Category Archives: Pluang

Yakin Mau Buru-Buru Jual ETH? Ada Prediksi ETH Bakal ke Level US$4.200 Nih!

Bagaimana cuan dari Ethereum hari ini, Sobat Cuan? Memang, harga Ethereum dari kemarin seolah-olah ngegas terus. Setelah menyentuh level US$3.000 di Senin kemarin, aset kripto ini bahkan sudah menembus US$3.300 di hari ini. Terakhir, ada prediksi yang mengatakan bahwa harga Ethereum bisa tembus US$4.200 di musim panas ini.

Beberapa analis menganggap bahwa harga Ethereum saat ini masih jauh dari potensi puncak harga sebenarnya. Bahkan, potensi tersebut terbilang masih sangat jauh untuk digapai. Mengapa demikian? Dan sampai sejauh mana prediksi harga Ethereum?

Faktor pertama adalah sejarah hubungan Ethereum dengan Bitcoin. Menengok sejarah hubungan mereka berdua, Ethereum dan Bitcoin seharusnya melacak pergerakan satu sama lain. Nah, jika harga Bitcoin bisa naik sebesar 200% dibanding levelnya di 2018, maka Ethereum seharusnya juga bisa diperdagangkan di harga US$4.200 saat ini.

Tapi tenang saja, Sobat Cuan. Sebab ada banyak alasan mengapa harga Ethereum yang cetak rekor terus-terusan masih akan berlanjut terus.

Baca juga: Cuan Lagi! Harga Ethereum Naik, Tembus Level Tertinggi US$3.000

1. Penerbitan Obligasi Berbasis Ethereum sebagai Tonggak Penting

Johannes Rude Jensen, Product and Project Manager di eToroX Lab, menyoroti penerbitan obligasi berbasis Ethereum oleh European Invesment Bank (EIB) sebagai tonggak penting dalam adopsi teknologi blockchain dalam sektor perbankan tradisional.

Jensen mengatakan bahwa penerbitan obligasi berbasis blockchain telah menjadi daya tarik sebagai jawaban atas perubahan iklim. Hal itu menjadi alternatif untuk proses rekonsiliasi yang mahal di pasar obligasi tradisional.

“Dengan memilih Ethereum, EIB menandakan niat untuk memainkan peran yang semakin aktif dalam mengimplementasikan kebijakan Uni Eropa tentang iklim dan inovasi, sejalan dengan penekanan ECB baru-baru ini pada perbankan hijau,” katanya.

Ia menilai langkah tersebut merupakan indikasi dari bank besar dan lembaga keuangan bergerak ke arah penggunaan blockchain publik untuk produk keuangan di masa depan. Ini menandakan tren umum standar terbuka di perbankan.

“Memiliki satu sumber data yang terkonsolidasi di pasar obligasi akan mengurangi ketergantungan pada perantara. Hal itu kemungkinan akan mengurangi biaya dan mendukung mitigasi risiko dalam proses pra-penerbitan dan pasca-perdagangan,” jelasnya.

2. Hard fork Berlin Datang dan Berjalan Dengan Baik

Hard fork adalah suatu keadaan dimana satuan kripto dimodifikasi sehingga terbagi menjadi dua kode. Yakni dari satuan kripto yang diubah sehingga menghasilkan kode lama dan kode baru, yang mana kedua kode ini tidak kompatibel satu sama lain.

Hard fork Berlin mulai beroperasi pada 15 April dengan hampir tidak ada keluhan di pasar. Fork memperkenalkan empat EIP baru (Ethereum Improvement Protocols) yang telah dikerjakan setidaknya selama dua tahun terakhir.

Protokol Berlin sendiri menyelesaikan permasalahan yang terjadi di dalam sistem blockchain Ethereum, misalnya mahalnya harga biaya penggunaan jaringan Ethereum (gas fees). Dengan demikian, sentimen ini tentu bisa menjadi angin segar bagi permintaan Ether, token Ethereum, dan meningkatkan harganya.

Selain itu, protokol Berlin juga merupakan pendahuluan bagi hard fork EIP lain yang juga dijadwalkan rilis tahun ini. Di mana, pembaruan tersebut akan berdampak terhadap skala keterjangkauan dan harga ETH ke depan. Hard fork tersebut akan diberi nama Hard fork London.

Baca juga: Udah Jago Analisis Teknikal Bitcoin & Kripto? Yuk, Saatnya Belajar Analisis On-Chain!

Hard fork London akan memperkenalkan EIP 1559 ke jaringan dan secara serius akan memangkas gas fees. EIP tidak hanya mengambil kendali atas penetapan biaya, tetapi juga akan membakar atau “menghilangkan” sebagian dari gas fees setelah dikumpulkan.

Ini akan berfungsi untuk mengurangi biaya dan meningkatkan transaksi. Selain itu, protokol ini bisa dibilang meningkatkan pendapatan bersih bagi  penambang, sekaligus juga mengurangi pasokan Ethereum. Dengan prediksi suplai mengetat, tidak heran jika prediksi harga Ethereum semakin bullish di masa depan.

3. Harga Gas Fees Ethereum Sudah Turun

Salah satu rintangan terbesar untuk jaringan Ethereum dan penggunanya adalah harga bahan bakar untuk transaksi, yang tadi disebut sebagai gas fees. Biaya transaksi ini terus meningkat karena kekuatan permintaan yang juga menguat. Hal itu ditambah fakta bahwa penambang diizinkan untuk memprioritaskan pengguna yang membayar lebih tinggi daripada yang lain.

Harga bahan bakar untuk transaksi mencapai titik tertinggi tahun lalu dan bertahan pada level tersebut hingga tahun 2021. Tetapi, kini situasinya sudah berubah. Harga bahan bakar melonjak tak lama setelah hard fork Berlin, tetapi sejak itu jatuh ke level terendah dalam hampir setahun.

Jika tren ini berlanjut, ini akan membantu menarik lebih banyak pengguna ke jaringan Ethereum. Prediksi harga Ethereum pun akan semakin bullish karena hal tersebut.

4. Prediksi Harga Ethereum Naik Karena Kenaikan Pangsa Pasar

Bahkan dengan harga bahan bakar yang tinggi, Ethereum telah mendapatkan pangsa pasar. Cara terbaik untuk melihatnya adalah melalui dominasi pasar atau nilai kapitalisasi pasar di industri cryptocurrency.

Bitcoin telah lama menjadi pemimpin dan kemungkinan besar tidak akan segera berubah, tetapi telah kehilangan bagiannya selama setahun terakhir. Bitcoin kehilangan bagian tidak hanya karena Ethereum tetapi dengan munculnya token DeFi.

Baca juga: Ada Prediksi Harga Bitcoin Turun, Apakah Itu Hal Wajar?

Ethereum mencapai titik terendah dalam hal pangsa pasar di awal tahun 2020 dan telah mengalami peningkatan yang stabil sejak saat itu. Peningkatan ini berkorelasi dengan beberapa peristiwa penting, termasuk beberapa hard fork dan EIP. Hal itu membuat pangsa pasar Ethereum naik dari sekitar 7,5% menjadi hampir 15% saat ini.

5. Secara Grafik, Ethereum Memimpin 

Grafik Ethereum
Sumber: www.entrepreneur.com

Grafik harga Ethereum tidak hanya sangat bullish, tetapi juga menunjukkan bahwa Ethereum sekarang memimpin pasar. Harga Bitcoin mungkin diperdagangkan pada level yang lebih tinggi dibandingkan dengan tertinggi sebelumnya tetapi harganya dalam konsolidasi. Bitcoin diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 30 hari, dan indikatornya masih rapuh.

Di sisi lain, Ethereum diperdagangkan pada level tertinggi baru. Token ini diperdagangkan jauh di atas rata-rata pergerakan 30 hari, dan memiliki indikator bullish. Jika bertaruh pada satu atau yang lain untuk membuat langkah kuat lebih tinggi, itu akan terjadi di Ethereum.

Target pertama para analis untuk resistensi utama mendekati US$3,350. Angka ini didapatkan dengan memproyeksikan besarnya reli terbaru dari titik konsolidasi saat ini.

Setelah target itu tercapai, kisaran harga US$4.000 hingga US$4.200 (naik 200% dari level tertinggi sepanjang masa 2018) akan terlihat. Level ini dapat dicapai sebelum hard fork London diluncurkan pada bulan Juli.

Jadi bagaimana Sobat Cuan? Buruan yuk, serok Ethereum sekarang di Pluang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Entrepreneur, CoinTelegraph



Sumber : pluang.com

Investasi Emas Jangka Pendek vs Jangka Panjang

Secara umum, kamu dapat investasi emas dengan dua cara: Trading jangka pendek atau menabung emas untuk investasi jangka panjang. Apa manfaat keduanya?

Investasi Jangka Panjang pada Emas

Menabung emas lebih bergantung pada tren kenaikan harga emas jangka panjang. Di masa depan, harga emas diperkirakan akan terus meningkat lantaran bank sentral di seluruh dunia terus mencetak lebih banyak uang dan mempertahankan suku bunga acuan yang rendah. Sekadar informasi, jumlah produksi emas hanya bertambah kurang dari 1% tiap tahunnya sementara 25% jumlah Dolar AS yang beredar saat ini baru dicetak pada tahun 2020 lalu.

Investor bisa melancarkan beberapa strategi untuk menabung emas secara efektif, salah satunya adalah dengan metode Dollar Cost Averaging (DCA). Melalui strategi ini, investor membeli emas secara rutin dengan nilai yang sama. 

Jika kamu membeli emas dalam jumlah sama setiap bulan, maka kamu akan membeli lebih sedikit emas saat harga emas tengah menanjak. Begitu pun sebaliknya, kamu bisa mengumpulkan lebih banyak emas saat harganya sedang turun.

Lebih penting lagi, DCA akan menumbuhkan kebiasaan yang baik bagimu untuk berinvestasi secara rutin. Kedisiplinan merupakan salah satu faktor terpenting dalam mendulang untung dari kegiatan investasi dalam jangka panjang.

Contohnya kamu bisa berketetapan untuk menyisihkan Rp 500.000 dari gajimu untuk menabung emas tiap bulannya. Kamu bisa menerapkan strategi DCA secara otomatis dalam investasi emas di Pluang menggunakan fitur investasi otomatis! Fitur ini memungkinkanmu untuk investasi emas secara otomatis dalam jumlah yang sama setiap bulan atau bahkan setiap minggu. 

Cara lain untuk investasi emas jangka panjang adalah dengan menjadikannya sebagai alat diversifikasi portofolio.

Harga emas memiliki korelasi yang rendah dengan kelas aset lainnya, sehingga sang logam mulia ini cocok menjadi aset lindung nilai saat nilai aset lainnya turun. 

Sebagai contoh, anggap saja kamu berinvestasi emas dengan porsi 20% dari seluruh nilai portofolio sementara 80% sisanya kamu tanamkan di dalam saham. Ketika tren harga saham naik (bullish), kamu mungkin merasa nyaman saja dengan harga emas yang relatif datar dan adem ayem saja. Namun pada saat pasar turun (bearish) misalnya karena krisis keuangan atau pandemi, posisi emas tersebut akan menyelamatkan nilai portofolio secara keseluruhan saat harga-harga saham turun oleh berita negatif. 

Karena harga emas naik karena terjadinya krisis, maka aset emasmu bisa dijual secara menguntungkan dan dananya kemudian dipakai untuk membeli saham yang harganya sedang “obral”. Nah, aksi memindahkan uang dari satu aset yang harganya naik ke aset lain yang harganya kamu ramal akan naik disebut dengan rotasi.

Trading Emas

Di sisi lain,  jual-beli emas secara aktif atau trading membutuhkan pengamatan pasar yang cermat untuk meramal pergerakan harganya dalam jangka pendek.

Jika kamu ingin mendulang cuan dari trading emas, maka kamu tidak hanya memerlukan pemahaman yang kuat tentang inflasi, suku bunga, dan nilai tukar, namun juga memerlukan pemahaman yang kuat tentang analisis teknikal.

Apapun pilihanmu, baik investasi jangka panjang atau trading, kamu bisa melakukannya di Pluang! Di Pluang, kamu bisa menikmati spread transaksi emas rendah, pergerakan harga yang real-time, dan membeli emas dengan cukup tiga kali klik saja di ponsel pintarmu!



Sumber : pluang.com

Apa Beda Istilah Crash dan Koreksi Bitcoin? Simak di Sini!

Sobat Cuan pecinta aset kripto pasti tahu Bitcoin saat ini sedang loyo, bahkan sejak April lalu. Nah, karena situasi tersebut, lalu muncul istilah crash dan koreksi Bitcoin. Apa perbedaannya?

Bitcoin kini berjuang untuk mempertahankan level support US$55.000 selama 16 hari terakhir. Pada dasarnya Bitcoin loyo sejak terjadi likuidasi kontrak panjang senilai US$5 miliar, yang merupakan rekor likuidasi Bitcoin tertinggi, terjadi pada 17 April lalu.

Likuidasi yang terjadi setelah level harga tertinggi sepanjang masa US$64.900 itu memiliki dampak yang menghancurkan bagi sentimen trader ritel. Hal itu diukur dengan penurunan signifikan dalam bunga produk perpetual futures swap.

Ketika harga Bitcoin turun, seringkali istilah “crash” dan “koreksi” digunakan secara bergantian. Namun, kedua kata tersebut sebenarnya ternyata memiliki arti yang berbeda, lho, Sobat Cuan. Lantas, apa dong bedanya?

Baca juga: Yakin Mau Buru-Buru Jual ETH? Ada Prediksi ETH Bakal ke Level US$4.200 Nih!

Crash Bitcoin

Crash atau peristiwa kejatuhan secara luas dianggap dalam keuangan tradisional sebagai penurunan harga lebih dari 10% selama satu hari. Ini seringkali dipicu oleh perubahan mendadak yang berdampak di pasar crypto yang menyebabkan investor yang panik keluar secara massal. Hal itu salah satu pembeda antara crash dan koreksi Bitcoin.

Faktor teknis memang dapat memberikan efek dramatis pada harga Bitcoin. Namun penurunan tajam lebih disebabkan oleh keadaan mendasar, seperti peristiwa ekonomi makro, pengumuman perusahaan besar, dan perubahan mendadak pada peraturan dan kebijakan internasional.

Crash terbesar yang pernah tercatat pada grafik bitcoin terjadi pada 10 April 2013, tak lama setelah Financial Crimes Enforcement Network (FinCEN) di AS menutup crypto exchange Bitfloor. FinCEN kemudian mengumumkan bahwa crypto exchange wajib untuk mendaftar sebagai “perusahaan transaksi uang”.

Harga Bitcoin pada saat itu kemudian amblas lebih dari 73,1% dalam 24 jam, dari ketinggian US$259,34 ke level terendah US$70.

Selain peristiwa itu, kejatuhan “Black Thursday” yang terkenal pada 12 Maret 2020, menempati posisi teratas sebagai crash terbesar. Harga Bitcoin anjlok 40%, dari US$7.969,90 menjadi US$4.776,59, setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan virus corona sebagai pandemi global.

Baca juga: Cuan Lagi! Harga Ethereum Naik, Tembus Level Tertinggi US$3.000

Koreksi Bitcoin

Koreksi ditandai dengan penurunan bertahap di mana harga turun lebih dari 10% selama beberapa hari. Hal ini biasanya menunjukkan bahwa investor dan trader bullish telah ‘kelelahan’ sehingga perlu waktu untuk berkonsolidasi dan pulih.

‘Kelelahan’ terjadi ketika mayoritas pembeli telah membeli aset dasar dan tidak ada lagi pembeli baru yang muncul untuk mendukung tren naik. Jika pesanan jual terus menumpuk tanpa ada orang di sisi lain antrian pesanan yang membelinya, maka harga mulai turun.

Koreksi dapat dipengaruhi oleh peristiwa kecil tetapi cenderung disebabkan oleh faktor teknis. Misalnya, seperti pembeli yang mengalami level resistensi yang kuat, atau menipisnya volume perdagangan. Juga perbedaan negatif antara harga Bitcoin dan indikator yang mengukur momentumnya seperti Relative Strength Index (RSI).

Crash dan koreksi Bitcoin: Investor Pro Membeli saat Harga Turun

Setelah berkenalan dengan crash dan koreksi Bitcoin, tentu saja hal yang ingin diketahui investor adalah strategi yang jitu untuk mendulang cuan dari peristiwa tersebut. Nah, biasanya, para investor dan trader aset kripto kawakan akan menyerok aset tersebut saat harganya sedang turun. Atau, istilah kerennya adalah buy the dip. Mengapa demikian?

Untuk mengetahuinya, kita harus kenali gaya berinvestasi mereka dulu, Sobat Cuan. Biasanya, para investor kakap Bitcoin (whales) menyerok raja aset kripto ini dengan tujuan melindungi nilai kekayaan, mengingat sifat Bitcoin yang tak berkorelasi dengan inflasi. Makanya, tak heran jika mereka langsung memborong Bitcoin saat harganya tengah anjlok. Sementara itu, trader pro akan memborong Bitcoin di harga murah untuk kemudian dijual kembali saat harganya menunjukkan tren peningkatan kembali.

Tapi, mengapa mereka sangat optimistis dengan Bitcoin meski harganya terkoreksi? Sebab, harga Bitcoin di jangka panjang akan menjanjikan. Seperti diketahui, Bitcoin adalah barang langka, di mana hanya terdapat 21 juta keping yang sedianya akan habis ditambang 2140 mendatang. Tentu saja, nilai suatu barang akan meningkat jika suplainya menipis, bukan?

Selain itu, permintaan Bitcoin jangka panjang juga kian digandrungi. Ini lantaran beberapa korporasi sudah melihatnya sebagai instrumen pelindung nilai. Hal ini terbukti dari beberapa korporasi yang sudah menggenggam Bitcoin sebagai instrumen investasi mereka.

Bagaimana dengan kamu nih, Sobat Cuan? Apakah tidak mau mengambil kesempatan di saat harga Bitcoin lagi turun? Agar tidak ketinggalan momentum, yuk segera investasi Bitcoin di Pluang!

Baca juga: Udah Jago Analisis Teknikal Bitcoin & Kripto? Yuk, Saatnya Belajar Analisis On-Chain!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Coindesk, CoinTelegraph



Sumber : pluang.com

Faktor Pergerakan Harga Emas di Indonesia Seluruh Dunia

Harga emas global secara resmi ditetapkan dua kali sehari dalam mata uang Dolar AS, yakni pada 10.30 dan 15.30 waktu London, Inggris. Nilai emas tersebut ditetapkan oleh London Bullion Metals Association (LBMA). LBMA merupakan asosiasi dagang yang terdiri dari sekitar 150 perusahaan dari seluruh dunia yang bergerak di rantai penyediaan emas, mulai dari penambang, pemurni (refinery) sampai pedagang.

2 Faktor yang Mempengaruhi Pergerakan Harga Emas di Indonesia

1. Suplai dan Permintaan Emas secara Global

Harga emas, seperti barang atau jasa atau aset lainnya, ditentukan dari penawaran dan permintaan. 

Penawaran emas terbilang relatif tetap mengingat bukan saja jumlah emas yang dikandung bumi terbatas namun dengan banyaknya pembatasan untuk kegiatan penambangan emas. 

Sedangkan permintaan akan emas berasal dari lima sumber berikut:

  1. Perhiasan: Emas adalah komponen utama dari sebagian besar perhiasan, misalnya cincin dan kalung
  2. Koin emas dan emas batangan: Emas yang dicetak dalam bentuk koin dan batangan dan yang kemudian diperjualbelikan pedagang emas
  3. Teknologi: Emas merupakan konduktor listrik yang sangat baik dan menjadi bahan baku bagi beberapa benda seperti kabel.
  4. ETF: Emas juga hadir dalam produk investasi berjenis Exchange Traded Funds (ETF) demi memenuhi permintaan investor. Di dalam ETF, setiap Dolar AS yang diinvestasikan ke dalam produk tersebut akan dicadangkan dalam bentuk emas (tentunya setelah dikurangi ongkos pengelolaan). Sehingga, jika investor membeli banyak ETF emas, maka ETF tersebut harus melakukan pencadangan emas yang lebih banyak. Begitu pun sebaliknya, jika investor menjual ETF emas, maka ETF akan melepas cadangan emasnya.
  5. Bank sentral: Bank sentral membeli emas sebagai bagian dari aset cadangan (reserve asset) sebab emas cenderung mempertahankan nilainya terhadap depresiasi mata uang lain. Kepemilikan emas memungkinkan bank sentral untuk mempertahankan nilai tukar mata uangnya sendiri terhadap kemungkinan pelemahan.

Grafik di bawah ini menunjukkan bagaimana permintaan emas telah berubah sejak 2020.

Banyak investor memburu emas saat awal pandemi COVID-19 seiring kekhawatiran tentang ketidakpastian ekonomi dan kenaikan inflasi. 

Namun setelahnya, investor mulai menjauh dari emas setelah kekhawatiran mereka akan inflasi mereda dan melihat keberhasilan reflasi di mana kebijakan moneter dan pemerintah berhasil memperbaiki pertumbuhan ekonomi setelah resesi dan saat yang bersamaan menghindari terjadinya deflasi. Investor mulai berani kembali menggenggam instrumen ekuitas yang lebih berisiko dan melepas emas yang dianggap sebagai aset aman (safe haven).

Grafik di bawah menunjukkan telah berkurangnya permintaan emas dari investor dan peningkatan permintaan dari sisi konsumen dan bank sentral dibandingkan tahun 2020.

Pergerakan harga emas

2. Nilai Tukar dolar AS Terhadap Rupiah

Harga resmi emas adalah dalam mata uang dolar AS. Sehingga, harga emas di negara lain adalah harga emas dalam Dolar AS dikalikan dengan nilai tukar mata uang tersebut saat ini.

Dengan kata lain, harga emas di Indonesia diturunkan dari harga emas dunia yang dikalikan dengan nilai tukarnya terhadap Dolar AS, seperti ditunjukkan di formula berikut:

Harga Emas dalam Rupiah = Harga Emas dalam Dolar AS x Nilai Tukar

Sebagai contoh, jika harga emas dunia berada di level US$2.000 per ons (US$64,45 per gram) dan kurs Rupiah terhadap Dolar AS tercatat Rp14.500 per Dolar AS, maka harga emas di Indonesia seharusnya adalah Rp934.525 per gram.

Rp934.525 = US$64,45 x Rp14.500

Di dalam pasar persaingan sempurna, harga emas tidak akan melenceng dari harga ini. Sebab, jika harga emas di Indonesia lebih mahal dibanding harga emas yang dihitung di atas, maka pelaku pasar akan termotivasi melakukan trading arbitrase, yakni kegiatan mendulang cuan dengan memanfaatkan perbedaan harga instrumen di dua pasar yang berbeda.

Sebagai contoh, anggap saja harga emas di Indonesia menyentuh Rp1 juta per gram ketika harga emas di pasar global tercatat Rp943.525. Hal ini akan memicu investor untuk membeli emas di pasar global dan menjualnya lagi di Indonesia demi mendapatkan untung. Ini akan terus terjadi sampai harga emas di Indonesia turun karena makin banyak yang menjual di Indonesia dan harga emas di pasaran dunia naik karena makin banyak yang membeli emas di pasar ini. Ini terus terjadi sampai tercapainya keseimbangan baru di mana harga pasar dunia dan Indonesia sama. 

Tentu saja pada praktiknya, harga emas yang sesungguhnya dalam Rupiah mungkin sedikit berbeda dibanding harga emas dunia. Hal ini dikarenakan pedagang emas harus memperhitungkan biaya penyimpanan dan distribusi dan seluruh komponen biaya tersebut akan tercermin ke harga emas. Selain itu, harga emas di Indonesia juga dipengaruhi peraturani kegiatan ekspor dan impor emas.



Sumber : pluang.com

Kapan Waktu yang Tepat Menjual Reksadana Kamu?

Selama ini, orang mengenal reksadana sebagai sarana untuk hidup pensiun dengan tenang. Apalagi, berinvestasi di reksadana bukanlah hal susah untuk dilakukan. Tidak perlu tips investasi yang njelimet, investor hanya perlu ongkang-ongkang kaki dan dananya dikelola oleh manajer investasi.

Selain itu, imbal hasil yang diberikan juga masih lebih baik jika dibandingkan dengan deposito atau jenis investasi yang mengandalkan pendapatan tetap lainnya. Tetapi, yang namanya investasi pasti ada faktor yang menjadi risiko dari setiap pergerakannya.

Nah, membincang imbal hasil reksadana, hal ini tidak dapat dipisahkan dari timing alias waktu yang tepat untuk membeli atau menjual reksadana. Utamanya, dalam menjual reksadana. Pasalnya, beberapa investor tidak hanya menggunakan reksadana sebagai sarana menuju pensiun saja, namun juga ajang mencari cuan.

Tak heran, jika banyak investor bertanya apakah sebaiknya menjual reksadana setelah menggenggamnya enam bulan? Satu tahun? Tiga tahun? Atau lima tahun?

Misalnya, produk reksadana saham. Salah satu produk investasi ini diperuntukkan untuk mereka yang memiliki rencana keuangan di atas lima tahun. Jadi jika Sobat Cuan ingin merasakan imbal hasil maksimal, disarankan untuk melepasnya setelah di atas lima tahun. Lantas, apa dampaknya jika kamu menjual reksadana kamu di bawah lima tahun?

Selain itu, juga ada produk reksadana campuran dan pendapatan tetap yang ditujukan untuk investor dengan rencana investasi menengah, alias tiga tahun. Terdapat pula reksa dana pasar uang yang ditujukan untuk investor dengan rencana investasi pendek, alias satu tahun. Terus, kalau kamu melepas reksadana di bawah jangka waktu itu, apakah kamu masih bisa mendulang cuan?

Nah, semua keputusan itu bersifat dinamis, Sobat Cuan. Tips investasi reksadana utamanya adalah kamu bisa menjualnya kapan saja selama dibutuhkan. Tetapi, ada juga kondisi yang membuat kamu harus mulai mempertimbangkan penjualan UP reksa dana yang dimiliki. Apa saja kondisi tersebut?

Baca juga: Apa Itu Reksadana?

Tips Investasi Reksadana: Saat Tepat Menjual Reksadana

1. Saat Kinerja Reksadana Terus Turun

Meski pengelolaan dana reksadana kamu dilakukan oleh manajer investasi, tetap saja ada risiko penurunan nilai yang mengintai. Ini lantaran aset penempatan dana di reksadana (underlying asset), seperti saham, obligasi, dan pasar uang, juga cenderung volatil setiap saat.

Makanya, nilai reksadana kamu akan turun kalau kinerja underlying asset kamu juga melandai. Begitu pun sebaliknya. Makanya, kamu harus segera memindahkan dana di reksadanamu ke aset lain yang berisiko mini kala nilai reksadana kamu perlahan turun.

Hal itu dimaksudkan untuk menghindari potensi penyusutan dana investasi. Sebab, nilai UP kamu akan turun jika nilai aktiva bersih (NAB) produk reksadanamu juga terus terjungkal.

Oleh karenanya, kamu harus melakukan riset mendalam dalam melihat perkembangan kinerja reksadana. Sekaligus memeriksa alasan di balik penurunan nilai reksadana tersebut.

Kalau misalnya kinerja reksadana turun karena kondisi pasar yang memburuk, mungkin Sobat Cuan bisa mengalihkannya ke jenis investasi lain. Tetapi, jika penurunan disebabkan lantaran pengelolaan reksa dana yang tidak tepat, maka menjualnya adalah keputusan yang tepat.

2. Tips Investasi Reksadana Jitu: Jual Reksadana Saat Butuh Dana Darurat

Sobat Cuan mungkin merasa sudah punya perencanaan keuangan yang mumpuni. Tapi, ada kalanya kamu merasa seret masalah finansial jika berhadapan dengan urusan-urusan yang mendadak.

Tabunganmu di rekening bank mungkin cukup untuk membiayai kebutuhan mendadak tersebut. Tapi, kamu tetap bisa kok, menjual reksadana untuk membiayai kebutuhanmu yang bersifat darurat.

Namun, perlu diperhatikan bahwa pencairan UP reksadana hanya bisa dibayarkan maksimal tujuh hari bursa sejak permohonan penjualan sudah diterima lengkap oleh Manajer Investasi. Selain itu, jangan sampai penjualan produk reksadana malah bikin kamu tidak konsisten dalam berinvestasi reksadana ke depan, ya!

Baca juga: Hai Sobat Cuan, Begini Lho Cara Maksimalkan Cuan di Reksadana Pendapatan Tetap

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Reksadana Community



Sumber : pluang.com

Harga Emas 50 Tahun Terakhir

Sejarah harga emas dalam 50 tahun terakhir adalah sebagai berikut:

harga emas

Tahun 1971

Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Richard Nixon memutuskan untuk berhenti mematok nilai Dolar AS dengan standar emas, sebuah kebijakan yang dijalankan AS sejak Perjanjian Bretton Woods pada 1944. Melalui sistem Bretton Woods, semua mata uang negara-negara adidaya pasca perang dunia ditautkan ke Dolar AS, sementara Dolar AS dipastikan untuk bisa ditukarkan menjadi emas pada harga US$35 per troy ons.

Namun pertukaran antara Dolar AS dengan emas menyulitkan negara Paman Sam tersebut dalam usahanya untuk mengendalikan tingkat inflasi yang meradang. Masalah lain muncul dari neraca pembayaran AS yang defisit, dikarenakan pembayaran impor terhadap pihak internasional yang menggunakan AS Dolar sama saja dengan adanya aliran emas yang keluar dari AS. Karena Dolar AS bisa dikonversi dengan nilai tukar yang tetap terhadap emas, maka AS akan “kehilangan” sejumlah emas untuk setiap Dolar yang dikeluarkan demi membiayai impor. Intinya, semakin banyak AS mengimpor barang, maka semakin rendah pula cadangan emasnya.

Oleh karenanya, Nixon memutuskan untuk melarang penukaran antara Dolar AS dan emas. Langkah ini sebenarnya direncanakan untuk bersifat sementara. 

Dengan dihilangkannya standar emas, maka bank sentral AS The Federal Reserve (“The Fed”) dan pemerintah AS bebas meningkatkan jumlah uang beredar tanpa batasan.

Tahun 1980

Harga emas mencapai rekor tertinggi US$850 per ons akibat melonjaknya permintaan investor akan emas batangan. Hal ini disebabkan oleh reaksi investor akan inflasi tinggi yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak, campur tangan Uni Soviet di Afghanistan, dan dampak dari revolusi Iran. Semua ini menunjukkan bagaimana emas bertindak sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan aset safe haven selama gejolak geopolitik.

Tahun 1980 -1999

Tahun 1980 – 1999 pasar emas turun (Bear Market). Selama dua dekade berikutnya, harga emas terus melandai hingga mencapai titik terendah US$254 per ons pada tahun 1999. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh:

  1. Kenaikan persediaan emas. Produksi tahunan emas bertumbuh dua kali lipat akibat turunnya biaya penambangan emas berkat munculnya teknologi baru.
  2. Kebijakan moneter yang hati-hati, inflasi rendah, dan stabilitas geopolitik, yang menyebabkan masyarakat Eropa memilih untuk mencairkan emas mereka menjadi uang tunai untuk membeli kelas aset berisiko.

Tahun 2008-2011

Selama Krisis Keuangan Global di mana terjadi krisis utang dan moneter, harga emas naik dari US$700 menjadi US$1.800. Kinclongnya kinerja emas kala itu disebabkan oleh sikap investor yang mempertanyakan kemampuan institusi-institusi keuangan yang penting dalam membayar utang jangka panjangnya (solvabilitas) di mana kegagalan salah satu saja bisa menimbulkan kegagalan secara sistemik. 

Emas adalah satu-satunya aset safe haven yang tersisa pada masa tersebut. Pasar obligasi telah “membeku” karena para pihak-pihak yang biasanya bertransaksi untuk saling meminjamkan dana tidak mengetahui apakah institusi mereka atau institusi lainnya akan bangkrut atau tidak dan pasar saham kalang kabut melakukan aksi jual yang heboh.

Harga emasTahun 2012 – 2020

Tahun 2012 – 2020 Pasar Ekuitas Naik (bull market). Harga instrumen ekuitas mulai meroket setelah ekonomi dunia pulih dari krisis keuangan global. Akibatnya, investor kian getol menempatkan dananya di indeks saham S&P 500 dan menjauhi aset aman. Ini mengakibatkan harga emas terjun bebas 40% dari rekor tertingginya US$1.800 per ons menjadi hanya US$1.050 per ons antara 2012 hingga 2016.

Seterusnya harga emas bergerak relatif stabil dalam rentang US$1.100 hingga US$1.400 per ons. Harga emas kembali menanjak pada pertengahan 2018 di tengah kekhawatiran terlalu memanasnya perekonomian dan kemungkinan meletusnya harga-harga aset yang menggelembung dan juga karena meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan China.

harga emas

Tahun 2020 – Sekarang

Selama pandemi COVID-19, harga emas melonjak sekitar 37% dari US$1.447 menjadi US$1.985 karena emas kembali melanjutkan peran tradisionalnya sebagai aset safe haven. Investor beralih dari saham ke emas karena khawatir bahwa pemerintah dan bank sentral AS akan mencetak uang yang berlebihan (fiat debasement) dan was-was akan kemungkinan pertumbuhan ekonomi yang rendah.

Sejak Juli 2020, investor mulai mengabaikan rasa pesimis akibat pandemi dan kembali memperhatikan nilai instrumen ekuitas. Kenaikan harga saham didorong oleh murahnya utang karena tingkat suku bunga yang diturunkan dan besarnya dana yang dipompa ke pasar oleh bank-bank sentral, peningkatan pendapatan akibat kenaikan jumlah pembayaran transfer dari pemerintah untuk rakyat untuk mengatasi beratnya pandemi, peningkatan valuasi aset, pulihnya permintaan global dan tentu saja dukungan kebijakan moneter longgar dari The Federal Reserve.

Harga emas



Sumber : pluang.com

Pilih-Pilih Trading vs Investasi, Mana Aktivitas yang Paling Oke Buat Kamu?

Trading vs investasi adalah dua pilihan yang kerap membingungkan bagi para pemula yang masuk ke dalam pasar sekuritas maupun bursa aset kripto. Memang, bagi orang awam, kedua hal tersebut mungkin tak ada bedanya. Tapi, mereka juga perlu tahu bahwa masing-masing aktivitas memiliki perbedaan, lho.

Day trading, atau dikenal juga dengan istilah trading saja, merujuk pada perdagangan harian yang dilakukan oleh seorang trader. Ia membeli atau menjual investasi dalam waktu singkat, dan terkadang hanya dalam hitungan detik atau menit.

Jika harga pasar suatu saham berubah, mereka melakukan transaksi untuk meraup cuan dari fluktuasi tersebut. Dalam trading, semua posisi (pembelian ataupun penjualan) dibuka maupun ditutup dalam hari yang sama.

Lantas, apa bedanya dengan investasi?

Berbeda dengan trading, investasi cenderung bersifat jangka panjang. Seorang investor umumnya membeli atau menjual suatu aset dengan menahannya selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Investor memegang sekuritas mereka dan mendapatkan keuntungan dari menjualnya saat harga pasar berubah dan memberi keuntungan bagi mereka.

Proses pengambilan keputusan dalam trading vs investasi bisa sangat berbeda. Sederet keterampilan dan kepribadian berbeda diperlukan untuk setiap metode.

Perbedaan utama antara keduanya adalah bahwa trading akan menyita lebih banyak waktu dan perhatian seorang trader sepanjang harinya, sementara investasi membutuhkan lebih banyak pemantauan dan kesabaran jangka panjang. Apa saja beda antara trading vs investasi lainnya?

Baca juga: 4 Langkah Sukses Trading, dari Stop Loss Sampai Ubah Perspektif!

Memilih Antara Trading vs Investasi

Trading dan investasi jangka panjang mensyaratkan pendekatan berbeda terkait banyak modal yang dibutuhkan, komitmen waktu, hingga potensi imbal hasilnya.

Jika kamu termasuk pemula dalam mengamati pergerakan pasar ekuitas ataupun aset kripto, berikut ini beberapa hal yang perlu kamu pertimbangkan dalam mengambil keputusan melakukan trading vs investasi:

  • Modal yang dibutuhkan
  • Biaya yang sanggup kamu keluarkan
  • Berapa banyak waktu yang kamu miliki
  • Kepribadianmu
  • Tingkat pengembalian atau imbal hasil ideal serta toleransi risikomu

Yuk, kita kupas satu per satu poin-poin tersebut.

1. Modal: Berapa banyak yang dibutuhkan?

Modal adalah pertimbangan nomor wahid saat kita memutuskan memutar dana. Tentu saja. Namun, dalam pertimbangan ini, kamu juga perlu memikirkan strateginya, berapa jumlah yang kamu tetapkan untuk memulai, dan bagaimana kamu membagi dana tersebut dalam diversifikasi aset.

Memilih broker yang tepat juga penting. Bila salah memilih broker, maka taruhannya adalah modal yang kamu pasang di awal akan ludes, atau bahkan dibawa kabur oleh broker yang tidak bertanggung jawab.

2. Biaya yang sanggup kamu keluarkan

Banyak trader dan investor mencari biaya yang rendah saat memulai trading atau investasinya. Baru-baru ini, beberapa broker besar telah menghilangkan biaya yang cenderung besar demi bisa menarik lebih banyak trader.

Biaya dapat bertambah jika kamu melakukan banyak transaksi perdagangan sepanjang hari. Dana yang dikelola secara aktif mengenakan biaya yang lebih tinggi daripada dana yang dikelola secara pasif.

3. Pertimbangkan waktu yang kamu milliki

Kebutuhan waktu untuk melakukan trading vs investasi tentu tergantung sepenuhnya padamu. Pada sebagian besar kasus, trader membutuhkan sepanjang hari atau biasanya setidaknya selama 2 jam untuk melakukan trading harian. Sementara, investasi akan membutuhkan waktu aktif sepanjang bulan.

Untuk melakukan trading, komitmen waktu yang diperlukan minimal 15 jam per minggu pada ujung bawah dan hingga 40 jam per minggu pada ujung atas (jika kamu melakukan trading hampir sepanjang hari). Waktu paling aktif untuk saham, mata uang, dan perdagangan berjangka mendekati waktu buka pasar setiap pagi.

Sementara, berinvestasi jangka panjang dapat dilakukan kapan saja. Kamu tinggal memperkirakan berapa jam selama sebulan kamu  dapat menyisihkan waktu untuk menyisiri aset yang hendak kamu beli. Beberapa investor kawakan memilih untuk lebih aktif, mereka menghabiskan sekian jam  per minggu untuk melakukan penelitian atas aset yang potensial.

Baca juga: Ingin Diversifikasi Bitcoin dan Emas? Simak Komposisi Idealnya di Sini!

4. Kepribadian Trading vs Investasi

Seorang trader dan investor membutuhkan kiat dan disiplin diri untuk mencapai sukses. Kedua metode ini juga membutuhkan kesabaran, meski masing-masingnya membutuhkan jenis berbeda.

Baik investor maupun trader mesti tahu hubungan rumit antara pasar dan investasi. Jika kamu ingin jadi keduanya, kamu perlu tahu cara menggunakan pendekatan-pendekatannya. Baik itu memahami indikator teknis dan analisis keuangan, dan itu membutuhkan dedikasi waktu untuk belajar yang tidak sebentar.

Trader aktif berpotensi melakukan banyak trading dalam sehari. Meski mereka masih harus menunggu waktunya trading beli dan jual, trader yang cerdas memantau pasar hampir setiap saat. Sementara, seorang investor jangka panjang perlu bersabar dan yakin bahwa investasi aset tertentu mereka akan memberi imbal hasil yang baik. Mereka  tidak memantau harga dan posisi aset sepanjang hari dan mengkhawatirkan fluktuasi.

5. Toleransi risiko dan imbal hasil

Istilah high risk, high return bukan sekadar omong kosong dalam melakukan perdagangan aset. Kunci dari berani menghadapi risiko adalah mengetahui berapa banyak yang bisa kamu hasilkan dibandingkan dengan berapa banyak yang perlu kamu khawatirkan untuk hilang. Aturan praktis yang berlaku di awal baik untuk trading vs investasi adalah tidak mengambil risiko lebih dari 1% dari modalmu pada suatu perdagangan.

Dengan modal1% itu, kamu mungkin hanya akan menghasilkan 0,5% hingga 3% per hari. Namun, itu sudah setara dengan 10% hingga 60% laba per bulan. Persentase imbal hasil yang tinggi ini dimungkinkan pada akun dengan jumlah modal yang kecil. Namun, seiring dengan bertambahnya ukuran  akun, tingkat  pengembalian cenderung turun  hingga kurang dari 10% per  bulan.

Pada titik itulah, kamu mungkin perlu mempertimbangkan untuk beralih sebagai investor. Berinvestasi membutuhkan kerangka waktu yang lama dan memungkinkan dana besar bertumbuh lebih subur. Setiap tahunnya, paling tidak kamu dapat memprediksikan imbal hasil lebih tinggi 10% jika menggunakan strategi investasi yang tepat.

Nah, jadi bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu lebih senang trading atau investasi? Kamu bisa mencobanya di aplikasi Pluang! Kamu bisa brinvestasi atau trading emas, S&P 500 index futures, Bitcoin, serta Ethereum!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Business Insider, The Balance



Sumber : pluang.com

Kinerja Emas vs Kelas Aset Lain di 50 Tahun Terakhir

Bagaimana kinerja emas dibandingkan kelas aset lainnya selama 10/20/50 tahun terakhir? Dalam grafik ini, Sobat Cuan dapat melihat bahwa dalam jangka panjang, kinerja harga emas telah mengungguli kelas aset utama lainnya.

Kinerja emas

Kinerja harga emas setara dengan kinerja komoditas dan ekuitas Amerika Serikat sejak pemerintah AS menghapus standar emas. Selama lebih dari 20 tahun terakhir, kinerja emas secara jelas telah melebihi kinerja saham-saham Amerika Serikat berkat lonjakan harga emas saat krisis keuangan global.



Sumber : pluang.com

Apakah Aman Menabung di Dompet Aset Kripto? Yuk, Simak di Sini!

Belakangan ini, penggemar aset kripto seolah-olah tengah menggandrungi cari cuan dari aset kripto dengan gaya baru. Yakni, dengan menabung di berbagai jenis dompet kripto yang tersedia di platform keuangan terdesentralisasi (Decentralized Finance/DeFi).

Alasannya cukup simpel, Sobat Cuan. Sebab, menabung di dompet aset kripto ternyata memiliki tingkat bunga tabungan yang jauh lebih oke dibandingkan menabung di bank. Namun masalahnya, bagaimana tingkat keamanan menabung di dompet kripto? Apakah aset kripto yang kamu tanam di sana bisa menguap begitu saja? Siapa yang bertanggung jawab atas aset kripto di sana?

Baca juga: Mengenal Berbagai Tipe Cryptocurrency Wallet

Kenali Risiko Crypto Saving Sebelum Paham Keamanan Menabung Dompet Kripto

Untuk menjawab pertanyaan di atas, sejatinya hal paling mudah yang bisa Sobat Cuan lakukan adalah mengenal dompet kripto terlebih dulu. Ya, mengenal produk nampaknya menjadi hal paling utama ketika kamu ingin berinvestasi atau cicip-cicip produk keuangan tertentu.

Produk tabungan di dompet kripto merupakan salah satu bagian dari aktivitas aset kripto yang umum disebut stakingCrypto staking sendiri merupakan kegiatan di mana pengguna aset kripto dapat mendulang cuan hanya dengan memvalidasi transaksi atau segala aktivitas yang terjadi di atas sistem blockchain.

Konsepnya pun sama seperti membuka rekening tabungan biasa di bank. Yang kamu perlu lakukan hanyalah menyimpan aset kriptomu di “rekening” berupa dompet dan nantinya kamu bisa mendapatkan “bunga tabungan”, yang kerap disebut Annual Percentage Yield (APY), sesuai periode menabung yang kamu inginkan.

Menabung di aset kripto memang terbilang sangat menguntungkan, di mana hal tersebut sudah dibahas di artikel berikut. Hanya saja, menabung di aset kripto punya risiko tersendiri. Apa saja risiko tersebut?

1. Akun Dompet Kripto Kamu Tidak Diawasi Otoritas Terkait

Segala sesuatu yang berjalan di atas DeFi tentu saja bergerak secara otonom. Tak mengherankan, sebab namanya saja disebut decentralized. Sehingga, segala sesuatu yang terjadi di dalamnya tidak diawasi oleh otoritas berwenang. Misalnya, bunga tabungan di dalamnya tidak mengikuti suku bunga acuan bank sentral. Sementara itu, aktivitasnya juga tidak diawasi oleh otoritas jasa keuangan.

Hal ini yang menyebabkan tingkat bunga di produk tabungan kripto cenderung tinggi dibanding jasa keuangan konvensional. Tetapi masalahnya, nantinya tidak akan ada otoritas yang bisa mengintervensi aktivitas ini jika terjadi masalah besar di dalamnya.

2. Kurang Likuid

Kamu tentu bisa menarik uangmu dengan mudah jika menabung di bank. Namun, hal itu tak bisa kamu lakukan seenaknya ketika menabung di dompet kripto. Mengapa demikian>

Beberapa platform aset kripto mengharuskan penggunanya untuk “mengunci” (lock) aset kriptonya selama periode tertentu. Bisa jadi sehari, 30 hari, atau bahkan 90 hari. Jadinya kamu tak bisa menariknya dan mengonversikannya kembali ke uang fiat di dalam rentang waktu tersebut.

3. Terpapar Risiko Ketidakpastian

Menyambung poin sebelumnya, sifat tabungan aset kripto yang sukar dicairkan juga bisa menimbulkan risiko lainnya. Yakni, ketidakpastian mengenai nilai aset kripto yang kamu simpan di masa depan.

Seperti yang kita tahu, harga aset kripto di masa depan memang penuh misteri. Kadang bisa naik, kadang juga bisa turun. Tentu saja, jika harga aset kripto yang kamu genggam semakin melorot, artinya nilai tabungan aset kripto yang genggam juga bisa pudar.

Kalau sudah begitu, maka percuma saja jika kamu menghasilkan bunga tabungan aset kripto yang besar kalau ternyata kamu juga bisa menghilangkannya dengan cepat. Sebagai contoh, kamu pasti akan tekor kalau APY kamu tercatat 20% tapi nilai aset kripto yang kamu pegang malah anjlok 25%.

Dengan segudang risiko di atas, apakah bisa disimpulkan bahwa keamanan menabung dompet kripto adalah hal yang nihil? Jawabannya, tidak juga. Yuk, simak jawaban selengkapnya di bawah ini!

Baca juga: Mau Coba Simpan Aset Kripto di Dompet DeFi? Berikut Tipsnya!

Tingkatkan Keamanan Menabung Dompet Kripto

Seperti yang sudah kita bahas di atas, ternyata menabung di aset kripto tidak diawasi oleh otoritas terkait. Selain itu, asetnya pun tidak likuid. Namun, yang namanya risiko tentu bisa dimitigasi, Sobat Cuan! Nah, dalam hal ini, hal pertama yang perlu kamu perhatikan adalah reputasi sang platform dompet aset kripto.

Kamu bisa menilai reputasi sang platform dompet aset kripto dari berbagai sisi. Misalnya, membaca testimoni dari pengguna di internet dan memeriksa apakah platform tersebut tercatat sebagai pedagang pasar fisik aset kripto di otoritas yang mengawasi perdagangan komoditas.

Selain itu, platform dompet kripto yang baik pasti akan memberikan informasi transparan mengenai risiko dan APY yang akan raih melalui produk-produk mereka.

Mitigasi risiko kedua yang perlu kamu lakukan adalah menentukan strategi menabung. Jika kamu adalah pemula, pastikan jangan pernah menempatkan aset kripto kamu dalam jumlah banyak di dompet kripto. Jadikan menabung di dompet kripto sebagai bagian dari diversifikasi aset yang bisa kamu terapkan demi memitigasi risiko di jenis investasi lainnya.

Hal ini dilakukan agar kamu bisa menentukan, apakah kamu cukup nyaman menabung di dompet kripto atau tidak. Selain itu, kegiatan ini juga bisa membantu kamu dalam mengelola ekspektasi kamu terhadap platform dompet aset kripto.

Intinya, masalah keamanan menabung dompet kripto tak hanya berkaitan dengan karakteristik kegiatannya, Sobat Cuan. Namun, hal ini juga akan sangat bergantung dengan tingkat kesiapan kamu sendiri. Dengan imbal hasil yang lumayan tinggi, apakah kamu sudah siap menabung di dompet kripto?

Nah, salah satu platform yang bisa kamu manfaatkan untuk menabung aset kripto adalah Pluang! Kamu bisa menabung Bitcoin atau Ethereum dan mendapatkan imbal hasil hingga 3,5% per tahun. Aksesnya mudah dan praktis, kamu juga bisa menarik tabunganmu kapan saja.

Baca juga: 6 Tips Mengelola Dompet Bitcoin

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Hackernoon, The College Investor



Sumber : pluang.com

Prediksi Harga Emas Di Tahun 2030

Ada faktor makroekonomi kuat yang dapat mendorong kenaikan harga emas secara nyata dalam 10 tahun ke depan.

1. Emas Melindungi dari Kenaikan Inflasi yang Tidak Terduga

Ekonomi global telah membaik setelah pandemi Covid-19 dan pertumbuhan ekonomi yang kuat terlihat terutama di Amerika Serikat dan Cina sementara Asia Tenggara dengan gigih tetap bertahan dengan baik. Lonjakan permintaan masyarakat menyebabkan inflasi di Amerika Serikat naik mencapai 5% yang dipimpin oleh kenaikan tajam harga komoditas. Selain itu, produsen harus menghadapi kenaikan biaya produksi lantaran ketatnya kondisi pasar tenaga kerja.

Jika tekanan inflasi menjadi tidak terkendali, maka harga emas bisa semakin berkilau. Ini lantaran harga emas cenderung bergerak bersama dengan laju inflasi.

Prediksi Harga Emas
Sumber: Statista

Pada tahun 2021, para pembuat kebijakan tampaknya puas bahwa tekanan inflasi bersifat sementara dan dapat diatasi dengan kebijakan makroekonomi yang hati-hati. Tetapi jika inflasi meningkat tajam, emas akan sangat diuntungkan karena harga aset riil akan meningkat untuk menyesuaikan.

2. Emas Berkinerja Baik Saat Bank Sentral Melonggarkan Kebijakan Moneter

Harga emas berpotensi meningkat kala bank sentral memberlakukan rezim suku bunga rendah. Ingat bahwa emas adalah instrumen yang tidak menghasilkan pendapatan bunga, maka kenaikan suku bunga acuan akan meningkatkan opportunity cost dalam menggenggam emas. Dengan kata lain, “ongkos” dalam menggenggam emas relatif akan turun ketika suku bunga acuan rendah atau mendekati 0%.

Kondisi tersebut terjadi selama pandemi COVID-19, di mana The Fed telah menurunkan target kisaran suku bunga acuan Fed Fund Rate mendekati 0%.

Prediksi Harga Emas

Di samping itu, harga emas juga bisa kian mantap jika pemerintah negara maju, termasuk AS, berniat mencetak uang lebih banyak.

Harga aset riil, termasuk emas, seharusnya meningkat ketika pasokan uang melimpah. Sebab, ketika jumlah uang bertambah, maka masyarakat memiliki semakin banyak dana untuk mendapatkan emas.

Kondisi tersebut terlihat dalam beberapa waktu terakhir, di mana The Fed telah mencetak uang terus menerus dan bahkan menggandakan ukuran neracanya dari sekitar US$3,5 triliun menjadi hampir US$7 triliun dalam waktu yang cepat.

Prediksi Harga Emas

Pemerintahan negara-negara di seluruh dunia tampaknya punya sedikit pilihan kebijakan dalam memulihkan perekonomian masing-masing setelah diterjang pandemi COVID-19. Negara-negara ini juga terpaksa berhutang lebih banyak. Kenaikan suku bunga acuan akan membebani mereka dengan pembayaran bunga utang yang lebih tinggi yang pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan ekonomi karena berkurangnya kemampuan untuk membelanjakan uang untuk barang dan jasa. 

Kondisi ini juga yang telah dialami kebanyakan pemerintah dan bank sentral selama krisis keuangan global 2007 silam. Saat itu, The Fed untuk pertama kalinya memperkenalkan kebijakan pelonggaran kuantitatif (quantitative easing), yakni kebijakan di mana The Fed menyuntik lebih banyak uang ke perekonomian dan pasar keuangan dengan mencetak Dolar AS, membeli instrumen keuangan dan juga mematok suku bunga acuan jangka pendek mendekati 0%.

Hanya saja, kebijakan ini menuai kritik. Beberapa pihak berpendapat bahwa setiap kali The Fed melakukan quantitative easing, maka otoritas moneter itu kian memiliki ruang sempit untuk memangkas suku bunga acuannya jika terjadi krisis lain di masa depan.

Pada saat krisis keuangan global, The Fed masih memiliki ruang lebih dari 5 persen untuk memangkas suku bunga acuan untuk mendekati 0%.  Namun selama pandemi COVID-19, bank sentral tersebut hanya bisa menyunat suku bunga acuan dari sebelumnya 2 persen menjadi kembali mendekati 0%.

The Fed juga bimbang untuk menaikkan suku bunga acuan di tengah periode reflasi lantaran beban utang yang kian berat. Akibatnya para pembuat kebijakan moneter tidak memiliki pilihan selain terus mencetak uang demi memulihkan pertumbuhan ekonomi. Selama dua krisis ekonomi besar yang telah terjadi dalam 15 tahun terakhir, neraca The Fed telah tumbuh tujuh kali lipat dari US$1 triliun menjadi hampir US$7 triliun.

Harga emas telah terus mengekor laju pencetakan uang. Selama pemerintah terus mencetak uang, maka secara teori, harga emas pun akan terus merangkak naik. 

Gambar di bawah menunjukkan perkembangan harga emas (kiri) dibandingkan dengan total neraca bank sentral Swiss, AS, RRC, Jepang, dan European Union (kanan). 

Prediksi harga emas

3. Situasi Geopolitik Jadi ‘Berkah’ bagi Emas

Harga emas akan diuntungkan ketika AS dan China ‘berperang’ untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia yang paling utama. Ketegangan geopolitik antara kedua negara ini bisa menimbulkan ketidakpastian ekonomi, sehingga pamor emas sebagai aset safe haven akan naik.

Pandemi COVID-19 hanya membuat persaingan antara AS dan China kian memanas di mana masing-masing berniat melemahkan baik kaitan rantai pasok (supply chain) yang tersambung di antara kedua negara maupun hubungan penting dalam hal lain. Usaha ini bertujuan supaya perekonomian AS dan Cina tidak lagi saling tergantung seperti dulu, terutama dalam perdagangan dunia.  

Selain itu, salah satu topik yang bikin kancah geopolitik AS kian tegang adalah soal penggunaan Dolar AS dalam transaksi perdagangan global. Beberapa negara adidaya saingan AS menuduh bahwa penggunaan mata uang tersebut hanya menguntungkan negara Paman Sam itu secara sepihak.

Meskipun AS hanya menyumbang 20% volume perdagangan global, namun 80% dari seluruh transaksi perdagangan dilakukan menggunakan Dolar AS. Pemanfaatan Dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia meningkatkan kekuatan ekonomi AS mengingat hanya bank sentral AS saja, alias The Fed, yang punya wewenang untuk mencetak Dolar AS.

Oleh karenanya, kalau AS dapat dengan mudah mencetak lebih banyak uang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya, negara-negara lain yang juga harus mencetak uang mereka (untuk menggerakkan perekonomian) akan menghadapi resiko pelemahan nilai mata uang yang pada akhirnya akan mengganggu stabilitas ekonomi domestik mereka.

Beberapa negara sudah melakukan usaha untuk melemahkan faktor Dolar AS ke negara mereka . Rusia sudah mulai menggunakan emas sebagai aset cadangan utama bank sentralnya, sementara China terlihat mendorong penggunaan Yuan dalam perdagangan bilateral dengan mitra dagang utamanya.

Jika semakin banyak negara melepas ketergantungan terhadap Dolar AS, maka emas bisa diuntungkan karena sang logam mulia ini memang telah menjadi mata uang cadangan yang sudah diterima secara luas. Sejatinya, kondisi ini seperti mengulang sejarah, mengingat emas memang dikenal sebagai mata uang sejak zaman Mesir kuno.

Seiring kancah politik dunia terbelah ke dalam beberapa kutub, harga emas seharusnya akan terus menunjukkan keperkasaannya di masa depan.



Sumber : pluang.com