1. Potensi Penurunan Nilai Portofolio yang Lebih Besar
Dunia investasi memiliki pepatah terkenal berbunyi high risk, high return. Pepatah itu pun rupanya berlaku juga di dalam kegiatan leverage.
Memang, kamu berkesempatan mendulang cuan berkali lipat sesuai dengan daya ungkit exposure aset kegiatan leverage tersebut. Namun, konsekuensinya, kamu juga bisa buntung berkali-kali lipat jika situasi pasar sedang tak mendukung.
Sehingga, kamu benar-benar harus mempersiapkan mental dan kecukupan dana yang kuat sebelum benar-benar melakukan aktivitas leverage.
2. Munculnya Risiko ‘Margin Calls’
Berbeda kegiatan investasi tentu berbeda pula aturan mainnya. Nah, khusus di kegiatan leverage, kamu mungkin tidak dapat melanjutkan aksi leverage jika kamu terjebak dalam situasi yang bernama margin calls.
Secara sederhananya, margin calls adalah situasi ketika posisi ekuitasmu setara atau kurang dari 70% dari nilai selisih antara nilai “asli” aset yang kamu genggam dengan nilai aset pasca leverage (margin).
Biasanya, sang investor menghadapi kondisi margin calls jika harga aset yang kamu leverage terjun hingga nilai yang paling tidak setara dengan 70% dari total ekuitasmu. Jika itu terjadi, maka kamu tak bisa membuka posisi leverage baru meski kamu masih tetap bisa menjualnya.
Namun, kamu tak perlu khawatir jika terperangkap dalam margin calls. Sebab, yang perlu kamu lakukan adalah kembali menyetor modal kepada broker hingga rasio ekuitasmu terhadap margin (margin level) mencapai 100%.
Jika kamu enggan mengambil langkah tersebut, kamu juga bisa memilih untuk menjual posisi leverage-mu hingga margin level kembali naik ke 100%.
3. Risiko Likuidasi Paksa
Kondisi margin calls bisa semakin kronis jika kamu membiarkannya berlarut-larut. Pasalnya, kamu nantinya akan masuk ke dalam situasi baru yang bernama likuidasi paksa (forced liquidations).
Likuidasi paksa adalah kondisi di mana sang investor harus pasrah melihat posisi leverage-nya dijual secara otomatis lantaran gagal menjaga margin level-nya. Broker mesti melakukan hal tersebut demi mengembalikan margin level sang investor untuk lolos dari margin calls.
Pluang akan memberlakukan likuidasi paksa jika margin level investor turun di bawah 30% agar margin level investor bisa kembali ke angka 70%.
4. Risiko Jebakan Psikologis
Sobat Cuan harus waspada jika tak siap mental berkecimpung di kegiatan leverage. Sebab, kamu bisa terjerumus ke jebakan psikologis yang tentunya bisa membuatmu boncos parah.
Ketika melakukan leverage, kamu awalnya pasti senang karena merasa “memiliki” jumlah aset yang lebih besar dari modal yang kamu setor. Dengan kata lain, kamu merasa berhasil mendapatkan tambahan aset secara “gratis” dengan ekspektasi cuan sesuai daya ungkit aksi leverage-mu.
Namun, justru di situlah letak jebakannya. Karena kamu merasa bisa menambah aset secara “gratis” dengan mudah, maka kamu berpotensi akan terus menerus menggelontorkan dana ke aktivitas leverage.
Sayangnya, aksi tersebut akan menjadi bumerang jika kondisi pasar tiba-tiba berubah mendung. Kamu pun akan sukar mengelak dari kerugian yang teramat dalam.
Oleh karenanya, yang perlu kamu lakukan adalah tetap mengambil keputusan dengan kepala dingin. Kamu perlu menyadari sejak awal bahwa kegiatan leverage adalah aksi yang berisiko tinggi sehingga kamu tak boleh mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat.
Bagaimana Cara Memitigasi Risiko Kegiatan Leverage?
Risiko seharusnya tidak menjadi batu sandungan bagimu untuk bergulat di kegiatan leverage. Sebab faktanya, semua instrumen investasi pun memiliki risikonya masing-masing. Sehingga, yang perlu kamu lakukan adalah bersikap cekatan dalam mengatasinya.
Di bawah ini adalah beberapa langkah mitigasi risiko leverage yang bisa kamu lakukan!
1. Tentukan Rencana Investasi!
Karena leverage adalah kegiatan berisiko, maka kamu tak boleh ongkang-ongkang kaki saja. Kamu harus menentukan strategi leverage seperti kapan saatnya kamu melakukan aksi beli, aksi jual, atau bahkan keluar dari pasar secara permanen.
Kamu juga harus rajin membaca riset dan menambah pengetahuan tentang leverage agar kamu punya alasan kuat ketika menentukan di titik harga aset berapa kamu akan membeli dan menjual posisimu.
Selain itu, kamu juga harus menentukan tujuan investasi dan rencana cadangan jika aksi leverage-mu tak sesuai harapan.
2. Kenali Profil Risiko Sendiri!
Mengenali profil risiko adalah hal paling mendasar yang mesti dilakukan seluruh investor. Sebagai contoh, jika kamu adalah individu yang tak tahan dengan perubahan nilai portofolio secara drastis, maka ada baiknya kamu menambah ilmu soal leverage atau menghindari aktivitas ini dengan total.
Di samping itu, kamu juga harus menentukan batas risiko aksi leverage yang sekiranya masih bisa kamu toleransi. Tak ketinggalan, kamu juga perlu memahami risiko yang muncul ketika kamu mengambil satu langkah saja di kegiatan leverage.
Kemudian, kamu juga bisa memulai dengan modal minimal yang ditetapkan broker jika kamu ingin sekadar coba peruntungan di aktivitas ini.
3. Tentukan Batas Kerugian yang Kamu Toleransi
Meraih cuan dari kegiatan leverage bakal bisa menjadi mimpi indah buatmu. Namun, ketiban rugi dari aktivitas ini malah bisa membuatmu tak tidur nyenyak di malam hari.
Nah, agar perkara tersebut tak mengusik hidupmu, maka kamu harus menentukan nilai kerugian spesifik yang maksimal bisa kamu iklaskan.
Misalnya, kamu rela rugi Rp5 juta dalam aktivitas leverage, tapi kerugian kamu saat ini sudah mencapai Rp4,9 juta. Sehingga, ada baiknya kamu segera menjual posisimu agar tak mendera kerugian lebih berat yang bisa bikin kamu mengalami mimpi buruk di malam hari.
4. Tetap Investasi Pakai ‘Uang Dingin’
Aksi leverage punya risiko yang besar, sehingga kamu tak boleh berinvestasi di dalamnya menggunakan biaya hidupmu sehari-hari atau dana darurat!
Potensi cuan dari aksi leverage memang menggiurkan. Tapi, hal tersebut jangan sampai bikin kamu gelap mata. Tetap berinvestasi sesuai kemampuanmu dan tentunya menggunakan uang yang memang sudah kamu alokasikan untuk berinvestasi.
5. Jangan Lupa Diversifikasi Aset!
Diversifikasi adalah kunci utama dalam memitigasi risiko tidak hanya di kegiatan leverage, namun di semua kegiatan investasi.
Dengan melancarkan diversifikasi aset, kamu setidaknya tidak akan merugi hebat ketika aksi leverage-mu gagal berbuah manis. Ini lantaran kamu menempatkan danamu di aset lain yang, mungkin saja, punya performa lebih cetar dibanding posisi leverage-mu.
Pluang sebelumnya sudah membeberkan konsep dan cara-cara jitu diversifikasi dengan lengkap di artikel berikut.
Produk investasi reksadana banyak dijadikan alternatif untuk mengembangkan aset keuangan dengan mudah. Maklum, lewat produk tersebut, Sobat Cuan tidak perlu repot memantau harga aset setiap harinya untuk menentukan waktu yang tepat untuk masuk ke pasar aset.
Di samping itu, sudah ada Manajer Investasi (MI) yang mengatur dan mengelola aset keuanganmu. Dan yang penting, lewat reksadana pula kamu pun secara tidak langsung melakukan diversifikasi portofolio investasi.
Meski reksadana sudah bikin kamu “terpapar” diversifikasi secara tidak langsung, terdapat pendapat bahwa kamu juga perlu mendiversifikasikan reksadanamu. Sehingga, Sobat Cuan bisa menyebar risiko yang muncul di investasi reksadana di masa depan.
Nah, seperti apa sih, pentingnya diversifikasi dalam investasi reksadana? Yuk, simak selengkapnya di artikel ini!
Penjelasan Singkat Diversifikasi
Pada dasarnya, diversifikasi adalah tindakan untuk berinvestasi di berbagai macam jenis aset sebagai bagian dari manajemen risiko investasi. Dengan diversifikasi, artinya kamu melindungi portofolio investasimu dari risiko-risiko yang akan menurunkan nilai portofoliomu, yang sangat mungkin terjadi di masa depan.
Sebagai contoh, anggap saja kamu punya uang Rp10 juta untuk berinvestasi dan kamu memiliki dua opsi untuk menggunakan uang tersebut: menaruhnya di satu kelas aset atau di berbagai aset.
Misalnya, kamu memilih opsi untuk menaruh seluruh uang tersebut di saham A. Namun, ternyata nilai saham A turun 50% di pekan berikutnya, sehingga nilai protofoliomu pun ikut amblas menjadi Rp5 juta.
Nah, risiko itu bisa kamu mitigasi jika kamu memilih opsi kedua.
Sebagai contoh, anggaplah kamu menempatkan uang Rp5 juta di saham A dan Rp5 juta sisanya di saham B. Dengan asumsi yang sama seperti opsi pertama, maka penurunan nilai saham A sebesar 50% akan bikin portofolio saham A kamu di angka Rp2,5 juta.
Namun, di waktu yang sama, ternyata nilai saham B malah naik 20%, sehingga portofolio kamu di aset tersebut naik menjadi Rp6 juta. Kalau ditotal, maka total portofolio kamu menggunakan opsi kedua adalah Rp8,5 juta, lebih baik jika kamu berinvestasi di satu aset saja seperto opsi pertama.
Kalau sudah begini, lebih baik kamu melakukan diversifikasi aset dari awal kan?
Mengapa Diversifikasi Penting di Investasi Reksadana?
Nah, jawaban atas pertanyaan tersebut mudah saja, Sobat Cuan. Yakni, diversifikasi akan membantu memaksimalkan cuanmu di investasi reksadana!
Lho, mengapa demikian? Nah, Sobat Cuan mungkin sudah mengerti bahwa reksadana adalah investasi yang terhubung dengan aset dasarnya.
Misalnya, kinerja reksadana saham tentu akan sangat tergantung dengan performa pasar modal. Sementara itu, reksadana pendapatan tetap tentu akan terkait dengan pergerakan imbal hasil di pasar obligasi.
Kalau kamu berinvestasi di, misalnya, reksadana pasar saham saja, artinya kamu hanya akan menikmati cuan dari investasi itu saja. Padahal, di waktu yang sama, bisa jadi reksadana pendapatan tetap malah memiliki return yang lebih moncer dibanding reksadana saham. Kesimpulannya, kamu akan kehilangan kesempatan cuan dari reksadana jenis lainnya kalau kamu juga enggan diversifikasi portofolio reksadanamu.
Hanya saja, selain terdapat investor yang tak paham soal manfaat diversifikasi, ternyata terdapat pula kelompok investor yang cenderung “berlebihan” dalam diversifikasi. Sayangnya, tindakan ini pun akhirnya malah bikin cuan mereka tak bisa maksimal, karena mereka tidak fokus mendulang untung dari reksadana yang punya kinerja mentereng.
Lantas, bagaimana sih, cara diversifikasi reksadana yang tepat? Berikut tips-tipsnya!
Tujuan finansial adalah hal esensial dalam investasi apapun. Makanya, kamu harus catat dan tentukan hal-hal yang ingin kamu capai dengan membenamkan dana di reksadana.
Jika tujuan finansialmu akan dicapai secara jangka panjang, dalam artian lima hingga 10 tahun mendatang, maka kamu bisa mengombinasikan reksa dana yang memiliki pengembalian hasil tetap secara jangka pendek atau jangka panjang.
Sementara itu, kalau kamu ingin mendulang cuan jangka pendek, kamu bisa mengombinasikan reksadana berbasis ekuitas dengan reksadana pasar uang.
Ingat, Sobat Cuan. Tetap patuh pada tujuan keuanganmu, ya!
2. Sesuaikan dengan Usia dan Profil Risiko
Kamu juga bisa menentukan skema diversifikasi tergantung dengan usia serta profil risikomu.
Biasanya, investor berusia muda cenderung senang “berpetualang” dalam investasi. Sehingga, mereka kerap memilih instrumen-instrumen yang lebih berisiko, seperti reksadana saham. Nah, di sini, investor muda bisa mengalokasikan dananya, misal, 50% di reksadana saham berkapitalisasi pasar menengah dan 50% reksadana saham berkapitalisasi pasar besar.
Namun, bukan berarti mereka harus menempatkan seluruh uangnya di reksadana yang berisiko tinggi. Idealnya, investor muda, atau mereka yang punya profil risiko agresif, bisa menempatkan 80% dananya di reksadana risiko tinggi dan 20% di reksadana lain yang punya risiko rendah.
Sementara itu, mereka yang sudah “berumur” cenderung menginginkan investasi yang adem ayem saja. Makanya, mereka bisa menempatkan sebagian besar investasinya di reksadana risiko rendah, seperti reksadana pendapatan tetap.
Namun, agar cuan mereka maksimal, tentu mereka juga harus menyisihkan sebagian dana mereka di reksadana dengan risiko sedang-tinggi. Angka idealnya pun sama, yakni 80% di reksadana risiko rendah dan 20% di reksadana risiko sedang dan tinggi.
3. Sesuaikan dengan Rentang Waktu Investasi
Memulai diversifikasi pertama kali kadang bisa jadi hal yang membingungkan bagi investor pemula. Nah, kalau kamu puyeng menentukan angka diversifikasi, maka kamu juga bisa melakukan diversifikasi sesuai rentang waktu produk reksadana!
Misalnya, kamu bisa mengombinasikan investasi berjangka waktu pendek, seperti reksadana pasar uang, dengan yang berjangka menengah seperti reksadana pendapatan tetap. Dengan hal ini, kamu bisa mendulang cuan dari instrumen berjangka pendek, namun juga tidak kehilangan peluang dari instrumen jangka panjang!
Nah, untungnya, diversifikasi jenis ini bisa kamu lakukan dengan berinvestasi di aplikasi Pluang!
Di Pluang, kamu bisa berinvestasi reksadana pasar uang dan pendapatan tetap hanya dalam satu aplikasi saja! Investasi reksadana Pluang dijamin aman, praktis, berlisensi OJK, dan juga terjangkau.
Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!
Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!
Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang.
Optimism adalah jaringan blockchain lapis dua untuk Ethereum yang berbasis teknologi Optimistic Rollups untuk memanngkas jumlah dan waktu transaksi di jaringan Ethereum.
Jaringan Optimism hadir untuk mengatasi masalah skalabilitas yang selama ini menjerat jaringan Ethereum. Sebagaimana diketahui, Ethereum kini menjelma menjadi jaringansmart contract utama di kancah kripto. Namun, pamor Ethereum yang terus meningkat membuat kemampuan skalabilitas transaksi di jaringan tersebut semakin lama semakin mandek.
Alhasil, durasi proses transaksi jaringan Ethereum semakin lama dan biaya transaksinya pun semakin mahal. Nah, untuk mengatasi masalah tersebut, Optimism pun hadir dengan membantu pemrosesan transaksi di Ethereum melalui jaringan yang terpisah dari jaringan utama Ethereum.
Dalam membantu proses transaksi Ethereum, Optimism menggunakan sebuah teknik bernama Optimistic Rollups. Mekanisme ini memungkinkan jaringan Optimism untuk membebankan biaya transaksi yang jauh lebih efisien ketimbang di jaringan Ethereum.
Perbandingan biaya transaksi Optimism dengan jaringan lapis 2 Ethereum lain. Sumber: l2fees.info
Selain punya biaya transaksi murah, jaringan Optimism juga meringankan beban Ethereum dalam hal penyimpanan data transaksi. Implikasinya, kehadiran Optimism dapat mengurangi beban pemrosesan transaksi dan dapat mengurangi biaya transaksi Ethereum (gas fees) dalam jangka panjang.
Keunggulan tersebut sukses membuat Optimism menjadi jaringan solusi lapis dua Ethereum terpopuler kedua setelah Arbitrum. Tak heran jika kini Optimism memiliki token terkunci (Total Value Locked) sebesar US$1 miliar di dalamnya.
Mengenal Teknologi Optimistic Rollups
Seperti disinggung di atas, Optimism bergantung pada teknik pemrosesan transaksi bernama Optimistic Rollups. Namun, seperti apa detail dari mekanisme tersebut?
Secara sederhananya, Optimism akan menggabungkan beberapa transaksi di jaringan Ethereum menjadi satu kelompok transaksi. Satu paket transaksi itu kemudian akan dicatat di jaringan Optimism. Kemudian, bukti-bukti transaksi tersebut akan “dioper” kembali ke jaringan Ethereum.
Sistem tersebut tak hanya mampu mengurangi jumlah transaksi dan menurunkan biaya transaksi di jaringan Ethereum, namun juga menciptakan biaya transaksi yang jauh lebih efisien di jaringan Optimism. Sebab, lantaran Optimism menggabungkan beberapa transaksi menjadi satu grup, maka satu biaya transaksi bisa dibagi-bagi terhadap seluruh transaksi yang terdapat di kelompok tersebut.
Ilustrasi sederhana tentang Optimistic Rollups. Sumber: Ethereum Foundation’s Kyle Charbonnet
Lebih lanjut, mekanisme tersebut dijuluki Optimistic Rollups karena seluruh pemrosesan kelompok-kelompok transaksi di jaringan Optimism “secara optimistis” diasumsikan valid sampai mereka dinyatakan tidak sah. Asumsi ini dapat menghemat waktu transaksi mengingat masing-masing transaksi individu tak perlu mengirimkan validitas transaksinya lantaran hal itu bisa dilakukan secara kelompok.
Namun pertanyaannya, bagaimana cara mengetahui keabsahan transaksi jika seluruh pemrosesan transaksi di Optimism diasumsikan valid?
Nah, untuk menjawab hal ini, validators di jaringan Optimism akan menghabiskan waktu sepekan untuk memeriksa satu paket transaksi jika mereka merasa ada data transaksi yang mencurigakan. Selama rentang waktu tersebut, setiap validator bisa “menggugat” keabsahan satu transaksi dengan menyampaikan bukti kecurangan (fraud proof) yang biasanya mengacu dari data-data yang sudah ada di jaringan Optimism.
Di samping itu, fakta menariknya, jaringan Optimism hanya bertugas untuk mengeksekusi transaksi. Sementara itu, urusan validasi dan aspek keamanan transaksi tetap dilakukan oleh jaringan Ethereum. Oleh karenanya, kehadiran jaringan Optimism tidak merusak semangat keamanan transaksi via desentralisasi yang dimiliki jaringan Ethereum.
Perbedaan Optimism dengan Jaringan Lapis 2 Ethereum Lainnya
Selain jaringan Optimism, terdapat pula beberapa jaringan lapis dua lainnya yang membantu mengatasi isu skalabilitas di jaringan Ethereum. Namun, apa perbedaan jaringan-jaringan tersebut dengan Optimism?
1. Optimism vs Arbitrum
Kesamaan antara Optimism dan Arbitrum
Validators diberikan insentif melalui staking aset kripto ETH untuk bersikap jujur.
Memiliki mekanisme pemrosesan transaksi yang mirip. Bahkan, terdapat kabar mengatakan bahwa Arbitrum mengubah source code milik Optimism ketika mengembangkan jaringannya.
Keduanya memilikinode penuh (full nodes), mengumpulkan transaksi di jaringan Ethereum, dan memiliki validator yang mengawasi aktivitas jaringan.
Kedua jaringan memperbolehkan aplikasi terdesentralisasi untuk memilih validatornya sendiri. Akibatnya, validasi transaksi bisa dilakukan secara mandiri tanpa harus disetujui oleh seluruh node yang ada di jaringan. Hal ini bisa mengurangi komunikasi antar node dan ujungnya meningkatkan frekuensi pemrosesan transaksi.
Perbedaan Optimism dan Arbitrum
Kedua jaringan memiliki resolusi sengketa yang berbeda. Arbitrum menyelesaikan sengketa di luar jaringan melalui beberapa tahapan dan akan mengirimkan hasil akhirnya sebagai sebuah transaksi. Sementara itu, Optimism menyelesaikan hal tersebut menggunakan fraud proof dan diselesaikan di dalam jaringan.
Optimism memiliki biaya transaksi yang lebih tinggi dibanding Arbitrum karena mekanisme penyelesaian sengketa transaksi yang berbeda.
Optimism menyediakan verifikasi instan sementara Arbitrum menggunakan sistem validasi yang berlapis-lapis.
Arbitrum menggunakan Arbitrum Virtual Machine sementara Optimism “hanya” punya kompatibilitas dengan Ethereum Virtual Machine.
2. Optimistic Rollups vs ZK-Rollups
Jaringan lapis dua Ethereum memiliki dua mekanisme untuk menggabungkan transaksi ke dalam satu kelompok, yakni Optimistic Rollups dan ZK-Rollups. Meski keduanya berfungsi memindahkan proses transaksi ke luar jaringan utama, metode yang digunakan keduanya untuk verifikasi transaksi sangat berbeda.
Di satu sisi, Optimistic Rollups menganggap bahwa seluruh transaksi adalah valid sehingga jaringan tak perlu melakukan proses kalkulasi yang berat. Selain itu, mekanisme ini juga mampu memindahkan kelompok transaksi ke jaringan utama tanpa memverifikasi validitas transaksinya.
Di sisi lain, ZK-Rollups mewajibkan setiap paket transaksi untuk melalui tes validitas setelah dipindahkan dari jaringan utama ke jaringan lapis dua. Karena validasi transaksi dilakukan di jaringan lapis dua, maka jaringan utama dapat mengurangi beban proses validasi transaksi dan ujungnya dapat menekan biaya transaksi.
Masing-masing sistem tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Berikut ringkasannya!
Optimistic Rollup lebih dipilih untuk mengeksekusi smart contract sementara ZK-Rollup digunakan untuk transaksi yang lebih simpel.
Optimistic Rollup punya waktu penyelesaian sengketa selama sepekan sementara ZK-Rollups mampu menyelesaikan masalah tersebut dalam satu menit.
Teknologi Optimistic Rollups tidak serumit ZK-Rollups.
Biaya transaksi di Optimistic Rollups lebih mahal dibanding jaringan lapis 2 yang memanfaatkan ZK-Rollups.
3. Optimism vs Polygon
Jaringan Polygon sebenarnya bukan jaringan solusi lapis dua seperti Optimism. Polygon adalah sidechain jaringan Ethereum yang berjalan secara paralel dengan jaringan Ethereum. Sehingga, berbeda dengan Optimism, jaringan Polygon tidak menggantungkan aspek keamanannya ke jaringan Ethereum.
Polygon menggunakan mesin virtual yang sama seperti di jaringan Ethereum. Akibatnya, pengguna bisa lebih mudah untuk melakukan alih daya (outsource) smart contract di jaringan Polygon.
Hal ini sejatinya bisa memberikan kemudahan bagi para pengembang aplikasi terdesentralisasi. Hanya saja, beberapa pengguna Polygon mengeluhkan lamanya periode transfer. Selain itu, keandalan keamanan blockchain Polygon pun disebut-sebut dikuasai oleh segelintir pihak tertentu.
Kelebihan dan Kritik Terhadap Jaringan Optimism
Sama seperti jaringan lainnya, jaringan Optimism punya keunggulan dan kelemahan yang sering menjadi sasaran kritik komunitas kripto.
Keunggulan
Memiliki biaya transaksi rendah.
Salah satu punggawa jaringan solusi lapis dua Ethereum.
Jaringan memiliki perkembangan pesat dibanding pesaingnya.
Didukung oleh aplikasi terdesentralisasi Ethereum terbesar. Ekosistem Optimism memiliki 100 aplikasi terdesentralisasi di dalamnya.
Bisa meringankan beban transaksi Ethereum.
Didukung oleh investor kondang seperti Andreessen Horowitz, Paradigm, dan IDEO CoLab Ventures.
Jaringan sengaja didesain sesimpel mungkin sehingga tim pengembang Optimism bisa fokus dalam menciptakan fitur baru. Di samping itu, setiap baris-baris kode juga ditulis secara sederhana untuk meminimalisasi kehadiran bugs yang tak diinginkan.
Kritik Terhadap Optimism
Punya sifat sentralisasi lebih kuat dibanding Ethereum. Hal ini mengingat Optimism punya wewenang untuk menangguhkan aktivitas jaringan atau memprioritaskan beberapa validator.
Tim Optimism juga masih memiliki kuasa atas teknologi yang bertanggung jawab menciptakan blok transaksi di jaringan. Namun, hal ini dapat dimaklumi karena proyek Optimism terbilang seumur jagung.
Aspek Tokenomics Optimism
Jaringan Optimism memiliki token asli bernama OP yang umumnya digunakan sebagai tata kelola. Dengan kata lain, anggota komunitas Optimism bisa menggunakan token OP untuk berpartisipasi di The Optimism Collective, yakni sistem tata kelola dua tingkat yang terdiri dari Token House dan Citizens’ House. Apa bedanya?
Token House adalah lembaga tata kelola yang mengatur keputusan teknis seperti pembaruan piranti lunak. Sementara itu, The Citizen’s House adalah lembaga yang menentukan keputusan pendanaan bagi barang publik di jaringan Optimism.
Token OP pertama kali didistribusikan secara publik melalui skema airdrop pada 31 Mei 2022. Peristiwa ini juga menandai airdrop terbesar dalam sejarah kancah kripto.
Di samping itu, dari 4,29 miliar token OP yang sudah didistribusikan, suplai token OP rencananya akan meningkat dengan laju 2% per tahunnya.
Berikut adalah platform terdesentralisasi yang mendukung jaringan Optimism. Seluruh platform tersebut terbagi ke dalam tiga kategori yakni platform exchange terdesentralisasi, jaringan jembatan, dan protokol pinjam meminjam.
Ekosistem di dalam Optimism. Sumber: Coinmarketcap
1. Platform Exchange Terdesentralisasi (DEX)
Uniswap
Uniswap adalah platform DEX dengan nilai Total Value Locked terbesar di Optimism. Uniswap juga dikenal sebagai salah satu platform DEX yang menyediakan trading dengan model Automated Market Maker (AMM). Selain hadir di Optimism, Uniswap juga tersedia di Arbitrum, Polygon, dan Ethereum.
Curve Finance
Curve adalah DEX yang berfokus dalam penukaran stablecoins dan merupakan platform DEX terbesar yang mendukung jaringan Optimism.
ZipSwap
ZipSwap (ZIP) adalah platform DEX yang menjanjikan biaya transaksi rendah untuk kegiatan penukaran token.
Perpetual Protocol
Perpetual Protocol (PERP) adalah protokol DEX yang fokus pada trading perpetuals dan kontrak berjangka. Alih-alih trading melalui skema order book seperti di lembaga investasi konvensional, pelaku pasar bisa melakukan trading secara on-chain.
2. Jaringan Jembatan Optimism
Synapse
Synapse (SYN) adalah jaringan jembatan yang menghubungkan Optimism ke jaringan blockchain lapis satu seperti Ethereum. Aspek keamanan Synapse didukung oleh validator yang berasal dari berbagai golongan dan ditenagai oleh token asli bernama SYN.
Hop Exchange
Hop Exchange (HOP) menghubungkan jaringan lapis dua seperti Optimism dan Arbitrum dengan Ethereum. Melalui jaringan ini, pengguna bisa melakukan transfer token antar jaringan secara instan tanpa perlu menunggu berhari-hari.
3. Protokol Pinjam Meminjam
Aave
Aave (AAVE) adalah protokol pasar uang dan pinjam-meminjam yang memungkinkan penggunanya untuk meminjam atau “menabung” beragam aset kripto. Saat ini, Aave dikenal sebagai salah satu platform keuangan terdesentralisasi paling populer sejagat.
Stargate Finance
Stargate Finance (STG) merupakan protokol likuiditas yang memungkinkan penggunanya untuk transfer aset antar blockchain dan mengakses kolam likuiditas dengan proses yang mudah.
dForce
dForce (DF) dikenal sebagai platform keuangan desentralisasi “satu pintu” lantaran menyediakan jasa pinjam-meminjam, trading, staking, dan jasa lainnya. Saat ini, dForce memiliki integrasi antar protokol dan mampu menjembatani aktivitas antar jaringan untuk memperluas adopsinya.
Velodrome
Velodrome Finance (VELO) adalah protokol penyedia likuiditas di jaringan Optimism. Jaringan ini bertujuan untuk memiliki likuiditasnya secara mandiri dan memastikan interoperabilitas yang baik antara protokol keuangan desentralisasi di ekosistem Optimism.
QiDao
QiDao (QI) adalah protokol pinjam-meminjam kripto yang membebankan bunga nol persen untuk kredit stablecoins.
Gaji Jakarta tinggal di Yogyakarta, apa betul bisa makmur? Pertanyaan ini seketika muncul di benak warganet pada akhir pekan lalu. Anggapan ini juga bikin warga jagat dunia tiba-tiba mempertanyakan kembali strategi financial planning yang mereka tempuh sejauh ini.
Biang keladi perdebatan itu muncul di media sosial Twitter pada Sabtu (19/6) lalu, setelah satu warganet mengunggah postingan yang berisi “Ingin gaji Jakarta tapi tinggal di Yogya”. Sontak, warganet pun merespons cuitan tersebut dengan berbagai opini. Alhasil, “Gaji Jakarta” pun bertengger di daftar trending topic Twitter sepanjang akhir pekan lalu.
‘Gaji Jakarta tapi tinggal di Yogya’, adalah salah satu istilah paling nggatheli yg pernah saya dengar. Seolah Yogya adalah tempat yg indah, gak ada masalah, dan murah.
Tapi, terlepas di manapun kamu tinggal dan sebesar apa pemasukanmu, kamu tentu mustahil bisa merdeka secara finansial tanpa financial planning yang baik, lho.
Memang, gap pemasukan versus pengeluaran yang belakangan ini ramai diperbincangkan warganet memang meresahkan. Tapi, kamu sebaiknya jangan terlalu mengeluhkan domisilimu kalau memang kondisi finansialmu porak poranda. Coba telaah lagi, siapa tahu malah gaya hidupmu yang bikin keuanganmu merana.
Misalkan saja, jika pemasukanmu dibawah Rp10 juta tetapi memaksakan bergaya hidup ala eksmud SCBD, maka tidak heran jika ujung-ujungnya kantongmu jadi korban.
Nah, daripada menyalahkan biaya hidup, ternyata ada cara lain yang bisa membantumu tetap bisa survive di Jakarta bahkan dengan gaji Jakarta. Caranya, tentu saja adalah dengan menyesuaikan beban pengeluaranmu per bulan.
1. Pindah Rumah Demi Financial Planning yang Lebih Baik
Tempat tinggal sangat berpengaruh pada pengeluaran, kamu tentu sadar betul akan hal itu. Pindah ke rumah yang lebih kecil atau ke lingkungan yang lebih murah bisa kamu pertimbangkan demi menyeimbangkan neraca pengeluaran kamu.
Bagaimanapun, kamu tetap harus memperhatikan kualitas hidupmu dan keluarga. Pastikan bahwa rumah yang akan kamu tempati nanti bisa memenuhi kebutuhan hidup kamu dan keluargamu meski tidak sebesar rumahmu saat ini.
Pastikan juga lingkungan yang lebih murah itu tetap aman dan nyaman untuk tumbuh kembang orang-orang tercinta. Memastikan setiap hal berjalan dengan baik tetap yang utama saat harus menghemat pengeluaran.
2. Parkir Mobil
Kalau kamu tinggal di apartemen atau berkantor di area dimana parkir harus bayar, kamu mungkin memerlukan pertimbangan khusus agar tidak boros. Kartu berlangganan bisa jadi pilihanmu. Kamu juga bisa memanfaatkan diskon aplikasi.
Atau, kalau mau lebih ekstrim lagi, kamu bisa juga mempertimbangkan untuk membatasi penggunaan mobil dan mulai menjadi orang komunal. Transportasi darat di kota besar saat ini sudah mumpuni kok untuk menunjang keseharianmu yang lebih hemat bensin dan biaya parkir.
3. Layanan Telekomunikasi
Zaman sekarang dimana-mana sudah tersedia wifi gratis. Di rumah maupun di kantor, apalagi di pusat perbelanjaan, kamu sudah bisa mengakses internet secara gratis lewat ponselmu.
Coba kamu perhatikan lagi, kuota internet di akhir bulan kamu mungkin masih tersisa banyak. Sehingga, kamu bisa mencoba mempertimbangkan paket layanan telekomunikasi lain yang lebih pas dengan kebutuhan dan gaya hidupmu.
Sayang kan, kuota internet terbuang percuma atau pulsamu tersedot akibat panggilan berbayar?
4. Belanja Kebutuhan dengan Perencanaan
Sadar atau tidak, tiap kamu menginjakkan kaki ke pusat perbelanjaan, nominal yang kamu habiskan selalu tergolong besar. Unruk mengatasinya, kamu tidak perlu sering-sering berbelanja jika kamu melakukan perencanaan yang baik, Sobat Cuan.
Coba rencanakan masakan yang akan kamu buat dalam sebulan dalam satu list panjang. Lalu, berbelanjalah semuanya sekaligus agar tidak perlu berulang kali belanja kebutuhan sehari-hari. Kamu akan melihat bahwa pengeluaranmu jadi lebih efisien dengan cara sederhana ini.
Atau, kamu juga bisa membeli barang-barang kebersihan, seperti shampo dan sabun, dalam ukuran yang besar. Percayalah, membeli barang-barang tersebut dalam ukuran besar jauh lebih hemat ketimbang beli yang berukuran kecil namun berulang kali!
5. Masukkan Budget Hangout dalam Financial Planning
Sudah berhemat habis-habisan tapi tetap kehabisan uang di akhir bulan? Cobalah untuk meneliti struk makanan kamu saat hang out dengan teman atau makan malam dengan pasangan.
Pengeluaran seperti ini kerap tidak terasa tapi sebetulnya banyak juga. Disisi lain, kamu tetap harus menikmati hidup dan menghabiskan waktu berkualitas dengan orang-orang tersayang.
Tidak ada salahnya merencanakan hang out dan fine dining dalam budget yang terukur. Mungkin kamu tidak bisa melakukan sering-sering, tetapi sekali sebulan tidak masalah. Buat saja makan malam kamu berkesan.
6. Bayar Tunai, Jika Sulit, Buatlah Akun Khusus untuk Pengeluaran
Sebetulnya, membayar tunai adalah cara yang baik untuk menekan pengeluaran. Tapi saat ini, terutama sejak pandemi, cashless lebih ditekankan.
Cobalah untuk memisahkan uang pengeluaran kamu dengan uang digital atau wallet khusus yang saat ini banyak disediakan oleh bank digital. Ini akan membantu kamu menghindari belanja secara berlebihan.
Alih-alih menggesek kartu kredit yang beresiko over limit, membayar langsung akan membantumu mengukur dengan jitu sebesar apa kemampuan beli kamu jika tidak ditunjang fasilitas utang.
7. Jangan Kemakan Tren, Tetap Pada Financial Planning
Mobil terbaru keluaran perusahaan otomotif favoritmu memang menggoda. Tapi, apakah kamu memerlukannya?
Jika mobilmu sekarang sudah mampu memenuhi kebutuhanmu sehari-hari, sudah lunas, dan sudah saling paham kondisi finansial, cobalah untuk setia.
Tidak perlu jadi yang paling sophisticated di tongkrongan, kan? Yang terpenting tetap financial planning berjalan.
Tak hanya mobil, tren smart phone pun begitu. Iphone lamamu masih dapat upgrade iOS 15 nanti, kan?
Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!
Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!
Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!
Aplikasi Pluang kini menghadirkan kegiatan leverage bagi penggunanya. Melalui fitur baru ini, Sobat Cuan bisa meningkatkan kemampuan “daya beli” atas saham AS yang harganya diramal bakal terus menanjak. Sehingga, kamu berkesempatan mendulang profit yang lebih baik.
Aktivitas leverage di aplikasi Pluang memiliki daya ungkit exposure aset mencapai dua kali lipat. Artinya, Pluang akan meningkatkan kemampuan daya beli kamu untuk membeli saham sebesar dua kali lipat dari modal awal yang disetor.
Sebagai contoh, anggap saja Tuan A memiliki dana US$100. Dana tersebut ternyata setara dengan satu lembar saham perusahaan ABC, sehingga Tuan A bisa saja menggunakan modal itu untuk membeli satu lembar saham perusahaan yang dimaksud.
Namun, jika Tuan A menggunakan dana US$100 tersebut untuk aktivitas leverage di Pluang, maka Pluang akan membantu meningkatkan daya beli asetnya sebanyak dua kali lipat.
Akibatnya, hanya dengan modal awal US$100, Tuan A berkesempatan untuk mengantongi dua lembar saham perusahaan ABC senilai US$200. Sebagai catatan, modal awal sebesar US$100 disebut sebagai margin dan US$100 sisanya “dipinjam” Tuan A sebagai leverage.
Kemudian, anggap saja harga saham tersebut naik menjadi US$110 per lembar. Maka, keuntungan belum terealisasi Tuan A menjadi US$20, bukan lagi US$10. Namun, Tuan A juga bisa mendera kerugian US$20 jika harga saham tersebut turun menjadi US$90.
Nah, di aplikasi Pluang, kamu bisa memanfaatkan fitur leverage terhadap produk saham AS.
Terdapat 600+ pilihan saham AS dan ETF yang bisa digunakan untuk trading dengan leverage di Pluang.
Syarat Memanfaatkan Aktivitas Leverage di Pluang
Pengguna Pluang harus memenuhi dua syarat berikut sebelum bisa memanfaatkan aktivitas leverage di Pluang.
Pertama, Sobat Cuan baru bisa memanfaatkan fitur leverage jika sudah menyelesaikan proses verifikasi dasar (Know Your Customer/KYC) untuk berinvestasi saham AS.
Kedua, pastikan kamu memiliki saldo yang cukup untuk berinvestasi Leverage. Jika kamu memiliki saldo yang tidak cukup untuk berinvestasi, maka kamu bisa melakukan top up terlebih dulu melalui beragam kanal pembayaran.
Jika kamu merasa telah memenuhi dua syarat tersebut, maka kamu bisa mengunduh aplikasi Pluang versi terbaru untuk menikmati fitur leverage.
Bagaimana Cara Memulai Leverage di Pluang?
Cara memulai transaksi produk leverage di Pluang sejatinya serupa dengan membeli aset-aset yang ditawarkan seperti produk aset kripto atau saham AS. Berikut langkah yang harus diperhatikan untuk memulai perjalanan pembelian aset leverage di Pluang!
1. Mengakses Produk Leverage
Kamu bisa membuka aplikasi Pluang dan menuju ke halaman Eksplor. Di dalam “Saham AS”, ketuk kategori “Leverage” untuk melihat pilihan saham yang diperdagangkan dengan fitur Leverage.
Berikut adalah simulasi mengakses fitur leverage jika kamu ingin memperbesar potensi cuan dari saham Alibaba (BABA).
Contoh Mengakses Produk Leverage di Pluang
Dari contoh di atas, Sobat Cuan bisa mulai memanfaatkan fitur leverage dengan minimum pembelian saham 0,1 lembar. Jika kamu klik tombol “Buy”, maka Pluang akan mengarahkanmu ke menu yang berisi mengenai simulasi dan ringkasan mengenai cara kerja leverage.
2. Top Up pada Akun Leverage
Setelah merampungkan proses di atas, kamu perlu melakukan top up sebelum bisa melakukan transaksi leverage.
Karena produk ini berbeda dengan investasi saham AS non-leverage, maka kamu harus top up dana untuk kegiatan leverage di dompet khusus bernama USD Margin. Dengan kata lain, kamu tidak bisa melakukan transaksi leverage jika belum mengisi saldo pada dompet tersebut. Pasalnya, hanya melalui dompet inilah kamu bisa meningkatkan eksposur saham sebesar dua kali lipat.
Terdapat dua cara yang bisa dilakukan untuk mengisi dompet USD Margin. Pertama, kamu bisa mengonversikan langsung saldo Rupiah di wallet Pluang ke dompet USD Margin. Kedua, kamu juga bisa memindahkan saldo dalam bentuk Dollar AS di aplikasi Pluang ke dompet USD Margin.
Sobat Cuan bisa menemukan contoh top up wallet USD margin, baik dari saldo Rupiah atau saldo Dollar AS, melalui ilustrasi berikut!
Tahapan Top Up USD Margin dari Saldo RupiahTahapan Top Up USD Margin dari Saldo Dolar AS.
Setelah proses ini selesai, maka kamu bisa langsung melakukan transaksi leverage di aplikasi Pluang. Berikut caranya!
Bagaimana Cara Transaksi Leverage di Aplikasi Pluang?
1. Melakukan Transaksi Leverage
Setelah selesai melakukan top up, kamu dapat memilih saham yang eksposurnya ingin kamu ungkit melalui leverage.
Kamu tinggal kembali ke halaman Saham Amerika untuk memilih saham tersebut. Setelahnya, kamu dapat menentukan besaran saham yang ingin kamu beli dengan minimal pembelian 0,1 lembar saham.
Sobat Cuan dapat menyimak ilustrasi proses transaksi leverage dari awal hingga akhir melalui contoh leverage menggunakan saham BABA berikut!
Contoh membeli saham leverage di aplikasi Pluang
Dari contoh di atas, terlihat bahwa sang pengguna ingin membeli lima lembar saham BABA dengan total US$350. Jika Sobat Cuan memperhatikan menu peninjauan pesanan (review order) dengan seksama, maka kamu akan menemukan fiturExit Strategy di dalamnya. Kamu dapat memanfaatkan fitur ini untuk menentukan titik Stop Loss dan Take Profit yang kamu inginkan.
Berikut adalah tampilan menu Exit Strategy jika kamu menekan fitur tersebut di menu peninjauan pesanan.
Tampilan Fitur Exit Strategy
Pluang menyarankan kamu untuk menentukan titik Stop Loss dan Take Profit terlebih dahulu sebelum memfinalisasi transaksi leverage lantaran tingginya risiko kegiatan ini, seperti yang dibahas di artikel sebelumnya.
Setelah mengonfirmasi Exit Strategy, kamu akan diarahkan ke menu konfirmasi persetujuan untuk dikenakan overnight fee. Untuk memahami konsep overnight fee, Sobat Cuan bisa menyimak artikel berikut.
Setelahnya, kamu bisa meneruskan proses transaksi seperti contoh di atas hingga muncul konfirmasi mengenai keberhasilan transaksi.
2. Cara Memantau Portofolio untuk Melihat Performa Leverage
Setelah selesai melakukan transaksi, kamu tentunya ingin memantau perkembangan aktivitas leverage-mu, kan? Nah, kamu bisa menemukannya dengan kembali membuka menu wallet USD Margin di aplikasi Pluang.
Melalui halaman ini, kamu mampu melihat dua poin krusial dalam kegiatan leverage yakni laba/rugi belum terealisasi serta margin bebas yang kamu miliki.
Berikut adalah ilustrasi contoh melihat isi halaman pemantauan kinerja leverage di menu wallet USD Margin!
Contoh Menu Pemantauan Kinerja Leverage
Pada tampilan paling atas wallet USD Margin di aplikasi Pluang, kamu bisa memantau tiga indikator yakni margin bebas (free margin), daya ungkit eksposur leverage, dan daya beli yang kamu miliki (buying power).
Pada tampilan tersebut, kamu bisa memantau jumlah margin bebas alias jumlah dana yang telah kamu top up ke wallet USD Margin yang masih bisa kamu investasikan. Dengan kata lain, Margin bebas akan berkurang saat kamu membuka posisi baru dan bertambah ketika kamu menutup posisi atau mengantongi laba/rugi belum terealisasi.
Contoh di atas menunjukkan bahwa sang pengguna memiliki “sisa” dana “menganggur” sebesar US$25 di dompet USD Margin, sehingga ia hanya bisa berinvestasi di leverage maksimal sebesar US$25 untuk saat ini. Karena Pluang menyediakan tambahan eksposur sebanyak dua kali, maka “daya beli” aset yang ia miliki tercatat sebesar US$50, alias dua kali lipat dari margin bebasnya.
Nilai margin bebas tentu akan bertambah jika ia melakukan top up ke wallet USD Margin. Misalnya, sang pengguna memutuskan top up sebesar US$100 sehingga margin bebasnya akan menjadi US$125. Dengan demikian, maka buying power sang pengguna akan menjadi US$250.
Bahkan, nilai margin bebas tersebut bisa lebih tinggi lagi jika ia telah “mencairkan” laba belum terealisasi. Implikasinya, nilai buying power pengguna tersebut juga akan menjadi lebih besar.
Setelah itu, jika kamu scroll halaman wallet USD Margin ke bawah, maka kamu akan menemukan catatan indikator lainnya seperti margin level, mainenance margin, dan laba/rugi belum terealisasi.
Sekadar pengingat, margin level adalah indikator dalam bentuk persentase yang menggambarkan total jumlah uang yang telah kamu gunakan untuk leverage. Semakin tinggi tingkat margin level, maka artinya margin bebas yang bisa kamu gunakan masih cukup lapang jika ingin menambah posisi leverage baru.
Dalam contoh di atas, sang pengguna memiliki rasio Margin Level sebesar 114,29%. Dengan kata lain, total nilai ekuitasmu tercatat 1,14 kali lipat dari jumlah dana yang telah ia gelontorkan untuk membuka posisi leverage. Nah, oleh karenanya, ia masih memiliki margin bebas yang cukup jika ingin menambah posisi leverage baru.
Kemudian, di bawah indikator margin level, kamu bisa melihat indikator maintenance margin, yakni persentase minimum dari jumlah margin disetor yang harus selalu “siap sedia” di wallet USD Margin. Dalam hal ini, Pluang menetapkan maintenance margin di level 70%, mengindikasikan bahwa investor setidaknya harus “menjaga” 70% dari total margin yang telah disetor di dalam akun miliknya.
Nah, setelah itu, kamu bisa memantau indikator paling penting yakni laba/rugi belum terealisasi. Seperti yang sudah dijelaskan di artikel sebelumnya, laba/rugi belum terealisasi menunjukkan performa saham yang telah kamu beli. Laba/rugi tersebut akan berubah status menjadi “realisasi” ketika kamu menutup posisi leverage-mu.
3. Simulasi Perubahan Kinerja Leverage Ketika Harga Saham Naik Atau Turun
Kamu kini telah mengetahui indikator penting dalam memantau kinerja leverage-mu. Namun, pertanyaan berikutnya, apa yang akan terjadi pada menu pemantauan portofolio leverage jika harga saham naik atau turun?
Nah, dengan masih menggunakan contoh saham BABA, Sobat Cuan dapat melihat contoh perubahan tampilan menu peninjauan kinerja leverage ketika harga sahamnya naik di bawah ini!
Contoh Tampilan Menu Wallet USD Margin Saat Harga Saham BABA Naik
Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa sang investor menyetor modal awal sebesar US$175,(seperti terlihat di indikator margin) untuk membeli 2,5 unit saham BABA senilai US$70 per lembarnya. Kemudian, harga saham BABA ternyata meningkat dari US$70 ke US$75, atau 7,1%.
Setelah mengetahui hal ini, sang investor kemudian tinggal memeriksa nilai laba/rugi belum terealisasi yang ia kantongi.
Tanpa menggunakan fitur leverage, sang pengguna semestinya memperoleh laba/rugi belum terealisasi sebesar US$12,5, yang dihitung dari kenaikan harga saham sebesar US$5 dikali 2,5 unit saham. Namun, karena ia memanfaatkan leverage dengan daya ungkit eksposur sebesar dua kali lipat, maka nilai laba/rugi belum terealisasi yang tertera di tampilan tersebut menjadi US$25.
Begitu pun sebaliknya. Jika harga saham BABA turun, misalnya menjadi US$65 per lembar, maka nilai laba/rugi belum terealisasi akan menjadi -US$25.
Pasalnya, tanpa leverage, sang pengguna semestinya memperoleh rugi belum terealisasi sebesar US$12,5. Tetapi, ruginya membengkak menjadi US$25 karena ia memanfaatkan leverage dengan daya ungkit eksposur dua kali lipat. Sobat Cuan bisa melihat contohnya melalui tampilan berikut!
Contoh Tampilan Menu Wallet USD Margin Saat Harga Saham BABA Turun
Bagaimana Cara Menjual Aset Leverage di Aplikasi Pluang?
Ketika kamu sudah meraih laba atau menyentuh kerugian yang kamu targetkan di awal, kamu bisa melakukan aksi jual secara langsung di aplikasi Pluang.
Sama halnya dengan menjual aset lainnya di aplikasi Pluang, kamu dapat mengaksesnya melalui halaman aset Saham Amerika, kemudian klik aset yang kamu miliki, lalu tekan tombol jual yang tertera. Namun, aksi ini tidak diperlukan jika kamu sudah memasang exit strategy dan menyentuh harga yang kamu tentukan.
Pasca penjualan berhasil, kamu akan melihat perbedaan harga saham saat membeli dan menjual. Angka tersebut akan menjadi keuntungan atau kerugian yang sudah terealisasi dan akan masuk ke dompet Margin USD milikmu.
Berikut adalah ilustrasi proses penjualan aset leverage di Pluang!
Cara Menjual Aset Leverage di Aplikasi Pluang
Cara Memitigasi Risiko Leverage di Aplikasi Pluang
1. Pastikan Margin Level Di Atas 30%
Seperti yang sudah diketahui, leverage adalah aktivitas berisiko tinggi. Adapun dua risiko yang patut dihindari investor dalam kegiatan ini adalah terjebak pada situasi margin call dan stop out.
Margin call, atau panggilan margin, adalah sebuah panggilan bagi para investor ketika margin level sang investor turun dibawah 70%. Nantinya, Pluang akan mewanti-wanti kondisi ini melalui notifikasi kepada pengguna.
Contoh Notifikasi Margin Call di Aplikasi Pluang
Ketika investor mendapatkan margin call, maka Pluang akan menghentikan penambahan posisi leverage baru secara otomatis sebelum margin level sang investor kembali di angka 100% atau keluar dari situasi margin call.
Kamu tak usah panik jika terperangkap dalam situasi tersebut. Terdapat dua hal yang bisa kamu lakukan yakni:
Menambah top up dana ke dompet USD Margin untuk menaikkan margin level kembali ke angka 100%. Kamu dapat melakukan strategi ini dengan cara mentransfer dana kamu dari saldo Dollar AS atau saldo Rupiah dari wallet Pluang.
Jual posisi terbuka leverage-mu hingga perbandingan ekuitas terhadap margin kamu kembali 100%.
Sementara itu, stop out adalah situasi ketika margin level-mu menembus di bawah level 30%. Pada kondisi ini, Pluang akan menghentikan aktivitas trading leverage sang investor dengan menjual asetmu secara otomatis hingga margin level kembali mencapai 70%.
Nantinya, kamu akan menerima notifikasi melalui email dan push notification (PN) ketika posisimu terjual.
2. Menentukan Titik Jual dan Beli Sebelum Bertransaksi
Sebelum bertransaksi leverage, kamu harus memastikan keputusanmu sudah sesuai analisis baik dari sisi fundamental maupun teknikal. Hal ini diperlukan agar kamu terhindar dari stop out.
Setelah kamu menganalisis saham yang ingin dibeli, pastikan kamu menggunakan fitur exit strategy, sebelum pembelian. Fitur ini akan membantumu untuk tidak memantau pasar secara terus menerus dan melatihmu disiplin akan rencana trading yang sudah kamu tentukan di awal.
Kamu sebenarnya bisa menentukan titik jual dan beli melalui analisis teknikal, misalnya seperti menentukan titik support dan resistance dari harga suatu aset. Jika kamu tak punya arah dalam mempelajari analisis teknikal, maka kamu dapat mempelajarinya dengan menyimak artikel ini.
Selain itu, kamu dapat melihat beberapa chart patternyang menarik untuk membantumu mendapatkan keuntungan maksimal.
Sudah siap berinvestasi leverage di aplikasi Pluang?
Harga aset kripto, seperti Bitcoin dan Ethereum, memang lagi terjun bebas. Kondisi tersebut kadang bikin kamu sedih dan merana lantaran bikin kamu buntung. Namun, jangan salah, Sobat Cuan! Cuan kripto bukan hanya soal naik-turun harga, tetapi juga perkara mentalitas!
Di dunia aset kripto, memang trading dianggap cara efektif bagimu untuk mendulang cuan. Namun, tidak ada salahnya kamu mencoba menahan aset kriptomu, atau istilah kerennya HODL-ing, dengan menabung aset kripto yang kamu genggam. Yang kamu butuhkan adalah tinggal tips menabung kripto yang jitu!
Ketika menabung kripto, yang kamu perlu lakukan adalah menempatkan cryptocurrency di platform tabungan aset kripto. Setelahnya, kamu tinggal mendapatkan imbal hasil secara periodik dalam bentuk aset kripto lagi.
Jadi, meski harga kripto lagi tiarap, setidaknya kamu berkesempatan untuk “mengembang biakkan” jumlah keping-keping aset kriptomu. Pilihan investasi kripto yang cukup menarik, bukan?
Selain itu, pasar aset kripto yang terpantau mendung adalah saat yang tepat bagimu untuk menabung aset kripto. Apa sih, alasannya?
Menabung Aset Kripto Pilihan Tepat Saat Pasar Bearish
Di dunia mata uang kripto, para penggemar tidak cuma berspekulasi. Sebagian besar mereka adalah maximalist, yakni orang-orang yang percaya pada ide bahwa di masa depan aset digital adalah satu-satunya yang relevan.
Secara spesifik, maximalist biasanya adalah fans berat Bitcoin yang memandang cryptocurrency adalah satu-satunya yang akan tetap relevan saat masa depan datang. Bahkan jika dibanding uang kripto yang lain, maximalist adalah penimbun Bitcoin garis keras.
Berbeda dengan trader yang sibuk menganalisis pergerakan pasar, para maximalist justru panen raya saat market sedang longsor seperti saat ini. Alasannya? Tentu agar di masa depan saat Bitcoin sudah relevan, merekalah yang jadi juragannya!
Kalau kamu merasa tidak berbakat jadi trader lantaran lihat portofolio kripto kamu longsor terus, kamu tidak perlu berkecil hati. Kamu tetap bisa mengikuti falsafah HODL.
Menang dari HODL Tak Cuma Berlaku di Aset Kripto
Meski pasar selalu penuh oleh trader, tapi sejarah mencatat bahwa pemenangnya tetaplah investor. Sebut saja Warren Buffet, Elon Musk, atau versi kearifan lokal, Lo Kheng Hong, mereka adalah investor yang berinvestasi di jangka panjang.
Ada pendapat umum di dunia keuangan bahwa 98% orang yang mencoba trading tidak sukses. Mereka tidak akan bisa membiayai hidup dari trading saja.
Pasalnya, volatilitas pasar hanya dapat diterka, namun tidak pernah bisa dipastikan pergerakannya. Kamu pasti akan terlewat beberapa momentum besar untuk cuan, lalu menjual dan membeli terlalu cepat. Kamu mungkin akan untung besar selama beberapa waktu dan kehilangan semuanya dalam sehari.
Kabar baiknya adalah, investor tidak mengalami itu. Kamu tidak akan pernah terlewat momentum saat berinvestasi, kecuali kamu menunda-nundanya terus sampai mati.
Investor tidak pernah merugi saat pasar kebakaran. Mereka akan bersikap tenang dan membeli lebih banyak agar lebih cuan di masa depan.
Singkatnya, investor tidak perlu berhadapan dengan sisi kelam dunia trading harian. Selama ekonomi masih potensial, maka investasinya akan tetap berkembang. Investor tetap cuan.
Setelah membaca penjelasan di atas, mungkin kamu mulai berpikir untuk segera HODL-ing dengan menabung aset kriptomu. Tapi, sebelum kamu bergabung dengan barisan maximalist dengan HODL, ada sedikit tips bagi kamu agar tetap konsisten HODL-ing!
1. Siap dengan Volatilitas Pasar Kripto
Meski tampak mudah, jadi investor jangka panjang terutama untuk aset dengan volatilitas setinggi kripto pasti memerlukan persiapan mental yang baik. Tak hanya mental, pengetahuan kamu akan momentum juga harus baik.
Para HODLers bisa cuan besar dari bergejolaknya pasar kripto. Begitu pun saat rugi, membeli karena Fear of Missing Out (FOMO) saat tren naik, misalnya saja, mungkin akan membuatmu kewalahan menahan diri untuk tidak cut loss.
Contohnya, Maret 2020 lalu harga BTC longsor 50% dalam sehari. Kondisi ini memang bikin para trader kalang kabut dengan menjual asetnya. Lantas, bagaimana kalau para trader tersebut memilih untuk menahan aset kriptonya? Tentu saja cuan besar, Sobat Cuan, mengingat harga sang raja aset kripto ini pulih cepat, bahkan malah melonjak tajam.
Yang perlu kamu lakukan adalah sabar dan percaya bahwa harga aset kripto pasti akan membaik ke depannya. Tentu saja, kamu harus bersiap diterpa hujan badai yang seolah-olah tak berkesudahan sebelum memandang pelangi yang indah.
Meski tidak berencana menyimpan kripto selamanya, pastikan bahwa rencanamu berusia lebih dari tiga tahun. Inilah tips menabung kripto terjitu bagi para HODLers.
Katanya, rentang terbaik untuk membuat timeframe investasi kripto adalah sekitar 3-5 tahun. Meskipun, banyak maximalist menyimpan aset kriptonya lebih lama lagi.
Untung besar memang butuh proses, Sobat Cuan. Jadi jangan menyerah!
Pasar yang bergejolak memang penuh godaan. Bayangkan suatu hari aset kripto kamu melonjak 50%, tentu menggoda sekali untuk trading di pasar harian, bukan?
Tapi, jangan lakukan itu! Tahan diri kamu kalau memang niat jadi HODLers sejati. Inilah tips menabung kripto yang paling sulit dijalankan.
Ide investasi jangka panjang adalah kamu tidak perlu repot belajar analisis teknikal, fundamental, atau mengecek pergerakan harga harian. Kamu hanya perlu membeli di saat yang tepat dan menimbunnya.
Cuan akan datang pada mereka yang bersabar. Lagi pula, cuan pada trading harian masih dipotong spread transaksi juga, kok.
Jadi mending mana? Dapat cuan besar tapi kena potongan atau menabung aset kriptomu dan memperoleh bunga dalam bentuk tambahan aset kripto?
4. Cari Teman dalam Komunitas Hodlers
Lingkungan banyak mempengaruhi kita, begitu pun saat akan berinvestasi jangka panjang. Kamu mungkin akan mudah tergoda jika berteman dengan trading yang memamerkan cuan hariannya di media sosial.
Karena itu, cobalah mencari komunitas sesama hodlers. Selain agar tetap dapat informasi, kamu dan kawan-kawanmu bisa saling menguatkan dari segala macan godaan cuan jangka panjang.
Jadi, bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu sudah siap untuk HODL dengan cara menabung aset kripto? Yuk, coba menabung aset kripto di Pluang Cuan!
Di Pluang Cuan, kamu bisa mendapatkan imbal hasil dari menabung Ethereum dan Bitcoin hingga 3,5% per tahun! Cara yang mudah dapat cuan, bukan?
Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!
Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!
Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!
Secara definisi, diversifikasi di dalam dunia investasi adalah aksi investor untuk menyusun portofolio dengan beragam aset dengan tingkat risiko yang berbeda diiringi dengan kurun waktu dan periode yang juga berbeda. Hal ini sesuai dengan pepatah terkenal di dunia investasi, yakni don’t put your eggs in one basket atau jangan menaruh semua telur di satu keranjang.
Apa Pentingnya Diversifikasi?
Dalam ilmu investasi, diversifikasi adalah sebuah langkah yang diperlukan seorang investor untuk dapat memitigasi risiko investasi. Dengan kata lain, sang investor tidak akan mendera kerugian teramat sangat ketika kinerja salah satu asetnya terjerumus begitu dalam.
Sebagai contoh, jika isi portofolio sang investor hanya berkisar di sektor teknologi atau aset kripto saja di 2022, maka sudah pasti imbal hasil yang mereka dapatkan tumbuh negatif. Makanya, untuk mencegah nilai portofolionya dari kiamat, investor wajib hukumnya menyeimbangkan portofolionya dengan aset-aset lain yang memiliki risiko lebih rendah atau memiliki performa lebih baik dari aset-aset lainnya.
Di samping meminimalisasi risiko, diversfikasi juga dibutuhkan investor untuk memaksimalkan cuan yang mereka serok dari berinvestasi.
Asal tahu saja, kunci sukses untuk berinvestasi sebenarnya adalah menyeimbangkan tingkat kenyamanan risiko tergantung periodenya. Sebagai contoh, jika investor terlalu ngebet berinvestasi secara konservatif di waktu muda, maka pertumbuhan investasinya tidak akan cukup untuk melampaui tingkat inflasi dan tidak akan cukup untuk pensiun. Sementara itu, ia akan terpapar risiko buntung yang terlampau tinggi jika ia terlalu agresif dalam berinvestasi.
Nah, oleh karenanya, seorang investor perlu menyeimbangkan tingkat risiko dan potensi cuannya melalui diversifikasi. Terlebih, beberapa hasil penelitian akademik menunjukkan bahwa portofolio yang terdiversifikasi mampu menghasilkan imbal hasil yang lebih mantap dengan risiko yang rendah dalam jangka panjang. Kendati demikian, patut diingat bahwa diversifikasi juga tidak menjamin keuntungan dalam berinvestasi.
Mengenal Macam-macam Diversifikasi
Secara umum, konsep diversifikasi adalah mengombinasikan satu aset dengan aset lain di dalam portofolio. Kadang, investor pemula selalu mengaitkan konsep ini dengan “mencomblangkan” satu kelas aset dengan kelas aset lainnya, misalnya instrumen saham dengan emas.
Namun, konsep diversifikasi yang sebenarnya tidak hanya sebatas memasangkan satu kelas aset dengan aset lainnya. Berikut adalah konsep-konsep diversifikasi lainnya selain berdasarkan kelas aset!
Diversifikasi dalam satu kelas aset tertentu. Sobat Cuan perlu memahami bahwa tingkatan risiko di dalam satu kelas aset bisa berbeda-beda. Sebagai contoh, saham teknologi tentu punya risiko volatilitas yang berbeda dibanding saham sektor konsumsi. Bahkan, satu saham teknologi pun memiliki risiko yang berbeda dengan saham teknologi lainnya. Oleh karenanya, investor bisa melakukan diversifikasi antar instrumen di satu kelas aset sebagai batu pijakan dalam melakukan diversifikasi.
Diversifikasi berdasarkan batas geografis. Tak dapat dipungkiri bahwa situasi ekonomi dan ukuran kapitalisasi pasar yang terjadi di satu negara mempengaruhi kinerja aset yang diterbitkan di dalamnya. Makanya, pertumbuhan indeks saham AS dan saham Indonesia, misalnya, terbilang berbeda. Nah, kondisi tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan investor untuk menebar risiko investasinya.
Diversifikasi berdasarkan mata uang. Kekuatan mata uang sebuah negara pun bisa digunakan sebagai dasar diversifikasi. Pasalnya, seorang investor dapat mengeruk untung investasi yang jumbo dari instrumen aset berdenominasi mata uang negara tersebut. Sebagai contoh, ketika nilai tukar Dolar AS menguat melawan Rupiah, maka investor ada baiknya memfokuskan portofolionya di saham AS lantaran cuannya akan bernilai mantap jika dikonversikan ke mata uang Rupiah.
Trading saham memang lagi menjamur setahun belakangan. Investor tua, muda, bahkan sampai influencer pun berbondong-bondong memamerkan kinerja portofolionya di media sosial.
Akibatnya, hal itu tentu bikin kamu tertarik mencobanya juga, bukan? Tapi, tunggu dulu, Sobat Cuan. Trading saham tidak bisa dilakukan secara main-main, sehingga kamu perlu belajar saham dan menguatkan mental sebelum nyemplung ke dalamnya.
Lantas, apa saja sih yang perlu kamu ketahui dan persiapkan sebelum kamu terjun ke trading saham?
Hal yang Perlu Kamu Perhatikan Sebelum Trading Saham
Bagi sebagian orang, pasar modal memang tempatnya berspekulasi. Namun, spekulasi di pasar modal tidak sama dengan berjudi.
Setidaknya, kamu harus memiliki perbekalan dasar yang didapat dari belajar saham. Pelajari pengetahuan umum pasar modal seperti analisis teknikal, analisis fundamental, dan perencanaan keuangan terlebih dahulu ya, Sobat Cuan!
Nah setelahnya, kamu bisa memperhatikan hal-hal berikut ini sebelum menjajal trading.
Jika kamu berfikir miliarder dan multimilyuner seperti Warren Buffet dan Lo Kheng Hong lahir dalam semalam, kamu salah besar! Mereka sudah memulai petualangannya di dunia investasi sejak kecil, dan karenanya kini mereka punya pengetahuan yang sangat baik tentang pasar.
Cuan di pasar modal tidak seperti pergi ke mesin ATM terdekat lalu menarik uang yang tidak kamu miliki. Sebaliknya, kamu mungkin akan kehilangan dana investasimu jika tidak berhati-hati.
Memahami hal ini berguna agar kamu tak terlalu ngarep dan halu dalam trading. Beberapa trader sangat pede dengan cuan melimpah dari trading saham, sehingga mereka menempatkan seluruh dananya di sana. Padahal, trading saham adalah hal yang berisiko, Sobat Cuan!
2. Perkaya Pengetahuan, Mulai dari Pengetahuan Dasar tentang Saham
Pengetahuan adalah senjatamu di pasar modal. Semakin banyak pengetahuan yang kamu punya, keputusan finansialmu akan semakin bijaksana.
Mungkin, mengikuti saran influencer saham terdengar lebih mudah. Tapi, kamu harus ingat bahwa selera risikomu dan sang influencer pasti berbeda, begitu pun dengan perencanaan keuangan.
Pahamilah beberapa hal dasar sebagai berikut:
Metrik finansial dan definisinya, seperti return on investment, earning per share, market cap, price to earning ratio dan sebagainya.
Aturan dasar trading saham seperti auto reject atas (ARA), auto reject bawah (ARB), terminologi market, fitur dalam aplokasi trading, kepatuhan dan sebagainya.
Pengetahuan umum soal ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, defisit fiskal, harga minyak, dan nilai tukar.
Kamu tidak boleh trading dengan uang belanja bulananmu, atau uang bayaran sekolah anakmu. Pastikan dulu kebutuhan dasarmu terpenuhi berikut dengan cadangan dana darurat.
Ini adalah prinsip dasar yang harus kamu pegang tidak peduli betapapun menggiurkannya untuk berspekulasi lebih banyak. Jangan gunakan uang yang harus kamu pakai dalam waktu dekat sebab itu akan mempengaruhi psikismu.
Selanjutnya, kenali toleransi risiko kamu. Seberapa banyak jumlah yang bisa kamu toleransi jika hilang dalam semalam.
Kamu juga harus punya beberapa pos investasi lainnya selain saham. Cobalah untuk mendiversifikasi portofolio investasimu berdasarkan tujuan dan risikonya. Lalu, putuskan berapa besar porsi dana investasimu yang siap kamu pertaruhkan di pasar modal.
4. Jangan Berutang untuk Belajar Saham
Sekuritas maupun bank bisa saja kamu jadikan sumber danamu saat berinvestasi di pasar modal, tapi hal ini sangat tidak disarankan. Belum tentu kan saham pilihanmu betul-betul bullish?
Sebagai pemula, kamu harus bermain aman. Sebab, bila analisismu meleset dan kamu kehilangan dana investasi yang didapat dari berutang, kamu bukan hanya harus mengembalikannya. Kamu juga harus membayar bunga utang yang mungkin akan berlipat lagi. Intinya, berutang untuk trading saham adalah hal yang bahaya!
Berutang atau leverage ini bisa jadi pilihan nanti saat pengetahuan dan keterampilanmu sudah meningkat. Untuk saat ini, pastikan dulu bahwa fokusmu adalah meningkatkan kapasitas diri. Bukan menambah jumlah utang, oke?
5. Jangan Ikut-Ikutan!
Bukan hanya influencer, tetapi teman dan kerabat bisa saja membuatmu terpengaruh untuk berinvestasi pada emiten tertentu. Camkan baik-baik bahwa kamu dan orang lain pasti punya selera risiko, analisis dan tujuan investasi yang berbeda.
Jangan pakai mentah-mentah saran dari orang lain sebelum kamu menganalisis dengan mapan. Kamu pun tidak disarankan untuk berinvestasi pada emiten yang tidak kamu pahami model bisnisnya, atau skema industrinya.
Tetaplah jadi investor konservatif sampai waktunya tiba.
6. Diversifikasi dengan Proporsional
Jangan taruh semua telur di satu keranjang, tapi juga, jangan sampai keranjangnya terlalu banyak. Buatlah portofolio investasi yang proporsional.
Jika kamu sudah yakin untuk membeli beberapa lot saham, kamu juga harus membatasi jumlah emiten. Jangan sampai kamu memilih terlalu banyak, tetapi juga jangan sampai terlalu sedikit. Kamu perlu banyak belajar kan?
7. Trader Harian Bukan untuk Pemula yang Awam
Banyak investor tampak santai saja menjadi trader harian meski harus cut loss saat pasar ambruk. Namun, kamu harus tau bahwa mereka punya pengalaman dan jam terbang yang lebih banyak dari kamu yang masih awam.
Menerapkan disiplin waktu pada pasar yang volatile dan tidak tertebak bukanlah tugas pemula yang awam. Saat masih belajar, lebih bijaksana jika kamu mengikuti alur pasar dan ambil untung saat waktunya datang. Ketimbang tergesa-gesa membeli dan menjual dalam tempo yang kamu tetapkan sendiri dengan pengetahuan yang masih terbatas.
Trader pemula maupun pakar akan selalu kalah bertarung di pasar modal jika tidak berhasil mengelola emosinya. Bagaimanapun, fluktuasi pasar dan dinamikanya akan memprovokasi emosi kamu. Saran terbaiknya adalah, jangan ikuti.
Kamu harus tetap logis dan realistis saat mengambil keputusan finansial. Emosi adalah musuh utama yang harus kamu kendalikan.
9. Kelola Ekspektasi
Melihat emiten beroleh cuan 50% dalam sehari pasti membuatmu berekspektasi jauh. Kamu tidak salah, bisa jadi kamu sedang bernasib baik hari ini.
Namun yang terpenting adalah mengelola ekspektasi kamu. Sebab sebagaimana kamu mungkin akan untung besar hari ini, kamu juga sangat mungkin akan rugi besar hari ini.
Mengelola ekspektasi juga penting dilakukan agar analisamu tidak meleset. Meski kamu mengira emiten yang kamu pegang masih kuat nanjak, namun pastikan bahwa perkiraan kamu berdasar pada analisis yang tepat. Alih-alih ekspektasi yang ketinggian.
Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!
Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!
Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!
Sobat Cuan sudah memahami macam-macam konsep diversifikasi di artikel sebelumnya. Namun, di antara semua konsep yang ada, konsep diversifikasi berdasarkan kelas aset terbilang paling mudah untuk dijalankan investor pemula.
Nah, dalam konteks tersebut, investor sejatinya bisa menyusun strategi diversifikasi di dalam portofolionya berdasarkan empat kelas aset utama seperti berikut!
4 Kelas Aset Pembentuk Diversifikasi
1. Saham dan Aset Kripto
Saham dan aset kripto menjadi pilihan utama bagi mereka yang memiliki gaya investasi agresif. Kedua kelas aset ini memiliki kesempatan bagi investor untuk memberikan return yang fantastis dalam jangka waktu panjang. Sehingga, investor yang memang mengincar cuan jumbo ada baiknya menitikberatkan portofolionya di kedua aset tersebut.
Hanya saja, Sobat Cuan patut menyadari bahwa kesempatan keuntungan yang tinggi pasti disertai risiko yang sama-sama besar. Hal ini pun sesuai konsep umum yang terkenal di dunia investasi, yakni high risk high return. Makanya, investor wajib melancarkan penilaian dan analisis yang teliti sebelum benar-benar memfokuskan portofolionya di aset-aset berisiko tersebut.
2. Obligasi
Obligasi adalah instrumen surat utang dan memiliki imbal hasil rutin dalam bentuk kupon. Karakteristik ini menjadikan obligasi memiliki risiko volatilitas yang lebih rendah dibanding dua aset berisiko yang telah dijabarkan sebelumnya, yakni saham dan aset kripto.
Oleh karenanya, investor dapat menggunakan obligasi sebagai bantalan untuk mencegah portofolio sang investor dari fluktuasi harga aset kripto dan saham yang tak terduga.
Tapi, investor umumnya memanfaatkan instrumen ini hanya demi meminimalisasi risiko saja, bukan sebagai motor penggerak cuan yang paling utama. Pasalnya, investasi surat utang dianggap tidak memberikan imbal hasil yang fantastis.
3. Reksa Dana
Reksa Dana adalah “wadah” yang diciptakan manajer investasi untuk menghimpun dana masyarakat untuk kemudian diinvestasikan ke dalam instrumen seperti saham, obligasi, dan instrumen pasar uang. Nah, karena seluruh koleksi aset di dalam sebuah reksa dana sudah dikurasi oleh manajer investasi, maka investor sepatutnya tak perlu khawatir dengan risiko yang muncul dari produk investasi satu ini. Apalagi, manajer investasi tentu sudah memiliki penilaian tersendiri mengenai risiko yang bakal mereka ambil ketika mengelola reksa dana.
Kendati demikian, investasi reksa dana bukan berarti bebas dari risiko. Sebelum menempatkan dana di produk tersebut, investor sebaiknya berkaca kembali pada profil risikonya. Sebab, beberapa reksa dana pun memiliki risiko yang cukup tinggi seperti reksa dana saham.
4. Komoditas
Bagi investor, komoditas adalah kelas aset yang spesial. Pasalnya, mereka menganggap bahwa komoditas adalah pilihan terbaik jika ingin menjaga nilai portofolionya dari kikisan inflasi.
Hal ini bisa terjadi lantaran nilai komoditas pasti akan selalu menanjak antar waktu seiring suplainya yang makin terbatas. Di samping itu, beberapa komoditas pun memiliki keunggulan lain, misalnya tidak mudah mengalami korosi sehingga unsur kemuliaannya saat ini masih akan tetap sama 100 tahun mendatang.
Adapun salah satu komoditas yang dianggap memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas. Makanya, tak heran jika investor kerap menyerbu emas ketika inflasi dirasa akan mengganas atau ketika situasi ekonomi bersifat tidak pasti.
Bagaimana Metode Diversifikasi Kelas Aset yang Terbaik?
Sejatinya, tidak ada cara terbaik bagi investor untuk melakukan diversifikasi melainkan menyesuaikan dengan tingkat profil risikonya. Hal ini pun sesuai dengan riset lembaga perencanaan keuangan Fidelity.
Lembaga tersebut melakukan eksperimen terhadap dua komposisi portofolio yang berbeda. Pada portofolio pertama, sebanyak 60% dialokasikan terhadap saham AS, 25% di saham internasional, dan 15% sisanya ke obligasi. Sementara pada portofolio kedua, Fidelity membagi alokasi asetnya sebesar 49% di saham AS, 21% di saham internasional, 25% di obligasi, dan 5% di investasi jangka pendek.
Hasilnya, portofolio pertama memberikan imbal hasil 9,8% per tahunnya. Sementara itu, portofolio kedua menghasilkan return yang tidak beda jauh, yakni 9%.
Hasil Perbandingan Portofolio Fidelity. Sumber: Fidelity
Eksperimen itu membuktikan bahwa dampak diversifikasi yang optimal sangat tergantung dengan toleransi risiko sang investor dan pilihan kelas aset yang digunakan. Tak lupa, diversifikasi juga harus disesuaikan dengan tujuan investasi sang investor sejak awal. Toh, pada akhirnya, investor akan memetik buah terlepas dari kombinasi diversifikasi yang dipilihnya
Memperkenalkan Pockets, Sarana Diversifikasi Aset Unggulan Pluang
Diversifikasi aset adalah hal yang penting dilakukan investor. Namun, investor pemula mungkin akan kesulitan dalam mencampuradukkan beragam aset-aset di dalam portofolionya. Hal itu bisa terjadi karena sang investor belum memiliki ilmu investasi yang mumpuni atau justru malah keblinger setelah melihat banyaknya ragam pilihan aset yang bisa ia pilih.
Untungnya, investor tidak akan kebingungan lagi dalam melakukan diversifikasi jika mereka berinvestasi melalui aplikasi Pluang. Pasalnya, Pluang memiliki fitur bernama Pockets!
Pockets adalah sebuah fitur di mana investor dapat menjadi seorang manajer investasi mandiri. Fitur Pockets memungkinkan Sobat Cuan untuk berinvestasi di satu koleksi aset tertentu yang sesuai dengan keinginan dan selera risikomu. Dengan kata lain, hanya dengan menaruh uang sekali saja, maka kamu bisa memiliki beragam aset di waktu bersamaan!
Di samping itu, fitur ini juga memungkinkan Sobat Cuan untuk meminimalisasi risiko investasi dengan berinvestasi langsung di beragam aset secara sekaligus. Sehingga, kamu tak akan merugi terlalu dalam jika kinerja salah satu aset kelolaanmu tengah melandai.
Menariknya, seluruh koleksi aset tersebut dikurasi langsung oleh tim Pluang. Sebagai contoh, jika kamu ingin berinvestasi di saham sektor teknologi top AS namun bingung dalam memilih saham jagoanmu, maka kamu bisa berinvestasi di Pockets yang berisikan saham-saham raksasa teknologi di Pluang hanya dengan menaruh uang sekali saja! Seru sekali, bukan?
Tak hanya itu, kamu juga berkesempatan menciptakan Pockets versimu sendiri yang berisikan kumpulan saham AS pilihanmu.
Bagaimana Cara Menggunakan Fitur Pockets?
1. Cara Berinvestasi di Koleksi Aset Pilihan Pluang
Untuk berinvestasi anti ribet melalui fitur Pockets, Sobat Cuan tinggal mengklik ikon Pockets di halaman utama (homepage) aplikasi Pluang.
Selain itu, kamu juga bisa menemukan fitur tersebut dengan mengklik tombol search di menu halaman utama. Setelah itu, kamu tinggal memilih koleksi aset di dalam sejumlah Pockets yang telah disusun Pluang. Dari situ, kamu bisa mengincar koleksi aset yang sesuai dengan tujuanmu dalam berinvestasi.
Contohnya, kamu bisa memilih Pockets yang berisi saham-saham perusahaan yang rajin membagikan dividen jika kamu ingin mengincar pendapatan rutin. Namun, di sisi lain, kamu juga bisa menempatkan dana di Pockets yang memuat saham-saham growth stocks jika mengincar pertumbuhan yang tinggi.
Agar kamu tak penasaran, yuk simak beberapa jenis Pockets yang telah disusun tim Pluang di aplikasi Pluang berikut ini!
1. Hello, California!
Pockets ini berisikan saham perusahaan FAANG yang memimpin sektor teknologi di dunia. Dengan kata lain, kamu bisa membeli saham Meta Platforms ($META), Apple ($AAPL), Amazon ($AMZN), Alphabet atau Google ($GOOG) dan Netflix ($NFLX) secara sekaligus hanya dengan menempatkan uang sekali saja.
Produk ini pun dianggap cocok untuk kalian yang ingin memiliki eksposur di perusahaan teknologi tanpa kesulitan cap cip cup dalam menentukan saham perusahaan mana yang harus digenggam.
2. The Tech Giants
Sedikit berbeda dengan Hello, California!, The Tech Giants berisikan saham-saham teknologi AS yang berfokuskan untuk menyokong transformasi digital di dunia. Perusahaan yang terlibat dalam Pockets The Tech Giants antara lain Adobe ($ADBE), Intel ($INTC), Microsoft ($MSFT) dan Nvidia ($NVDA).
3. The Kings of Wall Street
Untuk pilihan yang lebih konservatif, Pluang menyediakan The Kings of Wall Street yang beranggotakan saham-saham perusahaan jasa keuangan global seperti Visa ($V) dan JP Morgan Chase & Co ($JPM).
4. The Scene Stealers
Jika kamu mempercayai bahwa dunia media dapat terus berkembang kedepannya, kamu dapat berinvestasi di The Scene Stealers yang berisi saham Disney ($DIS), Spotify ($SPOT), dan AMC Entertainment Holdings ($AMC). Selain itu, saham perusahaan telekomunikasi, yang selama ini dianggap penyokong sektor media seperti AT&T ($T) termasuk ke dalam Pockets ini.
5. The Big Bites
Pockets ini berisikan perusahaan penyedia makanan dan minuman yang mendominasi pasar dan memiliki karakteristik saham defensif. Oleh karenanya, pilihan Pockets ini cocok dipilih oleh investor yang cenderung pesimistis dengan pertumbuhan ekonomi. Adapun saham perusahaan yang termasuk dalam Pockets ini di antaranya adalah McDonald’s ($MCD), Coca-Cola ($KO) dan Starbucks ($SBUX).
2. Cara Berinvestasi di Fitur Pockets Menggunakan Kurasi Aset Mandiri
Berinvestasi di Pockets pilihan Pluang adalah pilihan jitu bagi investor pemula. Namun, fitur ini pun tak terbatas bagi investor awam saja. Sebab, mereka yang sudah mahir dalam investasi juga bisa mengurasi koleksi asetnya secara mandiri melalui fitur Pockets.
Sebagai contoh, investor A berinvestasi rutin di aplikasi Pluang dengan membeli saham Alibaba ($BABA), Apple ($AAPL) dan Exxon Mobil ($XOM) setiap bulannya. Dengan fitur Pockets, investor A dapat membuat “Investor A Pockets” yang beranggotakan saham-saham tersebut.
Selain itu, melalui fitur Pockets, kamu tidak hanya bisa mengatur jenis-jenis saham yang ingin digenggam namun juga bisa mengatur pembobotan masing-masing saham di dalam portofoliomu yang sesuai dengan modal awal yang kamu miliki.
Sebagai contoh, Investor A berencana berinvestasi rutin sebesar US$500 setiap bulannya yang akan dialokasikan ke tiga saham. Akhirnya, investor A pun memilih mengalokasikan 40% saham dana tersebut ke saham Apple sebesar 40%, saham Alibaba sebesar 30%, dan saham ExxonMobil sebesar 30%.
Namun, investor A merasa kesulitan untuk mengalokasikan dana tersebut ke masing-masing saham sesuai porsi yang ia inginkan secara manual. Nah, dalam hal ini, sang investor bisa mengalokasikan dana tersebut ke fitur Pockets agar pembobotannya bisa dilakukan oleh Pluang secara otomatis.
Selain memudahkan proses pembobotan alokasi aset, fitur Pockets juga memudahkan investor untuk menghitung performa Pockets yang telah ia ciptakan. Agar lebih mudah dicerna, yuk simak ilustrasi di bawah ini!
Pada 1 Maret 2023, Investor A telah menaruh US$500 pada “Investor Pockets A”. Lima hari setelahnya, atau 6 Maret 2023, nilai saham $BABA dan $XOM berhasil naik 2%. Sayangnya, saham $AAPL justru terkoreksi sebesar 1%.
Dengan kata lain, total nilai “Investor Pockets A” berhasil meningkat sebesar US$6 akibat performa apik $BABA dan $XOM. Hanya saja, nilai Pockets-nya justru terbebani dengan kinerja payah $AAPL sebesar US$2. Alhasil, secara keseluruhan, performa “Investor Pockets A” berhasil bertumbuh sebesar 0,8% atau US$4.
Bagaimana, Sobat Cuan? Fitur Pockets terlihat seru, bukan? Yuk, nikmati serunya diversifikasi aset menggunakan fitur Pockets!