Category Archives: Domestik

Konon, Inilah Desa Tertua di Pantai Selatan Pulau Jawa



Bantul

Situs Gunung Wingko di Bantul dipercaya sebagai desa tertua di pantai selatan pulau Jawa. Sayang, lokasi situs ini sudah sulit dipetakan. Kok bisa?

Situs yang berada di Srigading, Sanden, Bantul ini menjadi bukti adanya peradaban prasejarah. Kawasan Gunung Wingko diyakini sejak dulu telah memproduksi keramik atau gerabah.

Hal ini dibuktikan dengan adanya temuan kereweng dan artefak di kawasan itu. Namun, saat ini lokasi situs Gunung Wingko sudah tidak bisa dipetakan karena banyaknya permukiman penduduk.


Pantauan di lokasi, tidak ada papan nama atau penunjuk lokasi di Gunung Wingko. Situs itu hanya menyisakan bukit kecil dengan banyak tumbuhan di dalamnya.

Dikutip dari situs Disbud Pemkab Bantul, Gunung Wingko diyakini merupakan situs permukiman masa protohistori. Desa kuno Gunung Wingko disebut sebagai salah satu desa paling tua dan paling besar di antara desa-desa kuno di pantai selatan Jawa.

Fase kehidupan yang terjadi di desa tersebut sejak masa akhir prasejarah hingga masa sejarah. Ketua Pokdarwis Srigading, Atmono (59), menjelaskan dulu di samping rumahnya terdapat bukit pasir yang sangat tinggi. Bukit pasir tinggi ini diduga menjadi pusat situs Gunung Wingko.

“Bahkan lebih tinggi dari atap rumah bukit pasir itu,” kata Atmono mendeskripsikan bukit pasir itu saat ditemui di kediamannya, Kamis (30/5/2024).

Bukit tersebut, kata Atmono, memanjang dari arah barat ke timur di Jalan Samas. Secara rinci, bukti pasir itu mulai dari Tirtohargo, Kretek, Bantul hingga Karanganyar, Gadingrejo, Sanden, Bantul.

“Dengan panjang sekitar 3 kilometer, itu membentang dari arah barat ke timur,” ujarnya.

Asal Usul Nama Wingko

Terkait nama Gunung Wingko, Atmono mengungkapkan karena dahulu banyak temuan benda menyerupai pecahan genting di bukit pasir. Namun, hingga saat ini tidak ada yang tahu asal muasal pecahan tersebut.

“Saat saya masih kecil, pas di bukit itu banyak sekali yang namanya wingko atau yang masyarakat sini sebut pecahan genting. Tapi itu sebenarnya pecahan gerabah berserakan banyak sekali,” ujarnya.

“Nah, kejadiannya seperti apa, saya tanya orang-orang tua sini tidak ada yang tahu,” lanjut Atmono.

Wingko Diduga Berasal dari Pemukiman Kuno

Atmono sendiri menduga jika wingko itu berasal dari permukiman di sisi selatan bukit. Mengingat zaman dahulu banyak permukiman di dekat sungai dan pantai.

“Dugaan saya, permukiman zaman dulu ada di sepanjang pantai dan pinggiran sungai, karena untuk akses transportasi zaman dahulu kan satu-satunya itu. Nah, pemukiman itu mungkin sudah ada sebelum zaman prasejarah,” katanya.

Terkait Gunung Wingko berhubungan dengan permukiman zaman prasejarah, Atmono menilai karena banyaknya temuan artefak dan hasil kajian dari gunung tersebut. Sehingga sebelum Belanda dan Jepang menjajah sudah ada permukiman di bagian selatan Bantul.

“Saya bisa bilang begitu karena temuan artefak-artefak, hasil kajiannya ditemukan. Itu dari yang paling sederhana hingga keramik ditemukan itu dari zaman prasejarah,” ucapnya.

Sedangkan untuk pusat situsnya sendiri belum ada yang bisa mengungkapnya. Semua itu karena banyaknya permukiman di sekitar Jalan Samas saat ini.

“Kalau pusat situsnya sendiri kita susah memetakan karena bentangan dari bukit pasirnya kan cukup panjang sekitar 3 kilometer,” ujarnya.

Menyoal banyaknya wingko pada bukit pasir, Atmono menduga permukiman pada zaman prasejarah itu sudah bisa memproduksi garam, anyaman, dan keramik. Menurutnya, kala itu di Bantul sudah terjadi peradaban yang cukup maju di era zaman prasejarah.

“Nah, kenapa banyak wingko itu dugaan saya dulu permukiman di sana dengan kegiatan utamanya memproduksi barang, dengan menggunakan peralatan gerabah. Seperti dengan tangan kosong, roda berputar yang lambat dan kencang,” katanya.

“Terus dulu itu kemungkinan terjadi tsunami, itu dugaan saya ya, meskipun belum ada bukti ilmiahnya. Karena tersapu ombak lalu membuat rumah dan segala perabotan terangkat semua dan terkena bukit pasir karena batas ketinggian tsunami mungkin segitu,” imbuh Atmono.

Penemuan Arkeolog di Gunung Wingko

Di sisi lain, Atmono mengungkapkan banyak kegiatan arkeologi di Gunung Wingko. Atmono menerangkan kebanyakan pelaku kegiatan tersebut dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Dari 1972 sampai 1998, itu dari UGM. Saat itu banyak ditemukan tulang manusia dan hewan. Kemudian yang sporadis atau mahasiswa-mahasiwa itu juga ada, dan terakhir itu dari UGM tahun 2019-2020,” ucapnya.

Dengan banyaknya temuan itu, Atmono yakin di Bantul sudah ada peradaban sebelum berdirinya candi-candi. Apalagi, peradaban tersebut terbilang maju karena sudah bisa memproduksi gerabah.

“Semua itu membuktikan di Bantul sudah ada peradaban dan peradabannya jauh lebih tua ketimbang Borobudur dan Prambanan,” ucapnya.

Situs Gunung Wingko Kini Terbengkalai

Terlepas dari semua itu, Atmono menyayangkan kurangnya kepedulian dari pemangku wilayah terhadap Gunung Wingko. Padahal Gunung Wingko sebenarnya bisa menjadi daya tarik wisata minat khusus.

“Memang tidak ada papan penanda, kepedulian dari pemangku wilayah kurang perhatian atau mungkin masukan kita yang kurang ke mereka. Sebenarnya saya pernah menawarkan, karena situs-situs seperti itu sayang kalau dibiarkan begitu saja,” katanya.

Bahkan, Atmono pernah menawarkan rumahnya sebagai embrio pusat studi situs Gunung Wingko. Sebab, rumahnya berada tepat di samping lokasi yang diduga menjadi pusat situs Gunung Wingko.

“Tapi sampai sekarang belum terwujud. Padahal saat dipetakan pusat situs itu (Gunung Wingko) di sini, utara tempat saya ini dan seharusnya kan bisa menjadi living museum di sini,” katanya.

Belum lagi, saat ini lahan yang diduga menjadi pusat situs Gunung Wingko akan dijual. Diketahui, tanah tersebut sudah berulang kali dijual.

“Iya (memang tanahnya djiual), karena itu hak milik. Yang punya dulu aslinya orang sini dan dijual sampai tangan keempat, dan sekarang ditawarkan lagi alias dijual,” ujarnya.

Gunung Wingko Berstatus Cagar Budaya

Sementara itu, Kepala Seksi Warisan Budaya Benda Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Bantul, Elfi Wachid Nur Rachman, menyebut Gunung Wingko berstatus situs cagar budaya. Semua itu tertuang dalam surat keputusan (SK) Bupati Bantul.

“Terkait dengan Gunung Wingko sudah jadi situs cagar budaya. Adapun status tersebut tertuang dalam surat keputusan Bupati Bantul nomor 527 tahun 2019 tentang Gunung Wingko sebagai situs cagar budaya,” kata Elfi.

Menyoal tidak adanya papan penanda di Gunung Wingko, Elfi mengaku pemasangan kemungkinan berlangsung tahun ini. Mengingat tahun ini Disbud Bantul memiliki program papanisasi.

“Terkait penanda tahun 2024 ada papanisasi dan salah satu sasarannya di Gunung Wingko. Tidak hanya itu, kami juga akan mengusulkan keberadaan pusat Informasi Gunung Wingko,” ucapnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Menikmati Perpaduan Ketenangan dan Jepang di Koryu Space



Jakarta

Terletak di area perkantoran dan pusat lalu lalang pekerja, Koryu Space sepertinya jadi tempat yang memiliki fitur mute dalam ruangannya. Koryu Space merupakan working space yang berada di The Japan Foundation, Gedung Summitmas II lantai 1, Jakarta.

Buat traveler yang sedang mencari tempat untuk WFA (work from anywhere) atau mengerjakan tugas, Koryu Space adalah tempat yang cocok. Terutama, buat kamu yang hanya bisa fokus ketika berada di lingkungan yang tenang dan damai.

Saat detikTravel berkunjung ke tempat ini, Jumat (14/6/2024) suasana tenang pun langsung terasa ketika pintu dibukakan oleh petugas.


Semua pengunjung yang ada Koyru Space ini asik dan sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, ada yang membaca buku dan mengerjakan sesuatu di laptop. Tanpa ada gangguan sedikit suara mengganggu di ruangan ini, hanya ada suara kaki melangkah, ketikan keyboard hingga suara buku yang tersingkap.

Area yang cukup luas, bersih, dan nyaman ini bakalan bikin kamu betah berlama-lama Koryu Space. Karena tempat ini berada di The Japan Foundation, tentunya segala budaya yang berkaitan dengan Negeri Matahari Terbit terdapat di sini.

Koryu Space, working space di The Japan Foundation, Gedung Summitmas II lantai 1, Jakarta.Origami di Koryu Space, working space di The Japan Foundation, Gedung Summitmas II lantai 1, Jakarta. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Mulai dari buku, foto, patung-patung, origami juga ornamen-ornamen kecil lainnya. Selama detikTravel berada di Koyru Space, tak ada kata lain yang bisa tergambarkan selain kata nyaman. Begitu cocok buat kamu yang ingin ‘berhenti’ sejenak dari kebisingan dan hiruk pikuk Kota Jakarta.

Nuansa Jepang yang kental di tempat ini juga bisa terlihat dari dinding-dinding yang berlapiskan kayu, terus yang membuat tempat ini semakin menakjubkan ialah bisa melihat lanskap gedung-gedung pencakar langit dari dalam ruangan ini. Walaupun terletak di lantai dasar, sisi itulah yang membuat sudut pandangnya terasa berbeda.

Koryu Space juga banyak dijadikan tempat oleh para pengunjung sebagai spot foto karena tempat ini memang begitu instagramable. Tak ayal pengunjung ada saja yang telah usai dengan aktivitasnya mengabadikan gambar atau video di sini.

Fasilitas yang tersedia di Koryu Space juga terbilang lengkap loh, terdapat toilet yang bersih, colokan listrik, AC yang dingin sampai wifi. Semua fasilitas itu bisa kamu rasakan tanpa harus merogoh kocek sepeser pun, untuk bisa masuk ke area ini hanya cukup dengan melakukan registrasi di sebelah kiri setelah pintu masuk.

Jam operasional Koryu Space ini dimulai pada hari Senin-Jumat dari pukul 09.30 sama 16.30 WIB dan akan tutup pada pukul 12.30 sampai 13.30 WIB. Sabtu dan Minggu, serta hari libur nasional tempat ini tidak bisa dikunjungi.

Koryu Space, working space di The Japan Foundation, Gedung Summitmas II lantai 1, Jakarta.Koryu Space, working space di The Japan Foundation, Gedung Summitmas II lantai 1, Jakarta. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Saat jam akan menunjukkan waktu istirahat, petugas dari Koyru Space akan memberitahukan kepada pengunjung waktu visit mereka akan segera habis dan pengunjung dipersilahkan untuk mengosongkan area tersebut.

Jadi selama waktu istirahat berlangsung, Koyru Space akan tutup sementara dan kembali beroperasi pada pukul 13.30 WIB. Di sini juga buat kamu yang ingin belajar Bahasa Jepang, tersedia buku gratis untuk bisa dibawa pulang.

Sebagai informasi, The Japan Foundation merupakan lembaga milik Pemerintah Jepang yang khusus menaungi pertukaran budaya sekaligus mempromosikan budaya Jepang ke negara lain.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Tradisi Unik Sambut Idul Adha di Pasuruan: Manten Sapi



Pasuruan

Ada beragam tradisi unik menyambut Idul Adha di Indonesia. Di Pasuruan, Jawa Timur warga menggelar acara Manten Sapi alias Pengantin Sapi. Seperti apa ya?

Tradisi Manten Sapi biasanya dilakukan sehari sebelum waktu Idul Adha tiba. Warga melakukan tradisi ini sebagai simbol penghormatan kepada hewan yang akan dikurbankan.

Untuk menghormati hewan kurban, biasanya masyarakat akan memandikan mereka dengan air kembang dan merias hewan tersebut. Sapi-sapi ini akan dirias serupa pengantin, diberi kalung kembang tujuh rupa, dan diselimuti kain putih.


Penampilannya setelah dirias sangat cantik dan tampan menyerupai pengantin menjadi alasan tradisi ini disebut sebagai manten sapi atau pengantin sapi.

Sesudah dihias, sapi-sapi tersebut kemudian diarak berkeliling oleh masyarakat, sebelum akhirnya diserahkan ke panitia penyembelihan hewan kurban di masjid.

Tak hanya rombongan sapi yang tampil meriah dan anggun, warga masyarakatnya pun tak ketinggalan. Mereka yang ikut arak-arakan manten sapi akan membawa berbagai bahan pangan. Seperti minyak goreng, beras, bumbu masak, hingga kayu bakar.

Bahan pangan tersebut nantinya akan diberikan kepada warga yang tidak mampu bersama dengan daging kurban yang telah dipotong pada hari Idul Adha. Hal ini dilakukan masyarakat untuk membantu warga tersebut agar tak kesulitan untuk mengolah daging sembelihan.

Selain sebagai tradisi yang menarik untuk menjadi tontonan, kebiasaan turun-temurun di masyarakat ini juga dilakukan sebagai bagian dari syiar Islam.

Adanya tradisi manten sapi ini diharapkan supaya masyarakat memiliki keinginan untuk berkurban di momen Idul Adha tahun berikutnya.

Meskipun hanya sapi yang diarak, tetap saja hal ini diharapkan memotivasi masyarakat untuk bersemangat kurban dengan hewan apapun yang diperbolehkan. Antara lain kambing, domba, sapi, bahkan unta.

Masyarakat yang mengikuti manten sapi juga merasa bangga sebab di tengah banyaknya tradisi lokal yang hilang, kebiasaan ini masih terus dilakukan di masyarakat. Selain itu, manten sapi juga dilakukan sebagai bentuk komunikasi untuk menjaga tradisi setempat.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ketan Susu Kemayoran, Kuliner Khas Jakarta yang Unik dan Bikin Ketagihan



Jakarta

Kalau ditanya kuliner khas Jakarta apa, jawab saja Ketan Susu Kemayoran. Kuliner satu ini begitu sederhana, unik, tapi bikin ketagihan.

Menjelang jam makan siang, Ketan Susu Kemayoran pelan-pelan menjadi ramai. Kursi yang sedianya kosong menjadi penuh. Masyarakat ternyata banyak yang memilih kuliner ini sebagai isi perut mereka di tengah hari. Kala itu panas Kemayoran begitu terik.

Ketan susu pastinya jadi incaran mereka ditemani dengan tempe goreng khas warung ketan ini. detikTravel pun penasaran dengan rasa ketan susu plus tempe goreng yang jadi andalan di sini.


Satu piring ketan yang diguyur susu kental manis dan empat goreng tempe pun mendarat di atas meja kami, pada Sabtu (15/6/2024) kemarin.

Sebagai teman untuk kudapan ini, kopi susu pun dipesan selagi makanan masih panas. Ternyata pengunjung banyak yang memilih teh manis sebagai pelarut makanan yang berada di kerongkongan mereka.

Kuliner Ketan Susu KemayoranKuliner Ketan Susu Kemayoran Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Bukan tanpa alasan, teh di tempat ini begitu istimewa karena menggunakan poci tanah liat yang membuat rasa teh menjadi lebih nikmat. Seperti istilah Jawa menyebut teh dalam poci itu waskintel (wangi, sepet, legi, dan kentel).

Kudapan pendamping ketan susu ini ada berbagai pilihan gorengan, mulai dari tempe goreng, pisang goreng, singkong goreng sampai ubi goreng. Yang jadi unik di warung ketan ini adalah teman serasi untuk ketan susunya adalah tempe goreng.

Perpaduan manis legit dari ketan susu bersatu dengan gurih dan renyahnya tempe goreng. Walaupun secara tampilan agak aneh, nyatanya saat masuk bersamaan ke dalam mulut rasa yang tercipta begitu bervariasi.

Kudapan sederhana ini memiliki rasa yang begitu lengkap, manis, asin, gurih bercampur jadi satu. Salah satu pengunjung yang kerap datang ke sini adalah Irham, katanya ketan susu di sini memiliki rasa yang otentik dan rasa tempenya juga lebih enak.

“Saya sering ke sini, mau hari biasa atau weekend. Terus juga kadang siang, kadang juga malem, nggak nentu sih tapi kalau ke sini saya sering. Ketannya tuh beda apalagi tempenya juga enak banget,” ucapnya sambil menyantap ketan.

Adapun pengunjung yang baru pertama kali mencoba kudapan ini, Diki pun menyebut kudapan ini sebagai kudapan yang unik. Rasa perpaduan asin dari gorengan dan manis dari ketan susu baginya baru untuk dicoba tapi tetap enak.

Kuliner Ketan Susu KemayoranKuliner Ketan Susu Kemayoran Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

“Ke sini sih baru pertama kali tapi kalau tahunya udah dari lama. Walaupun rasanya agak nabrak ya ketan susu sama gorengan tempe tapi khas lah rasanya,” kata Diki.

Dalam sehari ketan yang dibuat oleh warung tersebut tak ada perhitungannya, semua pengolahan menggunakan feeling. Bisa disebut kisaran porsi yang mampu dihasilkan Ketan Susu Kemayoran ini hingga ratusan porsi atau bahkan menyentuh ribuan.

“Nggak ada takarannya mas, masaknya pake feeling aja,” kata salah satu pekerja Ketan Susu Kemayoran.

Warung Ketan Susu Kemayoran ini sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu, 1958 jadi awal berdirinya warung ketan susu ini. Haji Sukrad lah yang pertama kali merintis usaha Ketan Susu Kemayoran dan kini diteruskan oleh generasi ketiga yakni Amin.

Dirinya menyebut tak pernah ada hari libur untuk jam buka warung ini kecuali hari lebaran.

“Ya nggak ada libur kita mas kecuali lebaran doang,” ungkap Amin.

Terletak di Jalan Garuda Ujung atau Jalan Kemayoran Gempol, Jakarta Pusat. Jika berkunjung ke warung ketan susu ini kamu nggak akan bingung karena tempatnya percis berada di pinggir jalan.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Berburu Kuliner di Cirebon Saat Libur Long Weekend



Cirebon

Bingung menghabiskan libur long weekend Idul Adha? Kota Cirebon bisa menjadi tujuan untuk mencoba berbagai macam kuliner legendaris khas Kota Udang.

Hanya dua jam dari Jakarta, Cirebon menjadi salah satu alternatif kota yang dapat dikunjungi untuk berlibur di long weekend kali ini. Pengunjung dapat menikmati berbagai macam kuliner khas Cirebon hingga mengunjungi lokasi wisata yang sedang hits di Kota Cirebon.

Nasi Jamblang Mang Dul adalah salah satu kuliner khas Cirebon yang bisa dicoba oleh wisatawan. Nasi yang dengan isian lauk seperti ikan, ayam, tauco ataupun tahu tempe dengan sambal pedas khas Cirebon dan dibungkus menggunakan daun jati yang membuat aromanya khas dan wangi.


Ketika mendengar nama Cirebon, Empal Gentong akan selalu terngiang di kepala. Dengan sentuhan santan yang gurih, dan disajikan dengan gentong yang membuat empal gentong terlihat unik.

Salah satu Empal Gentong yang terkenal di Cirebon adalah Empal Gentong H. Apud. Ada juga Empal Gentong Mang Darma (EGMD) yang sudah berdiri sejak 70 tahun lalu.

Sebagai variasi, ada nasi lengko. Sebenarnya hidangan ini mirip ketoprak atau toge goreng di Jakarta. Bedanya ini pakai nasi dan kuah kacangnya sangat banyak. Masih ditambahi lagi irisan daun kucai yang harum dan gurih.

Ada pula mie Mie Koclok, menu khas Cirebon yang satu ini merupakan paduan antara mie kuning basah, suwiran ayam, irisan kol, tauge, potongan telur rebus, daun bawang, bawang goreng dan tentunya kuah putih kental yang terbuat dari seduhan kaldu

Untuk melengkapi kulineran di Cirebon, traveler dapat menginap di salah satu hotel favorit yaitu Patra Cirebon Hotel & Convention. Terletak di lokasi strategis yaitu Jl. Tuparev No 11, hotel ini menghadirkan nuansa budaya khas Cirebon yang kental dengan sentuhan batik Megamendung pada kamar dan desain interiornya.

“Dengan menginap di Patra Cirebon, para tamu dapat berwisata kuliner dengan mudah. Wisatawan dapat mencicipi kuliner khas Cirebon, seperti Empal Gentong H. Apud, Nasi Lengko H. Barno, Nasi Jamblang Mang Dul dan Ketan Bumbu Bu Yudi,” ujar I Gusti Made Juniarta, GM Patra Cirebon Hotel & Convention.

Hotel Patra CirebonHotel Patra Cirebon Foto: (dok. Istimewa)

Sebagai informasi, Patra Cirebon merupakan satu-satunya hotel di Cirebon memiliki fasilitas infinity pool yang terletak di rooftop dengan pemandangan kota Cirebon dan Gunung Ciremai yang menawan.

Terdiri dari 12 lantai dan 168 kamar, hotel ini juga punya fasilitas kamar khusus difable dengan ukuran pintu masuk, kamar mandi dan tempat tidur yang lebih luas dibandingkan kamar lainnya.

Fasilitas lain di hotel ini ada restoran, kafé dan Gym Corner. Ada juga aktivitas anak seperti Kids Corner, aktivitas mewarnai dan Ball Bath, serta penyewaan sepeda yang terletak di sebelah resepsionis.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

4 Tipe Rumah Betawi, Sudah Tahu Belum?



Jakarta

Suku Betawi ternyata mempunyai rumah adat dengan arsitektur yang khas. Tak hanya ada satu, tapi ada empat tipe yang berbeda. Seperti apa penampakannya?

Menjadi pusat pemerintahan pada zaman penjajahan Belanda membuat Kota Batavia atau Jakarta dipengaruhi berbagai budaya asing. Itu membuat Betawi, sebagai suku asli Jakarta, menjadi kaya akan budaya. Salah satunya nampak pada rumah adat.

Tak hanya satu, suku Betawi ternyata memiliki empat rumah adat dengan tipe arsitektur yang berbeda-beda. Bersama jktgoodguide yang dipandu oleh Rony, detikTravel mengulik lebih dalam empat rumah adat Betawi yang bisa ditemukan di Setu Babakan.


1. Rumah Adat Tipe Gudang

Rumah Gudang adalah tipe rumah yang biasanya ditemukan di daerah pedalaman Jakarta. Ciri khasnya berada pada bentuk fasad segi empat yang memanjang ke belakang.

Atapnya berbentuk pelana dengan struktur rangka kuda-kuda, serta memiliki prisal yang ditambahkan oleh satu elemen struktur atap yaitu jurai. Rumah adat tipe gudang ini juga memiliki sepenggal atap miring yang umumnya disebut topi/dak.

Menurut penjelasan Rony selaku guide, rumah tipe gudang biasanya memang menjadi rumah terpisah yang difungsikan sebagai gudang kala itu.

“Rumah Gudang ini memang biasanya difungsikan sebagai gudang dan biasanya bentuknya lebih memanjang,” kata Rony.

2. Rumah Adat Tipe Kebaya atau Bapang

Rumah kebaya ini adalah bentuk rumah yang telah disesuaikan dengan etnis Jawa. Rumah adat ini menjadi rumah favorit masyarakat betawi dikarenakan pembuatannya yang terkenal sederhana dengan lantai yang dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah.

Tujuannya agar ‘bali suji’ sebagai unsur pendukung masih dipertahankan. Rumah ini terbagi atas tiga ruangan yaitu ruang depan, tengah, dan belakang.

Struktur kuda-kuda juga ditemukan pada bagian tengah-tengah atap tersebut. Menurut Rony asal usul nama kebaya dari rumah ini adalah karena bentuk atapnya yang memiliki cekungan di salah satu sisinya.

Menurutnya ini mencerminkan lipatan kain yang ada di kebaya khas Betawi atau bak pelana yang dilipat. Kedua sisi luar rumah potongan Bapang ini dibentuk oleh terusan (sorondoy) dari atap pelana yang terletak di bagian tengah.

“Nah itu sebenernya kaya lipetan kebaya (atapnya). Makannya kenapa disebut rumah kebaya karena kalau diliat mirip lipetan kebaya,” kata Rony.

3. Rumah Adat Tipe Joglo atau Limasan

Jika mendengar kata ‘joglo’ kebanyakan orang akan langsung teringat rumah adat khas daerah yang terkenal dengan Malioboro sebagai salah satu ikonnya.

Memang benar dapat ditemukan kemiripan akan rumah ada khas Jogja dalam tipe rumah ini. Kemiripan itu terlihat pada bagian atapnya yang menyerupai atap rumah joglo yakni atap yang menjulang ke atas dan tumpul.

Rumah Adat BetawiRumah Adat Betawi (Natasha Kayla Ananta/detikTravel)

Dengan denah berbentuk bujur sangkar rumah adat ini terbagi atas tiga ruang yang sama dengan tipe rumah adat kebaya. Namun rumah tipe ini tidak memiliki pintu belakang dan kamar-kamar.

Rony menjelaskan bahwa perbedaannya antara Joglo Jawa dengan Joglo Betawi terletak pada bagian bangunannya dan tata letak bagian dalamnya.

“Tapi joglo jawa sama joglo Betawi beda di bangunannya dan bagian dalamnya,” kata Rony.

4. Rumah Pesisir/ Rumah Panggung

Sesuai namanya, rumah adat tipe panggung atau pesisir ini biasa ditemukan di daerah pesisir Jakarta. Bahan materialnya terbuat dari kayu dengan bentuk rumah yang didesain kuat dan aman dari pasang surut air laut.

Meskipun sederhana, rumah adat tipe pesisir ini memiliki ukiran-ukiran pada kayu dengan motif geometris seperti titik, segi empat, belah ketupat, lingkaran, dan segitiga. Biasanya bentuk atau motif tersebut ditemukan pada lubang angin, kusen, daun pintu, tiang dinding, jendela, dan pembatas ruang.

Rumah Adat BetawiRumah Adat Betawi (Natasha Kayla Ananta/detikTravel)

Selain itu, rumah adat Betawi juga identik dengan bagian teras yang terletak di bagian depan rumah. Teras itu diperuntukkan untuk penerimaan tamu. Karena dalam adat Betawi bahkan mengatur ketat tata cara penerimaan tamu terkhusus tamu-tamu dengan lawan jenis.

“Dan biasanya di bagian depan itu ada teras, penerimaan tamu itu diatur nggak boleh sembarangan. Biasanya rumah Betawi itu ada dua meja, jadi dipisahkan antara yang muhrim dan bukan muhrim, kalau nonton film si Doel juga keliatan kalau di bale itu buat perempuan,” kata Rony.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

Siapa Bisa Angkat Batu di Ciamis Ini, Keinginannya Akan Terkabul



Ciamis

Di Situs Astana Gede, Ciamis ada satu batu ‘sakti’ yang punya mitos tersendiri. Siapa bisa mengangkat batu itu, keinginannya akan terkabul. Bagaimana kisahnya?

Situs yang berada di Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis itu menyimpan sejumlah prasasti dan peninggalan sejarah Kerajaan Galuh. Salah satunya adalah Batu Palinggih.

Konon batu tersebut digunakan untuk melantik para Raja Galuh saat memerintah di wilayah Kawali. Batu Palinggih atau juga Batu Korsi merupakan peninggalan Kerajaan Galuh yang paling besar di antara prasasti yang lain.


Bentuknya panjang dan pipih. Di bagian tengahnya, terdapat batu yang berdiri sebagai sandaran raja saat menjalani prosesi pelantikan.

Letak Batu Palinggih berada di bagian tengah Situs Astana Gede paling awal di antara prasasti lainnya. Konon dulunya batu tersebut adalah lempengan besar, namun pecah oleh masyarakat.

Kang Enno, Budayawan Kawali menjelaskan, masyarakat Kawali menyebut batu itu Palinggih, sedangkan secara arkeologi disebut Batu Korsi atau tempat penobatan raja.

“Jadi setiap calon raja di Kerajaan Galuh kalau mau dilantik duduk di batu itu untuk melaksanakan prosesi pelantikan,” ujar Enno, Sabtu (15/6) akhir pekan lalu.

Enno menjelaskan, Batu Palinggih berbeda dengan Singgasana. Di beberapa situs atau kabuyutan, biasanya terdapat batu untuk pengobatan raja. Sedangkan singgasana hanya ada di keraton.

“Situs-situs di Galuh khususnya mempunyai batu untuk penobatan. Di Karangkamulyan ada, di Bogor juga ada peninggalan Padjajaran,” ungkapnya.

Batu Palinggih itu pertama digunakan saat pelantikan Raja Galuh Prabu Ajiguna Linggawisesa pada tahun 1333. Prabu Ajiguna Linggawisesa merupakan raja pertama yang memerintah di Kerajaan Galuh Kawali.

Sedangkan batu itu terakhir digunakan untuk pengobatan Raja Prabu Jayadewata atau masyarakat menyebutnya Prabu Siliwangi.

“Jadi Batu Palinggih ini dipakai penobatan 7 raja. Dari tahun 1333 raja pertama sampai tahun 1482 raja terakhir,” katanya.

Enno pun belum mengetahui secara pasti prosesi penobatan raja di Batu Palinggih tersebut. Mengingat tidak disebutkan secara detail dalam naskah-naskah kuno.

“Tapi yang jelas sistem pemerintahannya itu memiliki pola Tritangtu yaitu ada Rama, Resi dan Ratu,” ungkap petugas di Astana Gede Kawali ini.

Mitos Batu Palinggih Bisa Kabulkan Keinginan

Setiap peninggalan atau benda tertentu biasanya memiliki cerita mitos yang melekat di masyarakat, termasuk juga Batu Palinggih. Konon masyarakat Kawali dulu percaya apabila mampu mengangkat Batu Palinggih itu maka segala keinginannya cepat terkabul.

“Sebelum Astana Gede Kawali ini diresmikan oleh pemerintah, dulu masyarakat Kawali mempercayai siapa saja yang ke Astana Gede dan mencoba mengangkat batu itu maka keinginannya cepat tercapai,” ucapnya.

Enno menerangkan ternyata masyarakat salah mengartikan kata diangkat dari batu itu. Padahal orang terdahulu memberitahukan diangkat itu adalah pengangkatan raja.

“Tapi itu kebanyakan salah arti, jadi malah mengangkat batu tersebut. Padahal memberitahukan bahwa itu pengangkatan raja,” jelasnya.

Akibat cerita mitos tersebut, Batu Palinggih tersebut yang tadinya lempengan menjadi pecah beberapa bagian. Tapi sekarang masyarakat sudah tidak ada lagi yang mencoba mengangkat batu itu setelah dijaga dan dilindungi pemerintah.

“Awalnya batu itu satu lempengan tapi terbelah-belah. Mitos memang ada sisi baik dan sisi buruk. Sekarang urang yang datang ke sini didampingi, dipandu dan dijelaskan. Kalau di Sunda itu jangan langsung menyimpulkan karena leluhur kita memakai bahasa-bahasa sastra jadi harus dibedah dahulu,” pungkasnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Dulu Gerobakan, Kini Pusat Oleh-oleh Jakarta Terlengkap



Jakarta

Oleh-oleh khas Jakarta bisa didapatkan di sini. Di Betawi Online Gallery.

Toko oleh-oleh Betawi Online Gallery berada di Jalan Setu Babakan No.41, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Terdapat 650 macam oleh-oleh khas Betawi di sini. Sebanyak 50 di antaranya merupakan produksi Betawi Online Gallery.

Mulai dari boneka ondel-ondel mini berukuran 30 cm, bando, gantungan kunci, topeng, mainan kayu tradisional, hingga alat makan jadul.


Berbagai jenis makanan dan minuman khas Betawi juga bisa ditemukan di sini, seperti bir pletok, kembang goyang, biji ketapang, dodol, dan lain-lain.

Betawi Online GalleryBetawi Online Gallery Foto: Natasha Kayla Ananta/detikTravel

Harganya pun murah meriah, mulai dari Rp 15 ribu sampai dengan Rp 35 ribu sesuai dengan berat per kemasannya. Kemasan dari oleh-oleh makanan di sana dibuat menarik sehingga cocok untuk dijadikan buah tangan atau hampers.

“Kita juga punya olahan makanan yang namanya Dapur Mpok Memey itu kita punya kita sendiri. Itu kita produksi sendiri, kita branding, ini kan packaging nya oke. Jadi misal wisatawan buat dibawa keluar kota atau keluar negeri ini bagus, lebih menarik. Ini harga 15ribu sampai 35ribu tergantung ukuran,” kata Ardi, pemilik Betawi Online Gallery.

Betawi Online GalleryBetawi Online Gallery Foto: Natasha Kayla Ananta/detikTravel

Tak hanya itu, di Betawi Online Galeri traveler juga bisa membeli printilan dari pakaian adat Betawi. Mulai dari Kebaya encim, kain batik betawi, cukin, hingga pangsi ada di sini.

Menurut Ardi, pembelian seragam khas Betawi ini selalu melonjak setiap tahunnya, terutama menjelang hari ulang tahun Jakarta.

Sebagai pusat oleh-oleh Jakarta, ondel-ondel jadi salah satu yang tak boleh terlewatkan. Betawi Online Gallery juga memproduksi sendiri berbagai jenis dan ukuran ondel-ondel.

Pembeli juga bisa request tinggi, mimik muka, ataupun pakaian yang dipakai ondel-ondel di sini. Berkat kualitas tinggi yang dihasilkannya, ondel-ondel dari Betawi Online Gallery telah berhasil menembus pasar internasional.

“Kalau penjualan online kita pasti Indonesia ya dari Sabang sampai Merauke. Terus kalau dari online juga luar negeri kita juga pernah kirim. Banyak kok barang-barang kita yang udah ke Belanda, Hong Kong, Jerman, Spanyol, Finlandia. Ondel-ondel kita ada di kedutaan besar Finlandia, terus waktu itu ada juga museum budaya di Spanyol beli ondel-ondel 30cm dari kita, kita kirim,” kata Ardi.

Betawi Online GalleryBetawi Online Gallery Foto: Natasha Kayla Ananta/detikTravel

Uniknya, di sini juga di jual berbagai jenis olahan minuman tradisional betawi yang dikemas lebih modern. Yaitu bir pletok rasa lemon dengan nama ‘Lemontok’.

Rasanya unik dengan sensasi segar dari buah lemon. Meski begitu, cita rasa khas dari bir pletok seperti secang dan jahe tetap terasa.

Selain itu juga tersedia berbagai minuman dengan nama unik lainnya, seperti minuman soda rasa leci dengan nama ‘Rasa Yang Pernah Ada’. Menurut Ardi, minuman dengan konsep unik ini justru laris di pasaran.

“Iya itu buat perkembangan zaman ngikutin lidah konsumen saat ini. Itu laku malah, rasanya seger. Pembeli grosir juga bisa beli di sini, harga lebih murah karena jatuhnya kita itu distributor,” tutur Ardi.

Tak perlu khawatir Betawi Online Gallery menyediakan berbagai pilihan pembayaran yang memudahkan para pengunjung, seperti tunai, Qris, ataupun debit.

Toko itu juga menyediakan layanan online shopping bagi Anda yang ingin berbelanja tanpa harus datang ke toko. Traveler dapat mengunjungi akun marketplace Betawi Online Gallery untuk melihat-lihat produk dan melakukan pemesanan.

Betawi Online Gallery itu bermula dari bisnis gerobakan pada 2015. Kini Betawi Online Gallery telah memiliki empat ruko yang tersebar di kawasan perkampungan Betawi Setu Babakan.

“Awalnya tuh saya jualannya tuh kaki lima tahun 2015 di bantaran Setu Babakan, 2016 rame akhirnya punya toko. Terus pas jamannya covid banyak toko-toko di sini tutup. Akhirnya satu-satu kita sewa, nambahlah sampe ke 4 toko di depan sini sampe ke belakang. Terus tahun 2019 sampai 2020-an kita ada lagi sewa di depan lagi toko yang lumayan besar nah di situ kita mulai produksi sendiri,” kata Ardi.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

8 Ikon Budaya Betawi yang Resmi Diakui Perda Jakarta



Jakarta

Jakarta memiliki delapan ikon budaya yang resmi diakui dalam peraturan serah. Apa saja ya?

Jika menyebut nama Jakarta yang sering terlintas pastilah kehidupan modern yang sibuk, tetapi nyatanya Jakarta bukan hanya tentang gedung pencakar langit dan hiruk-pikuk kota. Betawi sebagai suku asli Jakarta, ternyata kaya akan budaya dan menarik untuk ditelusuri.

Meskipun memiliki banyak kebudayaan yang khas, dalam Peraturan Daerah No.4 Tahun 2015 tentang pelestarian budaya Betawi baru ada delapan kebudayaan yang masuk ke dalam ikon budaya Betawi.


Bersama jktgoodguide dengan dipandu oleh Rony selaku guide, detikTravel berkesempatan mengenal lebih dekat dengan delapan ikon budaya Betawi, berikut ringkasannya.

1. Ondel-Ondel

Siapa yang tak kenal dengan ikon satu ini, ondel-ondel memang lekat kaitannya dengan budaya Betawi. Ondel-ondel adalah sepasang boneka besar dengan tinggi sekitar 2.5 meter-3 meter dengan diameter tubuh hingga 80 cm. Anggota tubuhnya terbentuk dari bambu dan bagian wajahnya terbuat dari pahatan kayu cempaka, rambutnya dari ijuk, dan busananya dari kain.

Mulanya ondel-ondel disebut dengan nama ‘barongan’. Nama ondel-ondel muncul setelah Benyamin Sueb menciptakan dan menyanyikan lagu berjudul ‘Ondel ondel’.

“Muncul nama ondel-ondel itu setelah Bang Benyamin menyanyikan lagu ondel-ondel,” kata Rony.

Pada awal abad ke-20, nama barongan pun berganti nama menjadi ondel-ondel. Kata ondel-ondel diambil dari bahasa Betawi klasik yang memiliki arti lincah dan fleksibel.

Sebelum menjadi sarana hiburan, barongan atau ondel-ondel digunakan sebagai ritual pengusiran roh jahat dan malapetaka seperti gagal panen atau ancaman wabah penyakit kala itu dengan struktur wajah yang menyeramkan. Seiring perkembangan zaman, wajahnya berubah menjadi tidak lagi menyeramkan karena alih fungsinya menjadi seni pertunjukan.

2. Kembang Kelapa

Banyak orang yang menganggap bahwa dekorasi berbentuk lidi yang dihiasi dengan kertas warna-warni hanyalah pemanis semata. Padahal pajangan atau dekorasi tersebut adalah salah satu bagian dari delapan ikon budaya Betawi.

Kembang Kelapa adalah salah satu bagian dari dekorasi yang tak pernah terlewat dalam setiap rangkaian acara Betawi. Biasanya juga ditemukan dalam rangkaian ondel-ondel. Ornamen ini dipilih karena melambangkan pohon kelapa yang memiliki manfaat di setiap bagian pohonnya mulai dari akar hingga daunnya.

“Kenapa ada kembang kelapa dalam ornamen Betawi karena filosofi pohon kelapa itu sendiri. Kalau temen-temen perhatiin pohon kelapa itu kan semua bagian kepake, nah seperti fungsi dari pohon kelapa kita sebagai manusia itu harus berfungsi dari semua aspek jangan sampai kita nggak bermanfaat,” ujar Rony.

3. Kerak Telor

Kerak telor juga jadi salah satu makanan khas terkenal di Jakarta. Makanan ini mudah sekali ditemukan di kawasan hiburan atau wisata Jakarta.

Menurut sejarah, kerak telor adalah salah satu makanan yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Pada tahun 1970 kerak telor tercipta menjadi suatu hidangan atas insiden tidak disengaja. Kerak telor tercipta setelah masyarakat Betawi saat itu mencoba-coba membuat berbagai makanan dengan memanfaatkan kelapa sebagai bahan dasar utamanya lalu terciptalah makanan unik ini.

Makanan ini terbuat dari beras ketan putih (direndam semalaman), srundeng, telur ayam atau bebek, merica, ebi, dan bawang goreng. Dalam pembuatannya, kerak telor membutuhkan alat mulai dari wajan bergagang, kayu rotan, kipas, dan anglo.

Pada masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin, kerak telor mulai gencar dipromosikan hingga terus berlanjut sampai saat ini. Selain menjadi salah satu identitas dari budaya Betawi, kerak telor juga jadi salah satu hidangan wajib setiap festival kebudayaan Betawi diselenggarakan.

Ternyata ada makna khusus di balik kudapan gurih ini lho. Kerak telor ternyata menggambarkan pergaulan hidup manusia yang harmonis. Sebagai sisi kehidupan manusia yang mengalami berbagai perubahan.

4. Bir Pletok

Minuman khas Betawi yang identik dengan warna merah ini terbuat dari campuran 13 jenis rempah-rempah. Dengan kandungan tersebut, bir pletok dinilai memiliki banyak khasiat bagi tubuh. Uniknya, meskipun mengandung kata ‘bir’ minuman ini justru tak memiliki kandungan alkohol.

Terdapat dua versi asal usul nama bir pletok. Yang pertama berasal dari kata birun atau abyar dalam Bahasa Arab yang berarti sumber mata air. Versi lain mengatakan bahwa pada saat itu karena mayoritas penduduk Betawi umat muslim maka kebanyakan masyarakat Betawi tak bisa bergabung dalam budaya ‘minum bir’ Belanda.

“Sebenernya munculnya bir pletok ini pada 1900-an, termasuk baru. Karena, kalau kita lihat orang Betawi kan dimayoritasi muslim nah bangsa eropa kan suka minum bir, tapi pribumi kan dilarang minum minuman beralkohol. Jadi, diciptakan minuman yang mirip dengan bir dengan konsep menghangatkan. Biar kalau mereka ngumpul bisa sama-sama minum,” kata Rony.

Bir pletok jadi sarana alternatif yang tercipta untuk berkumpul. Meskipun tak mengandung alkohol, bir pletok tetap mampu menghangatkan tubuh. Kata ‘pletok’ tercipta dari sajian bir pletok yang identik dengan penggunaan es batu. Bunyi yang tercipta dari es batu ini lah yang jadi asal usulnya.

5. Gigi Balang

Gigi balang adalah salah satu ornamen khas Betawi. Ornamen ini biasanya ditemukan pada lisplang rumah-rumah adat Betawi. Namun kini, kita bisa dengan mudah menemukannya di berbagai fasilitas publik, dekorasi, hingga gapura di Jakarta.

Bentuknya yang menyerupai segitiga berjajar bak gigi belalang melambangkan kehidupan yang harus diisi dengan kejujuran, rajin, ulet, dan sabar. Itu mencerminkan kerja keras yang dilakukan belalang dalam mematahkan sebuah kayu. Beberapa juga mengartikan bahwa gigi balang menggambarkan pertahanan kuat dan keberanian.

Terdapat lima jenis ornamen gigi balang yakni, tumpal, wajik, susun dua, potongan waru, dan kuntum melati.

6. Batik Betawi

Berbeda dengan batik daerah lainnya, batik Betawi identik dengan warna cerah yang dimilikinya. Hal ini dikarenakan pengaruh budaya Cina yang kuat di kawasan Betawi.

Motif yang tercipta pada batik ini juga terpengaruh dari budaya Belanda, India, hingga Arab. Namun pada dasarnya, batik Betawi memiliki makna sebagai keseimbangan alam semesta guna memenuhi hidup yang sejahtera dan berkah.

Ada lima motif dalam batik Betawi, yakni motif ciliwung, motif ondel-ondel, motif rasamala, motif salakanagara, dan motif nusa pala. Masing-masing motif punya makna tersendiri yang sebagian besar diambil dari kekayaan alam budaya dan sejarah di tanah Betawi.

Batik ini kerap digunakan sebagai salah satu bagian dari pakaian adat Betawi, hingga berbagai kostum tarian asal Betawi. Kini batik Betawi kerap digunakan sebagai pakaian seragam wajib anak sekolah dan karyawan/karyawati kantor pemerintah/swasta di Jakarta.

7. Pakaian Sadariah

Jika biasa melihat orang Betawi yang menggunakan peci lengkap dengan sarung di lehernya, itu adalah Pakaian Sadariah. Pakaian yang khas dengan celana panjang batik longgar atau celana pantalon ini juga jadi salah satu ikon budaya Betawi lho.

Ciri pakaiannya terbuat dari katun atau sutra dengan kerah tinggi, berkancing pada bagian depan, dan memiliki dua kantong pada bagian bawah kiri dan kanannya. Baju Sadariah juga dilengkapi dengan cukin atau kain sarung yang dilipat dan digantung pada bagian leher, lengkap dengan peci hitam polos, dan menggunakan terompah sebagai alas kakinya.

Uniknya cukin atau sarung itu tak hanya berfungsi sebagai estetika belaka, namun memiliki fungsi khusus yakni sebagai alat sholat sekaligus sebagai senjata ketika berhadapan dengan perampok atau begal yang marak di kawasan jalanan Batavia saat itu.

Mulanya pakaian ini dikenakan masyarakat suku Betawi laki-laki sebagai pakaian sehari-harinya. Namun, kini pakaian sadariah biasa digunakan dalam berbagai acara atau seragam khas masyarakat Jakarta.

8. Kebaya Kerancang

Kebaya yang juga familiar dengan sebutan Kebaya Encim ini jadi salah satu ikon budaya Betawi juga lho. Kebaya Kerancang adalah pakaian wanita Betawi yang terbuat dari kombinasi bahan brokat yang ditutup dengan bordir.

Kebaya kerancang biasanya pendek meruncing kebagian muka kebaya antara 12-30 cm dari dasar dengan model jahitan tangan goeng yang jadi ciri khas nya.

Kebaya itu serasi dipadankan dengan sarung atau kain panjang yang tidak diwiru lengkap dengan selendang dengan warna cerah.

Pada zaman dulu, brokat yang dikenakan dalam kebaya kerancang adalah brokat buatan eropa yang ditutup langsung dengan jahitan bordir agar terlihat serasi. Namun, kini berbagai perkembangan dunia fashion dapat mendapatkan berbagai jenis model brokat dengan mudah.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Cobain Body Rafting Curug Ciparakan



Pangandaran

Pangandaran punya banyak objek wisata selain pantai yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Curug Ciparakan yang tersembunyi dan jarang terekspos.

Curug Ciparakan berlokasi di Desa Cibanten, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Sekitar 26 kilometer dari bunderan Marlin Pangandaran, dengan jarak tempuh selama satu jam berkendara lewat jalur darat.

Destinasi wisata Curug Ciparakan memiliki panorama alam yang asri dengan ciri khas aliran sungai yang jernih dan bersih. Bahkan, warga setempat memanfaatkan air tersebut untuk kegiatan masak hingga mandi.


Konon warga di Desa Cibanten itu masih ada yang memanfaatkan air bersih itu untuk langsung diminum. Namun, untuk saat ini harus menyaring terlebih dahulu agar aman untuk diminum.

Aktivitas yang dapat wisatawan lakukan jika berkunjung di antaranya, body rafting, berenang, spot foto selfie dan makan bersama.

Curug Ciparakan di Pangandaran.Curug Ciparakan di Pangandaran. Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar

Suara gemericik air curug yang mengalir dari sungai ke persawahan terdengar sangat merdu, seakan menjadi backsound suasana destinasi tersebut.

Tak ada tarif khusus untuk berkunjung ke lokasi tersebut. Pengelola desa setempat hanya menyediakan lahan parkir dengan tarif hanya Rp 5.000 per orang, ditambah penitipan sepeda motor sebesar Rp 2.000 saja.

Saat memasuki destinasi curug Ciparakan, para wisatawan akan disuguhi panorama alam persawahan hijau dan kebun kelapa. Lelah akan jauhnya perjalanan pun terbayarkan dengan pemandangan itu.

Cara Menuju ke Curug Ciparakan

Untuk menuju Curug Ciparakan, dari arah bunderan Marlin Pangandaran menuju Kecamatan Cijulang traveler bisa menggunakan angkot jurusan Pangandaran-Cijulang jarak tempuh 30 menit.

Sesampainya di Terminal Cijulang, bisa menggunakan jasa ojek menuju Desa Cibanten menuju jembatan sungai Ciparakan sejauh 5 kilometer ditaksir dengan ongkos Rp 30 ribu.

Namun, sangat disarankan berburu keindahan alam ke Curug Ciparakan menggunakan kendaraan pribadi. Sebab, di sini masih minim angkutan umum. Dari jembatan menuju curug hanya sekitar 300 meter ditempuh dengan berjalan kaki.

Fasilitas yang tersedia di Curug Ciparakan cukup lengkap, ada warung-warung kecil, musala, dan kamar mandi. Adapun menu makanan yang bisa dipesan adalah Nasi Liwet Ikan Mujair.

Harga Body Rafting di Curug Ciparakan

Kepala Desa Cibanten Ahmad Nuryana mengatakan objek wisata Curug Ciparakan ini baru diresmikan setahun yang lalu pada 3 Januari 2021.

“Meskipun baru, wisatawan mancanegara banyak berdatangan ke sini,” ucapnya, beberapa waktu lalu.

Curug Ciparakan memang terkenal dengan air terjunnya. Saluran airnya menyambung menuju Sungai Green Canyon.

“Ada dua air terjun yang ada di Ciparakan. Pertama, Taringgul yang bisa digunakan untuk berenang dan di bawahnya Ciparakan untuk aktivitas body rafting,” katanya.

Untuk body rafting di curug ini harganya cukup terjangkau. Per regu ada 5 orang, dengan harga Rp 110.000 per orangnya.

Fasilitas yang didapatkan wisatawan di antaranya pelampung, helm, makan satu kali, kelapa muda, dan tentunya durasi satu jam body rafting.

Curug Ciparakan sendiri sering jadi tempat untuk menenangkan diri. Healing, begitu istilah anak muda zaman sekarang menyebutnya.

“Biasanya warga setempat sebut dengan tadabur alam,” katanya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com