Category Archives: Pluang

14. Memahami Ragam Pola Candlestick

Grafik candlestick membentuk dasar utama analisis teknikal untuk trading. Pasalnya, gabungan grafik candlestick bisa memberikan gambaran bagi investor terkait satu pola tertentu, yang terjadi akibat interaksi antara pembeli dan penjual di pasar aset.

Pola candlestick memang banyak jumlahnya. Tapi, pola-pola tersebut umumnya menunjukkan dua tren pasar utama: Bullish dan bearish. Apakah itu?

Pola bullish mengindikasikan bahwa harga aset kemungkinan akan terus menanjak, sementara pola bearish menunjukkan bahwa harga aset akan terus melandai. Hanya saja, grafik candlestick tidak selalu jitu dalam meramal pergerakan tren harga aset ke depan mengingat pola candlestick hanya sebatas memberi sinyal-sinyal bagi tren tersebut.

Di bawah ini, Sobat Cuan bisa mempelajari delapan jenis pola candlestick yang umum digunakan oleh trader. Delapan pola ini terdiri dari empat pola candlestick bullish dan empat pola candlestick bearish.

14.1 Mengenal Pola Candlestick

14.1.1 Pola Candlestick Bullish

Pola bullish umumnya muncul setelah harga aset terpantau terus melandai, yang mengindikasikan bahwa harga sudah mulai terdongkrak setelah melorot dalam jangka waktu tertentu. Pola-pola ini biasanya menjadi sinyal bagi pelaku pasar untuk melakukan aksi beli sebelum nantinya mendulang cuan dari pergerakan harga aset ke depan.

1. Hammer

Pola candlestick hammer terjadi ketika terdapat satu “lilin” yang memiliki badan pendek namun memiliki batang bagian bawah yang menjuntai. Hal ini mencerminkan bahwa pelaku pasar tengah getol melakukan aksi beli dan ujungnya meningkatkan harga aset. Lilin candlestick pola hammer biasanya berwarna hijau, namun kadang bisa juga berwarna merah. Jika lilin tersebut berwarna hijau, maka terdapat sinyal bullish yang kuat di pasar.

2. Bullish Engulfing

Pola bullish engulfing terjadi ketika candlestick hijau memiliki badan yang lebih besar dibanding candlestick merah yang berada di samping kirinya. Hal ini mengindikasikan bahwa sesi perdagangan hari tersebut punya nilai pembukaan yang lebih kecil dibanding hari sebelumnya, namun kondisi market terbilang tengah bullish sehingga harga menanjak.

3. Morning Star

Sobat Cuan bisa menerka pola candlestick morning star dari tiga lilin yang berderet, seperti yang terlihat dari gambar di atas.

Lilin pertama memiliki badan yang panjang dan berwarna merah. Sementara itu, lilin kedua memiliki badan kecil dan berwarna merah dan lilin ketiga berwarna hijau dengan badan yang panjang.

Nah, dalam hal ini, Sobat Cuan perlu memperhatikan lilin kedua, di mana selisih antara harga pembukaan dan penutupan makin menyempit sebelum. Lilin candlestick inilah yang kemudian disebut dengan bintang pagi (morning star) karena dianggap memberi harapan bahwa harga bisa kembali menanjak setelah melorot dalam jangka waktu tertentu. Hal ini juga mengindikasikan bahwa tekanan jual investor sudah mereda dan menjadi sinyal bull market ke depan.

4. Three White Soldiers

Pola ini tercermin dari candlestick berwarna hijau dengan badan lilin yang panjang dan batang kecil yang muncul secara tiga kali berturut-turut. Hal ini mengindikasikan bahwa sesi perdagangan, yang tercermin dari masing-masing candlestick hijau tersebut, punya harga pembukaan dan penutupan yang terus meningkat. Nah, pelaku pasar biasanya mengasosiasikan pola tersebut dengan pola bullish yang kuat karena sedang terjadi aksi beli yang deras.

14.1.2 Pola Candlestick Bearish

Pola candlestick bearish biasanya terbentuk setelah harga aset meningkat dan menjadi sinyal bahwa pelaku pasar ogah mendorong harga aset tersebut lebih tinggi lagi. Hal tersebut bikin pelaku pasar pesimistis untuk melakukan aksi beli dan akhirnya memutuskan untuk melakukan aksi jual, dan ujungnya bikin harga aset melorot.

1. Hanging Man

The hanging man versi bearish dari pola hammer di pola bullish. Bahkan, bentuknya pun sama seperti pola hammer. Bedanya, ia terjadi setelah harga aset menunjukkan pola menanjak (uptrend). Di samping itu, pola tersebut mengindikasikan bahwa pelaku pasar tengah getol melancarkan aksi jual pada saat itu meski mereka sejatinya masih bisa mendorong harga aset lebih tinggi lagi.

2. Bearish Engulfing

Pola bearish engulfing terjadi di ujung pola uptrend. Dan sama seperti bullish engulfing pattern, pola ini terlihat dari tiga lilin yang berderet, di mana lilin kedua berada di antara dua lilin yang memiliki badan yang panjang. Pola ini mengindikasikan bahwa pergerakan harga menanjak mulai melambat dan pola harga akan segera memasuki bearish.

Umumnya, semakin kecil ukuran lilin kedua, maka semakin besar pula tren ini akan terjadi.

3. Evening Star

The evening star pun mirip dengan the morning star. Tetapi, kali ini, pola tersebut muncul setelah harga aset terus menanjak. Pola ini memberi sinyal bahwa pola harga akan berubah dari bullish menjadi bearish. Sinyal ini semakin kuat ketika badan lilin ketiga (yang berwarna merah) lebih besar dari lilin kedua.

4. Three Black Crows

Pola three black crows terjadi ketika tiga candlestick merah muncul secara berturut-turut, di mana nilai pembukaan dan penutupan di masing-masing lilinnya terus melandai. Pola ini menandai bahwa pelaku pasar tengah melakukan aksi jual yang kuat, sehingga harga aset terus tertekan. Biasanya, pelaku pasar menginterpretasikan pola ini sebagai awal mula dari tren harga bearish.

14.2 Bagaimana Cara Menggunakan Pola Candlestick?

Sobat Cuan perlu ingat bahwa kamu tidak bisa hanya mengandalkan pola candlestick semata untuk melihat tren pergerakan harga ke depan. Kamu juga perlu menggunakan informasi dan indikator lain untuk mempertajam analisismu. Mengapa demikian?

Kini, keandalan pola-pola candlestick dianggap semakin menurun sebab pola harga yang tercermin di candlestick diduga telah dimanipulasi oleh perusahaan hedge fund dan program-program komputernya. Praktik umumnya, para perusahaan ini menggantungkan asa pada eksekusi kilat berbasis pola candlestick untuk mendulang cuan yang lebih mantap ketimbang investor ritel dan manajer investasi biasa. Sehingga, analisis yang dilakukan dua pihak yang disebut belakangan ini bisa tidak semakin valid.

Selain itu, tidak ada strategi sempurna dalam trading. Semuanya perlu dilakukan dengan analisis yang berdasarkan komponen yang bejibun. Nah, dalam hal ini, Sobat Cuan bisa menggunakan pola candlestick untuk mengukur kondisi psikologis pasar.



Sumber : pluang.com

13. Memilih Kerangka Waktu yang Tepat Untuk Analisis Teknikal

13.1 Bagaimana Cara Memilih Kerangka Waktu Trading yang Tepat?

Investor kawakan mungkin sudah bisa menentukan kerangka waktunya sendiri dalam analisis teknikal. Hanya saja, investor pemula mungkin masih kewalahan dalam melakukan hal tersebut.

Tapi, jangan sedih, Sobat Cuan! Sebab, kamu bisa mengetahui cara memilih kerangka waktu dalam analisis teknikal secara mudah melalui langkah berikut!

Pertama, kamu harus ingat bahwa tidak ada satu kerangka waktu tertentu yang dianggap terbaik dalam melakukan analisis teknikal. Hal itu, tentu saja, tergantung dengan gaya trading-mu.

Gaya trading sendiri sangat tergantung dengan seberapa faktor. Misalnya, berapa lama waktumu dalam menggenggam aset tersebut atau seberapa sering kamu meluangkan waktumu untuk melakukan trading. Nah, gunakan faktor-faktor ini ketika memilih kerangka waktu trading yang cocok.

Sebagai contoh, anggap saja kamu adalah trader yang bisa menolerir volatilitas harga yang cepat dan punya banyak waktu luang dalam melakukan trading. Sehingga, kamu bisa memilih kerangka waktu yang pendek ketika trading karena bisa cepat mengambil keputusan dengan cepat.

Sebaliknya, kerangka waktu yang panjang dipilih oleh pelaku pasar yang senang “berkawan” dengan waktu. Kelompok pelaku pasar seperti ini biasanya tidak mau, atau justru enggan, memantau grafik harga dalam periode yang lama.

Sebagai rangkuman, berikut adalah pilihan kerangka waktu yang digunakan trader berdasarkan karakteristiknya masing-masing.

  1. Trader jangka panjang. Trader golongan ini bisa menggunakan time frame harian, mingguan, atau lebih panjang lagi. Grafik tersebut bisa memberikan trader perspektif jangka panjang mengenai pergerakan harga asing.
    Kelebihannya, trader tak perlu memantau pasar atau sering-sering memeriksa grafik harga. Sehingga, mereka bisa memiliki banyak waktu untuk menentukan keputusan trading dan tidak terpengaruh oleh distorsi harga jangka pendek.
    Namun kekurangannya, mereka tidak bisa cepat-cepat mendulang cuan ketika pasar tengah bergejolak.
  2. Trader jangka pendek. Mereka biasanya menggunakan grafik 30 menit, grafik per jam, atau grafik per dua jam atau enam jam sebagai bahan analisis mereka.
    Kelebihannya, trader jangka pendek bisa menangkap beberapa kesempatan trading dengan cepat ketimbang trader jangka panjang. Selain itu, mereka juga bisa menghindari dampak kerugian jangka panjang dalam trading.
    Namun kekurangannya, trader jangka pendek harus menanggung biaya trading yang lebih besar dari trader jangka panjang.
  3. Trader intrahari (intraday). Mereka biasanya menggunakan grafik trading per menit lantaran bisa memperlihatkan dinamika harga dengan cepat. Sehingga, mereka bisa masuk dan keluar pasar di hari yang sama.
    Kelebihannya, mereka bisa menemukan banyak kesempatan trading dalam sehari. Sementara itu, kekurangannya, mereka harus membayar ongkos trading yang lebih mahal dan cenderung bereaksi berlebihan terhadap distorsi pasar dan sinyal-sinyal palsu.

13.2 Multi-Time Frame Analysis

Salah satu strategi dalam memilih kerangka waktu dalam trading adalah melihat beberapa time frame dalam waktu bersamaan. Nah, strategi ini biasa disebut dengan multi-time frame analysis.

Multi-time frame analysis adalah proses dalam melihat pergerakan aset di periode yang berbeda-beda. Tujuannya, agar trader bisa melihat pergerakan harga aset secara umum dengan menggunakan time frame jangka panjang. Namun, mereka bisa memilih titik keluar-masuk pasar dengan membaca time frame jangka pendek untuk mendulang cuan sesegera mungkin.

Trader biasanya menggunakan teknik analisis ini ketika trading valuta asing, pasar saham, hingga aset kripto. Mereka umumnya menggunakan time frame 1 menit untuk kerangka waktu paling pendek dan time frame satu bulan untuk time frame jangka panjang.



Sumber : pluang.com

Mau Tekan Nafsu Belanja? Yuk, Coba Tantangan Nabung 30 Days Challenge!

Belanja atau sekedar window shopping sebetulnya terapi yang efektif dan menyenangkan. Namun, sering juga aktivitas ini berakhir dengan penyesalan akibat membeli barang yang tidak diperlukan. Tips menabung yang sudah kamu rencanakan malah berujung sia-sia.

Impulsif saat berbelanja memang berbahaya. Musababnya apalagi kalau bukan bikin bolong kantong Sobat Cuan. Parahnya lagi, barang yang dibeli seringkali berakhir di gudang atau di dasar lemari, tidak terpakai.

Padahal, di tengah kondisi perekonomian seperti ini tentu lebih bermanfaat jika uangnya diinvestasikan atau dialihkan membeli barang yang bermanfaat. Belum lagi, kamu juga harga memikirkan harga properti yang semakin tidak terjangkau, juga tabungan hari tua yang harus dipersiapkan dengan matang.

Solusi atas semua hal itu adalah dengan menabung. Nah, biar nabung kamu konsisten, yuk ikutan challenge yang cukup happening di kalangan milenial saat ini. Yakni, 30 Days Challenge!

Bagaimana Cara Tips Menabung Ala 30 Days Challenge?

Tantangan ini cukup sederhana, namun efektif. Tiap kali Sobat Cuan menginginkan suatu barang baik di marketplace ataupun toko retail, stop! Alihkan dulu perhatian kamu. Tutup perambanmu atau segera pergi keluar toko saat itu juga.

Setelah itu, kamu hanya punya waktu 30 hari untuk mempertimbangkan kembali niat itu. Pertanyakan lagi, apakah barang tersebut betul-betul kamu butuhkan, atau hanya sekedar ingin. Sering kali penyesalan datang karena keinginan sesat yang terlintas sesaat.

Kebanyakan orang akan melupakan keinginannya untuk membeli barang yang sama dalam 30 hari. Jika ternyata kamu pun mengalaminya, berarti 30 hari lalu dorongan membeli itu hanyalah dorongan impulsif semata.

Jika dalam 30 hari kamu masih mengingkan barang tersebut dengan berbagai pertimbangan yang lebih matang, barang kali kamu memang membutuhkannya.

30 Days Challenge: Tips Menabung Efektif Menekan Pengeluaran

Tantangan ini diklaim cukup efektif menekan pengeluaran. Alasannya sederhana, sebab 30 Days Challenge mudah diaplikasikan.

Prinsipnya adalah kamu tidak membeli atas dasar emosional saja. Kamu bisa menghemat pengeluaran dari berbelanja impulsif lalu mengalihkannya untuk menggendutkan tabunganmu.

Jika ingin tantangan ini berhasil, tentu Sobat Cuan harus disiplin dengan aturannya. Dalam sebulan tentu banyak hal yang akan terjadi yang mungkin akan membuatmu berubah pikiran.

Seringkali kamu mengira cara membangun portofolio investasi adalah dengan mengatur berbagai strategi jitu. Padahal, lebih sering pasak membesar lantaran membeli yang tidak perlu.

Tips Konsisten Menabung dengan 30 Days Challenge

Bagaimana agar tantangan ini berdampak langsung pada menggendutnya pundi-pundi tabunganmu? Berikut ini adalah tiga langkah sederhananya.

Baca Juga: Tips Belanja Hemat untuk Kamu yang Suka Boros!

1. Identifikasi Keinginan dan Kebutuhan

Pemula dalam tantangan ini perlu merinci dengan baik keinginan dan kebutuhannya. Hal ini akan membantu Sobat Cuan memilah belanja mana yang lebih esensial dan belanja mana yang bisa dikesampingkan.

Sisihkan beberapa menit untuk meneliti list belanja bulanan kamu, lalu tentukan mana yang esensial. Belanja esensial tidak perlu ditunda 30 hari. Kamu bisa langsung membeli kebutuhanmu saat itu juga.

Selain pos belanja yang kamu tandai sebagai esensial, sisanya harus menunggu sebulan lagi jika harus dieksekusi. Sisanya ini adalah belanja yang tergolong keinginan, meskipun tidak terlalu dibutuhkan.

Nantinya, saat akan berbelanja, kamu bisa berkaca dari daftar tersebut. Jika dorongan untuk berbelanja impulsif kembali datang, sembunyikan dompetmu rapat-rapat agar tidak kecolongan.

2. Rekening Tabungan dan Instrumen Investasi

Dibandingkan dengan membuang uang untuk membeli barang, tentu menginvestasikan uangmu adalah langkah yang lebih bijak.

Kamu bisa mulai membuka rekening dan membeli instrumen investasi dari uang yang semula ingin kamu gunakan untuk membeli barang secara impulsif.

Kalau pun nantinya kamu jadi membeli barang tersebut, bisa jadi kamu sudah memperoleh cuan dari investasi jangka pendek, bukan?

Baca Juga: Wahai Kalian Trader Pemula, Yuk Simak Tips Berikut Biar Sukses Day Trading!

3. Uang Senang-Senang

Kamu mungkin akan bersalah jika impulsif membeli membeli tas bermerek. Atau mungkin membeli lensa kamera berharga jutaan.

Tapi, entah kenapa, perasaan bersalah itu tidak pernah hadir ketika kamu mengeluarkan uang demi hal-hal yang bersifat remeh. Misalnya, menonton film di bioskop, membeli minuman dan cake artisan, atau sekedar memoles ulang cat kuku di salon.

Meski berjumlah kecil, pengeluaran ini tidak bisa disepelekan. Jika kamu rajin menghitung jumlah total struk belanja barang dan jasa rekreasional seperti ini, tentu kamu akan terkejut dengan hasilnya.

Solusinya, pastikan kamu membuat bajet tersendiri untuk bersenang-senang. Besar atau kecilnya bajetmu bisa disesuaikan. Namun, kamu harus disiplin pada bajet tersebut agar pengeluaranmu tidak bocor di tengah jalan.

Setelah 30 hari, kamu sudah bisa melihat perubahan pada struktur pengeluaranmu yang berbanding terbalik dengan makin gendutnya rekeningmu. Tantangan ini sangat sederhana dan layak dicoba, lho!

Baca juga: Jangan Tunda Lagi! Ini 8 Langkah Mengatur Keuangan yang Bisa Kamu Lakukan Sekarang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Koho



Sumber : pluang.com

5. Mengenal Indikator Trading dan Jenis-jenisnya

5.1 Latar Belakang

Indikator trading adalah alat analisis yang digunakan para investor dan trader untuk mengambil keputusan dalam perdagangan keuangan. 

Dengan menggunakan sejumlah data harga historis, indikator ini membantu mengidentifikasi pola, tren, dan potensi pembalikan pasar. 

Dalam artikel ini, kita akan menggali lebih dalam tentang apa itu indikator trading dan bagaimana mereka dapat membantu membimbing keputusan dalam dunia keuangan yang dinamis.

5.1.1 Apa Itu Indikator Trading? 

Indikator trading adalah formula matematis yang diterapkan pada data harga saham, mata uang, atau aset keuangan lainnya. 

Tujuan utamanya adalah membantu trader memahami arah pergerakan pasar dan mengidentifikasi peluang perdagangan yang potensial.

Indikator ini dapat memberikan sinyal beli atau jual, memberikan pandangan tentang kekuatan tren, dan membantu mengidentifikasi kondisi pasar yang overbought atau oversold.

5.1.2 Fungsi Umum Indikator Trading

Tujuan umum dari indikator teknikal adalah membantu memonitor kondisi pasar. Tanpa adanya indikator, mungkin akan sulit untuk menentukan apakah pasar sedang berada dalam tren bearish atau bullish, memilih posisi apa yang harus dibuka, dan kapan waktu yang tepat untuk membuka posisi.

Dengan menggunakan indikator, Sobat Cuan dapat lebih mudah melihat tren pasar yang sedang berlangsung, memungkinkan untuk menentukan apakah akan membuka posisi buy atau sell

Indikator juga membantu mengidentifikasi kekuatan dari tren tersebut, apakah tren tersebut masih akan berlanjut atau mungkin sudah mencapai titik jenuh.

Tren yang kuat menunjukkan bahwa harga kemungkinan akan bergerak ke satu arah untuk periode yang cukup lama, memberikan peluang untuk meraih potensi profit.

Sebaliknya, Sobat Cuan dapat menghindari tren yang lemah dan kondisi pasar jenuh karena pergerakan harga dalam situasi tersebut rentan berbalik arah sebelum menghasilkan keuntungan.

Selain fungsi-fungsi di atas, indikator teknikal juga memudahkan dalam menentukan area support dan resistance. Area support dan resistance ini dapat menjadi acuan untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk membuka posisi buy atau sell.

5.1.3 Bagaimana Indikator Trading Digunakan?

Indikator trading digunakan untuk menciptakan strategi perdagangan yang lebih informasional.

Trader menggunakan indikator ini untuk mengkonfirmasi keputusan perdagangan, mengidentifikasi peluang, dan mengelola risiko.

Namun, penting untuk diingat bahwa tidak ada indikator tunggal yang sempurna, dan kombinasi beberapa indikator sering digunakan untuk membuat keputusan yang lebih terinformasi.

5.1.4 Jenis-jenis Indikator Trading

Ada lima indikator trading yang sering digunakan oleh para ahli.

Pertama, moving averages (MA). Ini merupakan indikator yang menghitung rata-rata harga selama periode waktu tertentu. MA membantu mengidentifikasi tren dan memberikan sinyal pembalikan potensial.

Kedua, relative strength index (RSI). Indikator ini mengukur kecepatan dan perubahan harga dengan skala 0-100. RSI memberikan informasi tentang apakah suatu aset dianggap overbought atau oversold.

Ketiga, bollinger bands (BB). Indikator ini membantu mengukur volatilitas pasar dan menunjukkan sejauh mana harga telah bergerak dari nilai statistiknya.

Keempat, moving average convergence divergence (MACD). MACD yaitu indikator yang menyediakan sinyal tentang perubahan arah dan kekuatan tren, dengan membandingkan dua moving averages.

5.2 Mengenal Jenis Indikator Trading 

Dalam latar belakang sudah dijelaskan mengenai apa itu indikator trading, sebuah kalkulasi matematis berdasarkan tren harga atau volume perdagangan sebuah aset secara historis.

Dengan kata lain, melalui indikator ini, trader bisa menerjemahkan grafik harga dan volume perdagangan sebuah aset ke angka-angka tertentu dan menentukan keputusan trading berdasarkan data-data tersebut.

Ada beragam jumlah indikator trading. Namun dalam tulisan ini, Sobat Cuan akan memahami lima indikator trading

5.2.1 Moving Averages (MA)

Moving average (MA) merupakan sebuah indikator yang digunakan untuk menggambarkan rata-rata harga penutupan suatu aset di pasar selama periode waktu tertentu.

Umumnya, trader menghitung MA sebagai sarana untuk membantu mereka mengidentifikasi arah pergerakan harga suatu aset dalam rentang waktu tertentu.

Trader umumnya memanfaatkan dua tipe MA, yaitu:

  1. Simple Moving Average (SMA): Ini adalah nilai rata-rata dari seluruh titik harga aset dalam suatu periode tertentu. 

Angka ini dihitung dengan menjumlahkan seluruh harga penutupan pada titik-titik tertentu dan kemudian dibagi dengan jumlah titik harga yang terdapat pada grafik.

Date Close 5 Day Moving Average
29-Aug-2022 161  
30-Aug-2022 159  
31-Aug-2022 157  
1-Sep-2022 158  
2-Sep-2022 156  
6-Sep-2022 155 158
7-Sep-2022 156 157
8-Sep-2022 154 156
9-Sep-2022 157 156
12-Sep-2022 163 156
13-Sep-2022 154 157
  1. Exponential Moving Average (EMA): Jenis MA ini memberikan bobot lebih besar pada harga aset yang lebih baru, membuat EMA menjadi lebih responsif terhadap pergerakan harga terkini di pasar. Untuk menghitung EMA dapat menggunakan rumus berikut:

EMAHari ini = (Harga penutupan saham hari ini * α) + (EMAKemarin * (1 – α))

α merupakan konstanta dari exponential smoothing dimana nilai α dapat dihitung dengan rumus berikut:

α = [Smoothing factor/(Periods + 1)]

Smoothing factor = Meskipun ada banyak pilihan yang dapat digunakan, pilihan yang paling umum adalah 2

Periods = Merupakan banyaknya data yang digunakan untuk menghitung rerata

Biasanya, trader menggunakan MA dengan periode lima, 10, 20, 50, 100, dan 200 hari.  Penggunaan kerangka waktu yang lebih pendek umumnya diterapkan oleh trader yang berfokus pada perdagangan jangka pendek, karena MA dalam kerangka waktu ini lebih cepat menanggapi perubahan harga dibandingkan dengan MA berkerangka waktu panjang. 

Di sisi lain, trader jangka panjang cenderung menggunakan MA dengan kerangka waktu yang lebih lama.

5.2.2 Relative Strength Index (RSI)

RSI diakui sebagai salah satu indikator paling akurat dalam perdagangan kripto. Selain Moving Average (MA), RSI juga dianggap sebagai indikator terbaik untuk menilai momentum perubahan harga bitcoin.

Bagi trader dengan fokus jangka pendek, RSI dengan periode 5 atau 7 hari menjadi pilihan, sementara bagi trader jangka panjang, mereka dapat memilih periode 21 atau 30.

RSI juga memiliki peran penting dalam melihat tren dan divergensi, memberikan sinyal pembalikan tren kepada para trader.

Indikator ini beroperasi dalam skala osilator dengan rentang nilai antara 0 hingga 100. Ketika pembacaan berada di bawah 30, disebut sebagai kondisi oversold, sementara di atas 70 dianggap sebagai kondisi overbought.

RSI NVDA, Sumber: TradingView (2024)

5.2.3 Bollinger Bands (BB)

Bollinger Bands (BB) diakui sebagai indikator trading yang sangat akurat dan berperan sebagai alat untuk mengambil keuntungan. 

Indikator ini terdiri dari dua garis tren standar deviasi yang diplot bersama dengan tren Simple Moving Average (SMA) dari suatu aset.

Dalam hal ini, garis tengah indikator BB memiliki fungsi untuk menunjukkan level overbought dan oversold, memberikan informasi mengenai volatilitas, serta menampilkan tren harga sebagai referensi bagi trader dalam pengambilan keuntungan.

Dalam daftar indikator trading, tidak ada indikator yang sempurna dan cocok untuk semua kondisi pasar. Pemilihan indikator lebih merupakan masalah preferensi trader, disesuaikan dengan gaya trading dan kondisi pasar aset yang diperdagangkan.

Trader dapat mengkombinasikan beberapa indikator untuk mengkonfirmasi sinyal yang muncul dalam rentang waktu tertentu. Namun, ia memberi peringatan bahwa penggunaan terlalu banyak indikator dapat membuat trader merasa terlalu dibanjiri informasi dan kesulitan dalam pengambilan keputusan.

5.2.4 Moving Average Convergence Divergence (MACD)

MACD diidentifikasikan sebagai salah satu indikator trading forex yang paling akurat dalam mengkonfirmasi sinyal jual dan beli. Indikator ini terdiri dari histogram dan rata-rata pergerakan harga secara eksponensial.

MACD sebagai indikator terbaik untuk trading forex, berperan sebagai alat konfirmasi tren yang sangat populer dan bermanfaat. Menurut informasi yang dikutip dari Elearn Markets, ketika terjadi divergensi reguler antara MACD dan harga aset kripto, hal tersebut menunjukkan pembalikan harga, sementara divergensi tersembunyi (hidden divergence) mengindikasikan kelanjutan tren.

5.3 Kesimpulan

Dalam dunia keuangan yang kompleks, indikator trading adalah alat yang sangat berharga untuk membimbing keputusan perdagangan.

Namun, sangat penting untuk memahami bahwa mereka bukanlah jaminan keberhasilan dan harus digunakan sebagai bagian dari strategi perdagangan yang komprehensif.

Menggabungkan pengetahuan tentang indikator trading dengan pemahaman mendalam tentang pasar keuangan adalah kunci untuk menjadi trader yang sukses.



Sumber : pluang.com

Mau Belanja Barang Mewah Anti Rasa Bersalah? Simak 9 Caranya di Sini!

Belanja barang fesyen bermerek memang menyenangkan dan memberi kepuasan tersendiri. Namun, harganya yang relatif mahal sering kali memunculkan rasa bersalah tiap kali berbelanja untuk memperbaharui lemari. Apakah memang ada cara membeli barang mewah tanpa harus dihantui rasa bersalah?

Hal itu dirasakan oleh aktris Cinta Laura. Baru-baru ini, lewat wawancara yang diunggah di chanel youtube milik Gritte Agatha, Cinta mengatakan bahwa ia selalu merasa bersalah ketika membeli barang-barang branded. Rasa bersalah itu kemudian menuntunnya untuk tetap hidup hemat dan sederhana.

“Aku guilty (merasa bersalah) kalau ngebeli sesuatu yang baru atau mahal. Misalnya tas branded Rp30 juta, bayangkan berapa keluarga atau anak yang bisa aku sekolahin dan kasih makan dengan uang Rp30 juta,” ujar Cinta.

Ucapannya itu sempat membuat gaduh warganet yang terusik. Pasalnya, fesyen item bermerek seringkali memang memiliki kualitas yang sesuai harga. Apalagi, merek-merek kawakan seperti Chanel, Hermes, dan Loubotin biasanya mengeluarkan item fesyen yang bersifat abadi (timeless)

Setiap orang tentu punya preferensinya sendiri menyoal pilihan fesyen yang dikenakan. Bermerek ataupun tidak, itu semua kembali kepada masing-masing individu.

Harus diakui, barang bermerek karya desainer terkenal memang bukanlah kebutuhan pokok. Kamu bisa saja mendapatkan barang dengan fungsi dan estetika yang mirip dengan harga jauh lebih murah.

Sehingga, ucapan aktris blasteran Jerman-Indonesia itu pun mengundang pertanyaan. Apakah kita memang sepatutnya merasa bersalah setelah belanja barang mewah?

Sobat Cuan perlu paham bahwa pada dasarnya, belanja adalah hak segala bangsa. Oleh karena itu, beli barang mewah pun sah-sah saja asal tahu strateginya!

Yuk, simak strategi dan cara beli barang mewah di bawah ini!

Baca juga: Mau Jadi Orang Kaya? Yuk, Ikuti Resep Rahasia Menjadi Kaya dari Elon Musk

Cara Beli Barang Mewah Tanpa Bikin Kantong Bolong

Jika kamu tertarik atau sudah menjadi kolektor barang mewah, ada baiknya kamu menyimak tips berikut ini agar guilty pleasure kamu tidak menguras kantong.

1. Menabung Sebelum Membeli

Menabung memang cara yang mudah untuk menggapai impian finansialmu. Jika memang tujuan finansialmu adalah membeli barang mewah, tidak ada salahnya kamu menabung untuk mendapatkannya!

Hanya saja, kamu perlu ingat bahwa barang mewah bukanlah kebutuhan pokok. Sah saja untuk membeli barang mewah asalkan semua kebutuhan pokok memang sudah terpenuhi dan tabunganmu sudah aman.

Kamu perlu menyisihkan uangmu untuk hari tua dan kebutuhan lainnya. Pastikan tujuan finansialmu terpenuhi sesuai target, tidak terganggu oleh belanja barang mewah yang sudah kamu idamkan itu.

2. Kualitas di Atas Kuantitas

Tas tangan karya desainer memang umumnya lebih awet ketimbang tas yang dijual di toko retail. Namun, bagaimana pun, koleksi tas mewah kamu bukanlah investasi.

Kamu perlu selektif memilih item yang memiliki daya manfaat jangka panjang dengan kualitas yang sangat baik. Mengingat harganya yang tidak murah, tahan keinginanmu untuk memiliki tas tangan yang murah dalam jumlah banyak.

Jika memang kamu ingin memiliki tas tangan edisi terbatas karya desainer terkenal, pastikan bahwa kualitas jadi prioritasmu.

3. Incar Harga Diskon

Nah, inilah cara beli barang mewah paling mudah. Namun, kamu perlu rajin mencari informasi lantaran desainer kenamaan memang jarang memberi diskon.

Namun kalau kamu beruntung, item incaranmu bisa saja banting harga. Asalkan sabar dan tahu pasti barang mana yang kamu inginkan, kamu pasti bisa mendapatkannya dengan potongan harga.

Beberapa merek kerap melakukan cuci gudang di akhir musim. Selain itu, kadang toko rental barang mewah menjual koleksinya yang sudah beberapa kali dipakai dengan harga yang menggiurkan.

Jangan lewatkan kesempatan ini demi menjaga pundi-pundimu tetap gemuk meski kamu gemar berbelanja!

Baca juga: Apa Itu Luxury Item?

4. Tabungan Khusus untuk Barang Bagus

Kamu bisa mulai menyisihkan pendapatanmu pada rekening khusus yang kamu peruntukkan untuk berbelanja fesyen item favoritmu. Sisihkan dengan baik sembari mempertimbangkan kembali barang mana yang betul-betul kamu inginkan.

Ini akan membuat kamu lebih menghargai barang mewah itu saat kamu sudah mampu membelinya. Karena kamu betul-betul menyukai barang itu alih-alih sekedar impulsif saja. Kamu punya waktu untuk memikirkan berulang kali selama mengumpulkan uang untuk membelinya.

Cara ini juga membebaskanmu akan dari cicilan kartu kredit yang mencekik. Dengan begitu, kamu akan terbebas dari merasa bersalah setelah berbelanja barang mewah.

5. Hindari Beli Item Fast Fesyen

Tips cara beli barang mewah berikutnya adalah hindari item fesyen yang berupa tren sesaat dengan harga yang tidak murah. Apa alasannya?

Kamu perlu menghindari membeli barang seperti ini karena hanya akan memenuhi lemari setelah trennya lewat. Selain itu, kamu juga jadi lebih boros karena harus berbelanja lagi.

Hindari pula pemilihan warna musiman, sebab mungkin kamu tidak bisa memakainya lagi saat tren warnanya berubah.

Selain itu, beberapa item fesyen mungkin sulit untuk dipadankan, sehingga pilihlah item lain yang akan mudah dipadukan dengan isi lemarimu. Tidak lupa juga untuk memilih barang yang sesuai dengan gayamu.

Mengoleksi barang mewah dan item fesyen bermerek memang mengharuskanmu jadi pemilih yang penuh pertimbangan. Pastikan keputusanmu bisa membuatmu tampil berkelas dan memukan dalam waktu yang lama, ya!

6. Jangan Berkompetisi

Mengoleksi barang bermerek bukanlah kompetisi yang harus kamu menangkan. Bukan pula ajang untuk menjadi pemilik item terbanyak dan terlengkap. Jangan sampai kamu membeli barang hanya karena sedang tren saja, karena itu sama dengan pemborosan!

Pastikan kamu memang niat membeli barang yang kamu inginkan dan sesuai untukmu. Jangan termakan konten influencer atau orang lain sebab kamu tidak tahu kondisi finansial mereka. Boleh jadi kondisinya jauh berbeda dengan kondisimu.

Pastikan untuk selalu membeli barang yang terjangkau kantongmu. Barang yang kamu suka dan akan membuatmu bahagia adalah yang terbaik dibanding barang yang bertujuan untuk mengesankan orang lain.

Baca juga: Dari Inul Daratista Hingga Dian Sastro, Ini “Istana” 7 Selebritas Indonesia

7. Padu Padankan dengan Serasi

Fesyen sebetulnya industri yang luas dan tidak terbatas pada item high-end saja. Tidak ada salahnya memadukan kaus yang kamu beli di toko retail dengan tas chanel atau sepatu bersol merah yang legendaris itu.

Keserasian dan keahlian memadupadankan adalah kunci dari tampil fashionable. Bagaimanapun, selama penampilanmu membuatmu percaya diri, kamu pasti terlihat lebih menarik. Berapapun harga outfit dan fesyen item yang kamu kenakan.

8. Sewa Saja Dulu

Saat ini sudah banyak start up yang menawarkan jasa sewa barang mewah dan item fesyen bermerek. Biasanya kamu akan dikenakan biaya berlangganan dan fee lainnya. Namun, cara ini lebih efisien ketimbang kamu harus merogoh kocek lebih dalam untuk melengkapi sendiri koleksimu, bukan?

Kamu bisa memilih untuk menyewa dulu barang incaranmu dan lihat apakah barang tersebut memang pas dengan gayamu. Kamu juga bisa menyewa barang lain dari koleksi fesyen high-end yang lebih trendi dan tergolong fast fesyen.

Kelebihan dari menyewa barang ini adalah kamu akan terbebas dari biaya maintenance yang tidak sedikit. Selain itu, kamu pun bisa sering berganti-ganti item sesuai mood.

Layanan ini biasanya juga menyediakan jasa antar jemput sehingga kamu tidak perlu repot datang langsung ke tempat sewa. Beberapa tempat penyewaan mengizinkanmu membeli item yang kamu sewa jika kamu betul-betul menyukainya.

9. Cara Beli Barang Mewah Paling Oke: Investasi!

Sama seperti menabung, investasi merupakan “kendaraan” yang bisa kamu pakai demi menuju tujuan finansialmu. Kalau tujuan finansialmu adalah beli barang-barang bermerek, maka hal itu tidak ada salahnya. Asalkan, kamu menginvestasikan uangnya di tempat yang terpercaya dan di aset yang tepat.

Nah, untuk mencapai tujuan finansialmu, tak ada salahnya kok berinvestasi di Pluang! Kamu bisa berinvestasi emas digital, indeks S&P 500, aset kripto, hingga reksa dana hanya dalam satu aplikasi saja. Tanpa biaya admin dan spread rendah, sehingga tujuan finansialmu akan makin cepat tercapai!

Baca juga: Bernilai Ratusan Miliar, Ini Lho 6 Rumah Mewah Tokoh Indonesia yang WOW

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

sumber: youtube, clevergirlfinance



Sumber : pluang.com

Harganya Turun, Sepenting Apa Sih Investasi Ethereum di Portofolio Kamu?

Investasi Ethereum tengah menjadi sorotan para pecinta aset kripto. Pasalnya, aset kripto yang digadang-gadang bakal menyalip Bitcoin ini kinerjanya suam-suam kuku semenjak harganya terjun dari puncak. Lalu sepenting apa sih investasi Ethereum dalam portofolio aset kripto Sobat Cuan? Yuk simak!

Kinerja Ethereum pada tahun ini awalnya sangat menggembirakan. Bayangkan, harganya meroket ke level tertinggi di kisaran US$4.100 pada pertengahan Mei lalu, dari kisaran US$740 di awal tahun. Namun roket yang meluncur ke atas itu juga cepat jatuhnya. Alhasil harga Ethereum pun kini lunglai di kisaran US$2.800.

Investasi Ethereum telah mendapat banyak kritik selama beberapa tahun terakhir, tetapi ia dinilai memiliki potensi untuk memberikan keuntungan yang lebih baik daripada Bitcoin. Ethereum memiliki kapitalisasi pasar yang lebih kecil dan tidak memiliki pengakuan global sebanyak Bitcoin, yang sebenarnya jadi salah satu aspek potensi pertumbuhan.

Sekadar meluruskan, Ethereum sebenarnya bukan cryptocurrency. Ia adalah jaringan komputasi global untuk aplikasi terdesentralisasi (dApps). Ether (ETH) adalah cryptocurrency yang menggerakkan jaringan Ethereum, dan ini adalah bentuk pembayaran yang diperlukan untuk ruang komputasi di blockchain Ethereum.

Di tengah kontroversi penggunaan namanya, semua sepakat bahwa kini harga ETH sedang tiarap. Pertanyaan berikutnya, apakah investasi Ethereum masih worth it setelah harganya jeblok?

Posisi Ethereum

Meskipun Bitcoin sangat bagus sebagai penyimpan nilai, Bitcoin tidak mendukung smart contract atau kontrak pintar seperti Ethereum. Bisa dibilang, Ethereum sama-sama mampu menjadi penyimpan nilai, malahan lebih banyak lagi.

Ether telah bersaing dengan Bitcoin untuk cryptocurrency terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar sejak dirilis pada tahun 2015 dan hampir menyalip aset kripto nomor 1 itu pada Februari 2018.

Baca juga: Mengenal Metode Analisis Fundamental Aset Kripto

Kedua koin ini telah mencapai titik tertinggi baru sejak saat itu, dan tampaknya ada lebih banyak ruang untuk keduanya tumbuh pada tahun 2021. Beberapa ahli memperkirakan Ethereum akan “membalik” siklus pasar Bitcoin, dan menjadi blockchain dan aset kripto yang dominan berdasarkan kapitalisasi pasar.

Satu hal yang pasti, pasar aset kripto jauh lebih fluktuatif daripada pasar saham. Jika Sobat Cuan sangat menghindari risiko, ini mungkin bukan pasar yang cocok untuk kamu. Tetapi jika kamu adalah investor ‘bertangan berlian’ yang tidak memperhitungkan kerugian jangka pendek, Ethereum mungkin merupakan investasi yang bagus.

Investasi Ethereum vs Bitcoin

Ethereum dan Bitcoin memiliki kasus penggunaan yang sangat berbeda. Bitcoin bertindak sebagai penyimpan nilai, sama seperti emas. Ether juga bertindak sebagai penyimpan nilai, tetapi blockchain Ethereum dan bahasa pemrograman Solidity membawa dApps ke level yang lebih tinggi.

Platform Ethereum hadir dengan bahasa pemrogramannya sendiri yang disebut Solidity yang memungkinkan pembuat kode untuk menulis program yang disebut “kontrak pintar.”

Kontrak pintar Ethereum dapat mengotomatisasi ribuan produk keuangan, proses rantai pasokan, dan merupakan blok pembangun NFT. Apa itu NFT? Sobat Cuan bisa baca di artikel ini ya!

Kontrak pintar ini juga dapat digunakan untuk membangun aplikasi lengkap seperti bursa terdesentralisasi (DEX) dan market maker otomatis (AMM).

Baca juga: Alasan Pentingnya Diversifikasi Investasi Aset Kripto di Saat Pasar Loyo

Adapun kontrak pintar yang sangat mendasar secara teknis dimungkinkan pada blockchain Bitcoin. Namun, bahasa pemrograman khusus Ethereum dan tim pengembang yang besar membuatnya menjadi pemenang jika dilihat secara jangka panjang.

Mungkin, masih agak samar untuk menyebut mana investasi yang lebih baik. untuk membandingkannya, kamu bisa coba baca artikel ini.

Sangat mungkin bahwa Bitcoin dan Ethereum akan bertahan dalam ujian waktu dan ‘hidup berdampingan’ di masa depan. Pada akhirnya, keputusan investasi kamu harus dibuat olehmu sendiri (atau penasihat investasi).

Hal terbaik yang dapat Sobat Cuan lakukan adalah mempelajari sendiri sebanyak mungkin sebelum mempertaruhkan uang hasil jerih payah kamu. Selain itu, jangan pernah menginvestasikan uang yang tidak ingin kamu hilangkan sepenuhnya. Pahami risikonya.

Kelebihan Investasi Ethereum

Ethereum adalah investasi spekulatif. Seperti investasi apa pun, Sobat Cuan mungkin akan kehilangan sebagian dari investasi kamu jika Ethereum turun nilainya.

Kinerja Ethereum yang luar biasa sebelumnya telah menarik investor tradisional dan institusional. Ethereum dan aset kripto lainnya memberi kamu beberapa keuntungan berikut dibandingkan investasi tradisional:

  • Volatilitas. Meskipun hal ini sebelumnya dianggap negatif, investor yang lebih cerdas telah menyadari pola siklus pasar dan mampu memanfaatkan keuntungan parabolic yang dihasilkan oleh bubble di pasar.
  • Likuiditas. Ethereum bisa dibilang salah satu aset investasi paling likuid karena pembentukan platform perdagangan, bursa, dan pialang online di seluruh dunia. Kamu dapat dengan mudah menukar Ethereum dengan uang tunai atau aset seperti emas secara instan dengan biaya yang sangat rendah. Likuiditas tinggi yang terkait dengan Bitcoin menjadikannya wadah investasi yang bagus jika kamu mencari keuntungan jangka pendek. Mata uang digital ini juga dapat menjadi investasi jangka panjang karena permintaan pasar yang tinggi.

Baca juga: 4 Kesalahan Investasi Ethereum yang Sebaiknya Kamu Hindari

  • Risiko inflasi yang lebih rendah. Tidak seperti mata uang dunia yang diatur oleh pemerintahnya, Ethereum memiliki proyeksi inflasi transparan yang tidak terlalu banyak memiliki campur tangan. Sistem blockchain yang tidak terbatas, dan tidak perlu khawatir tentang aset kripto terkena deflasi.
  • Keuangan Terdesentralisasi. Ethereum dan DeFi relatif muda, dengan NFT dan banyak aplikasi baru lainnya menjadi lebih umum setiap hari. Hal baru ini membawa perubahan harga dan volatilitas yang tidak terduga, yang dapat menciptakan peluang untuk keuntungan besar.

Kekurangan Investasi Ethereum

Ethereum mungkin berperan di masa depan pertukaran moneter dan sistem komputasi global. Tetapi hal itu sama pentingnya bagi Sobat Cuan untuk menyadari kekurangan atau risiko seputar investasi aset kripto.Berikut beberapa risiko yang terkait dengan investasi di Ethereum:

  • Volatilitas Tinggi. Jika kamu kebetulan membeli Bitcoin pada 17 Desember 2017, harganya US$20.000. Beberapa minggu kemudian harga anjlok, kamu bahkan tidak dapat menjual investasimu senilai lebih dari US$7.051. Maka dari itu, untuk menghindari kerugian yang menyakitkan dalam jangka pendek, tetaplah perhatikan pasar.
  • Peraturan baru. Pemerintah tidak mungkin membiarkan aset kripto tidak diatur untuk waktu yang lama. Peraturan baru dapat mengganggu model bisnis, dan menyebabkan pelemahan yang sepenuhnya di luar kendali kamu.
  • Ancaman peretasan online. Peretasan adalah ancaman yang dihadapi banyak investor aset kripto. Sebagian besar bursa memungkinkan kamu membeli dan menjual aset kripto menggunakan aplikasi seluler atau situs web. Namun banyak pengguna juga menyimpan aset kripto mereka di dompet bursa. Ini membuat mereka rentan kehilangan investasi mereka jika sistem bursa diretas, dan password mereka dicuri.
  • Kompetisi. Ada banyak sekali platform kontrak pintar yang muncul dan membuat Ethereum tersaingi, seperti Binance Smart Chain, Cardano, dan Polkadot. Cryptocurrency ini menawarkan skalabilitas yang lebih baik daripada ETH, tetapi mereka tidak memiliki ekosistem kontrak pintar yang kuat yang dimiliki Ethereum di jaringannya.

Baca juga: Apa Sih Keterkaitan Harga Bitcoin dan Altcoin? Yuk Simak di Sini!

Apakah Ethereum Masih Worth It?

Jadi bagaimana menurut kamu Sobat Cuan? Kalau dilihat dari posisi di market dan potensinya dalam jangka panjang, Ethereum merupakan salah satu aset kripto penting dalam portofolio kamu. Masa depannya cukup menjanjikan, mengingat ETH akan menjadi bahan bakar utama di Decentralized Finance, yang digadang akan menjadi masa depan jasa keuangan.

Namun, selalu ingat untuk mempelajarinya dan memahami risikonya ya!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Benzinga



Sumber : pluang.com

16. Menjelajahi Ragam Indikator Oscillator

16.1 Ragam Indikator Oscillator

16.1.1 Stochastic Oscillator

Stochastic Oscillator adalah indikator momentum yang membandingkan nilai penutupan sebuah aset di satu titik waktu tertentu dengan rentang pergerakannya dalam periode waktu yang spesifik.

Indikator ini mencerminkan bahwa momentum pergerakan harga aset akan terus berubah-ubah sebelum akhirnya pergerakan harga aset tersebut benar-benar berganti haluan. Nah, oleh karenanya, pelaku pasar biasanya menggunakan indikator ini untuk memprediksi perubahan tren harga aset.

Sama seperti RSI, indikator ini bertujuan untuk mencari sinyal jenuh beli (overbought) atau jenuh jual (oversold) dengan rentang nilai antara 0 hingga 100. Tingkat senstivitas indikator ini terhadap pergerakan harga aset yang sebenarnya sangat tergantung dengan kerangka waktu yang digunakan atau hasil Moving Average dari harga aset.

Adapun grafik Stochastic Oscillator terdiri dari dua garis, di mana satu garis menggambarkan nilai oscillator sebenarnya di setiap sesi perdagangan sementara garis lainnya merupakan refleksi atas Simple Moving Average (SMA) selama tiga hari ke belakang. Karena pergerakan harga selalu mengikuti momentum, maka persilangan antara dua garis tersebut sering dianggap sebagai sinyal bahwa tren harga akan berubah.

Secara umum, kondisi overbought akan terjadi jika kedua garis tersebut berada di atas nilai 80. Sementara itu, kondisi oversold terjadi jika keduanya berada di bawah nilai 20.

Hanya saja, keterangan-keterangan tersebut tidak selalu mengindikasikan bahwa tren harga aset benar-benar berganti arah. Sebab, pada kenyataannya, kedua garis tersebut bisa berada di zona overbought atau oversold dalam jangka waktu lama jika trennya benar-benar kuat.

Oleh karenanya, pelaku pasar perlu memperhatikan interaksi antara kedua garis tersebut dengan pergerakan harga aset yang sebenarnya untuk mencari petunjuk tentang perubahan tren harga aset ke depan.

Contoh Stochastic Oscillator

Salah satu penggunaan penting Stochastic Oscillator adalah melihat divergensi antara kedua indikator oscillator dengan pergerakan harga aslinya. Sobat Cuan bisa melihat contohnya di grafik Stochastic Oscillator Bitcoin (BTC) dengan rentang waktu satu hari berikut!

Pada grafik di atas, garis biru menunjukkan nilai oscillator sebenarnya sementara garis merah mewakili SMA BTC dalam tiga hari terakhir.

Ketika harga aset mencapai titik tertinggi terbarunya sementara garis oscillator terlihat menyentuh titik terendah terbarunya ketika tren sedang bullish, maka kondisi itu bisa disebut sebagai divergensi negatif (negative divergence). Peristiwa ini merupakan sinyal bahwa tren harga akan berubah, sehingga pelaku pasar harus bersiap diri menghadapi risiko ke depan.

Namun, jika harga aset mencapai titik terendah terbarunya sementara kedua garis oscillator terus mencetak nilai tertinggi terbarunya saat kondisi pasar sedang bearish, maka hal tersebut bisa disebut sebagai divergensi positif (positive divergence). Kondisi tersebut menjadi pertanda bahwa masa-masa bearish akan segera lenyap dan berganti menjadi tren bullish, seperti terlihat di grafik berikut.

16.1.2 Commodity Channel Index (CCI)

Indikator CCI membandingkan posisi harga saat ini dengan rerata harganya dalam satu rentang waktu tertentu.

Sama seperti indikator oscillator lainnya, indikator CCI menentukan titik overbought atau oversold dari pergerakan harga sebuah aset. Nilai CCI terbilang tinggi jika harga aset saat ini lebih tinggi dibanding reratanya dalam satu periode waktu terentu. Di sisi lain, nilai CCI relatif akan lebih rendah jika harga saat ini berada di bawah harga reratanya dalam rentang waktu yang spesifik.

Indikator ini berbentuk garis yang berfluktuasi dalam rentang di atas atau di bawah nilai 0, yang sekaligus menunjukkan teritori positif atau negatif.

Sering kali, atau mungkin 75% dari kejadian pada umumnya, nilai CCI bergerak dalam rentang -100 hingga +100. Namun, nilai CCI bisa saja bertengger di luar kedua titik nilai tersebut, yang biasanya mengindikasikan bahwa pergerakan harga sedang sangat lemah atau sangat kuat.

Ketika garis CCI bergerak dari teritori negatif menuju nilai di atas 100, maka itu menjadi pertanda bahwa tren harga aset tersebut akan meningkat. Pada titik tersebut, traders bisa ancang-ancang melakukan aksi beli jika memang kenaikan garis CCI diikuti oleh pelemahan singkat harga aset sebelum kemudian reli kencang.

Konsep yang sama juga berlaku untuk menerka tren harga menurun. Ketika garis CCI longsor dari teritori positif menuju angka -100, maka downtrend kemungkinan akan terjadi. Pelaku pasar bisa menggunakan peristiwa ini sebagai pertanda untuk menjual asetnya atau mendulang cuan dari short trading.

Pergerakan harga setiap aset punya rentang CCI yang berbeda. Namun biasanya, garis CCI selalu berada dalam bentangan -100 hingga +100. Bahkan, tidak menutup kemungkinan nilai CCI bisa mencapai titik ekstrem -200 hingga +200 atau -300 hingga +300.

Contoh CCI

Untuk mengetahui aplikasi CCI, Sobat Cuan bisa menyimak grafik CCI atas pergerakan harga BTC dalam rentang satu hari berikut!

Grafik di atas menunjukkan bahwa kondisi oversold terjadi ketika nilai CCI berada di bawah nilai -300 (titik A). Posisi ini memberi sinyal bagi para traders untuk segera melakukan aksi jual.

Nah, Sobat Cuan bisa melihat kondisi sebaliknya di grafik berikut!

Ketika garis CCI mendekati nilai +300 (pada titik B), maka situasi ini bisa dianggap sebagai kondisi overbought. Alhasil, trader harus mengantisipasi potensi tren penurunan harga setelah timbulnya peristiwa tersebut.

Sama seperti Stochastic Oscillator, indikator CCI juga bisa dimanfaatkan untuk melihat divergensi.

Ketika harga aset mencapai titik tertinggi terbarunya sementara garis CCI terlihat menyentuh titik terendah terbarunya ketika tren sedang bullish, maka kondisi itu bisa disebut sebagai divergensi negatif (negative divergence). Ini bisa menjadi sinyal bahwa tren harga akan segera berubah.

Namun, jika harga aset mencapai titik terendah terbarunya sementara garis CCI terus mencetak nilai tertinggi terbarunya saat kondisi pasar sedang bearish, maka hal tersebut bisa disebut sebagai divergensi positif (positive divergence). Traders bisa memanfaatkan kondisi tersebut untuk melakukan aksi jual.

16.1.3 The Price Rate of Change (ROC)

Indikator berikutnya adalah the Price Rate of Change (ROC). Ini adalah indikator teknikal berdasarkan momentum yang mengukur persentase perubahan antara harga aset saat ini dengan harga aset di masa lampau.

Pelaku pasar biasanya juga menggunakan indikator ROC untuk mengukur tingkat overbought atau oversold. Namun bedanya, pelaku pasar juga memeriksa tingkat ROC berapakah yang menyebabkan tren harga berbalik arah di masa lalu. Dalam hal ini, pelaku pasar akan mencari nilai spesifik ROC, baik positif maupun negatif, yang bertepatan dengan titik perubahan harga aset di masa silam.

Indikator ini digambarkan dalam bentuk garis yang nilainya bergerak di atas atau di bawah 0. Tren harga yang membaik biasanya tercermin dari kenaikan garis ROC ke teritori positif alias di atas 0. Sehingga, pelaku pasar biasanya mengaitkan kondisi tersebut dengan aksi borong di pasar.

Begitu pun sebaliknya. Tren harga yang memburuk akan terlihat dari garis ROC yang terus melempem ke teritori negatif. Pelaku pasar biasanya menganggap hal tersebut sebagai cerminan aksi jual di pasar.

Ketika ROC terlihat mencapai nilai-nilai ekstrem, pelaku pasar harus meningkatkan kewaspadaannya akan perubahan tren pergerakan harga. Jika memang pergerakan harga aset tersebut mengonfirmasi sinyal yang diberikan ROC, maka pelaku pasar harus segera melakukan trading.

Contoh ROC

Sama seperti indikator oscillator lainnya, ROC juga kerap dimanfaatkan sebagai indikator yang bisa memberi sinyal perubahan tren harga di masa depan melalui divergensi. Dalam ROC, divergensi terjadi ketika arah pergerakan harga aset berbeda dengan arah pergerakan garis ROC.

Sobat Cuan bisa memahami maksud di atas melalui grafik ROC Bitcoin dalam rentang 1 hari berikut!

Grafik di atas menunjukkan bahwa garis ROC terus mencetak nilai terendah baru sementara harga BTC terus mencetak harga tertinggi barunya. Kondisi yang disebut divergensi negatif ini semestinya bikin pelaku pasar mengantisipasi pelemahan harga di masa yang akan datang.

Di sisi lain, divergensi positif terjadi ketika harga aset terus menuju nilai terendah terbarunya meski garis ROC mencetak nilai tertinggi baru. Dalam situasi tersebut, pelaku pasar bisa mempertimbangkan untuk melakukan aksi beli karena tren harga akan menguat sebentar lagi. Sobat Cuan bisa menengok contohnya di grafik berikut.

16.1.4 Average Directional Movement Index (ADX)

ADX adalah indikator yang digunakan pelaku pasar untuk mengukur kekuatan tren pergerakan harga secara keseluruhan. Indikator ini dihitung berdasarkan Moving Average dari satu rentang harga aset tertentu pada satu rentang waktu tertentu. Pelaku pasar bisa memanfaatkan ADX untuk trading aset apapun, mulai dari saham, emas, kripto, reksa dana, hingga kontrak berjangka.

ADX terdiri dari beberapa tingkatan nilai dari 0 hingga 100 yang kerap digunakan pelaku pasar untuk mengidentifikasi tren yang paling kuat dan paling menghasilkan cuan ketika trading. Selain itu, nilai-nilai tersebut juga memberi petunjuk bagi pelaku pasar untuk menentukan apakah harga aset bergerak dalam sebuah tren atau tidak.

Indikator ADX sendiri digambarkan dalam bentuk garis tunggal yang tidak menuju arah tertentu dan bergerak di antara 0 hingga 100. Jika garis ADX berada di atas 25, maka pelaku pasar bisa melancarkan strategi trading berdasarkan tren. Namun, jika nilai ADX di bawah 25, maka pelaku pasar perlu menjauhi strategi tersebut.

Secara lebih rinci, berikut adalah tingkatan nilai yang umum berlaku di dalam ADX.

Contoh ADX

Sobat Cuan bisa melihat contoh ADX melalui garis ADX Bitcoin dalam rentang satu hari berikut!

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, nilai ADX di atas 25 menunjukkan penguatan tren harga aset. Namun, ketika harga BTC menciptakan nilai tertinggi baru dan garis ADX terus mencetak nilai terendah baru, maka tren penguatan harga BTC perlahan-lahan menjadi lemah. Nah, kondisi inilah yang disebut sebagai divergensi negatif (negative divergence) di dalam ADX.

Secara umum, divergensi bukanlah sinyal atas pembalikan tren harga aset. Hal itu justru merupakan peringatan bahwa momentum tren tengah berubah. Sehingga, pelaku pasar bisa memanfaatkan hal tersebut untuk memperketat stop-loss atau menarik sebagian cuannya.

Di samping itu, seperti yang telah disinggung sebelumnya, garis ADX tidak mengarah ke satu titik tertentu. Sehingga, jika nilai ADX berada di atas 25, maka ada kemungkinan tren harga aset malah bisa jadi terus melemah. Sobat Cuan bisa menengok contohnya di grafik berikut!

Grafik di atas menunjukkan bahwa ketika harga Bitcoin terus mencetak harga terendah terbarunya dan nilai terendah baru garis ADX lebih tinggi dari sebelumnya, maka tren pelemahan harga Bitcoin semakin melemah. Pelaku pasar bisa membaca sinyal ini sebagai pertanda bahwa momentum tren kemungkinan akan berubah.

16.1.5 Ultimate Oscillator (ULTOSC)

Ultimate Oscillator adalah indikator teknikal yang dikembangkan untuk mengukur momentum harga aset di beberapa kerangka waktu tertentu.

Indikator berisikan pembobotan atas rata-rata pergerakan harga aset di tiga kerangka waktu yang berbeda, biasanya dalam tujuh, 14, dan 28 sesi perdagangan, dan punya volatilitas ringan. Namun, indikator ini memberikan sinyal-sinyal trading yang lebih sedikit jika dibandingkan indikator oscillator lain yang bergantung pada satu kerangka waktu saja.

Dalam menggunakan indikator tersebut, trader biasanya menangkap sinyal jual dan beli dari hasil divergensi. Tetapi, divergensi milik ULTOSC terbilang lebih sedikit dibandingkan indikator oscillator lainnya karena ULTOSC disusun di atas kerangka waktu yang berbeda-beda.

Indikator ULTOSC digambarkan ke dalam sebuah garis yang bergerak antara nilai 0 hingga 100. Mirip seperti indikator RSI, level oversold terjadi ketika garis melintang di bawah level 30 sementara level overbought terjadi ketika garis ULTOSC menembus di atas level 70.

Contoh ULTOSC

Sinyal trading muncul ketika harga aset bergerak berlawanan arah dengan indikator ULTOSC. Namun, pelaku pasar perlu memperkuat keputusan trading mereka berdasarkan tiga karakteristik berikut.

  1. Divergensi bullish mesti sudah terbentuk. Ini adalah kondisi di mana harga aset terus mencetak nilai terendah terbarunya, namun titik terendah baru indikator ULTOSC menjadi lebih tinggi dari sebelumnya.
  2. Nilai terendah pertama ULTOSC harus di bawah 30. Hal ini mengindikasikan bahwa divergensi bergerak dari teritori oversold dan kemungkinan besar akan mengerek harga aset ke depan.
  3. Garis ULTOSC mesti menjulang di atas divergensi tinggi, yakni titik tertinggi di antara dua nilai terendah dari divergensi tersebut.

Agar kamu tak bingung dengan penjelasan di atas, yuk tengok contohnya di grafik ULTOSC Bitcoin dalam rentang 15 menit berikut!

Dari grafik di atas, Sobat Cuan bisa melihat bahwa harga aset terendah di titik B lebih rendah dari titik harga terendah di titik A. Di saat yang bersamaan, titik terendah garis ULTOSC di titik D juga ternyata lebih tinggi dari level terendah sebelumnya, yakni titik C. Kondisi ini sesuai dengan syarat pertama sinyal trading seperti tertera di atas.

Selain itu, titik C juga berada di bawah level 30, persis sama seperti poin ke-dua karakteristik di atas.

Kemudian, kamu juga bisa melihat bahwa titik ULTOSC tertinggi setelah poin D terlihat melampaui poin E. Nah, di titik inilah kamu bisa melakukan aksi beli.

Lantas, bagaimana caranya kamu bisa menerima sinyal untuk melakukan aksi jual? Sama seperti sinyal aksi beli, terdapat tiga syarat yang perlu dipenuhi sebelum kamu melakukan aksi beli.

  1. Divergensi bearish mesti sudah terbentuk. Ini adalah kondisi di mana harga aset terus mencetak nilai tertinggi terbarunya, namun titik terendah baru indikator ULTOSC menjadi lebih tinggi dari sebelumnya.
  2. Nilai tertinggi pertama ULTOSC harus di atas 70. Hal ini mengindikasikan bahwa divergensi bergerak dari teritori overbought dan kemungkinan besar akan menyeret harga aset turun ke depan.
  3. Garis ULTOSC mesti tenggelam di bawah divergensi rendah, yakni titik terendah di antara dua nilai tertinggi dari divergensi tersebut.

Contohnya bisa kamu lihat di grafik ULTOSC BTC dengan rentang 1 hari berikut!

Harga tertinggi aset yang berada di titik B lebih tinggi dari titik tertinggi sebelumnya, yakni di titik A. Di saat yang bersamaan, titik terendah garis ULTOSC di titik D juga ternyata lebih rendah dari level tertinggi sebelumnya, yakni titik C yang berada di atas level 70.

Kemudian, kamu bisa melihat bahwa garis ULTOSC terendah di TITIK E. Nah, ketika garis ULTOSC berikutnya menyentuh level yang sama setelah titik D, maka kamu bisa melakukan aksi jual.



Sumber : pluang.com

6. Moving Average: Penjelasan dan Penggunaannya

6.1 Latar Belakang

Moving Average (MA), yaitu garis yang kita dapat dari perhitungan harga sebelum hari ini, yang mana garis tersebut menampilkan pergerakan harga rata-rata dari suatu saham dalam suatu rentang waktu tertentu.

Misalnya dalam rentang 5 hari (1 minggu), 20 hari (1 bulan), 60 hari (3 bulan), maupun 120 hari (6 bulan). Sebab itu dapat dikatakan moving average 60 berarti pergerakan harga 3 bulan ke belakang.

Menggunakan MA merupakan cara ampuh untuk mengukur momentum serta memastikan tren, termasuk menentukan support area dan resistance area. MA adalah indikator lagging yang bereaksi terhadap peristiwa yang sudah terjadi.

Indikator ini tidak kita gunakan sebagai alat untuk memprediksi harga ke depan, melainkan kita gunakan untuk memastikan dan menganalisis tren harga saham.

Meski terdengar rumit, namun MA sebenarnya merupakan alat penting dalam analisis teknikal yang digunakan oleh para trader

Dalam artikel ini, Sobat Cuan juga akan memahami tiga jenis rata-rata bergerak yang sering digunakan yaitu: Simple Moving Average (SMA), Weighted Moving Average (WMA), Exponential Moving Average (EMA). 

6.1.1 Apa Itu Moving Average

Moving Average adalah indikator yang membantu trader memahami tren dalam pergerakan harga.

Mereka meratakan fluktuasi harga dan membantu dalam memprediksi tren yang mendasarinya. Penggunaannya sudah diterapkan sejak 1829 dalam menghitung rata-rata tingkat kematian.

Dalam dunia analisis teknikal, MA menjadi sangat penting dan dapat ditemukan dalam berbagai perangkat lunak. 

Meskipun umumnya digunakan dalam trading, konsep rata-rata bergerak juga diterapkan dalam Analisis Seri Waktu dan Pengolahan Sinyal Digital.

6.1.2 Konsep Dasar Moving Average

Pada dasarnya, konsep MA digunakan untuk mengetahui seberapa jauh harga saham dari trennya, dengan menghitung rata-rata harga suatu saham.

Dengan menggunakan rentang waktu yang berbeda-beda, seorang trader dapat menganalisis tren pergerakan harga suatu saham. Umumnya rentang waktu yang biasa digunakan oleh trader adalah 5 hari, 10 hari, 50 hari, 100 hari, dan 200 hari.

Perhatikan tabel di bawah ini

Date Close 5 Day Moving Average
29-Aug-2022 161  
30-Aug-2022 159  
31-Aug-2022 157  
1-Sep-2022 158  
2-Sep-2022 156  
6-Sep-2022 155 158
7-Sep-2022 156 157
8-Sep-2022 154 156
9-Sep-2022 157 156
12-Sep-2022 163 156
13-Sep-2022 154 157

Tabel di atas menghitung moving average 5 hari dari saham AAPL. 5 baris pertama belum memiliki nilai moving average dikarenakan untuk menghitung moving average 5 hari, kita harus lebih dahulu memiliki nilai saham selama minimal 5 hari.

6.1.3 Penggunaan Moving Average

Penerapan yang paling umum dari MA yaitu untuk mengidentifikasi arah tren dan untuk menentukan garis support dan resistance.

Adapun fungsinya adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengidentifikasi tren harga saham.
  2. Untuk mengetahui pembalikan arah tren.
  3. Untuk menentukan support level dan resistance.

6.2 Mengenal MA Lebih Dalam 

6.2.1 Penjelasan tentang Moving Average

Moving average merupakan salah satu indikator analisis teknikal yang sangat digemari oleh para trader dan investor.

Tujuan dari indikator ini adalah memberikan petunjuk mengenai arah tren harga suatu aset di masa mendatang kepada para pelaku pasar.

Proses pengamatan indikator  ini dilakukan dengan melihat rerata pergerakan harga suatu aset dalam rentang waktu tertentu, biasanya menggunakan kerangka waktu harian.

Rerata pergerakan harian tersebut kemudian dibandingkan dengan rerata pergerakan harga pada hari-hari sebelumnya, memberikan kemampuan kepada investor dan trader untuk menganalisis tren pergerakan harga secara lebih terperinci.

Selain memberikan gambaran mengenai tren pergerakan harga, MA juga bermanfaat mengurangi dampak fluktuasi harga yang bersifat acak atau sembrono dalam jangka pendek. 

Hal ini penting karena seringkali, pelaku pasar dapat keliru dan terjebak dalam mengambil keputusan investasi ketika menghadapi fluktuasi harga yang terlihat tidak terduga.

6.2.2 Cara Membaca Moving Average

Dalam menganalisis arah pergerakan harga suatu aset dengan menggunakan moving average, investor dan trader umumnya menentukan posisi support dan resistance.

Secara sederhana, posisi support merujuk pada titik terendah dalam pergerakan harga suatu aset dalam periode tertentu, sementara posisi resistance mengacu pada titik tertinggi.

Meskipun demikian, karena titik support dan resistance menggunakan data historis, keduanya dianggap sebagai indikator yang agak lambat (lag indicator). Semakin besar rentang waktu yang digunakan, semakin besar pula keterlambatan data yang terjadi.

Sebagai contoh, moving average selama 200 hari akan memiliki keterlambatan data yang lebih signifikan dibandingkan yang 20 hari. Umumnya, investor dan trader lebih sering menggunakan moving average 50 hari dan 200 hari karena memberikan sinyal pergerakan harga yang lebih akurat.

MA dapat disesuaikan sesuai preferensi masing-masing trader dan investor. Mereka memiliki fleksibilitas untuk memilih rentang waktu dengan pilihan umum seperti 15, 20, 30, 50, 100, dan 200 hari. Semakin kecil rentang waktu yang digunakan, semakin responsif indikator tersebut terhadap perubahan harga dalam jangka pendek, dan sebaliknya.

Perbedaan tujuan antara trading dan investasi juga mempengaruhi pemilihan rentang waktu moving average.

Trader jangka pendek cenderung menggunakan indikator tersebut dengan rentang waktu pendek, sementara investor jangka panjang lebih memilih moving average berjangka waktu lebih panjang.

Membaca moving average relatif mudah. Moving average yang naik menandakan tren harga sedang naik, sering kali dikonfirmasi oleh bullish crossover ketika moving average jangka pendek melintasi di atas moving average jangka panjang.

Sebaliknya, jika indikator itu menurun menunjukkan bahwa harga aset sedang turun, biasanya terkonfirmasi melalui bearish crossover ketika moving average jangka panjang melintasi di atas jangka pendek.

Moving Average AAPL, Sumber: TradingView (2023)

Gambaran tersebut dapat dilihat pada grafik harga saham AAPL, dimana moving average 10 hari ditandai dengan warna merah dan moving average 200 hari ditandai dengan warna biru. Fase bearish terjadi saat garis turun melintasi garis biru, dan sebaliknya.

Selain sebagai alat untuk melihat tren, kalkulasi MA juga menjadi dasar untuk analisis teknikal lainnya, seperti moving average convergence divergence (MACD).

6.3 Jenis-jenis Moving Average

Moving average yaitu indikator yang biasa kita pakai dalam analisis teknikal. Indikator ini cukup populer di antara para trader. Ada banyak versi yang biasa investor gunakan sebagai indikator analisis teknikal. 

Pertama, Simple Moving Average (SMA). Kedua, Weighted Moving Average (WMA). Ketiga, Exponential Moving Average (EMA)

Cara menggunakan ketiga jenis moving average tersebut mirip satu sama lain.

Namun yang membedakan dari semua jenisnya adalah pola hitungan rata-ratanya yang memberatkan suatu nilai periode tertentu dengan bobot yang berbeda.

Misalnya apabila pada SMA hanya menggunakan rata-rata biasa, WMA dan EMA menggunakan sistem pembobotan, sehingga dari pembobotan ini dapat menghasilkan nilai rata-rata yang berbeda.

Jadi, bisa kita simpulkan perbedaannya ada pada tingkat sensitivitas yang masing-masing indikator tersebut berikan terhadap harga saham.

6.3.1 Simple Moving Average

Simple Moving Average (SMA) merupakan salah satu indikator paling terkenal dan simpel yang sering digunakan oleh trader.

Ini adalah bentuk paling simpel dari MA. Indikator ini dihitung dengan menggunakan rerata aritmatika dari salah satu set nilai tertentu.

Dengan kata lain, serangkaian data aset digabungkan dulu bersama-sama untuk kemudian dibagi dengan harga aset di set tertentu tersebut.

Keunggulan SMA terletak pada kesederhanaannya, di mana semua data memiliki bobot yang sama.

Misalnya, jika kita mempertimbangkan SMA 10 hari, setiap hari memiliki pengaruh yang setara dalam perhitungan.

6.3.1.1 Kaitannya dengan Osilator Momentum

SMA juga memiliki kaitan dengan Osilator Momentum. Perubahan dalam SMA selama suatu periode setara dengan osilator momentum dari periode yang sama, dibagi panjang periode. 

Dengan kata lain, jika SMA menunjukkan kenaikan, itu berarti harga saat ini lebih tinggi dibandingkan beberapa hari sebelumnya, dan sebaliknya.

6.3.1.2 SMA Bertingkat

Menggunakan hasil SMA sebagai input untuk SMA lain menghasilkan output yang lebih halus, disebut sebagai kaskade. 

Proses ini dapat menciptakan pola yang mirip dengan fungsi Gaussian, memberikan gambaran yang lebih jelas.

6.3.2 Exponential Moving Average (EMA)

Exponential Moving Average (EMA) adalah jenis MA yang memberikan bobot lebih ke harga terbaru agar analisisnya lebih responsif dengan informasi-informasi baru.

Untuk menghitung EMA, investor harus menghitung simple moving average terlebih dulu dalam rentang waktu tertentu.

Kemudian, untuk memberi bobot kepada EMA, investor akan mengalikannya dengan faktor pengali (multiplier), di mana rumusnya adalah sebagai berikut, dimana multiplier ditulis sebagai α : 

α= [Smoothing factor/(Periods + 1)]

  • Smoothing factor = Meskipun ada banyak pilihan yang dapat digunakan, pilihan yang paling umum adalah 2
  • Periods = Merupakan banyaknya data yang digunakan untuk menghitung rerata

Sebagai contoh, untuk 20 hari moving average, maka faktor pengalinya adalah [2/(20+1)]= 0,09.

Kemudian untuk menghitung exponential moving average, dapat menggunakan rumus berikut:

EMAHari ini = (Harga penutupan saham hari ini * α) + (EMAKemarin * (1 – α))

Perhatikan tabel di bawah ini

Date Close 5 Day EMA
29-Aug-2022 161  
30-Aug-2022 159  
31-Aug-2022 157  
1-Sep-2022 158  
2-Sep-2022 156  
6-Sep-2022 155 158
7-Sep-2022 156 157
8-Sep-2022 154 156
9-Sep-2022 157 157
12-Sep-2022 163 159
13-Sep-2022 154 157

Tabel di atas menghitung exponential moving average 5 hari dari saham AAPL di mana nilai α adalah 0,33. Lima baris pertama belum memiliki nilai exponential moving average karena harus lebih dahulu memiliki nilai saham selama minimal 5 hari. Kemudian untuk nilai EMA yang pertama kita bisa menggunakan rumus simple moving average

Komunitas trader lebih sering memilih EMA karena respons yang lebih cepat terhadap perubahan harga, dan EMA juga umum digunakan dalam pembuatan indikator teknis.

6.3.3 Mengenal Lebih Dekat Weighted Moving Average (WMA)

Weighted Moving Average (WMA) menggunakan bobot linear dalam perhitungannya, memberikan penekanan lebih besar pada data terbaru.

WMA juga memiliki hubungan dengan SMA, di mana perubahan WMA dapat dijelaskan sebagai perbedaan antara harga dan SMA yang digeser, dibagi (panjang + 1)/2.

6.3.3.1 WMA dan Regresi Linier

Mungkin mengejutkan, namun dengan kondisi tertentu, WMA dan SMA dapat digunakan untuk menghitung regresi linier sederhana dari harga.

Ini memberikan dimensi analisis tambahan bagi trader yang ingin mendalami strategi trading mereka.

Dengan memahami esensi dari konsep SMA, EMA, dan WMA, Sobat Cuan dapat meraih pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana menggunakan rata-rata bergerak untuk mendukung keputusan investasi.

Semakin dalam pemahaman, semakin besar pula keuntungan yang dapat diperoleh dalam merancang strategi trading yang efektif.

6.4 Sekilas Tentang MACD

Moving Average Convergence Divergence (MACD) merupakan indikator dalam analisis teknikal yang menunjukkan hubungan antara dua moving average dalam tren harga aset. 

Jadi, apa manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan indikator MACD? MACD digunakan oleh para trader untuk memahami kapan harga aset tersebut akan mengalami pergerakan bullish atau bearish.

Ditemukan oleh Gerard Appel pada 1979, MACD telah menjadi pilihan utama bagi trader di seluruh dunia selama bertahun-tahun.

Popularitasnya disebabkan oleh kemudahannya dan fleksibilitasnya, memungkinkan penggunaannya untuk menganalisis tren dan momentum.

Oleh karena itu, MACD sering diadopsi oleh trader yang beroperasi di berbagai pasar, termasuk saham, obligasi, komoditas, dan valuta asing.

6.4.1 Jenis MACD

Trader biasanya mengenal dua jenis MACD dalam analisis teknikal, yakni crossover dan divergence.

  1. Crossover adalah seni melihat tren garis MACD jika dibandingkan garis sinyalnya. Sebuah harga aset akan memasuki zona bearish jika garis MACD melintang di bawah garis  sinyal. Artinya, trader harus segera melepas asetnya.
  2. Divergence adalah suatu kondisi di mana garis MACD membentuk titik tertinggi dan terendah yang berseberangan dengan titik tertinggi dan terendah harga aset tersebut.

Kondisi bullish akan tercipta jika dua posisi terendah di garis MACD berkorespondensi dengan dua garis terbawah di harga aset.



Sumber : pluang.com

Mengapa Teknologi DeFi Akan Menjadi Masa Depan Jasa Keuangan?

Seiring dengan menghangatnya perbincangan tentang mata uang kripto, teknologi decentralized finance (DeFi) kian memantapkan posisinya sebagai masa depan jasa keuangan. Meski kerap dicibir sebagai tren sesaat, eksistensinya sebagai komplimen maupun substitusi jasa keuangan konvensional malah semakin populer.

DeFi diklaim sebagai revolusi besar dalam peradaban manusia. Setelah era berburu, meramu, bercocok tanam, kemudian masuk pada era industrialisasi, kini peradaban manusia memasuki ambang baru yakni era terdigitalisasi. Sebelumnya, Sobat Cuan bisa membaca mengenai apa itu DeFi di sini, ya.

Saat ini, segala aktivitas manusia hingga kepemilikan aset dilakukan dalam bentuk digital. Karenanya, revolusi jasa keuangan pun mengalihkan otoritas penerbitan mata uang yang semula hanya dimiliki bank sentral, kini terdesentralisasi.

Namun, mengapa sih, banyak orang mengatakan bahwa DeFi akan menjadi masa depan jasa keuangan? Apa yang membuatnya cukup spesial?

Baca juga: Cek pengertian DeFi di Sini!

Blockchain, Inisiator DeFi

Keuangan terdesentralisasi dimulai oleh sebuah sistem pencatatan keuangan digital bernama blockchain yang dirilis pada Agustus 2011.

Sistem ini memungkinkan pencatatan tiap transaksi antar blok yang dapat diedit oleh banyak pihak, namun tidak dapat benar-benar dihapus.

Seperti rantai block yang tidak terputus, seluruh riwayat transaksi tercatat dengan baik termasuk yang sudah maupun sebelum diedit penggunanya. Jika block-nya akan bertambah lagi, mayoritas pengguna dari blok transaksi yang sudah ada sebelumnya pun harus memberikan verifikasi sebagai jaminan kredibilitas.

Nah, DeFi sendiri berjalan di atas sistem smart contract, yang berjalan di atas sistem blockchain Ethereum. Teknologi decentralized finance sendiri diciptakan sebagai solusi atas minimnya akses masyarakat terhadap jasa keuangan sebagai berikut:

  1. Beberapa orang tidak memiliki akses untuk membuat rekening bank atau menggunakan produk jasa keuangan.
  2. Terdapat biaya yang dibebankan ke nasabah dalam memanfaatkan jasa keuangan.
  3. Terdapat potensi penyalahgunaan data yang bisa dilakukan oleh perusahaan jasa keuangan.
  4. Perusahaan jasa keuangan rentan diintervensi oleh pemerintah atau regulator.
  5. Kirim mengirim uang bisa berjalan dalam waktu lama.
  6. Perusahaan jasa keuangan tidak pernah transparan dalam memberikan data nasabah.

Karena manfaat tersebut, ditambah dengan keamanan sistem blockchain yang mumpuni, maka tak heran jika banyak pihak mengatakan bahwa DeFi bisa menjadi solusi keuangan masyarakat di masa depan. Apalagi, segala kegiatan jasa keuangan seperti pinjam meminjam, urun dana, hingga asuransi bisa dilakukan di atas jaringan DeFi.

Namun, di tengah manfaat yang ditawarkan, apakah teknologi DeFi benar-benar punya kredibilitas yang baik?

Menyoal Kredibilitas Decentralized Finance

Seiring dengan popularitas mata uang kripto yang meroket, banyak pihak yang mempertanyakan kredibilitasnya. Jika dibandingkan dengan uang fiat yang diterbitkan otoritas moneter masing-masing negara, kredibilitas kripto dinilai terlalu abstrak.

Namun, tentu saja semua bergantung pada perspektif kamu terkait seperti apa underlying, alias faktor intrinsik, yang mendasari kredibilitas tersebut.

Mereka yang optimistis terhadap teknologi DeFi ke depan sangat percaya bahwa sistem blockchain benar-benar ampuh diserang peretasan mengingat histori transaksinya terdistribusi pada puluhan juta jaringan komputer.

Jika block-nya akan bertambah lagi, mayoritas pengguna dari block yang sudah ada sebelumnya pun harus memberikan verifikasi sebagai jaminan kredibilitas. Kecuali memang ada 51% attack, seperti yang dijelaskan dalam artikel berikut.

Namun, mereka yang skeptis tetap meragukan keamanan dari jaringan ini. Terlebih, jaringan DeFi tidak diawasi oleh pemerintah dan regulator, yang sewaktu-waktu bisa mengintervensi jaringan jika terjaid hal yang tak diinginkan.

Namun, perlu diingat bahwa sistem jasa keuangan konvensional terbilang minim inovasi meski memang teregulasi dengan baik. Makanya, tak heran jika iklim decentralized finance sangat dinamis sekali dengan banyaknya aplikasi-aplikasi terdesentralisasi di ranah DeFi.

Slaah satu contohnya adalah BXTB, yang digunakan untuk menyederhanakan transaksi digital menggunakan token yang dapat ditambang oleh semua orang dan ditransaksikan. Menariknya, penambang bisa memperoleh yield dari tiap transaksi menggunakan token yang ditambangnya meski sudah alih kepemilikan.

Para pegiat DeFi kini mulai mengembangkan produk-produk yang memungkinkan aset konvesionalmu ikut terdigitalisasi. Tren ini dimulai oleh platform derivatif dalam komunitas DeFi yakni Synthetix.

Synthetix berencana meluncurkan produk yang dinamakan synthetix stock. Idenya adalah di masa depan Sobat Cuan akan dapat bertransaksi saham dalam komunitas DeFi lewat instrumen sejenis kripto.

Baca juga: Mengapa DeFi Bakal Jadi Saingan Sengit Jasa Keuangan Konvensional?

Bagaimana Masa Depan Decentralized Finance?

Di masa depan, bukan tidak mungkin seluruh aktivitas keuangan dan kepemilikan aset kamu dilakukan dalam protokol DeFi. Entah merupakan terobosan yang baik atau justru semakin rapuh, dunia keuangan melangkah pasti ke arah digital dengan otoritas yang terdesentralisasi.

Apalagi, pandemi COVID-19 yang melanda dunia sejak tahun lalu memang mengubah banyak hal seperti pola hidup dan kebiasaan manusia. Pembatasan sosial yang diberlakukan seluruh negara di dunia membuat manusia lebih banyak beraktivitas di dalam rumah dengan menggunakan platform digital.

Sedikit banyak hal ini membawa angin segar bagi komunitas DeFi. Bukan hanya aktivitas individu, platform digital menjadi primadona bagi tiap perusahaan yang tetap berupaya bertahan hidup di tengah situasi pandemi.

DeFi berevolusi dari sekedar alternatif pembayaran menjadi primadona baru instrumen investasi. Banyaknya terobosan yang diinsiasi pegiat DeFi membuat opsi keuangan digital tampak menarik.

Kemudian, seiring dengan kian banyaknya pengguna DeFi, di masa depan sistem ini pun akan terus berinovasi. Layer-layer DeFi mungkin dibutuhkan untuk menopang sistem yang telah ada agar dapat tetap memberi ruang inovasi.

Jadi, sejauh mana Sobat Cuan mempercayakan keuangan pada DeFi?

Baca juga: Mau Cuan dari DeFi? Simak Caranya di Sini!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: finance monthly, benzinga



Sumber : pluang.com

Yuk, Kenalan dengan 11 Sektor di Indeks SP 500!

Sobat Cuan mungkin sudah tahu, atau mungkin mengenal baik, indeks S&P 500. Kamu mungkin tahu bahwa indeks ini berisikan 500 perusahaan bergensi seantero Amerika Serikat. Namun, apakah Sobat Cuan tahu bahwa indeks ini berisikan terbagi-bagi ke dalam beberapa sektor?

Ya, betul. Indeks S&P 500 memiliki 11 sektor di dalamnya. Sektor-sektor ini disusun berdasarkan jenis-jenis kegiatan usaha para perusahaan yang tergabung di dalamnya. Tujuannya, agar investor bisa membaca dengan jelas, sektor apa sajakah yang berperan paling besar di dalam membentuk nilai indeks bonafide tersebut.

Selain itu, pembagian sektor di indeks S&P 500 juga bisa membantu manajer investasi dan investor untuk menentukan alokasi dana yang perlu ditempatkan dalam satu portofolio. Jika seorang investor ingin membuat satu portofolio yang terdiversifikasi, maka ia harus memasukkan seluruh saham-saham yang terdapat di masing-masing sektornya.

Klasifikasi 11 sektor S&P 500 ini disusun oleh sang empunya indeks, yakni Standard & Poor (S&P) dan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Keduanya dikenal sebagai Global Industry Classification Standard (GICS).

Nah, penasaran dengan klasifikasi 11 sektor di S&P 500? Yuk, simak artikel ini sampai habis ya!

Baca juga: Mau Kaya? Warren Buffett Minta Kamu Investasi di S&P 500!

Mengenal 11 Sektor Indeks S&P 500

1. Teknologi Informasi

Sektor ini terdiri dari beberapa perusahaan yang mengembangkan, atau memasarkan, barang atau jasa berbasis teknologi. Produk-produk teknologi tersebut mencakup komputer, microprocessors, dan sistem operasi.

Adapun contoh perusahaan yang bergerak di sektor ini adalah Microsoft Corporation, Oracle Corp., dan Mastercard Inc. Belakangan, kinerja sektor ini sering dilirik investor karena pertumbuhannya yang luar biasa.

2. Sektor Kesehatan

Sektor ini berisikan perusahaan-perusahaan yang bergerak di jasa atau produk kesehatan, perusahaan farmasi, dan perusahaan yang mendasarkan produknya dari riset dan pengembangan (R&D).

Anggota sektor ini terdiri dari Johnson & Johnson, Pfizer, hingga pendatang baru S&P 500 yakni Organon.

3. Keuangan

Sektor ini terdiri dari perusahaan-perusahaan yang bergelut di bidang keuangan, investasi, dan transaksi atau penyimpanan uang. Biasanya, produk-produk unggulan mereka adalah kartu kredit, jasa deposito dan kredit, hingga asuransi.

Perusahaan di sektor-sektor ini biasanya berisikan nama-nama besar dan sudah malang melintang dalam waktu lama. Misalnya, Bank of America Corp, JPMorgan Chase & Co., dan Goldman Sachs, dan perusahaan milikl begawan saham Warren Buffett, Berkshire Hathaway.

4. Perusahaan Barang-Barang Konsumen Non-Primer

Sektor ini memiliki nama lain yakni Consumer Discretionary. Ini merupakan sektor yang diisi oleh perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang atau jasa mewah yang bukan merupakan kebutuhan pokok. Misalnya, mobil, perhiasan, alat-alat olahraga, dan alat-alat elektronik biasa.

Penghuni sektor ini diantaranya adalah Starbucks, Best Buy, dan Amazon.

5. Jasa Telekomunikasi

Sektor ini terdiri dari perusahaan-perusahaan yang produknya mampu menghubungkan satu orang dengan individu lainnya. Contohnya adalah penyedia jaringan internet hingga provider seluler. Namun, sektor ini juga berisikan perusahaan media, hiburan, dan media interaktif.

Contoh perusahaan yang ada di dalam sektor ini adalah AT&T, CBS Corp., dan Facebook. Kemudian, Netflix Inc. and Walt Disney Co. juga tergabung dalam jajaran perusahaan jasa telekomunikasi.

Baca juga: Mau Jadi Sultan di Masa Depan? Yuk, Investasi S&P 500!

6. Industri

Sektor S&P 500 ini terkenal dengan ragam jenis perusahaan yang ada di dalamnya, mulai dari maskapai penerbangan hingga perusahaan transportasi kereta api. Karena ragam perusahannya cukup banyak, sektor ini bahkan masih memiliki 14 subsektor di bawahnya, di mana subsektor terbesar adalah dirgantara dan pertahanan serta konstruksi.

Contoh perusahaan yang terdapat di sektor ini adalah Delta Air Lines dan Southwest Airlines, FedEx Corporation, dan Boeing Company.

7. Bahan-Bahan Pokok

Sektor ini berisikan perusahaan yang memproduki barang-barang pokok, seperti makanan, minuman, dan barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Salah satu perusahaan yang terkenal di sektor ini adalah Procter & Gamble, yang memproduksi pemutih pakaian hingga deterjen. Terdapat pula Kroger, yang merupakan jaringan supermarket terbesar se-Amerika Serikat.

8. Energi

Sektor energi terdiri dari semua perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas serta bisnis bahan bakar. Misalnya, seperti Exxon Mobil, Chevron, dan Kinder Morgan.

9. Utilitas

Sektor ini berisikan perusahaan-perusahaan yang menyediakan produk-produk berdaya manfaat tinggi, seperti listrik, air, dan gas rumah tangga.

Salah satu perusahannya adalah Duke Energy, yang menghasilkan dan mendistribusikan listrik.

10. Real Estat

Kelompok ini beranggotakan perusahaan-perusahaan pengembang perumahan dan bangunan. Contoh utamanya seperti American Tower Corp., Boston Properties, dan Equinix.

11. Material

Sektor di S&P 500 ini berisikan perusahaan-perusahaan yang menyediakan bahan baku bagi industri-industri lainnya. Contohnya adalah perusahaan pertambangan yang menambang emas, zinc, dan tembaga.

Sektor ini juga mencakup perusahaan yang bergerak di produk perhutanan dan pengemasan, seperti Intertape Polymer Group.

Sektor Apakah yang Menguasai Indeks S&P 500?

Menurut S&P, berikut adalah komposisi masing-masing sektor dalam membentuk S&P 500. Data ini diambil pada Jumat (4/6).

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Kamu Perlu Investasikan Danamu di Saham Blue Chip

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Standard and Poor, Corporate Finance Institute



Sumber : pluang.com