Category Archives: Pluang

Bagaimana Cara Menghadapi Bear Market di Indeks SP 500?

Indeks S&P 500 sampai saat ini masih menikmati masa-masa bulan madu. Setelah menembus rekor 4.000 pada awal April lalu, kini nilai indeks tersebut masih adem ayem di kisaran 4.190.

Namun, layaknya investasi lainnya, tentu saja ada yang namanya pasang surut. Kadang, indeks S&P 500 bisa moncer seperti saat ini dan ada kalanya ia jatuh terjerembab tak berdaya.

Salah satu contoh crash indeks S&P 500 terjadi pada saat pandemi COVID-19 menggempur seluruh belahan dunia pada Maret 2020.

Pada tanggal 23 Maret setahun silam, nilai indeks S&P 500 amblas 34% yang diikuti dengan masuknya indeks berisikan 500 perusahaan bonafide seantero AS tersebut ke zona bearish. 

Saat pagebluk melanda, indeks saham ini anjlok hanya dalam kurun waktu 1 bulan. Padahal dalam kondisi normal, indeks bisa bearish sedalam itu membutuhkan waktu selama 11 bulan.

Tetapi, itulah pasar saham. Koreksi dan anjloknya indeks saham adalah hal yang biasa dan tidak dapat diprediksi. Sebelum crash karena pandemi, indeks S&P 500 juga sebelumnya pernah longsor selama 10% dalam 38 sesi.

Berkaca dari peristiwa di atas, maka anjoknya nilai indeks S&P 500 di masa depan masih sangat mungkin terjadi apapun pendorong utamanya. Investor perlu memahami hal ini agar ia bisa segera melancarkan strategi mengamankan cuan yang jitu kala pasar bearish melanda.

Nah, biar kamu tidak panik saat S&P 500 sedang bearish, berikut ada beberapa tips yang bisa Sobat Cuan lakukan agar tidak melakukan panic selling yang malah berpotensi menggerus keuntunganmu. Apa saja tips tersebut?

Baca juga: Apa Beda Istilah Crash dan Koreksi Bitcoin? Simak di Sini!

Kiat Bertahan di Kala Bearish S&P 500

1. Tenang, Jangan Panik

Saat kondisi pasar ambruk, Sobat Cuan harus bisa menguasai emosi. Karena selama 50 tahun, mulai dari 1970 sampai dengan 2020, pasar saham sudah mengalami koreksi sebanyak 28 kali.

Jadi, kamu perlu paham bahwa itu adalah hal biasa dalam dinamika pergerakan harga saham. Ditambah, saat kamu sudah memutuskan untuk masuk ke pasar saham, artinya kamu sudah juga harus siap menghadapi koreksi, tidak cuma cuannya saja.

Tetap yakin bahwa anjloknya indeks saham S&P 500 saat ini suatu saat akan pulih kembali di masa depan. Sebab, sesuai data historis, nilai indeks saham dan kapitalisasi pasar akan selalu naik mengikuti pertumbuhan ekonomi.

2. Hindari Panic Selling

Panic Selling adalah kondisi di mana investor khawatir akan pasar saham yang bergejolak. Biasanya, dalam kondisi ini, banyak investor akan melepas aset investasi sahamnya di harga berapapun, yang malah membuat indeks berpotensi tersungkur lebih dalam lagi.

Jika pasar mengalami koreksi dalam, Sobat Cuan jangan terpengaruh dengan pergerakan pasar yang banyak melakukan posisi jual. Sepanjang saham yang dikoleksi masih memiliki potensi pertumbuhan yang lebar di masa depan dan tidak ada perubahan bisnis dalam jangka pendek, tidak ada salahnya untuk memasang posisi bertahan.

Karena saat panic selling, besar kemungkinan nilai uang yang ada dalam rekening saham bakal tergerus tajam. Masih lebih baik untuk bertahan, karena artinya kerugian yang ada masih dalam bentuk potensi, tidak dalam nilai sebenarnya.

Baca juga: Begini Tips Mengatur Keuangan Kamu Saat Pandemi!

3. Saat indeks S&P 500 Bearish, Di Situlah ada Diskon Harga

Pasar yang sedang melandai bisa juga ditandai sebagai diskon harga bagi saham-saham tertentu.

Sebagai contoh, dalam kondisi normal, saham A bisa dihargai di US$100 per lembar. Namun, saat sedang lesu, saham tersebut anjlok di harga US$70 per lembar.

Disini pendekatan value investing bisa dipakai. Sobat Cuan bisa masuk atau menambah jumlah saham yang saat ini dikoleksi untuk kemudian menunggu momentum untuk memantul kembali ke harga yang lebih tinggi. Penjelasan lebih lanjut mengenai value investing bisa kamu baca di sini, ya!

Jadi, selalu siapkan uang tunai ekstra saat menghadapi kondisi bearish. Karena koreksi pasar memang bisa menganggu. Namun, di sisi lain, pasar yang amburadul dapat menjadi peluang untuk mendapatkan keuntungan lebih besar lagi.

Baca juga: Apa Itu Koreksi dan Apa Pengaruhnya Terhadap Investasi Kamu?

Apakah Tahun ini Indeks S&P 500 Bakal Anjlok?

Meski kamu perlu wanti-wanti mengenai potensi bearish S&P 500, beberapa analis masih menilai indeks saham ini akan bertumbuh terus sampai akhir tahun ini. Analis yang dimuat di Forbes juga sudah merevisi ke atas target earning per share (EPS) pada tahun ini, dari US$181 menjadi US$193.

Sedangkan untuk tahun 2022, target EPS juga telah direvisi ke atas dari US$197 menjadi US$202. Adanya peningkatan jumlah likuiditas di bank, pemulihan ekonomi global dan pertumbuhan Produk Dometsik Bruto (PDB) menjadi alasan optimisme analis melihat pasar saham di tahun ini.

Selain itu, analis juga percaya bahwa musim pelaporan keuangan (earning season) perusahaan di AS akan semakin mumpuni di kuartal II. Hal ini didukung oleh pembukaan kembali kegiatan ekonomi (reopening) serta prospek pasar tenaga kerja yang bisa mengarah ke zona positif.

Nah, apakah Sobat Cuan juga tertarik berinvestasi S&P 500? Yuk, investasi saja melalui micro e-mini S&P 500 futures index di Pluang sekarang!

Baca juga: Investasi S&P 500 Bisa Bikin Kamu Sultan Lho, Simak 3 Alasannya!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: The Motley Fool, Forbes



Sumber : pluang.com

Mengenal Indeks Saham Utama

Indeks Saham AS

Terdapat tiga indeks saham AS yang sangat dikenal oleh kalangan investor yaitu Dow Jones Industrial Average (DJIA), S&P500, dan Nasdaq Composite. 

Indeks Dow Jones merupakan indeks dari perusahaan-perusahan yang berbasis industri, sementara indeks S&P 500 adalah indeks yang terdiri dari 500 perusahaan berkapitalisasi pasar jumbo yang melantai di bursa AS, dan Nasdaq adalah indeks dari perusahaan-perusahaan teknologi terbesar di negara Paman Sam tersebut.

Indeks Saham Indonesia

Apa saja indeks saham utama di Indonesia?

1.Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Indeks Harga Saham Gabungan adalah indeks saham yang mencakup seluruh saham-saham yang diperdagangkan secara publik di Indonesia. Perusahaan yang baru melakukan penawaran umum perdana sahamnya (IPO) juga diikutsertakan ke indeks ini sejak hari pertama.

Saham-saham yang tercatat di IHSG terbagi ke dalam dua papan, yakni papan utama (main board) dan papan pengembangan (development board). Sementara itu, indeks ini tidak mengikutsertakan saham-saham yang terdapat di papan akselerasi, yang umumnya berisi saham-saham perusahaan rintisan.

Indeks ini tidak dapat direplikasi mengingat banyaknya saham-saham bervaluasi kecil, tidak likuid, dan saham-saham yang biasanya disebut sebagai “saham tidur”.

2. LQ45

LQ45 adalah indeks yang berisi 45 saham berlikuiditas dan punya kapitalisasi pasar tinggi. Perhitungan indeks ini mengikuti metodologi umum indeks saham global lainnya, di mana pembobotan didasarkan pada kapitalisasi pasar serta mengikutsertakan kapitalisasi pasar atas saham-saham yang digenggam investor minoritas (free float). Sebelumnya, LQ45 tidak mengikutsertakan saham-saham berkategori free float.

LQ45 adalah indeks yang paling banyak dipantau investor lantaran pergerakannya dianggap cerminan dari pergerakan pasar modal Indonesia.

3. IDX30

Karakteristik IDX30 mirip seperti indeks LQ45, namun terbilang lebih mini lantaran hanya terdiri dari 30 saham saja. 

4. MSCI Indonesia

Indeks ini biasa digunakan investor asing dan manajemen investasi di Indonesia lantaran menggunakan pembobotan kapitalisasi pasar free float. Sistem ini sudah digunakan indeks MSCI sebelum diikuti oleh LQ45 pada 2019.

5. Indeks Saham Syariah

Terdapat dua indeks saham syariah yang dikenal investor di pasar modal Indonesia, yakni Indonesia Sharia Stock Index (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII).

ISSI memiliki karakteristik serupa dengan IHSG namun hanya berisikan saham-saham yang mengikuti aturan ekonomi Islam. Misalnya, indeks ini tidak memasukkan saham-saham perusahaan kasino, rokok, minuman keras, dan korporasi yang mendulang laba dari bunga. Selain itu, perusahaan yang punya rasio utang terhadap aset di atas 45% dan porsi pendapatan non-syariah di atas 10% juga tidak diikutsertakan ke dalam indeks ini.

Sementara itu, JII adalah indeks berisikan 30 saham syariah dengan fundamental baik dan likuiditas tinggi.



Sumber : pluang.com

Yuk, Kenalan Lebih Akrab dengan Indonesia Stock Exchange!

Baca juga: IHSG Anjlok 4,04% di Level 5.311, Perlukah BEI Terapkan Protokol Krisis?

Sejarah IDX: Perjalanan Panjang dari Zaman Kolonial Hingga Saat Ini

Cikal bakal IDX berhulu sejak zaman kolonialisme Belanda, alias jauh sebelum Indonesia merdeka pada 1945. Hal ini ditandai dengan bursa efek pertama di Jakarta, saat masih bernama Batavia, pada 1912. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial.Hanya saja, perkembangan pasar modal tidak sesuai harapan setelah masa tersebut. Bahkan, ada kalanya kegiatan pasar modal harus vakum yang disebabkan beberapa faktor, misalnya perang dunia ke I dan II. Pada masa itu, pemerintah Indonesia pun telah mengambil alih pula pemerintahan kolonial Belanda, sehingga operasi bursa efek tak berjalan lancar.

Akhirnya, pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soeharto kembali mengaktifkan pasar modal pada 1977 melalui Bursa Efek Jakarta (BEJ). Kala itu, BEJ dijalankan di bawah Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam) dan ditandai dengan penawaran umum perdana PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama.Pada 1989, BEJ akhirnya memiliki “saudara baru” yakni Bursa Efek Surabaya (BES), sebuah perseroan terbatas milik PT Bursa Efek Surabaya. Tiga tahun kemudian, BEJ pun mengalami swastanisasi, sehingga seluruh bursa efek di Indonesia resmi dikelola oleh swasta.Akhirnya, kedua bursa efek tersebut pun bergabung dan membentuk Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2007.

Peran Indonesia Stock Exchange (IDX)

Sobat Cuan, pasti kalian ingin tahu apa peran Indonesia Stock Exchange. Secara rinci tugas perusahaan ini adalah sebagai berikut:

  • Fasilitator Perdagangan Efek
  • Menyediakan sarana untuk perdagangan efek
  • Membuat peraturan terkait kegiatan di bursa
  • Mencatat semua instrumen efek
  • Melakukan upaya likuiditas instrumen.
  • Melakukan transparansi terkait informasi bursa.
  • Pengontrol Jalannya Transaksi Efek
  • Memantau kegiatan transaksi efek yang terjadi
  • Mencegah terjadinya manipulasi harga tidak wajar yang dilarang oleh undang-undang.
  • Menangguhkan perdagangan untuk emiten saham yang terbukti melanggar ketentuan (suspending).
  • Mencabut efek di bursa yang yang terbukti melanggar ketentuan (delisting)

Cara Kerja Indonesia Stock Exchange (IDX)

Perusahaan yang tercatat di IDX adalah perusahaan yang terbuka untuk publik (go public). Artinya, saham perusahaan tersebut dapat dibeli atau dimiliki oleh publik. IDX akan memfasilitasi semuanya sampai perusahaan tersebut terjun di pasar bursa.

Namun untuk mencapai proses itu, perusahaan tercatat harus memenuhi persyaratan atau listing dari BEI. Pada dasarnya, perusahaan dengan modal besar dan memiliki potensi menjadi perusahaan besar akan mudah terdaftar.

Indeks Saham di Indonesia Stock Exchange (IDX) Saat Ini

Selain itu, kinerja seluruh saham di IDX diukur dalam suatu indeks yang disebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Apakah itu?

Sebelum memahaminya, Sobat Cuan harus paham mengenai pengertian indeks saham. Yakni, ukuran statistik yang mencerminkan keseluruhan pergerakan harga atas sekumpulan saham yang dipilih berdasarkan kriteria dan metodologi tertentu serta dievaluasi secara berkala.

Nah, kalau di BEI, IHSG ini mengukur kinerja harga semua saham yang tercatat di papan utama dan papan pengembangan Bursa Efek Indonesia.

IHSG awalnya diperkenalkan pada 1982, saat BEI masih berbentuk BEJ. Dalam perhitungannya, IHSG menggunakan metode rata-rata berimbang berdasarkan jumlah saham di bursa atau Market Value Weighted Average Index.

IHSG dihitung dengan membagi nilai pasar dengan nilai dasar, yang kemudian dikalikan 100%. Adapun, nilai dasar adalah kumulatif jumlah saham pada hari dasar dikali dengan harga pada hari dasar. Sementara itu, nilai pasar adalah kumulatif jumlah saham yang tercatat dikali dengan harga pasar.

Lantas, apa sih tujuan dari IHSG itu sendiri? Berikut adalah beberapa manfaatnya:

  1. Mengukur sentimen pasar
  2. Menjadi tolak ukur portofolio
  3. Proksi dalam mengukur dan membuat model pengembalian investasi (return), risiko sistematis, dan kinerja yang disesuaikan dengan risiko
  4. Proksi untuk kinerja kelas aset pada alokasi aset.

Selain IHSG, Saat ini BEI memiliki 37 indeks saham lainnya, misalnya IDX80, LQ45, IDX30, IDX Quality30, IDX Value30, IDX Growth30, IDX ESG Leaders, IDX High Dividend 20, IDX BUMN20, Indeks Saham Syariah Indonesia/Indonesia Sharia Stock Index (ISSI), hingga  KOMPAS100, BISNIS-27, MNC36, Investor33, infobank15, dan SMinfra18.

Jumlah Emiten di BEI beserta Top 10 Emiten Big Caps

Saat ini, pada Mei 2021, tercatat ada 738 perusahaan yang melantai di BEI.

Sebanyak 10 emiten masuk dalam barisan perusahaan dengan kapitaliasi pasar besar atau emiten big caps pada tahun 2020. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia pada 30 Desember 2020, posisi teratas masih ditempati oleh PT Bank Central Asia Tbk. Perusahaan dengan kode saham BBCA ini, memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp826 triliun atau naik 1,34% dari tahun sebelumnya.

Berikut daftar 10 emiten big caps tahun 2020 beserta kapitalisasi pasarnya, antara lain:

    1. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), Rp826 triliun
    2. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), Rp509 triliun
    3. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), Rp328 triliun
    4. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), Rp292 triliun
    5. PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), Rp280 triliun
    6. PT Astra International Tbk. (ASII), Rp244 triliun
    7. PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP), Rp175 triliun
    8. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA), Rp162 triliun
    9. PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI), Rp114 triliun
    10. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), Rp112 triliun

Baca juga: Apa Itu Jakarta Futures Exchange?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: IDX, MarketBisnis



Sumber : pluang.com

Mau Menabung Aset Kripto? Yuk, Tes Kesiapan Kamu di Sini!

Saat ini, pecinta aset kripto memang tengah menggandrungi menabung aset kripto. Ini lantaran mereka bisa mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi dari tabungan perbankan (seperti yang dijelaskan pada artikel ini) hanya dengan menyimpannya di akun dompet digital.

Namun, yang namanya investasi tentu punya risiko tersendiri. Begitu pun dengan menabung kripto, seperti yang dijelaskan pada artikel berikut. Sehingga, ada baiknya kamu juga mempersiapkan diri untuk menghadapi risiko dan tantangan yang terdapat di depan mata.

Nah, sebelum berencana menabung kripto, ada baiknya kamu mempertanyakan kesiapan dirimu dalam menghadapi berbagai risiko tersebut. Caranya, adalah dengan mengajukan beberapa pertanyaan berikut ke dirimu sendiri.

Jika kamu sudah paham jawabannya, maka kamu bisa segera “nyemplung” dengan menyimpan aset kriptomu. Sudah siap menguji kesiapan kamu dalam menabung kripto?

Baca juga: Pilih Menabung atau Investasi?

Agar Siap Jiwa Raga Yuk Tes Kesiapan Menabung Aset Kripto!

1. Apakah Kamu Paham Mengenai Produk Tabungan Aset Kripto?

Dalam berinvestasi, penting hukumnya untuk mengenali produk yang akan kamu selami. Begitu juga dengan menabung di aset kripto.

Tentu saja, kamu harus mengetahui risiko menabung di aset kripto. Selain itu, kamu juga perlu memahami mekanisme menabung aset kripto, yang notabene merupakan pengembangan dari aktivitas yield farming di atas sistem keuangan terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi). Kemudian, kamu juga perlu paham mengenai asal muasal tingkat bunga menabung aset kripto, seperti dijelaskan di artikel ini.

Lebih pentingnya lagi, kamu juga harus memahami tentang seluk beluk aset kripto itu sendiri. Misalnya, jika kamu ingin menabung Bitcoin dan Ethereum, kamu perlu mendalami tentang faktor fundamentalnya serta kegunaan masing-masing aset kripto.

Hal ini perlu kamu lakukan untuk memahami bahwa fluktuasi kencang nilai aset kripto adalah hal wajar. Dengan memahami hal tersebut, maka seharusnya kamu bisa mengontrol ekspektasi dalam mendulang cuan di tabungan aset kripto.

2. Apakah Menabung Aset Kripto Sesuai dengan Strategi Investasimu?

Sebagai seorang investor, tentu kamu punya strategi investasi tersendiri. Di mana, strategi itu diturunkan dari profil risikomu.

Nah, kalau kamu memang berniat investasi jangka panjang dan fokus pada pertumbuhan jumlah portofolio kriptomu, maka menabung kripto bisa menjadi pilihan yang baik untukmu. Sebab, layaknya menabung pada umumnya, menabung kripto memiliki efek bunga majemuk, yang dijelaskan di artikel berikut.

Namun, kalau kamu tipikal investor yang gak sabaran, mungkin ada baiknya kamu mempertimbangkan ulang untuk menabung aset kripto. Tapi, tidak ada salahnya menabung aset kripto sebagai strategimu dalam diversifikasi portofolio kriptomu.

Tapi, apapun tipe risikomu, pastikan kamu tidak nyemplung di aset kripto karena hype semata, ya!

3. Bagaimana Kamu Memandang Aset Kripto?

Pertanyaan ini nampaknya wajib kamu tanyakan ke diri sendiri. Sebab, ini menyangkut konsistensi kamu dalam menabung aset kripto.

Kalau kamu yakin dengan masa depan aset kripto, maka menahannya (dan mengakumulasi kepemilikannya) dengan menabung aset kripto adalah langkah yang tepat. Asal, aset kripto yang kamu simpan pun memiliki nilai fundamental dan kegunaan yang cukup jelas, seperti Bitcoin dan Ethereum.

Secara umum, selama ini para analis menilai faktor harga Bitcoin berada di sisi permintaan dan penawaran berdasarkan suplai Bitcoin yang terbatas, yakni 21 juta keping. Makanya, aset kripto ini cocok sebagai aset pelindung kekayaan.

Sementara itu, nilai guna Ethereum terletak pada manfaatnya sebagai nilai tukar di jaringan Ethereum dan DeFi. Sehingga, faktor pendukung harga Ethereum ke depan akan terletak pada pembaruan jaringan serta perkembangan adopsi teknologi DeFi di masa depan.

4. Di Mana Kamu Akan Menabung Aset Kripto?

Perihal platform menabung adalah hal krusial lainnya dalam aktivitas ini. Kalau memang platformnya tidak terpercaya, aset kriptomu bisa-bisa menguap.

Nah, salah satu platform yang bisa kamu manfaatkan untuk menabung aset kripto adalah Pluang! Kamu bisa menabung Bitcoin atau Ethereum dan mendapatkan imbal hasil hingga 3,5% per tahun. Selain itu, kamu pun bisa mengaksesnya dengan praktis dan bisa menarik tabunganmu kapan saja!

Baca juga: Investor Kripto RI Tembus 4,2 Juta. Gimana Caranya Agar Kita yang Paling Cuan?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Nasdaq



Sumber : pluang.com

Lebih Baik Investasi Saham Domestik atau Saham Global? Atau Keduanya?

Alasannya sederhana. Dengan melakukan diversifikasi saham Indonesia dan saham global terutama saham AS, maka kamu sedang berupaya untuk menekan risiko sekaligus meningkatkan potensi cuanmu. Sehingga, yang kamu perlu lakukan bukanlah memilih salah satu di antara keduanya, namun mencari keseimbangan portofolio yang tepat dari kedua pasar modal tersebut.

Alasan Pentingnya Investasi di Pasar Saham AS

Berinvestasi di pasar saham AS adalah langkah penting bagi investor. Sebab, AS adalah kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Selain itu, 80% transaksi di dunia dilakukan dalam denominasi Dolar AS.

1. Pasar Modal AS Adalah Pasar Modal Tercanggih di Dunia

Pasar modal di Amerika Serikat menawarkan berbagai instrumen keuangan yang canggih , memiliki kapitalisasi pasar jumbo, dan merupakan tempat tercatatnya perusahaan-perusahaan paling bernilai di dunia.  

2. Mendapatkan Eksposur ke Sektor-Sektor Tertentu

Berinvestasi di pasar saham AS tidak hanya memungkinkan kamu untuk mengakses investasi ke lingkup geografis yang berbeda, namun juga memperluas cakupan ke sektor usaha yang istimewa seperti sektor teknologi. 

Seperti terlihat di diagram berikut, indeks saham AS didominasi oleh sektor teknologi dan kesehatan (42%). Sementara itu, indeks saham Indonesia “dikuasai” oleh saham-saham sektor jasa keuangan.

3. Imbal Hasil Kinclong

Indeks saham utama AS, seperti S&P 500 dan Nasdaq 100, memiliki tingkat pengembalian di kisaran 20% hingga 40% per tahun selama  lima tahun terakhir ini. Kinerja tersebut mengalahkan cuan yang dihasilkan oleh perusahaan private equity dan pengelola investasi global (hedge fund).

Tingginya pertumbuhan nilai indeks saham tersebut didorong oleh performa cemerlang perusahaan monopoli data, misalnya Facebook, Google, Amazon, Apple, dan Microsoft. Mereka berhasil menjelma menjadi perusahaan bernilai triliunan Dolar AS dengan pendapatan tokcer serta posisi pasar yang tak terkalahkan.

Sobat Cuan bisa melihat kinerja S&P 500 dan Nasdaq 100 melalui grafik berikut.

4. Eksposur ke Aset Berdenominasi Dolar AS

Dolar AS adalah aset cadangan (reserve asset) bagi beberapa negara di dunia. Bahkan, 80% transaksi di dunia ini dilakukan dengan Dolar AS.

Alasan Pentingnya Investasi di Pasar Saham Indonesia

Kesimpulannya, membeli saham global akan memberikanmu akses diversifikasi aset berdasarkan geografi, mata uang, dan sektor. Namun, apa alasan utama bagimu untuk tetap menempatkan dana di pasar modal domestik?

1. Potensi Pertumbuhan yang Mantap

Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk terbesar di dunia dan dengan demografinya sekarang yang kebanyakan merupakan usia muda dan siap masuk masa produktif, memiliki suatu keunggulan dibandingkan Amerika Serikat. Artinya, secara rata-rata, perusahaan Indonesia punya kesempatan bertumbuh lebih baik di masa depan.

2. Keunggulan Tuan Rumah

Karena Sobat Cuan berada di Indonesia, tentu saja investasi di Indonesia akan memberikan keunggulan bagimu. Kamu lebih mengenal perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia karena kamu memang menjadi pelanggan sehari-hari dari perusahaan tersebut. Sehingga, kamu mengetahui apa pun kondisi yang terjadi di lapangan dan langsung bisa memberikan pandangan yang akan terjadi terhadap pergerakan nilai sahamnya. Meski memang, hal itu bukan menjadi jaminan kalau kamu bisa mendulang untung dengan berinvestasi di saham-saham domestik.

Ada pepatah terkenal dari Warren Buffet yang mengatakan, “Berinvestasilah terhadap perusahaan yang kamu kenal dan jangan berinvestasi terhadap sesuatu yang belum kamu mengerti”. 

3. Mengurangi Risiko Mata Uang 

Apabila kamu berinvestasi di pasar saham indonesia, tentu saja semua transaksi menggunakan Rupiah dan kamu tidak perlu pusing untuk mengonversinya terhadap mata uang lain seperti Dolar AS.

Dalam melakukan konversi mata uang, tentu saja ada risiko volatilitas dan pasar karena nilai mata uang bergerak sesuai dengan kondisi makroekonomi yang susah diprediksi setiap harinya. Namun, dengan berinvestasi dengan mata uang yang sama, maka kamu setidaknya sedikit terbebas dari risiko pasar dari pergerakan mata uang.

4. Diversifikasi Bisa Meningkatkan Kinerja Portofolio Kamu

Memiliki berbagai instrumen investasi akan memberikan perlindungan terhadap portfolio kamu. Ketika ada satu kelas aset yang kamu genggam bikin kamu merugi, tentu di sisi lain terdapat juga kelas aset yang mencatat kinerja positif. Jadi, ketika kondisi tidak sesuai dengan harapanmu, investasi yang kamu miliki masih bisa memiliki kinerja yang positif. 

Warren Buffet juga pernah berkata, “Never put your investment in One Basket”. Memang, ada sebagian orang yang suka memiliki portfolio yang terkonsentrasi karena ada harapan bahwa aksi tersebut bisa mengantar mereka mendulang cuan yang lebih baik dari portofolio terdiversifikasi. Namun, kalau kamu tidak memiliki banyak waktu untuk mengurus asetmu, hal ini bisa menjadi masalah.



Sumber : pluang.com

3 Cara Valuasi Saham

1. Discounted Cash Flows

Metode ini, secara teori, adalah metode yang cukup ekstensif dalam menilai sebuah perusahaan. Metode perhitungan ini pun sering diajarkan di perguruan tinggi. Di dalam perhitungan ini, aset apapun adalah nilai saat ini (present value) dari nilai arus kasnya di masa depan.

Sebagai contoh, anggap sebuah perusahaan membayar US$100 kepada investor setiap tahun selama 10 tahun. Maka, secara kasat mata, nilai perusahaan tersebut seharusnya sebesar US$1.000 (US$100 x 10 tahun). Namun, pada kenyataannya, nilai perusahaan akan lebih rendah dari US$1.000, mungkin di kisaran US$800 hingga US$900.

Hal ini bisa terjadi karena nilai arus kas sebesar US$100 di tahun ke-10 tidak akan sama dengan nilai US$100 di tahun pertama. Sebab, nilai uang akan tergerus inflasi. Selain itu, terdapat faktor ketidakpastian di mana investor kemungkinan tidak menerima arus kas di tahun ke-10.

Investor akan membutuhkan informasi yang banyak sebelum menentukan nilai sebuah perusahaan menggunakan discounted cash flows. Metode ini terbilang cukup teknis dan membutuhkan bantuan spreadsheet atau komputer untuk menghitungnya.

Namun, pada praktiknya, investor bisa melakukan valuasi saham menggunakan rasio-rasio keuangan penting. Salah satunya adalah rasio harga saham terhadap laba per saham (Price-to-earning ratio atau rasio P/E).

2. Rasio Harga Saham Terhadap Laba per Saham

Memanfaatkan rasio P/E adalah cara yang praktis untuk mengukur nilai sebuah perusahaan. Dalam metode ini, yang dimaksud dengan harga adalah harga saham sementara laba adalah laba per saham yang dihitung dari laba sesudah pajak dibagi dengan jumlah saham perusahaan.

Rasio ini menunjukkan berapa tahun yang dibutuhkan perusahaan untuk membayar aset tersebut dari labanya . Sebagai contoh, jika rasio P/E sebuah perusahaan adalah 20, berarti perusahaan tersebut tiap tahunnya menghasilkan laba setara dengan 5% dari nilai asetnya.

Investor kadang menggunakan rasio P/E untuk mengukur daya tahan sebuah perusahaan. Semakin tinggi angka rasio P/E sebuah perusahaan, maka semakin kuat pula kemampuan perusahaan tersebut melindungi keunggulan bersaingnya (competitive advantage).

Sebagai contoh, kedai kopi kaki lima atau bisnis kecil lainnya mungkin memiliki rasio P/E 3 kali lipat. Sementara itu, rasio P/E perusahaan sektor teknologi rata-rata berada di angka 30 hingga 40 kali.

Nilai rasio yang tinggi ini menandakan bahwa perusahaan seperti Google, Facebook, dan Amazon memiliki “keunggulan tersendiri” (economic moat) sehingga mereka bisa bertahan 30 tahun dengan kondisi bisnis saat ini. Di sisi lain, bisnis kecil-kecilan, secara realistis, mungkin hanya akan berdiri selama tiga tahun saja.

Saham Google diperdagangkan dengan rasio P/E di kisaran 30 kali. Sehingga, jika laba Google tiba-tiba melompat sebesar 20% (mungkin dari bisnis YouTube yang dimiliki Google), maka pelaku pasar akan memandang bahwa angka pertumbuhan itu sebagai kemajuan bisnis yang tetap bisa dipertahankan selanjutnya. Jika tidak ada perubahan dari faktor lain,  pertumbuhan laba tersebut sepatutnya juga mendongkrak harga saham Google sebesar 20%.

Namun, pada kenyataannya, nilai rasio P/E berubah-ubah antar waktu dan dipengaruhi oleh sentimen investor. Sebagai contoh, jika pemerintah Amerika Serikat dan pemerintahan lain memutuskan untuk meregulasi dan menaikkan setoran pajak dari perusahaan teknologi, maka investor akan mempertimbangkan risiko tersebut dan menurunkan rasio P/E yang layak sekarang hanya  di angka 20 hingga 25 kali. Hal ini akan bikin harga saham perusahaan teknologi anjlok 20% hingga 30%.

Berikut ini adalah rasio P/E saham-saham Indonesia berdasarkan sektornya.

 

Berikut adalah rasio P/E saham-saham AS berdasarkan sektornya

3. Alternatif Selain Rasio P/E

Rasio P/E merupakan indikator yang bagus untuk melakukan valuasi saham. Hanya saja, investor terkadang menggunakan metode pengukuran lainnya.

Rasio EV/EBITDA

Sama seperti rasio P/E, rasio EV/EBITDA mengukur nilai perusahaan relatif terhadap labanya. Tetapi, kali ini pengukurannya cukup berbeda lantaran menggunakan variabel nilai perusahaan (Enterprise Value atau EV) dan laba sebelum pajak, beban bunga, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA).

Sebelum melangkah lebih lanjut, Sobat Cuan perlu memahami konsep akuntansi bahwa Aset = Utang + Ekuitas. Nah, variabel EV yang dimaksud adalah hasil total nilai dari utang + ekuitas. Variable ini berbeda dengan rasio P/E, di mana harga saham hanya mempertimbangkan faktor ekuitas semata.

Lebih lanjut, di dalam metode ini, laba perusahaan tercermin dalam variabel EBITDA. Sebab, EBITDA dianggap mencerminkan arus kas sebenarnya dari sebuah perusahaan ketimbang variabel laba setelah pajak yang digunakan dalam kalkulasi rasio P/E.

Pada umumnya, rasio EV/EBITDA dianggap sebagai metode pengukuran valuasi saham yang lebih baik dibandingkan rasio P/E. Ini lantaran rasio EV/EBITDA mampu menunjukkan nilai sesungguhnya dari perusahaan. Di sisi lain, rasio P/E bisa dipengaruhi oleh pemanfaatan utang-utang yang dimanfaatkan perusahaan. Oleh karenanya, rasio EV/EBITDA diangap lebih baik dalam mengukur kinerja bisnis sebuah perusahaan.

Kamu bisa melihat tabel di bawah ini untuk melihat contoh pemanfaatan rasio EV/EBITDA antara saham sektor telekomunikasi Indonesia berikut.

Dari tabel di atas, kamu bisa membaca bahwa rata-rata rasio EV/EBITDA saham sektor telekomunikasi Indonesia di angka 15,64. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) memiliki rasio EV/EBITDA sebesar 5,24 kali, atau di bawah angka rata-rata, sementara saham PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) punya rasio EV/EBITDA di atas angka rata-rata yakni 48.

Berdasarkan data tersebut, kita bisa mengatakan bahwa saham TLKM berada di bawah nilai sesungguhnya (undervalued). Di sisi lain, kita juga bisa menganggap valuasi saham FREN kemahalan (overvalued) karena memiliki rasio EV/EBITDA di atas angka rata-rata.

Namun, pada kenyataannya, rasio ini bukanlah satu-satunya ukuran untuk menilai valuasi saham atau perusahaan. Investor juga perlu mempertimbangkan faktor lainnya, misalnya pendapatan, tingkat utang, dan tingkat profitabilitas perusahaan, yang menjadi penyebab kenapa harga saham sebuah perusahaan seolah-olah kemahalan.

Kembali ke tabel. Kita lihat saham TLKM memiliki rasio P/E dua kali lipat dibandingkan rasio P/E PT Indosat Tbk (ISAT).

Ini dikarenakan Indosat memiliki tingkat utang terhadap ekuitas (debt-to-equity) yang lebih tinggi atau leverage sehingga rasio P/E Indosat sangat peka terhadap perubahan laba sekecil apapun. Jadi, ketika terdapat pertumbuhan laba positif sekecil apapun, maka rasio P/E ISAT bisa langsung amblas. Hal ini membuat valuasi saham TLKM terlihat lebih mahal dibanding ISAT.

Namun, jika dilihat dari kacamata rasio EV/EBITDA, valuasi antara kedua saham ternyata tak berbeda jauh, yakni 5,24 dibandingkan dengan 4,46.

Rasio PEG (Price/Earnings-to-Growth Ratio)

Beberapa perusahaan yang bergelut di industri yang sama bisa menggunakan variasi lain dari rasio P/E untuk mengukur valuasi sahamnya. Langkah ini dilakukan karena perusahaan yang punya rasio P/E tinggi cenderung memiliki pertumbuhan yang sama-sama cemerlang.

Terlebih, investor biasanya akan rela menanamkan uang lebih di saham-saham perusahaan yang kinerjanya tengah bertumbuh. Nah, untuk menangkap faktor “pertumbuhan” tersebut, investor biasanya menggunakan rasio PE/G. Yakni, membagi rasio P/E dengan tingkat pertumbuhan perusahaan tersebut (G)

Perhitungan ini akan memberikan valuasi yang lebih besar untuk suatu perusahaan yang memiliki pertumbuhan lebih besar.

Sebagai gambarannya, Sobat Cuan bisa melihat tabel berikut:

Tabel di atas menunjukkan bahwa Apple memiliki rasio P/E lebih tinggi dibandingkan Cisco. Namun, jika dilihat menggunakan rasio PEG, maka rasio PEG Apple berada di angka 1,54 sementara rasio PEG Cisco di angka 3,64.

Sementara itu, rasio PEG industri perusahaan teknologi AS ada di angka 2. Berdasarkan data tersebut, maka rasio PEG Apple berada di bawah rata-rata sektor teknologi AS meski rasionya P/E miliknya cukup tinggi.

Dengan demikian, maka kita bisa menilai bahwa Apple memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi yang “membenarkan” angka rasio P/E Apple yang tinggi.

Sementara itu, di Indonesia, kita bisa membandingkan saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA).

Selama ini, Unilever dikenal sebagai perusahaan barang-barang konsumsi yang memiliki reputasi baik serta jenama yang kuat. Namun, pertumbuhan perusahaan melambat dalam beberapa waktu terakhir, dan bahkan sempat mencetak pertumbuhan negatif, gara-gara pelemahan daya beli masyarakat. Sehingga, kita bisa mengelompokkan bisnis UNVR sebagai bisnis yang sudah “jenuh”.

Di sisi lain, ASSA memiliki fokus bisnis di penyewaan mobil dan lelang mobil bekas. Namun, baru-baru ini, perusahaan meluncurkan bisnis logistik bernama AnterAja. AnterAja melayani konsumen marketplace Tokopedia dan kini menikmati pertumbuhan volume logistik yang luar biasa.

Dari tabel di atas, Sobat Cuan bisa melihat bahwa rasio P/E UNVR lebih rendah dibanding ASSA. Tapi, UNVR terus mengalami penurunan penjualan dan laba bersih.

Di sisi lain, pertumbuhan penjualan ASSA mencapai lebih dari 50% dan sukses mencetak pertumbuhan laba bersih tiga digit. Jika dilihat dari rasio PEG, maka ASSA dianggap sebagai perusahaan yang lebih menarik dibanding UNVR.

Rasio-Rasio Lainnya

Investor juga menggunakan rasio lainnya dalam mengukur valuasi saham. Biasanya, ukuran ini tergantung sesuai jenis industrinya.

Untuk melakukan valuasi atas saham perusahaan industri padat modal, seperti bank atau industri manufaktur, investor biasanya menggunakan rasio P/BV. Yakni, rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan.

Contohnya bisa kamu temukan di tabel perbandingan saham-saham emiten perbankan Indonesia berikut:

Tabel di atas menunjukkan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memiliki rasio PBV tertinggi karena bisa mempertahankan profitabilitasnya selama pandemi COVID-19. Selain itu, bank swasta tersebut juga punya modal lebih tinggi dibanding bank lainnya dengan CAR senilai 24,20.

Sementara itu, saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) memiliki rasio PBV di bawah rata-rata dan mampu menjaga tingkat pengembalian atas ekuitas (ROE) di tahun lalu. Hanya saja, ia memiliki rasio kecukupan modal (CAR) dan kapitalisasi pasar yang kecil. Harga BJBR menarik, namun jika ia dibandingkan dengan bank-bank lain yang seukurannya dan lebih kecil dari BCA. 

Investor juga bisa menggunakan indikator rasio harga saham terhadap nilai penjualan (Price-to-Sales atau rasio P/S) untuk mengukur valuasi perusahaan yang berkecimpung di industri yang tengah berkembang dan bahkan belum membukukan laba sama sekali.

Perhitungan ini berguna untuk mengukur nilai saham perusahaan teknologi, utamanya yang bertumbuh cepat, sudah mulai mencatat pendapatan namun masih belum menunjukkan profitabilitas jika diukur menggunakan indikator tradisional. Lumrah saja, sebab biaya operasional mereka tinggi karena perlu menggelontorkan investasi yang deras demi menumbuhkan ukuran perusahaan.

Sebagai contohnya, Sobat Cuan bisa melihat perbandingan perusahaan teknologi AS berikut.

Tabel di atas menunjukkan bahwa rasio P/S Hubspot terbilang 30,26, berada di atas rerata rasio P/S sektor teknologi AS yakni 38,69.

Namun, kita tidak dapat melihat rasio P/E Hubspot karena perusahaan masih melaporkan rugi bersih. Dalam hal ini, yang bisa kita lakukan untuk melakukan valuasi saham Hubspot adalah dengan melihat rasio P/S.

Di sisi lain, rasio P/S Salesforce berada di angka 11,07, sama-sama di atas rerata rasio P/S sektor teknologi AS. Rasio P/S Salesforce juga lebih kecil dibanding Hubspot. Kondisi itu bisa menjadi indikasi awal bahwa valuasi saham Salesforce lebih baik dibanding Hubspot.

Namun, dalam kasus ini, investor tak bisa mengandalkan rasio P/S semata. Jika diteliti lebih lanjut, ternyata pertumbuhan pendapatan Hubspot lebih baik dibandingkan Salesforce, seperti terlihat di tabel berikut. Sehingga ini merupakan salah satu alasan untuk menerima rasio Hubspot yang lebih tinggi.



Sumber : pluang.com

4 Kesalahan Investasi Ethereum yang Sebaiknya Kamu Hindari

Ethereum baru-baru ini naik daun dan kembali beranjak menuju level US$3.000 setelah harganya sempat anjlok di bawah US$2.000 sepekan lalu. Kondisi ini tentu bikin pecinta aset kripto mulai kembali tergiur investasi aset kripto satu ini.

Dengan kenaikan harga baru-baru ini, kamu mungkin telah memutuskan bahwa sekaranglah waktunya untuk investasi Ethereum. Namun, jangan pernah gelap mata, Sobat Cuan! Kenaikan harga Ethereum mungkin terlihat lezat. Tapi, kalau kamu melakukan kesalahan investasi Ethereum, cuan yang didapat mungkin nyungsep begitu saja.

Nah, jika Sobat Cuan berencana untuk membeli aset kripto ini, berikut adalah beberapa kesalahan investasi Ethereum yang harus kamu dihindari.

Baca juga: Apa Sih Keterkaitan Harga Bitcoin dan Altcoin? Yuk Simak di Sini!

1. Tidak Melakukan Riset Soal Ethereum Terlebih Dahulu

Sebelum Sobat Cuan menaruh uang hasil jerih payah kamu ke investasi Ethereum, luangkan waktu untuk mempelajarinya. Ini adalah aturan praktis yang bijak untuk investasi apa pun. Kamu tidak perlu menjadi ahli dalam Ethereum, tetapi mengetahui cara kerjanya dan apa yang membuatnya unik akan membantumu.

Pengetahuan tentang Ethereum sangat penting karena betapa mudah menguapnya nilai di pasar kripto. Kemungkinan besarnya, akan terus ada pergerakan harga yang signifikan di masa depan. Ketika kamu memahami Ethereum dan kamu percaya pada nilainya, kamu cenderung tidak terpengaruh oleh tren atau harga saat ini.

Baca juga: Portofolio Aset Kripto Ambyar? Simak 10 Strategi Sikapi Anjloknya Kripto!

3. Kesalahan Investasi Ethereum: Mencoba Mengatur Waktu Pasar

Mengingat Ethereum mendekati level tertinggi sepanjang masa, sangat menggoda untuk menunggu sampai harga turun sebelum kamu membeli. Kamu mungkin berpikir bahwa kamu akan menunggu sampai jumlahnya turun di bawah jumlah tertentu, dan kemudian melakukan investasi.

Masalahnya adalah, tidak ada yang bisa menentukan waktu pasar secara akurat. Tidak ada jaminan bahwa Ethereum akan turun ke harga target kamu. Mungkin malah terus meningkat, yang bisa membuat kamu menyesal jika tidak membeli sekarang.

Atau, bayangkan harga turun secara signifikan. Itu akan memberi kamu kesempatan untuk membeli dengan harga rendah, kecuali jika kamu mulai menebak-nebak keputusan kamu karena kamu khawatir harga akan semakin turun.

Jika kamu akan investasi Ethereum, anggap itu sebagai investasi jangka panjang. Belilah karena kamu yakin harganya akan naik di tahun-tahun mendatang, bukan dengan harapan bisa kaya dalam hitungan minggu.

4. Menempatkan Semua Uang Kamu di Ethereum

Sebagian besar cryptocurrency bersifat volatil, aset berisiko tinggi, dan itu termasuk Ethereum.

Imbal hasilnya sejauh ini fantastis, tetapi itu dapat berubah dengan cepat. Contohnya terjadi pada 2018 lalu, di mana harga Ethereum pernah anjlok hingga di bawah US$100 setelah menduduki puncak US$1.200 per keping. Butuh lebih dari tiga tahun sebelum Ethereum menembus angka US$1.200 lagi.

Untuk meminimalkan risiko kamu, pastikan Sobat Cuan mendiversifikasi investasi kamu. Pedoman yang baik adalah mencadangkan 5% hingga 10% dari portofolio kamu untuk kripto. Kamu dapat menggunakannya sepenuhnya untuk Ethereum, atau kamu dapat memasukkan lebih banyak cryptocurrency.

Untuk portofolio kamu yang lain, tetap gunakan investasi dengan volatilitas yang lebih rendah dan rekam jejak kesuksesan yang lebih lama, seperti reksa dana contohnya.

Baca juga: Apa Saja Sih Momen FUD Terbesar di Aset Kripto? Yuk, Simak di Sini!

4. Tidak Membeli Melalui Bursa Kripto yang Punya Reputasi Baik

Ada lebih banyak cara untuk investasi Ethereum. Bursa cryptocurrency adalah salah satu opsi umum. Ada juga aplikasi dan pialang saham lain tempat kamu bisa mendapatkan Ethereum dan aset kripto lainnya.

Namun, tidak setiap opsi bagus. Banyak bursa cryptocurrency palsu bermunculan, dengan tujuan mencuri uang orang. Dan bahkan cara yang sah untuk membeli kripto mungkin memiliki biaya atau limit yang berlebihan.

Nah, jika kamu baru membeli kripto, cara termudah untuk tetap aman adalah dengan tetap berpegang pada bursa aset kripto terbaik. Secara khusus, cari bursa yang menawarkan asuransi dan menyimpan sebagian besar aset kripto di cold storage, atau offline.

Apabila kamu akan memakai jasa perusahaan pialang saham, cari yang terbaik di antara pilihan teratas. Banyak tawaran dan fitur yang menarik, seperti promo pendaftaran khusus, dukungan pelanggan yang luar biasa, tanpa komisi, aplikasi yang intuitif, dan lainnya.

Intinya, temukan perusahaan pialang saham yang sesuai dengan kebutuhan investasi kamu. Misalnya Pluang!

Di Pluang, kamu bisa berinvestasi Ethereum secara mudah dan aman. Selain itu, kamu pun bisa dengan mudah mendiversifikasikan Ethereum dengan kelas aset lainnya. Yuk, segera investasi Ethereum di Pluang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Fool.com



Sumber : pluang.com

Alasan Pentingnya Diversifikasi Investasi Aset Kripto di Saat Pasar Loyo

Diversifikasi adalah prinsip dasar dari investasi yang baik, dan hal ini tidak berbeda dalam investasi aset kripto. Apalagi jika kondisi pasar sedang loyo seperti saat ini. Nah, Sobat Cuan ingin diversifikasi investasi aset kripto kamu? Yuk simak di sini!

Banyak investor aset kripto hanya memegang satu koin, seperti Bitcoin. Hal ini agak salah sebenarnya, apalagi jika tujuan kamu adalah untuk menghasilkan keuntungan.

Contoh nyata adalah saat ini dimana pasar sedang bearish. Bayangkan saja, jika kamu masuk dari awal bulan Mei ini di Bitcoin, kamu mengalami penurunan yang parah dalam sebulan. Dari level puncak di area US$59.000, amblas ke level dasar di kisaran US$33.000!

Investasi ke dalam satu aset saja memberi kamu 100% keuntungan atau kerugian yang terkait total dengan aset itu. Padahal, tidak semua keuntungan aset kripto sama.

Selama setahun, mungkin ada perbedaan hingga 2.000% dalam hal keuntungan antara beberapa aset kripto teratas. Hal itu berarti bahwa berinvestasi dalam satu aset memberi kamu eksposur yang jauh lebih sedikit terhadap kinerja aset lain, yang terkadang tidak dapat diprediksi.

Mengapa Diversifikasi Investasi Aset Kripto Penting

Nah, salah satu pendekatan untuk mendapatkan eksposur dari calon jagoan cuan adalah dengan mempertimbangkan investasi seimbang lewat ‘bundel’ aset kripto. Ini memberi kamu kesempatan yang sama untuk mendapatkan peningkatan imbal hasil atas beberapa aset dibandingkan hanya satu aset semata.

Hal itu juga memberi Sobat Cuan peluang lebih besar untuk mengetahui aset mana yang menghasilkan cuan tertinggi setiap bulan. Di mana, hal itu hanya terjadi jika portofolio kamu yang terdiversifikasi.

Baca juga: 4 Kesalahan Investasi Ethereum yang Sebaiknya Kamu Hindari

Sebuah studi tahun 2018 yang disebut “The Case for Diversification in Crypto Investing” menguraikan kasus untuk diversifikasi. Berikut beberapa temuan utamanya:

  • Ada tingkat variabilitas besar dalam imbal hasil bulanan antara aset kripto yang berbeda;
  • Selama periode ketika Bitcoin mengalami koreksi (seperti selama 2018), aset kripto lain tidak terlalu terpengaruh atau bahkan memberikan keuntungan positif;
  • Sebagian besar koin mengalami bulan-bulan yang sulit, dan bahkan aset kripto terbesar terkadang mencatatkan kinerja bulanan terburuk;
  • Pengulangan aset yang berperforma terbaik jarang terjadi. Aset kripto bisa berkinerja terbaik dalam bulan pertama, tetapi jarang berulang di bulan kedua. Memiliki portofolio kripto yang terdiversifikasi membuat kamu mendapat kemungkinan terekspos ke beberapa aset terbaik berturut-turut.
  • Sebaliknya, kinerja yang berbalik dari baik menjadi buruk sering terjadi. Dimana yang berkinerja terbaik dapat dengan cepat menjadi yang berkinerja terburuk. Diversifikasi adalah satu-satunya jaring pengaman terhadap fenomena ini.

Cara Diversifikasi Investasi Aset Kripto

Aset kripto kini mengukuhkan statusnya sebagai investasi yang layak dan menarik lebih banyak perhatian. Maka dari itu, penting hukumnya untuk menjaga keamanan investasi Sobat Cuan. Jadi, jika kamu ingin mendalami investasi aset kripto, salah satu tindakan paling cerdas adalah mendiversifikasi portofolio.

Dengan mengingat hal itu, mari kita bahas beberapa metode diversifikasi investasi aset kripto yang dapat Sobat Cuan pertimbangkan.

Baca juga: Apa Sih Keterkaitan Harga Bitcoin dan Altcoin? Yuk Simak di Sini!

1. Investasi di Berbagai Jenis Aset Kripto

Tentu saja, memasukkan uang ke dalam Bitcoin (BTC) adalah tujuan utama bagi banyak investor kripto pemula atau bahkan berpengalaman. Tapi, Bitcoin bukan satu-satunya koin yang berkinerja baik di pasar. Ada altcoin yang dengan cepat mengejar Bitcoin.

Ethereum (ETH) mungkin adalah saingan terbesar Bitcoin, tetapi jangan lupakan koin seperti Stellar (XLM) dan Litecoin (LTC) dari portofolio kamu. Mereka juga mulai berkembang di pasar aset kripto.

Perlu diingat bahwa aset kripto yang berbeda memiliki jenis yang berbeda pula. Jadi ada baiknya untuk mengetahui yang mana yang tepat, dan kamu bisa memiliki investasi di setiap sektor.

Misalnya, Bitcoin adalah token transaksional, sedangkan Ethereum lebih merupakan penghasil imbal hasil. Di sisi lain, token dari EOS sering digunakan untuk smart contract atau kontrak pintar.

Hal ini tidak hanya membagi-bagi risiko, tetapi juga melindungi kamu dari kerugian finansial yang signifikan jika satu aset kripto kamu tiba-tiba turun nilainya.

Baca juga: Portofolio Aset Kripto Ambyar? Simak 10 Strategi Sikapi Anjloknya Kripto!

2. Sebarkan Aset Kripto di Berbagai Industri

Sobat Cuan dapat memanfaatkan berbagai industri yang punya lebih banyak stabilitas dan pertumbuhan. Karena kamu menggunakan aset kripto sebagai alat untuk investasi dibandingkan aset konvensional, maka sebaiknya memasukkan sumber daya digital kamu ke dalam industri yang berbeda.

Lakukan riset dan pastikan kamu mempertimbangkan untuk berinvestasi di industri yang stabil dan industri yang tumbuh cepat. Cryptocurrency sudah digunakan sebagai pembayaran di kasino misalnya, dimana Bitcoin yang memimpin “pasukan kripto” karena sifat transaksionalnya.

Tentu saja, kamu juga ingin melihat profitabilitas secara keseluruhan dan mempertimbangkan industri yang kompetitif secara global seperti kesehatan dan perbankan.

Ini pada dasarnya sama dengan cara trader harian dan investor obligasi dalam melakukan diversifikasi, di mana kamu dapat menghindari menaruh semua telur dalam satu keranjang. Jika satu sektor mengalami pukulan, kamu dapat menahan pukulan tersebut dengan mengandalkan sektor lain. Hal ini pada dasarnya adalah bentuk manajemen risiko dan perlindungan aset.

Baca juga: Apa Saja Sih Momen FUD Terbesar di Aset Kripto? Yuk, Simak di Sini!

3. Diversifikasi Menurut Waktu dan Lokasi

Meskipun Sobat Cuan tidak dapat benar-benar menghilangkan risiko pasar, kamu dapat memanfaatkan portofolio dengan memperhatikan waktu dan tempat berinvestasi. Ketika segala sesuatunya berada dalam tren penurunan yang berkelanjutan, itu adalah waktu yang baik untuk membeli aset kripto baru (tidak sekaligus).

Ketika segalanya naik dan semuanya meroket, kamu berada di tempat yang baik untuk menjual dan mendapatkan cuan. Pada dasarnya, kamu harus mengatur waktu pola investasi setiap kali pasar melihat perubahan yang signifikan.

Soal lokasi, lakukan analisis kinerja proyek-proyek cryptocurrency di berbagai wilayah dunia, seperti hardfork baru atau ICO lainnya. Bahkan jika kamu ingin memanfaatkan, misalnya Eropa, kamu bisa menggabungkannya dengan proyek-proyek di Asia atau Amerika. Ini memungkinkan kamu memiliki cara lain untuk menyeimbangkan portofolio yang beragam.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Moneyweb, ItsBlockchain



Sumber : pluang.com

6 Faktor Mempengaruhi Harga Saham

1. Kinerja Perusahaan

Harga saham sebuah perusahaan tentu saja dipengaruhi tentang kinerja keuangan perusahaan. Perusahaan yang tingkat labanya tumbuh dengan kecepatan yang tak terduga akan melihat harga sahamnya meroket.

Sebuah perusahaan akan merilis laporan keuangan mereka setiap kuartalnya. Sebelum laporan itu dirilis, para analis (dan investor) akan memperkirakan laba perusahaan tersebut dan pasar akan mulai bergerak untuk menyesuaikan harga terhadap pandangan mereka. Nah, setelah laporan keuangan keluar dan menunjukkan bahwa laba perusahaan melebihi perkiraan, maka harga sahamnya akan melonjak. Begitu pun sebaliknya, harga saham akan jatuh jika gagal memenuhi harapan tersebut.

Sebuah perusahaan hidup di ekosistem luas yang mencakup sektor industri yang digelutinya, keadaan makroekonomi, dan tentu saja perkembangan pasar modal. Maka, tak heran jika harga saham juga ikut dipengaruhi oleh dinamika yang terjadi di ketiga faktor tersebut.

Adapun faktor makroekonomi yang mempengaruhi kinerja perusahaan, dan kemudian mempengaruhi harga saham, mencakup tren ekonomi dan bunga kredit. Berikut penjelasannya.

2. Tren Ekonomi

Tingkat permintaan agregat dalam sebuah perekonomian akan mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk meningkatkan labanya. Selain itu, nilai sebuah saham juga tergantung oleh naik-turun suku bunga acuan. Suku bunga acuan yang rendah akan menarik lebih banyak investor yang bersedia membeli saham-saham tersebut. Ini adalah salah satu alasan utama mengapa indeks saham di dunia sekarang ini terus mencetak rekor, karena mereka mekar saat tingkat suku bunga sekarang berada di titik terendah dalam 60 tahun terakhir.

3. Tingkat Bunga Kredit

Ketika bunga kredit tengah melandai, maka investor cenderung meminjam uang dari bank untuk kemudian diinvestasikan di pasar saham. Akibatnya, harga saham-saham pun ikut terkerek naik.

Biasanya, nilai bunga kredit yang rendah ini juga diikuti oleh tingkat likuiditas yang tinggi.

Sebagai contoh, pada 2020 lalu, bank sentral AS The Fed menurunkan suku bunga acuannya (Federal Funds Target Rate) menjadi 0,00 – 0,25% sembari mencetak Dolar AS senilai hampir US$3 triliun, atau sekitar 20% dari Produk Domestik Bruto (PDB) AS. Mayoritas uang cetakan baru ini mengalir langsung ke pasar modal karena masyarakat AS menginvestasikan uang bantuan stimulusnya di pasar yang tengah berkembang. Kenaikan likuiditas ini mendongkrak nilai S&P 500 dan Nasdaq ke rekor tertingginya.

Di sisi lain, pihak perbankan akan meminta balik pinjaman yang telah disalurkan jika terjadi kepanikan pasar. Hal ini akan berimbas ke keringnya likuiditas di pasar saham. Sementara itu, mereka yang telah meminjam uang untuk berinvestasi saham dipaksa untuk melikuidasi asetnya demi melunasi pinjaman perbankan. Aksi jual ini mengakibatkan harga saham bisa tenggelam secara mendadak. Penggunaaan hutang untuk berinvestasi keuangan cenderung mengakibatkan harga saham untuk terjun bebas secara tiba-tiba saat kepanikan melanda. 

Selain itu, seperti aset finansial pada umumnya, pergerakan harga saham juga dipengaruhi oleh faktor-faktor pasar seperti berikut

4. Permintaan dan Penawaran

Seperti barang dan jasa kebanyakan, nilai saham juga ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran. 

Nilai sebuah perusahaan di jangka panjang memang akan sesuai dengan laba yang ditorehkannya. Namun, di jangka pendek, terdapat alasan lain mengapa beberapa pelaku pasar berniat membeli atau menjual saham di luar prospek kerjanya ini. 

Contohnya pada saat harga saham produsen mobil listrik Tesla meroket menjadi salah satu dari 10 perusahaan top di AS. Akibatnya pengaruh saham Tesla dalam indeks saham lebih besar dan para Manajer Investasi yang mengelola reksadana indeks harus mengubah proporsi portofolio mereka untuk menyesuaikan dengan proporsi indeks. Harga pun makin meningkat karena permintaan “susulan” dari Manajer Investasi ini.  

5. Likuiditas dan Aliran Dana

Harga saham juga dipengaruhi oleh derasnya aliran dana yang masuk ke pasar modal. Terkadang, berita atau kehebohan pasar bisa memicu masuknya dana ke satu saham tertentu.

Sebagai contoh, di awal 2021 lalu, investor ritel yang merupakan bagian dari forum internet Reddit mulai memborong saham Gamestop. Aktivitas tersebut bikin harga saham perusahaan jaringan toko game tersebut melesat lebih tinggi dibanding nilai fundamentalnya.

Komunitas Reddit yang mendukung saham ini beradu dengan para lembaga pengelola investasi global (hedge fund) yang menganggap harga Gamestop kemahalan dan berniat untuk menekan harga saham perusahaan melalui short selling. Akibatnya, harga saham Gamestop pun bergerak naik-turun terus menerus.

Short selling adalah aktivitas di mana trader mengambil cuan dari sebuah saham jika mereka beranggapan bahwa nilainya akan terus melorot. Beberapa pasar keuangan tertentu memungkinkan pelaku pasar meminjam saham kepunyaan pihak lain untuk kemudian dijual . Jika harga saham berhasil ditekan turun, maka pelaku pasar tersebut bisa membeli saham dengan harga yang murah kemudian mengembalikannya ke pihak yang meminjamkan. Dalam aktivitas ini, pelaku pasar yang pertama akan mendapat cuan dari selisih antara nilai penjualan saham yang dipinjamnya dengan nilai pembelian saham yang lebih murah tersebut.

6. Kesepakatan Bisnis

Perusahaan cenderung akan mengakuisisi perusahaan lain jika mereka yakin bahwa aksi korporasi tersebut bisa menopang pertumbuhan bisnisnya dengan cepat. Makanya, tak heran jika perusahaan pengakuisisi akan membeli saham korporasi incarannya dengan harga lebih mahal (harga premium) dibanding harga pasarnya saat ini.

Ketika kesepakatan tersebut marak terjadi, maka pasar modal akan menjadi “kepanasan”. Rasio valuasi perusahaan lain yang bergerak di sektor yang sama dengan perusahaan yang diakuisisi, akan melesat. Hal ini disebabkan oleh antisipasi pelaku pasar bahwa merger dan akusisisi baru di sektor itu masih akan terus terjadi karena kekuatan baru perusahaan yang telah melakukan akuisisi tersebut memaksa perusahaan pesaingnya untuk mencari cara supaya mereka bisa bertahan.



Sumber : pluang.com

Mengapa Harga Saham Sulit Diramal?

Secara umum, pasar modal menyerap informasi secara efisien. Artinya, seluruh informasi yang diketahui pasar baik positif maupun negatif telah dipertimbangkan dan pada akhirnya dicerminkan oleh harga saham. 

Misalnya, jika perusahaan X mengungkapkan perhitungan bahwa mereka akan bisa meningkatkan laba mereka lebih besar dari perkiraan awal, investor akan bergerak untuk membeli saham sebagai tanggapan atas informasi baru ini. Setelah dampak berita baik ini sudah dicerna atau “priced in” oleh pasar, maka harga saham tersebut akan lebih tenang dan stabil. Investor yang ketinggalan kereta harus mencari alasan lain jika ingin ikut memegang saham itu karena dia akan terpaksa membeli di harga yang lebih mahal. 

Ketika realisasi atas laba perusahaan X ternyata melebihi, atau lebih rendah, dari ekspektasi, maka harga saham pun bisa naik-turun secara signifikan.

Nah, karenanya, maka informasi orang dalam (insider information) adalah kejahatan di pasar saham. Biasanya, insider information ini berisi kabar mengenai aksi akuisisi yang dilakukan oleh satu perusahaan.

Contoh berita akuisisi di Indonesia adalah kabar niatan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) untuk membeli PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR). Harga SUPR langsung melompat dari Rp7.025 per lembar menjadi Rp12.075 per lembar, alias 72%, hanya tiga hari setelah kabar itu mencuat.

Baik TOWR dan SUPR adalah perusahaan penyedia menara telekomunikasi di Indonesia. TOWR memiliki 21.500 menara, sementara SUPR memiliki 6.400 menara. Keduanya meminjamkan menara-menara tersebut kepada provider telekomunikasi seperti Telkomsel, Indosat, XL, dan Tri.

Tapi semakin efisien pasar dalam menyerap kabar, maka investor pun kian susah dalam memilih saham unggulannya. Sebab, mereka makin sulit mendulang untung ketika kabar baik atau kabar buruk sudah dicerna pasar (priced in). 

Terdapat beberapa hedge fund yang memanfaatkan teknologi algoritma seperti kecerdasan rekayasa atau Artificial Intelligence yang bisa melakukan hal seperti memantau kabar di Twitter dan juga melakukan transaksi jual-beli lebih cepat dibanding manusia. Alhasil, di zaman sekarang, proses penetapan harga telah jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. 

Analis dan manajer investasi ulung perlu menggabungkan informasi-informasi layaknya mozaik. Bagi mereka, satu keping informasi (yang tentunya bisa didapatkan secara resmi) tidak bisa menjelaskan sebuah kondisi tertentu. Sehingga, mereka harus mengumpulkan dan menyusun banyak informasi serta petunjuk yang mungkin luput dari perhatian investor pada umumnya.

Makanya, dibanding susah-susah mengumpulkan informasi di pasar, investor lebih baik menempatkan dana di indeks yang dihitung berdasarkan pembobotan kapitalisasi pasar saham di dalamnya. Dengan demikian, mereka bisa melakukan diversifikasi dengan biaya efisien dibanding memilih saham tunggal.

Untuk mendulang imbal hasil yang lebih baik di pasar modal, Sobat Cuan harus percaya diri bahwa investor lain akan setuju dengan pandangan pasarmu yang sekarang (atau informasi milikmu yang belum diketahui investor lainnya) belum dicerna oleh investor lainnya. Pelaku pasar bisa saja kurang bereaksi terhadap informasi tertentu atau sebaliknya malah terlalu berlebihan. Namun, reaksi mereka nantinya akan muncul dengan cara yang tak bisa diprediksi.

Seperti yang pernah dijelaskan di Investing 101, walau mungkin saja bisa mengalahkan pasar dalam jangka pendek namun dalam jangka panjang investor akan kewalahan untuk terus berhasil mengantongi informasi-informasi yang belum terlihat dan mempertahankan kemenangannya.



Sumber : pluang.com