Category Archives: Pluang

Kelas Aset yang Terdapat di Aplikasi Pluang

Aplikasi Pluang menyediakan akses investasi terhadap empat jenis kelas aset. Walaupun ada banyak kelas aset yang lain (misalnya properti), Pluang percaya bahwa empat jenis kelas aset yang terpilih secara cermat ini sudah memungkinkan Sobat Cuan untuk mencapai tujuan investasi. Kamu bisa menciptakan portofolio pilihan yang terdiversifikasi secara global yang berisi kombinasi aset-aset terbaik dari pasar Indonesia maupun pasar internasional.  

1. Saham dan Ekuitas Global 

Saham-saham global yang dimaksud adalah saham-saham yang diterbitkan perusahaan kelas dunia, terutama yang berkantor pusat di Amerika Serikat (AS).

Negara adidaya tersebut merupakan tuan rumah dari pasar modal terbesar dan terdalam di dunia dengan banyaknya pilihan aset keuangan dari perusahaan terkemuka dan berbagai produk canggih yang tersedia. 

Total kapitalisasi pasar dari  500 perusahaan terbesar AS (yang juga dikenal sebagai perusahaan-perusahan yang termasuk anggota indeks S&P 500) tercatat hampir mencapai US$30 triliun.  Di sisi lain, nilai kapitalisasi pasar 30 perusahaan terbesar Indonesia hanya sebesar US$600 miliar. Bisa terlihat bahwa kapitalisasi pasar modal AS berukuran 50 kali lebih besar dibanding pasar modal Indonesia.

Lebih pentingnya lagi, pasar saham AS memiliki konsentrasi yang kuat dalam sektor teknologi. Bahkan total kapitalisasi pasar dari 10 perusahaan teknologi teratas AS sudah mencakup US$16 triliun sendiri. Sementara pasar modal Indonesia kebanyakan diisi oleh saham sektor komoditas, pertambangan, dan perbankan..

Pluang memungkinkan Sobat Cuan untuk berinvestasi di saham-saham global melalui produk S&P 500 dan Nasdaq 100 Index, di mana masing-masing indeks memiliki komponen sebesar 40% hingga 100% dalam perusahaan global yang bergerak di sektor teknologi. 

2. Reksa Dana

Reksa dana adalah “wadah” himpunan dana masyarakat yang kemudian bisa diinvestasikan di kelas-kelas aset tertentu seperti pasar uang, instrumen pendapatan tetap, dan ekuitas. Reksa dana bukanlah sebuah kelas aset, namun adalah salah satu cara bagi investor untuk berinvestasi dalam kelas aset tertentu.

Himpunan dana tersebut dikumpulkan dan dikelola oleh lembaga yang dikenal sebagai Manajer Investasi (MI). MI akan mengelola himpunan dana tersebut dengan menempatkannya di aset seperti saham, obligasi, dan pasar uang. Sebagai gantinya, investor akan dikenakan biaya pengelolaan dana (management fee) dari MI tersebut. 

Banyak investor memilih produk reksa dana karena uang mereka dikelola secara profesional. Manajer investasi memiliki keahlian dan kecakapan dalam mengelola dana, sehingga mereka mampu mendulang imbal hasil yang lebih baik dibanding investor individu.

Investor bisa menggunakan reksa dana untuk berinvestasi di kelas aset berikut:

  1. Pasar Uang: Instrumen utang jangka pendek (seperti deposito berjangka) dengan tenor atau jatuh tempo kurang dari 1 tahun.
  2. Instrumen Pendapatan Tetap atau Obligasi: Instrumen utang jangka panjang baik yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan swasta. Umumnya, obligasi pemerintah bebas dari risiko gagal bayar (default risk) atau dengan kata lain pemerintah diasumsikan tidak memiliki risiko kredit dan berkemampuan penuh melunasi obligasinya. Akibatnya bunga yang ditawarkan juga relatif rendah sebab obligasi pemerintah memiliki resiko yang rendah. Jika ingin mendapatkan imbal hasil yang lebih mantap, MI harus menempatkan dananya di obligasi korporat. Perusahaan penerbit obligasi harus memberikan pemanis bunga yang lebih tinggi sebab risiko kredit perusahaannya juga lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi pemerintah (lebih mungkin perusahaan dalam suatu negara gagal dibandingkan negara itu sendiri). Ini sesuai dengan konsep investasi yang sudah kita pahami di mana kemungkinan risk yang lebih tinggi harus diimbangi dengan kemungkinan return yang lebih tinggi. Atau dengan kata lain, apabila suatu instrumen pendapatan tetap menawarkan imbal lebih tinggi menandakan lebih tingginya resiko dari instrumen tersebut.
  3. Ekuitas: Ini adalah aset berbentuk saham-saham tunggal yang diterbitkan perusahaan. Manajer Investasi akan menempatkan himpunan dana investor ke portofolio saham. Jika dana tersebut dikelola secara aktif (actively managed fund), maka manajer investasi akan mencoba membeli aset pada harga rendah dan menjualnya ketika harganya sedang tinggi (buy low and sell high) demi mengalahkan rerata imbal hasil di pasar modal. 

Pluang memungkinkan Sobat Cuan untuk berinvestasi di reksa dana pasar uang melalui produk UOB Dana Rupiah (UDARU)

Kamu juga bisa berinvestasi reksa dana pendapatan tetap dengan UOB Dana Membangun Negeri (UDARI), di mana dana kelolaan akan dialokasikan dalam obligasi pemerintah dan surat utang milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang cenderung memiliki risiko gagal bayar rendah. Karakteristik tersebut diharapkan bisa menopang UDARI untuk mendulang imbal hasil yang maksimal dari instrumen pendapatan tetap dibandingkan kemungkinan resikonya. 

Klik di sini untuk investasi di UDARU dan UDARI.

Logam mulia satu ini sudah dikenal sebagai alat tukar sejak peradaban Mesir kuno. Emas juga dikenal sebagai alat penyimpan kekayaan dan bahkan masih dikenal dan dipergunakan sebagai uang oleh manusia sampai sekitar 50 tahun lalu.

Sebagai aset investasi, harga emas cenderung meningkat seiring waktu. Hal ini disebabkan karena persediaan emas terbatas sementara jumlah uang beredar terus bertambah. Dengan kata lain, semakin banyak uang yang dicetak bank sentral, maka nilai aset riil seperti emas akan terus meningkat.

Di samping itu, emas memainkan peranan penting sebagai instrumen diversifikasi di segala portofolio. Sebab emas cenderung menguat saat kinerja instrumen keuangan lainnya memburuk. Dengan kata lain, emas memiliki karakteristik lindung nilai atau berfungsi sebagai hedge, yakni kemampuan untuk berkinerja baik di kala performa aset lainnya tengah ambruk.

Salah satu contohnya bisa dilihat saat krisis keuangan global yang terjadi lebih dari satu dekade lalu. Kala itu, harga emas naik hampir dua kali lipat sementara kinerja aset saham dan obligasi terjun bebas.  Dengan karakteristik lindung nilai ini, terlihat jelas bahwa setiap portofolio investasi seharusnya bisa mendapat manfaat dari memasukkan emas.

Saat ini, Pluang menyediakan produk emas digital yang sudah memiliki izin Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) dan seluruh transaksinya dijamin oleh PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero). Sobat Cuan bisa menjual dan membeli emas 24 jam dalam sehari dan tujuh hari dalam seminggu, mencicil pembelian emas, menarik emas digital dalam bentuk fisik, dan mengirimkan emas ke teman-temanmu.

Beli emas Pluang di sini.

Aset kripto (cryptocurrency) adalah perwakilan digital dari nilai dan berfungsi sebagai alat tukar demi mendapatkan barang dan jasa dalam jaringan blockchain. Fungsi lainnya dalam blockchain adalah satuan unit dan alat penyimpan nilai.  Dengan kata lain, cryptocurrency juga bisa disebut sebagai mata uang digital.

Terdapat ribuan cryptocurrency bertebaran di jagat maya, namun kategori aset kripto yang perlu kamu ketahui sebagai investor antara lain:

  1. Bitcoin: Aset kripto pertama yang memungkinkan pengguna untuk bertransaksi langsung satu sama lain melalui basis data yang tidak terpusat  (peer-to-peer)
  2. Ethereum: Platform smart contract yang memungkinkan dibangunnya aplikasi terdesentralisasi (dApps)
  3. Altcoin:  Aset kripto selain Bitcoin. Di dalam kategori ini termasuk token yang dapat berfungsi di tingkatan platform dalam sebuah ekosistem (contoh : Ethereum) sampai token yang hanya diperuntukkan untuk aplikasi tertentu.

Aset kripto adalah salah satu kelas aset dengan kinerja paling mumpuni dalam satu dekade terakhir. Ini disebabkan oleh meledaknya ketertarikan dan keriuhan menyambut teknologi ini dan kepercayaan akan kemampuan blockchain untuk merubah masa depan dunia. Ibaratnya revolusi yang akan datang dari blockchain sama dengan revolusi yang dimungkinkan terjadi sejak pertama kalinya teknologi internet hadir. 

Aset kripto memiliki karakteristik yang mirip dengan emas dan komoditas lainnya, misalnya sama-sama memiliki keterbatasan persediaan. Namun, di saat yang bersamaan, sifat aset kripto juga mirip dengan saham-saham perusahaan teknologi. Kedua aset tersebut akan melihat harganya naik dengan pemakaian lebih luas teknologi di belakangnya. Dan kegunaan teknologi ini pun akan semakin tinggi seiring meningkatnya jumlah pemakai dan meluasnya penggunaan (network effect). 

Baik investor muda maupun investor pemula memandang aset kripto sebagai komponen diversifikasi yang penting di dalam portofolio modern. Ini mirip dengan sikap dan pandangan investor dari Generasi X namun terhadap emas, di mana sang logam mulia dianggap sebagai instrumen diversifikasi penting di dalam portofolio tradisional.

Keduanya, baik aset kripto dan emas, adalah instrumen lindung nilai yang ampuh melawan inflasi dan penurunan nilai mata uang fiat. Hanya saja, harga aset kripto lebih cepat naik-turun dibanding emas. 

Di Pluang, Sobat Cuan bisa mendapatkan Bitcoin, Ethereum, dan 29 altcoin lainnya seperti Cardano, Binance Coin, dan Polkadot dalam satu aplikasi saja. Di samping itu, kamu juga bisa mendulang imbal hasil hingga 3,5% per tahun hanya dengan menabung Bitcoin dan Ethereum di Pluang Cuan.



Sumber : pluang.com

Bitcoin Lagi Bearish? Simak Cara Mengenali Sinyalnya dan Bertahan Agar Cuan!

Nasib Bitcoin terbilang mengenaskan setelah sempat tembus rekor pada pertengahan April lalu. Banyak pihak yang menyebut Bitcoin dalam situasi bearish setelah pelemahan yang berkepanjangan ini. Lalu bagaimana kita bisa mengenali sinyal Bitcoin bearish?

Saat artikel ini ditulis, Bitcoin diperdagangkan di bawah US$40.000 dan secara grafik harganya terus melemah sejak 10 Mei 2021. Padahal pada pertengahan April lalu, harga Bitcoin menembus level tertinggi sepanjang masa di angka US$63.000.

Dalam kondisi seperti ini, mungkin Sobat Cuan bertanya-tanya. Apakah mungkin kamu masih bisa bertahan dan rapopo di kondisi seperti ini?

Lalu bagaimana cara mengenali sinyal Bitcoin bearish agar kita bisa memasang posisi, dan menanggulangi pelemahannya? Berikut ini adalah beberapa cara mengenali sinyal Bitcoin bearish.

Baca juga: Aturan Pajak Cryptocurrency Bisa Bikin BTC & ETH Makin Anjlok? Simak di Sini!

Mengenali Sinyal Bearish Bitcoin

1. Menipisnya Volume Perdagangan Bitcoin

Yang pertama, kamu bisa melihat tren dari volume perdagangan Bitcoin versus dengan pergerakan harganya.

Jika memang volume perdagangan Bitcoin semakin menyimpang dari pergerakan harga Bitcoin, mungkin ada baiknya kamu mencurigai fenomena tersebut.

Contohnya bisa kita lihat di dalam grafik harga Bitcoin mingguan yang disusun Coindesk sejak Juli 2020 hingga awal Maret 2021. Grafik bagian atas mencerminkan pergerakan harga, sementara volume perdagangan terletak di bagian bawahnya.

Sumber: Coindesk

Pada grafik di atas, kita dapat melihat bahwa volume perdagangan telah menurun setelah harga Bitcoin memuncak di Januari. Namun, di sisi lain, harga tren Bitcoin malah menanjak terus, menciptakan gap yang lebar dengan tren volume perdagangannya.

Perbedaan antara volume dan harga ini dikenal sebagai divergensi volume dan biasanya menandakan bahwa aliran dana baru yang memasuki pasar sudah ‘mengering’ dan momentum beli berkurang.

Divergensi volume terkadang menyiratkan bahwa situasi bullish beralih ke posisi menahan kepemilikan. Investor menunggu lebih banyak kepastian di pasar sebelum membeli lebih banyak Bitcoin. Dalam hal ini, harga cenderung bergerak datar dengan volatilitas turun.

Baca juga: Tenang, Prediksi Harga Bitcoin Jangka Panjang Tembus Rp3,62 Miliar di 2025 Lho!

2. Divergensi RSI jadi Sinyal Bitcoin Bearish

Volume bukanlah satu-satunya indikator yang menunjukkan perbedaan yang kuat pada grafik perdagangan bitcoin saat ini. Ada juga perubahan yang terlihat pada Relative Strength Index (RSI) mingguan.

RSI adalah indikator utama yang menunjukkan kapan aset overbought (jenuh beli) dengan kemungkinan melemah dan oversold (jenuh jual) dengan kemungkinan naik. Adapun penjelasan lebih lengkap mengenai RSI bisa kamu baca di artikel ini.

Lantas, kapan indikator RSI bisa “meramal” situasi bearish? Nah, jawabannya bisa kamu temukan dengan membandingkan tren pergerakan RSI dan tren harga Bitcoin seperti di bawah ini.

Sumber: Coindesk

Sebagai informasi, rentang indikator RSI terdiri dari 0 hingga 100. Umumnya, sebuah harga aset akan memasuki overbought (jenuh beli) jika menembus angka 70. Sementara itu, sebuah harga aset akan menyentuh teritori oversold (jenuh jual) jika berada di bawah angka 30.

Kemudian, harga sebuah aset biasanya akan crash jika memasuki teritori overbought, dan begitu pun sebaliknya. Grafik di atas menunjukkan bahwa RSI berada di atas 70, artinya harga Bitcoin sudah berada di wilayah overbought.

Kemudian, Sobat Cuan juga perlu membandingkannya dengan tren harganya. Jika memang trennya satu sama lain kian menjauh, mungkin kamu perlu waspada. Seperti yang terlihat di grafik di atas.

3. Gap CME Bitcoin

Chicago Merchantile Exchange (CME) adalah lembaga finansial yang berfokus pada produk derivatif atau berjangka. Nah, salah satu produk andalan mereka saat ini adalah CME Bitcoin yang mengukur kinerja produk berjangka aset kripto terbesar ini.

Perlu diketahui bahwa harga pada grafik berjangka CME Bitcoin ditetapkan selama jam tutup, yakni pukul 16.00 waktu setempat saat hari kerja. Jadi, misalkan, jika harga Bitcoin adalah US$50.000 saat CME ditutup, di situlah harga akan tetap sampai bursa dibuka kembali.

Hanya saja, pasar kripto buka 24 jam seminggu. Sehingga, harga CME akan “tidur” dan tidak mengikuti pergerakan harga sesungguhnya saat bursa CME tutup. CME akan memperbarui harganya kembali saat bursa kembali beroperasi.

Sebagai contoh, jika pasar CME kembali buka Senin pagi, maka harga pembukaannya akan menghasilkan selisih dengan harga penutupan pada Jumat. Nah, inilah yang disebut dengan celah (gap) pada harga Bitcoin CME.

Mengapa gap ini cukup penting? Gap CME, tanpa alasan yang terbukti, bertindak seperti magnet untuk membentuk pola harga baru.

Trader biasanya memiliki kecenderungan untuk mengembalikan harga Bitcoin CME ke posisi sebenarnya. Namun, jika gap tersebut belum terisi, maka kamu perlu wanti-wanti soal terjadinya bearish di pasar Bitcoin.

Baca juga: Bingung Pilih Trading atau HODL? Simak Tips Investasi Cryptocurrency Ini!

Tips Mitigasi Risiko saat Bitcoin Bearish

Jika Sobat Cuan memutuskan untuk bertahan dengan Bitcoin saat situasi bearish, ada dua hal simpel yang perlu kamu lakukan:

1. Perbanyak Belajar dan Gali Informasi

Di saat cuaca Bitcoin sedang mendung, kamu perlu menjelajahi tren, meneliti indikator utama, dan mencari saran dari para profesional. Selain itu, kamu juga bisa menelaah berbagai informasi dan analisis di internet untuk membuktikan apakah tebakan kamu soal bearish adalah benar.

Persiapan menyeluruh adalah cara terbaik untuk mengatasi volatilitas saat Bitcoin bearish. Tujuannya, apalagi kalau bukan mendinginkan kepala kamu saat orang lain panik dan mengambil keputusan terburu-buru saat harga Bitcoin mulai bearish.

2. Diversifikasi

Meskipun sebagian besar investor menganggap cryptocurrency sebagai tambahan yang bagus untuk portofolio aset tradisional seperti saham dan obligasi, banyak yang melupakan perlunya mendiversifikasi aset digital itu sendiri.

Faktanya, ada beberapa varian investasi kripto yang sangat bervariasi dalam hal risiko dan prospek.

Untuk token, masuk akal untuk mendapatkan satu set token yang dapat diandalkan seperti Bitcoin dan Ethereum. Kemudian, ada beberapa altcoin dengan potensi pertumbuhan yang kuat dengan aset yang didasarkan kelas aset tradisional, misalnya real estat.

Produk investasi tersebut kini lebih mudah diakses oleh investor ritel sembari mempertahankan potensi pertumbuhan yang stabil. Dimana ada juga penawaran token perdana (ICO), salah satu investasi kripto yang paling berisiko.

Untuk ICO, pastikan untuk melakukan riset sebanyak mungkin dan hanya berinvestasi dalam token perusahaan dengan reputasi yang kuat. Pastikan model bisnis mereka jelas, yang menunjukkan dengan tepat bagaimana proyek tersebut akan menguntungkan investor.

Kesimpulan

Bersiaplah untuk volatilitas pasar. Bertahan dalam Bitcoin bearish membutuhkan kewaspadaan tingkat tinggi. Jadi, hindari kepanikan dan selalu bersiaga.

Dapat dimaklumi, akan sulit untuk duduk diam dan menunggu saat pasar bearish sedang terjadi. Tetapi jika Sobat Cuan berhasil menahan diri dari aksi jual yang dipicu oleh kepanikan, kamu dapat melewati periode tersebut dengan tenang.

Baca juga: Apa Saja Indikator Analisis Teknikal yang Penting di Aset Kripto? Simak di Sini!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Coindesk, Finextra



Sumber : pluang.com

Perbedaan Menabung di Bank vs Reksadana Berbasis Surat Utang

Berinvestasi di instrumen pasar uang dan menabung di bank memiliki risiko yang mirip. Keduanya adalah bentuk dari simpanan giro di mana kamu memiliki peran yang sama yaitu sebagai pemberi pinjaman untuk bank yang bisa ditarik kapan saja. Meski demikian, tetap saja terdapat perbedaan mendasar antara berinvestasi di instrumen pasar uang dan menabung biasa.

Berinvestasi di reksadana pendapatan tetap juga merupakan kegiatan di mana kamu juga merupakan pemberi pinjaman. 

Mari kita bandingkan kegiatan menabung di bank dengan reksadana yang berdasarkan produk surat utang.

1. Imbal Hasil

X.1 Imbal Hasil (1 Tahun) Standar Deviasi
Rekening Bank (Contoh BCA)    
Tabungan Biasa (saldo di bawah Rp500 juta dan sudah dipotong pajak) 0,03% 0%
Deposito berjangka (minimum periode tabungan 1 bulan dan sudah dipotong pajak)) 2.14% 0%
Reksadana Pasar Uang    
BNI-AM Dana Lancar Syariah 3.95% 0.27%
Reksadana Pendapatan Tetap    
Pinnacle Indonesia Bond Fund 8.52% 2.80%

*standar deviasi mencerminkan total risiko sebuah portofolio investasi (termasuk risiko sistemik atau risiko pasar) dan risiko yang berasal dari portofolio itu sendiri. Semakin tinggi standar deviasi, semakin tinggi pula risiko reksadana tersebut.

Produk tabungan dan deposito perbankan menawarkan tingkat imbal hasil tetap dalam satu jangka waktu tertentu.

Catatan: Dalam artikel ini, perbandingan dengan reksadana saham dikecualikan mengingat saham adalah kelas aset yang berbeda dibandingkan instrumen pendapatan tetap.

2. Risiko

Kamu bisa mendapatkan bunga yang lebih tinggi dari tabungan jika menempatkan dalam deposito berjangka. Sama seperti instrumen pasar uang, deposito bank memiliki risiko durasi yang kecil, atau bahkan tak punya risiko durasi sama sekali. Selain itu, deposito juga memiliki risiko gagal bayar yang rendah, atau bahkan tidak punya sama sekali, sehingga karakteristiknya mirip dengan obligasi pemerintah.

Dana masyarakat di deposito dilindungi oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Artinya, jika simpananmu tidak lebih dari Rp2 miliar di bank dan mendapat bunga simpanan lebih rendah atau sama dengan bunga penjaminan LPS, maka pemerintah akan menjamin depositomu meski bank tersebut masuk status gagal bayar.

Di dalam reksadana pasar uang, dana investor ditempatkan di deposito bank yang sama-sama berisiko rendah. Kamu masih bisa mendapatkan hasil lebih tinggi dari reksadana pasar uang dibandingkan deposito. Namun, kalau kamu ingin cuan yang jauh lebih tinggi dari deposito, maka pilihan yang lebih baik bagimu adalah reksadana pendapatan tetap.

Sebab di dalam reksadana pendapatan tetap, Manajer Investasi akan menempatkan dana investor di instrumen utang berjangka panjang yang memberikan imbal hasil lebih tinggi. Namun, keputusan tersebut menimbulkan dua risiko, yakni risiko gagal bayar dan risiko suku bunga (dan risiko durasi karena suku bunga). 

Jika sebagian besar dana investor ditanamkan dalam obligasi pemerintah, maka reksadana pendapatan tetap tersebut memiliki risiko gagal bayar yang lebih rendah (atau bahkan tidak ada sama sekali) mengingat pemerintah pasti akan mampu melunasi utang-utangnya. Sehingga, berinvestasi di reksadana pendapatan tetap yang mayoritas penempatan dananya di obligasi pemerintah punya risiko yang relatif rendah.

Namun, jika manajer investasi menempatkan sebagian besar uang investor di obligasi korporasi, maka investor juga bisa terpapar risiko gagal bayar yang semakin tinggi apabila perusahaan mengalami kesulitan arus kas dan kegagalan usaha sehingga terpaksa gulung tikar dan tidak bisa melunasi utang-utangnya. 

Di samping itu, seluruh instrumen utang jangka panjang rentan terpapar risiko suku bunga (dan juga risiko durasi). Dengan kata lain, kenaikan suku bunga acuan akan menyebabkan harga obligasi merosot dan menciutkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana pendapatan tetap.

Makanya, memindahkan uang menganggur dari bank ke reksadana pasar uang atau reksadana pendapatan tetap yang fokus di obligasi pemerintah adalah langkah baik untukmu supaya bisa mendongkrak imbal hasil. Namun, kamu tidak disarankan untuk memindahkan uang menganggur yang aman di bank ke instrumen utang korporasi yang berisiko tinggi.

3. Perpajakan

Di Indonesia, imbal hasil reksadana bukanlah objek pajak. Seluruh NAB yang diterima investor bersifat netto lantaran manajer investasi sudah membayar pajak yang berkaitan dengan kupon obligasi, capital gain dari investasi obligasi, pendapatan bunga deposito bank, dan capital gain dari pergerakan harga saham.

Kepastian itu tertuang di dalam Undang-Undang (UU) Pasar Modal dan UU Pajak Penghasilan.

Pasal 19 UU Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal berbunyi bahwa reksadana dapat berbentuk: a) Perseroan; atau b) Kontrak Investasi Kolektif (KIK). Sementara itu, pasal 4 ayat 3 poin (i) UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan menyebut bahwa reksadana berbentuk KIK dikecualikan dari objek pajak.



Sumber : pluang.com

Viral Tampah Harga Rp4 Juta. Mending Beli Tampah Atau Investasi di Aset Berikut?

Media sosial sedang ramai dengan munculnya tampah yang dijual di situs e-commerce Amerika Serikat seharga US$299. Jika dikalkulasi dalam rupiah, tampah yang sedang viral ini bernilai sekitar Rp4 juta. Ukurannya sih tidak kecil-kecil amat. Tapi, harganya itu lho, ibarat modal investasi!

Tampah yang diberi nama “Round Bamboo Wall Art” ini sontak langsung mendapat tanggapan yang beragam dari warganet. Apalagi, kalau bukan karena harganya yang bikin melongo. Sebab, di Indonesia saja, tampah bambu biasa tersebut dijual dengan harga di bawah Rp50.000 saja.

Bagi Sobat Cuan pecinta karya seni (atau mungkin juga berstatus sultan) bisa saja langsung memborong bamboo wall art tersebut. Namun, bagi mereka yang sedang berjuang menuju kemandirian finansial, uang segitu bisa dialokasikan untuk investasi.

Kenapa investasi? Ingat bahwa investasi mengandung unsur bunga majemuk. Yakni, uang yang kita tempatkan di suatu aset bisa “berkembang biak” dengan menghasilkan uang lainnya. Nah, penjelasan tentang bunga majemuk bisa kamu temukan di artikel ini, ya!

Tapi, apa saja sih, pilihan investasi dengan modal kecil sebesar Rp4 juta? Dan berapa cuan yang bisa kamu dapat dari masing-masing pilihan aset tersebut?

Baca juga: 4 Target Finansial para Millennial, Apa Saja?

Beragam Investasi Modal Kecil Rp4 Juta

1. Deposito

Return: 5,3% per tahun (Berdasarkan data Statistik Ekonomi dan Keuangan Bank Indonesia per Maret 2021)

Investasi modal kecil pertama yang bisa kamu lakukan adalah menempatkan uang di deposito.

Seperti yang kita tahu, deposito adalah pilihan investasi yang aman dan praktis. Kamu tinggal membuka rekening bank, “tidurkan” danamu, dan tiba-tiba kamu akan mendapatkan cuan begitu saja.

Hanya saja, deposito mungkin bukanlah selera semua orang. Utamanya, bagi mereka dengan profil risiko yang agresif, mengingat imbal hasilnya cukup mini.

Apalagi, cuan deposito kamu pun mungkin tak akan terasa jika tingkat inflasi juga melonjak. Jadi, perhatikan baik-baik sebelum menempatkan dana di di deposito ya, Sobat Cuan!

Baca juga: Kamu Bergaji Rp5 Juta Tapi Pengen Investasi? Bisa Banget Kalau Ikuti Tips Berikut!

2. Emas

Return: 12,66% per tahun (rerata per tahun 2016 hingga 2020)

Emas bisa dibilang adalah salah satu pilihan investasi jitu bagi mereka dengan modal kecil. Selain itu, emas juga menjadi idola bagi mereka yang ingin melindungi kekayaannya dari gerusan inflasi di masa depan.

Dulu, membeli emas terbilang kurang praktis. Kamu perlu mampir ke toko hanya untuk membeli emas. Namun, kini sudah ada emas digital, di mana kamu bisa mengoleksi logam mulia hanya lewat aplikasi dan bisa dibeli mulai dari Rp10.000 saja.

Selain itu, kamu juga bisa mencetak emas digitalmu menjadi emas fisik asal kepemilikanmu sudah mencapai 1 gram. Tak hanya itu, harga transaksi jual dan belinya pun terpampang secara real time.

Lantas di mana kamu bisa mendapatkan emas digital? Di Pluang tentunya! Saat artikel ini ditulis, uang Rp4 juta tersebut bisa kamu konversikan ke dalam 4,55 gram emas di Pluang. Lumayan banget, kan?

3. Bitcoin atau Ethereum

Return: Bitcoin: 87,81% per tahun (rerata per tahun sejak 2009), Ethereum: 197,7% per tahun (rerata per tahun sejak 2015)

Dua koin ini ini ibarat raja di dunia cryptocurrency lantaran sama-sama menduduki nilai kapitalisasi pasar terbesar di kancah aset kripto.

Memang, kebanyakan orang-orang cenderung untuk trading dua aset kripto ini. Namun, sebenarnya kamu bisa menggunakan keduanya untuk investasi. Nah, apakah kamu tim trading atau investasi aset kripto? Mungkin kamu bisa baca artikel ini sebagai bahan pertimbanganmu.

Kedua aset kripto ini memang dikenal sebagai instrumen investasi lantaran memiliki sifat fundamental yang cukup klir.

Di satu sisi, Bitcoin dikenal aset kripto yang bisa melindungi nilai kekayaan lantaran punya suplai terbatas 21 juta keping. Di sisi lain, Ethereum dikenal dengan kegunaan dan manfaatnya di kancah keuangan desentralisasi (Decentralized Finance/DeFi).

Bingung mau pilih Bitcoin atau Ethereum? Kamu bisa simak artikel ini ya, Sobat Cuan! Tapi, yang pasti, kamu bisa dapatkan Bitcoin dan Ethereum di Pluang! Ketika artikel ini ditulis, uang Rp4 juta bisa kamu “sulap” menjadi 0,006 keping BTC dan 0,1 ETH di Pluang.

Kesimpulan

Nah, jadi yang mana nih, jagoanmu, Sobat Cuan? Yang penting, pastikan pilihan aset investasimu sesuai dengan tujuan finansialmu dan profil risikomu, ya!

Baca juga: Jangan Boros dengan Dana Daruratmu, Ini 5 Strategi Aman Hadapi Krisis

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Kompas, Cermati





Sumber : pluang.com

Investasi Langsung dalam Kelas Aset Vs Investasi di Reksadana

Sobat Cuan mungkin sudah memahami bahwa reksadana adalah sarana bagi investor untuk mendapatkan eksposur ke beberapa kelas aset tanpa berinvestasi di aset-aset tersebut secara langsung. Namun, pertanyaannya, manakah cara berinvestasi yang baik bagimu? Berinvestasi di kelas aset secara langsung? Atau menggunakan reksadana?

Mungkin pemikiran pertamamu bahwa lebih baik berinvestasi langsung di kelas aset jika kamu pede bahwa kemampuanmu lebih jago ketimbang manajer investasi.

Namun pada dasarnya, ini bukan pertimbangan satu-satunya yang kamu perlu pikirkan. Mungkin pengetahuan investasimu memang mahir, tapi apakah kamu dapat bertransaksi dengan skala ekonomis? 

Nah, dalam hal ini, kamu mungkin harus mengaku kalah dari Manajer Investasi mengingat mereka bisa menciptakan rasio ongkos investasi terhadap nilai aset kelolaan (Asset Under Management) yang lebih rendah darimu. Mereka bisa melakukan hal itu lantaran mengelola dana dalam jumlah yang banyak yang dikumpulkan dari sekian banyak investor. 

Berikut adalah keunggulan investasi reksadana dibandingkan investasi langsung dalam kelas aset.

1. Risk-Adjusted Return Pasar Uang dan Pendapatan Tetap Lebih Baik Melalui Reksadana

Apabila kamu ingin berinvestasi dalam pasar uang dan pendapatan tetap, hampir tidak mungkin bahwa kamu dapat menyaingi kemampuan Manajer Investasi dalam mengelola risiko, tingkat imbal hasil, dan tingkat likuiditas. Surat utang pemerintah atau perusahaan pada umumnya diterbitkan dalam satuan Rp1 miliar per unit obligasinya. Kamu akan kewalahan membangun portofolio terdiversifikasi yang setara dengan manajer investasi, kecuali jika kamu memiliki modal lebih dari Rp30 miliar. Reksadana pendapatan tetap memungkinkan kamu untuk memiliki akses ke pendapatan tetap tanpa terhambat nilai modal awal ini.

Selain itu, menempatkan uang di reksadana pasar uang juga merupakan ide yang lebih baik apabila pilihan alternatif mendulang cuan yang tersisa bagimu selama ini hanyalah dari menabung di bank.

Seperti yang kamu tahu, pendapatan bunga dari bank terbilang mini, bahkan bisa saja kamu tidak mendapatkan pendapatan bunga sama sekali. Ditambah lagi, kamu pun dibebani biaya administrasi yang tinggi, sehingga menabung di bank bisa-bisa bikin kamu rugi. Menurut The Jakarta Post, kamu baru bisa untung dalam menabung jika memiliki saldo di atas Rp15 juta di rekeningmu. Sehingga lebih baik bagimu untuk memarkirkan dana di reksadana pasar uang yang menawarkan imbal lebih tinggi. 

Jika kamu ingin dapat cuan yang lebih mantap, kamu bisa memilih berinvestasi di reksadana pendapatan tetap. Ini pilihan yang bisa diambil apabila kamu siap menunggu lebih dari satu hari kerja saat kamu memutuskan untuk mencairkan reksadana pendapatan tetap.

Di dalam reksadana pendapatan tetap, manajer investasi akan mengalokasikan dana investor ke instrumen utang jangka panjang. Semakin panjang tenor instrumen utang, maka risiko durasi pun akan semakin tinggi. Perusahaan penerbit harus menawarkan kupon yang lebih tinggi untuk mempermanis obligasinya sehingga aset tersebut mampu menghasilkan imbal hasil yang lebih baik.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, investor individu dengan modal investasi di bawah Rp30 miliar tidak mampu melakukan diversifikasi aset dan mencapai skala ekonomis yang setara dengan manajer investasi. Investasi langsung di obligasi hanya mampu dilaksanakan orang super kaya, investor institusi dan manajer investasi. 

Memindahkan dana dari rekening bank ke reksadana pendapatan tetap dan pasar uang adalah cara mudah bagimu untuk meningkatkan imbal hasil dengan sedikit saja kenaikan risiko. Yang perlu diingat adalah memastikan bahwa kas cadangan tetap cukup di saldo tabunganmu untuk menutupi kebutuhan tiga hingga lima hari ke depan karena pencairan reksa dana membutuhkan beberapa hari kerja.

Pluang telah bekerja sama dengan PT UOB Asset Management untuk menciptakan reksadana pasar uang dan pendapatan tetap eksklusif di aplikasi Pluang. Melalui produk reksadana ini, tim UOB akan menempatkan dana investor di deposito bank, obligasi pemerintah, dan obligasi terbitan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang dipercaya bisa membantu investor meningkatkan imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko (risk-adjusted return).

2. Reksadana Saham Lebih Efisien Ketimbang Investasi Saham

Hal ini bisa terjadi karena manajer investasi bisa menciptakan skala ekonomis tinggi dalam melakukan riset dan trading. Mereka bisa melakukannya karena mereka memiliki tim riset dan analis dengan jam terbang tinggi untuk meneliti semua aspek dari pasar saham. Dengan reksadana saham, kamu bisa mendapatkan eksposur ke beberapa nama di pasar saham secara murah tanpa banyak pemikiran dan tenagamu sendiri dibandingkan kamu sendiri yang terjun ke pasar saham dan memilah-milah saham dan sektor.

3. Reksadana Saham Pasif Sebagai Sarana ‘Diversifikasi Murah’

Reksadana “pasif” atau produk Exchange-Traded Fund (ETF) mungkin adalah jalan termurah (dan termudah) bagi investor untuk mendapatkan eksposur ke pasar saham. 

Investor bisa berinvestasi di reksadana yang nilainya mengikuti kinerja indeks saham (index tracking fund) jika mereka ingin mendapatkan eksposur dari performa pasar secara menyeluruh. Salah satu contohnya adalah produk  BNI-AM Indeks IDX30 di mana komposisi reksadana akan terus mengikuti pembobotan nilai kapitalisasi saham yang bebas diperdagangkan untuk umum (free float market capitalization).

4. Reksadana ‘Aktif’ Berfokus Untuk Mengalahkan Kinerja Pasar Modal

Dalam mengelola reksadana yang dikelola secara aktif, manajer investasi berfokus untuk menempatkan dana investor di perusahaan-perusahaan dan sektor ekonomi spesifik. Tujuannya, agar kinerjanya bisa mengalahkan performa pasar modal secara keseluruhan. Dalam mengelola reksadana “aktif”, manajer investasi akan menggabungkan analisis teknikal dan fundamental untuk “memilih pemenangnya”.

Biasanya, “pemenang” tersebut adalah saham-saham terbitan perusahaan berkinerja baik namun harga sahamnya lebih rendah dibanding potensi sesungguhnya. Manajer investasi yakin bahwa pertumbuhan nilai saham-saham tersebut mampu mengalahkan rata-rata kinerja pasar modal di masa depan.

Mending Investasi Saham Tunggal atau Reksadana Saham?

Kapan membeli saham tunggal adalah pilihan baik untukmu?

Kamu bisa membeli saham tunggal jika kamu senang membaca perkembangan terkini soal perusahaan, mengikuti pergerakan pasar harian, dan yakin bahwa informasi yang kamu cerna bisa membawamu mendulang cuan yang lebih baik dari rata-rata imbal hasil di pasar modal. Ibaratnya, bagimu mengamati harga saham sebuah perusahaan adalah hal yang seru layaknya menyerap semua kabar dan informasi tim olahraga favorit.

Membeli saham-saham tunggal juga memungkinkanmu untuk fokus menaruh uang di suatu industri atau perusahaan yang tertentu dan terus menyeimbangkan komposisi portofolio sesuai dengan kabar terbaru dan keputusanmu sehingga kamu memiliki kendali penuh atas investasimu.

Kapan membeli reksadana saham adalah pilihan baik untukmu?

Pada umumnya, jika kamu mencari produk investasi yang kinerjanya mengikuti performa indeks saham, kamu bisa berinvestasi di reksadana yang mengikuti indeks saham. Selain itu, berinvestasi di reksadana indeks seharusnya menjadi sumber diversifikasi yang murah bagimu ketimbang membeli saham tunggal. Sebab, kamu tentu memerlukan portofolio berukuran besar agar bisa melakukan diversifikasi secara efisien.

Namun kamu juga bisa berinvestasi di reksadana saham jika kamu yakin bahwa strategi investasi milik manajer investasi tertentu bisa mengantarmu mendulang cuan. Menaruh dana di produk tersebut bisa menjadi cara efisien bagimu untuk melancarkan strategi tersebut dibanding menirunya. Terlebih, kamu pasti perlu melaksanakan riset yang dalam sebelum bisa meniru strategi sang manajer investasi tersebut.



Sumber : pluang.com

Sama-Sama Banjir Cuan, Apa Beda Yield Farming dan Crypto Staking?

Ibarat banyak jalan menuju roma, banyak juga jalan bagi kamu untuk mendulang cuan dari aset kripto. Salah satunya adalah dengan mengikuti tren terbaru dengan “menanam” aset kripto di dompet digital dan biarkan ia berkembang dan berbuah dengan sendirinya.

Banyak yang bilang, kegiatan ini disebut crypto staking. Namun, ada juga yang bilang bahwa ini adalah yield farming. Lantas, bagaimana jika kita adukan yield farming vs staking?

Baca juga: Bunga Nabung di Aset Kripto Cuan Banget Dibanding Bank. Darimana Asal Bunganya?

Konsep Umum Yield Farming vs Staking

Untuk menyelami perbedaan keduanya, tentu kita harus memahami apa arti sesungguhnya dari yield farming dan crypto staking.

Penjelasan lengkap mengenai crypto staking bisa kamu baca di artikel ini. Namun secara garis besar, crypto staking adalah kegiatan di mana pengguna aset kripto dapat mendulang cuan hanya dengan memvalidasi transaksi atau segala aktivitas yang terjadi di atas sistem blockchain.

Crypto staking diturunkan dari sistem algoritma konsensus Proof-of-Stake yang berlaku di dalam sistem Ethereum 2.0.

Di dalam algoritma Proof-of-Stake, seseorang dapat menambang atau memvalidasi transaksi aset kripto di blockchain sesuai dengan jumlah koin yang ia “kunci”. Artinya, semakin banyak koin yang dimiliki, maka mereka punya daya tawar (stake) yang tinggi dalam melakukan hal tersebut. Nah, di situlah sumber cuan yang didapatkan para stakers.

Saat ini, banyak platform desentralisasi yang menawarkan jasa staking kepada para penggunanya.

Mereka hanya perlu menyediakan aset kripto untuk staking dengan “menyimpannya” ke dompet digital dalam jangka waktu tertentu. Setelahnya, platform tersebut akan melakukan staking menggunakan tabungan aset kripto dari sang pengguna.

Nantinya, pengguna akan mendulang cuan dari aktivitas tersebut secara santai tanpa harus berurusan dengan aspek teknis dari staking. Sebab, aspek tersebut akan dikerjakan oleh masing-masing platform desentralisasi.

Sementara itu, yield farming adalah kegiatan di mana pengguna bisa menabung aset kripto dan meminjamkannya ke pengguna lain untuk mendapatkan imbal hasil dalam bentuk aset kripto.

Kegiatannya sendiri mirip dengan menabung biasa. Kamu hanya tinggal menyimpan tabunganmu di dompet digital dan kemudian menerima “bunga” atas kegiatan tersebut. Namun, kamu menyimpan aset kripto tersebut di platform DeFi yang berbasis kolam pendanaan (liquidity pool).

Prosesnya mirip seperti crypto staking, bukan? Di mana pengguna hanya tinggal menempatkan dananya di platform tertentu demi mendapatkan cuan. Maka dari itu, tak heran jika banyak yang menganggap bahwa yield farming adalah bagian dari crypto staking.

Perbedaan Yield Farming vs Staking

Namun, kalau Sobat Cuan telaah, ternyata ada banyak perbedaan di antara keduanya, lho, Seperti apa perbedaan tersebut?

1. Tujuan Kegiatan

Perbedaan pertama dari yield farming vs crypto staking adalah tujuan kegiatan itu sendiri.

Crypto staking, seperti yang dibahas di atas, adalah kegiatan di mana pengguna bisa mendapatkan cuan dengan memvalidasi transaksi atau penambangan baru di aset kripto berbasis algoritma konsensus proof-of-stake.

Sistem proof-of-stake sendiri adalah solusi atas masalah algoritma konsensus proof-of work, yang disinyalir selalu memakan tenaga listrik jumbo. Perihal proof-of-stake dan hubungannya dengan proof-of-work bisa kamu baca di artikel ini.

Nah, agar sistem proof-of-stake berjalan dengan baik, maka dibutuhkan banyak validator agar algoritme konsensus ini berjalan dengan baik. Selain itu, validator ini juga berguna untuk mencegah transaksi mencurigakan yang terjadi di atas sistem blockchain tersebut.

Kesimpulannya, tujuan dari crypto staking adalah untuk meningkatkan keamanan sistem jaringan blockchain itu sendiri. Semakin banyak pengguna yang melakukan staking, maka semakin susah pula peretas untuk menyerang jaringan tersebut. Sebab, semakin banyak pihak yang akan memvalidasi transaksi dan aktivitas lainnya di atas blockchain.

Lantas, bagaimana dengan tujuan yield farming? Tujuan dari yield farming sendiri adalah wadah bagi pemilik aset kripto untuk meminjamkan asetnya terhadap mereka yang butuh pendanaan. Kurang lebih, sifat ini sama dengan institusi jasa keuangan konvensional.

2. Tingkat Imbal Hasil

Ini merupakan perbedaan antara yield farming vs staking yang cukup kentara.

Biasanya, tingkat imbal hasil yield farming akan lebih tinggi dibandingkan crypto stakingIni lantaran yield farming dianggap sebagai kegiatan yang berorientasi bisnis ketimbang crypto staking.

Secara rata-rata, aktivitas crypto staking biasanya akan menghasilkan tingkat imbal hasil, atau Annual Percentage Yield (APY), antara 5% hingga 15% per tahun. Di sisi lain, imbal hasil dari yield farming bisa mencapai lebih dari 100% di beberapa kasus.

3. Masa “Mengunci” Aset Kripto

Dalam hal ini, yield farming boleh jadi lebih fleksibel dibandingkan crypto staking.

Yield farming tidak mengharuskan penggunanya untuk “mengunci” aset kripto di dalam dompet digitalnya dalam satu rentang waktu tertentu. Pengguna bisa menarik tabungan aset kriptonya kapan saja.

Sementara itu, crypto staking memberlakukan kebijakan yang lebih ketat. Pengguna rata-rata diharuskan menyimpan aset kriptonya dalam jangka waktu setahun. Selama jangka waktu tersebut, pengguna tak bisa memindahkan atau menjual asetnya.

Hal ini bisa menjadi buah simalakama ketika pasar kripto sedang amburadul. Sebab, nilai APY yang ia terima bisa jadi tak sesuai dengan penurunan harga di aset kripto.

Sebagai contoh, seorang pengguna mungkin akan mendapat APY sebesar 5% setahun dengan melakukan crypto staking selama setahun. Namun, di waktu yang sama, terjadi penurunan harga aset kripto sebesar 10%. Artinya, ia harus mendulang rugi sebesar 5% dari nilai tabungan awal.

Baca juga: Apakah Aman Menabung di Dompet Aset Kripto? Yuk, Simak di Sini!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Shrimpy, Coinmarketcap



Sumber : pluang.com

Kapan Waktu Terbaik Transaksi Ethereum? Yuk Simak di Sini!

Situasi pasar aset kripto sedang dinaungi awan hitam belakangan ini. Hampir seluruh ‘koin’ masuk dalam zona merah secara harian, salah satunya Ethereum. Kendati demikian, mungkin kamu tetap bisa mendulang cuan asal tahu kapan waktu terbaik transaksi Ethereum.

Mungkin kamu langsung bertanya: “Lho apakah ada hubungannya waktu transaksi Ethereum dengan cuan yang kita dapat?” Nah, jawabannya ternyata ada, Sobat Cuan!

Di tahun ini, perusahaan business inteligence khusus blockchain, Flipside Crypto, merilis laporan tentang jam-jam terbaik untuk bertransaksi Ethereum. Data-data itu dihimpun dari perilaku trader dan investor yang dihimpun dari Januari hingga Desember 2020.

Meskipun laporan ini disusun tahun lalu, namun setidaknya hal ini tetap bisa memberi gambaran bagi Sobat Cuan di tahun ini. Lantas, seperti apa waktu terbaik transaksi Bitcoin menurut Flipside Crypto?

Baca juga: Bitcoin Lagi Bearish? Simak Cara Mengenali Sinyalnya dan Bertahan Agar Cuan!

Kapan Waktu Terbaik Transaksi Ethereum?

Dalam mengintip jam-jam terbaik bertransaksi Ethereum, Flipside Crypto menganalisis perilaku trader dan investor selama 24 jam. Hasilnya, mereka menemukan bahwa trader dan investor sangat bereaksi kuat terhadap naik-turunnya gas fees.

Adapun penjelasan komplet mengenai gas fees bisa Sobat Cuan baca di artikel berikut. Tapi intinya, gas fees merupakan biaya transaksi di jaringan blockchain Ethereum. Besaran gas fees tergantung antara kesepakatan pengguna dan juga penambang Ethereum. Alias, penentuannya didasarkan atas proses lelang.

Perihal gas fees adalah suatu isu yang penting di dalam kancah Ethereum. Sebab, jika tarif gas fees terus menanjak, maka Ether (ETH) nantinya akan semakin jarang digunakan di dalam sistem keuangan terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi), yang merupakan “tempat bermain” ETH sehari-hari.

Hanya saja, tarif gas fees terus melonjak. Seperti yang Sobat Cuan perhatikan di bawah ini, tarif gas fees terlihat melonjak begitu tajam sepanjang 2020. Untungnya, Ethereum akan menyelesaikan masalah melonjaknya gas fees dengan memberlakukan hard fork London pada Juli serta perlahan bergerak menuju algoritma proof of stake di Ethereum 2.0.

Transaction Fee Ethereum
Sumber: Flipside Crypto

Meski demikian, melonjaknya gas fees ini ternyata memberi petunjuk bagi Flipside Crypto untuk melihat waktu terbaik transaksi Ethereum. Seperti apa hasilnya?

1. Hindari Transaksi Pukul 21.00 – 01.00 WIB

Flipside Crypto kemudian memetakan tarif gas fees berdasarkan fluktuasinya. Seperti yang ditunjukkan pada grafik di bawah ini.

Bagan ETH 2
Sumber: Flipside Crypto

Mereka percaya bahwa angka gas fees yang tinggi menandakan bahwa transaksi ETH sedang ramai-ramainya. Mengapa demikian? Sebagai analogi mudahnya, tentu tarif ojek online saat rush hour di Jakarta akan lebih mahal dibanding jam-jam biasa, bukan?

Nah, dari data di atas, Flipside Crypto menunjukkan bahwa perdagangan antara jam 14.00 hingga 16.00 waktu UTC merupakan masa-masa di mana gas fees sejak melonjak. Artinya, pasar Ethereum sedang tinggi-tingginya. Dengan kata lain, Flipside Crypto tidak menyarankan kamu untuk bertransaksi di jam 21.00 WIB hingga 01.00 WIB.

2. Bertransaksilah di Jam 04.00 – 06.00 WIB, 08.00 – 10.00 WIB, dan 12.00 – 15.00 WIB.

Sementara itu, Flipside Crypto malah menyarankan kamu untuk bertransaksi di jam-jam di atas karena pada saat itulah gas fees sedang murah-murahnya.

Namun setelah itu, apakah Sobat Cuan penasaran ihwal melonjaknya gas fees pada jam-jam di atas?

Menurut Flipside Crypto, ‘whales’ atau pemilik akun jumbo Ethereum, bertransaksi jauh lebih banyak daripada pemilik dompet yang lebih kecil. Segala aktivitas yang dilakukan para bandar Ethereum ini memang memiliki korelasi positif dengan kenaikan gas fees.

Kemudian, lembaga ini juga menemukan bahwa whales di kawasan Asia ternyata lebih aktif dibandingkan mereka yang bertransaksi di Amerika Utara.

Baca juga: Menimbang-nimbang, Kapan Sih Waktu yang Tepat untuk Jual/Beli Emas?

Apakah Kamu Masih Perlu Menggenggam Ethereum?

Harga Ethereum memang sedang melemah dan kini diperdagangkan di kisaran US$2.400. Sama seperti koin lainnya, dalam sehari pelemahannya bisa mencapai 30% atau lebih. Namun, Sobat Cuan juga harus tahu, sejak awal tahun (year to date/ytd), Ethereum telah naik lebih dari 200% lho!

Dalam beberapa minggu lalu, Ethereum telah memimpin kenaikan dari Bitcoin. Aset kripto itu mengungguli Bitcoin secara signifikan sejak awal April. Bahkan, muncul berbagai pandangan bahwa kinerja Ethereum bakal menyalip Bitcoin nantinya.

Ethereum naik 41% sepanjang April, sedangkan Bitcoin malah turun sekitar 8%. Moncernya kinerja Ethereum ini bikin investment bank ternama JPMorgan memberikan tiga alasan mengapa Ethereum bisa mengungguli Bitcoin di pasar cryptocurrency.

1. Ethereum Punya Likuiditas yang Lebih Baik

Menurut laporan JPMorgan, guncangan likuiditas sempat menghantam industri cryptocurrency. Namun, Bitcoin ternyata terpukul lebih keras daripada Ethereum. Guncangan likuiditas ini berasal dari pasar derivatif, yang mengarah ke likuidasi yang cukup besar. Di mana, efeknya lebih besar di produk berjangka Bitcoin dibandingkan Ethereum.

Dengan latar belakang itu, pemulihan yang lebih dramatis di kedalaman pasar Ethereum cenderung lebih besar. Pemulihan itu lebih baik dibandingkan dengan beberapa bursa sebelum guncangan likuiditas baru-baru ini.

2. Kurangnya Ketergantungan pada Pasar Derivatif

Menurut JPMorgan, di pasar dengan perputaran spot yang lebih tinggi secara signifikan, masuk akal bahwa harga Ethereum memiliki ketergantungan yang minim pada leverage produk derivatif dibandingkan dengan Bitcoin.

3. Basis Permintaan yang Lebih Luas

Jaringan Ethereum telah lama dicirikan oleh kecepatan transaksi yang lebih tinggi di blockchain publik daripada Bitcoin. JPMorgan menyatakan hal tersebut kemungkinan karena hanya ada sebagian kecil peningkatan aktivitas di DeFi dan platform lainnya.

Akibatnya, proporsi yang lebih tinggi dari token Ether berperilaku seolah-olah sangat likuid daripada Bitcoin. Bahkan angkanya sebesar 11% dibandingkan 4% oleh beberapa perkiraan selama sebulan terakhir.

Jadi, setelah membaca penjelasan di atas, tentu bisa disimpulkan bahwa prospek Ethereum ke depan masih akan moncer. Untuk itu, yuk mulai investasi Ethereum di Pluang!

Baca juga: Aturan Pajak Cryptocurrency Bisa Bikin BTC & ETH Makin Anjlok? Simak di Sini!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CoinMarketCap



Sumber : pluang.com

3 Strategi Mudah Investasi Reksadana

Sobat Cuan bisa memanfaatkan produk reksadana Pluang untuk memperkuat portofolio investasimu. Berikut adalah tiga strateginya!

1. Strategi Dollar Cost Averaging 

Dollar Cost Averaging (DCA) adalah strategi investasi terbaik bagi investor awam ketika baru memulai investasi di reksadana. Taktik DCA bukan saja memupuk kebiasaan baik dalam berinvestasi namun juga memberikan kesempatan bagi investor untuk mengumpulkan aset saat harganya sedang turun. Kebiasaan menyisihkan dana secara rutin adalah batu pijakan yang baik untuk semua strategi investasi jangka panjang. 

Jika kamu adalah investor pemula, maka kamu bisa melakukan strategi DCA dengan berinvestasi ke beberapa produk reksadana. Salah satu strategi yang bisa memaksimalkan imbal adalah dengan mengalokasian sebagian dari gaji bulananmu, misalnya sekitar 20%, ke berbagai produk reksadana.

Bahkan, kamu pun bisa memilih untuk lebih agresif berinvestasi reksadana dengan menempatkan sebagian besar gaji bulanan misalnya 70% namun ke produk reksadana yang berisiko lebih rendah, seperti reksadana pasar uang dan pendapatan tetap. Kamu bisa menaruh 30% sisanya di rekening bank untuk keperluanmu sehari-hari. 

2. Pindahkan Tabungan Bank ke Reksadana UOBAM Dana Membangun Negeri di Pluang

Kamu pasti menyimpan uangmu di bank karena menganggap bahwa ini memudahkanmu untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari. Namun dengan perencanaan anggaran yang matang, kamu akan semakin mengatur belanja dan pengeluaran dengan cermat yang akhirnya menghasilkan lebih banyak dana menganggur di rekening bank.

Uang yang diparkir di tabungan perbankan hanya memberikan imbal hasil yang sangat kecil. Daripada memarkirkan dana nganggur di rekening bank, mengapa kamu tidak menyimpannya saja di reksadana pendapatan tetap UOBAM Dana Membangun Negeri (UDARI) di Pluang? Kamu bisa membandingkan tingkat efektif pengembalian satu tahun yang sudah dipengaruhi bunga majemuk atau Annual Percentage Yield (APY) dari reksadana UDARI dibandingkan dengan deposito serta tabungan melalui tabel di bawah ini:

Source: Bank Indonesia (per July 2021); UOBAM (per September 2021).

Dari tabel di atas, Sobat Cuan bisa melihat bahwa kemungkinan tingkat imbal hasil reksadana pendapatan tetap UDARI sebesar 6% hingga 12% per tahun. Sedangkan, jika kamu menabung di deposito, maka kamu menerima pendapatan bunga yang pasti, namun kisarannya hanya 2,68% hingga 2,75% per tahun. Kamu bahkan hanya akan menerima pendapatan bunga sebesar 0,5% hingga 0,68% per tahun jika menempatkan dana di tabungan.

Anggaplah kamu berinvestasi Rp10 juta di reksadana UDARI dan tiap bulannya menambah Rp 1 juta ke dalam aset tersebut selama 5 tahun. Lantas, berapa nilai uangmu di tahun ke-lima? Dan bagaimana perbandingannya jika kamu malah menaruhnya di tabungan atau deposito?

Kamu bisa menemukan jawabannya di grafik berikut untuk melihat bagaimana efek majemuk untuk ketiga pilihan di atas.

Setelah tahun kelima, nilai reksadana pendapatan tetap akan mencapai Rp 98 juta berkat efek majemuk. Ini lebih tinggi dibandingkan di tabungan atau deposito di mana simpananmu hanya akan “berkembang” menjadi Rp71 juta dan Rp77 juta.

Bahkan, jika kamu rutin berinvestasi di UDARI selama 25 tahun mendatang, dengan asumsi tingkat imbal yang sama selama 25 tahun,  maka uangmu bisa berkembang mendekati Rp2 miliar! Di sisi lain, menaruh uang  di tabungan dan deposito selama periode waktu yang sama hanya akan menghasilkan dana di kisaran Rp200 juta hingga Rp400 juta saja.

Dana yang kamu tempatkan di UOBAM Dana Membangun Negeri akan dialokasikan di obligasi pemerintah dan obligasi yang diterbitkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang umumnya cenderung berisiko lebih rendah dibanding obligasi korporat. Namun perlu kamu perhatikan bahwa jika kamu ingin mencairkan reksadana UOBAM Dana Membangun Negeri, maka diperlukan dua-tiga hari kerja bursa (jadi di luar Sabtu-Minggu dan hari libur bersama) sebelum dana tersebut masuk ke rekeningmu.

3. Diversifikasi dengan Murah

Strategi berikutnya adalah menggunakan reksadana sebagai produk diversifikasi portofoliomu.

Hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah menentukan porsi alokasi aset di dalam portofoliomu. Berikut contoh target alokasi aset yang bisa diambil seorang investor pemula  yang memiliki profil risiko moderat:

Anggaplah kamu memiliki uang Rp10 juta untuk investasi. Kamu bisa menempatkan Rp2,5 juta di reksadana pendapatan tetap UDARI di Pluang dan membenamkan Rp1,5 juta sisanya di reksadana saham Batavia Dana Saham. Dengan demikian kamu telah dengan cepat dan efisien sudah menyusun 40% dari portofoliomu yang terdiri dari pendapatan tetap (fixed income) dan saham Indonesia (IDX equity).

Bahkan kamu bisa lebih lagi mengembangkannya dan juga melakukan diversifikasi secara murah ke kelas aset lain misalnya berinvestasi yang mengikuti kinerja aset saham di Amerika Serikat dengan produk S&P 500 Index di Pluang. 

Berinvestasi reksadana adalah cara mudah dan kilat untuk mendapatkan eksposur terhadap satu kelas aset tertentu. Di samping itu, menempatkan uang di reksadana akan bikin kamu leluasa untuk fokus mengamati kinerja beberapa aset yang tengah kamu gandrungi. Misalnya jika kamu sangat tertarik akan kripto namun juga ingin memiliki eksposur terhadap saham Indonesia. Dengan memilih reksa dana seperti Batavia Dana Saham, kamu sekarang lebih bebas untuk meluangkan waktu untuk aktif mengamati nama-nama jagoanmu di dunia kripto yang mungkin kamu rasa bisa naik harganya 10 kali namun tetap menikmati kinerja di dunia saham.



Sumber : pluang.com

Memahami Saham Growth Stocks dan Value Stocks di SP 500. Apakah Itu?

Bagi investor pasar modal, ada dua pendekatan yang bisa dilakukan saat memutuskan membeli saham. Termasuk investor yang berkecimpung di S&P 500. Biasanya, mereka memutuskan apakah mau memlih growth stocks atau value stocks. Lantas, apa sih perbedaan growth stocks vs value stocks?

Secara garis besar, growth stocks adalah saham-saham yang masih memiliki potensi bertumbuh. Sementara itu, value stocks adalah saham yang dinilai memiliki harga terlalu rendah dibanding dengan kinerja keuangannya selama ini.

Lantas, apa pentingnya memahami kedua istilah ini? Tentunya agar cuan kamu di pasar modal makin cuan!

Seperti nasihat yang pernah diucapkan Sang Oracle of Omaha Warren Buffet, “Price is what you pay, value is what you get”. Maksudnya adalah, Sobat Cuan bisa masuk ke saham perusahaan yang memiliki nilai baik dan kinerja baik ketimbang saham dengan harga murah namun memilliki kinerja keuangan yang juga “murah”.

Nah, di artikel kali ini, kamu bisa mempelajari lebih lanjut mengenai growth stocks vs value stocks dan melihatnya. Khususnya bagi Sobat Cuan yang lagi tertarik banget investasi di indeks S&P 500. Sebab, terdapat banyak saham-saham berjenis growth stocks dan value stocks di antara 500 perusahaan yang ada di dalamnya.

Hal ini biasanya terlihat dengan nilai price book value (PBV) atau price earning value (PER) di dalam harga saham.

Baca juga: Menilik Kembali Strategi Value Investing di Zaman Sekarang

Mengenal Growth Stocks vs Value Stocks

 

1. Growth Stocks

Growth Stocks adalah saham yang memiliki harga pasar yang lebih tinggi dari nilai perusahaan itu sendiri. Biasanya hal itu bisa terjadi lantaran adanya prospek pertumbuhan jangka panjang yang mendukung bisnis perusahaan.

Pendekatan seperti ini bisa digunakan untuk perusahaan yang memiliki ruang pertumbuhan laba yang masih tinggi, namun belum memiliki riwayat keuangan yang mumpuni. Sobat Cuan bisa melihat, ada beberapa saham yang selama ini dinilai overpriced jika dibandingkan dengan aset perusahaannya.

Namun sejatinya, harga saham tersebut masih layak dikoleksi secara fundamental. Pasalnya, jika menggunakan asumsi pendapatan perusahaan yang bisa lebih tinggi lagi kedepannya, maka harga saham tersebut masih memiliki potensi untuk naik lebih tinggi lagi.

Selain itu, karakter growth stocks lainnya adalah perusahaan tersebut mencatatkan rekor pertumbuhan pendapatan yang moncer. Seperti dalam kondisi pagebluk seperti sekarang, pendapatan perusahaan masih mampu bersinar di tengah melambatnya kinerja keuangan perusahaan lainnya.

Namun memang, banyak investor yang menganggap harga saham dari jenis growth stocks ini cenderung tidak stabil. Adanya sentimen negatif baik dalam hal pemberitaan ataupun laporan pendapatan perusahaan yang tidak sesuai ekspektasi bisa merontokkan harga saham ini.

Tetapi, kembali lagi. Yang terpenting adalah ruang pertumbuhannya, Sobat Cuan! Selama masih memiliki fundamental yang sangat baik, maka para fund manager bakal tetap mengoleksinya untuk jangka panjang.

Di dalam indeks S&P 500, saham-saham growth stocks bisa kamu temukan (namun tidak selalu) di saham-saham teknologi raksasa, atau dikenal dengan Giant Tech, seperti Tesla, Amazon hingga Netflix. Ini lantaran prospek masa depan mereka yang cukup moncer ditambah dengan kinerja yang tokcer.

2. Value Stocks

Di sisi lain, value stocks adalah saham yang masuk dalam kategori murah. Artinya, nilai asli saham tersebut ternyata jauh lebih rendah dibandingkan nilai aset perusahaannya. Banyak investor yang meraup value stocks karena yakin suatu saat harganya akan “memantul” dan menyamai kinerja aslinya.

Hanya saja, saham-saham jenis ini kadang punya haters. Ya, saham value stocks biasanya ambruk karena sering diterpa sentimen negatif dari berbagai penjuru. Sehingga, ketika perusahaan berhasil memulihkan keadaan dan kepercayaan investor mulai berbalik maka harga sahamnya bisa melonjak kembali.

Saham perusahaan yang masuk dalam value stocks biasanya adalah perusahaan yang masuk dalam bisnis siklikal. Di dalam S&P 500, jenis saham ini terdiri dari perusahaan seperti Berkshire Hathaway, Procter & Gamble, dan Johnson & Johnson.

Nah, di masa-masa seperti ini, investor memang mengincar value stocks karena kinerjanya bisa kembali aduhai selepas diredam pandemi COVID-19. Saham-saham sektor perbankan hingga industri kembali kuat setelah harapan mengenai pembukaan kembali aktivitas ekonomi AS, atau reopening.

Baca juga: Apa Itu Net Asset Value?

Growth Stocks vs Value Stocks, Mana yang Lebih Baik?

Sobat Cuan tak perlu pusing memilah-milah mana yang lebih baik. Sebab, keduanya memiliki potensi pertumbuhan yang baik secara jangka panjang.

Saham yang masuk kategori growth stocks biasanya tidak akan membagikan dividen dan akan mengalokasikannya untuk mendukung rencana ekspansi perusahaan.

Namun, karena model bisnisnya masih baru dan investor masih terus mencerna prospek pertumbuhannya, risiko yang bisa muncul juga cukup tinggi sejalan dengan prospek imbal hasil yang diberikan.

Sementara untuk value stocks tingkat risikonya lebih rendah karena usia perusahaan dan model bisnis yang dijalankan sudah mature. Sehingga, kalau pun kinerjanya tidak mencapai target harga yang diinginkan, saham berkategori value stocks diketahui sering memberikan dividen. Jadi bisa mengkompensasi capaian harga saham yang tidak sesuai target.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Merilledge, Investopedia



Sumber : pluang.com

Biaya-Biaya Investasi Reksadana

Seperti investasi lain pada umumnya, terdapat beberapa biaya dalam proses investasi reksadana. Secara umum, terdapat dua jenis biaya reksadana yang dapat dibedakan menurut pihak yang menanggung biaya tersebut: Biaya yang ditanggung reksadana dan biaya yang ditanggung oleh investor.

Biaya yang Ditanggung Reksadana

Beberapa jenis biaya yang harus dibayar wadah reksadana terdiri dari:

  1. Biaya manajemen
    Manajer Investasi dan timnya akan mengenakan investor sejumlah biaya sebagai balas jasa pengelolaan dana. Beberapa produk bisa dikenakan biaya transaksi lebih tinggi dibandingkan produk lainnya. 
  2. Biaya kustodian
    Selanjutnya adalah biaya yang dikenakan oleh bank kustodian. Bank kustodian berfungsi dalam pengurusan administrasi, penjagaan serta tempat penitipan aset yang dimiliki oleh reksa dana tersebut. Lembaga ini hadir untuk memastikan bahwa dana investor tetap aman dalam situasi apapun. Sehingga, misalkan jika Manajer Investasi (MI) terpaksa tutup dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memutuskan untuk memindahkan dana investornya ke MI lain, maka aset dan himpunan dana investor dipastikan akan tetap aman karena dititipkan ke bank kustodian.
  3. Biaya audit tahunan reksadana
    Karena reksa dana dipasarkan terbuka untuk masyarakat umum,  maka kinerjanya harus diaudit oleh auditor independen. Manajer Investasi wajib merilis laporan keuangan reksadana yang telah diaudit ini setiap tahunnya.
  4. Biaya penggunaan Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu (S-INVEST).
    Investor biasanya menggunakan indikator NAB per unit sebagai acuan untuk menentukan harga sebuah produk reksadana. NAB per unit biasanya ditampilkan secara netto, alias sudah dikurangi oleh beban-beban di atas, sehingga investor sudah membayar biaya-biaya tersebut secara tidak langsung mengingat seluruh komponen sudah diikutsertakan di dalam NAB reksadana.

Investor menggunakan indikator Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit sebagai acuan harga suatu reksadana. NAB per unit biasanya ditampilkan secara bersih alias sudah dikurangi oleh beban-beban di atas, sehingga investor sudah membayar biaya-biaya tersebut secara tidak langsung.

Apabila Sobat Cuan tertarik untuk melihat seberapa besar komponen biaya-biaya reksadana terhadap total aset kelolaan atau Asset Under Management (AUM), maka kalian bisa menemukannya dalam fund fact sheet reksadana.

Biaya yang Ditanggung Investor

Biaya-biaya yang perlu ditanggung investor meliputi:

  1. Biaya pembelian (subscription fee)
    Biaya subscription adalah biaya yang dikenakan kepada investor ketika membeli sebuah produk reksadana. Nilai biaya subscription di Indonesia rata-rata sebesar 0% hingga 5% dari setiap pembelian unit penyertaan reksadana, tergantung kebijakan masing-masing perusahaan aset manajemen. Pengenaan biaya ini ditujukan untuk mendorong investor untuk melakukan investasi dalam jangka panjang (bukan jangka pendek) agar mendapatkan imbal hasil optimal.
  2. Biaya penjualan (redemption fee)
    Investor juga akan dibebankan biaya ketika ia ingin menjual produk reksadananya. Rata-rata biaya redemption di Indonesia berkisar antara 0% hingga 3% dari setiap penjualan unit penyertaan reksadana. Pengenaan biaya ini juga ditujukan supaya investor melakukan investasi dalam jangka panjang (bukan jangka pendek) agar mendapatkan imbal hasil optimal. Beberapa Manajer Investasi meniadakan biaya penjualan apabila investor sudah melewati waktu yang cukup lama sejak pembelian. 
  3. Biaya perbankan yang berkaitan dengan transaksi reksadana.

Seluruh biaya yang ditanggung investor dalam investasi reksadana adalah ongkos yang timbul akibat kegiatan jual-beli unit reksadana. Kendati demikian, investor yang berinvestasi reksadana di Pluang tak perlu khawatir, sebab mereka bisa melakukan transaksi pembelian dan penjualan reksadana tanpa dibebankan biaya apapun.

Berikut adalah tabel mengenai komponen biaya di setiap produk reksadana di aplikasi Pluang:

Biaya Produk Reksadana Pasar Uang di Pluang

Jenis Biaya UOB Dana Rupiah (Eksklusif di Pluang) Batavia Dana Kas Maxima Bahana Dana Likuid BNI-AM Dana Lancar Syariah
Biaya Manajer Investasi Maks. 2,25% Maks. 2% Maks. 2% Maks. 1%
Biaya Kustodian Maks. 0,15% Maks. 0,125% Maks. 0,25% Maks. 0,15%

Biaya Produk Reksadana Saham & Campuran di Pluang

Jenis Biaya Reksadana Saham   Reksadana Campuran  
  Batavia Dana Saham Batavia Dana Saham Syariah Syailendra Balanced Opportunity Fund BNI-AM Dana UGM Progressive fund
Biaya Manajer Investasi Maks. 3% Maks. 3% Maks. 2,5% Maks. 2,99%
Biaya Kustodian Maks. 3% Maks. 0,2% Maks. 0,25% Maks. 0,25%

Biaya Setiap Produk Reksadana Pendapatan Tetap Di Pluang

Jenis Biaya UOB Dana Membangun Negeri (Eksklusif di Pluang) Batavia Dana Obligasi Ultima Pinnacle Indonesia Bond Fund BNI-AM Dana Pendapatan Tetap Makara Syailendra Pendapatan Tetap Premium Bahana MES Syariah BNI-AM Ardhani Pendapatan Tetap Syariah
Biaya Manajer Investasi Maks. 2.5% Maks. 2% Maks. 2% Maks. 1,5% Maks. 2% Maks. 4% Maks. 1,5%
Biaya Kustodian Maks. 0.15% Maks. 0,125% Maks. 0,25% Maks. 0,09% Maks 0,15% Maks 0,25% Maks 0,15%

Mengapa Beberapa Reksadana Membebankan Biaya Tinggi?

Reksadana akan membebankan biaya yang lebih tinggi kepada investor jika mereka merasakan bisa meningkatkan imbal hasil atau imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko (risk-adjusted return). Hal ini terjadi bukan saja di industri reksa dana namun sikap ini juga terlihat di industri lain yang bergerak dalam jasa pengelolaan dana investasi. 

Ini umumnya terlihat pada reksadana yang dikelola secara aktif (actively managed investment fund), di mana dana investor secara aktif dikelola dengan memilih beberapa perusahaan atau sektor yang diyakini akan menunjukkan hasil lebih tokcer dan mengalahkan kinerja pasar secara keseluruhan. Perusahaan manajemen investasi menyatakan bahwa untuk memperoleh hasil tersebut, mereka membutuhkan kerja keras, keahlian dan proses analisis yang lebih cermat dengan mengumpulkan lebih banyak data dan keterangan. Sehingga mereka memerlukan untuk mengeluarkan biaya yang lebih tinggi  untuk “memilah-milah” instrumen yang berkinerja mumpuni tersebut, yang akan kemudian diteruskan ke investor.

Sebagai contohnya, Sobat Cuan bisa menyimak tabel di bawah ini. Perlu dicatat bahwa rasio beban (expense ratio) = (biaya manajemen + biaya kustodian) / rata-rata Nilai Aktiva Bersih reksadana dalam setahun.

Perbandingan Biaya Produk Reksadana

per 31 Agustus 2021

Nama Reksadana Rasio Beban Imbal Hasil 1 Tahun Imbal Hasil 3 Tahun
Batavia Dana Obligasi Ultima 1.38 6.63 22.39
BNI-AM Dana Pendapatan Tetap Makara 1.28 1.54 11.27



Sumber : pluang.com