Category Archives: Pluang

7 Faktor yang Mempengaruhi Harga Aset Kripto

Seperti aset finansial, pergerakan harga crypto ditentukan oleh posisi permintaan dan penawarannya. Berikut adalah tujuh faktor yang mempengaruhi naik-turun harga aset kripto.

Dari sisi penawaran, faktor yang mempengaruhi pergerakan harga aset kripto adalah:

1. Kebijakan Moneter dan Tokenomics

Salah satu faktor terpenting yang menentukan pergerakan harga cryptocurrency adalah besar persediaan aset kripto tersebut. Adapun tata kelola mengenai persediaan aset kripto di pasaran disebut sebagai kebijakan moneter, sementara dampaknya terhadap investor kripto disebut sebagai tokenomics.

Banyak protokol dan koin punya tata kelola tersendiri untuk menentukan jumlah aset kripto yang beredar. Hal tersebut bisa diputuskan melalui cara yang demokratis (melakukan pemungutan suara berdasarkan jumlah kepemilikan aset kripto) atau metode yang lebih terpusat di mana terdapat dewan khusus yang mengendalikan tata kelola persediaan aset kripto.

Beberapa organisasi memilih untuk “membakar” koinnya untuk mengurangi jumlah koin beredar, salah satunya adalah Binance terhadap Binance Coin. Setiap kuartal, Binance membeli kembali (buyback) BNB menggunakan laba yang telah dihimpun dan kemudian menghancurkan atau “membakar” BNB. Peristiwa ini disebut coin burn.

Alhasil, jumlah BNB yang beredar semakin sedikit. Binance berencana untuk melakukan kebijakan tersebut sampai 100 juta keping BNB “terbakar”. Dampak pembakaran koin ini tercermin di dalam pergerakan harga BNB, seperti yang ditunjukkan pada grafik berikut.

Coin Burn BNB

Grafik di atas memperlihatkan bahwa harga BNB menanjak dan menyentuh titik US$600 pada April 2021, alias bertepatan dengan coin burn yang ke-15. Pada bulan itu, Binance membakar 1.099.888 keping BNB bernilai US$595,31 juta. Nilai ini merupakan pembakaran koin terbesar yang dilakukan Binance.  

2. Ongkos Produksi

Sama seperti kegiatan pertambangan barang logam, aksi crypto mining pun membutuhkan biaya “penambangan”.

Di bitcoin mining, misalnya, penambang membutuhkan modal besar untuk membeli komputer dengan daya pemrosesan yang mumpuni. Para penambang membutuhkan piranti keras dengan spesifikasi kompleks karena mereka harus memecahkan teka-teki algoritma yang rumit untuk menerima upah mereka dalam bentuk keping Bitcoin.

Sayangnya, kegiatan tersebut juga membutuhkan daya listrik yang cukup besar. Riset Universitas Cambridge di awal 2021 menunjukkan bahwa penambangan Bitcoin di seluruh dunia menggunakan listrik sampai 121,36 Terawatt-Hour (TWh) dalam setahun, lebih besar dibandingkan konsumsi listrik Argentina di periode yang sama.

Seluruh komponen-komponen biaya tersebut pun tercermin ke dalam penentuan harga Bitcoin.

Sementara itu, faktor yang mempengaruhi permintaan cryptocurrency terdiri dari:

3. Permintaan Terhadap Teknologi Blockchain

Permintaan satu aset kripto akan melonjak jika komunitas kripto banyak memanfaatkan teknologi blockchain yang merupakan rumah dari cryptocurrency tersebut. Ini terjadi lantaran biaya penggunaan blockchain dibayar menggunakan cryptocurrency asli blockchain tersebut. Sehingga permintaan cryptocurrency akan sejalan dengan meningkatnya penggunaan blockchain.

Ada berbagai macam alasan mengapa komunitas kripto mengerubungi satu teknologi blockchain tertentu. Biasanya tiga alasan utamanya adalah skalabilitas transaksi yang lebih baik dibanding teknologi blockchain lainnya, munculnya fitur-fitur baru, serta rendahnya biaya transaksi dalam memanfaatkan teknologi tersebut.

4. Adopsi Massal dari Investor Ritel dan Institusi

Meningkatnya penggunaan koin secara besar-besar akan menyebabkan kenaikan harga yang kencang. Ini mengingat sebagian besar cryptocurrency memiliki persediaan terbatas, sehingga kenaikan permintaan tentu akan mengerek harganya.

Hanya saja, untuk bisa diadopsi massal, cryptocurrency harus punya manfaat jelas di dunia nyata misalnya bisa digunakan sebagai alat pembayaran sehari-hari.

Cryptocurrency seperti Bitcoin sudah diadopsi oleh investor institusi sebagai instrumen penyimpan kekayaan. Makanya, harganya sempat meningkat dan menembus titik US$60.000 per keping pada awal 2021. Di samping itu, El Salvador juga berencana menggunakan Bitcoin sebagai alat pembayaran resmi di negara tersebut.

Sementara itu, pola adopsi cryptocurrency oleh investor ritel membentuk kurva berbentuk lonceng, seperti yang diperlihatkan di gambar berikut. Baru 150 juta individu di dunia yang menggenggam aset kripto. Jika dibandingkan dengan jumlah populasi dunia yang di atas 6 miliar jiwa, maka bisa dibilang bahwa adopsi cryptocurrency di dunia masih dalam tahap awal.

Bell Shaped Curve Cryptocurrency

Baik investor ritel dan institusi mulai melirik nilai jangka panjang dari cryptocurrency. Kenaikan harga beberapa aset kripto yang pesat di 2021 menjadi bukti bahwa derasnya permintaan dari investor institusi dan ritel makin terus meningkatkan permintaan dan harga kripto. 

Di samping penawaran dan permintaan, kondisi makroekonomi global juga punya peranan kuat dalam mempengaruhi pergerakan harga aset kripto.

5. Inflasi Mata Uang atau Penurunan Nilai Mata Uang Fiat

Harga aset kripto, terutama koin yang memiliki kegunaan yang jelas, seharusnya meningkat di tengah langkah bank sentral global yang terus mencetak uang dan menerapkan rezim suku bunga rendah.

Hal ini bisa terjadi lantaran karakteristik pasokan uang fiat bertolak belakang dengan cryptocurrency. Persediaan aset kripto terbilang terbatas, sehingga masyarakat seharusnya beralih ke instrumen ini apabila jumlah uang fiat yang beredar semakin banyak.

Penting untuk diingat bahwa Bitcoin tercipta untuk menanggapi pencetakan uang fiat secara besar-besaran, yang saat itu dilakukan oleh bank sentral di seluruh dunia untuk menanggulangi krisis keuangan global. Langkah ini kemungkinan akan terus berulang di setiap resesi ekonomi di mana pemangku kebijakan tidak mempunyai pilihan untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi selain memangkas suku bunga acuan atau mencetak lebih banyak uang. 25% dari Dolar AS yang beredar sekarang ini dicetak pada 2020 lalu.

Di samping itu, pemilik aset kripto juga kini berkesempatan untuk mendulang cuan dari kegiatan menabung aset kripto dengan memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi dari menabung di bank konvensional. Kini, hal tersebut bisa terlaksana seiring maraknya penggunaan aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi). Imbal hasil yang tinggi dan persediaan yang ketat membuat aset kripto bermanfaat sebagai pelindung nilai kekayaan dari gerusan inflasi yang diakibatkan pencetakan uang.

Di aplikasi Pluang, Sobat Cuan juga bisa mendulang cuan hanya dengan menabung Bitcoin dan Ethereum menggunakan fitur PluangCuan. Kamu bisa mendapatkan imbal hasil sebesar 3,5% per tahun jika menabung lebih dari 0,001 ETH atau 0,0005 Bitcoin. Yuk, kunjungi tautan berikut untuk informasi lebih lanjut.

6. Regulasi Pemerintah

Serangkaian regulasi pemerintah bisa mempengaruhi permintaan maupun penawaran dari aset kripto. Kondisi ini bisa terjadi lantaran pemerintah punya wewenang untuk mengatur, mengenakan pajak, atau bahkan melarang kegiatan cryptocurrency, yang biasanya akan menurunkan harga aset kripto.

Investor kripto Indonesia tidak hanya perlu paham soal regulasi kripto di Indonesia, namun juga mengamati bagaimana dua negara adikuasa, China dan AS, mengatur kegiatan kripto di negara masing-masing.

Pada Mei 2021, otoritas China menerbitkan peringatan mengenai trading dan pertambangan aset kripto. Setelahnya, otoritas China dilaporkan mengadakan pertemuan dengan bank-bank besar sembari menegaskan bahwa institusi perbankan di China tidak boleh terlibat dalam transaksi cryptocurrency.

Gestur otoritas China tersebut membuat harga Bitcoin longsor dari titik rekornya di kisaran US$65.000 menjadi di bawah US$30.000 per keping. Sikap tersebut juga menurunkan tingkat kapasitas pertambangan kripto di China mengingat negara tirai bambu itu mengambil porsi 50% dari hash rate Bitcoin dunia.

Amerika Serikat mengesahkan kegiatan tukar menukar aset kripto di bursa kripto, namun bukan sebagai alat tukar resmi. Dewan legislatif AS telah berulang kali ingin mengatur aset kripto karena khawatir bahwa kehadiran mata uang ini dapat mengganggu dominasi Dolar AS di kancah ekonomi global dan dampak aset kripto apabila dipegang dalam jumlah yang besar oleh individu dan institusi. 

Pemerintahan AS di bawah Joe Biden sedang mempertimbangkan untuk mengutip pajak dari kegiatan kripto untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur AS seperti yang dituangkan di dalam RUU Pendanaan Infrastruktur.

Indonesia mengesahkan perdagangan aset kripto pada September 2018, ketika Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa Bitcoin dan aset kripto lain termasuk komoditas. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), badan di bawah Kementerian Perdagangan yang mengatur perdagangan komoditas domestik, kemudian mempersiapkan serangkaian peraturan untuk mengatur aktivitas blockchain dan aset kripto di Indonesia.

7. Momentum

Terakhir, seperti pasar keuangan lainnya, harga aset kripto ditentukan oleh spekulasi. Masing-masing trader ritel, investor institusi, dan lembaga pengelola investasi global (hedge fund) memiliki pandangan berbeda mengenai kondisi pasar dan perbedaan ini bisa mempengaruhi harga aset kripto.

Pergerakan harga di pasar aset kripto bisa sangat cepat dan lebar. Hal ini terjadi karena banyak trader yang memanfaatkan algoritma dalam tukar menukar aset kripto. Jika harga kripto menembus satu titik tertentu, maka sistem algoritma akan mengeksekusi aksi jual atau beli. Aksi ini selanjutnya akan menjadi pemicu bertindaknya trader lain di mana tindakan mereka ini kemudian juga akan mempengaruhi lagi pergerakan pelaku pasar lainnya.

Karena pelaku pasar cenderung kesulitan untuk menilai harga aset kripto melalui aspek fundamental, perhatian kemudian diarahkan oleh isu dan berita yang menghebohkan atau seruan-seruan membeli atau menjual oleh pendukung aset kripto. Misalnya, harga aset kripto bisa jumpalitan ketika influencer aset kripto, seperti punggawa Tesla Elon Musk, mengunggah cuitan atau membuat meme tentang cryptocurrency di akun Twitter-nya.

Kenapa Harga Aset Kripto Sangat Bergejolak?

  1. Pasar digerakkan oleh narasi. Cryptocurrency tidak menghasilkan imbal hasil layaknya instrumen ekuitas yang memiliki data pendapatan dan laba. Nilai aset kripto tidak bisa ditaksir melalui pendekatan pasar modal biasa seperti melalui kinerja keuangan perusahaan atau indikator fundamental tradisional semisal rasio harga saham terhadap pendapatan (price to earning ratio). Yang terjadi adalah, harga aset kripto sangat dipengaruhi oleh narasi atau kabar-kabar tertentu. Misalkan kenaikan harga cryptocurrency 2020 silam yang sangat cepat didorong oleh cuitan Elon Musk di Twitter beserta pandangannya soal aset kripto.
  2. Volume trading di bursa aset kripto tidak dapat diukur, sementara data ukuran on-chain tidak bisa menjelaskan kondisi pasar kripto sebenarnya. Pasar kripto dibentuk dari jaringan platform bursa dan penyedia yang beragam bukan dari satu bursa yang terpusat. Akibatnya, masing-masing platform bursa aset kripto memiliki harga aset kripto yang berbeda-beda satu sama lain. Dengan kata lain, cryptocurrency tidak memiliki satu harga tunggal. Ini berbeda dengan pasar modal konvensional, di mana data harga dan volume sekuritas yang diperdagangkan jelas sesuai dengan aktivitas di bursa saham.
    Investor juga mengalami kesulitan mengukur volume trading aset kripto karena data volume on-chain dari sebuah cryptocurrency tidak mencerminkan total data trading yang terjadi di seluruh platform bursa aset kripto.
  3. Momentum dan volatilitas terjadi kala pasar merespons algoritma tradingSecara teori, harga cryptocurrency antar platform trading kripto tidak berbeda jauh satu sama lain akibat hadirnya perdagangan berbasis algoritma di dalamnya. Namun, pada kenyatannya, penggunaan algoritma untuk trading bisa membuat harga bergerak drastis. Misalnya, penurunan harga sebuah aset kripto akan memicu aksi “jual” jika trader memasang aksi jual otomatis di level harga tersebut. Sayangnya, peristiwa itu juga akan dibaca pelaku pasar lain sebagai aksi jual, sehingga trader lainnya akan ikut latah dengan menjual aset kriptonya.

4 Langkah dalam Menghadapi Volatilitas Harga di Pasar Kripto

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, pergerakan harga yang cepat dan tinggi atau volatilitas pasar adalah alamiah dalam pasar kripto. Harga aset kripto bisa naik-turun dalam sekejap, sehingga Sobat Cuan harus terbiasa jika ingin menginjakkan kaki ke jagat kripto.

Berikut adalah empat strategi yang bisa kamu terapkan dalam menghadapi fluktuasi harga aset kripto.

1. Tentukan Toleransi Kerugianmu

Sebagai contoh, kamu mungkin masih bisa mentolerir kerugian jika harga Bitcoin terjun 50%. Sehingga, kamu masih akan menggenggam Bitcoin jika harganya anjlok, misalnya, 40% dari US$30.000 ke US$18.000. Namun, kamu akan segera melepas Bitcoin-mu jika persentase penurunan harganya melebihi 50%.

2. Diversifikasi Aset Kripto

Untuk mendulang imbal hasil kripto yang optimal, kamu perlu menempatkan uang di berbagai jenis cryptocurrency. Salah satu strategi yang cukup mudah adalah dengan menempatkan 33.3% portofolio aset kripto di Bitcoin, 33.3% di Ethereum, dan sisanya di altcoin yang lain. Dengan cara ini, maka 66.7% portofolio berisikan aset dengan nilai kapitalisasi terbesar dan paling likuid dalam kelas aset cryptocurrency.

3. Ambil Untung Kemudian Investasi di Kelas Aset Lain

Kamu akan mendulang cuan jika menjual aset kriptomu di harga yang tinggi. Setelahnya, kamu bisa menggunakan cuan tersebut untuk melakukan diversifikasi di kelas aset lain misalnya emas, reksa dana pendapatan tetap, atau saham.

Memang, aset-aset ini terlihat tidak menarik ketika harga aset kripto sedang turun. Namun ini merupakan pemikiran yang baik untuk memanfaatkan harga yang sedang tinggi dan keuntunganmu yang sudah tercapai di kripto untuk membukukan keuntungan dan diversifikasi ke kelas aset yang lain.

4. Lakukan Strategi Dollar Cost Averaging

Harga aset kripto bisa sangat fluktuatif, sehingga merupakan pemikiran yang baik jika kita memilih untuk melakukan investasi dengan jumlah yang sama dan secara rutin. Strategi yang dikenal dengan Dollar Cost Averaging ini akan mengurangi risiko timing dalam berinvestasi, yakni risiko di mana kamu menyusun portfolio aset kriptomu dengan harga mahal atau menjualnya di harga yang murah.

Dengan strategi ini, kamu akan mendapatkan keping-keping cryptocurrency dalam jumlah banyak saat harganya turun. Nah, jika ternyata tren harga cryptocurrency itu tengah menanjak, maka kamu bisa berhasil mendapatkan aset kripto yang dimaksud dengan harga yang lebih murah.

Cara termudah untuk melakukan Dollar Cost Averaging adalah dengan mengalokasikan suatu persentase pendapatan per bulan misalnya sebesar 30%, untuk berinvestasi kripto secara rutin.

Kini, kamu bisa melakukan Dollar Cost Averaging di Pluang dengan memanfaatkan fitur Pluang Autoinvest. Fitur ini memungkinkan kamu untuk berinvestasi kripto rutin secara mingguan atau bulanan. Yang kamu perlu lakukan adalah menjadwalkan investasi otomatis sehari setelah tanggal gajian agar kamu bisa membangun kebiasaan investasi yang baik. Kenali lebih jauh fitur Autoinvest di sini.

Di samping itu, penting bagimu untuk tidak mementingkan emosi ketika bermain dengan aset kripto.Ingatlah bahwa trader yang berpengalaman juga masih sering termakan perasaan Fear of Missing Out (FOMO) dan berujung pada membeli aset di harga yang tinggi dan sebaliknya panik menjual langsung asetnya karena takut harga anjlok.

Volatilitas bisa menggoyangkan mental investor, termasuk investor paling ahli sekalipun. Seperti petinju kawakan Mike Tyson pernah lontarkan: “Semua orang merasa memiliki rencana, namun rencana itu gagal ketika mulut mereka ditinju”.



Sumber : pluang.com

Tenang, Prediksi Harga Bitcoin Jangka Panjang Tembus Rp3,62 Miliar di 2025 Lho!

Sobat Cuan, Bitcoin saat ini memang tengah gamang dan melandai di level US$45.000. Padahal, aset kripto terbesar ini sempat melonjak sejak awal tahun dan menembus level US$60.000. Investigasi yang dilakukan pemerintah AS terhadap Binance dan “prank” Elon Musk yang terkesan memojokkan Bitcoin memang bikin harga raja aset kripto ini seolah kurang darah.

Hal ini bisa jadi bikin mereka yang tergolong kaum HODL garis keras jadi galau untuk menggenggam Bitcoin. Namun, bagaimana sih, prediksi harga Bitcoin jangka panjang?

Sobat Cuan sah-sah saja untuk tidak ketar-ketir. Bahkan, nampaknya HODL pun menjadi strategi terbaik di kala harga Bitcoin lagi terjungkal seperti saat ini. Apalagi, secara jangka panjang, harga Bitcoin masih terbilang menjanjikan.

Salah satunya dilontarkan Kepala Investasi Hedge Fund Morgan Creek Capital Management, Mark Yusko. Ia memperkirakan harga bitcoin bisa melonjak menjadi US$250.000 dalam lima tahun, dengan alasan Bitcoin “akan menjadi protokol dasar untuk produk internet yang memiliki nilai.”

“Ini hanya tentang adopsi jaringan dan peningkatan penggunaan. Bitcoin memiliki jaringan yang tumbuh secara eksponensial. Ini adalah jaringan tercepat dalam sejarah dengan nilai US$1 triliun,” katanya. Ia pun mengatakan bahwa harga tersebut bisa membawa kapitalisasi pasar bitcoin sekitar US$4 triliun dan mengejar emas yang punya kapitalisasi pasar US$11,75 triliun.

“Apa yang orang lewatkan adalah bahwa ini merupakan evolusi teknologi dari kekuatan komputasi yang tidak akan hilang. Ini adalah jaringan komputasi yang kuat yang akan menjadi protokol lapisan dasar untuk internet,” kata Yusko.

Tahun ini, miliarder Tesla Elon Musk dan investor terkenal lainnya telah membuat Bitcoin dan pasar crypto yang lebih luas menjadi ramai dan spekulatif. Hal itu membantu harga Bitcoin melonjak sekitar 450%, dimulai pada bulan Oktober 2020.

Reli kenaikan tersebut dipicu oleh PayPal yang mengumumkan dukungannya untuk beberapa cryptocurrency. Harga selanjutnya didorong oleh munculnya adopsi institusional yang telah lama ditunggu.

Baca juga: Bingung Pilih Trading atau HODL? Simak Tips Investasi Cryptocurrency Ini!

Prediksi Harga Bitcoin Jangka Panjang dari Panelis

Bitcoin sebelumnya terpantau mencatat level tertinggi berkali-kali. Tetapi seberapa tinggi nilai aset kripto itu? Dan berapa lama kenaikan ini akan bertahan? Dalam hal ini, Finder.com meminta pendapat dari 35 panelis ahli aset kripto dan merangkum masa depan Bitcoin nantinya.

Hasilnya, seluruh panelis tersebut masih percaya harga Bitcoin tetap akan tokcer — setidaknya hingga akhir tahun ini.

CEO Morpher Martin Fröhler dan CEO dan direktur Cake Pte Ltd Julian Hosp, memberikan dua prediksi akhir tahun tertinggi masing-masing pada US$250.000 dan US$200.000. Mereka mengaitkan prediksi bullish sang raja aset kripto tersebut dengan paritasnya terhadap emas.

“Bitcoin adalah penyimpan nilai jangka panjang terakhir dan secara bertahap akan menggantikan emas dan obligasi,” ujar Fröhler.

Salah satu pendiri Origin Protocol, Josh Fraser juga memberikan prediksi akhir tahun di atas US$150.000. Ia mengatakan itu semua bermuara pada penawaran dan permintaan, di mana “permintaan hanya akan terus meningkat sementara pasokan berkurang”.

Prediksi Harga Bitcoin di Tahun 2025

Dalam proyeksi panel tersebut, pada tahun 2025 harga Bitcoin diprediksi akan melonjak menjadi US$360.179. Angka itu merupakan peningkatan 83% dibandingkan dengan prediksi panel pada Desember 2020 sebesar US$197.553.

Baca juga: Meski Digempur Altcoins, Ini Satu Alasan Kenapa Kamu Masih Perlu HODL Bitcoin!

Seorang panelis, COO BitBull Capital Sarah Bergstrand bahkan berpikir bahwa pada saat itu, Bitcoin akan dihargai US$1 juta. Bergstrand mengakui bahwa 2025 mungkin terlalu jauh untuk diprediksi, tetapi ia menilai dengan Bitcoin yang semakin populer, perkiraan ini masih wajar.

Dia bukan satu-satunya panelis yang memberikan ramalan ini. Ahli strategi cryptocurrency LMAX Group Joel Kruger dan CEO Coinmama Sagi Bakshi juga berpikir bahwa BTC dapat mengakhiri 2025 dengan valuasi US$1 juta.

“Satu-satunya pertanyaan yang perlu ditanyakan dalam hal penilaian jangka panjang adalah apakah menurut Anda Bitcoin akan tetap ada pada tahun 2025? Jika jawaban untuk pertanyaan ini adalah ‘ya’, hukum ekonomi mendukung penilaian yang jauh lebih tinggi. Sesederhana itu,” kata Kruger.

Baca juga: Mengenal Hard Fork Berlin, Salah Satu Faktor Meroketnya ETH di Awal Mei

Seberapa Tinggi Bitcoin akan Naik Tahun Ini?

Panel Finder.com melihat Bitcoin mengakhiri tahun ini pada level US$95.000. Namun itu tidak berarti bahwa Bitcoin tidak akan menembus angka US$100.000 sebelumnya.

Lebih dari setengah (51,61%) panel memprediksi bahwa Bitcoin akan mencapai puncak pencapaian itu di beberapa titik tahun ini. Menurut rata-rata panelis, harga Bitcoin bisa melonjak hingga US$107.484 di beberapa titik selama 2021.

Direktur Pelaksana Digital Capital Management Ben Ritchie, Julian Hosp dan Martin Fröhler, semuanya memberikan prediksi di atas rata-rata. Masing-masing memprediksi harga Bitcoin tahun ini bisa ke US$120.000, US$200.000, dan US$300.000, berdasarkan metode stock to flow yang mengukur pasokan dan distribusi.

“Rasio stock to flow tetap menjadi salah satu indikator makro paling akurat untuk Bitcoin. Ditambah dengan siklus peristiwa halving, itu akan meyakinkan kami harga mencapai puncak antara US$120.000 dan US$140.000, sebelum membentuk basis baru di sekitar US$ 100.000,” kata Ritchie.

Baca juga: Apa Beda Istilah Crash dan Koreksi Bitcoin? Simak di Sini!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Forbes, Finder



Sumber : pluang.com

Mengenal Bitcoin, Ethereum, dan Altcoin

Jenis cryptocurrency terbilang banyak. Berdasarkan data Coinmarketcap per 3 Agustus 2021, terdapat hampir 6.000 aset kripto yang terdapat di dunia ini.

Namun, terdapat tiga jenis cryptocurrency yang Sobat Cuan perlu pahami ketika mempelajari jagat kripto: Bitcoin, Ethereum, dan koin alternatif yang disebut Altcoin.

Bitcoin (BTC)

Bitcoin adalah cryptocurrency pertama dan pelopor inovasi dari segala macam aset kripto yang hadir setelahnya. Berikut adalah fitur-fitur inti yang dimiliki Bitcoin.

  1. Persediaan terbatas, hanya 21 juta keping. Tidak seperti uang fiat, misalnya Dolar AS yang bisa dicetak oleh bank sentral AS The Fed, persediaan Bitcoin terbilang tetap berkat algoritma yang dimilikinya. Imbalan bagi penambang Bitcoin (block rewards) pun ikut merosot setengah setelah mereka selesai menambang 210.000 blok transaksi, yang biasanya terjadi setiap empat tahun sekali, dalam fenomena yang disebut sebagai halvening. Sejauh ini, sudah terdapat empat kali halvening sejak Bitcoin diluncurkan 2009 silam.
  2. Aman. Sejauh ini, tidak ada seorang pun yang mampu meretas jaringan blockchain Bitcoin. Untuk bisa meretasnya, sang peretas perlu mengumpulkan 51% dari seluruh kekuatan hash di jaringan blockchain atau dikenal dengan nama serangan Sybil (Sybil Attack). Jika peretas sukses melakukan serangan tersebut, maka mereka bisa memvalidasi transaksi ilegal mereka di teknologi blockchain.
    Namun, kini risiko serangan tersebut hampir tidak mungkin terjadi mengingat keping-keping Bitcoin telah terdistribusi secara luas. Hal ini merupakan contoh dari efek jaringan (network effect), di mana kualitas sebuah produk akan semakin baik seiring banyaknya orang mengadopsi produk tersebut.
  3. Punya likuiditas dan kapitalisasi pasar terbesar di antara seluruh cryptocurrency. Sebagai aset kripto pertama dan populer, tak heran jika Bitcoin punya kapitalisasi pasar terbesar di jagat kripto. Kapitalisasi pasar Bitcoin sempat menyentuh di atas US$1 triliun dan selalu mengambil porsi 30% dari seluruh kapitalisasi pasar cryptocurrency. Biasanya, kondisi tersebut menandakan bahwa Bitcoin adalah koin yang sering berpindah tangan (likuid) dan memiliki fluktuasi harga lebih rendah dibanding aset kripto lainnya.
    Karena karakteristik tersebut, Bitcoin bisa diturunkan ke dalam produk derivatif misalnya kontrak opsi, kontrak berjangka, dan produk lainnya. Bitcoin juga bisa disebut sebagai aset yang gampang dipertukarkan (reserve asset) di golongan aset kripto. Contohnya, investor hanya perlu menempatkan uang di Bitcoin hanya untuk mendapatkan eksposur dari keseluruhan pasar aset kripto.

Namun, Bitcoin juga punya beberapa kelemahan, di antaranya:

  1. Skalabilitas transaksi rendah. Teknologi blockchain Bitcoin hanya bisa memproses 4,6 transaksi per detik, sementara perusahaan pembayaran VISA bisa memproses lebih dari 1.700 transaksi di rentang waktu yang sama. Kondisi tersebut membuat Bitcoin sulit dijadikan sebagai medium pembayaran.
  2. Tidak dilengkapi fitur smart contract. Sebagai pelopor cryptocurrency, teknologi blockchain Bitcoin hanya mampu digunakan untuk transfer nilai. Sehingga, ia tidak punya fungsi lain yang dibutuhkan pengguna agar bisa mengeksekusi smart contract.
  3. Boros energi. Di dalam operasinya, blockchain Bitcoin menggunakan algoritma konsensus yang disebut Proof-of-Work, di mana masing-masing penambang saling berkompetisi untuk memecahkan teka-teki kriptografi atau soal matematika demi memvalidasi transaksi dan mendapatkan imbalan berupa kepingan Bitcoin. Sayangnya, kegiatan itu membutuhkan energi listrik yang besar, bahkan jumlahnya setara dengan kebutuhan listrik Finlandia setiap tahunnya.

Ethereum

Bitcoin boleh saja didapuk sebagai pionir cryptocurrency dan menyandang status sebagai koin terpopuler. Namun, tetap saja teknologinya masih memiliki beberapa kekurangan. Untuk menutup kekurangan tersebut, Vitalik Buterin menciptakan teknologi Ethereum pada 2013 silam.

Dikutip dari whitepaper-nya, Ethereum bertujuan untuk membangun sebuah “Kontrak Pintar bagi Generasi Mendatang dan Menjadi Platform Aplikasi Desentralisasi“.

Beberapa manfaat Ethereum antara lain:

  1. Menekankan posisi sebagai platform. Ketika Bitcoin bertujuan menjadi mata uang yang bisa digunakan sebagai medium pembayaran, Ethereum memilih untuk menjadi platform yang dapat mengatur smart contract, sebuah fitur yang mampu meningkatkan kegunaan teknologi blockchain. Sebagai analoginya, Sobat Cuan bisa membayangkan bahwa Ethereum adalah platform blockchain yang berfungsi layaknya App Store atau Android App Store, sementara Bitcoin memiliki karakteristik layaknya komoditas seperti emas atau aset penyimpan nilai lainnya. Untuk penjelasan lebih mudahnya lagi, Sobat Cuan juga bisa menyimak contoh berikut. Anggap saja kamu ingin menciptakan aplikasi yang memungkinkan penggunanya untuk bertaruh mengenai hasil pertandingan olahraga, misalnya final liga basket NBA. Kamu tidak bisa membuat aplikasi itu di atas jaringan Bitcoin. Namun, dengan menggunakan Ethereum, kamu bisa menciptakan aplikasi berbasis smart contract, di mana penggunanya bisa bertaruh sebelum pertandingan itu dimulai. Ketika pertandingan itu selesai, smart contract kemudian akan memanfaatkan teknologi bernama oracle, seperti Chainlink (LINK), untuk memindai situs yang menamplikan hasil pertandingan final NBA, misalnya ESPN.com, dalam mencari pemenang liga tersebut. Setelah hasil pertandingan tersebut diverifikasi, teknologi smart contract kemudian akan memberikan hadiah kepada pengguna yang telah menebak pemenang final liga NBA dengan jitu.Karena karakteristik tersebut, Ethereum bisa menciptakan ekosistem aplikasi, di mana masing-masing aplikasi tersebut punya cryptocurrency-nya tersendiri dan seluruhnya berjalan di atas teknologi Ethereum.
  2. Menekankan pada kecepatan transaksi. Teknologi blockchain Bitcoin menekankan pada keamanan ketimbang kecepatan transaksi. Ethereum mampu memproses banyak transaksi kurang dari 20 detik (dengan asumsi tanpa ada hambatan), sementara Bitcoin membutuhkan 10 menit untuk melakukan hal serupa.
  3. Persediaan koin tidak terbatas. Jumlah Bitcoin di dunia ini terbatas hanya 21 juta keping saja. Di sisi lain, jumlah pasokan Ethereum tidak dibatasi sama sekali. Meski demikian, laju produksi keping-keping ETH baru terus menurun antar periode.

Karena kegunaan dan manfaatnya, pengguna jaringan Ethereum dan jaringan ERC-20 telah meningkat drastis antar tahun. Bahkan, di 2021, jumlah penggunanya telah melebihi rekor yang dicetak sebelumnya pada 2018.

 

Namun kini, Ethereum tengah mengalami masalah yang disebut dengan kemacetan jaringan (network congestion) dan ongkos transaksi yang kian mahal. Karena biaya penggunaan jaringan Ethereum (yang dikenal dengan gas fees) dibayar menggunakan ETH, maka kenaikan harga koin itu secara otomatis juga akan mengerek biaya transaksi di jaringan tersebut. Seluruh masalah tersebut akan terselesaikan jika nanti organisasi Ethereum telah memperbarui jaringan menjadi Ethereum 2.0.

Altcoins

Perilisan Ethereum telah menginspirasi komunitas kripto untuk merilis koin dan token lainnya. Seluruh aset digital ini kemudian dianggap sebagai alternatif dari cryptocurrency pertama, yakni Bitcoin, sehingga mereka kemudian dinamakan sebagai altcoins. Karena altcoins adalah koin selain Bitcoin, maka Ethereum pun secara otomatis juga masuk ke dalam golongan altcoins.

Altcoin hadir dalam berbagai bentuk dan menyediakan banyak fungsi. Beberapa koin memiliki ambisi besar seperti Ethereum, sementara koin lainnya memiliki fungsi khusus. Bahkan, beberapa koin malah memanfaatkan infrastruktur yang disediakan oleh koin lainnya. Sebagai contoh, platform tukar-menukar cryptocurrency terdesentralisasi seperti Uniswap memanfaatkan blockchain ERC-20 milik Ethereum dan bertindak selayaknya aplikasi di atas jaringan Ethereum. Kondisi ini mirip seperti sebuah aplikasi Android yang berada di atas Google Playstore.

Meski tidak ada cara yang baku untuk mengkategorikannya, jenis-jenis altcoin bisa dikelompokkan sesuai fungsi dan ekosistemnya. Sobat Cuan bisa menuju tautan berikut untuk mengenal lebih jauh 29 Altcoins yang ada di aplikasi Pluang.



Sumber : pluang.com

Lagi Tokcer, Apakah Harga Emas Diprediksi Akan Naik Terus di 2021?

Emas sedang menjadi primadona bagi banyak orang belakangan ini. Betapa tidak, setelah “tertidur” selama tiga bulan, harga emas tiba-tiba menyeruduk mendekati level US$1.900 per ons.

Namun, pertanyaan besarnya adalah, sampai kapan tren harga ini akan bertahan? Bagaimana prediksi harga emas di 2021 ini? Sampai di angka berapa emas akan mentok? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tentu kerap muncul di benak mereka yang menaruh harapan tinggi terhadap emas.

Maka dari itu, ada baiknya Sobat Cuan baca artikel ini hingga selesai. Siapa tahu, memang tahun ini akan menjadi tahun yang berkah bagi logam mulia.

Baca juga: Benarkah Harga Emas Naik Saat Ekonomi AS Lesu? 6 Peristiwa Ini Buktinya!

Menyelami Prediksi Harga Emas 2021

Sebelum menelaah prediksi harga emas tahun ini, Sobat Cuan perlu memahami bahwa artikel ini ditulis pada pertengahan Mei 2021. Alias, hampir mencapai setengah dari keseluruhan tahun 2021.

Sehingga, dengan mengingat harga emas saat ini di kisaran US$1.850 per ons, masih ada waktu bagi harga emas untuk mencapai prediksi harga di bawah. Adapun, prediksi harga emas 2021 di bawah ini dihimpun dari berbagai lembaga keuangan, yang dikompilasi oleh analis senior Goldsilver.com Jeff Clark.

Dari tabel di atas, bisa diketahui bahwa beberapa lembaga keuangan top dunia masih berharap bahwa harga emas bisa kembali menyentuh US$2.000 per ons. Bahkan, ada juga yang optimistis dengan memegang angka US$2.300 per ons.

Tetapi harus dilihat juga, bahwa ada pandangan konservatif yang memarkirkan proyeksi harga emasnya di kisaran US$1.900 per ons. Di mana, prediksi tersebut tidak dicantumkan dalam tabel di atas.

Prediksi harga emas dari CPM Group dan Capital Economic, misalnya, memang terlihat lebih rendah dari kebanyakan lembaga. Yakni, di kisaran US$1.900 saja. Meski demikian, tetap ada hal menarik yang bisa dipetik dari dua ramalan yang “pesimistis” ini.

Jika harga emas melonjak jadi US$1.900 per ons, artinya harga logam mulia akan mengalami pertumbuhan 8% dibanding tahun lalu. Memang, angka itu lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 24%. Namun, setidaknya harga emas masih bisa bertumbuh setelah melalui awal tahun yang bergejolak.

Seperti diketahui, harga emas di awal tahun ini memang terombang-ambing disebabkan oleh kenaikan tingkat imbal hasil obligasi AS. Hubungan antara harga emas dan yield obligasi AS bisa disimak di artikel berikut.

Namun, jika memang harga emas tetap melanjutkan reli, kira-kira apa faktor pendukung utamanya?

Baca juga: Apa Itu Kebijakan Moneter?

3 Hal Ini Akan Pengaruhi Prediksi Harga Emas 2021

Sobat Cuan mungkin paham bahwa terdapat dua faktor yang bikin harga emas terbang di pertengahan Mei. Yakni, tingkat inflasi yang melonjak dan juga antisipasi investor atas kebijakan suku bunga acuan bank sentral The Fed.

Departemen Ketenagakerjaan AS merilis data bahwa tingkat inflasi tahunan April tercatat 2,4%, atau lonjakan tertinggi sejak 2009. Namun, The Fed sendiri mengatakan tidak akan segera mengubah suku bunga acuan, sehingga harga emas masih tetap aman.

Dua hal ini nampaknya tetap akan menjadi sentimen utama bagi prediksi harga emas 2021. Untuk lebih lengkapnya, Sobat Cuan bisa membaca penjelasan di bawah ini:

1. Ancaman Inflasi

Ancaman inflasi di AS semakin di depan mata. Banyak analis memperkirakan, inflasi mendekati akhir tahun akan semakin kencang seiring meningkatnya daya beli. Ini merupakan dampak langsung dari pembukaan kembali aktivitas ekonomi (reopening) pasca pandemi COVID-19.

Buktinya sudah bisa dirasakan pada April, di mana tingkat inflasi tahunan sudah mencapai 2,4%. Jika memang tren inflasi berlanjut, bukan tidak mungkin investor memburu emas sebagai aset pelindung kekayaan. Hal tersebut kemudian akan berujung ke kenaikan harga emas sepanjang tahun ini.

2. Suku Bunga Rendah

Seperti yang dijelaskan di atas, sikap The Fed yang memberi sinyal untuk tidak menaikkan suku bunga acuan akan berdampak baik bagi harga emas. Mengapa demikian?

Ketika The Fed menaikkan suku bunga acuan, maka hal itu juga akan mendongkrak tingkat imbal hasil produk jasa keuangan, seperti deposito, maupun obligasi. Jika itu terjadi, artinya investor akan lebih memilih menggenggam dua instrumen tersebut dan mulai melepas emas. Akibatnya, harga logam mulia pun bisa longsor.

Untungnya, sampai sejauh ini, The Fed belum memberikan sinyal akan mengerek suku bunga acuannya. Otoritas moneter AS itu sebelumnya mengatakan bahwa perubahan suku bunga acuan “mungkin” terjadi jika inflasi sudah menyentuh 2%.

Sehingga, yang perlu Sobat Cuan lakukan hanyalah berharap bahwa The Fed tidak akan melakukan prank dengan menaikkan suku bunga acuannya di tahun ini.

Baca juga: Indeks Saham AS dan Bitcoin Kompak Mencari Jalan untuk Menguat Pekan Ini

3. Pelemahan Nilai Dolar AS

Karena pembelian emas dilakukan dengan dolar AS, maka penurunan nilai mata uang tersebut akan membuat harga logam mulia menjadi relatif lebih murah. Sehingga, investor yang jarang bertransaksi menggunakan dolar AS akan memborong emas, dan mengerek harganya lebih tinggi.

Tetapi, apakah nilai dolar AS di tahun ini akan melandai? Jawabannya, adalah sangat mungkin.

Sejak awal tahun ini, The Fed dan pemerintah AS sama-sama memberikan kebijakan moneter dan fiskal yang cukup longgar. Tujuannya, adalah untuk memulihkan daya beli masyarakat selepas dihantam pandemi COVID-19.

Hasilnya, jumlah uang beredar akan semakin banyak jika dua kebijakan tersebut dilonggarkan. Nah, jika suplai dolar AS semakin banyak, artinya nilainya akan semakin di bawah tekanan. Hal ini tentu akan mendorong harga emas ke tingkat yang lebih tinggi.

Kesimpulan

Dengan menimbang prediksi di atas, maka saat ini tentu adalah saat yang tepat bagi Sobat Cuan untuk menimbun emas. Apalagi, menurut artikel berikut, kuartal II memang dikenal sebagai masa yang tepat untuk mengumpulkan emas.

Kalau begitu, tidak ada salahnya Sobat Cuan membeli emas digital di Pluang! Sebab, Pluang memiliki spread transaksi rendah, hanya 1,75%, plus tidak ada pembebanan biaya admin! Yuk, investasi emas digital di Pluang sekarang!

Baca juga: Cetak Rekor Melulu, Ini Alasan Harga Ethereum Bakal Terbang Terus!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Goldsilver.com



Sumber : pluang.com

Mengenal Berbagai Macam Gaya Berinvestasi

Investor memiliki gaya tersendiri dalam berinvestasi. Berikut adalah ragam contoh gaya investasi yang sering dilakukan investor, baik investor pemula maupun kawakan.

1. Analisis Fundamental vs Analisis Teknikal

Investor biasanya menggunakan dua pendekatan untuk menganalisis instrumen finansial, yakni analisis fundamental dan analisis teknikal.

Analisis fundamental: Analisis fundamental digunakan untuk menentukan nilai intrinsik dari sebuah aset sehingga kamu bisa memanfaatkan kesempatan apabila pasar menilai berbeda dari perkiraanmu. Kamu bisa mendulang cuan dengan membeli aset saat harga pasar lebih murah dibanding nilai intrinsiknya lalu menjualnya kembali saat pelaku pasar kembali menyadari nilai sesungguhnya dari aset tersebut.

Penganut paham analisis fundamental (alias kaum fundamentalis) percaya bahwa mereka bisa memanfaatkan data-data perusahaan yang terbuka untuk umum, seperti laporan keuangan dan neraca perusahaan, untuk menentukan nilai saham atau instrumen lain yang diterbitkan perusahaan tersebut. Caranya adalah dengan melihat arus kas, profitabilitas, rasio atau indikator penerimaan perusahaan tersebut.

Kaum fundamentalis percaya bahwa pada akhirnya harga pasar sebuah aset akan sesuai dengan nilai yang dianggap pantas, namun pasar membutuhkan waktu untuk menyerap kabar dan informasi untuk menilai secara tepat. Sehingga pemegang prinsip ini akan bersikap sabar setelah berhasil membeli aset pada harga yang dirasakan murah dan menunggu sampai pasar pada akhirnya juga menyerap informasi dengan benar dan mendorong harga pasar ke atas.

Analisis teknikal: Melalui analisis ini, investor mencoba melihat celah untuk masuk atau keluar pasar menggunakan data historis atau pola pergerakan sebuah harga aset di masa lampau. Analisis ini berbeda dengan analisis fundamental, yang berfokus mencari celah cuan dari perbedaan harga pasar dan nilai intrinsik sebuah aset.

Penganut analisis teknikal percaya bahwa aspek psikologis mendorong pemain pasar untuk bertindak mengikuti suatu pola jual-beli aset yang dapat dikenali. Misalnya menjual aset saat harga menyentuh level resistance supaya memastikan balik modal dan membukukan laba. 

Investor tidak boleh memasukkan harga beli aset sebagai komponen dalam menentukan harga jual aset mereka. Sebab, harga beli aset merupakan sunk cost, suatu pengeluaran yang sudah terjadi dan tidak dapat dipulihkan kembali ketika seseorang mengambil keputusan bisnis. Hanya saja, banyak investor tidak suka untuk mengakui kerugiannya dan biaya ini merupakan hal yang sering mempengaruhi waktu masuk atau keluar pasar.

Kedua jenis analisis tersebut sama-sama memiliki manfaat dalam berinvestasi. Analisis teknikal terutama berguna di pasar kripto lantaran pergerakan harganya lebih dipengaruhi oleh momentum dan banyak pemain pasar yang memakai algoritma dalam trading. Trader seperti ini akan bergerak mengikuti sinyal trading yang bersumber dari analisis teknikal dan selanjutnya tindakan mereka itu akan menciptakan gaung yang memastikan pola dan tren benar-benar tercipta. Pasar kripto benar-benar pasar yang cocok untuk analisis teknikal. 

Di sisi lain, manajer dana internasional (hedge fund) memanfaatkan analisis fundamental ketika akan menempatkan dananya. Namun, mereka juga menggunakan trading berbasis analisis teknikal ketika ingin masuk atau keluar pasar.

2. Investasi Jangka Panjang vs Trading Harian

Layaknya bertanding catur atau basket, berinvestasi juga membutuhkan strategi yang bermacam-macam. Beberapa strategi fokus dalam membeli aset dasar (underlying asset) dan menyimpannya sampai harga meningkat dan membiarkan waktu bekerja untuk menghasilkan efek majemuk. Sementara itu, strategi lainnya mengharuskan kamu untuk masuk dan keluar pasar dan berseluncur di atas gelombang volatilitas harga dan momentum menerjang pasar.

Terdapat dua gaya berinvestasi utama yang bisa dibedakan dari lamanya memegang aset.

1. Beli dan Tahan (investasi jangka panjang). Kebanyakan aset akan melihat peningkatan harga seiring berjalannya waktu (walau memang mungkin kenaikan tersebut hanya untuk menyesuaikan dengan tingkat inflasi).

Investor jangka panjang akan mencari aset yang nilainya berpotensi menanjak untuk memperoleh imbal hasil yang wajar untuk kelas aset tersebut. Berkat dampak bunga majemuk, kenaikan nilai investasi ini tetap akan signifikan bahkan jika si investor telah membeli aset tersebut pada saat harganya sedang di atas. Investor dengan gaya seperti ini tidak akan menunggu sampai pasar koreksi besar-besaran jika dia sudah memiliki strategi jangka panjang.  

Ini terlihat dari gambar di bawah, bahwa jika kamu masuk ke pasar saham di tahun 2007, setahun sebelum pasar jatuh karena krisis keuangan global, sekarang investasi kamu tetap menunjukkan kenaikan yang luar biasa sekitar 200%.

2. Trading harian. Dalam melakukan trading harian, kamu biasanya akan menjual dan membeli aset berdasarkan analisis teknikal. Misalnya, tren dan pola yang terlihat pada grafik dan indikator kuantitatif berdasarkan harga, volume perdagangan, dan kecepatan pergerakan harga.

Investor pemula sebaiknya menggunakan strategi “beli dan tahan” untuk mengambil manfaat dari efek bunga majemuk. Investor awam memang memerlukan kesabaran dan disiplin dalam menjalankan strategi ini. Namun, jika strategi ini dijalankan dengan tepat, mereka akan memperoleh rerata tingkat imbal hasil yang mumpuni dalam jangka panjang.

Selanjutnya semakin banyak pengalaman dan pembelajaran dari memegang aset dan semakin tinggi keberanian untuk meningkatkan jumlah yang dialokasikan untuk aset-aset tersebut, investor bisa memulai mencari ekstra cuan dengan trading. Portfolio kemudian bisa dikembangkan dengan tujuan ini di mana investor mencari waktu yang menarik atau “nama” yang menarik untuk secara aktif diperjualbelikan. 

Trading bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan, seru, dan menguntungkan. Hanya saja, trading sudah dipastikan memiliki risiko lebih tinggi. Jika kamu masih baru coba-coba, sebaiknya dimulai dengan nama aset yang lebih stabil dan banyak dikenal untuk menyesuaikan kemampuan kamu mengatur langkah di tengah pergerakan pasar. Trading secara serius sebaiknya baru dilakukan jika kamu sudah menguasai ilmu-ilmu dasar trading.

Gaya Investasi Lainnya

Berikut ini adalah gaya investasi lain yang biasanya dipraktikkan investor.

Value investing. Strategi investasi ini berfokus dalam mencari aset yang memiliki harga pasar lebih rendah dibanding nilai buku atau nilai intrinsiknya. Dengan kata lain, mereka yang melakukan strategi ini selalu memilih saham atau aset yang “diremehkan” oleh pelaku pasar lainnya.

Sebagai contoh, saham perusahaan tambang seperti BHP memiliki tingkat imbal hasil 10% bersamaan dengan kenaikan harga komoditas. Namun, harga saham perusahaan tersebut runtuh ketika kegiatan ekonomi terhenti akibat pandemi. Tingkat imbal hasil naik menjadi 15% karena investor sekarang memerlukan modal lebih sedikit untuk membeli saham tersebut dibandingkan sebelum pandemi. 

Seorang value investor akan membeli saham tersebut dengan tujuan untuk memperoleh dividen BHP sekaligus menunggu naiknya harga ke tingkat normal dan modalnya yang awal bekerja untuk meningkatkan kekayaannya.  

Growth investing. Strategi investasi ini mencari perusahaan yang memiliki keunggulan pasar yang tinggi dibandingkan pesaingnya yang memungkinkan mereka bertahan saat pasar lesu. Keunggulan ini biasanya dari nilai merek yang kuat (contoh : Nike), perusahaan teknologi yang memiliki beragam hak paten (contoh: Google), dan perusahaan yang punya ekosistem produk kuat dan digemari banyak orang (contoh: Apple), atau mungkin gabungan dari semuanya. 

“Daya tahan” ini membuat kinerja keuangan perusahaan-perusahaan itu terus bertumbuh dan meningkatkan pendapatan, laba dan arus kas di masa depan. Perusahaan itu mungkin sekarang sedang tidak menghasilkan laba bersih namun masa depannya harus yang sangat menjanjikan. 

Contohnya adalah Nike. Produsen sepatu ini sukses memasarkan produknya secara global di dekade 1980-an setelah jenamanya menguat akibat menggunakan bintang basket NBA Michael Jordan sebagai duta sepatu sneakers besutannya. Alhasil, pendapatan Nike langsung melesat di beberapa negara.

Sementara itu, perusahaan teknologi yang memonopoli data seperti Google, Facebook, Amazon, Microsoft, dan Apple selalu punya jalan untuk membuat konsumennya setia menggunakan produk dan jasa mereka, dan bahkan bisa memonetisasinya atau menjadikannya sumber laba, tanpa mengenakan biaya ke konsumen. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki skala ekonomis besar dan akibatnya juga bisa mendulang imbal hasil yang terus meningkat.

Momentum investing. Ini adalah strategi investasi di mana investor membeli aset yang permintaannya tengah tinggi dan menahannya dalam jangka pendek sebelum menjualnya kembali saat harga memuncak. Investor biasanya latah mengikuti tindakan investor lain dengan membeli aset yang harganya tengah naik, namun langsung buru-buru keluar dari pasar sebelum tren harganya berbalik arah. Oleh karenanya, strategi ini cocok bagi investasi jangka pendek.

Seiring meningkatnya penggunaan teknologi oleh dunia keuangan, pemanfaatan algoritma juga kian marak digunakan untuk trading dan memasang posisi dalam berinvestasi. Nah, kegiatan ini disebut dengan trading berbasis algoritma (algorithmic trading).

Di dalam algorithmic trading, investor memanfaatkan kode-kode pemrograman untuk melakukan jual-beli aset yang memiliki harga tidak sesuai dengan nilai intrinsiknya. Aktivitas trading seperti ini banyak dilakukan oleh orang pintar sekelas ilmuwan nuklir dan ahli matematika untuk menganalisa pergerakan harga yang terjadi bahkan di tingkatan peristiwa sekecil mungkin (quantum level). Sebagai contoh, James Simons, pendiri hedge fund paling menguntungkan sejagat Renaissance Technologies, dulunya adalah seorang matematikawan yang pernah mendapat penghargaan. Kini, kekayaan Simons ditaksir US$25,4 miliar.

Para investor kawakan biasanya memiliki keahlian dalam satu jenis gaya investasi namun mereka mampu menyesuaikan gaya investasinya berdasarkan situasi pasar.



Sumber : pluang.com

Apakah Kita Bisa Capai Kebebasan Finansial di Usia 25? Cari Jawabannya di Sini!

Usia 25 tahun merupakan masa di mana sebagian besar orang sudah memiliki pekerjaan. Makanya, tak heran jika mereka sudah mencari cara untuk menggapai kebebasan finansial di masa depan. Salah satunya, adalah dengan menabung maupun investasi.

Namun, standar kekayaan finansial di usia 25 tahun tentu berbeda antara satu dan lainnya. Begitu pun soal jumlah harta ideal di usia tersebut.

Hal ini menjadi perdebatan sengit, sampai-sampai warganet pun saling melempar opini tentang “harta ideal di usia 25 tahun” di jagat maya.

Ya, betul. Beberapa waktu belakangan, “usia 25” bertengger di jajaran trending topic Twitter. Viralnya “usia 25” berakar dari sebuah cuitan yang bertuliskan ”Usia 25 tahun idealnya punya apa? Tabungan Rp100 juta. Cicilan rumah sisa 20% lagi beres. Punya kendaraan pribadi. Gaji minimal Rp8 juta.”

Beberapa orang menganggap, isi konten tersebut bukan sesuatu yang bisa dijadikan standar finansial semua orang. Sebab nyatanya, tidak semua orang bisa merasakan kebebasan finansial di usia tersebut.

Sehingga, ada baiknya Sobat Cuan tidak menganggap unggahan tersebut sebagai hinaan. Jadikan konten tersebut sebagai motivasi bagi kamu agar bisa meraih kebebasan finansial di usia dini.

Nah, untungnya, artikel ini akan membahas tips bagi kamu untuk mencapai kebebasan finansial di usia yang masih sangat muda. Yuk, simak apa saja hal-hal yang bisa kamu lakukan!

Baca juga: Pilih Menabung atau Investasi?

Cara Mencapai Kebebasan Finansial di Usia 25 Tahun

1. Miliki Pengetahuan tentang Keuangan Kamu

Saat masih duduk di bangku sekolah, sebagian besar dari kita mungkin tidak mendapatkan pendidikan tentang keuangan pribadi. Di sisi lain, sebagian besar orang tua juga tidak banyak memberikan poin-poin penting dalam pengelolaan keuangan.

Tapi, tidak ada kata terlambat, Sobat Cuan! Untuk memulainya, kamu bisa belajar dari beberapa platform dunia maya seperti, Coursera, I Will Teach You To Be Rich, Wise Bread, Mr. Money Mustache, Consumerism Commentary, dan lain-lain.

Di sana, kamu akan mendapat banyak pemikiran dan sudut pandang tentang ekonomi serta prinsip-prinsip dasar dalam mengelola keuangan pribadi. Tujuannya, tentu agar kamu bisa meraih kebebasan finansial di usia 25 tahun. Bahkan, lebih muda dari itu!

2. Biasakan Menabung Sejak Dini

Hal penting yang harus dilakukan untuk meraih kebebasan finansial di usia 25 tahun adalah menabung. Tujuannya, tentu saja untuk menghabiskan lebih sedikit uang setiap hari. Namun, tidak sampai menyiksa diri tentunya.

Cara berhemat dan menabung paling mudah bisa dimulai dari mengatur anggaran serta mematok standar finansial untuk masa depan. Mulai dari berbelanja dengan kupon voucher, cashback, atau saat ada promo belanja heboh.

Setelah mulai membuat anggaran, kamu akan mengetahui pengeluaran apa saja yang bisa diganti oleh kegiatan lain atau bahkan dihapus. Misalnya, pengurangan anggaran makan di luar atau unsubscribe keanggotaan gym ketika jarang digunakan.

Saat sedang berhemat, kamu memiliki kesempatan untuk menabung lebih banyak dan membangun perilaku bertanggung jawab atas keuangan pribadi.

3. Dana Darurat itu Penting, Lho!

Dana darurat adalah sekumpulan uang yang kamu alokasikan untuk pengeluaran yang tidak direncanakan.

Ketika terjadi hal yang tidak diharapkan, pos dana darurat ini akan bertindak sebagai asuransi untuk kehidupan kamu, Sobat Cuan. Misalnya, kecelakaan medis, kehilangan pekerjaan, biaya perbaikan kendaraan sehingga kamu tidak perlu berutang saat hal-hal tersebut terjadi.

Kemampuan menabung tentu saja dipengaruhi oleh besaran gaji, banyaknya utang dan jumlah penghasilan alternatif. Namun, goals dana darurat yang akan dicapai adalah sebesar tiga hingga enam bulan dari pengeluaran bulanan.

Kemudian, hal yang harus diingat, yaitu dana darurat sifatnya mendesak. Sebaiknya dana ini ditempatkan di instrumen keuangan liquid yang bersifat aman, seperti rekening tabungan kedua yang tidak bisa diganggu gugat.

4. Lunasi Utang Kamu Segera

Mau mencapai kebebasan finansial di usia 25 tahun? Lunasi utang adalah cara jitu nan pamungkas!

Ketika kamu sudah melunasi utang yang ada, akan ada banyak kesempatan-kesempatan bagus yang terbuka. Misalnya menyicil rumah, membeli mobil, bahkan menabung untuk umroh. Apabila belum, ada baiknya kamu mulai mencatat semua utang beserta jumlahnya dan mulai membayar menggunakan metode pembayaran utang.

Ada beberapa metode dalam pelunasan utang, misalnya Debt Snowball dan pembayaran ekstra.

Debt snowball adalah metode untuk membayarkan utang dari yang nominalnya paling kecil hingga ke yang paling besar. Pembayaran ekstra ini berlaku untuk utang yang nominalnya terendah. Maksud dari pembayaran ekstra ini adalah kamu bisa membayar angsuran utang lebih dari angsuran minimum yang ditetapkan. Misalnya, pembayaran kartu kredit.

5. Investasi agar Lebih Cuan di Pluang

Seperti halnya menabung untuk masa pensiun, investasi memiliki kemampuan untuk menghasilkan bunga majemuk. Yakni, bunga yang akan membantu uangmu tumbuh cepat setiap waktunya. Nah, artinya, semakin cepat kamu memulai investasi, maka semakin cuan pula hasilnya.

Selain dimulai sekarang, keberhasilan investasi juga dipengaruhi oleh diversifikasi portofolio. Sebab, dengan diversifikasi aset, artinya kamu menyebarkan risiko investasimu di beragam kelas aset.

Nah, aplikasi investasi yang cocok bagimu untuk melakukan diversifikasi aset adalah Pluang! Di sini, kamu bisa berinvestasi emas digital, S&P 500, Ethereum dan Bitcoin hanya dalam satu aplikasi. Apalagi, berinvestasi di Pluang tidak dikenakan biaya admin, lho!

Yuk, berinvestasi di Pluang demi mencapai kebebasan finansial sebelum usia 25 tahun!

Baca juga: Jangan Boros dengan Dana Daruratmu, Ini 5 Strategi Aman Hadapi Krisis

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Artofmanliness, Kompas



Sumber : pluang.com

Gak Bisa Baca Candlesticks? Simak Cara Bacanya Bagi Pemula di Sini!

Sobat Cuan yang lagi doyan investasi tentu ingin investasinya cuan, dong? Makanya, kamu perlu memahami sedikit saja mengenai analisis teknikal. Hanya saja, kamu mungkin pusing melihatnya lantaran isinya hanya grafik-grafik yang bergerak naik dan turun.

Nah, Sobat Cuan mungkin mengerti bahwa bagian yang naik-turun tersebut dinamakan candlesticks, karena memang bentuknya seperti lilin. Namun, candlesticks tidak hanya dipahami oleh mereka yang sudah jago investasi saja, lho! Investor pemula seperti kamu pun bisa memahami cara membaca candlesticks secara mudah.

Untuk itu, yuk simak baik-baik artikel ini hingga habis!

Baca juga: Lagi Coba Main Saham? Ini 7 Indikator untuk Pahami Analisis Teknikal!

Mau Tahu Cara Membaca Candlesticks? Kenalan Dulu Dengan Candlesticks

Candlesticks adalah sebuah gambar yang menunjukkan rentang pergerakan harga sebuah aset dalam satu rentang waktu tertentu. Bisa dalam bentuk menit, jam, bahkan per hari.

Karena berbentuk rentangan, makanya candlesticks juga disebut sebagai representasi dari emosi investor dan trader pada waktu tersebut.

Rangkaian candlesticks dapat membentuk sebuah pola harga. Di mana, pola tersebut digunakan trader dan investor untuk membuat keputusan membeli atau menjual aset yang mereka genggam. Selain itu, pola tersebut juga bisa membantu mereka menaksir pergerakan harga sebuah aset dalam jangka pendek.

Candlesticks lahir di Jepang, tepatnya 100 tahun sebelum negara-negara barat memperkenalkan grafik dan point-and-figure chart.

Inspirasi candlestick diyakini berasal dari seorang pria Jepang bernama Homma. Kala itu, ia menemukan bahwa harga beras saat itu tak hanya ditentukan oleh permintaan dan penawaran, namun juga emosi para pedagang beras.

Komponen Candlesticks

Nah, setelah mengenal maksud dan fungsi dari alat teknikal satu ini, kini saatnya kita memulai langkah awal cara membaca candlesticks.

Satu candlestick menunjukkan harga pembukaan, tertinggi, terendah, dan penutupan. Selain itu, candlestick juga memiliki “batang”, yang merupakan bagian terbesar dari gambar tersebut.

Sobat Cuan bisa memeriksa anatomi candlestick melalui gambar di bawah ini:

Cara membaca candlesticks
Sumber: Investopedia

Nah, Sobat Cuan perhatikan baik-baik gambar di atas. Terdapat batang candlestick yang berisi (berwarna hitam) dan tidak, bukan?

Ketika batang candlesticks memiliki isi, artinya harga penutupan lebih rendah dibanding harga pembukaan. Begitu pun sebaliknya. Batang candlesticks yang “kopong” menunjukkan harga penutupan lebih tinggi dibanding harga pembukaan.

Namun, batang candlesticks tak selalu berwarna hitam dan putih ya, Sobat Cuan.

Dalam beberapa platform trading, candlesticks yang berwarna hitam bahkan bisa berwarna merah untuk menunjukkan bahwa harga aset tersebut tengah turun. Atau, bergerak menuju “zona merah”. Sementara itu, candlesticks yang kosong bisa berwarna hijau.

Baca juga: Demi Bisa Menabung, Simak Cara Hidup Hemat dan Sehat dalam 7 Langkah

Cara Membaca Candlesticks: Memahami Pola Dasar Candlesticks

Pergerakan candlesticks yang naik turun mewakili pergerakan harganya. Memang. pergerakan harga ini secara kasat mata terbilang acak. Namun, rentetan candlesticks ini bisa membentuk suatu pola harga yang bisa digunakan investor dan trader untuk melakukan analisis.

Nah, pola harga tersebut kadang dibagi dua. Yakni, pola bearish dan bullish.

Penjelasan lebih lanjut mengenai keduanya bisa kamu temukan di artikel ini. Namun intinya, pola bullish mengindikasikan bahwa pola harga cenderung terlihat menanjak. Sementara itu, pola bearish adalah sebaliknya.

Namun, banyak sekali lho, variasi dari pola bearish dan bullish yang perlu kamu ketahui. Apa saja pola tersebut?

Cara Membaca Candlesticks Untuk Pola Bullish

1. Bullish Engulfing Pattern

Cara Membaca Candlesticks: Bullish Engulfing Pattern
Sumber: Investopedia

Pola ini terjadi ketika aksi beli yang dilakukan trader akan mengungguli mereka yang melakukan aksi jual. Sehingga, pola harga yang melemah lambat laun berubah menjadi menguat.

Hal ini biasanya ditandai dengan mengecilnya ukuran batang yang berisi​ seiring waktu (perbedaan antara harga pembukaan dan penutupan), sebelum batang yang kosong akhirnya “menelan” (engulfing) batang berisi tersebut.

2. Bullish Harami

Bullish Harami
Sumber: Investopedia

Bullish Harami adalah kondisi di mana pola harga sebuah aset yang menurun mungkin bisa berbalik arah. Dalam hal ini, batang candlestick yang kopong akan muncul dengan ukuran lebih kecil dibanding batang berisi sehari sebelumnya.

Kondisi ini memberi petunjuk pada analis bahwa tren harga bearish mungkin sedang berhenti sementara. Jika harga kembali naik lagi keesokan harinya, maka ada kemungkinan trennya bisa kembali bullish.

3. Bullish Harami Cross

Bullish Harami Cross
Sumber: Investopedia

Bullish harami cross terjadi saat harga mengalami pola yang menurun. Di mana, candlestick yang paling akhir diikuti oleh doji. Doji merupakan kondisi di mana harga penutupan dan pembukaan berada di posisi yang sama. Implikasinya serupa dengan bullish harami.

4. Bullish Rising Three

Bullish Rising Three
Sumber: Investopedia

Pola ini dimulai dengan “long white day” di mana harga sebuah aset meningkat kencang. Namun, harganya kemudian menurun di sesi perdagangan kedua, ketiga, dan keempat. Meski menurun, namun rentang harga di sesi kedua, ketiga dan keempat masih sesuai dengan rentang harga yang terjadi saat sesi pertama.

Biasanya, penurunan harga selama tiga hari berturut-turut tersebut akan mengasilkan “long white day” yang baru.

Cara Membaca Candlesticks Untuk Pola Bearish

1. Bearish Engulfing Pattern

Cara Membaca Candlesticks: Bearish Engulfing Pattern
Sumber: Investopedia

Pola ini merupakan kebalikan dari bullish engulfing pattern. Di mana, aksi jual akan mengungguli aksi beli. Pola ini mengindikasikan bahwa harga bisa jadi akan terus melandai dalam beberapa saat ke depan.

2. Bearish Evening Star

Bearish Evening Star
Sumber: Investopedia

Ini adalah pola yang diawali setelah harga yang tinggi bak bintang. Hal ini ditandai dengan harga pembukaan yang sedikit lebih rendah dibanding batang candlestick sehari sebelumnya yang berukuran mini.

Pola ini menujukkan bahwa aksi beli terbilang mangkrak, sehingga pasar dikendalikan oleh mereka yang melakukan aksi jual.

3. Bearish Harami

Bearish Harami
Sumber: Investopedia

Bearish Harami adalah kebalikan dari Bullish Harami. Di mana, kondisi yang awalnya terbilang bullish bisa-bisa berbalik arah begitu saja.

Hal ini menunjukkan kegamangan yang dialami oleh trader yang biasa melakukan aksi beli. Meski memang investor atau trader lain tak perlu bereaksi terhadap indikator ini, namun mereka tetap harus memantau perkembangan selanjutnya.

4. Bearish Falling Three

Bullish Falling Three
Sumber: Investopedia

Pola ini dimulai dengan penurunan harga yang kuat, dan diikuti oleh tiga candlesticks yang menunjukkan indikasi penguatan. Namun, setelahnya, candlestick kembali menunjukkan penurunan yang signifikan

Hal ini membuktikan bahwa aksi jual sudah menguasai pasar sehingga harga bisa jadi kembali bergerak turun.

Jadi bagaimana, Sobat Cuan? Sudah siap untuk mempraktikkan analisis teknikal ini? Yuk, mulai dengan membaca analisis Pluang tentang aset kripto di artikel ini dan ini.

Baca juga: Katanya Harga Bitcoin Punya Siklus 4 Tahunan. Apakah Itu?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia



Sumber : pluang.com

Investasi Untuk Pemula

Sobat Cuan pasti sering mendengar ajakan berinvestasi untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak di masa depan. Apalagi, kini banyak sekali influencer berseliweran memamerkan hasil investasi mereka di media sosial.

Namun, apa pengertian investasi sesungguhnya? Apakah investasi sama seperti kegiatan menyimpan uang? Terlebih lagi apakah investasi itu sama dengan kegiatan spekulasi?

Apa Itu Investasi?

Investasi adalah kegiatan menempatkan dana di sebuah “benda” yang kita sebut dengan aset dengan tujuan bahwa aset tersebut akan naik nilainya di masa depan. Aset bisa memberikan imbal hasil, misalnya ketika kita menerima pendapatan bunga atas tabungan kita dari bank. Atau kita juga bisa mendulang laba dari modal kita atau capital gain ketika harga aset yang digenggam meningkat. Capital gain adalah keuntungan yang kamu dapatkan ketika menjual aset dengan harga lebih tinggi dibanding harga belinya, seperti ketika kamu menjual saham ketika harganya naik. 

Terdapat beragam kelas aset mulai dari emas, aset kripto, saham, hingga reksa dana pendapatan tetap. Setiap kelas aset ini menawarkan kemungkinan imbal pendapatan dan kenaikan harga yang berbeda.

Apakah Investasi Sama Dengan Menabung?

Investasi adalah menempatkan dana dalam instrumen aset. Menabung adalah kegiatan menyimpan uang di tempat aman. Baik investasi maupun menabung adalah kegiatan menyisihkan uang untuk kebutuhan di masa mendatang.

Ketika masyarakat berbicara mengenai menabung, mereka biasanya merujuk kegiatan menempatkan uang di rekening bank. Dana ini biasanya hanya memperoleh imbal hasil yang kecil atau bahkan tidak sama sekali. Akibatnya nilai simpanan bisa tergerus oleh inflasi di mana daya beli jumlah yang ditabung akan melemah karena harga barang terus meningkat. The Jakarta Post memperkirakan bahwa seorang pemilik rekening yang jumlah tabungannya kurang dari US$1.000, atau Rp14,5 juta tidak akan mendapatkan keuntungan sama sekali dari simpanannya dikarenakan biaya-biaya bank untuk rekening tersebut. 

Di lain sisi, investasi merujuk pada kegiatan untuk mencari cuan yang lebih tinggi. Kita memahami bahwa laba ini biasanya juga disertai dengan resiko yang lebih tinggi dibandingkan menabung biasa. Namun pada jangka panjang, berinvestasi pada aset seperti saham, obligasi, emas, dan aset kripto akan memberikan imbal hasil melebihi laju inflasi dan juga dibandingkan imbal hasil menabung di bank yang biasanya berkisar di antara 0 hingga 1%. 

Intinya, menabung adalah kegiatan yang bertujuan untuk menjaga uangmu. Di sisi lain, investasi bertujuan untuk mengembangkan uangmu. Berikut adalah perbedaan lebih lanjut menabung dan investasi.



Sumber : pluang.com

4 Konsep Utama Investasi Yang Perlu Diketahui

Terdapat empat konsep utama yang perlu diketahui investor dalam berinvestasi sebagai berikut:

1. Bunga Majemuk

Kamu mungkin pernah mendengar konsep bunga majemuk (compound interest) atau imbal hasil majemuk (compound returns). Menurut konsep ini, kita akan memperoleh pendapatan bunga dari investasi awal kita di mana pendapatan bunga itu akan menghasilkan pendapatan bunga berikutnya dan bunga akan terus menghasilkan bunga sehingga cuan yang kamu dapatkan bisa tumbuh secara eksponensial.

Sebagai contoh, anggap saja kamu berinvestasi Rp10 juta dan membiarkannya tumbuh selama 30 tahun. Berapa nilai uang yang bisa kamu dapatkan pada akhir periode tersebut dengan asumsi imbal hasil 5%, 10% atau 15%? Jawabannya bisa kamu temukan di grafik berikut:

Dari gambar di atas, kamu bisa melihat bahwa perubahan tingkat bunga majemuk yang relatif kecil akan menghasilkan perubahan yang besar terhadap nilai pokok investasi setelah 30 tahun. Nilai akhir portofolio investasi dengan tingkat imbal hasil 15% sekitar 14 kali lipat dari portofolio yang memiliki tingkat imbal hasil 5%.

Kondisi di atas mencerminkan aturan pertama dari konsep keuangan: Waktu adalah sahabat terbaik saat aset berkembang sebab penghitungan bunga majemuk memungkinkan imbal yang berlipat.

Sobat Cuan bisa menggunakan aturan 72 (Rule of 72) untuk melihat dampak dari bunga majemuk terhadap nilai pokok investasi. Dengan menggunakan aturan ini, kamu akan mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan untuk menggandakan investasimu.

Sebagai contoh, anggap kamu berinvestasi di satu aset yang memiliki imbal hasil 10% per tahun. Maka, kamu perlu berinvestasi di aset tersebut selama 7,2 tahun agar nilai pokok investasi menjadi dua kali lipat, seperti dijelaskan di dalam rumus berikut:

 

Jika ingin menggandakan uang dalam tiga tahun saja maka kamu harus menempatkan dana di instrumen yang memiliki tingkat imbal hasil 24% per tahun.

Sobat Cuan bisa melihat rata-rata pertumbuhan nilai kelas-kelas aset utama dalam 10 tahun terakhir pada grafik di bawah ini. Terlihat bahwa di luar aset kripto, global equities atau saham-saham global yang memiliki kinerja paling paling tokcer dibandingkan kelas aset lainnya.

Dengan rerata imbal hasil 20,2% per tahun, kamu bisa menggandakan uangmu hanya dalam 3,6 tahun jika menempatkan dana di saham global. Atau dengan kata lain, uang US$1 bisa menjadi $2 setelah 3,6 tahun dan akan menjadi $4 setelah 7,2 tahun dari awal investasi dan menjadi $8 setelah 10,8 tahun dari pertama kali $1 ditanamkan.

Bitcoin dan aset kripto lainnya telah mencetak imbal hasil yang mencengangkan namun 10 tahun yang lalu aset ini masih penuh ketidakpastian dan diragukan kemampuan bertahannya. Baru beberapa tahun terakhir inilah aset kripto diperhitungkan sebagai kelas aset investasi. 

2. Risiko

Kamu mungkin pernah mendengar istilah “Tidak ada makan siang gratis” . Konsep ini berlaku di dunia keuangan, di mana potensi cuan yang lebih besar datang bersama dengan risiko yang lebih  tinggi.

Risiko adalah ketidakpastian akan hasil akhir yang diperkirakan dari sebuah kejadian tertentu. Misalnya investor yang telah menanam modal awal dalam sebuah perusahaan mungkin berpikir bahwa nilai perusahaan tersebut saat penawaran perdana sahamnya ke umum akan mencapai US$1 miliar. Namun saat para analis saham menilai perusahaan tersebut, angka yang mereka dapatkan berada dalam rentang US$500 juta hingga US$1,5 miliar. 

Semakin lebar rentang hasil akhir yang mungkin didapatkan maka semakin tinggi pula resiko investasi tersebut. 

Contoh lain adalah apabila kamu memutuskan membeli obligasi pemerintah bertenor satu tahun (akan jatuh tempo setelah satu tahun) senilai Rp1 juta yang menjanjikan imbal hasil 5%. Mengingat investasi obligasi pemerintah tidak berisiko tinggi, maka kamu pasti akan mendapatkan imbal hasil di angka tersebut. Dengan kata lain, di luar kejadian bahwa pemerintah RI akan bangkrut, nilai investasi tidak akan berkembang menjadi Rp1,06 juta atau sebaliknya melorot menjadi Rp1,04 juta, kamu hanya akan memperoleh 1,05 juta saat jatuh tempo. Hasil akhir yang didapatkan sangat dapat diperkirakan.

Sebaliknya jika kamu menaruh dana tersebut di aset kripto, investasi sebesar Rp1 juta tersebut bisa menjelma antara Rp100.000 hingga Rp10 juta.  Besar kemungkinan bahwa harga aset kripto yang kamu genggam tidak akan bernilai Rp1 juta lagi di masa depan, sehingga membenamkan dana di aset tersebut bisa dikatakan sebagai investasi yang “lebih berisiko”.

Semua investor sangat khawatir dengan risiko jatuhnya nilai portofolio. Jika nilainya habis terhapus maka kita telah kehilangan modal untuk berinvestasi selanjutnya. Dan jika kamu menarik 50% pokok investasi pertamamu, maka kamu akan membutuhkan tingkat imbal hasil 100% dari sisa yang ditanamkan agar investasi balik modal. 

Hanya saja meraih tingkat imbalan 100% adalah hal yang sukar. Karenanya investor cenderung bersikap bukan saja menghindari risiko (risk-averse) namun juga menghindari kerugian (loss-averse) ketika berinvestasi.

3. Diversifikasi

Jika kamu pernah mendengar perkataan “Jangan taruh seluruh telurmu di satu keranjang”, maka maksud kalimat itu adalah diversifikasi.

Dalam berinvestasi, diversifikasi adalah aksi menempatkan dana di beberapa aset yang nilainya akan meningkat saat nilai aset lain dalam portfolio tersebut menurun. Sebagai contoh pada saat krisis keuangan global lebih dari satu dekade lalu,  harga emas meroket dan harga saham sebaliknya terjun bebas. Investor berebutan untuk melepas saham dan menukarnya untuk aset-aset yang dianggap aman (safe haven).

Jadi, jika kamu berinvestasi di emas dan saham pada saat itu, maka penurunan nilai portofolio mu tidak akan sedalam ketika kamu berinvestasi di saham saja.

Pada dasarnya, berinvestasi bertujuan untuk mencapai “keseimbangan” yang baik antara kelas-kelas aset utama: emas, instrumen berpendapatan tetap, aset kripto, dan ekuitas (baik saham global seperti Facebook maupun saham domestik seperti BCA). Hasil penelitian akademik menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, portofolio yang terdiversifikasi mampu menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi dan risiko yang lebih rendah bagi investor. 

Sobat Cuan bisa menengok diagram portofolio di bawah ini untuk memahami konsep diversifikasi. Di dalam portofolio ini, sang investor telah menempatkan 35% dananya di aset-aset dengan sifat “bertahan”, yakni emas dan instrumen berpendapatan tetap, yang kinerjanya diharapkan tetap moncer kala suku bunga menurun.

Di saat bersamaan, sang investor juga membenamkan 65% investasinya di instrumen saham. Ia memilih untuk mengalokasikan sebagian besar dananya di pasar saham Amerika Serikat (S&P 500) ketimbang pasar saham domestik (IDX) di sini dengan rasio 50%:15%.

Alasannya adalah karena saham-saham AS adalah salah satu kelas aset dengan kinerja mumpuni. Rerata tingkat imbal hasilnya mencapai 17% hingga 18% per tahun dalam lima tahun terakhir, yang didorong oleh kuatnya kinerja perusahaan-perusahaan yang memiliki monopoli data seperti Facebook.

Pada contoh di atas sang investor telah lebih mengikuti gaya diversifikasi klasik 60:40 yang populer yaitu 60% dana di saham dan 40% di instrumen obligasi. Bagaimanakah bentuk portofolio yang sesuai jika sang investor berniat mengikutsertakan aset kripto di dalamnya?

Sebagai sebuah kelas aset, cryptocurrency memiliki pertumbuhan nilai yang mantap sejak Bitcoin diluncurkan 2009 silam. Kendati demikian, banyak investor yang masih belum paham ihwal seluk beluk aset kripto, sehingga mereka memilih untuk menjauh dari aset digital tersebut lantaran ketar-ketir dengan volatilitas harganya.

Di bawah ini, Sobat Cuan bisa melihat imbal hasil portofolio sang investor jika ia menyisihkan 5% hingga 20% portofolionya untuk aset kripto.

Berdasarkan tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun (CAGR) sejak September 2011 hingga September 2021

Gambar di atas menunjukkan bahwa investor bisa meningkatkan imbal hasil untuk tingkat resiko tertentu atau menaikkan imbal hasil yang telah disesuaikan resiko (risk-adjusted returns), dengan melakukan diversifikasi. Portofolio yang memiliki 10% dan 20% investasi dalam aset kripto memberikan imbal hasil masing-masing 2,2 dan 2,3 kali untuk setiap unit risikonya. Unit risiko dihitung berdasarkan volatilitas harganya dalam setahun (annualized volatility).

Sobat Cuan bisa melihat bahwa diversifikasi bisa dilakukan pada beberapa tingkatan misalnya diversifikasi antar kelas aset (apakah saya memiliki cukup saham untuk menyeimbangkan emas saya?) dan diversifikasi di dalam satu kelas aset tertentu (apa sajakah industri perusahaan yang saya miliki sahamnya?) .  Lebih lanjut, diversifikasi juga bisa dilakukan berdasarkan batas geografis (saham AS versus saham Indonesia) dan berdasarkan mata uang (Dolar AS versus Rupiah). Diversifikasi sebaiknya dilakukan dalam beberapa lapisan. 

Untungnya, kini kamu bisa melakukan berbagai macam gaya diversifikasi di aplikasi Pluang!

Di Pluang, kamu bisa membangun portofolio yang telah terdiversifikasi secara global hanya dalam satu aplikasi saja. Pilihan asetmu tidak terbatas pada reksa dana saham Indonesia dan emas namun kamu bisa lebih luas berinvestasi dalam pasar ekuitas global dan aset kripto. Dengan menempatkan investasimu di dalam satu aplikasi, maka kamu akan lebih mudah untuk memantau dan memahami tingkat imbal hasil yang diperoleh. Selain itu, melakukan diversifikasi dalam satu tempat aplikasi akan menghemat waktumu!

4. Dollar Cost Averaging

Dollar Cost Averaging (DCA) adalah strategi investasi di mana investor secara teratur menempatkan sejumlah uang tertentu untuk meningkatkan kepemilikan suatu aset. 

Sebagai contoh, misalkan seorang investor memutuskan untuk mengalokasikan uang US$3.000 per tahun dari tahun 2016 sampai 2021. Aset yang dipilih adalah produk S&P 500 di Pluang dan dia berketetapan untuk melakukan ini setiap tanggal 30 Juni.  Lantas berapa nilai portofolionya dari strategi Dollar Cost Averaging ini?

Pertama, kita bisa melihat pergerakan harga indeks S&P 500 di Pluang.

Dollar Cost Averaging

Berdasarkan data harga tersebut, berapa jumlah unit indeks S&P 500 yang bisa kamu beli di Pluang menggunakan uang US$3.000 setiap tahunnya? Jawabannya ada di tabel berikut.

 

Manfaat utama dari strategi Dollar Cost Averaging adalah saat tren harga yang meningkat,  kamu bisa membeli aset dengan harga rata-rata yang relatif lebih rendah.  Berinvestasi dengan nilai yang sama secara rutin akan memungkinkan kamu untuk membeli lebih banyak saat harga sedang murah. Begitu pun sebaliknya, kamu akan membeli aset lebih sedikit ketika harganya sedang menanjak.

Selain itu, kamu pun bisa memupuk sikap disiplin dalam berinvestasi dengan menerapkan strategi Dollar Cost Averaging. Aspek terpenting dari investasi adalah kebiasaan disiplin dan membiarkan waktu yang mengerjakan selanjutnya. 

Kamu bisa melakukan strategi Dollar Cost Averaging di aplikasi Pluang dengan memanfaatkan fitur auto-invest. Dengan fitur tersebut, kamu bisa menjadwalkan investasimu secara rutin dan otomatis berdasarkan harian, mingguan, atau bulanan. Pluang menyarankan kamu untuk berinvestasi rutin di tanggal gajian sehingga kamu bisa mendulang imbal hasil maksimal sebelum kamu menggunakan uang tersebut.



Sumber : pluang.com

Sobat Cuan Mau Nyemplung ke Reksadana? Kenali Risikonya Dulu, Yuk!

Investasi reksadana nampaknya sedang terlihat naik daun selama pagebluk COVID-19. Hal ini dibuktikan oleh data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang menunjukkan bahwa investor reksadana pada akhir 2020 tercatat 3,16 juta, atau melesat 78,3% dibanding 1,77 juta orang di 2019.

Mudahnya akses investasi dan juga minimnya tingkat risiko menjadi alasan investasi reksadana digemari belakangan ini. Selain itu, kinerja reksadana tahun lalu juga cukup moncer, seperti yang bisa Sobat Cuan baca di artikel ini.

Hanya saja, minim risiko bukan berarti bebas risiko, Sobat Cuan!

Ibarat dua sisi mata uang, investasi reksadana pasti memiliki risiko yang melekat di balik keuntungan yang ditawarkan. Makanya, sebagai investor, kita perlu mengelola risiko tersebut dengan apik.

Memang, risiko investasi reksadana paling jelas dapat terlihat di instrumen aset dasarnya (underlying asset). Misalnya, jungkat-jungkit kinerja saham tentu akan mempengaruhi reksadana saham. Sementara itu, kinerja pasar uang tentu juga berdampak ke kinerja reksadana pasar uang.

Namun, terdapat pula risiko umum lainnya yang timbul dalam reksadana. Nah, bagi Sobat Cuan yang baru mau nyemplung ke instrumen investasi reksadana, berikut beberapa risiko yang harus dipelajari ya.

Baca juga: Kaum Milenial, Berapa Banyak Investasi yang Mesti Kamu Punya?

Berbagai Macam Risiko Investasi Reksadana

1. Harga Aset Berubah, Nilai Investasi Pun Berubah

Sobat cuan yang akan membeli produk reksadana pastinya harus rajin memantau nilai aktiva bersih (NAB)/UP. Sebab, nilai ini merupakan cerminan dari harga reksadana yang kamu miliki.

Kamu harus paham bahwa harga reksadana bisa berubah-ubah seiring dengan nilai pasar yang berlaku saat itu.

Sebagai contoh, anggap saja kamu sudah membeli UP reksadana saham. Nah, jika pasar saham mengalami sentimen negatif dan mengakibatkan anjloknya saham yang dikoleksi oleh MI, maka hal itu juga akan berpengaruh terhadap nilai investasi reksadana yang kamu milki.

Begitu pula sebaliknya, jika ada sentimen positif yang dan mendongkrak harga saham, maka reksadana yang kamu miliki juga akan terdongkrak. Itulah alasan mengapa Sobat Cuan harus mengenali profil risiko diri sendiri sebelum memilih reksadana.

Nah, apakah Sobat Cuan penasaran mengenai seluk beluk profil risiko? Yuk, meluncur ke artikel berikut!

2. Pencairannya Makan Waktu

Saat akan menjual UP reksa dana, Sobat Cuan harus menunggu maksimal 7 hari kerja agar dana pencairannya masuk ke rekening. Hal ini biasanya dikenal dengan istilah T+7, yang disandarkan pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang reksa dana berbentuk kontrak investaso kolektif (KIK).

Dalam proses pencairannya, MI sebagai pengelola dana memiliki batasan waktu tersebut terhitung sejak investor melakukan instruksi penjualan reksadananya. Prosesnya bisa juga lebih cepat tergantung dari penyediaan dana yang dilakukan oleh MI.

Bagi sebagian orang, hal ini bukanlah isu utama. Namun, bagi sebagian lainnya, masalah likuiditas ini dianggap sebagai risiko investasi reksadana. Menurut kamu bagaimana, Sobat Cuan?

3. Risiko Gagal Bayar

Risiko investasi reksadana ini muncul ketika Manajer Investasi tidak bisa memenuhi kewajibannya untuk membayarkan nilai investasi masing-masing investor. Hal ini biasanya terjadi pada produk reksadana yang memiliki basis investasi berupa surat utang perusahaan.

Jadi, ketika obligor mengalami masalah keuangan dan berujung pada kesulitan pengembalian nilai pokok beserta kupon bunganya, maka hal itu akan berdampak ke kinerja reksadana yang dimliki.

Oleh karena itu, biasanya ada laporan dari perusahaan pemeringkatan efek yang memberikan analisisnya terkait surat utang korporasi. Tujuannya, agar investor bisa memahami bagaimana kondisi keuangan dan kemampuan bayar obligor tersebut.

Baca juga: Hai Sobat Cuan, Begini Lho Cara Maksimalkan Cuan di Reksadana Pendapatan Tetap

4. Risiko Ekonomi dan Politik

Kondisi ekonomi dan politik di dalam ataupun luar negeri juga memengaruhi imbal hasil produk reksadana. Begitu pun dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

Sebagai contoh, wacana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang bergaung beberapa waktu belakangan tentu akan memukul industri manufaktur dan barang-barang konsumsi. Sehingga, mungkin nilai sahamnya akan ambrol di masa depan. Hal itu mungkin saja akan berdampak ke nilai kelolaan reksadana yang kamu miliki.

Bagaimana Cara Mitigasi Risiko Investasi Reksadana?

Layaknya produk investasi lainnya, tidak ada risiko yang tidak bisa dimitigasi, Sobat Cuan. Maka dari itu, yuk perhatikan kiat-kiat meminimalisasi dampak dari risiko investasi reksadana di bawah ini:

  1. Diversifikasi. Cara ini terbilang metode yang efektif dalam menyebar risiko berinvestasi reksadana. Sehingga, jika ada salah satu produk yang mengalami penurunan nilai, maka masih ada produk lain yang “selamat”. Apa itu diversifikasi? Jawabannya bisa kamu temukan di artikel ini.
  2. Underlying asset beragam. Hal ini juga dimaksudkan untuk melindungi kamu dari eksposur risiko yang dihasilkan oleh satu aset. Misalnya, jika kamu ingin berinvestasi reksadana saham, pastikan sang perusahaan Manajemen Aset menempatkanya di saham lintas sektor.
  3. Hindari membenamkan seluruh dana reksadana bersifat tematik. Karena, jenis reksadana ini biasanya memang memiliki imbal hasil yang menggiurkan, namun sifatnya hanya “musiman”.
  4. Berinvestasi dengan dana pribadi. Betul, jangan pakai dana orang lain ya, Sobat Cuan!

Nah, Sobat Cuan sudah siap berinvestasi reksadana? Tetap ingat untuk menyesuaikan aset investasimu dengan profil risikomu, ya!

Baca juga: Apa Itu Reksadana?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Bareksa



Sumber : pluang.com