza lengkap dengan bahan, dan diajarkan cara membuatnya. Pizza akan dimasak dengan menggunakan tungku api tradisional, sehingga cita rasanya begitu otentik.

Di sini juga tersedia tripod untuk traveler yang hobi bikin konten video. Bahkan, tidak perlu sungkan jika ingin meminta tolong petugasnya mengabadikan moment traveler bersama pasangan.

Kopi Wongso di Sewon, Bantul, YogyakartaKopi Wongso di Sewon, Bantul, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Di Kopi Wongso, traveler tidak perlu melakukan reservasi jika ingin membuat pizza. Pengunjung akan dilayani secara bertahap sesuai antrian.

“Kadang-kadang antrenya sampai 4 jam. Kalau ga couple ga akan tahan, yang bikin betah karena ada pasangannya. Sengsara membawa nikmat. Vibes menunggu lama itu juga suatu kelebihan menurut saya,” kata Ali.

Tidak perlu takut bosan jika menunggu di sini karena tersedia berbagai menu lain yang wajib banget traveler coba seperti kopinya. Mulai dari harga Rp 15 ribu, traveler bisa menikmati suasana nongkrong di Kopi Wongso yang syahdu abis. Ada pula persewaan sepeda mulai dari Rp 10 ribu dan kolam renang anak Ro 15 ribu.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Sejarah Bondo Loemakso, Cagar Budaya di Solo yang Dijual Rp 15,5 Miliar



Solo

Bangunan peninggalan Paku Buwono X, Bondo Loemakso jadi sorotan. Cagar budaya itu dijual di marketplace seharga Rp 15,5 Miliar. Begini sejarah bangunan bersejarah itu:

Ketua Solo Societeit, Dani Saptoni menjelaskan Bondo Loemakso berasal dari kata ‘Bondo’ yang berarti harta dan ‘Loemakso’ berasal dari kata memberdayakan.

Menurut Dani, Bondo Loemakso dulunya merupakan kantor pegadaian khusus sentono dan abdi dalem Keraton Solo. Bondo Loemakso sendiri dibentuk pada awal tahun 1900-an, pada saat Paku Buwono X menjadi Raja Keraton Solo.


“Sejarah Bondo Loemekso itu dulu dipakai untuk pegadaian, pegadaian khusus Sentono dan abdi dalem Keraton Kasunanan. Itu tahun sekitar 1900 awal. Itu untuk Bondo Loemakso ya, bukan bangunannya,” kata Doni, Rabu (5/6).

Pada awal tahun 1900, Bondo Loemakso sempat numpang di perkumpulan Habiproyo di daerah Timuran. Tak berselang lama, saat perkumpulan Societeit Habiproyo pindah gedung yang terletak di utara Pasar Singosaren, Kantor Bondo Loemakso juga ikut pindah.

“Habis itu perkumpulan bisa bangun gedung di Singosaren (utara Pasar Singosaren) Bondo Loemakso juga pindah di situ,” ujarnya.

Lalu pada tahun 1917, kantor Bondo Loemakso mendirikan kantornya sendiri di Kelurahan Kedung Lumbu, Pasar Kliwon atau di dekat Alun-alun Utara Keraton Solo.

Lebih lanjut, Dani mengatakan Bondo Loemakso mempunyai fungsi untuk mengatasi Sentono dan Abdi Dalem yang terjerat utang piutang dengan rentenir.

“Ya memang fungsi untuk pegadaian khusus Keraton saja, Sentono dan Abdi dalem. Era Paku Buwono X Bondo Loemakso Itu untuk mengatasi sentono dan abdi dalem tidak terjerat ke urusan utang piutang dengan rentenir. Karena waktu itu banyak terjadi pegawai Keraton itu terkena kasus pengadilan yang disebabkan kasus utang piutang yang dilaporkan oleh rentenir karena mereka tidak bisa bayar utang,” bebernya.

Menurut Dani, modal awal untuk mendirikan Bondo Loemakso digelontorkan oleh Paku Buwono X dari kantong pribadinya sebesar Rp 130 ribu.

“Modal awalnya Bondo Loemakso yang digelontorkan oleh PB X pertama kali sebesar Rp 130 ribu. Dulu pegawainya juga dari orang Keraton Solo” ucapnya.

Bondo Loemakso Adalah Bank Pribumi Pertama

Sementara itu, dosen prodi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS, Dr. Susanto, M.Hum mengatakan adanya Bondo Loemakso menjadikan kantor tersebut menjadi bank pribumi pertama.

Ia mengatakan keberadaan Bondo Loemakso itu sempat kalah besar dengan de Javaneshe yang sekarang menjadi Bank Indonesia.

“Iya betul dulu menjadi bank pribumi pertama khususnya untuk abdi dalem dan kerabat Keraton Solo. Namun, karena kalah besar dengan dengan lembaga keuangan perbankan yang dikelola sendiri. Mungkin ada lembaga lain misalnya kayak bank kerakyatan di depan Pasar Gede,” tuturnya.

Susanto menambahkan, Bondo Loemakso bisa disebut sebagai bank pribumi karena dipergunakan oleh abdi dalem dan sentono Keraton Solo.

“Karena dipergunakan peminjaman terutama pengadaan rumah bagi kerabat dan abdi dalem. Ya sementara itu digunakan kerabat Keraton dan abdi dalem. Kalau masyarakat besar menggunakan bank Jawa,” bebernya.

Namun menurut Susanto, Bondo Loemakso sudah tidak berfungsi sejak lama atau sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.

“Sudah berakhir sebelum kemerdekaan atau era PB X atau PB XI, dulu juga pernah jadi radio kalau tidak salah kantornya, nggak bertahan lama karena kalah dengan radio yang lebih populer,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Rekomendasi 5 Museum Sejarah untuk Pelajar Biar Makin Pintar



Jakarta

Masih dalam semangat Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni 2024, berikut rekomendasi 5 museum sejarah untuk pelajar biar mereka jadi makin pintar.

Dengan belajar sejarah di 5 museum ini, para pelajar dan mahasiswa bisa mengenal dan mempelajari lebih dalam tentang perjalanan sejarah Indonesia.

Berikut 5 rekomendasi museum sejarah yang dapat dikunjungi oleh para pelajar dan mahasiswa:


1. Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta

Museum Kebangkitan Nasional di Jakarta menempati bangunan bersejarah yang dahulu merupakan sekolah kedokteran pertama di Indonesia yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda, STOVIA.

Sebagai saksi lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908, tempat ini tidak hanya menjadi tempat pendidikan, tetapi juga menjadi tempat lahirnya semangat kebangsaan di kalangan pemuda Indonesia.

Pengunjung dapat mengeksplorasi ruang-ruang asrama dan kuliah yang menggambarkan semangat kebangsaan serta mengikuti sesi edukasi yang memberikan pemahaman mendalam tentang sejarah kebangkitan nasional.

2. Museum Sumpah Pemuda, Jakarta

Museum Sumpah Pemuda di Jakarta mengabadikan peristiwa bersejarah pada 28 Oktober 1928, saat para pemuda dari berbagai daerah Indonesia bersumpah untuk bersatu. Dikelola oleh IHA, museum ini menampilkan koleksi berharga termasuk biola WR.Supratman yang digunakan untuk mengumandangkan lagu “Indonesia Raya” pertama kali.

Pameran foto dan dokumen asli dari era pergerakan pemuda, serta rekonstruksi asrama pemuda, memberikan pengunjung gambaran mendalam tentang semangat persatuan dan perjuangan para pemuda Indonesia.

Museum ini menawarkan pameran interaktif dan program edukasi yang menekankan pentingnya semangat kebangsaan dan persatuan.

3. Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta

Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jakarta, yang terletak di sebuah bangunan bergaya Art Deco, merupakan saksi bisu perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 16 Agustus 1945.

Dikelola oleh IHA, museum ini menyimpan artefak penting termasuk mesin tik yang digunakan untuk mengetik naskah proklamasi. Pameran di museum ini menggambarkan proses perumusan secara komprehensif dan menampilkan lebih dari seribu benda bersejarah terkait perjuangan kemerdekaan.

Museum ini tidak hanya menjadi tempat pengenalan tokoh-tokoh proklamasi tetapi juga pusat kontemplasi sejarah yang edukatif dan menghibur, memperkaya pemahaman pengunjung tentang momen-momen bersejarah tersebut.

4. Museum Perjuangan, Yogyakarta

Museum Perjuangan di Yogyakarta, yang diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada tahun 1961, didirikan untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Terletak di pusat kota, museum ini memamerkan koleksi yang menggambarkan semangat kebangkitan nasional dan perjuangan para pejuang kemerdekaan.

Museum PerjuanganMuseum Perjuangan Foto: (dok. IHA)

Dikelola oleh IHA, museum ini menawarkan pameran yang memberikan nuansa sejarah inspiratif dan mengajak pengunjung untuk menggali lebih dalam tentang perjuangan nasional.

Selain sebagai pusat kajian sejarah, museum ini juga berfungsi sebagai ruang publik untuk berbagai kegiatan masyarakat, memperkuat spirit perjuangan bangsa dan menjaga agar api perjuangan terus menyala di hati setiap anak bangsa.

5. Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta

Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta merupakan peninggalan kolonial tertua yang menawarkan pengalaman wisata sejarah yang komprehensif.

Awalnya dibangun sebagai markas pertahanan oleh Belanda, kini museum ini dikelola oleh IHA dan menampilkan narasi sejarah dari era Diponegoro hingga Orde Baru.

Museum Benteng VredeburgMuseum Benteng Vredeburg Foto: (dok. IHA)

Koleksinya yang terdiri dari lebih dari 7.000 benda bersejarah, termasuk artefak yang digunakan oleh tokoh proklamator Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta, memberikan wawasan mendalam tentang perjuangan nasional.

Terletak strategis dekat Jalan Malioboro, museum ini juga menjadi destinasi wisata ikonik dengan ruang terbuka hijau yang asri dan program publik yang menarik, menjadikannya tempat belajar sekaligus rekreasi yang sempurna bagi pelajar dan wisatawan.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Terpukau Pulau Padar, Paket Komplet Healing dan Trekking



Jakarta

Seenggaknya sekali seumur hidup traveler menjejak Pulau Padar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sini, rasanya tenteram dan nyaman usai melepaskan pandangan sejauh-jauhnya.

Perjalanan menuju Pulau Padar, yang merupakan bagian dari Taman nasional Komodo, bukan hanya perihal mencapai tujuan, tetapi juga menjelajahi pesona alam yang luar biasa.

Untuk menuju ke sana, memakan waktu selama sekitar satu jam hingga satu jam 30 menit menggunakan speedboat dari hotel yang saya tempati di Labuan Bajo. Saya menuju Pulau Padar bersama rombongan yang mayoritas debutan berlibur ke provinsi ini.


Saya berkesempatan menuju Pulau Padar saat musim kemarau. Saat cuaca betul-betul panas.

Sungguh, benar-benar disuguhi berbagai pemandangan yang memukau, dengan pulau-pulau kecil yang terlihat dalam perjalanan menuju pulau yang ada di sana.

Awalnya dari kejauhan, Pulau Padar ini terlihat seperti pulau kecil dan mungkin di pikiran pengunjung baru seperti saya akan berkata “Ah, ini sih mudah untuk mencapai ke puncaknya”.

Rombongan wisatawan bersama detikTravel berlibur di Pulau Padar.Rombongan wisatawan bersama detikTravel berlibur di Pulau Padar. (Foto: dok. istimewa)

Namun sesampainya di sana, detikTravel baru menyadari bahwa pulau ini sebenarnya cukup tinggi, bahkan memiliki ketinggian sekitar 238 MDPL dan 817 anak tangga menurut salah satu penjaga sekaligus naturalist Balai Taman Nasional Komodo, Makasae.

Perjalanan mendaki menjadi tantangan tersendiri. Meskipun awalnya tampak mudah, kenyataannya membutuhkan stamina yang baik untuk mencapai puncaknya. Rute mendaki yang menanjak dan jumlah anak tangga yang banyak dapat menjadi ujian fisik, namun setiap langkah yang diambil membawa saya semakin dekat pada pemandangan yang spektakuler.

Saat mendaki, saya melihat pemandangan yang luar biasa di sekitar pulau. Panorama laut biru yang luas, pasir putih yang membentang di pantai, serta vegetasi hijau, kuning ilalang dan rumput yang menyegarkan mata, serasi betul dengan langit biru seluas-luasnya. Semua itu berpadu menciptakan harmoni alam yang memukau.

Di beberapa titik, saya berhenti sejenak untuk mengabadikan momen dan menikmati keindahan yang tersaji. Tentunya juga untuk mengambil napas sejenak dan minum air putih agar tetap terhidrasi setelah menaiki beberapa anak tangga Pulau Padar.

Meskipun tak sampai puncak karena saya tak kuat, rasa lelah terbayar lunas dengan pemandangan yang menakjubkan. Dari atas, saya bisa melihat lanskap Pulau Padar yang ikonik dengan tiga teluknya yang berbentuk seperti lekukan-lekukan indah. Warna air laut yang berbeda-beda di setiap teluk menambah keunikan panorama tersebut. Tak heran jika banyak wisatawan yang menyebut pemandangan ini sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Rombongan wisatawan bersama detikTravel berlibur di Pulau Padar.Rombongan wisatawan bersama detikTravel berlibur di Pulau Padar. (Foto: dok. istimewa)

Pulau Padar memang tempat yang sempurna untuk “healing”. Keindahan alamnya yang masih alami dan suasana yang tenang membuat pikiran dan tubuh merasa lebih rileks dan segar. Udara yang bersih, suara ombak yang menenangkan, serta keindahan alam yang tak tertandingi menjadikan pulau ini sebagai destinasi yang ideal untuk melepaskan stres dan menikmati ketenangan.

“Karena rombongan kami sampenya terlalu siang, jadi cuacanya terlalu panas. Walaupun terik, capek, semuanya terbayar lunas pas lihat pemandangan indah dari pos 5 Pulau Padar. Cantik banget,” kata salah satu anggota rombongan kami, Dinda Rachmawati.

Berkaca pengalamannya, perempuan 32 tahun asal Pondok Aren, Tangerang Selatan itu menyarankan agar perjalanan dimulai lebih pagi.

“Jadi, sebaiknya kalau mau ke Pulau Padar mulainya pagi-pagi. Itu juga agar pengunjung belum terlalu ramai,” Dinda menambahkan.

Tak hanya pemandangan, Pulau Padar juga menawarkan pengalaman yang tak terlupakan melalui interaksi dengan satwa liar yang ada di sekitarnya, seperti rusa hingga kalong. Keberadaan flora dan fauna khas tropis di pulau ini menjadi nilai tambah untuk daya tarik tersendiri.

Setelah menikmati keindahan dari atas, saya melanjutkan perjalanan turun dan menikmati sisa waktu di pantai yang bersih dan tenang. Mengunjungi Pulau Padar bukan hanya sekedar berlibur, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang memberikan ketenangan dan kedamaian.

Saya sangat merekomendasikan tempat ini bagi siapa saja yang mencari destinasi untuk “healing” dan merasakan keajaiban alam yang sesungguhnya. Pulau Padar adalah permata tersembunyi di Indonesia yang siap mempesona siapa saja yang berkunjung.

Merujuk situs resmi Balai Taman Nasional Komodo, harga tiket masuk untuk wisatawan domestik Rp 5.000 di tengah pekan sedangkan di akhir pekan dan hari libur tiket masuknya Rp 7.500. Selain itu ada biaya tiket speedboat atau kapal motor Rp 100.000 – Rp 200.000 setiap unit per hari.

Biasanya sih tiket masuk itu sudah dalam paket wisata yang ditetapkan agen travel, yang biasanya terdiri dari sewa kapal, makan besar, snack, dan air minum.

(suc/fem)



Sumber : travel.detik.com