Category Archives: Pluang

Ingin Mendapatkan Rp100 Juta Pertamamu? Simak Caranya di Sini!

Semua orang tentu ingin mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Dan kadang, mendapatkan Rp100 juta merupakan target pengumpulan kekayaan yang ingin dituju terlebih dulu lantaran sifatnya yang cukup realistis.

Hanya saja, latar belakang setiap orang terbilang berbeda-beda. Ada yang mampun mendapatkan Rp100 juta pertama dengan mudah, namun ada juga yang kewalahan. Mungkin, salah satunya adalah kamu.

Bisa jadi, banyak orang yang meremehkan impianmu dengan mengatakan bahwa “uang tak bisa memberimu kebahagian”.

Hal itu bisa jadi ada benarnya. Namun, tujuan mengumpulkan kekayaan bukanlah sekedar demi mendapatkan status “anak sultan” atau mencari kebahagian, melainkan untuk memberimu stabilitas dan keamanan finansial di masa depan. Kamu pasti menginginkan hidup hanya “ongkang-ongkang kaki” dan menghabiskan pensiun dengan tenang, bukan?

Untuk menggapainya, kamu tentu perlu melakukan upaya yang miumpuni. Nah, salah satu upaya yang bisa Sobat Cuan lakukan untuk mendapatkan Rp100 juta pertama adalah dengan menabung sejak usia dini. Hanya saja, kamu pun perlu tahu cara menabung yang tepat agar tujuan tersebut tercapai.

Lantas, seperti apa langkah-langkah yang bisa kamu lakukan sebagai cara mendapatkan Rp100 juta pertamamu?

Baca juga: Mau Raih Keuntungan Investasi Emas? Begini Caranya!

Cara Mendapatkan Rp100 Juta Pertamamu

1. Memiliki Pola Pikir yang Kuat

Bagi beberapa orang, menabung untuk mencapai Rp100 juta pertama bukanlah target jangka pendek, melainkan jangka panjang. Sehingga, kamu perlu membekali diri dengan pola pikir yang kuat serta komitmen yang kokoh untuk menabung.

Komitmen yang teguh muncul dari tujuan menabung yang juga kuat. Tujuan menabung pun bisa membantu kamu menentukan strategi dan juga jangka waktu menabung yang juga tepat. Nah, kedua hal itu nantinya juga dapat membantu kamu menyusun penganggaran yang juga jitu.

Misalkan, penghasilan kamu hanya berkisar Rp5 juta per bulan, namun kamu ingin menuju Rp100 juta dalam lima tahun. Sehingga, kamu harus bisa mengetatkan belanja dengan menabung Rp2 juta per bulan. Memang, menabung adalah sesuatu yang berat, tapi kamu perlu menyadari bahwa usaha kamu pun nantinya akan berbuah manis.

2. Cermat Melihat Potensi Penghematan

Cara kedua untuk mendapat Rp100 juta pertama cukup mudah, namun perlu konsisten. Yakni, dengan melihat kesempatan penghematan di segala sisi.

Misalnya, kamu yang selama ini sering memesan makanan secara daring mungkin ada baiknya mulai mencoba memasak makanan sendiri. Atau, kamu yang biasa berbelanja baju mungkin bisa mencari strategi dalam berburu diskon.

3. Kurangi Beban Bungamu

Kadang, kita senang berbelanja dengan sistem kredit atau cicilan dengan berpikir bahwa barang-barang ini “bisa kamu bayar nanti”. Tapi, jangan terkecoh, Sobat Cuan! Sebab, hal itu bisa jadi malah membuat kamu buntung lantaran kamu perlu bayar beban bunga yang besar tiap bulannya.

Tak jarang kita membaca pengalaman orang-orang yang sebagian besar gajinya habis untuk melunasi utang. Hal ini pun tentu akan mendisrupsi penganggaran dan perencanaan menabungmu. Makanya, selagi ada waktu, kamu perlu segera menyelesaikan utang-utang agar tak terpapar bunga-bunga yang mencekik.

Ingin mencari inspirasi cara membayar utang dengan jitu? Yuk, simak artikel ini.

Baca juga: Portofolio Aset Kripto Ambyar? Simak 10 Strategi Sikapi Anjloknya Kripto!

4. Cari Pekerjaan Sampingan

Kamu mungkin merasa gajimu saat ini sulit untuk dipakai menabung. Jangankan menabung, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mungkin susah.

Namun, jangan batasi diri, Sobat Cuan! Masih ada potensi pendapatan lain di luar sana yang mungkin masih luput dari pandanganmu.

Di era internet seperti sekarang, mencari pemasukan bisa dibilang lebih mudah dibanding 20 tahun lalu. Kamu bisa mencari pekerjaan lepas seperti menulis, mendesain grafis, dan lainnya atau usaha sampingan yang bisa kamu kerjakan di rumah. Butuh inspirasi kerja sampingan? Simak saja artikel ini, ya!

Selain sebagai cara bagimu mempercepat mendapatakan Rp100 juta pertama, memiliki usaha sampingan mungkin juga mampu membantumu mengasah bakat terpendam. Jangan biarkan bakatmu menganggur ya, Sobat Cuan!

5. Berinvestasi dengan Cermat

Menabung dengan rutin memang bisa menjadi cara mendapat Rp100 juta pertama dengan jitu. Namun, menabung mungkin membutuhkan waktu yang lama, bahkan bisa mencapai belasan hingga puluhan tahun.

Selain itu, nilai guna Rp100 juta di masa depan juga berbeda saat ini lantaran terdapat efek inflasi. Contoh yang nyata mungkin terlihat saat kamu membeli permen. 10 tahun lalu, permen dihargai Rp100 per bungkus, namun kini kamu perlu merogoh Rp500 untuk beli satu permen

Makanya, yang bisa kamu lakukan selain menabung adalah “mengembak biakkan” uangmu dengan cara investasi. Alasannya, investasi memiliki sebuah efek yang disebut dengan bunga majemuk (compound interest), di mana imbal hasil yang kamu dapatkan dari investasi juga bisa menghasilkan imbal hasil tambahan lagi. Penjelasan mengenai konsep bunga majemuk dapat kamu baca di sini.

Hanya saja, kamu juga perlu berinvestasi dengan cermat. Dengan kata lain, kamu perlu mengelola ekspektasimu dalam berinvestasi dengan mempertimbangkan tujuan, profil risiko, serta strategi investasimu. Penasaran mengenai strategi saat memulai investasi? Yuk, baca penjelasannya di artikel ini.

Di samping itu, kamu juga perlu mengetahui konsep present value (PV) dan future value (FV) dalam berinvestasi, seperti yang dijelaskan pada artikel berikut.

Jadi, bagaimana Sobat Cuan? Sudah siap menempuh cara mendapatkan Rp100 juta pertamamu?

Baca juga: Selain Banyak Membaca, Ini 5 Hal yang Akan Membuatmu Jadi Orang Sukses

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Investopedia



Sumber : pluang.com

Apa Itu Pasar Modal?

Pasar modal adalah istilah yang diberikan kepada gabungan pasar utang dan pasar saham. Dengan kata lain, pasar ini berfungsi sebagai tempat di mana perusahaan bisa menambah pendanaan dari umum.

Sebuah perusahaan yang bertujuan untuk mengembangkan usahanya dapat mencari dana segar untuk melaksanakan niatnya ini melalui dua cara: Meminjam uang dari investor dengan menjanjikan suatu imbal yang telah disepakati sebagai gantinya atau menjual kepemilikan perusahaannya dalam bentuk saham, atau dikenal juga sebagai ekuitas.

Sebenarnya, terdapat berbagai jenis instrumen sekuritas dengan sifat yang berada di antara instrumen utang dan saham. Namun, untuk saat ini, lebih gampang bagi Sobat Cuan untuk membagi pasar modal ke dalam dua kategori, yaitu instrumen utang dan saham saja.

Apa itu Saham? Dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Saham mewakili kepemilikan atas sebuah perusahaan. Nilai kepemilikan tersebut didasarkan atas “sisa” nilai perusahaan tersebut setelah seluruh hutangnya terlunasi.

Sebagai contoh, anggap sebuah jaringan toko bakmi mampu menjual bermangkok-mangkok bakmi sehingga menghasilkan penjualan senilai US$1 juta selama 20 tahun. Kehebatan si toko bakmi adalah dia mampu mematok margin 50% dari nilai penjualannya, atau untung sebesar US$ 500 ribu per tahun. Sehingga nilai bisnis itu secara cepat bisa diperhitungkan telah mencapai US$10 juta dalam 20 tahun.

Namun, untuk melebarkan sayap bisnisnya dan mencapai hasil tersebut, sang pemilik sebelumnya perlu meminjam uang US$3 juta dari bank. Sehingga ia harus menyerahkan sebagian labanya untuk pembayaran hutang dan pada akhirnya nilai ekuitas (atau saham-saham) perusahaan tercatat US$7 juta. Sebab, nilai tersebut adalah “sisa” nilai bisnis perusahaan setelah dikurangi utang perusahaan yang telah dilunasi.

Apabila pemilik saham telah menerbitkan 100 lembar saham untuk mewakili total kepemilikan perusahaan tersebut maka kita bisa menghitung berapa nilai yang diwakili tiap lembar. Setiap saham akan bernilai US$70.000 yang didapatkan dari membagi US$7 juta dengan 100 lembar saham.



Sumber : pluang.com

Apa Sih Manfaat Perencanaan Keuangan Buat Kamu?

Sobat Cuan ingin mencari cara menjadi kaya dan sukses secara finansial? Nah, mungkin kamu bisa memulainya dengan merencanakan keuangan personalmu setiap bulan!

Bahkan, banyak yang bilang bahwa perencanaan keuangan adalah hal paling esensial untukmu dalam meraih kesuksesan finansial. Namun, apakah kamu tahu bahwa manfaat perencanaan keuangan tidak hanya mengantarkanmu menjadi kaya?

Betul, Sobat Cuan. Banyak orang mengira bahwa perencanaan keuangan adalah cara bagi orang-orang untuk mencapai keamanan dan kestabilan finansial di masa depan. Padahal, perencanaan keuangan juga bisa melatih mentalmu dan juga menjadi sumber semangatmu dalam menjalani hidup.

Nah, agar kamu makin semangat merencanakan keuangan, berikut adalah ragam manfaat perencanaan keuangan yang bisa menjadi motivasimu menuju pribadi yang lebih baik.

Baca juga: Katanya Menabung Buat Mencapai Tujuan Finansial. Apa Sih, Arti Tujuan Finansial?

Berbagai Manfaat Perencanaan Keuangan

1. Perencanaan Keuangan Membantumu Mencapai Tujuan Finansial

Ini merupakan manfaat perencanaan keuangan yang paling kentara, tapi kadang bikin orang salah sangka juga.

Memang, perencanaan keuangan yang baik akan membantumu mencapai tujuan finansial. Hanya saja, hubungan perencanaan keuangan dan tujuan finansial tidaklah searah, melainkan bersifat timbal balik.

Sebab, punya tujuan finansial yang baik pun akan membantumu konsisten dalam melakukan perencanaan keuangan. Mereka yang punya tujuan yang jelas dalam hidup mungkin saja bekerja keras 10 kali lipat dibandingkan mereka yang tidak memilikinya, karena mereka memiliki satu fokus yang ingin digapai.

Makanya, setiap individu disarankan untuk memiliki tujuan finansial jangka panjang, pendek, dan menengah agar mereka bisa melakukan strategi perencanaan keuangan yang efektif. Selain itu, tentu saja agar mereka bisa mencapai kestabilan finansial di masa depan.

Namun pertanyaannya, bagaimana caranya kamu menyusun tujuan finansial yang soild? Untungnya, kamu bisa menemukan jawabannya di bawah ini:

  1. Buat daftar tujuan hidupmu secara pribadi. Kamu hanya perlu menulis hal-hal apa saja yang kamu ingin capai dalam hidup dan hidup seperti apa yang kamu ingin dapatkan di masa depan. Namun, kamu juga harus detail dalam menyusun tujuan tersebut.
  2. Membuat tujuan dilandasi informasi dan pengetahuan. Setelah menulis daftar di atas, ada baiknya kamu juga memahami hal-hal apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai keinginanmu. Kemudian, kamu juga bisa mencari referensi, bisa dari buku atau internet, demi memilah tujuan hidup apa saja yang sekiranya bisa kamu gapai dalam jangka pendek atau panjang.
  3. Evaluasi tingkat kemajuan dalam menggapai tujuan finansialmu. Sebab, semakin sering kamu mengevaluasinya, maka akan semakin besar pula motivasimu untuk meraih tujuan hidupmu.
  4. Sejajarkan tujuanmu tersebut dengan nilai-nilaimu. Pastikan tujuanmu tersebut benar-benar berarti bagi perkembangan hidupmu nanti. Selalu tantang tujuanmu dengan pertanyaan “Kenapa saya harus mencapai tujuan tersebut?”. Jika kamu sudah menemukan jawabannya, maka kamu pun akan bisa mencari jalan untuk menggapai impianmu tersebut.

2. Perencanaan Keuangan adalah Sumber Utama Komitmen dan Motivasi Hidupmu

Terkadang, manusia menjadi kurang termotivasi saat mereka tak punya tujuan hidup yang jelas. Nah, melakukan perencanaan keuangan akan membuatmu merasa termotivasi untuk menandai daftar hal-hal yang perlu kamu lakukan untuk menggapai impian finansialmu.

Sikap ini nantinya juga bikin kamu tegas untuk menjawab “ya” atau “tidak” atas segala tawaran dan kesempatan yang datang silih berganti kepadamu. Jika kamu semakin lama mengambil keputusan, maka semakin lama pula kamu melewatkan banyak potensi kesempatan yang menghampirimu.

Selain itu, kamu pun akan dengan mudah menjawab “ya” atau “tidak” ketika mengambil keputusan finansial. Sehingga, kamu bisa ucapkan selamat tinggal pada perenungan berhari-hari atau stress dalam menentukan apa yang perlu kamu lakukan terhadap uangmu.

Adapun motivasi dan komitmen dalam perencanaan keuangan ditopang oleh tiga faktor utama: punya tujuan yang jelas, punya maksud yang jelas di balik tujuan itu, serta mengetahui dengan tepat strategi yang dibutuhkan.

Baca juga: Ampuh Cegah Kantong Jebol, Ini Tips Keuangan di Tahun 2021!

3. Perencanaan Keuangan Berdampak Positif ke Kesehatan Mentalmu

Ketika kamu merencanakan keuangan dengan baik, tentu kamu akan mengalami stress lebih sedikit dan merasa optimistis dengan masa depanmu. Hal ini pun akan mempengaruhi caramu dalam menikmati hidup sehari-hari. Ketika kamu punya perencanaan, maka semakin kecil kemungkinanmu merasa gagal dalam menjalani hidup.

Apalagi menurut penelitian yang dilakukan Savology, 83% persen responden mengaku merasa “lebih baik” setahun setelah mereka menulis perencanaan keuangan mereka masing-masing. Artinya, memang perencanaan keuangan mumpuni memiliki manfaat meningkatkan kualitas mentalmu.

4. Perencanaan Keuangan Membantu Menetapkan Standar Performamu

Apapun bentuknya, segala perencanaan pasti memiliki tujuan akhir yang dicapai. Dan agar tujuan itu tercapai, setiap orang perlu untuk mengevaluasi setiap kegiatan yang sudah dilakukan. Namun, evaluasi tersebut tentu perlu diukur dengan satu standar tertentu.

Seperti apa contohnya? Misalnya, kamu ingin membeli ponsel pintar baru seharga Rp10 juta, namun gajimu hanya di kisaran Rp5 juta per bulan. Kamu ingin membeli ponsel pintar itu empat bulan mendatang, sehingga kamu perlu menabung Rp2,5 juta per bulannya. Nah, tabungan Rp2,5 juta ini adalah standar menabung yang perlu kamu penuhi.

Setelahnya, kamu pasti akan tergerak untuk selalu memenuhi standar yang dimaksud. Misalnya, untuk menabung Rp2,5 juta per bulan, kamu memutuskan untuk tidak beli kopi seharga Rp50.000 setiap harinya, dan lain-lainnya.

5. Manfaat Penting Perencanaan Keuangan: Memperbaiki Kesehatan Finansial

Yang paling penting, kamu bisa memperbaiki kesehatan finansialmu dengan perencanaan keuangan. Sebab biasanya, mereka yang punya perencanaan keuangan mumpuni selalu siap dengan dana darurat dan bisa pensiun tanpa perasaan cemas tak punya uang.

Menurut survei yang dilakukan Savology, mereka yang punya perencanaan keuangan tertulis memiliki uang lebih banyak 2,5 kali lipat dibanding mereka yang tidak melakukannya.

Dapatkan Manfaat Perencanaan Keuangan dengan Mulai Sekarang!

Kamu bisa merasakan manfaat perencanaan keuangan dengan memulainya saat ini juga! Namun, jika kamu bingung darimana perlu memulai perencanaan keuangan, maka ada panduan baik yang bisa kamu ikuti di bawah ini:

  1. Membaca buku tentang perencanaan keuangan
  2. Gunakan perencanaan keuangan. Namun, kalau kamu tidak mampu menggunakan jasa mereka, membaca referensi dari internet dan buku-buku tidak ada salahnya, kok.

Baca juga: Mendingan Lunasi Utang atau Mulai Investasi? Tentukan Tujuan Finansialmu! Sekarang

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Savology



Sumber : pluang.com

Apakah Konsep Bunga Majemuk Juga Berlaku di Menabung Aset Kripto? Simak di Sini!

Sobat Cuan mungkin saat ini sedang tergiur berinvestasi aset kripto gara-gara cuannya yang terbilang gak main-main. Hanya saja, sifat harga aset kripto yang cenderung volatil membuat investasi satu ini bukan pilihan semua orang.

Ibarat pepatah, “banyak jalan menuju Roma”, kamu pun tentu punya cara lain dalam berinvestasi aset kripto. Yakni, dengan cara menabung aset kripto di dompet-dompet digital. Apalagi, sekarang saat ini sudah banyak platform yang menyediakan fasilitas tersebut, termasuk Pluang Cuan di aplikasi Pluang.

Pasti kamu bertanya-tanya, seperti apa sih, konsep menabung aset kripto tersebut? Prinsipnya sama seperti menabung di bank pada umumnya, di mana kamu hanya tinggal “menabung” aset kripto dan kemudian kamu bisa mendapatkan bunga tabungan yang juga berbentuk aset kripto.

Kini, menabung aset kripto semakin mudah berkat hadirnya teknologi keuangan terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi). Menabung kripto sendiri adalah bagian dari aktivitas yield farming, di mana penjelasannya bisa kamu temukan di artikel berikut.

Tak hanya itu, bunga menabung aset kripto pun terbilang lebih cuan dibandingkan menabung di bank. Adapun perbedaan bunga bank dan aset kripto juga bisa kamu baca di artikel ini ya, Sobat Cuan!

Namun, meski lebih menguntungkan dibandingkan bank, apakah menabung aset kripto juga memiliki manfaat bunga majemuk (compound interest) layaknya tabungan biasa? Jika ya, lantas seperti apa mekanismenya?

Baca juga: Apa Itu Compound Interest?

Sekilas Mengenai Konsep Bunga Majemuk

Sejatinya, Sobat Cuan bisa mengetahui konsep bunga majemuk lebih dalam lagi di artikel berikut. Tetapi intinya, bunga majemuk adalah sebuah istilah keuangan yang menunjukkan bahwa uangmu bisa berkembang biak dengan sendirinya.

Bunga majemuk terjadi ketika pokok investasimu dan bunga yang kamu kumpulkan dari investasi tersebut sama-sama menghasilkan pendapatan bunga.

Contoh sederhananya adalah seperti ini. Misalkan, kamu memutuskan untuk menempatkan deposito selama Rp10 juta di sebuah bank dalam jangka waktu tiga tahun dan bunga sebesar 5% per tahunnya.

Pasti, kamu awalnya akan berpikir bahwa keuntungan bunga yang kamu dapatkan adalah 15% dari Rp10 juta, alias Rp1,5 juta. Namun, jangan salah, Sobat Cuan! Sebab, pendapatan bunga yang kamu dapatkan bisa jauh lebih besar dari Rp1,5 juta.

Alasannya cukup sederhana. Di tahun pertama, kamu akan mendapat bunga sebesar 5% atau sebesar Rp500.000. Nah di tahun kedua, kamu tidak hanya mendapat bunga 5% dari pokok investasimu sebesar Rp10 juta, namun juga mendapat 5% dari pendapatan bungamu sebesar Rp500.000 yang diraih di tahun pertama.

Konsep bunga majemuk ini memang penting dipahami oleh seluruh investor, tak hanya investor aset kripto saja. Sebab, dengan memahami konsep ini, maka kamu bisa memproyeksikan jumlah investasimu dan potensi cuan yang bisa kamu dapatkan di masa depan.

Apakah Bunga Majemuk juga Terdapat di Aset Kripto?

Tentu saja, menabung di aset kripto pun bisa memberikanmu efek bunga majemuk layaknya menabung di bank.

Layaknya produk tabungan konvensional, investor bisa mendapatkan bunga tunggal (simple interest) dan bunga majemuk. Makanya, kamu pun sangat bisa mengembang biakkan jumlah tabungan aset kriptomu melalui fasilitas ini.

Selain itu, kamu pun bisa semakin cepat untuk menikmati efek bunga majemuk dalam menabung aset kripto. Ini lantaran beberapa platform memperbolehkan kamu untuk tidak menyimpan aset kriptomu setahun penuh hanya untuk mendapatkan pendapatan bunga.

Semakin singkat jangka waktu menabung aset kripto, maka akan semakin cepat juga kamu menikmati efek bunga majemuk. Hal ini bisa didapatkan jika kamu memutuskan tak menarik tabunganmu plus bunganya setelah periode menabung pertamamu selesai.

Tetap Memiliki Risiko

Meski demikian, dari sisi nilai pendapatan bunga, menabung di aset kripto tetap punya risiko tersendiri.

Seperti yang kita ketahui, harga aset kripto terbilang cukup volatil. Kamu bisa saja mendulang cuan 4% dari menabung aset kripto, misalnya, dalam sebulan. Namun, kamu tentu tak bisa menikmati cuanmu jika harga aset kripto anjlok 10% di waktu bersamaan. Nah, risiko cuan menabung aset kripto bisa kamu temukan di artikel ini.

Meski demikian, Sobat Cuan perlu paham bahwa konsep menabung aset kripto adalah mengembangkan portofolio aset kriptomu. Nilai portofolio aset kriptomu bisa saja terbang atau jatuh, tapi jumlah aset kripto yang kamu genggam tentu akan bertambah dengan menabung aset kripto — tentunya melalui konsep bunga majemuk di atas.

Masih mengambil contoh di atas, nilai aset kriptomu bisa jadi anjlok 10%. Namun dari sisi kepemilikan, jumlah aset kriptomu akan bertambah 4%. Contohnya, dari 0,01 keping Bitcoin menjadi 0,0104 keping Bitcoin.

Makanya, aktivitas ini sangat disarankan bagi mereka yang memang berminat investasi jangka panjang di aset kripto.

Selain itu, agar cuanmu di jangka panjang bisa maksimal, pastikan kamu juga menabung di aset kripto yang punya sisi fundamental jelas. Utamanya adalah Bitcoin dan Ethereum.

Sebab, secara umum, selama ini para analis menilai faktor harga Bitcoin berada di sisi permintaan dan penawaran berdasarkan suplai Bitcoin yang terbatas, yakni 21 juta keping. Sementara itu, faktor pendukung Ethereum terletak pada pembaruan jaringan serta perkembangan adopsi teknologi DeFi di masa depan.

Nah, sekarang kamu bisa banget menabung Bitcoin dan Ethereum di Pluang Cuan sampai dengan bunga 3,5% per tahun. Yuk, maksimalkan cuan kriptomu sekarang!

Baca juga: Mengenal Compound Interest, Konsep Bunga Lipat Ganda dalam Investasi

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Benzinga



Sumber : pluang.com

5 Alasan Untuk Berinvestasi di Pasar Saham

1. Nilai Saham Naik Seiring Pertumbuhan Ekonomi

Pendapatan masyarakat akan naik ketika perekonomian suatu negara makin tinggi pertumbuhannya. Sehingga, perusahaan-perusahaan bisa menghasilkan barang-barang lebih banyak bagi masyarakat dan mendulang pendapatan lebih banyak. Pertumbuhan pendapatan akan berujung ke kenaikan laba dan pada akhirnya akan mendongkrak nilai dan harga saham perusahaan tersebut. 

Pada periode setelah Krisis Keuangan Global atau sekitar tahun 2010-2021, perekonomian AS terus tumbuh dengan tingkat 2%-3% per tahun. Pada periode itu, perusahaan Amazon pun meningkatkan penjualannya dari “hanya” US$50 miliar per tahun menjadi US$500 miliar per tahun. Tidak heran bahwa kapitalisasi pasar Amazon bertumbuh 20 kali lipat dari US$80 miliar menjadi US$1,7 triliun. 

2. Saham Bisa Mengalahkan Kelas Aset Lain

Saat perekonomian sedang bertumbuh, saham adalah kelas aset dengan kinerja yang mampu mengalahkan seluruh kelas aset tradisional lainnya. Secara naluriah, hal ini disebabkan karena perusahaan-perusahaan bisa beradaptasi secara dinamis terhadap keadaannya dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghasilkan pertumbuhan mengagumkan sekarang dan di masa mendatang. Ini merupakan janji yang menarik untuk investor. 

Sementara itu, kinerja instrumen utang lebih berdasarkan janji perusahaan di masa lampau untuk “secukupnya” saja berkembang supaya ia bisa memenuhi suatu persyaratan atau kewajibannya. Walaupun perusahaan berkembang lebih pesat dari yang diperlukan, pemilik obligasi tidak akan diuntungkan. Sehingga, instrumen utang sama seperti emas, yakni bersifat lebih statis karena dipengaruhi perubahan kondisi makroekonomi dan likuiditas.

Sebagai contoh, selama 10 tahun terakhir, raksasa teknologi Amerika Serikat termasuk FAATMAN (Facebook, Apple, Amazon, Tesla, Microsoft, Alphabet, dan Netflix) terbilang lincah dalam melakukan ekspansi bisnis, utamanya dari segi peluncuran produk-produk dan teknologi anyar beserta negara tujuan pasarnya.

Saat kegiatan ekonomi terhenti akibat pandemi COVID-19, kinerja perusahaan-perusahaan teknologi tersebut menikmati pertumbuhan yang mumpuni mengingat seluruh orang membutuhkan produk-produk teknologi akibat kebijakan bekerja dari rumah (Work From Home). Selama 10 tahun terakhir, indeks S&P 500 dan indeks Nasdaq secara rata-rata naik sebesar 20% dan 40% tiap tahunnya.  

3. Pelindung Terhadap Inflasi 

Nilai aset riil akan meningkat seiring kegiatan bank sentral untuk mencetak uang terus menerus. Kenaikan jumlah uang beredar akan memungkinkan investor untuk semakin mengejar aset riil yang penawarannya terbatas. Atau bisa dikatakan juga bahwa terjadi inflasi. 

Perusahaan penguasa pangsa pasar akan lebih kuat dan bahkan mungkin diuntungkan saat terjadi inflasi. Hal ini disebabkan karena pertama, perusahaan memiliki kendali yang erat dengan pemasok bahan baku dan terhadap pegawainya dan ia dapat menahan kenaikan biaya apabila terjadi inflasi. Kedua, perusahaan tersebut juga lebih mudah membebani kenaikan ongkos produksinya ke konsumen demi menjaga tingkat pendapatannya. Akibatnya, harga sahamnya pun akan terjaga tanpa tergerus dampak inflasi. 

Sebaliknya, tingkat inflasi tinggi akan menggerus nilai aset-aset moneter termasuk uang tunai dan obligasi. Jika inflasi, misalnya, membuat harga barang-barang naik 10%, maka uang selembar Rp100.000 hanya akan memiliki nilai riil sekitar Rp90.000 tahun depan. 

4. Potensi Cuan dari Capital Gain dan Dividen

Korporasi yang mendulang laba dalam satu periode tertentu bisa membagi cuannya ke investor melalui dua cara: Dividen dan capital gain.

Jika perusahaan memutuskan untuk memberikan laba dalam bentuk dividen ke investor, maka tiap investor akan menerima laba bagiannya dalam bentuk uang tunai sebagai pendapatan dividen.

Pada umumnya, perusahaan-perusahaan yang bergelut di sektor yang sudah matang, atau industri yang pertumbuhannya telah melambat dibanding industri lain, akan memberikan sebagian besar atau seluruh pendapatannya ke investor. Ini terlihat di perusahaan yang bergerak di sektor kebutuhan pokok, jasa keuangan, dan pertambangan.

Sebuah perusahaan yang masih bertumbuh akan melihat kenaikan laba. Akibatnya, valuasi perusahaan pun ikut membumbung tinggi dan meningkatkan harga saham. Nah, kenaikan harga saham ini (dibandingkan harga beli investor) adalah capital gain.

Perusahaan-perusahaan yang memiliki prospek pertumbuhan kuat, seperti saham-saham FAATMAN, cenderung untuk menginvestasikan kembali labanya untuk memperbesar ukuran bisnisnya ketimbang membagikannya ke investor dalam bentuk dividen. Investasi terhadap diri sendiri ini akan menyebabkan kinerja perusahaan terus bertumbuh dan investor yang memiliki saham perusahaan akan mendapatkan cuan bukan dari dividen namun dari nilai saham yang terus naik.

Pada dasarnya, berinvestasi saham dapat menutupi kekurangan di investasi instrumen utang dan emas. Instrumen utang jangka pendek cenderung memberikan cuan yang sedikit, terdapat bunga dari memegangnya namun harga aset tersebut stabil atau hanya mampu naik tipis. Sementara itu, harga emas mampu naik lebih besar sehingga ada capital gain namun tidak memberikan bunga tetap sama sekali.

5. Terjangkau

Setiap investor bisa memulai perjalanan membangun kekayaannya di aplikasi Pluang. Sobat Cuan bisa berinvestasi di saham-saham unggulan pasar modal domestik seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Unilever Indonesia Tbk melalui reksadana saham atau nantinya produk saham indonesia atau saham AS seperti Facebook, Apple, Alphabet, hingga Microsoft yang akan segera diluncurkan di Pluang.

Di Pluang, investor juga bisa membeli saham tunggal AS dengan kepemilikan paling kecil 0,1 lembar saham! Yuk, segera miliki saham tunggal AS di Pluang!



Sumber : pluang.com

7 Risiko Utama Investasi Saham

Risiko Berkaitan dengan Ekonomi

1. Risiko Ekonomi

Perusahaan, konsumen, dan pemerintah adalah para pemain utama dalam perekonomian manapun. Sehingga keadaan perekonomian secara keseluruhan akan mempengaruhi tingkat permintaan agregat terhadap barang dan jasa yang pada akhirnya akan berdampak pada keuntungan perusahaan.

Sebagai contoh, pandemi COVID-19 yang terjadi di seluruh belahan dunia membuat kegiatan perekonomian terhenti dan memaksa banyak perusahaan untuk akhirnya gulung tikar. Sebaliknya ketika pertumbuhan ekonomi sedang panas dan bertenaga, perusahaan-perusahaan tersebut berpeluang besar untuk mendongkrak labanya.

2. Risiko Perubahan Kebijakan Makroekonomi

Risiko ini datang dari perubahan kebijakan fiskal dan kebijakan moneter.

Kebijakan fiskal akan mempengaruhi perusahaan melalui dua cara. Pertama, ukuran anggaran pemerintah sangat mempengaruhi tingkat permintaan dalam suatu ekonomi. Jika pemerintah memperlebar defisit anggarannya (dan belanja pemerintah ditingkatkan lagi melebihi penerimaannya), maka permintaan agregat akan naik. Kedua, keputusan pemerintah untuk mengatur atau mengerek penerimaan pajak dari beberapa sektor ekonomi tertentu.

Sebagai contoh, jika pemerintah membebankan kenaikan penerimaan pajak dari perusahaan teknologi, maka laba perusahaan sektor yang dimaksud akan menyusut dan mempengaruhi nilai sahamnya.

Namun, jika peningkatan penerimaan pajak dilakukan bersamaan dengan peningkatan subsidi dalam bentuk subsidi kesehatan dan pendidikan, maka sebaliknya, keputusan ini akan menguntungkan perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor tersebut.

Kebijakan moneter, terutama perubahan tingkat suku bunga acuan, akan mempengaruhi perusahaan karena akan mempengaruhi jumlah uang beredar dalam perekonomian dan tingkat suku bunga pinjaman. Ini akan mempengaruhi kegiatan investasi perusahaan dan kegiatan konsumsi masyarakat.

Selain mengerti tentang kebijakan suku bunga Bank Indonesia, seorang investor juga perlu memahami perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat mengingat 80% dari seluruh transaksi global dilakukan dalam denominasi Dolar AS

Risiko Sektor Usaha

Prospek kinerja sebuah perusahaan tak akan lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi sektor usaha atau industri di mana perusahaan tersebut bergerak. Ini termasuk tingkat persaingan, tingkat pertumbuhan industri, dan juga hubungan perusahaan dengan pemasok bahan baku dan konsumennya.

Kerangka yang dikemukakan profesor Harvard Business School, Michael Porter, membeberkan lima faktor yang mempengaruhi untung dan buntung dan buntungnya perusahaan yang berasal dari dinamika sektor usahanya.

1. Daya Tawar dari Pemasok Bahan Baku

Jika pemasok bahan baku memiliki daya tawar kuat, maka mereka bisa meminta bagian laba yang lebih banyak dari perusahaan “langganan” mereka. Hal ini kerap terjadi ketika sang pemasok memiliki kendali yang luar biasa atas beberapa sumber daya tertentu.

Sebagai contoh, Starbucks menyediakan hak waralaba kepada distributor lokal yang di Indonesia sekarang dimiliki oleh PT Mitra Adi Perkasa (Tbk) MAP. Dalam perjanjian kerja sama antara kedua perusahaan, Starbucks mengendalikan penggunaan jenama (brand), mengatur pasokan kopi, dan pelatihan bagi pegawai Starbucks di Indonesia. Karena kendali yang cukup unik tersebut, Starbucks juga mampu untuk mengatur pembagian persentase yang lumayan sebagai haknya dalam perjanjian dengan MAP tersebut.

Sebaliknya dalam platform belanja daring seperti Amazon.com, raksasa e-commerce tersebut memiliki kendali yang kuat atas pemasok yang menjual barang mereka di platform tersebut sehingga pemasok dan penjual biasanya baru menerima pembayaran setelah 90 hari setelah transaksi.

Tidak ada satu pemasok tertentu yang memiliki posisi yang cukup kuat untuk bisa menawar ketentuan Amazon. Sehingga aturan tersebut memungkinkan Amazon untuk membukukan laba dari konsumen atau pembeli sembari memaksa pemasok untuk mendanai sendiri modal kerjanya.

2. Daya Tawar Konsumen

Konsumen produk suatu perusahaan bisa memiliki daya tawar yang kuat melawan sebuah perusahaan jika penjualan perusahaan tersebut sangat tergantung permintaan suatu konsumen tertentu. Contohnya perusahaan Foxconn memiliki satu konsumen yang sangat berkuasa yaitu Apple. Sekitar 200 juta unit iPhone terjual setiap tahunnya dan kekuatan Apple sebagai konsumen besar dari produk Foxconn memungkinkannya untuk meminta syarat-syarat khusus dan naik-turunnya laba Foxconn sangat tergantung dari permintaan produk Apple.

Kondisi kontras terjadi pada Facebook dan Google. Pengguna kedua platform tersebut justru tidak punya daya tawar yang tinggi ketika menggunakan jasa keduanya. Sehingga baik Facebook dan Google dapat menghasilkan uang yang banyak dengan memonetisasi konten-konten yang dilihat pengguna.  Kedua perusahaan teknologi tersebut dapat mengubah konten (yang mungkin juga diciptakan oleh pengguna) menjadi arus pendapatan mereka tanpa keharusan bagi mereka untuk memberikan kembali sebagian pendapatan tersebut ke konsumen mereka.

3. Persaingan Usaha

Sebuah perusahaan akan sulit mengatur harga produknya jika persaingan usaha di sektor yang digelutinya terbilang sengit dan tingkat keuntungannya (profitability) akan terbatas.  Namun jika industri tersebut dikuasai oleh satu pemain yang memonopoli atau beberapa pemain (oligopoli) maka perusahaan penguasa pasar bisa mendulang laba supernormal

4. Ancaman Pendatang Baru

Perusahaan pendatang baru yang bertujuan untuk mencuri pangsa pasar yang selama ini dikuasai pemain lama biasanya akan agresif untuk menawarkan produk dengan harga yang jomplang ketimbang milik kompetitornya. Ini akan memaksa pemain lama untuk mengeluarkan biaya lebih dan melakukan investasi lebih untuk mempertahankan posisinya.

Tapi, tak semua pendatang baru bisa melenggang bebas masuk lantaran hadirnya berbagai hambatan masuk ke pasar (barriers to entry) sektor tertentu.

Contohnya industri di mana pemerintah memiliki kebijakan untuk memberikan izin usaha hanya ke sedikit pelaku pasar saja. Selain itu, pemain baru mungkin juga mengalami kesulitan untuk menembus pasar karena ongkos produksinya kalah efisien dibanding pemain lama di mana ia hanya bisa menjual barang sedikit sehingga biaya produksi rata-rata masih lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang sudah memiliki nama di industri tersebut.

5. Ancaman Produk Substitusi

Sebuah perusahaan akan menikmati profitabilitas yang tinggi jika barang dan jasa yang ditawarkannya memiliki barang dan jasa pengganti (substitusi) yang sedikit.

Sebagai contoh, hingga saat ini tidak ada sumber energi substitusi yang memiliki manfaat sepadan dengan minyak bumi. Produk substitusi biasanya baru tercipta karena teknologi produksi kian berkembang canggih. Contohnya energi terbarukan (renewable energy) seperti tenaga angin, tenaga surya, dan baterai lithium baru dalam satu dekade terakhir ini bisa menjadi sumber energi yang bisa disandingkan dengan minyak bumi.

Risiko usaha. Suatu perusahaan bisa dengan sendirinya mengalami risiko yang hanya mempengaruhi perusahaan tersebut misalnya terkena masalah hukum dan penjualan menurun di suatu atau beberapa lini produknya.

Pergerakan nilai saham juga rentan dipengaruhi risiko pasar dan sama seperti instrumen lainnya di pasar keuangan, harga akan dipengaruhi permintaan dan penawaran. Investor akan menghadapi beberapa risiko berikut ketika berinvestasi di dalam instrumen keuangan atau sekuritas:

  1. Risiko Pasar dan Volatilitas: Pergerakan suatu harga saham sedikit banyak berkorelasi dengan kinerja pasar saham secara keseluruhan. Jika kinerja pasar “loyo”, maka kinerja instrumen sekuritas dengan risiko tinggi kemungkinan besar juga akan ikutan melesu. 
  2. Risiko Timing : Sebagai seorang investor, kamu mungkin saja masuk ke pasar pada saat kinerja pasar sedang tinggi-tingginya. Sehingga jika pasar mengalami koreksi , nilai investasimu juga akan terpengaruh. Dengan kata lain, kamu telah berinvestasi di waktu (timing) yang salah.
  3. Risiko Likuiditas: Dalam hal ini, likuiditas mengacu ke kemampuan, atau seberapa cepat, sebuah aset untuk ditukarkan menjadi uang tunai. Semakin lebar selisih antara harga beli dan harga jual maka pelaku pasar makin membutuhkan lama untuk akhirnya mencapai kesepakatan dan menentukan harga yang dirasakan sesuai untuk saham tersebut. 

Jika kamu menjual saham berlikuiditas rendah, maka saham tersebut tidak bisa dijual dengan cepat karena terlalu sedikit pemain yang mau dan mampu menampung saham dengan harga dan jumlah yang ingin kamu jual. Sebaliknya jika kamu ingin membeli suatu saham yang jarang diperdagangkan, ada kemungkinan kamu harus rela menunggu lama sebelum terdapat saham yang mau dilepaskan.



Sumber : pluang.com

Sobat Cuan, Begini Lho Cara Mudah Hitung Kekayaan Bersih yang Kamu Miliki!

Sobat Cuan pasti ada yang merasa bahwa penghasilannya saat ini terbilang tidak memadai. Di sisi lain, pasti juga ada sebagian Sobat Cuan lainnya yang merasa senang bisa punya penghasilan tinggi. Namun, apapun penghasilan Sobat Cuan, yang terpenting bagimu adalah mampu menghasilkan kekayaan bersih alias net worth yang mumpuni.

Lantas, apa pentingnya net worth? Dan bagaimana cara menghitung net worth yang tepat?

Memahami konsep net worth cukup mudah, Sobat Cuan. Ini merupakan patokan untuk mengukur apakah jumlah aset yang kamu miliki lebih besar dari jumlah liability (utang) yang harus dibayar.

Aset yang dimaksud di sini adalah uang tunai, investasi, rekening bank, dana pensiun, rumah atau properti, dan barang pribadi seperti mobil atau perhiasan. Sedangkan liabilitas meliputi pinjaman bank, utang kartu kredit, utang pajak, dan utang lainnya.

Jika asetmu melebihi jumlah utangmu, maka kamu memiliki kekayaan bersih yang positif. Sebaliknya, jika kamu memiliki utang lebih dari jumlah asetmu, kamu memiliki kekayaan bersih negatif.

Manfaat Mengetahui dan Menghitung Kekayaan Bersih

Sobat Cuan pasti sering mendengar kisah-kisah di mana seseorang yang bergaji fantastis tiba-tiba harus terpuruk lantaran terlilit utang. Namun di sisi lain, terdapat pula kisah di mana ada orang yang bisa  bahagia dan tetap punya harta meski gajinya pas-pasan.

Nah, kisah di atas mencerminkan pentingnya mengetahui konsep net worth bagi perencanaan keuanganmu. Yakni, memperbaiki kualitas penghasilanmu dan bisa membawamu menuju masa depan yang lebih aman dan nyaman.

Terlepas dari situasi keuangan dan besaran penghasilanmu, menghitung kekayaan bersih dapat membantu mengevaluasi kesehatan keuanganmu saat ini dan merencanakannya untuk masa depan. Sehingga, kamu dapat menjawab “ya” atau “tidak” dengan cepat dalam mengambil keputusan finansial, baik itu perkara belanja, menabung, atau investasi.

Selain itu, kamu pun bisa dengan mudah merencanakan strategi keuangan demi mencapai tujuan keuanganmu yang paripurna. Tak terkecuali menetapkan prioritas-prioritas finansial yang perlu kamu penuhi segera.

Misalkan, kamu berencana ingin membayar uang muka rumah dalam tiga tahun lagi, sehingga kamu perlu menabung rutin dalam jumlah besar per bulan. Namun, di saat yang sama, kamu juga masih punya tunggakan utang kartu kredit yang besar.

Berkaca dari contoh di atas, manakah hal yang perlu kamu penuhi segera? Betul, yakni membayar utangmu sesegera mungkin. Beberapa contoh cara bayar utang yang tepat bisa kamu baca di artikel ini.

Memang, mengumpulkan kekayaan bersih bukan perkara mudah. Namun, kamu perlu ingat bahwa nilai kekayaan bukanlah hal semata wayang yang dijadikan patokan. Melainkan juga tren pertumbuhan kekayaanmu antar waktu.

Hanya saja, kamu mungkin masih bingung dalam menghitung kekayaan bersih yang kamu miliki. Untuk itu, kamu bisa menghitungnya dengan mengikuti langkah di bawah ini.

Baca juga: Home Sweet Home: 7 Cara Miliki Rumah Minimalis Modern Idamanmu

Cara Menghitung Kekayaan Bersih (Net Worth)

Sobat Cuan, menghitung kekayaan bersih bukanlah hal yang sulit. Kamu hanya perlu meluangkan sedikit waktu, coretan di kertas atau spreadsheet, dan tentunya kalkulator.

1. Buat Daftar Aset yang Kamu Miliki

Daftar ini berisi saldo rekening tabunganmu saat ini, tabungan pensiun, obligasi, kepemilikan saham, rumah, tanah, mobil, dan lain-lain.

Beberapa aset ini memiliki nilai yang sangat spesifik dan jelas (seperti laporan bank), sehingga memudahkanmu untuk menghitungnya. Namun, untuk aset yang tidak memiliki nilai spesifik seperti mobil dan rumah, solusinya adalah dengan membuat perkiraan harga.

Jika kamu kesulitan memperkirakannya, kamu bisa menggunakan bantuan pihak yang memiliki kemampuan untuk menilai suatu aset.

Kemudian, buat daftar yang bertuliskan “ASET” di bagian atas. Di bawahnya, di sebelah kiri, daftarkan semua nama asetmu, lalu di sebelah kanan, tuliskan nilai aset dalam mata uang, sehingga titik desimal dari semua aset sejajar.

Hal ini membuatmu lebih mudah untuk menghitung dan lebih rapi. Tentu saja, kamu bisa menggunakan spreadsheet agar lebih mudah.

Setelah semuanya terdaftar, tulis “TOTAL” di sebelah kiri, lalu jumlahkan angkanya. Daftar total nilai asetmu sudah selesai.

2. Buat Daftar Utang yang Harus Dibayar

Sekarang, daftarkan semua saldo kartu kredit, pinjaman pribadi, kredit mobil, cicilan rumah, dan sebagainya. Seperti pada daftar aset, buatlah judul “UTANG”. Tuliskan setiap utang di bawah sebelah kiri dan nilai utang di sebelah kanan, dengan desimal berbaris untuk memudahkan penghitungan.

Setelah menuliskan semua utang, tulis “TOTAL” di bagian kiri, lalu jumlahkan semua daftar utang. Jumlah total semua utang yang kamu miliki sudah tercatat.

3. Menghitung Kekayaan Bersih: Kurangi Kedua Daftar Aset dan Utang 

Terakhir, kurangi total utang dari total aset yang akan kamu hitung. Angka yang dihasilkan adalah kekayaan bersihmu.

Contoh Menghitung Kekayaan Bersih

Sinta berusia 36 tahun dan berprofesi sebagai karyawan swasta. Saat ini, ia memiliki rumah senilai Rp250 juta, dan memiliki utang Rp110 juta. Mobil dengan harga sekitar Rp120 juta sudah terbayar lunas. Sinta juga memiliki tabungan bank sebesar Rp50 juta. Investasi senilai Rp5 juta, dan utang KTA senilai Rp10 juta.

Dari keterangan di atas, maka kondisi keuangan Sinta sekarang adalah:

ASET:

      • Rumah: Rp 250.000.000
      • Mobil: Rp120.000.000
      • Tabungan: Rp50.000.000
      • Investasi: Rp 5.000.000

TOTAL: Rp425.000.000

UTANG:

      • Hipotek: Rp 100.000.000
      • KTA: Rp 10.000.000

TOTAL: Rp 110.000.000

Total kekayaan bersih Sinta adalah Rp425.000.000 – Rp110.000.000 = Rp315.000.000

Berdasarkan informasi di atas dapat disimpulkan bahwa Sinta dalam keadaan sehat secara finansial. Hal ini dikarenakan total aset yang dimilikinya lebih besar daripada utang yang harus dibayar, sehingga kekayaan bersihnya positif.

Nah, salah satu cara agar kekayaan bersihmu berada di zona positif adalah investasi. Dalam hal ini, Pluang bisa menjadi solusi investasimu dengan mudah!

Di Pluang, kamu bisa berinvestasi di beragam aset seperti emas digital, Bitcoin, Ethereum, S&P 500 hanya dalam satu aplikasi saja dan mulai dari Rp10.000 saja. Yuk, segera investasi di Pluang!

Baca juga: Apa Itu Pendapatan Bersih?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Investopedia, SameDayFin



Sumber : pluang.com

3 Jenis Gaya Investasi Saham

1. Growth

Saham-saham berkategori growth stocks adalah saham yang kinerjanya diharapkan dapat tumbuh lebih cepat dibanding kinerja pasar saham dan perekonomian secara keseluruhan. Hal ini bisa terjadi mengingat pasar yang menjadi tujuan dari perusahaan tersebut juga lebih besar dari ukuran perusahaan itu (dan pesaingnya yang di sektor sama) dan juga masih terus berkembang. 

Beberapa contoh saham berkategori growth stocks adalah saham-saham perusahaan teknologi seperti Amazon, Google, Facebook, dan Netflix. Tak heran, sebab hadirnya teknologi komputasi awan dan teknologi mobile mampu membantu mereka untuk menjangkau konsumen secara lebih luas dengan biaya operasional yang lebih rendah dibandingkan perusahaan-perusahaan yang memiliki aktivitas bisnis tradisional (brick-and-mortar).

Perusahaan penerbit growth stocks biasanya jarang membagikan dividen kepada investor. Mereka cenderung melakukan reinvestasi labanya demi menumbuhkan bisnisnya. Sehingga, mereka bisa meraih untung lebih tinggi lagi dan bikin harga sahamnya kian menjulang.

Perusahaan-perusahaan berkategori growth terbaik adalah perusahaan yang mampu menciptakan dan menerapkan suatu cara yang bisa diterapkan berulang kali tiap kali ia berniat untuk masuk ke pangsa pasar baru. 

Contoh yang baik adalah Netflix. Perusahaan tersebut tadinya berkecimpung di bisnis penyewaan DVD sebelum akhirnya menggarap bisnis streaming film. Selain itu, Netflix juga awalnya membeli lisensi konten dari rumah produksi lain, seperti Disney, sebelum akhirnya bisa memproduksi kontennya sendiri. Dan sekarang Netflix tak hanya mampu menggaet pelanggan dari Amerika Serikat namun juga dari seluruh dunia.

Memang kalau dilihat dari pengukuran tradisional, harga-harga saham growth relatif terlihat cukup “mahal” dibandingkan saham-saham yang termasuk dalam value stocks. Acap kali, saham-saham ini pun punya rasio valuasi yang juga tinggi seperti yang ditunjukkan dari rasio harga saham per laba saham (Price to Earning), harga saham per penjualan (Price to Sales), dan harga saham per nilai buku (Price to Book Value).

Kendati demikian, tingginya nilai saham tersebut disebabkan karena “pertumbuhan” perusahaan tersebut tidak tercermin tahun ini, melainkan baru di tahun-tahun mendatang. Sebuah perusahaan biasanya jarang membukukan laba di tahun pertama lantaran harus menggelontorkan biaya signifikan untuk memasarkan produknya. Namun, bukan berarti perusahaan tersebut tak bernilai.

Ambil contoh Amazon.com yang baru setelah 14 tahun bisa membukukan laba karena perusahaan terus melakukan reinvestasi arus kasnya setiap tahun untuk mengembangkan usaha. Bahkan, rasio harga saham per laba Amazon selalu tinggi karena perusahaan selalu menawarkan bisnis baru misalnya Alexa, jasa komputasi awan, hingga Amazon Prime Video ke pasar yang beragam

Gaya Investasi Saham Rasio Price-to-Earning Amazon yang bertumbuh drastis pada 2015 lalu. Sumber: Tradingview

Harga saham growth stocks juga cukup tinggi apabila disandingkan dengan profitabilitas dan neraca keuangannya yang sekarang. Saat pertumbuhan perusahaan ternyatakan dan perusahaan mampu memanfaatkan peluang itu untuk terus berkembang, maka harga sahamnya tentu akan melonjak.

Sebaliknya, jika sebuah perusahaan tak mampu memanfaatkan pertumbuhan tersebut, maka harga saham growth stocks bisa amblas cukup dalam mengingat kinerja perusahaan ternyata tak sebanding dengan harganya yang mahal. Ini bisa terjadi, misalkan, karena perusahaan tidak mampu bersaing dengan kuat dari pendatang yang baru dan tidak bisa mempertahankan dominasinya.

Contoh dari kasus ini adalah Nokia dan Apple.

Pada medio 2000 hingga 2005, Nokia dikenal sebagai pemain utama di pasar ponsel global. Hampir seluruh orang memiliki ponsel Nokia dan tidak ada produsen ponsel lain yang bisa menyamai pesatnya pertumbuhan perusahaan teknologi asal Finlandia tersebut. Saking apiknya kinerja keuangan Nokia, harga sahamnya bahkan pernah menyentuh rekor 55 Euro per lembar di periode tersebut.

Namun, harga saham Nokia kemudian terjun bebas setelah 2000 lantaran minimnya inovasi produk perusahaan. Harga saham Nokian kian terpukul pada 2005 hingga 2009, ketika Blackberry mencoba menantang dominasi Nokia di pasar ponsel global dengan mengandalkan teknologi mobile internet.

Harga saham Blackberry pun menyentuh puncaknya pada 2009. Sayangnya, dominasi mereka pun tak bertahan lama karena Apple perlahan menggeser posisi mereka. Kini, Apple, dengan produk-produk iPhone-nya yang terbilang inovatif, masih berjaya di pasar, sementara Nokia dan Blackberry malah lenyap dari peredaran.

Growth Stocks di Indonesia

Di Indonesia, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menciptakan indeks yang terdiri dari growth stocks yang bernama IDXGrowth30 sehingga investor bisa dengan mudah mengikuti kinerja saham-saham growth di Indonesia. IDXGrowth30 ini terdiri dari 30 saham yang memiliki tren pertumbuhan positif dari segi laba bersih dan pendapatan terutama apabila dibandingkan harga sahamnya, likuiditas transaksi yang cukup, serta kinerja keuangan yang kinclong. 

Salah satu contoh growth stocks di Indonesia adalah saham-saham bank digital.

Di awal 2020, investor pasar modal Indonesia keranjingan saham-saham bank mini yang berniat transformasi menjadi bank digital. Nilai saham PT Bank Jago Tbk (ARTO), misalnya, berhasil terbang lebih dari 5 kali lipat dari Rp3.000 ke Rp16.000 per lembar pada periode tersebut. Hal ini disebabkan oleh antusiasme masyarakat ihwal aplikasi bank digital dan anggapan kuat pelaku pasar bahwa ARTO akan menjadi pemimpin bank digital utama di Indonesia mengingat ARTO adalah bagian dari ekosistem teknologi raksasa Indonesia, GoTo.

Moncernya kinerja saham ARTO mendorong beberapa perusahaan rintisan berkelas Unicorn untuk menjajal sektor perbankan dengan mengakuisisi bank-bank mini. Kini, pelaku pasar bisa melihat betapa pesatnya pertumbuhan nilai saham seperti PT Bank MNC International Tbk (BABP), PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), dan PT Bank Bumi Artha Tbk (BNBA) dalam setahun terakhir. Padahal, fundamental keuangan bank-bank tersebut tidak begitu mumpuni jika dibandingkan empat bank raksasa Indonesia, BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI.

Pada September 2021, hype tersebut pun bubar setelah tidak ada satu pun bank digital yang mampu menunjukkan perkembangan berarti di kancah bank digital. Makanya, tak heran jika harga saham bank-bank digital amblas sekitar 40% hingga 50% dalam jangka waktu dua hingga tiga pekan saja.

Di sisi lain, nilai saham ARTO masih tetap kokoh mengingat perusahaan sudah meluncurkan aplikasi dan produk bank digital dengan keandalan mumpuni. Sehingga, nilai sahamnya diharapkan bisa punya pertumbuhan stabil meski investor

2. Value

Value investing adalah gaya berinvestasi yang berfokus mencari saham-saham yang harga pasarnya lebih rendah dibanding nilai intrinsiknya. Nilai intrinsik adalah nilai seharusnya dari saham tersebut terutama apabila dilihat dari segi fundamental yang mungkin sekarang sedang berbeda dari yang dihargai pasar. 

Di dalam value investing, investor akan menempatkan dana di saham-saham yang tengah diobral atau diremehkan oleh pelaku pasar lainnya. Penganut paham value investing percaya bahwa pelaku pasar nantinya akan mulai menyadari nilai sesungguhnya dari saham-saham tersebut dan nantinya mereka pun akan membeli saham tersebut yang mengakibatkan kenaikan harga ke tingkat seharusnya. Seperti yang diungkapkan punggawa value investing Benjamin Graham berikut:

“Dalam jangka pendek, pasar adalah mesin pemungutan suara. Namun, dalam jangka panjang, pasar adalah mesin penimbang.”

Pada umumnya, saham-saham value stocks berasal dari perusahaan besar dengan reputasi baik serta memiliki kinerja keuangan yang sudah teruji cemerlang. Mereka biasanya membayar dividen ke investor, sehingga investor bisa mendapatkan untung baik melalui pembayaran dividen atau apresiasi nilai saham. Beberapa contoh value stocks adalah saham-saham milik Bank of America Corporation (BAC), JPMorgan Chase & Co. (JPM), Wells Fargo & Company (WFC).

Untuk menemukan saham-saham yang sedang murah, investor yang menganut value investing akan menggunakan rasio-rasio berikut sebagai kuncinya:

  1. Rasio harga saham terhadap laba per saham (price-to-earnings atau P/E) yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan tersebut dapat dengan relatif cepat menggunakan labanya untuk “menyamai” nilai sesungguhnya dari harga saham tersebut. Sebagai contoh, satu perusahaan dengan rasio P/E 8 mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut hanya membutuhkan waktu delapan tahun untuk “menyamai” nilai sesungguhnya dari perusahaan tersebut.
  2. Rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan (price-to-book value atau PBV) yang rendah berarti perusahaan tersebut memiliki nilai buku aset yang relatif lebih tinggi dibanding neraca keuangannya. Artinya, jika perusahaan tersebut harus melikuidasi asetnya, maka lebih besar kemungkinannya hasil penjualan aset-aset tersebut bisa menyamai nilai perusahaan tersebut.

Oleh karenanya, mencari perusahaan dengan rasio valuasi yang rendah adalah cara bagi value investor untuk “balik modal” dalam berinvestasi. Rendahnya harga saham yang dibayar investor akan memberikan mereka marjin keamanan (margin of safety), sehingga mereka tak akan terkapar parah jika hal buruk terjadi di masa depan. Sebab tentu saja membeli saham pas harganya sedang mahal akan membuka kemungkinan lebih lebar bahwa harga saham akan turun sehingga investor menderita kerugian yang tidak sedikit.

Value Stocks di Indonesia

BEI juga memiliki satu indeks khusus untuk merangkum kinerja value stocks: IDXValue30. Indeks ini berisikan saham-saham dengan valuasi harga murah yang memiliki likuiditas transaksi dan kinerja keuangan yang baik. Contoh saham value stocks di Indonesia bisa dilihat di tabel berikut!

gaya investasi saham

Biasanya, persepsi masyarakat tentang berinvestasi di value stocks adalah berinvestasi di perusahaan-perusahaan top namun dengan valuasi kecil. Nah, valuasi yang kecil tersebut terjadi akibat merosotnya harga saham, yang biasanya disebabkan oleh siklus bisnis yang lesu atau faktor eksternal lainnya.

Salah satu value stocks terbaik adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Baru-baru ini, valuasi saham perseroan susut dari 1,2 hingga 1,5 kali nilai Price-to-Book menjadi 0,5 kali saja. Hal itu terjadi setelah analis menurunkan peringkat saham BBNI akibat buruknya aset yang dimiliki perseroan dalam dua tahun terakhir.

Namun, BBNI tidak tinggal diam. Perseroan merombak manajemennya dan memperbaiki produk-produk perbankan serta aset-aset yang dimiliki pada awal 2020. Imbasnya, BBNI pun menorehkan hasil pendapatan yang kuat pada kuartal II dan III 2021 dan bahkan mengalahkan estimasi analis.

Kini, nilai saham BBNI sudah kembali terdongkrak dengan valuasi yang sudah terkerek ke 0,75 hingga 0,8 kali dari nilai Price-to-Book.

3. Momentum

Momentum investing adalah gaya investasi di mana sang investor “latah” mengikuti gerak-gerik investor lainnya dalam menjual atau membeli saham. Atau, dengan kata lain, mengikuti momentum yang sedang heboh saat ini.

Hal ini cukup bertolak belakang dengan kaum penganut fundamental yang selalu pasang kuda-kuda menanti pergerakan harga jangka panjang. Di dalam momentum investing, investor akan beraksi mengikuti pergerakan harga jangka pendek yang disebabkan oleh aktivitas investor lainnya.

Kamu perlu memperhatikan beberapa indikator teknikal penting jika kamu ingin melancarkan aksi momentum investingSalah satu indikator yang populer digunakan adalah Moving Average (MA), yakni indikator yang menggambarkan rerata harga penutupan saham dalam satu periode tertentu.

Untuk lebih mudah memahaminya, Sobat Cuan bisa melihat contoh dari grafik harga saham Tesla berikut ini:

Dari grafik di atas, Sobat Cuan bisa melihat MA dari saham Tesla selama 30 hari (30-days MA) sejak Desember 2020 hingga September 2021. Jika harganya berada di atas MA, maka tren harga saham Tesla akan meningkat. Sebaliknya, jika harga saham Tesla berada di bawah MA, maka tren harga menunjukkan penurunan.

Selain itu, kamu juga perlu memanfaatkan tipe-tipe order lanjutan demi mengontrol waktu masuk dan keluar pasar. Limit order, misalnya, memungkinkan kamu untuk memaksimalkan profit dengan memanfaatkan volatilitas harga aset untuk masuk atau keluar pasar. Sementara itu, stops akan memungkinkan kamu untuk keluar-masuk pasar ketika terdapat pergerakan harga yang signifikan.



Sumber : pluang.com

Apa Sih Keterkaitan Harga Bitcoin dan Altcoin? Yuk Simak di Sini!

Sobat Cuan yang bergelut di kancah aset kripto paham bahwa dinamika pasar antar satu aset kripto dengan lainnya sangat berbeda. Salah satunya menyangkut pergerakan dan hubungan antara Bitcoin dan altcoin.

Mungkin kamu tahu bahwa diantara mereka berdua, pergerakannya kadang akur, atau malah berlawanan. Seperti yang ditunjukkan oleh pasar kripto sebulan belakangan.

Beberapa minggu ini bisa dikatakan merupakan situasi dimana altcoin dielu-elukan. Pasalnya, di saat Bitcoin selaku aset kripto dengan nilai kapitalisasi terbesar loyo, altcoin malah mampu memberikan cuan yang tinggi.

Salah satu organisasi yang mengukur hal ini adalah Blockchain Center. Di sini kamu bisa melihat bahwa mereka memiliki Altcoin Season Index yang mengukur musim altcoin. Dalam perhitungan mereka, jika 75% dari 50 koin teratas berkinerja lebih baik daripada Bitcoin selama musim lalu (90 hari), maka hal itu bisa didefinisikan sebagai musim altcoin.

Altcoin Season Index
Sumber: Blockchain Center

Bagan di atas memperlihatkan kondisi terkini dari Altcoin Season Index, di mana saat ini sedang terjadi musim altcoin.

Tapi, ada kalanya altcoin pun ikutan terjun bersama dengan Bitcoin.

Contohnya terjadi pada pertengahan Mei ini, di mana harga Bitcoin dan altcoin longsor berbarengan setelah Bloomberg melaporkan bahwa Departemen Penegakan Hukum AS beserta Badan Pendapatan AS (IRS) tengah menginvestigasi dugaan aktivitas transaksi ilegal antar pengguna yang berada di platform aset kripto Binance.

Jadi, sebenarnya bagaimana sih hubungan Bitcoin dan altcoin? Apakah memang ada hubungan? Ataukah hubungan mereka bersifat HTS alias hubungan tanpa status?

Baca juga: Portofolio Aset Kripto Ambyar? Simak 10 Strategi Sikapi Anjloknya Kripto!

Hubungan antara Bitcoin dan Altcoin

Sebelum mempelajari secara spesifik, berikut adalah pengantar singkat tentang persamaan dan perbedaan antara Bitcoin dan koin alternatif. Ini akan memberi kita dasar yang lebih baik saat mendalami korelasi Bitcoin dan altcoin secara spesifik nantinya.

Bitcoin adalah:

  • Cryptocurrency paling populer
  • Satu-satunya cryptocurrency yang sepenuhnya terdesentralisasi
  • Mempertahankan mayoritas pangsa pasar (saat ini menguasai sekitar 50% pasar aset kripto)
  • Menjadi tujuan investasi akhir dari sebagian besar trader
  • Kecil kemungkinannya untuk mengalami lonjakan harga yang besar

Sementara itu, altcoin adalah:

  • Aset kripto yang punya banyak kegunaan. Sebagian mendapatkan reputasi dari fundamental, sementara yang lain hanya tumbuh berdasarkan sensasi
  • Tidak sepenuhnya terdesentralisasi karena pendiri mereka memegang sebagian besar koin
  • Punya nilai kapitalisasi pasar kecil yang dapat dengan mudah dimanipulasi
  • Sebagian besar merupakan sarana untuk mencapai tujuan atau jalan tengah untuk mendapatkan lebih banyak Bitcoin di masa mendatang
  • Lebih cenderung mengalami lonjakan harga yang besar

Secara keseluruhan, orang dapat melihat Bitcoin sebagai pilihan investasi yang kurang berisiko dan lebih pasti. Sementara itu, altcoin (setidaknya sebagian besar) termasuk dalam kategori ‘perjudian’. Altcoin baru biasanya sangat berisiko, terutama saat kapitalisasi pasarnya rendah.

Mengapa Harga Altcoin Turun saat Bitcoin Naik?

Sebenarnya hal ini sangat mudah dijawab kalau kamu melihat sentimen pasar secara keseluruhan. Kembali lagi, masalah penawaran dan permintaan menjadi akar dari hubungan tersebut.

Karena tujuan sebagian besar trader atau investor adalah untuk meningkatkan posisi Bitcoin mereka, maka mereka tidak perlu terus memegang altcoin jika koin utama mereka meningkat. Seperti inilah prosesnya:

  1. Trader memiliki posisi kecil di banyak koin alternatif berbeda.
  2. Bitcoin mulai bergerak ke arah atas.
  3. Tiba-tiba, altcoin trader mulai kehilangan nilai (Bitcoin) mereka.
  4. Dalam upaya untuk menghindari kerugian lebih lanjut, trader memindahkan dana mereka ke Bitcoin untuk mendapatkan keuntungan dari tren naik.
  5. Karena itu, sebagian besar pelaku pasar keluar dari altcoin (penurunan permintaan) dan ke Bitcoin (peningkatan permintaan).
  6. Ini menghasilkan momentum kenaikan harga untuk Bitcoin dan penurunan harga yang cukup besar untuk altcoin.

Baca juga: Apa Saja Sih Momen FUD Terbesar di Aset Kripto? Yuk, Simak di Sini!

Secara keseluruhan, penting untuk diingat bahwa ada tiga kategori besar koin tempat kamu dapat menyimpan nilai. Yaitu:

  • Bitcoin (BTC)
  • Altcoin (sebagian besar cryptocurrency lainnya)
  • Stablecoin (cryptocurrency yang pergerakannya berdasarkan mata uang FIAT)

Kebanyakan orang akan pindah ke Bitcoin saat pasar naik dan ke stablecoin saat pasar bergerak mendatar. Dalam kedua opsi tersebut, altcoin cenderung ‘menderita’. Di sisi lain, ketika pasar relatif stabil, dan lebih banyak trader membeli posisi altcoin (menyebabkan mereka meningkat nilainya), pasar mengalami musim altcoin.

Tapi, Mengapa Kadang Altcoin Juga Mengikuti Harga Bitcoin?

Namun, dalam sebagian besar situasi pasar, harga altcoin bisa saja sangat terkait dengan harga Bitcoin. Altcoin seringkali mengikuti pergerakan harga Bitcoin dengan perbedaan yang sedikit hingga besar. Mengapa?

1. Dominasi Bitcoin di Kapitalisasi Pasar Kripto

Alasan mendasar di balik altcoin mengikuti Bitcoin adalah karena harga altcoin biasanya diukur dalam Bitcoin. Aset kripto pionir ini mungkin diapit oleh lebih dari 3.000 pesaing, tetapi masih menguasai lebih dari setengah dari seluruh kapitalisasi pasar aset kripto. Dominasi pasar kripto ini memberi Bitcoin banyak pengaruh dan kendali.

2. Bitcoin adalah Mata Uang Cadangan untuk Transaksi

Menurut Blockchain.com, kini ada lebih dari 18 juta Bitcoin yang berada di sirkulasi pasar aset kripto secara global. Sementara dari sisi kapitalisasi pasar, data CoinMarketCap mencatat dominasi Bitcoin terus menurun, dan kini sebesar 46 persen dari pasar keseluruhan.

Baca juga: Mengapa Hanya Ada 21 Juta Bitcoin di Dunia Ini?

Ketika ada peningkatan arus keluar Bitcoin dari bursa terbesar di industri, investor cenderung melihat ini sebagai tanda positif untuk cryptocurrency tersebut.

Hal ini karena investor memprediksi Bitcoin memasuki fase akumulasi, yang berarti pasar bullish mungkin sudah dekat. Keyakinan ini dapat mengalir ke altcoin yang bersaing dan menguntungkan pasar cryptocurrency secara lebih luas.

3. Ada Hal Insidentil Eksternal yang Mempengaruhi Pasar Kripto Secara Umum

Hal ini bisa Sobat Cuan lihat dalam beberapa waktu terakhir. Misalnya, masalah regulasi di beberapa negara ihwal pengawasan aset kripto. Atau mungkin rencana penerapan pajak kripto yang jadi buah bibir belakangan ini, seperti dijelaskan pada artikel berikut.

Contoh lain misalkan adalah situasi makroekonomi yang lagi bagus. Biasanya, di saat-saat seperti demikian, investor kembali berani untuk kembali masuk ke pasar modal. Sehingga, aset kripto pun jadi terbengkalai.

Hal-hal di atas tentu akan bikin investor atau trader kripto khawatir. Bukan hanya investor Bitcoin semata, namun juga altcoin. Kalau sudah begitu, tentu investor dan trader akan melepas kepemilikannya dan bikin harga kripto terjun.

Implikasi Hubungan Bitcoin dan Altcoin Bagi Trader dan Investor

Terlepas dari seberapa besar korelasi harga dan kondisi pasar, para analis sepakat bahwa trader dan investor aset kripto sebaiknya melakukan diversifikasi. Hal tersebut sangat penting ketika situasi sedang bearish alias lesu. Selain itu, hal ini juga berguna untuk mengurangi keterpaparan investor atau trader atas risiko Bitcoin maupun altcoin.

“Penurunan korelasi harga harus menjadi hal yang disambut dengan bijak. Hal itu karena membuka lebih banyak peluang untuk berdagang dengan proposisi portofolio yang berbeda dalam momen yang muncul,” kata Joel Kruger, trader and strategist LMAX.

Baca juga: Kapan Waktu Terbaik Transaksi Ethereum? Yuk Simak di Sini!

Analis OKEx Insights Robbie Liu turut mengamininya. Ia mengatakan bahwa penurunan korelasi harga memberi pedagang kecil lebih banyak peluang untuk mendapatkan keuntungan yang besar.

“Untuk investor ritel dengan modal kecil dan toleransi risiko yang lebih tinggi, penurunan korelasi saat ini merupakan perubahan yang disambut baik. Hal itu memberikan mereka lebih banyak peluang untuk meraup keuntungan yang lebih tinggi,” katanya.

Dengan asumsi bahwa divergensi dalam korelasi tetap ada di masa depan, hal ini pada akhirnya akan menjadi keuntungan bagi trader, investor, dan industri yang lebih luas.

Seperti yang disimpulkan Glen Goodman, penulis buku ‘The Crypto Trader, penurunan korelasi akan menjadi tanda bahwa pasar semakin matang.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Krypto Money, Decrypt, Cryptonews



Sumber : pluang.com

Lebih Baik Investasi Saham Tunggal, Indeks, Atau Reksa Dana Saham?

Investor bisa berinvestasi secara murah dan nyaman untuk mendapatkan eksposur dari pasar saham dengan menempatkan uang di reksa dana atau indeks. Pada umumnya, manajer investasi, sebagai pengelola reksa dana, bisa memberikan eksposur terhadap satu kelas aset tertentu ke investor secara lebih efisien ketimbang investor individu.

Sebagai contoh, Sobat Cuan bisa membeli produk indeks S&P 500 di Pluang untuk mendapatkan eksposur atas kinerja indeks S&P 500 secara keseluruhan daripada membeli masing-masing 500 saham yang terdapat di indeks tersebut. Hal ini juga berlaku di pasar modal dalam negeri. Daripada kamu membeli seluruh 30 saham perusahaan berkapitalisasi pasar di Indonesia, mengapa tidak menaruh uang saja di reksa dana saham, misalnya produk Batavia Dana Saham, di Pluang?

Lagipula, jika Sobat Cuan menengok grafik di bawah ini, performa indeks IDX30 juga masih sejalan dengan pergerakan saham emiten raksasa seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). 

Tapi, ada beberapa keuntungan yang kamu dapatkan ketika berinvestasi di saham secara langsung!

Keuntungan Investasi Saham Langsung

1. Investasi Secara Terkonsentrasi

Memilih saham-saham pilihanmu sendiri dapat membantumu untuk berkonsentrasi terhadap satu sektor atau perusahaan tertentu, di mana kinerjanya kamu percaya bisa mengungguli performa pasar secara keseluruhan.

Terdapat beberapa gaya dan prinsip dalam memilih saham. Pengelola dana global (hedge fund) cenderung memilih beberapa saham tertentu saja. Sementara itu, investor yang memusatkan diri untuk menganalisa bagaimana dampak keadaan makroekonomi terhadap saham bisa  memilih saham-saham yang bergerak di sektor yang sangat dipengaruhi kebijakan moneter, misalnya saham perbankan yang tokcer akibat kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing).

Di sisi lain, momentum investors akan  mengamati pergerakan dan aliran dana ke suatu saham tertentu. Jika dana investor mengalir kencang ke sebuah saham, tentu harga aset tersebut akan menanjak terlepas dari sisi fundamentalnya. 

Apa pun gaya investasi investor, berinvestasi saham tunggal disertai dengan risiko. Beberapa investor mungkin melakukan diversifikasi portofolio dengan memilih beberapa perusahaan berbeda yang dia rasakan akan menunjukkan kinerja terbaik dan bukan dengan mengatur alokasi portofolio berdasarkan kapitalisasi pasar. 

2. Punya Kendali Penuh Atas Keluar-Masuk Pasar

Berinvestasi langsung di saham bisa memberikanmu kendali penuh untuk masuk dan keluar pasar. Ketika melakukan hal ini, kamu mungkin bisa memanfaatkan bantuan seperti tipe-tipe order seperti limits, stops, dan trailing stops demi menentukan titik masuk dan keluar yang benar-benar tepat agar keuntungan maksimal. 

Sebagai contoh, jika kamu berhasil membeli saham dengan harga 2% lebih baik dibanding yang lain dan menjualnya kembali dengan harga 2% lebih baik dibanding lainnya, maka kamu bisa mendapatkan tambahan imbal 4%. Nilai ini sudah setara dengan rerata imbal hasil indeks S&P 500 selama tiga hingga empat bulan yang terlihat dalam lima tahun terakhir.

3. Investasi Saham adalah Hal Seru

Berinvestasi saham adalah hal yang menyenangkan. Layaknya menonton tim olahraga favoritmu bertanding, memantau kinerja perusahaan favoritmu juga bisa menjadi sebuah “hiburan” yang menyenangkan. Keseruan ini tak akan kamu dapatkan jika kamu berinvestasi secara pasif.

Mengamati pasar saham akan semakin lebih seru jika kamu sudah memilih perusahaan jagoanmu. Banyak investor menikmati proses memilih perusahaan yang mereka yakini akan berjaya di masa depan.

Risiko Investasi Saham Secara Langsung

Kendati menyenangkan, namun investasi saham secara langsung memiliki risikonya tersendiri.

1. Risiko Overtrading dan Mistiming

Salah satu risiko utama bermain saham secara langsung adalah  terlalu banyak melakukan jual-beli (overtrading) dan melakukan kesalahan dalam menentukan waktu jual-beli saham (mistiming). Grafik di bawah ini menunjukkan bahwa kamu bisa kehilangan hampir dari sepertiga potensi cuanmu jika kamu melewatkan lima hari terbaik dalam bull run 30 tahun terakhir.

2. Diversifikasi yang Tidak Optimal

Jika kamu berinvestasi saham tunggal maka kamu telah memilih untuk menempatkan danamu secara terkonsentrasi dalam beberapa nama saja apabila dibandingkan dengan indeks saham yang mengikuti kinerja banyak perusahaan. Sehingga kamu akan cenderung lebih berisiko dibandingkan reksadana yang alokasinya mengikuti kapitalisasi pasar dalam indeks saham. Ini merupakan kekurangan investasi saham langsung jika dibandingkan investasi reksa dana saham atau investasi indeks, di mana kamu mendapatkan eksposur atas kinerja saham-saham dari sektor beragam.

Kamu perlu yakin dan percaya bahwa pengetahuan investasimu memang akan memungkinkanmu mendulang imbal hasil yang lebih baik dari kinerja pasar secara keseluruhan dengan mempertimbangkan bahwa kamu telah menanggung risiko yang lebih tinggi dibandingkan pasar. 

3. Berinvestasi Pakai Emosi

Bermain saham bisa sangat melelahkan secara psikologis. Terkadang, jika kamu menderita kerugian dari bermain saham, maka kamu akan cenderung bertindak secara tidak rasional.  Misalnya, karena sudah terbakar sebelumnya kamu  jadi enggan berinvestasi padahal pasar akan cerah dan sebaliknya terlalu berapi-api dan malah investasi kebanyakan sesaat sebelum pasar berubah mendung.

Nah, berinvestasi saham tidak akan terlalu membebani pikiranmu untuk selalu mengatur strategi apabila kamu memilih reksadana saham atau berinvestasi langsung di indeks saham, apalagi jika kamu melancarkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA).

4. Kesulitan untuk Terus Mengalahkan Kinerja Pasar

Pada kenyataannya, akan terus sulit untuk selalu terus-menerus mengalahkan kinerja pasar. Sehingga ada baiknya kamu melakukan strategi beli dan tahan (buy-and-hold) terhadap produk indeks saham atau reksadana saham. Ini dikarenakan pasar sekarang lebih cepat dan efisien untuk menyerap kabar sehingga sulit untuk memiliki keunggulan yang bisa mengalahkan pasar sebab harga pasar sekarang akan lebih cepat bereaksi terhadap perkembangan terbaru (priced in).   



Sumber : pluang.com