Category Archives: Pluang

Mengenal Cardano, Blockchain Pertama Berbasis Sains & Kajian Akademis

Apa Itu Cardano?

Cardano adalah platform smart contract Proof-of-Stake generasi ketiga sekaligus blockchain pertama yang pengembangannya ditinjau dan dikaji oleh sekelompok insinyur dan ahli kriptografi.

Jaringan ini mengklaim sebagai teknologi blockchain generasi ke-tiga karena dibangun berdasarkan riset akademis dan menjadi evolusi atas blockchain generasi pertama, yakni Bitcoin, dan generasi kedua, misalnya Ethereum.

Fakta uniknya, nama Cardano terinspirasi dari ahli matematika zaman renaisains bernama Gerolamo Cardano. Sementara itu, nama token asli jaringan Cardano, ADA, disadur dari nama ahli matematika abad ke-19 yang juga dikenal sebagai programmer komputer pertama bernama Ada Lovelace. 

Gerolamo Cardano dan Ada Lovelace. Sumber: Wikipedia

 

Cardano hadir untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi industri blockchain pada umumnya, seperti keamanan jaringan yang kurang kokoh, penyatuan lapisan komputasi dan akuntansi di jaringan, dan mekanisme pemungutan suara berbelit yang kerap bikin macet lalu lintas transaksi di jaringan.

Cardano mengatasi masing-masing masalah tersebut dengan memanfaatkan ilmu matematika. Tujuannya, agar jaringan Cardano mampu mengimplementasikan sistem keamanan anti peretasan, memisahkan jaringan komputasi dan akuntansi, dan menerapkan sistem voting berskala besar yang tak mengganggu kestabilan jaringan.

Di samping itu, berbeda dari jaringan lainnya, riset dan tinjauan akademis adalah faktor yang “didewakan” di jaringan Cardano.

Sebelum mengintegrasikan teknologi anyar, Cardano menyusun kerangka kerja berbasis riset yang kemudian akan diperiksa secara kolektif oleh sekelompok pakar yang terdiri dari ahli filsafat, sosiolog, psikolog, dan pakar game theory. Karakteristik ini tentunya membantu Cardano lebih yakin mengembangkan jaringannya plus token miliknya, ADA, di masa depan.

Namun, kadang hal ini bisa menjadi bumerang bagi Cardano. Sebab, ketika Cardano sibuk melakukan riset, ternyata pesaingnya justru memanfaatkan momentum tersebut untuk mengembangkan ekosistemnya.

Sebagai contoh, meski Cardano didirikan 2017 lalu, ia baru berani meluncurkan smart contract pada September 2021. Hanya saja, dalam rentang waktu tersebut, ternyata Ethereum sudah lebih dulu bertengger sebagai jawara di kancah platform smart contract. Bahkan, niatan Cardano pun disalip Solana meski ia baru meluncur tiga tahun setelah Cardano berdiri.

Dari kasus tersebut, komunitas kripto bisa belajar bahwa perusahaan teknologi yang sukses selalu mengedepankan “gerak cepat” ketimbang bersikap perfeksionis. Hal ini dapat dimaklumi mengingat perkembangan teknologi juga bergerak secara kilat.

Selain itu, inovasi teknologi yang baik bukan sekadar menyangkut fitur dan sistem semata, namun juga tingkat adopsi tinggi. Masing-masing inovasi teknologi yang hadir juga harus buru-buru menciptakan ekosistemnya sendiri agar tingkat adopsi massalnya mumpuni.

Mengenal Sosok & Lembaga Di Balik Teknologi Cardano

Sekilas, cara kerja Cardano terlihat lebih kompleks dibanding jaringan lainnya. Hal ini tentu bikin Sobat Cuan penasaran tentang tokoh-tokoh penting dan organisasi yang membantu aspek operasional jaringan ini.

Charles Hoskinson

Charles Hoskinson adalah co-founder Cardano yang merupakan wirausaha asal Amerika Serikat sekaligus salah satu pendiri awal jaringan Ethereum.

Menurut beberapa sumber, Hoskinson membangun Cardano setelah berselisih paham dengan pendiri Ethereum lainnya, Vitalik Buterin.

Konon, kala itu, Hoskinson berharap Ethereum bisa menjadi perusahaan yang berfokus pada laba dan mau menerima kucuran dana dari perusahaan modal ventura. Sayangnya, Buterin malah tetap menginginkan Ethereum sebagai organisasi nirlaba.

Meski Hoskinson adalah otak utama di balik Cardano, ia bukanlah pemilik atau pemegang kebijakan utama di jaringan tersebut. Justru, terdapat beberapa pemangku kebijakan dengan fungsi berbeda-beda yang terlibat di dalam proyek ini. Apa saja?

Cardano Foundation

Lembaga ini adalah badan nirlaba yang bermarkas di Zug, Swiss yang bertujuan untuk menstandarisasi, melindungi, dan mempromosikan teknologi Cardano. Dengan kata lain, lembaga ini menjadi “penjamin” utama atas keberhasilan proyek sekaligus aspek keamanan Cardano.

Makanya, institusi ini bekerjasama secara aktif dengan pemerintah dan badan otoritas lainnya. Tak ketinggalan, ia juga bertanggung jawab untuk menyusun kerja sama dengan beberapa perusahaan dan proyek open-source relevan lainnya.

IOHK

IOHK adalah perusahaan riset dan pengembangan blockchain yang didirikan Hoskinson dan Jeremy Wood. Perusahaan ini berfokus pada pembangunan solusi-solusi teknologi agar tercipta inklusi finansial yang lebih baik.

IOHK melancarkan aksi riset dan pengembangan jaringan Cardano dengan menggandeng beberapa perguruan tinggi ternama dunia.

Emurgo

Emurgo adalah perusahaan blockchain asal Jepang sekaligus firma modal ventura.

Cardano mendirikan Emurgo, yang merupakan perusahaan “saudara” IOHK, untuk mengintegrasikan, mengembangkan, dan menyokong kegiatan bisnis yang ingin memanfaatkan teknologi blockchain dan komputasi milik Cardano.

Kekuatan dan Kritik Terhadap Cardano

Kekuatan

  1. Blockchain pertama yang dikembangkan secara akademik, berdasarkan data-data, dan berbasis riset serta tinjauan para ahli.
  2. Cardano digadang sebagai blockchain yang paling banyak diriset dalam ekosistem kripto saat ini. Bahkan, karena hal ini, Cardano sampai-sampai dijuluki sebagai “koin profesor”.
  3. Perkembangan Cardano didukung oleh 90 whitepapers, jauh lebih banyak dibanding blockchain lain yang membutuhkan di bawah lima eksemplar whitepapers.
  4. Implementasi aspek akademis yang kental di jaringan membuat Cardano bisa fokus menyediakan aspek keamanan dan keberlangsungan jaringan yang baik.
  5. Memiliki teknologi smart contract yang lebih toleran terhadap kesalahan dibanding Ethereum.
  6. Token-token Cardano diciptakan di atas infrastruktur yang sama seperti ADA. Hal ini berbeda dibanding jaringan Ethereum, di mana token-token yang tercipta di atasnya berasal dari smart contract. Akibatnya, aspek keamanan token-token Cardano serupa dengan ADA. Tak heran jika kemudian token-token Cardano dijuluki sebagai “token kelas atas”.
  7. Cardano memiliki misi untuk menyasar negara-negara berkembang yang didera korupsi, masalah birokrasi, dan kurangnya akses ke jasa keuangan.
  8. Cardano berharap jaringan blockchain-nya bisa digunakan untuk kepentingan hajat hidup orang banyak. Misalnya, memverifikasi akses masyarakat untuk mendapatkan hak atas air bersih dan menciptakan sistem pemungutan suara yang transparan di sistem demokrasi.
  9. Cardano Foundation bekerja sama dengan Coinfirm agar patuh dengan prinsip anti pencucian uang yang diinisiasi Financial Action Task Force (FATF) dan 6AMLD. Ini membuat Cardano gampang menjalin kerja sama berbasiskan kerangka regulasi anti pencucian uang dengan beberapa perusahaan.
  10. Cardano memiliki kemitraan yang unik dan kuat, misalnya:
    1. Kemitraan dengan pemerintah Ethiopia untuk menyediakan nomor identitas sekolah berdasarkan blockchain kepada siswa-siswa. Hal ini memungkinkan institusi pendidikan Ethiopia untuk menyimpan dan mencatat seluruh prestasi akademik mereka di blockchain Cardano.
    2. Perusahaan reforestasi global Veritree menggunakan blockchain Cardano untuk mencatat jumlah pohon yang sudah berhasil ditanam kembali.
    3. DISH Network mengintegrasikan dirinya dengan Cardano untuk menyediakan jasa data digital bagi para pelanggannya.
    4. Perusahaan e-sports Rival menggunakan Cardano untuk membantu mencetak dan mendistribusikan NFT ke penggunanya.

Kritik

  1. Cardano membutuhkan proses pengembangan paling lama dibanding pesaingnya.
  2. Punya porsi pangsa pasar yang lebih kecil dibanding jaringan lainnya lantaran Cardano kewalahan membangun ekosistemnya sendiri.
  3. Ethereum, melalui pembaruan jaringan The Merge, akan mengikutsertakan mekanisme Proof-of-Stake yang bisa menjadi kompetitor sengit Cardano.
  4. Sistem peninjauan ahli yang diimplementasikan Cardano kadang memicu masalah lain. Sebab, Cardano jadi lebih senang melakukan riset terhadap perkembangan baru di jaringan alih-alih mengujicobakannya ke pengguna.
  5. Proses pengembangan jaringan yang lama membuatnya tidak menarik di mata perusahaan modal ventura.

Aspek Tokenomics ADA

Seperti yang telah dijelaskan di atas, ADA adalah koin utilitas asli di jaringan Cardano. Artinya,  ADA digunakan sebagai nilai tukar resmi dalam melakukan transaksi dan sebagai aset yang bisa di-staking oleh validator, mirip seperti token ETH di jaringan Ethereum.

Namun, hingga saat ini, koin ADA sejatinya tak memiliki daya guna dan nilai yang pasti lantaran jaringan Cardano sendiri saat ini masih dalam tahap pengembangan. Sehingga, pergerakan harga ADA lebih banyak ditentukan oleh spekulasi atas potensinya di masa depan.

Lebih lanjut, jaringan Cardano memiliki suplai terbatas, yakni 45 miliar keping saja.

Sebanyak 25,92 miliar keping telah dijual pada saat penawaran koin perdananya. Sehingga, saat ini masih tersisa sekitar 19 miliar ADA yang siap “ditambang” di jaringan Cardano.

Teknologi Cardano dan koin ADA memang terlihat “canggih” dan menarik ya, Sobat Cuan. Namun, bagaimana sih cara kerja teknologi satu ini? Yuk, simak di artikelnya berikutnya di tautan berikut!



Sumber : pluang.com

Memperkenalkan Hamish Daud dan Chelsea Islan, Dua Brand Ambassador Pluang!

Sobat Cuan, apakah kamu tahu bahwa kini Pluang punya dua Brand Ambassador yang kece? Ya, betul! Sekarang, Pluang menggandeng dua publik figur kenamaan Indonesia, Chelsea Islan dan Hamish Daud sebagai Brand Ambassador Pluang.

Pluang memilih dua sosok tersebut karena mereka dinilai bisa menginspirasi masyarakat Indonesia dalam menabung dan berinvestasi. Apalagi, keduanya memiliki kesadaran finansial tinggi yang patut dijadikan teladan bagi masyarakat Indonesia.

Nah, di artikel kali ini, yuk kenalan lebih jauh dengan Hamish dan Chelsea!

Hamish Daud

Siapa yang tak kenal Hamish Daud? Pria yang lahir tanggal 8 Maret 1980 ini dikenal sebagai aktor yang memiliki segudang filmografi yang luar biasa. Beberapa film yang ia bintangi di antaranya adalah Critical Eleven dan Trinity, The Nekad Traveler.

Namun, di tengah kesuksesannya sebagai aktor kawakan tanah air, mungkin tidak ada yang menyangka bahwa hal itu ia tidak dapatkan secara instan.

Hamish, yang menghabiskan masa kecilnya di Australia, memang sudah hidup mandiri sedari dini. Ia sudah paham mengenai berjibaku dalam mencari nafkah dengan melakoni beberapa pekerjaan seperti pencuci piring di kafe, tukang kebun, hingga menjual furnitur. Bahkan, ia melakukan semuanya sejak usia 11 tahun!

Mengingat uang yang dihasilkan merupakan buah kerja kerasnya, tak heran jika Hamish saat ini sangat menghargai dan memaknai uang berapapun jumlahnya. Salah satu bentuk apresiasi atas kerja kerasnya selama ini adalah dengan menabung dan menginvestasikannya ke berbagai kelas aset, seperti reksa dana pendapatan tetap.

Selain bentuk penghargaan terhadap kerja kerasnya selama ini, Hamish menyadari bahwa menabung dan berinvestasi adalah salah satu cara bagi dirinya untuk menggapai tujuan finansialnya. Salah satunya adalah membiayai hobinya, yakni traveling dan berekspedisi dengan tujuan edukasi.

Ia mengaku bahwa biaya yang dibutuhkan untuk memuaskan kegemarannya cukup menguras uang. Hal tersebut menuntunya untuk mengatur arus keuangannya secara cermat, sehingga ia memutuskan untuk menabung secara konsisten.

Kisah hidup Hamish memang cukup inspiratif ya, Sobat Cuan. Hal tersebut membuat Pluang menggandeng Hamish sebagai salah satu Brand Ambassador. Tujuannya, agar Hamish bisa menginspirasi generasi seusianya dan keluarga Indonesia bahwa berinvestasi dan menabung adalah kunci menuju kemandirian finansial mumpuni di masa depan.

“Saya memang sudah memikirkan masa depan saya sedari dini, namun saya pun harus menyeimbangkannya dengan kepuasan pribadi saya sendiri. Makanya, saya rutin menabung di beberapa kelas aset salah satunya yang terdapat di Pluang,” jelas Hamish.

“Pluang menawarkan diversifikasi aset yang beragam dan berlisensi, sehingga saya yakin tabungan masa depan saya dan tabungan bagi budget traveling saya akan tetap aman dalam berbagai situasi.”

Chelsea Islan

Masyarakat juga pasti sudah tidak asing ketika mendengar nama Chelsea Islan. Wanita kelahiran 2 Juni 1995 ini juga dikenal sebagai aktris berbakat. Bahkan, ia sempat dua kali menerima nominasi piala Citra atas aktingnya yang memukau di film Di Balik 98 dan Rudy Habibie.

Chelsea tak hanya memiliki kemampuan akting yang ulung. Ia pun ternyata juga memiliki kemampuan perencanaan keuangan yang baik. Siapa yang menyangka bahwa di usianya yang masih muda, Chelsea memiliki segudang penghasilan dari berinvestasi di beragam kelas aset.

Chelsea mengaku bahwa dirinya adalah investor dengan profil risiko konservatif. Sehingga, ia cenderung “main aman” dalam berinvestasi dan memilih untuk mendulang pendapatan pasif. Oleh karenanya, tak heran jika ia memilih instrumen seperti reksa dana dan obligasi sebagai tujuan penempatan dananya.

Selain berinvestasi di instrumen keuangan, Chelsea juga menginvestasikan uangnya di sektor properti yang ia rintis sejak 2016 silam. Properti yang ia beli saat itu pun merupakan buah yang ia petik dari menabung selama bertahun-tahun.

Chelsea percaya bahwa hidup tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus. Setiap orang tentu mendapat cobaan dalam hidup yang terkadang datang secara mendadak. Makanya, ia percaya bahwa setiap orang harus “sedia payung sebelum hujan” dengan memiliki back up plan. Nah, salah satu back up plan yang baik adalah dengan memiliki perencanaan keuangan yang juga apik.

Atas sikap dan pandangan hidupnya tersebut, Pluang memutuskan untuk menggandeng Chelsea sebagai Brand Ambassador. Chelsea diharapkan dapat menginspirasi generasi milennial lainnya untuk segera memiliki perencanaan keuangan yang baik demi menggapai kemandirian finansial di masa depan.

“Setiap orang punya impian masing-masing dan mereka harus bekerja keras untuk menggapainya. Salah satunya adalah dengan menabung dan berinvestasi. Saya telah membuktikan bahwa sukses finansial di usia muda bisa tercapai jika kita konsisten menabung dan berinvestasi sejak dini,” jelas Chelsea.

Hamish dan Chelsea telah membuktikan bahwa menabung dan berinvestasi adalah kegiatan yang bermanfaat dan bisa dilakukan semua golongan masyarakat tanpa melihat usia, latar belakang, dan pendidikan. Hal tersebut selaras dengan visi Pluang, yakni untuk membantu setiap orang di Indonesia untuk bisa berinvestasi dan menabung di beragam aset investasi.

Kalau Hamish dan Chelsea mempercayakan investasinya di Pluang, kenapa kamu tidak? Yuk, segera berinvestasi di Pluang!



Sumber : pluang.com

Membedah Isi Teknologi Cardano

Mengenal Komponen di Teknologi Cardano

Cardano didirikan berbasis data-data dan kajian akademis yang teliti. Makanya, sang pengembang pun tak main-main dalam membangun arsitektur jaringan Cardano.

Salah satu keseriusan tersebut bisa Sobat Cuan perhatikan di struktur jaringan utama blockchain Cardano.

Blockchain lain boleh saja memiliki satu jaringan utama. Namun, Cardano justru memanfaatkan dua lapisan jaringan utama di dalamnya, yakni Cardano Settlement Layer (CSL) dan Cardano Computation Layer (CCL).

Melalui dua jaringan tersebut, Cardano ingin menghindari masalah macetnya proses transaksi yang kerap berujung pada kenaikan biaya transaksi, seperti dialami jaringan lainnya. Dengan kata lain, hadirnya perbedaan antara jaringan khusus transaksi dan komputasi di dalam tubuh Cardano memungkinkan jaringan tetap bisa menjalankan fungsi tata kelolanya tanpa mengganggu jalannya transaksi.

Di samping itu, Cardano juga punya beberapa jaringan ekstra (sidechains) yang berfungsi sebagai jembatan komunikasi antar kedua lapisan.

Arsitektur jaringan seperti demikian memudahkan Cardano melaksanakan soft fork ketimbang jaringan lainnya. Di jaringan Ethereum, misalnya, implementasi soft fork terbilang sukar lantaran tidak ada perbedaan mencolok antar lapisan-lapisan jaringannya.

Lantas, seperti apa penjelasan detail masing-masing lapisan jaringan tersebut?

1. Cardano Settlement Layer (CSL)

CSL adalah lapisan jaringan yang bertindak sebagai lokasi di mana pemilik token bisa menerima dan mengirim ADA dengan biaya transaksi minim. Proses pencatatan transaksinya mirip seperti sistem digital buku besar (ledger) akuntansi, layaknya Bitcoin, namun dilengkapi dengan fungsi-fungsi khas jaringan Cardano.

2. Cardano Computational Layer (CCL)

CCL merupakan sekumpulan protokol yang menjalankan fungsi smart contract, memastikan aspek keamanan jaringan, dan memungkinkan operasi fitur penting lainnya di jaringan. Sehingga, bisa dibilang bahwa CCL adalah tulang punggung utama jaringan Cardano.

3. Ouroboros Praos Protocol

Di samping itu, algoritma konsensus Proof-of-Stake khas Cardano yang bernama Ouroboros pun terletak di jaringan CCL.

Menariknya, Ouroboros menggunakan ilmu matematika untuk menyokong aspek keamanannya. Fakta unik lainnya, seluruh aktivitas yang memanfaatkan algoritma konsensus ini wajib ditinjau oleh para pakar Cardano.

Mekanisme konsensus Ouroboros juga berbeda dibanding jaringan lain yang memanfaatkan sistem serupa. Sekadar informasi, algoritma konsensus Ouroboros dianggap “aman” jika 51% dari total “pemegang suaranya” dikendalikan oleh entitas yang bertanggung jawab. Syarat ini lebih rendah dibanding protokol Proof-of-Stake lain yang mematok angka 67%.

Lebih lanjut, proses validasi blok transaksi di Ouroboros menggunakan sistem finalisasi berdasarkan probabilitas.

Sistem ini justru mirip seperti algoritma konsensus Proof-of-Work mengingat mayoritas jaringan berbasis Proof-of-Stake selalu menggunakan sistem finalisasi berbasis suara absolut.

Namun, ciri khas ini membuat validasi transaksi di jaringan Cardano terbilang lebih efisien dibanding jaringan lainnya. Sebab, Ouroboros hanya membutuhkan sebagian kecil pemegang token ADA yang sedang online untuk memvalidasi transaksi untuk mewakili seluruh validator resmi.

Hal ini bisa terjadi lantaran Ouroboros memungkinkan masing-masing pemilik token ADA untuk menunjuk beberapa perwakilannya demi memvalidasi satu aktivitas transaksi. Imbasnya, penciptaan blok transaksi baru menjadi lancar meski beberapa validator sedang offline.

Bahkan, nantinya konsensus Ouroboros bisa melakukan validasi transaksi dengan durasi kilat melalui sebuah pembaruan konsensus bernama Hydra.

4. Epochs dan Slots

Protokol Ouroboros membagi waktu transaksi berdasarkan satuan bernama Epochs. Kemudian, masing-masing Epochs akan “dicincang” kembali menjadi satuan lebih kecil bernama Slots.

Dalam Cardano, satu blok transaksi diharapkan bisa tercipta dalam kurun satu Slot atau setara dengan 20 detik. Untuk memimpin jalannya transaksi, jaringan akan memilih pemimpin Slot (Slot Leaders), yang kesempatan untuk dipilihnya didasarkan atas jumlah koin ADA yang mereka miliki

Agar proses pemilihan Slot Leaders lepas dari unsur kecurangan, jaringan Cardano mengimplementasikan sistem pemilihan acak, mirip seperti sistem “hompimpa” dengan melempar koin. Setelah terpilih, setiap Slot Leaders nantinya hanya akan berhak memverifikasi satu blok transaksi saja.

5. Haskell

Haskell adalah bahasa pemrograman dengan derajat toleransi kesalahan tinggi yang digunakan di jaringan Cardano. Bahasa pemrograman ini memang jarang digunakan di industri blockchain, namun cukup marak digunakan oleh kalangan akademisi.

Haskell juga memungkinkan terjadinya verifikasi menggunakan ilmu matematika. Sehingga, tak heran ia digadang sebagai salah satu bahasa pemrograman yang paling aman dengan mekanisme verifikasi yang cukup kokoh.

Oleh karenanya, bahasa pemrograman Haskell diharapkan bisa memperkuat aspek keamanan dan infrastruktur aplikasi terdesentralisasi, yang kadang berisikan aset kripto senilai miliaran Dolar AS, di atas jaringan Cardano.

Menjelajahi Peta Jalan Cardano

Cardano adalah sebuah jaringan yang diharapkan bisa terus berevolusi ke depan. Oleh karenanya, ia pun membagi tahapan perkembangannya menjadi lima fase, di mana setiap fasenya berfokus pada pemasangan fungsi spesifik di jaringan Cardano.

Uniknya, nama setiap masing-masing fase tersebut terinspirasi dari nama-nama ahli ilmu pengetahuan yang punya sumbangsih besar ke bidangnya masing-masing.

Lantas, seperti apa penjelasan lengkap masing-masing tahapan pengembangan Cardano?

1. Tahapan Byron (Era Pembangunan Pondasi Cardano)

Tahapan Byron diambil dari nama Lord Byron, ayah dari ahli matematika Ada Lovelace. Seperti dijelaskan di artikel sebelumnya, Ada Lovelace merupakan inspirasi dari nama token asli Cardano bernama ADA.

Dalam fase ini, Cardano berfokus menciptakan arsitektur jaringan dan mengujicobakan fungsi-fungsi dasar Cardano agar jaringan bisa berjalan dengan lancar.

Selain itu, di tahapan Byron, Cardano juga melancarkan upaya untuk menggaet komunitasnya sendiri. Oleh karenanya, tak heran jika tahapan Byron dimulai September 2017, bertepatan dengan peluncuran versi pertama Cardano.

Di tahapan ini, Cardano sudah memungkinkan penggunanya untuk menjual dan membeli ADA di sekumpulan jaringan yang ditenagai algoritma konsensus Ouroboros. Di fase yang sama, Cardano juga meluncurkan dompet digital Daedalus dan Yoroi, yang masing-masing diluncurkan oleh IOHK dan Emurgo.

Sepanjang tahapan Byron, Cardano juga melakukan listing ADA di platform exchange kripto. Setelah seluruh kegiatan itu rampung, fase Byron pun selesai di 2020 dan Cardano kemudian resmi memasuki fase Shelley.

2. Tahapan Shelley (Era Desentralisasi)

Fase Shelley adalah tahapan di mana Cardano meluncurkan jaringan utamanya dan memulai upaya desentralisasi di dalamnya. Dengan jumlah pengguna yang lebih banyak ketimbang era Byron, fase Shelley diharapkan bisa meningkatkan aspek keamanan dan performa jaringan Cardano.

Nama Shelley sendiri diambil dari penulis buku bergenre horor Frankenstein, Mary Shelley. Pemilihan nama ini cukup unik lantaran mencerminkan ambisi Cardano untuk menciptakan jaringan yang beroperasi secara otonom, mirip seperti makhluk rekayasa Frankenstein.

Cardano memulai fase Shelley pada 29 Juli 2020 lalu yang ditandai dengan aktivasi algoritma konsensus Proof-of-Stake dan penawaran program staking ke penggunanya.

Di dalam tahapan ini, Cardano juga memungkinkan pemilik ADA untuk mendelegasikan tugasnya sebagai validator ke pengguna lainnya.

Jaringan juga membuat sistem baru di mana semua pemilik ADA bisa menciptakan “kolam dana ADA”. Mereka bisa menggunakan ADA yang berasal dari “kolam” tersebut untuk membayar imbalan bagi pihak-pihak yang mewakili mereka dalam proses validasi transaksi.

3. Tahapan Goguen (Era Implementasi ‘Smart Contract’)

Fase Goguen adalah tahapan di mana Cardano mulai menginstalasi teknologi smart contract di dalamnya agar komunitas kripto bisa mengembangkan aplikasi terdesentralisasi di atas jaringan Cardano. Hal ini diharapkan dapat menambah nilai guna Cardano selain sebagai jaringan blockchain biasa semata.

Dalam tahapan ini, Cardano juga memungkinkan interoperabilitas smart contract miliknya dengan smart contract milik jaringan lain meski keduanya memiliki bahasa pemrograman berbeda.

Fase Goguen, yang namanya diambil dari ahli komputer AS Joseph Goguen, dimulai pada September 2021 lalu.

4. Tahapan Basho (Era Peningkatan Skalabilitas Jaringan Cardano)

Di dalam fase ini, Cardano berniat mengoptimalisasi skala jaringan agar protokol Cardano bisa mudah berinteraksi dengan jaringan lainnya.

Untuk menuju hal tersebut, Cardano akan melancarkan dua aksi penting selama tahapan yang namanya terinspirasi dari penyair Jepang Matsuo Bashõ tersebut.

Pertama, Cardano akan memperkenalkan jaringan ekstra (sidechains) bernama Hydra 2 yang bisa digunakan untuk “memecah-mecah” transaksi demi mengurangi kepadatan lalu lintas transaksi tanpa perlu mengorbankan aspek keamanan jaringan.

Kedua, Cardano akan meluncurkan standar pencatatan transaksi baru yang sesuai dengan standar saat ini, yakni UTXO, demi memudahkan aspek interoperabilitasnya.

5. Tahapan Voltaire (Era Tata Kelola)

Melalui fase Voltaire, Cardano ingin memperkenalkan sistem pemungutan suara yang lebih transparan dan adil, di mana setiap pemilik token benar-benar punya hak untuk menentukan masa depan jaringan Cardano.

Jika tahapan ini selesai, maka Cardano dianggap sudah memiliki sifat desentralisasi penuh. Sehingga, IOHK pun tak akan ragu menyerahkan kepemilikan jaringan Cardano ke komunitasnya.

Fakta uniknya, nama Voltaire diambil dari penulis Perancis abad 17 yang kala itu getol menyuarakan kebebasan hak sipil dan kerap disebut sebagai salah satu pionir utama Revolusi Perancis. Semangat Voltaire tersebut dianggap senada dengan tujuan Cardano di tahapan pengembangan akhir ini.

Sekilas Tentang Fitur Cardano Masa Depan

Komponen Cardano yang berbasiskan ilmu pengetahuan tersebut terdengar kompleks ya, Sobat Cuan.

Kendati demikian, Cardano ternyata tidak lelah untuk terus berinovasi. Berikut adalah contoh inovasi yang tengah dikembangkan Cardano untuk menopang keandalan jaringan di masa depan!

  1. Plutus. Ini adalah bahasa pemrograman yang diharapkan bisa meningkatkan daya guna smart contract saat ini dengan memanfaatkan bahasa pemrograman Haskell.
  2. Marlow. Ini merupakan bahasa pemrograman khusus tingkat tinggi yang digunakan untuk membangun kontrak-kontrak finansial di atas Plutus. Bahasa pemrograman ini memungkinkan pelaku bisnis dan keuangan yang awam ilmu kripto bisa menciptakan smart contract di jaringan Cardano.
  3. Extended UTXO (EUTXO). Ini adalah teknologi anyar yang memungkinkan penyederhanaan penciptaan smart contract dengan memecah eksekusinya ke dalam beberapa transaksi.
  4. Rekening bank terdesentralisasi. Rencananya, Cardano akan menghimpun token ADA yang disetor pemiliknya ke dalam satu dompet digital, mirip seperti rekening bank terdesentralisasi. Nantinya, rekening ini akan dikendalikan oleh seluruh pemegang token ADA, di mana dana di dalamnya bakal dialokasikan untuk pengembangan proyek Cardano di masa depan.

Apakah Cardano Benar-Benar Lebih Baik dari Ethereum?

Secara kasat mata, Cardano dan Ethereum memiliki tujuan dan keinginan sama, yakni menjadi pemimpin platform smart contract sejagat. Namun, masing-masing platform tetap punya masalah tersendiri.

Di satu sisi, Ethereum memiliki masalah skalabilitas transaksi, sebuah momok yang selama ini ditakutkan punggawa Cardano Charles Hoskinson.

Untungnya, masalah tersebut bakal terpecahkan setelah Ethereum mengimplementasikan algoritma konsensus Proof-of-Stake di pembaruan jaringan teranyarnya. Bahkan, dengan ukuran ekosistem yang besar, Ethereum digadang bisa memiliki skalabilitas dan aspek keamanan yang lebih mantap ketimbang Cardano.

Sementara, di sisi lain, karakteristik Cardano yang mengedepankan riset dan tinjauan akademis membuat proses pengembangannya jadi lama. Ujungnya, ia pun kewalahan menyalip dominasi Ethereum dalam jangka waktu dekat.

Intinya, Ethereum dan Cardano punya keunggulannya masing-masing. Namun, agar Sobat Cuan mampu melihat perbedaan di antara keduanya, berikut ringkasan distingsi antara Ethereum dan Cardano!

Mengenal Anggota Ekosistem Cardano

Terdapat beberapa aplikasi menarik yang dibangun di atas jaringan Cardano, berikut contohnya!

1. SundaeSwap

SundaeSwap adalah platform exchange terdesentralisasi pertama yang meluncur di atas jaringan Cardano. Melalui platform ini, pengguna di ekosistem Cardano bisa melakukan tukar-menukar token dan mendapatkan likuiditas.

Platform ini memperkenalkan model distribusi token yang unik bernama Initial Stake Pool Offering (ISO atau ISPO), yang mirip seperti kombinasi antara airdrop dan penawaran umum koin perdana (ICO).

2. MELD

MELD adalah platform pinjam-meminjam aset kripto. Dengan kata lain, platform ini memungkinkan penggunanya untuk mengakses pendanaan dan “menabung” di jaringan Cardano.

Pada November 2021, MELD mengumumkan telah menggaet pendanaan baru sebesar US$1 miliar dalam bentuk ADA yang dijadikan bagian dari ISPO.

3. OccamFi

OccamFi adalah launchpad perdana di jaringan Cardano. Melalui platform ini, penggunanya bisa berinvestasi di token-token tertentu sebelum mereka benar-benar dilempar ke pasaran.

4. CNFT

CNFT merupakan lokapasar Non-Fungible Token (NFT) terbesar di jaringan Cardano. Namun, CNFT nantinya akan memiliki “teman” lokapasar lainnya bernama Fiborite, sebuah platform NFT besutan Emurgo.

4. Pavia

Pavia adalah proyek Metaverse pertama di jaringan Cardano. Meski memang tahap pengembangannya baru seumur jagung, namun fans berat metaverse sudah ngebet ingin membeli lahan di dalamnya. Bahkan, beberapa di antaranya rela merogoh kocek hingga 60.000 keping ADA untuk membeli satu kavling tanah di Pavia!



Sumber : pluang.com

Investasi Pilihan di 2021

Investasi Pilihan Yang Bakal Booming di Tahun 2021

Tahun 2020 segera berakhir, dan inilah beberapa investasi pilihan yang akan booming di tahun 2021.

Katanya tahun depan disebut tahunnya kerja keras dan disiplin. Siapa yang kerja keras, sabar, dan disiplin, bakal kaya raya. Sebaliknya, yang bermalas-malasan, bakal merugi.

Selain bekerja, kamu juga harus pintar memutar gaji atau penghasilan. Supaya duit tidak habis, tetapi malah berkembang biak.

Caranya dengan investasi. Begitulah strategi orang-orang tajir. Maka dari itu, uang mereka terus bertambah banyak. Apalagi kalau investasinya di pasar modal, khususnya investasi pilihan saham. Cuannya lebih gede.

Jika ada yang sudah mantap terjun sebagai investor saham atau mau investasi tetapi masih bingung, simak nih penjelasan tentang kondisi dan tren pasar di 2021, strategi investasinya, serta beberapa pilihan yang patut dilirik.

Baca: Pengin Bikin Start-up? Ini 5 Strategi Awal yang Harus Kamu Ketahui

Buat yang punya resolusi investasi, Hans Kwee dan Presiden Direktur CSA Institute, Aria Santoso merekomendasikan beberapa saham yang menarik untuk dikoleksi alias investasi pilihan:

1. Investasi Pilihan Sektor pertambangan

  • Ada PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
  • Lalu PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
  • Kemudian PT Timah Tbk (TINS)
  • Dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
  • Ada juga PT Adaro Energy Tbk (ADRO)
  • PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG)

2. Investasi Pilihan Sektor keuangan, khususnya perbankan

  • Ada PT Bank Rakyat Indonesia Tbk / Bank BRI (BBRI)
  • Lalu PT Bank Negara Indonesia Tbk / Bank BNI (BBNI)
  • Kemudian PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
  • Dan PT Bank Central Asia Tbk / Bank BCA (BBCA)

3. Investasi Pilihan Sektor properti

  • Ada PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
  • Lalu PT Pakuwon Jati Tbk (PWON)
  • Dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA)

4. Sektor telekomunikasi

  • PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)

“Di 2021, harga komoditas akan naik, termasuk batubara, nikel untuk produksi baterai kendaraan mobil listrik. Tren bunga menurun, sehingga properti akan bergerak ke atas dan sektor keuangan, yang selalu jadi andalan ketika ada koreksi pasar,” Hans menjelaskan.

Investasi jangan asal, sebab ada risikonya. Mesti punya strategi biar investasimu untung, bukan buntung. Seperti strategi yang dibocorkan Aria:

  • Pilih perusahaan yang mencetak keuntungan, earning positif
  • Cari saham perusahaan yang masih memiliki peluang tumbuh
  • Membeli saham ketika harga-harga turun, pasar terkoreksi, atau diskon
  • Diversifikasi saham. Miliki 5 sampai 10 saham emiten, tetapi tidak perlu sampai ratusan emiten.

Baca: Dari 6 Pilihan Investasi Ini, Mana Sih yang Paling Tepat Untuk Pemula?

Keluar dari Zona Nyaman Dengan Investasi Pilihan

Mau hidup dengan gaji pas-pasan terus? Kalau ingin mengubah nasib, ayo bergerak. Keluar dari zona nyamanmu. Berani melangkah demi masa depan finansial yang lebih mapan.

Segera tangkap peluangmu menjadi kaya raya dengan jalan investasi. Kalau niatmu baik, semesta pasti akan mendukung.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Unduh aplikasi Pluang di Google Play Store atau App Store untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam dengan kadar 999,9 mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS seperti Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera unduh aplikasi Pluang!

Sumber: Forbes.com

Baca juga:

Mulai Investasi dari yang Mudah, Ini 6 Produk Investasi Terbaik untuk Pemula

Dari 6 Pilihan Investasi Ini, Mana Sih yang Paling Tepat Untuk Pemula?

Menyulap Hobi Menjadi Bisnis dengan 7 Trik Andalan Ini!



Sumber : pluang.com

Mengenal Zilliqa, Punggawa Teknologi ‘Sharding’ dengan Kemampuan ‘Amazing’

Apa Itu Zilliqa?

Zilliqa adalah platform blockchain berbasis smart contract dan sistem algoritma konsensus Proof-of-Work yang berniat menjadi pesaing jaringan Ethereum, atau umum dikenal sebagai “Pembunuh Ethereum”. 

Untuk mencapai tujuan tersebut, jaringan mendongkrak tingkat skalabilitas transaksinya dengan memanfaatkan satu mekanisme yang disebut Sharding. Bahkan, fakta uniknya, Zilliqa adalah jaringan blockchain publik pertama yang memanfaatkan teknologi tersebut!

Lantas pertanyaannya, kenapa jaringan fokus pada peningkatan skalabilitas transaksi? 

Seperti yang Sobat Cuan ketahui, jaringan blockchain populer seperti Ethereum dan Bitcoin kini mengalami masalah skalabilitas. Yakni, sebuah kondisi di mana pemrosesan transaksi di jaringan berjalan sangat lambat lantaran kapasitasnya sudah terlalu padat. 

Masalah ini muncul gara-gara membludaknya pengguna di satu jaringan blockchain tidak kunjung diimbangi dengan kenaikan ukuran jaringannya. Implikasinya, proses transaksi di jaringan menjadi lelet dan biaya transaksi semakin mahal. 

Memang, beberapa blockchain memilih untuk tidak terlalu peduli dengan isu tersebut. Namun, jika masalah skalabilitas itu dibiarkan berlarut-larut, maka pengguna dan komunitas kripto jadi malas menciptakan inovasi di jaringan tersebut.

Nah, Zilliqa tak ingin masalah yang sama melanda jaringannya. Sebab, Zilliqa beranggapan bahwa optimalisasi skalabilitas transaksi bakal membuka potensi ekonomi yang lebih besar lagi.

Tak tanggung-tanggung, dengan beramunisikan skalabilitas mumpuni, Zilliqa bahkan juga berangan-angan ingin menjadi pusat semesta kancah ekonomi terdesentralisasi dan kegiatan ekonomi kreatif.

Mengenal Sharding: Keunikan Utama Jaringan Zilliqa

Alasan Zilliqa Menggunakan Sharding

Seperti yang telah disinggung di atas, Zilliqa adalah blockchain pertama yang menggunakan teknologi Sharding untuk menciptakan skalabilitas transaksi yang mantap. Tapi, apa alasan utama jaringan memanfaatkan mekanisme itu?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Sobat Cuan perlu kilas balik ke pangkal masalah utama jaringan blockchain, yakni trilema blockchain.

Penjelasan trilema blockchain sudah dikupas dengan lengkap di artikel berikut. Namun, secara sederhananya, konsep trilema blockchain menekankan bahwa satu jaringan tidak dapat mencapai aspek desentralisasi, keamanan, dan skalabilitas di saat yang bersamaan. Akibatnya, pengembang harus merelakan satu dari tiga hal tersebut saat mengembangkan sebuah jaringan.

Sejauh ini, pengembang blockchain memang lebih memilih mengorbankan aspek skalabilitas agar memiliki aspek keamanan dan desentralisasi yang unggul. 

Hanya saja, masalah skalabilitas bisa berubah menjadi “penyakit kronis” seiring meningkatnya jumlah pengguna jaringan. Hal itu juga bisa mempersulit jaringan untuk mencapai konsensus dalam memvalidasi transaksi.

Nah, sebagai salah satu jaringan blockchain, Zilliqa pun menghadapi trilema serupa. 

Di satu sisi, Zilliqa menggunakan algoritma konsensus Proof-of-Work demi mengoptimalisasi aspek keamanan dan desentralisasi di jaringan. Sehingga, Zilliqa harus pasrah memiliki aspek skalabilitas transaksi yang tak optimal dibanding kedua faktor tersebut.

Hanya saja, Ziliqa tak mau terjebak di perkara skalabilitas transaksi. Alhasil, Zilliqa perlu memutar otak agar bisa lolos dari perkara tersebut. Nah, sebagai solusinya, Zilliqa pun akhirnya keluar dengan mekanisme pencatatan transaksi bernama Sharding.

Sharding adalah proses di mana jaringan memecah-mecah data blockchain ke kepingan-kepingan informasi yang berukuran lebih mini (shards) untuk kemudian didistribusikan, divalidasi, dan disimpan oleh beberapa komputer berbeda (nodes).

Setelah itu, masing-masing komputer akan kembali mengirimkan shard ke jaringan utama untuk kemudian digabungkan dengan shard dari nodes lainnya. 

Nah, dengan mekanisme ini, maka beban komputasi jaringan diharapkan bisa berkurang dan jaringan bisa memproses transaksi berukuran besar dengan lebih mudah.

Bagaimana Cara Kerja Sharding?

Hanya saja, kapasitas Sharding yang dilakukan Zilliqa tentu bergantung kepada ukuran jaringannya saat ini.

Secara teori, memang tidak ada batasan terkait jumlah transaksi yang mampu diproses Zilliqa per detiknya. Tetapi, secara praktiknya, kemampuan pemrosesan transaksi jaringan bakal terbatas jika hanya ada sedikit nodes yang berpartisipasi di dalamnya.

Sobat Cuan bisa menyimak penjelasan berikut untuk memahami lebih detail kondisi di atas.

Ketika menjalankan Sharding, Zilliqa akan membagi data transaksi ke dalam beberapa kelompok, atau umum disebut shard, yang beranggotakan 600 nodes untuk setiap kelompoknya. Nantinya, tiap-tiap kelompok akan memproses transaksi di jaringan Zilliqa dengan porsi yang adil antara satu dengan lainnya.

Sebagai contoh, jika jaringan Zilliqa saat ini memiliki 2.400 nodes, maka akan terdapat empat shards di jaringan. Sehingga, setiap shard akan bertanggung jawab untuk memproses 25% dari transaksi di jaringan tersebut.

Kemudian, anggap saja Zilliqa kemudian memiliki 3.000 nodes di jaringannya. Maka, jumlah shards yang terdapat di jaringan akan berkembang menjadi lima shards, sehingga masing-masing shard bertanggung jawab memproses 20% dari data transaksi di jaringan.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa beban pemrosesan jaringan akan semakin ringan jika semakin banyak nodes yang berpartisipasi. Begitu pun sebaliknya.

Bagan sederhana tentang proses Sharding. Sumber: Zilliqa

Lebih lanjut, masing-masing shard akan memproses bagian transaksinya ke dalam sebuah blok transaksi mikro bernama microblocks. Nantinya, masing-masing microblock akan digabungkan dengan microblock yang berasal dari shard lainnya dalam sebuah proses yang disebut DS Epoch.

Di dalam setiap proses DS Epoch, beberapa nodes nantinya akan dipilih secara acak untuk menjadi anggota sebuah badan yang disebut DS Committee, yakni lembaga yang mengatur tata kelola shards secara umum.

Dengan kata lain, lembaga itu akan menentukan nodes apa saja yang akan tergabung ke dalam satu shard dan jenis transaksi apa saja yang bisa diproses oleh masing-masing shard.

Setelah proses DS Epoch berakhir, maka DS Committee akan merangkai seluruh blok mikro dari setiap shard menjadi satu kesatuan utuh untuk kemudian dicatat kembali ke blockchain utama.

Perbedaan Sharding Zilliqa dengan Ethereum 2.0

Zilliqa memang jadi jaringan pertama yang menggunakan Sharding. Kendati begitu, Sharding sejatinya sudah lama hadir di kancah kripto meski memang mekanisme ini tak sepenuhnya dimanfaatkan jaringan blockchain.

Oleh karenanya, tak heran jika terdapat jaringan selain Zilliqa yang berniat menggunakan mekanisme Sharding, salah satunya adalah Ethereum 2.0. 

Namun, mekanisme Sharding kedua jaringan tersebut terbilang berbeda. Di satu sisi, Ethereum 2.0 menggunakan mekanisme State Sharding sementara Zilliqa menggunakan Network Sharding. Lantas, apa perbedaannya?

State Sharding

State Sharding adalah proses Sharding di mana seluruh data transaksi jaringan dipecah-pecah dan didistribusikan ke nodes dan shards yang terdapat di jaringan.

Proses ini memungkinkan nodes berkomunikasi satu sama lain tanpa “menindih” hasil verifikasi di blok transaksi sebelumnya. Akibatnya, jaringan diharapkan bisa menggunakan daya penyimpanan (storage) yang lebih sedikit ketika memproses satu transaksi.

Di satu sisi, tingkat skalabilitas State Sharding lebih tinggi dibanding Network Sharding. Namun, di sisi lain, State Sharding membutuhkan jumlah data mentah yang lebih banyak dibanding Network Sharding sebelum terpencar ke nodes yang terdapat di dalamnya.

Sehingga, jika terdapat satu gangguan dalam proses transaksi, maka masalah tersebut bisa berisiko membengkak jadi kegagalan jaringan total.

Network Sharding

Sementara itu, Network Sharding adalah proses pemecahan data transaksi ke dalam beberapa shards tanpa perlu mengikutsertakan catatan data jaringan secara keseluruhan. 

Nantinya, masing-masing nodes di dalam shards bisa memproses dan memvalidasi transaksi secara paralel. Meski demikian, setiap node tetap harus menyimpan satu salinan data blockchain secara utuh.

Network Sharding memungkinkan setiap shards untuk mengalami pengurangan beban komputasi seiring perkembangan ukuran jaringan. Implikasinya, proses validasi transaksi bisa berjalan secepat kilat.

Meski demikian, tentu akan ada kelemahan untuk setiap keungguklan. Dalam hal ini, kelemahan Network Sharding adalah daya penyimpanan setiap nodes yang mungkin terbatas.

Sobat Cuan mungkin menyadari bahwa daya penyimpanan setiap komputer terbilang berbeda-beda.  Kapasitas komputer yang terlalu kecil tentu akan susah memproses ukuran transaksi yang lebih besar ketika ukuran pengguna jaringan semakin menggembung. Akibatnya, ada kemungkinan komputer berdaya jumbo akan muncul sebagai penguasa proses transaksi di jaringan. 

Namun, hal tersebut tentu akan menyalahi semangat desentralisasi, sebuah prinsip yang sangat “didewakan” di industri blockchain. Nah, atas alasan itu, saat ini Zilliqa pun tengah mengkaji perpindahan dari Network Sharding menjadi State Sharding di masa depan.

Mengenal 2 Faktor Pendukung Sharding Zilliqa

Agar proses Sharding berjalan maksimal, Zilliqa pun memanfaatkan dua “pendukung” di jaringannya, yakni practical Byzantine Fault Tolerance (pBFT) dan Scilla. Berikut penjelasannya!

Practical Byzantine Fault Tolerance (pBFT)

Sejatinya, pBFT adalah mekanisme konsensus yang otomatis memvalidasi satu transaksi jika dua pertiga dari total 600 nodes di satu shards sudah sepakat untuk membentuk microblock. Jika microblock tersebut sudah tercatat di blok transaksi final, maka blok tersebut bakal menjadi rujukan atas informasi yang terdapat di blok transaksi sebelumnya.

Namun pertanyaannya, mengapa Zilliqa memanfaatkan konsensus ini jika sebelumnya sudah memanfaatkan algoritma konsensus Proof of Work?

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Zilliqa menggunakan Proof of Work demi meningkatkan aspek keamanannya. Tetapi, sistem Proof of Work Zilliqa berbeda dengan sistem Proof of Work di jaringan Bitcoin. Sebab, di jaringan Zilliqa, sistem Proof of Work tak bisa digunakan untuk mencapai konsensus dan memvalidasi transaksi lantaran fungsinya hanyalah untuk mengidentifikasi nodes.

Nah, oleh karenanya, Zilliqa kemudian menggunakan sistem Proof of Work hanya untuk mengenali komputer-komputer yang jadi validator transaksi di jaringan. Kemudian, komputer-komputer tersebut nantinya akan memfinalisasi pencatatan transaksi di jaringan menggunakan model konsensus pBFT.

Dengan sistem ini, jaringan Zilliqa bisa terhindar dari Sybil Attack, yakni bentuk peretasan di mana satu oknum tak bertanggung jawab bisa menduplikasi satu identitas demi mempengaruhi proses pengambilan keputusan di jaringan. Kemudian, di saat bersamaan, jaringan pun bisa memproses transaksi dengan kilat.

Scilla

Scilla adalah bahasa pemrograman yang digunakan Zilliqa untuk menciptakan smart contract.

Uniknya, bahasa pemrograman ini hanya digunakan di jaringan Zilliqa. Keunikan lainnya, Scilla juga mewajibkan komunitas untuk meninjau seluruh smart contract yang dihasilkan sebelum benar-benar dirilis ke publik.

Hal ini dimaksudkan agar aspek keamanan smart contract Zilliqa sudah sesuai dengan standar yang berlaku. Imbasnya, smart contract Zilliqa nantinya punya aspek keamanan mumpuni agar bisa diadopsi secara luas dan aman.

Nah, keunggulan ini menjadikan Scilla sebagai bahasa smart contract pertama di jagat kripto yang melibatkan keputusan komunal di dalamnya.

Penjelasan singkat fitur Scilla. Sumber: Zilliqa

Di samping itu, berikut adalah keunggulan dari bahasa pemrograman Scilla:

  1. Scilla memiliki alat analisis statis yang bisa memeriksa bugs di smart contract sebelum diluncurkan.
  2. Scilla memiliki pustaka sendiri mengenai standar operasinya. Sehingga, pengguna Scilla tak perlu bergantung terhadap pustaka pemrograman eksternal.
  3. Bahasa pemrograman ini membedakan komponen operasional dan komputasi, sehingga bisa menghindari peretasan organisasi otonom terdesentralisasi (DAO) atau Parity.

Kelemahan & Kritik Terhadap Zilliqa

Berikut adalah keunggulan utama jaringan Zilliqa:

  1. Blockchain publik pertama yang memanfaatkan Sharding.
  2. Punya sisi skalabilitas yang unik dibanding “pembunuh Ethereum” lainnya.
  3. Didesain dengan baik plus punya pemrograman yang aman.

Sementara itu, kekurangan jaringan Zilliqa adalah:

  1. Jumlah pengguna aktif dan Total Value Locked (TVL) yang masih kecil.
  2. Sejauh ini baru berhasil menggaet pendanaan berjumlah sedikit.
  3. Pengembang membutuhkan waktu untuk belajar bahasa pemrograman Zilliqa yang lumayan asing.
  4. Tidak cocok dengan Ethereum Virtual Machine (EVM). Sehingga, aplikasi yang tercipta dari jaringan ini tidak dapat dimanfaatkan di jaringan Ethereum.
  5. Kemampuan skalabilitasnya di masa depan diragukan mengingat banyak jaringan sudah “jaga jarak” dengan algoritma konsensus Proof of Work.

Aspek Tokenomics Zilliqa

Layaknya jaringan blockchain lainnya, Zilliqa memiliki aset kripto asli yang digunakan sebagai alat pembayaran di jaringannya bernama ZIL.

ZIL memiliki total suplai sebanyak 21 miliar keping dan punya empat kegunaan utama, yakni:

  1. Sebagai insentif bagi penambang.
  2. Sebagai imbal hasil dari kegiatan staking, yang saat ini memiliki tingkat imbalan 6% per tahun.
  3. Sebagai alat pembayaran bagi biaya transaksi jaringan.
  4. Memiliki token bernama gZIL yang bisa digunakan sebagai “surat suara” dalam tata kelola jaringan. Dengan gZIL, pengguna bisa menyetujui beragam pembaruan yang bakal diimplementasi di jaringan Zillica. Sejauh ini, gZIL memiliki suplai tetap 722.000 keping dan hanya bisa didapat dengan proses staking.

Menurut whitepaper-nya, Zilliqa berniat untuk menambang 80% dari total suplai ZIL dalam empat tahun dan akan menambang sisa 20% di enam tahun berikutnya. Dengan kata lain, maka seluruh ZIL diperkirakan akan selesai ditambang pada 2027 mendatang.

Lebih lanjut, mirip seperti Bitcoin, nilai hadiah penambangan (block reward) Zilliqa juga akan menurun setiap 10 tahun sekali. 

Namun, jaringan Zilliqa memastikan bahwa nilai block reward tidak akan jatuh drastis setelah penambangan beberapa blok rampung. Dengan demikian, maka tingkat hash rate jaringan akan tetap stabil seiring penurunan reward antar waktu.

Mengenal Ekosistem Zilliqa

Dengan berbekal teknologi Sharding yang terkesan inovatif, tentu Sobat Cuan penasaran mengenai penghuni dari jagat ekosistem Zilliqa, bukan?

Anggota ekosistem Zilliqa. Sumber: Zilliqa

Nah, berikut adalah beberapa contoh produk di ekosistem Zilliqa yang tentunya menarik untuk kamu selami lebih jauh lagi.

1. Metaverse Metapolis

Metapolis adalah sebuah platform metaverse yang mengambil konsep unik yakni metaverse as a service (MaaS). Dengan demikian, protokol ini memungkinkan penggunanya untuk membangun dunia virtual sesuai apa yang mereka inginkan.

Metapolis, yang punya arti “kota Meta” dalam bahasa Yunani tersebut, didesain sebagai platform berbasis “perpanjangan realita” (Extended Reality/XR), alias perpaduan dari teknologi realitas berimbuh (Augmented Reality/AR) dan realitas maya (Virtual Reality/VR). 

Uniknya, Zilliqa merupakan satu-satunya jaringan blockchain lapisan 1 yang memiliki platform MaaS yang terintegrasi dengan teknologi XR.

Tidak seperti platform metaverse lain yang memaksa penggunanya untuk merogoh dalam kantongnya demi mengaksesnya, Metapolis malah memungkinkan penggunanya untuk menginjakkan kaki di metaverse dengan biaya yang cukup terjangkau. Meski demikian, fitur Metapolis tak kalah menarik dibanding kancah metaverse lainnya, lho!

Di dalam Metapolis, pengguna bisa memanfaatkan bangunan yang bisa didesain mandiri untuk menciptakan pengalaman metaverse-nya sendiri, seperti membuat toko digital, menyewakan real estatnya, dan menyediakan pengalaman-pengalaman lainnya. 

Tak hanya itu, Metapolis juga menyediakan sarana interaksi bagi penggunanya dalam bentuk NFT, lokapasar, play-to-earn, manekin digital, papan periklanan, dan lain-lain.

Lebih lanjut, meski berbiaya murah, Metapolis ternyata juga mampu menyediakan kualitas visual yang mumpuni. 

Asal tahu saja, Metapolis dibangun menggunakan tiga pilar teknolgi utama, yakni mesin penciptaan game tiga dimensi bernama Unreal Engine, teknologi pengembangan game antar platform Unity, dan prosesor unggul Nvidia Omniverse. Pemanfaatan ketiga teknologi ini memungkinkan Metapolis untuk menampilkan grafis yang terkesan nyata dan memungkinkan pengguna untuk berinteraksi melalui kegiatan sosial, permainan, dan lokapasar.

Intinya, melalui Metapolis, mereka yang berkantong cekak bisa mengakses dunia virtual berkualitas tinggi tanpa hambatan berarti.

Hal ini juga bisa membantu bisnis skala kecil untuk mengekspansi bisnisnya ke ranah digital melalui pemanfaatan Non-Fungible Token (NFT) dan menjangkau akses pasar yang lebih luas lagi. Pasalnya, bisnis skala kecil bisa memanfaatkan Metapolis sebagai “ajang uji coba” berbiaya murah sebelum mereka benar-benar nyemplung ke ranah digital.

Masa depan Metapolis juga terlihat menjanjikan. Tim pengembang Metapolis mengatakan telah menghimpun pendapatan di muka sebesar US$2 juta dari beberapa klien seperti waralaba eSports asal Swedia Ninjas in Pyjamas dan tim eSports Indonesia RRQ.

2. LunarCrush

LunarCrush adalah platform analisis sosial di kancah aset kripto yang paling ngetop sejagat.

Dalam operasinya, LunarCrush menghimpun sentimen umum yang tergambar di ratusan hingga ribuan unggahan media sosial untuk kemudian disimpulkan dalam format yang mudah dicerna. Saking unggulnya platform ini, sarana exchange kripto papan atas Coinbase bahkan ikut memanfaatkan jasa LunarCrush.

LunarCrush memiliki token utilitas asli bernama LUNR.

3. XCAD Network

XCAD Network adalah sarana yang memfasilitasi content creator untuk memaksimalkan monetisasi kontennya melalui tokenisasi. Implikasinya, pemirsa setia konten milik content creator tersebut bisa mendapatkan reward dalam bentuk token dan ikut menentukan isi serta substansi konten milik sang creator berikutnya.

Pemengaruh media sosial dengan jumlah pengikut jumbo seperti MrBeast dan KSI merupakan pengguna sekaligus investor dari XCAD Network.

4. HG Exchange

HG Exchange menggunakan Zilliqa untuk meningkatkan aspek keamanan penciptaan smart contract-nya, sekaligus mendapatkan skalabilitas transaksi yang mumpuni, ketika melakukan tokenisasi aset-aset berharga.

5. Xfers

Xfers bermitra dengan Zilliqa untuk menyediakan fasilitas transaksi pembayaran global stablecoin, seperti XSGD dan XIDR, yang cepat dan aman.



Sumber : pluang.com

Sobat Cuan, Yuk Kenalan dengan 7 Proyek Decentralized Finance Berikut!

Dunia decentralized finance (DeFi) adalah dunia yang masih relatif baru di kancah investasi aset kripto. Aktivitas ini merupakan salah satu cara baru bagi masyarakat dalam mendulang cuan aset kripto. Saking barunya dan masih belum terjamah, ranah DeFi masih memiliki banyak ruang untuk bereksplorasi.

Sesuai namanya, yakni desentralisasi, ternyata Sobat Cuan juga bisa ikut berkecimpung lho di proyek-proyek di dalamnya. Lantas, apa saja sih proyek decentralized finance yang bisa kamu coba?

Berikut ini kami punya daftarnya. Simak baik-baik ya!

Sekilas Mengenai Decentralized Finance

Pada intinya, DeFi merujuk pada sebuah ekosistem aplikasi finansial yang dibangun di atas jaringan blockchain. Nah, aplikasi finansial ini bertindak layaknya produk keuangan konvensional, misalnya pinjam meminjam, asuransi, hingga berinevstasi.

Bedanya, seluruh kegiatan keuangan di jaringan tersebut tidak diawasi dan diatur oleh otoritas tertentu. Sehingga, kegiatan di dalamnya bersifat bebas akses, transparan, dan tanpa intervensi apapun.

Adapun, pengguna bisa memiliki kontrol penuh atas aset mereka dan berinteraksi dengan ekosistem ini melalui sistem komunikasi dua arah (peer-to-peer) via aplikasi terdesentralisasi (dApps). Seluruh aplikasi yang berjalan di atas sistem blockchain ini akan menciptakan produk, jasa, serta pasar finansial baru yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

Dengan demikian, maka bisa dibilang bahwa DeFi bisa digunakan untuk beragam kepentingan. Seluruh kepentingan tersebut diakomodasi melalui proyek-proyek DeFi yang kian hari kian marak. Lantas, apa saja proyek-proyek tersebut?

Mengenal Jenis-Jenis Proyek Decentralized Finance

1. Proyek Pinjaman Decentralized Finance

Pinjam meminjam di dunia finansial adalah urat nadi yang menjadi salah satu basis perekonomian. Hal serupa juga berlaku pada dunia DeFi.

Bedanya, jika di dunia centralized finance atau ekonomi konvensional, pinjaman perlu dilakukan melalui lembaga perantara (intermediaries). Namun, skema berbeda terdapat di ekosistem DeFi. Produk pinjaman di DeFi mayoritas menggunakan mata uang kripto populer seperti Ether (ETH).

Tanpa lembaga perantara, proses pinjaman dilakukan melalui protokol DeFi bernama smart contract. Protokol ini juga digunakan untuk mengatur margin, tingkat bunga dan kesepakatan lainnya dalam bahasa pemrograman. Jika seluruh prasyarat terpenuhi, maka transaksi secara otomatis akan tereksekusi.

Tingkat bunga bukan ditentukan oleh bunga acuan dan peraturan pemerintah sebagaimana yang terjadi di dunia finansial konvensional. Variasi tingkat bunga didapat dari variasi mata uang kripto yang dijadikan kolateral.

Sejauh ini, projek pinjaman masih menjadi projek terbesar dalam dunia DeFi. Jika kamu tertarik menjajal proyek ini, kamu perlu mengakses platform yang menyediakan layanan seperti Aave, bZx, blockFi, Compound, Nexo, Coinlist, Curve, dydx, yearn, maker dan lain sebagainya.

Baca juga: Apa itu Yield Farming?

2. Proyek Decentralized Exchanges dalam DeFi (DEXs)

Sebagaimana mata uang konvensional, kamu juga bisa menukar aset kripto kamu dengan mata uang lain. Proyek ini dinamanya dexentralized exchanges (DEXs). Kamu bisa menukarnya tanpa harus mentransferkan kustodi yang menjadi underliying kolateral.

Salah satu sifat Decentralized Finance yang menarik adalah transaksi d idalamnya tidak membutuhkan kepercayaan. Hal itu berkat keberadaan teknologi smart contract yang memungkinkan transaksi interoperable dalam skala luas.

DEXs semakin berkembang beberapa bulan terakhir dengan semakin banyaknya kapital yang masuk ke dalam sistem. Tertarik mencoba? Kamu bisa mengakses platform seperti oxProtocol, Banchor,  dydx, kyber network dan Uniswap jika tertarik menjajal proyek jenis ini.

Baca juga: Ragu Sama DeFi? Ini 5 Alasan Kenapa Kamu Harus Mulai Perhatikan Teknologi Ini!

3. Proyek Derivatif dalam DeFi

Apa sih arti derivatif? Nah, kamu bisa membaca tentang trading derivatif dalam dunia finansial di sini. Namun, hal itu tak hanya berlaku di dunia keuangan konvensional sebab ekosistem decentralized finance juga menawarkan proyek yang serupa tapi tak sama.

Terdapat empat tipe kontrak derivatif yakni future, forwards, options dan swaps. Dalam dunia DeFi, investor diuntungkan dari kontrak derivatif yang terbuka, transparan, dan terotomasi dalam bentuk smart contract.

Smart contract bisa membuat kontrak derivatif berisikan token yang memaksa kedua belah pihak menjalankan kontraknya dengan baik. Beberapa platform menyediakan ruang untuk kamu menjajal projek ini, diantaranya yang paling terkenal adalah synthetix. Selain itu, platform lain sepertu dydx, opium, erasure dan opyn juga bisa kamu gunakan untuk proyek derivatif.

4. Dompet Digital dalam DeFi

Dompet digital memiliki peran krusial saat kamu ingin berinteraksi dengan produk DeFi. Bentuknya bisa bermacam-macam dan digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti underlying produk.

Sejalan dengan pesatnya perkembangan sektor DeFi, dompet digital pun berkembang drastis dari segi akses maupun penggunaan.

Kamu bisa menggunakan dompet digital melalui platform Coinbase, Authereum, Portis, Magic dan lain sebagainya.

5. Proyek Asset Management dalam DeFi

Seiring berkembang pesatnya produk DeFi, manajemen aset juga sangat diperlukan agar para pengguna bisa mengelola asetnya. Sejalan dengan itu, proyek asset management juga dilakukan dengan cara berbeda dibanding dunia finansial konvensional lantaran ekosistem DeFi yang tak diawasi oleh otoritas jasa keuangan.

Kamu bisa melacak asetmu dari berbagai jenis token, produk, penyedia jasa ini dengan mudah melalui platform yang ada. Adapun platform yang menyediakan layanan ini adalah Balancer, DeFi saver, instaDapp, Sablier, Set Protocol, Zerion dan Zapper.

Baca juga: Masih Belum Paham Beda DeFi vs CeFi? Yuk, Belajar di Artikel Ini!

6. Proyek Asuransi dalam DeFi

Protokol DeFi memungkinkan penggunanya untuk menerapkan aturan dalam smart contracts, dana atau bentuk lainnya. Saat ini sektornya masih terbilang kecil, namun nantinya saat sektornya membesar, keberadaan asuransi akan memegang peranan penting.

Saat ini masih terbatas platform yang menyediakan proyek asuransi, diantaranya Nexus, Opyn dan Opium

7. Tabungan

Bukan hanya meminjamkan, kamu juga bisa sekedar menabung uang kripto kamu di DeFi. Kamu juga bisa dapat margin dari tabungan sebagaimana menabung di bank. Bedanya, margin dalam DeFi didapat dengan cara yang unik dan baru.

Tertarik mencoba? Kamu bisa memakai platform DAI, Dharma dan Pool Together jika ingin mencobanya ya, Sobat Cuan. Atau, kalau kamu penasaran ingin mendapatkan pendapatan pasif dari tabungan aset kriptomu, tak ada salahnya kamu mencoba Pluang Cuan di aplikasi Pluang!

Di Pluang Cuan, kamu bisa mendapatkan imbal hasil maksimal sebesar 3,5% per tahun hanya dengan menabung Bitcoin atau Ethereum milikmu. Untuk saat ini, imbal hasil tersebut tercatat lebih besar dibanding menabung di produk tabungan perbankan, lho!

Tertarik mencoba Pluang Cuan? Yuk, tabung Bitcoin dan Ethereum-mu sekarang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



Sumber : pluang.com

Mengenal Stablecoins, Aset Kripto dengan Nilai Stabil Antar Waktu

Apa Itu Stablecoins?

Stablecoins adalah salah satu jenis aset kripto yang punya nilai tetap antar waktu.

Dengan kata lain, karakteristik tersebut berbeda dengan aset kripto lainnya yang punya nilai berfluktuatif. Hal ini bisa terjadi lantaran nilai Stablecoins selalu ditautkan dengan nilai aset lain, seperti mata uang fiat, portofolio mata uang (basket of currencies), atau komoditas.

Di samping itu, kehadiran Stablecoins juga dijaminkan oleh sebuah aset dasar (underlying asset) agar nilainya bisa stabil.

Sebagai contoh, Stablecoin Tether (USDT) disokong oleh nilai Dolar AS dengan perbandingan 1:1. Artinya, nilai 1 USDT harus setara dengan US$1 apapun kondisi dan waktunya. Perbandingan itu juga mengindikasikan bahwa perusahaan penerbitnya, Tether, harus menjaminkan setiap 1 keping USDT di dalam sirkulasinya menggunakan dolar AS dengan nilai US$1.

Saat ini, kancah kripto memiliki 200 jenis Stablecoins. Masing-masing koin tersebut bersifat fleksibel layaknya aset digital biasa namun punya tingkat kestabilan harga layaknya mata uang fiat.

Tipe-tipe Stablecoins

Terdapat empat jenis Stablecoins yang hilir mudik di jagat kripto yang dibagi berdasarkan jenis aset yang dijaminkan, yakni berdasarkan mata uang fiat (Fiat-collateralized Stablecoins), berdasarkan nilai komoditas (Commodity-collateralized Stablecoins), berdasarkan aset kripto lain (Crypto-collateralized Decentralized Stablecoins), dan berbasarkan algoritma.

Lantas, bagaimana penjelasan masing-masing jenis Stablecoins tersebut?

1. Fiat-Collateralized Stablecoins

Jenis Stablecoins ini menggunakan cadangan mata uang fiat, atau aset setara kas, untuk mempertahankan nilainya. Hanya saja, Stablecoins tersebut memiliki sifat sentralisasi lantaran koin-koin ini diterbitkan dan dikelola oleh sebuah organisasi, seperti perusahaan, bank, dan bahkan pemerintah. 

Biasanya, penerbit Stablecoins menjaminkan cadangan Dolar AS miliknya demi menjaga kestabilan nilai Stablecoins satu ini. Posisi cadangan mata uang fiat yang dimiliki lembaga penerbit Stablecoins wajib menjalani proses audit oleh kantor akuntan publik (KAP) independen agar tercipta sistem tata kelola yang baik dan melindungi pemiliknya dari risiko finansial.

2. Commodity-Collateralized Stablecoins

Nilai Stablecoins terkadang tidak harus ditautkan dengan mata uang fiat semata. Sebab faktanya, terdapat beberapa Stablecoins yang mendasarkan nilainya dengan komoditas, misalnya Tether Gold dan Pax Gold yang menggunakan emas dan indeks emas sebagai underlying asset-nya.

Berbeda dengan Stablecoins berbasis mata uang fiat, Stablecoins tipe ini memungkinkan penggunanya untuk menukar keping-keping koin tersebut dengan emas atau komoditas lainnya.

3. Crypto-Collateralized Stablecoins

Stablecoins jenis ini menggunakan penjaminan aset berupa aset kripto lainnya agar nilainya tetap ajek.

Namun, mengingat nilai aset kripto yang lebih bergejolak dibanding mata uang fiat, maka Stablecoins ini biasanya punya nilai cadangan yang lebih besar (overcollateralized) dibanding nilai Stablecoins sesungguhnya. Hal ini dimaksudkan agar nilai Stablecoins bisa tetap stabil di tengah kondisi pasar kripto yang bergejolak.

Sebagai contoh, Stablecoin DAI milik MakerDAO mendasarkan nilainya pada Dolar AS dengan rasio penjaminan 150%. Dengan kata lain, 1 DAI yang berada di pasar disokong oleh ETH atau aset kripto lainnya dengan nilai 1,5 kali lipat lebih besar dibanding nilai satu keping DAI.

Fakta menariknya, Stablecoins jenis ini masih terbilang anak bawang di kancah kripto. Selain itu, penerbitannya tidak didukung oleh satu lembaga tertentu, namun dikelola oleh konsensus antar pengguna yang berpartisipasi di jaringan Stablecoins tersebut.

4. Algorithmic Stablecoins

Terakhir, terdapat pula Stablecoins yang mempertahankan kestabilan nilainya menggunakan sistem manipulasi suplai berbasiskan algoritma. Bahasa sederhananya, jumlah suplai Stablecoins jenis ini bisa dimanipulasi secara otomatis menggunakan teknologi smart contract tergantung kondisi pasar saat itu.

Konsep Stablecoins berbasis algoritma memang terbilang membingungkan secara kasat mata. Namun, Sobat Cuan bisa menyimak ilustrasi sederhana berikut demi memahami Stablecoins jenis ini.

Anggap saja nilai sebuah Stablecoins berbasis algoritma tengah anjlok. Menyadari hal itu, teknologi smart contract milik Stablecoins tersebut akan mengurangi jumlah koin beredar untuk menciptakan kelangkaan pasokan. Dan sesuai hukum ekonomi, menipisnya pasokan tentu akan kembali mengerek harga koin tersebut.

Mekanisme itu terbilang masih baru dan belum terbukti mampu menjaga nilai Stablecoins secara sinambung. Apalagi, nilai Stablecoins tersebut tidak disokong oleh cadangan aset tertentu, sehingga risikonya pun terbilang tinggi.

Contoh kasus yang menggambarkan tingginya risiko Stablecoins berbasis algoritma terjadi pada Mei 2022, di mana nilai Stablecoins milik jaringan Terra, TerraUSD (UST), ambles lebih dari 60% gara-gara nilai aset kripto yang menjadi underlying asset-nya, Terra (LUNA), terjun bebas lebih dari 80%.

Mengapa Stablecoins Penting?

Karakteristik Stablecoins yang berbeda dibanding aset kripto lainnya memang terdengar menarik ya, Sobat Cuan. Namun pertanyaannya, kenapa sih komunitas kripto butuh koleksi koin satu ini?

Jawabannya cukup simpel. Stablecoins ternyata menyimpan daya guna tinggi karena ia punya nilai yang ajek namun masih menyimpan fungsi-fungsi utama teknologi blockchain.

Lantas, seperti apa kegunaan Stablecoins?

Keuangan Terdesentralisasi (Decentralized Finance)

Stablecoins adalah unsur krusial dalam kancah keuangan terdesentralisasi (decentralized finance/DeFi). Pasalnya, pengguna DeFi membutuhkan Stablecoins sebagai alat tukar yang tahan gejolak untuk bertransaksi satu sama lain, misalnya pinjam-meminjam dan penyediaan likuiditas.

Kegiatan Pinjam-Meminjam Kripto

Dalam kegiatan pinjam-meminjam aset kripto, kreditur bisa meminjamkan Stablecoins miliknya untuk mendulang pendapatan bunga layaknya kegiatan menabung di bank konvensional.

Sebagai contoh, pengguna platform Aave bisa menabung Stablecoins seperti USDT, USDC, dan DAI dan bisa meraih pendapatan bunga antara 1% hingga 20% tergantung jenis koinnya. Nantinya, dana tabungan tersebut bisa disalurkan dalam bentuk pinjaman kepada debitur yang membutuhkan.

Di sisi lain, debitur bisa menggunakan Stablecoins sebagai jaminan kredit terdesentralisasi ketika meminjam aset kripto tertentu, seperti ETH dan Stablecoins lainnya.

Penyediaan Likuiditas

Penyedia likuiditas bisa menyediakan Stablecons ke kolam likuiditas (liquidity pools) yang dimiliki platform exchange terdesentralisasi. Sebagai contoh, pengguna yang memasok ke kolam likuiditas di platform Uniswap bisa mendulang pendapatan dalam bentuk sebagian kecil biaya trading jika terdapat seseorang yang melakukan trading atas Stablecoin tersebut.

Manfaat Stablecoins

Karakteristik Stablecoins yang memili nilai ternyata memberikan manfaat bagi komunitas kripto seperti berikut.

1. Tempat Bernaung bagi Investor dari Gejolak Aset Kripto

Ciri khas nilai Stablecoins yang tetap membuat banyak pelaku pasar menjadikannya sebagai aset aman (safe haven) dan pelindung kekayaan kala kondisi pasar kripto mengalami gejolak.

2. Mengurangi Biaya Trading

Trader kripto kerap menggunakan Stablecoins ketika membeli atau menjual aset kripto lainnya. Pasalnya, beberapa platform exchange tidak membebankan biaya ketika mereka ingin mengonversi Stablecoins ke aset kripto lainnya, begitu pun sebaliknya.

Di samping itu, trader juga bisa membeli Stablecoins untuk menyimpan “dananya” di ekosistem kripto dengan lebih mudah. Implikasinya, mereka pun bakal lebih gampang untuk melakukan limit order dan metode trading lainnya ketika harga aset kripto jungkat-jungkit.

3. Transaksi Cepat dan Tanpa Batas

Masyarakat bisa mengirim Stablecoins melalui teknologi blockchain dan tanpa melintasi bank atau lembaga perantara keuangan lainnya. Nah, hal tersebut tentu akan membuat biaya transaksi lintas batas menjadi lebih cepat dan efisien.

4. Transparan

Transaksi Stablecoins berjalan di atas blockchain publik. Artinya, semua orang yang terlibat di dalamnya bisa mengawasi dan melihat seluruh transaksi yang ada di dalamnya. 

Keunggulan ini tidak terdapat di jasa keuangan konvensional, di mana data terkait arus keluar-masuk dana yang masuk ke lembaga tersebut tersimpan di catatan yang hanya bisa diakses beberapa pihak.

5. Stablecoins Siap Diadopsi Bank Sentral Global

Ternyata, beberapa bank sentral dunia tengah melirik mekanisme Stablecoins untuk menciptakan versi digital dari mata uangnya masing-masing, atau kerap disebut dengan Central Bank Digital Currencies (CBDC).

Contohnya adalah China dan Inggris. Kedua negara tersebut tengah menjajaki penggunaan teknologi blockchain sebagai unsur penting dari kebijakan moneter menyusul tingginya adopsi teknologi dan internet dalam kegiatan transaksi sehari-hari.

Risiko Stablecoins

Hanya saja, sama seperti aset lainnya, Stablecoins juga memiliki risikonya tersendiri seperti tercantum di bawah ini.

1. Tidak Bersifat Desentralisasi

Meski sifat asli aset kripto adalah desentralisasi, Stablecoins ternyata tidak memiliki karakteristik seperti demikian. Pasalnya, underlying asset atas sebuah Stablecoins tentu perlu disimpan dan dijamin oleh sebuah lembaga tertentu.

Hanya saja, hal ini menimbulkan masalah baru, yakni hanya satu lembaga saja yang berhak mengelola dan memiliki mayoritas Stablecoins. Aspek tersebut, tentu saja, menyalahi prinsip desentralisasi yang jadi semangat dasar aset kripto.

2. Kurangnya Transparansi Soal Penjaminan Aset Stablecoins

Karena sifat Stablecoins yang tersentralisasi, komunitas kripto jadi tak bisa mengawasi kondisi aktual penjaminan aset atas satu Stablecoin tertentu. Sebagai contoh, Tether sempat menghadapi tuntutan hukum lantaran nilai Stablecoin miliknya, USDT, dituduh tidak disokong oleh Dolar AS dengan rasio penjaminan 1:1.

Selain itu, munculnya Stablecoins jenis baru seperti Stablecoins berbasis algoritma, plus kasus yang menimpa UST dan LUNC seperti yang telah dijelaskan di atas, juga membuat komunitas kripto mempertanyakan aspek penjaminan Stablecoins.

3. Minim Regulasi

Meski banyak bank sentral yang berencana mengadopsi mekanisme Stablecoins dalam CBDC, kehadiran aset kripto satu ini sejatinya tak lepas dari kritik regulator.

Kebanyakan, mereka mempertanyakan aspek keamanan Stablecoins di tengah pesatnya adopsi koin ini di sistem keuangan secara umum. Musababnya, apalagi kalau bukan minimnya regulasi yang mengatur penggunaan dan tata kelola Stablecoins.

Nah, karena masih dihujani kritik, Stablecoins dianggap masih jauh dari adopsi di dunia nyata.

Mengenal Stablecoins Populer

Kapitalisasi pasar Stablecoins per Agustus 2022, di mana USDT (garis biru muda) menjadi penguasa pasarnya. Sumber: CoinGecko

Seperti yang dijelaskan di atas, terdapat lebih dari 200 Stablecoins yang wara-wiri di kancah kripto. Namun, beberapa di antaranya punya popularitas tinggi dan memiliki kapitalisasi pasar yang besar. Berikut adalah beberapa contohnya!

1. Tether (USDT)

Rilis: November 2014

Perusahaan Penerbit: Tether Limited, British Virgin Islands

Blockchain: Omni, Ethereum, Tron, EOS, Liquid

Situs Resmi: Tether

Tether (USDT) adalah Stablecoins paling kondang. Nilai kapitalisasi pasarnya yang besar, plus usianya yang cukup tua, membuat komunitas kripto menganggapnya sebagai Stablecoins yang paling dipercaya di pasar kripto.

USDT dioperasikan oleh Tether Limited, sebuah perusahaan yang berafiliasi dengan induk platform exchange kripto Bitfinex bernama iFinex. Selain itu, Tether juga menjadi lembaga yang bertanggung jawab untuk menciptakan dan menjaminkan masing-masing token USDT dengan rasio penjaminan 1:1.

Awalnya, Tether menyebut bahwa setiap USDT disokong oleh Dolar AS sebesar US$1. Namun belakangan, perseroan mengatakan telah menambah aset lain sebagai underlying asset, seperti terlihat di tabel berikut.

 

Aset cadangan Tether per September 2022. Sumber: Tether

 

2. Binance Stablecoin (BUSD)

Rilis: September 2019

Perusahaan Penerbit: Binance, Paxos

Blockchain: BNB

Situs Resmi: BUSD

Binance USD adalah Stablecoins berbasis Dolar AS dengan rasio penjaminan 1:1. Koin ini diterbitkan oleh platform exchange kripto ngetop Binance yang bekerja sama dengan perusahaan teknologi finansial Paxos.

3. Circle/Coinbase Stablecoin (USDC)

Rilis: Oktober 2018

Perusahaan Penerbit: Coinbase, Circle

Blockchain: Ethereum, Solana, Avalanche, TRON, Algorand, Stellar, Flow, and Hedera

Situs Resmi: USDC

USDC adalah Stablecoins besutan perusahaan platform exchange kripto pesaing sengit Binance, Coinbase, bekerja sama dengan perusahaan pembayaran Circle.

Koin ini memang dikenal konsisten dalam menjaga kesetaraan nilainya dengan Dolar AS dengan rasio penjaminan 1:1. Bahkan, beberapa firma akuntansi global top sudah memverifikasi konsistensi rasio tersebut.

4. Dai (DAI)

Rilis: December 2017

Perusahaan Penerbit: Maker Ecosystem Growth Holdings, Inc.

Blockchain: Ethereum

Situs Resmi: Maker DAO

DAI adalah Stablecoins berkategori crypto-collateralized rilisan platform Maker.

Meski Maker menjadi perusahaan penerbit koin ini, urusan tata kelola dan penerbitan DAI sebenarnya dilakukan oleh MakerDAO. Yakni, komunitas desentralisasi yang berisikan pemilik token MKR di jaringan Maker. Sehingga, proses tata kelola dan pengendalian suplai Stablecoins tersebut bersifat transparan dan anti-sensor.

DAI mentautkan nilainya terhadap Dolar AS dengan rasio 1:1 dengan cara mengunci aset kripto di teknologi smart contract protokol Maker. Namun, mekanisme ini memiliki risiko tersendiri. Nilai tukar DAI terhadap Dolar AS bisa saja terjun bebas jika smart contract tersebut mengalami peretasan.



Sumber : pluang.com

Panik Akibat The Fed? Simak Cara Tenang Investasi SP 500 Saat Cuaca Mendung!

The Fed sudah mulai memperlihatkan sinyal untuk melakukan perubahan kebijakan moneter. Setelah berjibaku untuk memulihkan ekonomi Amerika Serikat dengan pelonggaran kebijakan moneter, bank sentral AS tersebut kini menyiratkan “lampu hijau” untuk mengetatkannya.

Hal ini tentu akan berdampak keras terhadap pasar modal AS, khususnya indeks S&P 500. Adapun, pengaruh kebijakan moneter The Fed terhadap pasar modal AS bisa Sobat Cuan baca di artikel ini. Nah, di saat seperti ini, bagaimana caranya tips investasi S&P 500 dengan tenang?

Perkembangan Terbaru Kebijakan The Fed

Sebelum melangkah ke tips investasi S&P 500 yang dimaksud, ada baiknya Sobat Cuan memahami perkembangan moneter terbaru yang dilempar The Fed.

Pada rapat bulanan The Fed yang dihelat pada Rabu (16/6), otoritas moneter ini masih akan melangsungkan rezim suku bunga acuan rendah demi memulihkan ekonomi AS yang porak poranda akibat pandemi COVID-19. Hanya saja, langkah dovish yang selama ini dipertahankan sepertinya bakal berbalik menuju hawkish.

Hal itu terlihat dari pernyataan The Fed yang berencana meningkatkan prospek suku bunga pada 2023 menjadi 0,6% dari proyeksi sebelumnya 0,1%.

Hal itu membuat kepanikan di kalangan investor, karena dapat diartikan bahwa bakal ada dua kali kenaikan suku bunga 0,25% dalam dua tahun mendatang. Tidak hanya itu, The Fed juga merevisi ke atas perkiraan pertumbuhan ekonomi dan juga inflasi.

Alhasil, pasar sontak gaduh. Indeks S&P 500 langsung terjerembab 0,61%. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average juga susut 0,59% atau sebesar 201 poin and Nasdaq Composite juga ikut melemah 0,08%

Saham-saham yang biasanya menawarkan keuntungan tinggi, seperti induk Google Alphabet, Microsoft, Amazon dan Facebook menjadi tidak menarik.

Nah, kondisi di atas tentu membuat Sobat Cuan investor indeks S&P 500 ikutan panik. Namun, kamu tetap perlu tenang dan hindari panic selling.

Kamu perlu paham bahwa fluktuasi saham akibat kebijakan moneter adalah hal biasa. Selain itu, menurut data historis, kapitalisasi pasar saham akan terus bertumbuh antar waktu. Alias, investasi saham pada akhirnya akan bikin kamu cuan di jangka panjang.

Biar kamu makin tenang, yuk simak tips investasi S&P 500 berikut agar kamu nyaman meskipun pasar sedang dihantam badai!

Baca juga: Sobat Cuan Mau Nyemplung ke Reksadana? Kenali Risikonya Dulu, Yuk!

3 Tips Tenang Investasi S&P 500 Saat Pasar Morat-Marit

1. Naik Turunnya Kondisi Pasar Saham Adalah Hal Lumrah

Sobat Cuan harus bisa memahami bahwa pasar bergerak secara dinamis. Tidak ada pasar saham yang terus mencatatkan kenaikan setiap harinya. Jadi, tetap kuasai emosi dan tarik nafas dalam untuk bisa tenang.

Sejarah pun membuktikan bahwa pasar saham suatu saat akan membaik meski diterjang gelombang besar. Sejak tahun 1928, sudah terjadi koreksi sebanyak 21 kali, dimana indeks S&P 500 mencatatkan penurunan sampai 20%. Namun, setelah koreksi selesai, pasar tetap kembali pulih dan melanjutkan reli kenaikannya.

Jadi, teruslah fokus pada masa depan dan tetap tenang supaya Sobat Cuan tidak membuat keputusan yang impulsif yang pada akhirnya malah membuat kerugian.

2. Hindari Panic Selling

Saat melihat pasar amblas, kadang pikiran untuk mengambil cut loss kerap terlintas di benak Sobat Cuan. Padahal, hal itu merupakan bentuk panic selling lantaran melihat harga saham yang terus melorot.

Nah, Sobat Cuan perlu menghindari hal tersebut! Sebab, nantinya kamu akan masuk kembali ketika pasar bergairah. Alias, ketika harga kembali masuk di harga yang tinggi.

Ketika pasar ambruk, memang harga saham yang sudah dikoleksi menjadi tidak berharga. Namun ingat, ketika kondisi ekonomi mulai pulih dan pasar kembali bergairah, maka investasi yang dimiliki Sobat Cuan juga akan terdongkrak seiring dengan pertumbuhan yang ada.

Dalam kondisi seperti ini, lebih baik untuk tidak menyentuhnya sama sekali dan tunggu hingga pasar kembali pulih, bukan?

Baca juga: Hai Sobat Cuan, Begini Lho Cara Maksimalkan Cuan di Reksadana Pendapatan Tetap

3. Tips Investasi S&P 500 – Punya Dana Lebih? Lakukan Average Down

Kondisi pasar saham yang ambruk memang ngeselin ya, Sobat Cuan. Tapi, kondisi ini justru menjadi waktu terbaikmu untuk mengakumulasi aset. Karena, kapan lagi Sobat Cuan bisa mendapatkan harga murah untuk saham yang baik?

Jika memang saham yang dikoleksi saat ini memiliki fundamental baik dan Sobat Cuan memliiki dana dingin yang cukup, maka kamu mungkin bisa mempertimbangan untuk masuk di harga yang lebih murah.

Dengan begitu, harga rata-rata yang dimiliki Sobat Cuan juga menjadi semakin rendah dan berpotensi mendapatkan cuan yang lebih lebar.

Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk mengoleksi saham, lakukan riset mendalam tentang fundamental perusahaan tersebut. Sehingga, kamu bisa tetap tenang meskipun pasar bergejolak.

Nah, bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu makin tenang berinvestasi di S&P 500? Yuk, segera investasi indeks S&P 500 di aplikasi Pluang sekarang!

Baca juga: Apa Sih, Perbedaan Investasi Reksadana dan Investasi Saham?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Investing.com, The Motley Fool



Sumber : pluang.com

Mengenal Kadena, Platform Proof-of-Work dengan Skalabilitas Jagoan

Apa Itu Kadena?

Kadena adalah jaringan blockchain lapis 1 dengan algoritma konsensus Proof-of-Work.

Berbeda dengan jaringan Proof-of-Work lain yang selalu didera masalah skalabilitas dan pemborosan energi, jaringan Kadena justru memiliki tingkat skalabilitas, atau kapasitas pemrosesan transaksi, yang sangat tinggi meski dengan penggunaan energi yang sangat efisien.

Kadena memperoleh keunggulan tersebut berkat arsitektur jaringan miliknya yang disebut Chainweb.

Secara sederhana, Chainweb adalah inovasi Kadena dalam “memecah-mecah” sebuah blockchain ke dalam beberapa keping (shards) data untuk kemudian disimpan di beberapa komputer (node) yang berbeda-beda. Melalui metode ini, Kadena bisa mengurangi beban komputasi jaringan dan memproses transaksi bervolume besar.

Dengan demikian, Kadena tetap menyimpan fungsi keamanan jaringan mumpuni yang didapat dari algoritma konsensus Proof-of-Work namun sekaligus mampu memiliki skalabilitas transaksi dan efisiensi energi di waktu yang sama. Keistimewaan tersebut sukses menarik minat perusahaan jasa keuangan, kesehatan, dan asuransi untuk memanfaatkan jaringan Kadena.

Di samping itu, Kadena juga memiliki jaringan blockchain lapisan kedua bernama Kuro, yakni sebuah jaringan yang memungkinkan penggunanya untuk bertransaksi secara privat. Kedua jaringan tersebut dibangun di atas bahasa pemrograman asli Kadena bernama Pact.

Bagaimana Cara Kerja Kadena?

Untuk memahami cara kerja Kadena, Sobat Cuan juga perlu mengenal tiga komponen di dalam arsitektur jaringan Kadena yang terdiri dari Chainweb, Kuro, dan Pact. Yuk, kenalan lebih jauh dengan masing-masing komponen tersebut!

1. Chainweb

Chainweb adalah sebuah konstruksi teknologi blockchain yang menjadi keistimewaan jaringan Kadena. Melalui Chainweb, Kadena mampu melakukan dua kegiatan penting yang disebut sharding dan braiding di dalam jaringannya sehingga Kadena mampu memproses jaringan berskala tinggi namun dengan penggunaan energi yang terbatas.

Lebih uniknya lagi, proses sharding dan braiding ternyata tidak ditemui di dalam arsitektur jaringan berbasis Proof-of-Work lainnya. Namun pertanyaannya, apa sih arti proses sharding dan braiding?

Sharding merujuk pada proses “mencincang” satu blokchain menjadi beberapa jaringan berukuran lebih kecil. Masing-masing pecahan jaringan ini bisa beroperasi secara paralel meski saling terhubung satu sama lain. Nah, masing-masing pecahan jaringan tersebut kemudian disebut sebagai peer chain.

Sementara itu, braiding adalah mekanisme yang memungkinkan Kadena untuk menyimpan referensi dari blok transaksi sebelumnya yang terdapat di satu peer chain ke dalam satu blok transaksi baru yang terdapat di peer chain berbeda.

Supaya Sobat Cuan tidak bingung dalam memahami dua hal tersebut, mari simak ilustrasi berikut.

Dalam jaringan Proof-of-Work pada umumnya, skala transaksi yang bisa diproses jaringan sangat tergantung dengan jumlah blockchain-nya. Sebagai contoh, jika satu blockchain Bitcoin mampu memproses lima transaksi per detik, maka dua blockchain Bitcoin bisa memproses 10 transaksi per detik. Begitu pun seterusnya.

Namun melalui skema Chainweb, setiap tambahan blockchain wajib mengikutsertakan hash dari transaksi sebelumnya sekaligus hash dari transaksi sebelumnya yang berada di chain yang berbeda. Sehingga, tambahan chain baru menggunakan Chainweb akan memiliki kapasitas penyimpanan yang lebih besar dibanding blockchain lain pada umumnya.

Sayangnya, mekanisme tersebut memunculkan masalah baru. Ternyata, kapasitas penyimpanan data Kadena tentu akan cepat habis jika masing-masing chain menyimpan hash yang berasal dari chain lainnya. Jika itu terjadi, maka kapasitas pemrosesan transaksi Kadena bakal bersifat terbatas.

Situasi tersebut bisa diibaratkan seperti ilustrasi di bawah ini.

Nah, demi menghindari masalah terbatasnya kapasitas penyimpanan, Kadena pun memangkas beberapa “hubungan” antara satu chain dengan beberapa chain lainnya.

Memang, sebagai hasilnya, satu chain belum pasti akan berhubungan langsung dengan chain lainnya. Namun, masing-masing di antara mereka pasti ujungnya akan saling berhubungan lantaran semua chain tersebut tetap saling terkoneksi meski harus melalui chain perantara terlebih dulu, seperti yang tercermin di ilustrasi berikut.

Hanya saja, skema ini juga tak lepas dari permasalahan baru. Meski skalabilitas transaksi di jaringan kini terbilang mantap, namun waktu tunggu pemrosesan transaksi sekarang menjadi lebih lama lantaran verifikasi transaksi harus dioper dari chain pertama hingga terakhir, seperti yang tercermin dari gambar di atas.

Hal ini tidak akan menjadi masalah jika hanya ada lima chain di jaringan. Namun, perkara itu bisa berubah jadi sakit kronis jika terdapat 100 chain di jaringan tersebut. Alhasil, jika Kadena terus membiarkan kondisi seperti demikian, maka jaringan akan mengalami kemacetan dan membubungkan biaya transaksi.

Nah, demi menghindari masalah tersebut, Kadena pun menambah tambahan chain sebagai “jalan pintas” bagi chain pertama untuk menyerahkan proses transaksinya ke chain-chain berikutnya. Harapannya, Kadena bisa memproses transaksi berjumlah jumbo dengan durasi yang lebih cepat.

Kondisi tersebut tercermin jelas dari ilustrasi berikut yang menggambarkan arsitektur awal jaringan Kadena di awal peluncurannya berisikan 10 chain.

Kemudian, pada 20 Agustus 2020, jaringan Kadena melakukan fork sehingga chain yang berpartisipasi di dalam Chainweb bertambah dari 10 menjadi 20 chain, seperti tergambar dalam bagan berikut.

2. Kuro

Selain mengembangkan jaringan utamanya, Kadena juga mengembangkan jaringan blockchain lapis dua yang disebut sebagai Kuro. Kadena diketahui mengembangkan Kuro sebelum meluncurkan platform smart contract publiknya.

Melalui Kuro, penggunanya bisa melakukan 8.000 transaksi per detik yang diproses oleh 500 node, sehingga teknologi ini sangat cocok dimanfaatkan oleh badan usaha atau entitas bisnis berskala besar yang membutuhkan transaksi privat berskala jumbo.

Adapun keunggulan yang dimiliki Kuro dibanding blockchain privat lainnya antara lain terdiri dari:

  1. Deteksi bug secara otomatis melalui sistem verifikasi resmi.
  2. Menggunakan kode pemrograman yang mudah diakses dan dimengerti oleh programmer dan pelaku bisnis.
  3. Memungkinkan penggunanya untuk meningkatkan kualitas smart contract secara fleksibel sesuai kebutuhan bisnisnya.
  4. Memungkinkan penggunannya untuk mengintegrasikan jaringan Kuro dengan database miliknya.

Salah satu perusahaan yang menggunakan teknologi Kuro adalah perusahaan rintisan di bidang aplikasi jasa kesehatan bernama Rymedi, yang memanfaatkan Kuro untuk mengumpulkan data-data terkait produk kesehatan menggunakan teknologi blockchain.

3. Pact

Pact adalah bahasa smart contract yang khusus digunakan dan dikembangkan oleh jaringan Kadena. Dengan demikian, baik Chainweb maupun Kuro dibangun berdasarkan bahasa pemrograman tersebut.

Pact didesain untuk memperbaiki kecacatan yang terdapat di bahasa pemrograman Ethereum, Solidity, khususnya masalah kerentanan terhadap serangan-serangan siber.

Adapun keistimewaan Pact dibanding bahasa pemrograman blockchain lain adalah

  1. Mudah dibaca oleh mereka yang awam soal ilmu komputer.
  2. Mudah untuk dipahami dan digunakan.
  3. Mampu mendeteksi bug secara otomatis.
  4. Mengimplementasikan verifikasi penuh (Full Formal Verification) terhadap proses identifikasi pengguna, sehingga aspek keamanan jaringan terbilang prima.
  5. Menampilkan notifikasi jika terdapat error.
  6. Mendukung interoperabilitas dengan bahasa pemrograman lain.
  7. Membantu penggunanya untuk memiliki kontrol penuh atas akses-akses data personal.

Keunggulan dan Kritik Atas Jaringan Kadena

Sama seperti jaringan blockchain lainnya, Kadena pun memiliki kelebihan dan kelemahannya tersendiri seperti berikut!

Keunggulan

  1. Kadena adalah blockchain Proof-of-Work pertama yang punya skalabilitas kuat, keunggulan yang jarang dimiliki oleh protokol sejenis.
  2. Didukung oleh tim berpengalaman. Kadena didirikan oleh mantan pemimpin proyek blockchain JP Morgan Stuart Popejoy dan mantan anggota pengawas aset kripto di otoritas pasar modal Amerika Serikat (AS) (The Securities and Exchange Commission) Will Martino. Di samping itu, Kadena juga berisikan sosok-sosok kunci yang sempat bekerja di perusahaan raksasa teknologi seperti Microsoft dan Google.
  3. Pengguna bisa mendapatkan refund atas biaya transaksi dari kolam likuiditas yang dikelola oleh komunitasnya demi menarik minat pengguna baru.
  4. Memperoleh kucuran dana dari beberapa investor beken seperti Multicoin Capital, Susquehanna International Group (SIG), dan SV Angel.

Kelemahan

  1. Sirkulasi koin asli Kadena, KDA, masih terbilang minim.
  2. Masih memiliki ekosistem yang kecil dibanding kompetitornya.
  3. Komunitas kripto masih membandingkan keunggulan Proof-of-Work milik Kadena dengan mekanisme Proof-of-Stake yang sama-sama mampu meningkatkan skalabilitas jaringan dan hemat energi. Akibatnya, komunitas kripto kini khawatir bahwa platform Proof-of-Work akan menemui senjakala dalam waktu dekat.
  4. Hanya mampu menggaet pendanaan minim jika dibandingkan pesaingnya.

Aspek Tokenomics Kadena

Jaringan Kadena memiliki satu token utilitas asli bernama KDA yang memiliki tiga fungsi utama, yakni sebagai rewards bagi penambang, alat pembayaran biaya transaksi dan daya komputasi di jaringan Kadena, dan sebagai surat suara bagi anggota komunitas Kadena untuk menentukan masa depan jaringan ke depan.

Adapun alokasi distribusi KDA tergambar dalam bagan berikut.

Secara keseluruhan, KDA memiliki total suplai sekitar 1 miliar keping yang dirilis KDA secara bertahap.

Sesuai gambar di atas, mayoritas atau 70% dari total suplai KDA dialokasikan sebagai rewards bagi penambang. Rencananya, seluruh KDA dari aktivitas tersebut akan habis ditambang dalam kurun 120 tahun mendatang.

Kemudian, alokasi KDA terbanyak kedua akan ditujukan bagi cadangan platform (platform reserve), yakni sebuah wadah himpunan dana yang dibangun Kadena.

Sekadar informasi, Kadena membangun platform reserve untuk membayar hal-hal yang berkaitan dengan operasional proyek Kadena seperti asuransi, verifikasi smart contract, sumber dana bagi refund biaya transaksi, dan sumber pembiayaan utama bagi proyek-proyek baru Kadena ke depan.

Lebih lanjut, sebanyak 6% dan 3% dari total pasokan KDA didistribusikan masing-masing kepada investor Kadena dan pihak-pihak yang membantu peluncuran proyek Kadena.

Mengenal Ekosistem Kadena

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Kadena memang masih memiliki ekosistem yang mini. Kendati demikian, bukan berarti isi ekosistem Kadena terbilang membosankan. Ternyata, meski baru berusia seumur jagung, ekosistem Kadena memiliki beberapa proyek-proyek yang terbilang menarik seperti berikut.

1. Gas Station

Dalam kancah blockchain, Kadena merupakan salah satu blockchain pertama yang memperkenalkan konsep “pom bensin” (gas station) kripto. Gas Stations sendiri merupakan rekening yang digunakan untuk membayar refund atas biaya yang dikeluarkan penggunanya ketika mengeksekusi smart contract.

Kadena mencetuskan ide ini agar penggunanya bisa menggunakan aplikasi terdesentralisasi di jaringan Kadena tanpa harus menukarkan aset kriptonya dengan KDA terlebih dulu. 

2. Kadena DAO

Jaringan Kadena juga memiliki organisasi otonom terdesentralisasi (DAO) bernama Dao.init. Organisasi ini diharapkan akan mengambil peranan besar dalam mendukung aspek desentralisasi Kadena ke depan seiring perkembangan ekosistem jaringan.

DAO tersebut memiliki dua tujuan utama. Pertama, organisasi ini memungkinkan komunitas Kadena untuk menyampaikan aspirasi terkait perkembangan ekosistem Kadena ke depan. Kedua, DAO tersebut bisa menjadi wadah terciptanya proses desentralisasi ketika Kadena berencana menambah fitur baru di masa depan.

3. Kaddex

Kaddex adalah platform exchange terdesentralisasi yang urusan tata kelolanya dilakukan oleh sebuah DAO tersendiri. Kaddex juga memiliki token tersendiri bernama KDX yang berfungsi baik sebagai token tata kelola dan utilitas di platform tersebut.



Sumber : pluang.com

Apa Itu Bitcoin Taproot? Simak Penjelasannya Secara Padat di Sini!

Peningkatan jaringan Bitcoin pertama dalam empat tahun berjuluk Taproot, baru saja disetujui oleh penambang di seluruh dunia. Ini adalah momen konsensus yang langka di antara para pemangku kepentingan. Sobat Cuan wajib simak nih, soalnya ini adalah momen penting bagi perkembangan Bitcoin ke depan.

Taproot akan mulai berlaku pada bulan November. Ketika itu terjadi, hal itu akan berarti privasi dan efisiensi transaksi yang lebih besar. Dan yang terpenting, hal ini akan membuka potensi kontrak pintar (smart contract), fitur utama dari teknologi blockchain yang menghilangkan perantara, bahkan dari transaksi yang paling kompleks sekalipun.

“Taproot penting, karena membuka peluang yang luas bagi pengusaha yang tertarik untuk memperluas utilitas Bitcoin,” kata Alyse Killeen, Pendiri dan Mitra Pengelola Stillmark, perusahaan ventura yang berfokus pada Bitcoin.

Tidak seperti peningkatan Bitcoin pada 2017 yang disebut sebagai “perang saudara terakhir” karena perbedaan ideologis yang memisahkan penganutnya, Taproot memiliki dukungan yang hampir universal. Hal itu karena perubahan ini merupakan peningkatan bertahap pada kode Bitcoin.

Baca juga: Fans Bitcoin Wajib Baca! Ini Prediksi Bitcoin Selama 2021 Dari 10 Pakar Top!

Apa Itu Bitcoin Taproot?

Taproot Bitcoin akan memberi ruang bagi Bitcoin untuk berkembang. Karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, fitur kontrak pintar diimplementasikan pada Bitcoin, sebuah fitur yang selama ini hanya terjadi di ekosistem Ethereum.

Oleh karenanya, upgrade Taproot akan berfokus di perbaikan keamanan transaksi. Nah, makanya tak heran jika sasaran utama perbaikan jaringan ini berada di soal keamanan tanda tangan digital.

Mengapa tanda tangan digital menjadi penting?

Hal ini dianggap penting lantaran tanda tangan digital di dalam sistem cryptocurrency dianggap sebagai sebagai sidik jari yang ditinggalkan seseorang pada setiap transaksi yang mereka lakukan.

Saat ini, cryptocurrency menggunakan sesuatu yang disebut “Elliptic Curve Digital Signature Algorithm”, yang dibuat dari kunci pribadi yang mengontrol dompet Bitcoin dan memastikan bahwa Bitcoin hanya dapat dibelanjakan oleh pemilik yang sah. Nah, di dalam upgrade Taproot, tanda tangan digital akan beralih ke sesuatu yang dikenal dengan tanda tangan Schnorr.

Pentingnya Sistem Tanda Tangan Baru di Sistem Blockchain Bitcoin

Menurut Wakil Presiden perusahaan pool penambangan Bitcoin Hong Kong Poolin Alejandro De La Torre, tanda tangan Schnorr akan membuat transaksi multi-tanda tangan tidak dapat dibaca.

Dalam praktiknya, itu berarti privasi yang lebih besar, karena password kamu tidak akan memiliki banyak eksposur pada tiap-tiap rantai transaksi (chain) yang berada di dalam sistem blockhain.

“Anda bisa menyembunyikan siapa diri Anda sedikit lebih baik, itu bagus,” kata Brandon Arvanaghi, yang sebelumnya merupakan insinyur keamanan di bursa kripto Gemini.

Hal tersebut dianggap bisa menutupi kelemahan jaringan blockchain Bitcoin selama ini. Mengapa demikian?

Ketika transaksi Bitcoin dicatat di dalam sistem blockchain, maka catatan-catatan tersebut akan bersifat publik. Termasuk mengekspos detail-detail terkait pihak yang terlibat dalam transaksi tersebut.

Sayangnya, hal ini bikin beberapa pihak semakin mudah menjejak data-data pihak yang bertransaksi dengan Bitcoin, termasuk pemerintah. Padahal, sesuai semangatnya, Bitcoin dan cryptocurrency lainnya adalah ekosistem yang seharusnya terdesentralisasi.

Baca juga: Tergiur Aset Kripto? Simak 4 Tanda Kesiapan Kamu dalam Investasi Kripto!

Cara Kerja Bitcoin Taproot dan Manfaatnya

Sistem Taproot akan membuat seluruh pihak yang bertransaksi di jaringan blockchain Bitcoin terlihat transaksi standar — meskipun berisikan transaksi kompleks di dalamnya. Mereka bisa melakukan hal itu dengan mengombinasikan kunci-kunci publik (public keys) dan mengombinasikan tanda tangan digital mereka menggunakan tanda tangan Schnorr.

Akibatnya, sistem blockchain Bitcoin hanya membutuhkan sedikit data untuk memproses transaksi. Sehingga, ongkos kontrak pintar bisa lebih murah dan dilakukan dalam skala yang lebih kecil. Sehingga, tak heran jika peningkatan fungsionalitas dan efisiensi ini dinilai menghadirkan “potensi yang menakjubkan.”

Mengapa demikian? Alasannya mudah saja, Sobat Cuan. Kamu pasti sudah melihat bagaimana teknologi smart contract berjalan di sistem Ethereum, bukan? Di mana, sistem tersebut bikin token-token aset kripto bisa menjalankan fungsi “nyata” layaknya mata uang biasa.

Nah, oleh karenanya, sistem Taproot nantinya memperbolehkan pengguna Bitcoin menggunakan tokennya untuk transaksi apapun. Mulai dari membayar sewa setiap bulan, bahkan hingga mendaftarkan nomor kendaraan.

Baca juga: Mengapa Volume Transaksi Sangat Penting bagi Pergerakan Harga Kripto?

Akankah Taproot Mengerek Harga Bitcoin?

Upgrade sistem Taproot tentu saja bisa menjadi katalis positif bagi harga Bitcoin.

Alasan pertamanya adalah kenaikan nilai guna. Ketika jaringan blockchain Bitcoin sudah bisa digunakan untuk smart contract, maka nilai manfaat Bitcoin pun akan bertambah. Sehingga, semakin banyak orang mungkin akan mengadopsi teknologi ini untuk kegiatan ekonomi mereka.

Kalau sudah demikian, artinya permintaan Bitcoin bisa meningkat, bukan?

Selain itu, Taproot juga diharapkan membawa privasi dan transparansi yang lebih baik. Sehingga hal itu bisa membuat penggunanya semakin percaya dengan keandalan sistem blockchain Bitcoin.

Kabar soal Taproot sempat menjadi penyebab naiknya harga Bitcoin di pekan lalu, bahkan bikin sang raja aset kripto ini mendekati US$40.000. Meski memang, hype taproot mereda, dan kini (Senin (21/6)) harga Bitcoin pun luruh ke angka US$34.000 per keping.

Jika implementasi Taproot berjalan dengan baik, ada kemungkinan Bitcoin akan mencapai atau melewati harga tertinggi dalam sejarah. Karena peningkatan sistem teknologi adalah alasan paling sering untuk menaikkan harga Bitcoin.

Seru sekali ya, Sobat Cuan. Nah, mumpung ada sentimen bagus bagi harga Bitcoin ke depan, kenapa kamu tak investasi Bitcoin sekarang? Yuk, investasi Bitcoin di Pluang sekarang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNBC, Decrypt, Indodax



Sumber : pluang.com