Category: Pluang

  • 1. Memahami Risiko dalam Investasi

    1.1 Latar Belakang

    Investasi dalam aset apapun dapat menjadi salah satu cara untuk mendapatkan pemasukan dan bisa mengembangkan kekayaan dalam jangka panjang.

    Namun, sama seperti instrumen investasi lain, instrumen investasi pastinya memiliki risiko yang perlu investor perhatikan. 

    1.1.1 Sekilas tentang Investasi 

    Investasi merupakan pengelolaan keuangan dengan maksud untuk mengembangkan dana atau meningkatkan kekayaan.

    Ada berbagai macam jenis investasi, termasuk emas, reksadana, deposito, obligasi, saham, properti, dan lain sebagainya. Apapun pilihan instrumen yang akan Sobat Cuan ambil, penting untuk memahami risiko investasi sebelum memulai.

    Walaupun terdapat risiko dalam investasi, manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan pengelolaan keuangan ini juga signifikan. Beberapa di antaranya melibatkan:

    1. Menjamin kestabilan keuangan di masa depan.
    2. Aset investasi dapat menghasilkan pendapatan tambahan sebagai sumber penghasilan tetap.
    3. Mengurangi risiko terjebak dalam hutang dengan lebih fokus pada penyaluran dana untuk tabungan atau investasi.
    4. Menghindari risiko tekanan keuangan yang dapat muncul.
    5. Menyediakan jaminan finansial bagi keluarga di masa mendatang.

    Investasi dianggap sebagai bagian integral dari perencanaan keuangan jangka panjang yang krusial untuk membangun masa depan finansial. Oleh karena itu, meskipun terdapat risiko, sebaiknya tetap alokasikan sebagian penghasilan demi meraih keuntungan dari kegiatan investasi.

    1.2 Jenis-jenis Risiko dalam Investasi

    Sobat Cuan akan memahami 7 jenis risiko investasi dengan lebih detail untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya hal tersebut di masa depan.

    Berikut tiga jenis risiko dalam investasi: 

    1.2.1 Risiko Pasar (Market Risk)

    Risiko pasar, yang juga dikenal sebagai risiko sistematis, adalah potensi kerugian akibat fluktuasi harga instrumen keuangan yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti pergeseran ekonomi, perkembangan politik, atau bencana alam. Jenis risiko ini memengaruhi semua sekuritas di pasar atau kelas aset tertentu dan tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi.

    1. Harga Aset: Perubahan harga aset (contohnya saham) dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kinerja perusahaan, tren industri, kondisi ekonomi, dan sentimen investor. Harga saham dapat berubah-ubah, dan risiko pasar muncul dari ketidakpastian pergerakan harga ini. Harga aset yang menurun dapat mengakibatkan kerugian modal yang diakibatkan penjualan aset dengan harga lebih rendah dibandingkan harga beli.
    2. Suku Bunga: Perubahan suku bunga memengaruhi nilai aset berpendapatan tetap seperti obligasi. Ketika suku bunga naik, harga obligasi turun, dan sebaliknya. Risiko suku bunga ini berdampak pada investor perorangan dan institusi yang memegang obligasi dalam portofolio mereka.
    3. Nilai Tukar: Untuk bisnis yang beroperasi di berbagai negara atau investor yang memiliki aset asing, pergerakan nilai tukar dapat memengaruhi imbal hasil secara signifikan. Fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi nilai investasi dan keuntungan dari perdagangan internasional.
    4. Harga Komoditas: Perusahaan yang terlibat dalam produksi, distribusi, atau konsumsi komoditas terpapar risiko harga komoditas. Risiko ini muncul dari volatilitas harga komoditas seperti minyak, emas, produk pertanian, dan logam, yang berdampak pada pendapatan dan biaya.

    Risiko pasar melekat pada investasi dan tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Namun, investor dapat mengelola risiko ini melalui diversifikasi, lindung nilai, dan strategi manajemen risiko lainnya untuk mengurangi dampak pergerakan pasar yang merugikan pada portofolio mereka.

    1.2.2 Risiko Kredit (Credit Risk)

    Risiko kredit, yang juga dikenal sebagai risiko gagal bayar, adalah risiko dimana peminjam atau pihak lawan akan gagal memenuhi kewajiban keuangan mereka, seperti membayar kembali pinjaman atau memenuhi perjanjian kontrak. Risiko ini lazim terjadi pada aktivitas peminjaman dan investasi dimana satu pihak memberikan kredit kepada pihak lain.

    1. Lembaga Pemberi Pinjaman: Bank, credit unions, dan lembaga keuangan lainnya menghadapi risiko kredit saat mereka meminjamkan uang kepada individu, bisnis, atau lembaga lain. Jika peminjam gagal membayar pinjaman mereka, lembaga pemberi pinjaman dapat mengalami kerugian.
    2. Investor Obligasi: Investor obligasi terpapar risiko kredit saat mereka berinvestasi dalam obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah, pemerintah daerah, atau perusahaan. Jika penerbit obligasi gagal membayar, pemegang obligasi mungkin tidak menerima pembayaran bunga atau jumlah pokok seperti yang dijanjikan.
    3. Risiko Counterparty: Dalam transaksi derivatif dan transaksi keuangan lainnya, risiko counterparty mengacu pada risiko bahwa pihak lain yang terlibat dalam transaksi tidak akan memenuhi kewajibannya. Risiko ini sangat signifikan terutama pada aset derivatif yang diperdagangkan di luar bursa atau over the counter (OTC), di mana tidak ada lembaga kliring sentral.

    Manajemen risiko kredit mencakup penilaian kelayakan kredit peminjam atau counterparty dan penerapan strategi untuk mengurangi potensi kerugian. Pemberi pinjaman dan investor sering menggunakan skor kredit, laporan keuangan, dan indikator lainnya untuk mengevaluasi risiko kredit. Mereka juga dapat menggunakan derivatif kredit, seperti credit default swap, atau melakukan hedging untuk melindungi nilai aset dari potensi kerugian akibat gagal bayar.

    1.2.3 Risiko Likuiditas (Liquidity Risk)

    Risiko likuiditas adalah risiko bahwa investor atau entitas tidak dapat menjual aset dengan cukup cepat untuk mencegah kerugian atau untuk mengakses dana saat dibutuhkan. Risiko ini muncul dari kemungkinan memburuknya kondisi pasar atau kurangnya pelaku pasar yang bersedia membeli aset pada harga yang wajar.

    1. Kondisi Pasar: Risiko likuiditas dapat meningkat pada periode financial stress dimana kondisi pasar tidak menentu atau bahkan kondisi pasar yang menurun pasar ketika ada kekurangan likuiditas secara umum di pasar. Selama periode ini, investor mungkin merasa kesulitan untuk menjual aset dengan cepat tanpa mengurangi harga jual secara signifikan.
    2. Faktor Spesifik Aset: Beberapa aset secara inheren kurang likuid dibandingkan yang lain. Contohnya, properti dan beberapa jenis sekuritas mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk dijual daripada aset yang sangat likuid seperti saham. Kurangnya likuiditas ini dapat meningkatkan risiko kerugian jika kebutuhan untuk menjual muncul secara tiba-tiba.
    3. Dampak pada Harga: Ketika likuiditas rendah di pasar, penjual mungkin terpaksa menerima harga yang lebih rendah untuk menarik pembeli. Hal ini dapat mengakibatkan penjualan aset kurang dari nilai fundamentalnya, yang menyebabkan kerugian.

    Manajemen risiko likuiditas mencakup antara lain menjaga keseimbangan antara aset yang mudah dikonversi menjadi uang tunai dan aset yang menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi namun kurang likuid.

    Diversifikasi, mempertahankan cadangan kas yang memadai, dan memantau kondisi pasar merupakan strategi umum untuk memitigasi risiko likuiditas. Anda juga bisa fokus pada investasi yang likuid, prioritaskan aset dengan likuiditas lebih tinggi, seperti saham berkapitalisasi besar dan ETF/reksa dana yang diperdagangkan secara aktif. 

    1.2.4 Risiko Solvabilitas (Solvability Risk)

    Risiko solvabilitas adalah risiko bahwa sebuah organisasi, baik itu perusahaan atau entitas lain, dapat menghadapi kesulitan keuangan atau kebangkrutan karena ketidakmampuan untuk memenuhi kewajiban keuangannya.

    Bagi investor ritel, memahami risiko solvabilitas sangat penting karena secara langsung berdampak pada kesehatan dan stabilitas keuangan perusahaan tempat mereka berinvestasi. Berikut ini penjelasan mengenai poin-poin pentingnya:

    1. Definisi Risiko Solvabilitas: Risiko solvabilitas berkaitan dengan kemampuan organisasi untuk tetap bertahan secara finansial dalam jangka panjang. Risiko ini muncul ketika suatu entitas tidak memiliki sumber daya keuangan yang diperlukan untuk memenuhi kewajibannya, seperti melunasi utang, memenuhi biaya operasional, atau memenuhi komitmen kontrak.
    2. Dampak terhadap Investor: Bagi investor ritel, risiko solvabilitas sangat penting karena kesehatan keuangan perusahaan dalam portofolio investasi mereka secara langsung memengaruhi nilai investasi mereka. Jika sebuah perusahaan menghadapi masalah solvabilitas, hal ini dapat menyebabkan penurunan harga saham, potensi kebangkrutan, dan risiko kerugian bagi investor.
    3. Pertimbangan Arus Kas: Pernyataan tersebut secara khusus menyebutkan risiko kehabisan uang tunai. Arus kas adalah indikator penting dari kemampuan organisasi untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Investor ritel harus memperhatikan laporan arus kas perusahaan untuk menilai likuiditas dan kemampuannya memenuhi kebutuhan keuangan yang mendesak.
    4. Due Diligence: Investor ritel perlu melakukan uji tuntas menyeluruh terhadap kesehatan keuangan perusahaan yang mereka pertimbangkan untuk investasi. Ini termasuk menganalisis laporan keuangan, tingkat utang, dan posisi arus kas untuk mengukur risiko solvabilitas setiap investasi.

    Singkatnya, bagi investor ritel, menyadari dan mengevaluasi risiko solvabilitas sangat penting untuk membuat keputusan investasi yang tepat. Hal ini melibatkan penilaian kekuatan keuangan perusahaan, memahami kemampuan mereka untuk memenuhi kewajiban, dan menggabungkan strategi mitigasi risiko untuk melindungi portofolio investasi secara keseluruhan.

    1.2.5 Risiko Non-Keuangan (Non-Financial Risk)

    Risiko non-keuangan adalah risiko yang timbul dari faktor-faktor selain fluktuasi pasar keuangan atau risiko kredit. Risiko-risiko ini dapat berdampak signifikan terhadap operasi, reputasi, dan kesehatan keuangan organisasi. Berikut adalah beberapa contoh risiko non-keuangan:

    1. Settlement Risk: Risiko ini muncul dalam transaksi di mana salah satu pihak menyerahkan aset atau dana, tetapi pihak lawan gagal melakukannya. Hal ini dapat terjadi pada berbagai transaksi keuangan, termasuk perdagangan sekuritas dan transaksi valuta asing.
    2. Risiko Hukum: Risiko hukum timbul dari potensi kerugian akibat tindakan hukum, tuntutan hukum, atau sanksi peraturan. Hal ini dapat mencakup risiko tuntutan hukum, tindakan penegakan hukum, atau perselisihan kontrak. Risiko hukum dapat timbul dari berbagai sumber, seperti ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dokumentasi hukum yang tidak memadai, atau perubahan standar hukum.
    3. Risiko Regulasi: Risiko hukum dan risiko regulasi adalah konsep yang saling terkait namun berbeda dalam manajemen risiko. Risiko regulasi secara khusus mengacu pada risiko kerugian finansial atau kerusakan reputasi yang diakibatkan oleh pelanggaran hukum, peraturan, atau standar industri. Perubahan peraturan atau pengawasan regulasi juga dapat menimbulkan risiko bagi bisnis. Risiko regulasi lebih difokuskan pada risiko yang terkait dengan kepatuhan terhadap peraturan dan potensi konsekuensi dari ketidakpatuhan, seperti denda, penalti, atau kerusakan reputasi.
    4. Risiko Akuntansi: Risiko akuntansi mengacu pada potensi kesalahan atau kesalahan penyajian data dalam pelaporan keuangan. Hal ini dapat diakibatkan oleh kesalahan dalam praktik akuntansi, kecurangan, atau kesalahan interpretasi standar akuntansi.
    5. Risiko Pajak: Risiko pajak muncul dari potensi konsekuensi pajak yang merugikan karena perubahan undang-undang perpajakan, perhitungan pajak yang salah, atau kegagalan untuk mematuhi peraturan perpajakan.
    6. Risiko Model: Risiko model adalah risiko kerugian finansial akibat kesalahan atau keterbatasan dalam model keuangan yang digunakan untuk pengambilan keputusan. Risiko ini dapat disebabkan oleh ketidakakuratan asumsi, input data, atau desain model.
    7. Tail Risk: Tail Risk mengacu pada risiko kejadian ekstrem atau tak terduga yang berada di luar ekspektasi normal. Peristiwa ini sering disebut sebagai peristiwa “black swan“, dimana peristiwa ini dapat memiliki dampak yang signifikan pada pasar keuangan dan bisnis.
    8. Risiko Operasional: Risiko operasional adalah risiko kerugian yang diakibatkan oleh proses, sistem, atau manusia internal yang tidak memadai atau gagal, atau dari kejadian eksternal. Risiko ini mencakup risiko yang terkait dengan teknologi, kesalahan manusia, penipuan, dan bencana alam.

    Memitigasi risiko non-finansial adalah aspek penting dari manajemen risiko yang efektif bagi investor. Risiko non-finansial dapat mencakup berbagai faktor, termasuk masalah lingkungan, sosial, tata kelola (ESG), peristiwa geopolitik, perubahan peraturan, dan banyak lagi. 

    1.2.6 Prinsip Mitigasi Risiko 

    Dalam hal ini, prinsip-prinsip mitigasi risiko non-finansial juga dapat diterapkan pada investor ritel. Meskipun beberapa strategi, lebih sering dikaitkan dengan investor institusional, investor ritel masih dapat mengadopsi banyak dari prinsip-prinsip ini untuk mengelola risiko non-keuangan secara efektif. Investor ritel dapat menerapkan prinsip-prinsip mitigasi risiko dengan:

    1. Diversifikasi: Menyebarkan investasi ke berbagai aset untuk mengurangi eksposur terhadap risiko non-keuangan tertentu.
    2. Due Diligence: Melakukan riset terhadap investasi yang potensial dengan menggunakan informasi yang tersedia, seperti laporan keuangan, dan ESG rating.
    3. Integrasi ESG: Mempertimbangkan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola sebuah perusahaan saat membuat keputusan investasi.
    4. Tetap Update: Terus mengikuti perkembangan peristiwa global, perubahan peraturan, dan tren pasar.
    5. Pemantauan Aktif: Tinjau dan kaji ulang portofolio investasi Anda secara teratur untuk mengelola risiko secara proaktif.
    6. Kepatuhan Hukum: Memastikan investasi mematuhi peraturan yang relevan.

    Sesuaikan pendekatan Anda berdasarkan pengetahuan, sumber daya, dan toleransi risiko, dan apabila memungkinkan, mintalah panduan dari penasihat keuangan atau manfaatkan platform yang menyediakan informasi mengenai risiko non-keuangan.

    1.3 Cara Mengelola Risiko dalam Investasi

    Risiko selalu merupakan bagian dari investasi, sehingga investor dapat mengambil beberapa strategi untuk mengelola risiko dan membuat keputusan investasi yang bijak. 

    Berikut adalah beberapa metode untuk mengatasi risiko dalam investasi:

    1.3.1 Pahami Profil Risiko

    Dalam melakukan investasi, penting bagi investor untuk memahami profil risiko mereka terlebih dahulu. 

    Dengan mengetahui profil risiko, investor dapat menentukan apakah aset yang dipilih sesuai dengan preferensi risiko mereka. Terdapat tiga kategori profil risiko, yaitu:

    1.3.1.1 Konservatif

    Profil risiko konservatif mencirikan investor yang lebih fokus pada kestabilan dan keamanan dana daripada mencari keuntungan nilai investasi.

    1.3.1.2 Moderat

    Profil risiko moderat melibatkan investor dengan tingkat toleransi risiko yang seimbang antara potensi keuntungan dan kerugian.

    1.3.1.3 Agresif

    Profil risiko agresif merujuk pada investor yang cenderung mengambil risiko tinggi dalam melakukan investasi.

    1.3.2 Diversifikasi Portofolio

    Diversifikasi merupakan strategi kunci untuk mengurangi risiko dalam investasi. Dengan menyebar investasi pada berbagai aset yang berbeda, potensi kerugian keseluruhan portofolio dapat ditekan. 

    Investor dapat melakukan diversifikasi dengan berinvestasi di berbagai industri, menggabungkan saham, crypto, obligasi, dan instrumen investasi lain dalam portofolio mereka sesuai dengan profil risiko masing-masing investor.

    1.3.3 Riset yang Mendalam

    Melakukan riset mendalam (due diligence) menjadi kunci untuk membuat keputusan investasi yang lebih cerdas. Lakukan analisis menyeluruh terhadap perusahaan atau saham yang akan diinvestasikan.

    Tinjau laporan keuangan, lakukan analisis fundamental, dan ikuti berita terkini yang dapat memengaruhi harga saham. Riset yang cermat sebelum melakukan investasi dapat membantu investor menghindari potensi risiko dan mengelola investasinya secara lebih efektif.

    Investasi saham dan kripto memiliki potensi keuntungan yang besar tetapi juga membawa risiko tinggi (high risk high return). Dengan memahami jenis risiko, penyebabnya, dan cara mengatasinya, investor dapat membuat keputusan investasi yang lebih bijak.

    1.3.4 Penggunaan Stop, Limit, & Stop-Limit Order

    Menggunakan stop order, limit order, dan stop-limit order adalah alat penting untuk manajemen risiko dalam berinvestasi. Jenis-jenis order ini membantu investor ritel mengimplementasikan instruksi spesifik untuk membeli atau menjual aset pada harga yang telah ditentukan, sehingga mereka dapat mengelola potensi kerugian dan mengontrol titik masuk dan keluar.

    Berikut penjelasan mengenai setiap jenis order dan bagaimana mereka berkontribusi pada manajemen risiko:

    1. Stop Order: Stop order terutama digunakan untuk membatasi potensi kerugian. Contohnya, order sell-stop yang ditempatkan di bawah harga pasar saat ini dapat terpicu jika nilai aset menurun, sehingga membantu investor meminimalkan kerugian dengan keluar dari posisi.
    2. Limit Order: Limit order digunakan untuk mengontrol titik masuk atau keluar dengan memastikan bahwa order dieksekusi pada tingkat harga tertentu. Hal ini membantu investor menghindari perubahan harga yang tidak terduga dan memastikan bahwa mereka hanya masuk atau keluar dari posisi pada harga yang menguntungkan.
    3. Stop-Limit Order: Stop-limit order digunakan untuk mengontrol titik masuk dan keluar, memberikan presisi tambahan. Order ini dapat sangat berguna selama kondisi pasar yang bergejolak dengan memungkinkan investor untuk menetapkan level tertentu di mana mereka ingin order mereka dieksekusi.

    1.3.4.1 Contoh

    1. Stop Order

    Seorang investor memiliki saham yang saat ini diperdagangkan di harga US$50 dan menempatkan sell-stop order di harga US$45. Jika harga saham turun menjadi US$45 atau di bawahnya, order tersebut menjadi market order, dan saham tersebut dijual pada harga pasar yang berlaku.

    2. Limit Order

    Seorang investor ingin membeli saham yang diperdagangkan pada harga US$50, namun hanya jika harga turun menjadi US$48. Investor tersebut menempatkan buy-limit order pada harga $48, memastikan bahwa ia hanya akan membeli saham tersebut pada atau di bawah harga yang ditentukan.

    3. Stop-Limit Order

    Seorang investor memiliki sebuah saham di harga US$60 dan menempatkan sell-stop-limit order dengan harga stop di US$55 dan harga limit di US$54,50. Jika saham turun ke US$55, limit order untuk menjual akan terpicu, namun hanya akan dieksekusi pada harga US$54,50 atau lebih baik.

    1.3.4.2 Pertimbangan Manajemen Risiko:

    1. Stop order dan stop-limit order mungkin tidak menjamin eksekusi pada harga yang ditentukan selama pergerakan pasar yang cepat, memungkinkan terjadinya price slippage.
    2. Investor harus mewaspadai potensi perbedaan harga, terutama selama perdagangan setelah jam kerja (after hour trading), di mana harga eksekusi mungkin berbeda secara signifikan dari harga stop atau limit.

    Investor ritel harus mempertimbangkan dengan cermat toleransi risiko, kondisi pasar, dan tujuan investasi mereka saat menggunakan jenis-jenis order di atas. Investor dianjurkan untuk selalu mendapatkan informasi tentang mekanisme spesifik dan potensi keterbatasan yang terkait dengan setiap jenis order untuk menerapkan strategi manajemen risiko secara efektif.

    1.3.5 Peninjauan Portofolio

    Peninjauan portofolio secara teratur adalah praktik penting bagi investor ritel, yang melibatkan evaluasi sistematis untuk memastikan keselarasan dengan tujuan keuangan dan kondisi pasar. Komponen-komponen utamanya meliputi:

    1. Frekuensi: Tentukan jadwal yang konsisten untuk peninjauan, biasanya setiap tiga bulan atau setiap tahun.
    2. Evaluasi performa: Menilai performa portofolio secara keseluruhan terhadap tujuan dan tolok ukur.
    3. Penilaian Risiko: Mengevaluasi profil risiko, memastikan keselarasan dengan toleransi risiko dan jangka waktu investasi.
    4. Alokasi Aset: Meninjau dan menyeimbangkan kembali portofolio untuk mempertahankan alokasi aset yang diinginkan.
    5. Analisis Aset Individual: Menganalisis faktor fundamental dan teknikal yang mempengaruhi kepemilikan tertentu.
    6. Biaya-biaya: Memeriksa biaya-biaya terkait untuk memastikan kesesuaiannya dengan nilai investasi.
    7. Pendapatan dan Dividen: Menilai penghasilan pendapatan dari aset, memastikan aset tersebut memenuhi kebutuhan keuangan.
    8. Kondisi Pasar: Pertimbangkan faktor ekonomi dan pasar yang lebih luas dalam pengambilan keputusan.
    9. Pertimbangan Pajak: Mengevaluasi implikasi pajak dan mempertimbangkan strategi yang hemat pajak.
    10. Tinjauan Tujuan Keuangan: Tinjau kembali tujuan keuangan dan sesuaikan strategi berdasarkan perubahan situasi.
    11. Dokumentasi: Menyimpan catatan rinci tentang tinjauan, mendokumentasikan perubahan dan alasan untuk referensi di masa mendatang.

    Peninjauan rutin membantu investor membuat keputusan yang tepat, beradaptasi dengan kondisi yang berubah, dan memastikan portofolio mereka tetap selaras dengan tujuan jangka panjang.

    1.4 Kesimpulan

    Meskipun risiko investasi tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, pemahaman dan pengelolaan yang baik dapat membantu investor mengatasi potensi kerugian. 

    Dengan memanfaatkan strategi diversifikasi, penelitian menyeluruh, dan pendidikan berkelanjutan, investor dapat meminimalisir dampak risiko pada portofolio mereka.



    Sumber : pluang.com

  • 2. Toleransi Risiko, Definisi dan Faktor Pentingnya

    2.1 Latar Belakang

    Toleransi risiko adalah elemen penting dalam berinvestasi karena ini mencerminkan kesediaan investor untuk menerima fluktuasi hasil investasi. Memahami toleransi risiko seseorang membantu dalam menentukan sejauh mana mereka dapat menangani perubahan signifikan dalam nilai investasi mereka.

    Contohnya, penurunan drastis nilai investasi saham secara tiba-tiba dapat menyebabkan kepanikan dan pengambilan keputusan yang buruk, seperti menjual aset di waktu yang salah, yang mengakibatkan kerugian. Menilai toleransi risiko membantu investor menghindari reaksi seperti itu dengan memandu mereka memilih investasi yang sesuai dengan tingkat kenyamanan mereka, yang pada akhirnya menghasilkan keputusan investasi yang lebih tepat dan sesuai.

    2.2 Memahami Toleransi Risiko

    Semua investasi melibatkan sejumlah risiko, dan mengetahui tingkat toleransi risiko membantu investor merencanakan seluruh portofolio mereka, menentukan bagaimana mereka berinvestasi. 

    2.2.1 Jenis Investor Berdasarkan Toleransi Risiko

    Berdasarkan seberapa besar risiko yang dapat mereka toleransi, investor diklasifikasikan sebagai agresif, moderat, dan konservatif.

    1. Investor Agresif: Investor agresif adalah mereka yang siap menanggung risiko yang tinggi demi peluang keuntungan yang lebih besar. Mereka cenderung untuk berinvestasi dalam instrumen keuangan yang memiliki volatilitas tinggi, seperti saham individual atau dana investasi yang berfokus pada pertumbuhan.
    2. Investor Moderat: Investor moderat memiliki tingkat sedang dalam menoleransi risiko. Mereka cenderung mencari keseimbangan antara pertumbuhan dan keamanan investasi. Biasanya, mereka akan melakukan alokasi aset yang seimbang antara instrumen berisiko lebih tinggi dan instrumen yang lebih stabil, seperti campuran saham dan obligasi.
    3. Investor Konservatif: Investor konservatif adalah mereka yang cenderung menghindari risiko besar dan lebih memilih untuk melindungi modal mereka. Mereka biasanya akan berinvestasi dalam instrumen yang lebih stabil dan konservatif, seperti obligasi pemerintah atau reksa dana pasar uang.

    2.2.2 Faktor yang Mempengaruhi

    1. Horison Waktu (Time Horizon): Ini merujuk pada jangka waktu yang tersedia bagi investor untuk mencapai tujuan investasi mereka. Semakin panjang horison waktu, semakin besar risiko yang bisa ditoleransi. Investor dengan horison waktu yang lebih panjang cenderung dapat menanggung risiko lebih tinggi karena mereka memiliki lebih banyak waktu untuk pulih dari kerugian jangka pendek.
    2. Tujuan Keuangan: Tujuan investasi seseorang juga memengaruhi toleransi risiko. Jika tujuan investasi adalah untuk pertumbuhan jangka panjang, investor mungkin lebih bersedia menanggung risiko. Namun, jika tujuan investasi adalah untuk mempertahankan modal atau pendapatan tetap, toleransi risiko mungkin lebih rendah.
    3. Pengalaman dan Pengetahuan Keuangan: Tingkat pengalaman dan pengetahuan keuangan seseorang juga dapat mempengaruhi toleransi risiko. Investor yang lebih berpengalaman dan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pasar keuangan cenderung memiliki toleransi risiko yang lebih tinggi karena mereka dapat membuat keputusan investasi yang lebih terinformasi.
    4. Kondisi Keuangan Pribadi: Kondisi keuangan pribadi, seperti pendapatan, tabungan, dan tanggungan keuangan, juga dapat mempengaruhi toleransi risiko seseorang. Orang yang memiliki keadaan keuangan yang stabil mungkin lebih bersedia menanggung risiko daripada orang yang berada dalam situasi keuangan yang lebih rentan.
    5. Kepribadian dan Sikap Mental: Faktor psikologis seperti kepribadian dan sikap mental terhadap risiko juga berperan. Beberapa orang secara alami lebih cenderung mengambil risiko, sementara yang lain lebih konservatif dalam pendekatan investasi mereka.

    Memahami faktor-faktor ini dapat membantu investor menentukan toleransi risiko mereka dan memilih strategi investasi yang sesuai dengan profil mereka.

    2.2.3 Mengapa Toleransi Risiko Sangat Penting?

    Toleransi risiko Anda memainkan peran krusial dalam rencana Anda untuk mengembangkan uang Anda tanpa harus merasa stres setiap hari.

    Jika Anda tidak memiliki ketahanan terhadap risiko kehilangan pokok Anda, bahkan sementara, Anda harus puas dengan investasi berisiko rendah dan imbal hasil yang lebih rendah yang menyertainya.

    Investasi dengan potensi keuntungan lebih tinggi seringkali datang dengan potensi penurunan mendalam atau kerugian langsung yang lebih tinggi.

    Dengan pemahaman tentang toleransi risiko Anda, Anda dapat membuat strategi investasi yang membantu Anda menyeimbangkan kekhawatiran volatilitas dengan potensi keuntungan yang lebih besar.

    2.2.4 Bagaimana Toleransi Risiko Bekerja? 

    Siapa pun bisa memiliki toleransi risiko yang tinggi saat harga aset sedang naik. Namun, waktu terbaik untuk benar-benar menilai toleransi risiko Anda adalah ketika pasar sedang turun.

    Berkaca pada pengalaman Maret 2020, saat pasar anjlok. Angka pengangguran melonjak. Dunia menghadapi tingkat ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya, bertanya-tanya apakah Covid-19 akan menghancurkan ekonomi.

    Saat itu, bagaimana toleransi risiko Sobat Cuan? Apakah bisa bertahan melewati masa-masa sulit itu? Jika menjual saham selama kepanikan, toleransi risiko cenderung rendah. Atau apakah Sobat Cuan bersedia berinvestasi lebih untuk memanfaatkan aksi jual pasar? Jika demikian, toleransi risiko tinggi, dan itu bermanfaat bagi Sobat Cuan saat pasar saham mencapai rekor tertinggi pada 2021.

    2.3 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Toleransi Risiko

    Toleransi risiko adalah kemampuan seseorang untuk menerima dan bertahan terhadap risiko dalam berinvestasi. Toleransi risiko ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti:

    1. Jangka waktu investasi: Semakin lama jangka waktu investasi, semakin besar risiko yang bisa diambil. Hal ini karena seseorang memiliki lebih banyak waktu untuk memulihkan kerugian jika terjadi.
    2. Tujuan investasi: Jika tujuan investasi adalah untuk mendapatkan keuntungan besar dalam jangka pendek, maka toleransi risiko harus tinggi. Namun, jika tujuan investasi adalah untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang, maka toleransi risiko bisa lebih rendah.
    3. Usia: Semakin muda usia seseorang, maka toleransi risikonya cenderung lebih tinggi. Hal ini karena seseorang yang masih muda memiliki lebih banyak waktu untuk bekerja dan mengumpulkan kembali dana jika terjadi kerugian.
    4. Ukuran portofolio: Semakin besar ukuran portofolio, maka toleransi risikonya cenderung lebih tinggi. Hal ini karena seseorang memiliki lebih banyak dana untuk menanggung kerugian.
    5. Tingkat kenyamanan: Setiap orang memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda-beda dalam menghadapi risiko. Ada orang yang lebih suka mengambil risiko tinggi untuk mendapatkan keuntungan besar, ada juga orang yang lebih suka menghindari risiko.

    2.4 Kesimpulan

    Sebelum memulai perjalanan investasimu, pahamilah tingkat toleransi risikomu. Dengan mengetahui toleransi risiko, Sobat Cuan dapat memilih instrumen investasi yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan.



    Sumber : pluang.com

  • Sobat Cuan, Begini Lho Panduan Cara Baca Fund Fact Sheet Reksadana!

    Semua sepakat bahwa reksadana adalah investasi yang mudah. Kamu bisa mendulang cuan hanya dengan rebahan saja. Sampai-sampai kamu pun akhirnya dikirimi lembaran kinerja investasi reksadanamu yang bertajuk fund fact sheet.

    Mungkin kamu bertanya-tanya. Apa itu fund fact sheet? Apa guna fund fact sheet? Dan bagaimana cara baca fund fact sheet? Nah, mungkin ada baiknya Sobat Cuan memperhatikan artikel ini dengan seksama!

    Apa Itu Fund Fact Sheet?

    Secara garis besar, fund fact sheet adalah laporan produk reksadana yang diterbitkan manajer investasi terkait kinerja produk reksadana, informasi portofolio dan jumlah dana kelolaannya. Banyaknya informasi dalam selembar laporan ini memaksa kamu untuk memahaminya agar tepat memilih produk reksadana

    Ketika melihat fund fact sheet tersebut, kamu akan disajikan data tentang kinerja reksadana dalam bentuk grafik dan angka yang terkesan rumit. Kira-kira seperti apa sih, contoh fund fact sheet tersebut? Nah, kamu bisa lihat contohnya di bawah ini.

    Cara Baca Fund Fact Sheet
    Fund Fact Sheet Produk UOB Dana Membangun Negeri

    Terlihat “padat” ya, Sobat Cuan. Tapi, memahami fund fact sheet penting banget lho buat investor reksadana. Sebab, grafik ini memberi tahu kamu kinerja produk reksadana yang kamu beli dan bagaimana prospeknya ke depan. Hal ini tentu saja bisa membantumu menentukan keputusan investasi.

    Biasanya, fund fact sheet merupakan bagian dari laporan reksadana meliputi kinerja dan operasional. Kamu bisa mengaksesnya lewat situs resmi manajer investasi, berikut dengan prospektus, laporan keuangan, laporan tahunan.

    Pentingnya Mengetahui Cara Baca Fund Fact Sheet

    Ibarat pepatah, tak kenal maka tak sayang, mengetahui cara baca fund fact sheet akan membantu kamu mengenal produk yang akan kamu beli. Aktivitas ini sangat disarankan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar investasi kamu tidak seperti membeli kucing dalam karung.

    Kamu bisa memilih lebih dari 300 produk reksadana berbagai jenis yang ada di Indonesia. Disana, kamu bisa menyamakan visi investasi kamu dengan manajer investasi dan produknya.

    Baca juga: Strategi Investasi Reksadana DCA vs Lump Sum: Mana yang Paling Oke?

    Cara Baca Fund Fact Sheet

    Hal pertama yang harus kamu pastikan saat membuka fund fact sheet adalah kesesuaiannya dengan tujuan investasi kamu. Juga, pastikan bahwa risikonya bisa mengakomodasi profil risiko kamu.

    Misalkan saja, investasi kamu bertujuan untuk mengumpulkan pundi-pundi pensiun tanpa harus khawatir terkikis investasi. Maka kamu dapat mencari poin ini dalam fund fact sheet. Seberapa likuid dan baiknya performa produk bisa jadi pertimbangan juga agar investasi kamu tepat sasaran.

    Selebihnya, pahami poin-poin berikut ya, Sobat Cuan.

    1. Nilai Aktiva Bersih (NAB)

    Ini adalah nilai total investasi dalam produk reksadana. NAB dihitung tiap hari atau tiap periode tertentu berdasarkan harga pasar atas aset dalam portofolio. Nilai ini dikurangi beban seperti biaya pengelolaan, biaya kustodi dan pajak. Jadi NAB sudah bebas pajak.

    2. Unit Penyertaan 

    Unit penyertaan adalah nilai satuan reksadana dalam hitungan perunit yang mengacu pada tingkat penjualan atau pembelian reksadana tertentu.

    Nilai NAB ini kemudian dibagi jumlah unit penyertaan menjadi NAB/UP atau NABa, di mana inilah nilai satu unit reksadana yang akan kamu pegang nanti. Fluktuasinya adalah cuan dan rugi kamu dalam investasi di instrumen ini. Jadi, perhatikan dengan seksama ya!

    3. Kinerja Reksadana

    Kamu bisa melihat kinerja reksadana secara historis dalam periode tertentu juga lho, Sobat Cuan. Biasanya periode yang dihitung adalah 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan atau tahun kalender (year-to-date).

    Katanya sih, kinerja historis tidak selalu mencerminkan prospek reksadana. Tapi, setidaknya kamu bisa membaca pola kinerja dari data historis ini.

    4. Kinerja Pembanding

    Agar kamu lebih mudah membandingkan produk satu dengan lainnya, biasanya MI membuat benchmark dalam fund fact sheet. Kamu bisa membacanya untuk mengetahui bagaimana kinerja produk kamu dibanding produk lain yang sejenis.

    5. Alokasi Investasi dan Portofolio

    Diantara semuanya, inilah yang paling penting kamu perhatikan. Informasi inu menampilkan proporsi pengelolaan dana dalam berbagai instrumen dan efek tertentu.

    Kamu bisa menyesuaikan dengan tujuan investasi kamu dan analisa tentang prospek perekonomian ke depan. Pilih yang paling sesuai dengan tujuan kamu ya, Sobat Cuan.

    Baca juga: Sobat Cuan, Simak Yuk Tips Memilih Reksadana yang Tepat!

    Cara Membaca Risiko dalam Fund Fact Sheet

    Meski terbilang sebagai instrumen yang aman, risiko dalam reksadana juga harus kamu waspadai ya.

    Fund fact sheet biasanya menampilkan profil risiko produk berdasarkan klasifikasi dan jenisnya. Adapun  risiko yang umumnya perlu jadi bahan pertimbangan kamu adalah berkurangnya nilai NAB UP, likuiditas, perubahan alokasi efek, nilai investasi sampai faktor makroekonomi dan aturan perpajakan.

    Selain itu, dalam aturan yang berlaku di Indonesia, sebuah produk reksadana bisa dilikuidasi dan dibubarkan apabila dana kelolaannya berada di bawah Rp10 miiar dalam 120 hari kerja bursa berturut-turut. Likuidasi juga bisa dilakukan jika MI mangkir dari aturan OJK.

    Apakah Sobat Cuan sudah cukup paham dengan fund fact sheet? Yuk, segera mulai investasi reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang di Pluang!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Automated Market Makers, Motor Penggerak Teknologi DeFi

    Dunia kripto memang luas, Sobat Cuan. Sampai-sampai, kini mendulang cuan aset kripto tak hanya dengan trading namun juga dengan memanfaatkan ekosistem Decentralized Finance (DeFi).

    Sobat Cuan mungkin sudah paham bahwa seluruh ragam aplikasi DeFi berjalan di atas sistem smart contract beserta satu mekanisme lain yang adalah Automated Market Makers (AMM). Lantas, apa sih arti Automated Market Makers itu sendiri?

    Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Untuk itu, yuk kenali konsep AMM di dalam DeFi di artikel ini!

    Apa Itu Automated Market Makers?

    Secara singkat, Automated Market Makers adalah mekanisme pasar di dunia DeFi di mana besaran harga tidak ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Kemajuan teknologi memungkinkan mekanisme tradisional ini digantikan dengan formulasi matematis yang konstan.

    Seperti yang kita tahu, proyek DeFi terdiri dari banyak ragam. Mulai dari yield farming, crypto lending, dan sebagainya. Selain itu, ada pula platform DeFi yang berfungsi sebagai exchange crypto terdesentralisasi (DEX), misalnya Uniswap. Nah, mekanisme Automated Market Makers ini umum diterapkan di platform yang namanya disebut belakangan ini.

    Mengapa demikian? Platform DEX tentu memfasilitasi banyak transaksi per hari dengan likuiditas yang juga deras. Apalagi, jumlah penggunanya terus meningkat setiap saat.

    Sehingga, jika proses transaksi menggunakan order book seperti platform exchange kripto pada umumnya, maka proses penentuan harga jual-beli di platform DEX tentu akan memakan waktu.

    Maka dari itu, platform DEX lebih memilih menggunakan formula matematika dan algoritma untuk menentukan harga jual-beli aset kripto di dalamnya. Tujuannya tentu saja agar transaksi di platform DEX lebih cepat dan efisien.

    Cukup menarik untuk disimak bukan, Sobat Cuan?

    Automated Market Makers Adalah Evolusi Pasar

    Proyek AMM langsung menarik perhatian dunia investasi ketika pertama kali diimplementasikan pertama kali oleh Shearson Lehman Brothers dan ATD pada 1990. Awalnya temuan ini hanya dimaksudkan untuk mengefisiensikan proses transaksi di pasar modal.

    Sebelum AMM ditemukan, seluruh harga ditentukan melalui order book. Di mana, broker, market makers, dan trader menulis harga permintaan (ask) dan harga penawaran (bid) secara manual. Namun sayangnya, proses ini justru rawan potensi kecurangan dan menghambat likuiditas perdagangan.

    Untuk itulah mereka memperkenalkan AMM. Idenya sederhana, yakni mengganti proses pembentukan harga dari proses tawar menawar secara manual dengan pembentukan harga menggunakan algoritma. Hal ini akan meminimalisisasi potensi terjadinya kecurangan juga menambah likuiditas di pasar

    Sejak 1990 hingga awal 2000 Automated Market Makers terus dikembangkan. Kini, sebagian pasar tersentralisi seperti Nasdaq sudah menggunakan AMM dalam skala tertentu.

    Mekanisme Automated Market Makers

    Sistem AMM bekerja layaknya order book pada umumnya.

    Namun, sang trader tidak perlu berinteraksi dengan trader lainnya untuk untuk menentukan harga bid dan ask. Malahan, mereka justru akan berinteraksi dengan teknologi smart contract, di mana teknologi ini akan membuat “pasar personal” untuk mereka sendiri. Sistem inilah yang membuat AMM dikenal sebagai sistem peer-to-contract (P2C).

    Selain itu, sistem AMM juga tak mengenal order book, sehingga di dalamnya pun tak ada tipe-tipe order. Alasannya, tentu saja karena harga terbentuk dari formula matematis tertentu.

    Sistem AMM merupakan kebalikan dari sistem tukar menukar aset kripto secara peer-to-peer transaction. Alias, transaksi yang bisa dilakukan langsung antar dompet digital (wallet) milik trader.

    Misalnya seperti ini. Jika kamu menjual Binance Coin (BNB) dan menukarnya dengan BUSD di Binance DEX, maka akan ada trader lainnya di seberang sana yang berlaku sebaliknya. Yakni, menjual BUSD miliknya demi mendapatkan BNB.

    Orang-orang konvensional mungkin tidak dapat membayangkannya di waktu lalu. Bagaimana mungkin kamu berdagang dengan orang yang tidak kamu percaya tanpa perizinan. Jika pasar konvensional mengharuskan proses tawar menawar, mesin dan algoritmanya membuat segalanya jadi mungkin.

    Liquidity PoolsLiquidity Provider Adalah Sumber Kehidupan Automated Market Makers

    Jika sang trader tak perlu menemui trader lain di mekanisme AMM dan harga ditentukan oleh algoritma, maka dari mana asalnya likuiditas di smart contract tersebut? Nah, hal itu berasal dari kumpulan pemilik token kripto yang disebut Liquidity Providers (LPs).

    Para LPs ini kemudian akan menaruh dananya di platform yang disebut “kolam uang” (Liquidity Pools). Liquidity Pools inilah yang akan memberi “pasokan koin” bagi sistem likuiditas Automated Market Makers. Sehingga, para trader bisa menukar aset kriptonya kapan saja tanpa takut stok aset kripto incaran mereka menipis di pasar.

    Semua orang dengan koneksi internet dan kepemilikan token ERC-20 bisa menjadi Liquidity Provider. Mereka akan mendapat keuntungan berupa fee yang dibayarkan trader, juga yield jika mereka melakukan yield farming.

    Saat liquidity pools dipenuhi aset, tentu proses jual beli jadi lebih mudah tereksekusi. Namun, saat pasar sepi, bukan berarti dagangan trader tidak laku. Automated Market Makers membuat likuiditas bukan lagi isu dalam liquidity pools.

    Formula Produk yang Konstan

    Bagaimana cara Automated Market Makers menyingkirkan proses tawar menawar dalam pembentukan harga? Caranya ialah dengan membuat formula produk yang konstan.

    Semua ini berawal dari postingan blogger yang juga pendiri Ethereum, yakni Vitalik Buterin. Dia membuat formulasi matematis yang bisa berlaku dalam berbagai format.

    Formulanya: tokenA_balance(p)*tokenB_balance(p)=k

    Konstanta balance di pool yang diciptakan oleh formula ini membuat tawar menawar jadi tidak perlu. Tiap kali user membeli token A, maka balance-nya turun. Ini akan membuat token B harganya naik sebab balance-nya lebih besar. Sementara itu, jumlah himpunan yang ada di pools tetaplah konstan.

    Model ini membuat trader terpacu untuk mengambil keuntungan dari perubahan konstan. Sehingga, meski konstan, pasar AMM tetap dinamis dan menarik.

    Automated Market Makers Perlu Variasi

    Di dalam postingan berjudul ‘on-chain money markets‘ itu, Buterin telah berhasil membuat konsep fundamental AMM yang berevolusi pesat sejak diinisasi Lehman Brothers.

    Hingga saat ini terdapat tiga model dominan dalam pasar AMM, yakni Uniswap, Curve dan Balancer. Ketiganya memiliki spesialisasi yang berbeda.

    Uniswap merupakan pionir teknologi yang memfasilitasi pengguna dengan kepemilikan ERC-20.

    Sementara itu, Curve mengambil ceruk pasar lain, yakni menyediakan liquidity pools untuk aset serupa seperti stablecoins. Hasilnya, Curve bisa menawarkan bunga terendah dan trading yang efisien.

    Di sisi lain, Balancer memperluas batas Uniswap dengan membuat pengguna dapat memiliki kumpulan likuiditas yang dinamis hingga delapan jenis aset berbeda dalam rasio apapun.

    Buterin berpandangan bahwa automated market makers harusnya bervariasi. Tak hanya itu, seharusnya ada mekanisme lainnya untuk decentralised trading.

    Sebab, pertukaran non-AMM sangat penting untuk menjaga akurasi harga di pasar otomatis itu.

    Nah, ternyata dunia DeFi menarik ya, Sobat Cuan? Setelah belajar mengenai DeFi, sekarang saatnya kamu pun memanfaatkaannya untuk mendulang cuan!

    Caranya gampang banget. Kamu bisa menabung Bitcoin atau Ethereum di Pluang Cuan, dan dapatkan kesempatan mendulang bunga hingga sebesar 3,5% per tahun. Yuk, investasikan aset kriptomu di Pluang Cuan!

    Baca juga: Panduan Cara Menggunakan RSI Untuk Trading Crypto Bagi Pemula

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



    Sumber : pluang.com

  • 3. Cara Kerja Stop-Loss, Position Sizing dan Take-Profit

    3.1 Latar Belakang

    Untuk mengelola posisi trading secara efektif, Sobat Cuan perlu mempertimbangkan penggunaan alat manajemen risiko seperti stop-loss, position sizing, dan take-profit. Hal ini mengingat risiko dari investasi.

    Artikel ini akan menyederhanakan konsep-konsep tersebut agar lebih mudah dipahami.

    3.1.1 Definisi Stop Loss dan Take-Profit

    Stop-loss adalah alat untuk menetapkan batas kerugian pada suatu trade. Stop-loss membantu menetapkan rasio risiko dan batas kerugian yang dapat ditoleransi oleh trader.

    Sementara take-profit merupakan alat untuk menentukan level di mana trader ingin mengamankan keuntungan.  Take-profit digunakan untuk menghindari godaan untuk terus berinvestasi semua keuntungan, dengan mengunci profit pada pergerakan harga tertentu.

    Dengan keduanya, trader dapat menetapkan rasio risiko yang sesuai dengan investasi jangka panjang, menjaga agar potensi penurunan tidak melebihi potensi keuntungan.

    3.2 Bagaimana Cara Kerja Stop Loss dan Take-Profit

    Jika merujuk pada kegunaanya, Stop Loss digunakan untuk membatasi rugi maksimum yang dapat terjadi pada posisi trade. Sedangkan Take Profit menentukan level profit yang diinginkan trader

    3.2.1 Cara Kerja Stop Loss

    Stop loss ditujukan untuk melindungi investasi. Jika harga aset melemah hingga di bawah harga stop yang ditentukan trader, order stop loss akan terpicu.

    Market Order akan dieksekusi, sehingga aset akan dijual pada harga berikutnya yang tersedia di bawah level stop loss.

    Contohnya, jika Anda membeli lembar saham Apple Inc. pada harga US$1800 per saham, dengan total investasi US$1800, Anda bisa menetapkan stop loss limit pada US$171 (5% loss). 

    Jika sehari setelahnya harga saham AAPL melemah di bawah level stop loss, misalnya menyentuh US$170 order akan dieksekusi dan trade ditutup dengan rugi US$100.

    3.2.2 Cara Kerja Take Profit

    Take profit disebut juga “limit order“. Order ini menjamin posisi trading Anda ditutup pada atau di atas batas harga yang ditentukan.

    Apabila harga aset bergerak naik mencapai level take profit, order akan ditutup untuk mengamankan profit

    Order take profit populer dalam trading jangka pendek. Untuk memantau pergerakan harga per jam atau harian, trader menggunakan take profit untuk mengeksekusi trade tanpa perlu intervensi manusia.

    Dengan kedua order ini, trader dapat mengatur rasio keuntungan vs risiko semua trade yang mereka buat.

    3.2.3 Bagaimana Strategi Stop Loss dan Take Profit?

    Trader harus memperdalam pemahaman tentang kedua jenis order ini untuk mengurangi risiko. 

    Strategi yang melibatkan penggunaan stop loss dan take profit sangat penting untuk menjalankan posisi trading secara profesional. 

    3.3 Cara Kerja Strategi Stop Loss

    Dengan adanya stop loss, Anda dapat menghindari kebutuhan untuk terlalu terperinci dalam pengelolaan investasi Anda.

    Setelah menentukan level stop loss, Anda hanya perlu menempatkan order dan menunggu hingga order tersebut tereksekusi.

    Namun, perlu diingat bahwa order stop loss memiliki kelemahan, seperti ketika terjadi lonjakan pasar jangka pendek atau ketika trading jangka menengah/panjang menghasilkan keuntungan. 

    Order ini dapat diterapkan dalam situasi berikut:

    1. Ketika aset mengalami tren turun bearish atau mengalami koreksi dalam pasar saham, berdasarkan analisis teknikal.
    2. Pada mata uang kripto atau saham yang sedang mengalami tren naik bullish tanpa adanya risiko yang terlihat dalam waktu dekat.
    3. Saat pasar tidak menentu, tetapi perusahaan memiliki dasar yang kuat.
    4. Dalam peluang trading apa pun yang melibatkan analisis fundamental, seperti rilis berita atau saran pers dengan leverage tinggi.

    3.3.1 Menerapkan Teknik Stop Loss

    Penggunaan stop loss order dapat berperan dalam melindungi keuntungan bagi trader. Sebagai alternatif dari penggunaan stop loss konvensional, trader dapat memanfaatkan trailing stop.

    Dalam strategi ini, trader memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan order berdasarkan nilai moneter atau persentase tertentu dari nilai aset saat ini di pasar.

    Untuk trader yang melakukan pembelian atau mengambil posisi long, trailing stop ditempatkan di bawah nilai pasar aset.

    Sementara itu, bagi trader yang melakukan penjualan atau mengambil posisi short, trailing stop ditempatkan di atas nilai pasar. 

    Ketika harga bergerak sesuai dengan prediksi trader, trailing stop akan mengikuti pergerakan nilai pasar saat ini, dan posisi akan ditutup ketika harga aset mencapai kenaikan atau penurunan tertentu sesuai yang telah ditentukan.

    3.3.2 Menghitung Rasio Risiko dalam Trading Online

    Menghitung rasio risiko dalam trading online menjadi mungkin setelah trader memahami prinsip-prinsip stop loss dan take profit. 

    Baik Anda seorang trader pemula maupun berpengalaman, kedua konsep ini dapat dimanfaatkan untuk mengelola risiko dan merancang transaksi yang sukses.

    Sebagai contoh, trader dapat membagi target profit bersih dengan harga risiko maksimum (level stop loss order) untuk memperoleh rasio hasil terhadap risiko.

    Sebagian trader lebih memilih rasio hasil risiko di bawah 2:1 (mengambil risiko US$1 untuk mendapatkan US$2) untuk menjaga kesehatan keuangan mereka. Pendekatan ini juga memungkinkan mereka untuk menghadapi tantangan dan fluktuasi pasar dengan lebih baik selama kegiatan trading.

    Penting untuk diingat bahwa strategi manajemen keuangan yang kurang baik dapat menyebabkan kerugian modal yang signifikan.

    Dalam menentukan target stop loss, penting bagi trader untuk memperhitungkan batas risiko yang dapat mereka tanggung.

    Mereka perlu mengambil langkah-langkah pencegahan terhadap skenario terburuk yang dapat menunjukkan kesalahan penilaian terhadap harga saham, dengan tujuan meminimalkan kerugian. 

    Setelah menetapkan rasio hasil minimum atau risiko yang dapat diterima, proses membuat order stop loss menjadi lebih sederhana.

    3.3.3 Manfaat Stop Loss Order

    1. Stop loss order membantu mengotomatiskan proses jual saham atau aset, meminimalkan intervensi manusia dalam portofolio trading Anda. Order ini otomatis diaktifkan begitu harga mencapai level yang ditentukan.
    2. Melindungi trader dari rugi berlebihan di pasar. Bahkan jika harga anjlok jauh di bawah harga yang ditentukan, trader hanya terkena rugi yang sanggup ia tanggung.
    3. Stop-loss mendukung disiplin diri saat trading. Ini membantu trader mematuhi strategi dan metode finansial, sehingga tidak ada keterlibatan emosional yang berlebihan.
    4. Membantu menyeimbangkan hasil dan risiko saat trading di pasar modal..

    3.4 Kekurangan Stop Loss Order

    1. Sebagian broker mengenakan biaya untuk layanan ini, sehingga Anda harus membayar biaya tambahan.
    2. Trader harus menentukan level stop loss, dan itu terkadang tidak mudah. Untuk itu, Anda bisa meminta saran dari ahli finansial, namun biasanya ada biaya yang harus dibayar.
    3. Fluktuasi harga jangka pendek dapat memicu stop loss order, sehingga menghambat tujuan Anda. 
    4. Terkadang trader terpaksa menjual aset terlalu cepat atau mendadak. Ini membatasi profit atau memotong tren yang seharusnya dapat memberi potensi profit apabila trader memilih level risiko lebih tinggi.

    3.4 Cara Kerja Strategi Take Profit

    Trader jangka pendek cenderung memfavoritkan penggunaan order take profit, sebuah strategi yang digunakan untuk mengantisipasi fluktuasi dan volatilitas harga aset selama periode investasi.

    Bagian yang paling menantang bagi banyak trader adalah menentukan kapan sebaiknya mengambil keuntungan. Menunggu terlalu lama dapat membuat trader melewatkan peluang level keluar yang optimal.

    Take profit order berfungsi untuk menutup posisi terbuka dan mengamankan keuntungan begitu trade mencapai harga atau nilai profit yang telah ditetapkan.

    Pendekatan ini efektif dalam menghindari keterikatan emosional saat trader mengeksekusi trade, mengurangi rasa takut, kegembiraan berlebihan, atau tekanan saat menjual atau memegang aset.

    3.4.1 Penerapan Take Profit

    Penerapan take profit order harus disesuaikan dengan setiap trade, mempertimbangkan kapan dan bagaimana keluar dari posisi tersebut. 

    Sebagai contoh, jika seorang trader membeli aset pada harga US$10.5 dan menetapkan target profit sebesar US$10.65, trader tersebut akan menetapkan take profit order pada level US$10.65.

    Meskipun penting, target atau margin profit memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu diperhatikan.

    Keberhasilan penggunaan take profit terletak pada pemahaman kapan sebaiknya keluar dari suatu trade bahkan sebelum memulai. 

    Dengan demikian, trader dapat menghitung rasio hasil terhadap risiko. Namun, perlu dicatat bahwa tidak ada jaminan kesuksesan atau kegagalan dalam investasi atau trading.

    3.4.2 Mengapa Take Profit Penting? 

    Membuat beberapa posisi trading dapat meningkatkan peluang profit, dan target profit dapat berfungsi sebagai kriteria penyaringan untuk mengevaluasi apakah suatu trade layak dilakukan.

    Jika hasil yang diharapkan lebih rendah dari risiko yang diambil, trader disarankan untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka sebelum membuka trade tersebut.

    3.4.3 Cara Menentukan Level Take Profit 

    Trader dapat menggunakan beberapa strategi untuk mengatur take profit order. Berikut metode yang telah teruji:

    1. Menggunakan moving average

    Trader dapat membuat take profit order saat pasar sedang mengalami tren. Trader lainnya menentukan level berdasarkan atau di dekat harga rata-rata bergerak, terutama saat aset berada di bawah pertengahan rata-rata bergerak.

    1. Pergerakan harga mengisyaratkan perubahan sentimen pasar: Contohnya, menggunakan sinyal yang hanya mengandalkan pergerakan harga untuk menentukan sentimen pasar. Menggunakan bar dan penolakan pada level puncak atau lembah adalah contoh bagus mengenai skenario di atas.
    2. Menggunakan puncak dan lembah: Trader bisa menggunakan ekstensi Fibonacci untuk mendapatkan gambaran mengenai potensi hasil suatu aset saat perpanjangan tren.
    3. Level support dan resistance: Trader dapat menggunakan analisis teknikal untuk menyoroti level support dan resistance, mempertimbangkan level puncak dan lembah terdahulu untuk menentukan order take profit.

    3.4.4 Manfaat dan kekurangan order take profit

    3.4.4.1 Manfaat

    1. Trader dapat mengetahui hasil atau risiko trade sebelum membuat posisi. Dengan informasi ini, trader dapat mengambil keputusan yang lebih yakin apakah ia ingin membuka trade tersebut.
    2. Membantu meniadakan keterlibatan emosional, karena trader dapat melihat atau menilai berdasarkan grafik atau data nyata.
    3. Mempersiapkan trader secara psikologis mengenai hasil trade. Ketika trader merugi, ia tidak terkejut berlebihan.

    16.4.4.2 Kekurangan

    1. Tidak setiap trader membuat take profit order karena memerlukan pengetahuan. Oleh sebab itu, trader perlu berinvestasi pada sumber edukasi dan berjejaring dengan trader berpengalaman lainnya. 
    2. Begitu harga take profit tercapai, trade tidak bisa bergerak lebih jauh lagi. Jika trade menggunakan take profit pada level $10.25, trader kehilangan profit di atas target yang ditentukan yaitu di atas $10.25. Namun, trader bisa membuat trade baru jika harga terus bergerak ke arah yang menguntungkan. 
    3. Terakhir, ada kemungkinan target tidak tercapai, yaitu ketika take profit order tidak tereksekusi. Ini terjadi ketika harga bergerak menuju target yang diinginkan tetapi kemudian berbalik arah dan menyentuh level stop loss. Singkatnya, target profit yang terlalu tinggi tidak akan menghasilkan banyak trade yang sukses. Namun, jika target terlalu dekat, trader mungkin tidak mendapat kompensasi atas risiko yang ia tanggung.

    3.5  Kesimpulan

    Salah satu cara termudah untuk memahami order pasar dan menerapkannya dengan yakin adalah dengan mengikuti trader yang lebih berpengalaman untuk mempelajari apa yang mereka lakukan dan cara mereka melakukannya. Pluang menyediakan Platform Trading yang ramah pengguna yang mempermudah pemula untuk trading tanpa banyak kendala dan tanpa biaya tambahan. serta kamu bisa membaca lebih lanjut tentang advanced orders di sini, menjelaskan lebih lanjut tentang stop order, limit order, dan stop-limit order. Pluang membuat pengalaman trading semakin menarik dan efisien.



    Sumber : pluang.com

  • 4. Strategi Diversifikasi dalam Investasi

    4.1 Latar Belakang

    Strategi diversifikasi dalam investasi menjadi landasan bagi banyak investor yang ingin mengelola risiko dan memaksimalkan potensi keuntungan.

    Artikel ini akan membahas konsep diversifikasi, mengapa itu penting, dan berbagai strategi yang dapat diadopsi untuk mencapai portofolio yang seimbang.

    4.2 Apa itu Strategi Diversifikasi?

    Strategi diversifikasi dalam investasi adalah pendekatan yang digunakan untuk mengurangi risiko. Hal ini dilakukan dengan menempatkan dana pada berbagai aset atau instrumen investasi yang berbeda.

    Tujuannya adalah untuk menghindari kerugian besar jika salah satu investasi mengalami performa buruk atau gagal sepenuhnya. Dengan memiliki portofolio yang terdiversifikasi, investor dapat mengimbangi potensi kerugian dengan potensi keuntungan dari berbagai investasi.

    Prinsip utama dari diversifikasi investasi adalah menghindari menaruh semua telur dalam satu keranjang. Dengan memiliki beragam aset dengan karakteristik risiko dan imbal hasil yang berbeda, investor dapat mengurangi dampak kinerja buruk pada satu investasi terhadap portofolio secara keseluruhan.

    Dengan kata lain, diversifikasi bertujuan untuk menciptakan portofolio yang stabil dan kokoh, bahkan dalam kondisi pasar yang fluktuatif.

    4.2.1 Mengapa Diversifikasi Penting?

    Ada beberapa alasan mengapa strategi diversifikasi perlu dilakukan. Di antaranya: 

    1. Pengurangan Risiko: Diversifikasi membantu mengurangi risiko karena keuntungan atau kerugian dari satu investasi dapat seimbang oleh kinerja positif atau negatif investasi lainnya. Dengan melakukan diversifikasi, Anda dapat mengurangi dampak dari investasi yang berkinerja buruk terhadap portofolio Anda secara keseluruhan, sehingga menurunkan risiko secara keseluruhan
    2. Peluang Pertumbuhan: Portofolio yang terdiversifikasi dapat menawarkan peluang pertumbuhan yang lebih baik dengan meng-expose investor pada berbagai sektor atau kelas aset yang memiliki potensi kenaikan nilai. Selain itu, dengan berinvestasi pada aset yang berbeda, ada kemungkinan beberapa investasi akan berkinerja baik meskipun yang lain berkinerja buruk.
    3. Perlindungan Terhadap Kondisi Pasar Yang Tidak Pasti: Diversifikasi dapat membantu memberikan imbal hasil yang lebih stabil dan konsisten dari waktu ke waktu. Saat kondisi pasar berubah-ubah, portofolio yang terdiversifikasi dapat memberikan perlindungan terhadap ketidakpastian dan volatilitas.
    4. Mengoptimalkan sumber daya: Diversifikasi bisa menjadi metode untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber daya perusahaan. Hal ini bisa dilakukan entah melalui penyaluran arus kas berlebih, peningkatan penggunaan infrastruktur yang ada, atau peningkatan dalam pengambilan keputusan perusahaan.

    4.2.2 Metode Diversifikasi

    Beberapa metode diversifikasi dalam investasi meliputi:

    1. Diversifikasi Aset: Menempatkan dana pada berbagai kelas aset, seperti saham, obligasi, properti, dan komoditas. Hal ini dilakukan untuk mengurangi risiko terkait dengan satu jenis aset tertentu.
    2. Diversifikasi Sektor: Menempatkan dana pada berbagai sektor industri, seperti teknologi, kesehatan, energi, dan konsumen, untuk mengimbangi fluktuasi yang mungkin terjadi di sektor tertentu.
    3. Diversifikasi Geografis: Berinvestasi di berbagai wilayah geografis atau negara untuk mengurangi risiko yang terkait dengan ketidakstabilan ekonomi atau politik di satu wilayah tertentu.
    4. Diversifikasi Valuta: Memiliki aset dalam berbagai mata uang untuk melindungi portofolio dari fluktuasi nilai tukar mata uang.
    5. Diversifikasi Produk: Menginvestasikan dana dalam berbagai jenis produk keuangan, seperti reksa dana, obligasi, saham individual, dan instrumen derivatif.
    6. Diversifikasi Waktu: Memasukkan dana secara bertahap ke dalam investasi selama periode waktu tertentu untuk mengurangi risiko terkait dengan volatilitas pasar.

    4.2.3 Siapa yang dapat memberi saran tentang diversifikasi investasi?

    1. Financial Advisors:

    Penasihat keuangan profesional, termasuk certified financial planners (CFP) dan registered investment advisors (RIA), dapat memberikan saran yang dipersonalisasi mengenai diversifikasi investasi berdasarkan tujuan keuangan, toleransi risiko, dan jangka waktu individu.

    1. Wealth Managers:

    Wealth Managers adalah jasa profesional keuangan yang berspesialisasi dalam mengelola kekayaan individu berpenghasilan tinggi. Mereka sering memberikan layanan perencanaan keuangan yang komprehensif, termasuk strategi diversifikasi investasi.

    1. Asset Managers:

    Perusahaan dan para profesional dalam bidang manajemen aset dapat menawarkan panduan untuk membangun portofolio yang terdiversifikasi. Para ahli ini menganalisis tren pasar dan kelas aset untuk membuat rekomendasi investasi yang tepat.

    1. Portfolio Managers:

    Portfolio managers membuat keputusan tentang bagaimana mengalokasikan aset dalam portofolio untuk mencapai diversifikasi yang optimal.

    1. Investment Consultants:

    Investor institusi dan organisasi besar biasanya meminta saran dari investment consultants yang berspesialisasi dalam mengoptimalkan portofolio investasi, termasuk strategi diversifikasi.

    1. Online Investment Platforms:

    Banyak platform investasi online dan robo-advisors menyediakan nasihat investasi yang terotomatisasi berdasarkan algoritma yang mempertimbangkan profil risiko dan preferensi investasi individu.



    Sumber : pluang.com

  • Transaksi Makin Aman di Pluang dengan Fitur Fingerprint dan Face ID!

    Keamanan adalah aspek paling esensial dalam berinvestasi.

    Investor tentu ingin memasang tingkat keamanan tertinggi demi melindungi portofolionya masing-masing. Apalagi, kini aspek keamanan kian penting di tengah kencangnya aktivitas investasi secara digital melalui ponsel.

    Hanya saja, mempertebal sistem keamanan bisa menjadi hal yang merepotkan.

    Investor tentu membutuhkan waktu hanya demi membuka kunci password atau PIN akun investasinya. Masalah lain pun muncul saat investor lupa kombinasi angka-angka yang telah disusunnya hanya demi membuka akun.

    Untungnya, Pluang memahami keresahan tersebut. Kini, pengguna Pluang bisa memanfaatkan dua fitur keamanan baru berbasis biometrik, Sidik jari (fingerprint) dan pindai wajah (Face ID), dalam berinvestasi. Pengguna bisa memanfaatkan dua fitur baru ini jika telah memperbarui (update) aplikasi Pluang, yang bisa dilakukan di App Store maupun Google Playstore.

    Semakin gampang. Semakin nyaman. Semakin aman.

    Cara Mengaktifkan Biometrik Fingerprint dan Face ID di Aplikasi Pluang

    1. Update aplikasi Pluang.

    2. Masuk ke aplikasi Pluang dan klik menu “Account”. Setelahnya, pilih menu “Privacy & Security”.

    3. Geser pilihan “Biometrics” untuk mengaktifkannya.

    4. Seluruh data fingerprints dan Face ID yang tersimpan di smartphone akan terintegrasi secara otomatis dengan aplikasi Pluang.

    Selain itu, pengguna bisa menonaktifkan fitur tersebut kapanpun.

    Penggunaan PIN

    1. Setelah aktivasi keamanan biometrik selesai, Pengguna masih bisa menggunakan kode PIN hanya untuk membuka aplikasi, menarik dana dari aplikasi Pluang, dan menjual unit reksa dana.
    2. PIN masih akan tetap digunakan sebagai opsi lain untuk membuka aplikasi selain biometrik.
    3. Pengguna kini bisa memilih rentang waktu bagi aplikasi sebelum kembali terkunci secara otomatis. Rentang waktu itu terdiri dari:
      1. Segera setelah pengguna keluar dari aplikasi
      2. 1 menit setelah pengguna keluar dari aplikasi
      3. 3 menit setelah pengguna keluar dari aplikasi
      4. 5 menit setelah pengguna keluar dari aplikasi
      5. 15 menit setelah pengguna keluar dari aplikasi
      6. 1 jam setelah pengguna keluar dari aplikasi
      7. 4 jam setelah pengguna keluar dari aplikasi.

    4. Jika pengguna ingin masuk kembali ke aplikasi di atas rentang waktu yang dipilih, maka mereka perlu membukanya menggunakan PIN.



    Sumber : pluang.com

  • Bagaimana Dampak Dana Infrastruktur Biden Terhadap Pasar Saham AS?

    Pekan lalu, dana jumbo untuk pembangunan infrastruktur di Amerika serikat (AS) mendapat lampu hijau dari senat AS. Akhirnya, pemerintahan Biden pun bisa menggunakan dana sebesar US$953 miliar untuk membantu memulihkan ekonomi AS yang porak poranda akibat pandemi COVID-19.

    Sejak awal tahun, hal ini digadang-gadang bakal menjadi angin segar bagi pasar saham AS, utamanya tiga indeks utama yakni S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq.

    Lantas, apakah benar kondisi itu dapat terjadi? Dan seperti apa dampak rencana kebijakan tersebut terhadap indeks S&P 500 dan indeks saham lainnya? Nah, bagi Sobat Cuan investor S&P 500 ada baiknya membaca artikel ini hingga selesai, ya!

    Sekilas Tentang Anggaran Infrastruktur AS

    Biden menggulirkan wacana kebijakan ini tak berselang lama setelah legislatif AS menyetujui Undang-Undang (UU) paket stimulus ekonomi AS sebesar US$1,9 triliun, yang ditujukan untuk memulihkan ekonomi AS yang hancur akibat pandemi COVID-19.

    Biden pun akhirnya menyampaikan proposal anggaran infrastruktur tersebut pada Maret 2021. Harapannya, agar infrastruktur AS kian mumpuni dalam delapan tahun mendatang.

    Jika mengacu pada proposal awal, Biden mengusulkan anggaran sebesar US$2 triliun untuk kebijakan tersebut. Anggaran ini disebut sebagai bagian kedua dari upaya pemerintah AS untuk memulihkan ekonomi negara adidaya tersebut setelah UU stimulus.

    Lantas, bagaimana rincian alokasi paket infrastruktur Biden yang awal? Berikut tabelnya.

    Pos Pengeluaran Nilai Anggaran
    Transportasi US$621 miliar
    Bantuan Kesejahteraan Tenaga Kerja US$400 miliar
    Mendorong Industri US$300 miliar
    Perumahan US$213 miliar
    Riset dan Pengembangan US$180 miliar
    Air US$111 miliar
    Sekolah US$100 miliar
    Infrastruktur Digital US$100 miliar
    Pengembangan Tenaga Kerja US$100 miliar
    Rumah Sakit Veteran dan Bangunan Pemerintah Federal US$18 miliar
    TOTAL US$2,14 triliun

     

    Rencananya, Biden akan membiayai anggaran tersebut dengan menaikkan tarif pajak perusahaan dari 21% ke 28%. Selain itu, pemerintah AS juga akan meningkatkan angka minimum pajak perusahaan AS di luar negeri menjadi 21%.

    Tak hanya itu, Biden juga akan membebankan pajak pendapatan minimum 15% bagi perusahaan yang memiliki cuan melimpah. Atau biasa dikenal dengan book income.

    Rencana kebijakan Biden mencapai babak baru pada 24 Juni lalu, di mana Senat AS menyetujui “hanya” US$953 miliar dari kebutuhan awal US$2 triliun. Hal itu ia sampaikan setelah bertemu dengan 10 anggota Senat bipartisan.

    Baca juga: Apa Saja Sih,10 Perusahaan yang Berperan Besar di S&P 500? 

    Indeks S&P 500 dan Pasar Saham Bergeliat Karena Anggaran Infrastruktur

    Pasar saham AS sontak riuh ketika Biden memberikan pernyataan bahwa dana infrastruktur sudah disetujui oleh pihak parlemen.

    Indeks S&P 500 pada pekan lalu langsung naik 0,6% ke level 4.266 poin, melewati angka penutupan tertinggi pada 14 Juni lalu yang sempat menyentuh 4.255.

    Bursa saham lainnya, Nasdaq mencatat rekor dengan lonjakan sebesar 0,7% ke level 14.369. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Averaging (DJIA) yang selama ini menorehkan rapor merah pun ikut naik 1% di waktu yang sama.

    Sektor infrastruktur yang bakal kebanjiran dana jumbo juga merespon positif. Saham Caterpilar, misalnya, langsung naik 3% dan diikuti oleh saham perusahaan konstruksi Vulcan Materials yang mencatat kenaikan 3%.

    Baca juga: Investasi Antariksa AS Tahun Lalu Capai Rp124,6 Triliun

    Apakah Kebijakan Biden Terus Jadi Angin Segar bagi Saham AS & Indeks S&P 500?

    Jawabannya adalah ya. Terdapat banyak alasan mengapa anggaran infrastruktur akan menjadi katalis indeks S&P 500 dan pasar saham AS di masa depan.

    Pertama, adalah kenaikan permintaan. Maraknya proyek-proyek infrastruktur tentu akan bikin permintaan atas produk material, energi, dan keuangan menanjak. Hal itu, sudah pasti akan memperkuat sisi fundamental saham-saham perusahaan yang bergerak di sektor yang dimaksud.

    Bahkan, kepala manajemen investasi Commonwealth Financial Network Brian Price menjelaskan, bukan tidak mungkin return saham di tiga sektor di atas bisa melebihi imbal hasil dari saham teknologi.

    Selain itu, iklim pasar modal saat ini pun dipandang cerah, didukung oleh rencana The Fed yang masih galau dalam menaikkan suku bunga acuannya atau tidak. Kegalauan The Fed muncul di tengah data pre market yang mengatakan pertumbuhan ekonomi AS mencapai 6,4% di triwulan pertama.

    Saham Infrastruktur Jadi Juaranya

    Selain itu, beberapa analis mengatakan bahwa pemenang utama dari rencana anggaran infrastruktur Biden ini adalah saham-saham perusahaan material.

    Ada dua alasan yang mendasari argumen tersebut. Pertama, permintaan produk material sudah pasti meningkat. Kedua, infrastruktur yang dihasilkan bisa memberikan efek pengganda (multiplier effect) bagi kegiatan ekonomi lainnya. Di mana, efek pengganda ini bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi menjadi lebih mumpuni.

    Kepala tim riset Bahan Dasar Morgan Stanley Carlos De Alba memprediksi, saham perusahaan semen dan baja akan mendulang cuan yang optimal setelah kebijakan ini disahkan. Betul, keduanya memang dua bahan material yang cukup diburu saat proyek-proyek infrastruktur.

    Bahkan, pergerakan saham-saham produsen material memang sudah memberi sinyal menguat sepanjang tiga bulan terakhir. Harga saham perusahaan produsen barang-barang konstruksi Caterpillar, misalnya, sudah naik 19% sepanjang tahun ini. Sementara itu, saham perusahaan pembangun rumah DR Horton juga naik 34% di waktu yang sama.

    Jangan lupakan juga harga sama perusahaan baja Nucor yang tumbuh 82% sejak awal tahun. Artinya, bisa dibilang bahwa saham-saham perusahaan material memang sensistif terhadap sentimen tersebut.

    Sektor Infrastruktur Punya Efek Pengganda Kuat

    Sobat Cuan perlu memahami bahwa pembangunan infrastruktur memiliki efek turunan yang tidak sedikit. Pasalnya, terdapat industri terkait yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan sektor tersebut.

    Beberapa analis menjelaskan, paket kebijakan senilai US$1 triliun selama 10 tahun dapat menambah 0,2 persen poin ke Produk Domestik Bruto (PDB) di tahun berikutnya dan menambah 715.000 pekerjaan dalam 10 tahun.

    Wah, jadi kebayang kan, bagaimana cuan saham-saham perusahaan material ke depan?

    Kebetulan, beberapa saham perusahaan material juga termasuk menjadi satu dari 11 indeks S&P 500 juga, lho. Jadi, apakah Sobat Cuan juga tidak mau kecipratan cuan dari proyek infrastruktur Biden juga?

    Yuk, segera investasi di Pluang S&P 500! Di Pluang, kamu bisa mengakses 500 perusahaan AS secara mudah hanya dalam satu genggaman saja!

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: CNN, Forbes, Financial Express



    Sumber : pluang.com

  • 6. Risk Reward Ratio dalam Investasi

    6.1 Latar Belakang

    Berinvestasi secara inheren melibatkan risiko. Salah satu alat kunci dalam manajemen risiko adalah mengevaluasi risk-reward ratio sebelum membuat keputusan investasi apa pun.

    Rasio ini menilai potensi keuntungan terhadap potensi kerugian, memberikan pengukuran kuantitatif kepada investor untuk membuat pilihan yang terinformasi.

    Dalam artikel ini, kita akan membahas signifikansi dari risk-reward ratio dan bagaimana investor dapat menggunakannya untuk meningkatkan proses pengambilan keputusan mereka.

    6.2 Apa Itu Risk-Reward Ratio?

    Risk-reward ratio menunjukkan potensi imbalan/return yang dapat diperoleh seorang investor untuk setiap dolar yang mereka gunakan pada suatu investasi. Banyak investor menggunakan rasio ini untuk membandingkan hasil yang diharapkan dari suatu investasi dengan jumlah risiko yang harus mereka ambil untuk memperoleh hasil tersebut.

    Risk-reward ratio yang lebih rendah seringkali lebih diinginkan karena menandakan risiko yang lebih kecil untuk imbalan yang setara. Pertimbangkan contoh berikut: suatu investasi dengan risk-reward ratio 1:7 menunjukkan bahwa seorang investor bersedia merisikokan US$1, dengan prospek untuk memperoleh US$7.

    Trader sering menggunakan pendekatan ini untuk merencanakan trade mana yang akan diambil, dan rasio ini dihitung dengan membagi jumlah yang dapat hilang oleh seorang trader jika harga aset bergerak ke arah yang tidak terduga (risiko) dengan jumlah keuntungan yang diharapkan oleh pedagang ketika sebuah trade ditutup (imbal hasil).

    Oleh karena itu rasio ini dapat dihitung menggunakan rumus berikut:  Risk/Reward Ratio = Potential Loss / Potential Gain

    6.2.1 Contoh Risk-Reward Ratio

    Sebagai ilustrasi, anggaplah seorang Anda memiliki rasio risiko-imbalan 1:2 dalam suatu perdagangan. Ini mengindikasikan bahwa Anda bersedia menanggung satu unit risiko untuk mendapatkan dua unit imbalan. 

    Berikut adalah contoh penerapannya dalam beberapa skenario:

    1. Transaksi A: Anda menetapkan stop-loss (tingkat kerugian maksimum yang Anda tetapkan) sebesar US$100 dan menetapkan target keuntungan sebesar US$200. Jika trade ini berhasil, Anda akan memperoleh imbalan dua kali lipat dari risiko yang diambil.
    2. Transaksi B: Anda menetapkan stop-loss sebesar US$50 dan menetapkan target keuntungan sebesar US$100. Dalam trade ini, imbalan yang diharapkan tetap dua kali lipat dari risiko yang diambil.
    3. Transaksi C: Anda menetapkan stop-loss sebesar US$200 dan menetapkan target keuntungan sebesar US$400. Meskipun risiko yang diambil lebih tinggi dalam transaksi ini, imbalan yang diharapkan tetap dua kali lipat dari risiko.

    Dalam ketiga contoh di atas, Sobat Cuan menggunakan risk-reward ratio 1:2.

    Meskipun besaran risiko dan imbalan dapat bervariasi dalam setiap perdagangan, prinsipnya tetap sama, yaitu mencari peluang yang memberikan potensi keuntungan minimal dua kali lipat dari risiko yang diambil.

    6.3 Bagaimana Cara Kerjanya?

    Dalam banyak kasus, para ahli strategi pasar menemukan risk-reward ratio yang ideal untuk investasi mereka berada pada sekitar 1:3, atau tiga unit pengembalian yang diharapkan untuk setiap satu unit risiko tambahan. 

    Investor dapat mengelola risiko/imbalan secara lebih langsung melalui penggunaan stop-loss order dan/atau derivatif seperti put options.

    Rasio ini sering digunakan sebagai ukuran saat melakukan trading aset individual. Risk-reward ratio optimal mungkin berbeda-beda antara strategi trading.

    Beberapa metode uji coba dan kesalahan biasanya diperlukan untuk menentukan rasio mana yang terbaik untuk suatu strategi perdagangan tertentu, dan banyak investor memiliki risk-reward ratio yang telah ditentukan sebelumnya untuk investasi mereka.

    Perlu dicatat bahwa rasio risiko-imbalan dapat dihitung sebagai toleransi risiko pribadi seseorang terhadap suatu investasi, atau sebagai perhitungan objektif profil risiko/hasil investasi.

    Pengembalian yang diharapkan dapat dihitung dengan beberapa cara, termasuk memproyeksikan pengembalian historis ke masa depan, mengestimasi probabilitas terbobot dari hasil masa depan, atau menggunakan model seperti Capital Asset Pricing Model (CAPM).

    6.3.1 Memprediksi Potensi Kerugian

    Untuk memperkirakan kerugian potensial, investor dapat menggunakan berbagai metode, seperti menganalisis data harga historis dengan analisis teknikal, menggunakan deviasi standar historis dari pergerakan harga, menilai laporan keuangan perusahaan dengan analisis fundamental, dan model seperti value-at-risk (VaR).

    Metode-metode ini dapat membantu investor mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat memengaruhi nilai investasi dan memperkirakan potensi penurunan nilainya.

    6.4 Tujuannya

    Tujuan Rasio Risiko-Imbalan dalam trading adalah membantu trader mengelola risiko secara bijaksana sambil maksimalkan potensi keuntungan. 

    Berikut adalah beberapa tujuan utama dari penggunaan rasio risiko-imbalan:

    6.4.1 Menentukan Ukuran Posisi yang Tepat

    Dengan memperhatikan risk-reward ratio, trader dapat menentukan ukuran posisi yang sesuai untuk setiap transaksi dan menghindari kerugian besar.

    6.4.2 Mengidentifikasi Peluang Trading yang Menguntungkan

    Risk-reward ratio membantu trader memilih peluang trading dengan potensi keuntungan yang lebih besar daripada risiko yang diambil. Hal ini memungkinkan trader untuk fokus pada transaksi dengan probabilitas keuntungan yang lebih tinggi.

    6.4.3 Meningkatkan Disiplin dalam Pengambilan Keputusan

    Risk-reward ratio membantu meningkatkan kedisiplinan trader dengan memberikan aturan jelas. Hal ini menghindari godaan untuk terlibat dalam transaksi tanpa pertimbangan risk-reward ratio yang seimbang.

    6.4.4 Evaluasi dan Perbaikan Strategi Trading

    Dengan memantau rasio risiko imbalan setiap transaksi, trader dapat mengevaluasi dan memperbaiki strategi trading, mengidentifikasi pola yang menguntungkan atau kekurangan yang perlu disesuaikan.

    Secara keseluruhan, risk-reward ratio berfungsi sebagai alat penting untuk membantu trader mengelola risiko, memilih peluang trading yang optimal, menjaga kedisiplinan, dan terus meningkatkan kualitas strategi trading mereka. 

    Menerapkan prinsip yang sehat, trader dapat meningkatkan kesuksesan jangka panjang mereka.

    6.5 Kesimpulan

    Dalam dunia investasi, risk-reward ratio berfungsi sebagai prinsip panduan untuk pengambilan keputusan yang bijak.

    Evaluasi menyeluruh terhadap potensi risiko dan imbalan memberdayakan investor untuk menjelajahi lanskap keuangan yang kompleks dengan lebih percaya diri. 

    Dengan menggabungkan risk-reward ratio ke dalam strategi mereka, investor dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk membuat pilihan yang rasional, mengelola risiko secara efektif, dan berusaha mencapai kesuksesan jangka panjang yang berkelanjutan di dunia keuangan.



    Sumber : pluang.com

  • Mengenal Bitcoin Cash dan Perbedaan Mendasar dengan Bitcoin

    Sobat cuan yang baru terjun ke investasi aset kripto pasti sedikit bingung dengan adanya nama aset kripto yang terlihat mirip, seperti Bitcoin, Bitcoin Gold (BTG), hingga Bitcoin Cash (BCH).

    Ya serupa tapi tak sama, ketiga aset kripto tersebut memang memiliki kesamaan nama. Namun, soal nilai aset kripto dan nilai guna tentu jauh berbeda.

    Bitcoin (BTC) merupakan salah satu dedengkot dalam dunia kripto. Meskipun bukan sebagai aset kripto pertama di dunia, BTC disebut menjadi aset kripto pertama yang terdesentralisasi.

    Hingga akhirnya pengembangan terus dilakukan di dalam sistem Bitcoin dan akhirnya muncul “saudara” dari Bitcoin, yakni Bitcoin Cash dan Bitcoin Gold.

    Sebelumnya kita sudah pernah membahas tentang Bitcoin Gold. Sekarang, kita akan melangkah lebih jauh untuk melihat perbedaan Bitcoin dan Bitcoin Cash.

    Baca juga: Cara Mengumpulkan Dana Darurat dengan Cepat dan Tepat

    Apa itu Bitcoin Cash?

    Bitcoin Cash adalah aset kripto yang muncul dalam peristiwa hard fork di blockchain Bitcoin tahun 2017. BCH menjadi “saudara” muda bagi BTC dan “kakak” bagi Bitcoin Gold.

    Hard Fork sendiri dalam dunia aset kripto merupakan perubahan dalam protokol mata uang asal. Jadi ketika tim pengembangan melakukan fork, muncul blokchain baru yang unik yang kemudian menjadi Bitcoin Cash. Dengan kata lain, transaksi Bitcoin Cash di jaringan blockchain Bitcoin pun sudah tak menjadi valid.

    Ibarat saudara kembar, ketika Bitcoin Cash hadir, maka pemegang Bitcoin akan memiliki jumlah koin yang sama dengan jumlah koin Bitcoin Cash. Gampangnya seperti ini. Jika kamu memiliki 10 koin Bitcoin pada saat hard fork berlangsung, maka artinya kamu juga memiliki 10 BCH.

    Seperti layaknya aset kripto lain, Bitcoin Cash juga diperdagangkan secara umum dan juga memiliki dinamika harga yang menarik untuk investor pemula.

    Mengapa demikian? BCH adalah koin yang lebih baru jika dibandingkan dengan Bitcoin, sehingga ruang pertumbuhannya kemungkinan masih terbuka cukup lebar.

    Baca juga: Harganya Turun, Sepenting Apa Sih Investasi Ethereum di Portofolio Kamu?

    Kenapa Ada Bitcoin Cash?

    Sejarah Awal Bitcoin Cash

    Sobat Cuan mungkin paham bahwa hard fork di dalam blockchain aset kripto muncul karena kualitas sistem blockchain yang existing dianggap kurang mumpuni. Di sistem Ethereum, misalnya, hard fork Ethereum terjadi karena pengembang merasa ada kecacatan dalam sistem keamanannya.

    Hal serupa juga terjadi di dalam Bitcoin, sehingga muncul hard fork “berbuah” BCH.

    Penemu Bitcoin, Satoshi Nakamoto, awalnya berharap Bitcoin bisa menjadi aset digital yang digunakan untuk transaksi sehari-hari. Hanya saja, bertahun-tahun kemudian, pengguna Bitcoin lebih memilih menggunakannya untuk aset investasi ketimbang transaksi. Hal ini mengingat pasokan BTC yang terbatas, hanya 21 juta keping.

    Alhasil, banyak pengguna yang merangsek masuk blockchain Bitcoin untuk menambangnya. Sayangnya, sistem blockchain tersebut tidak mampu menampung dan mengakomodasi derasnya transaksi di dalamnya. Hal ini disebabkan oleh pembatasan pencatatan transaksi (block) Bitcoin yang hanya sebesar 1 MB/blok.

    Akibatnya, banyak transaksi di blockchain Bitcoin yang mengantre dan menunggu konfirmasi. Sehingga, likuiditas di sistem blockchain ini pun ikut tersendat.

    Awalnya, tim pengembang Bitcoin, The Bitcoin Core Team menawarkan dua solusi untuk menanggulangi hal tersebut: Meningkatkan rata-rata ukuran blok atau melarang transaksi berukuran besar untuk terjadi di sistem blockchain.

    Ujungnya, tim pengembang tersebut memilih untuk memperbesar ukuran blok transaksi yang sudah ada ke dalam satu blockchain baru. Kemudian, mereka memperkenalkan satu koin baru agar bisa digunakan di blockchain teranyar tersebut bernama Bitcoin Unlimited.

    Sayangnya, Bitcoin Unlimited mengalami peretasan dan gagal mendapat apresiasi penuh dari publik. Hal ini bikin publik ragu terkait apakah koin anyar tersebut benar-benar mampu menjadi alat transaksi yang mumpuni.

    Akhirnya, setelah diperdebatkan oleh komunitas cryptocurrency, pengembang Bitcoin pun meluncurkan Bitcoin Cash pada Agustus 2017.

    Napak Tilas Bitcoin Cash Pasca Diluncurkan

    Jaringan Bitcoin Cash sendiri memiliki ukuran blok transaksi yang lebih besar dibanding Bitcoin. Yakni, di antara 8 MB hingga 12 MB. Sebagai gambaran, kapasitas tersebut bisa menampung 25.000 transaksi per blok, sementara Bitcoin hanya bisa memproses 1.000 hingga 1.500 transaksi per blok.

    Setelah hard fork dilakukan, setiap pemegang Bitcoin memiliki BCH dengan nilai yang serupa dengan “kakaknya”. Makanya, tak heran jika BCH memiliki harga US$900 per keping ketika diperkenalkan ke pasar cryptocurrency empat tahun lalu.

    Hanya saja, tidak semua platform exchange mau menerima kehadiran saudara Bitcoin satu ini. Contohnya adalah Coinbase dan itBit yang ternyata memboikot BCH dan tidak memasukannya ke dalam daftar aset kripto yang bisa diperdagangkan.

    Namun di sisi lain, terdapat pula pendukung kehadiran BCH di kancah kripto. Salah satunya adalah Roger Ver, yang mengatakan bahwa BCH diharapkan mampu membawa visi Nakamoto yang menginginkan Bitcoin sebagai alat transaksi di ranah digital.

    BCH pun Pecah Menjadi Dua

    Ironisnya, Bitcoin Cash sendiri kemudian mengalami hard fork setahun setelah diluncurkan. Pada November 2018, BCH pecah menjadi Bitcoin Cash ABC dan Bitcoin Cash SV (Satoshi Vision).

    Kali ini, hard fork terjadi karena ada perbedaan pendapat antara penggunanya terkait masuknya teknologi smart contract ke dalam sistem blockchain BCH.

    Adapun Bitcoin Cash ABC masih menggunakan jaringan BCH yang asli meski ada sedikit perubahan. Sementara itu, Bitcoin Cash SV dibesut oleh Craig Wright yang memang menolak adanya perubahan di sistem blockchain BCH.

    Bitcoin VS Bitcoin Cash. Apa Bedanya?

    Nah, seperti yang sudah disebutkan di atas, tentu Sobat Cuan sudah bisa menebak perbedaan di antara keduanya.

    Yang pertama jelas adalah sistem blockchain yang digunakan. Kapasitas blok transaksi Bitcoin Cash lebih besar dibanding Bitcoin. Yakni, 32 MB berbanding dengan 1 MB. Sehingga, tak heran jika BCH bisa memproses transaksi lebih cepat dan lebih besar.

    Kedua adalah nilai gunanya. Bitcoin kini menjelma sebagai salah satu instrumen investasi pelindung kekayaan. Bahkan, sejak awal tahun ini, banyak sekali yang menyandingkannya dengan emas.

    Namun di sisi lain, BCH nampaknya masih betah menyandang posisi sebagai nilai tukar. Apalagi, biaya transaksi Bitcoin Cash bisa menjadi lebih murah dibandingkan dengan Bitcoin. Sehingga ada pandangan bahwa pengguna Bitcoin kemungkinan akan beralih menggunakan BCH sebagai mata uang transaksional utama di jagat kripto.

    Makanya, perbedaan nilai manfaat itu pula lah yang menyebabkan ada perbedaan harga yang cukup jauh di antara keduanya.

    Saat ini, Bitcoin menduduki status sebagai raja aset kripto. Saat ini, ia dibanderol US$33.346 per keping dengan kapitalisasi pasar US$624,95 miliar.

    Sementara itu, BCH saat ini bernilai US$487 per keping dan memiliki kapitalisasi pasar di angka US$9,16 miliar. Sangat jauh bukan? Tetapi, hal itu dapat dipahami lantaran usianya yang masih tergolong muda, sehingga pasarnya kemungkinan belum terbentuk secara sempurna.

    Namun, sistem blockchain Bitcoin Cash ke depan masih bisa dikembangkan dan memang memiliki tujuan menjadi alat nilai tukar. Sehingga, potensinya ke depan pun terbilang cemerlang.

    Kalau kamu bagaimana Sobat Cuan? Mending pilih Bitcoin untuk investasi? Atau Bitcoin Cash sebagai alat transaksi?

    Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

    Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

    Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

    Sumber: Investopedia, Bitdegree



    Sumber : pluang.com