Category Archives: Pluang

Yuk, Kenalan Lebih Jauh dengan Decentralized Finance (DeFi)!

Istilah sistem keuangan terdesentralisasi, atau akrab disebut Decentralized Finance (DeFi), mungkin sudah akrab di telinga Sobat Cuan. Ya, ekosistem keuangan ini merujuk pada segala kegiatan jasa keuangan, layaknya jasa keuangan konvensional, namun seluruhnya bergerak di atas sistem blockchain.

Namun, apakah Sobat Cuan sudah paham mengenai manfaat DeFi bagi penggunanya? Dan kenapa sih, teknologi kini mulai menjamur digunakan oleh pecinta aset kripto? Untuk itu, yuk baca artikel ini hingga habis, ya!

Sekilas Mengenai Decentralized Finance

Sejatinya, kamu sudah bisa membaca penjelasan rinci mengenai DeFi di artikel berikut. Namun, pada intinya, DeFi merujuk pada sebuah ekosistem aplikasi finansial yang dibandung di atas jaringan blockchain.

Jaringan DeFi juga merujuk pada sebuah pergerakan yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan jasa keuangan yang bebas akses, transparan, dan tanpa intervensi apapun. Di mana, seluruh jasa keuangan tersebut bisa dimanfaatkan oleh semua orang dan tanpa diatur oleh satu otoritas tertentu.

Adapun, pengguna bisa memiliki kontrol penuh atas aset mereka dan berinteraksi dengan ekosistem ini melalui sistem komunikasi dua arah (peer-to-peer) via aplikasi terdesentralisasi (dApps). Seluruh aplikasi yang berjalan di atas sistem blockchain ini akan menciptakan produk, jasa, serta pasar finansial baru yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

Baca juga: Ragu Sama DeFi? Ini 5 Alasan Kenapa Kamu Harus Mulai Perhatikan Teknologi Ini!

Manfaat Decentralized Finance

Dengan sifat seperti demikian, maka DeFi bermanfaat untuk memberikan akses jasa keuangan bagi mereka yang tidak bisa menikmati produk jasa keuangan finansial konvensional saat ini.

Sebagai sebuah bisnis, tentu orientasi lembaga jasa keuangan tradisional adalah mendulang cuan sebanyak-banyaknya. Namun implikasinya, mereka jadi enggan untuk menjangkau mereka yang berasal dari kelas pendapatan menengah ke bawah. Nah, “kekosongan inklusi keuangan” yang diciptakan oleh aksi lembaga jasa keuangan konvensional itu diisi oleh keadiran DeFi.

Di samping itu, melakukan kegiatan jasa keuangan di aplikasi DeFi juga tidak memakan biaya mahal. Apa alasannya?

Seperti yang dijelaskan di atas, sistem keuangan terdesentralisasi tidak diatur oleh regulator, maupun tidak melibatkan lembaga perantara (intermediaries) seperti bank. Akibatnya, kegiatan di sistem DeFi berlangsung tanpa lapisan birokrasi panjang. Implikasinya, ongkos kegiatan jasa keuangan di sistem Decentralized Finance pun bisa diredam.

Apa Saja Kegunaan Decentralized Finance?

Seperti yang telah disebutkan di atas, DeFi berisikan aplikasi jasa keuangan terdesentralisasi dan tidak diatur oleh lembaga apapun. Artinya, kegiatan utama DeFi pun kurang lebih mirip dengan jasa keuangan konvensional saat ini.

Lantas, seperti apa jenis kegiatan jasa keuangan yang terdapat di jaringan DeFi?

1. Kegiatan Pinjam Meminjam

Di kancah aset kripto, protokol kegiatan pinjam meminjam adalah salah satu tipe aplikasi DeFi yang populer. Platform pinjam meminjam di DeFi memiliki banyak kelebihan dibanding sistem pinjam meminjam konvensional. Misalnya adalah penyelesaian transaksi yang instan, kemampuan untuk menjaminkan aset digital, dan tanpa birokrasi pengajuan kredit yang berbelit-belit.

Selain itu, kegiatan pinjam meminjam di sistem blockchain juga tidak terpapar risiko dari pihak intermediaries. Sehingga, kegiatan pinjam meminjam menjadi lebih murah, cepat, dan bisa digunakan oleh semua orang.

2. Jasa Keuangan

Aplikasi DeFi adalah aplikasi keuangan, sehingga jasa-jasa keuangan selain kegiatan pinjam meminjam pun termasuk di dalamnya. Kegiatan ini mencakup stablecoin, Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dan asuransi. Lantas, seperti apa detail dari kegiatan ini?

Ketika industri blockchain semakin berkembang, pengembang aplikasi DeFi pun fokus mengembangkan stablecoin. Produk ini sendiri merupakan aset kripto yang nilainya ditautkan (pegged) dengan aset di dunia nyata dan bisa ditransfer secara digital dengan mudah.

Stablecoin menjadi penting lantaran bisa menjadi “nilai tukar” yang paling efektif dalam bertransaksi di kancah kripto. Jika pengguna bertransaksi dengan koin-koin aset kripto, maka “harga” sesungguhnya dari layanan keuangan aset kripto bisa terdistorsi mengingat fluktuasi nilai aset kripto yang juga kencang.

  • Kredit Pemilikan Rumah (KPR)

Di sistem keuangan konvensional, mengajukan KPR bisa menjadi hal yang bikin pusing. Lambannya birokrasi, banyaknya beban biaya administrasi, hingga ketentuan-ketentuan regulator jasa keuangan tentu bikin mumet sang pencari rumah.

Namun, dengan berbasiskan sistem smart contracts di Decentralized Finance, maka mendapatkan KPR bisa menjadi lebih murah dan efisien. Ini mengingat nihilnya perantara yang berada di atas jaringan tersebut.

Di dalam sistem blockchain, jasa asuransi tidak disediakan oleh perusahaan asuransi melainkan urunan bersama dari pemegang polisnya. Hal ini berdampak pada rendahnya premi, namun dengan kualitas pelayanan kesehatan yang sama dengan asuransi pada umumnya.

3. Decentralized Marketplaces

Ini merupakan kategori Decentralized Finance yang susah untuk dikategorikan. Sebab, segmen DeFi satu ini memberikan ruang yang sangat besar untuk inovasi-inovasi finansial yang terdapat di teknologi blockchain.

Salah satu contohnya adalah decentralized exchanges (DExes), yakni sebuah platform tukar menukar aset digital tanpa lembaga perantara.

Selain itu, teknologi blockchain juga memperbolehkan penggunanya untuk menyimpan berbagai macam instrumen keuangan konvensional di dalamnya. Salah satu contohnya adalah platform penerbit sekuritas dalam bentuk token.

Proyek-proyek lainnya yang berkaitan dengan decentralized marketplaces adalah produk derivatif, prediksi pasar, aset sintetis, dan lain-lain.

Baca juga: Pakai DeFi Bisa Datangkan Cuan, Lho! Gak Percaya? Yuk, Simak 4 Caranya!

Apa Tantangan Decentralized Finance di Masa Depan?

1. Performa Buruk

Performa teknologi blockchain, secara inheren, terbilang lambat dibandingkan dengan keuangan tersentralisasi. Hal ini pun tercermin dari kecepatan pemrosesan aplikasi-aplikasi yang ada di atasnya. Para pengembang DeFi perlu untuk mempertimbangkan keterbatasan ini dalam mengembangkan produknya.

2. Satu Error Terjadi, Pengguna Terkena Risiko besar

Aplikasi Decentralized Finance (DeFi) melempar tanggung jawab yang seharusnya diemban intermediaries ke penggunanya. Ini bisa berdampak negatif lantaran pengguna adalah satu-satunya yang menanggung semua risiko di aplikasi DeFi.

3. Buruknya Pengalaman Pengguna (User Experience/UX

Saat ini, menggunakan aplikasi DeFi memang butuh kerja keras dari sisi pengguna. Nah, agar aplikasi DeFi bisa menjadi elemen inti dari sistem keuangan global, maka mereka harus mempersiapkan manfaat yang konkret dan memicu pengguna untuk beralih dari jasa keuangan tradisional.

4. Ekosistem yang Masih Berantakan

Menemukan aplikasi decentralized finance yang spesifik untuk satu kegiatan jasa keuangan tertentu masih terbilang sulit. Sehingga, pengguna harus pintar-pintar “mengais-ngais” ekosistem DeFi untuk menemukan pilihan aplikasi yang tepat.

Sehingga, tantangan ke depan bagi DeFi tidak hanya membangun aplikasinya semata, namun juga memikirkan manfaatnya bagi ekosistem DeFi secara keseluruhan.

Kesimpulan

Decentralized Finance fokus pada membangun sistem jasa keuangan yang terpisah dari sistem keuangan tradisional dan sistem politik. Ini akan membuka gerbang bagi banyaknya sistem keuangan terbuka dan mencegah diskriminasi yang kerap terjadi di jasa keuangan pada umumnya.

Meski idenya cukup mulia, nyatanya tetap saja tak semua orang akan mendapatkan manfaat dari teknologi ini. Sehingga, menemukan aplikasi yang benar-benar bisa menyelesaikan solusi keuangan masyarakat pada umumnya adalah poin krusial dalam pengembangan DeFi ke depan.

Jika hal tersebut sukses, bisa jadi DeFi akan menjadi kekuatan baru pesaing jasa keuangan pada umumnya.

Baca juga: Mengapa DeFi Bakal Jadi Saingan Sengit Jasa Keuangan Konvensional?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Binance Academy



Sumber : pluang.com

Apa Itu Perencanaan Keuangan?

Perencanaan keuangan adalah aksi dalam mengelola keuanganmu agar kamu bisa mencapai tujuan keuangan jangka pendek dan jangka panjang. Sehingga, hidup kamu nantinya akan merasa aman dari rentetan ketidakpastian yang bakal terjadi di masa depan.

Sobat Cuan mungkin paham bahwa kebutuhan finansialmu akan bertambah seiring usiamu bertambah. Hanya saja, terdapat banyak ketidakpastian seperti ketidakpastian ekonomi, politik, bahkan hingga pandemi global yang bakal menghambatmu dalam memenuhi kebutuhan. Sehingga, merencanakan keuangan sedari dini adalah langkah bijak agar kamu bisa mencapai tujuan finansial secara mulus.

Selain itu, terdapat beberapa alasan mendasar kenapa melakukan perencanaan keuangan sangatlah bermanfaat untuk masa depan kamu.

Manfaat Perencanaan Keuangan

1. Bantuan Pensiun dari Kantor dan Pemerintah Terbatas

Saat ini, mungkin kamu masih bisa menggantungkan hidup dari gaji bulananmu atau bantuan pemerintah. Hal itu lumrah saja, mengingat kamu masih berusia produktif.

Namun, situasi tersebut akan berbeda ketika kamu menginjak usia pensiun.

Memang, pemerintah dan lembaga jasa keuangan punya program pensiun agar kamu bisa menikmati masa tua dengan tenang. Namun, hasilnya tidak akan optimal dalam membiayai hidupmu nantinya.

Investasi yang kurang optimal, atau krisis ekonomi yang disebabkan oleh faktor eksternal, bisa mempengaruhi kinerja investasi yang sudah kamu simpan bertahun-tahun. Apalagi, terdapat pula inflasi tinggi yang bisa menggerogoti nilai investasimu. Hal ini, tentu saja, akan menyebabkan nilai investasi kamu akan berkurang di masa depan.

Sobat Cuan mungkin sadar bahwa kamu akan semakin rentan terpapar penyakit dan hal-hal tak terduga lainnya seiring bertambahnya usia. Akibatnya, pengeluaran kesehatanmu mungkin akan membengkak di masa depan. Memang, semuanya bisa teratasi jika kamu menggenggam polis asuransi kesehatan, tetapi manfaat yang kamu terima juga akan disesuaikan ketika kamu memasuki masa pensiun.

Selain itu, beberapa perusahaan juga membayar uang pensiunmu secara di muka (lump sum), sehingga kamu bakal tidak punya pemasukan rutin setiap bulannya. Apalagi kalau kamu tidak pernah memiliki pengalaman dalam berinvestasi, bisa-bisa nilai investasi yang sudah kamu kumpulkan justru malah berkurang karena kamu gagal mendapatkan pendapatan bulanan dari investasimu yang dikumpulkan bertahun-tahun lamanya.

2. Mau Merepotkan Anak Saat Hari Tua Nanti?

Kamu yang sudah menikah, atau sudah memiliki anak, mungkin terpikir untuk menghabiskan masa tuamu bersama anak dan cucu. Niatan itu terdengar baik dan memungkinkan, apalagi jika hubunganmu dengan anakmu dekat dan hangat.

Namun, jika kamu ingin melakukan hal tersebut, maka kamu tidak boleh sekadar numpang hidup dengan mereka! Kamu harus menyadari bahwa anakmu sudah memiliki kehidupan sendiri, yang juga sama-sama butuh biaya besar. Sehingga, ada baiknya kamu jangan membebani mereka ketika kamu menginjak masa-masa pensiun.

Kamu harus paham bahwa mempersiapkan dana pensiun untuk dirimu sendiri juga merupakan bukti cintamu pada anak. Biarkan mereka merawatmu di masa tua tanpa perlu terbebani dengan kebutuhan finansialmu.

3. Semakin Cepat Persiapan Dana Pensiun, Semakin Besar Uangmu di Hari Tua

Terdapat sebuah peribahasa yang mengatakan bahwa “Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit”. Nah, perumpamaan serupa juga terjadi dalam berinvestasi.

Jika kamu berinvestasi sejak dini, maka kamu akan mengakumulasi tingkat imbal hasil yang lebih besar ketimbang berinvestasi menjelang usia pensiun. Sebab, kamu tak hanya menikmati imbal investasimu, namun juga mengantongi hasil bunga majemuk dengan nilai lebih besar.

Sebagai gambaran, anggaplah kamu berniat pensiun di usia 60. Nah, menurutmu, apakah uangmu akan lebih banyak saat kamu memulai berinvestasi di usia 25 tahun atau 30 tahun? Tentu semakin cepat kamu berinvestasi, semakin besar kesempatan kamu bisa ongkang-ongkang kaki di hari tua.

Selain itu, imbal atas investasi dini yang kamu lakukan bisa kamu putar lagi ke instrumen investasi lain. Sehingga, akumulasi investasimu terus meningkat sekaligus memudahkanmu untuk diversifikasi aset.

Memahami Piramida Finansial

Nah, untuk melakukan perencanaan keuangan yang mumpuni, Sobat Cuan juga perlu memahami piramida finansial (financial pyramid). Piramida finansial adalah visualisasi yang mewakili tahapan-tahapan yang perlu kamu lakukan demi meraih kebebasan finansial. Layaknya piramida pada umumnya, piramida finansial memiliki lapisan berjenjang dari dasar hingga puncak.

Lantas, apa saja lapisan-lapisan piramida finansial tersebut?

1. Lapisan 1: Pengelolaan Arus Kas

Dalam perencanaan keuangan, pengelolaan arus kas menjadi tahapan awal dan paling esensial. Dalam hal ini, kamu harus punya arus kas stabil agar bisa bertahan hidup serta memiliki dana proteksi, yang mencakup dana darurat; dana untuk bayar utang; dan dana asuransi, sebelum menyisihkan uang untuk kepentingan lainnya.

2. Lapisan 2: Proteksi Harta

Jika arus kasmu terbilang aman, maka hal yang perlu kamu lakukan adalah melindungi hartamu. Salah satunya adalah dengan menabung.

Kamu perlu memilah-milah tabungan sesuai dengan kebutuhan finansialmu. Misalkan, kamu bisa membagi simpanan menjadi tabungan membeli rumah, membeli kendaraan, dan uang pensiun.

3. Lapisan 3: Membangun Portofolio Kekayaan

Setelah simpananmu memadai, dan kamu sudah jago mengelola arus kas, barulah kamu bisa mulai membangun portofolio investasimu.

Pastikan aktivitas investasimu tidak mengganggu neraca keuanganmu sehari-hari. Memang sih, tidak ada salahnya berinvestasi dalam instrumen seperti saham, surat utang, kripto dan sebagainya. Tapi, pastikan dulu kebutuhanmu saat ini hingga tua nanti terpenuhi dengan baik.

4. Lapisan 4: Menjaga Kekayaanmu

Nah, ini adalah tahapan di mana kemandirian finansialmu dimulai. Di tahap ini, kamu tak hanya menyimpan uang untuk situasi darurat, tapi menyisihkan uang untuk pendidikan anakmu, perawatan jangka panjang, atau mungkin bersenang-senang dengan uang hasil jerih payahmu.

5. Lapisan 5: Meninggalkan Warisan

Kalau kamu sudah memiliki cukup harta untuk diwariskan ke anak cucu, maka selamat! Kamu sudah menduduki puncak piramida ini. Dalam tahap ini, kamu mungkin hanya tinggal bersantai dan menghabiskan waktu dengan orang-orang terkasih.

Tertarik juga untuk nyantai di hari tua? Makanya, mulai perencanaan keuanganmu sekarang dengan investasi. Apalagi dengan berinvestasi di Pluang! Di Pluang, kamu bisa berinvestasi di emas, indeks saham AS, aset kripto, dan reksa dana hanya dalam satu aplikasi!



Sumber : pluang.com

Mengenal Metode Analisis Fundamental Aset Kripto

Analisis fundamental aset kripto memerlukan pemahaman mendalam terkait informasi yang beredar. Misalnya, Sobat Cuan mungkin melihat model penggunaannya, jumlah orang yang menggunakannya, atau tim di balik proyek tersebut.

Tujuannya adalah untuk mencapai kesimpulan apakah aset tersebut dinilai terlalu tinggi atau terlalu rendah. Pada tahap itu, Sobat Cuan dapat menggunakan wawasan kamu untuk menentukan posisi perdagangan. Yuk kita kupas di sini!

Pengantar Analisis Fundamental Aset Kripto

Memperdagangkan aset yang tidak stabil seperti aset kripto membutuhkan keterampilan. Memilih strategi, memahami perdagangan yang luas, dan menguasai analisis teknis dan fundamental adalah pembelajaran terbaik.

Dalam hal analisis teknis, beberapa keahlian dapat berasal dari pasar keuangan konvensional. Banyak trader aset kripto menggunakan indikator teknis yang sama seperti yang terlihat dalam perdagangan forex, saham, dan komoditas.

Metode seperti RSI, MACD, dan Bollinger Bands berusaha memprediksi perilaku pasar terlepas dari aset yang diperdagangkan. Dengan demikian, alat analisis teknis ini juga sangat populer di dunia aset kripto.

Dalam analisis fundamental aset kripto, meskipun pendekatannya mirip dengan yang digunakan di pasar keuangan konvensional, kamu tidak dapat benar-benar menggunakannya untuk menilai aset kripto. Untuk melakukan analisis fundamental yang tepat dalam aset kripto, kita perlu memahami bagaimana mereka bernilai.

Apa itu Analisis Fundamental?

Analisis fundamental adalah pendekatan yang digunakan oleh investor untuk menetapkan “nilai intrinsik” dari suatu aset atau bisnis. Dengan melihat sejumlah faktor internal dan eksternal, tujuan utamanya adalah untuk menentukan apakah aset atau bisnis tersebut dinilai terlalu tinggi atau terlalu rendah. Mereka kemudian dapat memanfaatkan informasi itu untuk masuk atau keluar posisi investasi, secara strategis.

Analisis teknis juga menghasilkan data perdagangan yang berharga, tetapi menghasilkan wawasan yang berbeda. Pengguna analisis teknis percaya bahwa mereka dapat memprediksi pergerakan harga di masa depan berdasarkan kinerja aset di masa lalu. Ini dicapai dengan mengidentifikasi pola perdagangan dan mempelajari indikator penting.

Baca juga: Alasan Pentingnya Diversifikasi Investasi Aset Kripto di Saat Pasar Loyo

Adapun analis fundamental tradisional umumnya melihat metrik bisnis untuk mencari tahu apa yang mereka pandang sebagai nilai riilnya.

Indikator yang digunakan termasuk laba per saham (berapa banyak keuntungan yang dihasilkan perusahaan untuk setiap saham yang beredar), atau rasio price tobook (bagaimana investor menilai perusahaan dari nilai bukunya).

Masalah Analisis Fundamental Aset Kripto

Aset kripto tidak dapat dilihat melalui kacamata yang sama dengan aset tradisional. Jika pun ada, aset yang lebih terdesentralisasi seperti Bitcoin (BTC) lebih dekat dengan komoditas.

Jadi, kita perlu mengalihkan perhatian kita ke pendekatan yang berbeda. Langkah pertama dalam proses itu adalah mengidentifikasi metrik yang kuat. Yang dimaksud dengan kuat adalah yang tidak dapat dengan mudah ‘diutak-atik’ oleh sembarang orang.

Jumlah pengikut Twitter atau pengguna Telegram/Reddit mungkin bukan metrik yang baik misalnya. Hal itu karena mudah untuk membuat akun palsu atau membeli engagement di media sosial. Penting untuk dicatat bahwa tidak ada satupun ukuran yang dapat memberi kita gambaran lengkap tentang aset kripto yang kita nilai.

Baca juga: 4 Kesalahan Investasi Ethereum yang Sebaiknya Kamu Hindari

Selain itu, kita dapat melihat jumlah alamat aktif di blockchain dan melihat bahwa itu telah meningkat tajam. Tapi itu tidak memberi tahu kita banyak hal. Siapa tahu ternyata ada oknum pribadi yang mentransfer uang bolak-balik ke diri mereka sendiri dengan alamat baru setiap kali.

Di bagian berikut, kita akan melihat tiga kategori metrik analisis fundamental aset kripto: metrik on-chain, metrik proyek, dan metrik keuangan. Daftar ini memberi kita dasar yang layak untuk pembuatan indikator selanjutnya.

Mengenal 3 Metrik Pendekatan Analisis Fundamental Kripto

Metrik On-chain

Metrik on-chain adalah metrik yang dapat diamati dengan melihat data yang disediakan oleh blockchain.

Kita dapat melakukannya sendiri dengan menjalankan node untuk jaringan yang diinginkan dan kemudian mengekspor data, tetapi itu bisa memakan waktu dan mahal. Terutama jika kita hanya mempertimbangkan investasi, dan tidak ingin membuang waktu atau sumber daya untuk usaha tersebut.

Solusi yang lebih mudah adalah menarik informasi dari situs web atau API yang dirancang khusus untuk tujuan menginformasikan keputusan investasi. Misalnya, analisis CoinMarketCap yang memberi kita banyak informasi atau Data Charts dari Coinmetrics dan laporan Binance Research.

Seperti apa contoh metrik on-chain tersebut?

Hitungan Transaksi

Hitungan transaksi adalah ukuran bagus dari aktivitas yang terjadi di jaringan. Dengan memplot angka untuk periode yang ditetapkan (atau dengan menggunakan rata-rata pergerakan), kita dapat melihat bagaimana aktivitas cryptocurrency berubah dari waktu ke waktu.

Namun, metrik ini harus diperlakukan dengan hati-hati. Mengenai alamat aktif, bisa jadi itu mungkin hanya satu pihak yang mentransfer dana antara dompet mereka sendiri untuk meningkatkan aktivitas on-chain.

Baca juga: Apa Sih Keterkaitan Harga Bitcoin dan Altcoin? Yuk Simak di Sini!

Nilai transaksi

Jangan sampai tertukar dengan hitungan transaksi, nilai transaksi memberi tahu kita berapa nilai yang telah ditransaksikan dalam satu periode.

Misalnya, jika total sepuluh transaksi Ethereum, masing-masing senilai US$50, dikirim pada hari yang sama, maka nilai transaksi harian adalah US$500. Kita dapat mengukur ini dalam mata uang fiat seperti dolar AS, atau mengukurnya dalam unit asli protokol (ETH).

Alamat aktif

Alamat aktif adalah alamat blockchain yang aktif dalam periode tertentu.

Pendekatan untuk menghitung hal ini bervariasi, tetapi metode yang populer adalah menghitung pengirim dan penerima setiap transaksi selama periode yang ditentukan (misalnya, hari, minggu, atau bulan). Beberapa juga memeriksa jumlah alamat unik secara kumulatif, yang berarti bahwa mereka melacak total dari waktu ke waktu.

Biaya yang dibayarkan

Biaya yang dibayarkan dapat memberitahu kita tentang permintaan dalam blockchain. Anggaplah seperti tawaran di lelang: pengguna bersaing satu sama lain untuk memasukkan transaksi mereka pada waktu yang tepat.

Mereka yang menawar lebih tinggi akan melihat transaksinya dikonfirmasi (ditambang) lebih cepat, sementara mereka yang menawar lebih rendah perlu menunggu lebih lama.

Kebanyakan blockchain tipe Proof of Work (PoW) memberikan hadiah blok. Di beberapa negara, hal ini terdiri dari subsidi blok dan biaya transaksi. Subsidi blok menurun secara berkala (dalam beberapa peristiwa seperti halving Bitcoin).

Karena biaya penambangan cenderung meningkat dari waktu ke waktu, tetapi subsidi blok perlahan-lahan berkurang, masuk akal jika biaya transaksi perlu dinaikkan. Jika tidak, penambang akan mengalami kerugian dan mulai meninggalkan jaringan. Ini memiliki efek tidak langsung pada keamanan blockchain.

Tingkat hash dan jumlah yang dipertaruhkan

Blockchain saat ini menggunakan banyak algoritma konsensus yang berbeda, masing-masing dengan mekanismenya sendiri. Mengingat bahwa ini memainkan peran integral dalam mengamankan jaringan, memahami data di sekitarnya dapat terbukti berharga untuk analisis fundamental.

Tingkat hash sering digunakan sebagai ukuran kesehatan jaringan dalam aset kripto tipe Proof of Work. Semakin tinggi tingkat hash, semakin sulit untuk berhasil mendapatkan 51%

Tetapi peningkatan dari waktu ke waktu juga dapat menunjukkan meningkatnya minat dalam penambangan, kemungkinan sebagai akibat dari biaya menambang yang murah dan keuntungan yang lebih tinggi.

Sebaliknya, penurunan poin tingkat hash membuat penambang menjadi offline (“miner capitulation”) karena tidak lagi menguntungkan bagi mereka untuk mengamankan jaringan.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keseluruhan biaya penambangan termasuk harga aset saat ini, jumlah transaksi yang diproses, dan biaya yang dibayarkan. Tentu saja, biaya langsung penambangan (listrik, daya komputasi) juga menjadi pertimbangan penting.

Sementara staking (dalam Proof of Stake, misalnya) adalah konsep terkait lainnya dengan teori permainan yang mirip dengan penambangan PoW. Namun, sejauh mekanismenya, ia bekerja secara berbeda.

Ide dasarnya adalah pengguna mempertaruhkan kepemilikan mereka sendiri untuk berpartisipasi dalam validasi blok. Dengan demikian, kita dapat melihat jumlah yang dipertaruhkan pada waktu tertentu untuk mengukur minat penawaran.

Baca juga: Portofolio Aset Kripto Ambyar? Simak 10 Strategi Sikapi Anjloknya Kripto!

Metrik Proyek

Jika metrik on-chain berkaitan dengan data blockchain yang dapat diamati, metrik proyek melibatkan pendekatan kualitatif yang memperhatikan faktor-faktor seperti kinerja tim (jika ada), whitepaper, dan roadmap yang akan datang.

Whitepaper (buku putih)

Sangat disarankan agar kamu membaca whitepaper proyek apa pun sebelum berinvestasi. Ini adalah dokumen teknis yang memberi gambaran umum tentang proyek aset kripto. Buku putih yang baik harus menentukan tujuan jaringan, dan idealnya memberi kita wawasan tentang:

  • Teknologi yang digunakan (apakah open source?)
  • Model penggunaan yang ingin dipenuhi
  • Roadmap (peta jalan) untuk peningkatan dan fitur baru
  • Skema suplai dan distribusi untuk koin atau token

Sebaiknya lakukan verifikasi silang informasi ini dengan diskusi soal proyek. Apa yang orang lain katakan tentang itu? Apakah ada peringatan? Apakah tujuannya tampak realistis?

Tim proyek

Jika ada tim tertentu di belakang jaringan aset kripto, rekam jejak anggotanya dapat mengungkapkan apakah tim tersebut memiliki keterampilan yang diperlukan untuk mewujudkan proyek.

Pernahkah anggota tim melakukan usaha yang sukses di industri ini sebelumnya? Apakah keahlian mereka cukup untuk mencapai pencapaian yang diproyeksikan? Apakah mereka pernah terlibat dalam proyek atau penipuan yang meragukan?

Jika tidak ada tim, seperti apa komunitas developer itu? Jika proyek memiliki GitHub publik, periksa untuk melihat berapa banyak kontributor yang ada dan berapa banyak aktivitas yang ada. Koin yang perkembangannya konstan mungkin lebih menarik daripada koin yang repositori-nya belum diperbarui dalam dua tahun.

Persaingan

Buku putih yang kuat harus memberi kita gambaran tentang kasus penggunaan yang ditargetkan aset kripto. Pada tahap ini, penting untuk mengidentifikasi proyek yang bersaing dengannya, serta infrastruktur lama yang ingin diganti.

Idealnya, analisis fundamental dari ini harus sama ketatnya. Sebuah aset mungkin terlihat menarik dengan sendirinya, tetapi indikator yang sama yang diterapkan pada aset kripto serupa dapat mengungkapkan bahwa aset itu lebih lemah dari yang lain.

Tokenomics dan distribusi awal

Beberapa proyek membuat token sebagai solusi mencari masalah. Bukan untuk mengatakan bahwa proyek itu sendiri tidak layak, tetapi token yang terkait mungkin tidak terlalu berguna dalam konteksnya.

Karena itu, penting untuk menentukan apakah token tersebut memiliki kegunaan nyata. Dan, selanjutnya, apakah utilitas itu adalah sesuatu yang akan dikenali oleh pasar yang lebih luas, dan seberapa besar kemungkinan nilai utilitas tersebut.

Faktor penting lainnya yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini adalah bagaimana dana tersebut pada awalnya didistribusikan. Apakah itu melalui ICO atau IEO, atau dapatkah pengguna mendapatkannya dengan menambang?

Dalam kasus yang pertama, whitepaper harus menguraikan berapa banyak yang disimpan untuk pendiri dan tim, dan berapa banyak yang akan tersedia bagi investor. Dalam kasus yang terakhir, kita dapat melihat bukti dari pencipta aset yang melakukan pre mining (menambang di jaringan sebelum diumumkan).

Berfokus pada distribusi mungkin memberi kita gambaran tentang risiko apa pun yang ada. Misalnya, jika sebagian besar pasokan hanya dimiliki oleh beberapa pihak, kita dapat mencapai kesimpulan bahwa ini adalah investasi yang berisiko, karena pihak-pihak tersebut pada akhirnya dapat memanipulasi pasar.

Baca juga: Apa Saja Sih Momen FUD Terbesar di Aset Kripto? Yuk, Simak di Sini!

Metrik Keuangan

Informasi tentang bagaimana aset saat ini diperdagangkan, apa yang diperdagangkan sebelumnya, likuiditas, dll. Semuanya dapat berguna dalam analisis fundamental. Namun, metrik menarik lainnya yang mungkin termasuk dalam kategori ini adalah yang menyangkut ekonomi dan insentif dari protokol aset kripto.

Kapitalisasi pasar

Kapitalisasi pasar (atau nilai jaringan) dihitung dengan mengalikan aset yang beredar dengan harga saat ini. Pada dasarnya, ini mewakili biaya bersifat hipotesis untuk membeli setiap unit aset kripto yang tersedia (dengan asumsi tidak ada yang terselip).

Namun, kapitalisasi pasar juga bisa menyesatkan. Secara teori, akan mudah untuk mengeluarkan token yang tidak berguna dengan pasokan sepuluh juta unit. Jika hanya satu dari token itu yang diperdagangkan seharga US$1, kapitalisasi pasarnya adalah US$10 juta. Penilaian ini jelas terdistorsi. Tanpa proposisi nilai yang kuat, kecil kemungkinan pasar yang lebih luas akan tertarik dengan token tersebut.

Selain itu, tidak mungkin untuk benar-benar menentukan berapa banyak unit yang beredar untuk suatu aset kripto atau token. Koin bisa dibakar, password bisa hilang, dan dana bisa dilupakan begitu saja. Yang kita lihat adalah perkiraan yang mencoba menyaring koin yang tidak lagi beredar.

Meskipun demikian, kapitalisasi pasar digunakan secara luas untuk mengetahui potensi pertumbuhan jaringan. Beberapa investor kripto memandang koin “berkapitalisasi kecil” lebih mungkin tumbuh dibandingkan dengan yang “berkapitalisasi besar”. Yang lain percaya kapitalisasi besar memiliki efek jaringan yang lebih kuat, dan, oleh karena itu, memiliki peluang lebih baik daripada kapitalisasi kecil.

Likuiditas dan volume

Likuiditas adalah ukuran seberapa mudah suatu aset dapat dibeli atau dijual. Aset likuid adalah aset yang kami tidak memiliki masalah untuk menjual dengan harga perdagangannya. Konsep terkait adalah pasar likuid, yang merupakan pasar kompetitif yang dibanjiri permintaan dan tawaran.

Masalah yang mungkin kita hadapi dengan pasar yang tidak likuid adalah kita tidak dapat menjual aset kita dengan harga yang “wajar”. Ini memberitahu kita bahwa tidak ada pembeli yang mau melakukan perdagangan, memberi kita dua opsi: turunkan permintaan atau tunggu likuiditas meningkat.

Volume perdagangan merupakan indikator yang dapat membantu kita menentukan likuiditas. Ini dapat diukur dengan beberapa cara dan berfungsi untuk menunjukkan berapa banyak nilai yang telah diperdagangkan dalam periode waktu tertentu. Biasanya, grafik menampilkan volume perdagangan harian (dalam satuan asli atau dolar AS).

Mengenal likuiditas dapat membantu dalam konteks analisis fundamental. Pada akhirnya, ini bertindak sebagai indikator minat pasar terhadap investasi prospektif.

Mekanisme pasokan

Bagi sebagian orang, mekanisme pasokan koin atau token adalah beberapa hal paling menarik dari sudut pandang investasi. Memang, model seperti rasio Stock-to-Flow (S2F) semakin populer di antara para pendukung Bitcoin.

Pasokan maksimum, pasokan yang beredar, dan tingkat inflasi dapat menjadi dasar pengambilan keputusan. Beberapa koin mengurangi jumlah unit baru yang mereka produksi dari waktu ke waktu, membuatnya menarik bagi investor yang percaya bahwa permintaan unit baru akan melebihi ketersediaannya.

Di sisi lain, investor yang berbeda mungkin melihat pembatasan yang diberlakukan secara kaku sebagai hal yang merusak dalam jangka panjang. Kekhawatiran tersebut mungkin karena hal itu menghalangi penggunaan koin karena pengguna memilih untuk menimbunnya.

Kesimpulan Analisis Fundamental Aset Kripto

Jika dilakukan dengan benar, analisis fundamental dapat memberikan wawasan yang sangat berharga tentang aset kripto dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh analisis teknis.

Mampu memisahkan harga pasar dari nilai “sebenarnya” jaringan adalah keterampilan yang sangat baik untuk dimiliki saat berinvestasi. Tentu saja, ada hal-hal yang dapat diberitahukan oleh analisis teknikal kepada kita yang tidak dapat diprediksi dengan analisis fundamental. Hal itu sebabnya banyak trader dan investor yang menggunakan kombinasi keduanya hari ini.

Seperti banyak strategi, tidak ada pedoman analisis fundamental untuk semua. Semoga Sobat Cuan mau belajar dan memahami beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum masuk atau keluar dari posisi di aset kripto.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Binance



Sumber : pluang.com

Langkah Menyusun Anggaran

Metode Penyusunan Anggaran

1. Metode 50/30/20

Metode 50/30/20 adalah salah satu cara bagimu agar pengeluaran bisa tetap sejalan dengan tujuan finansialmu.

Aturan penganggaran ini akan membantumu mencapai jumlah tabungan yang diinginkan dan menjaga kesehatan finansial meski dengan kondisi finansial terbatas. Selain itu, metode ini juga tidak hanya membantumu untuk membayar tagihan tepat waktu, namun juga bisa menjadi acuan dalam melacak beban-beban dan pendapatanmu.

Metode penganggaran ini berjudul 50/30/20 karena aturan ini mengharuskan kamu menyisihkan 50% pendapatan untuk kebutuhan dasar, 30% untuk keinginanmu, dan 20% untuk menabung. Yuk, kita bahas satu-satu!

  1. Kebutuhan. Ini mencakup pengeluaran esensial agar kamu bisa bertahan hidup. Misalnya, bayar kontrakan, akomodasi, makanan, ongkos transportasi, serta biaya listrik dan air.
  2. Keinginan. Ini adalah kelompok pengeluaran sekunder, tidak terlalu mendesak, dan ditujukan untuk menopang gaya hidupmu. Contohnya adalah nongkrong di kafe, keanggotaan gym, dan pelesiran saat akhir pekan. Memang, definisi kategori pengeluaran ini tergantung dengan persepsi masing-masing individu. Hanya saja, semakin kecil pengeluaranmu di pos belanja ini, maka kamu bisa semakin cepat untuk membayar utang-utangmu.
  3. Tabungan. Pos anggaran ini terdiri dari tabungan pensiun, produk asuransi saving plan, pembayaran utang, dan dana darurat. Mungkin kamu belum mempersiapkan pos tabungan pensiun jika kamu masih fresh graduate dari kuliah. Tapi, tekanan untuk mempersiapkan simpanan hari tua semakin kentara seiring bertambahnya usia. Jadi, semakin cepat kamu mempersiapkan dana pensiun, maka semakin besar pula manfaat bunga majemuk di dalam investasi hari tuamu.

Manfaat Menyusun Anggaran 50/30/20

Aturan 50/30/20 akan memotivasimu untuk mencapai tujuan finansialmu serta membantumu menyusun rencana yang apik dalam meraih impian masa depan. Kamu juga akan terbiasa disiplin dalam mengelola pendapatan sesuai anggaran jika mau melaksanakan metode ini.

Selain itu, berikut adalah manfaat lain dari menjalankan aturan 50/30/20.

  1. Memberikanmu keleluasaan untuk menabung benda mahal seperti rumah dan mobil.
  2. Menghindari dari kebiasaan boros.
  3. Meningkatkan peringkat kreditmu.
  4. Membantu melunasi utang.
  5. Membantumu agar tidak menggantungkan hidup pada gaji bulanan.

Untuk mendapatkan manfaat maksimal dari metode 50/30/20, ada baiknya kamu juga mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Analisa pengeluaranmu. Perhatikan jenis-jenis belanja apa saja yang menguras uangmu. Nah, dari situ, kamu bisa memulai untuk mengurangi belanja-belanja yang dianggap boros.
  2. Cari biaya-biaya tak terduga. Hidup memang tidak lempeng-lempeng aja, Sobat Cuan. Pasti kamu akan menghadapi situasi tak terduga seperti “mengobati” motor ke bengkel atau memperbaiki genteng rumah yang bocor. Nah, karena sifatnya tak terduga, maka kamu juga harus memasukkannya ke penganggaranmu. Caranya, kamu tinggal melihat kalender dan perkirakan kapan biaya-biaya dadakan ini akan timbul. Sehingga, kamu bisa mempersiapkannya dari jauh-jauh hari.
  3. Gabungkan semua sumber pendapatanmu. Penganggaran memang akan mudah jika kamu punya angka pemasukan stabil setiap bulan. Tapi, bukan berarti bahwa mereka yang berpenghasilan tidak tetap akan gagal menjalankan metode ini. Jika kamu adalah salah satu di antaranya, maka yang perlu kamu lakukan adalah menggabungkan seluruh pendapatanmu antar bulan dan hitung reratanya. Kemudian, anggap rerata pendapatan tersebut sebagai tolok ukurmu dalam merencanakan anggaran.

Contoh Metode 50/30/20

Berikut adalah tabel contoh penganggaran dengan metode 50/30/20 untuk individu berusia 25 hingga 30 tahun.

2. Metode Kakeibo

Metode Kakeibo, atau secara harfiah disebut “buku rekening untuk ekonomi rumah tangga”, adalah metode penganggaran yang dikenal masyarakat Jepang sejak 1904 dan masih dipraktikan hingga sekarang. Aturan penganggaran ini bertujuan agar kamu bisa mengontrol belanjamu sekaligus menabung berapa pun sisa uang yang kamu miliki.

Dengan metode ini, kamu harus mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran. Pencatatan tersebut bisa dilakukan di awal bulan ketika penghasilan tetapmu sudah mendarat manis di rekening gajianmu.

Setelahnya, kamu harus menulis secara detail setiap rencana pengeluaran dan membaginya ke dalam empat kategori sebagai berikut:

  1. Pengeluaran primer atau wajib: Belanja ini mencakup biaya sekolah anak, akomodasi, makanan, kesehatan, dan biaya pokok lainnya.
  2. Kebutuhan opsional: Pengeluaran sekunder seperti biaya kongkow.
  3. Biaya hiburan: Misalnya biaya langganan internet, langganan streaming musik, dan sejenisnya.
  4. Uang jaga-jaga: Dana untuk membiayai kebutuhan tak terduga.

Setelahnya, kamu harus melakukan evaluasi mingguan untuk menilai apakah pengeluaranmu sudah sejalan dengan anggaran yang kamu susun. Selain itu, evaluasi mingguan juga berguna untuk mengetahui sisa uang yang kamu miliki di akhir pekan sebelum disimpan ke tabungan.

Satu hal seru dari metode ini adalah kamu diminta untuk menyimpan semua struk belanjaan. Sehingga, kamu tidak akan lupa jumlah belanjamu dan tetap bisa melacak (tracking) pengeluaran dengan mudah.



Sumber : pluang.com

Apa Saja Sih Faktor yang Mempengaruhi Reksadana? Yuk Simak di Sini!

Kita mengenal reksadana sebagai salah satu alternatif untuk berinvestasi bagi kalian yang tidak punya banyak waktu. Tanpa perlu repot-repot menghitung risiko dan keutungannya, reksadana menjadi investasi idola banyak orang karena dikelola oleh manajer investasi. Selain itu, reksadana juga bisa menjadi bekal kita saat pensiun nanti.

Meskipun mudah dikelola, kita juga perlu paham seluk beluk dalam berinvestasi reksadana. Sebelum memutuskan memulai, kalian perlu tahu apa saja kelebihan, kekurangan, manfaat sampai risiko investasi reksadana. Tentunya kita juga perlu paham faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja reksadana.

Sehingga diharapkan, sebagai investor kalian bisa lebih memperhitungkan risiko dari investasi yang dimiliki, hingga dapat menentukan reksadana mana yang tepat untuk kalian.

Jika Sobat Cuan merupakan investor pemula dan ingin berhasil dalam berinvestasi, maka hal utama yang harus diketahui adalah faktor yang mempengaruhi sebuah instrumen investasi. Hal ini juga berlaku dalam berinvestasi reksadana. Tanpa basa-basi lagi, yuk simak faktor yang mempengaruhi reksadana di bawah ini.

Baca juga: Bisa Gak Sih, Kamu Rugi di Reksadana Pendapatan Tetap? Simak Di Sini!

Faktor Mempengaruhi Reksadana

1. Mengenal Nilai Aktiva Bersih (NAB)

Hal termudah yang dapat kamu lakukan untuk mengetahui harga reksadana adalah dengan melihat nilai aktiva bersihnya. Nilai Aktiva Bersih (NAB) adalah nilai total dari aset reksadana, dikurangi semua kewajibannya. Banyak reksadana menggunakan nomor ini untuk menentukan harga unit pada setiap transaksi reksadana. Saat kamu membeli dan menjual reksadana, kamu biasanya melakukannya di NAB.

2. Perubahan Nilai Aktiva Bersih (NAB)

Kemudian untuk sebagian besar reksadana, NAB dihitung setiap hari karena portofolio reksadana terdiri dari banyak instrumen aset dasar (underlying asset) yang berbeda.

Nah, karena masing-masing nilai underlying asset ini mungkin sering berubah harga sepanjang hari, nilai pasti reksadana sulit ditentukan. Dengan demikian, perusahaan reksadana telah memilih untuk menilai portofolio mereka sehari sekali, dan setiap harinya, harga di mana investor harus membeli dan menjual reksadana.

Teknik penilaian yang tepat dapat bervariasi dari satu produk reksadana dengan lainnya, karena mungkin beberapa menggunakan rata-rata dari tiga harga terakhir yang diperdagangkan. Namun yang pasti, semua reksadana menetapkan penilaian NAB mereka sehari sekali.

3. Harga Sebenarnya di Pasar Modal

Ketika Sobat Cuan membeli atau menjual reksadana, kalian bertransaksi langsung dengan dana tersebut.

Jika kamu memasuki perdagangan untuk membeli atau menjual saham reksadana, maka perdaganganmu akan dieksekusi pada nilai aset bersih berikutnya yang tersedia. Lalu, dihitung setelah pasar tutup. Harga saat itu mungkin lebih tinggi atau lebih rendah dari NAB penutupan hari sebelumnya.

Naik turunnya kondisi pasar modal akan mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Jika kondisi pasar positif, maka IHSG juga akan naik dan umumnya kinerja reksadana akan mengikuti.

Intinya, kondisi pasar modal yang mempengaruhi IHSG merupakan suatu pacuan untuk harga saham. Begitu juga sebaliknya, kondisi pasar modal yang negatif akan menurunkan tingkat pengembalian reksadana, khususnya di pasar saham.

4. Faktor Mempengaruhi Reksadana: Intinya

Meskipun harga reksadana mudah ditemukan, kenyataannya tidak ada yang tahu berapa nilainya ketika pesanan yang kamu beli dieksekusi. Kamu akan mengetahui pada hari berikutnya setelah kamu membelinya. Satu-satunya cara untuk mendapatkan harga yang kamu inginkan adalah dengan membeli reksadana yang diperdagangkan di bursa.

Baca juga: Selain Inflasi, Apa Saja yang Pengaruhi Harga Emas? Cek 4 Faktor Lainnya!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia



Sumber : pluang.com

Cara Menghitung Kekayaan Bersih

Sobat Cuan pasti ada yang merasa bahwa penghasilannya saat ini tidak memadai. Di sisi lain, pasti juga ada sebagian Sobat Cuan lainnya yang merasa senang memiliki penghasilan tinggi.

Namun, berapa pun penghasilanmu, yang terpenting bagimu adalah mampu menghasilkan kekayaan bersih alias net worth yang mumpuni. Lantas, apa sih artinya net worth?

Net worth adalah patokan untuk mengukur apakah jumlah aset yang kamu miliki lebih besar dari jumlah liability (utang) yang harus dibayar.

Dalam hal ini, aset adalah kekayaanmu berupa uang tunai, investasi, rekening bank, dana pensiun, rumah, hingga barang pribadi seperti mobil atau perhiasan. Sedangkan komponen utang meliputi pinjaman bank, utang kartu kredit, utang pajak, dan utang lainnya.

Jika nilai asetmu melebihi jumlah utangmu, maka kamu memiliki kekayaan bersih yang positif. Sebaliknya, jika kamu memiliki utang lebih dari jumlah asetmu, kamu memiliki kekayaan bersih negatif.

Manfaat Mengetahui dan Menghitung Kekayaan Bersih

Sobat Cuan pasti sering mendengar kisah di mana seseorang yang bergaji fantastis tiba-tiba harus terpuruk lantaran terlilit utang. Namun, terdapat pula kisah lain tentang seseorang yang punya gaji pas-pasan namun masih bisa bahagia, bebas utang, dan tetap punya harta.

Nah, kisah di atas mencerminkan pentingnya mengetahui konsep net worth bagi perencanaan keuanganmu. Yakni, memperbaiki kualitas penghasilanmu dan bisa membawamu menuju masa depan yang lebih aman dan nyaman.

Selain itu, menghitung kekayaan bersih juga dapat membantumu mengukur kesehatan keuanganmu. Sehingga, kamu dapat menjawab “ya” atau “tidak” dengan cepat kala mengambil keputusan finansial, baik itu perkara belanja, menabung, atau investasi.

Kemudian, manfaat lain mengetahui net worth adalah kemudahan merencanakan strategi keuangan demi mencapai tujuan keuangan utamamu. Akibatnya, kamu nanti bisa semakin gampang menetapkan prioritas-prioritas finansial yang perlu segera kamu penuhi.

Sebagai contoh, anggap saja kamu berencana menabung Rp10 juta per bulan karena ingin membayar uang DP rumah tiga tahun lagi. Tapi, di saat yang sama, kamu juga masih punya tunggakan utang kartu kredit, anggaplah sebesar Rp80 juta.

Kamu memahami bahwa utang hanya akan memperburuk kesehatan keuanganmu dan menyunat net worth yang kamu miliki. Maka, kamu tentu akan banting setir tujuan finansialmu dari bayar DP rumah ke melunasi tumpukan utang.

Memang, mengetahui kekayaan bersih adalah salah satu patokan kesehatan finansialmu. Namun, kamu juga perlu memperhatikan pertumbuhan kekayaan bersih antar waktu. Hanya saja, kamu mungkin bingung dalam menghitungnya. Nah, berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa kamu terapkan untuk menghitung net worth!

Cara Menghitung Net Worth

Sobat Cuan, menghitung kekayaan bersih bukanlah hal yang sulit. Kamu hanya perlu meluangkan sedikit waktu, coretan di kertas atau spreadsheet, dan tentunya kalkulator.

1. Buat Daftar Aset yang Kamu Miliki

Ambil buku atau buka spreadsheet dan tulis “ASET” di bagian atas daftar asetmu. Kemudian, kamu bisa menuliskan semua nama-nama aset milkmu yang berisikan saldo rekening tabunganmu saat ini, tabungan pensiun, obligasi, kepemilikan saham, rumah, tanah, mobil, dan lain-lain.

Nah, setelahnya, kamu juga perlu menulis nilai masing-masing aset di sisi kanan nama aset. Beberapa aset ini memiliki nilai yang sangat spesifik dan jelas (seperti laporan bank), sehingga memudahkanmu untuk menghitungnya.

Namun, untuk aset yang tidak memiliki nilai spesifik, misalnya seperti mobil dan rumah, solusinya adalah dengan membuat perkiraan harga. Jika kamu kesulitan memperkirakannya, maka kamu bisa menggunakan bantuan pihak yang memiliki kemampuan untuk menilai aset tersebut.

Setelah semuanya terdaftar, tulis “TOTAL” di bagian paling bawah daftar tersebut, lalu jumlahkan angkanya. Kini, kamu sudah mengetahui total asetmu.

2. Hitung Daftar Utangmu

Seperti mendaftar aset yang kamu miliki, kamu juga perlu membuka catatanmu atau spreadsheet dan tulis “UTANG” di atasnya.

Kemudian, catat semua utangmu di bawah sebelah kiri dan nilai utang di sebelah kanan. Patut diingat bahwa utang yang perlu kamu masukkan adalah utang konsumsi pribadimu, seperti pinjaman pribadi, kredit mobil, cicilan rumah, dan sebagainya.

Setelah menuliskan semua utang, tulis “TOTAL” di bagian bawahnya, lalu jumlahkan semua daftar utang. Nah, “TOTAL” tersebut akan menjadi total utangmu.

Namun, Sobat Cuan juga perlu memahami bahwa berutang tak selamanya buruk. Kamu bisa berutang asalkan kamu menggunakan uang pinjaman tersebut untuk kegiatan yang produktif misalnya membuka usaha atau membeli aset yang harganya terus naik. Sehingga, kamu bisa membayar cicilan dan bunga utangnya dengan imbal hasil kegiatan produktif tersebut.

3. Kurangi Aset dan Utangmu

Sekarang, yang perlu kamu lakukan adalah mengurangi total asetmu dan total utangmu. Hasil akhirnya, baik positif atau negatif, akan menjadi nilai kekayaan bersihmu.

Contoh Perhitungan Kekayaan Bersih

Sinta adalah seorang karyawan swasta berusia 36 tahun. Saat ini, ia memiliki rumah senilai Rp250 juta dengan skema cicilan dan masih punya sisa utang KPR Rp110 juta. Selain itu, ia juga memiliki mobil seharga Rp120 juta yang sudah terbayar lunas.

Di luar harta tersebut, Sinta juga memiliki tabungan bank sebesar Rp50 juta dan investasi emas senilai Rp5 juta. Di sisi lain, Sinta masih memiliki utang KTA senilai Rp10 juta.

Dari keterangan di atas, maka kondisi keuangan Sinta sekarang adalah:

Dengan melihat tabel di atas, maka total kekayaan bersih Sinta adalah Rp425.000.000 – Rp110.000.000 = Rp315.000.000.

Kenali Perbedaan Utang Produktif dan Non-Produktif

Seperti yang sudah disinggung di atas, kamu memang sah-sah aja berutang asalkan untuk kegiatan produktif. Makanya, kamu perlu memilah utang, mana yang disebut utang produktif dan apa saja yang disebut utang non-produktif.

Utang non-produktif juga biasa dikenal sebagai utang konsumtif. Yakni, segala jenis utang demi membeli barang konsumsi atau gaya hidup, misalnya kredit mobil, ponsel, gadget lain, dan barang-barang hobi. Nilai benda-benda tersebut biasanya tidak mengalami apresiasi setelah kamu melunasi utangnya. Maka dari itu, alangkah baiknya jika utang konsumtif sudah termasuk di 50% pendapatan yang sudah kamu alokasikan untuk biaya kebutuhan hidup.

Di sisi lain, utang produktif adalah utang yang bisa kamu gunakan untuk meraih pendapatan atau penghasilan. Biasanya, bunga utang produktif jauh lebih kecil dibandingkan dengan utang konsumtif. Selain itu, jangka waktu pelunasannya pun jauh lebih panjang dibanding utang konsumtif. 

Ketika mengajukan kredit konsumtif, kamu umumnya harus menyerahkan aset sebagai jaminan kredit. Namun, aset yang kamu serahkan harus mengalami apresiasi nilai jangka panjang, misalnya tanah, rumah, dan saham.

Secara arus kas, utang produktif tidak harus dibayar dalam periode yang sangat cepat. Sebab, kalau kamu bisa memanfaatkan pembayaran pokok dan bunga dengan optimal, maka utang produktif justru bisa menambah kekayaan bersihmu. 

Hanya saja, Sobat Cuan tidak boleh terlalu agresif dalam mengambil utang produktif, apalagi kalau penghasilanmu tidak bisa menutup angsuran dan bunganya.



Sumber : pluang.com

Anti Pompom, Ini Alasan Reksadana Saham Lebih Aman bagi Sobat Cuan!

Sobat cuan tertarik berinvestasi di pasar saham tapi ogah ikut arus sobat pompom? Reksadana saham bisa jadi pilihannya.

Reksadana saham cukup ideal jadi instrumen investasi bagi pemula dengan dana dan pengetahuan terbatas. Mengapa begitu? Simak sampai habis ya!

Apa Itu Reksadana Saham?

Umumnya, produk reksadana bisa dikatakan sebagai reksadana saham apabila lebih dari 60% portofolionya diinvestasikan di pasar modal.

Portofolio seperti ini tentunya menawarkan risiko yang lebih tinggi dibanding produk reksadana pendapatan tetap ataupun reksadana pasar uang. Namun tetap saja, fluktuasi reksadana saham lebih rendah ketimbang terjun langsung bermain saham.

Beda dengan berinvestasi langsung di bursa efek, investor reksadana saham hanya dapat membeli produk ini lewat sekuritas. Nantinya, dana investor akan dikelola oleh seorang Manajer Investasi (MI) berpengalaman pada sektor-sektor bisnis yang disetujui sejak awal oleh investor. MI berperan menentukan perusahaan mana dan kapan saham akan dijual.

Tak perlu khawatir, Sobat Cuan tetap menentukan sektor mana saja yang akan menerima investasi kamu, juga sebesar apa porsinya. Namun dengan keterbatasan waktu, pengalaman dan pengetahuan investor pemula, keberadaan MI sebagai pengelola investasi kamu tentu sangat membantu sobat mendulang cuan, dong!

Jika dalam instrumen saham yang kamu miliki adalah share perusahaan, pada reksadana saham yang kamu miliki adalah unit NAB atau Nilai Aktiva Bersih dari reksadana tersebut.

Baca juga: Sobat Cuan Mau Nyemplung ke Reksadana? Kenali Risikonya Dulu, Yuk!

Minim Risiko

Reksadana saham menawarkan instrumen investasi yang lebih minim risiko ketimbang berinvestasi langsung di pasar modal yang fluktuatif. Berkat adanya MI yang mewakili Sobat Cuan mengambil keputusan, risiko investasi jadi bisa sharing dengan investor lain yang ikut ngumpulin modal pada produk yang kamu beli.

Apalagi, dengan pertimbangan dan pengetahuan yang baik, Manajer Investasi (MI) kamu pasti akan melakukan diversifikasi investasi pada produk lain. Jadi kalau IHSG lagi kebakaran jenggot, portofolio kamu masih aman.

Risiko Reksadana Saham

Meskipun minim, risiko itu tetap ada dong. Jadi, apa saja sih risiko dalam berinvestasi di reksadana saham yang harus diantisipasi?

Pertama, adalah risiko fluktuasi nilai investasi akibat naik turunnya kinerja reksadana. Karena dana kamu diinvestasikan di pasar saham yang fluktuatif, sedikit banyak pasti kinerja reksadana kamu ikut berfluktuasi meski tidak seliar IHSG.

Selain itu, fee dan biaya yang dinekan dari tiap transaksi saham yang dilakukan oleh MI kamu juga akan berpengaruh lho terhadap cuan kamu.

Kedua, adalah risiko likuiditas dari buyback reksadana yang mungkin saja bisa terhambat jika MI gagal menyediakan dana yang diperlukan untuk membeli kembali NAB kamu. Risiko ini berkaitan juga dengan risiko ketiga, yakni risiko wanprestasi. MI atau rekan usahanya berpotensi untuk melakukan wanprestasi jika mereka gagal memenuhi kewajibannya akibat satu dan lain hal.

Terakhir nih, harus dipertimbangkan juga risiko yang timbul akibat memanasnya kondisi ekonomi maupun politik di dalam dan luar negeri. Namanya juga pasar saham, sensitif banget lho sama sentimen kayak gini.

Baca juga: Hai Sobat Cuan, Begini Lho Cara Maksimalkan Cuan di Reksadana Pendapatan Tetap

Kiat Investasi Reksadana Saham buat Pemula

Sudah tahu risikonya, tapi masih tetap tertarik dengan produk reksadana saham? Lanjut!

Buat pemula, pertama-tama tentu sobat cuan harus menentukan dulu tujuan investasi, toleransi risiko, dan cakrawala investasi sebelum membeli produk ini. Biasanya, perusahaan sekuritas membagi dua tipe investor reksadana, yakni si anak bawang dan si investor musiman.

Pemain baru disarankan untuk memilih produk reksadana yang sudah punya kapital besar. Produk seperti ini mungkin tidak akan tumbuh secepat produk-produk baru yang kapitalnya masih kecil. Tapi pastinya lebih minim risiko dan sudah terbukti menghasilkan keuntungan yang konsisten.

Kalau Sobat Cuan termasuk investor musiman, tentunya lebih disarankan untuk membawa perbekalan pengetahuan berbagai produk dan resikonya masing-masing. Bekal ini akan sangat membantu menentukan skema investasi yang tepat buat kamu, lho! Hanya saja, pastikan untuk tidak berinvestasi di satu keranjang saja, ya.

Selain itu, Sobat Cuan juga bisa memperhatikan faktor-faktor ini ketika berinvestasi di reksadana saham. Apa saja?

1. Kapitalisasi Pasar

Kapitalisasi pasar adalah nilai pasar dari hasil kali harga saham per lembar denga jumlah saham yang ada dalam perusahaan. Berdasarkan data RTI, per Senin (31/5) kapitalisasi pasar IHSG mencapai Rp 7.063,371 triliun yang merupakan kapitalisasi gabungan seluruh emiten yang tercatat disana.

Tentu saja emiten, atau perusahaan yang melantai di pasar saham, memiliki kapitalisasi pasar yang beragam dengan kinerja yang berbeda pula. Emiten dengan kapitalisasi besar umumnya lebih konsisten menjaga nilai per lembar sahamnya, sementara emiten dengan kapitalisasi lebih kecil tentu lebih lincah pergerakan sahamnya.

Emiten dikatakan memiliki kapitalisasi pasar besar jika nilainya mencapai Rp100 triliun atau lebih. Di bawah itu, emiten tergolong sebagai layer kedua atau ketiga.

Pada reksadana saham, pemilihan emiten dengan kapitalisasi pasar tertentu sangat berperan pada besar kecilnya risiko dan cuan.

Semakin besar kapitalisasi pasar emiten yang dipilih dalam portfolio reksadana yang kamu beli, makin besar kemungkinan untuk cuan. Namun, makin besar juga risikonya. No pain no gain, Sob!

2. Pilih Lumpsum atau SIP?

Sobat cuan termasuk tipe investor yang mana nih? Langsung investasi dana dalam jumlah besar atau lumpsum atau dicicil secara sistematis (Systematic Investment Plan/SIP).

Ternyata, keduanya membutuhkan strategi yang berbeda. Investor lumpsum harus bisa memilih waktu yang tepat dalam menginvestasikan semua dananya dalam berbagai instrumen.

Sementara itu, tim dicicil harus disiplin untuk menginvestasikan sejumlah uang secara teratur dalam interval waktu tertentu, ya.

Baca juga: Apa Alasan Kita Perlu Perhatikan Kapitalisasi Pasar Saat Investasi Aset Kripto?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia, Groww.in



Sumber : pluang.com

Mempersiapkan Dana Darurat

Seperti namanya, dana darurat adalah dana yang bisa kamu manfaatkan ketika situasi genting alias darurat. Kamu perlu mempersiapkan dana ini lantaran kamu pasti akan menemui banyak kejadian tak terduga di masa depan, yang terkadang bahkan bisa menguras kantongmu.

Sebagai contoh, bayangkan ketika jika sepeda motor kesayanganmu mendadak mogok dan perlu “disembuhkan” di bengkel. Suasana hatimu mungkin akan tenang kalau kamu sudah mempersiapkan dana jaga-jaga. Namun, bagaimana kalau kamu tidak punya uang di rekeningmu? Pasti kamu langsung merasa gelisah, bukan?

Tetapi, berapa tepatnya dana yang kamu harus tabung untuk dana darurat? Dan apa yang kamu lakukan dengan uang itu? Berikut adalah beberapa hal yang perlu kamu ketahui!

Kapan Saatnya Kamu Pakai Dana Darurat?

Kamu harus menggunakan dana darurat hanya ketika kamu terjebak dalam situasi genting. Yakni, sebuah keadaan di mana kamu mau tak mau harus mengeluarkan uang demi menghadapi sebuah kondisi yang tak terduga. Misalnya, biaya memperbaiki ponsel pintar, atau biaya pulang kampung karena orang tuamu sakit keras.

Di sisi lain, kamu dilarang menggunakan dana darurat hanya untuk membiayai nafsu belanjamu. Misalnya, kamu iri melihat teman-temanmu posting foto liburan mereka di Labuan Bajo di media sosial. Kemudian, karena tak mau kalah, kamu berencana liburan ke Raja Ampat menggunakan dana daruratmu.

Namun, setiap orang tentu memiliki definisinya masing-masing terkait “situasi darurat”. Nah, area abu-abu inilah yang kadang sering bikin kamu galau. Jadi, kamu perlu berpikir matang-matang sebelum mengeluarkan uangmu.

Berapa Dana Darurat yang Perlu Kamu Siapkan?

Secara aturan umumnya, nilai dana darurat yang harus kamu kumpulkan harus setara dengan tiga hingga enam kali gaji bulananmu.

Memang, jumlah tersebut terdengar cukup besar, apalagi jika kamu baru memulainya. Tapi di sisi lain, angka tersebut bukanlah tolok ukur yang pasti. Terdapat cara lain bagimu untuk menilai kebutuhan dana daruratmu yang diukur berdasarkan dua faktor utama: Seberapa besar ketidakpastian yang akan kamu hadapi dan tingkat kenyamanan pribadimu.

Semakin besar ketidakpastian dalam kehidupan finansialmu, maka semakin besar pula kebutuhan dana daruratmu.

Misalnya, jika kamu sudah lama memiliki penghasilan tetap dan tidak memiliki tanggungan, maka menyiapkan dana darurat setara tiga bulan gaji adalah langkah yang tepat. Namun, jika kamu adalah seseorang pekerja lepas atau wiraswasta tanpa penghasilan tetap per bulan, maka ada baiknya kamu mempersiapkan dana darurat setara sembilan bulan rata-rata penghasilanmu per bulan.

Intinya, persiapkan dana darurat sesuai dengan tingkat kebutuhan dan ketidakpastian yang kamu hadapi di masa depan. Selain itu, kamu harus menyiapkan semua uangmu dalam bentuk tunai agar bisa kamu tarik sewaktu-waktu. Kamu juga perlu memikirkan investasi setelah dana daruratmu terkumpul.

Cara Mempersiapkan Dana Darurat

Beberapa orang mungkin memutuskan untuk menabung sebanyak mungkin demi mempersiapkan dana darurat. Tapi, kamu mungkin akan mengabaikan menabung jika kondisi finansialmu cekak. Sehingga, kamu harus putar otak lebih keras dalam mengumpulkan dana darurat.

Nah, sebelum memikirkan cara mengumpulkan dana darurat di tengah kondisi seret, kamu perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:

  1. Jika pasanganmu tidak bekerja, bisakah dia mendapat pekerjaan?
  2. Apakah kamu memiliki asuransi yang layak?
  3. Apakah kamu memiliki rencana cadangan jika kamu kehilangan pekerjaanmu?

Setelahnya, kamu perlu mengikuti langkah-langkah berikut agar kamu bisa leluasa menabung.

  1. Lunasi utang berbunga tinggi.
  2. Susun anggaran pengeluaran yang pas dengan kondisi dan kebutuhanmu.
  3. Tetapkan target kecil dalam bulan-bulan awal menabung. Kemudian, tambah jumlah tabunganmu per bulan di bulan-bulan berikutnya.

Di Mana Kamu Bisa Menyimpan Dana Darurat?

Seperti yang sudah disinggung di atas, kamu harus menyimpan dana daruratmu dalam bentuk uang tunai. Namun, bukan berarti kamu menyimpan uang tersebut di bawah kasur. Simpan uangmu di rekening tabunganmu sehingga kamu bisa menariknya kapanpun yang kamu mau.

Atau, kamu mungkin bisa menaruh dana daruratmu di beberapa instrumen investasi dengan likuiditas tinggi dan minim risiko, contohnya adalah reksa dana pasar uang.



Sumber : pluang.com

Lagi Digandrungi, Apa Alasan Orang-Orang Saat Ini Menyerbu Aset Kripto?

Sobat Cuan mungkin sudah sering mendengar riuhnya publik tentang investasi atau trading aset kripto. Ya, aset kripto belakangan naik daun karena kesuksesan Bitcoin, Ethereum, hingga altcoin dalam memberikan cuan bagi para penggenggamnya.

Namun sayangnya, tak semua orang memahami alasan investasi cryptocurrency sepenuhnya. Kebanyakan, mereka yang terjun di aset kripto hanya mengikuti hype semata tanpa mengenal aset digital satu ini.

Terjun ke aset kripto tanpa bekal pengetahuan yang jelas bisa menjebakmu lho, Sobat Cuan! Sebab, kalau kamu tak punya bekal yang matang, kamu jadi tak bisa mengontrol ekspektasimu dalam berinvestasi kripto.

Selain itu, pengetahuan yang mumpuni juga bikin kamu semakin konsisten berinvestasi kripto meski harganya naik turun bak jungkat-jungkit.

Maka dari itu, ada baiknya kamu mengerti alasan mengapa investor, atau trader, doyan aset kripto belakangan ini. Yuk, baca artikel ini sampai habis!

Baca juga: Ini Alasan Mengapa Kamu Sebaiknya Berinvestasi di Bitcoin

Sebelum Tahu Alasan Investasi Cryptocurrency, Yuk Kenalan dengan Karakteristik Aset Digital

Penjelasan lebih detail mengenai aset kripto bisa Sobat Cuan baca di artikel berikut. Namun intinya, cryptocurrency adalah mata uang virtual, di mana keamanannya dilindungi oleh kriptografi. Sehingga, orang-orang akan menjadi sulit untuk memalsukannya.

Sebagian besar aset kripto berada di jaringan terdesentralisasi yang berjalan di atas teknologi blockchain. Karena bersifat terdesentralisasi, makanya mata uang kripto tidak diterbitkan, diawasi, atau diatur oleh otoritas resmi maupun pemerintah.

Aset kripto pun banyak macamnya, lho, Sobat Cuan!

Memang ada ribuan aset kripto di dunia ini. Namun, bukan berarti mereka semua punya manfaat dan nilai guna (use case) yang sama.

Ternyata, terdapat empat jenis aset kripto di dunia ini, seperti yang dijelaskan dalam artikel berikut. Tetapi, untuk mendapatkan gambaran umum terkait jenis aset kripto, Sobat Cuan bisa membandingkan dua aset kripto populer, yakni Bitcoin dan Ethereum.

Di satu sisi, Bitcoin dikenal sebagai alat penyimpan kekayaan (Store of Value) mengingat jumlahnya yang hanya 21 juta keping di dunia ini. Sehingga, mereka yang ingin mempertahankan nilai kekayaannya dari gerusan inflasi tentu akan memburu Bitcoin.

Sementara, di sisi lain, Ethereum dikenal dengan kegunaannya di ekosistem keuangan terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi). Sehingga, mereka yang ingin memanfaatkan jasa keuangan terdesentralisasi tentu akan memburu Ether (ETH) sebagai jagoannya.

Baca juga: Kenapa Kamu Mesti Beli Emas Sekarang Meski Harganya Lagi Gak Karuan?

Manfaat dan Kekurangan Cryptocurrency

Cryptocurrency mempermudah transfer dana antar pengguna tanpa memerlukan perantara, atau disebut intermediaries seperti bank. Sehingga, transaksi bisa dilakukan secara cepat dan tanpa dibebani biaya macam-macam.

Selain itu, transaksi ini pun terbilang aman karena pencatatan transaksi di blockchain menggunakan algoritma konsensus tertentu. Di mana, tak semua orang bisa menjalankan algoritma tersebut. Salah satu contoh algoritma konsensus adalah sistem Proof of Work, yang bisa Sobat Cuan baca di artikel ini.

Hanya saja, cryptocurrency pun memiliki kekurangannya tersendiri. Banyak yang menggunakan aset digital ini untuk melakukan kegiatan ilegal seperti pencucian uang, pendanaan terorisme, hingga pengemplangan pajak. Ini lantaran kegiatan di dalamnya sama sekali tidak diawasi otoritas terkait.

Namun, aktivitas itu nampaknya kini sudah menjadi mitos, sesuai dengan artikel berikut.

Lalu, Apa Alasan Orang-Orang Investasi Cryptocurrency?

Di tengah pro dan kontra terkait aset kripto, nyatanya kini semakin banyak orang tergerak untuk berkecimpung di dalamnya. Lantas, apa alasan mereka memilih investasi kripto?

1. Teknologi Blockchain

Banyak yang mengatakan bahwa teknologi blockchain, yang berada di bawah seluruh aset kripto, bisa memicu revolusi keuangan di masa depan. Adapun, blockchain adalah sebuah buku besar yang berisikan transaksi aset kripto yang bisa diakses secara publik, namun isinya tidak dapat diubah secara sembarangan.

Teknologi blockchain sendiri dianggap bisa menghilangkan peran perantara keuangan, sehingga transaksi antar satu orang dengan lainnya menjadi mudah dan murah. Selain itu, teknologi blockchain juga bisa digunakan untuk berbagai keperluan jasa keuangan, misalnya tabungan, pinjam-meminjam, asuransi, hingga Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Nah, prospek masa depan cerah ini yang membuat orang menggenggam cryptocurrency. Berinvestasi di aset kripto mencerminkan cara mereka dalam mendulang cuan sembari mendukung akses jasa keuangan yang lebih mudah di masa depan.

2. Alat Penyimpan Nilai yang Stabil

Salah satu alasan utama investasi kripto adalah sifatnya yang bisa bermanfaat dalam jangka panjang.

Uang fiat pada umumnya memiliki suplai yang tidak terbatas. Selain itu, nilainya pun akan tergerus antar waktu gara-gara tingkat inflasi.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi cryptocurrency. Beberapa aset kripto memiliki suplai terbatas, sehingga menjadikannya pilihan jitu untuk menyimpan kekayaan. Di samping itu, aset kripto pun tak memiliki korelasi secara langsung dengan tingkat inflasi.

Sehingga, ini bisa menjadi alasan investasi cryptocurrency yang tepat, terutama bagi mereka yang khawatir dengan tingkat inflasi besar di masa depan dan krisis moneter. Bahkan, kini Bitcoin pun kerap dijuluki sebagai “emas digital” terbaru.

3. Cara Baik Bagi Investor Untuk Mengelola Risiko

Investasi cryptocurrency kini sedang naik daun. Sehingga, tak heran jika aset digital ini kerap menjadi objek para spekulan atau trader-trader yang mencari cuan instan. Akibatnya, tak heran jika fluktuasi harga aset kripto pun terbilang kencang.

Nah, di saat-saat seperti ini, investor bisa melatih mentalnya untuk tidak terpengaruh dengan situasi yang ada. Selain itu, berinvestasi di aset kripto membuat mereka lebih mengedepankan “otak” ketimbang emosi dalam berinvestasi.

Bahkan terkadang, risiko berinvestasi cryptocurrency berasal dari sang pengguna itu sendiri. Sebagai contoh, kita pernah dihebohkan dengan kabar bahwa seseorang kehilangan aset kriptonya setelah lupa kata kunci dompet digitalnya, seperti terdapat di artikel berikut.

Oleh karenanya, tak salah bagi Sobat Cuan untuk mulai investasi cryptocurrency segera. Nah, untuk memulainya, kamu bisa berinvestasi di Pluang!

Di Pluang, kamu bisa berinvestasi Ethereum dan Bitcoin, dua aset digital yang diperkirakan punya prospek mumpuni di masa depan. Yuk, tunggu apalagi?

Baca juga: Investasi Cryptocurrency, Apa Saja yang Perlu Diketahui?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia



Sumber : pluang.com

Cara Mengumpulkan Rp100 Juta Pertama

Semua orang ingin mengumpulkan kekayaan sebanyak mungkin. Dan terkadang, beberapa orang menjadikan Rp100 juta sebagai target kekayaan pertama mereka lantaran dianggap cukup realistis.

Hanya saja, setiap orang punya latar belakang yang berbeda-beda. Sebagian orang mungkin bisa mencapai hal tersebut dengan mudah, sementara sebagian lainnya harus berjibaku terlebih dulu.

Nah, mungkin kamu adalah salah satu dari orang-orang tersebut. Tapi, jangan khawatir, Sobat Cuan. Kamu masih bisa mendapatkan uang Rp100 juta pertamamu dengan menabung sejak dini, kok.

Sekarang, yang perlu kamu lakukan adalah memahami cara menabung yang tepat agar tujuanmu tercapai. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa kamu lakukan untuk mendapatkan Rp100 juta pertamamu.

1. Memiliki Pola Pikir yang Kuat

Bagi beberapa orang, menabung hingga terkumpul Rp100 juta bukanlah target jangka pendek, melainkan jangka panjang. Sehingga, kamu perlu membekali diri dengan pola pikir yang kuat serta komitmen kokoh untuk menabung.

Kamu akan berkomitmen teguh untuk menabung jika memiliki tujuan yang juga kuat.

Ya, tujuan adalah akar dari seluruh perencanaan keuangan. Jika kamu memiliki tujuan yang kuat, maka kamu bisa menentukan strategi dan juga jangka waktu menabung yang juga tepat. Nah, kedua hal itu nantinya juga dapat membantu kamu menyusun penganggaran yang jitu.

Misalkan, penghasilan kamu hanya berkisar Rp5 juta per bulan, namun kamu ingin menuju Rp100 juta dalam lima tahun. Maka, yang perlu kamu lakukan adalah mengetatkan belanja dan menyisihkan uang Rp2 juta per bulan untuk menabung.

Memang, menabung adalah sesuatu yang berat. Tapi, kamu perlu menyadari bahwa usahamu pun nantinya akan berbuah manis.

2. Cermat Melihat Potensi Penghematan

Setelahnya, kamu harus melihat kesempatan penghematan belanjamu dari segala sisi agar bisa menabung. Misalnya, kamu yang selama ini sering memesan makanan secara daring mungkin ada baiknya mulai mencoba memasak sendiri. Atau, kamu yang biasa berbelanja baju mungkin bisa mencari strategi dalam berburu diskon.

Meski niatan itu terbilang baik, tapi kamu tetap perlu konsisten dalam menjalankannya, ya!

3. Kurangi Beban Bungamu

Kadang, kita senang berbelanja dengan sistem kredit atau cicilan dengan berpikir bahwa barang-barang ini “bisa kamu bayar nanti” ketika gajian. Tapi, jangan terkecoh, Sobat Cuan! Sebab, kebiasaan itu bisa jadi malah membuat kamu buntung lantaran kamu perlu bayar bunga cicilan yang besar tiap bulannya.

Tak jarang kita membaca pengalaman orang-orang yang sebagian besar gajinya habis untuk melunasi utang. Hal ini pun tentu akan mengacaukan penganggaran dan perencanaan menabungmu. Makanya, selagi ada waktu, kamu perlu segera menyelesaikan utang-utang agar tak terpapar bunga-bunga yang mencekik.

4. Cari Pekerjaan Sampingan

Kamu mungkin merasa gajimu saat ini sulit untuk dipakai menabung. Jangankan menabung, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mungkin susah.

Namun, jangan batasi diri, Sobat Cuan! Masih ada potensi pendapatan lain di luar sana yang mungkin masih luput dari pandanganmu.

Di era internet seperti sekarang, mencari pemasukan bisa dibilang lebih mudah dibanding 20 tahun lalu. Kamu bisa mencari pekerjaan lepas seperti menulis, desain grafis, dan lainnya atau usaha sampingan yang bisa kamu kerjakan di rumah.

Selain sebagai cara bagimu untuk mendapatakan Rp100 juta pertamamu, memiliki usaha sampingan mungkin juga mampu membantumu mengasah bakat terpendam. Jangan biarkan bakatmu menganggur ya, Sobat Cuan!

5. Berinvestasi dengan Cermat

Menabung dengan rutin memang bisa menjadi cara mendapat Rp100 juta pertama dengan jitu. Namun, menabung mungkin membutuhkan waktu yang lama, bahkan bisa mencapai belasan hingga puluhan tahun.

Selain itu, nilai Rp100 juta di masa depan juga berbeda saat ini akibat inflasi. Contoh yang nyata mungkin terlihat saat kamu membeli permen. Sepuluh tahun lalu, satu bungkus permen dihargai Rp100, namun kini kamu perlu merogoh Rp500 untuk beli satu permen saja.

Makanya, yang bisa kamu lakukan selain menabung adalah “mengembakbiakkan” uangmu dengan investasi. Alasannya, investasi memiliki sebuah efek yang disebut dengan bunga majemuk (compound interest), di mana imbal hasil yang kamu dapatkan dari investasi bisa menghasilkan imbal hasil tambahan lagi.

Kendati demikian, kamu juga perlu berinvestasi dengan cermat. Dengan kata lain, kamu perlu mengelola ekspektasimu dalam berinvestasi dengan mempertimbangkan tujuan, profil risiko, serta strategi investasimu.

Berapa Lama Waktu yang Diperlukan Untuk Mendapat Rp100 Juta?

Pertama-tama, kamu harus paham bahwa jangka waktu demi meraih Rp100 juta pertama sangat tergantung dengan pendapatan bulanan dan budget yang kamu siapkan untuk berinvestasi.

Kamu tak perlu keder duluan jika memang penghasilanmu mini, sebab banyak orang yang memiliki nasib sama sepertimu. Terlebih di Indonesia, upah minimum regional rata-rata berkisar sekitar Rp3 juta hingga Rp4,5 juta tergantung domisili. Tidak ada hal yang instan di dunia ini, semuanya berawal dari jumlah kecil terlebih dulu.

Agar kamu makin terpacu mengumpulkan Rp100 juta pertamamu, yuk simak ilustrasi berikut:

Anggap saja pendapatan bulananmu sebesar Rp4 juta per bulan. Jika kamu menggunakan metode 50-30-20, maka kamu akan mengalokasikan 20% pendapatanmu (atau Rp800.000) untuk menabung per bulannya. Sehingga, dengan asumsi bahwa kamu tidak akan menarik dana tersebut dan tidak menaruhnya di instrumen yang bisa memberimu pendapatan bunga, kamu bisa mengumpulkan uang Rp9,6 juta dalam setahun.

Kemudian, dengan asumsi bahwa kamu tidak mengalami kenaikan pendapatan di tahun-tahun mendatang, maka artinya kamu perlu waktu kira-kira 10 tahun untuk mengantongi Rp100 juta. Waktu yang cukup lama, bukan?

Tetapi, alur kisah tersebut akan berbeda kalau kamu memutuskan berinvestasi sejak awal. Kamu bisa mendapat Rp100 juta lebih cepat jika kamu mampu “mengembangbiakkan” uang simpananmu di instrumen investasi. Berikut simulasinya dengan bunga dan tanpa bunga.

Cara mengumpulkan Rp100 Juta



Sumber : pluang.com