Category Archives: Pluang

Ini Jenis Uang yang Tak Boleh Digunakan Demi Trading Kripto!

Tips investasi paling dasar yang harus kamu pahami adalah memilah dana saat akan berinvestasi. Jangan sampai uang panasmu bikin investment goal kamu jadi berantakan ya, Sobat Cuan! Seperti yang diperlihatkan oleh unggahan viral beberapa waktu lalu.

Belakangan ini, video tiktok yang diunggah akun @vnd_putra ramai diperbincangkan warganet. Video itu menampilkan teman kantor sang tiktokers yang sedang frustasi lantaran batal kawin setelah rugi puluhan juta di pasar kripto.

@vnd_putraAda saran gak ? 😢 ##fyp ##foryoupage ##fypシ ##trending ##viral♬ tulus_andai aku bisa – panyaaa

Fluktuasi pasar kripto yang tidak diiringi persiapan mumpuni kini memakan korban baru lagi. Sontak warganet yang merasa relate dengan sang teman membanjiri kolom komentar.

Lantas, siapa sih yang harus disalahkan saat hal seperti ini terjadi? Salah fluktuasi aset kriptonya? Atau salah sang trader yang menggunakan uang pernikahannya?

Ketahui Bahwa Pasar Aset Kripto Penuh Gejolak

Sobat Cuan perlu memahami bahwa kondisi pasar aset kripto memang tidak bisa ditebak. Kadang kamu bisa untung dalam semalam, namun kamu juga bisa buntung dalam sekejap.

Makanya, jika kamu berencana trading di pasar satu ini, pastikan bahwa uang yang kamu gunakan adalah uang “dingin”. Alias, uang yang memang kamu sisihkan untuk trading atau investasi. Jangan sampai kamu menggunakan pos belanja rutin atau hal serupa hanya demi merangsek ke aktivitas berisiko seperti trading kripto.

Hanya saja, kadang trader pemula, apalagi yang memang terbilang awam dalam urusan perencanaan keuangan, sulit membedakan uang dingin dengan alokasi uang lainnya.

Nah, agar nasib Sobat Cuan tidak berakhir seperti unggahan di atas, yuk kenali uang seperti apa sih yang tidak boleh kamu pakai berinvestasi.

Baca juga: Biar Gaji Jakarta Gak Ambyar, Simak 10 Cara Tekan Biaya Hidup di Jakarta!

Tips Investasi: Jenis-Jenis Uang yang Tak Boleh Kamu Gunakan Untuk Trading Kripto

1. Dana Kebutuhan Sehari-hari

Tagihan listrik, biaya telekomunikasi, bajet kebutuhan pokok, uang bulanan sekolah anak hingga bajet bensin adalah kebutuhan sehari-hari yang wajib kamu sediakan untuk bertahan hidup.

Nah, karena fungsinya adalah untuk membantumu hidup, maka kamu harus pantang menggunakan uang jenis ini untuk trading atau investasi berisiko!

Kamu harus memastikan dulu kehidupanmu dan keluarga tercukupi dengan baik. Jangan sampai investasi yang menempati urutan ketiga dalam piramida perencanaan keuangan mengalahkan ketercukupan dana harian.

Meski pasar sedang menjanjikan dan sepertinya tebakanmu jitu, namun mengorbankan kepentingan keluarga tetap bukan hal yang bijaksana ya, Sobat Cuan!

2. Dana Darurat

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana darurat wajib kamu sisihkan untuk kejadian tidak terduga seperti kecelakaan, kerusakan rumah, dan pemutusan hubungan kerja (PHK). Namanya juga dana darurat, maka uang ini harus kamu gunakan di saat darurat saja!

Alasannya, gampang saja, Sobat Cuan. Kita tidak bisa meramal masa depan, sehingga ketika terdesak, kamu tidak perlu lagi kebingungan mencari dana segar. Kamu bisa hidup tenang dan terjamin tanpa khawatir tidak punya uang saat mepet.

Baca juga: Panduan Cara Menggunakan RSI Untuk Trading Crypto Bagi Pemula

Masih menurut OJK, kamu harus punya dana darurat sebesar tiga hingga enam bulan kali gaji di rekening dana daruratmu jika kamu belum berkeluarga. Sementara, kamu bisa mencadangkannya dua kali lipat lebih banyak jika sudah berkeluarga.

Jumlahnya tentu terdengar besar dan menggiurkan untuk ditaruh dalam instrumen investasi. Tapi, tidak ada seorang pun yang bisa menebak masa depan, bukan?

3. Utang

Ini tips investasi yang terpenting, Sobat Cuan. Jangan sampai kamu trading atau investasi dengan berutang ke bank, apalagi ke pinjol!

Penjelasan mudahnya seperti ini. Masa depan dan imbal hasil trading-mu adalah sesuatu yang tidak pasti. Bisa jadi kamu buntung berhari-hari, atau berminggu-minggu lamanya.

Sementara itu, mengembalikan utang ke bank adalah sesuatu yang pasti. Kamu pasti diwajibkan membayar bunga per bulan dan mengembalikannya dalam jangka waktu tertentu. Mending kalau trading kamu berhasil dan cuan besar, bagaimana kalau kamu merugi terus? Untung tak didapat, tapi malah terlilit utang.

Selain itu, beberapa perencana keuangan menyebut bahwa utang harus digunakan untuk keperluan produktif dan ekonomi sektor riil. Sehingga, cuan dari kegiatan produktifmu bisa digunakan untuk membayar utang plus ekspansi usahamu menjadi lebih besar!

Agar Trading dan Investasi Tak Menjadi Mimpi Buruk

Nah, setelah mengetahui uang-uang yang tidak boleh kamu gunakan dalam trading dan investasi, kini saatnya kamu mengetahui rambu-rambu agar kondisi keuangan kamu mampu menahan pesatnya volatilitas pasar kripto.

1. Lunasi Utang, Jangan Malah Berhutang

Sebelum melakukan investasi, idealnya kamu sudah melunasi seluruh utang yang kamu punya. Jika utang tersebut masih harus dicicil beberapa bulan lagi, pastikan juga cicilannya masuk dalam bajet utama kamu sebelum disisihkan untuk investasi.

Tentu saja kamu sangat tidak disarankan untuk berhutang demi membeli koin kripto yang sedang murah, atau emiten yang lagi diskon. Apalagi kalau kamu meminjam dari bank yang akan mengenakan margin pada dana yang akan dipakai berspekulasi itu.

Ingat, volatilitas market mustahil dipastikan. Meski kamu merasa sudah menganalisis dengan baik, pergerakannya sangat mungkin meleset dari tebakanmu. Jangan bertaruh dengan dana yang harus kamu bayar mahal di kemudian hari.

2. Tips Investasi Terpenting: Budgeting

Saat notifikasi gaji atau invoice kamu masuk, budgeting adalah hal pertama yang harus kamu lakukan sebelum merasa jadi sultan. Apa sih budgeting?

Senator Amerika Elizabeth Warren pernah menerbitkan buku berjudul All Your Worth: The Ultimate Money Plan. Dalam bukunya dia membagikan strateginya memilah pos pengeluaran berdasarkan kebutuhan.

Metode Warren dikenal dengan 50/30/20. Maksudnya, dari total pendapatan setelah pajak yang diterima, dia mengalokasikan 50% untuk tagihan wajib dan kebutuhan harian. Selain itu, 30% diposkan untuk membiayai hiburan dan keinginan lainnya seperti jalan-jalan, skincare, dinner atau berlangganan netflix dan spotify.

Barulah sisanya yakni 20% dimasukkan ke dalam dana dingin untuk berinvestasi dan menabung. Tidak hanya untuk membeli uang kripto, saham dan instrumen investasi ya, porsi ini juga termasuk dana darurat dan simpanan hari tua.

Metode budgeting lain yang tak kalah populer adalah prinsip pareto. Mirip dengan 50/30/20, pareto juga mengalokasikan 20% pemasukan dalam pos investasi.

Dapat disimpulkan bahwa pos investasi memang sebaiknya hanya 20% dari pemasukan kamu, supaya kamu dapat menikmati hidup dengan baik. Selain itu, berinvestasi juga harus dilakukan dengan uang khusus atau dana dingin.

Baca juga: Ini Alasan HODL & Menabung Kripto Adalah Strategi Jitu Saat Pasar Bearish!

Idle Money, Uang yang Bisa Kamu Pakai Berinvestasi

Dana dingin yang kamu sisihkan sebanyak 20% dari total penghasilan bersih kamu itu masih harus dipilah lagi ya, Sobat Cuan. Tentukan berapa banyak dana darurat yang harus kamu miliki, lalu sisihkan.

Kamu juga harus memilah berdasarkan jangka waktu kapan dana itu akan digunakan. Nah, dana yang berada dalam pos jangka panjang inilah yang disebut dengan uang dingin atau idle money.

Nah, bagaimana Sobat Cuan? Sudah bersiap untuk trading?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: OJK, Jenius, Detik





Sumber : pluang.com

Kapan Saatnya Menggunakan Fitur Pockets?

Waktu adalah yang terpenting dalam dunia investasi. Namun, sebagai seorang investor, mereka kadang sulit menentukan kapan saat yang tepat untuk mulai berinvestasi. 

Padahal, secara teorinya, investasi harus dimulai sedini mungkin agar investor bisa menuai hasilnya dengan optimal di masa depan. Makanya, jika Sobat Cuan tertarik menggunakan fitur Pockets, maka kamu bisa memanfaatkannya kapan saja!

Lagipula, seluruh koleksi aset yang disusun Pluang di dalam Pockets juga telah disesuaikan dengan tingkat profil risiko masing-masing investor. Dengan demikian, tak ada alasan bagi Sobat Cuan untuk menunda menggunakan fitur Pockets.

Lantas, sejauh apa fitur Pockets bisa mengakomodasi profil risiko masing-masing investor? Yuk, simak selengkapnya di sini!

Pockets Berdasarkan Selera Risiko Investor

1. Investor dengan Selera Risiko Tinggi

Jika Sobat Cuan adalah investor bertipe agresif atau memiliki toleransi risiko yang lebih tinggi, maka kamu dapat mempertimbangkan untuk memasukkan seluruh portofolio mereka ke dalam saham AS atau aset kripto. Namun, demi meminimalisasi risikonya, kamu pun dapat memperbanyak porsi saham AS dibandingkan dengan aset kripto. Hal ini dikarenakan saham AS telah berdiri lebih dari 100 tahun sementara usia aset kripto terbilang masih seumur jagung.

Selain itu, Sobat Cuan yang punya profil risiko agresif pun bisa menitikberatkan portofolionya di lini saham growth stocks. Sekadar informasi, pasar modal AS mengenal dua jenis saham, yakni value stocks dan growth stocks. Untuk lebih lengkapnya, Soba Cuan dapat membaca perbedaannya di sini.  

Kecenderungan tipe investor ini kebanyakan adalah investor Gen-Z atau millennial yang umumnya masih merintis usaha atau karier mereka. Kecenderungan tipe investor ini pun yang belum menaruh seluruh aset mereka secara besar dalam portofolio investasi. 

2. Investor dengan Selera Risiko Moderat

Investor dengan selera risiko moderat adalah investor yang berani mengambil risiko lebih kecil dibandingkan high risk tetapi lebih besar jika dibandingkan investor low risk. Tidak ada tolok ukur yang pasti untuk mengukur risiko yang diinginkan. Tetapi, mereka yang bergolongan investor berisiko moderat adalah tipe investor yang tidak terlalu agresif.

Untuk tipe investor ini, kamu dapat menggabungkan proporsional yang seimbang dimulai dari growth stock 25%, value stock 25%, aset kripto 25% dan emas 25%. 

3. Investor dengan Selera Risiko Rendah

Kontradiktif dengan high risk investor, tipe ini lebih mengutamakan keamanan portofolio mereka dibandingkan meraih imbal hasil fantastis. Dengan kata lain, profil investor ini mementingkan volatilitas yang rendah dan kestabilan imbal hasil.

Beberapa aset pilihan dengan volatilitas rendah adalah value stocks atau emas. Namun, dengan memiliki portofolio tipe ini, rata-rata return yang didapatkan setiap tahunnya bisa dibawah 7% per tahun atau hanya untuk menutupi tingkat inflasi yang terus bertumbuh seiring waktu.

Menarik sekali, bukan? Yuk, segera nikmati fitur Pockets di aplikasi Pluang sekarang!

Coba Fitur Pockets di Sini!



Sumber : pluang.com

Sobat Cuan, Simak 3 Tanda Kamu Belum Siap Investasi SP 500!

Indeks S&P 500 merupakan salah satu alternatif investasi yang cocok bagi investor pemula. Dengan 505 perusahaan yang memiliki aset jumbo dan memiliki performa terbaik di Amerika Serikat, membuat tingkat risiko yang ada menjadi terkendali.

Lewat S&P 500 juga, portofolio investasi yang Sobat Cuan miliki menjadi terdiversifikasi secara alami. Karena terdapat 11 sektor industri yang berada di dalam indeks tersebut.

Selain sarana mudah dalam diversifikasi, investasi di indeks S&P 500 cenderung aman karena risikonya lumayan rendah dibandingkan harus berinvestasi di saham tunggal.

Tapi, yang namanya investasi tentu ada faktor “cocok-cocokkan”. Mungkin, investasi di indkes S&P 500 cocok bagi satu orang, namun belum tentu cocok di kamu.

Nah, jika Sobat Cuan memiliki ciri-ciri di bawah ini, tampaknya, kamu masih belum cocok berinvestasi di salah satu indeks terseksi di dunia itu. Jangan artikan bahwa ciri-ciri di bawah ini adalah hal yang bikin kamu harus menghindari indeks S&P 500. Tetapi, kamu harus memenuhi hal-hal ini sebelum berenang di kolam S&P 500!

Baca juga: Sobat Cuan Mau Nyemplung ke Reksadana? Kenali Risikonya Dulu, Yuk!

3 Ciri Kamu Belum Cocok Berinvestasi di Indeks S&P 500

1. Tidak Punya Dana Darurat

Sobat Cuan mungkin paham bahwa investasi di instrumen apapun, baik itu indeks S&P 500, logam mulia, surat utang, bahkan reksa dana, harus menggunakan dana dingin. Artinya, dana yang digunakan bukanlah dana yang menjadi kebutuhan sehari-hari dan bukan juga dana darurat.

Jika Sobat Cuan memilki uang dingin dan tidak memiliki dana darurat, maka kamu perlu mendahulukan dana darurat. Pasalnya, dana darurat merupakan langkah awal untuk menuju kebebasan finansial. Selain itu, dana darurat tentu akan berguna ketika sesuatu yang tak terduga muncul di kemudian hari.

Lalu, bagaimana jika dananya sudah terlanjur dibenamkan dalam instrumen investasi? Mau tidak mau, Sobat Cuan harus menariknya dan menyimpannya di rekening terpisah sebagai dana darurat sampai sekiranya mencapai standar dana darurat pada umumnya, yakni enam kali penghasilan bulananmu.

Nah jika dana darurat sudah terpenuhi dan ada dana segar yang tidak digunakan, Sobat Cuan bisa membenamkannya di Indeks S&P 500 untuk pondasi portofolio investasi.

2. Punya Utang dengan Bunga Tinggi

Sebenarnya, tidak ada aturan yang melarang untuk berinvestasi ketika masih memiliki utang. Tetapi jika Sobat Cuan memiliki utang dengan bunga yang cukup tinggi, lebih baik untuk fokus melunasinya terlebih dahulu.

Pasalnya, investasi di S&P 500 atau instrumen lainnya bergerak dinamis. Tidak ada yang pernah tahu secara pasti kapan pasar akan bergerak positif atau justru terkoreski.

Pun berhasil mendapatkan imbal hasil di indeks S&P 500 dalam setahun, namun jika bunga utang yang didapatkan terlampau tinggi, rasanya masih belum bisa mengkompensasi bunga yang harus dibayarkan.

Beberapa utang yang kerap membebani adalah utang kartu kredit dan juga kredit tanpa agunan (KTA). Nah, makanya, kamu harus melunasi utang-utang itu sebelum berinvestasi di indeks S&P 500.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk melunasi utang dengan bunga tinggi. Pertama, pisahkan mana utang yang memiliki bunga paling rendah dan paling tinggi. Kemudian lakukan pembayaran minimum untuk sementara pada utang berbunga rendah dan tumpuk semua dana yang dialokasikan untuk utang pada utang yang memiliki bunga paling tinggi.

Sobat Cuan bisa terus melakukannya sampai semua utang terbayarkan.

Baca juga: Simak 3 Alasan Kenapa Investor Pemula Harus Masuk ke Indeks S&P 500

3. Sudah Banyak Melakukan Investasi di Saham

Melakukan investasi saham, khususnya dalam indeks S&P 500, memang mampu memberikan imbal hasil yang menarik dalam jangka panjang. Namun, Sobat Cuan juga harus siap menghadapi gejolak harga yang terjadi dalam jangka pendek.

Nah, saat-saat seperti ini akan berbahaya jika kamu juga punya instrumen saham lainnya. Sebab, kamu akan terpapar risiko pasar saham lebih besar, sehingga ada baiknya kamu mengalihkan investasimu di saham ke kelas aset lainnya.

Sobat Cuan bisa menimbang opsi untuk membeli obligasi alias surat utang atau jenis instrumen investasi lainnya yang tidak memberikan imbal hasil setinggi saham, namun stabil secara keuntungan. Intinya, diversifikasi portofolio investasi tetap penting untuk memaksimalkan cuan dan mengelola risiko investasimu!

Ada rumus untuk menghitung idealnya porsi investasi. Yakni 110 dikurangi dengan usia Sobat cuan sekarang. Misalnya, jika saat ini usia kamu adalah 30 tahun, maka nilainya akan menjadi 80. Artinya, 80% dari tabungan diinvestasikan ke indeks S&P 500 dan 20% tersisa dimasukkan dalam instrumen obligasi.

Dengan begitu, Sobat Cuan bisa mendapatkan lebih banyak tabungan dari imbal hasil obligasi yang diberikan dalam jangka pendek.

Meskipun begitu, perlu dipahami bahwa tidak ada investasi yang bebas risiko. Obligasi pun tetap memiliki risiko, namun memilki tingkatan lebih rendah dan aman bagi yang membutuhkan uang dengan cepat.

Nah, kalau Sobat Cuan sudah menyelesaikan permasalahan di atas, maka yang kamu perlu lakukan adalah tinggal berinvestasi di indeks S&P 500 di aplikasi Pluang! Di Pluang, kamu bisa mengakses 500 perusahaan top Amerika Serikat ini hanya dalam satu genggaman saja, lho.

Yuk, investasi sekarang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: The Motley Fool



Sumber : pluang.com

Apa Itu Day Trade Leverage dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Time Frame Trading

Setiap individu tentunya memiliki tujuan berinvestasi yang berbeda. Alhasil, tujuan ini akan berpengaruh terhadap durasi waktu seorang investor dalam berinvestasi. Secara umum, terbagi beberapa durasi waktu yakni: 

  1. Long Term Investment: Investasi dalam bentuk jangka panjang, biasanya berdurasi lebih dari 10 tahun. Tipe investasi seperti ini mengharuskan seorang investor untuk menerima resiko untuk menimba hasil investasi yang besar. Selain itu, diperlukan juga kesabaran untuk menunggu hasil investasi tersebut berbuah. Namun, perlu diingat bahwa investasi jangka panjang lebih menguntungkan jika kita memiliki dana yang cukup besar agar hasil penungguan tersebut sepadan. 

  2. Mid/Medium Term Investment: Investasi dalam bentuk jangka waktu menengah, biasanya berdurasi 2-10 tahun. Tipe investasi ini sangatlah cocok untuk aset seperti saham, reksadana maupun aset investasi yang memiliki risiko menengah.

  3. Short Term Investment: Investasi jangka pendek memakan waktu dari hitungan hari sampai kurang dari 2 tahun. Ciri-ciri investasi jangka pendek adalah instrumen yang memiliki return tinggi dan mudah dikonversi menjadi kas. Biasanya, investasi tipe jangka pendek cocok dengan instrumen saham maupun aset kripto. Hal ini dikarenakan volatilitas yang cukup tinggi sehingga dapat memberikan return yang maksimal bagi investornya.

Gaya investasi mana yang lebih menguntungkan?

Sejatinya, semua gaya investasi memiliki keuntungan dan kelebihan masing-masing. 

Jika kalian tidak memiliki waktu yang banyak dalam menganalisa dan memiliki dana yang jumbo, tentu investasi dalam jangka waktu menengah atau panjang adalah pilihan yang tepat. Modal tentunya memiliki peranan penting dalam berinvestasi karena keuntungan dalam berinvestasi berbentuk persentase. Mengutip dari Fidelity, keuntungan dalam berinvestasi di pasar saham secara tahunan berada di 13,8%. Jika kalian memiliki modal hanya Rp1 Juta, maka akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp138 ribu dalam waktu satu tahun jika berinvestasi di pasar modal. Berbeda dengan seorang investor yang memiliki dana Rp100 Juta untuk berinvestasi, dirinya dapat meraup Rp13,8 Juta dalam waktu 1 tahun.

Lantas, jika kamu adalah seseorang yang aktif dalam dunia investasi, short term investment akan lebih menguntungkan. Hal ini dikarenakan seorang short term investor dapat memanfaatkan setiap momentum yang ada dan lebih mengutamakan analisis teknikal. Sejatinya, berinvestasi dalam jangka waktu pendek memiliki risiko yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan psikologi seorang investor turut mengambil alih dalam mengambil keputusan. Mengutip dari Balancemoney, rata-rata day trader yang sukses akan meraup 20% dalam sebulan. Jika kamu memiliki Rp1 Juta, makan dalam bulan depan akan mengantongi Rp1,2 Juta. Lantas, jika memang trader tersebut dapat konsisten setiap bulannya, dan tidak menarik uangnya alias compounding, maka investasi yang dari Rp1 Juta tersebut akan menjadi Rp8,9 Juta dalam 1 tahun.

Bagaimana cara memaksimalkan keuntungan dalam investasi jangka pendek?

Dengan durasi yang cenderung pendek, Sobat Cuan dapat memaksimalkan trading dengan cara menggunakan dana yang lebih besar untuk menggaet persentase keuntungan kecil. Sebagai informasi, rata-rata pergerakan indeks saham AS seperti S&P500 di 1% per hari nya. Dengan 20 hari kerja dan persentase kenaikan indeks di 50% dan seorang investor tersebut dapat mengambil potensi keuntungan sebesar 10% dalam 1 bulan. Jika berkaca pada rata-rata keuntungan day trader dari survey Balancemoney di 20% per bulan, tentu saja trader tersebut memakai fasilitas leverage. 

Saat ini, Pluang baru saja mengeluarkan fitur Day Trade leverage dimana membantu Sobat Cuan untuk meraup keuntungan lebih besar daripada fitur leverage biasa. Perbedaan utama dari fitur leverage biasa sendiri adalah opsi kelipatan leverage yang biasanya di 2x menjadi 4x. Hanya saja, perbedaan lainnya adalah pengguna tidak dapat memegang posisi nya lebih dari 1 hari perdagangan.

Bagaimana Cara Kerja Day Trade leverage?

Sebelum Sobat Cuan memulai perdagangan Day Trade leverage, Sobat Cuan wajib membayar 25% dari margin yang dimiliki atau yang dikenal sebagai 4x leverage. Sebagai contoh, saham ABC diperdagangkan di US$100/saham dan Sobat Cuan ingin membeli 1 lembar saham ABC. Dalam menggunakan fitur Day Trade leverage, Sobat Cuan hanya memerlukan US$25 sebagai initial margin.

Margin adalah elemen terpenting dalam menggunakan leverage dimana jika margin Sobat Cuan jatuh ke level 70%, maka akan terjadinya event margin call. Lantas, jika margin tersebut jatuh ke 30%, posisi Sobat Cuan akan otomatis dilikuidasi oleh sistem. Untuk lebih mudahnya, yuk simak ilustrasi berikut!

Ilustrasi dibawah menggambarkan jika Sobat Cuan memiliki US$30 pada akun USD Margin dan ingin membeli 1 lembar saham ABC dengan 4x Leverage.

Leverage day trade

Risiko Menggunakan Day Trade Leverage

Meskipun penggunaan Day Trade leverage tampak menguntungkan, Sobat Cuan tetap harus mempertimbangkan segala risiko yang ada dalam penggunaan fitur ini. Yuk, simak beberapa risiko yang harus siap kalian hadapi sebelum menggunakan fitur Day Trade leverage! 

1. Meningkatkan probabilitas kerugian dalam persentase besar

Meskipun penggunaan fitur leverage ini dapat melipatgandakan keuntungan, fitur ini juga dapat meningkatkan tingkat kerugian kalian. Jika rencana trading kalian tidak sesuai ekspektasi atau trading plan di awal, kekalahan ini dapat membawa kerugian sampai terlikuidasi. Alhasil, trader harus siap atas kerugian ini. Agar tidak sampai terlikuidasi, Sobat Cuan dapat mengatasinya dengan menentukan level Stop loss dan Take Profit sebelum mengeksekusi saham pilihannya.

2. Margin Call dan Force Liquidation

Day Trade leverage mengharuskan Sobat Cuan untuk memaintain 70% dari ekuitas pada akun USD Margin agar tidak terjadi margin call. Jika posisi Sobat Cuan tidak sesuai dengan trading plan di awal, maka dapat menyebabkan penurunan yang cukup drastis atas margin level yang dimiliki. Alhasil, Sobat Cuan harus melakukan top up atau menutup posisi sebelum terjadi Force liquidation.

3. Batasan Waktu

Risiko utama dalam trading harian tentunya adalah waktu. Hal ini dikarenakan seorang trader harus memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan dan eksekusi secara cepat. Selain itu, tekanan pada psikologi trader akan diuji saat trading harian dimana akan meningkatkan tekanan yang merujuk ke sifat impulsif. 



Sumber : pluang.com

5 Alasan Mengapa Prospek Binance Coin Akan Cerah di Masa Depan

Sobat Cuan pecinta aset kripto mungkin sudah paham ada salah satu cryptocurrency yang naik daun banget saat altcoin season tahun ini. Ya, aset kripto tersebut adalah Binance Coin atau ngetop disebut BNB.

Koin ini sempat menjadi buah bibir lantaran kenaikan nilai tajam mencapai 67% dalam sehari. Dan sejak diluncurkan 2017 silam, pertumbuhan nilai Binance Coin pun lumayan moncer. Yakni, dari US$0,1 per keping menjadi US$300 per keping dalam kurun empat tahun saja.

Nah, kenapa sih, pergerakan harga BNB cukup kencang? Dan kenapa kini BNB menjadi salah satu aset kripto paling populer di pasar?

Tentu saja, penyebab utamanya adalah nilai guna koinnya, Sobat Cuan. Likuiditas BNB sangat kencang lantaran memang menjadi token resmi di serangkaian platform yang dimotori oleh empunya, yakni platform exchange kripto Binance.

Selain itu, koin ini juga digunakan di dalam aktivitas ribuan aplikasi yang berada di ekosistem Binance Smart Chain. Yakni, sebuah ekosistem di mana pengembang bisa mengembangkan aplikasinya di atas sistem blockchain milik Binance.

Nah, dengan nilai guna serta pertumbuhan nilai yang mumpuni, tak heran jika kini Binance Coin adalah salah satu koin digital paling populer. Selain itu, prospek koin BNB pun diramal akan terus cerah, lho. Apa alasannya?

5 Alasan Prospek Binance Coin Akan Tetap Tokcer

1. Binance Coin adalah Salah Satu Token Utilitas Terbaik

Seperti yang disebutkan di atas, BNB bisa digunakan untuk berbagai macam aktivitas seperti trading dan membayar ongkos transaksi di platform Binance

Namun, selain itu, BNB ternyata juga bisa digunakan di luar ekosistem Binance. Misalnya, membayar tagihan kartu kredit, membayar belanja daring, membayar ongkos traveling, hingga transfer antar aset kripto. Bahkan, beberapa aplikasi pun menawarkan fitur split bill, di mana penggunananya bisa membayar dengan Binance Coin.

Baca juga: Beragam Cara Lindung Nilai Aset Kripto di Saat Harga ‘Ambyar’

2. Suplai Koin Berkurang Sehingga Harga BNB Tak Akan Longsor

Binance Coin hanya berjumlah 200 juta token di dunia ini. Namun uniknya, Binance punya rencana untuk menggunakan 20% dari profit BNB untuk membeli kembali token-token Binance Coin sampai jumlah BNB yang tersisa mencapai 50% dari total suplai yang beredar. Proses itu pun kemudian dikenal sebagai “burning”.

Setelah burning selesai, maka nantinya hanya akan ada 100 juta koin yang tersirkulasi di pasar kripto. Hal ini dilakukan Binance untuk menstabilkan harga BNB sehingga tidak anjlok ke depan.

Nah, sesuai hukum ekonomi, maka minimnya suplai tentu akan mengarah ke kenaikan harga barang tersebut. Melihat kondisi ini, apakah Sobat Cuan tak tertarik memiliki BNB?

3. Mendapatkan Diskon di Platform Binance

Salah satu alasan harga BNB naik adalah permintaan yang tokcer dari 14 juta pengguna Binance. Alasannya, karena pengguna bisa mendapatkan diskon biaya transaksi di platform Binance jika membayar menggunakan BNB.

Cara ini dianggap cerdik untuk mengembangkan komunitas pecinta BNB. Selain itu, cara ini pun bisa meningkatkan permintaan BNB, yang nantinya juga bisa mendongkrak harga aset kripto satu ini.

Baca juga: Lagi Rame Investasi Kripto Bodong. Bagaimana Cara Memilih Platform Kripto yang Tepat?

4. Binance Coin adalah Salah Satu Aset Kripto Populer

Saat ini, nilai kapitalisasi pasar Binance Coin mencapai US$46,2 miliar dan menempati posisi keempat aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar. Hal itu terjadi bukan saja karena nilai guna BNB yang mumpuni, namun juga popularitas Binance yang juga oke.

Kepopuleran Binance justru bisa membuka gerbang yang luas bagi adopsi BNB ke publik. Selain itu, ngetopnya nama Binance juga bikin perusahaan lain mau menggunakan BNB sebagai alat transaksinya. Salah satunya adalah platform video hiburan Uplive.

5. Sirkulasi yang Kencang

Seperti yang disebutkan di atas, Binance meminta penggunanya untuk membayar biaya transaksi di platform tersebut dalam bentuk BNB. Namun, nilai ongkos transaksinya cukup kecil, yakni hanya 0,1% dari nilai total transaksi yang dilakukan user.

Akibatnya, pengguna Binance bisa menjadi leluasa dan jadi “rajin” bertransaksi di platform Binance. Bahkan, kini Binance bisa mengakomodasi transaksi sebesar 1,4 juta transaksi per detik.

Nah, sirkulasi yang kencang ini digadang-gadang menjadi satu hal yang bikin BNB tidak akan ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.

Jadi bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu sudah siap menggenggam Binance Coin? Yuk, nantikan kehadiran BNB di aplikasi Pluang!

Baca juga: Di Tengah Gempuran Investasi Viral, Kenapa Kamu Masih Perlu Punya Emas?

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Trading Education



Sumber : pluang.com

Memahami Fitur USD Yield

Apa itu Investasi

Investasi adalah kegiatan menempatkan dana di sebuah “benda” yang disebut dengan aset dengan harapan bahwa nilainya akan terus naik di masa depan. 

Kegiatan investasi sendiri bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dari perubahan nilai aset tersebut, atau biasa disebut capital gain. Namun, selain itu, pelakunya juga bisa mendapatkan keuntungan investasi dalam bentuk imbal hasil (yield atau return).

Apa Pentingnya Investasi?

1. Mencapai Tujuan Finansial

Terdapat stigma umum di masyarakat bahwa investasi hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berkantong tebal atau ahli dalam bidang finansial. Maklum, selama ini, investasi memang selalu dikaitkan sebagai aktivitas yang membutuhkan modal jumbo, waktu yang panjang, dan pengetahuan finansial yang mumpuni.

Namun, anggapan tersebut terbilang keliru, Sobat Cuan. Pasalnya, setiap orang, terlepas dari status ekonominya, tentu memiliki tujuan finansialnya masing-masing. Misalnya, seseorang mungkin ingin menikmati pensiun muda sementara lainnya mungkin ingin mengumpulkan dana pendidikan sang buah hati. Nah, seluruh tujuan finansial itu tentu bisa terwujud jika mereka bisa mendulang cuan dari kegiatan investasi.

Untungnya, kegiatan investasi saat ini bukanlah sesuatu yang hanya bisa dinikmati segelintir orang saja. Bahkan, setiap orang pun kini bisa berinvestasi di ragam kelas aset dengan praktis dengan modal yang sangat mini. Di aplikasi Pluang, misalnya, Sobat Cuan bisa berinvestasi di emas, aset kripto, reksa dana, dan saham AS mulai dari $1.00 dan tiga kali klik saja.

2. Mempertahankan Kekuatan Daya Beli Uang

Namun, selain membantu mewujudkan tujuan finansial, kegiatan investasi juga bisa membantu Sobat Cuan dalam mempertahankan kekuatan “daya beli” atas uang yang kamu miliki saat ini. Jika Sobat Cuan masih bingung mengenai pengertian hal tersebut, yuk simak ilustrasinya berikut!

Kamu mungkin pernah mendengar kisah mengenai orang zaman dulu yang kerap menyimpan uang di bawah bantal atau celengan. Mereka sengaja menyisihkan uang-uang “menganggur” yang mereka miliki dengan harapan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhannya di masa depan.

Hanya saja, menyimpan uang di bawah bantal dan celengan tidak akan membuat nilai uang mereka bertambah. Malahan, kemampuan daya beli dari uang-uang tersebut justru menurun seiring waktu akibat sebuah “makhluk” bernama inflasi, yakni kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi dalam jangka waktu tertentu. 

Namun, inflasi adalah hal yang tak terelakkan. Sehingga, dengan nilai uang yang sama, seseorang pasti akan memperoleh kuantitas barang dan jasa yang lebih sedikit di masa depan dibanding saat ini.

Sebagai contoh, Sobat Cuan tentu pernah mendengar lagu anak-anak berjudul “Abang Tukang Bakso” yang sempat ngetop di dekade 1990an. Lagu tersebut memiliki sepenggal lirik yang menyiratkan bahwa sang penyanyi harus mengeluarkan uang Rp5.000 untuk menikmati satu mangkuk bakso.

Namun, sekitar tiga dasawarsa kemudian, harga semangkuk bakso kenyataannya tidak lagi seharga Rp5.000. Di DKI Jakarta, misalnya, harga semangkuk bakso dari “abang-abang” rata-rata dihargai Rp15.000 per porsinya.

Berkaca dari ilustrasi tersebut, seseorang yang memiliki uang Rp30.000 di dekade 1990an mungkin masih bisa puas melahap enam porsi bakso. Namun, uang tersebut rupanya hanya mampu membeli dua porsi bakso saja di saat ini. 

Akibatnya, masyarakat tentu harus memutar otak agar daya belinya tidak tergerus dengan kehadiran inflasi. Nah, salah satu cara efektif dalam “mengalahkan” inflasi adalah dengan melakukan investasi.

Sebagai gambaran sederhananya, anggap saja Sobat Cuan menemukan bahwa tingkat inflasi saat ini berada di level 3% per tahun. Berkaca dari fakta tersebut, kamu pun kemudian memutuskan berinvestasi di kelas aset yang memberikan imbal hasil 5% per tahunnya.

Karena nilai imbal hasil tersebut terbilang lebih tinggi dari tingkat inflasi, maka bisa dibilang investasi telah membantumu mempertahankan kemampuan daya beli atas uang-uang yang kamu miliki.

Apa Itu Konsep Nilai Waktu Uang dalam Investasi?

Dalam dunia finansial, ilustrasi mengenai perubahan harga semangkuk bakso yang terdapat di artikel sebelumnya membuktikan sebuah konsep keuangan bernama nilai waktu uang (time value of money). Yakni, sebuah konsep yang mengatakan bahwa uang saat ini memiliki nilai lebih berharga dibanding di masa depan.

Sebagai contoh, anggap saja Sobat Cuan ditawari uang sebesar Rp10 juta, namun kamu diberi dua opsi untuk menariknya saat ini atau lima tahun mendatang. Tentu saja, menurut konsep time value of money, kamu lebih baik menarik uang tersebut sekarang karena kemampuan daya beli uang senilai Rp10 juta pasti akan menurun lima tahun kemudian.

Konsep ini melahirkan sebuah ide bahwa masyarakat sejatinya bisa “melawan” penurunan kemampuan daya beli dari uang yang mereka miliki saat ini. Salah satu caranya adalah dengan menempatkannya di sebuah aset yang diharapkan bisa memberikan return atau mengalami kenaikan nilai antar waktu.

Namun pertanyaannya, bagaimana cara investor menggunakan konsep time value of money dalam berinvestasi? Dalam hal ini, mereka biasanya mempertimbangkan dua unsur utama dalam konsep nilai waktu uang sebelum memutuskan berinvestasi, yakni:

  1. Nilai Masa Depan (Future Value – FV): Ini mengacu pada nilai uang pada suatu waktu di masa depan jika uang tersebut diinvestasikan atau ditempatkan dalam suatu instrumen keuangan yang menghasilkan tingkat pengembalian tertentu. Dengan demikian, FV adalah ukuran dari besaran uang yang akan “berkembang” di masa depan dari nilainya saat ini.
  2. Nilai Sekarang (Present Value – PV): Ini mengacu pada nilai uang saat ini yang akan diterima atau dibayarkan di masa depan. Dengan kata lain, PV adalah ukuran dari FV jika uang itu diterima oleh investor pada saat ini.

Investor biasanya mempertimbangkan dua komponen tersebut untuk menakar potensi pengembalian investasi yang bakal mereka dapat di masa depan. Setelah itu, mereka kemudian akan membandingkan potensi return tersebut dengan tingkat risikonya.

Pada umumnya, investor akan membandingkan potensi return dari investasi yang mereka lakukan dengan potensi imbal hasil dari aset bebas risiko (risk-free asset), yakni instrumen keuangan yang dianggap memiliki risiko yang sangat rendah atau bahkan nihil. 

Biasanya, investor selalu mengacu pada return obligasi pemerintah AS (US Treasury Bills) sebagai patokan risk-free asset yang paling utama. Hal ini mengingat obligasi pemerintah AS memiliki risiko gagal bayar (default) yang sangat minim lantaran instrumen tersebut diterbitkan langsung oleh pemerintah AS.

Namun pertanyaannya, bagaimana cara investor membandingkan dua potensi return tersebut untuk menentukan keputusan berinvestasi?

Jika potensi return investasi yang dilakukan investor lebih tinggi dari potensi return risk-free asset, maka ia kemungkinan akan rela menempuh risiko demi mendulang cuan yang lebih baik dibanding aset yang bebas risiko tersebut. Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka tentu saja ia akan memilih berinvestasi di risk-free asset.

Cara Menghitung Potensi ‘Return’ Berdasarkan Konsep Nilai Waktu Uang

Secara sepintas, konsep nilai waktu uang terdengar cukup njelimet untuk dipraktikkan oleh investor pemula. Kendati demikian, konsep tersebut sejatinya sangat mudah untuk dipahami.

Untuk memahaminya lebih lanjut, Sobat Cuan bisa menyimak perumpamaan berikut.

Anggap saja kamu saat ini memiliki uang sebesar US$1.000. Kemudian, kamu berencana untuk menginvestasikannya dalam lima tahun di sebuah instrumen investasi dengan tingkat bunga tahunan (annual yield) 3,38%. Lantas, berapakah nilai uang yang bakal kamu terima di tahun kelima investasimu?

Untuk mencari tahu jawabannya, Sobat Cuan bisa menggunakan rumus Future Value berikut:

 

FV = PV x (1 + r)^n

 

Keterangan:

FV: Future Value dari uangmu saat ini

PV: Nilai uangmu saat ini

r: Tingkat potensi return

n: Lama periode investasi

Berdasarkan formulasi tersebut, maka nilai investasimu dalam lima tahun mendatang adalah:

 

FV = US$1.000 x (1 + 3,38%)^5

 

FV = US$1.180,82

 

Dengan demikian, jika kamu menginvestasikan US$1.000 dengan tingkat bunga 3,38% per tahun, maka uangmu akan “berkembang” menjadi US$1.177,96 dalam lima tahun mendatang.

Secara lebih rinci, berikut tabel perkembangan uangmu dari tahun ke tahun:

Year Start Balance Yield Ending Balance Unrealized P&L (%)
1 USD$1,000.00 USD$33.80 USD$1,033.80 US$33,8 (3,38%)
2 USD$1,033.80 USD$34.94 USD$1,068.74 USD$68,74 (6,87%)
3 USD$1,068.74 USD$36.12 USD$1,104.87 USD$104,87 (10,49%)
4 USD$1,104.87 USD$37.34 USD$1,142.21 USD$142,21 (14,22%)
5 USD$1,142.21 USD$38.61 USD$1,180.82 USD$180,82 (18,08%)

Mengenal Dolar AS Sebagai Instrumen Investasi

Instrumen investasi adalah faktor krusial dalam kegiatan investasi. Pasalnya, investor tentu tak bisa meraih return yang diinginkan jika ia tidak menempatkan uangnya di aset-aset tersebut.

Uniknya, instrumen investasi hadir dalam beragam macam bentuk yang masing-masingnya memiliki tingkat risiko tersendiri. Adapun instrumen yang umum digunakan masyarakat sebagai aset investasi adalah saham, obligasi, reksa dana, properti, komoditas (seperti emas), deposito, hingga aset kripto.

Namun, selain menanamkan dana di instrumen-instrumen tersebut, berinvestasi di mata uang asing juga bisa menjadi pilihan jitu untuk meraih keuntungan. Dalam hal ini, investor biasanya menjajal peluang cuan dari selisih yang dihasilkan oleh fluktuasi nilai tukar antara mata uang yang dimilikinya dengan mata uang asing.

Pada umumnya, mata uang asing yang kerap dijadikan instrumen investasi adalah Dolar AS (USD). Ada beberapa alasan mengapa mata uang satu ini diincar sebagai aset investasi.

Pertama, dalam dunia keuangan, Dolar AS selalu dipandang sebagai salah satu aset safe haven, yakni aset yang bisa “melindungi” nilai kekayaan pemiliknya jika situasi ekonomi sedang tak menentu. Maklum saja, AS selalu dipandang sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dan paling stabil di dunia sehingga nilai mata uangnya pun diharapkan bakal tetap konsisten.

USD

Kemampuan Dolar AS sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi sempat terbukti ketika krisis moneter melanda benua Asia pada 1998 silam. 

Kala itu, nilai tukar sejumlah mata uang Asia, termasuk Rupiah, babak belur dalam menghadapi Dolar AS. Namun ternyata, banyak sekali taipan dan orang tajir di Asia yang mendadak kaya dalam semalam karena menempatkan sebagian besar kekayaannya dalam Dolar AS, salah satunya adalah Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah.

Kedua, Dolar AS adalah mata uang yang selalu dijadikan alat pembayaran transaksi dan denominasi utama cadangan dana internasional.

Sebagai contoh, beberapa negara, termasuk Indonesia, menyimpan cadangan devisa dalam Dolar AS. Selain itu, sejumlah lembaga internasional juga memegang cadangan dana dalam bentuk Dolar AS yang cukup besar. International Monetary Fund (IMF), misalnya, memiliki dana dalam bentuk Dolar AS sebanyak 58,9% dari total cadangan dana yang dimilikinya per kuartal II 2023.

Kendati begitu, dalam beberapa tahun belakangan, sejumlah negara berupaya untuk melepaskan diri dari pengaruh Dolar AS alias dedolarisasi, sebut saja negara anggota BRICS yang terdiri dari Brasil, China, Rusia, India, dan Afrika Selatan. Namun, langkah itu sepertinya belum akan mengikis dominasi Dolar AS sebagai mata uang yang paling banyak diadopsi dan diterima sebagai alat pembayaran umum di dunia.

Sekilas Tentang USD Yield

Ketika berinvestasi di Dolar AS, sang investor bisa menerima keuntungan dalam bentuk USD Yield. Namun, seperti apa konsep dasar USD Yield tersebut?

Dalam Bahasa Indonesia, istilah yield merujuk pada “imbal hasil”. Istilah ini sering digunakan dalam dunia keuangan untuk mengukur potensi pengembalian atau keuntungan dari suatu investasi. Oleh karena itu, bisa dibilang bahwa yield adalah besaran pendapatan yang dihasilkan dari sebuah investasi, di mana nilainya terpisah dari modal yang ditempatkan dalam instrumen investasi tersebut.

Dengan demikian, USD Yield adalah nilai pengembalian yang diperoleh investor dari investasinya di aset-aset yang didenominasikan dalam mata uang Dolar AS.

Bagi investor yang gemar berinvestasi di instrumen aset luar negeri, memanfaatkan selisih kurs bisa menjadi strategi cerdas untuk meningkatkan penghasilannya.

Sebagai contoh, investor tentu akan menggunakan Dolar AS yang dimilikinya untuk membeli saham AS jika memang kondisi pasar modal negara Paman Sam tersebut terbilang menjanjikan. 

Hanya saja, yang namanya situasi pasar modal tentu tidak selamanya stabil. Investor tentu mengurungkan niat dalam menggunakan Dolar AS miliknya untuk berinvestasi di saham AS jika situasi pasar terpantau mendung.

Dalam situasi tersebut, investor tentu memiliki dana dalam bentuk Dolar AS yang “menganggur”. Namun, ia tetap memiliki kesempatan untuk mendulang cuan jika mereka bisa mendapatkan yield hanya dengan “menabung” Dolar AS tersebut. 

Konsep ini sejatinya mirip dengan menabung di bank, di mana nasabah bakal mendapatkan imbal hasil dalam bentuk bunga tabungan jika menempatkan dananya di produk perbankan seperti deposito atau simpanan.

Memperkenalkan Fitur USD Yield di Aplikasi Pluang

Namun, meraih yield dari Dolar AS selama ini dianggap sebagai aktivitas yang cukup ribet. Pada umumnya, Investor harus membuka rekening Dolar AS terpisah di bank terlebih dahulu. Setelah itu, broker saham pun akan memindahkan Dolar AS “menganggur” milik investor ke rekening tersebut untuk mendapatkan yield yang diinginkan.

Tetapi, proses rumit tersebut tidak akan ditemui jika Sobat Cuan menggunakan aplikasi Pluang. Pasalnya, jika kamu masih ragu dalam memilih saham AS jagoanmu di aplikasi Pluang, kamu dapat terlebih dulu menggunakan Dolar AS “menganggur” milikmu untuk menghasilkan keuntungan dalam bentuk USD Yield.

Prosesnya pun cukup sederhana. Setiap dana menganggur yang tidak diinvestasikan oleh Sobat Cuan akan mendapatkan bunga yang dicatat secara harian dengan waktu cut-off setiap hari pada pukul 10.00 WIB.

Seluruh bunga harian tersebut kemudian akan diakumulasi selama sebulan. Total akumulasi imbal hasil itu pun akan dikirimkan ke saldo Dolar AS Sobat Cuan di aplikasi Pluang secara prorata.

Dalam memanfaatkan fitur ini, pengguna Pluang biasa bisa meraih bunga hingga 0,63% per tahun sementara anggota Pluang Plus, yakni pengguna yang memiliki modal investasi di atas Rp100 juta di aplikasi Pluang, bisa menikmati bunga 3,38% per tahun.

Namun, jika modal anggota Pluang Plus turun di bawah Rp100 juta ketika sedang mengikuti program USD Yield di aplikasi Pluang, maka bunga yang ia terima akan dihitung secara prorata. Untuk lebih jelasnya, yuk simak ilustrasi berikut!

Anggap saja Tuan A memiliki rata-rata modal investasi sebesar US$1.000 di aplikasi Pluang. Sepanjang Oktober 2023, Tuan A tercatat sebagai anggota Pluang Plus selama 17 hari dan 14 hari sebagai pengguna biasa. 

Dengan demikian, maka besaran bunga yang didapatkan oleh Tuan A adalah di Oktober 2023 adalah:

Bunga = Rata-Rata Harian Modal yang Tidak Diinvestasikan di bulan Oktober 2023 * (Jumlah hari360 * besaran bunga )

Bunga = US$1000 * ((14/360)*0,63%) + ((17/360)*3,38%) = US$1,84

Namun, patut diingat bahwa tingkat bunga tahunan sebesar 3,38% sejauh ini berlaku semenjak Desember 2025. Besaran bunga dapat berubah sewaktu-waktu di tahun depan. Namun, Pluang tentu akan mengumumkan perubahan bunga yang dimaksud melalui notifikasi di aplikasi Pluang.

Bagaimana Mengaktifkan Fitur USD Yield di Aplikasi Pluang?

Sobat Cuan bisa menemukan fitur ini dengan mudah di aplikasi Pluang. Yang perlu kamu lakukan adalah menekan tombol “aktivasi” setelah mengklik tampilan promosi mengenai fitur USD Yield yang terdapat di saldo (balance) aplikasi Pluang.

Namun, fitur ini akan muncul di Inbox Card untuk sementara waktu saja. Sehingga, Jika Sobat Cuan tidak menemukan menu USD Yield di Inbox Card, maka kamu bisa menuju menu Balance dengan mengklik ikon dompet atau menu portofolio dengan mengklik ikon diagram, di mana keduanya terletak di sisi bawah beranda aplikasi Pluang, untuk mengaktivasi fitur USD Yield.

Coba Fitur USD Yield di Sini!

*DISCLAIMER: tingkat bunga tahunan sebesar 3,38% untuk member Pluang Plus dan 0,63% untuk pengguna reguler mulai Desember 2025, perubahan besaran bunga dapat terjadi tahun depan sewaktu-waktu dengan informasi sebelumnya di aplikasi atau channel resmi Pluang. Baca Syarat & Ketentuan Kami.

Layanan USD Yield merupakan manfaat yang berasal dari pialang luar negeri dan disalurkan kepada konsumen melalui kerja sama dengan PT PG Berjangka

Sejarah Pergantian Tingkat USD Yield di Pluang

Sesuai dengan perubahan suku bunga The Fed, Pluang dapat melakukan perubahan terhadap tingkat USD Yield baik bagi pengguna Pluang+ maupun pengguna reguler. Pluang berkomitmen pada transparansi dan akan selalu memberikan informasi resmi kepada pengguna setiap kali terjadi perubahan. Berikut adalah sejarah pergantian tingkat USD Yield di Pluang

Tanggal

Pluang+

Reguler

September 2024

4,88% menjadi 4,38%

1,88% menjadi 1,38%

Desember 2024

4,38% menjadi 4,13%

1,38% menjadi 1,13%

September 2025

4,13% menjadi 3,88%

1,13% menjadi 0,88%

November 2025

3,88% menjadi 3,63%

0,88% menjadi 0,63%

Desember 2025

3,63% menjadi 3,38%

Tetap 0,63%

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang untuk investasi Saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!



Sumber : pluang.com

Strategi Memulai Perjalanan Leverage

Strategi Berdasarkan Waktu Pembagian Dividen

Dividen adalah salah satu keuntungan yang bisa diraih pemegang saham dalam jangka panjang. Dividen sendiri adalah porsi laba yang dihasilkan perusahaan terbuka untuk pemegang saham berdasarkan jumlah saham yang dimiliki. Dengan demikian, semakin besar kepemilikan saham seseorang, maka semakin besar pula potensi dividen yang didapat.

Tetapi, jika kamu menggunakan investasi leverage di Pluang, maka potensi dividen yang bisa kamu raih dari investasi saham bahkan bisa berkembang dua kali lipat! Pasalnya, seperti yang telah diketahui di artikel sebelumnya, kamu bisa mendapatkan eksposur saham dua kali lipat lebih besar jika memanfaatkan fitur tersebut. Tak heran jika kemudian nilai dividenmu bertumbuh dua kali lipat mengikuti daya ungkit eksposurnya.

Hanya saja, emiten tak mungkin menebar dividen setiap hari. Oleh karenanya, jika Sobat Cuan ingin mengincar dividen jumbo dari sebuah emiten, maka kamu bisa memanfaatkan fitur leverage menjelang tanggal pembagian dividen sebagai strategi investasimu. Namun, sebelum melancarkan kiat tersebut, kamu perlu memastikan bahwa sang emiten diramal berpotensi mencetak kinerja keuangan yang baik pada periode tersebut.

Sebagai ilustrasi, yuk simak contoh berikut!

Pak A dan Pak B diketahui adalah dua investor saham AS. Keduanya ingin membeli saham Intel Corp (INTC) dan masing-masing menyiapkan modal awal yang sama untuk berinvestasi, yakni US$3.500 atau setara Rp54,6 juta.

Mereka pun memiliki tujuan investasi serupa, yaitu ingin mendapatkan dividen dari emiten tersebut. Maklum, menurut kabar pasar yang didengar keduanya, INTC berpotensi mencetak performa keuangan mumpuni pada periode tersebut.

Namun bedanya, Pak A mengejar dividen dengan berinvestasi saham AS tunggal tanpa leverage, sementara Pak B ingin mengungkit “daya beli” modal awalnya melalui leverage. Keduanya kemudian sama-sama membeli saham INTC saat harganya menyentuh US$27,42 per lembar pada 2 November 2022.

Lima hari kemudian, atau 7 November 2022, INTC rupanya membagikan dividen sebesar US$0,365 per lembar saham atau setara dengan payout ratio sebesar 1,3% dari laba perseroan.

Sebagai “pemburu dividen”, keduanya pun kompak ingin menjual kepemilikan mereka sehari setelah recording date dividen INTC atau 8 November 2022. Lantas, berapa nilai total hasil penjualan saham dan bunga dividen yang masing-masing diterima Pak A dan Pak B di tanggal tersebut? Sobat Cuan bisa menemukan jawabannya melalui tabel berikut!

Tabel di atas menunjukkan bahwa total cuan yang diraih Pak A mencapai US$181,89, sementara Pak B memperoleh keuntungan hampir dua kali lipatnya, yakni US$349,5 meski keduanya menggelontorkan modal awal yang sama. Hanya saja, keuntungan yang didapat Pak B memang tak tepat dua kali lipat dari Pak A lantaran ia harus membayar overnight fee selama enam hari lamanya.

Dengan demikian, Sobat Cuan bisa melancarkan strategi yang sama jika ingin mengejar keuntungan berganda dari dividen sebuah emiten.

Strategi Berdasarkan Jangka Waktu Investasi

Kegiatan investasi memiliki paradigma tujuan jangka panjang. Kendati demikian, kamu akan menemukan kondisi berbeda jika memanfaatkan leverage untuk investasi. Pasalnya, keuntungan yang didapatkan dari kegiatan leverage umumnya akan lebih maksimal di jangka pendek ketimbang jangka panjang.

Meski begitu, ada kalanya investor justru meraih untung fantastis menggunakan leverage jika ia memutuskan investasi jangka panjang.

Lantas, apa penentu keberhasilan leverage baik di jangka pendek maupun jangka panjang? Nah, sebagai gambaran, Sobat Cuan bisa melihat dua contoh studi kasus berikut!

1. Leverage untuk Investasi Jangka Pendek

Anggap saja Pak A dan Pak B adalah dua investor yang sedang membidik keuntungan dari menggenggam saham Apple (AAPL). Mereka beranggapan bahwa saham raksasa teknologi tersebut tergolong saham blue chip yang nilainya jarang mengalami diskon, sehingga risikonya pun terbilang rendah.

Alhasil, keduanya pun berniat menanamkan modal di saham tersebut sebesar US$3.500, atau sekitar Rp54,25 juta, dan berniat menggandakan eksposurnya melalui leverage di aplikasi Pluang. Lantaran Pluang memberikan daya ungkit eksposur saham AAPL sebesar dua kali lipat, maka “daya beli” Pak A dan Pak B masing-masing menjadi US$7.000.

Akhirnya, keduanya pun membeli saham AAPL pada 16 Juni 2022 di harga US$130,06 per lembar, alias harga terendah AAPL sepanjang 2022. Dalam hal ini, Pluang membebankan overnight fee sebesar 13% per tahun atau 0,0333% per malam.

Namun, meski melakukan aksi serupa, keduanya punya prinsip investasi yang bertolak belakang. Di satu sisi, Pak A menganggap saham blue chip dengan harga murah adalah pilihan investasi tepat untuk jangka panjang. Di sisi lain, Pak B menilai bahwa membeli saham blue chip memiliki risiko yang lebih rendah dibanding saham lainnya di tengah gejolak pasar yang tak menentu.

Alhasil, setelah AAPL merilis laporan keuangannya pada 26 September 2022, Pak B memutuskan menjual kepemilikannya ketika harga AAPL berada di US$150,7. Dengan kata lain, Pak B meraup keuntungan 15,9% dalam periode investasi 102 hari dan dengan total overnight fee sebesar 3,4% dari harga sahamnya.

Sementara itu, Pak A memutuskan terus menggenggam saham AAPL dan menjualnya pada 6 Desember 2022 ketika harganya berada di US$142,91 per lembar. Namun, berbeda dengan Pak B, Pak A ternyata hanya memperoleh keuntungan 12,7% dalam kurun 173 hari investasi dan dibebani overnight fee sebesar 5,2%. Dengan kata lain, return Pak A lebih rendah dari Pak B dengan beban overnight fee yang lebih mahal.

Lebih lanjut, selain memperhatikan lamanya periode investasi, Sobat Cuan juga harus memasukkan faktor overnight fee sebelum memutuskan menggunakan leverage untuk investasi jangka panjang.

Sebagai contoh, seperti yang telah diutarakan di atas, Pluang mematok overnight fee sebesar 13% per tahun. Dengan demikian, jika kamu ingin mengendapkan suatu saham lebih dari satu tahun, maka kamu harus pintar mencari saham yang berpotensi menghasilkan return lebih besar dari 13% di periode yang sama.

2. Leverage Untuk Investasi Jangka Panjang

Contoh di atas mengindikasikan bahwa aktivitas leverage akan lebih menguntungkan untuk kegiatan investasi jangka pendek. Namun, terdapat pula beberapa kasus di mana beberapa saham mampu menghasilkan return yang lebih fantastis dalam jangka panjang. Nantinya, investor bisa melipatgandakan keuntungan tersebut melalui leverage!

Untuk memahaminya, mari mengambil contoh investasi saham Coca Cola (KO) berikut!

Pak A dan Pak B adalah dua orang investor yang membeli saham KO pada 25 Oktober 2022. Alasannya, saat itu perseroan mengumumkan membukukan laba bersih kuartal III 8% lebih tinggi dibanding estimasi analis. Alhasil, keduanya sama-sama memutuskan berinvestasi US$3.500 ke saham tersebut dan kompak memanfaatkan leverage. 

Namun, Pak A dan Pak B ternyata punya pola investasi yang berbeda. Pak A menggunakan leverage untuk mendulang cuan jangka pendek sementara Pak B memilih investasi jangka panjang. Kala itu, Pak B menganggap bahwa nilai saham KO, yang merupakan saham milik perusahaan konsumer, akan bertumbuh stabil di tengah ketidakpastian pasar.

Tiga hari kemudian, atau 28 Oktober 2022, nilai saham KO ternyata melejit 3,07%. Pak A pun lantas memutuskan menjual saham KO dengan keuntungan bersih US$213. Sementara itu, Pak B masih konsisten menahan saham KO dan menjualnya pada 7 Desember 2022 dengan alasan untuk meliburkan diri dari pasar finansial di akhir tahun.

Ternyata, apabila dihitung dari tanggal beli hingga tanggal jual saham Pak B, nilai saham KO melesat 7,8%. Sehingga, Pak B mendulang keuntungan bersih US$473, yang dihitung dari keuntungan saham US$545 dikurangi overnight fee US$72,5.

Apa Kesimpulannya?

Sobat Cuan sebaiknya teliti dalam memilah-milah jenis saham yang berprospek baik dalam jangka pendek atau panjang jika ingin memanfaatkan leverage. 

Seperti yang diketahui, leverage adalah kegiatan berisiko tinggi, sehingga kamu tak boleh salah langkah. Oleh karenanya, kamu harus rajin menggali informasi pasar dengan detail dan jangan lupa untuk terus belajar mengenai analisis saham, baik fundamental maupun teknikal. Nantinya, kamu dapat menentukan saham yang tepat untuk di-leverage dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Namun, Pluang beranggapan bahwa penggunaan leverage tetap akan lebih maksimal jika digunakan dalam jangka pendek dibanding jangka panjang. Ini lantaran volatilitas pasar saham yang kencang bisa membuat investor ketiban durian runtuh dari leverage.



Sumber : pluang.com

Strategi Options Trading

Options dapat terlihat rumit bagi kamu Sobat Cuan yang baru mempelajarinya, mungkin sekarang Sobat Cuan masih belum tahu pasti strategi apa yang harus diterapkan dalam options trading kamu. Dalam artikel ini akan dibahas dua strategi yang sudah umum digunakan yang mungkin bisa membantu Sobat Cuan dalam memaksimalkan potensi options trading jika kamu tidak yakin dengan pergerakan pasar akan naik atau turun. Perlu kamu ketahui bahwa strategi yang akan dibahas dalam artikel ini tidak memerlukan short call atau short put dan tidak memerlukan exercise, sehingga cocok untuk pemula. 

Strategi options trading yang akan dibahas dalam artikel ini adalah long straddle dan long strangle. Kedua strategi ini cocok untuk digunakan Sobat Cuan apabila Sobat Cuan memperkirakan akan ada pergerakan harga saham yang signifikan, misalnya apabila ada jadwal earnings report atau ketika ada berita besar, tapi Sobat Cuan belum yakin apakah arah pergerakkan tersebut akan ke atas atau ke bawah. Untuk setiap strategi, kami akan menjelaskan pengertian strategi tersebut dan bagaimana cara kerjanya berikut dengan skenario dan perhitungan untung dan rugi (P&L) sederhana.

Long Straddle

Strategi long straddle melibatkan pembelian call options dan put options dari underlying asset, strike price, dan tanggal kedaluwarsa yang sama. Strategi ini memanfaatkan membeli call option dan put option at-the-money untuk saham dan tanggal kedaluwarsa yang sama. 

Berikut adalah cara kerja strategi long straddle 

  1. Skenario: Saham XYZ sekarang seharga USD$50 per lembar. Seorang options trader membeli sebuah call option dan put options at-the-money pada Saham XYZ, keduanya dengan strike price sebesar USD$50 dan premium sebesar USD$3.
  2. Perhitungan P&L:
    Options trader ini akan mendapatkan untung apabila harga saham bergerak ke atas atau ke bawah lebih dari total harga premium yang dibayar, yaitu USD$3 + USD$3 = USD$6. Untuk menghitung profit yang didapatkan adalah sebagai berikut:
    1. Harga saham naik:
      Profit = Underlying pricecall option strike price – total premium yang dibayar
    2. Harga saham turun
      Profit = Put option strike priceunderlying price – total premium yang dibayar

Misalkan harga saham naik ke USD$60 maka trader tersebut akan mendapatkan keuntungan sebesar USD$4 per lembar atau USD$400 per kontrak karena 1 kontrak sama dengan 100 lembar saham. (USD$60 – USD$50 – USD$6 = USD$4) atau misalkan harga saham turun ke USD$40 maka trader tersebut juga akan mendapatkan keuntungan sebesar USD$4 per lembar atau USD$400 per kontrak (USD$50 – USD$40 – USD$6 = USD$4).

Namun, apabila saham tidak bergerak sebesar USD$6 baik ke atas ataupun ke bawah, maka trader tersebut akan mengalami loss sebesar total premium yang telah dibayar, yaitu USD$6 per lembar atau USD$600 per kontrak.

Long Strangle

Long strangle melibatkan pembelian call option dan put option dengan strike price yang berbeda tetapi tanggal kedaluwarsa yang sama. Strategi long strangle lebih cocok jika ingin menggunakan modal yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan long straddle yang membutuhkan Sobat Cuan membeli kontrak at-the-money yang harganya lebih mahal.

Berikut adalah cara kerja strategi long strangle

  1. Skenario: Misalkan Saham DEF sekarang ada di harga USD$50. Seorang options trader membeli sebuah call options dengan strike price sebesar USD$55 dengan premium sebesar $2 dan sebuah put options dengan strike price sebesar USD$45 dengan premium sebesar USD$3.
  2. Perhitungan P&L:
    Options trader tersebut akan mendapatkan keuntungan apabila selisih pergerakan harga dengan strike price lebih dari total premium yang dibayar. Dalam hal ini berarti trader tersebut akan mendapat keuntungan apabila saham naik menjadi lebih dari USD$60 (USD$55 + [USD$3 + USD$2] = USD$60) atau turun menjadi lebih dari USD$40 (USD$45 – [USD$3 + USD$2] = USD$40). Untuk menghitung profit strategi long strangle sama dengan rumus profit strategi long straddle yaitu:
    Untuk menghitung profit yang didapatkan adalah sebagai berikut:
    1. Harga saham naik:
      Profit = Underlying pricecall option strike price – total premium yang dibayar
    2. Harga saham turun
      Profit = Put option strike priceunderlying price – total premium yang dibayar

Misalkan harga saham naik ke USD$64 maka trader tersebut akan mendapatkan keuntungan sebesar USD$4 (USD$64 – USD$55 – USD$5 = USD$4) atau misalkan harga saham turun ke USD$36 maka trader tersebut juga akan mendapatkan keuntungan sebesar USD$4 (USD$45 – USD$36 – USD$5 = USD$4).

Namun, apabila saham tidak lebih dari USD$5 baik ke atas ataupun ke bawah, maka trader tersebut akan mengalami loss sebesar total premium yang telah dibayar, yaitu USD$5. 

Kedua strategi options trading ini menyediakan cara untuk mendapatkan keuntungan dari kondisi pasar yang volatile tapi belum pasti arah pergerakannya akan naik atau turun. Dengan memahami kapan dan bagaimana menggunakan setiap strategi, Sobat Cuan dapat membuat keputusan yang tepat dan mengelola risiko secara efektif. Ingat, options trading melibatkan risiko yang signifikan dan tidak cocok untuk semua orang. Sangat penting untuk memahami setiap strategi secara menyeluruh dan mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan expert sebelum terjun ke dalam dunia options trading.

Disclaimer

  • Options Trading oleh PT PG Berjangka telah berlisensi dan diawasi oleh BAPPEBTI, BBJ dan KBI serta bekerja sama dengan Pialang luar negeri yang berlisensi dan diaswasi oleh SEC dan OCC.
  • Options Trading adalah produk berisiko tinggi dan tidak ada jaminan keuntungan yang ditawarkan oleh produk ini. Pelanggan wajib melakukan riset sendiri dalam melakukan transaksi investasi apapun.



Sumber : pluang.com

Manajemen Risiko Options

Options trading bisa menguntungkan, tetapi sama dengan instrumen investasi lainnya tentunya memiliki risiko. Manajemen risiko yang efektif sangat penting untuk melindungi investasi dan mengoptimalkan strategi trading Sobat Cuan. Pada artikel ini, Sobat Cuan bisa mempelajari risiko yang terkait dengan options trading dan strategi untuk menguranginya melalui manajemen risiko dan perencanaan trading.

Risiko Dalam Options Trading dan Cara Menguranginya

  1. Risiko Pasar: Options sensitif terhadap perubahan underlying price. Fluktuasi di pasar dapat mempengaruhi nilai options. Strategi mitigasi untuk mengurangi risiko pasar adalah dengan mendiversifikasi portofolio kamu di berbagai aset atau sektor untuk mengurangi eksposur terhadap pergerakan pasar individual.
  2. Risiko Volatilitas: Options dipengaruhi oleh perubahan implied volatility (IV). Volatilitas yang lebih tinggi dapat meningkatkan harga premium options, sementara volatilitas yang lebih rendah dapat mengurangi harga premium. Cara mudah untuk meminimalisir risiko volatilitas ini adalah untuk menghindari options dengan IV yang tinggi apabila kamu tidak yakin dengan pergerakan arah dari underlying asset options tersebut.
  3. Peluruhan Waktu (Time Value Risk): Options kehilangan nilainya saat mendekati masa kedaluwarsa karena peluruhan waktu. Untuk mengurangi peluruhan waktu, pertimbangkan options berdurasi lebih pendek atau gunakan strategi yang memanfaatkan peluruhan waktu dan selalu memperhatikan perkembangan posisi kamu sebelum mencapai tanggal kedaluwarsa.
  4. Risiko Leverage: Options menyediakan leverage, yang memperbesar potensi keuntungan dan kerugian. Kelola leverage dengan mengatur ukuran posisi kamu secara tepat berdasarkan toleransi risiko dan alokasi portofolio secara keseluruhan.
  5. Risiko Exercise dan Assignment: Seperti yang sudah dibahas di artikel sebelumnya, posisi options memaparkan diri terhadap risiko exercise untuk posisi long dan risiko assignment untuk posisi short. Untuk menghindari risiko yang dihadirkan akibat exercise dan assignment ada baiknya menutup posisi options kamu dengan sell to close atau buy to close sebelum waktu kedaluwarsa.

Manajemen Risiko dan Perencanaan Trading

Sebelum melakukan trading, kamu perlu mempertimbangkan untuk melakukan perencanaan trading kamu untuk mengetahui potensi-potensi risiko dalam transaksi yang akan kamu lakukan. Terdapat beberapa perencanaan trading yang bisa kamu lakukan, di antaranya adalah:

  1. Pemilihan Aset Dasar: Kamu perlu memilih underlying asset yang sesuai dengan tujuan investasi, toleransi risiko, dan pandangan pasar kamu. Kamu juga perlu mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti likuiditas, volatilitas, dan korelasi dengan aset lain yang ada dalam portfolio kamu. Membuat rencana untuk mendiversifikasikan aset kamu di berbagai kelas juga penting untuk menyebarkan risiko.
  2. Perencanaan Ukuran Posisi: Tentukan ukuran posisi yang sesuai berdasarkan toleransi risiko dan ukuran modal kamu agar tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Hindari overleverage dengan membatasi ukuran setiap posisi relatif terhadap total modal kamu. Kamu juga bisa menggunakan teknik penentuan ukuran posisi seperti aturan 1% (mempertaruhkan tidak lebih dari 1% modal kamu dalam satu trade) untuk mengelola risiko.
  3. Perencanaan Trading: Kembangkan rencana trading yang mencakup kriteria entry dan exit, level stop-loss, dan target profit. Tetapkan ekspektasi yang realistis dan rasio risiko-hasil untuk setiap trade. Pantau dan tinjau trading kamu secara teratur untuk menilai kinerja dan menyesuaikan strategi sesuai kebutuhan.

Contoh Manajemen Risiko dalam Options Trading

Berikut adalah contoh dari rencana options trading dengan skenario pandangan pasar yang bullish pada sektor teknologi:

  1. Pemilihan aset: Pilih saham teknologi yang likuid dengan fundamental yang kuat.
  2. Perencanaan ukuran posisi: Alokasikan 5% dari total modal untuk options trading, dengan diversifikasi di beberapa perusahaan teknologi.
  3. Perencanaan trading: Beli call options dengan masa kedaluwarsa 3 bulan, tetapkan stop-loss sebesar 50% dari premium, dan targetkan rasio risiko-hasil 2:1.

Manajemen risiko options sangat penting untuk menjaga modal dan mencapai pengembalian yang konsisten dalam options trading. Dengan memahami dan memitigasi risiko yang terkait dengan options, memilih underlying asset yang sesuai, merencanakan ukuran posisi, dan mengembangkan rencana trading yang disiplin, Sobat Cuan dapat menavigasi kompleksitas pasar options dengan percaya diri dan meningkatkan peluang kamu untuk sukses dalam jangka panjang. Ingatlah untuk terus menilai dan menyesuaikan strategi manajemen risiko Anda berdasarkan kondisi pasar dan tujuan investasi yang terus berkembang.

  • Options Trading oleh PT PG Berjangka telah berlisensi dan diawasi oleh BAPPEBTI, BBJ dan KBI serta bekerja sama dengan Pialang luar negeri yang berlisensi dan diaswasi oleh SEC dan OCC.
  • Options Trading adalah produk berisiko tinggi dan tidak ada jaminan keuntungan yang ditawarkan oleh produk ini. Pelanggan wajib melakukan riset sendiri dalam melakukan transaksi investasi apapun.



Sumber : pluang.com

Exercise dan Assignment

Options trading menawarkan fleksibilitas dan peluang strategis, tetapi memahami konsep exercise dan assignment sangat penting untuk menavigasi pasar yang dinamis ini. Dalam artikel ini, Sobat Cuan akan mempelajari mengenai perbedaan antara exercise dan assignment kontrak options, serta mengeksplorasi risiko yang terkait dengan masing-masing.

Exercise vs Assignment

Exercise atau pengeksekusian adalah proses ketika kamu mengeksekusi kontrak options, kamu menggunakan hak kamu sebagai pemegang (pembeli) options untuk membeli (dalam kasus call options) atau menjual (dalam kasus put options) underlying asset pada strike price kontrak. Hal ini dapat dilakukan kapan saja sebelum options berakhir untuk options Amerika dan hanya bisa dilakukan pada saat kedaluwarsa untuk options Eropa. Exercise kontrak options berlaku ketika Sobat Cuan memiliki posisi long atau membeli kontrak options.

Assignment atau penugasan terjadi ketika penjual (writer) kontrak options berkewajiban untuk memenuhi kewajibannya untuk membeli atau menjual underlying asset pada strike price. Hal ini terjadi ketika pembeli options memutuskan untuk menggunakan haknya. Assignment dapat terjadi secara acak tergantung kapan pemegang kontrak options ingin meng-exercise kontraknya (untuk options Amerika) atau hanya saat tanggal kedaluwarsa (untuk options Eropa). Assignment terhadap kontrak options berlaku ketika Sobat Cuan memiliki posisi short atau menjual sebuah kontrak options (sell to open).

Perbedaan utama antara exercise dan assignment terletak pada siapa yang memulai tindakan tersebut. Exercise dilakukan oleh pemegang options, sedangkan assignment dipaksakan kepada penjual options ketika pemegang options memutuskan untuk melakukan exercise pada kontraknya.

Risiko

Sebagian besar trader options lebih memilih untuk menutup posisi mereka (sell to close), dengan cara menjual untuk posisi long atau membeli untuk posisi short, sebelum kedaluwarsa daripada exercise kontraknya atau terkena kewajiban assignment. Dengan menutup posisi, trader dapat menghindari risiko yang terkait dengan exercise dan/atau assignment.

Risiko mendapatkan assignment adalah terpaksa terekspos pada posisi yang tidak diinginkan. Contohnya, jika Sobat Cuan menjual call options, bila terjadi assignment, kemungkinan kamu akan diharuskan untuk menjual underlying asset seharga strike price kepada pemegang (pembeli) options tersebut apabila dia memutuskan untuk meng-exercise kontraknya, yang dapat mengakibatkan kerugian yang signifikan jika harga underlying asset naik tajam. Sedangkan sebaliknya, apabila Sobat Cuan menjual put options, jika terjadi assignment maka kamu akan diharuskan untuk membeli underlying asset seharga strike price kepada pemegang options tersebut apabila dia memutuskan untuk meng-exercise, yang dapat mengakibatkan kerugian yang signifikan apabila underlying price turun tajam. Perlu diingat juga bahwa satu kontrak options mewakili 100 lembar saham, apabila terkena kewajiban assignment maka kamu harus menjual minimal 100 lembar saham atau membeli 100 lembar saham yang tentunya tidak murah.

Exercise juga tidak terhindar dari risiko. Contohnya, dengan membeli call options berarti kamu berkewajiban untuk membeli underlying asset pada strike price dalam jumlah yang sangat banyak (minimal 100 lembar karena satu kontrak options merepresentasikan 100 lembar saham), yang tentunya membutuhkan modal yang tinggi dan membuat kamu terpapar risiko pasar lebih lanjut. 

Sebaliknya apabila kamu membeli put options berarti kamu berkewajiban untuk menjual saham yang kamu miliki dalam jumlah yang sangat banyak pula, yang akan menyebabkan adanya kemungkinan kamu melewatkan kesempatan apabila pada suatu saat harga saham tersebut akan naik dan juga potensi mendapatkan deviden.

Mengelola Risiko Exercise dan Assignment

Untuk mengurangi risiko dari exercise kamu harus hati-hati dengan tanggal kedaluwarsa. Karena apabila kalian meninggalkan options kamu kedaluwarsa, ada kemungkinan kalian diharuskan melakukan exercise. Kamu bisa menutup posisi options kamu dengan cara menjual options (sell to close) kamu sebelum waktu kedaluwarsa. Untuk mengurangi risiko yang terkait dengan assignment, kamu juga dapat menutup posisi options kamu dengan cara membeli options (buy to close) posisi options sebelum kedaluwarsa. 

Selain itu, menggunakan teknik manajemen risiko seperti stop-loss order dan position sizing dapat membantu membatasi potensi kerugian dari exercise dan assignment yang tidak terduga.

Memahami konsep exercise dan assignment options sangat penting bagi Sobat Cuan untuk mengelola risiko secara efektif dan mengoptimalkan strategi trading kamu. Dengan mengetahui kapan dan bagaimana cara menggunakan options, serta risiko yang terkait dengan assignment, Sobat Cuan dapat membuat keputusan yang tepat dan menavigasi kompleksitas options trading dengan percaya diri. Ingat, selalu konsultasikan dengan penasihat keuangan atau profesional sebelum mengambil keputusan trading untuk memastikan keputusan tersebut sesuai dengan tujuan investasi dan toleransi risiko kamu.

  • Options Trading oleh PT PG Berjangka telah berlisensi dan diawasi oleh BAPPEBTI, BBJ dan KBI serta bekerja sama dengan Pialang luar negeri yang berlisensi dan diaswasi oleh SEC dan OCC.
  • Options Trading adalah produk berisiko tinggi dan tidak ada jaminan keuntungan yang ditawarkan oleh produk ini. Pelanggan wajib melakukan riset sendiri dalam melakukan transaksi investasi apapun.



Sumber : pluang.com