Category Archives: Pluang

Mengenal Konsep Makroekonomi

Kinerja aset investasi, khususnya instrumen pasar modal, tentu tidak bisa lepas dari faktor makroekonomi. Bahkan, investor bisa dibilang harus memperhatikan makroekonomi sebagai faktor esensial dalam menganalisis kinerja pasar modal. Nah, lantas, apa sih pengertian makroekonomi?

Investopedia menyebut, makroekonomi adalah cabang dari ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku ekonomi secara luas atau agregat. Sementara itu, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed menerangkan bahwa makroekonomi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antar pelaku ekonomi namun melalui kacamata yang lebih besar. Makanya, tak heran jika beberapa contoh pembahasan makroekonomi mencakup pertumbuhan ekonomi hingga tingkat pengangguran yang terdapat di satu wilayah.

Mengapa Kamu Perlu Mempelajari Makroekonomi Ketika Berinvestasi?

Kondisi makroekonomi suatu wilayah merupakan cerminan atas “tingkat kesehatan” ekonomi wilayah tersebut. Nah, kondisi itu tentu juga akan berpengaruh ke daya tarik beberapa instrumen investasi dan nantinya bisa membantumu untuk menentukan keputusan investasi ke depan.

Misalnya, kamu mendengar kabar bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diramal tumbuh signifikan tahun ini. Berita tersebut seharusnya memacumu untuk membenamkan dana di pasar modal. Mengapa demikian?

Ketika pertumbuhan ekonomi terbilang mumpuni, masyarakat akan terdorong untuk terus meningkatkan permintaan barang dan jasa. Nah, kondisi tersebut nantinya bisa mendongkrak kinerja keuangan para emiten pasar modal, sehingga harga sahamnya juga berpotensi membaik di masa depan. Melihat kesempatan ini, tentu Sobat Cuan pasti akan berminat untuk terjun ke pasar modal, bukan?

Tapi, makroekonomi tak hanya mempengaruhi kinerja instrumen pasar modal saja lho, Sobat Cuan. Naik-turunnya harga emas, aset kripto, bahkan Dolar AS pun sangat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi, misalnya inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Makanya, bisa dibilang bahwa makroekonomi tak hanya penting untuk melihat kesehatan ekonomi suatu wilayah semata namun juga membawa dampak ke instrumen investasi. Bahkan, ada kalanya kinerja instrumen investasi justru mencerminkan kondisi ekonomi suatu wilayah. Sebagai contoh, analis kadang menggunakan angka indeks pasar modal untuk mengukur level kesehatan satu negara tertentu.

Mengenal Arus Lingkar Pendapatan

Di dalam mempelajari makroekonomi, Sobat Cuan pun perlu memahami arus lingkar pendapatan (circular flow of income) yang merupakan dasar utama ilmu makroekonomi. Tujuannya, tentu agar logika ekonomimu semakin tajam.

Circular flow of income sendiri adalah diagram yang menunjukkan perputaran uang serta barang dan jasa antara dua atau lebih pelaku ekonomi di dalam masyarakat. Selain itu, diagram ini juga mencerminkan bahwa masing-masing pelaku ekonomi ternyata saling terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. Hasil interaksi itu nantinya bisa diturunkan ke dalam indikator-indikator makroekonomi, misalnya pertumbuhan ekonomi.

Konsep diagram ini cukup sederhana, Sobat Cuan. Misalnya, jika kamu mendapat gaji karena bekerja untuk satu perusahaan, maka artinya perusahaan tersebut telah mengeluarkan belanja (expenditure) untukmu sementara kamu mendapat pendapatan (income).

Nah, gaji tersebut tentu akan kamu gunakan konsumsi, bukan? Sehingga arus uangmu nantinya akan kembali mengalir ke produsen barang dan jasa. Dalam hal ini, maka kamu telah mengeluarkan belanja (expenditure) bagi para produsen tersebut sementara sang perusahaan akan menerima pendapatan usaha (income). Berikut adalah contoh diagramnya!

Siapa saja sih pelaku-pelaku ekonomi tersebut? Dan apa saja peran mereka masing-masing di dalam ekonomi? Yuk, simak bersama!

Jenis Pelaku Ekonomi

1.Korporasi

Korporasi adalah pihak yang memproduksi barang dan jasa ke masyarakat dan menerima uang sebagai imbal baliknya. Di sisi lain, mereka juga membayar faktor produksi seperti tanah, tenaga kerja, modal, dan kewirausahaan dalam bentuk uang sewa, gaji, bunga, dan dividen/laba ke pelaku ekonomi lainnya.

2. Rumah Tangga

Selain menjadi konsumen barang dan jasa, rumah tangga juga menjadi penyedia faktor produksi bagi korporasi contohnya adalah tanah, kapital, dan kewirausahaan. Pihak ini menerima pendapatan dalam bentuk uang sewa, gaji, bunga, dan dividen/laba.

3. Pemerintah

Sebagai lembaga yang mendistribusi pendapatan masyarakat, pemerintah akan mengutip pajak baik dari korporasi maupun rumah tangga. Nantinya. pemerintah akan meredistribusi penerimaan perpajakan tersebut ke masyarakat dalam bentuk subsidi, infrastruktur, program jaminan sosial, dan pelayanan publik lainnya.

4. Sektor Asing

Sektor asing adalah sektor eksternal yang mengubah kondisi ekonomi suatu negara dari ekonomi tertutup menjadi ekonomi terbuka melalui kegiatan ekspor-impor dan arus modal. Pemerintah bisa mengatur keluar-masuk keterlibatan sektor asing di dalam ekonomi domestik melalui kebijakan perdagangan seperti bea masuk, kuota impor, dan regulasi non-moneter lainnya.

5. Sektor Finansial

Sektor jasa keuangan, yang terdiri dari bank dan institusi lainnya, menyediakan jasa pinjam-meminjam bagi pelaku ekonomi lainnya.

Jika masyarakat, korporasi, dan pemerintah punya sisa pendapatan, maka mereka akan menaruhnya di produk tabungan perbankan. Nah, perbankan akan menggunakan tabungan tersebut untuk memberikan pembiayaan bagi korporasi demi mengekspansi usahanya atau ke masyarakat untuk membantu konsumsi mereka.

Mengenal Konsep Permintaan Agregat

Seluruh aktivitas di circular flow of income nantinya akan tercermin ke dalam satu istilah yang disebut permintaan agregat alias permintaan secara keseluruhan. Permintaan agregat adalah total permintaan barang dan jasa yang dihasilkan di dalam satu ekonomi di satu level harga tertentu dan dalam satu rentang waktu khusus.

Dalam jangka panjang, permintaan agregat akan setara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) jika level harganya sama. Namun pada kenyataannya, kalkulasi permintaan agregat menggunakan basis harga nominal sementara perhitungan PDB menggunakan harga riil, yakni harga nominal yang telah dikurangi tingkat inflasi.

Seperti apa rumus menghitung permintaan agregat?

Y = C + I + G + (X – M)

Berikut keterangannya:

Y = Pengeluaran agregat / permintaan agregat.
C = Konsumsi barang dan jasa.
I = Investasi di barang modal, misalnya mesin, pabrik, peralatan berat, dan lainnya.
G = Pengeluaran pemerintah atas barang dan jasa.
X = Nilai ekspor
M = Nilai impor.

Sobat Cuan perlu ingat bahwa uang dari suatu negara akan mengalir ke negara importir jika ia mengimpor barang. Oleh karenanya, pendapatan di ekonomi domestik akan berkurang dan bikin permintaan agregat menyusut. Makanya, variabel M pada rumus di atas menjadi faktor pengurang.

Mengenal Konsep Penawaran Agregat

Penawaran agregat adalah lawan permintaan agregat, yang bisa dimaknai sebagai total penawaran barang dan jasa yang dihasilkan di satu ekonomi pada satu level harga tertentu di dalam rentang waktu yang spesifik.

Pada jangka pendek, penawaran agregat sangat responsif terhadap perubahan harga. Sebab, selama jangka waktu tersebut, kapasitas produksi produsen barang dan jasa terbilang terbatas sementara mereka juga tidak bisa membangun pabrik baru atau memasang teknologi untuk menambah produksi dalam semalam saja. Sehingga, kalau pun mereka ingin menambah produksi, mereka bisa meminta pekerjanya untuk lembur.

Namun, penawaran jangka panjang tidak akan begitu sensitif terhadap perubahan harga dalam jangka panjang. Sebab, ekonomi akan terus menjaga kondisi lapangan kerja penuh, sehingga nantinya pertumbuhan ekonomi akan dipengaruhi oleh faktor jangka panjang seperti kapital dan produktivitas.

Untuk memastikan ekonomi terus bergerak lancar, pemerintah harus mengelola ekonomi yurisdiksinya melalui serangkaian kebijakan dan regulasi, baik dari kebijakan moneter atau kebijakan fiskal. Selain itu, regulasi dan kebijakannya juga disusun agar sejalan dengan visi dan misi pemerintah ke depan.

Namun, dalam era ekonomi global seperti ini, setiap ekonomi satu negara terhubung dengan negara lain. Sehingga, kondisi makroekonomi global tentu akan berdampak ke ekonomi satu negara tertentu.



Sumber : pluang.com

6 Strategi Analisis Fundamental Saham

Sobat Cuan mau investasi dan punya uang dingin, tapi bingung mau investasi di mana? Nah, kamu bisa cari tahu caranya hanya dengan bermodal analisis fundamental!

Apa sih, alasannya? Nah, meskipun analisis fundamental tidak bisa digunakan untuk memprediksi arah pergerakan harga sebuah aset, namun instrumen dengan fundamental bagus akan bikin kamu cuan besar pada waktunya!

Namun, perlu diingat. Analisis fundamental akan sangat berguna bagimu jika berniat untuk investasi jangka panjang. Ambil contoh investasi di pasar saham. Cek saja, rata-rata harga saham saat ini pasti berkali lipat dari harganya 5-10 tahun yang lalu, bukan?

Hanya saja, kini persoalannya adalah perusahaan mana yang akan memberimu cuan lebih besar 5-10 tahun mendatang? Oleh karenanya, yuk simak tips ini jika kamu ingin mencoba cuan saham dengan bekal analisis fundamental!

Analisis Fundamental Perusahaan Incaranmu

Berikut ini adalah panduan sederhana dari memulai analisis fundamental saham incaran kamu ya, Sobat Cuan.

1. Perhatian Rasio Key Statistik 

Berbagai aplikasi trading saham saat ini sudah menyediakan data key statistics yang bisa kamu intip untuk melihat fundamental perusahaan secara garis besar.

Kamu bisa memanfaatkan laman ini guna menghemat waktu dan tenaga dibanding harus membuka laporan keuangan perusahaan yang tebal itu. Tentunya, ini hanya sebagai metode screening awal saja, ya.

Nah, dari mana sih, data statistik itu berasal? Asal tahu saja, Sobat Cuan, analis telah membuat rasio dari indikator kinerja perusahaan yang dipublikasikan untuk memudahkanmu menilai kinerja perusahaan.

Sebut saja ada Price to Earning Ratio (PER) yang memberitahumu harga saham dibanding dengan keuntungan perusahaan. Ada juga Earning per Share (EPS) mengindikasikan seberapa besar keuntungan dibandingkan dengan harga saham saat ini. Kenaikan EPS dalam 3-5 tahun terakhir merupakan sinyal bagus bahwa perusahaan tersebut akan semakin menguntungkan di masa depan.

Kemudian terdapat pula Price to Book Value (PBV) atau harga dibanding nilai buku perusahaan memberitaumu apakah harga saham yang berlaku saat ini sesuai dengan nilai bukunya. Jika terlalu mahal, biasanya analis akan memberikan sinyal jual. Terkadang perusahaan dengan PBV tinggi akan melakukan stock split supaya harganya kembali bersaing.

Baca juga: Borong Saham “Diskon” Saat Pandemi COVID-19, Strategi Cuan Jangka Panjang

2. Pahami Kinerja Perusahaan

Bagian paling penting dari berinvestasi adalah memahami bagaimana perusahaan tempatmu berinvestasi beroperasi.

Kamu harus paham betul bagaimana bisnis model perusahaan, berapa besar pangsa pasarnya, bagaimana produknya, hingga apakah produk tersebut memiliki paten atau sejalan dengan ketentuan atau tidak.

Di dunia usaha, tiap industri punya kultur yang berbeda satu sama lainnya. Skema usaha dari masing-masing perusahaan pun punya peranan penting dalam menentukan bagaimana dan kapan investasimu bisa cuan.

Konsumen masa kini semakin kritis, terkadang mereka memperhatikan pula aspek etik dalam proses produksi hingga ketaatan hukum perusahaan sebelum membeli produk. Kamu perlu mempelajari hal ini secara mendalam jika ingin investasi jangka panjangmu langgeng dan cuan.

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah profil pimpinan perusahaan dan pengambil keputusan. Tentu saja kamu tidak ingin melewatkan kesempatan emas berinvestasi pada perusahaan yang kompetitif, kan?

3. Analisis Fundamental lewat Laporan Keuangan 

Kamu mungkin sudah punya gambaran besar bagaimana keuangan perusahaan tempatmu berinvestasi lewat key statistics yang kamu pelajari di awal. Namun, kamu tentu ingin mengetahui dengan jelas kondisi keuangan perusahaan itu jika kamu betul-betul akan berinvestasi jangka panjang dalam jumlah banyak.

Sobat Cuan bisa mengakses laporan keuangan terbaru dari emiten incaranmu di laman Bursa Efek Indonesia (IDX). Di sana, kamu bisa memperhatikan beberapa kunci penting yang mengindikasikan sehat atau tidaknya sebuah perusahaan. Dari mulai jumlah penjualan, laba bersih, margin, biaya operasional, aset, utang hingga pengeluaran terperinci dengan jelas di sana.

Baca juga: Apa Aja Sih Faktor Fundamental Harga Bitcoin? Simak di Sini!

4. Rasio Utang Cerminkan Fundamental Perusahaan

Utang dalam kinerja perusahaan seperti dua mata pisau.

Di satu sisi, utang mengindikasikan bahwa perusahaan sedang berekspansi. Di sisi lain, apabila perusahaan berutang terlalu banyak, maka labanya mungkin akan terkikis sehingga tidak menguntungkan bagi investor.

Para analis menyarankan untuk berinvestasi pada perusahaan dengan rasio utang lebih dari satu. Tentu saja utang bukan faktor tunggal penentu sehat tidaknya kinerja perusahaan incaranmu. Namun, hal ini perli diperhatikan agar cuanmu tidak terpengaruh besarnya pasak dibanding tiang.

Selain perlu memperhatikan rasio utang, tentu kamu juga perlu memperhatikan kemampuan bayar perusahaan. Perusahaan yang ekspansif memang banyak menanggung utang, asal mampu membayarnya masih dapat dikategorikan fundamental perusahaan yang baik.

5. Kenali Pesaing Perusahaanmu

Ibarat pepatah, “get your friends close but enemy closer,” pastikan kamu mengenal dengan baik kompetitor perusahan tempat kamu berinvestasi. Analisis fundamental membantu kamu berinvestasi pada perusahan yang paling memberimu keuntungan di masa depan.

Bisa jadi, kompetitor perusahaan incaranmu lebih menarik dan menguntungkan. Tapi, kamu tetap memilih berinvestasi pada perusahaan pilihanmu karena alasan lain.

Kamu harus bisa menemukan alasan yang kuat mengapa kamu memilih satu perusahaan dibanding kompetitornya. Unique selling points (USP), biaya produksi rendah, value perusahaan, citra dan branding hingga prospek di masa depan sah saja jadi alasan utama kamu lebih memili satu perusahaan. Asal yakin dengan pertimbanganmu ya, Sobat Cuan.

6. Prospek Masa Depan Fundamental Perusahaan

Mempertahankan pendapatan tinggi dalam beberapa tahun mungkin mudah. Namun, jika investasinya jangka panjang, kamu harus tahu apa rencana mereka untuk memastikan investasinya menguntungkam dalam satu dekade ke depan.

Perusahaan yang menjadi pemimpin industri dalam 10 tahun mendatang saat ini mungkin saja masih berupa perusahaan rintisan dengan valuasi kecil. Di pasar modal, ekspansi bisnis perusahaan kecil mungkin berisiko tinggi. Namun, peluang dan tantangan harus bisa ditaklukkan agar investor bisa cuan jangka panjang.

Penting sekali untuk menyimak prospek emiten incaranmu dengan jeli. Jangan sampai kamu berinvestasi pada perusahaan yang stagnan. Rugi bandar, dong!

Baca juga: Cara Jitu Memilih Saham dengan Modal Analisis Fundamental dan Teknikal

Yang Terpenting: Kombinasikan Analisismu dengan Proporsional

Bagaimanapun, saat akan berinvestasi kamu perlu menggunakan baik analisis fundamental maupun teknikal. Meski sudah yakin bahwa perusahaanmu memiliki fundamental yang baik, analisis teknikal dibutuhkan agar timing investasimu tepat.

Sebelumnya kamu bisa membaca lebih jauh tentang analisis teknikal investasi di sini ya, Sobat Cuan. Lalu, apa sih perbedaan mendasar dari dua analisis ini?

Singkatnya, analisis fundamental memberitahumu saham mana yang paling bagus untuk berinvestasi. Namun, kapan kamu harus mulai menginvestasikan danamu pada perusahaan tersebut memerlukan analisis teknikal yang mumpuni.

Beberapa metode analisis teknikal yang populer membutuhkan skill yang tinggi dan konsentrasi penuh. Namun jika tujuan investasimu di jangka panjang, kamu hanya perlu mempelajari nilai support dan resistance dari saham incaranmu. Usahakan untuk mulai berinvestasi pada harga semurah mungkin dalam tren agar cuanmu makin lebar.

Namun, jangan sampai kamu tergiur harga murah lantaran perusahaannya sedang sakit, ya. Analisis dulu fundamental perusahaanmu sebelum terlambat.

Nah, Sobat Cuan sudah paham cara investasi dengan bermodal analisis fundamental, kan? Kamu bisa mulai mempraktikkan strateginya dengan berinvestasi saham dan pendapatan tetap di Pluang. Selain itu, kamu bisa berinvestasi di saham perusahaan besar di AS, hanya mulai dengan harga Rp10.000, di sini. Sudah siap berburu cuan, Sobat Cuan?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



Sumber : pluang.com

Memahami Kebijakan Moneter & Kebijakan Fiskal

Apa Itu Kebijakan Moneter?

Kebijakan moneter adalah rangkaian kebijakan dan strategi untuk mengendalikan jumlah pasokan uang beredar di dalam satu lingkup ekonomi. Strategi ini dilancarkan oleh bank sentral, sehingga tak heran jika masing-masing negara di dunia ini memiliki bank sentralnya masing-masing. Sebagai contoh, bank sentral Indonesia adalah Bank Indonesia (BI) sementara bank sentral Amerika Serikat bernama Federal Reserve atau biasa disebut The Fed.

Dalam melancarkan kebijakan moneter, bank sentral umumnya melakukan tiga strategi umum yang terdiri dari mengubah suku bunga acuan, melaksanan kebijakan pasar terbuka, dan mengubah ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM). Seperti apa mekanisme masing-masing strategi tersebut? Berikut penjelasannya!

Mengenal Ragam Strategi Kebijakan Moneter Umum

1. Instrumen Suku Bunga Acuan

Seluruh strategi kebijakan moneter bank sentral memiliki satu tujuan akhir. Yakni, memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi negaranya tetap kokoh dan bisa menopang kualitas hidup masyarakat.

Namun terkadang, bank sentral perlu mengendalikan pertumbuhan ekonomi yang terlalu kencang. Sebab, pertumbuhan ekonomi yang kebablasan akan meningkatkan permintaan agregat dan berujung pada inflasi yang meradang.

Jika tingkat inflasi terlalu tinggi, maka biaya untuk melakukan bisnis dan biaya hidup akan meningkat. Sehingga, dalam jangka panjang, inflasi bisa menyebabkan ketimpangan kekayaan dan pelemahan daya beli masyarakat.

Nah, untuk mengendalikan laju inflasi yang terlampau tinggi, bank sentral akan melakukan intervensi moneter dalam bentuk mengerek suku bunga acuannya. Kenaikan suku bunga acuan akan mendongkrak suku bunga tabungan dan simpanan. Akibatnya, masyarakat cenderung memilih untuk menabung uangnya dan mengurungkan niat untuk konsumsi. Alhasil, permintaan barang dan jasa merosot, kecepatan perputaran uang ikut melorot, dan inflasi pun dapat dibendung.

Namun, bank sentral akan menurunkan suku bunga acuannya jika mereka merasa bahwa pertumbuhan ekonomi terlalu rendah.

Suku bunga acuan yang melandai akan menurunkan bunga pinjaman, sehingga masyarakat jadi malas menyimpan uang di bank dan akan tergugah untuk konsumsi. Di saat yang sama, dunia usaha akan terpacu untuk mengambil kredit usaha demi memanfaatkan bunga pinjaman yang rendah. Jika dua kondisi tersebut terjadi, maka pertumbuhan ekonomi negaranya bisa semakin mumpuni.

2. Operasi Pasar Terbuka

Operasi pasar terbuka adalah satu kebijakan moneter di mana bank sentral melakukan jual-beli instrumen surat berharga di pasar uang. Kebijakan ini bertujuan untuk menambah dan mengurangi jumlah uang beredar untuk mencapai target tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang diinginkan bank sentral.

Di Indonesia, BI melakukan operasi pasar terbuka dengan memperjualbelikan instrumen surat berharga seperti obligasi, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) di pasar uang. Sementara itu, di AS, The Fed biasanya memperjualbelikan instrumen surat utang jangka pendek milik pemerintah AS dan instrumen sejenis lainnya.

Bank sentral bisa mengurangi jumlah uang beredar (tight money policy) dengan menjual surat berharganya jika ingin meredam inflasi. Namun, mereka bisa menambah jumlah uang beredar di masyarakat (easy money policy) jika ingin menstimulasi pertumbuhan ekonomi.

3. Ketentuan Giro Wajib Minimum

Giro Wajib Minimum (GWM) adalah kebijakan bank sentral lainnya demi mengatur peredaran uang di masyarakat. Dalam kebijakan ini, bank sentral mewajibkan perbankan untuk menyimpan Dana Pihak Ketiga (DPK) dalam jumlah tertentu di rekening giro yang dikelola bank sentral.

Bank sentral bisa menaikkan tingkat GWM jika ingin mengurangi jumlah uang beredar di masyarakat. Sebab, kenaikan GWM akan mengurangi likuiditas perbankan, sehingga penyaluran kredit mereka pun ikut berkurang.

Sebaliknya, jika bank sentral ingin mendorong pertumbuhan ekonomi, maka mereka bisa menurunkan tingkat GWM. Nilai GWM yang susut akan bikin perbankan punya likuiditas lebih untuk menyalurkan kredit. Akibatnya, tingkat konsumsi masyarakat dan investasi semakin subur dan bikin pertumbuhan ekonomi kian gesit.

Memahami Kebijakan Moneter Ekspansif dan Kontraktif

Kebijakan moneter ekspansif dan kontraktif adalah dua jenis “paket” kebijakan moneter yang bisa dilakukan bank sentral untuk mencapai target-target ekonomi yang diinginkan.

Secara sederhana, kebijakan moneter ekspansif adalah menstimulasi kredit dengan menurunkan suku bunga acuan untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, di kebijakan moneter kontraktif, bank sentral akan mengerek suku bunga acuan untuk menurunkan penyaluran kredit masyarakat, sehingga inflasi akan melandai.

Secara teori ekonomi, kebijakan moneter ekspansif dan kontraktif dijelaskan pada kurva berikut.

Gambar di atas menunjukkan bahwa pasokan uang yang bisa disalurkan sebagai kredit (simbol S) bergerak dari S0 ke S1 ketika bank sentral melaksanakan kebijakan moneter ekspansif. Hasilnya, titik keseimbangan antara suplai dan permintaan uang akan berada di titik E1. Nah, kurva tersebut menjelakan bahwa penurunan tingkat suku bunga acuan akan meningkatkan jumlah uang yang bisa disalurkan untuk kredit.

Begitu pula sebaliknya. kebijakan moneter kontraktif bank sentral akan mengurangi suplai uang yang bisa disalurkan sebagai kredit sebagai imbas dari kenaikan suku bunga acuan.

Namun, konsep kebijakan moneter ekspansif dan kontraktif mulai berubah setelah dunia dilanda krisis ekonomi 2008 silam.

Kala itu, The Fed menetapkan suku bunga acuan 0% untuk memulihkan ekonomi AS di tengah krisis tersebut. Sayangnya, upaya tersebut gagal, sehingga otoritas moneter tersebut mengambil kebijakan moneter yang tidak biasa. Yakni, membeli obligasi pemerintah AS dan aset lainnya dalam jumlah jumbo untuk meningkatkan pasokan uang di masyarakat. Nah, kebijakan yang kemudian dikenal sebagai quantitative easing ini pun diikuti oleh bank sentral lainnya seperti Uni Eropa, Inggris Raya, dan Jepang.

Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, kemudian ikut melakukan quantitative easing pada 2020 ketika pandemi COVID-19 melanda dunia.

Pada saat itu, Indonesia melakukan quantitative easing dengan membeli surat berharga pemerintah senilai Rp400 triliun sebelum akhir 2020 dalam sebuah kebijakan yang disebut dengan burden-sharing program. Namun, BI dan pemerintah sepakat untuk memperpanjang program tersebut pada 2021 dan 2022. Adapun BI membeli surat berharga pemerintah senilai Rp215 triliun di 2021 dan Rp224 triliun di 2022.

BI dan pemerintah mengambil kebijakan tersebut setelah merasa bahwa bank mungkin ogah menggenjot penyaluran kredit pada saat pandemi lantaran risiko gagal bayarnya juga cukup tinggi. Implikasinya, BI pun bakal kewalahan untuk menerjemahkan rentetan kebijakan moneternya ke kegiatan ekonomi riil.

Makanya, pemerintah pun “nekat” mengambil alih fungsi intermediasi perbankan dengan memompa perputaran uang melalui program bantuan sosial hingga bantuan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Apa Itu Kebijakan Fiskal

Kebijakan fiskal adalah segudang langkah yang diambil pemerintah dalam membelanjakan penerimaan negara, termasuk pajak, demi meningkatkan kemakmuran masyarakat. Dengan kata lain, kebijakan fiskal adalah jurus-jurus pemerintah untuk mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) demi mencapai target-target ekonomi yang diinginkan, seperti stabilitas harga dan ekonomi, tingkat lapangan kerja penuh, pemerataan pembangunan, dan lain-lain.

Sama seperti sebuah perusahaan, sebuah negara tentu bisa mendulang “keuntungan” atau “rugi” di dalam neracanya. Kondisi “untung” terjadi jika penerimaan negara, baik dalam bentuk pajak non-pajak, melebihi jumlah belanjanya. Begitu pun sebaliknya.

Kemudian, indikasi “rugi” sebuah negara akan tercermin dari posisi APBN yang defisit, sementara “untung” tercermin dari kondisi APBN yang surplus. Jika posisi APBN terbilang “besar pasak daripada tiang”, maka pemerintah perlu menarik utang untuk menutupi selisih belanja dan penerimaan tersebut.

Sama seperti kebijakan moneter, kebijakan fiskal terdiri dari dua jenis, yakni kebijakan fiskal ekspansif dan kontraktif.

Pemerintah akan menerapkan kebijakan fiskal ekspansif jika ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Di dalam langkah tersebut, pemerintah akan menurunkan tarif pajak dan menggenjot belanja negara demi menjaga daya beli masyarakat dan menstimulasi ekonomi. Biasanya, pemerintah akan melakukan kebijakan ini di tengah resesi ekonomi dan tingkat pengangguran tinggi.

Di sisi lain, pemerintah bisa menempuh kebijakan fiskal ekspansif jika ingin menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang “kebablasan” atau meredam inflasi. Pemerintah dapat mencapai tujuan tersebut dengan mengerek tarif pajak dan juga memangkas belanja pemerintah.

Mengenal 2 Kunci Utama Kebijakan Fiskal: Pajak dan Belanja Pemerintah

Dari penjelasan di atas, Sobat Cuan pasti menyadari bahwa pajak dan belanja pemerintah adalah dua kunci utama dari kebijakan fiskal. Ya, pemerintah biasanya hanya akan “mengutak-atik” dua instrumen tersebut kita tengah menavigasi kebijakan fiskal untuk negaranya. Mengapa demikian?

Sobat Cuan mungkin sudah paham bahwa pajak memiliki beragam jenis, misalnya Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), hingga Pajak atas Penjualan Barang Mewah (PPnBM). Jika tarif pajak tersebut diturunkan, maka kamu akan terpacu untuk mengonsumsi barang dan jasa, bukan?

Nah, hal tersebut wajar saja, Sobat Cuan, mengingat penurunan tarif pajak akan meningkatkan porsi pendapatan yang bisa kamu gunakan untuk konsumsi. Jika kamu getol mengonsumsi barang dan jasa, maka aktivitasmu bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi nantinya. Begitu pun sebaliknya. Tarif pajak yang meningkat akan bikin masyarakat malas konsumsi. Ujung-ujungnya, pertumbuhan ekonomi pun akan melambat.

Sementara itu, dengan mengatur nilai belanjanya, pemerintah bisa mengerek atau menyusutkan nilai Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah akan menggelontorkan belanja dalam bentuk gaji PNS, bantuan sosial, subsidi, hingga infrastruktur jika ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan tersebut tidak hanya mampu menambah nilai PDB, namun juga menimbulkan kondisi yang disebut efek pengganda perekonomian. Sebagai contoh, belanja subsidi tentunya tidak akan mengerek nilai belanja pemerintah semata, namun juga memperbaiki tingkat konsumsi warga yang kurang mampu.

Hanya saja, masing-masing golongan masyarakat tentu menerima dampak yang berbeda dari implementasi kebijakan fiskal suatu negara. Hal tersebut sangat bergantung dengan orientasi politik dan tujuan yang ingin dicapai pemangku kebijakan.

Misalnya, kebijakan pemangkasan tarif pajak mungkin hanya akan berpengaruh terhadap golongan kelas menengah yang biasanya menjadi golongan masyarakat terbesar di suatu negara. Sementara itu, ketika kantong negara kempis di tengah upaya pertumbuhan ekonomi, golongan masyarakat tersebut pun mungkin akan menjadi sasaran pertama kebijakan kenaikan tarif pajak.

Begitu pun dengan kebijakan belanja negara. Belanja infrastruktur pemerintah mungkin hanya akan berdampak ke beberapa pihak tertentu, misalnya perusahaan jasa konstruksi dan ribuan tenaga kerja konstruksi. Namun, ketika pemerintah berniat membangun stasiun antariksa, kebijakan tersebut mungkin hanya akan dinikmati oleh segelintir orang saja.



Sumber : pluang.com

Panik Harga Bitcoin ETH Anjlok? Yuk, Coba Cari Cuan dengan Strategi Buy the Dip!

Sobat Cuan yang punya portofolio aset kripto pasti pernah mendengar istilah “buy the dip” alias beli di saat harga melemah. Strategi investasi yang penjelasan lengkapnya bisa kamu baca di sini tersebut memang dikenal sebagai strategi yang marak digunakan ketika harga sebuah aset lagi amburadul.

Buy the dip adalah sebuah istilah dalam investasi yang mengacu pada sikap investor yang memborong suatu aset ketika harganya turun.

Selama ini, istilah buy the dip marak dipergunakan di investasi pasar modal. Namun belakangan, istilah ini sudah mulai merambah ke kancah investasi aset kripto. Apalagi ketika melihat harga Bitcoin, ETH, dan segala macam aset kripto lagi kacau balau seperti beberapa saat terakhir.

Pada periode buy the dip, investor dan trader menganggap bahwa penurunan harga sebuah aset adalah saat yang tepat untuk mengakumulasi portofolio asetnya. Hal ini sesuai dengan konsep gelombang harga (price waves), di mana penurunan harga diramal bersifat sementara, sehingga mereka bisa mendulang cuan ketika harganya sudah merangkak naik.

Nah, ternyata buy the dip ini ada taktiknya lho, jadi tidak cuma asal beli saat harga turun saja! Yuk, simak strategi buy the dip di aset kripto!

Baca juga: Seberapa Besar Sih Pengaruh Influencer ke Harga Aset Kripto? Yuk, Simak di Sini!

Strategi Buy The Dip dalam Aset Kripto

Mungkin buy the dip adalah strategi investasi dasar yang secara gamblang dapat diartikan sebagai “beli di saat harga turun”. Namun sebenarnya hal ini tidak berarti kamu harus all-in atau membeli sebanyak-banyaknya saat harga aset turun. Lebih tepatnya itu berarti membeli harga rata-rata saat turun dan/atau beli setelah harga “tenang”.

Selanjutnya, strategi ini jauh lebih aman untuk digunakan di pasar bullish atau pasar yang stagnan. Dimana tren umum cenderung naik atau datar, berlawanan dengan pasar bearish dengan tren umum turun.

Dengan itu, untuk membeli saat penurunan, Sobat Cuan dapat melakukan satu atau lebih hal berikut:

  1. Beli secara bertahap saat harga turun, buat posisi rata-rata dengan tujuan untuk membeli lebih banyak saat harga turun lebih jauh.
  2. Tunggu sampai harga tenang, dan mungkin bahkan menunjukkan tanda-tanda pemulihan, dan beli pada saat itu.
  3. Tetapkan pesanan beli dengan harga lebih rendah dan biarkan pesanan terisi. Menetapkan pembelian tepat sebelum level support historis dan level psikologis adalah strategi yang sangat baik (karena harga cenderung berbalik naik dengan cepat dari level ini).

Lihat bagan di bawah ini untuk contoh level support. Dalam hal ini, ini adalah level horizontal dimana harga sebelumnya telah terkonsolidasi dan garis tren menurun reaktif terhadap harga naik.

Buy the dip chart
Sumber: Cryptocurrency Facts

Panah hijau menunjukkan level support yang efektif untuk dibeli saat harga “turun” dari level saat itu. Ini adalah posisi yang logis untuk membeli di saat harga turun. Membeli di level support dengan stop di bawah level harga saat itu seringkali lebih efektif, daripada hanya membeli secara membabi buta dalam setiap penurunan.

Baca juga: Harganya Turun, Sepenting Apa Sih Investasi Ethereum di Portofolio Kamu?

Manfaat Buy The Dip

Dengan catatan itu semua, dan seperti yang Sobat Cuan lihat pada grafik di atas, kamu dapat buy the dip besar-besaran (membeli ketika harga telah jauh di bawah rata-rata), atau buy the dip kecil-kecilan (membeli terus saat harga turun seberapa pun besarnya).

Kamu juga dapat buy the dip untuk kemudian menjualnya dengan cepat agar mendapatkan keuntungan. Hal itu berguna untuk membangun posisi jangka panjang, atau untuk mengambil keuntungan secara bertahap.

Konsepnya pun sama dalam semua kasus, di mana sang trader atau investor bertujuan untuk membeli pada harga yang lebih rendah ketika harga berkonsolidasi atau terkoreksi.

Logika Berbeda dalam Buy The Dip

Kamu mungkin tahu soal logika dalam membeli saat harga naik. Namun, bahkan di situasi pasar bullish seringkali lebih baik untuk membeli saat harga melemah daripada menunggu sampai harga tinggi (ketika banyak orang lain akan bergegas untuk membeli).

Ini lantaran dengan membeli saat harga naik tinggi, maka kamu mendapatkan kemungkinan untuk menjual lebih rendah.

Buy the dip > FOMO membeli di harga atas atau panik menjual di harga bawah

Paling sederhana, strategi ini hanya melibatkan pembelian saat harga lebih rendah dari harga tertinggi terakhir. Sementara yang paling kompleks, ini melibatkan soal mempelajari grafik serta memperhatikan rata-rata pergerakan jangka pendek dan jangka panjang pada skala waktu yang berbeda.

Kamu juga bisa mengidentifikasi tingkat dukungan historis, membeli bertahap, dan menempatkan level stop. Tapi apapun tingkat keahlian kamu, bagaimanapun konsepnya umumnya sama.

Baca juga: Mengenal Metode Analisis Fundamental Aset Kripto

Dalam aset kripto, kita melihat banyak penurunan kecil, dan kemudian setiap beberapa minggu atau bulan kita cenderung melihat beberapa penurunan yang sangat besar (kita mungkin menyebutnya “koreksi” atau “crash”, di mana penjelasannya bisa kamu temukan di sini).

Baik penurunan kecil, atau penurunan besar, dapat masuk akal untuk melakukan pembelian. Namun, semuanya tergantung pada strategi investasimu.

Jika Sobat Cuan melakukan perdagangan dengan berbasiskan data rentang harga, maka penurunan kecil sangat bagus untuk dibeli. Sementara jika kamu adalah investor jangka panjang, maka penurunan yang lebih besar dapat bermanfaat untuk membangun posisi panjang (tapi tentu saja harus berhati-hati tentang bagaimana mengatur waktu pembelian).

Tapi pertanyaannya, bagaimana kita bisa memprediksi titik harga terendah agar kita bisa melakukan strategi buy the dip?

Baca juga: Alasan Pentingnya Diversifikasi Investasi Aset Kripto di Saat Pasar Loyo

Memprediksi Bottom Harga 

Tentu saja, menentukan bottom atau harga paling bawah adalah hal yang hampir tidak mungkin. Hal itulah mengapa membeli secara bertahap saat harga turun dapat membantumu ‘meraba’ bottom.

Intinya di sini adalah, ada lebih dari satu cara untuk buy the dip dengan aset kripto atau aset lainnya. Namun, semua versi strategi ini bertujuan untuk membeli dengan harga rendah daripada harga tinggi, dengan melakukan pembelian ketika orang lain sedang menjual.

Ini berarti seseorang harus menggunakan sedikit logika kontra-intuitif dan melawan beberapa pemikiran emosional. Nah, sehingga, kalau Sobat Cuan mau melakukan buy the dip maka kamu harus:

  • Menyingkirkan rasa takut yang datang ketika semua orang menjual selama koreksi.
  • Mengesampingkan dorongan untuk membeli di harga tinggi ketika tampaknya semua orang membeli.

Strategi ini tidak dijamin akan berhasil, tetapi ini adalah strategi investasi yang cerdas dan sederhana. Hal itu karena strategi ini tidak membutuhkan banyak keterampilan atau pengetahuan teknis untuk diterapkan.

Sementara itu, seperti yang telah dijelaskan di atas, jika kamu ingin menambahkan aspek teknis, Sobat Cuan dapat melihat hal-hal teknis lain. Hal itu seperti rata-rata pergerakan harga, level support, RSI, dan volume untuk mengetahui seberapa rendah harga yang mungkin terjadi dan mengetahui kapan pemulihan terjadi.

Kesimpulan

Dengan tambahan teknis, buy the dip dapat menjadi strategi yang cukup solid dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Namun, tanpa hal teknis pun, secara umum strategi ini masih lebih baik daripada kamu FOMO membeli di harga puncak, atau menjual secara panik di pasar yang stagnan.

Selain itu, kamu bisa menggunakan strategi ini baik saat pasar bearish maupun bullish dengan melakukan tiga opsi: beli secara bertahap, tunggu sampai fluktuasi harga tenang, dan menetapkan order di posisi yang rendah.

Kalau kalian sudah mengerti tentang konsep buy the dip, tidak ada salahnya kok mempraktikannya di aplikasi Pluang! Di Pluang, kamu bisa membeli Bitcoin dan Ethereum hanya dengan tiga kali ketuk saja!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CryptoCurrency Facts



Sumber : pluang.com

Mempelajari Indikator Dasar Makroekonomi

Memahami indikator dasar makroekonomi banyak manfaatnya lho, Sobat Cuan. Selain bisa mengetahui tingkat kesehatan ekonomi satu negara, kamu juga bisa memanfaatkan indikator-indikator ini ketika sedang menganalisis kinerja aset investasimu.

Indikator dasar makroekonomi terdiri dari Produk Domestik Bruto (PDB), tingkat bunga, inflasi, tingkat pengangguran, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Yuk, kita bahas bersama!

Sekilas Mengenai Indikator Dasar Makroekonomi

1. Produk Domestik Bruto

Produk Domestik Bruto (PDB) adalah total keseluruhan nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh satu wilayah dalam satu jangka waktu tertentu, misalnya dalam satu kuartal atau satu tahun. Semua negara menggunakan indikator ini untuk menunjukkan tingkat kesehatan ekonominya.

Perhitungan PDB sejatinya terdiri dari tiga pendekatan, yakni pendekatan pengeluaran (expenditure approach), pendekatan faktor produksi, dan pendekatan penerimaan (income approach). Namun, negara-negara umumnya menggunakan pendekatan pengeluaran ketika mengkalkulasi PDB. Rumusnya pun gampang diingat, yakni Konsumsi + Investasi + Pengeluaran Pemerintah + (Nilai Ekspor – Nilai Impor).

PDB adalah indikator yang cukup esensial sebab kamu bisa mencari pertumbuhan ekonomi dengan membandingkan PDB satu periode ke periode sebelumnya. Misalnya, jika kamu ingin mencari laju pertumbuhan ekonomi secara tahunan untuk 2021, maka kamu tinggal membandingkan PDB tahun 2021 dengan PDB di tahun 2020.

Negara-negara berpendapatan rendah atau menengah harus memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi tahunan yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan populasinya yang juga ikut bertumbuh. Oleh karenanya, selain mengukur tingkat kesehatan ekonomi sebuah negara, pertumbuhan ekonomi juga digunakan sebagai indikator untuk melihat hasil dari program-program ekonomi di wilayah tersebut.

Bagi investor, pertumbuhan ekonomi adalah salah satu faktor penting untuk menentukan keputusan berinvestasi. Sebagai contoh, Indonesia mencetak pertumbuhan ekonomi 3,5% secara tahunan pada kuartal III 2021. Hal ini mengindikasikan bahwa ekonomi Indonesia mulai pulih dari dampak pandemi COVID-19, sehingga Sobat Cuan bisa mempertimbangkan untuk investasi di pasar modal.

2. Tingkat Bunga

Tingkat bunga adalah besaran biaya yang perlu kamu keluarkan ketika meminjam uang dari perbankan (cost of borrowing).

Besaran bunga tersebut ditampilkan dalam bentuk sejumlah persentase tertentu per tahun. Sebagai contoh, jika kamu meminjam uang Rp100 juta dengan tingkat bunga 7%, maka total pinjamanmu setahun berikutnya akan menjadi Rp107 juta.

Tingkat bunga bukanlah semacam “hukuman” bagi nasabah karena sudah meminjam uang dari perbankan. Bunga adalah kompensasi yang diterima kreditur karena berani mengambil risiko untuk meminjamkan uang kepada debitur. Adapun risiko yang dimaksud adalah kemungkinan bahwa sang debitur tidak bisa melunasi uang pinjaman tersebut.

Oleh karenanya, perbankan biasanya mematok bunga pinjaman tinggi kalau risiko gagal bayarnya juga tinggi. Sehingga, jika debitur ingin mendapatkan tingkat bunga pinjaman rendah, maka mereka juga harus mempertahankan skor kreditnya.

Selain itu, besaran tingkat bunga kredit juga tergantung dengan naik-turunnya tingkat suku bunga acuan bank sentral. Sebagai contoh, hingga akhir 2021 lalu, Bank Indonesia (BI) mempertahankan tingkat suku bunga acuan 7-Days Reverse Repo Rate (7DRRR) di tingkat terendahnya sepanjang masa 3,5% untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas nilai tukar.

Seperti yang dijelaskan di artikel sebelumnya [hyperlink], bank sentral kerap mengubah suku bunga acuan untuk merespons kondisi ekonomi yang terjadi di negaranya. Lembaga otoritas moneter tersebut akan mengerek suku bunga acuan jika pertumbuhan ekonomi tumbuh kebablasan. Sebaliknya, mereka akan menurunkan suku bunga acuan demi memacu pertumbuhan ekonomi.

Kenaikan suku bunga acuan akan mengurangi nilai sekarang (Present Value) dari pendapatan dividen di masa depan. Akibatnya, harga saham pun bisa berguguran. Di samping itu, suku bunga yang tinggi akan meningkatkan opportunity cost dari meminjam uang, sehingga aktivitas ekonomi dan investasi akan terhambat.

3. Inflasi

Inflasi adalah tingkat kenaikan harga barang dan jasa dalam satu rentang waktu tertentu. Pengukuran inflasi pun bermacam-macam, mulai dari dari kenaikan harga barang dan jasa secara keseluruhan hingga kenaikan biaya hidup di satu wilayah tertentu. Namun, apapun konteksnya, inflasi mencerminkan seberapa mahal harga barang dan jasa pada suatu periode tertentu bila dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Inflasi yang tinggi akan menyebabkan biaya hidup masyarakat semakin mahal. Implikasinya, pertumbuhan ekonomi bisa semakin melambat.

Selain itu, inflasi juga membuat nilai uang semakin terkikis. Sebagai contoh, kemampuan konsumsi seseorang dengan uang Rp100.000 sekarang mungkin akan menyusut 10 tahun kemudian. Sehingga, masyarakat perlu menginvestasikan uangnya demi mengalahkan dampak negatif inflasi di masa depan. Apalagi, pertumbuhan ekonomi suatu negara bisa tetap stabil jika masyarakat getol berinvestasi.

4. Tingkat Pengangguran

Tingkat pengangguran adalah perbandingan antara jumlah tunakarya dengan total tenaga kerja di suatu wilayah dalam satu jangka waktu tertentu. Makanya, kalkulasinya pun sederhana, yakni (jumlah orang menganggur/jumlah tenaga kerja) x 100%. Namun, jumlah orang menganggur yang dimaksud dalam kalkulasi ini tidak hanya mencakup orang yang tidak bekerja, namun juga para pencari kerja.

Tingkat pengangguran adalah salah satu indikator ekonomi penting untuk mengukur tingkat kesehatan ekonomi suatu negara. Nilainya pun berfluktuasi sesuai dengan siklus ekonomi. Dengan kata lain, tingkat pengangguran akan meningkat ketika terjadi resesi ekonomi dan menurun ketika ekonomi sedang dalam fase ekspansi.

Tingkat pengangguran tinggi tak hanya memperparah masalah sosial dan kesejahteraan masyarakat, namun juga bikin investor asing enggan berinvestasi di wilayah tersebut. Ujung-ujungnya, mereka pun ogah mengalirkan dana ke wilayah yang dimaksud.

5. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah proyeksi penerimaan dan belanja negara selama periode tertentu. Biasanya, periode yang digunakan pemerintah adalah satu tahun, atau biasa disebut dengan “tahun anggaran”.

Pemerintah biasanya membagi penerimaan ke dalam dua jenis, yakni penerimaan pajak dan non-pajak. Contoh penerimaan pajak adalah Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), bea dan cukai, dan lain-lain. Sementara itu, penerimaan non-pajak terdiri dari pendapatan bunga, dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN), hingga Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari hasil ekstraksi sumber daya mineral.

Kemudian, pemerintah juga membagi beberapa jenis-jenis belanja ke dalam kategori. Namun, kategorisasi pengeluaran antara satu negara berbeda dengan negara lain, tergantung dengan kebutuhan masing-masing negara tersebut.

Pemerintah Indonesia, contohnya, memiliki banyak kategorisasi belanja di dalam APBN. Sebagai contoh, pemerintah mengalokasikan belanja negara sesuai dengan sektor seperti kesehatan, pendidikan, infrastruktur, dan lain-lain. Namun, pemerintah juga mengalokasikan belanja sesuai pemegang kuasa anggaran seperti belanja pemerintah pusat dan Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD).



Sumber : pluang.com

Mengapa Makroekonomi Mempengaruhi Pasar?

Saat ini, pasar keuangan adalah bagian esensial dan bahkan tak terpisahkan dari ekosistem ekonomi di berbagai negara. Makanya, perubahan di beberapa variabel makroekonomi sangat berpengaruh ke pasar keuangan, baik itu berupa dampak positif atau negatif.

Produk Domestik Bruto (PDB), misalnya, adalah indikator pertumbuhan ekonomi yang menentukan selera investor untuk nyemplung ke pasar modal. Sementara itu, kenaikan tingkat inflasi dan suku bunga acuan akan menghambat konsumsi, sehingga akan berpengaruh ke performa keuangan para emiten pasar modal dan ujung-ujungnya meredupkan kinerja pasar modal.

Sebagai contoh, kenaikan harga saham di Indonesia menjadi sinyal bahwa investor berharap ekonomi Indonesia akan terus tumbuh. Demikian sebaliknya, harga saham yang jatuh menjadi sinyal bahwa pelaku pasar meramal bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan terpantau mendung.

Nah, karena pasar modal bisa menjadi indikasi kondisi ekonomi di suatu negara, tak heran jika kini investor menggunakan indeks saham untuk mengukur “tingkat kesehatan” ekonomi sebuah negara.

Lebih lanjut, sejatinya combo PDB dan inflasi bisa membuat kinerja pasar modal makin mumpuni. Namun, dampak inflasi terhadap kondisi tersebut kurang signifikan dibanding PDB.

Di sisi lain, tingkat suku bunga acuan dan nilai tukar bisa membuat pasar saham ambrol. Namun, di antara keduanya, tingkat suku bunga dianggap punya kekuatan lebih besar untuk menyeret turun kinerja pasar modal.

Nah, Sobat Cuan bisa menyimak korelasi antara makroekonomi dan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melalui grafik berikut!



Sumber : pluang.com

Di Tengah Gempuran Investasi Viral, Kenapa Kamu Masih Perlu Punya Emas?

Investor zaman now pasti lagi tertarik banget masuk ke ranah aset kripto. Apalagi, kalau bukan cuannya yang fantastis. Ambil contoh Bitcoin. Harganya dari awal tahun hingga menuju titik tertingginya pada April lalu bisa tumbuh 104% hanya dalam empat bulan saja.

Hal ini pun bikin instrumen lain, seperti investasi emas, mulai terpinggirkan. Bahkan ada juga yang menganggap bahwa investasi emas sudah tidak cocok bagi mereka yang berjiwa muda dan menyukai tantangan.

Padahal, jangan salah Sobat Cuan! Di tengah gempuran investasi viral belakangan ini, ternyata kamu masih memerlukan emas di portofoliomu! Alasannya, apalagi kalau bukan untuk diversifikasi investasi. Nah, manfaat diversifikasi bisa kamu baca di artikel ini, ya!

Seperti yang kita tahu, aset kripto memiliki fluktuasi harga yang bikin deg-degan. Sehingga, kamu perlu mengimbanginya dengan instrumen investasi yang lebih aman untuk menyebar risiko investasimu. Nah, dalam hal ini, pilihan yang tepat jatuh ke tangan emas.

Namun, bukan itu saja, lho, alasan kamu perlu investasi emas. Di bawah ini ada beberapa alasan mengapa kamu harus tetap memegang emas sebagai pilihan aset investasimu. Yuk, simak bersama!

Baca juga: 7 Langkah Optimal untuk Bangun Portofolio Investasi dan Neraca Keuangan

Alasan Tetap Investasi Emas di Tengah Hype Kripto

1. Emas Dari Dulu Sudah Berharga

Aset kripto dan jenis investasi lainnya bisa dibilang sebagai jenis investasi baru jika dibandingkan dengan emas. Ya, sebelum mengenal uang kertas sebagai alat tukar, manusia sudah menjadikan emas sebagai alat untuk menyimpan kekayaan.

Praktik tersebut sudah berjalan sejak zaman kuno, lho. Ini lantaran emas memiliki sifat yang tidak dimiliki oleh instrumen lain. Yakni, unsur logam mulia.

Sobat Cuan mungkin belum paham kalau emas adalah salah satu logam yang tidak akan berkarat meski terkena reaksi unsur kimia lainnya. Hal ini menjadikan nilai emas masa kini akan tetap sama di masa depan, bahkan hingga 100 tahun ke depan.

Nah, hal inilah yang bikin emas memiliki nilai intrinsik tersendiri dan baik sebagai alat penyimpan kekayaan. Untuk lebih memahami alasan emas disebut logam mulia, kamu bisa baca artikel ini, ya!

2. Nilainya Melesat di Tengah Penurunan Nilai Mata Uang

Pada tahun 1998 dan 2008, krisis ekonomi melanda beberapa negara, termasuk Amerika Serikat. Kala itu harga dolar AS sempat jatuh ke titik terendahnya. Namun seakan berada di dunia yang berbeda, harga emas justru meningkat hampir tiga kali lipat!

Pada awal tahun 2008, harga emas berhasil menembus US$1.000 per ons dan terus melanjutkan kenaikannya dengan nilai hampir dua kali lipat di antara tahun 2008 dan 2012. Makanya, tak heran jika emas adalah aset lindung nilai paling mumpuni dari segala situasi yang tak menentu.

3. Alasan Investasi Emas: Pelindung Kekayaan dari Inflasi

Nah, menyambung soal lindung nilai, ternyata emas juga sejak dulu dipercaya memiliki fasilitas lindung nilai terhadap inflasi.

Secara sederhananya, konsep inflasi adalah seperti ini. Sepuluh tahun lalu, Sobat Cuan mungkin bisa menggunakan uang Rp20.000 untuk membeli dua porsi nasi goreng. Namun, 10 tahun kemudian, uang dengan nilai serupa hanya bisa digunakan untuk membeli satu porsi saja.

Dengan kata lain, inflasi adalah kondisi di mana nilai uangmu tergerus dan bikin daya belimu melorot. Nah, untuk melestarikan nilai uangmu saat ini di jangka panjang, makanya kamu perlu menaruhnya di dalam emas. Apalagi, harga emas di jangka panjang juga akan terus menanjak lantaran suplainya terbatas di dunia ini.

Sejauh ini, sudah banyak penelitian yang mengkaji korelasi inflasi dengan emas. Di mana, ketika biaya hidup meningkat, maka harga emas secara otomatis akan naik.

Hal itu terjadi lantaran investor paham bahwa emas adalah cara jitu untuk melindungi kekayaannya dari inflasi. Bahkan jauh sebelum inflasi terjadi, secara perlahan biasanya investor sudah memindahkan aset keuangannya ke emas untuk meminimalisir kerugian di sektor lain.

Untuk lebih lengkapnya, Sobat Cuan bisa baca keterkaitan inflasi dengan emas di artikel ini, ya!

4. Geopolitik Gonjang-Ganjing, Namun Emas Tetap Ajojing

Di tengah kondisi geopolitik yang tidak menentu, beberapa instrumen investasi seperti pasar saham ataupun indeks dolar AS biasanya bakal terkoreksi.

Hal itu terjadi lantaran terjadinya krisis komoditas, yakni sebuah kondisi di mana banyak orang mencari tempat aman ketika dunia sedang tidak baik-baik saja.

Sepanjang kondisi tersebut, harga emas biasanya mengalami kenaikan, seperti yang terjadi pada saat terjadi krisis di Uni Eropa. Dalam beberapa kesempatan, harga emas sempat mencatatkan kenaikan paling tinggi ketika kepercayaan pada pemerintah rendah.

Hal serupa juga terjadi saat pandemi COVID-19 melanda negara-negara seluruh dunia di tahun lalu. Harga emas bahkan mencapai rekor dengan menyentuh US$2.000 per ons akibat investor mencari perlindungan yang aman di kala situasi tak menentu.

Baca juga: Apa sih Pentingnya Membangun Portofolio Saham?

6. Investasi Emas Baik Untuk Diversifikasi Portofolio

Investasi emas bisa dijadikan sebagai sarana diversifikasi portofolio investasi. Pasalnya, secara historis, emas memilki korelasi negatif dengan saham ataupun instrumen keuangan lainnya. Seperti yang terjadi pada tahun 1970-an, dimana pada masa itu adalah masa yang sangat bagus untuk emas namun buruk untuk saham.

Kemudian pada tahun 1980-an dan 1990-an adalah masanya saham untuk berjaya dan sebaliknya, justru mengerikan untuk emas. Lalu pada tahun 2008, investor saham secara substansial turun lantaran konsumen mulai bermigrasi ke emas.

Disini bisa terlihat bahwa untuk mengurangi volatilitas dan risiko secara keseluruhan, investor bisa mendiversifikasinya dengan membeli emas, saham dan juga obligasi. Hal itu perlu karena emas selalu berhasil mempertahankan nilainya dalam jangka panjang meskipun dapat bergerak fluktuatif secara jangka pendek.

7. Ketidakseimbangan Permintaan dan Penawaran

Seperti yang kita tahu, emas adalah barang tambang yang suatu saat akan habis. Makanya, tak heran jika produksi emas selalu menurun antar tahunnya.

Sementara itu, di sisi lain, permintaan emas selalu meningkat. Hal ini ditunjukkan oleh permintaan dari negara-negara pusat ekonomi baru seperti India dan China yang nampaknya doyan mengimpor emas. Hal ini pun berkaitan dengan budaya masing-masing negara.

Di China, emas batangan dianggap sebagai cara tradisional dalam menabung. Sementara itu di India, emas masih marak digunakan sebagai mahar dan simbol kekayaan. Makanya, tak heran jika permintaan emas global selalu menanjak saat terjadi “musim kawin” di India, yang biasanya berlangsung di Oktober.

Nah, sesuai hukum ekonomi, suplai yang terus mengetat tentu akan mengerek harga emas. Sehingga, emas akan cocok bagimu jika ingin menimbun dan mempertahankan kekayaan hingga tua nanti.

Kesimpulan

Sehingga, di tengah gempuran investasi viral, kamu ternyata masih perlu memegang emas baik sebagai diversifikasi aset maupun alat untuk melestarikan kekayaan di masa depan. Apalagi, kini emas sudah bisa didapatkan dengan mudah dan murah, terutama di aplikasi Pluang!

Di Pluang, kamu bisa mendapatkan emas digital mulai dari Rp10.000 saja dan tanpa biaya admin sepeser pun! Selain itu, kamu juga bisa menikmati spread transaksi rendah hanya 1,75% saja. Yuk, download aplikasi Pluang di sini!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investopedia



Sumber : pluang.com

Sobat Cuan, Yuk Simak Cara Menghitung Bunga Deposito Anti Ribet!

Deposito masih menjadi instrumen investasi yang paling aman. Sobat Cuan bisa membeli deposito di bank untuk kurun waktu tertentu lalu mendapatkan margin keuntungan sesuai dengan kesepakatan.

Tapi, bagaimana sih cara menghitung bunga deposito?

Bunga deposito ditentukan di awal berdasarkan bunga yang berlaku dan kebijakan bank. Sobat Cuan bisa membandingkan satu produk deposito dengan produk deposito lainnya dari berbagai bank untuk memilih produk mana yang paling menguntungkan.

Seberapa banyak sih deposito bisa menghasilkan cuan? Ternyata perhitungan bunga deposito punya beberapa ketentuan lanjutan lho. Simak yuk!

Apa Beda Deposito versus Tabungan?

Sebelum membahas lebih jauh tentang bunga atau margin deposito, Sobat Cuan harus memahami bedanya deposito dan tabungan.

Perbedaan paling mendasar ada pada tenor. Jika tabungan kamu di bank bisa diambil kapan saja, deposito tidak dapat dicairkan sebelum tenornya berakhir.

Tenor ialah jangka waktu yang ditetapkan antara kamu dan bank terkait seberapa lama dana nganggur kamu akan diendapkan disana. Dana kamu nantinya akan dikelola oleh bank untuk kegiatan usaha atau instrumen lainnya. Karenanya bank harus memastikan kapan mereka harus mengembalikan uangmu berikut bunganya.

Tenor deposito yang ditawarkan cukup fleksibel kok, yakni 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan dan 24 bulan. Makanya, instrumen ini sebetulnya efektif untuk mengatur cashflow Sobat Cuan agar uang yang dibutuhkan tidak terpakai duluan.

Jika dana tersebut diperkirakan akan nganggur dalam waktu yang lama, Sobat Cuan bisa memilih tenor terpanjang. Semakin panjang tenor biasanya bunga yang diberikan akan semakin menarik.

Jenis Deposito

Sobat Cuan juga bisa memilih jenis deposito yakni deposito berjangka, sertifikat deposito dan deposito on call. Perbedaan mendasar dari deposito berjangka dan sertifikat deposito adalah siapa yang nantinya bisa mencairkan deposito tersebut.

Pada deposito berjangka, kepemilikannya tidak dapat dipindahtangankan. Artinya, cuma kamu yang bisa mencairkan deposito yang kamu buat. Sementara sertifikat deposito bisa dicairkan oleh siapapun pemegang sertifikat deposito.

Selain itu ada juga deposito on call yang bisa dicairkan secara fleksibel dengan ketentuan pemberitahuan satu hari sebelum pencairan. Opsi ini biasanya ditawarkan secara terbatas pada nasabah prioritas. Tapi, tidak ada salahnya kamu bertanya tentang ketersediaan produk ini pada pihak bank jika kamu tertarik.

Baca juga: Bunga Deposito Tertinggi 6.3%, Pluang Saver Unggul di 6.5% Tanpa Tenor

Cara Menghitung Bunga Deposito

Nah, setelah mengenal seluk-beluknya, yuk sekarang belajar cara menghitung bunga deposito!

1. Cara Menghitung Bunga Deposito Kurang dari Rp7,5 Juta

Umumnya, bank menawarkan deposito untuk nominal Rp8 juta. Hanya saja, beberapa bank menyediakan produk untuk nominal yang tidak dibatasi. Nah, untungnya, berdasarkan peraturan pemerintah, deposito di bawah Rp7,5 juta tidak dikenakan pajak penghasilan (PPh) sebesar 20%.

Oleh karenanya, perhitungan margin yang akan kamu peroleh dari mendepositokan uangmu di bank dengan nominal di bawah Rp7,5 juta lebih sederhana. Bagaimana cara menghitung bunga deposito yang tidak kena pajak penghasilan? Berikut adalah rumus umumnya:

Bunga Deposito = Nominal uang simpanan x bunga pertahun x (tenor : 12)

Jadi, misalnya, kalau kamu mendepositokan uangmu senilai Rp5 juta selama 3 bulan dengan bunga 7%, kamu akan mendapat bunga sebesar Rp5 juta × 7% × (3/12) = Rp87.500.

2. Cara Menghitung Bunga Deposito Dikenakan PPh

Jika nominal depositomu lebih besar dari Rp7,5 juta, maka bunga depositomu akan dikenakan pajak penghasilan sebesar 20%. Jadi, kamu hanya menerima 80% dari total bunga yang kamu sepakati.

Agar Sobat Cuan lebih paham, berikut adalah rumus mudah untuk mengetahui cara menghitung bunga deposito yang dikenakan PPh.

Bunga deposito= jumlah uang simpanan x bunga per tahun x 80% x (tenor :12)

Ilustrasinya, jika kamu menaruh Rp100 juta pada deposito bertenor 6 bulan dengan bunga 7,5%, maka bunga yang akan kamu dapatkan adalah sebagai berikut.

Rp 100 juta x 7,5% x 80% x (6:12) = Rp 3 juta

Jika kamu ingin tahu berapa besar pajak yang kamu bayarkan dari deposito tersebut, berikut adalah perhitungan yang lebih terperinci.

  • Bunga deposito per tahun = Rp 100.000.000 x 7,5% = Rp 7.500.000
  • Bunga deposito per bulan = Rp 7.500.000: 12 bulan = Rp 625.000 per bulan
  • Pajak bunga deposito per bulan = Rp 625.000 x 20% = Rp 125.000 per bulan
  • Pajak bunga deposito kamu = Rp 125.000 x 6 bulan = Rp 750.000

3. Deposito Syariah

Sobat Cuan juga bisa memilih instrumen investasi syariah saat akan mendepositokan dananya. Instrumen ini biasanya dijual oleh bank syariah dengan skema yang serupa namun tak sama.

Bank syariah tidak memberikan bunga melainkan margin keutungan. Pada deposito, margin ini dinamakan nisbah. Nisbah dalam deposito syariah didasarkan pada akad mudhorobah yang meminimalisir unsur riba.

Selain itu, uang yang kamu depositokan akan dikelola oleh bank melalui penyaluran kredit kepada dunia usaha. Nisbah adalah bagi hasil antara kamu dengan bank dari keuntungan yang diperoleh dari pengelolaan dana tersebut dengan rumus sebagai berikut:

Nisbah = (Nominal deposito : Nominal seluruh deposito ) x  Persentase bagi hasil x Keuntungan bank pada bulan tersebut

Sobat Cuan dapat mencapai kesepakatan pada nominal bagi hasil. Umumnya, bagi hasil yang ditawarkan 40:60, yakni 40% untuk nasabah dan 60% untuk bank.

Meski begitu, skema ini pada akhirnya akan memberi keuntungan bagi hasil yang nilainya mirip dengan rata-rata bunga deposito.

Pembayaran Bunga Deposito

Kapan kamu akan memperoleh bunga atau margin dari deposito kamu? Ada banyak opsi yang ditawarkan bamk tergantung produk deposito dan kesepakatan.

Biasanya deposito bertenor panjang dibayarkan bunganya tiap tahun. Ada juga deposito yang mentransferkan bunganya tiap bulan, tiap kuartal ataupun tiap semester.

Jumlah yang ditransferkan tentu saja sesuai dengan kesepakatan. Jika kamu membeli deposito bertenor 3 bulan dengan mekanisme pembayaran bunga ditrasfer tiap bulan, jumlahnya adalah senilai bunga deposito kamu dibagi tiga.

Manfaat Deposito

Meski memiliki imbal hasil investasi yang sangat konservatif, deposito punya segudang manfaat yang membuatnya tetap jadi primadona. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Dapat Digunakan Sebagai Kolateral

Jika kamu memiliki usaha yang butuh tambahan modal sementara kamu belum punya aset untuk kolateral pinjaman, deposito bisa jadi jalan keluarmu. Meskipun tidak bisa diambil sewaktu-waktu, kamu bisa mengagunkan depositomu sebagai kolateral di bank.

Pinjaman ini cukup populer dikalangan pengusaha karena akan membuatmu mendapat diskon bunga pinjaman. Back-to-back loan biasanya memiliki bunga yang lebih rendah karena sudah dikurangi dengan bunga depositomu. Jadi kamu hanya perlu membayar margin bunga deposito dikurangi bunga pinjaman saja.

2. Dijamin LPS

Instrumen investasi umumnya berisiko, namun risiko pada deposito sangat rendah.

Selain kredibilitas bank, pemerintah juga punya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). LPS bertugas menjamin simpananmu di bank baik dalam bentuk tabungan maupun deposito selama nilainya dibawah Rp2 miliar.

Karenanya, pastikan kamu membeli deposito pada bank yang dijamin LPS, ya. Bunga besar yang ditawarkan bank yang tidak dijamin LPS mungkin lebih menggiurkan, tapi kamu tidak bisa memastikan masa depan, kan?

3. Syarat Mudah

Kamu hanya perlu punya rekening di bank, identitas diri dan materai saat akan membuka deposito maupun menutup deposito di bank. Aplikasimu akan diproses dengan segera sampai depositomu siap.

Syarat yang mudah ini menjadikan deposito relatif mudah dimiliki oleh siapa saja. Dengan begitu siapapun bisa berinvestasi dan merencanakan masa depannya.

4. Bebas Biaya Admin

Tidak seperti tabungan yang menarik biaya admin bulanan, danamu di deposito bebas biaya administrasi, lho!

Baca juga: Investasi di Tengah Ekonomi Amburadul: Pilih Emas atau Deposito?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Liputan6, Cermati, Bibit



Sumber : pluang.com

Alasan Perusahaan Melakukan IPO

Manfaat IPO bagi Perusahaan

Banyak orang berasumsi bahwa perusahaan melancarkan aksi IPO demi menipu atau ingin meraup dana masyarakat semata. Namun, jangan berasumsi negatif dulu, Sobat Cuan. Pasalnya, perusahaan bisa memperoleh manfaat bejibun dari IPO seperti berikut!

1. Meraih Pendanaan yang Lebih Murah

Setiap perusahaan tentu bermimpi untuk mengekspansi bisnisnya, apalagi kalau prospek bisnisnya di masa depan terbilang kinclong. Hanya saja, melakukan ekspansi usaha butuh uang yang tak sedikit. Oleh karenanya, mereka harus menghimpun tambahan pendanaan apapun caranya.

Perusahaan sejatinya bisa memperoleh pendanaan dari berbagai sumber, mulai dari pinjaman perbankan, merilis obligasi, mendapat suntikan dana, atau menyisihkan sebagian labanya untuk diinvestasikan kembali.

Sejatinya, sumber pendanaan yang paling mungkin ditempuh oleh perusahaan adalah meminjam uang dari bank atau merilis obligasi. Hanya saja, kedua opsi tersebut bakal membebani keuangan perusahaan ke depan lantaran mereka harus membayar beban bunga.

Tapi, selain itu, mereka juga punya opsi pendanaan yang lebih murah, yakni melepas sebagian sahamnya ke publik. Pasalnya, perusahaan tak perlu membayar beban bunga secara periodik. Mereka hanya perlu “membalas jasa” publik dengan menyerahkan dividen setiap tahunnya tergantung kebijakan masing-masing perusahaan.

2. Meringankan Beban Perusahaan

Perusahaan yang memiliki performa bisnis mumpuni dapat memanfaatkan IPO untuk menggalang pendanaan murah. Di sisi lain, terdapat pula perusahaan yang meraup pendanaan dalam bentuk pinjaman perbankan atau menerbitkan obligasi.

Hanya saja, jenis perusahaan yang disebut belakangan tersebut berpotensi tidak bisa melunasi utangnya jika performa bisnisnya makin amburadul. Nah, dalam hal ini, mereka bisa memanfaatkan IPO sebagai sarana untuk melunasi tumpukan utang yang mereka miliki.

3. Mempopulerkan Nama Perusahaan

Perusahaan yang melantai di bursa tak hanya sekadar ingin menggaet pendanaan, namun juga berharap bahwa citranya di masyarakat akan membaik.

Jika perusahaan terbuka mampu berkinerja cemerlang, maka performanya akan disorot oleh media massa. Tak ketinggalan, awak media pun kerap meliput Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dihelat perusahaan. Sehingga, IPO bisa menjadi ajang bagi perusahaan untuk meningkatkan kesadaran (awareness) publik sekaligus menjadi metode pemasaran yang terbilang gratis.

4. Meningkatkan Nilai Suatu Perusahaan

Perusahaan bisa meningkatkan nilainya dengan melantai di bursa. Pasalnya, saham yang diperdagangkan punya kemungkinan terapresiasi, yang ujungnya ikut mengerek nilai perusahaan.

Hanya saja, hal ini ibarat pisau bermata dua. Sebab, nilai perusahaan justru akan jatuh jika mereka gagal menghasilkan performa baik.



Sumber : pluang.com

Simak Cara Panen Cuan dari Mahar dan Hadiah Pernikahan di Sini!

Menikah dengan mahar sejumlah lot saham sudah jadi tren di kalangan milenial melek investasi. Selain mahar, hadiah pernikahan juga bisa kamu kelola bersama pasangan demi rumah tangga yang lebih tenteram lho, Sobat Cuan.

Salah satu contohnya ditunjukkan Beauty vlogger Nanda Arsyinta.

Baru-baru ini, ia mendadak jadi buah bibir lantaran dipinang dengan mas kawin berupa 305 lot saham MDKA dan 21 gram emas. Nadya yang menikah dengan founder kelas saham Rise Arrow, Ardya Tridwantoro itu pun jadi viral karena mas kawinnya yang unik.

“Awalnya aku mau nyesuaiin mahar aku dengan tanggal pernikahanku, kebetulan karena suami aku adalah investor dan pemilik kelas saham Rise Arrow, jadi aku memilih saham dan logam mulia untuk investasi jangka panjang. Kalau untuk nominalnya sih sesuaiin dengan tanggal 305 lot saham MDKA dan 21 gram logam mulia, jadi pas 30/5/21,” ujar Nanda dikutip dari CNBC.

Nanda dan Ardya bukanlah pasangan pertama yang menikah dengan mahar saham.

Di tahun 2019 Erwin Febriansyah yang bekerja sebagai Direktur Galeri Investasi Universitas Muhammadiyah Bengkulu menikahi istrinya Nekky Sulastri dengan mas kawin 21 lot saham telkom.

Selain itu, ada pasangan Agus Priyono dan Asmita Hadriani dengan mahar 5 gr Emas Antam dan Saham PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK). Serta Rikki Fendy yang meminang kekasihnya dengan mahar 5000 Lembar saham PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).

Apakah Mahar Investasi Sah Menurut MUI?

Meski baru mulai menjadi tren sejak tahun 2019, Majelis Ulama Indonesia (MUI) ternyata sudah mengkaji mahar saham.

Jaih Mubarok, Wakil Ketua Badan Pelaksana Harian Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), mengatakan mahar yang diberikan suami kepada istri boleh saja berupa uang, jasa, benda dan turunannya. Paling penting, mahar ini nantinya bisa dipindahkan kepemilikannya.

“Jadi bentuknya bisa manfaat. Makanya saham boleh karena turunan dari barang dan uang, jadi saham boleh,” sebut Jaih.

Mahar saham memang memiliki resiko fluktuasi harga seiring dengan volatilitas pasar modal. Namun pada prinsipnya, saham memiliki nilai dan bisa dipindahtangankan sehingga memenuhi prasayarat sebagai mahar yang bermanfaat.

“Jadi harus memiliki nilai dan bisa dipindahtangankan. Karakternya sama (dengan jenis barang lain). Tidak boleh diminta lagi oleh si suami dan yang penting istri sadar akan risikonya,” tambah dia.

Pasangan Baru Masih Bisa Cuan Meski Tak Dapat Mahar Investasi!

Fenomena mahar investasi mungkin hanya dilakukan oleh segelintir sejoli saja. Sementara itu, sebagian besar pasangan mungkin masih menggunakan mahar biasa dalam melangsungkan pernikahan.

Kalau kamu adalah salah satunya, kamu tak perlu khawatir tidak bisa mendulang cuan dari mahar pernikahan! Sebab, kamu bisa mengelola hadiah pernikahan untuk mengarungi bahtera rumah tangga (serta kesehatan finansial) agar lebih mumpuni.

Sobat Cuan pasti paham betul bahwa pengantin baru biasanya kebanjiran ‘salam tempel’ dari para tamu undangan resepsimu. Nominalnya bisa beragam memang, namun yang terpenting adalah kamu harus bisa memanfaatkan sebaik-baiknya sebagai modal berumah tangga.

Lantas, bagaimana mengelola hadiah pernikahan dengan tepat? Berikut caranya!

Baca juga: Apa itu Analisis Fundamental Saham?

1. Simpan Untuk Dana Darurat

Penting sekali untuk mulai memiliki dana darurat setelah menikah. Kamu pasti membutuhkannya di waktu yang tidak terduga seperti saat mobilmu tiba-tiba mogok atau harus ke dokter.

Dana darurat harus berupa uang likuid yang bisa digunakan sewaktu-waktu saat teresak. Idealnya, dana darurat yang harus kamu cadangkan adalah senilai tiga hingga enam bulan pengeluaran rutinmu dengan pasangan.

Kamu harus memisahkan dana darurat dalam akun terpisah dan digunakan hanya saat darurat saja. Jika tidak, kamu mungkin akan membebani tagihan kartu kredit saat situasi darurat tiba-tiba datang. Jadi, pastikah hadiah pernikahanmu diprioritaskan sebagai dana darurat, ya!

2. Bayar Utang

Pengeluaran untuk melangsungkan pernikahan seringkali membengkak. Kamu mungkin memiliki beberapa utang pada kerabat atau bank. Selain itu, kamu pun disarankan untuk melunasi tagihan kartu kredit dan cicilan jika masih ada.

Melunasi utang harus jadi prioritas kamu agar cashflow rumah tanggamu di masa depan tidak terbebani. Nah, untungnya, kamu bisa membayarnya dengan hadiah pernikahanmu.

Memasuki kehidupan baru bebas utang pasti terasa seperti membuka lembaran baru yang segar. Sehingga kamu bisa memulai tata kelola keuangan yang lebih sehat dengan pasanganmu.

Baca juga: Mau Tekan Nafsu Belanja? Yuk, Coba Tantangan Nabung 30 Days Challenge!

3. Sisihkan untuk Rumah Tinggalmu

Rumah umumnya jadi salah satu prioritas setelah menikah. Jika kamu belum memiliki rumah, kamu bisa mulai mempertimbangkan untuk mencicilnya dan menggunakan hadiah pernikahanmu sebagai uang muka.

Biaya sewa yang terus naik tiap tahun ditambah dengan harga tanah yang semakin tinggi tentu harus jadi pertimbanganmu. Memiliki rumah bisa jadi keputusan yang tepat jika kamu sudah memikirkannya masak-masak segala konsekuensinya.

Jika belum, kamu bisa mulai menabung dengan uang pernikahanmu, siapa tau rumah impianmu nanti bisa terbeli. Instrumen investasi seperti saham dan reksadana bisa menjadi pilihan yang tepat.

Mahar saham adalah langkah awal yang baik untuk mulai menabung guna keperluan berumah tangga seperti membeli rumah dan mobil. Jika kamu sudah punya rumah saat menikah, tidak ada salahnya menggunakan uang pernikahanmu untuk membeli perabotan. Suasana baru di rumahmu tentu akan menambah kebahagiaan pengantin baru.

Baca juga: Mau Cuan Saham Bermodal Analisis Fundamental? Simak 6 Strateginya di Sini!

4. Simpanan Masa Depan

Menikah identik dengan awal yang baru untuk semua hal. Kamu pasti memiliki rencana jangka pendek maupun jangka panjang.

Kamu dan pasangan juga harus mendiskusikan tentang anak. Jika kalian berencana untuk punya anak, kamu bisa memulai tabungan pendidikannya kelak sedini mungkin.

Manfaatkan hadiah pernikahanmu untuk menopang masa depanmu dengan pasangan. Konservasi tabungan yang kalian miliki agar perencanaan keuangan kalian matang. Dalam hal ini, kamu bisa menempatkannya di deposito atau tabungan dengan tujuan khusus, seperti tabungan pendidikan anak dan lain-lain.

Selain itu, tidak ada salahnya mulai memikirkan hari tua. Kamu dan pasanganmu bisa menggunakan hadiah pernikahan untuk menabung agar di masa tua kalian bisa tetap hidup tercukupi. Atau, untuk bersiap memayungi diri sendiri di kala “cuaca buruk” dengan cara menempatkannya di asuransi jiwa.

6. Bersenang-senang

Bagaimanapun, uang pernikahan adalah hadiah untukmu dan pasanganmu yang sudah berani mengambil komitmen sehidup semati. Menghabiskan sejumlah uang hadiah pernikahanmu untuk berbulan madu di akhir minggu adalah ide yang bagus.

Sisihkan saja sebagian untuk kamu nikmati agar semakin mengenal dengan teman hidupmu. Dengan begitu, langkah barumu dalam berumah tangga semakin penuh dengan kebahagiaan.

7. Investasi yang Terdiversifikasi

Setiap pasangan yang baru menikah tentu punya tujuan finansialnya masing-masing. Nah, cara yang tepat untuk mencapai tujuan finansialmu adalah dengan investasi! Manfaat investasi bisa kamu baca di artikel ini ya, Sobat Cuan!

Apalagi, dewasa ini investasi pun kian mudah. Kamu juga tak perlu modal besar untuk memulainya. Hanya saja, kadang kamu atau pasanganmu punya profil risiko yang berbeda. Mungkin, kamu adalah tipe investor agresif sementara pasanganmu adalah tipikal investor yang konservatif. Bagaimana cara menyeimbangkannya?

Yang bisa kamu dan pasanganmu lakukan tentu adalah melakukan diversifikasi investasi.

Sebab, dengan diversifikasi, maka kamu bisa mendulang cuan dari aset investasi yang lagi tokcer banget, namun tidak akan mendera kerugian besar jika salah satu asetmu berkinerja amburadul. Manfaat diversifikasi aset lainnya bisa kamu temukan di artikel berikut, ya!

Untungnya, saat ini diversifikasi aset kian mudah, apalagi di aplikasi Pluang!

Di Pluang, kamu bisa berinvestasi emas, indeks S&P 500, aset kripto, hingga reksa dana hanya dalam tiga ketuk saja dan mulai dari Rp10.000. Yuk, segera investasi di Pluang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNBC, Forbes, Key



Sumber : pluang.com