Category Archives: Domestik

Ini Tempat Eksekusi Penjahat di Danau Toba: Kepala Dipenggal-Jantung Dimakan



Samosir

Zaman dahulu, suku Batak mengenal sudah mengenal sistem pengadilan. Bahkan, ada satu tempat khusus untuk mengeksekusi para penjahat di Danau Toba.

Di balik keindahan alam dan budayanya, di sekitar Danau Toba terdapat peninggalan sejarah yang menyimpan kisah mengerikan di masa lalu.

Destinasi itu adalah Batu Persidangan keluarga orang Batak bermarga Siallagan. Batu Persidangan itu terdapat di Huta Siallagan di Ambarita, Kabupaten Samosir.


Batu Persidangan sendiri merupakan deretan kursi dan meja yang terbuat dari batu. Terdapat 9 kursi di Batu Persidangan yang mengelilingi satu meja yang terdapat di bagian tengah.

Di sekitar Batu Persidangan, terdapat rumah Bolon atau rumah adat Batak sebanyak 8 rumah yang sudah berumur ratusan tahun. Rumah Bolon itu memiliki sejumlah fungsi, mulai rumah Raja Siallagan dan keluarga hingga tempat pemasungan bagi pelaku kejahatan.

Konon dulu, ketika ada pelaku kejahatan di Huta Siallagan bakal disidang di Batu Persidangan. Dalam prosesi persidangan, Raja Siallagan akan memimpin persidangan langsung dan didampingi oleh dukun.

Jika tindak kejahatan pelaku dinilai kecil, maka hukumannya berupa pemasungan di salah satu rumah Bolon tersebut. Namun jika kejahatannya tergolong kejahatan berat, maka pelaku akan dijatuhi hukuman pancung alias potong kepala.

Pemandu Wisata di Huta Siallagan, Jansen Sitinjak, mengatakan tanggal eksekusi bakal ditentukan berdasarkan hari terlemah bagi penjahat itu. Sebab, rata-rata pelaku kejahatan diyakini memiliki ilmu hitam.

“Tanggal eksekusi pun akan ditentukan dari hari paling lemah si penjahat atau hari baiknya kapan. Pasalnya, rata-rata orang yang berani melakukan kejahatan diyakini punya ilmu hitam. Di sini dikenal namanya Manitiari atau primbon Suku Batak,” kata Jansen Sitinjak seperti dikutip dari laman indonesia.go.id.

Cara Eksekusi Penjahat yang Mengerikan

Di hari eksekusi, pelaku kejahatan bakal diletakkan di atas meja Batu Persidangan dengan mata tertutup kain ulos. Pelaku kejahatan kemudian diberi makanan berisi ramuan dukun untuk melemahkan ilmu hitam sang pelaku.

Kemudian, si pelaku kejahatan akan dipukul menggunakan tongkat tunggal panaluan. Yaitu tongkat magis dari kayu berukir gambar kepala manusia dan binatang, dengan bagian atas berupa rambut panjang.

Sementara saat dieksekusi, pakaian pelaku kejahatan terlebih dahulu dilepaskan untuk memastikan tidak ada jimat yang masih tersisa. Tubuh pelaku kemudian disayat-sayat dengan senjata tajam.

Jika tubuh pelaku kejahatan sudah mengeluarkan darah, maka itu artinya ilmu kebal pelaku sudah hilang. Bagian tubuh yang disayat dan mengeluarkan darah bakal disiram dengan air asam untuk membuat pelaku kejahatan semakin lemah. Setelah itu, baru eksekusi hukuman pancung akan dilaksanakan.

Jantung dan Hati Pelaku Kejahatan Akan Dimakan

Konon, jantung dan hati pelaku kejahatan akan dimakan oleh sang raja Siallagan, karena diyakini dapat menambah kekuatan. Sementara kepala pelaku kejahatan akan diletakkan di meja, demikian juga badan yang sudah terpisah dengan kepala.

Badan pelaku kejahatan kemudian dibuang ke Danau Toba selama 7 hari 7 malam. Selama itu pula, rakyat dilarang untuk beraktivitas di dalam Danau Toba.

Sementara kepala pelaku kejahatan yang sudah dipenggal, akan diletakkan di gerbang masuk Huta Siallagan sebagai peringatan ke raja lain maupun rakyat, agar tidak melakukan kejahatan yang serupa.

Setelah membusuk, kepala akan dibuang ke hutan di balik kampung dan rakyat akan dilarang beraktifitas di hutan selama 3 hari.

Menurut Jansen penghukuman seperti itu sudah berakhir di abad ke-19. Saat itu, agama Kristen sudah mulai masuk ke Kawasan Danau Toba melalui misionaris asal Jerman, yaitu Ludwig Ingwer Nommensen.

Kini Huta Siallagan bertransformasi menjadi salah satu desa wisata favorit di sekitar Danau Toba. Kisah mengerikan itu kini sudah hilang dan Huta Siallagan menjadi desa wisata dengan masyarakatnya yang ramah-ramah.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Menara Miring Ini Jadi Titik Nol Kilometer Jakarta



Jakarta

Di kawasan Kota Tua, Jakarta terdapat sebuah menara miring tua yang menyimpan sejarah, yaitu Menara Syahbandar (Uitkijk). Menara itu menjadi titik nol kilometer Jakarta.

Menara Syahbandar yang berada di Jl Pasar Ikan, Jakarta Utara itu merupakan saksi bisu perkembangan pesat jalur perdagangan di Jakarta. Dibangun pada tahun 1839 oleh pemerintah Belanda, menara itu awalnya berfungsi sebagai menara pemantau kapal yang keluar masuk Pelabuhan Sunda Kelapa.

Dari menara itulah para petugas mengawasi lalu lintas kapal, memastikan kelancaran bongkar muat barang, dan memungut pajak dari para pedagang.


Sebelum menara itu didirkan, pada 1645, lokasi itu merupakan tempat benteng pertahanan milik Belanda, bernama Benteng Culemborg.

Salah satu penjaga turut menjelaskan secara singkat kondisi situasi sekitar menara pada masa lampau. Sebagai daerah pusat pemerintahan Belanda, daerah menara yang tak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa itu selalu ramai lalu lalang kapal sebagai akses keluar masuk orang-orang Belanda.

“Belanda itu pusat pemerintahannya dulu di sini sebelum ke Cikini, pasar induk itu di sini. Menginjakkan kakinya pertama kali itu ke sini dulu, lewat Pelabuhan Sunda Kelapa. Setelah menguasai dia membangun pemerintahan dan bangun kantor gubernur di Kota Tua, bahkan perahu dulu sampe ke sana (Gedung Fatahillah),” kata penjaga itu.

Menara Syahbandar, Jakarta dulu Titik Nol Kilometer JakartaMenara Syahbandar, Jakarta dulu Titik Nol Kilometer Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

Yang bikin unik, Menara Syahbandar sedikit miring. Konon, kemiringan itu justru disengaja dengan tujuan untuk mempermudah pengamatan ke arah laut. Kendati tak separah Menara Pisa di Italia, kemiringan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Menara Syahbandar.

Selain itu, menara tersebut unggul di masa lalu sebagai bangunan tertinggi di Batavia pada masa itu.

Menara Syahbandar tak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menjadi titik nol kilometer Jakarta sebelum akhirnya dipindahkan ke Monumen Nasional. Itu menandakan bahwa menara ini merupakan pusat kota Batavia pada masa lampau.

Titik nol itu berbentuk persegi dengan ukiran tulisan Tionghoa atau biasa disebut Prasasti Tionghoa. Jika diterjemahkan prasasti tersebut bertuliskan kata Kantor Survey, Garis Bujur, dan Titik 0 Batavia. Jika dirangkai jadilah kalimat ‘Garis Bujur Nol Batavia’ (Asal garis bujur berdasarkan kantor jawatan survey).

Menara Syahbandar, Jakarta dulu Titik Nol Kilometer JakartaMenara Syahbandar, Jakarta dulu Titik Nol Kilometer Jakarta (Natasha Kayla Ananta/detikcom)

Menara Syahbandar terbagi atas tiga bangunan utama, yakni Ruang Titik Nol Batavia, Ruang Menara Syahbandar, dan Ruang Koleksi.

Beberapa waktu yang lalu pengunjung bahkan bisa menaiki tangga kayu yang cukup curam hingga ke puncak menara. Pemandangan memukau kawasan Kota Tua Jakarta dengan deretan bangunan tua dan dermaga Sunda Kelapa akan tersaji di depan mata dari jendela yang empat sisi yang ada.

Sayangnya, saat dikunjungi detikTravel pada Selasa (18/6/24) berdasarkan keterangan salah satu petugas saat ini tangga-tangga sedang dalam tahap perbaikan.

“Oh itu di atas, maintenance lagi ada kerusakan. Udah lama emang dua bulanan, lagi gak bisa dinaikin. Lantai kayu-kayunya sudah mulai lapuk,” kata dia.

Konon, di daerah bawah menara terdapat terowongan bawah tanah yang terkoneksi ke Stadius atau Museum Sejarah Jakarta hingga Benteng Frederik Hendrik yang kini daerahnya telah beralih fungsi menjadi Masjid Istiqlal.

Jika ingin menggali lebih dalam sejarah Menara Syahbandar dan Jakarta secara keseluruhan, traveler bisa mengunjungi Museum Bahari yang terletak tak jauh dari menara. Di museum itu, traveler bisa melihat berbagai koleksi benda-benda bahari dan artefak yang menceritakan tentang sejarah pelayaran dan perdagangan di Nusantara.

Menara ini buka setiap hari Selasa-Minggu pukul 09.00-16.00 WIB dengan harga tiket masuk yang terintegrasi dengan Museum Kebaharian Jakarta yakni mulai dari Rp 3.750 ribu.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bukan Negeri China, Ini Old Shanghai di Jakarta Timur yang Asyik buat Ngonten



Jakarta

Butuh tempat foto dengan latar bangunan-bangunan khas Negeri Tirai Bambu? Atau butuh tempat baru yang memiliki banyak pilihan makanannya? Old Shanghai bisa jadi tujuan tersebut, tempat ini memiliki konsep yang unik dan bisa memberikan kesan yang menarik saat berkunjung ke sini.

Berada di kawasan Sedayu City, Kelapa Gading, Jakarta Timur, Old Shanghai jadi tujuan baru masyarakat Jakarta untuk berburu kuliner dengan nuansa khas China. Fasad bangunan-bangunan di kawasan itu menjadi daya tarik.

Arsitektur ala bangunan tradisional China ini keren-keren, cocok untuk diabadikan dan di-upload di sosial media. Jika orang-orang tak tahu dengan tempat ini mungkin akan menyangka traveler sedang berada di daratan China sungguhan.


Ketika pertama kali masuk akan disambut gapura megah nan tinggi menjulang dengan ornamen yang bertuliskan aksara China dan makhluk ikoniknya, naga. Di kedua sisi gapura ini juga terdapat mural-mural yang tak kalah memesona,

Masih berada di area depan, pengunjung juga pastinya bakalan mengabadikan momen terlebih dahulu di gapura tersebut sebelum masuk lebih dalam dan mengeksplorasi setiap sudut di Old Shanghai ini. Berjalan melewati gapura tersebut, detikTravel pun makin terpukau dengan bangunan pagoda berwarna merah yang tepat berada sejajar dengan gapura.

Tempat ini mengingatkan detikTravel dengan film-film kolosal yang kerap diperankan oleh Jet Li, saat berada di sini terasa kita masuk ke tempat kaisar-kaisar China zaman dahulu. Tak perlu mengeluarkan kocek yang mahal traveler akan serasa tengah berlibur berada di China.

Selain bangunan-bangunan ikonik, di Old Shanghai Sedayu City juga terdapat beberapa patung. Salah satunya patung tinggi yang berada dekat pagoda, patung tersebut adalah Dewi Tian Shang Shen Mu atau Dewi Mazu yang merupakan dewi samudera.

Old Shanghai Sedayu City Jakarta TimurOld Shanghai Sedayu City Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

“Satu hal yang juga menjadi sorotan di Old Shanghai yaitu pagoda dan Altar Dewi Mazu di area tengah-tengah Old Shanghai, di mana Altar Dewi Mazu juga dijadikan tempat ibadah di depan patungnya, kami siapkan dupa dan banyak pengunjung yang berdoa disitu,” kata Deputy Division Head Commercial Retail 1 Agung Sedayu Group, Jarenta Sinaga, kepada detikTravel, Rabu (19/6/2024).

Masih banyak lagi bangunan-bangunan keren yang berada di Old Shanghai ini, lawasan yang berdiri seluas 14,515 meter persegi ini juga memiliki banyak tenant-tenant makanan. Ya memang tempat ini selain menyuguhkan keindahan suasana Kota Shanghai juga jadi spot kulineran warga sekitar.

Dalam laman resmi Agung Sedayu Group, sebagai perusahaan yang membidani tempat ini, menyebut terdapat lebih dari 80 tenant kuliner. Untuk masyarakat muslim juga tenang karena di Old Shanghai juga banyak makanan-makanan halal.

“Old Shanghai menyediakan banyak pilihan makanan non halal dan sekitar 70 persen kuliner di Old Shanghai merupakan kuliner halal,” keterangan di laman itu.

Tak cukup dengan suasana dan sajian kulinernya, Old Shanghai juga memiliki supermarket yang juga bernuansa China. Old Shanghai memang masih terbilang muda sebagai sebuah destinasi karena baru tahun 2022 lalu tempat ini resmi beroperasi.

Old Shanghai Sedayu City Jakarta TimurOld Shanghai Sedayu City Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

Kendati masih baru tapi pamor tempat ini sudah begitu masyhur, terlihat dari video-video yang berseliweran di media sosial tenant Old Shanghai. Memang tak aneh bila tempat ini jadi magnet untuk para pembuat konten, tempat yang keren serta akses masuk yang mudah.

“Banyak pengunjung yang gemar mencari spot foto yang instagramable dan aesthetic, seringkali juga banyak yang membuat konten vlog ala-ala di sini. Sehingga membuat kita menjadi bertambah exposure dan semakin banyak orang mengenal Old Shanghai,” kata Jarenta.

Untuk bisa masuk ke kawasan ini tak dipungut biaya dan jika ingin berkunjung ke tempat ini, waktu yang pas adalah sore hari. Selain tak terlalu terik, keindahan tempat ini akan semakin meningkat ketika lampu-lampu mulai menyala.

Ini semakin menggugah semangat untuk mengeksplor setiap ikon di Old Shanghai dengan latar bangunan khas China dan lampion-lampion menggantung yang semakin membuat foto jadi keren. Old Shanghai juga bisa didatangi setiap hari, mulai Senin-Jumat buka pada pukul 10.00-22.00 WIB dan Sabtu-Minggu mulai pukul 07.00 WIB sampai 23.00 WIB.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

Plunyon Kalikuning di Sleman Versi Lokal Jembatan Russel di Skotlandia



Sleman

Plunyon Kalikuning, dengan jembatan ikoniknya, sering disebut sebagai “versi lokal Jembatan Russel” di Skotlandia. Terletak di kaki Gunung Merapi, jembatan ini tidak hanya menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan, tetapi juga memiliki sejarah yang kaya dan menjadi destinasi wisata yang semakin populer.

“Jembatan ini dibangun oleh warga pada tahun 1982-1983 untuk irigasi, bukan oleh Belanda seperti yang banyak orang kira,” ujar Sarjiman, pengelola Plunyon Kalikuning.

Jembatan yang berada di Kedungsriti, Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, KabupatenSleman, Yogyakarta itu semakin populer di kalangan wisatawan karena disebut-sebut mirip dengan jembatan Russel di Skotlandia. Meskipun memiliki fungsi awal yang berbeda, kedua jembatan itu kini sama-sama menjadi ikon wisata di wilayah masing-masing.


Pluyon Kalikuning, Umbulharjo, Sleman, YogyakartaPluyon Kalikuning, Umbulharjo, Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Seperti jembatan Russel, yang terkenal dengan keindahan arsitektur dan alam sekitarnya, Plunyon Kalikuning juga menawarkan pemandangan alam yang luar biasa. Dengan bukit hijau yang mengelilinginya dan sungai yang mengalir di bawahnya, jembatan ini memberikan pengalaman visual yang menakjubkan bagi para pengunjung.

“Pemandangan Gunung Merapi paling jelas terlihat di pagi hari sekitar pukul 7,” kata Sarjiman.

Selain pemandangannya yang menawan, jembatan Plunyon Kalikuning juga memiliki nilai sejarah dan fungsi penting dalam irigasi. Meskipun kini lebih dikenal sebagai objek wisata, fungsi irigasi jembatan ini masih tetap berjalan, mendukung kebutuhan air untuk pertanian dan rumah tangga di Sleman dan Yogyakarta.

“Jembatan ini awalnya dibuat untuk mengalirkan air ke sawah-sawah dan ternak di daerah sekitarnya,” kata Sarjiman.

Popularitas jembatan ini semakin meningkat setelah menjadi lokasi syuting film “KKN Desa Penari”. Proses syuting memerlukan izin khusus sebesar Rp10 juta dan persiapan yang memakan waktu lima hari, dengan syuting dilakukan selama satu hari satu malam. Hal ini menunjukkan betapa menariknya Plunyon Kalikuning sebagai lokasi dengan daya tarik visual yang kuat.

“Setelah dipakai untuk syuting, tempat ini menjadi lebih ramai pengunjung,” kata Sarjiman.

Dengan kemiripannya dengan Jembatan Russel, Plunyon Kalikuning juga menjadi tempat favorit untuk fotografi. Wisatawan sering memanfaatkan pemandangan jembatan yang indah untuk mengabadikan momen mereka.

“Tiap hari biasa paling ada 150-200 pengunjung, tapi kalau hari libur bisa sampai 1250 orang,” kata Sarjiman.

Ini menunjukkan betapa populernya jembatan ini, baik untuk wisatawan lokal maupun internasional.

Pluyon Kalikuning, Umbulharjo, Sleman, YogyakartaPluyon Kalikuning, Umbulharjo, Sleman, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Meski demikian, beberapa tantangan seperti kerawanan longsor dan kondisi taman yang mulai lapuk perlu diperhatikan.

“Tamannya sudah lapuk dan ini sudah kami laporkan tetapi belum ada respon. Sudah setahunan,” kata Sarjiman.

Dengan perhatian yang lebih pada pemeliharaan dan keamanan, Plunyon Kalikuning dapat terus menjadi destinasi wisata yang menarik dan aman bagi semua pengunjung.

Secara keseluruhan, Plunyon Kalikuning menawarkan pesona yang luar biasa dengan jembatan ikonik yang kini dikenal sebagai versi lokal Jembatan Russel di Skotlandia. Dengan pemandangan alam yang indah, sejarah yang kaya, dan daya tarik visual yang kuat, jembatan ini menjadi destinasi yang wajib dikunjungi bagi para pecinta alam dan sejarah.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Sejarah Jembatan Plunyon Kalikuning, Jembatan Ikonik di Film KKN Desa Penari



Sleman

Jembatan Plunyon Kalikuning semakin populer di kalangan wisatawan setelah muncul sebagai latar ikonik dalam film “KKN Desa Penari”. Jembatan itu memiliki sejarah panjang dan berperan penting dalam irigasi lokal hingga kemudian menjadi destinasi wisata.

“Plunyon Kalikuning dibangun untuk irigasi sekitar tahun 1982-1983,” kata Sarjiman, pengelola Plunyon Kalikuning saat ditemui detikTravel.

Dulu, jembatan ini dibuat oleh warga setempat, bukan oleh Belanda seperti yang banyak orang kira. Fungsi utamanya adalah untuk mengalirkan air ke sawah-sawah dan ternak di daerah sekitarnya.


Plunyon sendiri diambil dari kata lunyu, yang dalam bahasa Jawa berarti licin. Hal tersebut disebabkan batu di situ sangat licin. Namun, letusan Gunung Merapi tahun 2010 yang dahsyat telah mengubah wajah Plunyon Kalikuning.

“Dulu, batu di sini sangat licin, tetapi setelah erupsi, semuanya tertutup pasir sehingga berubah bentuk. Warna air di Kali Kuning pun berubah, dari kuning keruh menjadi lebih jernih setelah tertutup batu dan pasir,” kata Sarjiman.

Selain itu, letusan juga merusak beberapa bagian jembatan, termasuk pagar besinya yang akhirnya diperbaiki pada tahun 2018.

Sejak tahun 2016, Plunyon Kalikuning mulai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) dan pengunjung dikenakan tiket masuk.

“Kami mulai memungut tiket dari tahun 2016. Tiket ini membantu dalam pemeliharaan dan pengelolaan tempat ini, termasuk perbaikan fasilitas dan kebersihan area,” ujarnya.

Saat ini, irigasi masih berjalan dan airnya juga dimanfaatkan oleh PDAM untuk kebutuhan masyarakat Sleman dan Yogyakarta melalui pipa-pipa besar.

Film “KKN Desa Penari” yang mengambil lokasi syuting di Plunyon Kalikuning telah memberikan dampak signifikan terhadap jumlah pengunjung. Proses syuting itu memerlukan izin khusus sebesar Rp 10 juta dan persiapan yang memakan waktu lima hari, dengan syuting dilakukan selama satu hari satu malam.

“Sebelum dipakai syuting, tempat ini tidak seramai sekarang,” ujar Sarjiman.

Seiring dengan peningkatan jumlah pengunjung, beberapa masalah juga mulai muncul, termasuk kerawanan longsor dan kondisi taman yang mulai lapuk.

“Tamannya sudah lapuk dan ini sudah kami laporkan tetapi belum ada respon. Sudah setahunan,” ujar Sarjiman.

Plunyon Kalikuning menyuguhkan pemandangan indah Gunung Merapi yang paling jelas terlihat di pagi hari sekitar pukul 07.00. Dengan pengelolaan yang baik dan perhatian terhadap keselamatan, diharapkan Plunyon Kalikuning dapat terus menjadi destinasi wisata yang menarik bagi pengunjung sambil tetap mempertahankan fungsi irigasinya yang vital bagi masyarakat sekitar.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kengerian Mendatangi Bangunan Kosong di Rumah Hantu Bali, Berani?



Badung

Bali tak cuma punya pantai saja. Buat traveler yang punya nyali lebih, saatnya mengujinya dengan mendatangi bangunan kosong di Rumah Hantu Bali. Berani?

Sensasi horor menjelajahi bangunan kosong di Rumah Hantu Bali ternyata banyak digemari wisatawan saat libur sekolah atau akhir pekan.

Wahana rumah hantu yang buka sejak Kamis (6/6) itu memang menawarkan kengerian menjelajah gedung kosong di Jalan Raya Kuta nomor 11, Badung, Bali.


“Ini memang bangunan terbengkalai sejak 10 tahun lalu. Bekas toko sepatu ini,” kata Media Relation Rumah Hantu Bali Gita Rosmayanti, Minggu (16/6).

Tim detikBali sempat menjajal wahana menjelajah bangunan bekas toko sepatu itu. Baru masuk, aura aneh langsung menyergap dan membuat bulu kuduk berdiri.

Antusiasme pengunjung saat menunggu giliran masuk ke Rumah Hantu Bali, Kuta, Badung, Minggu (16/6/2024). (Aryo Mahendro/detikBali)Antusiasme pengunjung saat menunggu giliran masuk ke Rumah Hantu Bali, Kuta, Badung (Aryo Mahendro/detikBali)

Kondisi khas bangunan kosong yang kumuh, menambah sensasi keangkeran di wahana itu. Aura mistis semakin terasa saat semakin jauh melangkah memasuki tiap ruangan.

Entah muncul dari mana, para hantu lalu menyambut dengan keramahan khas alam lain. Dengan suara melengking, mereka mengajak siapapun yang datang untuk tinggal selamanya di dalam bangunan kosong itu.

“Tiap hari hantunya berbeda. Tergantung temanya. Kalau hari ini temanya suster ngesot,” kata Gita.

Gita mengatakan Rumah Hantu Bali buka setiap hari mulai pukul 13.00 Wita hingga pukul 22.00 Wita. Ada dua wahana yang ditawarkan, yaitu wahana menjelajah bangunan kosong dan simulator mobil hantu.

Harga tiket masuk per wahana hanya Rp 35 ribu saja untuk pengunjung lokal. Sedangkan untuk turis asing, harga tiket masuknya Rp 75 ribu per wahana.

“Kami menarget turis lokal dan asing karena di Kuta. (Rumah Hantu Bali) untuk semua usia. Anak-anak juga boleh, asal berani saja,” katanya.

Antusiasme pengunjung saat menunggu giliran masuk ke Rumah Hantu Bali, Kuta, Badung, Minggu (16/6/2024). (Aryo Mahendro/detikBali)Rumah Hantu Bali (Aryo Mahendro/detikBali)

Ayu Cahya (16), warga Kuta, sempat menjajal wahana simulator mobil hantu. Namun, dirinya tak bertahan lama. Saking takutnya, dia terpaksa menyudahi wahana simulator lebih awal.

“Sudah nggak kuat. Ketakutan. Pengen nonjok hantunya,” kata Ayu.

Dia mengaku suka dengan wahana rumah hantu. Namun, baru kali pertama dirinya mencoba simulator mobil hantu itu.

Setali tiga uang, Diana Blensiska (26), wisatawan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) menuturkan baru kali pertama menguji nyali di Rumah Hantu Bali. Karena baru kali pertama, ia tidak dapat membendung rasa takutnya.

“Masih gemetaran. Tapi, jantung masih aman,” kata Diana berseloroh.

Menurutnya, Rumah Hantu Bali yang memanfaatkan aura gedung kosong jadi sumber kengerian. Ditambah, sosok para hantu yang seolah tidak ingin lepas darinya.

“Auranya seperti bikin merinding. Tapi, memang bangunannya terbengkalai, jadi auranya serem,” katanya.

——–

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Misteri Makam di Gunungkidul Diselimuti Kain Putih, Begini Alasannya


Jakarta

Gunungkidul merupakan wilayah yang terkenal dengan keindahan alamnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu fenomena yang mencuri perhatian yaitu kebiasaan masyarakat yang menyelimuti makam-makam dengan kain putih.

Mungkin orang yang datang dari luar Gunungkidul belum mengetahui mengapa makam makam tersebut ditutupi kain putih. Lantas, apa alasannya?

Alasan Makam-makam Gunungkidul Diselimuti Kain Putih

Jika sedang berjalan-jalan ke daerah Gunungkidul, traveler mungkin akan menemukan sejumlah makam yang penutup kain putih. Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan.


1. Tradisi Warga Setempat

Salah satu kawasan yang banyak memiliki makam berselimut kain putih adalah di Kecamatan Paliyan. Kain putih menyelimuti seluruh bagian nisan mayoritas makam.

Menurut wawancara detikJogja sebelumnya, pemakaian kain putih untuk menutupi makam merupakan tradisi warga setempat. Salah seorang warga Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Watinah mengatakan bahwa selimut putih di makam biasanya diganti ketika bulan Ruwah.

“Kalau tradisi sini harus pakai kain putih, termasuk udah adatnya begitu. Orang Jawa, maklum, harus pakai begitu-begitu. Apalagi kalau bulan Ruwah itu pada nyekar, itu harus ganti selimut putih itu. Putihan orang bilang, harus warna putih, selain itu nggak dipakai,” ucapnya.

Meski begitu, tidak semua warga menganut kepercayaan tersebut. Warga yang berbeda keyakinan tidak memasang kain putih di makam. Hal itu pun tidak menjadi masalah.

2. Sudah Dilakukan Sejak Nenek Moyang

Menurut warga lainnya, Ani, tradisi menyelimuti makam dengan kain putih sudah dilakukan sejak dahulu kala. Sehingga menjadi kebiasaan yang turun temurun.

“Sudah dari dulu, sejak nenek moyang. Jadi ini turun-temurun. Warga Gunungkidul masih gini, diselimuti putih-putih,” kata Ani.

Ada keyakinan warga setempat yang dipercayai jika makam tidak diselimuti kain. Sosoknya akan datang ke mimpi keluarga yang ditinggalkan.

“Kalau nggak dikasih selimut, katanya bakal ke bawa mimpi. Jadi kayak ingetin keluarga buat dikasih kain,” ucap Ani.

Budaya Jawa sendiri memang masih kental dengan memberikan penghormatan kepada orang yang sudah meninggal. Menurut Dosen Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga, S.S., M.M., penghormatan tersebut mencerminkan keyakinan antara dunia orang yang hidup dan dunia roh. Hal ini dilakukan agar terjadi keseimbangan dan keharmonian.

“Leluhur atau nenek moyang memiliki peran penting dalam budaya Jawa. Orang Jawa menghormati dan memuja leluhur mereka sebagai penjaga keluarga dan penjaga tradisi. Mereka percaya bahwa leluhur memiliki pengaruh besar dalam kehidupan mereka dan dapat memberikan nasihat serta perlindungan,” ujar Riswinarno

3. Bentuk Penghormatan kepada Orang yang Sudah Meninggal

Menurut Riswono, pemakaian kain putih di pemakaman Gunungkidul merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada keluarga yang sudah meninggal. Hal ini diyakini bisa memperkuat ikatan dengan arwah dan melestarikan tradisi.

“Pemakaian kain putih untuk membungkus nisan/kijing makam, sebagai wujud dari adanya upaya menghormati, mensucikan, meninggikan si tokoh yang dimakamkan tadi. Mengapa kain putih? Karena dianggap sebagai simbol kebersihan, kesucian, kesederhanaan,” tuturnya.

4. Bentuk Kearifan Lokal

Di sisi lain, menutupi makam dengan kain putih juga diyakini merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat setempat. Praktik ini juga dilakukan di makam-makam ulama atau tokoh-tokoh Islam.

“Kayaknya local wisdom dari masyarakat setempat. Yang jelas kalau perspektif Islam, tidak ada anjuran atau keharusan memberi kain putih di atas makam. Selama ini yang saya tahu, biasanya makam-makam ulama atau publik figur yang disepuhkan diberi penutup, dan biasanya terpisah dengan makam warga lainnya,” ujar Dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia, Willi Ashadi S.H.I., M.A.

Itulah beberapa alasan mengapa makam-makam di gunungkidul diselimuti dengan kain putih. Semoga informasi ini menambah wawasanmu.

(elk/row)



Sumber : travel.detik.com

Pabrik Kata-Kata Joger, Tempat ‘Tolah-Toleh’ Nyentrik Khas Bali, Sejak 1981



Jakarta

Pabrik Kata-Kata Joger menjadi salah satu tempat tolah-toleh yang menjadi primadona wisatawan untuk berbelanja. Ya, bukan gocekan, tempat itu betul-betul pusat tolah-toleh.

“Kami menamakan Joger bukan sebagai pusat oleh-oleh, tapi pusat tolah-toleh,” kata Mr Joger kemudian tertawa.

Mr Joger adalah salah satu pendiri Pabrik Kata-Kata Joger. Dia berduet dengan Mr Gerhard Seeger.


Nama Joger diambil dari gabungan si pemilik, yakni Jo dari nama Joseph Theodorus Wulianadi, yang merupakan Mr Joger itu, dan Ger dari nama Mr. Gerhard Seeger.

“Awalnya toko ini bernama Art & Batik Shop, tapi karena saya suka ngomong, akhirnya saya ubah namanya menjadi Pabrik Kata-Kata Joger. Jadi sekitar tahun 1987 sudah pakai nama itu di T-shirtnya,” kata Mr Joger.

Pabrik Kata-Kata Joger itu bermula dari sebuah toko di Jalan Sulawesi No. 37Denpasar dengan nama Art & Batik Shop. Kini, Pabrik Kata-Kata Joger berusia 43 tahun pada 2024 ini. Toko oleh-oleh itu didirikan pada 19 Januari 1981.

“Joger itu sebagai Pabrik Kata-Kata, nanti kata-kata itu akan ditaruh di media macam-macam, contohnya seperti kaos,” kata dia.

Pabrik Kata-Kata Joger, salat satu pusat oleh-oleh di BaliPabrik Kata-Kata Joger, salat satu pusat oleh-oleh di Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Seiring berjalannya waktu, Joger terus berkembang dan menjadi salah satu sentra oleh-oleh nyentrik khas Pulau Dewata. Traveler bisa menemukan Joger di dua lokasi, yakni di Jalan Raya Kuta dan Teman (Tempat Ternyaman) Joger yang berlokasi di Jalan Raya Denpasar-Bedugul KM 37,5.

“Kedua toko Joger menawarkan produk yang sama. Hanya perbedaanya kalau di Teman Joger (Toko Joger di daerah Luwus) itu memiliki lahan parkir yang lebih luas, sehingga cocok untuk pengunjung yang datang dengan rombongan,” ujar Mr Joger.

“Good morning, selamat pagi” sapaan khas yang akan traveler dengan ketika memasuki toko Joger. Sapaan ini dicetuskan langsung oleh Mr. Joger sejak 1981. Traveler yang datang pada siang atau sore hari akan tetap mendengar sapaan yang sama. Lucu ya!

Tak hanya disambut dengan sapaan yang unik, traveler juga akan mendapati beberapa kata-kata unik dan nyentrik di tembok Joger. “Di tembok itu juga kita tuangkan kata-katanya, jadi di tembok kita banyak kata-kata macem-macem. Tentu itu menarik orang,” ujarnya.

Toko Joger memiliki dua bagian. Bagian pertama yang terletak di depan, menawarkan oleh-oleh kerajinan khas Bali. Pada bagian ini traveler akan menemukan sandal, gantungan kunci, hiasan, dan berbagai oleh-oleh yang terbuat dari kayu.

Memasuki bagian kedua yang terletak di lantai 2, traveler akan melewati sebuah kolam ikan. Di bagian kedua ini traveler bisa memborong berbagai barang fashion khas Joger. Seperti topi, celana, kaos, jam tangan, dan masih banyak lagi.

Interior ruangan pun dibuat estetik sehingga tak jarang pengunjung menjadikan beberapa lokasi sebagai tempat berburu foto instagramable. Mr. Joger menuturkan ingin menghadirkan pengalaman yang menyenangkan, menggembirakan, memuaskan, menyehatkan, dan membahagiakan untuk pengunjung yang datang ke Joger.

Masuk ke Pusat Kata-Kata Joger, traveler tak perlu khawatir kantong bolong. Harga barang Joger relatif terjangkau. Dengan uang 5 ribu rupiah, traveler sudah bisa membawa pulang oleh-oleh gelang dan gantungan kunci.

Untuk kaos khas Joger yang sudah dihiasi dengan berbagai tulisan nyentrik dan menggelitik dibanderol sekitar Rp 96.000 hingga Rp 125.000 dengan berbagai ukuran. Hanya di Joger saja traveler bisa menemukan jam tangan mundur, yang jarum jamnya bergerak ke kiri. Unik ya!

Pabrik Kata-Kata Joger Bali buka setiap hari mulai pukul 10.00 WITA hingga pukul 18.00 WITA. Menurut Mr. Joger, pabrik kata-kata ini bisa dikunjungi sekitar 3.000 pengunjung.

Toko nyentrik ini hanya memiliki cabang di Bali loh! Jadi, kapan traveler akan berburu kaos khas Joger? Siap-siap tertawa saat membaca kata-katanya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Jembatan Ikonik dengan Taman Tepi Sungai



Sleman

Terletak di kaki Gunung Merapi, Plunyon Kalikuning memiliki pesona alam yang memukau dengan jembatan ikonik, taman tepi sungai, area pendakian, serta panorama bukit hijau dan pegunungan yang menakjubkan.

Keindahan tempat ini menjadikannya destinasi favorit bagi wisatawan yang ingin menikmati keajaiban alam sambil merasakan ketenangan jauh dari hiruk-pikuk kota.

Plunyon Kalikuning dikenal dengan jembatan ikoniknya yang menjadi latar dalam film “KKN Desa Penari”. Dibangun pada tahun 1982-1983, jembatan ini awalnya dibuat untuk irigasi oleh warga setempat. Sekarang, jembatan ini menjadi daya tarik utama bagi pengunjung yang ingin menikmati pemandangan alam yang indah.


“Jembatan ini dulunya dibuat untuk mengalirkan air ke sawah-sawah dan ternak di daerah sekitarnya,” ujar Sarjiman, pengelola Plunyon Kalikuning.

Yuk intip segala pesona dari Plunyon Kali Kuning

Taman Tepi Sungai

Selain jembatan yang mempesona, Plunyon Kalikuning juga memiliki taman tepi sungai yang menawarkan tempat yang sempurna untuk bersantai. Taman ini sering dikunjungi oleh wisatawan yang ingin menikmati suasana tenang sambil mendengarkan gemericik air sungai.

Suara gemericik air dari sungai bisa Traveler tempuh dengan tracking sekitar dari area jembatan. Di sana, akan ditemui lembah teduh yang bisa untuk basah-basahan main air sepuasnya.

Setelah erupsi Gunung Merapi, lanskap di sekitar sungai berubah, tetapi tetap menawarkan keindahan yang menakjubkan.

“Dulu, batu di sini sangat licin, tetapi setelah erupsi, semuanya tertutup pasir sehingga berubah bentuk,” jelas Sarjiman.

Area Pendakian

Bagi para pencinta alam dan pendaki, Plunyon Kalikuning menawarkan area pendakian yang menantang dan menyegarkan. Jalur pendakian ini tidak hanya memberikan pengalaman fisik yang memuaskan tetapi juga menghadirkan pemandangan alam yang luar biasa.

Pendaki juga dapat menikmati panorama bukit hijau yang mempesona sepanjang perjalanan.

“Pemandangan Gunung Merapi paling jelas terlihat di pagi hari sekitar pukul 7,” kata Sarjiman.

Panorama bukit hijau dan pegunungan

Panorama bukit hijau dan pegunungan di Plunyon Kalikuning menambah daya tarik tempat ini.

“Dulu, sini sampai gunung itu penuh pohon pinus, sekarang tinggal beberapa saja,” kenang Sarjiman.

Meskipun demikian, keindahan alam Plunyon Kalikuning tetap memikat, dengan bukit-bukit hijau yang menghiasi lanskap dan memberikan pemandangan yang menenangkan bagi para pengunjung.

Dengan pengelolaan yang baik oleh Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Plunyon Kalikuning terus berkembang sebagai destinasi wisata yang populer.

“Kami mulai memungut tiket masuk dari tahun 2016, dan ini membantu dalam pemeliharaan dan pengelolaan tempat ini,” ujar Sarjiman.

Namun, beberapa tantangan seperti kerawanan longsor dan kondisi taman yang mulai lapuk perlu mendapat perhatian lebih.

Secara keseluruhan, Plunyon Kalikuning adalah tempat yang sempurna untuk menikmati keindahan alam sambil belajar tentang sejarah dan fungsi irigasinya. Dengan jembatan ikonik, taman tepi sungai, area pendakian, serta panorama bukit hijau dan pegunungan, tempat ini menawarkan pengalaman yang lengkap bagi setiap pengunjung.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Serunya Liburan di Rivera Bogor, Ada Promo & Event Menarik



Jakarta

Rivera Outbound & Edutainment, wahana rekreasi outbound & edutainment yang berada di kawasan Bogor Nirwana Residence menghadirkan berbagai promo dan event seru pada musim liburan sekolah kali ini.

Rivera Bogor menghadirkan Promo Liburan Ceria, dengan memberikan harga khusus tiket terusan yaitu Rp 65.000/orang (Senin – Jumat) dan Rp 75.000/orang (Sabtu & Minggu). Harga promo tersebut berlaku untuk tiket masuk dan terusan wahana.

Sedangkan untuk tiket masuk saja, Rivera memberikan harga Rp 20.000/orang (Senin – Jumat) dan Rp 25.000/orang (Sabtu & Minggu). Selain pembelian tiket di lokasi, tiket bisa juga dibeli secara online lebih hemat melalui website resmi di ticket.riveraoutboundbogor.com.


advDok. Rivera Outbound & Edutainment

Ada banyak wahana yang ada di Rivera diantaranya, yaitu ropes & obstacles, yang cocok untuk melatih ketangkasan dan kekuatan tubuh. Dan untuk yang suka dengan tantangan, ada wahana Tubing yang siap membuat pengunjung basah. Tentunya momen libur sekolah kali ini akan sangat berkesan di Rivera,” ujar Manager Operasional Rivera Teddy Anditama dalam keterangannya, Senin (24/6/2024).

Menyemarakkan liburan panjang di Rivera Bogor, setiap harinya selalu ada berbagai event mulai dari live music, tradisional dance, maskot, games interaktif, hadiah langsung, dan kegiatan seru lainnya. Rivera juga akan menghadirkan wahana baru, yaitu Taman Belanda, yang dilengkapi dengan kincir angin untuk melengkapi suasana ala Negeri Kincir Angin.

Selain itu, ada juga fasad Rumah Belanda, bisa untuk spot foto. Disediakan juga baju khas Negara Belanda yang bisa disewa lengkap dengan properti, yang membuat pengunjung merasakan seperti berada di Belanda.

“Selain Taman Belanda, ada pula agri agro, dimana pengunjung bisa belajar menanam sayur sayuran dan hasilnya bisa dibawa pulang, yang pastinya akan menambah keseruan berlibur di Rivera,” papar Teddy.

advDok. Rivera Outbound & Edutainment

Rivera memiliki lebih dari 15 wahana yang hadir saat ini dan dapat dinikmati untuk segala usia, di antaranya Ropes & obstacles (permainan petualangan 2 lantai dengan 42 lintasan), flying fox dengan 2 lintasan, kursi sultan, wall climbing, ezy roller, trampolin, mobil listrik, panahan, perahu air, crazy ball dan canoe, perahu popeye, tubing, rumah kelinci, wahana submarine children playground, play tree house, dan area menembak, yang cocok untuk melatih fokus dan kesabaran.

Ada juga area Taman rusa, di mana pengunjung bisa langsung memberi makan rusa, dan berbagai wahana lainnya.Semua wahana permainan dilengkapi dengan alat pengaman yang sesuai standar, dan pastinya aman dan nyaman untuk pengunjung.

Di samping memiliki banyak wahana yang menarik, Rivera juga menyediakanbeberapa spot foto yang instagrammable tersebar di area. Salah satunya spot foto yang menjadi favorit, yaitu Sakura Gate. Di sana, pengunjung juga bisa menyewa kimono hanya dengan membayar Rp 20.000. Ada juga wishing board di mana pengunjung bisa menuliskan harapannya.

Rivera beroperasi setiap hari pukul 09.00 – 17.00 WIB. Informasi lebih lanjut dapat dicek di website www.riveraoutboundbogor.com, Instagram @rivera.bogor, atau Official WhatsApp di nomor 0822 1039 3301.

(Content Promotion/Rivera Outbound & Edutainment)





Sumber : travel.detik.com