Category Archives: Pluang

Bunga Nabung Kripto Tinggi Banget, Apakah Beneran Bikin Kamu Auto Cuan?

Sobat Cuan pecinta aset kripto mungkin sudah familiar dengan menabung di aset kripto. Belakangan, kegiatan ini menjadi alternatif cari cuan dari aset kripto yang paling yahud selain trading atau investasi pada umumnya. Apalagi kalau bukan karena tingkat bunga menabung aset kripto yang tinggi banget.

Seperti yang telah dijelaskan di artikel berikut, menabung di aset kripto memiliki imbal hasil lumayan dibanding menabung di perbankan. Selain itu, Sobat Cuan pun tak perlu khawatir soal risiko naik-turun suku bunga acuan hanya untuk menikmati untung dari menabung aset kripto.

Namun pertanyaannya, apakah bunga yang tinggi memang selalu bikin kamu auto cuan? Apakah ada risiko yang bisa bikin jumlah tabungan kamu merosot?

Jawabannya adalah, bunga tabungan aset kripto belum tentu bikin kamu cuan. Untuk mencari alasannya, Sobat Cuan perlu kembali ke konsep high risk, high return dalam investasi. Ya, betul. Semakin tinggi cuan yang didapat, artinya ada risiko besar pula yang mengintai di belakangnya.

Tapi, bukan berarti Sobat Cuan tidak bisa memitigasi risikonya. Kamu masih bisa cuan dalamm menabung aset kripto asal sudah kenal betul dengan produk satu ini.

Seperti apa sih, risiko-risiko yang bisa menghambat kemajuan cuanmu dalam menabung aset kripto? Yuk, simak artikel ini baik-baik ya, Sobat Cuan!

Baca juga: Mau Coba Simpan Aset Kripto di Dompet DeFi? Berikut Tipsnya!

Mengenal Risiko Menabung Aset Kripto

Meski bunga menabung aset kriptomu tinggi, kamu juga perlu mengetahui beragam risiko yang bisa bikin bunga menabung aset kriptomu percuma.

Risiko-risiko ini bukan bermaksud membuat kamu jadi takut menabung aset kripto, Sobat Cuan. Namun, agar kamu bisa mengendalikan ekspektasi ketika menaruh uangmu di platform menabung aset kripto.

Terkadang, ketidakmampuan kita dalam mengelola ekspektasi bikin kita membuat keputusan investasi dengan emosi. Makanya, sebagai Sobat Cuan yang baik dan budiman, kamu perlu membuat segala keputusan dengan kepala dingin.

Nah, tanpa berpanjang lebar lagi, apakah kamu sudah siap mengetahui risiko menabung aset kripto?

1. Faktor Perubahan Aset Kripto

Ini merupakan risiko paling besar yang bisa bikin tabungan aset kriptomu buntung.

Seperti yang kita tahu, pergerakan aset kripto cukup volatil. Harganya bisa longsor dalam sekejap, namun juga bisa melejit beberapa saat kemudian. Hal itu tentu saja akan mempengaruhi imbal hasilmu dalam menabung aset kripto.

Sebagai contoh, bayangkan kamu menabung Bitcoin di sebuah platform menabung aset kripto dengan tingkat imbal hasil (Annual Percentage Yield/APY) 6% per tahun. Namun, saat kamu menabung aset kripto, harga Bitcoin tiba-tiba anjlok hingga 10%.

Artinya, cuan yang kamu dapat tentu juga akan terkikis. Bunga menabung aset kripto yang kamu dambakan pun pupus begitu saja.

2. Risiko Penyerangan Smart Contract

Mungkin, kamu sudah tahu bahwa menabung di aset kripto adalah bagian dari kegiatan yield farming maupun crypto staking menggunakan aplikasi keuangan terdesentralisasi, atau disebut Decentralized Finance (DeFi). Penjelasan mengenai yield farming dan crypto staking bisa kamu baca di artikel ini.

Nah, aplikasi DeFi sendiri bergerak “dimotori” oleh teknologi smart contract yang berjalan di atas sistem blockchain Ethereum.

Smart contract tersebut menggantikan peran perantara yang biasa terdapat di sistem jasa keuangan konvensional. Sehingga, hidup dan mati aktivitas menabung aset kripto sangat tergantung dengan keberlangsungan smart contract itu sendiri.

Hanya saja, smart contract rentan terpapar peretasan. Sebab, mereka bisa dengan mudah memanipulasi kode-kode yang terdapat di smart contract dengan menebar bugs. Bahkan, pencipta Ethereum, Vitalik Buterin, juga pernah mengakui dalam sebuah siniar bahwa ini adalah risiko terbesar dari teknologi smart contract.

Ketika smart contract dalam bahaya, hal itu bisa saja membuat jagat DeFi terguncang. Bahkan, aksi jahat itu bisa saja bikin saldo tabungan aset kriptomu menjadi kosong.

3. Risiko Internal

Dalam menilai risiko menabung aset kripto, kamu jangan terlalu fokus ke risiko eksternal saja. Karena, siapa tahu bunga menabung aset kriptomu jadi sia-sia karena kesalahan kamu sendiri.

Misalnya, adalah salah memilih jenis tabungan. Mungkin kamu tadinya ingin nyemplung di yield farming di mana kamu bisa mengambil aset kriptomu kapan pun. Tapi ternyata, kamu salah memilih jenis tabungan kripto dengan masuk ke crypto staking. Di mana, kamu perlu menyimpan asetmu secara jangka panjang dan tak bisa menariknya kembali ketika pasar kripto lagi amburadul.

Maka dari itu, kamu harus memahami jenis tabungan kripto yang akan kamu masuki. Jangan sampai tingkat bunga yang tinggi bikin kamu gelap mata dan urung mempelajari seluk-beluknya.

Baca juga: Apakah Aman Menabung di Dompet Aset Kripto? Yuk, Simak di Sini!

Kala Bunga Menabung Aset Kripto Tak Bisa Diandalkan, Saatnya Mitigasi Risikomu!

Namun, serangkaian risiko di atas tidak sepatutnya bikin kamu menjauhi menabung aset kripto, Sobat Cuan. Sebab, yang namanya risiko pasti selalu bisa dimitigasi. Lantas mitigasi apa yang bisa kamu lakukan?

  1. Sebagai pemula, pastikan kamu tidak menaruh semua aset kriptomu di tabungan aset kripto. Tujuannya, agar keterpaparan kamu terhadap risiko menabung kripto kian minim.
    Ingat, diversifikasi adalah kunci penting dalam berinvestasi. Jangan biarkan dirimu terpapar risiko besar yang berasal dari satu aset dan sebar risikomu ke beragam aset lainnya.
  2. Menabung sekala berkala. Kamu bisa lakukan metode ini untuk membiasakan dirimu di ekosistem investasi aset kripto. Sehingga, yang perlu kamu lakukan adalah menabung aset kripto sedikit demi sedikit di platform yang memungkinkan kamu menarik tabunganmu kapan saja.
  3. Tetap mawas diri. Mereka yang baru kecebur di aset kripto sebagian besar memiliki masalah yang sama: Malas mencari tahu informasi dan perkembangan aset kripto. Padahal, sikap mawas diri ini penting demi mencegah kamu dari kerugian hakiki.
    Jika kamu melihat harga aset kripto terus melemah, maka kamu bisa mengambil sikap untuk tetap tinggal di tabungan aset kripto atau melengos begitu saja. Makanya, jangan pernah lelah membekali dirimu dengan berbagai informasi, ya!

Nah, Sobat Cuan sekarang bisa manfaatkan menabung aset kripto di Pluang! Hanya dengan menabung Ethereum dan Bitcoin, kamu bisa dapatkan hasil imbal hingga 3,5% per tahun. Menarik bukan? Yuk, cobain sekarang di Pluang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Trust Wallet, Block Geeks



Sumber : pluang.com

Produk Reksadana Apa Saja yang Ada di Pluang?

Sobat Cuan bisa menemukan dan memilih 15 produk reksadana di Pluang. Berikut adalah 15 produk reksadana yang disusun berdasarkan jenis-jenisnya!

Produk Reksadana di Aplikasi Pluang

Reksadana Saham

  1. Batavia Dana Saham
  2. Batavia Dana Saham Syariah 

Sobat Cuan bisa membaca penjelasan masing-masing produk berikut nilai kelolaannya, dan kinerjanya selama satu, tiga, dan lima tahun terakhir (per 31 Agustus 2021) dalam tabel berikut:

Reksadana Saham di Pluang

Nama Produk Penjelasan Nilai Dana Kelolaan (AUM) Return 1 Tahun Return 3 Tahun Return 5 Tahun
Batavia Dana Saham Reksa dana yang dikelola secara aktif dengan fokus pada saham-saham unggulan dan berkapitalisasi pasar besar (lebih dari 50%) di IHSG. Pemilihan tema dan sektor untuk dana ini disesuaikan dengan dinamika serta perkembangan pasar terkini. Rp6,15 triliun 7.44 -9.07 0.17
Batavia Dana Saham Syariah Reksa dana yang dibentuk dan dikelola sesuai dengan prinsip syariah. Dana investor hanya ditempatkan pada saham yang ada di Daftar Efek Syariah yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional. Selain itu, investasi juga berfokus pada saham-saham Syariah unggulan dan memiliki fundamental kuat. Rp134 miliar 1.02 -15.48 -22.31

Reksadana Pendapatan Tetap

  1. UOBAM Dana Membangun Negeri (eksklusif hanya di Pluang)
  2. Batavia Dana Obligasi Ultima 
  3. Pinnacle Indonesia Bond Fund
  4. BNI-AM Dana Pendapatan Tetap Makara
  5. Syailendra Pendapatan Tetap Premium
  6. Bahana MES Syariah
  7. BNI-AM Ardhani Pendapatan Tetap Syariah

Sobat Cuan bisa membaca penjelasan masing-masing produk berikut nilai kelolaannya, dan kinerjanya selama satu, tiga, dan lima tahun terakhir (per 31 Agustus 2021) dalam tabel berikut:

Nama Produk Penjelasan Nilai Dana Kelolaan (AUM) Return 1 Tahun Return 3 Tahun Return 5 Tahun
UOBAM Dana Membangun Negeri Reksa dana yang dikelola secara aktif dan fokus pada instrumen surat utang pemerintah dan surat utang Badan Usaha Milik Negara berkualitas tinggi. Rp24 miliar
Batavia Dana Obligasi Ultima Reksa dana yang dikelola secara aktif di mana 70% penempatan dana di obligasi pemerintah dan sisanya di obligasi korporasi, sehingga potensi imbal hasilnya menarik dan berlikuiditas tinggi. Strategi pengelolaan portofolio dialokasikan ke obligasi bertenor pendek (3-4 tahun) dan porsi portofolio dinamis mengikuti perkembangan pasar. Rp729 miliar 6.63 22.39  
Pinnacle Indonesia Bond Fund Reksa dana yang dikelola secara aktif dengan alokasi ke obligasi dan deposito. Untuk obligasi, 80% penempatan dana condong ke obligasi pemerintah dan sisanya ke infrastruktur. Sementara kriteria untuk pasar uang/deposito adalah bank dengan rasio pinjaman bermasalah (NPL) kurang dari 3%. Rp62 miliar 8.39 32.84
BNI-AM Dana Pendapatan Tetap Makara Reksa dana yang dikelola aktif dengan alokasi ke surat utang korporat jangka pendek (rata-rata 2-3 tahun) agar nilai return dan NAB stabil. Seluruh return reksa dana seutuhnya milik investor dan sebagian biaya pengelolaannya didedikasikan untuk pengembangan pendidikan di Universitas Indonesia. Rp95 miliar 1.54 11.27
Syailendra Pendapatan Tetap Premium Reksa dana yang dikelola aktif dan fokus pada obligasi korporasi berjangka pendek dan berperingkat tinggi dari sektor telekomunikasi, bahan baku, dan finansial, sehingga memiliki volatilitas rendah dan menghasilkan return yang lebih tinggi dibanding obligasi negara. Selain itu, 0 hingga 15% dana juga dialokasikan ke ekuitas pendorong yang merupakan saham New Economy (contoh: finansial, teknologi, media, e-commerce, dll). Rp409,57 miliar 5.88 35.44
Bahana MES Syariah Reksa Dana ini dikelola secara aktif di mana 94% alokasi dana ditempatkan ke obligasi negara syariah/sukuk dan 6% pada deposito bank BUKU 3. Rp90,69 miliar 7.09 31.38
BNI-AM Ardhani Pendapatan Tetap Syariah Reksa dana ini dikelola secara aktif dan menghasilkan return yang didasarkan pada prinsip-prinsip investasi syariah. Dana dialokasikan ke Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang tidak memiliki risiko gagal bayar (default). Dengan durasi portofolio rata-rata lebih dari 5 tahun, return yang dihasilkan lebih optimal bagi investor jangka menengah dan jangka panjang. Rp125 miliar 9.56 40.71  

*Angka return berdasarkan data kinerja historis yang dihitung dari tanggal peluncuran produk reksadana tersebut.

Reksadana Pasar Uang

  1. UOBAM Dana Rupiah (eksklusif hanya di Pluang)
  2. Batavia Dana Kas Maxima
  3. Bahana Dana Likuid
  4. BNI-AM Dana Lancar Syariah

Sobat Cuan bisa membaca penjelasan masing-masing produk berikut nilai kelolaannya, dan kinerjanya selama satu, tiga, dan lima tahun terakhir (per 31 Agustus 2021) dalam tabel berikut:

Reksadana Pasar Uang Di Pluang

Nama Produk Penjelasan Nilai Dana Kelolaan (AUM) Return 1 Tahun Return 3 Tahun Return 5 Tahun
UOBAM Dana Rupiah Reksa dana yang dikelola secara aktif dengan fokus penempatan 80% dana di deposito perbankan dan instrumen surat utang berkualitas tinggi. Rp16 miliar
Batavia Dana Kas Maxima Reksa dana yang dikelola secara aktif di mana 50% penempatan dana di deposito bank-bank berkinerja baik dan 50% di obligasi bertenor di bawah 1 tahun (mayoritas obligasi pemerintah dan obligasi korporasi peringkat AAA). Namun, porsi penempatan dana berubah mengikuti dinamika pasar. Kombinasi pilihan alokasi aset dan tenor pendek membuat potensi return-nya menarik serta likuiditas tinggi. Rp7,08 triliun 3.44% 4.76% 4.95%
Bahana Dana Likuid Reksa dana ini dikelola secara aktif di mana 90% alokasi dana ditujukan ke deposito bank kategori BUKU 2 & 3. Sementara obligasi yang dipilih adalah obligasi dengan peringkat minimal single-A. Rp5,45 triliun 3.71% 15.93% 29.88%
BNI-AM Dana Lancar Syariah Reksa dana ini dikelola secara aktif dan diawasi Dewan Pengawas Syariah. Seluruh portofolio ditempatkan pada instrumen pasar uang syariah dari bank-bank syariah besar yang memiliki kinerja keuangan yang baik dan sukuk dengan jatuh tempo kurang dari 1 tahun, yang juga memiliki rating tinggi untuk meminimalkan risiko. Dengan kualitas portofolio yang baik, BNI-AM Lancar Syariah dapat memberikan return yang stabil dan optimal serta pencairan dana yang cepat bagi investor. Rp260 miliar 4.12% 15.28% 27.92%

Reksadana Campuran

  1. Syailendra Balanced Opportunity Fund
  2. BNI-AM UGM Progressive Balanced

Sobat Cuan juga bisa membaca penjelasan produk reksadana, nilai dana kelolaannya, dan kinerjanya selama satu, tiga, dan lima tahun terakhir (data per 31 Agustus 2021).

Reksadana Campuran di Pluang

Nama Produk Penjelasan Nilai Dana Kelolaan (AUM) Return 1 Tahun Return 3 Tahun Return 5 Tahun
Syailendra Balanced Opportunity Fund Reksa dana campuran yang dikelola secara aktif dan berfokus pada sektor New Economy, yaitu sektor yang fokus pada pertumbuhan digital atau adaptasi teknologi baru (finansial, teknologi, media, e-commerce, dll). Reksa dana ini juga memiliki fleksibiltas tinggi (~2-75%) untuk alokasi antar kelas aset ekuitas, pendapatan tetap, dan pasar uang. Untuk meminimalkan volatilitas, SBOF juga berinvestasi pada obligasi korporasi jangka pendek yang memiliki peringkat yang bagus, serta pada pasar uang. Rp206,82 miliar 40.18% 40.28% 42.79%
BNI-AM UGM Progressive Balanced Reksa dana yang dikelola aktif di mana dana ditempatkan di berbagai kelas aset seperti saham, obligasi, dan pasar uang. Sebagian biaya manahemen didedikasikan untuk pengembangan pendidikan di Universitas Gajah Mada. Kelebihan reksa dana ini adalah fleksibilitas untuk menyeimbangkan alokasi antar aset. Rp31 miliar 9.21% 26.69% 34.23%

Kenapa Pluang Menawarkan Pilihan Produk Reksadana Terbatas?

Pluang percaya bahwa diversifikasi merupakan hal yang penting dan perlu dilakukan dalam investasi. Diversifikasi umumnya dicapai dengan memperoleh eksposur dari beberapa kelas aset, bukan dari kepemilikan beberapa produk reksadana yang semuanya diisi kelas aset yang sama. 

Di Indonesia, produk reksadana bisa menempatkan dana investor di tiga kelas aset: instrumen pasar uang (instrumen utang jangka pendek), instrumen pendapatan tetap (instrumen utang jangka panjang), dan saham. Penting  untuk memiliki beberapa pilihan dalam tiap kelas aset agar investor bisa mendapatkan akses ke aset-aset yang memiliki perbedaan sifat dalam tiap kelas aset. 

Sebagai contoh, di dalam investasi instrumen pendapatan tetap, investor akan mendulang manfaat maksimal jika mereka dapat mempertimbangkan pilihan baik untuk surat utang berisiko rendah (misalnya obligasi pemerintah berperingkat tinggi) maupun  instrumen utang korporasi (dengan peringkat utang yang lebih rendah) yang memiliki risiko gagal bayar lebih tinggi namun juga menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi. 

Pluang merasa bahwa investor cukup memilih sekitar 5 produk reksa dana dengan gaya yang berbeda dan mereka sudah bisa menangkap secara penuh spektrum risiko dan imbal hasil dalam tiap kelas aset.

Terlalu banyak pilihan produk reksadana bukanlah hal yang baik bagi investor. Sebagai contoh, jika investor diberikan daftar yang berisi 40 jenis reksadana pendapatan tetap, belum tentu ini akan menguntungkan si investor. Sebaliknya, dia malah ujung-ujungnya semakin bingung dan menghabiskan waktu untuk memilih mana yang dirasakan terbaik di antara 40 produk reksadana yang berada dalam kelas aset yang sama. 

Lebih parahnya lagi, investor akan terjebak dalam “diversifikasi semu” karena ia merasa memiliki produk dengan nama yang berbeda. Namun pada dasarnya jenis aset yang ia miliki secara fundamental memiliki kesamaan dan penambahan produk tidak akan mendongkrak imbal hasil atau  mengurangi risiko investasinya. Portofolio seorang investor yang memiliki 100 produk reksadana namun semuanya merupakan pendapatan tetap tentu tidak bisa dibilang telah terdiversifikasi jika dibandingkan portofolio lain yang mencakup pendapatan tetap, emas, dan saham.

Jebakan  “diversifikasi semu” merupakan hal yang Pluang ingin cegah. Oleh karenanya, Pluang telah memilih secara cermat dan teliti  produk reksa dana yang kami tawarkan supaya dapat memberikan cukup pilihan namun agar SobatCuan juga tetap bisa fokus untuk melakukan diversifikasi portofolio. 



Sumber : pluang.com

Apa Sih Pentingnya Diversifikasi Aset Investasi? Simak di Sini!

Investasi pasti selalu terlihat menggiurkan dan menawarkan keuntungan yang menarik di mata pemula. Hal ini bisa terjadi karena pemula lebih cenderung terpengaruh dengan nilai imbal hasil, tanpa mengetahui lebih dalam mengenai seluk beluk mengenai strateginya.

Padahal, dalam berinvestasi, strategi adalah kunci penting dalam memaksimalkan cuanmu. Salah satunya dengan menentukan, apakah kamu berencana fokus pada satu aset investasi atau portofolio? Atau justru melakukan diversifikasi aset? Kemudian, strategi apakah yang cocok bagi investor pemula sepertimu?

Nah, Sobat Cuan perlu tahu bahwa diversifikasi aset adalah strategi penting yang perlu dilakukan oleh investor pemula. Yuk, simak artikel ini untuk mengetahui alasannya!

Manfaat Diversifikasi Aset

Ketika memutuskan berinvestasi, pasti ada banyak pertanyaan yang muncul di benakmu. Salah satunya adalah berandai-andai tentang nasibmu kalau portofolio aset kamu tiba-tiba terjun bebas. Nah, di sinilah strategi diversifikasi aset bermanfaat buatmu. Yakni, meringankan dirimu dari eksposur risiko dalam berinvestasi.

Kamu pasti tahu bahwa terdapat istilah High Risk High Return dalam berinvestasi. Tidak masalah jika kita mau membeli saham dengan nilai besar untuk mendapatkan keuntungan yang besar pula. Namun, alangkah baiknya jika kita tidak hanya mengandalkan satu aset investasi saja.

Membagikan risiko tersebut ke dalam beberapa portofolio dengan nilai tertentu dirasa merupakan jalan terbaik. Terlebih, tidak semua investasi yang kita lakukan akan berhasil 100%.

Ada kalanya, investasi yang sedang kita jalankan macet ditengah jalan, bahkan sampai rugi dengan nominal yang tidak sedikit. Makanya, tak heran ada pepatah yang mengatakan Don’t put your eggs in one basket. Oleh karena itu, secara garis besar, tujuan akhir diversifikasi adalah melindungimu dari kerugian investasi yang teramat dalam.

Di samping itu, terdapat dua manfaat lain dalam melakukan diversifikasi investasi. Apa saja manfaat tersebut?

1. Membuat Nilai Asetmu Stabil

Dalam hal ini yang dimaksud stabil adalah jika kamu melakukan investasi di banyak tempat, maka kemungkinan rugi di semua aset sangat kecil.

Contohnya, nilai aset kamu untuk investasi A menurun tajam, namun pada investasi B malah naik sangat drastis. Nah, diversifikasi ini menyelamatkanmu dari kegagalan aset A.

2. Mengurangi Keterpaparan Risiko Fluktuasi Harga Aset

Selain itu, diversifikasi juga bisa melindungi investor dari siklus investasi yang biasa terulang.

Contohnya terjadi di pasar saham, di mana kadang terdapat faktor musiman yang bikin portofolio kamu menghijau, dan ada kalanya masa di mana portofolio kamu memerah. Penurunan nilai portofolio investasimu bisa tertahan jika kamu juga berinvestasi di aset-aset yang tak bersifat siklikal.

Baca juga: Ingin Diversifikasi Bitcoin dan Emas? Simak Komposisi Idealnya di Sini!

Kunci Penting Diversifikasi Aset: Memahami Tujuan Investasi

Sebelum kamu mencoba berinvestasi, kamu harus paham dulu apa tujuanmu melakukan investasi. Banyak orang melakukan investasi tujuannya cuma ikut-ikut. Ada juga orang yang sama sekali tidak paham investasi, tapi melakukan investasi sangat banyak.

Investasi memang mirip dengan menabung karena sama sama menyisihkan uang. Tapi kamu harus mulai membedakan investasi yang akan kamu lakukan ini untuk jangka panjang atau jangka pendek.

Tujuan yang jelas dalam berinvestasi juga akan membantumu mencari instrumen investasi yang tepat. Contohnya, misalkan kamu butuh mengalokasikan dana investasi untuk dana darurat di kemudian hari, maka instrumen investasi apakah yang cocok untukmu?

Memilih aset yang tepat juga bisa meminimalisasi potensi kerugian kamu dalam berinvestasi. Selain itu, dengan mengetahui tujuanmu melakukan investasi akan menjaga komitmen kamu dalam berinvestasi. Sebagai pemula, kamu bisa berinvestasi bertahap, namun rutin dilakukan.

Baca juga: Takut Kekayaan Tergerus Waktu? Ini 4 Diversifikasi Portofolio yang Paling Cocok Untukmu!

Bagaimana Cara Mengalokasikan Aset?

Investasi punya banyak pasar yang bentuk dan nilainya berbeda-beda. Hanya saja, faktor ini nampaknya selalu luput dari perhatian investor pemula.

Layaknya sedang berada di pasar besar, investor pemula ini akan membeli aset apapun yang “terlihat” menjanjikan. Namun, hal ini bukanlah sikap yang bijak. Menaruh uang yang besar dan menggantungkan hidup pada satu aset adalah pertanda umum investor pemula terlihat grasak-grusuk dalam berinvestasi. Hasilnya, mereka selalu berujung sakit hati ketika nilai investasinya terjun bebas.

Tetapi, kadang investor pemula juga malah tak punya arah saat diminta untuk diversifikasi. Berikut adalah cara diversifikasi investasi mudah yang paling mudah dilakukan oleh pemula.

1. Diversifikasi Sesuai Risiko

Jika kamu mau berinvestasi di aset-aset berisiko tinggi, maka kamu perlu imbangi dengan diversifikasi dengan aset-aset berisiko rendah. Apalagi, jika kamu ingin berinvestasi dalam jangka panjang.

Proporsi diversifikasi masing-masing aset pun tergantung profil risiko kamu. Kalau kamu cukup optimistis berinvestasi di aset berisiko tinggi, maka perbanyaklah asetmu di situ. Begitu pun sebaliknya. Namun, kalau kamu belum tahu profil risikomu, ada baiknya kamu membaca artikel ini.

2. Memperluas Variasi dalam Satu Kelas Aset

Strategi diversifikasi juga berpegang pada keyakinan memperluas jenis aset dalam masing-masing kelasnya.

Misalnya jika kamu memilih fokus pada investasi saham, maka kembangkankan dalam berbagai sektor seperti keuangan, industri makanan, pertambangan dan sebagainya. Begitu pun dengan aset kripto, kamu bisa menempatkan dana di Ethereum atau Bitcoin sekaligus.

Pada intinya, keseimbangan adalah hal penting dalam berbagai aspek, termasuk berinvestasi.

Baca juga: Ini Alasan Terapkan Diversifikasi Portofolio Meski Terjadi Bull Market

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Robinhood, BinanceAcademy



Sumber : pluang.com

Cara Berinvestasi Reksadana Efektif di Aplikasi Pluang

Aplikasi Pluang memungkinkan kamu untuk mendapatkan eksposur terhadap berbagai jenis kelas aset (emas, instrumen pendapatan tetap, instrumen pasar uang, pasar modal, dan aset kripto) secara praktis, murah, dan efektif.

Langkah pertama: Tentukan target untuk alokasi aset. Berdasarkan riset Pluang, portofolio investasi dengan profil risiko moderat dapat terlihat seperti ini:

Langkah kedua: Tentukan kelas aset mana saja yang ingin kamu kelola secara langsung. Misalnya, aset-aset yang ingin kamu pilih dan kelola secara aktif versus aset-aset mana saja yang ingin kamu serahkan ke manajer investasi.

Langkah ketiga: Gunakan produk reksadana di Pluang untuk mendapatkan eksposur ke instrumen pendapatan tetap dan saham domestik, seperti yang diperlihatkan di gambar berikut.

 

Ketika kamu berinvestasi di instrumen pendapatan tetap, maka kamu harus menentukan tingkat risiko yang siap diterima. Kamu bisa memilih reksadana pendapatan tetap dari Pluang dan PT UOB Asset Management, UOB Dana Membangun Negeri (UDARI), jika lebih menyukai reksadana berisiko rendah karena reksadana ini mengalokasikan dana dalam obligasi milik BUMN.

Namun, jika kamu tetap nyaman dengan resiko yang lebih tinggi , maka kamu bisa memilih reksadana yang memiliki penempatan dana lebih banyak dalam instrumen utang korporasi berimbal hasil tinggi. Contohnya adalah Pinnacle Indonesia Bond Fund. 

Di sisi lain, kamu juga bisa memilih reksadana saham yang cocok dengan tujuan serta gaya berinvestasimu. Di Pluang, kamu bisa memilih dua produk reksadana saham unggulan, yakni Batavia Dana Saham dan Batavia Dana Saham Syariah.

Sekarang kamu telah memiliki eksposur dalam saham Indonesia dan pendapatan tetap namun kamu bisa lebih santai karena aset ini dalam pengelolaan Manajer Investasi. Ini akan memberikan kamu lebih banyak waktu untuk memperhatikan investasi di kelas aset yang kamu kelola secara “aktif”, seperti aset kripto dan saham-saham global.



Sumber : pluang.com

Apakah Keterkaitan Harga Emas dan Minyak Dunia Hanya Mitos Belaka?

Semua investor sepakat bahwa tahun lalu merupakan periode gemilang bagi harga emas. Logam mulia mencetak rekor tertingginya pada Agustus di level US$2.000 per ons, meski kemudian melandai lagi menjelang akhir tahun.

Namun, apakah Sobat Cuan sadar bahwa harga emas pernah terkoreksi ketika pandemi COVID-19 mulai “beringas” di awal April tahun lalu? Dan hal tersebut ditengarai memiliki hubungan dengan harga minyak?

Pada April tahun lalu, harga minyak mentah Brent pernah anjlok 25% dan membuat harganya menjadi minus US$40. Di saat yang sama, harga emas di pasar COMEX anjlok US$23,4 menjadi US$1.687,8 per ons.

Turunnya harga emas yang dibarengi dengan anjloknya harga minyak mentah akhirnya bikin banyak pihak penasaran. Apakah memang ada hubungan antara harga emas dan harga minyak?

Baca juga: Perbedaan Trading dan Investasi Emas

Hubungan Harga Emas dan Harga Minyak Memang “Terjadi”

Menurut beberapa analis, hubungan antara harga emas dan harga minyak memang nyata adanya. Namun, keduanya saling terkait melalui “cinta segitiga” dengan nilai dolar AS.

Sobat Cuan mungkin paham bahwa transaksi emas dan minyak mayoritas menggunakan denominasi dolar AS. Sehingga, harga emas dan minyak akan menjadi relatif lebih murah jika nilai tukar dolar AS melandai. Akhirnya, permintaan emas dan minyak pun akan naik, dan pada akhirnya mengerek harga dua komoditas tersebut.

Begitu pun sebaliknya. Investor menganggap bahwa mereka harus mengeluarkan uang lebih mahal untuk beli emas atau minyak ketika nilai dolar AS sedang ngamuk. Alhasil, harga dua komoditas tersebut harus melorot.

Pada intinya, harga emas dan harga minyak memang bergerak secara tandem, tapi tidak berhubungan langsung satu sama lain.

Meski demikian, hubungan antara harga emas dan harga minyak ternyata lebih rumit lagi. Ada kalanya harga emas berinteraksi dengan harga minyak, namun dalam sebuah “hubungan tanpa status”. Seperti apa hubungan tersebut?

Baca juga: Harga Emas Hari Ini Masih Dibayangi Pergerakan Obligasi AS

Menyelami Lebih Dalam Hubungan Harga Emas dan Harga Minyak

Kita bisa memulai mendalami hubungan harga emas dan harga minyak dengan mengenali karakter masing-masing komoditas.

Dalam hal ini, emas merupakan aset safe haven. Investor biasanya memborong emas untuk melindungi nilai kekayaannya saat tingkat inflasi sedang merajalela.

Di sisi lain, minyak merupakan komoditas “berisiko”, di mana harganya terjadi karena mekanisme permintaan dan penawaran. Karena minyak merupakan hal esensial bagi perekonomian, tak heran jika naik turunnya harga minyak bisa mempengaruhi tingkat inflasi.

Lantas, apakah ada benang merah dari karakteristik keduanya? Benar, keduanya saling berkaitan dengan inflasi.

Di satu sisi, perubahan harga minyak bisa membuat investor membaca ekspektasi inflasi ke depan. Sementara, harga emas merupakan cerminan dari reaksi investor saat tingkat inflasi membandel.

Hubungan harga minyak, harga emas, dan inflasi ini kerap dimuat dalam beberapa jurnal ekonomi. Salah satunya adalah jurnal bertajuk “Short-term and long-term relationships between gold prices and precious metal” yang ditulis oleh Universitas Abant Izzel Baysat di Turki pada 2017 silam.

Menurut jurnal tersebut, ketika harga minyak meningkat, maka hal itu akan berdampak pada inflasi. Dan pada saat tingkat inflasi meroket, para investor akan segera melindungi kekayaannya dengan menggenggam emas.

Dalam skenario terburuk, jika lonjakan harga minyak terjadi secara dramatis dan juga konsisten, maka pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat. Di sini, gaya magnet emas akan berperan. Dalam kondisi seperti itu, emas akan menjadi buruan bagi banyak orang untuk menyimpan dan mengembangkan dananya.

Baca juga: Konflik Politik Libya Kembali Memanas, Harga Emas Menguat 0,35%

Apakah Harga Emas dan Harga Minyak Selalu Berhubungan Baik?

Seperti yang dijelaskan di atas, harga emas dan harga minyak selalu bergerak secara tandem. Hal tersebut ditunjukkan pada grafik di bawah ini, yakni perbandingan antara harga emas di pasar spot (candlesticks) dengan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS (garis oranye).

Sumber: tradingview

Namun, Sobat Cuan juga bisa melihat dari grafik di atas, bahwa harga emas tidak selalu bergerak mengikuti harga minyak. Menurut Market Realist, hubungan harga emas dan harga minyak selalu sesuai 60% secara historis.

Hal tersebut juga diungkapkan Morgan Stanley. Perusahaan itu mengatakan bahwa keduanya memang memiliki korelasi positif. Namun, memang tidak ada pengaruh langsung antara satu dengan lainnya.

Baca juga: Apa Pengaruh Pelemahan Ekonomi Global dengan Turunnya Harga Minyak Dunia?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Media Indonesia, Marketrealist, USmoneyreserve



Sumber : pluang.com

Risiko Reksadana Pendapatan Tetap dan Pasar Uang

Produk di pasar uang dan pendapatan tetap adalah bentuk dari instrumen utang. Keduanya merupakan bentuk janji peminjam untuk melunasi bunga pinjaman dan pokok hutang kepada sang pemberi pinjaman.

Meski berkarakteristik serupa, namun reksadana pasar uang dan pendapatan tetap memiliki satu perbedaan mendasar. Yakni, tenor atau jangka waktu jatuh tempo instrumen utang yang digunakan sebagai aset dasarnya (underlying asset).

Di dalam reksadana pasar uang, manajer investasi mengalokasikan dana di instrumen utang dengan masa tenggat di bawah satu tahun. Sedangkan di reksadana pendapatan tetap, manajer investasi akan menempatkan dana di instrumen obligasi yang jatuh tempo setelah 1, 3, 5, 7, 10, dan 20 tahun kemudian.

Karena memiliki tenggat waktu yang lebih lama, maka obligasi atau instrumen pendapatan tetap memiliki risiko lebih tinggi dibanding instrumen jangka pendek yang di pasar uang. 

Berikut ini adalah beberapa risiko yang terkait dengan investasi di instrumen utang.

Risiko Investasi Instrumen Utang

1. Risiko Kredit atau Risiko Gagal Bayar

Ketika berinvestasi di instrumen pendapatan tetap atau obligasi, investor akan memperoleh pembayaran bunga yang tetap secara rutin sampai waktu jatuh tempo. Pada saat jatuh tempo, sang investor akan kembali dibayarkan pokok investasinya.

Tetapi terdapat resiko bahwa si penerbit obligasi tidak selalu patuh terhadap jadwal pembayaran bunga ataupun pokok pinjaman. Bahkan bisa jadi sang penerbit surat utang tidak sanggup membayar bunga dan pokok pinjamannya sama sekali. Hal inilah yang kemudian disebut sebagai risiko gagal bayar.  

Investor bisa menaksir kemungkinan gagal bayar dari sebuah obligasi dengan melihat peringkat utang sang obligor. Laporan peringkat utang korporasi diterbitkan setiap bulan atau triwulan oleh suatu lembaga pemeringkat utang seperti Standard & Poor dan Moody’s. Lembaga ini memberikan penilaian mereka akan kemampuan suatu perusahaan untuk membayar suatu jenis obligasi yang mereka terbitkan. Semakin baik peringkatnya, maka semakin kecil pula risiko gagal bayar yang dihadapi investor.

2. Risiko Suku Bunga

Risiko suku bunga adalah kemungkinan kerugian investasi yang disebabkan oleh perubahan tingkat suku bunga, misalnya tingkat suku bunga acuan di pasar atau suku bunga acuan resmi seperti Bank Indonesia 7-Day Reverse Repo Rate. Risiko ini timbul lantaran tingkat suku bunga memiliki hubungan terbalik dengan harga obligasi.  

Jika tingkat suku bunga di pasar menanjak, maka tingkat imbal hasil suatu obligasi akan menjadi kurang menarik. Ini memicu investor yang memilikinya untuk menjual obligasi tersebut yang mengakibatkan harganya turun. 

Penurunan harga akan terus terjadi sampai harganya dirasakan cukup rendah bagi investor lain yang bersedia masuk untuk menampung penjualan tersebut. Investor baru ini menganggap di tingkat harga baru yang lebih murah ini, obligasi dan kupon bunganya tersebut sekarang telah menghasilkan tingkat imbal hasil yang kembali menarik dan telah menyesuaikan dengan penanjakan suku bunga di pasar.

3. Risiko Durasi

Durasi kerap dikaitkan dengan kepekaan atau sensitivitas harga obligasi terhadap setiap 1% perubahan suku bunga acuan. Sehingga, durasi bisa dikatakan sebagai bagian dari risiko suku bunga acuan.

Dengan asumsi tidak ada perubahan faktor lainnya, maka semakin panjang waktu jatuh tempo obligasi, semakin tinggi pula risiko durasi obligasi tersebut. Artinya, instrumen surat utang tersebut akan lebih peka terhadap perubahan suku bunga acuan dibanding instrumen surat utang bertenor pendek.

Hal ini bisa kita mengerti secara naluriah. Jika suku bunga acuan meningkat, maka harga suatu obligasi yang masih berkewajiban membayar bunga selama 10 tahun lagi akan melihat harga obligasi itu turun lebih besar dibandingkan obligasi lain yang sebentar lagi akan membayar bunga terakhirnya dan akan jatuh tempo dalam waktu dekat.

4. Risiko Likuiditas

Likuiditas merujuk pada kemampuan sebuah aset untuk cepat dicairkan menjadi uang tunai. Untuk mencairkan instrumen sekuritas yang kurang likuid, investor biasanya harus menjual instrumen tersebut pada harga yang lebih rendah dibandingkan nilai seharusnya.

Obligasi adalah aset yang diterbitkan dengan denominasi tinggi di mana hanya investor bermodal besar seperti investor institusi yang mampu membelinya. Kebanyakan investor ini lebih senang menggenggamnya hingga jatuh tempo (maturity). 

Namun, jika investor ingin menjualnya, ia harus menemukan pembeli yang juga bermodal besar yang menyukai jenis obligasi tersebut dari segi resiko, jangka waktu, dan aspek lainnya. Sehingga apabila sang penjual terdesak waktu dan terpaksa cepat menjual obligasinya, ada resiko bahwa ia harus menerima harga yang lebih rendah dibandingkan nilai seharusnya dari obligasi tersebut.

5. Risiko Reinvestasi

Risiko ini merujuk pada kondisi di mana investor tidak bisa menggunakan pendapatan kupon obligasi untuk diinvestasikan lagi di instrumen yang memberikan imbal hasil yang sama (atau secara ideal, pada tingkat yang lebih tinggi). 

Memang seperti kita lihat di penjelasan risiko suku bunga sebelumnya, penurunan suku bunga seharusnya bisa meningkatkan harga obligasi. 

Namun penurunan suku bunga acuan juga akan melemahkan efek majemuk (compounding) dari investasi yang dijalankan, karena dana dari kupon yang diterima dari obligasi tersebut sekarang hanya dapat diinvestasikan pada tingkat suku bunga yang lebih rendah. 

Tingkat Risiko Reksadana Instrumen Utang dibandingkan Tingkat Pengembaliannya

Kita sudah mengenal lima risiko instrumen utang: risiko kredit, risiko suku bunga, risiko durasi, risiko likuiditas, risiko reinvestasi. Namun risiko apakah yang dianggap punya tingkat “bahaya” lebih tinggi? Sobat Cuan bisa mengetahuinya melalui grafik di bawah ini.

Sumber: PIMCO

Gambar di atas menunjukkan bahwa risiko gagal bayar (default risk) adalah risiko dengan kadar “ancaman” tinggi sedangkan risiko suku bunga (interest rate risk) bisa dianggap “lebih lunak”.  Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, risiko durasi adalah bagian dari risiko suku bunga yaitu risiko yang ditanggung investor saat menggenggam aset-aset berpendapatan tetap yang berjangka panjang.

Sekarang mari kita bandingkan tingkat imbal hasil aset berisiko rendah (investasi pasar uang jangka pendek) dengan tingkat imbal hasil aset berisiko tinggi seperti obligasi korporat dengan imbal hasil tinggi (high yield corporate debt). Obligasi yang terakhir ini biasanya disebut sebagai junk bonds atau “obligasi rongsokan”. 

Potensi laba dari sebuah instrumen akan semakin tinggi seiring kenaikan risikonya. Namun ini bukan suatu hal yang 100% pasti.

Dapatkan Eksposur yang Tepat ke Pasar Uang dan Pendapatan Tetap di Pluang

Pada umumnya, investor individu yang tidak memiliki dana mencapai US$10 juta (atau sekitar Rp140 miliar) tidak memiliki cukup modal atau pintu untuk berinvestasi di pasar obligasi secara langsung dan mereka juga kesulitan untuk mendulang untung maksimal dari instrumen pasar uang. Untungnya, Pluang sekarang telah membuka jalan sehingga semakin banyak investor individu mampu berinvestasi di keduanya!

Pluang bermitra dengan PT UOB Asset Management (UOBAM) dalam menawarkan dua produk reksadana yang fokus ke instrumen utang. Dua reksadana ini bertujuan membantu investor dalam mendapatkan eksposur langsung terhadap kelas aset “instrumen pasar uang” dan “instrumen pendapatan tetap”.

Dua produk reksadana yang dikembangkan Pluang dan UOBAM terdiri dari:

  1. UOB Dana Rupiah (UDARU): Kelolaan dana akan ditempatkan di instrumen utang jangka pendek dengan potensi imbal hasil antara 3% hingga 5% per tahun.
  2. UOB Dana Membangun Negeri (UDARI): Kelolaan dana akan ditempatkan di obligasi pemerintah dan obligasi terbitan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Mengingat obligasi tersebut bertenor panjang dan memiliki risiko durasi yang lebih besar dari pasar uang, maka reksadana ini bertujuan untuk mencapai imbal hasil 6% hingga 12% per tahun.

Pluang menjalin kerja sama yang erat dengan tim dari UOBAM untuk mengurangi resiko sampai serendah mungkin sehingga mampu meningkatkan tingkat imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko (risk-adjusted return) di kedua produk reksadana tersebut. 

Pluang dan UOBAM berupaya mencegah terjadinya risiko kredit dengan menempatkan dana investor hanya di deposito perbankan, obligasi pemerintah, dan surat utang BUMN dengan kinerja mumpuni, sehingga produk ini akan memiliki risiko relatif lebih rendah dibandingkan dengan imbal hasilnya.

Reksadana lainnya yang memiliki fokus di obligasi pemerintah adalah Pinnacle Indonesia Bond Fund dan Batavia Dana Obligasi Ultima. 

Apabila kamu ingin memiliki alokasi yang lebih besar dalam obligasi korporasi yang punya risiko dan imbal hasil yang lebih tinggi, maka kamu bisa berinvestasi BNI-AM Dana Pendapatan Tetap Makara (dengan penekanan pada utang jangka pendek perusahaan) atau Syailendra Pendapatan Tetap Premium (alokasi dana hingga 20% di instrumen saham). Semua produk ini bisa kamu peroleh di Pluang!



Sumber : pluang.com

Portofolio Aset Kripto Ambyar? Simak 10 Strategi Sikapi Anjloknya Kripto!

Baik menjadi trader jangka pendek atau investor jangka panjang, terkadang Sobat Cuan pasti mengalami situasi ambyar, dimana portofolio kripto di zona merah. Hal itu bisa berasal dari satu atau lebih aset yang turun nilainya. Nah, simak berbagai strategi investasi kripto ini untuk meminimalisir kerugianmu.

Situasi pasar yang lesu atau bearish bisa bikin Sobat Cuan frustasi karena merugi. Hal itu berujung pada pengambilan keputusan secara emosional, daripada menjalankan strategi yang dipikirkan dengan matang.

Sepuluh strategi investasi kripto berikut dapat membantu Sobat Cuan melakukan manuver untuk keluar dari situasi yang bikin kamu rugi dan frustasi.

1. Tunggu dan Perhatikan

Dalam banyak kasus, kesabaran adalah hal yang berujung baik. Jika kamu masuk ke situasi yang buruk, bahkan setelah melakukan analisis menyeluruh dari semua poin, kemungkinan penurunan saat ini di pasar bersifat sementara.

Tapi jika mau menunggu, kamu mungkin menemukan momen pertumbuhan portofolio lagi. Bahkan, pasar yang paling lesu pun bisa bangkit kembali jika kamu mau menunggu cukup lama.

Pasar cryptocurrency relatif baru dan biasanya tidak mengikuti sentimen pasar lain seperti pasar saham. Namun, karena sebagian besar investor mengkategorikan kripto sebagai aset capital gain seperti halnya saham, pasar kripto mungkin mengikuti psikologi pasar yang mirip dengan aset sejenis lainnya.

Tentu saja, menunggu dalam waktu lama mungkin tidak cocok untuk semua trader dan investor. Namun, hal itu bergantung pada posisi dan tujuan finansialmu, Sobat Cuan.

Jika kamu memiliki rencana sepuluh tahun lagi untuk mencapai tujuan finansial, seperti membeli rumah, maka tidak perlu khawatir tentang naik turunnya kondisi pasar kripto.

Baca juga: Apa Saja Sih Momen FUD Terbesar di Aset Kripto? Yuk, Simak di Sini!

2. Evaluasi Kembali Risiko Kamu

Mengukur toleransi risiko adalah langkah pertama yang perlu kamu lakukan saat mulai berinvestasi di segala aset. Namun seiring berjalannya hidup, keadaan berubah dengan cara yang dapat mempengaruhi toleransi risiko kamu.

Waktu pelemahan dalam portofolio mungkin adalah saat yang tepat untuk menilai kembali toleransi risiko kamu. Tujuannya, untuk mengidentifikasi hal terbaik yang harus dilakukan selanjutnya.

Misalnya, jika kamu sekarang memiliki toleransi risiko yang lebih tinggi daripada saat pertama kali berinvestasi, maka kamu dapat mempertimbangkan untuk menyerok aset yang melemah tersebut.

Namun, jika situasi keuangan telah mempengaruhi toleransi risiko secara negatif dan kamu tidak punya banyak waktu, maka kamu bisa mengurangi kerugian dengan melepasnya.

Intinya, bagaimanapun, jangan pernah membuat keputusan gegabah hanya berdasarkan emosi dan perasaan bahwa toleransi risiko kamu tinggi atau rendah. Dengan menghitung toleransi dengan hati-hati, kamu mungkin mendapatkan kejutan yang sebaliknya.

Baca juga: Mengapa Hanya Ada 21 Juta Bitcoin di Dunia Ini?

3. Strategi Investasi Kripto: Lihat Gambar Besarnya

Harga aset kripto boleh saja jungkat-jungkit. Tapi, tentu kamu juga bisa mengevaluasi gambaran yang lebih besar dari sisi teknikal dan fundamental investasi.

Dari sisi teknikal, kamu bisa mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang kemana arah pasar dengan mengalihkan fokus ke kerangka waktu jangka panjang.

Misalnya, pasar mungkin berada dalam tren naik jangka panjang, di mana harga telah naik cukup lama. Dalam hal ini, penurunan harga saat ini mungkin merupakan koreksi yang sehat, yang bahkan bisa menjadi poin yang bagus untuk membeli lebih banyak aset kripto kamu.

Sementara dari sisi fundamental, kamu perlu kembali ke alasan dasar memilih untuk berinvestasi dalam aset kripto tertentu. Hal-hal seperti latar belakang, pengelolaan dan komunitas, teknologi, dan segala sesuatu yang dapat berkontribusi pada pertumbuhan jangka panjang dari penilaian aset kripto.

Salah satu contoh fundamental bisa kamu temukan di suplai Bitcoin. Kita semua tahu bahwa suplai Bitcoin hanya ada 21 juta keping di dunia ini sesuai artikel berikut. Sesuai permintaan dan penawaran, maka menipisnya suplai di masa depan harusnya jadi pertimbangan kamu dalam berinvestasi.

4. Riset Mengapa Harga Melemah

Saat mengevaluasi gambaran besarnya, kamu mungkin menemukan bahwa ada masalah mendasar yang mendorong devaluasi aset kripto. Misalnya, mungkin cryptocurrency tidak lagi didukung oleh perusahaan keuangan raksasa, terlibat dalam penipuan, atau kehabisan uang sehingga tidak dapat meng-upgrade teknologinya.

Kamu bisa ‘googling’ untuk melihat detail fundamental dari aset kripto tertentu. Cukup telusuri secara daring dan lihat hasil penelusuran terbaru di bawah kategori ‘Berita’. Jika fundamental berubah menjadi lebih buruk dan menjadi alasan mengapa nilainya turun, evaluasi kembali posisimu dan bersiaplah memangkas kerugian.

Baca juga: Kapan Waktu Terbaik Transaksi Ethereum? Yuk Simak di Sini!

5. Pertimbangkan Lindung Nilai (Hedging)

Hedging atau lindung nilai adalah praktik investasi umum untuk mengelola risiko. Dengan lindung nilai, pada dasarnya kamu melawan posisi atau industri saat ini untuk mengimbangi risiko yang ditimbulkannya.

Misalnya, jika kamu membeli Bitcoin versus cryptocurrency lain seperti Ethereum dan harga Bitcoin turun, kamu dapat mempertimbangkan untuk menjual Bitcoin dalam perdagangan yang berbeda untuk memanfaatkan tren penurunan saat itu.

Posisi lindung nilai sangat berguna ketika kamu memperdagangkan aset kripto di platform yang memungkinkan penjualan singkat.

6. Strategi Investasi Kripto: Diversifikasi di Aset Serupa

Menambahkan aset kripto lain yang terkena jenis risiko berbeda dari asetmu yang melemah adalah bentuk lindung nilai lain yang dapat membantu menyeimbangkan portofolio.

Mengidentifikasi cryptocurrency semacam itu bisa sangat sulit, karena setidaknya sebagian besar aset kripto terkena jenis risiko yang serupa.

7. Diversifikasi Antar Aset

Sampai nanti investasi aset kripto menjadi arus utama, strategi ini dinilai paling membantu. Contohnya, analisismu menunjukkan periode melemah yang lebih lama di pasar cryptocurrency, sementara instrumen keuangan lain seperti obligasi menguntungkan. Nah, kamu dapat mempertimbangkan untuk melakukan diversifikasi dari aset kripto untuk mendistribusikan risiko.

8. Tukarkan Aset Kripto

Kamu mungkin menyadari bahwa kripto tertentu tidak layak untuk dipertahankan. Di pasar saham, kamu tidak punya pilihan selain merugi. Namun di dunia kripto kamu mungkin memiliki opsi untuk bertukar dengan mata uang kripto yang berbeda dan lebih baik.

Misalnya, kamu membeli sekumpulan kripto dengan harga tinggi, tetapi nilainya telah anjlok tanpa tanda-tanda pemulihan. Pada saat yang sama, kamu mendengar tentang cryptocurrency baru yang murah dengan masa depan yang cerah.

Kamu mungkin tidak dapat membeli 1.000 kripto baru dengan tokenmu yang telah anjlok. Namun, kamu masih bisa mendapatkan keuntungan dari mengurangi kerugian lebih awal dan menukar dengan kripto yang lebih baik.

Baca juga: Bitcoin Lagi Bearish? Simak Cara Mengenali Sinyalnya dan Bertahan Agar Cuan!

9. Strategi Investasi Kripto: Menambah Posisi

Seorang investor yang pintar menambah posisi kerugian mereka, seperti membeli lebih banyak saham yang jatuh dengan harga lebih murah, ketika pasar turun. Tapi tentu saja, mereka melakukannya hanya untuk aset yang memiliki fundamental kuat dan berada di tengah pelemahan sementara yang sehat.

Strategi ini bisa juga dilakukan untuk aset kripto. Sebelum kamu menjadi terlalu bersemangat, perlu diingat bahwa pasar cryptocurrency mungkin bertindak berbeda dari pasar saham dan mungkin tidak dapat diprediksi dan bergejolak di tahun-tahun mendatang. Itulah mengapa kamu harus memastikan dapat menanggung kerugian prospektif yang lebih besar untuk jangka waktu tertentu sampai pasar kembali ke jalurnya.

Hindari menggunakan margin dan meminjam uang dari broker saat menambah posisi kerugian. Soalnya, pendekatan tersebut malah meningkatkan risiko investasi, Sobat Cuan.

Dengan menambah posisi kerugian, kamu dapat menurunkan harga hold rata-rata dan karenanya mendapat untung lebih banyak ketika harga akhirnya naik kembali.

10. Pertimbangkan Pemangkasan Kerugian (Cut Loss)

Terkadang kamu tidak memiliki pilihan lain karena berbagai alasan, termasuk toleransi risiko pribadi dan kondisi pasar. Dalam hal ini, kamu mungkin ingin mempertimbangkan untuk keluar dari posisi rugi, berhenti, dan berfokus pada aset lain.

Ingat, trader jangka pendek lebih cenderung menggunakan stop-loss. Sementara investor jangka panjang biasanya telah membuat perhitungan manajemen risiko sebelumnya, memastikan mereka memiliki cukup waktu untuk menunggu pelemahan.

Baca juga: Aturan Pajak Cryptocurrency Bisa Bikin BTC & ETH Makin Anjlok? Simak di Sini!

Menggunakan stop-loss dapat menjadi sangat bermanfaat jika kamu berinvestasi dalam aset yang ternyata tidak bonafide. Kamu juga bisa mengetahui kesalahan sesudahnya, karena memungkinkan untuk membatasi kerugian sebelum nilai aset turun menjadi nol.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Botsfolio



Sumber : pluang.com

Yuk, Pahami Pola dan Tren Harga Aset Melalui Analisis Teknikal di Sini!

Seorang investor tentu menginginkan cuan maksimal dalam berinvestasi, apapun jenis asetnya. Maka dari itu, ia harus bisa membaca tren harga aset tersebut di masa depan agar segala keputusan yang diambil bisa tepat dan cermat.

Nah, investor bisa menerka-nerka tren tersebut melalui sebuah metode yang disebut analisis teknikal. Hasil dari analisis teknikal bisa menjadi petunjuk bagi investor untuk menerka tren harga di masa depan berdasarkan data-data yang terjadi saat ini.

Mengapa bisa demikian? Para analis berpendapat bahwa reaksi investor, baik dalam bentuk aksi jual atau beli, terhadap setiap hal yang terjadi di pasar akan terefleksi dalam tren harganya. Mereka percaya bahwa tren ini pun bisa kembali terulang di masa depan, baik dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Baca juga: Meski Naik Turun, Sampai Kapan Tren Harga Bitcoin yang Bullish Akan Berakhir?

Memahami Pengertian Analisis Tren Harga

Sebuah tren adalah pandangan umum tentang pergerakan harga di pasar dalam rentang waktu tertentu. Sebenarnya, tidak ada rentang periode yang saklek dalam menganalisis tren harga sebuah aset. Namun, semakin panjang rentang waktu tren harga, maka hasil analisis yang dihasilkan bisa lebih presisi.

Tren harga bisa mengarah ke atas (upward) atau ke bawah (downward) sesuai dengan pola bullish atau bearish di pasar. Adapun penjelasan tentang pola bullish dan bearish bisa dibaca di artikel ini. Namun, terdapat pula pola lain yang disebut pola menyamping (sideways), seperti yang terlihat pada grafik di bawah ini.

Stock trends: up, down, sideways
sumber: tdameritrade.com

Kemudian, perlu dipahami bahwa analisis tren harga bukan hanya menyoal prediksi harga sebuah aset di masa depan. Investor bisa menggunakan analisis ini untuk menentukan apakah tren harga aset saat ini bisa berlanjut dalam waktu lama. Investor pun bisa memanfaatkan metode ini untuk melihat korelasi tren satu harga aset dengan harga aset lainnya.

Hanya saja, hasil analisis tren ini tidak 100% akurat meskipun menggunakan data-data yang bejibun. Hal ini cukup lumrah, mengingat tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa memprediksi masa depan secara detail.

Cara Membaca Analisis Tren Harga

Untuk membaca analisis tren harga, investor perlu fokus pada jenis aset yang akan dianalisis lebih dalam. Sebagai contoh, seorang investor bisa memutuskan untuk mendalami tren harga Bitcoin. Atau, bisa saja aset yang berbeda seperti harga emas.

Setelah memilih jenis aset yang akan dianalisis, investor kemudian bisa memeriksa kinerjanya secara umum. Kegiatan ini termasuk menilai faktor internal dan eksternal yang bisa mempengaruhi harga aset tersebut. Misalnya, kebijakan pemerintah atau krisis ekonomi.

Setelah mempelajari hal tersebut, investor kemudian perlu menentukan rentang waktu tren yang akan digunakan. Biasanya, investor pemula bisa memulai melihat tren harga dengan melihat grafik harga mingguan (weekly chart).

Para analis berpendapat bahwa grafik harga ini sudah memberikan informasi yang cukup bagi investor untuk menentukan keputusan investasi. Selain itu, investor juga tidak akan terpengaruh dengan pergerakan harga-harga secara acak, yang biasanya terjadi dalam jangka pendek, di grafik harga mingguan.

Investor kemudian bisa menghimpun informasi-informasi tersebut dan kemudian membaca pergerakan arah harganya ke depan. Dalam melakukan hal itu, investor bisa melakukan strategi-strategi di bawah ini.

Baca juga: Apa Saja Indikator Analisis Teknikal yang Penting di Aset Kripto? Simak di Sini!

1. Strategi Moving Average

Investor bisa mulai membaca tren harga dengan memanfaatkan indikator Moving Average (MA). Sesuai namanya, MA adalah indikator di analisis teknikal yang menggambarkan data harga aset secara historis dalam satu jangka waktu tertentu. Penjelasan lanjut mengenai MA bisa dibaca di artikel ini.

Bagaimana cara memanfaatkan MA untuk menentukan keputusan investasi? Nah, dalam hal ini, investor hanya tinggal membandingkan MA yang memiliki rentang jangka pendek dengan MA yang memiliki rentang jangka panjang.

Sumber: Trading View

Contohnya bisa terlihat dari grafik mingguan harga Ether (ETH) terhadap USDT sejak Oktober 2020 hingga Mei 2021. Garis hijau menggambarkan Moving Average dalam 50 hari, sementara garis biru menggambarkan Moving Average dalam waktu 20 hari.

Analis mengatakan bahwa investor bisa memasuki posisi long (membeli harga aset) jika Moving Average jangka pendek melintang di atas Moving Average jangka panjang. Investor bisa bersikap sebaliknya jika Moving Average jangka pendek melintang di bawah garis jangka panjangnya.

Pada grafik di atas, garis biru (MA 20 hari) melintang di atas garis hijau (MA 50 hari), menunjukkan bahwa investor bisa memanfaatkan saat ini untuk melakukan posisi long.

2. Indikator Momentum

Strategi ini menunjukkan bahwa investor bisa memasuki posisi long jika harga sebuah aset mengalami momentum yang kuat. Di sisi lain, investor bisa bersikap sebaliknya jika momentumnya sedang melemah.

Biasanya, investor menggunakan indikator Relative Strength Index (RSI) dalam menilai momentum masuk atau keluar pasar. Adapun penjelasan mengenai RSI bisa disimak pada artikel ini.

3. Garis Tren dan Pola Grafik

Pada strategi ini, investor bisa memasuki posisi long jika tren harga aset semakin tinggi dan menempatkan titik stop loss di bawah garis tren utama posisi support. Stop loss sendiri merupakan order yang dilakukan broker pada titik harga tertentu untuk mencegah investor dari kerugian.

Indikator-indikator di atas bisa mempermudah penjelasan mengenai informasi yang terjadi di pasar saat ini. Sekaligus, memberi sinyal-sinyal jikalau tren harga aset berbalik arah nantinya.

Untuk itu, investor disarankan untuk memadu padankan seluruh indikator di atas untuk mendapatkan gambaran mengenai pasar yang akurat. Sehingga, mereka bisa melakukan keputusan investasi yang juga tepat.

Kritik Terhadap Analisis Tren Harga

Meski membantu investor menentukan keputusan investasi, analisis tersebut nyatanya tak luput dari hujan kritikan.

Salah satu kritikan yang tajam adalah anggapan bahwa “sejarah tak terulang lagi di masa depan”. Mereka yang memiliki anggapan seperti demikian percaya bahwa pasar sudah efisien karena harga aset pasti akan selalu selaras (price in) dengan fundamentalnya.

Selain itu, anggapan bahwa “tren dan pola harga akan selalu berulang di kemudian hari” pun terbilang bias.

Investor bisa saja melihat peristiwa yang sudah diprediksi sebelumnya di masa depan melalui tren harga. Namun, mereka baru bisa melakukan itu jika peristiwa itu sudah terjadi di masa lampau. Lantas, bagaimana analisis memprediksi tren harga di luar faktor-faktor yang sudah terjadi di masa lalu?

Meski demikian, investor memang disarankan untuk melihat pola dan tren harga aset untuk memahami informasi-informasi aktual yang terjadi di pasar sebagai bekal keputusan berinvestasi.

Baca juga: Lagi Coba Main Saham? Ini 7 Indikator untuk Pahami Analisis Teknikal!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Investopedia, TDM Ameritrade



Sumber : pluang.com

7 Alasan Berinvestasi Reksadana

Apa saja keuntungan berinvestasi di reksa dana? Nah, Sobat Cuan bisa menemukan jawabannya di artikel ini. Baca sampai habis, ya.

1. Manajer Investasi yang Berpengalaman

Pengetahuan dan pengalaman sangat penting saat akan berinvestasi. Investor pemula yang masih belajar mungkin perlu jam terbang yang tinggi jika ingin mendulang cuan lebih besar.

Tak perlu khawatir jika kamu ingin berinvestasi di reksadana. Sebab, ada Manajer Investasi berpengalaman yang akan mengelola dana investasi kamu.

Manajer investasi memiliki tim riset dan data yang akan menunjang mereka dalam mengambil keputusan investasi. Tentunya, keputusan yang akan mereka ambil tetap dalam koridor yang disepakati denganmu saat membeli produk reksadana tersebut.

Sobat Cuan perlu ingat bahwa manajer investasi sangat berperan penting agar kamu bisa mendulang cuan reksadana. Sebab itu, teliti dulu track record MI sebelum memutuskan membeli suatu produk reksadana, ya!

2. Mendapatkan Eksposur Diversifikasi Aset

Dalam mengelola dana investor melalui produk reksadana, manajer investasi biasanya akan mengalokasikannya ke lebih dari satu jenis instrumen investasi. Sebagai contoh, di dalam reksadana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), manajer investasi akan menempatkan dana masyarakat di 30 saham milik perusahaan lintas sektor.

Karakteristik reksadana tersebut akan bikin investor mendapat eksposur dari diversifikasi. Seperti yang sudah dijelaskan di serial Investing 101, diversifikasi memungkinkan investor untuk meraih imbal hasil tinggi per unit risikonya. Dalam hal ini, investor bisa menggunakan reksadana sebagai cara murah untuk diversifikasi aset ketimbang berinvestasi di beragam aset secara terpisah. Sebab, manajer investasi akan lebih mudah melakukan diversifikasi menggunakan kumpulan uang yang banyak.

Diversifikasi akan membuka jalan bagimu untuk mendulang laba melalui berbagai cara. Misalnya, ketika kinerja satu perusahaan atu kelas aset tengah terpukul, maka kamu bisa menyeimbangkan kembali imbal hasilmu dan mengurangi risiko volatilitas harga dengan diversifikasi.

3. Produk Reksadana Punya Skala Ekonomis Tinggi

Reksadana memiliki skala yang lebih besar dibanding investasi ritel. Manajer investasi bisa menyebar biaya investasinya dengan menebar dana ke beberapa aset sekaligus. Manajer investasi juga bisa mendapatkan biaya riset yang murah dan eksekusi jual-beli aset yang lebih baik.

Sehingga, investasi reksadana biasanya memiliki ongkos rendah, karena rasio biaya per aset milik manajer investasi pasti lebih kecil dibanding rasio biaya per aset milik investor individu.

4. Likuiditas Tinggi – Khususnya Obligasi

Sebagian besar produk reksadana sangat likuid. Artinya, cukup mudah bagi Sobat Cuan untuk melakukan jual-beli unit yang dimiliki. Kemudahan ini menjadikan reksadana cocok dijadikan instrumen investasi sesuai tujuannya, baik jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang.

5. Modal Kecil (Mulai dari Rp10.000)

Ini adalah alasan investasi reksadana yang paling utama. Reksadana dijual dalam bentuk unit Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang harganya beragam. Jadi, dengan anggaran berapapun, kamu bisa tetap berinvestasi di produk ini.

Kamu juga bisa memilih untuk menginvestasikan danamu sekaligus atau dicicil sesuai dengan kemampuan. Sesuaikan dengan dompetmu ya, Sobat Cuan!

6. Membangun Kebiasaan Baik

Reksadana merupakan cara yang tercepat untuk melakukan diversifikasi dan bisa menjadi salah satu langkah awalmu untuk membangun portofolio dan membangun kebiasaan baik untuk berinvestasi. Perencanaan investasi yang baik seharusnya bisa membantumu mempersiapkan masa depan.

Terdapat dua cara umum dalam berinvestasi di reksa dana. Yang pertama adalah investasi lump sum, di mana sang investor menempatkan seluruh dananya sekaligus. Cara lainnya adalah dengan strategi Dollar Cost Averaging (DCA).

Kedua strategi di atas sama-sama bisa digunakan untuk memaksimalkan cuan di reksadana selama strategi tersebut sesuai dengan rencanamu. Hal ini tentunya harus dilakukan dengan perencanaan dan analisis yang mumpuni berdasarkan informasi produk reksadana yang akan dibeli.

7. Aman dan Dilindungi Regulasi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selalu melakukan pengawasan ketat terhadap manajer investasi yang mengelola tiap produk reksadana di Indonesia. Karenanya, kamu tidak perlu ragu akan tingkat keamanan produk yang ini.



Sumber : pluang.com

Bagaimana Cara Membaca Fund Fact Sheet?

Untuk menilai kinerja sebuah produk reksadana, seorang investor wajib memahami cara membaca dokumen yang dinamakan fund fact sheet. Dokumen ini berisikan informasi mulai dari fakta-fakta penting terkait kinerja sebuah produk reksadana hingga gaya pengelolaan dana yang dilakukan sang manajer investasi.

Apa Itu Fund Fact Sheet?

Secara garis besar, fund fact sheet adalah laporan yang diterbitkan manajer investasi terkait kinerja sebuah produk reksadana, informasi portofolio, dan jumlah dana kelolaannya (Asset Under Management). Seluruh informasi dalam laporan ini bisa membantumu dalam memilih produk reksadana yang tepat.

Informasi Penting dan Istilah Fund Fact Sheet

Hal pertama yang perlu kamu perhatikan ketika membuka fund fact sheet adalah kecocokan karakteristik produk reksadana tersebut dengan tujuan investasimu. Selain itu, kamu perlu memastikan bahwa risiko produk reksadana itu sesuai dengan profil risikomu. 

Misalkan saja apabila tujuan investasimu adalah untuk mengumpulkan pundi-pundi pensiun tapi di saat yang bersamaan kamu tidak mau khawatir bahwa nilainya akan terkikis. Kamu bisa menggunakan keterangan dalam fund fact sheet untuk mencari poin-poin yang penting apakah produk tersebut sesuai dengan niatmu ini. Kamu juga bisa mempertimbangkan keterangan Manajer Investasi mengenai mudahnya pencairan dan kinerja reksa dana ini supaya investasimu tepat sasaran. 

Secara lebih lengkap, berikut adalah informasi penting di dalam fund fact sheet yang perlu dipahami investor.

1. Nilai Aktiva Bersih (NAB)

NAB adalah jumlah total nilai investasi yang dikelola dalam satu produk reksa dana atau jumlah kekayaan bersih reksadana tersebut. NAB dihitung setiap hari atau setiap periode tertentu berdasarkan harga pasar atas aset-aset dalam portofolio reksadana setelah dikurangi dengan beban-beban seperti biaya pengelolaan, biaya kustodian, dan pajak.

2. Unit Penyertaan (UP)

Unit penyertaan adalah satuan kepemilikan dalam reksadana.

Nilai satu unit bisa diketahui dengan membagi angka NAB reksadana dengan total unit penyertaan produk reksa dana sehingga menghasilkan nilai NAB/UP. Nah, nilai NAB/UP tersebut adalah harga satu unit reksadana yang kamu genggam.

Perihal cuan dan rugimu dalam investasi reksadana dapat kamu hitung dari perubahan angka NAB/UP. Sehingga, kamu harus perhatikan indikator tersebut dengan seksama.

3. Kinerja Produk Reksadana

Kamu juga bisa melihat kinerja reksadana secara historis dalam fund fact sheet. Biasanya, manajer investasi menggunakan rentang periode 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, atau sepanjang tahun yang berjalan (year-to-date).

Memang, kinerja historis tidak selalu mencerminkan prospek sebuah produk reksadana. Tapi, kamu setidaknya bisa mengetahui kinerjanya dengan menyimak data historis tersebut.

4. Kinerja Pembanding

Agar kamu lebih mudah menilai kinerja sebuah produk reksadana, manajer investasi biasanya akan membandingkan performa produk reksadana tersebut dengan suatu tolok ukur atau produk sejenis lainnya di dalam fund fact sheet.

5. Alokasi Investasi dan Portofolio Pilihan Manajer Investasi

Manajer investasi juga membeberkan informasi tentang  alokasi dan proporsi pengelolaan dana menurut jenis instrumen dan efek.  Informasi ini merupakan keterangan paling penting di antara seluruh fakta-fakta yang ditampilkan di dalam fund fact sheet.

Kamu bisa mencocokkan informasi tersebut dengan tujuan investasimu sebelum memilih reksadana tersebut. Dengan mengetahui alokasi dan proporsi aset yang dimiliki reksadana tersebut, kamu bisa memperkirakan bagaimana sekiranya kinerjanya di masa depan dan di berbagai macam skenario perekonomian. Sekali lagi, pilihlah yang sesuai dengan tujuanmu, Sobat.

Risiko yang Ditampilkan di Dalam Fund Fact Sheet

Profil risiko keseluruhan reksa dana tersebut juga akan digambarkan di mana tingkat risiko tergantung dari jenis reksa dana tersebut. 

Namun secara umum, terdapat beberapa risiko yang terdapat di semua produk reksa dana.

Adapun risiko umum yang disebut di dalam fund fact sheet adalah:

  1. Penurunan nilai NAB/UP.
  2. Likuiditas.
  3. Perubahan alokasi efek dan nilai investasi.
  4. Faktor makroekonomi dan regulasi perpajakan.

Selain itu, menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 23 Tahun 2016 tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif, sebuah produk reksadana bisa dilikuidasi dan dibubarkan apabila dana kelolaan reksa dana tersebut kurang dari Rp10 miliar selama 120 hari kerja bursa berturut-turut. Likuidasi juga bisa dilakukan jika Manajer Investasi mangkir dari aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Cara Menghitung Harga per Unit Reksadana

Sebuah manajer investasi menghimpun dana dari investor untuk kemudian diinvestasikan ke beberapa aset, misalnya saham dan obligasi. Sebagai gantinya, mereka menerbitkan unit penyertaan reksadana yang mewakili kepentingan para investor.

Sebagai contoh, anggap reksadana ABC sudah mengumpulkan dana investor US$1 juta, menggunakannya untuk berinvestasi di kelas aset yang telah disepakati dalam kontrak dan menerbitkan 1.000 unit penyertaan.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, nilai dari sebuah unit reksadana bisa dihitung dengan membagi NAB produk reksadana (atau senilai US$1 juta) dengan jumlah unit penyertaannya (1.000 unit). Dalam hal ini, maka harga satu unit reksadana ABC adalah US$1.000.

Harga/Unit = Nilai Aktiva Bersih / Total Unit Penyertaan

= $1,000,000 / 1,000 Units

= $1,000 / unit

Cara Menghitung Imbal Hasil Reksadana

Untuk menghitung imbal hasil reksadana, kamu perlu menentukan harga beli rata-rata atau biaya rata-rata per satu unit produk reksadana tersebut.

Melanjutkan contoh di atas, anggap saja kamu membeli lima unit reksadana ABC dengan harga US$1.000 per unitnya. Ternyata, saat ini kinerja pasar modal sedang dahsyat, sehingga nilai NAB produk reksadana ABC melesat 50%.

Sehingga, total hasil yang kamu dapatkan dengan modal US$5.000 adalah:

           Hasil = (Harga per unit reksadana sekarang – rata-rata harga beli) * unit penyertaan 

= (US$1.500 -US$1.000) *5

= US$2.500

Kamu juga bisa menghitung tingkat imbal hasilmu dalam bentuk persentase sebagai berikut:

Tingkat Imbal Hasil = (Total Hasil / Total Investasi) * 100%

                                = US$2.500/ (5*US$1.000) * 100%

                                = (0,5) * 100%

                                = 50%

Kamu juga bisa menggunakan rumus yang sama untuk menghitung total imbal hasil dalam kasus-kasus yang lebih rumit, misalnya pembelian beberapa unit suatu reksadana di mana masing-masing unitnya punya harga berbeda. Menghitung biaya rata-rata per unit reksadana akan lebih mudah dilakukan dengan menggunakan spreadsheet seperti di Excel.



Sumber : pluang.com