Category Archives: Pluang

Bingung Baca Prospektus Reksa Dana? Yuk, Simak Langkah Mudahnya di Sini!

Sobat Cuan mungkin sepakat bahwa investasi reksa dana adalah salah satu investasi yang cukup mudah dilakukan. Namun, saking mudahnya, kamu jangan terlena dan abai untuk membaca prospektus reksadana, ya!

Mungkin beberapa pertanyaan ini terlintas di pikiranmu. Apa itu prospektus reksadana? Dan bagaimana cara membaca prospektus reksadana tersebut? Yuk, kita bahas satu-satu

Mengenal Prospektus Reksa Dana

Secara garis besar, penjelasan mengenai prospektus di pasar modal bisa kamu temukan di artikel ini. Namun singkatnya, prospektus sendiri merupakan dokumen resmi yang berisi gabungan profil perusahaan dan laporan tahunan. Di sana tertera tanggal peluncuran produk, portofolio investasi, rekam jejak manajer investasi (MI) dan informasi lain yang kamu butuhkan.

Lantas, apa sih gunanya prospektus dalam reksa dana? Nah, tujuannya agar kamu paham secara detail seluk beluk produk reksa dana yang akan kamu beli.

Prospektus diibaratkan seperti “media pemasaran” untuk menjual produk efek tertentu. Tentunya, kamu tak mau dong, membeli “kucing dalam karung” dalam investasi.

Sehingga, Sobat Cuan diharapkan bisa membuat keputusan investasi yang tepat dengan mengetahui cara membaca prospektus reksadana. Tidak berdasarkan anjuran teman dan euforia pasar, melainkan berdasarkan informasi kredibel.

Penasaran cara membaca prospektus reksadana? Yuk, ikuti langkah-langkah mudah di bawah ini, ya!

Baca juga: Investasi Akhir Tahun Baiknya Pilih Emas, Saham, atau Reksadana?

Cara Membaca Prospektus Reksadana

1. Perhatikan Statusnya di OJK

Bagi Sobat Cuan yang baru berniat untuk masuk dan membeli produk reksadana, pasti njelimet jika membaca kalimat per kalimatnya. Maklum, bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah hukum dan juga keuangan.

Tetapi, ada beberapa poin yang bisa dijadikan acuan saat membaca prospektus reksadana. Terpenting adalah Manajer Investasi yang merupakan pengelola produk reksa dana berstatus, berizin, dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Hal itu menjadi prioritas agar Sobat Cuan tidak terjebak dalam pusaran investasi bodong. Setelah itu, pastikan bahwa produk reksadana tersebut juga terdaftar, tidak hanya MI-nya saja.

2. Lihat Rekam Jejak MI

Saat membaca prospektus reksadana perhatikan juga rekam jejak MI. Sobat Cuan bisa melihat sejarah singkat perusahaan, mulai dari tanggal berdiri, hingga tergabung dengan grup perusahaan apa. Tak terkecuali perihal reputasinya dan juga kinerjanya selama mengelola produk reksadana.

Untuk pelengkap, Sobat Cuan bisa juga mencari data sekunder tentang bagaimana sepak terjang MI tersebut selama ini.

3. Rekam Jejak Bank Kustodian

Secara umum, Sobat Cuan bisa membaca penjelasan bank kustodian di artikel ini. Namun singkatnya, fungsi Bank Kustodian dalam dunia reksadana adalah sebagai bank umum yang menyimpan titipan efek, dividen, bunga dan harta lainnya dalam reksadana. Mudahnya, kustodian adalah bank yang menyimpan modal Sobat Cuan sebelum nanti dikelola oleh MI.

Biasanya, yang menjadi bank kustodian adalah lembaga keuangan yang memang sudah mendapatkan izin dari OJK dan juga Bank Indonesia (BI).

Meski begitu, lagi-lagi kredibilitas adalah hal mutlak untuk ditelusuri. Karena dalam industri keuangan, hal itu menjadi faktor penentu untuk melihat baik atau tidaknya kinerja reksa dana yang diinginkan.

4. Metode yang Digunakan dalam Perhitungan NAB

Nilai Aktiva Bersih (NAB) atau yang sering dikenal dengan istilah Asset Under Management (AUM) adalah jumlah total dana kelolaan yang ada di satu produk reksadana. Metode yang digunakan untuk perhitungannya adalah Nilai Pasar Wajar dari efek yang ditentukan oleh MI sendiri.

Baca juga: Apa Itu Reksadana?

5. Jenis dan kebijakan investasinya

Masing-masing produk reksadana memiliki kebijakan investasi yang berbeda, tergantung dari jenis reksadananya.

Misalnya, jika Sobat Cuan membeli reksadana saham, maka kebijakan investasinya adalah minimal 80% dana dialokasikan ke pasar saham. Sedangkan untuk jenis reksadana pendapatan tetap, maka minimal 80% dana kelolaan ditempatkan dalam instrumen obligasi atau surat utang lainnya.

Dengan begitu, Sobat Cuan dapat mengukur profil risiko yang diinginkan. Semakin tinggi imbal hasil yang diberikan, biasanya semakin tinggi juga risiko yang melekat.

6. Biaya yang Muncul saat Pembelian atau Penjualan

Sobat Cuan yang berniat melakukan investasi pasti mengejar keuntungan, bukan? Maka. wajib hukumnya untuk melihat bagian biaya yang masuk dalam instrumen reksadana. Mulai dari Subscription fee, redemption fee, switching fee  dan biaya pencairan.

Ada beberapa MI yang menawarkan skema potong biaya dari nilai pembelian atau ada juga yang menambahkan dari total pembeliannya. Kalau semakin banyak biaya, maka cuan yang kamu raih juga bisa terpangkas banyak. Makanya, teliti sebelum berinvestasi, ya!

7. Laporan Keuangan Reksa Dana

Dalam prospektus reksadana juga terdapat laporan keuangan. Mulai dari posisi keuangan, arus kas, laba dan juga perubahan aset. Laporan ini bisa dijadikan acuan untuk menilai apakah reksa dana tersebut mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun atau justru negatif.

Dengan mengetahui cara membaca prospektus reksa dana, Sobat Cuan bisa menjadi investor yang cerdas yang tentunya bisa menghasilan imbal hasil yang cerdas juga.

Sudah siap berinvestasi reksadana? Nah, Sobat Cuan bisa berinvestasi di reksadana pasar uang dan pendapatan tetap di Pluang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Bareksa, Expandana



Sumber : pluang.com

Mengenal Ekosistem Polygon

Salah satu janji aset kripto adalah untuk membuat sistem finansial yang terbuka dan gratis. Fasilitas ini telah disediakan oleh aplikasi terdesentralisasi (dApps) dan kebanyakan platform keuangan terdesentralisasi (DeFi) yang berada di atas jaringan Ethereum.

Namun, para pengembang aplikasi tersebut menghadapi masalah biaya jaringan mahal di Ethereum. Namun, masalah tersebut bisa selesai jika mereka “pindah rumah” ke satu jaringan baru yang disebut Polygon.

Seperti apa karakteristik jaringan tersebut? Yuk, simak bersama!

Apa Itu Polygon?

Jaringan Polygon adalah solusi blockchain lapisan kedua (layer 2) yang dibangun di atas jaringan Ethereum, yang merupakan jaringan blockchain lapis 1.

Jaringan lapis kedua adalah kerangka kerja atau protokol sekunder yang dibangun diatas sistem blockchain utama, atau dikenal sebagai lapis 1. Kehadiran protokol ini bertujuan untuk menjadi solusi atas leletnya kecepatan transaksi dan rendahnya skalabilitas transaksi yang dihadapi jaringan kripto.

Dalam konteks Polygon, jaringan tersebut hadir untuk mengatasi hambatan transaksi di jaringan Ethereum, mulai dari masalah skalabilitas, tata kelola komunitas, hingga kecepatan transaksi. Di samping itu, Polygon juga muncul sebagai solusi atas mahalnya biaya transaksi di jaringan Ethereum yang kini berada di kisaran US$14 hingga US$263 per transaksi.

Polygon mengatasi rentetan masalah tersebut dengan memanfaatkan solusi sidechain baru dan teknologi off-chain. Dengan teknologi off-chain tersebut, pengguna Ethereum dapat melakukan transaksi dan interaksi smart contract di luar jaringan Ethereum. Jika kegiatan tersebut rampung, maka mereka dapat mendokumentasikan kembali seluruh aktivitas yang dimaksud ke blockchain utama Ethereum.

Di samping itu, pengembang dapat memanfaatkan Polygon untuk membuat jaringan interoperable blockchain sesuai atribut yang diinginkan. Tak ketinggalan, pengembang juga dapat menyesuaikan jaringan blockchain dengan berbagai macam modul baru untuk membuat blockchain independen dengan fungsi yang diinginkannya.

Nah, solusi bejibun yang ditawarkan Polygon tersebut dapat mengurangi beban pemrosesan data Ethereum, sehingga waktu dan biaya transaksi di Ethereum jadi lebih efisien. Oleh karenanya, koneksi Polygon jelas menjadi bukti bahwa ia adalah blockchain lapis kedua Ethereum. Bahkan, Polygon sendiri mengklaim dirinya sebagai “internet blockchain Ethereum” lantaran fungsinya yang mumpuni.

Menariknya, Polygon bukan hanya solusi penskalaan dasar seperti pendahulunya, jaringan Matic. Selain itu, Polygon awalnya hanyalah kerangka kerja yang fokus menangani kekurangan jaringan Ethereum.

Jadi, intinya, jaringan Polygon adalah kerangka kerja komprehensif yang dapat dioperasikan dan berfungsi memperbaiki keandalan jaringan blockchain Ethereum.

Cara Kerja Polygon Matic

Dalam menjalankan fungsinya, Polygon membagi proses kerjanya ke dalam empat tahapan (layer), yakni Ethereum layer, Polygon networks layer, execution layer, dan security layer. Seperti apa penjelasannya? Yuk, perhatikan dengan seksama ya, Sobat Cuan!

Proses kerja paling awal disebut sebagai Ethereum layer, yang sekaligus menjadi tahapan paling signifikan di arsitektur Polygon. Pada layer ini, Polygon akan menampilkan kumpulan rancangan smart contracts yang akan “dipasang” di jaringan Ethereum. Smart contracts tersebut adalah motor penggerak atas aktivitas seperti finalisasi transaksi, komunikasi dua arah antara Ethereum dan Polygon, serta staking.

Menariknya, tahapan security layer juga akan berjalan secara paralel dengan proses Ethereum layer. Proses security layer nantinya juga akan ikut meningkatkan keandalan aspek keamanan di jaringan Ethereum.

Setelahnya, Polygon akan memproses data-data dari Ethereum ke dua tahapan lanjutan yang tak kalah penting, yakni Polygon networks layer dan execution layer.

Di dalam Polygon networks layer, komunitas pengguna jaringan Polygon akan melakukan konsensus untuk memvalidasi, atau bahkan bisa memblokir, permintaan transaksi di jaringan tersebut. Jika sudah disepakati, maka transaksi bisa berlanjut ke tahapan execution layer.

Execution layer sendiri adalah proses eksekusi smart contracts menjadi dApps menggunakan Ethereum Virtual Machine (EVM). Polygon memiliki banyak “jaringan sampingan” (sidechain), di mana masing-masingnya memiliki EVM aktif. Nah, keunggulan inilah yang memungkinkan eksekusi smart contract di Polygon lebih cepat dengan biaya yang jauh lebih efiisen dibanding eksekusi di jaringan Ethereum.

Untuk lebih jelasnya, yuk simak perbandingan biaya-biaya jaringan di Polygon dengan Ethereum berikut!

Apa Itu Polygon

Kegunaan Polygon

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, jaringan Polygon berfungsi untuk mendukung skalabilitas penciptaan dApps di jaringan Ethereum. Tapi, selain itu, kenapa pengembang dApps perlu mengembangkan aplikasinya di jaringan Polygon?

Ternyata, proyek-proyek yang dikembangkan di Polygon bisa memiliki kemampuan untuk berkomunikasi satu sama lain plus dengan blockchain Ethereum. Keunggulan tersebut menjadikan Polygon sebagai jaringan potensial yang mampu mengantar masing-masing platform dApps untuk saling bertukar nilai dan punya fungsi interoperabilitas.

Nah, hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan manfaat serta mengakselerasi inovasi dApps ke depan. Oleh karenanya, Polygon diramal bisa menjadi jembatan penghubung antara blockchain-blockchain berbeda di masa depan. Sehingga, seluruh blockchain tersebut dapat saling menyokong satu sama lain di dalam satu ekosistem yang lebih luas.

Pada dasarnya, Polygon ingin mengembangkan sebuah hub yang bisa menghubungkan jaringan blockchain berbeda-beda sembari mengatasi masalah yang mendera masing-masin jaringan tersebut. Bahkan, di masa depan, Polygon tidak menutup kemungkinan untuk digunakan di ekosistem ekonomi yang lebih terbuka, yang memungkinkan pengguna untuk berinteraksi secara lancar.

Apa yang Membuat Polygon Unik?

Polygon telah berevolusi menjadi fondasi teknologi yang menjanjikan dan memungkinkan proyek-proyek di dalamnya punya fungsi interoperabilitas yang andal dengan jaringan blockchain lainnya. Keunggulan ini ibarat menjadi obat bagi “penyakit kronis” Ethereum, yakni perkara skalabilitas.

Namun, selain itu, masih banyak lagi keunggulan Polygon dibanding jaringan lainnya, seperti dijelaskan di tabel berikut!

Apa Itu Polygon

Salah satu “nilai jual” Polygon yang bisa menarik minat komunitas kripto adalah kompatibilitasnya dengan EVM. Akibatnya, pengembang yang terbiasa mengembangkan aplikasi di jaringan Ethereum tidak akan kagok ketika beralih menggunakan jaringan Polygon.

Selain itu, Polygon juga menggunakan model keamanan bersama. Hanya saja, masing-masing proyek di dalamnya tidak wajib menambah lapisan keamanan tersebut lantaran fitur ini bersifat pilihan. Namun, skalabilitas mereka juga tak akan terganggu jika mereka memilih meningkatkan kualitas keamanannya.

Di samping itu, pengembang juga bisa memanfaatkan Polygon untuk mengembangkan platform bersifat fleksibel dan menggabungkan segala jenis solusi yang ada. Salah satu proyek terkenal yang menggunakan teknologi Polygon adalah Aavegotchi, sebuah game DeFi yang mengolaborasikan Non-Fungible Tokens (NFTs) dengan platform pinjam-meminjam terdesentralisasi EasyFi.

Nah, beberapa keunikan tersebut menjadikan Polygon sebagai alternatif terbaik dalam urusan pengembangan dApps ketimbang teman sepantarannya, Cosmos.

Sekadar informasi, Cosmos memanfaatkan teknologi WASM-based virtual machine dalam memproses smart contract menjadi dAppss. Namun, teknologi itu dinilai tidak punya level keamanan yang andal seperti Polygon dan dikenal agak ribet untuk dioperasikan.

Bagaimana Polygon Menentukan Masa Depan Ethereum?

Komunitas kripto kerap berdebat soal kemungkinan jaringan Polygon untuk menyalip popularitas Ethereum. Padahal, Polygon justru berfungsi sebagai penyanggan Ethereum.

Sobat Cuan mungkin sudah paham bahwa jaringan Ethereum telah berkembang pesat sebagai platform penciptaan aplikasi terdesentralisasi. Melalui berbagai aplikasi tersebut, pengguna bisa berhubungan dengan dunia virtual, membeli karya seni digital, atau melakukan transaksi pinjam meminjam.

Namun, meningkatnya aktivitas tersebut akan membuat proses transaksi di atas jaringan Ethereum gampang mandek. Sehingga, biaya transaksi di Ethereum pun semakin mahal. Untungnya, terdapat jaringan Polygon yang mampu menyelesaikan masalah tersebut. Ia menawarkan solusi atas ketidakandalan skalabilitas Ethereum dengan memanfaatkan teknologi yang dapat mempercepat, mengurangi kompleksitas, dan menurunkan biaya transaksi di jaringan Ethereum.

Intinya, kehadiran Polygon tidak perlu memaksa Ethereum untuk memodifikasi jaringannya. Sesuai dengan namanya, Polygon menawarkan kerangka kerja yang lebih sederhana, namun fleksibel untuk pengembangan jaringan Ethereum. Sehingga, Polygon dapat mendukung Ethereum untuk mengekspansi jaringannya dengan ukuran, efisiensi, kegunaan, dan keamanan yang lebih baik. 

Perkembangan Terakhir Polygon

Baru-baru ini, Polygon mengumumkan akan berkolaborasi dengan Seven Seven Six, sebuah perusahaan modal ventura besutan salah satu pendiri Reddit Alexis Ohanian, untuk berinvestasi sebesar US$200 juta di proyek yang menggabungkan kecanggihan teknologi Web3 dengan media sosial.

Investasi tersebut akan menambah panjang daftar portofolio pendanaan Ohanian. Sebelumnya, Ohanian juga menjadi investor awal Coinbase, Patreon dan juga OpenDoor.

Perusahaan yang dimilikinya, Seven Seven Six, juga memiliki kepemilikan di Sky Mavis, pengembang platform gim Axie Infinity, dan beberapa perusahaan teknologi terkemuka lainnya.



Sumber : pluang.com

Panduan Analisis Teknikal dalam Berinvestasi bagi Pemula!

Cuan saat berinvestasi adalah keharusan. Sehingga, untuk mendapatkannya dibutuhkan analisis yang tepat dan memadai. Nah, salah satu yang bisa Sobat Cuan lakukan untuk “meramal” cuan adalah dengan melakukan analisis teknikal.

Mengapa demikian? Meski tidak selalu akurat dan tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator, hasil analisis teknikal yang tepat bisa mencegah kamu cut loss kebanyakan atau beli di harga terlalu tinggi.

Analisis teknikal secara umum menganalisis pergerakan harga saham berdasarkan data historis, harga terkini dan volume penjualan maupun penawaran. Ini sangat membantu kamu untuk mengetahui gap antara nilai interinsik dan harga pasar.

Nah, dengan analisis teknikal yang baik, Sobat Cuan bisa paham kapan waktu terbaik untuk menjual dan membeli aset yang kalian miliki.

Pendekatan Analisis Teknikal

Secara umum terdapat dua pendekatan dalam analisis teknikal, yakni top-down dan bottom up. Kita bahas satu-satu, ya!

Baca juga: Apa Itu Indikator Teknikal?

1. Pendekatan Top-Down

Pendekatan ini pertama-tama melihat kondisi makroekonomi suatu negara sebelum melihat data kinerja suatu emiten (dalam investasi saham) atau aset-aset lainnya.

Trader biasanya melihat pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, penyerapan tenaga kerja, dan indikator makro lainnya. Setelah itu, baru mempertimbangkan sektor dan kinerja perusahaan dari emiten yang hendak dibelinya. Atau mempertimbangkan aset lain yang ingin digenggam, seperti emas atau aset kripto.

Analisis ini sangat bermanfaat untuk tipe investor jangka pendek. Data terkini dari fundamental perekonomian akan membantu kamu untuk menentukan aset mana yang paling cuan saat ini.

2. Pendekatan Bottom-Up

Sebaliknya, pendekatan ini lebih menekankan pada kinerja perusahaan dan tren harga saham yang akan dibeli. Kamu bisa melihat grafik pergerakan harga saham dan menentukan apakah emiten yang kamu incar sedang murah atau mahal.

Strategi ini berguna jika kamu ingin berinvestasi di pasar modal, bukan cuma sekadar berjualan. Saham-saham yang sedang murah dengan indikator kinerja perusahaan yang baik suatu saat harganya akan bergerak naik.

Nah, di saat itulah kamu bisa menjualnya di harga yang lebih tinggi. Asal bisa sabar, cuan pasti lebar!

3. Grafik dalam Analisis Teknikal

Analisis teknikal sangat bergantung pada grafik pergerakan saham. Salah satu grafik yang paling popular digunakan para analis adalah candlestick. Cara membaca candlestick, dan tentu saja seluk beluknya, bisa kamu baca di sini ya!

Grafik ini ditemukan oleh seorang pedaqang beras Munehisa Homma untuk mengukur pergerakan harga beras. Grafik ini sangat popular sebab mencakup informasi harga pembukaan, penutupan, terendah dan tertinggi.

Pola dalam grafik historis data dari harga sebuah aset bisa memberi tahu kamu di mana titik support dan resistance. Dengan begitu, Sobat Cuan bisa menentukan kapan waktu terbaik untuk membuka penawaran dan kapan akan menjualnya.

Baca juga: Prediksi Arah Kinerja Saham, Terapkan Metode Analisis Investasi Ini

Strategi Trading dengan Analisis Teknikal

1. Atur Strategi

Setiap trader punya strategi masing-masing untuk mendulang cuan. Sebagai contoh, trader pemula biasanya mengikuti strategi histori pergerakan harga saham dalam 50 hingga 200 hari terakhir. Nah, harga sebuah aset yang bisa menembus resistennya dalam 50 hari terakhir cenderung akan dibeli oleh trader harian.

Sementara itu, trader jangka menengah dan jangka panjang cenderung membeli saham yang secara historis masih murah dengan harapan akan menjualnya saat pergerakan harga beranjak naik.

3. Identifikasi Strategi Trading Kamu

Jika sudah mengenal strategi-strategi yang ada, langkah selanjutnya adalah menemukan strategi mana yang cocok buatmu. Tiap sektor, industri, maupun kelas aset yang beragam tentu membutuhkan analisis yang berbeda. Karenanya, strategi yang dibutuhkan pun berbeda.

Menentukan strategi mana yang pas untuk digunakan bisa dilakukan setelah kamu lebih tau aset mana yang jadi favoritmu, juga industri apa saja yang paling menguntungkan untukmu. Tentu saja sebelumnya kamu harus mempertimbangkan tujuan kamu bermain saham dan tipe trader seperti apa kamu sebetulnya.

3. Pilih Sekuritas yang Sesuai

Nah, faktor ini sangat berlaku untuk berinvestasi di pasar modal.

Jika sudah menemukan strategi trading-mu sendiri, memilih sekuritas yang sesuai dengan kamu juga sangat penting. Sekuritas yang tepat akan membuat aktivitasmu di pasar modal lebih efisien. Dengan begitu segala biaya yang tidak perlu bisa ditekan.

Beberapa sekuritas mengeksekusi bidding kamu lebih cepat meskipun dalam volume transaksi yang kecil. Sekuritas lain menawarkan aksesibilitas dan aplikasi yang mudah digunakan.

Ada juga sekuritas yang memberikan kemudahan analisis dan akses data. Semuanya kembali pada kebutuhan kamu ya, Sobat Cuan

4. Pantau Terus Pergerakan Harga Aset Jagoanmu

Memantau pergerakan harga aset sangatlah penting jika kamu ingin optimal mereguk cuan. Meskipun kerap merepotkan dan tidak terduga, trader sangat bergantung pada pemilihan waktu yang tepat untuk membeli dan menjual sahamnya.

5. Gunakan Perangkat dan Software Tambahan

Saat ini, banyak sekali perangkat dan software juga web yang dapat diakses untuk membantu kamu melakukan analisis pergerakan saham dan aset lainnya.

Meskipun kebanyakan sekuritas atau platform investasi sudah menyediakan perangkat analisis di aplikasi perusahaannya, tidak ada salahnya menggunakan perangkat tambahan agar analisis kamu semakin jitu.

Baca juga: Cara Memilih Saham dengan Analisis Teknikal dan Fundamental

Analisis Fundamental

Analisis teknikal tentu tidak akan lengkap tanpa analisis fundamental. Metode ini bisa membantu kamu mengukur nilai interinsik suatu kelas aset,

Bisa saja, contohnya, secara fundamental saham yang akan kamu beli terlalu mahal dibanding harga bukunya, atau kurang menguntungkan imbal hasilnya. Kamu bisa mempertimbangkan lagi keputusan kamu untuk membeli guna menghindari kerugian saat berinvestasi.

Komponen dalam analisis fundamental seperti nilai asset, penjualan, liability, modal, cashflow, dan laba perlu diperhitungkan juga saat akan membeli saham. Meskipun, fundamental perusahaan yang baik bukan menjadi satu-satunya penentu pergerakan harga saham.

Pendekatan Analisis Fundamental

Pendekatan dalam analisis fundamental mencakup analisis kualitatif dan kuantitatif. Keduanya penting untuk dipahami agar kamu dapat membaca kinerja asetmu.

1. Analisis Kuantitatif

Analisis kuantitatif dalam analisis fundamental mencerminkan kinerja suatu aset lewat angka dan nominal yang terukur. Dalam investasi saham, misalnya, jumlah penjualan, laba, aset, beban, nilai buku dan sebagainya merupakan data yang banyak digunakan oleh analis fundamental.

Data-data ini banyak tersaji di dalam laporan keuangan perusahaan yang dibuka secara berkala tiap kuartal maupun tahunan. Data ini mencerminkan kondisi internal perusahaan yang mempengaruhi harga sahamnya. Sobat Cuan bisa menilai nilai intrinsik suatu emiten lewat analisis ini.

2. Analisis Kualitatif

Berbeda dengan analisis kualitatif, analiss kuantitatif lebih mencerminkan hal yang sulit diukur dengan angka. Kalau di pasar modal, contohnya, profil pinpinan perusahaan, paten yang dimiliki perusahaan itu, sejauh mana merek dagangnya dikena; hingga teknologi yang digunakan termasuk dalam analisis kualitatif.

Biasanya, hal yang perlu diperhatikan saat menganalisis suatu perusahaan secara kualitatif adalah model bisnis dari perusahaan tersebut juga kultur industrinya. Penting juga untuk mengetahui kompetisi yang dihadapi perusahan, manajemen, good governance dan arah bisnis perusahaan.

Sudah Siap Asah Skill Trading Kamu?

Pertama-tama, kamu harus membangun fondasi pengetahuan supaya lincah bertransaksi aset-aset yang kamu inginkan. Apalagi, saat ini banyak terdapat buku, panduan, artikel maupun kursus yang bisa membantu kamu membangun fondasi pengetahuan. Terus asah skill kamu sampai kamu menemukan mana yang paling cocok dengan selera resiko kamu.

Pada akhirnya, untuk mendulang cuan, Sobat Cuan perlu terjun langsung. Instrumen analisis yang tersedia seringkali tidak akurat dalam menebak pergerakan harga aset yang kalian genggam.

Sehingga, jam terbang di pasar sangat membantu Sobat Cuan untuk menemukan pola yang paling sesuai dengan gaya trading kamu sendiri. Jangan lupa untuk mempertimbangkan faktor lain seperti selera risiko kamu dan sektor mana yang lebih kamu pahami kinerjanya.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: investopedia



Sumber : pluang.com

1. Apa Itu Analisis Teknikal?

1.1 Pengertian Analisis Teknikal

Analisis teknikal adalah teknik yang digunakan investor untuk memprediksi perilaku pasar di masa depan dengan mempelajari data pasar, utamanya data harga dan volume perdagangan, secara historis.

Pada praktiknya, investor dan trader selalu menggunakan analisis teknikal untuk menentukan titik beli dan jual sebuah aset agar cuannya lebih mumpuni. Sobat Cuan bisa mengambil contoh garis support dan resistance di dalam grafik pergerakan harga sebuah aset.

Jika harga sebuah aset menyentuh garis support, maka investor bisa melakukan aksi beli. Sebab, pada titik tersebut, investor lain kemungkinan juga akan memborong aset yang dimaksud karena mereka berharap tren penurunan harga aset (downtrend) akan berhenti. Sementara itu, investor bisa menjual asetnya ketika harga aset menyentuh titik resistance mengingat tren kenaikan harga aset (uptrend) akan terhenti.

Di dalam analisis teknikal, pelaku pasar mengasumsikan bahwa harga aset merupakan cerminan dari seluruh informasi yang sudah diproses oleh sesama pelaku pasar lainnya. Trader menganggap bahwa seluruh informasi tersebut membentuk suatu pola tertentu sehingga mereka gemar memperhatikan grafik harga untuk mengenali pola harga, tren, dan sinyal ketika memutuskan aksi jual dan beli.

Analisis teknikal dapat dibagi menjadi ketiga kategori sebagai berikut:

  1. Pola grafik
  2. Garis support dan resistance
  3. Indikator teknikal (Moving Average, MACD, Relative Strength Index, dan lainnya)

Dengan kata lain, trader yang menjagokan analisis teknikal sama sekali tidak mempertimbangkan aspek finansial dari aset keuangan, cukup berbeda dengan mereka yang mengandalkan analisis fundamental.

1.2 Manfaat Analisis Teknikal

Bagi investor, analisis teknikal adalah pendekatan yang tepat untuk mengukur sentimen keseluruhan pasar. Sebab, analisis teknikal adalah visualisasi atau pendekatan matematis dari aksi jual-beli yang dilakukan pelaku pasar secara keseluruhan. Nah, pelaku pasar lain bisa menggunakan informasi-informasi tersebut untuk memilih keputusan dan mencari potensi cuan dalam trading.

Sehingga, memahami analisis teknikal bukanlah memahami ilmu sulap. Sesuai ucapan terkenal dari Benjamin Graham, “Pasar adalah mesin voting di jangka pendek, namun menjadi mesin penimbang dalam jangka panjang.”

Baca Juga: Apa itu RSI dan Bagaimana Kegunaannya dalam Trading?

1.3 Bagaimana Cara Memanfaatkan Analisis Teknikal?

Analisis teknikal adalah metode yang berguna untuk memeriksa sentimen pasar dalam jangka pendek. Sehingga, pendekatan ini akan berguna jika Sobat Cuan ingin mencari cuan dari trading jangka pendek.

Namun, kamu tak cukup mengandalkan analisis teknikal semata. Sebab, pendekatan ini banyak kekurangannya. Oleh karenanya, kamu tetap harus mengombinasikan analisis teknikal dan analisis fundamental. Mengapa demikian?

Kamu bisa menggunakan analisis fundamental untuk menentukan aset apa yang perlu dijual atau dibeli. Sementara itu, analisis teknikal digunakan untuk menentukan kapan sebaiknya kamu membeli atau menjual aset tersebut.

Sebagai contoh, harga Bitcoin (BTC) terlihat dalam tekanan dalam waktu yang lama. Kemudian, tiba-tiba muncul satu sentimen pasar utama yang kemudian bikin harga BTC terdongkrak. Nah, dalam situasi ini, kamu tentu tergerak untuk memborong BTC kan?

Namun, kamu tetap tak boleh tergesa-gesa menentukan keputusan. Kamu bisa menggunakan analisis teknikal, yakni dengan melihat grafik harga dan indikator teknikal, agar kamu semakin yakin memborong BTC. Selain itu, kamu juga bisa menggabungkan beberapa analisis teknikal untuk makin teguh menentukan keputusan jual atau beli tersebut.

Analisis teknikal adalah topik yang luas dan terdiri dari beberapa metodologi, bahkan indikator analisis teknikal pun banyak jenisnya. Jika kamu hanya menggunakan satu pendekatan analisis teknikal saja, maka ada beberapa aspek lain di pasar yang tidak bisa kamu tangkap. Sehingga, kamu harus memantapkan analisismu dengan indikator teknikal yang lain agar meminimalisasi risiko dan meningkatkan kesempatan cuanmu.



Sumber : pluang.com

4 Gaya Trading Populer yang Bisa Dilakukan Trader Pemula

Trading aset, baik dalam bentuk saham maupun instrumen lainnya, tentu membutuhkan strategi yang disesuaikan dengan gaya trading Sobat Cuan. Tanpa strategi yang mumpuni, tentu sulit untukmu bisa cuan dalam jual-beli aset.

Setiap orang punya gaya dan strateginya masing-masing untuk dapat mereguk cuan dari fluktuasi harga aset. Keduanya, yakni gaya dan strategi trading, sangat menentukan kesuksesan Sobat Cuan mengadu nasib diantara grafik dan data yang njelimet itu.

Aktivitas trading sendiri merujuk pada aktivitas jual beli jangka pendek. Strategi yang digunakan oleh trader aktif pun sangat berbeda dengan strategi investor jangka panjang.

Nah, di dalam trading, trader biasanya mengenal empat jenis gaya trading yang menjadi jagoan mereka masing-masing. Tentu saja, masing-masing dari gaya tersebut punya risiko serta potensi cuan yang berbeda.

Untuk itu, yuk simak beberapa gaya trading umum dari para trader yang tentunya bisa kamu contoh!

Baca juga: Anti Pompom, Ini Alasan Reksadana Saham Lebih Aman bagi Sobat Cuan!

4 Macam Gaya Trading Ala Trader Kawakan

1. Trader Harian (Day Trader)

Gaya trader seperti ini paling banyak dijumpai di pasar. Apalagi, sejak pandemi, banyak sekali masyarakat yang beralih jadi trader pemula demi mengisi waktu senggang saat karantina mandiri.

Trader harian biasanya melakukan aktivitas jual beli di hari yang sama. Saat pasar baru buka, dia akan membeli aset di harga yang dinilai rendah. Kemuidan, ia akan segera menjual asetnya saat nilainya bergerak naik.

Trader harian sangat disiplin melakukan cut loss. Jika harga saham yang dibelinya stagnan atau malah susut saat sesi perdagangan hampir berakhir, trader jenis ini lebih memilih untuk jual rugi ketimbang menahannya sampai besok.

Di pasar saham Indonesia, trader ini sangat diuntungkan dengan hadirnya mekanisme auto reject bawah (ARB). Mekanisme ini menjamin trader harian tidak akan merugi lebih dari 7% dalam sehari meskipun harga saham sedang anjlok. Sekuritas di Indonesia pun umumnya memberlakukan fee yang lebih kecil bagi trader harian.

Sebetulnya, trading harian biasanya dilakukan oleh profesional yang paham betul analisis teknikal dari pergerakan harga suatu aset. Trader harian juga harus awas memantau pergerakan harga tiap saat agar tidak kehilangan momentum. Selain itu, tentu saja harus menyiapkan mental baja jika harus cut loss jelang penutupan.

Namun tentu saja, gaya ini tidak hanya terbatas pada keahlian dan pengalaman seseorang. Pemula yang mau coba peruntungan jadi trader harian pun sah saja, lho!

2. Position Trader

Position trader mendulang cuan dari naik turunnya grafik dalam jangka waktu menengah hingga relatif panjang. Mereka biasanya menanti masuk atau keluar pasar dengan melihat tren harga aset secara historis.

Umumnya, position trader membeli saham di titik support dalam posisi uptren. Mereka biasanya hanya berupaya menebak naik dan turunnya pergerakan pasar. Namun, trader tidak berusaha memprediksi harga.

Jika saham sudah hampir menembus titik resistance, maka mereka akan menjual sahamnya di harga yang lebih tinggi.

Kelebihannya ialah aktivitas ini relatif lebih santai ketimbang trader harian. Biasaya dilakukan oleh trader yang menjadikan trading sebagai aktivitas sampingan. Namun kekurangannya, position trader biasanya kesulitan untuk melakukan aktivitasnya di pasar modal saat volatilitasnya sedang tinggi.

3. Swing Trader

Jika saat market bergejolak position trader mundur teratur, tidak demikian dengan swing trader yang justru ramai-ramai panen cuan.

Swing trader biasanya menahan kepemilikan aset dalam jangka yang lebih pendek ketimbang position trader. Konsep gaya trading ini adalah membeli saat harga aset mulai break out dan menjualnya saat trennya diperkirakan sudah klimaks.

Karenanya, swing trader biasanya melakukan aktivitasnya berdasarkan algoritma yang mencerminkan pergerakan saham. Algoritma ini hanya memberitahu kapan waktu terbaik untuk menjual atau membeli namun tidak spesifik menentukan harga jual tertinggi dan terendah.

Tentunya, algoritma para swing trader lebih akurat dengan data yang banyak. Swing trader akan kesulitan menganalisis bila market kurang lincah bergerak.

4. Scalping Trader

Jika kamu adalah trader berpengalaman dengan modal besar, scalping bisa menjadi opsi supaya kamu bisa cuan dalam waktu singkat. Waktu yang dibutuhkan scalper dalam membeli hingga menjual lagi sahamnya sangat singkat, yakni beberapa menit hingga jam saja.

Scalper hanya melihat pergerakan saham ataupun komoditas tertentu dalam jendela waktu pendek. Karenanya, kecakapan analisis sangat menentukan sukses atau tidaknya seorang scalper.

Mereka biasanya menggunakan analisis teknikal sebagai senjata utama dengan mengabaikan analisis fundamental. Berbagai grafik seperti moving average, stochastic dan bollinger bands digunakan oleh scalper dalam chart permenit atau perjam.

Keuntungannya, karena aset tidak dipegang terlalu lama, maka scalper pun tidak harus mendera kerugian amat sangat ketika harus cut loss. Jika dilakukan dengan benar dan analisis yang tepat, metode ini sangat menguntungkan.

Namun, scalper yang sukses harus punya stamina yang baik untuk bisa memantau pergerakan saham tiap waktu agar dapat membeli dan menjual pada timing terbaik. Karenanya, biasanya scalper tidak melakukan trading tiap hari, melainkan saat ada momentum tertentu saja.

Baca juga: Apa Itu Scalping Trading?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia



Sumber : pluang.com

2. Mengenal Line Chart dan Candlestick Chart

Analisis teknikal adalah representasi visual dalam bentuk grafik atas harga sebuah aset dan volume perdagangannya antar waktu. Sehingga, sama seperti grafik pada umumnya, seluruh faktor tersebut diwakili di dalam dua sumbu grafik analisis teknikal, yakni sumbu vertikal dan horizontal.

Sumbu vertikal mewakili harga aset atau nilai volume perdagangan sementara sumbu horizontal mewakili faktor waktu. Nah, kedua sumbu tersebut selalu menjadi kunci utama dalam menyusun analisis teknikal apapun bentuknya.

Memang, terdapat beragam grafik analisis teknikal yang bisa dibentuk investor atau trader dengan memanfaatkan kedua sumbu tersebut. Namun, investor biasanya menggunakan kedua sumbu di atas untuk membuat turunan dalam bentuk grafik garis (line chart) dan grafik candlestick.

Apakah arti dan tujuan kedua grafik tersebut? Yuk, simak selengkapnya!

2.1 Line Chart

Line chart adalah grafik dalam bentuk garis yang diciptakan dengan menghubungkan harga aset di periode penutupan yang digunakan di dalam grafik tersebut.

Sebagai contoh, grafik harian adalah garis yang menghubungkan harga-harga penutupan aset setiap hari. Sementara itu, grafik per jam merupakan garis yang menyambungkan harga sebuah aset di setiap jam.

Pelaku pasar biasanya menggunakan line chart untuk memvisualisasikan pergerakan harga aset. Melalui grafik ini, mereka bisa membaca reli dan tren harga sebuah aset dan reaksi pelaku pasar terhadap tren tersebut.

Sobat Cuan bisa menengok contoh line chart di grafik nilai harian indeks S&P 500 antara 2017 hingga 2021 berikut.

Dari grafik tersebut, Sobat Cuan bisa mengetahui kapan tren harga sebuah aset terus meningkat (bull market), menurun (bear market), atau mengalami reli. Grafik ini membantu kamu memahami kondisi pasar yang terjadi saat ini sehingga kamu bisa membuat keputusan investasi yang tepat.

2.2 Candlestick Chart

Candlestick chart adalah grafik yang menunjukkan harga aset tertinggi dan terendah serta harga pembukaan dan penutupan sekaligus di dalam satu rentang periode tertentu. Makanya, bentuknya pun jauh berbeda dengan line chart.

Candlestick chart sendiri melintang vertikal yang terdiri dari dua bagian utama, yakni badan dan “batang” yang menjulang di atas dan bawah. Bagian badan menggambarkan posisi harga aset saat pembukaan dan penutupan, sementara bagian batang menggambarkan titik harga terendah dan tertinggi sepanjang sesi perdagangan.

Agar mempermudah investor melihat arah pergerakan harga, grafik candlestick umumnya memiliki dua warna, yakni hijau dan merah. Grafik candlestick hijau melambangkan bahwa harga aset tengah naik dalam periode tersebut, sementara warna merah melambangkan penurunan harga.

Nah, untuk lebih mudah memahami candlestick, Sobat Cuan bisa menyimak gambar berikut!

[Grafik candlestick saat tren harga naik]

[Grafik candlestick saat tren harga turun]

Seperti apa penjelasan grafik di atas? Simak penjelasannya berikut!

  1. Harga pembukaan (open). Titik ini berada di posisi bawah badan candlestick jika harga aset terpantau terus meningkat. Sebaliknya, titik ini akan berada di posisi atas badan candlestick jika tren harga aset terus melandai.
  2. Harga tertinggi (high). Titik ini terletak di puncak paling atas batang candlestick.
  3. Harga terendah (low). Titik ini terletak di ujung paling bawah batang candlestick.
  4. Harga penutupan (close). Ini merupakan kebalikan dari harga pembukaan. Titik ini akan berada di posisi atas badan candlestick jika harga aset meningkat dan berlaku sebaliknya.

Agar kamu lebih memahami soal grafik candlestick, yuk perhatikan contoh grafik candlestick nilai indeks Nasdaq 100 antara Januari hingga Juli 2021 berikut.

Grafik di atas memperlihatkan warna merah dan hijau secara selang-seling, yang merupakan representasi dari fluktuasi nilai indeks tersebut. Namun, ada kalanya grafik berwarna hijau terus menerus dan ada masanya grafik tersebut berwarna merah secara berurutan. Nah, warna-warna yang muncul secara berentetan tersebut menunjukkan arah pergerakan nilai indeks Nasdaq 100.

Sebagai contoh, sebagian besar badan grafik candlestick berwarna hijau antara Mei hingga Juli, yang mengindikasikan bahwa tren nilai indeks Nasdaq 100 sedang menanjak. Kemudian, beberapa elemen tambahan di badan candlestick tersebut memberikan info tambahan terkait tingkat volatilitas nilai tersebut.

Badan candlestick yang panjang, misalnya, menunjukkan perubahan harga yang ekstrem dari awal hingga akhir sesi perdagangan. Sementara itu, batang candlestick yang panjang menunjukkan seberapa parah harga berfluktuasi dalam rentang waktu tersebut.

Tak hanya itu, pelaku pasar juga bisa meramal arah pasar hanya dengan melihat pola candlestick. Seperti yang terlihat pada grafik di atas, terdapat satu candlestick yang terlihat seperti palu lantaran memiliki badan yang pendek namun dengan batang yang panjang.

Nah, pola tersebut disebut dengan “hammer candlestick”, yakni sebuah pola yang sering dianggap pelaku pasar sebagai pertanda bahwa tren nilai akan berbalik dari menurun menjadi meningkat. Jika terdapat pola seperti itu, maka ada baiknya Sobat Cuan segera masuk ke pasar untuk mendulang cuan.

2.3 Line Charts vs Grafik Candlestick 

Kini, kamu sudah memahami line charts dan grafik candlestick. Hanya saja, grafik manakah yang perlu kamu pilih?

Kamu bisa menggunakan line chart untuk membaca kesimpulan singkat mengenai pergerakan harga. Hanya saja, line chart tidak bisa membaca data-data selain data titik harga penutupan.

Sementara itu, grafik candlestick dapat memberikanmu data terkait perjalanan harga sebuah aset di setiap periodenya.

Namun, apapun jenis grafiknya, seluruh grafik trading memiliki rentang waktunya sendiri baik dalam hitungan menit, jam, harian, bulanan, atau tahunan. Sehingga, baik menggunakan line chart atau candlestick, kamu tetap bisa melihat perjalanan harga sebuah aset.



Sumber : pluang.com

Tips Sukses Day Trading Bagi Pemula

Alih profesi jadi day trader memang menggiurkan, terutama saat volatilitas pasar sedang tinggi seperti saat ini. Day trading sendiri memang salah satu jenis trading yang populer, yang selengkapnya bisa kamu baca di artikel berikut.

Tapi, tentu saja risiko yang dihadapi day trader pun setara dengan potensi cuannya. Sehingga, menjadi day trader pun harus disertai dengan kesiapan yang mumpuni, salah satunya adalah mencari tahu tentang tips trading yang oke.

Jika Sobat Cuan ingin ikut menjajal peruntungan di kancah per-trading-an, jangan sampai bertarung tanpa perbekalan, ya. Apa saja sih yang harus kamu siapkan? Simak sampai habis artikel ini, yuk!

Baca juga: Kenali dan Pelajari 4 Gaya Trading Investor di Sini!

Tips Persiapan Day Trading Bagi Pemula

1. Update Terus Pengetahuan Kamu

Saat melakukan day trading, kamu harus paham betul situasi terkini. Misalnya, pergerakan saham, komoditas, dan segala instrumen investasi yang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor makroekonomi.

Sobat Cuan harus paham berapa angka inflasi terbaru, suku bunga acuan, penyerapan tenaga kerja, hingga regulasi yang mempengaruhi kondisi pasar. Sering kali, pasar juga dipengaruhi oleh dinamika internasional seperti pengumuman Fed Rate, panasnya hubungan dua negara, harga minyak dunia dan sebagainya.

Sobat Cuan wajib hukumnya bisa membaca faktor-faktor yang menggeser pergerakan harga aset jika ingin menjajal peruntungan day trader. Yuk, mulai rajin bebacaan!

2. Tentukan Besar Risiko yang Mau Kamu Ambil

Sobat Cuan tentu tahu bahwa potensi keuntungan sejalan dengan besarnya resiko. Jadi, sebelum membayangkan akan kebanjiran cuan, pastikan kamu sudah siap pula dengan risikonya.

Trader harian harus disiplin pada batas cut loss. Beberapa situs investasi menyarankan agar day trader menyiapkan toleransi kerugian 1-2% saja per transaksi.

Jika dana yang disiapkan lebih kecil, ada baiknya untuk mengurangi toleransi kerugian. Gunanya, agar modal kamu tidak terkikis oleh cut loss.

Tapi tenang saja, belum tentu kamu rugi. Bisa jadi, day trading malah bikin kamu untung besar!

Baca juga: Mending Hold atau Trading Aset Kripto?

3. Siap Berkorban Waktu

Day trading sangat menguras waktu. Sebab, kamu harus terus mengecek pergerakan pasar dari waktu ke waktu. Jangan sampai momentum cuan kamu terlewat, dong!

Kamu mungkin akan kesulitan streaming drama korea saat pasar sedang berlangsung. Kadang, kamu pun harus rela mengundur jadwal makan siang dengan gebetan hingga akhir pekan. Tapi ingat, Sobat Cuan, tidak ada keuntungan tanpa pengorbanan!

4. Day Trader tidak Boleh Gegabah

Ini dia salah satu tips trading yang paling oke. Yakni, kamu harus bersabar dan tidak boleh grasak-grusuk!

Sebagai investor pemula, kamu disarankan untuk mengeluarkan amunisi yang kamu punya sedikit demi sedikit hingga skill kamu meningkat. Kamu pun tidak disarankan melakukan lumpsum pada saat day trading.

Selain itu, kamu juga harus fokus pada aset yang terbatas. Sangat disarankan untuk memantau hanya satu atau dua aset saja. Gunanya, agar kamu terbiasa dulu membaca dinamika pasar dari aset yang kamu pilih, dengan begitu kamu akan lebih cepat belajar.

5. Hindari Saham Gorengan

Nah, tips trading ini berguna jika Sobat Cuan lagi kecanduan banget trading saham.

Pemain pemula tidak disarankan untuk membeli saham gorengan, atau emiten dengan market cap yang kecil. Sebabnya, saham seperti ini sulit terbaca pergerakannya dan sangat beresiko.

Bisa saja saham itu de-listed tiba-tiba, atau tidak bergerak sama sekali dalam waktu yang lama. Jadi, kalau kamu belum riset mendalam, sebaiknya beli saham yang lebih aman saja.

Selain itu, jangan terjebak pompom saham juga, ya! Bahayanya bisa kamu baca di artikel ini.

6. Baca Dinamika Pasar Sebelum Buka Penawaran

Sebagaimana semua hal di dunia, pasar punya pola pergerakan yang bisa dibaca jika sudah cukup mengenalnya.

Maksudnya adalah, jika jeli memperhatikan pasar, maka kamu pasti akan menyadari bahwa di hari tertentu pasar biasanya dibuka merah lalu kembali hijau. Selain itu, di jam tertentu, pasar akan lebih fluktuatif. Lain waktu, beberapa industri cenderung break out sehingga kamu bisa memanfaatkannya untuk mengambil keuntungan.

Untuk itu, pastikan kamu memperhatikan pola ini sebelum membuka penawaran. Tentunya, kamu pun harus memperhatikan data historis dari emiten yang akan kamu beli. Supaya harga penawaran kamu tepat, tidak terlalu murah, dan tidak terlalu mahal.

7. Tips Trading Paling Wajib: Pasang Angka Cut Loss dengan Limit Order

Tim hajar kanan (haka) tidak berlaku saat akan cut loss. Jangan lupa membuat setting limit order untuk menjual di harga tertentu.

Manfaatnya, jika harga jatuh terlalu dalam, sahammu tetap terjual di batas toleransi risiko yang kamu tetapkan di awal. Kalau kamu tidak melakukan hal ini, bisa-bisa malah kamu merasa kapok tidak mau trading lagi ketika harga anjlok tidak karuan.

Ingat, trader pemula tidak boleh gegabah!

8. Realistis Terhadap Cuan

Meskipun market sedang bullish, terkadang momentum taking profit bisa terlewat karena salah perhitungan atau terlalu tamak. Ketamakan memang seringkali merugikan, begitupun saat akan trading.

Karena itu, kamu tak boleh halu ketika melakukan trading. Atur ekspektasi cuanmu di angka yang realistis saja. Supaya kamu tidak telat taking profit karena mengharap terlalu tinggi.

Ingat, besok masih bisa cuan lagi lho!

9. Tetap Tenang

Meskipun kamu tidak cuan tiap hari, tapi kamu tidak sendiri. Faktanya, trader terandal sejagat sekalipun biasanya hanya memenangkan 50-60% trading-nya. Namun, mereka tetap bisa cuan lebih banyak dibanding cut loss.

Kadang kala, pasar memang menguji mental dan kesabaran kamu. Asal bisa tetap tenang dan logis, kamu pasti bisa mengembalikan kehilangan kamu dengan kemenangan lain yang lebih besar.

Jangan patah semangat dan terus belajar ya!

10. Buat Rencana, Jangan Gegabah

Trading adalah tempat adu strategi dan rencana. Jangan mudah terprovokasi pasar, apalagi influencer.

Buat rencanamu dengan matang, perbaharui data-data dan informasi yang kamu punya. Jangan lupa juga untuk selalu mengembangkan pengetahuanmu. Kamu harus tanggap menyikapi pasar, tapi pastikan keputusanmu diambil dengan tepat.

Baca juga: Yuk, Simak Panduan Analisis Teknikal dalam Berinvestasi bagi Pemula!

Kesulitan Trading Harian

Meski sudah mengamalkan tips trading di atas, ada kalanya kamu mengalami benturan dalam bentuk pasang-surut cuan. Nah, di sinilah kadang kesabaranmu mulai diuji.

Persoalan mendasar dari trader harian pemula adalah bias emosional dan psikologis. Saat pasar sedang bullish, ekspektasimu tidak terbendung. Sementara saat pasar digaruk beruang, kamu ikut terjun bebas.

Nah, kamu perlu memahami bahwa day trading memang bukan selera semua orang. Apalagi, aktivitas ini biasanya memang dilakukan oleh trader yang sudah kawakan. Mereka membangun karir bertahun-tahun di dunia investasi dengan bekal pengetahuan dan pengalaman yang banyak.

Maka dari itu, dengan perbekalan yang cukup dan mental yang siap ditempa kamu pasti bisa menaklukkan pasar.

Baca juga: Mending Pilih Trading atau Investasi?

Setelah Tips, Yuk Mulai Jalankan Strategi Day Trading!

Setidaknya ada empat strategi yang umum dipakai oleh trader harian untuk menentukan kapan harus menjual atau membeli.

1. Scalping

Strategi ini sangat populer, yakni segera menjual saat profit sudah terbentuk tanpa menunggu klimaks. Pesannya adalah, setidaknya kamu sudah untung dalam transaksi ini. Scalping sangat efektif dilakukan jika modalmu besar dan kamu tau betul pergerakan pasar.

2. Fading

Strateginya adalah kamu menjual saat harga naik cepat, dengan begitu kamu akan memperoleh untung dari margin yang cukup. Strategi ini dilakukan dengan memasang harga penawaran di satu titik angka tertentu, di mana para trader sudah siap untuk membeli lagi.

Trader berasumsi saat itu harga sedang overbought. Bandar sedang ambil untung, investor sedang ketakutan, dan barisan fear of missing out (FOMO) sedang berjajar tidak mau ketinggalan.

3. Daily Pivots

Beberapa harga aset cenderung mengalami volatilitas tinggi hingga range hariannya cukup besar. Nah, aset-aset seperti ini cocok kamu trading-kan dengan strategi daily pivots. Yakni, pasang penawaran kamu di harga terendah harian lalu jual di harga tertinggi. Sederhana, bukan?

4. Momentum

Di dalam trading, informasi adalah senjata. Jika kamu tahu informasi berharga, kamu bisa menggunakan strategi ini untuk mendulang cuan.

Timbun dulu aset yang kamu incar saat harganya belum naik. Jika informasi kamu benar, harganya akan bergerak naik lalu kamu bisa menjualnya pada penawaran tertinggi.

Jadi bagaimana, Sobat Cuan? Sudah siap untuk melakukan trading?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

sumber: Investopedia



Sumber : pluang.com

3. Memahami Dasar-dasar Support dan Resistance

3.1 Apa Itu Support dan Resistance?

Support: Support adalah level harga di mana harga suatu aset cenderung berhenti jatuh dan bahkan mungkin melambung kembali ke atas.

Hal ini terjadi karena pada harga yang lebih rendah, pembeli lebih cenderung masuk ke pasar dan meningkatkan permintaan sehingga mencegah harga untuk menurun lebih lanjut.

Resistance: Resistance mencerminkan level harga di mana suatu aset cenderung menghentikan gerakannya ke atas dan berpotensi berbalik arah.

Pada harga aset yang lebih tinggi, penjual lebih cenderung memasuki pasar dan menciptakan kelebihan pasokan yang dapat menghambat kenaikan harga lebih lanjut.

Ilustrasi Support dan Resistance

Penting untuk dicatat bahwa level support dan resistance bukan hanya hasil dari perhitungan matematis semata. Keduanya juga dipengaruhi oleh sisi psikologis manusia dan sentimen pasar.

Misalnya, ketika suatu aset mendekati level support yang telah mapan, trader yang melewatkan kenaikan harga awal mungkin melihatnya sebagai kesempatan beli. Aliran minat beli ini dapat menciptakan hambatan psikologis bagi penurunan harga lebih lanjut.

Sebaliknya, ketika harga aset mendekati level resistance, trader yang sebelumnya melakukan aksi beli mungkin memutuskan untuk menjual asetnya dan mengambil keuntungan. Keinginan kolektif trader untuk menjual aset pada harga tertentu tersebut dapat menciptakan hambatan psikologis terhadap pergerakan ke atas.

Reaksi pedagang terhadap level ini seringkali menjadi ramalan yang benar-benar terjadi. Semakin banyak peserta yang mengamati dan bertindak berdasarkan level support atau resistance, maka semakin besar pula dampak mereka terhadap pergerakan harga. Oleh karenanya, kedua level ini memiliki peran signifikan di mata komunitas trader.

3.2 Bagaimana Cara Mengidentifikasi Support dan Resistance dalam Trading?

Setelah “zona” support dan resistance ditetapkan, level tersebut dapat digunakan trader sebagai titik masuk atau keluar dari pasar.

Ketika harga mencapai area support dan resistance sebelumnya, salah satu dari dua hal akan terjadi.

Biasanya, harga akan memantul dan kembali ke level sebelumnya atau harga akan menembus dua area tersebut dan melanjutkan arah berikutnya. Ketika ini terjadi, level resistance sebelumnya maka akan berubah menjadi area support untuk reli harga baru.

identifikasi support dan resistance

Patut diingat bahwa level support dan resistance tidak diwakili oleh satu titik harga yang pasti, tetapi seringkali merupakan sebuah zona atau rentang. Selain itu, level ini juga tidak bersifat tetap lantaran mereka dapat berkembang seiring berubahnya kondisi pasar antar waktu.

Dalam contoh sebelumnya, level support dan resistance ditampilkan sebagai titik harga konstan, yang diwakili garis horizontal statis. Namun, pada kenyataannya, support dan resistance bisa dinamis dan trader bisa menggunakan garis tren dan Moving Average untuk menunjukkan area support dan resistance.

3.3 Cara Menentukan Support dan Resistance

3.3.1 Support Resistance dan Garis Tren

Ketika pasar mengalami tren kuat atau bergerak ke satu arah tertentu, garis tren bisa menjadi indikator support dan resistance yang lebih baik daripada garis horizontal. Setiap kali harga mendekati garis tren support, harga akan cenderung memantul dari garis tersebut dan melanjutkan apresiasi harga.

Seperti tercermin dari contoh di bawah ini, Indeks S&P 500 menunjukkan sentimen bullish jangka menengah.

Selama kurun satu hari atau seminggu, nilainya cenderung berfluktuasi. Melihat hal ini, pasar mungkin bereaksi berlebihan sehingga penjual pun akan masuk ke pasar dan menurunkan nilai indeks tersebut.

Namun secara keseluruhan, pasar tetap bullish dan harga terus memantul dari garis tren support.

Support dan Resistance dan Garis Tren

3.3.2 Support Resistance dan Moving Average

Level support resistance dapat bersifat dinamis, yaitu mereka tidak perlu ditetapkan pada level harga yang konstan.

Sama seperti garis tren ang dapat berfungsi sebagai area support, Moving Average juga dapat berfungsi sebagai area support dan resistance. Hal ini mengingat Moving Average adalah garis yang terus berubah yang berfungsi untuk “menghaluskan” data harga di masa lalu.

Support dan Resistance dan Moving Average
Sumber: Investopedia

Grafik di atas memperlihatkan bahwa Moving Average berfungsi sebagai area support selama tren harga naik, namun berfungsi sebagai area resistance saat tren harga menurun. Para trader biasanya bereksperimen dengan kerangka waktu Moving Average hingga mereka menemukan satu kerangka waktu yang cocok.

3.3.3 Support Resistance serta Pivot Points

Salah satu cara untuk menentukan support resistance adalah melalui penggunaan Pivot Points. Adapun sebuah Pivot Point menunjukkan rata-rata harga kemarin, yang didefinisikan sebagai rata-rata dari harga intrahari terendah dan tertinggi di hari sebelumny serta harga penutupannya.

Berdasarkan Pivot Point ini, trader biasanya akan menciptakan tiga set garis support dan resistance . Kemudian, ia akan membandingkan harga hari ini dengan garis support dan resistance yang didasarkan pada harga “rata-rata” di hari sebelumnya.

Support dan Resistance dan Pivot Point

Tingkat-tingkat Pivot Point ini dapat digunakan trader sebagai dasar untuk menentukan kapan harus masuk atau keluar dari pasar.

Sebagai contoh, seorang trader mungkin memilih untuk menginstruksikan aksi jual tepat di bawah R1, R2, R3. Jika indikator lain menunjukkan bahwa price action sangat bullish, maka ia mungkin memilih untuk menempatkan lebih banyak order jual di tingkat R3 yang lebih tinggi agar bisa mendapatkan keuntungan lebih.

Sebaliknya, trader yang berpikir bahwa harga mungkin memantul dari tingkat support mungkin memilih untuk menempatkan order beli tepat sebelum tingkat Support S1, S2, S3. Sebagai alternatif, seorang trader yang ingin membatasi risiko depresiasi harga mungkin menempatkan stop-loss tepat setelah S1, S2, S3.

Kamu bisa memanfaatkan Pivot Points dan garis support serta resistance di Aplikasi Pluang.

Untuk menemukannya, kamu hanya perlu mengunjungi salah satu halaman aset manapun di aplikasi Pluang lalu klik tab “Technicals”. Gulirkan layar ke bawah untuk menemukan level support dan resistance serta Pivot Point.

3.3.4 Support dan Resistance serta Fibonacci Retracement

Cara lain untuk menentukan support adalah melalui Fibonacci Retracement dan ekstensinya.

Tingkat Fibonacci dibuat dengan mengambil dua titik signifikan pada grafik, yang biasanya merupakan titik harga tertinggi atau terendah absolut. Sebuah seri tingkat harga kemudian dibuat di antara kedua titik ini yang dapat berfungsi sebagai garis support dan resistance.

Secara lebih detail, garis tersebut akan digambar pada 23,6%, 38,2%, 61,8%, dan 78,6% dari jarak antara titik tertinggi dan terendah harga aset. Trader juga bisa memperhatikan garis 50%, meskipun secara teknis ini bukan didasarkan pada seri angka Fibonacci.

Menentukan Support dan Resistance dari Fibonacci Retracement

3.4 Strategi Trading apa yang Bisa Digunakan Setelah Menentukan Support dan Resistance

3.4.1 Range Trading

Range Trading adalah strategi yang berkembang di pasar dengan rentang harga yang jelas dan sudah diketahui.

Trader yang menerapkan pendekatan ini mengidentifikasi tingkat support dan resistance tertentu yang terdapat fluktuasi harga aset di dalamnya. Hal ini bertujuan agar trader dapat membeli aset dekat tingkat support dan menjualnya ketika harga aset mendekati tingkat resistance.

Seiring harga aset berayun terus menerus dalam rentang support resistance yang dimaksud, maka trader dapat memanfaatkannya untuk mendulang untung dari kondisi tersebut.

Sebagai contoh, anggap saja sebuah harga saham memiliki tingkat support di US$50 dan tingkat resistance di US$60. Trader yang melakukan Range Trading akan membeli saham ketika mendekati US$50 dan menjualnya ketika mendekati US$60.

Dengan berulang kali masuk dan keluar posisi dalam rentang ini, trader dapat mendapatkan keuntungan dari perilaku harga

Range Trading

3.4.2 Breakout Trading

Breakout Trading adalah strategi trading yang berkutat pada identifikasi momentum kritis ketika harga aset menembus level support atau resistance yang sudah matang.

Ketika Breakout terjadi, hal itu menandakan terjadinya perubahan pada sentimen pasar dan dapat mengarah pada keberlanjutan arah harga aset sesuai dengan arah Breakout-nya. Trader yang menggunakan strategi ini bertujuan untuk memanfaatkan momentum yang dihasilkan oleh Breakout.

Sebagai contoh, bayangkan sebuah skenario di mana pasangan mata uang di pasar valuta asing (currency pair) secara konsisten menghadapi resistance di US$1,20.

Setelah harga melebihi level ini, trader yang menggunakan strategi Breakout Trading akan memanfaatkan kesempatan ini untuk memasuki posisi beli dengan harapan bahwa harga aset akan bergerak lebih lanjut ke atas. Dengan mengikuti momentum Breakout, trader dapat berpotensi memperoleh cuan yang signifikan.

Breakout Trading

3.4.3 Trendline Trading

Trendline Trading adalah strategi trading dengan menggambar garis tren di grafik harga untuk mengidentifikasi pola support dan resistance.

Garis tren digambar dengan menghubungkan titik tertinggi atau terendah harga yang berurutan, sehingga memberikan gambaran mengenai lintasan tren yang sedang berlangsung. Trader yang menggunakan strategi ini akan memasuki pasar ketika harga bertautan dengan garis tren, yang sekaligus mengonfirmasi bahwa tren tersebut akan terus berlanjut.

Trendline Trading

Sebagai contoh, anggap saja bahwa harga sebuah saham mengalami tren naik dengan pergerakan harga yang sering memantul dari garis tren yang terus meningkat.

Melihat kondisi ini, trader yang menggunakan strategi Trendline Trading akan memantau saat harga menyentuh atau memantul dari garis tren. Titik-titik ini berfungsi sebagai sinyal masuk yang potensial dan memungkinkan trader untuk menyelaraskan posisi mereka dengan tren yang sedang berlangsung.

3.5 Tips Praktis Trading dengan Support dan Resistance

3.5.1 Menggunakan Angka Bulat Sesuai dengan Psikologi Trading

Angka bulat, seperti tingkat harga yang berakhir dengan kelipatan 10 atau 100, seringkali berfungsi sebagai support dan resistance utama.

Ada banyak alasan praktis terkait hal tersebut. Salah satunya, banyak trader secara sengaja membulatkan angka ke angka bulat terdekat karena lebih mudah diingat.

Selain itu, banyak institusi melakukan trading di angka bulat seperti US$50,00, bukan di angka seperti misalnya US$50,05. Karena begitu banyak trading yang ditempatkan pada level ini, maka support dan resistance mungkin sangat terjadi pada angka-angka ini.

Untuk memastikan bahwa kamu tidak bersaing dengan orang lain pada level harga pada angka bulat, maka kamu harus melakukan trading sedikit di atas atau di bawah angka tersebut. Misalnya, jika kamu ingin menempatkan order beli saham di US$50,03 maka kamu bisa membelinya di harga US$50,00.

3.5.2 Perhatikan Kekuatan Support atau Resistance

Trader harus mengukur kekuatan level support dan resistance untuk menentukan apakah harga akan memantul dari dua garis tersebut atau justru menembusnya. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti berikut:

  1. Jumlah “Ujian” Harga: Semakin sering sebuah level harga diuji dan bertahan di satu level tertentu, maka semakin kuat pula level harga tersebut dijadikan sebagai level support atau resistance.

  2. Kekuatan Pergerakan Harga Sebelumnya: Pergerakan yang tajam sebelum harga mencapai level support atau resistance menandakan tekanan beli atau jual yang lebih kuat. Hal ini menekankan pentingnya level tersebut sebagai support atau resistance.

  3. Volume: Volume trading yang lebih tinggi di dekat level support atau resistance menunjukkan ketertarikan pasar yang meningkat. Hal itu pun memperkuat signifikansi kedua level tersebut sebagai support atau resistance.

  4. Jangka Waktu: Level support dan resistance yang bertahan selama jangka waktu yang lebih lama, seperti grafik mingguan atau bulanan, cenderung memiliki pengaruh dan relevansi yang lebih besar.

3.6 Tanya Jawab Seputar Support dan Resistance

3.6.1 Apa yang Dimaksud dengan Support dan Resistance?

Support adalah level harga di mana harga suatu aset cenderung berhenti jatuh dan bahkan mungkin melambung kembali ke atas.

Sementara Resistance mencerminkan level harga di mana suatu aset cenderung menghentikan gerakannya ke atas dan berpotensi berbalik arah.

3.6.2 Apa yang Terjadi Ketika Support dan Resistance Tertembus?

Ketika level support atau resistance tertembus, hal ini menandakan perubahan signifikan dalam sentimen pasar.

Penembusan di atas resistance menunjukkan potensi momentum naik, sementara penembusan harga ke bawah support dapat mengindikasikan potensi tren menurun. Trader sering melihat peristiwa tersebut sebagai peluang untuk masuk atau keluar pasar, tergantung pada arah Breakout dan konfirmasi berdasarkan indikator lainnya.

3.6.3 Bagaimana Menentukan Support dan Resistance yang Kuat?

Kekuatan level support atau resistance dievaluasi berdasarkan sejumlah faktor, yakni jumlah “sentuhan” harga aset terhadap satu tingkat harga tertentu, kekuatan pergerakan harga sebelumnya, volume trading, dan jangka waktu.

3.6.4 Seperti Apa Strategi Trading dengan Support dan Resistance?

Trading berdasarkan support dan resistance melibatkan identifikasi level-level harga penting pada grafik harga. Berikut adalah strategi mudahnya:

  1. Identifikasi Level: Tentukan level support dan resistance yang telah terbentuk menggunakan data harga historis.

  2. Konfirmasi Tren: Analisis tren pasar keseluruhan untuk menyelaraskan strategi trading dengan tren harga yang terjadi saat ini.

  3. Entry dan Exit: Pertimbangkan membeli di dekat support dalam tren naik dan menjual di dekat resistance saat tren turun. Pasang order stop-loss tepat di luar level ini untuk manajemen risiko.

  4. Indikator Konfirmasi: Gunakan indikator teknikal seperti Moving Average, garis tren, dan pola candlestick untuk memvalidasi strategi trading yang potensial.

3.6.5 Apa Faktor Psikologis di Balik Support dan Resistance?

Level support dan resistance adalah buah dari psikologis pelaku pasar.

Support mencerminkan level harga di mana trader akan masuk ke pasar, sehingga harga aset pun kemungkinan tidak akan terjatuh lebih dalam lagi. Saat harga aset mendekati level support, trader akan membeli aset karena mungkin telah melewatkan kesempatan beli di masa lalu.

Sebaliknya, resistance adalah tingkat harga di mana trader kemungkinan akan menjual asetnya, sehingga mencegah harga aset untuk meningkat lebih lanjut.

Pada skenario ini, trader akan segera menjual asetnya ketika harga aset mendekati level resistance karena mereka melewatkan kesempatan jual di masa lampau.

Perilaku kolektif pelaku pasar tersebut mempengaruhi dinamika pergerakan harga, sehingga support dan resistance adalah hal yang esensial bagi analisis pasar.

3.6.6 Bagaimana Cara Trading Menggunakan Support dan Resistance di Pluang?

Kamu dapat memanfaatkan Pivot Point dan level support dan resistance di aplikasi Pluang dengan mengunjungi halaman aset mana pun dan klik tab “Technicals”.

Di bagian “Support dan Resistance”, kamu akan menemukan Pivot Points dan level support dan resistance terkait.

Fitur Support dan Resistance dan Pivot Point di Pluang
Contoh Fitur Support dan Resistance dan Pivot Point di Pluang

Cara lain untuk mengakses fitur support dan resistance di Pluang adalah dengan mengklik fitur grafik teknikal.

Kamu tinggal mengunjungi ke halaman aset manapun dan klik ikon grafik teknikal (yang diwakili oleh satu garis merah dan garis hijau) yang terletak di sisi paling kanan dari keterangan waktu pada grafik harga.

Setelah itu, kamu akan mendarat di laman TradingView dan bisa melihat seluruh indikator teknikalnya. Hal ini akan memungkinkanmu untuk menggambar garis support, menggambar Moving Average, dan menunjukkan Fibonacci Retracement.

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang untuk investasi Saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!



Sumber : pluang.com

Yuk, Kenalan Dengan 2 Jenis Indikator Ekonomi yang Pengaruhi Investasi

Yang namanya berinvestasi, tentu Sobat Cuan paham bahwa indikator makroekonomi memiliki peranan yang penting dalam investasi. Sebab, naik turunnya jenis-jenis indikator ekonomi akan sangat berdampak pada pergerakan harga aset, yang nantinya juga akan mempengaruhi raihan cuan investasimu.

Nah, dalam berinvestasi, ada dua jenis indikator makroekonomi yang perlu Sobat Cuan perhatikan. Yakni, inflasi dan data ketenagakerjaan. Mengapa demikian?

Untuk tahu jawabannya, yuk simak artikel ini sampai habis, ya!

Baca juga: Apa itu Inflasi?

Mengenal Dua Jenis Indikator Ekonomi yang Mempengaruhi Investasi

1. Inflasi

Sobat Cuan perlu paham bahwa inflasi adalah kenaikan harga barang-barang secara umum dalam satu periode tertentu. Inflasi punya dua sisi, ada yang bersifat baik namun juga buruk bagi perekonomian.

Jika inflasi barang-barang bergejolak naik, maka artinya harga barang-barang memang tengah menanjak. Hal itu bisa mengancam daya beli masyarakat nantinya.

Namun, jika yang meningkat adalah inflasi inti, sebuah negara boleh bersorak karenanya. Sebab, ini adalah indikasi bahwa kenaikan harga barang dan jasa disebabkan oleh kenaikan permintaan barang dan jasa di sebuah wilayah. Dengan kata lain, perbaikan daya beli tengah terjadi di masyarakat

Namun, bagaimana investor melihat inflasi? Apakah mereka fokus ke sisi baik atau buruk dari jenis indikator satu ini?

Ternyata, investor cenderung menjadikan inflasi sebagai momok yang harus dikalahkan. Sebab, jika kenaikan harga barang dan jasa lebih tinggi dari imbal hasil investasi mereka, maka cuan yang mereka dapatkan pun akan sia-sia.

Sikap Investor Terhadap Inflasi

Makanya, ketika inflasi meradang, investor hanya punya dua pilihan: Mencari aset untuk melindungi nilai kekayaannya dari gerusan inflasi atau mencari aset yang pertumbuhan return-nya lebih tinggi dari inflasi.

Untuk pilihan pertama, investor biasanya memilih aset pelindung nilai (safe haven) seperti emas. Ini lantaran sifat emas yang mengandung logam mulia. Ia tidak bisa berkarat, sehingga kadar kemuliaan emas akan bertahan bahkan 100 hingga 500 tahun lagi.

Dengan kata lain, kamu “mengabadikan” nilai uangmu saat ini secara jangka panjang dengan berinvestasi emas.

Sementara untuk pilihan kedua, investor biasanya memfokuskan diri dalam mengais-ngais instrumen ekuitas yang punya imbal hasil lebih besar dari inflasi.

Di dalam pasar saham, investor biasanya memantau ketat dan memilah saham berkategori growth stocks dan value stocks. Sebab, kinerja saham-saham ini mungkin bisa memberi investor petunjuk cara mendulang cuan berikutnya.

Penasaran apa itu growth stocks dan value stocks? Yuk, cek di artikel ini.

Baca juga: Tahun 2020, Tenaga Kerja dan Gaji Karyawan Startup Diprediksi Melonjak

Inflasi Semakin Kompleks Ketika Bank Sentral Turun Tangan

Jika inflasi sedang tinggi, hingga menimbulkan kecemasan investor akan susutnya nilai harta mereka, otoritas moneter pun tidak akan tinggal diam. Bank sentral seperti BI di Indonesia atau Federal Reserve di Amerika Serikat akan berupaya menekan jumlah uang beredar.

Caranya dengan menaikkan suku bunga acuan yang membuat imbal hasil perbankan dan surat utang jadi menarik. Dengan begitu, investor cenderung akan beralih investasi ke produk perbankan atau membeli surat utang.

Sebaliknya, jika inflasi terlalu rendah bersamaan dengan kurang bergairahnya perekonomian, bunga acuan akan dipangkas. Tujuannya, agar masyarakat tidak menahan konsumsi dan membuat uang beredar semakin langka.

Sayangnya, pemangkasan suku bunga acuan tentu berlaku juga untuk surat utang, deposito dan instrumen investasi lainnya. Akibatnya, kinerja portofolio investasimu pun akan ikut melambat sejalan dengan inflasi dan laju perekonomian.

2. Data Tenaga Kerja

Penyerapan tenaga kerja selalu menjadi perhatian utama pemerintah di seluruh dunia sebab sangat erat kaitannya dengan perekonomian nasional. Sebaliknya, perekonomian yang bergairah akan menciptakan lapangan kerja yang dpaat menyerap pengangguran.

Apa yang membuat penyerapan tenaga kerja sangat penting bagi Sobat Cuan? Jawabannya adalah data ini mencerminkan kinerja perekonomian suatu negara. Data ini juga memberitahu kamu industri mana yang sedang bergairah. Dengan begitu, kamu jadi bisa menentukan di aset mana kamu akan berinvestasi.

Sebagai contoh, Badan Pusat Statistik mencatat hinga Februari 2021 terdapat 205,36 juta angkatan kerja di Indonesia.

Dari jumlah itu 19,10 juta diantaranya terdampak pandemi COVID-19, baik karena menurunnya pemasukan, kehilangan pekerjaan maupun PHK sepihak. Jumlah ini sudah menurun ketimbang Agustus 2020 yang menccapi 29,12 juta jiwa.

Meski situasi ketenagakerjaan tanah air gonjang-ganjing, nyatanya masih terdapat beberapa sektor yang masih menyerap tenaga kerja. Misalnya, sektor pertanian, sektor perdagangan, industri pengolahan, dan akomodasi. Sehingga, Sobat Cuan mungkin bisa melirik untuk berinvestasi di saham tiga sektor tersebut saat pandemi kemarin.

Selain pengangguran, data Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga penting untuk disimak. BPS menyebutkan hingga Februari 2021, TPAK  mencapai 68,8%. Dari jumlah itu 59,62% bekerja di sektor informal.

Sebanyak 84,14 juta masyarakat Indonesia bekerja penuh waktu 35 jam perminggu. Sisanya, yakni 46, 92 juta pekerja menjadi pekerja paruh waktu. Namun, rata-rata upah buruh di Indonesia masih terbilang rendah, yakni Rp 2.76 juta.

Baca juga: Dolar AS Melemah, Apa Dampaknya Terhadap Perekonomian Asia?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: BPS, Tickertape



Sumber : pluang.com

Sobat Cuan, Ini Beragam Alasan di Balik Fluktuasi Harga Bitcoin!

Sobat Cuan pasti setuju bahwa tantangan umum soal Bitcoin adalah “terlalu fluktuatif.” Tidak dapat disangkal bahwa Bitcoin adalah aset yang labil. Sepak terjang fluktuasi harga Bitcoin bisa dilihat dari berbagai waktu, mulai dari menit, jam, harian, mingguan, hingga tahunan.

Contoh nyatanya adalah pada tahun ini, dimana harga Bitcoin meroket hingga menyentuh rekor US$63.000 pada pertengahan April. Sayangnya, sang raja aset kripto ini kemudian melorot hingga US$34.000 di akhir Mei lalu.

Namun, volatilitas tidak selalu merupakan hal yang buruk. Sebab faktanya, volatilitas kadang menciptakan peluang untuk meraih cuan lebih tinggi lagi

Selama jangka waktu yang lama (4+ tahun), fluktuasi harga Bitcoin sebagian besar mengarah ke pertumbuhan positif. Menggunakan horizon waktu yang lebih lama ini membantu menghilangkan distraksi dan hanya fokus pada sinyal harga.

Sumber: Woobull

Volatilitas dan imbal hasil dapat dinilai dengan menggunakan rasio Sharpe yang mengukur imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko. Rasio Sharpe adalah hasil pembagian pengembalian aset dengan risiko/volatilitasnya selama periode HODL 4 tahun.

Rasio Sharpe Bitcoin memang selalu lebih tinggi daripada kelas aset lainnya. Ini adalah salah satu metrik keuangan favorit para investor Wall Street dalam merekomendasikan Bitcoin ke klien-klien mereka. Lihat saja, imbal hasilnya menarik, bukan?

Namun kembali lagi ke pertanyaan yang mengusik semua investor pemula, tapi mengapa Bitcoin sangat fluktuatif? Berikut adalah beberapa dari banyak faktor di balik volatilitas Bitcoin.

1. Berita Buruk Berimbas Negatif ke Tingkat Adopsi

Peristiwa berita yang menakut-nakuti pengguna Bitcoin antara lain peristiwa geopolitik dan pernyataan oleh pemerintah bahwa Bitcoin kemungkinan akan diatur. Pengadopsi awal Bitcoin termasuk beberapa oknum tak bertanggung jawab, menghasilkan berita utama yang menghasilkan ketakutan pada investor.

Baca juga: Sobat Cuan, Ini Lho Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Cryptocurrency!

Berita negatif Bitcoin selama satu dekade ini contohnya termasuk kebangkrutan Mt. Gox pada awal 2014 dan bursa Korea Selatan Yapian Youbit yang ditutup.

Berita lain yang mengejutkan investor adalah penggunaan Bitcoin dalam transaksi narkoba melalui Jalur Sutera yang berakhir dengan penutupan transaksi oleh FBI pada Oktober 2013. Bahkan, salah satu kabar terbaru yang bikin Bitcoin longsor adalah rencana pengenaan pajak terhadap Bitcoin, seperti terdapat di artikel ini.

Semua insiden ini dan kepanikan publik yang terjadi dapat mendorong nilai Bitcoin anjlok dengan cepat. Namun, investor pendukung Bitcoin melihat peristiwa tersebut sebagai bukti bahwa pasar semakin dewasa, dan nantinya bisa mendorong nilai Bitcoin kembali naik dalam waktu singkat.

2. Persepsi Masyarakat Terhadap Bitcoin

Salah satu alasan mengapa fluktuasi harga Bitcoin terjadi terhadap mata uang fiat adalah persepsi sebagai penyimpan nilai. Bitcoin memiliki sifat yang membuatnya mirip dengan emas. Hal ini diatur oleh keputusan sang pencipta yang membatasi produksi hanya hingga 21 juta Bitcoin.

Karena itu, sifatnya sangat berbeda dari mata uang fiat, yang dikelola secara dinamis oleh pemerintah. Mata uang fiat digunakan untuk mempertahankan inflasi yang rendah, lapangan kerja yang tinggi, dan pertumbuhan melalui investasi dalam sumber daya modal.

Di sisi lain, karena ekonomi yang dibangun dengan mata uang fiat memiliki persepsi kuat atau lemah, investor dapat mengalokasikan aset mereka menjadi Bitcoin.

3. Ketidakpastian Nilai Bitcoin di Masa Depan

Volatilitas Bitcoin juga didorong sebagian besar oleh berbagai persepsi tentang nilai intrinsik cryptocurrency sebagai penyimpan nilai dan metode transfer nilai.

Penyimpan nilai adalah fungsi dimana aset dapat berguna di masa depan dengan beberapa prediktabilitas. Sebuah penyimpan nilai dapat disimpan dan ditukar dengan beberapa barang atau jasa di masa depan.

Baca juga: Mengenal Metode Analisis Fundamental Aset Kripto

Sementara itu, metode transfer nilai adalah setiap objek atau konsep yang digunakan untuk mentransfer properti dalam bentuk aset dari satu pihak ke pihak lain. Fluktuasi harga Bitcoin saat ini membuatnya menjadi penyimpan nilai yang kurang jelas, tetapi menjanjikan transfer nilai yang hampir tanpa intervensi. Akibatnya, nilai Bitcoin dapat berayun berdasarkan peristiwa berita seperti halnya mata uang fiat.

4. Pemegang Akun Jumbo dan Fluktuasi Harga Bitcoin

Fluktuasi harga Bitcoin juga sebagian besar didorong oleh pemegang proporsi besar dari total yang beredar. Untuk investor Bitcoin dengan kepemilikan saat ini di atas sekitar US$10 juta, tidak jelas bagaimana mereka akan melepas posisi sebesar itu tanpa menggerakkan pasar dengan parah.

Makanya, mereka disebut dengan para ikan paus (whales), mirip layaknya ikan paus yang bisa membuat ombak hanya dengan mengibaskan ekornya saja. Cara para whales mengendalikan harga Bitcoin bisa dibaca di artikel berikut.

Dalam hal ini, Bitcoin belum mencapai tingkat adopsi pasar massal yang diperlukan untuk memberikan nilai opsi kepada pemegang jumlah besar. Makanya, gerak-gerik bandar si raja aset kripto ini tentu harus diawasi oleh pencinta aset kripto.

5. Masalah Keamanan Menyebabkan Fluktuasi Harga Bitcoin

Bitcoin juga bisa menjadi tidak stabil ketika komunitas aset kripto mengekspos kerentanan keamanan di Bitcoin. Sehingga, pengembang Bitcoin harus mengungkapkan masalah keamanan kepada publik untuk menghasilkan solusi yang kuat. Dan tentunya, untuk mencegah investor keluar dari pasar Bitcoin.

Baca juga: Alasan Pentingnya Diversifikasi Investasi Aset Kripto di Saat Pasar Loyo

6. Negara dengan Inflasi Tinggi dan Bitcoin

Kasus penggunaan Bitcoin sebagai mata uang untuk negara berkembang, utamanya yang saat ini mengalami inflasi tinggi, sangat berharga ketika mempertimbangkan volatilitas Bitcoin di ekonomi negara tersebut dibandingkan dengan dolar AS. Bitcoin jauh lebih fluktuatif terhadap dolar AS daripada peso Argentina dengan inflasi yang tinggi.

Meskipun demikian, transfer Bitcoin yang hampir tanpa gesekan batas menjadikannya instrumen pinjaman yang berpotensi sangat menarik bagi orang Argentina. Hal itu karena tingkat inflasi yang tinggi untuk pinjaman dalam mata uang peso.

Baca juga: 4 Kesalahan Investasi Ethereum yang Sebaiknya Kamu Hindari

Demikian pula, penyandang dana di luar Argentina dapat memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi dengan skema ini daripada yang dapat mereka peroleh dengan menggunakan instrumen utang lainnya. Contohnya, skema pinjaman dalam mata uang negara asal mereka, yang berpotensi terkena risiko eksposur ke pasar Argentina yang mengalami inflasi tinggi.

7. Aturan Pajak Membuat Fluktuasi Harga Bitcoin

Di Amerika Serikat, menurut Internal Revenue Service (IRS), Bitcoin sebenarnya dianggap sebagai aset untuk target pajak. Hal ini memiliki dampak yang beragam pada fluktuasi harga Bitcoin. Sisi baiknya, setiap pernyataan yang mengakui Bitcoin memiliki efek positif pada penilaian pasar mata uang.

Sebaliknya, keputusan IRS untuk menyebutnya properti memiliki setidaknya dua efek negatif. Yang pertama adalah kerumitan tambahan bagi pengguna yang ingin menggunakannya sebagai bentuk pembayaran.

Di bawah undang-undang pajak yang baru, pengguna harus mencatat nilai pasar mata uang pada saat setiap transaksi, tidak peduli seberapa kecilnya. Kebutuhan akan pencatatan ini dapat dimengerti memperlambat adopsi karena tampaknya terlalu banyak masalah untuk apa nilainya bagi banyak pengguna.

Baca juga: Apa Sih Keterkaitan Harga Bitcoin dan Altcoin? Yuk Simak di Sini!

Kedua, keputusan untuk menyebut mata uang sebagai bentuk properti untuk target pajak mungkin menjadi sinyal bagi beberapa pelaku pasar bahwa IRS sedang bersiap untuk menegakkan peraturan yang lebih kuat nanti.

Regulasi mata uang yang ketat dapat menyebabkan tingkat adopsi mata uang melambat ke titik di mana ia tidak dapat mencapai adopsi massal yang sangat penting untuk utilitas keseluruhannya di masyarakat.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia, Bitcoin Magazine



Sumber : pluang.com