Category Archives: Pluang

Mengenal Moonbeam, Platform Pionir Penciptaan Aplikasi Lintas Jaringan

Apa Itu Moonbeam?

Moonbeam adalah platform smart contract yang memungkinkan aplikasi terdesentralisasi yang dibangun di atas jaringan Ethereum untuk beroperasi di atas jaringan Polkadot. Hal ini bisa terjadi lantaran Moonbeam merupakan salah satu “cabang” jaringan Polkadot yang disebut sebagai parachain.

Keistimewaan ini menjadikan Moonbeam sebagai salah satu proyek pionir yang mengusung konsep interoperabilitas antar jaringan blockchain.

Ringkasan Moonbeam. Sumber: Moonbeam

Jaringan Moonbeam dikembangkan oleh lembaga nirlaba bernama Moonbeam Foundation. Namun, Moonbeam merupakan buah karya dari CEO PureStake bernama Derek Yoo. PureStake sendiri adalah perusahaan pengembangan teknologi yang sempat membangun perangkat pengembangan bagi jaringan Algorand.

Dalam melebarkan sayap aktivitas Moonbeam, Yoo juga dibantu oleh COO PureStake Stefan Mehlhorn yang sebelumnya sempat malang melintang di perusahaan teknologi seperti Samsung Pay, Candibell Inc, dan LoopPay.

Mereka mendirikan jaringan Moonbeam setelah proyek rintisan tersebut menjadi salah satu pemenang awal lelang parachain Polkadot pada Desember 2021.

Mengapa Moonbeam Hadir?

Namun kehadiran Moonbeam memunculkan satu pertanyaan: Apa sih pentingnya menjalankan aplikasi terdesentralisasi Ethereum di atas jaringan Polkadot?

Ternyata, Moonbeam menciptakan platform ini agar pengembang aplikasi terdesentralisasi bisa mendapatkan keunggulan jaringan Ethereum dan Polkadot secara bersamaan.

Terkadang, pengembang ingin mengaplikasikan fitur-fitur smart contract lengkap yang hanya terdapat di jaringan Ethereum ke aplikasinya. Sayangnya, mereka selalu didera masalah kemacetan proses transaksi atau tingginya biaya transaksi ketika membangun aplikasi di atas jaringan Ethereum. 

Oleh karenanya, salah satu solusi yang bisa mereka lakukan adalah “memindahkan” pengembangan aplikasinya ke jaringan smart contract lain, salah satunya Polkadot.

Namun, pertanyaan barunya, mengapa pengembang memilih jaringan Polkadot? Jawabannya, Polkadot memiliki satu fitur khas bernama multichain di dalam jaringannya.

Sobat Cuan bisa memahami lebih jauh mengenai seluk beluk teknologi Polkadot dan manfaat multichain di artikel berikut. Tetapi intinya, arsitektur jaringan Polkadot yang “bercabang-cabang” memungkinkan satu proyek aplikasi terdesentralisasi di Polkadot untuk menggunakan dua jaringan berbeda di saat bersamaan, di mana masing-masing jaringan tersebut bisa berinteraksi satu sama lain.

Nah, dalam konteks Moonbeam, platform ini memungkinkan pengembang aplikasi di jaringan Ethereum untuk mengoperasikan aplikasinya yang berbasis bahasa pemrograman khusus Ethereum, Solidity, di ekosistem Polkadot. Imbasnya, pengembang bisa menempatkan aplikasinya yang dibangun di Ethereum ke jaringan Polkadot tanpa harus mengubah atau menulis kembali kode-kode pemrogramannya. 

Selain itu, pengembang juga tidak perlu memindahkan asetnya dari jaringan Ethereum ke jaringan Polkadot. Tak ketinggalan, proyek-proyek Moonbeam bisa bekerja dengan harmonis bersama pemrograman aplikasi antarmuka (API) web3 Ethereum dan Ethereum Virtual Machine (EVM).

Sebenarnya, selain memanfaatkan teknologi multichain Polkadot, pengembang aplikasi terdesentralisasi bisa memanfaatkan jaringan jembatan (bridge chain) ketika ingin melakukan fungsi interoperabilitas antara satu jaringan dengan jaringan lain.

Hanya saja, menggunakan bridge chain ternyata cukup ribet. Pengembang aplikasi harus memindahkan asetnya di jaringan sebelumnya ke jaringan jembatan untuk kemudian “diubah” (wrapped) ke aset yang berlaku di jaringan baru.

Hal ini rupanya membuat bridge chain menjadi target menggiurkan bagi beberapa oknum yang ingin mencuri aset kripto benrilai jumbo. Salah satu kasusnya terjadi pada Maret 2022, ketika aset kripto senilai US$650 juta raib dari jaringan bridge chain Ronin Network dan membuat peristiwa itu dikenang sebagai peretasan kripto terbesar sepanjang sejarah.

Mengenal Jaringan Anggota Ekosistem Moonbeam

Saat ini, terdapat empat jaringan yang menjadi anggota ekosistem Moonbeam, yakni:

  1. Moonbeam.
  2. Moonriver. Ini adalah jaringan uji coba (canary) Moonbeam yang dibangun di atas jaringan canary Polkadot bernama Kusama. Platform yang memanfaatkan teknologi serupa dengan Moonbeam ini digunakan oleh pengembang untuk mencoba kode-kode pemrograman baru sebelum digunakan di jaringan Moonbeam.
  3. Moonrock. Ini adalah jaringan uji coba (testnet) bagi Moonriver dan Moonbeam yang juga bertindak sebagai parachain di jaringan uji coba Polkadot bernama Rococo.
  4. Moonbase Alpha. Ini adalah parachain uji coba milik PureStake yang memungkinkan pengembang untuk mengetes kecocokan fitur-fitur Ethereum di jaringan Moonbeam.

Bagaimana Cara Kerja Moonbeam?

Menjejak Kembali Konsep Parachain

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Moonbeam adalah salah satu jaringan parachain Polkadot. Sobat Cuan bisa memahami lebih lanjut mengenai konsep parachain di artikel berikut.

Namun intinya, parachain sendiri merupakan jaringan blockchain lapisan pertama yang bisa beroperasi secara paralel dengan parachain lainnya sekaligus berkomunikasi dengan jaringan utama Polkadot. Tujuannya, agar proyek yang berada di parachain tersebut bisa mengimplementasikan fitur dan manfaat parachain lain sekaligus mendapatkan eksposur terhadap ukuran komunitas yang lebih besar.

Setiap parachain memiliki fungsi, desain, token, dan tata kelolanya sendiri. Tetapi, ia tetap menikmati tingkat keamanan tinggi yang disediakan oleh jaringan utama Polkadot dan tak perlu membangun komunitas validator transaksinya sendiri.

Pendiri Polkadot Gavin Wood mengibaratkan proses tersebut seperti kegiatan bekerja di kantor. Ia mengumpamakan parachain sebagai karyawan yang memiliki tanggung jawab tersendiri dan masing-masing “karyawan” tersebut akan melakukan rapat di jaringan utama Polkadot untuk mengoordinasikan pekerjaan mereka.

Lebih lanjut, setiap proyek yang ingin menjadi anggota parachain Polkadot harus melalui proses lelang. Kemudian, anggota komunitas Polkadot akan menentukan apakah proyek tersebut berhak menghuni parachain Polkadot atau tidak.

Jika mereka mendukung salah satu proyek untuk menjadi parachain, maka mereka akan “mengunci” token DOT miliknya di slot lelang yang dihuni sang calon proyek tersebut. Dalam kasus Moonbeam, sebanyak 200.000 anggota komunitas Polkadot telah “mengunci” lebih dari 35 juta keping DOT miliknya di slot lelang Moonbeam sebagai bentuk sokongan atas proyek tersebut.

Bagaimana Cara Kerja Moonbeam?

Dalam ekosistem Polkadot, finalisasi proses transaksi tetap dilakukan oleh validator yang berada di jaringan Polkadot. Namun, produksi blok transaksi di jaringan parachain tetap dilakukan oleh komputer-komputer (node) yang khusus berpartisipasi di dalamnya.

Dalam hal ini, jaringan parachain akan mengirimkan blok transaksinya ke validator melalui pengepul (collators) catatan transaksi. Kemudian, validator akan menentukan apakah blok-blok transaksi yang berasal dari pengepul tersebut sudah valid dan bisa dicatat di jaringan utama Polkadot.

Untuk lebih memahami mekanisme tersebut, Sobat Cuan bisa menyimak alur proses transaksi Moonbeam melalui ilustrasi berikut.

Dalam konteks Moonbeam, protokol akan mengumpulkan catatan aktivitas transaksi di jaringan dan menyerahkannya ke collators yang ditentukan berdasarkan sistem konsensus Nimbus. Operator yang ingin bertindak sebagai collators juga wajib mengunci minimal 100.000 token asli Moonbeam, GLMR, di jaringan Moonbeam.

Setelah itu, collators kemudian akan menyerahkan catatan-catatan tersebut ke validator untuk diverifikasi. Apabila validator sudah selesai memvalidasi transaksi, mereka akan menyerahkan kembali hasil kerjanya ke jaringan utama Polkadot. Jika hasil validasi transaksi itu tidak valid, maka jaringan utama Polkadot berhak menolak pengajuan pencatatan transaksi dari Moonbeam.

Manfaat Platform Moonbeam bagi Pengembang

Ringkasan Ekosistem Moonbeam beserta Manfaatnya. Sumber: Moonbeam

Memang, Moonbeam bukanlah satu-satunya platform yang menawarkan interoperabilitas antara jaringan Ethereum dengan jaringan lainnya. Namun, Moonbeam menawarkan beberapa manfaat yang mungkin tidak bisa didapatkan pengembang aplikasi dari platform lainnya. Berikut adalah beberapa manfaat tersebut!

1. Ekosistem yang Terus Berkembang

Komunitas Moonbeam saat ini memiliki lebih dari 100 protokol dan integrasi jaringan. Namun, angka tersebut bakal terus menggembung seiring waktu. Moonbeam bisa memperbesar ukuran komunitasnya lantaran telah mengintegrasikan API, oracles, aplikasi terdesentralisasi, keuangan terdesentralisasi, hingga dompet web3 ke dalam jaringannya.

Bahkan, pengembang di jaringan Ethereum juga bisa memanfaatkan jaringan Moonbeam sebagai gerbang untuk meningkatkan aspek interoperabilitasnya dengan parachain-parachain lain di jaringan Polkadot. Sehingga, pengembang Ethereum bisa memperluas cakupan pasarnya dan menggaet pengguna baru dengan lebih mudah.

2. Memiliki Kompatibilitas dengan EVM

Pengembang yang mengembangkan aplikasi berbasis bahasa pemrograman Solidity yang berjalan di atas Ethereum Virtual Machine (EVM) bisa memindahkannya ke Moonbeam tanpa perlu mengubah kode-kode pemrogramannya. Sebagai manfaatnya, pengembang bisa menikmati hal-hal berikut:

  1. Pengembang bisa menekan waktu dan ongkos untuk memindahkan smart contract-nya antar jaringan.
  2. Pengembang bisa mengakses berbagai perangkat, seperti Hardhat, Metamask, dan Waffle, untuk menciptakan aplikasi dengan sifat interoperabilitas tinggi.
  3. Pengguna aplikasi platform Moonbeam bisa mengakses dompet hingga bentuk integrasi lain yang terdapat di jaringan Polkadot.
  4. Dompet, alamat, hingga tanda tangan smart contract pengembang di jaringan Ethereum tetap akan valid di platform Moonbeam.

3. Memiiliki Kompatibilitas dengan Substrate

Substrate adalah kerangka kerja modular blockchain yang dimanfaatkan bagi pengembang untuk membangun blockchain yang sesuai dengan kebutuhannya menggunakan komponen daur ulang yang disebut Pallet. Kerangka kerja ini menggunakan bahasa pemrograman Rust dan paling banyak digunakan pengembang ketika membangun parachain di jaringan Polkadot.

Karena Moonbeam juga dibangun berdasarkan kerangka kerja ini, maka aplikasi yang terintegrasi dengan jaringan Moonbeam bisa menerima manfaat dari jaringan Polkadot dan Ethereum secara bersamaan.

Di samping itu, pengembang juga bisa menggunakan perangkat yang punya kompatibilitas dengan Substrate yang biasanya dimanfaatkan di Ethereum, seperti dompet, front-end development libraries, dan block explorers, di jaringan Moonbeam

4. Integrasi dengan Jaringan Lainnya

Beberapa jaringan jembatan telah terintegrasi dengan Moonbeam, seperti cBridge dan Multichain Swap Protocol, sehingga Moonbeam bisa memindahkan asetnya ke jaringan blockchain lain melalui jaringan jembatan tersebut dengan mudah.

5. Bahasa Smart Contract yang Mudah Dipahami

Meski Solidity adalah bahasa pemrograman utama di dalamnya, Moonbeam tetap mendukung bahasa pemrograman lain yang cocok dengan bytecode EVM.

6. Keunggulan Sebagai Salah Satu Parachain Pertama Polkadot

Sebagai salah satu parachain pertama yang menghuni Polkadot, Moonbeam bisa dibilang “mencuri start” dalam hal pengintegrasian aplikasi terdesentralisasi dan protokol yang terintegrasi dengan jaringan Polkadot. Makanya, tak heran jika proyek kripto terkenal seperti Chainlink hingga Sushiswap telah menjalin kerja sama dengan Moonbeam.

7. Mengatasi Masalah yang ada di Ethereum

Status Ethereum sebagai punggawa platform smart contract membuatnya ramai dijejali pengembang yang ingin menciptakan aplikasi terdesentralisasi di dalamnnya. Akibatnya, mereka pun harus mencari tempat “bernaung” lain yang punya fitur sama dengan Ethereum namun dengan lalu lintas jaringan yang lebih sepi.

Nah, sebagai solusinya, mereka bisa “pindah rumah” ke platform Moonbeam. Sebab, selain menyediakan fitur-fitur yang kompatibel dengan jaringan Ethereum, mereka pun bisa menciptakan aplikasinya dengan cepat dan biaya yang lebih efisien.

Bahkan, jika pengembang mau memanfaatkan Moonbeam, maka mereka juga bisa menikmati manfaat atas integrasi Moonbeam dengan protokol lainnya. Sebagai contoh, Moonbeam telah menjalin kerja sama dengan platform penghimpun data berbasis blockchain (oracle) The Graph, sehingga pengembang bisa menggunakan data milik The Graph ketika membangun aplikasinya.

Siapa Pihak yang Diuntungkan Atas Platform Moonbeam?

Kehadiran platform Moonbeam sejatinya menguntungkan empat kelompok pengguna yang terdiri dari:

  1. Pengembang proyek berbasis Ethereum. Pasalnya, mereka bisa menghindari masalah di jaringan Ethereum, seperti perkara skalabilitas dan biaya transaksi, ketika menciptakan aplikasi terdesentralisasi.
  2. Pengembang proyek berbasis Polkadot. Aplikasi Polkadot yang tak memiliki fungsi smart contract bisa meningkatkan kualitas aplikasinya melalui platform Moonbeam.
  3. Pengembang aplikasi yang ingin mengembangkan produk yang beroperasi secara lintas jaringan. Pengembang bisa menggunakan Moonbeam untuk menciptakan aplikasi terdesentralisasi yang mampu beroperasi di dua jaringan berbeda.
  4. Komunitas kripto. Mereka yang beraktivitas di banyak jaringan blockchain bisa memanfaatkan Moonbeam untuk menghubungkan aset-asetnya.

Keunggulan dan Kritik Terhadap Moonbeam

Sama seperti jaringan blockchain lainnya, platform Moonbeam punya keunggulan dan kelemahannya tersendiri. Berikut penjelasannya.

Keunggulan Moonbeam

  1. Solusi terhadap permasalahan jaringan blockchain pada umumnya, yakni masalah interoperabilitas.
  2. Moonbeam tidak memiliki pesaing langsung. Kendati demikian, terdapat beberapa platform yang menawarkan jasa serupa namun tidak identik dengan Moonbeam.
  3. Didukung oleh lembaga Web3 yang disokong dengan jumlah dana hibah yang melimpah.
  4. Didukung oleh pendanaan kuat yang berasal dari pemain penting kancah kripto seperti Binance Labs, Coingecko Ventures, ParaFi Capital, KR1, dan HashKey.
  5. Merupakan parachain pertama yang berfungsi di Polkadot.
  6. Didukung kuat oleh komunitas Polkadot.

Kritik

  1. Perkembangannya sangat tergantung dengan pertumbuhan ekosistem Polkadot. Akibatnya, Moonbeam bisa gagal berkembang jika hanya ada sedikit anggota komunitas kripto yang tertarik menggunakan Polkadot.
  2. Pengembang aplikasi berbasis Ethereum masih belum tertarik memanfaatkan platform Moonbeam lantaran mereka lebih doyan menggunakan jaringan lapis 2 Ethereum seperti Arbitrum dan Optimism.
  3. Suplai token yang tak terbatas.

Aspek Tokenomics Moonbeam

Platform Moonbeam memiliki token asli yang disebut dengan Glimmer (GLMR) yang digunakan sebagai pembayaran transaksi, pembayaran eksekusi smart contract, dan insentif bagi collators.

Saat ini, Moonbeam sendiri tidak membatasi jumlah pasokan GLMR di pasar. Malahan, Moonbeam menargetkan tingkat pertumbuhan penerbitan token sebesar 5% per tahun dengan distribusi sebagai berikut:

  1. 1% didistribusikan bagi collators aktif.
  2. 1,5% dibagikan kepada wadah himpunan dana (Treasury) Moonbeam.
  3. 2,5% disebar kepada delegators, yakni pengguna yang melakukan staking atas GLMR dan menyediakan energi bagi collators.

Selain itu, GLMR juga bisa digunakan oleh komunitas Moonbeam untuk menentukan arah pengembangan platform tersebut di masa depan.

Secara lebih detail, dalam hal tata kelola jaringan, pengguna bisa menggunakan GLMR sebagai “surat suara” untuk menyetujui proposal pengembangan Moonbeam, menentukan prioritas pengembangan proyek Moonbeam ke depan, serta memilih anggota dewan pengawas Moonbeam. Seluruh pengembangan proyek di dalam protokol tersebut harus ditentukan melalui referendum.

Jika referendum itu disetujui, maka Moonbeam akan memberikan jeda waktu antara tanggal persetujuan hingga tanggal eksekusi. Hal ini dimaksudkan agar anggota komunitas Moonbeam yang tak setuju dengan hasil referendum itu bisa meninggalkan jaringan sementara mereka yang mendukung bisa mengunci tokennya selama rentang waktu tersebut.

Selain itu, ciri khas aspek Tokenomics GLMR adalah hadirnya “pembakaran” biaya transaksi. Saat ini, Moonbeam mengimplementasikan kebijakan untuk “membakar” 80% ongkos transaksinya dan mengirimkan sisanya ke wadah himpunan dana milik Moonbeam.



Sumber : pluang.com

Panduan Cara Menggunakan RSI Untuk Trading Crypto Bagi Pemula

Sobat Cuan yang doyan trading tentu tak asing dengan Relative Strength Index (RSI). Ya, indikator satu ini memang satu dari empat indikator penting yang memang kamu harus pahami saat utak-atik strategi trading kamu. Termasuk, trading aset kripto.

Hanya saja, trader pemula mungkin kesulitan mencari cara menggunakan RSI lantaran terbilang asing. Padahal, indikator ini esensial bagi mereka untuk menganalisis pergerakan harga crypto, lho.

Nah, apakah kamu juga adalah trader pemula? Dan apakah kamu juga penasaran dalam menggunakan indikator ini secara tepat untuk mendulang cuan aset kripto? Yuk, simak artikel ini sampai habis, ya!

Sekilas Tentang RSI

Secara singkat Relative Strength index adalah indikator yang dipublikasikan oleh penemunya, J Welles Wilder Jr dalam buku berjudul New Concept in Technical Trading Systems di tahun 1978.

instrumen analisis teknikal ini mengukur kecepatan relatif perubahan harga. Sehingga, kamu bisa tahu apakah aset kamu sedang dalam posisi jenuh beli (overbought) atau jenuh jual (oversold).

Lantas, bagaimana caranya kamu tahu harga sebuah aset kripto overbought dan oversold? Caranya adalah dengan menggunakan skala 0 hingga 100 di grafik RSI tersebut. Berikut adalah arti-arti angka tersebut:

  1. Jika RSI mendekati angka 0, maka aset tersebut mengalami fase jenuh jual (oversold). Oversold adalah suatu kondisi di mana sebuah aset diperdagangkan di bawah harga intrinsiknya sehingga memiliki potensi unuk memantul kembali.
  2. Jika RSI mendekati angka 100, maka aset tersebut mengalami fase jenuh beli (overbought). Overbought adalah kondisi di mana sebuah aset diperdagangkan di level harga tinggi, bahkan lebih tinggi dibanding nilai intrinsiknya. Nantinya, harga aset tersebut dipercaya akan terkoreksi setelahnya.
  3. Jika RSI berada di kisaran 50%, maka pasar sedang tidak bisa menentukan apakah mereka ingin membeli atau menjual asetnya. Nah, oleh karenanya, trader harus menganalisis kondisi tersebut dengan bantuan indikator lain seperti level support dan resistance, volume, Moving Average, dan lain-lain sebelum menentukan langkah trading selanjutnya.

Adapun indikator RSI biasanya berupa garis yang bergerak di antara skala 0 hingga 100 tersebut. Lalu, berdasarkan konsensus, kamu bisa menilai kapan asetmu harus dibeli atau dijual berpatokan pada garis yang berada di nilai indeks tersebut. Contoh RSI bisa kamu lihat di grafik berikut.

Cara Menggunakan RSI
Contoh RSI harga ETH/USDT. Sumber: Trading View

RSI biasanya digunakan secara bersamaan dengan indikator lain seperti Moving Average (MA). Namun RSI sendiri bermanfaat untuk membantumu menemukan momentum terbaik dalam membeli ataupun menjual aset kripto andalanmu.

3 Alasan Pentingnya Analisis dengan RSI

Ada tiga alasan utama mengapa indikator ini sangat penting digunakan saat kamu hendak menganalisis pergerakan harga crypto kamu, Sobat Cuan.

  1. Pertama, RSI memiliki pola yang sama dengan closing chart. Sehingga, kamu bisa mengonfirmasi prediksi dan asumsi kamu saat trading.
  2. Kedua, RSI memberi dukungan informasi yang lebih baik mengenai tren harga dibanding closing chart umum. Saat harga sedang downtrend, kamu mungkin berpikir bahwa saat itu sudah oversold. RSI dapat membantumu mengonfirmasi apakah harga betul-betul oversold atau hanya downtrend biasa. Dengan begitu, kamu bisa melakukan trading dengan informasi yang lebih valid.
  3. Ketiga, kamu juga bisa mengetahui lebih cepat saat harga berbalik arah atau berubah tren. Jika harga downtren gagal menembus area di bawah 30 dan berbalik arah namun tidak sampai menyentuh garis 70, maka tren mungkin sedang melambat. Begitupun sebaliknya. Adapun fenomena ini disebut divergensi.

Intinya, RSI membantumu mengetahui momentum dimulai atau berakhirnya downtrend dan uptrend. Hal ini tentu akan membantumu melakukan trading dengan efisien, bukan?

Baca juga: Simak 4 Indikator Analisis Teknikal Dasar Bagi Pemula Berikut!

Cara Menggunakan RSI

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, RSI adalah osilator momentum yang berguna memberitahu kapan crypto kamu berada pada titik jenuh, baik di titik jual maupun beli. Wilayah overbought dan oversold dalam RSI ditentukan berdasarkan konsensus. Namun, biasanya skala yang dipakai adalah 30 hingga 70.

Maksudnya, crypto kamu bisa dikatakan oversold saat berada di ambang wilayah 30. Namun, bila harganya berada di wilayah ambang 70 ke atas, artinya crypto kamu sedang oversold.

Cara Menggunakan RSI Saat Overbought

Meski grafik RSI rata-rata menggunakan patokan 70 untuk overbought, kamu bisa mengatur batas kamu sendiri saat menganalisis pergerakan kripto.

Penting diingat, overbought adalah situasi yang rawan koreksi harga. Jika sudah terlalu jenuh, tren harga biasanya berbalik turun makanya kamu harus memanfaatkan momentum overbought untuk cuan secepatnya!

Sinyal bullish biasanya terjadi saat harga berada di atas ambang 50. Jadi, kamu bisa mulai bersiap-siap mengambil momentum begitu harga aset kriptomu berada di level ini.

Contoh overbought beserta koreksi harganya bisa kamu lihat di grafik berikut.

Market Wrap: Bitcoin Steady Near $54K; RSI Indicator Warns of Limited  Uptrend - CoinDesk
Contoh overbought. Sumber: Coindesk

Baca juga: Lagi Coba Main Saham? Ini 7 Indikator untuk Pahami Analisis Teknikal!

Cara Menggunakan RSI Saat Oversold

Sebaliknya, kamu harus sudah mulai waspada jika harga berada di bawah garis 50. Sebab, harga aset kriptomu mungkin terindikasi sedang bearish dan angka indeks RSI bisa saja terus melandai menembus garis oversold.

Oversold secara harfiah terjadi saat harga berada di bawah nilai interinsiknya. Maka situasi ini berpotensi disusul dengan sinyal rebound yakni saat harga berangsur pulih.

Sebagai trader, kamu harus bisa memakai momentum ini untuk menimbun aset kriptomu. Dengan perhitungan yang matang, RSI bisa leverage cuan kamu saat harga aset membaik, Sobat Cuan!

Berikut contoh titik-titik di mana kondisi oversold terjadi.

Bitcoin Holds Support at $56K; Resistance at $60K-$63K
Contoh oversold. Sumber: Coindesk

Divergensi

Sobat Cuan harus memperhatikan kapan divergensi terjadi, yakni saat tren mulai kehilangan momentum. Baik momentum bullish maupun bearish, keduanya akan kehilangan momentum yang membuat harga berbalik arah. Nah, kesempatan ini dapat memperlebar margin cuan kamu jika tangkas membacanya.

Divergensi terjadi saat harga naik tapi RSI tidak mengikutinya. Karena RSI merupakan data historis, maka garisnya tentu berbeda dengan data terkini. Tren divergensi ini memberitahu kamu bahwa tren sudah melemah dan siap berbalik arah secara tajam, jadi hati-hati ya, Sobat Cuan!

Baca juga: Apa Itu Crypto Faucet?

Membaca Sinyal Jual dari RSI

Mendulang cuan di trading sangat erat kaitannya dengan timing menjual asetmu. Nah, bagaimana caranya kamu bisa melihat momentum itu lewat RSI?

Cara menggunakan RSI untuk menilai kapan kamu harus menjual dilakukan dengan memperhatikan dua indikasi yang bisa kamu jadikan patokan. Yakni saat harga sedang oversold dan saat bearish divergence terjadi.

Berbeda dengan sinyal oversold yang mudah terbaca dalam grafik, bearish divergence membutuhkan skill yang lebih mumpuni. Kamu akan membutuhkan bantuan indikator MA untuk melihatnya dalam grafik RSI. Sebab, bearish divergence terjadi saat harga mencetak rekor tertinggi namun trennya turun berdasarkan garis MA.

Jika divergensi bearish terjadi, kamu harus cepat-cepat menjual crypto kamu sebelum terlambat. Ketimbang mesti cut loss terlalu banyak nantinya.

Jadi bagaimana, Sobat Cuan? Sudah siap menggunakan RSI untuk trading aset kriptomu? Yuk, coba dulu dengan Bitcoin dan Ethereum hanya di Pluang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



Sumber : pluang.com

Apa Itu Leverage dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Sekilas Pandang tentang Leverage

Leverage adalah sebuah instrumen yang didesain untuk meningkatkan eksposur para investor terhadap suatu aset, di mana investor dapat membeli saham dua kali lebih banyak tanpa perlu membayar penuh harga saham tersebut.

Sejatinya, ketika seorang investor memakai leverage dalam trading, mereka akan memiliki daya beli aset yang lebih besar dari uang yang mereka miliki.

Namun, apa alasan aktivitas leverage hadir di pasar?

Sobat Cuan tentu sadar bahwa masing-masing investor punya modal awal berbeda-beda dalam berinvestasi. Ada pelaku pasar bermodal cekak, namun ada pula yang menggelontorkan modal awal secara jor-joran.

Hanya saja, pelaku pasar bermodal kecil tentunya tak memiliki kesempatan cuan yang sama dengan mereka yang berkantong tebal. Keterpautan tersebut bahkan kian kentara ketika situasi pasar sedang cerah, di mana pelaku pasar bermodal cekak mendulang cuan lebih mini ketimbang mereka yang menggelontorkan modal awal jumbo.

Nah, sebagai solusinya, mereka yang bermodal kecil tersebut bisa memanfaatkan aktivitas leverage untuk memaksimalkan cuan di tengah kondisi tersebut.

Melalui leverage, pelaku pasar bisa memperluas keterpaparannya (exposure) di pasar modal dengan modal awal yang lebih sedikit. Dengan kata lain, leverage memungkinkan investor untuk memiliki posisi investasi dengan nilai lebih tinggi dari modal awalnya.

Memahami Cara Kerja Leverage

Meski terdengar menjanjikan, leverage bukanlah bagian dari skema investasi bodong. Pasalnya, perusahaan manajemen investasi top dunia juga menawarkan aktivitas tersebut ke pelanggannya lantaran cara kerjanya cukup jelas dan transparan.

Ketika mengelola aktivitas leverage, perusahaan manajemen investasi tidak berupaya menggembungkan modal awal yang disetor investor, melainkan hanya memperluas cakupan exposure-nya. Oleh karenanya, aktivitas leverage yang benar harus “dibangun” di atas satu aset dasar (underlying asset) tertentu, misalnya saham, obligasi, mata uang, dan komoditas.

Nantinya, perusahaan manajemen investasi akan meningkatkan kemampuan membeli investor atas underlying asset tersebut ke investor ketika menjalankan aksi leverage. Nah, aksi inilah yang menyebabkan exposure investor di pasar instrumen aset bisa lebih besar meski dengan modal yang lebih kecil.

Contoh Konsep Leverage

Agar lebih memahami konsep leverage, Sobat Cuan bisa menyimak ilustrasi berikut.

Perusahaan manajemen investasi A menawarkan aktivitas leverage 2x berbasis saham berkode ABC kepada investor. Hal itu bisa diartikan bahwa perusahaan A optimistis bisa menambah exposure terhadap saham tersebut sebanyak dua kali lipat dibanding modal awal yang disetor investor.

Di saat yang sama, harga saham ABC saat ini diperdagangkan di harga Rp1 juta per lembarnya. Sehingga, jika investor juga memiliki modal awal sebesar Rp1 juta, maka ia akan berkesempatan mengantongi dua lembar saham ABC bernilai Rp2 juta jika menempatkan uang di kegiatan leverage yang dimaksud.

Sobat Cuan perlu menyadari bahwa dari saham bernilai Rp2 juta tersebut, Rp1 juta merupakan saham ABC yang dibayarkan investor sementara Rp1 juta sisanya disebut sebagai margin, yakni selisih antara jumlah modal “sebenarnya” dengan nilai posisi yang tercatat di portofolio.

Adapun perhitungan untung dan buntung kegiatan leverage tersebut sangat tergantung dengan pergerakan nilai saham ABC. Dalam kasus ini, anggap saja nilai saham ABC naik menjadi Rp1,2 juta per lembar. 

Jika sang investor membeli saham secara langsung, maka ia semestinya hanya mendulang cuan sebesar Rp200.000. Namun, mengingat sang investor memanfaatkan leverage perusahaan A, maka profit yang ia hasilkan akan menjadi Rp400.000 lantaran aktivitas tersebut punya daya ungkit exposure dua kali lebih besar dari modal aslinya.

Mekanisme yang sama juga berlaku ketika nilai saham ABC turun. Misalnya, ketika nilai saham itu turun menjadi Rp800.000 per lembar, maka sang investor akan didera kerugian sebesar Rp400.000 alih-alih sebesar Rp200.000.

Tabel Simulasi Leverage
Tabel Simulasi Leverage

Mengenal Konsep Daily Leverage Fee

Ketika menjejakkan kaki di kegiatan leverage, investor nantinya akan dibebani dua jenis biaya, yakni modal awal disetor dan daily leverage fee (overnight fee), yakni biaya yang timbul ketika investor memutuskan menggunakan leverage dan “menginapkan” aset yang ia miliki selama lebih dari satu hari di perusahaan pialang.

Daily leverage fee muncul lantaran aktivitas transaksi leverage tetap berjalan meski jam perdagangan underlying asset-nya sudah usai. Sehingga, investor leverage yang memasang posisi lebih dari sehari tidak bisa mengelak dari tambahan biaya satu ini. 

Oleh karenanya, Sobat Cuan yang tertarik membenamkan dana di aktivitas leverage perlu memahami perhitungan overnight fee tersebut.

Sebagai contoh, seorang investor membeli 10 lembar saham Alibaba (BABA) di aplikasi Pluang sebesar US$100 dengan harga penutupan US$100 di akhir perdagangan Senin. 

Ketika investor masih menggenggam saham tersebut setelah penutupan bursa dan memutuskan menahannya selama dua malam ke depan, atau hari Rabu, maka ia otomatis akan dibebani overnight fee setiap malamnya. Saat ini, Pluang mematok tarif overnight fee 0,022% per malamnya.

Kemudian, anggap saja harga saham Alibaba ditutup di US$120 di Selasa, maka sang investor bakal membayar overnight fee malam pertama sebesar US$0,22 alias 0,022% dari harga penutupan saham Alibaba di hari Senin dan malam kedua sebesar US$0,26 alias 0,022% dari harga penutupan saham Alibaba di hari Selasa. 

Jika harga saham Alibaba ternyata turun menjadi US$110 per lembar di hari Rabu dan investor masih menahan posisi hingga hari Kamis, ia harus membayar overnight fee sebesar US$0,24 di malam ketiga.

Hari

Jumlah Saham

Total Pembelian

Overnight Fee %

Overnight Fee

Senin

10

$1,000

0.022%

$0.215

Selasa

10

$1,200

0.022%

$0.258

Rabu

10

$1,100

0.022%

$0.237

Jumlah

$0.710

Aturan Leverage di Indonesia

 

Pemerintah Indonesia sudah mengakui keabsahan transaksi leverage di dalam negeri.

Dalam beleid tersebut, Indonesia mengakui kontrak berjangka sebagai suatu bentuk kontrak standar untuk membeli atau menjual Komoditi dengan penyelesaian kemudian sebagaimana ditetapkan di dalam kontrak yang diperdagangkan di Bursa Berjangka.

Adapun Komoditi, menurut UU tersebut, adalah barang, jasa, hak dan kepentingan lainnya, dan setiap derivatif dari komoditi, yang dapat diperdagangkan dan menjadi subjek Kontrak Berjangka, Kontrak Derivatif Syariah, dan/atau Kontrak Derivatif lainnya.

Nah, beberapa contoh produk kontrak berjangka keuangan yang diakui adalah saham, obligasi, suku bunga, dan valuta asing.

 

Apakah Pluang Menyediakan Leverage?

Pluang menyediakan aktivitas leverage berbasis produk saham Amerika Serikat (AS) dengan daya ungkit exposure mencapai dua kali lipat. Namun, Sobat Cuan baru bisa memanfaatkan kegiatan ini jika telah melakukan proses verifikasi dasar (KYC) dan punya saldo yang cukup untuk memasang posisi leverage.



Sumber : pluang.com

Apa Beda Blockchain Polkadot dengan Ethereum? Simak di Sini!

Sobat Cuan investor aset kripto mungkin pernah mendengar soal Polkadot. Nah, koin dan jaringan yang masih ‘saudara’ dengan Ethereum ini disebut-sebut punya masa depan yang cerah lho!

Tapi, kalau kerap disandingkan dengan Ethereum, apakah memang Polkadot sama seperti Ethereum? Jika tidak, lantas apa sih bedanya Polkadot vs Ethereum? Yuk, simak penjelasannya berikut!

Baca juga: Apa Itu Bitcoin Taproot? Simak Penjelasannya Secara Padat di Sini!

Penjelasan Singkat Tentang Polkadot

Polkadot didirikan oleh Web3 Foundation di Swiss dan merupakan web open source terdesentralisasi yang dibuat oleh mantan CTO Ethereum Gavin Wood, Robert Habermeier dan Peter Czaban.

Ia adalah protokol jaringan yang memungkinkan data arbitrer—bukan hanya token—untuk ditransfer melintasi blockchain. Ini berarti Polkadot adalah ekosistem aplikasi multi-chain sejati, di mana hal-hal seperti pendaftar cross-chain (beda jaringan) dan komputasi cross-chain dimungkinkan.

Polkadot dapat mentransfer data ini melalui blockchain publik, terbuka, dan tanpa perlu otorisasi tertentu untuk menggunakannya. Hal ini memungkinkan siapapun untuk membangun aplikasi yang mendapatkan data yang diizinkan dari blockchain pribadi dan menggunakannya di blockchain publik.

Misalnya, sekolah dapat menggunakan teknologi Polkadot untuk mengirimkan catatan akademik guna verifikasi gelar muridnya melalui kontrak pintar dengan blockchain publik.

Penjelasan Singkat Tentang Ethereum

Sementara itu, Ethereum dibuat untuk memungkinkan pengembang membangun dan menerbitkan kontrak pintar dan aplikasi terdistribusi (dApps) yang dapat digunakan tanpa risiko waktu henti, penipuan, atau gangguan dari pihak ketiga.

Ethereum menggambarkan dirinya sebagai “blockchain yang dapat diprogram di dunia.” Nah, hal inilah yang membedakan dirinya dari Bitcoin sebagai jaringan yang dapat diprogram.

Ethereum bisa berfungsi sebagai pasar untuk layanan keuangan, game, dan aplikasi. Di mana, semuanya dapat dibayar dalam cryptocurrency Ether (ETH) yang aman dari penipuan, pencurian, atau penyensoran.

Persamaan Polkadot vs Ethereum

1. Platform yang Sama-Sama Mendukung Inovasi

Pada tingkat pengembangan, Polkadot dan Ethereum sebenarnya memiliki sebagian hal yang mungkin terkesan tumpang tindih.

Polkadot adalah salah satu blockchain generasi baru yang paling dinanti-nantikan, karena berfokus pada pengembangan jaringan ke depan. Polkadot juga bertujuan untuk menyediakan kerangka kerja untuk membangun blockchain kamu sendiri. Ia juga memiliki kemampuan untuk menghubungkan blockchain yang berbeda satu sama lain.

Sifat itu berbeda dengan sifat blockchain Ethereum, yang merupakan platform untuk mengimplementasikan teknologi smart contract yang tersohor. Di mana, teknologi smart contract tersebut berfungsi sebagai motor dalam menggerakkan fungsi keuangan terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi)

Terlepas dari perbedaan ini, kedua platform dirancang untuk pengembang untuk membangun aplikasi terdesentralisasi. Keduanya mempersilakan pengembang untuk menciptakan inovasi-inovasi keuangan berbasis sistem blockchain di atasnya. Sekaligus, menyertakan fungsionalitas smart contract yang berdasarkan program Solidity (untuk Ethereum) and Ink! (untuk Polkadot).

Nah, karena sistem blockchain Ethereum dan Polkadot bisa mengakomodasi ragam aplikasi dan inovasi ke depan, tak heran jika keduanya masing-masing disebut sebagai ekosistem tersendiri.

2. Memiliki Algoritma Konsensus yang Sama

Selain itu, kemiripan antara Polkadot dan Ethereum akan mulai terasa jika nanti Ethereum sudah sepenuhnya upgrade ke sistem Ethereum 2.0. Kemiripan itu terdiri dari dua aspek: Skala transaksi dan penggunaan algoritma konsensus.

Sekadar informasi nih, Sobat Cuan, sistem Ethereum saat ini tidak dapat memproses transaksi dalam ukuran besar karena hal itu dijalankan di atas satu rantai (chain) transaksi. Namun, nantinya Ethereum 2.0 bisa melakukan hal tersebut lantaran transaksi akan dilakukan secara multi-chain, persis seperti Polkadot.

Persamaan kedua adalah algoritma konsensus. Sobat Cuan masih ingat kan, dengan arti algoritma konsensus? Yakni, algoritma yang dibutuhkan di sistem blockchain untuk memverifikasi seluruh transaksi yang berjalan di atasnya.

Nah, rencananya Ethereum 2.0 akan menggunakan algoritma konsensus Proof of Stake. Hal ini pun serupa dengan algoritma konsensus yang digunakan Polkadot.

Baca juga: Fans Bitcoin Wajib Baca! Ini Prediksi Bitcoin Selama 2021 Dari 10 Pakar Top!

Perbedaan Polkadot vs Ethereum

1. Ethereum: Besar & Berkembang, Namun Punya Tantangan Skalabilitas

Kekuatan utama Ethereum adalah ekosistem pengembang, pengguna, dan bisnisnya yang besar serta mapan. Semua itu berkat teknologi smart contract, sebuah teknologi yang memang menjadi ciri khas utama dari Ethereum. Karena hal tersebut, Ethereum menjadi platform kontrak pintar de-facto untuk dikembangkan. 

Nilai jaringan Ethereum juga sama pentingnya, memberikan tingkat keamanan ekonomi yang tinggi berdasarkan nilai token Ether yang mendasarinya.

Tak hanya itu, sebagian besar DeFi dibangun di atas Ethereum. Beragam produk DeFi memanfaatkan kompatibilitas antara kontrak pintar Ethereum yang berbeda dan dapat saling berinteraksi dalam satu jaringan yang mendukung Ethereum 1.0.

Namun, Ethereum punya kelemahan sendiri. Yakni, skalabilitas. Karena seluruh transaksi Ethereum dilakukan di satu chain transaksi, maka teknologi blockchain pun akan kewalahan dalam memprosesnya dalam waktu bersamaan.

Tantangan lain adalah gas fee atau ‘biaya bahan bakar’ yang dibutuhkan untuk menjalankan smart contract. Biaya bahan bakar diperlukan untuk keamanan sistem secara keseluruhan, dan untuk melindungi sistem agar tidak terhenti oleh program yang tidak terkendali.

Tetapi karena nilai ETH telah meningkat, biaya bahan bakar untuk menjalankan kontrak pintar juga meningkat dan telah membuat jumlah penggunaan tertentu menjadi sangat mahal. Biaya ini terkait dengan skalabilitas, karena jika kapasitas lebih besar, biaya untuk setiap transaksi dapat diturunkan.

Baca juga: Tergiur Aset Kripto? Simak 4 Tanda Kesiapan Kamu dalam Investasi Kripto!

2. Polkadot: Dibangun di atas Kerangka yang Fleksibel, Tapi Masih Baru

Kekuatan terbesar Polkadot adalah Substrat.

Substrat adalah kerangka kerja Polkadot dalam mengembangkan blockchain yang kompatibel dan menawarkan tingkat abstraksi yang berbeda tergantung pada kebutuhan pengembang.

Nah, Substrat ini mampu mengurangi waktu, energi, dan dana yang dibutuhkan pengembang untuk membuat blockchain baru. Sehingga, hal ini bisa menjadi keuntungan tersendiri dibanding gas fees Ethereum yang selalu dikeluhkan.

Di samping itu, Substrat menyediakan sarana yang jauh lebih besar bagi pengembang untuk bereksperimen, dibandingkan dengan platform kontrak pintar seperti Ethereum. Hal-hal yang biasanya tidak dapat dimodifikasi pada platform kontrak pintar standar di Ethereum pun bisa dilakukan di platform ini.

Desain Polkadot yang memungkinkan keamanan bersama dalam jaringannya, adalah kelebihannya yang lain. Adapun Polkado memlki sistem shared security alias keamanan bersama dan memiliki dua manfaat utama.

Pertama, sistem keamanan ini terbilang cukup mudah dan aman, sehingga pengembang aplikasi bisa secara leluasa mengembangkan proyeknya di blockchain Polkadot.

Kedua, shared security menyediakan kerangka kerja bagi parachain untuk berinteraksi satu sama lain. Pada akhirnya hal ini memungkinkan parachain untuk berspesialisasi, sehingga satu pengembang mungkin tidak akan mengembangkan aplikasi serupa dengan lainnya.

Namun, sebenarnya tiga tantangan teratas untuk Polkadot ada adalah: adopsi, adopsi, dan adopsi. Hal inilah yang membuatnya terbilang “takluk” di hadapan Ethereum, yang selama ini memiliki posisi dominan dan komunitas pengembang terbesar dari semua platform berorientasi developer.

Tantangan nyata bagi Polkadot adalah mendapatkan daya tarik yang cukup serta membangun cukup ekosistem dan komunitas pengembang. Tujuannya agar efek jaringan dari arsitektur mereka mulai muncul.

Baca juga: Mengapa Volume Transaksi Sangat Penting bagi Pergerakan Harga Kripto?

Polkadot Bakal Disebut Jadi ‘Pembunuh Ethereum’?

Setelah penjelasan di atas, tentu kini kamu memahami bahwa sistem blockchain Polkadot menawarkan inovasi yang lebih luas dibanding Ethereum. Hal inilah yang bikin komunitas kripto jatuh cinta dengan Polkadot, sampai-sampai menyebutnya sebagai pembunuh Ethereum!

Denko Mancheski, CEO & Co-Founder Reef Finance mengatakan, pembaruan sistem blockchain Ethereum sangat lambat. Sehingga, ia ditakutkan tak bisa mengikuti inovasi-inovasi teknologi yang terdapat di dalam sistem Polkadot.

Hal senada diungkapkan Daniel Wolfe, Managing Director Halcyon Global Opportunities di Moskow, Rusia. Ia mengatakan, Polkadot dan Ethereum memiliki ambisi yang sama. Di mana, keduanya bertujuan untuk menjadi platform utama untuk kontrak pintar.

Hanya saja, Polkadot memiliki banyak elemen yang dirancang untuk mengatasi kelemahan Ethereum. Meski memang, ia mengakui bahwa Ethereum adalah platform yang lebih mapan dengan banyak proyek yang sudah dikerjakan.

“Polkadot adalah sesuatu yang kami perhatikan dengan cermat. Ada alasan untuk percaya bahwa ini akan menjadi jaringan yang lebih baik, tetapi kita perlu melihat adopsi yang berkelanjutan. Jika itu terjadi, investor akan pindah dari posisi Ethereum mereka ke Polkadot,” ujarnya.

Nah, kalau kamu bagaimana Sobat Cuan? Sudah siap mempercayakan masa depan keuanganmu di sistem Polkadot?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Purestake, Forbes



Sumber : pluang.com

Manfaat Investasi Leverage

Manfaat Investasi dengan Skema Leverage

1. Membuka Potensi Cuan Lebih Menawan

Dengan melakukan leverage, kamu berpeluang mendulang laba dengan posisi lebih besar, dan tentunya sesuai dengan daya ungkit leverage tersebut.

Namun, kamu baru bisa ketiban “durian runtuh” tersebut asal didukung dua faktor penting. Pertama, kondisi pasar yang tengah kondusif atau bullish. Kedua, instrumen yang menjadi aset dasar aktivitas leverage (underlying asset) benar-benar berkualitas dan memiliki fundamental baik.

Pluang sendiri menggunakan saham perusahaan top Amerika Serikat (AS) seperti Amazon, Meta Platforms, dan Google sebagai underlying asset leverage di aplikasinya. Saham-saham tersebut selama ini dikenal sebagai raksasa teknologi dengan pertumbuhan nilai yang kuat dalam beberapa tahun terakhir.

2. Komponen Biaya Lebih Efisien

Seperti yang telah dijelaskan di artikel sebelumnya, investor hanya memerlukan modal awal dan membayar overnight fee ketika memanfaatkan kegiatan leverage. Komponen biaya tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan ketika investor memutuskan berinvestasi di suatu aset secara langsung.

3. Bikin Investor ‘Pede’ Masuk ke Aset Berkualitas

Setiap investor tentu punya keinginan mengoleksi aset-aset berkualitas dan terbaik di kelasnya. Dalam artian, aset tersebut memiliki prospek jangka panjang yang baik disertai dengan aspek fundamental yang apik.

Hanya saja, terkadang harga aset tersebut punya nilai yang terbilang premium, yang ujungnya membuat investor ragu-ragu untuk memborong aset-aset tersebut.

Namun, melalui aktivitas leverage, investor berkesempatan untuk “seolah-olah” mendapatkan kesempatan untuk mengoleksi aset berkualitas dengan jumlah yang lebih besar tanpa perlu merogoh modal awal bernilai jumbo. Keunggulan leverage ini bisa membuat investor lebih percaya diri untuk berinvestasi di aset-aset berkelas tinggi dan berharga selangit.

4. Membuka Peluang Diversifikasi Aset Lebih Lebar

Dengan memanfaatkan leverage, kamu jadi punya kesempatan lebih luas untuk melakukan diversifikasi aset. Lho, kok bisa? 

Nah, agar lebih jelas memahaminya, mari simak ilustrasi berikut.

Anggap saja kamu memiliki dana Rp10 juta. Kemudian, kamu ingin sekali menempatkan dana tersebut di saham perusahaan ABC yang dibanderol Rp5 juta per lembar.

Namun, di waktu yang sama, kamu juga disuguhi penawaran broker K yang optimistis bisa melakukan leverage saham ABC dengan daya ungkit leverage 2x.

Berkaca pada kondisi di atas, kamu bakal dihadapkan pada dua opsi. 

Pertama, kamu bisa menghabiskan uangmu dengan membeli langsung dua saham ABC secara normal. Tapi konsekuensinya, kamu tak akan lagi memiliki dana sisa yang bisa kamu manfaatkan untuk berinvestasi di aset lainnya.

Untungnya, kamu masih punya opsi kedua, yakni melakukan leverage saham ABC dengan modal Rp5 juta tetapi punya kekuatan exposure yang sama dengan dua lembar saham ABC. Nah, jika kamu mengambil opsi ini, maka kamu bakal punya sisa uang nganggur sebesar Rp5 juta yang bisa kamu gunakan untuk berinvestasi dan mendulang cuan di aset lainnya.

Apalagi, kesempatan kamu untuk melakukan diversifikasi aset bakal lebih gampang di Pluang! Sebab, selain menyediakan leverage saham AS, Pluang juga menyediakan emas digital, aset kripto, dan reksa dana hanya dalam satu aplikasi dan mulai dari Rp10.000 saja!



Sumber : pluang.com

Apakah Strategi DCA Bisa Kamu Terapkan di Investasi Emas? Simak di Sini!

Selama sepekan lalu, harga emas ambruk 5% lantaran sinyal The Fed yang akan meninggalkan kebijakan dovish-nya. Harga emas terjerembab di level US$1.782,80 per ons pada perdagangan Jumat lalu dan seolah-olah masih gagal bangkit hingga pekan ini.

Memang, kondisi ini terbilang menyedihkan, Sobat Cuan. Tapi, beberapa analis bahkan mengatakan bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk menumpuk tabungan emas. Alias mengoleksi emas di saat harga rendah, atau istilah kerennya buy the dip.

Tapi, kalau kamu masih ragu-ragu dalam melakukan buy the dip, kamu masih bisa menabung emas dengan metode yang dikenal dengan Dollar Cost Averaging (DCA). Nah, bagaimana sih, cara investasi emas menggunakan metode ini? Yuk, simak selengkapnya!

Baca juga: Strategi Investasi Reksadana DCA vs Lump Sum: Mana yang Paling Oke?

Penjelasan Singkat Strategi DCA Untuk Tabungan Emas

Dollar Cost Averaging adalah salah satu strategi investasi, di mana investor bisa membagi modal investasinya dalam rentang satu periode tertentu.

Dalam mekanisme DCA, Sobat Cuan tidak perlu menunggu harga turun untuk kemudian masuk dan membelinya. Istilah mudahnya, DCA adalah strategi menabung secara rutin dengan jumlah yang sama, bisa dalam jangka waktu setiap minggu atau setiap bulan.

Begini gambaran gampangnya, Sobat Cuan. Misalnya, kamu punya dana Rp10 juta untuk membeli emas. Tapi, kamu tidak mau langsung menggelontorkannya di depan.

Nah, dengan strategi DCA, kamu bisa membeli emas senilai Rp1 juta setiap bulan dalam 10 bulan ke depan terlepas dari kenaikan atau penurunan harganya. Mirip sekali dengan menabung, bukan?

Strategi ini bisa digunakan untuk instrumen investasi seperti emas, reksa dana ataupun saham. Strategi DCA juga membuat Sobat Cuan untuk tidak melakukan panic selling, karena dalam kondisi apapun, Sobat Cuan tetap masuk dan mengoleksi emas.

Manfaat Strategi DCA

Kini, kamu sudah tahu strategi DCA. Tapi, apa saja sih, manfaat strategi DCA itu sendiri?

1. Menambah Portofolio Lebih Baik Dibanding Lump-Sum

Ini adalah manfaat paling penting dari DCA yang akan membantumu menambah pundi tabungan emasmu. Terutama, saat pasar sedang bearish. Ini yang menjadi kelebihan strategi DCA dibandingkan strategi investasi secara di muka alias lump-sum investment.

Bingung tidak, Sobat Cuan? Nah, begini contoh gampangnya.

Anggap saja bahwa kamu punya uang Rp3 juta untuk investasi emas. Kamu kemudian memutuskan untuk menggunakannya dalam jangka waktu tiga minggu ke depan untuk berinvestasi emas menggunakan strategi DCA. Artinya, setiap minggunya kamu akan membeli emas senilai Rp1 juta.

Kemudian, asumsikan bahwa harga emas di minggu pertama adalah Rp1 juta per gram. Namun, harga emas kemudian turun menjadi Rp750.000 per gram di pekan kedua, sehingga dengan Rp1 juta, kamu bisa mendapatkan 1,3 gram emas. Ternyata, harga emas di pekan ketiga turun lagi menjadi Rp500.000 per gram, sehingga uang Rp1 juta milikmu bisa mendapatkan 2 gram logam mulia.

Artinya, selama tiga pekan tersebut, kamu berhasil mengoleksi tabungan emas sebesar 4,3 gram emas.

Nah, dengan asumsi yang sama, sekarang bandingkan hasilnya kalau kamu membeli emas secara lump-sum. Jika di pekan pertama kamu habiskan uang Rp3 juta untuk membeli emas, maka kamu hanya mendapatkan 3 gram saja. Mending pilih mana, Sobat Cuan?

2. Mengurangi Risiko Investasi

Strategi DCA membuatmu menebar risiko investasi secara periodik di masa depan. Dengan kata lain, strategi ini akan sangat berguna dalam memitigasi risiko atas kerugian dari volatilitas harga yang bakal terjadi di masa depan.

Strategi ini berfungsi agar investor tidak terpapar dampak volatilitas harga aset yang terjadi karena beberapa faktor. Lewat cara seperti itu, Sobat Cuan bisa terhindar dari potensi kerugian jika melakukan pembelian secara lump-sum alias langsung.

Karena pembelian dilakukan secara berkala, maka pada akhirnya harga emas yang dimiliki sobat cuan akan tetap lebih rendah dari harga tertinggi, karena adanya harga rata-rata yang dilakukan lewat pembelian rutin, baik ketika harga naik ataupun turun.

3. Membantumu Disiplin untuk Menumpuk Tabungan Emas

Strategi DCA adalah sesuatu yang perlu kamu lakukan secara rutin. Sehingga, hal ini akan membuatmu disiplin untuk menabung emas! Sikap disiplin sangat penting, lho, dalam menumpuk kekayaanmu.

4. Menghindarimu dari Berinvestasi dengan Emosi

Saat harga sebuah aset turun, investor dan pelaku pasar biasanya panik dan akhirnya melakukan aksi jual secara besar-besaran. Selain itu, kepanikan juga muncul kala dunia investasi diliputi ketakutan, ketidakpastian, dan keraguan (Fear, Uncertainty, and Doubt/FUD).

Nah, kalau kamu tak tahan iman, kamu pun bisa ikutan latah dengan menjual asetmu. Padahal, yang namanya harga instrumen investasi pasti akan kembali rebound nantinya.

Agar kamu tak terjebak panic selling dan hal-hal berbau kepanikan lainnya, maka strategi DCA adalah langkah yang perlu kamu tempuh!

Mengapa Strategi DCA Cocok Untuk Emas?

Sobat Cuan mungkin memahami bahwa harga emas selalu naik-turun bak jungkat-jungkit. Di mana, hal tersebut mungkin bisa bikin kamu ketar-ketir sampai berhari-hari.

Tapi, kamu perlu paham bahwa emas adalah instrumen jangka panjang dengan cuan yang bisa kamu nikmati di tahun-tahun sebelumnya. Makanya, yang perlu kamu lakukan dengan emas adalah menabungnya, bukan diperjualbelikan dalam waktu singkat alias trading.

Terdapat beberapa faktor yang membuat emas cocok sebagai instrumen menabung. Yang pertama, tentu saja adalah sifat logam mulia yang ada di dalam tubuh emas itu sendiri.

Sobat Cuan mungkin sudah tahu bahwa emas adalah unsur logam yang tak akan berkarat meski terpapar unsur kimia lainnya. Artinya, bentuk emas sekarang akan tetap sama meski 100 tahun kemudian. Dengan kata lain, emas cocok sebagai instrumen penyimpan kekayaanmu di jangka panjang.

Makanya, tak heran jika banyak sekali investor yang langsung menempatkan dananya di emas ketika inflasi sedang menanjak. Dengan menempatkan uang di emas, artinya para investor tengah melindungi “kemampuan daya belinya di masa depan” dari gerusan inflasi.

Selain kemuliaan logamnya, tabungan dalam bentuk emas juga disarankan karena nilainya akan terus meningkat di masa depan. Sebagai barang logam, tentu suplai emas akan menipis antar waktu. Nah, sesuai hukum ekonomi, suplai yang ketat akan mendorong harga suatu barang nantinya.

Makanya, yuk mulai menabung emas dengan strategi DCA di Pluang! Apalagi, kini kamu bisa mengamalkan strategi DCA di Pluang secara mudah, lho, berkat fitur baru Pluang: Auto Invest Emas!

Melalui fitur ini, Sobat Cuan bisa menabung emas secara otomatis secara mingguan atau bulanan tanpa perlu masuk ke aplikasi Pluang! Sebab, Pluang yang akan membelikan emas secara langsung untukmu!

Yuk, menabung emas dengan strategi DCA di aplikasi Pluang sekarang!

Baca juga: Di Tengah Gempuran Investasi Viral, Kenapa Kamu Masih Perlu Punya Emas?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.

Sumber: Investopedia, Investopedia, Nerdwallet



Sumber : pluang.com

Mengenal Istilah dalam Kegiatan Leverage

Manfaat Memahami Istilah Leverage

Terdapat sebuah peribahasa umum yang berbunyi “tak kenal maka tak sayang” yang artinya kamu tidak mungkin bisa memahami sesuatu jika kamu tak mengenal seluk-beluknya. Nah, hal serupa juga terjadi di kegiatan leverage.

Pihak broker yang mengelola kegiatan leverage biasanya menggunakan istilah-istilah khusus ketika menawarkan jasanya ke investor. Jika sang investor tak memahaminya, maka ia bisa menjadi bingung untuk mengambil keputusan. Alih-alih mendapat untung, sang investor bisa berujung menjadi buntung!

Di samping itu, kamu juga bisa lebih mengerti mengenai konsep dan cara kerja kegiatan leverage jika memahami terma yang berlaku di dalamnya. Oleh karenanya, yuk perhatikan baik-baik istilah berikut!

Ragam Istilah Leverage

1. Margin

Margin adalah jumlah uang yang harus kamu keluarkan untuk membuka posisi dalam leverage. Sederhananya, margin adalah “modal awal” ketika kamu memutuskan terjun ke investasi ini.

Namun, nilai margin tentu berbeda-beda antara satu kegiatan leverage dengan aktivitas lainnya. Hal ini tergantung dengan volatilitas pasar, kondisi likuiditas pasar underlying asset, dan harga underlying asset yang berlaku saat kamu membuka posisi leverage.

Biasanya, broker menggunakan satu indikator bernama rasio margin terhadap ekuitas (margin-to-equity) untuk mengukur tingkat margin yang ia butuhkan ketika mengelola aset bernilai tertentu.

Sebagai contoh, satu perusahaan manajemen investasi ingin mengelola aset bernilai Rp100 juta dan membutuhkan margin sebesar Rp25 juta. Maka, rasio margin-to-equity dari kegiatan tersebut adalah Rp25 juta dibagi Rp100 juta, atau setara 25%.

Namun, jika kamu telah menyetor margin untuk membuka posisi leverage tetapi kegiatan itu belum diproses, maka hal itu kemudian disebut dengan Pending Margin.

2. Maintenance Margin, Free Margin, dan Buying Power

Maintenance Margin adalah persentase minimum dari jumlah margin disetor yang harus disimpan di dalam saldo margin investor.

Sebagai contoh, Pluang menetapkan Maintenance Margin di level 70%, mengindikasikan bahwa investor setidaknya harus “menjaga” 70% dari total margin yang telah disetornya di dalam akun miliknya.

Lantas, apa sih gunanya ketentuan Maintenance Margin?

Sang investor harus mengikuti ketentuan Maintenance Margin jika ia ingin terus membuka posisi di kegiatan leverage. Pasalnya, Maintenance Margin merupakan indikator bahwa sang investor benar-benar memiliki “bantalan” dana yang mumpuni jika risiko kerugian di kegiatan leverage sedang menanjak.

Dengan kata lain, kehadiran Maintenance Margin bertujuan melindungi investor dan perusahaan manajemen investasi dari kerugian berlebih, yang nantinya juga berkontribusi melindungi ekosistem jasa keuangan secara umum.

Adapun kebalikan dari Maintenance Margin adalah Free Margin, yakni sejumlah margin yang bebas digunakan investor untuk membuka posisi leverage baru. Tingkat Free Margin investor akan berkurang jika ia membuka posisi baru dan akan bertambah jika ia menutup posisinya atau memiliki laba/rugi yang belum terealisasi.

Cara menghitung Free Margin cukup mudah dengan rumus Ekuitas – (Margin + Pending Margin).

Kemudian, terdapat istilah lain bernama Buying Power yang menggambarkan seberapa besar potensi leverage yang bisa kamu raih dengan memanfaatkan sisa Free Margin yang kamu miliki. Cara mengukurnya pun simpel, kamu hanya perlu mengalikan Free Margin-mu dengan daya ungkit leverage maksimal yang ditawarkan sang broker.

Sebagai contoh, kamu memiliki sisa margin Rp5 juta sementara sang manajemen investasi pilihanmu menawarkan daya ungkit exposure atas modalmu maksimal sebesar 2x. Maka, Buying Power yang kamu miliki menjadi Rp10 juta.

3. Margin Level

Margin Level adalah indikator dalam bentuk persentase yang menggambarkan total jumlah uang yang telah kamu gunakan untuk leverage. Untuk mengetahuinya, kamu tinggal membandingkan ekuitas yang kamu miliki dengan margin yang telah kamu keluarkan dengan rumus sebagai berikut: (Ekuitas / (Margin + Pending Margin)) x 100%

Parameter ini bisa memberikan gambaran mengenai persentase jumlah “sisa” margin  yang bisa kamu gunakan untuk membuka posisi leverage baru. Semakin tinggi tingkat Margin Level, maka artinya Free Margin yang bisa kamu gunakan masih cukup lapang jika ingin menambah posisi baru.

4. Laba/Rugi Belum Terealisasi, Balance, dan Equity 

Ketiga istilah ini mencerminkan “kesehatan” kondisi modalmu pasca melakukan aksi leverage. Sehingga, kamu bisa menentukan keputusan apakah ingin konsisten berkecimpung di kegiatan leverage atau justru harus buru-buru keluar dari situ.

Sebagai langkah awal untuk mengetahuinya, kamu harus menghitung laba/rugi yang belum terealisasi dari kegiatan leverage. Caranya adalah dengan mengurangi harga underlying asset di saat kamu membuka posisi leverage dengan harga underlying asset tersebut pada saat ini. Secara sederhananya, kalkulasi laba/rugi belum terealisasi dapat digambarkan melalui rumus (harga beli x kuantitas produk) – (harga saat ini x kuantitas produk).

Jika hasil kalkulasi itu positif, maka artinya kamu berhasil mendulang laba belum terealisasi. Begitu pun sebaliknya. Kamu akan menerima rugi belum terealisasi jika selisih antara harga aset saat beli dan harga aset saat ini menunjukkan hasil negatif.

Tapi pertanyaannya, kenapa harus ada embel-embel “belum terealisasi” dalam kalkulasi tersebut?

Jawabannya cukup simpel, Sobat Cuan. Kamu masih belum akan beneran menerima hasil laba/rugimu jika posisi leverage-mu masih terbuka. Sehingga, laba/rugi tersebut akan berubah status menjadi “terealisasi”, alias benar-benar kamu terima, jika kamu memutuskan menutup posisi leverage-mu.

Setelah mendapatkan angka laba/rugi belum terealisasi, maka kemudian kamu bisa menghitung Balance, yakni total nilai portofoliomu saat ini. 

Cara menghitungnya adalah dengan melihat total margin-mu saat ini dikurangi laba/rugi belum terealisasi dan beban-beban lainnya, termasuk beban overnight fee dan beban transaksi, atau dengan rumus sebagai berikut: (Free Margin + Margin – Laba/Rugi Belum Terealisasi – Beban-beban lain)

Lebih lanjut, kamu juga bisa mengalikan Balance dengan laba/rugi yang belum terealisasi untuk mengukur nilai Equity, yaitu nilai total portofoliomu sesungguhnya yang dihitung sejak kamu melakukan aksi leverage.



Sumber : pluang.com

Yuk, Ketahui Cara Mengetahui dan Menentukan Limit Kartu Kredit di Sini!

Minggu lalu, jagat maya geger lantaran Ahok membongkar limit kartu kredit korporat yang diterimanya sebagai fasilitas komisaris dari BUMN Energi terbesar di Indonesia. Tak tanggung, limit kartu kredit Ahok mencapai Rp30 miliar!

Wah, pasti Sobat Cuan sudah kebayang bakal belanja ini itu kan, kalau punya limit kartu kredit Rp30 miliar. Namun, sebagai Sobat Cuan, tentu peristiwa ini bikin kamu bertanya-tanya: Memangnya seperti apa sih penentuan limit kartu kredit di Indonesia?

Nah, biar kamu tidak penasaran, yuk kita bahas mengenai seluk beluk limit kartu kredit!.

Apa sih Limit Kartu Kredit?

Tiap kartu kredit memiliki limit, yakni batas penggunaan kartu kredit untuk bertransaksi. Jika batas ini terlampaui, kamu akan dikenakan biaya over limit yang cukup menguras dompet.

Karenanya, kartu kredit yang dianggap sakti adalah kartu yang menyediakan limit yang besar sehingga kamu tidak sampai over limit tiap bulannya.

Baca juga: Sobat Cuan, Yuk Simak Cara Menghitung Bunga Deposito Anti Ribet!

Bagaimana Cara Menentukan Limit Kartu Kredit?

Limit ini ditentukan sepenuhnya oleh bank yang mengeluarkan kartu kredit. Berbeda jenis kartu kredit, maka berbeda pula limit yang ditawarkan.

Namun pertanyaannya, apakah kamu feasible untuk memegang kartu kredit dengan limit besar? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, bank punya formulasinya untuk mengukur kecakapan kamu membayar tagihan kartu kredit kalau kamu menggunakannya kelas.

Biasanya penentuan kecakapan ini dibuat berdasarkan kondisi ekonomi kamu seperti pendapatan bulanan, penghasilan, peringkat kelancaran kredit, jumlah simpanan di bank, dan banyak faktor lainnya. Yuk, kita bahas satu per satu

1. Pendapatan Bulanan

Faktor paling utama dalam penentuan kartu kredit mana dan limit berapa yang akan diberikan padamu adalah pendapatan. Wajar dong, bank tentu ingin agar kamu jangan sampai gagal bayar kartu kredit!

Biasanya, bank akan memberikan limit kartu kredit senilai satu hingga tiga kali pendapatan bulanan. Jadi, kalau gaji kamu misalnya seukuran UMR, ya jangan berharap dapat kartu kredit platinum ya, Sobat Cuan!

Baca juga: Jangan Ngaku Kaya Kalau Belum Punya Black Card! Apakah Itu Black Card?

2. Total Utang di Bank

Selain pendapatan, utang kamu juga akan dipertimbangkan. Jika kamu tidak punya utang, biasanya kamu akan mempeoleh limit yang lebih besar.

Utang seperti kredit properti dan otomotif juga sangat diperhitungkan lho, Sobat Cuan. Bank memastikan betul apakah kamu masih mampu bayar cicilan kartu kredit di antara cicilan lainnya.

Meski begitu, kalau kredit kamu lancar, bank mungkin akan memprioritaskanmu dapat kartu kredit karena kamu dinilai berintegritas.

3. Domisili

Kalau kamu nomaden biasanya sulit bagi bank untuk meloloskan aplikasi kartu kreditmu. Tentu saja bank akan menilai kamu sebagai nasabah berisiko, kalau-kalau nantinya kamu pindah dengan status gagal bayar.

Namun, terdapat pula praktik menentukan kecakapan seseorang dalam menggunakan produk finansial berbasis domisili bernama redlining.

4. Status Kepemilikan Rumah

Sobat ngontrak apalagi ngekos mungkin akan kesulitan punya kartu kredit. Sebab, bank sangat memperhatikan status kepemilikan rumah saat ingin mengabulkan kartu kredit. Masih dengan alasan yang sama dengan domisili, bank tidak mau ambil resiko kamu akan wanprestasi lalu pergi meninggalkan cicilan kartu kredit begitu saja.

5. Jumlah Pengajuan Pembuatan Kartu Kredit

Bank Indonesia sebetulnya sudah membatasi kepemilikan kartu kredit, terutama bagi kelas menengah. Jika penghasilan kamu di bawah Rp10 juta, kamu hanya dapat memiliki dua kartu kredit saja.

Namun, limit yang kamu dapat pada pengajuan kedua tentu tidak sebanyak jika kamu hanya punya satu kartu saja ya, Sobat Cuan. Tentu bank akan mempertimbangkan kemampuan membayar kamu jika limit keduanya sama-sama besar.

6. Jumlah Kredit yang Diminta

Saat mengisi aplikasi, kamu tetap berkesempatan meminta limit tertentu kok, Sobat Cuan. Meskipun nantinya keputusan final ada di tangan bank, nominal yang kamu ajukan tetap akan menjadi salah satu pertimbangan bank.

7. Pengajuan Naik Limit Kartu Kredit

Jika terlanjur dapat limit kartu kredit yang rendah, kamu tidak perlu berkecil hati. Kamu masih bisa mengajukan kenaikan limit melalui call centre bank penerbit kartu.

Syaratnya, antara lain endapkan saldo tabungan kamu agar bank tau kamu masih mampu membayar limit yang lebih besar. Selain itu, pastikan kamu punya reputasi baik dengan melunasi kredit tepat waktu. Jangan biarkan tagihan bulan ini menunggak.

Kamu juga harus aktif menggunakan kartu kreditmu. Kalau kamu punya kartu dari bank berbeda, coba saja lunasi kartu kreditmu dengan kartu lain. Cara ini akan membuat bank merasa punya kompetitor dan berusaha mempertahankanmu sebagai nasabah.

Kartu Kredit Berlimit Besar

Sobat Cuan mungkin paham bahwa salah satu kartu kredit berlimit fantastis, dan juga eksklusif, adalah black card. Kartu besutan American Express ini memang ditujukan bagi orang-orang borjuis. Bahkan, kamu harus punya penghasilan minimal US$1 juta per tahun!

Namun, terdapat pula beberapa black card versi lokal yang bisa kamu miliki kalau sudah tajir. Berikut daftarnya!

1. BCA Visa Platinum

Kamu bisa bertransaksi hingga ratusan juta dengan kartu ini. Limit besar ini diberikan kepada kamu yang berpenghasilan minimal Rp15 juta. Katanya sih, kartu ini memang khusus dibuat untuk orang-orang bak sultan yang sudah kaya raya dan mobilitasnya tinggi.

2. BRI Infinite Card

Khusus untuk nasabah prioritas BRI, kamu bisa memiliki kartu ini dengan mudah. Syaratnya? Taruh saja danamu minimal Rp500 juta di bank pelat merah itu.

BRI Infinite Card memiliki limit beragam antara Rp150 juta hingga Rp1 miliar. Besar, bukan?

3. Mandiri Visa Platinum

Limit kartu ini mencapai Rp10 juta hingga Rp1 miliar tergantung gajimu. Angka ini terbilang besar meskipun tidak sebesar punyanya Ahok ya, Sobat Cuan.

Kamu juga harus berpenghasilan minimal Rp10 juta untuk dapat mengantonginya.

4. BNI Visa Infinite

Buat kamu yang suka bepergian keluar negeri, kartu ini akan cocok denganmu. Sebab limitnya bisa diatur lebih besar dibanding rata-rata produk lain berdasarkan pendapatanmu. Minimum pendapatan untuk dapat mengantongi kartu ini adalah Rp8 juta.

5. Citi Premier Miles

Tidak sulit memiliki kartu ini, syarat utamanyanya hanya penghasilan di atas Rp5 juta per bulan. Syarat lainnya akan mengikuti. Kamu bisa memiliki kartu kredit dengan limit hingga Rp750 juta ini.

6. CIMB Niaga Mastercard Platinum

Kelebihan kartu ini adalah tidak adanya biaya tahunan yang membebani kamu. Limitnya bisa mencapai Rp74 juta. Untuk memilikinya, kamu harus berpenghasilan bulanan minimal Rp7,5 juta.

7. HSBC Premier Mastercard

Sama seperti CIMB Niaga Mastercard Platinum, kartu ini tidak mengenakan biaya tahunan. Limitnya bisa mencapai Rp300 juta. Tapi, gaji bulanan kamu minimal harus Rp25 juta per bulan kalau mau pegang kartu ini ya, Sobat Cuan.

8. UOB Privi Miles

Kartu ini punya kesaktian menambah airline miles dari transaksi ritel kamu. Jadi, kalau berpenghasilan minimal Rp15 juta dan suka bepergian, pilih saja produk ini.

9. Permata Reward Platinum

Kalau penghasilan kamu melebihi Rp20 juta perbulan, kamu bisa memiliki kartu ini. Limitnya berkisar antara Rp40 juta hingga Rp1 miliar loh. Iuran tahunannya terbilang besar yakni Rp600 ribu per tahun.

10. BTN Visa Platinum

Sedang punya angsuran KPR? Kartu kredit ini mungkin akan menguntungkan kamu. Sebab poin transaksinya dapat kamu tukar dengan angsuran KPR. Limit kartu terbatas hanya Rp50 juta per bulan dengan biaya tahunan Rp380 ribu per tahun.

Nah, apakah kamu mau jadi anggota klub orang-orang berkartu kredit limit besar? Punya kartu kredit limit gede memang dipersilakan, tapi jangan sampai hal tersebut malah bikin kamu kian konsumtif. Tentu saja, kamu harus mengimbangi belanjamu dengan perencanaan keuangan masa depan, salah satunya adalah dengan investasi!

Nah, kamu bisa berinvestasi di Pluang! Kamu bisa berinvestasi emas, S&P 500, Bitcoin, Ethereum, hingga reksa dana dalam satu aplikasi! Yuk, investasi di Pluang sekarang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNBC, lifepal, idekredit



Sumber : pluang.com

Menentukan Strategi Investasi Leverage

Menentukan Strategi Tepat Leverage

1. Hanya Dipakai Saat Pasar dalam Kondisi Uptrend

Seperti yang telah disinggung di artikel sebelumnya, cuan leverage akan mengalir deras ketika harga aset sedang menanjak. Sebaliknya, aksi leverage justru akan jadi momok ketika harga aset babak belur.

Nah, oleh karenanya, investor sebaiknya melakukan aksi leverage jika yakin bahwa harga sang underlying asset akan memasuki fase uptrend

Namun pertanyaannya, apa ciri-ciri utama dari tahapan uptrend? Sekadar informasi, syarat utama fase uptrend adalah ketika harga sebuah aset membentuk pola Higher High Higher Low (HH HL), seperti tercermin di ilustrasi di bawah ini!

Contoh pola HH HL

Lebih lanjut, kegiatan leverage di aplikasi Pluang memiliki fitur posisi Buy atau Long yang membantu Sobat Cuan dalam memanfaatkan momentum uptrend demi mendulang cuan optimal. Kendati begitu, kamu tetap disarankan memahami analisis teknikal terlebih dulu agar tidak salah langkah dalam mengambil keputusan di aktivitas satu ini.

2. Perhatikan Kondisi Makroekonomi!

Sama seperti kegiatan investasi di aset lainnya, aspek makroekonomi juga menjadi faktor kunci bagi investor sebelum berkutat di kegiatan leverage. 

Sebab, memahami kondisi makroekonomi akan membantu investor untuk memutuskan apakah harus masuk atau keluar dari aktivitas leverage. Di samping itu, mengetahui situasi ekonomi terkini juga bisa membantu investor menenukan saham sektor apa yang perlu di-leverage demi meraih profit yang oke.

Sebagai contoh, jika Sobat Cuan memperhatikan bahwa harga komoditas masih bertengger di puncak, maka tidak ada salahnya kamu mencari peruntungan dengan melakukan leverage atas saham-saham sektor tersebut.

Namun, ketika harga komoditas memuncak, justru Sobat Cuan harus menghindari saham-saham sektor konsumsi. Sebab, hal itu akan membuat biaya bahan baku produksi mereka semakin mahal dan ujungnya menekan profitabilitas sektor tersebut ke depan.

3. Menentukan Batas Stop Loss dan Take Profit

Sebelum melakukan aksi beli dan jual, investor sebaiknya menentukan titik harga tertentu di mana mereka pasti akan membeli suatu aset. 

Begitu pun sebaliknya. Pelaku pasar juga harus menentukan titik harga tertentu di mana mereka pasti akan menjual asetnya, baik yang bertujuan untuk membatasi kerugian (stop loss) dan mengambil untung (take profit).

Contoh area Stop Loss dan Take Profit

Namun, investor harus menentukan dua titik tersebut sebelum melakukan aksi apapun di kegiatan leverage dengan berbasiskan analisis teknikal dan fundamental.

Hal ini dianggap penting lantaran aksi leverage menyimpan risiko volatilitas yang tinggi. Jika investor tidak buru-buru memasang titik kerugiannya, maka mereka bisa didera rugi besar ketika harga aset yang mereka koleksi terjun bebas.

Selain itu, memasang titik stop loss dan take profit di awal diharapkan bisa mencegah investor dari bersikap rakus dan gelap mata ketika harga aset tengah melonjak.



Sumber : pluang.com

Simak Penjelasan Regulasi Crypto di Indonesia Secara Singkat dan Padat!

Sobat Cuan mungkin tertarik atau malah sudah berinvestasi di aset kripto. Cuan yang didapat memang terlihat menggiurkan, sehingga banyak orang semakin nyemplung menggarap cryptocurrency.

Namun, kabar sumir tetap saja datang di tengah hype soal aset kripto, utamanya soal regulasi cryptocurrency di Indonesia. Ada yang bilang, pemerintah menganggap cryptocurrency adalah benda ilegal. Namun, ada juga yang berdalih bahwa pemerintah sudah mengaturnya.

Kadang, perdebatan soal peraturan ini pun bikin pecinta aset kripto pemula ragu terkait sah atau tidaknya cryptocurrency di Indonesia. Nah, kalau kamu adalah salah satunya, yuk simak rangkuman peraturan soal aset kripto di artikel ini!

Sekilas Tentang Regulasi Cryptocurrency di Indonesia

Nah, Indonesia adalah salah satu negara yang dinilai cukup terbuka terhadap aset kripto dan teknologi blockchain. Buktinya, ada beberapa peraturan yang memang mengakomodasi hal tersebut.

Tapi, bukan berarti peraturan tersebut meregulasi seluruh sisi-sisi yang terdapat di cryptocurrency. Sebagai rangkuman, pemerintah memang telah melegalisasi perdagangan aset kripto, namun tidak memperbolehkannya sebagai alat transaksi. Selain itu, sampai saat ini belum ada aturan perpajakan khusus dalam mengutip penerimaan negara dari aset kripto.

Seperti apa regulasi lengkapnya?

Baca juga: Apa Beda Blockchain Polkadot dengan Ethereum? Simak di Sini!

1. Apakah Cryptocurrency Legal Sebagai Investasi/Aset Trading?

Jawabannya adalah ya.

Aset kripto disahkan pada September 2018, ketika Kementerian Perdagangan menyetujui perdagangan Bitcoin (BTC) dan aset kripto sebagai komoditas. Lebih lanjut, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), yang bertindak sebagai regulator perdagangan komoditas dalam negeri, kemudian menyusun regulasi aset kripto dan blockchain di dalam negeri.

Hal itu kemudian diejawantahkan ke dalam Peraturan Bappebti No. 5/2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisiki Aset Kripto (Crypto Asset) di Bursa Berjangka.

Aturan itu berisikan definisi aset kripto, definisi pasar fisik aset kripto, prinsip-prinsip perdagangan aset kripto, kepastian hukum bagi pelanggan, hingga syarat-syarat aset kripto yang dapat diperdagangkan di Indonesia. Aturan lebih jelasnya bisa Sobat Cuan unduh di sini, ya!

Pada tahun 2020, persyaratan pendaftaran bursa kripto mulai berlaku di Indonesia, mengikuti kerangka hukum Bappebti untuk kripto yang telah dirintis pada tahun sebelumnya. Bappebti menyatakan hal itu perlu dilakukan melindungi investor Indonesia dari penipuan.

Akhirnya, peraturan 2019 tersebut kemudian dilengkapi dengan Peraturan Bappebti No. 7/2020 tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang Dapat Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto.

Jika aturan sebelumnya mengatur dasar-dasar trading aset kripto, aturan ini justru menjabarkan tentang 229 jenis aset kripto yang dapat diperdagangkan secara legal di Indonesia. Agar lebih jelas, Sobat Cuan bisa baca aturannya di sini.

2. Apakah Cryptocurrency Sah Sebagai Alat Tukar?

Jawabannya adalah tidak.

Meskipun aset kripto legal di Indonesia, masih ada rintangan besar bagi organisasi dan komunitas kripto lokal. Sebab, hingga saat ini, Bank Indonesia tidak mengakui kripto sebagai alat pembayaran.

Hal itu ditegaskan dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Adapun pasal 1 beleid tersebut mengatakan bahwa mata uang adalah uang yang dikeluarkan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Rupiah.

Hal ini dinilai salah satu masalah besar dalam hal adopsi kripto yang lebih luas. Selain itu, banyak bank yang enggan membuka rekening terkait perdagangan kripto, dan masih banyak informasi yang salah mengenai sifat mata uang kripto.

Terlepas dari masalah ini, ada kemajuan penting yang dibuat untuk membangun kerangka hukum yang komprehensif yang akan memastikan industri kripto berkembang di Indonesia. Selain itu, beberapa pelaku usaha secara terbatas juga sudah mulai menerima pembayaran kripto, di antaranya:

  1. ESO Trans Digital: ESO Trans Digital adalah platform yang menggunakan teknologi blockchain dan NFC untuk memfasilitasi pembayaran dan transaksi. Pengguna dapat membayar barang dan jasa dengan kripto melalui Kode QR dan opsi pembayaran lainnya.
  2. Nobi: Nobi adalah platform tabungan blockchain yang menawarkan pengguna pada aset kripto mereka. Pengguna dapat menyetor, menyimpan, dan mempertaruhkan aset kripto untuk mendapatkan hadiah di aplikasi selulernya.
  3. Teknologi BCS: Teknologi BCS adalah perusahaan konsultan blockchain yang membangun proyek. Perusahaan menerima pembayaran kripto untuk layanannya.

Ada beberapa yang mengantisipasi bahwa pemerintah pada akhirnya akan mengubah klasifikasi aset kripto dari komoditas menjadi aset digital. Ini akan mempercepat adopsi aset kripto sebagai bentuk pembayaran oleh pedagang. Apalagi, Bank Indonesia sendiri juga sudah berencana untuk merilis mata uang rupiah digital atau Central Bank Digital Currency (CBDC).

Baca juga: Apa Itu Bitcoin Taproot? Simak Penjelasannya Secara Padat di Sini!

3. Apakah Ada Regulasi Soal Perpajakan Cryptocurrency di Indonesia?

Jawabannya adalah belum ada.

Meski demikian, Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan mengaku akan mendalami lebih lanjut jenis pajak apa yang akan diterapkan. Namun, sejauh ini, lembaga tersebut menyebut bahwa pemerintah bisa memungut dua jenis pajak atas aktivitas trading cryptocurrency. Yakni, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh).

Ditjen Pajak beralasan, pengenaan PPN sebesar 10% dimungkikan apabila cryptocurrency dianggap sebagai mata uang atau alat tukar atas barang/jasa. Meski demikian, otoritas fiskal itu kini masih membedah model bisnis kripto demi menjawab hal tersebut.

Sementara itu, pemerintah juga akan mengenakan PPh terhadap aset kripto jika dilihat dari sudut pandang investasi. Ditjen Pajak berdalih, kini aset kripto diperdagangkan seperti investasi di pasar saham. Sehingga, seharusnya akan ada PPh yang ditarik dari capital gain, alias selisih antara harga awal aset kripto dengan harga jualnya.

Kesimpulan Regulasi Cryptocurrency di Indonesia

Nah, setelah penjelasan di atas, maka berikut adalah kesimpulan mengenai ringkasan legalitas cryptocurrency di Indonesia.

  • Aset kripto legal di Indonesia dan didefinisikan sebagai komoditas
  • Dewan Pengawas Bursa Berjangka mengatur perdagangan dan mengawasi perizinan usaha pertukaran cryptocurrency
  • Aset kripto tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia
  • Indonesia berencana menerapkan pajak untuk setiap aktivitas cryptocurrency.

Jadi, tenang saja, Sobat Cuan. Trading atau investasi aset kripto sudah dijamin legalitasnya di negara ini. Dan kalau kamu ingin memulai mengumpulkan koin-koin kripto pertamamu, lebih baik kamu berinvestasi di Pluang! Yuk, investasi sekarang!

Baca juga: Fans Bitcoin Wajib Baca! Ini Prediksi Bitcoin Selama 2021 Dari 10 Pakar Top!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CoinMarketCap



Sumber : pluang.com