Category Archives: Pluang

Sobat Cuan, Yuk Simak Strategi Cari Cuan dari Cryptocurrency Bagi Pemula!

Sobat Cuan pasti saat ini lagi menggandrungi investasi cryptocurrency, bukan? Pergerakan harga Ethereum atau Bitcoin sepanjang tahun ini mungkin bikin kamu tergiur untuk menggenggam aset digital satu ini.

Namun, apalah artinya memiliki aset kripto tanpa punya strategi investasi cryptocurrency yang tepat. Jangan remehkan strategi, lho, sebab perencanaan yang kurang matang bisa bikin cuanmu menguap begitu saja. Bahkan, juga bisa bikin kamu buntung seketika.

Oleh karena itu, yuk pahami strategi mendulang cuan dari cryptocurrency di bawah ini!

Baca juga: Investor Kripto RI Tembus 4,2 Juta. Gimana Caranya Agar Kita yang Paling Cuan?

Pahami 3 Hal Ini Sebelum Tentukan Strategi Investasi Cryptocurrency

Nah, sebelum menentukan strategi yang tepat, Sobat Cuan perlu mengerti tentang seluk beluk aset kripto. Utamanya, mengenai karakteristik “benda” satu ini.

Pada dasarnya, ada tiga langkah yang bisa kamu lakukan dalam mengenal aset kripto. Di mana, hal ini bisa menjadi patokan bagi Sobat Cuan sebelum memilih strategi investasi cryptocurrency.

Nah, apa saja tiga hal tersebut?

1. Riset Jenis-Jenis Aset Kripto

Pengetahuan mumpuni adalah bekal dalam investasi, apapun jenis asetnya. Ada aset kripto yang berfungsi sebagai alat pelindung nilai, ada juga aset kripto yang bertujuan sebagai alat pembayaran. Nah, jenis-jenis aset kripto sendiri bisa kamu baca di artikel berikut.

Selain itu, kamu juga perlu paham bahwa nilai aset kripto berfluktuasi dengan cepat. Kadang, hari ini harga sebuah koin digital bisa mencapai puncak tertinggi. Namun, bisa saja harganya ambyar keesokan harinya.

Makanya, kamu juga perlu memahami faktor fundamental aset kripto. Nah, khusus untuk Bitcoin, kamu bisa mempelajarinya di artikel ini.

2. Ketahui Risikomu!

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pergerakan nilai aset kripto sangat bergelombang. Sehingga, ia mungkin tidak cocok digeluti oleh semua orang, utamanya mereka yang punya profil risiko konservatif.

Namun, bukan berarti mereka yang punya profil risiko “main aman” tak bisa menikmati cuan dari aset kripto. Baca terus artikel ini hingga akhir, ya!

3. Tentukan Tujuan Akhirmu

Kamu juga harus punya tujuan akhir ketika berinvestasi di aset kripto. Sebab, strategi investasi cryptocurrency yang kamu pilih akan sangat berkaitan dengan tujuan akhir investasimu.

Apakah kamu mau cuan cepat? Atau cuan nyelow? Semuanya tergantung dengan tujuan finansialmu ya, Sobat Cuan!

Baca juga: Tips Trading Ethereum

Setelah Memeriksa Kecakapan Diri Sendiri, Saatnya Tentukan Strategi Investasi Cryptocurrency!

Sesudah itu, yang perlu Sobat Cuan lakukan adalah memilih strategi mendulan cuan aset kripto yang cocok dengan dirimu.

Dalam dunia aset kripto, dua strategi yang umum digunakan adalah trading dan mendapatkan penghasilan pasif.

Trading biasanya cocok dilakukan oleh mereka yang sudah punya kecakapan analisis aset kripto dan punya profil risiko cenderung moderat menuju agresif. Sementara itu, mendapatkan penghasilan pasif cocok bagi mereka yang punya profil risiko konservatif.

Yuk, selami masing-masing strategi mendapatkan cuan aset kripto di bawah ini!

Trading

Sebelum memulai trading, kamu harus sudah punya pola pikir yang matang. Dalam kata lain, kamu harus bisa menggunakan logikamu ketimbang emosi saat melakukannya. Sehingga, kamu tak membuat keputusan secara tergesa-gesa dan bisa berujung pada rasa penyesalan yang dalam di kemudian hari.

Nah, untuk memoles kesiapanmu melakukan trading, kamu perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:

    1. Jenis kelas aset apa yang akan kamu trading-kan?
    2. Indikator dan tools trading apa yang akan kamu gunakan?
    3. Hal apa yang akan memicumu untuk keluar dan masuk di pasar?
    4. Bagaimana kamu mengukur kinerja portofoliomu?
    5. Apakah kamu akan memantau pergerakan harga aset setiap saat?

Selain itu, kamu juga perlu paham bahwa tidak ada rumus pakem dalam melaksanakan trading. Kamu bisa melakukan berbagai gaya trading sampai kamu menemukan satu gaya yang kamu gemari. Nah, gaya trading cryptocurrency sendiri sama seperti trading aset lain pada umumnya, yang terdiri dari:

1. Day Trading

Ini adalah jenis trading yang paling umum ditemui di investasi cryptocurrency. Di dalam day trading, trader masuk dan keluar pasar di hari yang sama untuk mendulang cuan dari pergerakan harga intra hari. Di dalam aset kripto, trader biasanya masuk dan keluar pasar hanya dalam jeda di bawah 24 jam saja.

Day trading utamanya menggunakan aksi harga dan analisis teknikal untuk menentukan keputusan trading. Kadang, strategi ini benar-benar bisa menghasilkan cuan bagi penggunanya. Tapi, di sisi lain, strategi ini pun kadang bisa bikin stress karena risikonya terbilang besar.

2. Swing Trading

Di dalam melakukan swing trading, trader biasanya memasang posisi bertahan lebih dari sehari, namun tidak lebih dari beberapa minggu saja.

Mereka yang mendulang cuan dari day trading biasanya memanfaatkan gelombang volatilitas harga yang terjadi dalam beberapa hari, atau beberapa minggu. Mereka biasanya menggunakan kombinasi analisis teknikal dan fundamental untuk menentukan keputusan trading.

Bagi pemula, swing trading mungkin adalah gaya trading yang paling nyaman. Sebab, swing trading bisa memberikan kesempatan bagi trader untuk melihat kesempatan atau merenungkan keputusan berinvestasinya sembari mempelajari pergerakan harga sebuah aset.

Sehingga, keputusan investasi yang dihasilkan tidak terkesan tergesa-gesa dan penuh akan kalkulasi.

3. Trend Trading

Strategi trading ini mengharuskan trader untuk memasang posisi bertahan dalam waktu yang lama, bahkan bisa berbulan-bulan. Trend trader biasanya mencari cuan dengan melihat arah pergerakan harga sebuah aset. Mereka akan masuk ke pasar jika terdapat tren kenaikan harga dan keluar segera setelah tren harga menunjukkan penurunan.

Maka dari itu, tak heran jika penganut paham trend trading menjagokan analisis fundamental. Namun terkadang, gara-gara hal ini, para trend traders malah gagal untuk membaca tren pembalikan harga yang terjadi di depan.

Oleh sebab itu, mereka kerap menggabungkan analisis fundamental dengan analisis teknikal dasar seperti Moving Averages, garis tren, dan berbagai indikator teknikal simpel lainnya. Nah, gaya trading ini cocok bagi trader pemula jika mereka sudah mengerti cara memitigasi risiko.

4. Scalping Trading

Scalping adalah gaya trading yang memanfaatkan pergerakan harga sedikit pun. Sehingga, keputusan investasi mereka berlangsung dengan cepat. Misalnya, jika harga sebuah aset naik hanya 0,3% saja dalam semenit, mereka bisa langsung melakukan aksi jual karena “yang penting cuan”.

Oleh karena itu, mereka yang menganut scalping trading jarang memasang posisi bertahan dalam jangka panjang. Bahkan, tak jarang mereka masuk keluar pasar hanya dalam hitungan detik saja.

Baca juga: Pilih-Pilih Trading vs Investasi, Mana Aktivitas yang Paling Oke Buat Kamu?

Strategi Pendapatan Pasif

Nah, di sisi lain, strategi mendulang pendapatan pasif akan berguna bagi mereka yang tak punya banyak waktu untuk trading maupun punya profil risiko yang konservatif. Namun, tujuannya tetap sama seperti trading, yakni mendulang cuan di masa depan.

Seperti apa strategi tersebut?

1. Buy and Hold

Sesuai namanya, investor dalam hal ini akan membeli aset dan menahannya dalam jangka waktu yang lama. Mereka yang melakukan strategi ini memang berencana menjadikan aset kripto sebagai aset investasi jangka panjang.

Investor biasanya tidak mempedulikan analisis teknikal dalam melakukan strategi ini. Namun, mereka memilih untuk fokus di analisis fundamental. Selain itu, mereka juga jarang sekali memantau pergerakan harga aset setiap harinya.

Biasanya, di dalam kancah aset kripto, fenomena buy and hold ini dikenal dengan HODL. Penjelasannya bisa kamu baca di artikel ini ya, Sobat Cuan.

Selain itu, ada juga strategi investasi kripto dengan posisi bertahan dan bikin kamu cuan, yakni menabung di platform aset kripto. Hanya dengan menyimpan aset kriptomu, kamu bisa mendapatkan bunga tabungan yang lebih baik dari menabung di bank.

Nah, salah satunya adalah menabung di Pluang Cuan! Dengan menyimpan Ethereum atau Bitcoin-mu di Pluang Cuan, kamu bisa mendapatkan imbal hasil hingga 3,5% per tahun. Lumayan kan, kalau kamu ingin mengembangkan portofolio aset kriptomu?

Kesimpulan

Jadi, strategi investasi cryptocurrency sangat tergantung dengan profil risiko serta tujuan finansial yang ingin kamu capai. Namun, hal itu membutuhkan penelitian dan kesabaran yang teramat sangat. Apalagi menentukan jenis strategi apa yang pada ujungnya cocok denganmu.

Selain itu, strategi mendulang cuan dari aset kripto pun tak bersifat saklek. Kamu bisa mengubahnya jika memang pengalaman dan pengetahuan aset kriptomu sudah kian mumpuni.

Jadi, bagaimana Sobat Cuan? Sudah siap mendulang cuan aset kripto? Pastikan kamu mendapat cuan aset kripto hanya di Pluang ya!

Baca juga: 4 Langkah Sukses Trading, dari Stop Loss Sampai Ubah Perspektif!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Binance Academy



Sumber : pluang.com

Cara Mempersiapkan Pensiun

Apa yang akan kamu lakukan di masa tua setelah sekian puluh tahun bekerja? Kamu pasti hanya ingin menikmati hidup dan rebahan saja, bukan? Nah, maka dari itu, kamu harus sudah mempersiapkan dana pensiun sejak masa muda agar bisa leha-leha di hari tua.

Ya, kamu harus mempersiapkan dana pensiun sejak masa muda agar kamu benar-benar tak usah terbebani masalah finansial di usia senja.

Sebagai gambaran, saat ini usia pensiun rata-rata di Indonesia adalah 57 tahun. Sementara itu, angka harapan masyarakat Indonesia berada dalam rentang 69 hingga 73 tahun, seperti terlihat di grafik di bawah ini.

Dengan demikian, maka kamu harus punya bekal untuk hidup kira-kira selama 12 hingga 16 tahun setelah resmi menginjak masa pensiun. Waktu yang cukup panjang, bukan?

Namun, hidupmu kemungkinan tidak akan mulus-mulus saja ketika memasuki usia senja. Tentu saja, kamu akan membutuhkan banyak uang untuk menjaga kesehatanmu. Sayangnya, pengeluaran tersebut mungkin akan membengkakkan beban finansialmu, sehingga kamu benar-benar harus mulai menabung pensiun sedini mungkin.

Cara Mempersiapkan Dana Pensiun

Ibarat pepatah “Banyak jalan menuju Roma”, kamu juga memiliki banyak cara untuk mengumpulkan dana pensiunmu. Nah, untuk memudahkanmu memilih cara tepat dalam menimbun dana pensiun, kamu perlu memperhatikan empat faktor berikut:

  1. Tentukan tujuan pensiun. Catat harta apa saja yang kamu ingin simpan di hari tua nanti. Kemudian, di usia berapa kamu ingin pensiun?
  2. Menghitung kalkulasi kasar dana pensiun masa depan dengan formula sebagai berikut: Uang yang Dibutuhkan = (Angka harapan hidup – usia pensiun) x biaya hidup tahunan. Kemudian, kamu perlu menghitung Future Value dari hasil formulasi tersebut untuk menentukan jumlah minimal uang pensiun yang perlu dikumpulkan.
  3. Tentukan cara mengalokasikan dana pensiun secara periodik.
  4. Cari cara untuk proteksi dana pensiunmu.

Setelah memperhatikan empat poin di atas, kamu hanya tinggal memilih satu atau beberapa opsi dalam mengumpulkan dana pensiun yang paling sesuai dengan tujuan dana pensiunmu. Berikut pilihan opsinya!

1. Investasi

Jika kamu ingin mengamankan masa tuamu, maka kamu harus “mengembangbiakkan” dana pensiunmu dengan laju lebih cepat dibanding laju inflasi. Hal ini cukup lumrah, sebab kamu baru bisa memperbaiki daya belimu di masa depan jika kamu mampu mengalahkan laju inflasi.

Nah, salah satu cara agar uangmu bisa beranak pinak dengan cepat adalah berinvestasi. Dengan investasi, kamu tak hanya mendulang cuan dari dampak bunga majemuk (compound interest) namun juga memetik capital gain dari apresiasi aset yang kamu miliki.

Kamu bisa berinvestasi di produk reksa dana, obligasi, dan saham untuk mengamankan dana pensiunmu di masa depan. Hanya saja, saham dianggap sebagai instrumen paling mumpuni untuk memupuk dana pensiun lantaran punya tingkat imbal hasil paling mantap dibanding kelas aset lainnya.

Data Investopedia menyebut nilai saham rata-rata tumbuh 10,1% per tahun antara 1926 hingga 2018. Di sisi lain, obligasi hanya menghasilkan tingkat imbal hasil setengah dari angka tersebut.

Meski demikian, kamu tetap disarankan untuk melakukan diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko investasi serta mengamankan cuanmu. Bahkan, kalau memungkinkan, kamu bisa saja melakukan diversifikasi aset segera ketika memulai berinvestasi. Gunakan usia mudamu untuk berinvestasi secara leluasa, sebab gaya berinvestasimu biasanya akan berubah menjadi “yang pasti-pasti saja” menjelang memasuki masa pensiun.

Selain itu, pastikan bahwa portofolio investasi dana pensiunmu memiliki unsur pertumbuhan pendapatan dan pemeliharaan modal yang seimbang.

2. Program Pensiun Swasta

Selain investasi, kamu juga bisa mempersiapkan uang pensiun melalui produk-produk rencana pensiun yang dirilis perusahaan dana pensiun. Yakni, badan hukum yang mengelola dan menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun sesuai amanat Undang-Undang No. 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun.

Dana pensiun biasanya terbagi dua, yakni dana pensiun pemberi kerja dan dana pensiun lembaga keuangan. Menurut Otoritas Jasa Keuangan, kedua program yang diusung oleh kedua jenis dana pensiun tersebut adalah Program Pensiun Manfaat Pasti atau PPMP (defined benefit) dan Program Pensiun Iuran Pasti atau PPIP (defined contribution).

Dana pensiun pemberi kerja dikelola oleh perusahaan atau individu yang mempekerjakan karyawan. Mereka akan memungut dana tersebut dari iuran pensiun yang dipotong dari gaji karyawan per bulan. Iuran tersebut biasanya mereka kumpulkan ke produk dana pensiun Jaminan Hari Tua (JHT) yang dikelola Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan atau melalui Dana Pensiun (dapen) perusahaan masing-masing.

Sementara itu, Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) berisikan produk-produk rencana pensiun yang diterbitkan lembaga jasa keuangan, seperti DPLK bank dan asuransi.



Sumber : pluang.com

Yuk, Belajar Perbedaan Reksadana dengan Investasi Lainnya di Sini!

Mengembangkan dana dengan berinvestasi reksadana termasuk pilihan menarik bagi sebagian orang. Ini lantaran investasi reksadana mudah dikelola dan dipandang mempunyai nilai return yang tinggi untuk jangka panjang.

Oleh karenanya, tak heran jika instrumen ini kerap dibandingkan dengan menabung bank sampai investasi saham.

Padahal, masing-masing instrumen keuangan ini unik dan memberi investor pengembalian yang baik selama periode waktu tertentu. Jadi, kalau kamu ingin berinvestasi di salah satu instrumen keuangan ini, disarankan untuk membuat perbandingan yang tegas antara keduanya.

Selain itu, reksadana juga kerap disandingkan dengan produk keuangan lain yang juga sangat gampang, sehingga kadang mencuri pandangan investor baru untuk dijadikan sebagai starter investment. Lantas, apa sih perbedaan reksadana dari yang lainnya?

Baca juga: Apa Itu ETF (Exchange Traded Fund)?

1. Perbedaan Reksadana dan Deposito Bank

1. Pengembalian Dana (Returns)

Pengembalian dana reksadana terkait dengan pasar tempat mereka berinvestasi dan sepenuhnya bergantung pada kinerja pasar saham.

Deposito bank tetap menawarkan pengembalian tetap dan terjamin dengan tingkat pengembalian yang telah ditentukan selama periode waktu tertentu.

2. Risiko (Risk)

Risiko yang terlibat dalam reksadana bervariasi dari dana ke dana, sebagian besar dipengaruhi oleh pasar.

Deposito tidak membawa risiko karena deposan akan menerima pengembalian yang dijamin dengan tingkat bunga tetap.

3. Biaya Pengelolaan (Expenses)

Reksadana memiliki beban dan pengeluaran tertentu yang dipotong sebagai bagian dari pengelolaan dana.

Deposito tidak datang dengan biaya apapun selama inisiasi atau masa penyimpanan.

4. Penarikan Dana (Withdrawal)

Anda dapat menarik dana dari reksadana secara gratis setelah jangka waktu tertentu. Untuk penarikan sebelum waktu yang ditentukan akan dikenakan biaya sebesar 1% dalam bentuk beban keluar.

Deposan yang ingin melakukan penarikan harus melanggar depositonya, dan membayar denda untuk hal yang sama selama penarikan prematur.

5. Pajak (Taxation)

Semua reksadana dikenakan pajak capital gain jangka pendek dan jangka panjang. STCG dikenakantarif tetap 15% sedangkan LTCG dikenakan 10% dari pendapatan di atas 1 lakh atau Rp20 juta. Dalam kasus dana utang, LTCG adalah 20% setelah indeksasi.

FD dikenakan 10% TDS atas bunga yang diperoleh di atas sekitar Rp2 juta selama satu tahun keuangan.

2. Perbedaan Reksadana dan ETF

1. Cara Pengelolaan

Reksadana dikelola oleh manajer profesional yang berusaha mengalahkan pasar dengan membeli dan menjual saham menggunakan keahlian investasi mereka. Hal ini disebut manajemen aktif, dan seringkali disebut dengan “higher costs” menurut investor karena biayanya yang lebih tinggi.

Di sisi lain, ETF merupakan dana yang dikelola secara pasif. Dana ini secara otomatis melacak indeks yang telah dipilih sebelumnya, seperti S&P 500 atau Nasdaq 100.

Reksadana yang dikelola secara aktif seringkali menghasilkan pengembalian yang lebih rendah dibandingkan dengan ETF dalam jangka panjang.

2. Rasio Pengeluaran

Rasio pengeluaran menunjukkan berapa banyak investor membayar setiap tahun, sebagai persentase dari jumlah yang diinvestasikan, untuk memiliki dana.

ETF yang dikelola secara pasif relatif murah. Pada tahun 2018, rasio pengeluaran tahunan rata-rata untuk dana yang dikelola secara aktif adalah 0,67%, dibandingkan dengan rata-rata 0,15% untuk dana yang dikelola secara pasif, seperti kebanyakan ETF.

Namun jangan berasumsi bahwa ETF selalu merupakan opsi termurah. Hal ini setimpal dengan membandingkan ETF dan reksadana, saat mempertimbangkan tujuan investasi kamu.

3. Cara Trading

ETF diperdagangkan sepanjang hari seperti saham, dengan harga berdasarkan penawaran dan permintaan. Di sisi lain, reksadana yang berdasarkan indeks, dihargai dan diperdagangkan pada akhir day trading.

Struktur perdagangan ETF yang mirip saham juga berarti bahwa ketika kamu membeli atau menjual, diharuskan membayar komisi. Namun, ini menjadi semakin tidak umum karena semakin banyak broker besar yang menghilangkan komisi ETF, saham, atau trades.

Meskipun itu berita bagus bagi pembeli ETF, penting untuk diingat bahwa sebagian besar broker masih mengharuskan untuk memegang ETF selama beberapa hari, atau mereka membebankan biaya kepada investor. ETF biasanya tidak ditujukan untuk day trading.

4. Pengenaan Pajak

Karena cara pengelolaannya, ETF biasanya lebih hemat pajak daripada reksadana. Ini bisa menjadi penting jika ETF disimpan dalam akun kena pajak dan bukan dalam akun pensiun yang diuntungkan pajak.

Reksadana memiliki struktur yang cenderung menghasilkan pajak capital gain yang lebih tinggi. Karena dikelola secara aktif, aset dalam reksadana sering kali lebih sering dibeli dan dijual. Jika ini untuk keuntungan, pajak capital gain diteruskan ke semua orang yang memiliki saham dalam dana, meskipun Anda tidak pernah menjual saham Anda.

5. Perbedaan Reksadana: Investasi minimum

Reksadana bisa memiliki biaya masuk yang tinggi. Bahkan, reksadana yang membantu investor pemula menabung untuk tujuan tertentu. Kemudian, ETF dapat dibeli dengan saham, sehingga menurunkan biaya pembentukan posisi atau menambah posisi yang sudah ada.

Namun di aplikasi Pluang, hanya dengan Rp10.000 sudah bisa investasi reksadana dan investasi lainnya. Ditambah dengan gratisnya biaya admin, ini sangat membantu investor pemula untuk memulai investasi. Yuk, cobain sekarang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Coverfox, Nerdwallet



Sumber : pluang.com

Mengenal 3 Lapisan Blockchain

Scalability Trilemma

Tapi, sebelum kamu mengenal konsep lapisan blockchain lebih jauh, ada baiknya kamu memahami alasan mengapa layer ini bisa hadir di jaringan blockchain.

Sekadar informasi, lapisan-lapisan blockchain ini muncul sebagai imbas dari sebuah kondisi yang disebut trilema skalabilitas blockchain (Scalability Trilemma atau Blockchain Trilemma). Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh pendiri Ethereum, Vitalik Buterin.

Di dalam Scalability Trilemma, pengembang proyek blockchain harus memutar otak demi mengoptimalkan serta menyeimbangkan tiga aspek utama blockchain, yakni desentralisasi, keamanan, dan skalabilitas.

Hanya saja, para pengembang tidak bisa mendapatkan ketiganya secara bersamaan. Mereka harus merelakan keandalan satu aspek agar dua aspek lainnya dapat berjalan optimal.

Sebagai contoh, pengembang tidak mungkin mencapai desentralisasi tinggi, keamanan mumpuni, serta skalabilitas transaksi yang besar dalam waktu bersamaan. Sehingga, mereka terjebak dalam suatu dilema (atau dalam hal ini trilema) untuk memilih satu atau dua properti saja yang ingin mereka maksimalisasi.

Sebagai gambarannya, Sobat Cuan bisa menengok bagan di bawah ini.

Sumber: Messari

Scalability Trilemma sebenarnya tidak jauh berbeda dengan istilah populer yang disebut dengan College Life Trilemma.

Konon, menurut konsep tersebut, seorang mahasiswa tidak akan bisa mendapat nilai bagus, kehidupan sosial yang asyik, dan tidur yang cukup dalam waktu bersamaan ketika menempuh pendidikan tinggi. Mereka, paling mentok, mungkin hanya akan menikmati maksimal dua dari tiga hal tersebut, seperti yang terlihat di gambar berikut.

Hanya saja, perihal trilema tersebut tak hanya melanda pengembang blockchain dan bahkan mahasiswa, namun juga teknologi non-blockchain. Sebagai contoh, basis data Amazon atau jaringan Facebook terbilang aman dan punya skalabilitas tinggi, namun keduanya ternyata mencetak skor 0 untuk urusan desentralisasi.

Mengenal Lapisan Blockchain

1. Layer 1

Layer 1 dalam blockchain kerap dikenal sebagai “lapisan implementasi” yang merujuk pada arsitektur blockchain yang sesungguhnya. Lapisan ini merupakan kediaman aset kripto yang terkait dengan blockchain tersebut. Selain itu, aktivitas yang berkaitan dengan fungsionalitas serta mekanisme konsensus juga berlangsung di layer satu ini. Adapun contoh layer 1 blockchain adalah Bitcoin, Ethereum, dan Solana.

Layer 1 blockchain biasanya tidak sempurna lantaran mengalami Scalability Trilemma. Misalnya, blockchain tersebut boleh jadi punya sifat desentralisasi dan keamanan mumpuni, namun skalabilitasnya cukup terbatas.

Biasanya, jaringan blockchain memang fokus untuk mengokohkan aspek desentralisasi dan keamanan terlebih dulu di awal ketimbang aspek skalabilitasnya. Ini lantaran kedua aspek tersebut sulit untuk dibangun ketika blockchain tersebut resmi diluncurkan.

Makanya, tak heran jika jaringan blockchain yang sudah ada (existing) punya skalabilitas yang belum bisa menampung arus pertukaran data berukuran global. Kalau pun mereka mau berkonsentrasi di aspek skalabilitas di awal, maka mereka harus merelakan keandalan aspek desentralisasi dan keamanannya.

Agar pengembang terlepas dari perkara Scalability Trilemma, maka mereka harus memasang jaringan blockchain layer ke-dua. Apakah itu?

2. Layer 2

Jaringan blockchain layer ke-dua biasanya dikenal sebagai solusi lapis kedua atau protokol blockchain yang berlokasi di luar blockchain aslinya (off-chain). Jaringan blockchain ini adalah protokol yang berdiri di atas jaringan blockchain layer 1 dan menjadi solusi atas masalah skalabilitas di blockchain lapisan pertama.

Secara umum, layer blockchain pertama akan membagi “beban” skalabilitasnya ke layer blockchain kedua. Nantinya, lapisan blockchain kedua akan memproses transaksi yang seharusnya menjadi “beban” layer blockchain pertama. Implikasinya, skalabilitas blockchain bisa meningkat dan ongkos transaksi bisa lebih murah.

Namun, Sobat Cuan juga perlu memahami bahwa blockchain layer ke-dua ini tidak hanya merujuk pada jaringan off-chain yang mengurusi aspek skalabilitas semata. Sebab, julukan layer ke-dua blockchain juga merujuk pada seluruh protokol atau jaringan yang berfungsi membenahi masalah interoperabilitas atau menambah fitur-fitur lainnya di atas jaringan blockchain utama.

Selain itu, kehadiran blockchain layer kedua cukup penting, karena:

  1. Membuka kesempatan bagi blockchain untuk melakukan fungsi dan manfaat lain. Misalnya, game blockchain.
  2. Mengurangi ongkos jaringan sehingga menarik minat masyarakat untuk menggunakannya.
  3. Pembaruan terkait masalah skalabilitas blockchain tidak akan mengikis keandalan desentralisasi dan keamanan jaringan layer 1.

Adapun contoh-contoh jaringan blockchain lapisan kedua, dalam hal ini yang terdapat di jaringan Ethereum, antara lain:

Analogi Jalan Tol

Sobat Cuan pasti saat ini bertanya-tanya: Mengapa jaringan blockchain harus repot-repot punya lapisan kedua untuk mengurus skalabilitas semata? Bukannya masalah itu beres dengan menambah kapasitas transaksi blockchain layer pertama saja?

Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari simak analogi jalan tol berikut.

Coba anggap jaringan blockchain layer pertama sebagai jalur jalan tol utama, di mana seluruh kendaraan besar, baik truk maupun bus, melaju di atasnya. Kemudian, bayangkan jika tiba-tiba jumlah kendaraan di atasnya membludak. Pasti jalur utama tersebut akan semakin padat dan laju masing-masing kendaraannya akan melambat, bukan?

Sehingga, untuk mengatasi hal tersebut, pengelola jalan tol bisa saja menambah jalur baru atau bahkan membangun jalan tol baru sekaligus. Sayangnya, hal ini terbilang sulit. Sebab, proses konstruksinya tentu akan bikin jalan tol utama menjadi macet. Bahkan, pengeloia jalan tol bisa saja menghancurkan bangunan-bangunan di samping jalan tol tersebut untuk menambah jalur baru.

Sehingga, solusi yang tepat untuk mengurai kemacetan di jalan tol tersebut adalah dengan membangun sistem transportasi terpisah. Misalnya, membangun jaringan Moda Raya Terpadu atau menambah armada transportasi publik. Dengan demikian, maka solusi lalu lintas di jalan tol tersebut dapat diselesaikan dengan efisien.

Nah, analogi tersebut juga berlaku bagi jaringan blockchain lapis pertama ketika mengurai masalah kepadatan transaksi di atasnya.

3. Layer 3

Selain layer 1 dan layer 2, terdapat pula layer blockchain ke-tiga. Lapisan ini memungkinkan aplikasi terdesentralisasi (dApps) bisa beroperasi di atas jaringan blockchain. Lapisan ini juga mencakup aplikasi-aplikasi atau platform yang dibangun di atas bloockchain.

Pada jaringan Ethereum, contoh jaringan blockchain lapis ketiga adalah

4. Layer 0

Kini, kamu telah mengenal ketiga lapisan blockchain. Tapi, tahukah kamu bahwa terdapat satu lapisan blockchain lainnya yang fokus pada aspek interoperabilitas, yakni kemampuan blockchain untuk berbagi informasi antara satu dengan lainnya?

Ya, lapisan tersebut bernama layer 0. Lapisan tersebut pun hanya ada di sistem blockchain Polkadot.

Lantas, kenapa sih Polkadot disebut sebagai layer 0 blockchain? Sesuai namanya, jaringan tersebut bersemayam di bawah jaringan blockchain utama (layer 1) dan berfungsi menghubungkan beberapa layer blockchain menjadi satu blockchain besar.

Berbeda dengan Ethereum yang memiliki desain blockchain tunggal, Polkadot memiliki beberapa blockchain berbeda (parachain) yang terhubung ke satu blockchain utama (relay chain). Intinya, jaringan relay chain Polkadot bertindak sebagai hub utamanya sementara layer 1, misalnya Ethereum dan Bitcoin, sebagai cabang-cabangnya. Sobat Cuan bisa memahaminya lebih lanjut melalui gambar berikut.

Blockchain layer 0 punya kekuatan luar biasa lantaran bisa menopang keandalan aspek skalabilitas dan interoperabilitas blockchain dengan menghubungkan beberapa blockchain yang masing-masingnya punya keunggulan dan manfaat tertentu.

Sebagai contoh, satu chain bisa dioptimalisasi untuk manajemen identitas, sementara chain lainnya punya manfaat sebagai jaringan penyimpan data. Karena mereka semua terhubung dengan layer 0, maka masing-masing chain tersebut bisa berkomunikasi dan berbagi data antara satu sama lain.

Masa Depan Layer 0

Sungguh canggih kan, Sobat Cuan? Meski terdengar futuristik, banyak pihak mengatakan bahwa Polkadot hanya permulaan dari teknologi layer 0 blockchain. Masih banyak lagi manfaat layer 0 blockchain yang mungkin saja akan terungkap di masa depan.

Nah, di bawah ini, Sobat Cuan bisa menyimak beberapa skenario masa depan manfaat teknologi blockchain, yang mungkin bisa disokong oleh lapisan 0 blockchain.

  1. Setiap kontrak di teknologi smart contract Ethereum bisa tersambung dengan jaringan Bitcoin.
  2. Pertukaran koin Cardano (ADA) dan Shiba Inu (SHIB) lintas blockchain menggunakan smart contract tanpa membutuhkan platform exchange tersentralisasi.
  3. Teknologi Oracle tunggal yang dapat mengumpan data harga ke beberapa lapisan 1 blockchain dalam waktu bersamaan.

Adapun detail mengenai jaringan Polkadot beserta cara kerjanya sebagai blockchain-nya blockchain dapat kamu temukan di tautan berikut!



Sumber : pluang.com

Apa Alasan Kamu Perlu Investasi Reksadana? Yuk, Simak di Sini!

Sobat Cuan mungkin paham bahwa investasi reksadana adalah investasi yang mudah. Hanya dengan rebahan, kamu sudah bisa mendapatkan cuan. Namun, apalagi sih, alasan bagi kamu untuk investasi reksadana?

Kemudian, apa saja sih untung dan buntungnya investasi di reksa dana? Sobat Cuan perlu tahu nih, sebelum memutuskan untuk berinvestasi di instrumen investasi yang satu ini.

Sekilas Tentang Reksadana

Sebelum membahas lebih jauh tentang alasan investasi reksadana, kita perlu tahu dulu apa itu reksadana.

Menurut UU No 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi (MI).

Produk reksadana didirikan berdasarkan kontrak investasi kolektif antara MI dan Bank Kustodian. Kontrak ini mengikat pemegang unit penyertaan dimana MI diberi wewenang untuk mengelola portofolio investasi kolektif dan Bank Kustodian diberi wewenang untuk melaksanakan Penitipan Kolektif.

Baca juga: Apa Itu Reksadana?

Alasan Investasi Reksadana: Keuntungan Berinvestasi Reksadana

Lantas apa saja sih keuntungan berinvestasi di reksa dana? Berikut ini sederet keuntungannya. Baca sampai habis, ya.

1. Likuiditas

Sebagian besar produk reksadana sangat likuid. Artinya, cukup mudah bagi sobat cuan untuk melakukan jual beli unit yang dimiliki.

Kemudahan ini menjadikan reksadana cocok dijadikan instrumen investasi sesuai tujuannya, baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.

2. Diversifikasi Produk

Satu produk reksadana biasanya memiliki lebih dari satu jenis instrumen investasi. Diversifikasi ini akan menekan resiko investasi kamu.

Saat satu instrumen atau sektor sedang kurang baik kinerjanya, keuntungan masih bisa didapatkan dari sektor lain yang sedang berkibar. Dengan begitu, Sobat Cuan tetap bisa cuan di segala kondisi.

Sobat Cuan juga bisa memulai investasi reksadana pada satu produk, kemudian mencicil untuk membeli produk-produk yang lain. Gunanya, agar portfolio investasi kamu tetap produktif meskipun produk sedang turun kinerjanya.

3. Manajer Investasi yang Berpengalaman

Pengetahuan dan pengalaman sangat penting saat akan berinvestasi. Investor pemula yang masih belajar mungkin perlu jam terbang yang lebih tinggi jika ingin mendulang cuan lebih besar.

Tak perlu khawatir jika kamu ingin berinvestasi di reksadana. Sebab, ada Manajer Investasi yang berpengalaman yang akan mengelola dana investasi kamu, lho!

Manajer Investasi memiliki tim riset dan data terkini yang akan menunjangnya mengambil keputusan investasi untukmu. Tentunya keputusan ini masih dalam koridor yang disepakati dengan kamu saat akan membeli produk ini.

Ingat, MI reksadana yang kamu beli sangat berperan dalam mendulang cuan. Sebab itu, teliti dulu track record MI kamu ya sebelum memutuskan membeli suatu produk reksadana, ya!

Baca juga: Siapa Saja Sih Pihak yang Terlibat dalam Pengelolaan Reksadana Kamu? Simak di Sini!  

4. Harga Grosir Lebih Efisien

Beli saham prinsipnya mirip loh dengan komoditas lain. Makin besar volume pembelian, makin banyak diskonnya.

MI mengelola dana nasabah dalam jumlah dan volume transaksi besar. Jadi, unit NAB yang kamu beli lebih efisien biaya transaksi dan bargain harganya.

Selain itu, sobat cuan juga bisa mengecek expense ratio dari masing-masing produk reksa dana dan memilih produk mana yang paling rendah. Expense ratio adalah biaya tahunan yang dikenakan kepada investor atas jasa pengelolaan dana oleh MI.

5. Modal Kecil Tidak Perlu Khawatir

Ini adalah alasan investasi reksadana yang paling utama. Reksadana dijual dalam bentuk unit Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang harganya beragam. Jadi, dengan bajet berapapun kamu bisa tetap berinvestasi di produk ini.

Kamu juga bisa memilih untuk menginvestasikan danamu sekaligus atau dicicil sesuai dengan kemampuan. Sesuaikan dengan dompet Sobat Cuan, ya!

6. Aman

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan pengawasan ketat terhadap MI tiap-tiap reksadana di Indonesia. Karenanya, kamu tidak perlu ragu akan tingkat keamanan produk yang ini.

Baca juga: Anti Pompom, Ini Alasan Reksa dana Saham Lebih Aman bagi Sobat Cuan!

7. Terencana

Investor lumpsum, yakni tipe investor yang menyetorkan sekaligus dana investasinya, maupun investor systemic investment plan (SIP) alias tim dicicil sama-sama bisa optimal berinvestasi di reksadana. Perencanaan investasi yang baik akan membantu kamu mempersiapkan masa depan.

Khusus untuk tim dicicil, reksa dana umumnya menyediakan opsi auto debet secara berkala. Jadi kamu tidak perlu khawatir lupa transfer tiap bulannya.

Saat sedang punya uang surplus, kamu juga bisa membeli sekaligus dalam satu waktu. Tentunya dengan perencanaan dan analisis yang matang dari infromasi produk reksa dana yang akan dibeli ya.

Kerugian

Meski banyak keuntungannya, ada juga faktor-faktor yang harus jadi pertimbangan sobat cuan sebelum membeli reksadana. Tapi, jangan jadikan kerugian ini sebagai alasan kamu tidak investasi reksadana, ya!

1. Biaya Pengelolaan

Baik MI maupun seluruh tim di sebuah sekuritas berpenghasilan dari fee yang dikenakan kepada investor atas jasa pengelolaan investasinya. Beberapa produk mengenakan fee yang biaya transaksi lebih tinggi dibanding produk maupun sekuritas lainnya.

Seringkali, biaya tinggi yang dibebankan kepada kamu tidak berbanding lurus dengan kinerja produknya. Jadi, belum tentu produk yang fee-nya lebih besar akan lebih menguntungkan dibanding produk lain yang fee-nya lebih rendah.

Teliti sebelum membeli, ya!

2. Exit Load

Beberapa produk juga mengenakan biaya tambahan saat kamu ingin berhenti memakai produk tersebut. Biaya ini maksudnya untuk menekan niat investor beralih pada produk lain.

Ternyata banyak sekali lho, alasan bagi kamu untuk investasi reksadana. Nah, kalau kamu coba investasi reksadana dengan modal kecil, yuk investasi di reksadana pendapatan tetap dan pasar uang di Pluang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: cleartax, OJK, groww



Sumber : pluang.com

Mengenal Ekosistem Ethereum

Ethereum adalah jaringan blockchain yang bertujuan untuk menjadi “komputer dunia”. Jaringan ini menyambungkan komputer-komputer di seluruh dunia ke satu platform bersama. Sehingga, jaringan tersebut bisa membangun satu ekosistem komputer virtual besar yang bisa menopang operasi beberapa aplikasi, seperti aplikasi jasa keuangan seperti jasa pinjam-meminjam, urun dana, dan platform exchange, asuransi, dan game.

Jadi, secara umum, jaringan Ethereum memungkinkan masyarakat untuk menciptakan aplikasi piranti lunak di gawainya masing-masing.

Tentang Ethereum

Sebagai jaringan blockchain pada umumnya, Ethereum adalah buku besar publik terdesentralisasi yang digunakan untuk memverifikasi dan mencatat transaksi. Dalam jaringan tersebut, pengguna bisa menciptakan, meluncurkan, dan memonetisasi rangkaian aplikasi yang berjalan di atasnya. Adapun ragam aplikasi yang berada di jaringan Ethereum disebut sebagai aplikasi terdesentralisasi (dApps).

Jaringan Ethereum juga menjadi alat untuk memproduksi token. Yakni, satuan unit digital yang punya fungsi tertentu sesuai dengan keinginan penciptanya. Standar penciptaan token ERC20, yang umum digunakan untuk menciptakan token yang bisa dipertukarkan (fungible), dan ERC271, standar penciptaan Non-Fungible Token (NFT), kini telah menjadi standar token di kancah kripto.

Jaringan blockchain Ethereum memiliki aset kripto sendiri bernama Ether (ETH) dan bahasa pemrograman yang independen bernama Solidity. Sebagai aset kripto, ETH kini menempati peringkat ke-dua aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar setelah Bitcoin (BTC) per Januari 2022. Pengguna Ethereum umumnya menggunakan ETH sebagai alat tukar resmi di atas jaringan tersebut.

Keunggulan dan Kritik Terhadap Ethereum

Berikut adalah keunggulan jaringan Ethereum

  1. Platform smart contract paling aktif di jagat kripto.
  2. Memiliki ekosistem terbesar dan paling beragam.
  3. Memiliki jumlah pengembang yang banyak di ekosistem tersebut.
  4. Menjadi platform smart contract paling aman.

Namun, terdapat pula kritik yang dialamatkan ke jaringan Ethereum, di antaranya adalah:

  1. Biaya transaksi yang terbilang tinggi ketika frekuensi transaksi ramai di jaringan tersebut.
  2. Operasinya masih berdasarkan algoritma konsensus Proof of Work yang dinilai tidak ramah lingkungan.

Apa Keunikan Ethereum?

Ethereum menjadi pelopor jaringan blockchain yang bisa mengeksekusi smart contract, sehingga meningkatkan nilai guna teknologi smart contract yang memang sudah ada sebelumnya.

Smart contract merupakan program komputer yang dapat mengeksekusi beberapa kegiatan secara otomatis untuk memenuhi kesepakatan antara beberapa pihak di internet. Program ini didesain untuk mengurangi keterlibatan pihak perantara di dalam penyusunan kontrak antara kedua belah pihak. Akibatnya, biaya transaksi bisa semakin efisien dan transaksi di jaringan tersebut bisa semakin andal.

Menurut salah satu pendiri Ethereum Gavin Wood, jaringan Ethereum didesain untuk menjadi “satu komputer untuk seluruh dunia” yang bisa membuat program-program di dalamnya menjadi kokoh, anti-sensor, dan tidak rentan terhadap kecurangan. Keunggulan tersebut muncul lantaran jaringan Ethereum berjalan di atas jaringan node publik yang dijalankan secara global.

Selain sebagai platform eksekusi smart contract, jaringan blockchain Ethereum juga bisa menjadi “rumah” untuk aset kripto lainnya yang disebut dengan token. Token-token tersebut disusun berdasarkan satu standar penciptaan yang diberi nama standar ERC-20.

Jaringan Ethereum saat ini memiliki lebih dari 280.000 token yang diciptakan sesuai standar ERC-20. Bahkan, 40 di antaranya berhasil masuk jajaran 100 aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia. Beberapa contohnya antara lain USDT, LINK, dan BNB.

Mengapa Aplikasi Harus Dikembangkan di Atas Ethereum?

Lantas, mengapa para pengembang perlu menciptakan aplikasinya di atas Ethereum meski mereka bisa membangun aplikasi-aplikasi tersebut menggunakan komputer biasa? Nah, jawabannya cukup simpel, Sobat Cuan. Yuk, simak penjelasannya!

Jika pengembang menjalankan aplikasi di jaringan komputer biasa, maka operasional aplikasi tersebut akan ikut berhenti jika komputer mereka padam atau digondol maling. Nah, untuk mencegah hal tersebut, pengembang perlu menyambungkan komputernya dengan dua, 10, atau bahkan ratusan komputer lain sehingga mereka bisa saling menyangga satu sama lain.

Agar jaringannya lebih aman lagi, pengembang bisa menempatkan komputer-komputer tersebut di sebuah ruangan dengan tingkat pengamanan tinggi dan anti maling. Sehingga, aplikasi tersebut bisa tetap beroperasi meski terjadi bencana alam atau musibah lainnya.

Sayangnya, pengembang tentu membutuhkan modal besar hanya untuk mengamankan aplikasinya dengan cara seperti di atas. Sebagai solusinya, mereka bisa memanfaatkan jaringan Ethereum yang terhubung dengan jutaan komputer di seluruh dunia.

Apalagi, hampir semua orang bisa terhubung ke jaringan komputer asal tipe komputernya sesuai. Bahkan, komputer tercanggih di dunia sekali pun bisa menopang jalannya operasional sebuah aplikasi asal ia terhubung ke jaringan internet.

Sementara itu, bagi pemilik komputer di seluruh dunia, mereka bisa membantu para pengembang untuk menjaga kesinambungan operasional aplikasinya dengan “meminjamkan” daya pemrosesan komputernya ke pengembang melalui jaringan Ethereum. Sebagai imbalannya, para pemilik komputer bisa mengutip tarif dari para pengembang.

Mengapa Ethereum Lebih Baik Dibanding Teknologi Penyimpanan Awan?

Banyak pengembang menjalankan aplikasinya di teknologi penyimpanan awan (cloud storage), seperti di Amazon Web Service (AWS) atau Google Cloud Computer Services. Dengan menggunakan jasa tersebut, mereka hanya tinggal membayar tarif ke penyedia layanan untuk mengakses beberapa komputer sekaligus.

Penyedia layanan memiliki berbagai kantong pusat data seantero dunia. Sehingga, hal itu bisa menjadi jaminan bahwa aplikasi para pengembang tetap dapat online 99,9% setiap saat meski dunia tengah gonjang-ganjing. Nah, pengembang bisa memilih aktivitas ini sebagai opsi yang efisien untuk meningkatkan keandalan aplikasinya ketimbang membeli banyak komputer dalam waktu bersamaan.

Namun masalahnya, para pengembang jadi terlalu mengandalkan keandalan aplikasinya ke para penyedia layanan tersebut. Sikap ini sebenarnya sah-sah saja. Tetapi, hal ini bisa berkembang jadi musibah jika penyedia layanan berulah.

Sebagai contoh, AWS pernah mengambil alih piranti lunak open-source yang terhubung ke peladennya (servers) pada 2019 silam dan memaksa penggunanya untuk membayar tarif ketika menggunakan piranti lunak tersebut.

Nah, kejadian di atas tak akan terulang jika pengembang mempercayakan keandalan aplikasinya ke jaringan Ethereum. Sebab, jaringan ini tidak dimiliki siapa pun dan tidak ada satu otoritas pun yang mampu bikin kacau jaringan tersebut.

ETH dan Julukan “Minyak Digital”

Seperti yang telah disinggung di atas, jaringan Ethereum memiliki koin native yakni ETH. Komunitas kripto pun kini menyematkan status “minyak digital” ke ETH, layaknya Bitcoin yang menyandang julukan “emas digital”. Apa alasannya?

Sobat Cuan mungkin sepakat bahwa minyak bumi adalah sumber energi utama di dunia ini. Minyak bumi yang diolah menjadi bahan bakar atau petrokimia menunjukkan bahwa komoditas tersebut memungkinkan masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas. Sehingga, bisa dibilang bahwa minyak bumi bernilai berharga karena bisa mendorong manusia untuk melakukan banyak kegiatan.

Nah, hal serupa juga terjadi di Ethereum. Jika minyak bumi menyimpan potensi kekuatan energi yang besar, maka Ethereum dianggap memiliki potensi tenaga komputasi yang luar biasa.

Komunitas kripto memandang Ethereum sebagai jaringan berharga karena bisa mengakomodasi berbagai macam kegiatan di atasnya. Sementara itu, mereka menganggap ETH sebagai representasi dari akses mudah masyarakat ke jaringan komputer di seluruh dunia dan kemampuan untuk menjalankan program-program di atasnya.

Analogi mudahnya, sebuah mobil bisa berjalan jika terdapat bahan bakar di dalamnya. Sementara itu, komputer bisa melakukan berbagai macam aktivitas jika kita “memberi tenaga” ke jaringan Ethereum dalam bentuk ETH.

Pemilik komputer bisa mendapatkan bayaran dalam bentuk ETH ketika “meminjamkan” daya pemrosesan komputernya ke pengembang aplikasi melalui jaringan Ethereum. Begitu pun sebaliknya. Pengembang harus membayar menggunakan ETH untuk bisa mengakses jaringan komputer dunia.

Laju permintaan ETH yang lebih kencang dari suplai ETH di pasar bisa mengerek nilai ETH ke depan. Hal itu serupa dengan harga BBM saat ini yang tentu saja berkali-kali lipat lebih tinggi dibanding 100 tahun lalu.

Ekosistem Ethereum

Berikut ini adalah daftar ekosistem Ethereum

Layer 2 (Scaling) Solutions

  1. Polygon (formerly Matic)
  2. Arbitrum
  3. Optimism
  4. Truebit Protocol

Decentralised Exchanges (DEX)

  1. Uniswap
  2. Sushiswap
  3. 1inch Protocol
  4. Balancer

Credit Markets

  1. Aave
  2. Maker
  3. Compound

Launchpad

  1. DAO Maker
  2. Polkastarter
  3. PAID Network
  4. Launchpool

Gaming/Metaverse

  1. Axie Infinity
  2. Mana

NFTs (PFP – Profile Picture)

  1. Cryptopunks
  2. Bored Ape Yacht Club/Mutant Ape Yacht Club
  3. Pudgy Penguins
  4. CyberKongz
  5. Cool Cats

NFTs (Generative Art)

  1. Artblocks (Chrome Squiggles, Fidenza, Meridian, Ecumenopolis)
  2. The Blocks of Art
  3. GEN.ART



Sumber : pluang.com

Sobat Cuan, Ini Lho Cara Strategi Investasi Reksadana Untuk Pemula!

Sobat Cuan pasti sudah tahu reksadana menjadi salah satu jenis investasi yang banyak diicar investor pemula. Ya benar, alasannya karena reksadana mudah dikelola. Kita hanya perlu duduk manis dan kinerja dana sudah dikelola oleh manajer investasi.

Berperan sebagai wadah yang menampung dana para investor untuk diinvestasikan ke berbagai instrumen, investasi reksadana memungkinkan kalian mulai berinvestasi dengan nilai relatif terjangkau, lho. Belum lagi tersedianya manajer investasi yang siap mengelola modal, hal ini sudah pasti memudahkan investor pemula.

Meskipun begitu, bukan berarti kita bisa lepas tangan sepenuhnya. Oleh karena itu, kamu  perlu belajar strategi investasi reksadana agar bisa mendapatkan cuan maksimal.

Mau tahu seperti apa strategi tersebut? Yuk, langsung saja, simak empat strateginya di sini!

Baca juga: Anti Pompom, Ini Alasan Reksadana Saham Lebih Aman bagi Sobat Cuan!

Empat Strategi Investasi Reksadana

1. Strategi Wing-It

Strategi Wing-It adalah sebuah strategi yang bisa diterapkan apabila kamu tidak memiliki rencana khusus atau struktur portfolio tertentu. Alias, terabas sana terabas sini.

Sebagai contoh, kamu bisa menginvestasikan uang di banyak portofolio, atau dalam kata lain membagi dana tersebut ke berbagai jenis portofolio yang ada. Selain itu, kamu juga bisa berinvestasi reksa dana tanpa nominal tertentu dan tanpa jangka waktu tertentu.

Hanya saja, beberapa ahli menyebut bahwa metode ini menurut para ahli akan kurang efektif mendulang cuan reksa dana karena bikin kamu tidak konsisten berinvestasi.

Tanpa rencana investasi, kamu mungkin akan kesulitan membuat keputusan yang secara akurat mencerminkan tujuan dari investasi kalian sendiri. Di sisi lain, jika Sobat Cuan sudah memiliki rencana atau struktur yang memandu investasimu, maka mengelola portofolio akan menjadi jauh lebih mudah.

Jadi, terapkan dulu tujuan investasimu sebelum merancang strategi investasi reksa danamu ya, Sobat Cuan!

2. Strategi Market-Timing

Dengan melakukan strategi ini, kamu akan membeli reksa dana dengan menyesuaikan harga pasar sesuai ketepatan timing atau momennya.

Misalnya, kamu membeli sebuah investasi dalam harga rendah dan menjualnya ketika tren harga sedang tinggi. Sebaliknya, kamu bisa mengikuti pergerakan kebanyakan investor yang akan membeli di saat tren harga tinggi untuk kemudian dijual kembali saat harga rendah.

Namun, banyak orang beranggapan bahwa praktik menggunakan strategi ini memiliki angka keberhasilan kecil. Sebab, tak seorangpun mampu memprediksi harga di masa depan dengan akurat dan konsisten. Meskipun memang, saat ini telah banyak prediksi dengan indikator-indikator yang diyakini mampu menentukan arah pasar atau mendekati.

3. Strategi Buy and Hold

Sejauh ini, strategi buy and hold inilah yang paling populer dan familiar bagi para investor. Strategi ini mengharuskan investor untuk membeli suatu investasi dan menahannya untuk waktu yang lama (jangka panjang).

Buy and hold tidak mempedulikan apakah harga pasar sedang naik ataupun turun. Jika kamu menerapkan strategi buy and hold dalam menghadapi pasang surut harga pasar, maka di akhir periode kamu akan memperoleh keuntungan jauh lebih besar daripada kerugiannya. Atau, dalam kata lain, kamu ujung-ujungnya pun akan cuan meski memang harus sedikit bersabar.

Seorang miliarder dan investor legendaris, Warren Buffett mengatakan, strategi ini adalah strategi yang paling ideal untuk investor yang memiliki timeline jangka panjang. Alasan lainnya adalah karena strategi ini sangat mudah digunakan dan cocok untuk pemula.

4. Strategi Performane-Weighting (Kinerja Investasi)

Strategi ini adalah strategi yang berada di antara strategi market timing dengan strategi buy and hold. Dengan strategi ini, kamu akan meninjau kembali campuran portofolio yang dimiliki dari waktu ke waktu dan melakukan beberapa penyesuaian.

Lebih jelasnya, mari kita jabarkan cara kerja strategi ini dengan contoh di bawah!

Misalnya pada akhir 2010, kamu mulai memiliki 5 portofolio reksadana dengan masing masing sebesar Rp2 juta, yang berarti total nya adalah Rp100 juta.

Setelah satu tahun berinvestasi, masing-masing produk tersebut telah memiliki nilai yang baru, karena beberapa investasi kinerjanya lebih baik.

Investasi Return Besaran
A 7.0% Rp 2.140.000
B 6.20% Rp 2.124.000
C 7.38% Rp 2.146.000
D 5.90% Rp 2.118.000
E 4.89% Rp 2.978.000

 

Setelah satu tahun, sebagian besar investor mungkin akan cenderung akan menyingkirkan produk reksadana dengan hasil terendah (E), dan mengalihkan ke (C). Kendati demikian, strategi berdasarkan kinerja tidak menggunakan strategi tersebut.

Dengan melakukan strategi berdasarkan kinerja, maka artinya secara sederhana kamu akan menjual sejumlah reksadana dengan kinerja terbaik untuk membeli reksadana berkinerja terburuk. Alias, kemungkinannya kamu akan berusaha menentang logika tersebut, Sobat Cuan.

Namun ternyata, strategi inilah yang terbaik dilakukan karena satu-satunya hal yang konstan dalam berinvestasi adalah semuanya bergerak dalam siklus.

Pembobotan kinerja portofolio ini dari tahun ke tahun berarti kamu akan mengambil keuntungan saat tabel (C) baik-baik saja untuk membeli (E) saat sedang turun. Jika kamu telah menyeimbangkan kembali portofolio ini, pada akhir setiap tahun selama lima tahun, kamu akan menjadi lebih andal dalam menggunakan strategi ini.

Kesimpulan Strategi Investasi Reksadana

Nah, investasi reksadana memang nyantai. Namun, belajar strategi investasi reksadana tetap penting dilakukan demi cuan lebih maksimal.

Kamu bisa mulai mempraktikkan strateginya dengan berinvestasi reksadana pasar uang dan pendapatan tetap di Pluang, hanya mulai dengan harga Rp10.000. Tentunya lebih praktis, aman, dan cuan demi masa depan finansial yang lebih baik!

Baca juga: Sobat Cuan Mau Nyemplung ke Reksadana? Kenali Risikonya Dulu, Yuk!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia, TheBalance



Sumber : pluang.com

Mengenal Ekosistem Polkadot

Jaringan Polkadot ditujukan untuk menjadi jaringan blockchain dari beberapa jaringan blockchain lainnya, yang disebut parachain, yang didesain sesuai tujuannya masing-masing. Karena parachains tersebut punya fungsi masing-masing, maka operasinya terbilang lebih efisien sehingga skalabilitas jaringan pun terbilang lebih mantap.

Karena satu parachain terhubung dengan parachain lain, maka masing-masing di antaranya bisa berbagi data antara satu dengan lainnya. Hal ini memungkinkan masing-masing parachain punya sifat interoperabilitas yang tinggi dengan sesamanya.

Sejarah Polkadot

Polkadot diciptakan oleh salah satu penemu dan mantan Chief Technology Officer (CTO) Ethereum Gavin Wood pada 2016. Setahun kemudian, ia mendirikan Web3 Foundation, yakni lembaga yang fokus pada riset dan pengembangan teknologi web terdesentralisasi, termasuk Polkadot.

Versi pertama Polkadot meluncur pada 2019 dengan nama Kusama, yakni sebuah jaringan ujicoba (canary network) Polkadot. Jaringan Kusama berfungsi sebagai ajang pembuktian keandalan teknologi Polkadot dengan insentif ekonomi yang nyata.

Polkadot mencatat blok awal, alias blok genesis, pada Mei 2020 menggunakan algoritma konsensus Proof-of-Authority. Namun, jaringan ini kemudian beralih memanfaatkan jaringan Proof-of-Stake sebulan setelahnya.

Parachains pertama bernama Rococo hadir di jaringan Polkadot pada Desember 2020. Parachain Rococo didesain untuk menguji proses algoritma konsensus parachain sekaligus mengukur keandalan interaksi antar parachain.

Adapun parachain berikutnya hadir di Polkadot pada November 2021, sementara parachain di Kusama hadir lima bulan sebelumnya.

Mengapa Polkadot Unik?

Untuk memahami kekuatan jaringan Polkadot, Sobat Cuan perlu memahami konsep “jaringan blockchain yang terdiri dari blockchain” yang menjadi semangat utama dari jaringan Polkadot.

Berbeda dengan Ethereum dan jaringan blockchain lapisan 1 lainnya, Polkadot memiliki banyak parachain yang terhubung ke satu blockchain utama, yang umum disebut dengan Relay Chain.

Tapi, mengapa Polkadot memilih sistem jaringan bercabang-cabang seperti ini? Jawabannya, agar jaringan Polkadot memiliki fungsi interoperabilitas dan skalabilitas yang mumpuni. Berikut penjelasannya!

1. Punya Fungsi Interoperabilitas Mumpuni

Fungsi interoperabilitas, alias kemampuan satu jaringan untuk berbagi sumber daya dengan jaringan lain, memang dimiliki oleh jaringan lain, misalnya Ethereum. Namun, fungsi interoperabilitas Polkadot dianggap lebih canggih karena terdiri dari parachain yang masing-masing memiliki fungsi dan tujuannya masing-masing. Sehingga, komunitas kripto bisa terus menciptakan inovasi-inovasi teknologi berbasis smart contract baru di atas jaringan tersebut.

Nah, sistem interoperabilitas Polkadot ini sejatinya memecahkan masalah yang selama ini dihadapi oleh jaringan blockchain yang mengedepankan smart contract.

Sekadar informasi, penggunaan platform smart contract terbilang booming sepanjang 2021. Apalagi, komunitas kripto pun getol mencari alternatif jaringan Ethereum setelah jaringan gas fees jaringan tersebut semakin mahal seiring waktu. Alhasil, mereka pun merangsek ke jaringan seperti Binance Smart Chain, Solana, Avalanche, hingga Fantom.

Meski adopsi smart contract terbilang marak, terdapat satu sisa masalah yang dihadapi oleh seluruh jaringan tersebut. Yakni, kurangnya fungsi interoperabilitas di antara mereka. Dengan kata lain, masing-masing platform berbasis smart contract yang berdiri di atas jaringan tersebut tidak bisa berkomunikasi atau berbagi informasi satu sama lain.

Sebagai analogi, Sobat Cuan bisa mengibaratkan kondisi blockchain saat ini dengan perangkat komputer sebelum internet. Memang, komputer tersebut terbilang canggih karena bisa melakukan segala hal. Namun, nilai guna komputer-komputer tersebut terbilang terbatas karena tidak terhubung dengan internet. Bayangkan jika mereka terhubung dengan internet, tentu komputer tersebut bisa digunakan untuk berinovasi dan menciptakan peluang bisnis baru, kan?

Nah, Polkadot ingin menempatkan diri sebagai jaringan “internet” yang menghubungkan masing-masing komputer tersebut. Sehingga, potensi teknologi blockchain di masa depan bisa terbuka lebar. Bahkan, bukan tidak mungkin teknologi blockchain akan melahirkan inovasi baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

2. Skalabilitas Teruji

Salah satu keunikan Polkadot lainnya adalah skalabilitas jaringan yang andal. Hal ini terjadi karena jaringan Polkadot menghubungkan beberapa jaringan blockchain sekaligus, di mana masing-masing jaringannya punya maksud dan tujuan yang khusus.

Sebagai contoh, jaringan Polkadot memiliki parachain yang khusus mengurus keuangan terdesentralisasi, serta jaringan yang mengurus gaming. Seluruhnya terhubung dengan relay chain, sehingga masing-masing di antaranya bisa bertukar data dan informasi. Hal ini cukup berbeda dengan Ethereum, di mana satu jaringan utamanya mengurus berbagai kepentingan dalam waktu bersamaan.

Sebagai analogi, anggap bahwa jaringan Polkadot sebagai sebuah perusahaan yang dikelola secara profesional. Logikanya, perusahaan tersebut tentu harus berisikan karyawan yang masing-masing punya keahlian beragam daripada merekrut satu pegawai yang serba bisa namun punya hasil kerja yang b aja, kan?

Di bawah ini, Sobat Cuan bisa menengok contoh-contoh pemanfaatan jaringan blockchain Polkadot ke depan:

  1. Aktivitas smart contract di Ethereum bisa terhubung dengan sistem pembayaran di jaringan Bitcoin.
  2. Pertukaran antar blockchain dari ADA dengan SHIBA menggunakan smart contract tanpa membutuhkan platform exchange tersentralisasi.
  3. Satu oracle bisa menyalurkan data harga ke beberapa jaringan lapis 1 blockchain di waktu bersamaan.

Keunggulan dan Kelemahan Polkadot

Sama seperti jaringan blockchain pada umumnya, jaringan Polkadot pun punya keunggulan dan kelemahan sebagai berikut:

Keunggulan

  1. Menjadi solusi yang menghubungkan satu blockchain dengan blockchain lainnya.
  2. Memecahkan masalah interoperabilitas dan skalabilitas yang dialami blockchain lain.
  3. Pembaruan sistem tanpa memerlukan fork.
  4. Salah satu sistem jagoan firma modal ventura.

Kritik

  1. Biaya operasi parachain terbilang mahal.
  2. Masih banyak pertanyaan belum terungkap terkait penawaran koin perdana (Initial Coin Offering) dan identitas investor awal.

Bagaimana Cara Kerja Polkadot?

Sesuai dengan informasi di atas, Polkadot adalah jaringan yang terdiri atas parachains dengan algoritma Proof of Stake dan terhubung melalui satu ekosistem bernama relay chain.

Istilah-istilah ini mungkin membingungkan, tapi tidak ada salahnya jika kita memahaminya plus cara kerjanya lebih lanjut.

1. Relay Chain

Relay chain adalah jaringan utama Polkadot dan bertanggung jawab atas keamanan, konsensus, hingga fungsi interoperabilitas seluruh jaringan yang berada di atasnya. Jaringan utama ini memang didesain untuk punya fungsi seminimal mungkin, utamanya demi mengamankan dan mengoordinasi seluruh parachain di atasnya.

Seluruh validator jaringan Polkadot melakukan staking di atas Relay Chain menggunakan koin native yang disebut DOT. Para validator tersebut mengonfirmasi transaksi yang datang dari seluruh parachain.

2. Parachains

Parachains adalah lapisan 1 blockchain yang berdiri dan beroperasi secara mandiri, namun tetap terhubung ke jaringan Relay Chain. Setiap parachain punya fungsi dan tujuan yang spesifik, bahkan punya desain, fungsi, dan tata kelola yang berbeda satu sama lain.

Dengan terhubung ke Relay Chain, parachains berbagi aspek keamanan dengan jaringan utama Polkadot tanpa perlu membentuk komunitas validatornya tersendiri. Selain itu, dengan terhubung ke jaringan utama, masing-masing jaringan bisa tukar-menukar data tanpa hambatan.

Wood sendiri menganalogikan Polkadot sebagai sebuah kantor dan parachains adalah karyawan. Masing-masing karyawan tentu punya tugas dan tanggung jawab masing-masing. Namun, mereka mengoordinasikan kerja mereka satu sama lain dalam rapat rutin di Relay Chain.

3. Parathreads

Parathreads adalah parachains yang terhubung ke Polkadot dengan model “bayar langsung pakai” (pay as you go). Mereka memiliki hambatan masuk yang minim bagi blockchain dan bahkan tidak mengharuskan jaringan blockchain tersebut untuk terhubung ke jaringan utama secara terus menerus.

4. Bridges

Bridges adalah parachain khusus yang memungkinkan blockchain dan aplikasi di atas Polkadot untuk terhubung dan berkomunikasi dengan jaringan eksternal lapisan 1 lainnya seperti Ethereum dan Bitcoin.

Apa Gunanya Koin DOT

Koin DOT punya tiga fungsi utama yang terdiri sebagai berikut:

  1. Staking demi menjaga keandalan operasi dan keamanan jaringan.
  2. Mengikat parachain kepada jaringan utama Polkadot.
  3. Menjaga tata kelola sistem Polkadot

Bagaimana Nasib Kusama?

Seperti yang telah disinggung di atas, Kusama adalah jaringan canary dari Polkadot. Yakni, jaringan uji coba yang ditawarkan ke segelintir pengguna agar proyek-proyek inovatif mereka bisa terealisasi dengan cepat. Selain itu, jaringan Kusama juga menandai persiapan Web3 Foundation dalam meluncurkan jaringan Polkadot.

Nama “canary” berasal dari jenis burung yang dulu sering “dikirim” penambang batu bara untuk mengukur kadar gas beracun di lokasi tambang batu bara. Nah, konsep ini serupa dalam blockchain, di mana ujicoba canary adalah cara bagi pengembang untuk memvalidasi keandalan piranti lunak bagi sekelompok orang saja.

Kusama dikenal sebagai jaringan blockchain yang “liar dan cepat”. Dalam artian, jaringan ini cocok bagi pengembang untuk mewujudkan ide-ide gila dengan memanfaatkan teknologi blockchain.

Seperti yang dijelaskan di atas, Kusama diluncurkan pada 2019 dengan arsitektur dan inovasi yang mirip dengan Polkadot. Namun, tata kelola Kusama berbeda dengan Polkadot lantaran jaringan Kusama menggunakan token native-nya yang diberi nama KSM. Nah, lantas, bagaimana nasib Kusama setelah Polkadot meluncur?

Kini, masing-masing Polkadot dan Kusama telah berkembang secara independen sesuai dengan arahan masing-masing komunitasnya. Selain itu, segala pembaruan sistem di Polkadot pun kemungkinan besar akan diujicobakan di Kusama terlebih dulu. Sehingga, sistem Kusama tidak tersisihkan begitu saja.

Meski berawal sebagai jaringan ujicoba, Kusama kini punya pangsa pasarnya sendiri. Beberapa pengembang memutuskan untuk membangun proyeknya di Kusama karena biayanya terbilang lebih efisien ketimbang Polkadot, namun punya fungsi fundamental yang sama.

Sebagai analogi, anggap saja Polkadot adalah iPhone 13 Pro sementara Kusama adalah iPhone 13. Keduanya memang punya cara kerja dan aspek fundamental yang sama, namun beberapa pihak berpikir bahwa iPhone 13 Pro punya fungsi yang berlebihan dan tak begitu dibutuhkan segelintir penggunanya.

Selain itu, beberapa pengembang pun betah “tinggal” di Kusama karena proyek-proyek mereka tidak butuh tingkat keamanan dan stabilitas yang jitu seperti di Polkadot. Misalnya adalah Kilt, yakni sebuah proyek yang meluncur di Kusama namun tak punya niatan untuk menapak Polkadot.

Kendati demikian, proyek-proyek “level tinggi” dan punya nilai transaksi tinggi tetap minggat ke jaringan Polkadot.

Ke depan, jaringan Kusama bisa fokus pada proyek-proyek yang membutuhkan teknologi Polkadot namun tidak begitu membutuhkan tingkat keamanan yang mumpuni. Beberapa contohnya adalah proyek gaming, jejaring sosial, dan aplikasi distribusi konten. Selain itu, hanya proyek penting saja yang mampu memiliki parachain baik di Polkadot dan Kusama.



Sumber : pluang.com

Sobat Cuan, Ini Lho Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Cryptocurrency!

Apa yang menentukan nilai mata uang kripto? Nah, Sobat Cuan mungkin masih penasaran apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi harga cryptocurrency. Yuk kita bahas bersama di artikel ini!

Teknologi di balik cryptocurrency memainkan peran yang sangat besar. Mata uang yang terdesentralisasi ini memang dikenal tahan terhadap sensor dan intervensi pemerintah. Sehingga, mungkin intervensi mereka tidak dapat mempengaruhi harga aset kripto.

Namun, ternyata banyak hal yang dinilai mempengaruhi harga cryptocurrency. Dari mulai masalah teknologi dan keamanan, sampai adopsi penggunaan serta pergerakan mata uang fiat. Berikut beberapa di antaranya!

1. Pengaruh Keamanan Jaringan ke Harga Cryptocurrency

Bagian penting dari teknologi aset kriptonya ini adalah keamanannya. Sifat digital dari cryptocurrency menyiratkan bahwa mungkin ada bug dalam pengkodean.

Misalnya, kontrak cerdas atau smart contract berbasis Ethereum untuk dana investasi digital yang disebut DAO, memiliki bug yang akhirnya dieksploitasi oleh peretas yang mencuri koin senilai lebih dari US$30 juta.

Untuk memperbaiki masalah ini, perubahan dalam blockchain Ethereum telah didiskusikan. Beberapa di komunitas Ethereum setuju bahwa itu akan memperbaiki masalah, tetapi yang lain tidak ingin mengubah kode sebagai masalah prinsip, dan takut itu akan mempengaruhi kredibilitas Ethereum.

Baca juga: Mengenal Metode Analisis Fundamental Aset Kripto

Ethereum akhirnya dibagi menjadi dua versi: Ethereum (yang memiliki kode baru) dan Ethereum Classic (kode asli). Keduanya masih dapat diperdagangkan dan setiap orang yang memiliki koin pada saat itu menerima versi yang baru dan yang klasik.

Peristiwa semacam itu disebut fork dan dapat berdampak besar pada harga jika tidak algoritma konsensus tidak berjalan antara penambang dan peserta lain dalam jaringan.

2. Jumlah Node Berimbas ke Harga Cryptocurrency

Perlu diketahui bahwa jumlah node adalah indikator yang baik dari nilai dan harga cryptocurrency. Jumlah node adalah ukuran berapa banyak dompet aktif di jaringan yang ada yang dapat dicari di internet atau beranda jaringan.

Untuk menganalisis apakah suatu mata uang memiliki harga yang wajar atau tidak, seseorang dapat mencari jumlah node dan kapitalisasi pasar total dari cryptocurrency. Setelah itu, ia kemudian membandingkan kedua indikator tersebut dengan cryptocurrency lainnya.

Ini adalah salah satu cara untuk mengetahui apakah koin sudah overbought atau jenuh beli. Jumlah node juga menunjukkan seberapa kuat komunitas cryptocurrency. Semakin banyak node, semakin kuat komunitasnya. Hal ini penting untuk diketahui agar dapat menghitung peluang cryptocurrency dalam mengatasi krisis.

3. Meningkatnya Permintaan

Berkat bursa cryptocurrency besar, kegunaannya pun kini meningkat secara dramatis. Itulah sebabnya terdapat peningkatan yang sangat besar dalam kapitalisasi pasar selama beberapa tahun terakhir.

Karena peningkatan popularitas dan adopsi yang kian marak oleh institusi, maka semakin banyak juga pemerintah dan negara yang mencoba mencari tahu bagaimana mereka dapat menerapkannya. Semua alasan ini juga menjadi pendorong dasar untuk kenaikan harga cryptocurrency.

Baca juga: Alasan Pentingnya Diversifikasi Investasi Aset Kripto di Saat Pasar Loyo

Pasokan dan permintaan adalah faktor besar yang menentukan nilai apa pun yang dapat diperdagangkan, termasuk cryptocurrency. Jika lebih banyak orang mencoba membeli Bitcoin, sementara yang lain bersedia menjualnya, maka harganya akan naik, dan sebaliknya. Dan karena pasokan banyak cryptocurrency terbatas, popularitas yang meningkat telah menaikkan harga.

Namun, jika koin menghadapi skandal seperti serangan peretasan yang serius, atau koin baru dikenal sebagai scam (penipuan), maka permintaannya bisa turun dengan cepat, bahkan sangat cepat.

Akibatnya, efek domino dapat terjadi. Harga mata uang kripto kemudian bisa turun lebih cepat, karena banyak pedagang dan penambang ingin mengambil keuntungan yang telah mereka hasilkan.

Peristiwa semacam itu juga dapat dialami lebih dari satu cryptocurrency tunggal. Misalnya, penurunan harga Bitcoin telah berkali-kali menyebabkan koreksi seluruh pasar cryptocurrency.

4. Adopsi Massal

Jika suatu cryptocurrency memperoleh adopsi massal, nilainya bisa meroket. Hal ini karena jumlah total sebagian besar cryptocurrency terbatas, dan peningkatan permintaan menyebabkan kenaikan harga secara langsung.

Tetapi faktor-faktor apa yang masih diperlukan agar cryptocurrency benar-benar diadopsi secara massal?

Salah satunya adalah penerapan cryptocurrency dalam situasi dunia nyata, yaitu jumlah tempat yang menerimanya sebagai alat pembayaran.

Jika cryptocurrency memiliki kasus penggunaan dalam kehidupan sehari-hari seperti mata uang fiat hari ini, maka akan berada dalam posisi yang sangat baik untuk mungkin memainkan peran penting di masa depan.

5. Inflasi Mata Uang Fiat

Jika harga mata uang fiat turun, maka harga Bitcoin akan naik sehubungan dengan pergerakan nilai mata uang itu. Namun, hal ini hanya akan berlaku di aset kripto yang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai atau Store of Value seperti Bitcoin. Sebab, Sobat Cuan akan bisa mendapatkan lebih banyak mata uang itu dengan Bitcoin kamu.

Fenomena ini dapat dilihat hari ini, karena FED, ECB dan bank sentral lainnya telah mencetak lebih banyak uang dan menjaga suku bunga rendah secara artifisial. Hasilnya, harga Bitcoin pun berkali-kali menyentuh puncak tertingginya tahun ini meski saat ini kondisinya tengah tiarap.

6. Biaya Produksi

Biaya untuk memproduksi koin juga merupakan faktor yang menentukan nilai atau harga cryptocurrency. Bitcoin, misalnya, memiliki biaya produksi yang tinggi karena menggunakan tenaga listrik yang besar, seperti yang dijelaskan di artikel berikut.

Sumber daya dan energi yang telah digunakan dalam penambangan dapat dilihat sebagai alasan mengapa Bitcoin memiliki nilai. Hal ini termasuk biaya pembuatan perangkat keras khusus seperti CPU/GPU atau server serta sistem pendingin untuk perangkat keras tersebut.

Nah, seluruh faktor tersebut nantinya akan berdampak pada hash rate, yang ujungnya juga mempengaruhi suplai aset kripto. Penasaran apa itu hash rate? Yuk, simak di artikel berikut!

Baca juga: 4 Kesalahan Investasi Ethereum yang Sebaiknya Kamu Hindari

Selain itu, ada juga biaya energi yang signifikan yang diperlukan agar sistem ini dapat beroperasi. Penelitian telah menunjukkan bahwa biaya listrik penambangan Bitcoin berkisar antara US$400 juta hingga US$6,2 miliar per tahun!

Meskipun kelihatannya energi yang digunakan untuk menciptakan Bitcoin baru adalah pemborosan, itu masih satu-satunya cara untuk memberikan keamanan bagi pengguna.

Hal itu karena penambangan adalah alasan mengapa pemerintah tidak dapat menutup blockchain Bitcoin dengan mudah. Namun kini ada diskusi di antara programmer tentang bagaimana membuat proses lebih efisien.

7. Regulasi Mempengaruhi Harga Cryptocurrency

Peluang intervensi lewat regulasi oleh pemerintah sangat tinggi setelah cryptocurrency masuk ke arus utama sistem keuangan. Sobat Cuan juga harus ingat bahwa peraturan ini dapat menyebabkan cryptocurrency menjadi lebih terpusat. Hal ini akan berdampak besar pada harga cryptocurrency.

Salah satu contohnya adalah rencana pengenaan pajak cryptocurrency di beberapa negara, seperti dijelaskan di artikel berikut. Setelah beberapa negara menggaungkan rencana kebijakan tersebut, harga aset kripto, termasuk BTC dan ETH, langsung tersungkur tak berdaya.

Kritikus mengatakan bahwa transaksi akan berkurang dan dikendalikan karena peraturan dan kurangnya keamanan yang mungkin dilihat pemerintah dalam cryptocurrency. Beberapa negara bahkan mungkin melarangnya, seperti yang telah ditunjukkan oleh Rusia dan China.

Baca juga: Apa Sih Keterkaitan Harga Bitcoin dan Altcoin? Yuk Simak di Sini!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Tradimo



Sumber : pluang.com

Mengenal Ekosistem Avalanche

Avalanche adalah jaringan smart contract lapisan pertama yang punya niat menjadi “pembunuh Ethereum”, alias rival terberat Ethereum sebagai jaringan blockchain yang fokus dalam pemanfaatan fitur smart contract.

Jaringan ini juga bermimpi ingin menjadi platform jasa keuangan berbasis internet yang memfasilitasi aplikasi keuangan terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi) dan mampu menyokong pasar keuangan tradisional bersenjatakan proses transaksi cepat, yakni 4.500 transaksi per detik, dan finalisasi transaksi hanya di bawah tiga detik saja,

Sistem ini juga memungkinkan penggunanya untuk memodifikasi jaringan blockchain privat dan publik, sehingga pengguna bisa menciptakan aset pintar digital yang bisa disesuaikan dengan regulasi masing-masing negara.

Bagaimana Perbedaan Avalanche dengan Kompetitornya?

Apa Kelebihan Avalanche?

1. Proses Transaksi Tinggi

Menurut sang pengembang Ava Labs, jaringan ini mampu memproses 4.500 transaksi per detik, lebih tinggi dibanding Bitcoin dan Ethereum.

2. Penyelesaian Transaksi Cepat

Jaringan Avalanche mampu memproses transaksi di bawah tiga detik saja.

3. Memiliki Fungsi Interoperabilitas yang Mumpuni

Sama seperti Polkadot, Avalanche adalah jaringan blockchain yang memiliki “cabang-cabang” blockchqain yang lain. Sehingga, masing-masing blockchain di dalamnya bisa saling berkomunikasi dan mendukung kinerja satu sama lain.

4. Kecocokan Sistem dengan Ethereum

Kelebihan ini memungkinkan pengembang untuk memindahkan aplikasi terdesentralisasi (dApps) yang dikembangkan di Ethereum ke jaringan Avalanche.

5. Kemampuan untuk Membangun Jaringan Blockchain Khusus

Avalanche memungkinkan individu dan organisasi untuk memasang jaringan blockchain-nya sendiri dengan regulasinya masing-masing.

6. Tahan Terhadap Serangan 51%

Jaringan Avalanche memiliki sistem keamanan yang unik, di mana validasi transaksi harus disepakati minimal oleh 80% penggunanya. Nah, ambang batas ini lebih besar ketimbang skema yang berlaku di blockchain lain, khususnya Bitcoin dan Ethereum, yakni sebesar 51%. Sehingga, jaringan Avalanche tahan terhadap serangan 51%.

Kritik

1. Distribusi Token yang Tidak Merata

Sejumlah 80% token aslinya, yakni AVAX, dimiliki oleh tim Avalanche dan digunakan sebagai imbalan staking.

2. Skalabilitas Transaksi yang Belum Terbukti

Jaringan Avalanche terbilang baru dibanding Ethereum. Sehingga, nilai ongkos transaksinya bisa cukup tinggi meski utilisasi jaringan AVAX terbilang rendah.

Adopsi dan Penggunaan Avalanche

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pengguna bisa memanfaatkan jaringan Avalanche untuk membangun aplikasi DeFi dan beragam dApps lainnya. Tapi seberapa besar kepercayaan pengembang untuk membangun DeFi dan dApps di atas jaringan ini?

Nah, Sobat Cuan bisa mengukurnya menggunakan indikator Total Value Locked (TVL), yakni angka yang menunjukkan total token yang tersimpan di dalam sebuah jaringan penyedia smart contract.

Lantas, bagaimana nilai TVL dari jaringan yang meluncur tahun lalu tersebut? Sobat Cuan bisa menyimaknya di tabel berikut!

Dan berikut adalah platform DeFi dengan nilai TVL terbesar di atas jaringan Avalanche.

Apa yang Membuat Avalanche Unik?

Sejak awal, Avalanche didesain untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat di jaringan Ethereum. Bahkan, pendiri Ethereum Vitaik Buterin pernah memuji protokol Avalanche lantaran dianggap cukup menarik. “Saya merasa bahwa menyandingkan Avalanche di tingkat legitimasi yang sama dengan Bitcoin adalah sikap yang adil,” ujarnya.

Lantas apa saja sih keunikan Avalanche yang bikin Buterin sampai terpana?

1. Protokol Konsensus Avalanche

Setiap blockchain membutuhkan protokol konsensus untuk memvalidasi transaksi yang berada di dalamnya. Nah, validasi transaksi ini membutuhkan “kesepakatan” alias konsensus dari semua pengguna yang terhubung ke jaringan tersebut untuk menyepakati atau menolak transaksi yang akan dicatat di blockchain tersebut.

Umumnya, kancah teknologi blockchain mengenal dua jenis konsensus: Konsensus Klasik (1980-an) dan Nakamoto (2009). Apakah itu?

Konsensus protokol klasik menggunakan sistem voting yang melibatkan seluruh pengguna di jaringan tersebut demi memastikan bahwa seluruh komputer yang terhubung di dalamnya bisa mencapai kesepakatan bersama.

Sistem ini biasanya memiliki pimpinan yang ditunjuk untuk memimpin jalannya proses pengambilan keputusan. Proses ini kemudian diikuti oleh komunikasi antar pengguna berulang kali hingga mencapai kesepatakan yang diinginkan. Nah, finalisasi transaksi bisa terjadi jika sekian persen tertentu dari jumlah node di dalam jaringan tersebut menyetujui transaksi yang dimaksud.

Namun, kelemahan dari tipe protokol konsensus ini adalah tidak kokohnya jaringan ketika terjadi pertukaran kesepakatan antar node. Selain itu, protokol ini juga bikin skalablitas jaringan kian menyusut lantaran sebagian besar kapasitas jaringan akan dimanfaatkan untuk komunikasi antar pengguna.

Adapun contoh dari konsensus protokol klasik bersama dengan Proof of Stake adalah Practical Byzantine Fault Tolerance (PBFT) dan Cosmos Tendermint.

Sementara itu, konsensus protokol Nakamoto diciptakan oleh pencetus Bitcoin, Satoshi Nakamoto.

Berbeda dengan konsensus protokol klasik, sistem protokol ini tidak membutuhkan proses voting. Namun sebagai gantinya, sistem ini mengharuskan penambang untuk memecahkan teka-teki kriptografi untuk menciptakan blok transaksi baru. Dengan kata lain, konsensus ini tidak membutuhkan komunikasi seluruh pengguna hanya untuk memvalidasi satu transaksi di dalamnya.

Contoh utama dari protokol konsensus ini adalah konsensus Proof of Work di jaringan Bitcoin. Kalau Sobat Cuan tertarik mempelajarinya, yuk klik tautan berikut!

Tapi, selain kedua protokol konsensus tersebut, terdapat pula protokol Avalanche yang dianggap sebagai “gebrakan baru” protokol konsensus blockchain. Sebab, sistem ini menggabungkan fitur kecepatan finalisasi transaksi milik konsensus protokol klasik dengan keandalan dan skalabilitas yang tinggi dari konsensus Nakamoto.

Untuk mengetahui cara kerja sistem konsensus Avalanche, yuk simak penjelasannya melalui analogi berikut!

Coba bayangkan sekelompok orang di dalam satu ruangan yang sedang berembuk menentukan menu makan siang mereka. Kemudian, anggaplah mereka hanya punya dua pilihan menu makan siang, sate padang atau ayam geprek.

Pada saat itu, beberapa orang mungkin lebih memilih sate padang sementara sisanya memilih ayam geprek. Namun, karena mereka tengah lapar, maka mereka mau tak mau harus satu suara dalam memilih satu menu untuk disantap bersama-sama.

Dalam protokol konsensus klasik, mereka akan menunjuk satu orang yang ditugaskan untuk meminta pendapat masing-masing orang yang ada di dalamnya. Sementara itu, setiap orang di sana tentu menunggu giliran untuk ditanya, “Mau makan sate padang? Atau ayam geprek?’.

Namun, dalam konsensus Avalanche, sekelompok orang akan bertugas untuk menanyakan pilihan makan siang ke semua orang secara acak. Jika lebih dari setengahnya mengatakan sate padang, orang tersebut akan berpikir, “Baik, sepertinya kebanyakan orang ingin makan sate padang, sehingga saya pun ikut pilih sate padang.” Ini dapat diartikan bahwa mereka akhirnya mengadopsi pilihan dari mayoritas suara.

Demikian pula, jika mayoritas orang memilih ayam geprek, orang tersebut akan memilih ayam geprek sebagai pilihan finalnya.

Semua orang akan mengulangi proses ini, di mana semakin banyak orang akan memilih preferensi yang sama di setiap putarannya. Hal ini terjadi lantaran jawaban mayoritas biasanya akan bertambah seiring meningkatnya jumlah responden. Setelah aktivitas ini usai, maka mereka akan mencapai konsensus dan memutuskan satu opsi yang disetujui oleh semua orang.

Nah, dari analogi di atas, bisa diketahui bahwa Avalanche memperkenalkan pemungutan suara subsampel (berulang dan acak), dan opini setiap orang di dalam jaringan untuk mencapai konsensus dengan cepat dan terukur.

Apakah Sobat Cuan sudah memahami analogi di atas? Sekarang, yuk kita ganti analogi orang dengan validator dan node, sementara sate padang dan ayam geprek sebagai keputusan mereka dalam menerima dan menolak transaksi.

Dalam konsensus Avalanche, pada setiap putarannya, setiap validator secara acak memilih node X dari seluruh jaringan untuk meminta pilihan mereka. Adapun seleksi node didasarkan atas jumlah koin yang disimpan masing-masing pengguna di dalam jaringan tersebut.

Kemudian, setiap validator diminta untuk merespons keputusan pilihan mereka. Jika mayoritas tanggapan berbeda dengan node yang bertanya, maka validator akan memperbarui pilihan keputusannya sendiri. Kemudian, ia akan merespons node lain dengan pilihan keputusan yang baru.

Sekadar informasi, setiap validator adalah pembuat keputusan yang independen. Selain itu, tidak ada sosok yang memimpin dalam pemilihan ini layaknya konsensus klasik. Aktivitas ini akan terus berlanjut sampai jaringan mencapai keputusan yang disepakati oleh konsensus.

Saat ini, Avalanche menggunakan dua protokol konsensus yang berbeda, Snowman dan Avalanche. Terdapat pula protokol ketiga yang disebut dengan Frosty, meski kini masih dalam tahap pengembangan.

Snowman memiliki kemampuan untuk menyusun sejarah transaksi dengan rapi, yang sejatinya memang dibutuhkan untuk teknologi smart contract. Sementara itu, Avalanche punya kemampuan untuk mengatur pencatatan transaksi secara runut, namun hanya sebagian saja. Sehingga, pengguna bisa melakukan transaksi secara lebih cepat karena satu chain transaksi tidak perlu harus terkait dengan chain lainnya.

2. Punya 3 Sistem Blockchain: X-Chain, C-Chain, dan P-Chain

Avalanche tidak sama seperti Etherum yang mengadopsi “satu jaringan blockchain untuk semua”. Sebab, Avalanche menggunakan tiga jaringan blockchain yang masing-masing beroperasi dengan protokol konsensus tersendiri dan disesuaikan dengan tujuannya.

Exchange Chain (X-Chain)

X-Chain bertindak sebagai platform desentralisasi yang membuat dan memperdagangkan aset digital pintar dengan regulasi yang dapat dimodifikasi, misalnya aset digital tersebit tidak dapat diperdagangkan sampai besok atau hanya dapat dikirim ke warga negara Indonesia.

X-Chain memungkinkan siapa pun untuk membuat dan mencetak aset digital pintar seperti stablecoins, utility tokens, NFT’s, wrapped tokens, ekuitas dan token lain di luar aset digital aslinya yakni AVAX.

Platform Chain (P-Chain)

Platform Chain atau P-Chain adalah rantaian metadata pada ekosistem Avalanche yang berfungsi untuk mengkoordinasikan validator, melacak subnet aktif, dan memungkinkan pembuatan subnet baru.

Contract Chain (C-Chain)

C-Chain didekasikan khusus untuk menyalin segala kegiatan yang terdapat di kontrak pintar (smart contract) jaringan lainnya. Nah, jaringan ini cukup kompatibel dengan Ethereum, sehingga aplikasi yang berjalan di atas Ethereum seperti OpenSea dan CryptoPunks bisa dioperasikan di atas Avalanche.

Kedua blockchain Avalanche, P-Chain dan C-Chain, sudah diproteksi dengan konsensus Snowman sehingga bisa menopang skala kegiatan yang besar di atas smart contract. Sementara itu, X-Chain diproteksi dan dioptimalkan dengan konsensus DAG Avalanche, yakni protokol aman dan andal yang mampu memfinalisasi transaksi dalam hitungan detik saja.

Dengan membagi arsitektur Avalanche menjadi 3 blockchain, Avalanche dapat mengoptimalisasi fleksibilitas, kecepatan, dan keamanan transaksi tanpa membebani aspek lainnya di dalam jaringan tersebut. Hal ini menjadikannya platform blockhain yang sangat andal untuk digunakan oleh perusahaan maupun masyarakat umum.

Jadi, kesimpulannya adalah:

  1. X-Chain bertujuan untuk membuat dan menukarkan aset.
  2. P-Chain bertujuan untuk koordinasi dengan validator dan membuat subnet.
  3. C-Chain bertuuan untuk eksekusi kontrak EVM dan smart contracts.

3. Merupakan Blockchain dari Blockchain (Subnet)

Avalanche adalah jaringan blockchain yang terdiri dari banyak blockchain lainnya yang berupa ribuan subnet. Jaringan-jaringan tersebut memiliki fungsi interoperabilitas heterogen, sehingga siapa pun dapat membuat aplikasi blockchain-nya sendiri namun masih mendapat keuntungan dari konsensus Avalanche. 

Nah, sifat tersebut serupa dengan jaringan Polkadot (DOT) dan Cosmos (ATOM), tetapi dengan fitur yang berbeda seperti yang tertera di artikel ini.

4. Fokus pada DeFi (Internet of Finance)

Avalanche dibangun untuk melayani pasar keuangan, baik platform keuangan tredesentralisasi (DeFi) dan maupun jasa keuangan tradisional.

Avalanche bisa memfasilitasi transaksi aset digital dengan mudah melalui kumpulan aturan khusus yang kompleks, sehingga pengelolaan dan perdagangan aset bisa mengikuti regulasi yang sudah ditetapkan. Adapun aset yang bisa ditransaksikan di dalam platform di atas jaringan Avalanche adalah saham, obligasi, instrumen utang, tokenisasi real estat, dan lain-lain.

Perusahaan juga dapat membuat subnet mereka sendiri dengan tujuan untuk menyesuaikan kegiatan mereka dengan regulasi yang berlaku di masing-masing negara.

5. Suplai Token Terbatas

Salah satu penggerak harga token adalah suplainya yang terbatas. Tidak seperti Ether (ETH) dan token kripto lainnya yang jumlah koinnya terus bertambah dan tak terbatas, token Avalanche AVAX hanya memiliki total suplai sebanyak 720 juta keping saja.

Setengah dari total suplai Avalanche, atau 360 juta token, dicetak saat peluncurannya, sementara sisanya digunakan sebagai hadiah untuk staking. Seperti Bitcoin (BTC), jumlah hadiah yang tersedia akan terus menurun hingga jumlah token yang beredar akan setara dengan jumlah total suplainya.

Selain memang punya suplai yang terbatas, sirkulasi token AVAX juga semakin menipis lantaran Avalanche juga “membakar” token setiap AVAX digunakan sebagai biaya transaksi. Dengan kata lain, token AVAX akan dibakar setiap terjadinya transaksi, membuat atau mencetak aset, pembuatan blockchain, dan subnet. Sehingga, nilai AVAX akan loncat jika jumlah token yang dibakar melebihi jumlah token yang dicetak.

6. Minim Hambatan Untuk Jadi Validator Avalanche

Saat ini, pengguna Avalanche hanya perlu melakukan staking sebanyak 2.000 AVAX untuk menjadi validator transaksi. Maka dari itu, AVAX adalah salah satu blockchain yang memiliki paling banyak validator untuk mengamankan jaringannya.



Sumber : pluang.com