Category Archives: Pluang

Mengenal Hard Fork Berlin, Salah Satu Faktor Meroketnya ETH di Awal Mei

Beberapa waktu ini harga Ethereum sedang naik daun, dan mungkin banyak Sobat Cuan yang senyum-senyum melihat portofolionya. Bahkan, dalam sebulan terakhir, harga aset kripto ini sudah melonjak 75% lebih. Salah satu penyebab kenaikan harga Ethereum ini adalah karena diluncurkannya hard fork Berlin. Apa sih maksudnya?

Hard fork adalah suatu keadaan dimana satuan kripto dimodifikasi sehingga terbagi menjadi dua kode. Yakni dari satuan kripto yang diubah sehingga menghasilkan kode lama dan kode baru, yang mana kedua kode ini tidak kompatibel satu sama lain.

Hard fork Berlin diluncurkan di blok 12.244.000 hari Kamis (29/4). Hard fork Berlin adalah peningkatan jaringan yang menggabungkan empat propsal perbaikan Ethereum (Ethereum Improvement Proposal/EIP) yang mengutak-atik biaya transaksi ETH, yang umum disebut gas fees, dan membuka banyak jenis transaksi baru.

Peningkatan ini merupakan batu pijakan sebelum ke hard fork London yang jauh lebih besar, yang akan mengaktifkan EIP-1559. Adapun EIP-1559 adalah proposal perbaikan jaringan Ethereum yang penting (dan kontroversial) untuk menekan gas fees Ethereum.

Baca juga: Apa Beda Istilah Crash dan Koreksi Bitcoin? Simak di Sini!

Apa itu Hard Fork Berlin?

Hard fork Berlin dinamai dari ibu kota Jerman yang menjadi tuan rumah bagi Ethereum DevCon pertama. Pembaruan ini awalnya dijadwalkan pada Juni atau Juli 2020, tetapi dibatalkan karena masalah sentralisasi sebagian besar node Ethereum.

Dengan kehadiran hard fork ini, artinya klien Ethereum lama tidak akan kompatibel dengan pembaruan saat ini. Hal ini adalah salah satu dari sekian banyak pembaruan menuju Ethereum 2.0, yang merupakan lompatan besar dari model algoritma konsensus proof-of-work menjadi proof-of-stake.

Hard fork Berlin mengaktivasi empat proposal pembaruan sistem yang diimplementasikan di sistem blockchain Ethereum, yakni EIP-2565, EIP-2929, EIP-2718 dan EIP-2930. Lantas, apa saja sih, isi dari setiap proposal upgrade Ethereum tersebut?

  • EIP-2565: Berfungsi mengurangi gas fees untuk beberapa transaksi spesifik yang menggunakan eksponesiasi modular
  • EIP-2718: Berfungsi menambahkan logika-logika komputasi transaksi baru ke dalam sistem Ethereum.
  • EIP-2929: Berfungsi meningkatkan gas fees hanya untuk transaksi-transaksi “op code”, yang bertujuan untuk melindungi jaringan Ethereum dari serangan siber.
  • EIP-2930: Menghadirkan tipe transaksi baru di mana pengguna Ethereum bisa menciptakan template transaksi yang lebih kompleks di masa depan. Hal ini juga bertujuan untuk menurunkan biaya transaksi di kemudian hari.

Terdengar membingungkan ya, Sobat Cuan? Memang sih, penjelasannya agak njelimet. Tapi intinya, Hard Fork Berlin bertujuan untuk menurunkan tarif gas fees dan meningkatkan keamanan jaringan blockchain Ethereum.

Namun, peningkatan tersebut sempat mengakibatkan penghentian sementara di beberapa layanan jaringan Ethereum. Salah satu contohnya adalah pada platform analitik Ethereum Etherscan, karena kesalahan konsensus di blok #12244294.

“Sistem klien tunggal yang mengandalkan OpenEthereum turun sebagian karena klien tidak dapat melakukan sinkronisasi melewati blok yang bermasalah. Ini menyebabkan beberapa penghentian sementara,” ujar Alex Stokes, seorang peneliti Ethereum melalui Twitter.

Apa Hal Selanjutnya untuk Ethereum?

Tetapi, Hard Fork Berlin bukanlah akhir dari pembaruan sistem blockchain Ethereum. Setelah ini, Ethereum juga berencana untuk menurunkan gas fees melalui aktivasi proposal EIP-1559 di dalam hard fork London. Aduh, makhluk apalagi sih, ini?

Singkatnya, proposal pembaruan EIP-1559 merupakan penyempurnan dari empat proposal yang diaktivasi di dalam hard fork Berlin. Ini lantaran tujuan EIP-1559 adalah sama-sama memangkas biaya transaksi di sistem Ethereum namun dari segi ongkos pertambangan.

Setelah EIP-1559 diberlakukan, nantinya transaksi baru atau pertambangan blok baru Ethereum tidak perlu divalidasi oleh semua jaringan. Sehingga, pembaruan ini akan mengurangi waktu yang diperlukan untuk mengonfirmasi transaksi dan membuat keseluruhan jaringan mampu menangani volume transaksi yang jauh lebih tinggi.

Sistem baru tersebut juga akan memperkenalkan satu angka standar biaya transaksi bagi miners dalam “mencangkul” Ethereum bernama BASEFEE. Penerapan satu biaya ini dimaksudkan untuk mencegah miners dalam memanipulasi biaya transaksi, yang kemudian akan dibebankan ke investor, untuk mendulang cuan secara tidak sehat.

Nah, karena dampaknya yang sangat besar terhadap sistem blockchain Ethereum, tak heran jika EIP-1559 ini disebut-sebut sebagai “pembaruan sistem yang paling dinanti-nanti oleh pegiat aset kripto”. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya transaksi Ethereum dengan mengganti mekanisme harga transaksi dari model lelang harga saat ini.

Saat ini pengguna mengirim transaksi dengan tawaran (biaya tambang) dan penambang memilih transaksi dengan tawaran tertinggi, dengan biaya jaringan tetap per blok. Hard fork London dijadwalkan berlangsung pada Juli atau Agustus.

Lantas, Mengapa Pembaruan Sistem Ini Berdampak ke Harga ETH?

Implementasi hard fork Berlin tentu akan membuat jaringan blockchain Ethereum semakin terpercaya. Dengan demikian, maka transaksi di atas jaringan ini bisa semakin ramai, dan pada akhirnya mendongkrak permintaan Ether (ETH), yang merupakan token resmi di sistem Ethereum.

Sementara itu, implementasi EIP-1559 nantinya juga akan meroketkan nilai ETH lantaran pembaruan sistem itu akan mempertipis suplai token tersebut. Lho, kok bisa?

Setelah EIP-1559 berlaku, nantinya BASEFEE akan menjadi standar biaya transaksi di jaringan Ethereum. Nah, di dalam pembaruan sistem ini, sistem blockchain akan “membakar” seluruh BASEFEE yang telah dikumpulkan.

Hal tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai ETH. Tapi dampak lainnya, suplai ETH akan tergerus, dan akan meningkatkan harga ETH nantinya.

Kebayang kan, kamu bakal cuan seperti apa kalau menggenggam ETH sekarang? Makanya, yuk segera investasi Ethereum di Pluang sebelum harganya naik lagi!

Baca juga: Yakin Mau Buru-Buru Jual ETH? Ada Prediksi ETH Bakal ke Level US$4.200 Nih!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Coindesk, Forkast



Sumber : pluang.com

4 Risiko Utama Investasi Emas

Emas umumnya dikenal sebagai aset investasi jangka panjang yang baik. Namun, seperti aset lainnya, harga emas bisa menurun dalam jangka pendek.

Jenis-Jenis Risiko Investasi Emas

Berikut ini adalah faktor-faktor yang bisa mempengaruhi pergerakan harga emas:

1. Perubahan Suku Bunga

Harga emas cenderung turun setiap ada kenaikan suku bunga acuan. Apa penyebabnya?

Emas merupakan instrumen investasi yang tidak memberikan imbal hasil yang teratur. Akibatnya suku bunga yang tinggi meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam menggenggam emas.

Sebagai contoh, anggap bahwa ada seorang investor yang memiliki uang US$1.000. Ia kemudian dihadapkan pada dua pilihan investasi: membeli emas (instrumen yang tidak menghasilkan imbal hasil kecuali jika harganya naik) atau obligasi baru (produk investasi yang memberikan pendapatan bunga secara teratur). Investor ini tentu akan memilih obligasi saat rezim suku bunga tinggi lantaran obligasinya menghasilkan cuan secara teratur dengan imbal yang lebih tinggi dibanding emas.

2. Perubahan Tingkat Inflasi

Inflasi adalah faktor berikutnya yang mempengaruhi risiko investasi emas. Ketika inflasi naik secara tidak terduga, harga aset riil, termasuk emas, juga akan naik mengikuti inflasi. Namun, ketika inflasi atau ekspektasi inflasi turun, harga emas pun terseret turun.

Faktor pertama sudah menjelaskan bahwa harga emas berhubungan dengan tingkat suku bunga nominal. Bersama dengan inflasi, suku bunga nominal bisa digunakan untuk menghitung suku bunga riil yang dijabarkan dalam rumus berikut :

Suku Bunga Riil  = Suku Bunga Nominal – Inflasi

Harga emas umumnya naik ketika suku bunga riil rendah. Ini bisa terjadi saat (1) Federal Funds rate atau suku bunga pinjaman semalam antar bank di AS turun (2) bergeraknya penawaran dan permintaan di pasar obligasi yang mengakibatkan menurunnya suku bunga jangka panjang di pasar obligasi atau (3) tingkat inflasi tinggi. 

Selama pandemi COVID-19, harga emas melonjak 25% lantaran pasar keuangan runtuh dan The Fed mencetak uang dalam jumlah besar. Harga emas kemudian melemah pada kuartal II 2021 saat pelaku pasar mulai melepaskan kekhawatiran akan ancaman inflasi tinggi.

3. Pergerakan Nilai Tukar Mata Uang

Harga emas dalam Rupiah akan meningkat jika nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS terdepresiasi. Ini lantaran harga emas dunia ditetapkan dalam Dolar AS, sehingga harga emas dalam Rupiah berisiko naik setiap kali kurs Rupiah terhadap Dolar AS melemah.

4. Spekulasi

Banyak investor di seluruh dunia secara seksama memantau tingkat suku bunga, inflasi, dan nilai tukar untuk menentukan apa yang akan terjadi pada harga emas. Dengan demikian, pergerakan salah satu faktor tersebut dapat memicu reaksi investor untuk melakukan jual-beli emas. 

Harga pun bergerak yang kemudian bisa mendorong pelaku pasar lainnya untuk bertindak dan yang seterusnya mengakibatkan pergerakan harga lagi dan pelaku pasar terus bergerak untuk menanggapi perubahan harga. Momentum pergerakan harga bisa semakin tajam mengingat sekarang aliran modal dapat dengan mudah keluar-masuk pasar suatu aset karena terdorong untuk memanfaatkan pergerakan harga.



Sumber : pluang.com

Mau Kaya? Warren Buffett Sebut Kamu Harus Taruh 90% Uang di SP 500!

Ada momen yang tak terduga saat begawan saham dunia, Warren Buffet menghadiri pertemuan tahunan perusahaannya, Berkshire Hathaway. pada Senin (3/5). Ia tiba-tiba memberi wejangan singkat bagi para investor yang baru menginjakkan kaki di kancah investasi. Lantas, apakah wejangan tersebut?

Menurutnya, investor baru tak usah capek-capek berinvestasi di saham tunggal untuk menjadi kaya. Hidup aman dan tenang di masa depan, jelasnya, hanya bisa dicapai jika mereka berinvestasi di reksa dana indeks S&P 500.

“Saya sangat merekomendasikan reksa dana indeks S&P 500,” jelasnya, merujuk pada indeks saham berisikan saham 500 perusahaan paling bonafide seantero AS tersebut. “Sebab, produk ini akan sangat menguntungkanmu dalam jangka panjang.”

Warren Buffett selama ini memang dikenal sebagai sosok yang mampu menghasilkan cuan dari pasar saham. Tak heran, jika segala petuahnya tentang saham laksana titah dewa bagi investor yang kerap mendambakan cuan. Meski demikian, pernyataan itu tentu bikin para investor bertanya: Mengapa harus S&P 500?

Alasan Buffett Memilih Indeks S&P 500 Dibanding Saham Tunggal

Untuk memahami pernyataannya, Buffett kemudian membagikan satu salindia presentasi yang menggambarkan banyaknya perusahaan otomotif di AS di awal 1900. Ia kemudian menjelaskan gambar tersebut dengan mengatakan bahwa awalnya terdapat 2.000 perusahaan otomotif AS pada saat itu. Seluruhnya ingin mengambil ceruk untung di sektor tersebut lantaran diprediksi punya masa depan cerah.

Sayangnya, ramalan itu meleset. Pada 2009, imbuh Buffett, hanya terdapat tiga perusahaan saja yang masih bertahan dari sekitar 2.000 perusahaan yang dimaksud. Namun, dua diantaranya kemudian harus dinyatakan bangkrut.

Menurutnya, kondisi tersebut memberikan alasan yang kuat mengapa investor seharusnya memilih instrumen aset berbasis indeks. Sebab, investor bisa menggenggam beragam aset yang terdiversifikasi hanya dalam satu produk saja.

Hal ini tentu memiliki risiko lebih kecil dibandingkan menggenggam beberapa saham perusahaan dengan sektor homogen.

“Kalau kamu memiliki serangkaian ekuitas yang terdiversifikasi, apalagi produk ekuitas AS, maka tahanlah [aset] itu. Tapi, tahanlah selama 30 tahun.” kata dia.

Selain itu menurutnya, memilih-milih saham tunggal sebagai tujuan investasi adalah pekerjaan yang pasti akan bikin pusing investor pemula.

Untuk menggambarkan kondisi ini, Buffett kemudian menampilkan salindia lain yang berisi 20 perusahaan yang sahamnya memiliki kapitalisasi pasar besar saat ini. Daftar itu terdiri dari Apple, Saudi Aramco, Microsoft, Amazon, Alphabet, dan Facebook.

Kemudian, ia melempar pertanyaan kepada peserta pertemuan tersebut, apakah 20 perusahaan tersebut masih akan ada di pucuk dalam 30 tahun mendatang? Jawabannya, belum tentu.

Sebab nyatanya, 20 perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar 30 tahun lalu, seperti Exxon, GE, Merck dan IBM, tidak mampu mempertahankan posisinya hingga saat ini.

“Ini menjadi pengingat bahwa kejadian luar biasa di masa depan bisa terjadi,” jelasnya.

Baca juga: Penasaran Gimana Perusahaan AS Bisa Masuk Daftar S&P 500? Simak di Sini

Mau Pilihan Investasi Tepat? Masuk di Indeks S&P 500

Saking percayanya dengan indeks S&P 500, Buffet mengklaim bahwa dia sudah menginstruksikan pada wali yang betanggung jawab atas asetnya, untuk menginvestasikan 90% dari uangnya ke dalam reksadana indeks S&P 500.

Sementara itu, sisa 10% akan ia masukkan ke dalam instrumen obligasi jangka pendek, yang nanti akan diberikan ke istrinya ketika kelak Buffett tiada.

“Saya hanya berpikir bahwa hal terbaik untuk dilakukan adalah membeli 90% dalam indeks S&P 500,” ungkapnya.

Sebenarnya, strategi investasi Buffett tersebut sudah dikenal di perencanaan pensiun dengan nama strategi 90/10. Selain karena risikonya yang rendah, strategi ini juga dikenal karena menghasilkan cuan yang mantap di masa depan.

Pertumbuhan Indeks S&P 500

Nah, pilihan Buffett bisa jadi ada benarnya, Sobat Cuan. Soalnya, nilai S&P 500 sudah terbukti menunjukkan performa luar biasa sepanjang sejarahnya di bursa saham AS. Utamanya, dalam angka laju pertumbuhan nilainya.

Indeks S&P 500 pertama kali menembus level 1.000 pada 1998 silam. Kemudian, indeks S&P 500 perlu membutuhkan waktu 16 tahun lamanya sampai akhirnya menembus level 2.000 di tahun 2014.

Namun, apakah S&P 500 membutuhkan waktu 16 tahun lagi demi mengeret nilai dari 2.000 ke 3.000? Jawabannya adalah tidak. Malahan, jangka waktunya kian cepat.

Sebab, S&P 500 hanya membutuhkan waktu lima tahun saja untuk mencapai posisi 3.000 di 2019. Kemudian, ia hanya butuh kurang dari dua tahun untuk mencapai posisi 4.000 di awal April 2021. Bahkan, yang lebih mengagumkannya lagi, nilai indeks S&P 500 sempat menyentuh 4.200 di akhir April.

Berkaca pada peristiwa tersebut, bisa disimpulkan bahwa pertumbuhan return S&P 500 semakin kencang seiring waktu. Alias, cuan investasi S&P 500 makin lama makin mantap.

Hal ini juga terlihat dari pertumbuhan return S&P 500 yang selalu mencatat dua digit setiap tahunnya. Terakhir, pada 2020 lalu, imbal hasil S&P 500 bertumbuh 18,4%.

Pasti Sobat Cuan jadi penasaran investasi di indeks S&P 500, kan? Nah, kamu bisa lho berinvestasi indeks saham terbaik AS itu melalui micro e-mini S&P 500 index futures di Pluang!

Baca juga: Psst.. Ini 5 Rahasia Sukses Warren Buffett, Tokoh Investasi Paling Sukses di Dunia

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNBC, The Balance



Sumber : pluang.com

Bunga Nabung di Aset Kripto Cuan Banget Dibanding Bank. Darimana Asal Bunganya?

Nabung aset kripto kini adalah salah satu aktivitas yang digandrungi oleh pecinta aset kripto. Apalagi kalau bukan karena nilai imbal hasilnya yang terbilang tokcer dibanding menabung di bank konvensional. Selain itu, menabung di dompet kripto kini menjadi semacam “surga” bagi mereka penganut HODL (menahan) aset kripto garis keras.

Hanya saja, salah satu topik kontroversial yang masih belum selesai menjadi perdebatan adalah mengenai “bunga”, atau biasa disebut Annual Percentage Yield (APY), dari dompet aset kripto. Pasalnya, sebagian orang merasa bahwa tingkat bunga tersebut tak masuk akal. Lantas, apakah memang bunga tabungan di bank konvensional dan dompet kripto berasal dari kalkulasi yang sama?

Untuk memahami hal tersebut, tentu kita perlu mengenal berbagai model nabung aset kripto yang ditawarkan. Tujuannya adalah untuk memberikan kerangka kerja bagi investor agar dapat lebih mudah menilai risiko dan membuat keputusan menabung yang tepat.

Baca juga: Mau Coba Investasi di DeFi? Begini, Lho, Caranya!

Bagaimana Cara Kerja Nabung Aset Kripto?

Rekening tabungan kripto bekerja dengan cara yang mirip dengan rekening tabungan bank biasa. Singkatnya, kamu meminjamkan uang ke lembaga yang meminjamkan asetmu kepada peminjam yang membutuhkan likuiditas. Bedanya, kini kamu melakukannya di atas sistem blockchain dan menggunakan aplikasi decentralized finance (DeFi).

Status pinjaman ini relatif aman karena kreditur biasanya selalu meminta debitur untuk menyetor aset kriptonya sebagai jaminan pinjaman. Sebagian besar kreditur meminta rasio “pinjaman terhadap nilai” (loan-to-value) sebesar 50%. Artinya, jika peminjam menginginkan US$1.000, mereka harus menyetor pula Bitcoin senilai US$2.000 sebagai jaminannya.

Tapi, memangnya ada sosok yang mau meminjam aset kripto di muka bumi ini? Jangan slaah, Sobat Cuan. Banyak sekali perusahaan atau individu yang membutuhkan pinjaman aset kripto.

Mereka yang mengajukan pinjaman aset kripto adalah mereka yang membutuhkan likuiditas jangka pendek, namun tak mau menjual aset kriptonya. Selain itu, biasanya mereka juga tidak bisa menerima pinjaman aset kripto secara mudah, karena ada banyak serangkaian syarat yang mesti mereka patuhi.

Beberapa contoh individu atau perusahaan yang meminjam aset kripto ini adalah:

    • Penambang cryptocurrency: Sebab, mereka perlu menutupi pengeluaran operasional mereka (membayar karyawan, biaya listrik, dll)
    • Trader: ingin memanfaatkan peluang arbitrase dan membutuhkan likuiditas jangka pendek untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan
    • Hedge fund: telah berinvestasi di ICO atau aset digital lainnya dan ingin memanfaatkan posisinya untuk mengejar lebih banyak peluang investasi
    • Bursa aset kripto: membutuhkan pembiayaan untuk pinjaman margin dan layanan perdagangan mereka

Baca juga: Mau Jadi Milyuner Masa Depan? Coba Putarkan Uang di DeFi!

Penentuan Suku Bunga dalam Nabung Aset Kripto

Lantas, bagaimana tingkat suku bunga ditentukan dan mengapa setiap penyedia pinjaman dapat menawarkan tingkat suku bunga yang berbeda? Selain itu, jika kamu nabung aset kripto, sebaiknya kamu memilih platform mana untuk memutar aset kriptomu dalam investasi produktif mereka?

Secara umum, tingkat suku bunga di pasar ditentukan oleh penawaran dan permintaan. Jika ada banyak permintaan pinjaman untuk aset tertentu, maka suku bunga untuk aset tersebut pun secara alami akan naik demi mendorong lebih banyak pemberi pinjaman agar menyetor aset tersebut.

Misalnya saja, permintaan untuk stablecoin seperti USDT cenderung naik ketika trader menerapkan strategi jangka panjang (untuk membeli kripto dengan USDT yang dipinjam). Imbasnya, permintaan untuk aset kripto seperti BTC atau ETH pun akan menipis ketika trader melakukan strategi jangka pendek.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa suku bunga untuk aset tertentu adalah produk dari permintaan dan penawaran agregat dari semua peminjam dan pemberi pinjaman.

Berikut ini hal-hal yang menentukan pembedaan penerapan tingkat suku bunga dalam nabung aset kripto:

1. Model operasi berbeda: DeFi vs CeFi

Kendati aset kripto dan blockchain digadang-gadang sebagai DeFi yang melawan sistem perbankan konvensional alias CeFi, rupanya dalam putaran aset kripto pun, berlaku dua model operasi berbeda yang membuat mereka dikategorikan dalam dua model operasi.

Secara garis besar, ada dua jenis pemberi pinjaman dalam industri kripto: pemberi pinjaman kripto terpusat (CeFi) dan platform pinjaman terdesentralisasi (DeFi).

Model Operasi CeFi

Model operasi CeFi dalam aset kripto menyediakan layanan peminjaman mata uang kripto, yang bagaimanapun tunduk pada regulasi. Penyedia layanan pun perlu melakukan identifikasi penggunanya dan mengontrol platform dan data. Keuntungannya dari perspektif konsumen, penyedia layanan ini membayar pinjaman dalam bentuk fiat (dolar, euro, dll). Basis investor mereka terdiri dari investor institusional dan mereka memberi layanan 24/7 bagi klien tersebut. Kerap kali, model CeFi memberi tingkat penawaran suku bunga yang lebih stabil daripada protokol DeFi.

Protokol DeFi

Sementara itu, dalam model operasi DeFi, kontrol tidak bersifat terpusat. Semua peminjam tidak memerlukan identifikasi data pengguna, alias anonim. Pinjam-meminjam aset kripto berjalan di bawah blockchain yang berjalan dengan sistem “kontrak pintar”-nya Ethereum (smart contract). Kontrak pintar ini yang memungkinkan protokol berjalan tanpa otoritas terpusat.

Contoh dari protokol DeFi ini di antaranya Compound dan Aave, yang menerapkan sistem tokenisasi untuk memvalidasi transaksi pinjam-meminjam. Hal ini kerap kali mengharuskan mereka yang ingin nabung aset kripto dalam model operasi ini menunggu lebih lama untuk transaksinya. Karena protokol DeFi sepenuhnya berjalan dalam blockchain yang memanfaatkan fitur kontrak pintar, maka sistem ini dapat pula diintegrasikan dengan aplikasi front-end apa pun, misalnya Argent, ZenGo, dan Dharma.

2. Model perputaran uang berbeda antara DeFi dan CeFi

Coinbase adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bawah model bisnis CeFi. Perusahaan CeFi ini menawarkan harga 0,15% APY dalam tabungan USDC, sementara BlockFi dalam sistem DeFi menawarkan 8,6% untuk tiap rekening tabungan GUSD yang dibuka.

Mengapa ada perbedaan mencolok seperti ini untuk tingkat suku bunga DeFi dan CeFi? Ini lantaran BlockFi menghasilkan bunga atas aset yang disimpan di akun dengan meminjamkannya kepada peminjam institusional dan perusahaan. Sementara itu, Coinbase memutar dana dengan menarik aliran pendapatan yang sudah ada sebelumnya seperti lewat trading, manajemen perbendaharaan perusahaan, ataupun aktivitas investasi.

Baca juga: Mengapa DeFi Bakal Jadi Saingan Sengit Jasa Keuangan Konvensional?

Risiko Nabung Aset Kripto dalam Sistem Kripto DeFi vs CeFi

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, berikut ini beberapa risiko yang akan dihadapi oleh investor aset kripto yang nabung aset kripto dalam sistem kripto CeFi maupun DeFi:

  • Dalam sistem CeFi, beberapa risikonya di antaranya terkait dengan risiko dengan pemberi pinjaman kripto. Beberapa persoalannya biasanya terkait dengan pinjaman macet (loan defaults), peretasan kustodian (custodian hacks), hingga soal transparansi (intransparency).
  • Dalam sistem DeFi, risikonya ada pada protokol DeFi itu sendiri. Beberapa persoalannya di antaranya risiko dengan kontrak pintar, pinjaman macet (loan defaults), hingga risiko sentralisasi dalam protokol DeFi terkait penggunaan kunci admin yang mempengaruhi jalannya sistem kontrak pintar.

Jadi, jika kamu ingin nabung aset kripto, mana model bisnis atau operasional yang sebaiknya dipilih?

Mengingat bahwa menyimpan dana atau aset kita dan mempercayakannya pada pihak penyedia pinjaman akan selalu berisiko, maka kamu perlu memastikan dulu seberapa besar toleransi risikomu.

Ingat prinsip high risk, high return, jelas bahwa secara inheren Coinbase akan memberi imbal hasil yang relatif kecil dibandingkan BlockFi, tapi tentu risikonya pun tidak setinggi BlockFi. Bahasa gamer-nya, kamu bisa “pilih sendiri jagoanmu”, karena kamu sendiri yang tahu tentang toleransi risiko yang dapat kamu tanggung.

Nah, Sobat Cuan mulai tertarik untuk investasi aset kripto? Yuk, nabung di Pluang! Makin cuan hanya dengan menabung Bitcoin atau Ethereum dan dapatkan hasil imbal sampai 3,5% per tahun. Mudah dan praktis, kamu bisa menarik tabunganmu kapan saja.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Crypto Testers



Sumber : pluang.com

7 Keuntungan Investasi Emas

Berikut adalah tujuh keuntungan yang didapat saat investasi emas:

1. Pelindung Inflasi

Emas adalah aset lindung nilai yang sangat baik terhadap inflasi. Hal ini bisa terlihat setelah pemerintah AS meninggalkan standar emas sejak 1971 silam.

Bank sentral AS terus mencetak uang dalam jumlah tak terbatas setelah AS meninggalkan standar emas. Sayangnya, hal ini meningkatkan harga barang dan jasa atau mengakibatkan inflasi dan daya beli uang pun melemah. Namun aset emas mampu mempertahankan nilainya karena kelangkaan persediaannya.

2. Aset ‘Safe Haven

Emas adalah aset safe haven. Artinya, investor akan memburu emas sebagai aset aman untuk menyimpan kekayaan mereka saat situasi ekonomi tidak menentu.

Investor akan mengincar emas tiap kali ada ketidakpastian geopolitik misalnya perang atau kudeta pemerintahan atau bencana alam, lantaran nilainya diakui secara universal di seluruh dunia. 

Peran emas sebagai tempat yang aman terlihat juga ketika krisis keuangan global terjadi lebih dari satu dekade lalu. Pada saat itu banyak bank dan perusahaan AS mulai menghadapi kebangkrutan dan yang kemudian masalah ini merembet untuk mempengaruhi bank dan perusahaan di seluruh dunia. Ini menyebabkan harga-harga saham turun hampir 50%.

Keuntungan Investasi Emas

Ketika terjadi gejolak di pasar keuangan, banyak investor, pelaku bisnis, bank dan bahkan masyarakat menarik uangnya dari pasar saham dan membeli emas. Besarnya permintaan ini menyebabkan harga emas naik sekitar 250% saat krisis keuangan global atau Global Financial Crisis (GFC). 

Mengapa emas berharga

3. Lindung Nilai Terhadap Depresiasi Rupiah

Pada dasarnya, nilai emas ditetapkan dalam denominasi Dolar AS. Maka investasi emas adalah langkah efektif yang bisa dilakukan investor untuk melindungi nilai kekayaannya saat Rupiah melemah terhadap Dolar AS (depresiasi Rupiah terhadap Dolar AS). 

Grafik di bawah ini menunjukkan bahwa tahun ini harga emas dalam Rupiah adalah 13 kali harganya pada tahun 2000.

Keuntungan investasi emas

Sobat Cuan bisa melihat bahwa harga emas telah melonjak lebih dari 500% saat krisis keuangan tahun 1998, yakni dari sekitar Rp750 ribu per ons menjadi Rp4,8 juta per ons.

4. Lindung Nilai Terhadap Depresiasi dolar AS

Investor biasanya “melarikan diri” ke emas setiap kali Dolar AS melemah. Sebab, meski Dolar AS diakui sebagai mata uang cadangan dunia (80% dari semua transaksi perdagangan global menggunakan Dolar AS), emas tetap berperan sebagai mata uang alternatif karena nilainya diakui oleh semua orang di dunia.

5. Instrumen Diversifikasi Portofolio

Harga emas cenderung memiliki korelasi yang rendah dengan nilai aset keuangan lainnya seperti saham. Jadi, harga emas cenderung naik ketika nilai saham turun.

Sobat Cuan bisa melihat kondisi ini saat terjadinya krisis keuangan global 2008 dan pandemi COVID-19 di 2021. Korelasi yang rendah, dan terkadang negatif, antara emas dan aset lainnya memungkinkan investor untuk mengurangi risiko dan menegaskan peran emas sebagai aset diversifikasi yang paling mantap untuk portofolio apapun.

6. Jumlah Penawaran (Supply) yang Makin Terbatas

Emas yang belum ditambang memiliki persediaan yang sangat terbatas. Produksi emas juga diperkirakan akan semakin menurun sehingga dari tahun ke tahun, jumlah emas yang ada tidak akan melihat peningkatan sampai 1% lantaran sulitnya membuka tambang emas baru karena kekhawatiran akan dampaknya terhadap lingkungan. 

7. Permintaan Semakin Banyak dari Negara Berkembang

Permintaan emas dari negara-negara berkembang yang memiliki jumlah penduduk banyak seperti Cina, India, dan Indonesia akan terus meningkat seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut dan emas dicari baik untuk tujuan investasi maupun untuk perhiasan.



Sumber : pluang.com

Kinerja Ethereum Disebut Bakal Salip Bitcoin? Simak di Sini!

Ethereum telah memimpin dari Bitcoin dalam beberapa minggu terakhir. Aset kripto itu mengungguli Bitcoin secara signifikan sejak awal April. Nah, sekarang muncul berbagai pandangan bahwa kinerja Ethereum bakal menyalip Bitcoin. Bagaimana menurutmu Sobat Cuan?

Ethereum naik 41% sepanjang April, sedangkan Bitcoin malah turun 8% per Rabu (28/4). Moncernya kinerja Ethereum ini bikin investment bank ternama JPMorgan memberikan tiga alasan mengapa Ethereum bisa saja mengungguli Bitcoin di pasar cryptocurrency.

JPMorgan menyatakan ada perbedaan besar antara Ethereum dan Bitcoin. Bitcoin lebih dikenal sebagai komoditas kripto, daripada mata uang, dan bersaing dengan emas sebagai alat penyimpan nilai. Sementara itu, Ethereum adalah tulang punggung ekonomi asli kripto dan berfungsi lebih sebagai alat tukar.

“Apabilai dilihat dari sisi aktivitas potensial, Ethereum lebih berharga. Menurut teori, kinerja Ethereum harus mengungguli Bitcoin dalam jangka panjang,” tulis JPMorgan dalam laporan tersebut.

Untuk leboh lanjutnya, berikut tiga alasan mengapa JP Morgan menganggap Ethereum telah mengungguli Bitcoin dalam beberapa hari terakhir.

1. Kinerja Ethereum Punya Likuiditas yang Lebih Baik

Menurut laporan JPMorgan, guncangan likuiditas menghantam industri cryptocurrency minggu lalu, tetapi Bitcoin terpukul lebih keras daripada Ethereum. Guncangan likuiditas ini berasal dari pasar derivatif, yang mengarah ke likuidasi yang cukup besar. Dimana efeknya lebih besar di produk berjangka Bitcoin.

Baca juga: Mengenal Hard Fork Berlin, Salah Satu Faktor Meroketnya ETH di Awal Mei

Dengan latar belakang itu, pemulihan yang lebih dramatis di kedalaman pasar Ethereum cenderung lebih besar. Pemulihan itu lebih baik dibandingkan dengan beberapa bursa sebelum guncangan likuiditas baru-baru ini.

2. Kurangnya Ketergantungan pada Pasar Derivatif

Menurut JPMorgan, di pasar dengan perputaran spot yang lebih tinggi secara signifikan, masuk akal bahwa basis yang mendasari eksposur Ethereum kurang bergantung pada leverage produk derivatif. Hal itu contohnya dalam bentuk kontrak berjangka (futures) dan swap dibandingkan dengan Bitcoin.

3. Basis Permintaan yang Lebih Luas

Jaringan Ethereum telah lama dicirikan oleh kecepatan transaksi yang lebih tinggi di blockchain publik daripada Bitcoin. JPMorgan menyatakan hal tersebut kemungkinan karena hanya ada sebagian kecil peningkatan aktivitas di DeFi dan platform lainnya.

Baca juga: Apa Beda Istilah Crash dan Koreksi Bitcoin? Simak di Sini!

Akibatnya, proporsi yang lebih tinggi dari token Ether berperilaku seolah-olah sangat likuid daripada Bitcoin. Bahkan angkanya sebesar 11% dibandingkan 4% oleh beberapa perkiraan selama sebulan terakhir.

“Di pasar dengan perputaran produk spot yang jauh lebih tinggi, masuk akal bahwa yang mendasari basis harga kurang bergantung pada leverage dalam bentuk produk futures dan swap,” kata JPMorgan.

Sejalan dengan Pandangan Mark Cuban

Menurut investor miliarder Mark Cuban, jumlah transaksi dan keragaman jenis transaksi seiring dengan upaya pengembangan di Bitcoin tidak sebanyak di Ethereum. Hal ini membuat pemanfaatan Ethereum jauh lebih tinggi.

Pertama, blockchain Ethereum secara konsisten memproses lebih banyak transaksi per detik daripada Bitcoin, membuat pembayaran lebih cepat dan lebih produktif.

Kedua, dapat mendukung pembuatan aplikasi. Ethereum dikenal dengan kontrak cerdasnya, yang memberdayakan dan membangun aplikasi terdesentralisasi, seperti aplikasi DeFi, dan NFT (token non-fungible).

Baca juga: Yakin Mau Buru-Buru Jual ETH? Ada Prediksi ETH Bakal ke Level US$4.200 Nih!

“Saat ini, Bitcoin adalah penyimpan nilai yang lebih mapan dan tidak ada alasan untuk berpikir bahwa itu tidak akan berlangsung lama. Kinerja Ethereum, di sisi lain, sedang berkembang pesat dengan pengembangan yang menurut saya akan menciptakan begitu banyak aplikasi baru,” kata Mark Cuban

Ketiga, Cuban mengatakan bahwa peningkatan ke blockchain Ethereum yang disebut Ethereum 2.0 terus berlangsung. Ia menilai hal itu akan membuat dampak Ethereum bisa lebih besar dari yang kita bayangkan saat ini.

Investor setuju bahwa ada beberapa keuntungan dari Ethereum 2.0. Pertama, itu bisa membuat Ethereum lebih cepat, dimana perubahan itu memungkinkan beberapa ribu lebih banyak transaksi per detik di blockchain. Selain itu, Ethereum 2.0 juga diklaim lebih aman.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Business Insider, CNBC



Sumber : pluang.com

Mengenal 29 Jenis Altcoin di Pluang

Aplikasi Pluang memiliki 29 cryptocurrency alternatif (altcoin) di dalamnya. Namun, kamu mungkin belum begitu mengenal karakteristik koin-koin tersebut.

Karena tak kenal adalah pertanda tak sayang, di artikel ini kamu akan mengenal lebih dalam masing-masing dari 29 altcoin baru yang ada di aplikasi Pluang. Seperti apa karakteristik masing-masing koin tersebut?

Kategori-kategori 29 Cryptocurrency Baru di Aplikasi Pluang

Demi mempermudah pemahaman kamu, Pluang telah mengelompokkan masing-masing aset kripto baru tersebut sesuai dengan peruntukannya.

Kategorisasi Cryptocurrency Pluang

Platform Smart Contract dan Ekosistemnya

Cardano (ADA): Teknologi Blockchain Proof-of-Stake Generasi Ke-Tiga

ADA adalah aset kripto yang berasal dari teknologi Cardano, sebuah blockchain berbasis  konsensus proof-of-stake. Blockchain Cardano dikembangkan oleh salah satu pendiri Ethereum pada 2015 dan diluncurkan pada tahun 2017. Seperti Ethereum , teknologi Cardano juga memungkinkan aplikasi smart contract, dan kemampuannya dianggap lebih unggul dibanding pendahulunya tersebut. 

Dikutip dari dokumen resminya, Cardano adalah platform blockchain proof-of-stake generasi ketiga yang terdesentralisasi dan merupakan “kediaman” dari koin ADA. Platform ini berfokus untuk menjunjung keberlanjutan, transparansi, dan pemrosesan transaksi dalam jumlah yang banyak dengan cepat atau menanggapi masalah scalability. Cardano  adalah proyek open-source yang bertujuan menyediakan infrastruktur yang bersifat inklusif, adil, dan tangguh untuk aplikasi sosial dan keuangan di seluruh dunia. Seluruh teknologi ini didukung oleh Ouroboros, sebuah terobosan baru dalam protokol konsensus proof-of-stake.

Kamu bisa membeli Cardano dengan meng-klik tautan berikut.

Tron (TRX): Jaringan Public Chain Tercepat di Dunia

Tron adalah platform blockchain terdesentralisasi yang didirikan oleh anak didik Jack Ma, Justin Sun, yang bertujuan untuk menciptakan suatu sistem global bebas untuk menyediakan konten hiburan di mana konten dapat dibagi dan didistribusikan dengan biaya yang efisien. 

Sistem ini bertujuan menggantikan jasa hiburan seperti YouTube dan lainnya melalui perannya sebagai infrastruktur yang terdesentralisasi, di mana pengguna bisa berhubungan langsung dengan creators dan membayar para pencipta ini sesuai konten yang ingin dinikmati.

Blockchain Tron memiliki satuan unit asli yang disebut TRX. Nilai token-token lain yang diciptakan di atas platform Tron akan diturunkan dari nilai TRX. Seperti dijelaskan di dalam whitepaper-nya, Tron adalah proyek ambisius yang berfokus pada penyediaan internet yang sepenuhnya terdesentralisasi dan infrastruktur yang dibutuhkan.

Kamu bisa membeli Tron (TRX) dengan meng-klik tautan berikut.

Ekosistem Binance

Binance didirikan oleh Cheng Peng Zhao pada Juli 2017 dan kini menjelma sebagai platform tukar-menukar cryptocurrency terbesar di dunia. Platform ini mampu memproses volume transaksi harian tujuh kali lebih banyak dibanding Coinbase. Coinbase sendiri merupakan bursa jual beli crypto yang saham perusahaannya telah tercatat di bursa NASDAQ pada tahun 2021. 

Binance memiliki technology blockchain-nya sendiri, yaitu Binance Smart Chain, dan mampu menyediakan fasilitas smart contract dengan level setara Ethereum.

Cryptocurrency utama ekosistem Binance adalah Binance Coin (BNB). Meski demikian, Binance juga meluncurkan beberapa altcoin lainnya yang masing-masing memiliki tujuan tertentu. SXP misalnya, ditujukan untuk infrastruktur pembayaran kartu sementara Pancake Swap, diperuntukkan seperti automated market makers layaknya Uniswap.

Binance Coin (BNB): Cryptocurrency Motor Penggerak Ekosistem Binance

BNB adalah aset kripto yang diluncurkan pada 2017 oleh Binance Exchange, sebuah platform tukar-menukar aset kripto di atas blockchain Binance. Aset kripto ini awalnya diciptakan sebagai token utilitas, namun penggunaannya lambat laun kian berkembang.

Jumlah koin BNB dibatasi sampai 170.532.785 keping saja. Kini, BNB berada di urutan keempat aset kripto paling berharga setelah BTC, ETH, dan USDT.

BNB bisa digunakan untuk membayar ongkos trading di platform Binance.  Nilai BNB semestinya kian menanjak dengan semakin banyaknya pengguna bergabung ke Binance Exchange.

Selain itu, seperti kebanyakan cryptocurrency lainnya, BNB bisa digunakan untuk membayar biaya transaksi (gas fees) dalam menggunakan jaringan Binance Smart Chain.

Jaringan Binance Smart Chain merupakan alternatif dari Ethereum yang dengan fungsi yang serupa. Perbedaan utamanya adalah Ethereum dikendalikan secara terdesentralisasi, sementara validasi transaksi di Binance Smart Chain dikendalikan oleh Binance. Akibatnya Binance masih memiliki sebagian kendali atas BNB, mata uang utamanya.

Salah satu bentuk kendali Binance atas BNB adalah pengendalian pasokannya, di mana Binance melakukan mekanisme yang disebut coin burn untuk mengurangi jumlah BNB beredar. Dalam reli harga kripto yang terjadi di semester pertama 2021, kabar mengenai coin burn berhasil membuat harga BNB naik hingga di atas US$600 per keping.

Kamu bisa membeli Binance Coin (BNB) di tautan ini.

Swipe (SXP): Infrastruktur Pembayaran Kartu bagi Cryptocurrency

Swipe adalah platform yang menjembatani mata uang fiat dan jagat cryptocurrency dengan Swipe API. Teknologi API tersebut didesain untuk memfasilitasi kartu-kartu pembayaran global yang memanfaatkan token native-nya, yakni SXP.

Melalui whitepaper-nya, Swipe menjelaskan tujuannya adalah untuk menghubungkan para  jaringan pembayaran terbesar di dunia dengan platform tukar-menukar aset digital sehingga pengguna bisa bertransaksi tanpa hambatan. Swipe memiliki library yang besar untuk API endpoints dan memberikan akses terhadap 70 juta titik transaksi dan lebih dari 130 mata uang fiat dengan memanfaatkan token SXP sebagai ongkos jasa transaksi tersebut.

Kamu bisa membeli Swipe melalui tautan ini.

Ekosistem Polkadot

Polkadot didirikan pada 2016 oleh Gavin Wood, mantan CTO Ethereum, bersama-sama dengan Peter Czaban dan Robert Habermeier. Polkadot menciptakan satu jaringan blockchain yang “bercabang-cabang” yang bertujuan sebagai solusi atas masalah skalabilitas transaksi, sebuah masalah yang terdapat di jaringan Ethereum.

Karakteristik ini menyebabkan cabang-cabang dari blockchain tersebut bisa diperbarui secara terpisah dari blockchain utamanya.

Ekosistem Polkadot memiliki 2 altcoin:

Polkadot (DOT): Protokol Jaringan Web Berkapasitas Besar, Aman, dan Lintas Operasi

DOT adalah token utama di dalam ekosistem Polkadot. Di dalam whitepaper-nya, Polkadot menggambarkan diri sebagai “jaringan multi-rantai yang heterogen”.

Secara teori, arsitektur Polkadot yang “bercabang-cabang” memberi peluang bagi ekosistem tersebut untuk tumbuh dengan cepat. Salah satu caranya adalah dengan memperbolehkan cabang-cabang blockchain tersebut untuk menciptakan mekanisme tata kelola tersendiri namun masih memperhatikan mekanisme tata kelola utama di jaringan DOT.

Ini mirip dengan konsep negara perserikatan, seperti Amerika Serikat. Negara bagian California, misalnya, pemerintahannya akan mengacu pada aturan negara bagian dan juga terhadap aturan federal. Sehingga sistem ekonomi dan tata kelola pemerintahan California akan berbeda dengan negara bagian lainnya.

Kamu bisa membeli DOT di tautan berikut.

Kusama (KSM): Jaringan Eksperimen Polkadot

Kusama adalah versi eksperimen dari Polkadot yang dibangun oleh tim yang sama, dan sifat “coba-coba” ini menjadikan Kusama sebagai “jaringan canary” untuk Polkadot. Dikutip dari panduan resminya, jaringan canary adalah tempat diluncurkan kode yang dirilis lebih awal, tersedia lebih dulu dibanding kode lainnya, dengan keadaan ekonomi yang sebenarnya.

Kusama adalah jaringan yang didirikan untuk memungkinkan lebih banyak pengambilan resiko dan lebih lincah dibanding Polkadot. Jaringan ini menjadi platform bagi mereka yang ingin melakukan perubahan, inovasi, dan melakukan disruption atau mengubah prinsip-prinsip yang sebelumnya. Makanya, jaringan Kusama dirancang untuk memungkinkan pengembang untuk membawa inovasinya ke operasi blockchain lain (interoperability) dan meningkatkan skala penggunaan tanpa menemui masalah dari segi jumlah dan kecepatan (scalability).

Kamu bisa membeli Kusama (KSM) di tautan ini.

Ekosistem Lainnya

Polygon (MATIC): Internet Blockchain Milik Ethereum

MATIC adalah token Ethereum yang mendukung jaringan Polygon, sebuah jaringan yang menjadi solusi atas masalah skalabilitas transaksi di jaringan Ethereum. Menurut whitepaper-nya, jaringan Matic akan mengatasi masalah tersebut dengan memungkinkan terjadinya transaksi secara cepat dengan biaya transaksi murah, dengan memanfaatkan Layer 2 sidechains.

Di samping itu, jaringan ini ingin memberikan pengguna pengalaman yang lebih baik saat menggunakan semua fungsinya dan juga untuk berbagai DApp atau decentralized app, dengan terus berkomitmen terhadap desentralisasi.

Kamu bisa membeli Polygon (MATIC) di tautan berikut.

Cosmos (ATOM): Jaringan Internet bagi Blockchain

Cosmos adalah jaringan terdesentralisasi yang memungkinkan penggunanya untuk tukar-menukar data antar jaringan blockchain yang berbeda, seperti BTC dan USD. Proyek ini memiliki tujuan sebagai “jaringan internet bagi blockchain” yang mampu menyelesaikan masalah skalabilitas transaksi dalam blockchain sehingga transaksi yang banyak bisa diproses dengan cepat dan memungkinkan interoperability supaya blockchain berbeda bisa saling bekerja sama dan bertukar informasi.  ATOM sendiri adalah koin yang mendukung fungsi-fungsi tersebut.

Di dalam whitepaper-nya, Cosmos diperkenalkan sebagai arsitektur jaringan blockchain baru yang menawarkan jawaban atas seluruh permasalahan blockchain yang sudah ada.

Kamu bisa membeli Cosmos (ATOM) di tautan ini.

Koin DeFi

Decentralized Finance (DeFi) adalah istilah yang diberikan terhadap aplikasi keuangan yang dibangun di atas teknologi blockchain, yang bertujuan untuk membuka akses ekonomi lebih luas kepada semua orang dengan menggantikan peran institusi terpusat.

Platform DeFi menyediakan ragam jasa keuangan seperti pinjam-meminjam, trading, bursa tukar-menukar aset terdesentralisasi, manajemen aset, dan lain-lain. Di dalam dunia DeFi, seluruh keputusan menyangkut seluruh kegiatan tersebut dilakukan melalui algoritma. Hal ini bertolak belakang di “dunia nyata”, di mana keputusan tentang kelayakan meminjam uang, menyimpan uang, atau investasi dilakukan oleh institusi seperti bank dan perusahaan.

Setiap platform DeFi memiliki token yang dirancang untuk mendukung operasinya sekaligus menjadi insentif bagi pengguna. Bagi mereka yang tertarik untuk ikut menarik keuntungan dari inovasi marketplace ini, investasi di koin DeFi adalah salah satu cara yang paling baik.

11 Koin DeFi yang saat ini tersedia di Pluang adalah:

Ripple (XRP): Aset Digital Terbaik bagi Pembayaran Global

Aset kripto yang diciptakan oleh Ripple ini bertujuan agar transaksi bisa lebih cepat, efisien, dan punya skala yang lebih besar dibanding aset digital lain dan platform pembayaran lain seperti SWIFT. XRP adalah aset digital asli dari XRP Ledger, sebuah teknologi blockchain yang bersifat open-source dan tidak memerlukan izin, sehingga satu transaksi bisa selesai dalam tiga hingga lima detik saja.

Penjelasan lengkap tentang Ripple terdapat di dokumen whitepaper berikut.

Kamu juga bisa membeli Ripple (XRP) di tautan berikut.

Uniswap (UNI): Automated Market Maker tanpa Penjamin

Uniswap adalah protokol trading terdesentralisasi yang terkenal karena ia memungkinkan jual-beli token DeFi. Uniswap meningkatkan efisiensi trading dengan memecahkan permasalahan likuiditas, sebuah masalah yang kerap melanda platform DeFi pada umumnya, melalui solusi yang terotomatisasi. Platform Uniswap memiliki satu token asli bernama UNI.

Dalam versi terbaru whitepaper-nya, Uniswap diperkenalkan sebagai platform automated market maker tanpa penjamin yang diimplementasikan untuk Mesin Virtual Ethereum (Ethereum Virtual Machine/EVM). Uniswap memiliki slogan yakni “Tukarkan, dapatkan balas jasa, dan bangun portofolio di atas platform trading kripto terbesar di Ethereum”.

Kamu bisa membeli Uniswap di tautan ini.

Stellar (XLM): Jaringan Terbuka untuk Menyimpan dan Memindahkan Uang

Stellar adalah jaringan terbuka atau platform yang memfasilitasi semua transaksi aset digital, atau representasi dari segala bentuk uang. Ini dapat dilakukan secara cepat dan murah karena blockchain Stellar mampu memproses antara 1.000 hingga 5.000 transaksi per detik.

Seperti tertulis di dalam situs resminya, Stellar menganggap dirinya sebagai jaringan terbuka untuk menyimpan dan memindahkan uang. Tujuannya agar semua sistem keuangan dunia bisa bekerja bersama dalam satu jaringan.

Kamu bisa membeli Stellar di tautan berikut.

Aave (AAVE): Protokol Likuiditas

AAVE adalah salah satu protokol DeFi yang terbesar dan tertua di jagat kripto. Platform ini memungkinkan pengguna untuk memberi pinjaman atau meminjam berbagai jenis cryptocurrency menggunakan suku bunga tetap maupun variabel.

Protokol Aave menggunakan strategi pool-based. Menurut whitepaper-nya, Aave mengatakan bahwa strategi tersebut mengubah sistem yang umum di kancah DeFi sebelumnya yakni strategi pembiayaan peer-to-peer, atau sistem yang menghubungkan langsung antara kreditur dengan debitur seperti ETHLend.

Di dalam strategi pool-based, penghimpunan dana dari berbagai sumber akan memungkinkan pinjaman nantinya bisa langsung diberikan kepada pihak yang membutuhkan tanpa perlu memasangkan pihak peminjam dan pemberi pinjaman secara invididual.  Alhasil, platform ini memungkinkan pinjaman instan dengan memperhatikan jenis himpunan dana yang telah dikumpulkan platform tersebut.

Kamu bisa membeli AAVE dengan mengunjungi tautan ini.

Maker (MKR): Token Penjaga Nilai Token Lain

Maker adalah salah satu token Ethereum yang bertujuan untuk menjaga nilai DAI, sebuah token Ethereum lainnya, dengan nilai stabil di kisaran US$1. Setiap pemilik token Maker memiliki hak suara untuk menentukan perubahan yang akan dipasang di protokol Maker.

Di dalam whitepaper-nya, protokol Maker diperkenalkan sebagai sistem Multi-Collateral Dai (MCD) milik MakerDAO.

Kamu bisa membeli Maker (MKR) melalui tautan berikut.

Compound (COMP): Protokol Pasar Uang

Compound adalah protokol DeFi yang memungkinkan pengguna untuk memperoleh pendapatan bunga dari menggenggam aset kripto. Platform ini bertujuan untuk menciptakan pasar kripto yang likuid dengan menetapkan suku bunga yang dibentuk sesuai dengan algoritma. Algoritma tersebut mampu menghasilkan suku bunga pasar secara real-time, sehingga pengguna bisa melakukan aktivitasnya tanpa terpengaruh perbedaan nilai antar waktu.

Whitepaper Compound mengklaim dirinya sebagai “protokol pasar uang”.

Kamu bisa membeli Compound (COMP) melalui tautan berikut.

Sushiswap (SUSHI): Organisasi yang Dibentuk Komunitas dalam Memecahkan Isu Likuiditas

SUSHI adalah token Ethereum yang mendukung Sushiswap, sebuah platform tukar-menukar cryptocurrency dan automated market maker di atas Ethereum.

Seperti dijelaskan di dalam whitepaper-nya, SushiSwap adalah platform tukar-menukar aset kripto terdesentralisasi dan merupakan produk pertama milik Sushi. Platform ini juga merupakan lembaga non-kustodian, sehingga Sushiswap tidak akan menggenggam token-token milik pengguna jika mereka ingin melakukan trading atas token-token tersebut.

Sushiswap memungkinkan pengguna tukar-menukar aset kripto dengan azas kepercayaan dan peer-to-peer, di mana likuiditasnya disokong oleh token-token milik pengguna lain. Alhasil, proyek-proyek baru bisa mudah terhubung dengan pasar mereka asal beberapa entitas mau menyediakan likuditas yang dimaksud.

Kamu bisa membeli Sushiswap di sini.

Synthetix (SNX): Protokol Likuiditas Produk Derivatif Kripto

SNX adalah protokol DeFi yang memberikan eksposur on-chain terhadap aset kripto dan non-kripto. Platform ini memungkinkan pengguna untuk tukar-menukar aset “sintetis” yang likuid secara otonom.

Synthetix lahir berbarengan dengan Maker, Compound, dan Uniswap kala terjadi koreksi pasar kripto besar-besaran pada 2018 lalu. Menurut situs resminya, Synthetix adalah protokol bagi produk derivatif yang likuid.

Kamu bisa membeli Synthetix (SNX) di tautan berikut.

Yield Finance (YFI): Modal Ventura Terdesentralisasi

YFI adalah token Ethereum yang berasal dari platform yearn.finance. Platform ini bertujuan untuk memudahkan investasi proyek DeFi dan sektor-sektor lain secara lebih luas.

Seperti dijelaskan di dalam whitepaper-nya, YFI adalah modal ventura terdesentralisasi. Platform ini berupaya menciptakan ekosistem DeFi yang bebas bunga ketika pengembang menciptakan produk-produk DeFi mengingat pendanaannya berasal dari komunitas kripto. Platform ini juga akan membagikan keuntungan bagi mereka yang telah mengkontribusikan dananya untuk produk-produk tersebut.

Kamu bisa membeli Yield Finance (YFI) melalui tautan berikut.

Curve (CRV): Platform Tukar-Menukar Likuiditas di Jaringan Ethereum

Curve adalah platform tukar-menukar stablecoins yang menggunakan Automated Market Maker untuk menjaga likuiditasnya. Perkembangan platform ini memiliki kemiripan dengan fenomena DeFi, di mana pertumbuhan penggunanya meningkat drastis sejak semester II 2020.

Sesuai informasi di whitepaper-nya, CRV adalah token yang digunakan baik untuk menjaga tata kelola maupun satuan nilai kepemilikan di Curve.

Kamu bisa membeli Curve (CRV) di tautan berikut.

Balancer (BAL): Automated Market Maker di Protokol DeFi

BAL adalah token Ethereum yang menyokong protokol Balancer, salah satu Automated Market Makers yang populer di kancah kripto. Protokol ini memungkinkan semua orang untuk menambah likuiditas ke trading pools sembari mendulang biaya trading dengan besaran yang bisa diatur sendiri.

Menurut whitepaper-nya, BAL adalah manajer portofolio non-penjamin, penyedia likuiditas, dan penyensor harga.

Balancer mengubah konsep tentang manajer investasi. Sebab, alih-alih pengguna membayar manajer investasi untuk menyeimbangkan portofolionya, pengguna malah bisa mengutip ongkos trading dari traders yang tengah menyeimbangkan portofolionya dengan strategi arbitrage. Yakni, strategi di mana investor bisa mendulang untung dengan membeli aset kripto di satu platform dan menjualnya dengan harga lebih mahal di platform lain.

Kamu bisa membeli Balancer (BAL) di tautan berikut.

Non-Fungible Tokens (NFT)

Non-Fungible Tokens merujuk pada aset digital yang punya karakteristik unik.

Istilah fungible memiliki arti bahwa nilai suatu benda bisa tergantikan dengan benda lain yang memiliki satuan serupa, contohnya uang. Sebab dua lembaran uang Rp100.000 tentu tidak memiliki perbedaan satu sama lain lantaran keduanya punya nilai dan fungsi yang sama.

Namun, kondisi serupa tidak dimiliki oleh benda seperti lukisan, karena satu lukisan dengan lukisan lainnya terbilang unik. Sehingga, keduanya tidak dapat ditukarkan satu sama lain.

Karakteristik serupa terdapat di dalam token NFT. Beberapa contoh NFT antara lain karya seni kripto, benda-benda koleksi, benda-benda game, produk finansial, dan lain-lain.

Theta (THETA): Jaringan Streaming Video Berbasis Teknologi Blockchain

THETA adalah jaringan yang disokong teknologi blockchain yang ditujukan untuk streaming video. Adapun tujuan Theta adalah untuk mendesentralisasi layanan streaming video, pengiriman data, dan pemrosesan data, sehingga layanan video itu bisa dinikmati secara efisien dan adil bagi seluruh pelakunya.

Konsep Theta mirip seperti versi desentralisasi dari YouTube, di mana pengguna terinsentif untuk menonton dan membagikan konten, sementara content creators bisa mendulang pendapatan dari situ.

Seperti tertuang di whitepaper-nya, Theta memungkinkan pengguna untuk menonton konten video dan mendapatkan imbalan berupa token jika mereka membagikan video itu ke pengguna lain. Sama seperti model ekonomi sharing lainnya, pengguna bisa memanfaatkan sisa bandwitdth-nya dan secara sukarela membagikannya ke pengguna lain demi mendapatkan imbalan berupa token. 

Kamu bisa membeli Theta (THETA) di tautan berikut.

Sandbox (SAND): Platform Game Desentralisasi yang Dibangun oleh Pemain

The Sandbox adalah game dunia virtual berbasis teknologi blockchain yang memungkinkan pemain untuk mendulang cryptocurrency di tengah game. Dengan memadukan organisasi otonom terdesentralisasi (DAO) dan NFT, Sandbox menciptakan platform bagi komunitas game baru yang terus berkembang.

Di dalam whitepaper-nya, Sandbox menyatakan bahwa mereka bertujuan untuk mendisrupsi produksi game seperti Minecraft dan Roblox. Caranya adalah dengan menyediakan creators hak kepemilikan terhadap produk-produk besutannya dalam betuk NFT. Selain itu, Sandbox juga memberi imbalan dalam bentuk token utiliitas bernama SAND atas partisipasi mereka.

Kamu bisa membeli Sandbox (SAND) di tautan berikut.

Enjin (ENJ): Cryptocurrency paling Berguna untuk Bermain Game

ENJ adalah alat pelindung nilai digital yang bertujuan agar individu, bisnis, dan perusahaan dalam menggunakan NFT. ENJ juga merupakan token gaming yang disetujui oleh regulator Jepang. Menurut whitepaper-nya, ENJ adalah cryptocurrency paling berguna dalam bermain game.

Kamu bisa membeli Enjin (ENJ) di tautan berikut.

Koin dan Token Infrastruktur

Kategori ini berisikan token dan koin yang punya peran di dalam membangun infrastruktur desentralisasi dengan memanfaatkan teknologi blockchain secara spesifik. Makanya, penggunaan masing-masing token juga terbilang spesifik, seperti LINK yang berfungsi untuk memverifikasi “kebenaran”, FIL yang berfungsi menciptakan sistem penyimpanan dokumen desentralisasi, dan GRT yang berfungsi menciptakan mesin pencari berbasis teknologi blockchain.

Chainlink (LINK): Teknologi Oracle Blockchain untuk Smart Contract Hibrida

Chainlink didirikan pada 2017 oleh Sergey Nazarov sebagai jaringan oracle yang terdesentralisasi. Artinya, jaringan ini memungkinkan smart contract di atas blockchain digunakan untuk menangkap situasi di dunia nyata.

Sebagai contoh, misalnya seseorang ingin menciptakan platform pertaruhan pertandingan olahraga secara terdesentralisasi. Di mana, masing-masing penggunanya bisa bertaruh atas hasil pertandingan basket NBA.

Pengguna tersebut nanti bisa menciptakan smart contract di Ethereum di mana semua orang bisa bertaruh atas hasil pertandingan tersebut menggunakan cryptocurrency.

Ketika final pertandingan NBA sudah selesai, maka sebuah oracle seperti Chainlink bisa melakukan ping atas situs seperti ESPN.com, Google News, dan lain-lain untuk mengonfirmasi hasil pertandingan yang dimaksud. Setelah hasil pertandingannya terkonfirmasi, hasil taruhan akan dibayarkan ke pemenang taruhan dikurangi beberapa biaya.

Melalui teknologi oracle terdesentralisasi, Chainlink memungkinkan teknoiogi blockchain untuk berinteraksi dengan data eksternal, peristiwa, atau metode pembayaran. Hal ini memberikan informasi-informasi di luar teknologi blockchain, yang dibutuhkan smart contract, untuk menjadi kekuatan dominan di dalam penyediaan kesepakatan digital.

Menurut whitepaper-nya, Chainlink adalah evolusi dari jaringan oracle terdesentralisasi.

Kamu bisa membeli Chainlink (LINK) melalui tautan berikut.

The Graph (GRT): Teknologi API bagi Masa Depan Terdesentralisasi

The Graph adalah protokol terdesentralisasi yang ditujukan untuk menata data blockchain dan membuatnya gampang diakses semua orang. Teknologi ini juga dikenal sebagai Google bagi blockchain dan menjadi motor penggerak bagi beberapa aplikasi DeFi.

Seperti yang tertera di dalam dokumentasinya, jaringan The Graph memungkinkan pengembang untuk membangun aplikasi tanpa peladen (serverless) yang berjalan di atas infrastruktur publik.

Kamu bisa membeli The Graph (GRT) melalui tautan berikut.

Filecoin (FIL): Jaringan ‘Brankas’ Data Terdesentralisasi yang Menyimpan Data Penting

FIL adalah cryptocurrency yang menjadi motor penggerak Filecoin, sebuah jaringan penyimpan data terdesentralisasi. Melalui Filecoin, penggunanya bisa menyimpan, mengunduh, dan menjadi penyedia informasi digital. Sifatnya yang terdesentralisasi memperkuat integritas lokasi data, sehingga pengguna bisa mengunduh data-data asli (tanpa sensor) dengan mudah.

Di dalam whitepaper-nya, Filecoin mengubah teknologi awan penyimpan (cloud storage) menjadi pasar algoritma yang berjalan di atas blockchain.

Filecoin juga memiliki token asli yang sama-sama bernama Filecoin. Pengguna bisa mendapatkan koin tersebut jika menyediakan kapasitas penyimpanan datanya ke pengguna lain. Dengan kata lain, Filecoin ibarat versi desentralisasi dari Dropbox atau Google Drive

Kamu bisa membeli Filecoin (FIL) di tautan berikut.

Token Meme

Dogecoin (DOGE): Mata Uang Internet yang Menyenangkan dan Bersahabat

DOGE diciptakan sebagai alternatif “lucu-lucuan” dari cryptocurrency tradisional. Koin ini didasarkan atas meme internet “Doge” yang terkenal dan menampilkan anjing Shiba Inu sebagai logonya.

Punggawa Tesla Elon Musk mengatakan bahwa DOGE adalah cryptocurrency favoritnya. Seperti dijelaskan di dalam whitepaper-nya, DOGE menganggap dirinya sebagai mata uang internet yang menyenangkan dan bersahabat.

Kamu bisa membeli Dogecoin (DOGE) di tautan berikut.

ur welcome pic.twitter.com/e2KF57KLxb

— Elon Musk (@elonmusk) February 4, 2021

 

Cryptocurrency Lainnya

Litecoin (LTC): Mata Uang Digital Open Source Peer-to-Peer

Litecoin diluncurkan pada akhir 2011 oleh mantan insinyur Google dan Coinbase, Charlie Lee. Teknologi ini bertujuan dalam memberikan fasilitas pembayaran yang cepat, aman, dan murah dengan mengungkit karakteristik unit dari teknologi blockchain. Litecoin juga memiliki persediaan maksimum 84 juta keping.

Menurut whitepaper-nya, Litecoin adalah sarana transaksi yang melengkapi kehadiran Bitcoin. Namun, karena Litecoin punya fungsi yang sama dengan Bitcoin, maka blockchain-nya tidak memiliki fitur smart contract seperti Ethereum.

Kamu bisa membeli Litecoin (LTC) di tautan ini.

Basic Attention Token (BAT): Token Baru bagi Industri Periklanan Digital

BAT adalah token berbasis Ethereum yang terintegrasi dengan Brave, sebuah peramban berbasis privasi. Token ini digunakan sebagai sarana pembayaran ketika pengguna ingin memasang iklan digital di Brave melalui Brave Ads. Menurut whitepaper-nya, BAR diperkenalkan sebagai periklanan digital berbasis teknologi blockchain.

Cara kerja BAT mirip dengan versi desentralisasi dari Google Chrome. Biasanya, pemasang iklan membayar biaya ke Google demi memasang iklan. Namun, di dalam BAT, setiap pemasang iklan justru membayar token BAT kepada pengguna yang melihat iklan tersebut.

Kamu bisa membeli token BAT melalui tautan berikut.

Nano (NANO): Jaringan Cryptocurrency Terdistribusi Tanpa Biaya

Nano adalah cryptocurrency yang “ringan” dan sebuah platform pembayaran yang membutuhkan sumber daya minimum sehingga seluruh transaksi di dalamnya bisa diproses tanpa biaya. Teknologi ini didesain untuk menjadi platform pembayaran tercepat, sehingga sebagian besar transaksi bisa dilakukan dalam, atau kurang, dari 1 detik saja.

Whitepaper-nya menyebut bahwa Nano adalah jaringan cryptocurrency terdistribusi tanpa biaya.

Kamu bisa membeli Nano (NANO) di tautan berikut.

Membandingkan Kapitalisasi Pasar Cryptocurrency Utama

Kapitalisasi pasar cryptocurrency saat ini sekitar US$2 triliun, atau setara dengan kapitalisasi pasar saham perusahaan teknologi seperti Amazon, Apple, Microsoft, dan Google.

Jika dilihat secara lebih rinci, kapitalisasi pasar Bitcoin mengambil 45% dari total kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan. Sementara itu, Ethereum mengambil porsi 20% dan 35% sisanya dikuasai oleh deretan altcoin.

Dalam segmen altcoin, cryptocurrency yang menggenggam porsi kapitalisasi pasar terbesar digenggam oleh Binance, Cardano, dan Ripple, di mana masing-masing koin memiliki kapitalisasi pasar di antara US$50 miliar hingga US$70 miliar. Posisi itu setara dengan ukuran perusahaan rintisan seperti Uber, GoTo, Grab, atau Coinbase.

Dengan menempatkan dana di 30 altcoin yang ada di aplikasi Pluang, artinya kamu sudah berinvestasi di 80% dari seluruh kapitalisasi pasar aset kripto secara keseluruhan. Sebagai gambaran, berikut adalah adata kapitalisasi pasar aset kripto secara real-time.





Sumber : pluang.com

Cetak Rekor Terus, Apakah April Selalu Jadi Bulan Baik Bagi SP 500?

Indeks S&P 500 tengah berada di atas angin sejak akhir tahun lalu. Puncaknya terjadi pada bulan April, di mana indeks saham paling bonafide seantero Amerika Serikat ini seolah-olah tak henti-hentinya mencetak rekor.

Di awal April, indeks S&P 500 mencetak sejarah dengan menembus angka 4.000 untuk pertama kalinya. Kemudian, indeks ini memasuki area 4.100 di pertengahan bulan, dan kemudian lolos ke level 4.200 di akhir April. Lantas, apa sih, penyebab indeks S&P 500 seolah-olah membara di bulan lalu?

Berkah Luar Biasa Indeks S&P 500 di April

Tidak dapat dipungkiri bahwa optimisme ekonomi AS mendorong kinerja S&P 500 sepanjang April. Data-data makroekonomi menunjukkan hasil yang positif, ditambah dengan pesatnya tingkat progress vaksinasi massal di AS, membuat pelaku pasar optimistis bahwa ekonomi Amerika Serikat tengah menuju pembukaan kembali (reopening).

Optimisme itu dimulai pada awal April, di mana Presiden AS Joe Biden baru saja merilis detail rencana paket infrastruktur senilai US$2 triliun. Untungnya, pasar merespons positif langkah itu hingga akhirnya mampu mendorong S&P 500 ke level yang lebih tinggi lagi.

Angin segar nampaknya tak hanya berembus sampai di situ. Di akhir April, indeks S&P 500 terbang setelah Amerika Serikat melaporkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4% di triwulan pertama 2021.

Selain itu, hasil pelaporan kinerja keuangan perusahaan-perusahaan S&P 500, yang diumumkan sepanjang April, juga mencatatkan kinerja yang mumpuni. Menurut data FactSet, dari 60% perusahaan S&P 500 yang mengumumkan kinerja keuangannya, 86% diantaranya sudah melaporkan laba per saham (Earning per Share/EPS) dengan nilai di atas ekspektasi.

Dengan capaian seperti demikian, maka ini adalah pertumbuhan EPS S&P 500 tertinggi yang pernah ditorehkan sejak 2008 silam. Apalagi, angka tersebut berada di atas rerata lima tahun terakhir yakni 74%.

Selain itu, perusahaan di indeks S&P 500 juga melaporkan pendapatan 22,8% lebih tinggi dari estimasi. Di mana, hal tersebut juga lebih tinggi ketimbang rerata lima tahun terakhir yakni 6,9%.

Dengan capaian yang gemilang, tak heran jika S&P 500 bisa bertumbuh 5,2% pada bulan lalu. Bahkan, mengalahkan Dow Jones dan Nasdaq yang masing-masing membukukan pertumbuhan sebesar 2,5% dan lebih dari 5%.

Tapi, apakah kinerja indeks S&P 500 tersebut adalah insidentil? Atau memang kinerja S&P 500 di bulan April memang kinclong secara historis?

Baca juga: Biar Kamu Mau Nabung, Yuk Simak Kisah Sukses Orang-Orang Menabung Ini

Kinerja Moncer Indeks S&P 500 Bukan Hanya di April Tahun Ini

Namun, jika kita kembali menjejak sejarah nilai S&P 500, ternyata indeks saham berisikan 500 perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Amerika Serikat tersebut memang selalu mencatat performa terbaik di bulan April.

“Ketika saya berpikir tentang April, hal pertama yang saya pikirkan adalah ini merupakan bulan dengan performa yang terbaik bagi S&P 500. Jika dilihat secara historis,” jelas Chief investment Strategist Ally Invest, Lindsey Bell.

Hal tersebut pun diamini oleh Stephen Suttmeier, ahli analisis teknikal di Bank of America. Ia bahkan mengatakan bahwa tanda-tanda penguatan indeks S&P 500 biasanya sudah terendus sejak pekan terakhir Maret.

Pada periode itu, lanjut dia, biasanya indeks akan sedikit melemah untuk memberikan kesempatan rebound di awal April. “10 sesi pertama di bulan April memilki pengembalian rata-rata 0,88%. Sedangkan 10 sesi terakhir di bulan Maret, tingkat pengembalian rata-rata negatif 0,29%,” jelasnya.

Pandangan yang sama dikatakan Ryan Detrick dari LPL Financial, Menurutnya, secara statistik, bulan April adalah bulan terbaik kedua sepanjang tahun untuk berinvestasi saham. Ini lantaran keuntungan biasanya terjadi dalam 18 hari pertama.

Hal tersebut juga sesuai dengan data yang dihimpun Bank of America di bawah ini yang menunjukkan bahwa rerata imbal hasil dalam 10 sesi perdagangan pertama di April adalah yang terbaik kedua sepanjang tahun setelah bulan Juli.

Sumber: Bank of America/Bloomberg/Fortune

Hanya saja, bukan berarti semuanya akan berjalan mulus. Indeks S&P 500 masih akan menghadapi risko sepanjang tahun ini. Yakni inflasi, rencana pajak capital gain AS, dan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang pada pekan lalu angkanya sempat menembus 1,7%.

Terlepas dari itu, sekarang memang adalah saat yang tepat untuk berinvestasi S&P 500 sebelum nilainya kembali bersinar pada Juli nanti. Oleh karenanya, yuk berinvestasi di indeks S&P 500 melalui micro e-mini S&P 500 index futures di Pluang!

Baca juga: Analisis Pekan Ini: Bitcoin Mengarah ke US$83.000, Ethereum Mengarah ke US$2.600

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Fortune, Yahoo Finance



Sumber : pluang.com

Kinerja Kripto Sebagai Kelas Aset

Cryptocurrency memang menghasilkan imbal hasil yang luar biasa. Namun, pergerakan harganya terbilang cukup tinggi sehingga risikonya pun terbilang tinggi.

Berikut adalah gambaran kinerja Bitcoin sebagai kelas aset.

Pergerakan Harga Bitcoin Tahun ke Tahun

Meskipun Bitcoin debut dengan harga US$0 per keping pada 2009, ia mulai diperdagangkan di kisaran US$0,0008 hingga akhirnya mencapai US$0,08 di bulan Juli 2010. Harga Bitcoin menembus US$65.000 per keping pada semester pertama 2021. 

Sudah jelas jika kamu membeli Bitcoin sejak awal dan menggenggamnya hingga saat ini, kamu tentu sudah menjelma menjadi sultan kripto.

Harga Bitcoin

Hingga Agustus 2021, tingkat imbal hasil Bitcoin selama satu, tiga, dan lima tahun terakhir terbilang cukup luar biasa.

Harga Bitcoin

Meski pertumbuhan tersebut terlihat cukup menakjubkan, namun Sobat Cuan perlu ingat bahwa Bitcoin juga telah mengalami koreksi harga sebesar 30% hingga 50% yang terjadi pada masa naik-naiknya dari tahun 2016 hingga 2018 silam. Sehingga, meski kamu telah menjalankan strategi beli dan simpan yang dianggap cukup menguntungkan, kamu tetap harus menyiapkan mental untuk kemungkinan bahwa nilai portofolio kripto bisa anjlok setengahnya.

Harga Bitcoin

2009-2016: Adopsi Awal Bitcoin

Di tahun-tahun pertama kemunculannya, harga Bitcoin melejit ke posisi US$800 per keping seiring banyaknya pihak yang mulai mengadopsi Bitcoin. Jika kamu membeli Bitcoin di periode tersebut, tentu kamu kini sudah bergelimang cuan. Tapi, membeli satu keping Bitcoin sebelum 2014 dan 2015 terbilang sulit karena tidak ada bursa tukar-menukar kripto yang bisa diakses oleh investor ritel.

Di periode awal kemunculannya, banyak pihak meragukan apakah teknologi blockchain benar-benar bisa bisa diadopsi secara massal dan mempertanyakan apakah Bitcoin benar-benar akan berharga. Bahkan pada 22 Mei 2010, seseorang membeli dua pizza dengan menghabiskan 10.000 Bitcoin, yang jika dikonversi dengan harganya saat ini bernilai hampir US$500 juta!

22 Mei sekarang dikenal sebagai Hari Pizza Bitcoin.

2017: Bitcoin Mengalami Bitcoin Bubble

Pada Desember 2017, harga Bitcoin telah meningkat 20 kali lipat dalam waktu setahun, seperti ditunjukkan di grafik bawah ini. Dalam periode ini, cryptocurrency menemukan momentumnya dan makin banyak orang yang menerima aset ini. Puncaknya adalah saat ledakan kegiatan Initial Coin Offering di tahun yang sama.

Harga Bitcoin

Salah satu tantangan pertama di dalam adopsi Bitcoin adalah keharusan untuk membayar satu keping Bitcoin menggunakan Dolar AS agar sesuai dengan aturan identitas dan Know Your Customer di AS yang ketat.

Kelahiran stablecoins seperti Tether – aset kripto yang nilainya dipatok terhadap Dolar AS – membuka celah bagi meledaknya aksi trading cryptocurrency. Dalam hal ini, organisasi seperti Tether Corp menerima simpanan dalam bentuk dolar AS dan menerbitkan aset kriptonya sendiri yang disebut USDT. Munculnya Tether berhasil mengerek volume transaksi karena penyelesaian transaksi kripto membutuhkan waktu kurang dari 10 menit, jauh lebih cepat dibanding transaksi uang fiat yang membutuhkan dua hingga lima hari kerja.

Dalam sebuah studi yang dirilis pada 2019 lalu, dua profesor University of Texas John Griffin dan Amin Shams mengatakan bahwa kenaikan volume transaksi kripto saat itu disebabkan oleh ulah bandar kripto atau biasa disebut whales yang membeli USDT dalam jumlah banyak.

Melihat kondisi ini, pelaku pasar menduga bahwa aset kripto memang tengah digandrungi, sehingga mereka ikut membeli cryptocurrency dalam jumlah yang besar.

2018: ‘Musim Dingin’ bagi Harga Kripto Selepas Booming ICO

Saat masa-masa tenarnya ICO, pelaku pasar memiliki antusiasme yang berlebihan terhadap aset kripto. Mereka berharap bahwa harga aset kripto terus menanjak dan alasan berinvestasi mereka banyak karena FOMO (khawatir ketinggalan)  dan sikap ini mempercepat kenaikan harga aset kripto dan semakin membuat orang merasa harus masuk kripto.

Harga Bitcoin kemudian terjungkal 83,12% ke kisaran US$3.200 per keping saat antusiasme pasar yang berlebihan mereda pada tahun 2018.  Kenaikan harga yang gila-gilaan telah menarik perhatian pengawas AS yaitu The Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dan US Department of Justice atas kemungkinan terjadinya manipulasi harga Bitcoin setahun terakhir.

Harga Bitcoin

CFTC juga memeriksa Bitfinex, sebuah platform kripto yang berafiliasi dengan Tether Corp dan USDT, yang diduga telah mempermainkan harga Bitcoin.

2020: Jatuh Bangun Harga Bitcoin di Tengah Pandemi

Harga Bitcoin terjatuh hampir sebesar 70% saat pandemi COVID-19 pertama menerjang dunia. Namun, setelah investor melihat dampak dari aksi bank sentral AS yang mencetak uang dalam jumlah banyak (quantitative easing), harga Bitcoin kemudian terus naik ke posisi US$65.000 per keping.

Selama pandemi COVID-19, harga Bitcoin dan aset kripto lainnya jatuh berbarengan dengan kelas aset berisiko atau risk-on asset seperti saham. Pelaku pasar diliputi rasa ketidakpastian mengenai seberapa parah pandemi COVID-19 dan kemampuannya menghentikan perekonomian.

Ketidakpastian tersebut memicu pelaku pasar untuk melakukan aksi jual besar-besaran di seluruh kelas aset berisiko dan beralih ke aset yang lebih aman. Harga Bitcoin turun 70% dari US$12.000 ke US$4.000, sementara harga emas hanya melemah sebentar di awal pandemi.

Harga aset berisiko mulai membaik setelah ketidakpastian mulai mereda dan terlihat bahwa bank sentral AS , the Federal Reserve, dan bank sentral lainnya merencanakan mencetak lebih banyak uang dan menurunkan tingkat suku bunga acuan untuk memulihkan ekonomi.

Investor menyadari bawah nilai komoditas yang bersifat langka, seperti emas atau cryptocurrency, seharusnya meningkat ketika bank sentral terus mencetak uang fiat. Bahkan beberapa investor yang tangkas berpandangan bahwa aset kripto memiliki fungsi penyimpan kekayaan yang lebih baik ketimbang emas.

Emas merupakan aset yang tidak memberikan bunga, nilainya lebih tergantung pergerakan harga yang naik, susah untuk dipindahkan dan disimpan secara fisik. Sebaliknya investor bisa memindahkan aset kripto, termasuk Bitcoin, ke protokol desentralisasi dan mulai mendulang imbal hasil cukup dalam waktu 10 menit saja.

Para manajer dana investasi global (hedge fund) kawakan seperti Stanley Druckenmiller, Paul Tudor Jones, dan Mike Novogratz pun ikut menyuarakan dukungannya terhadap aset kripto. Bahkan, pengelola hedge fund terbesar sejagat Bridgewater, Ray Dalio, menyebut Bitcoin sebagai sebuah “penemuan yang luar biasa”.

Pecinta blockchain, investor ritel, dan investor institusi kemudian menyerbu pasar kripto dan membuat harga Bitcoin melonjak 13 kali lipat dari harga sebelum pandemi sebesar US$4.000 menuju rekor tertingginya US$65.000 per keping

Perbandingan Tren Harga Bitcoin Terhadap Aset Lain

Meski pergerakan harga Bitcoin naik-turun, kinerja Bitcoin sebagai aset investasi bisa diadu dengan dengan instrumen lainnya. Malahan Bitcoin berhasil mengungguli kelas aset lainnya seperti emas dan S&P 500. Perbandingan lebih detail bisa dilihat di grafik berikut.

3 Alasan Mengapa Harga Bitcoin Bisa Menembus US$500.000 di 2030

Meski tak ada seorang pun yang mampu meramalkan harganya, Bitcoin disebut-sebut bisa  menyentuh nilai kapitalisasi pasar sebesar US$10 triliun atau setara dengan emas. Apa alasannya?

1. Mengetatnya Pasokan Bitcoin Akibat Halvening

Produksi Bitcoin baru sangat tergantung dengan imbalan (rewards) yang diberikan kepada penambang. Namun, jumlah imbalan tersebut dikurangi setengahnya dalam kurun waktu kisaran empat tahun sampai seluruh 21 juta keping Bitcoin selesai ditambang. Adapun hingga saat ini, penambang sudah berhasil menambang 18 juta keping Bitcoin.

Grafik di bawah ini menunjukkan bahwa harga Bitcoin selalu terapresiasi setelah halvening selesai dilakukan.

Bitcoin Halvening

2. Meningkatnya Partisipasi Investor Ritel

Sejak Maret 2020, jumlah investor ritel yang membenamkan dana di pasar modal dan aset kripto terus berkembang karena mereka terpaksa berdiam diri dan bekerja dari rumah. Akses masyarakat terhadap aplikasi investasi kripto pun makin terbuka lebar di seluruh belahan dunia, bukan sebatas penduduk Amerika Serikat saja namun di seluruh dunia.

Di Indonesia, Pluang adalah satu dari aplikasi “generasi baru” teknologi finansial pertama yang menawarkan aset kripto terhadap investor ritel dalam negeri.

3. Makin Diterima oleh Institusi

Permintaan akan Bitcoin akan terus meningkat jika investor institusi makin menggunakannya sebagai instrumen investasi. Ini tentu saja akan meningkatkan harga Bitcoin ke depan.

Tren ini sudah terlihat di 2021, di mana konglomerat seperti Elon Musk dan Michael Saylor sudah memasukkan Bitcoin dalam portofolio investasi di perusahaan mereka yakni Tesla dan Microstrategy.

Menurut data Bitcoin Treasuries per 6 Agustus, korporasi global telah menggenggam 389.958 keping Bitcoin, atau 2,08% dari jumlah Bitcoin yang beredar saat ini yang sebanyak 18,77 juta keping.

2 Risiko Utama Harga Bitcoin 10 Tahun Mendatang

1. Aturan Pemerintah

Permintaan Bitcoin akan menanjak jika pemerintah menerbitkan kebijakan yang mendukung penggunaan cryptocurrency secara massal. Salah satu contohnya ditunjukkan oleh El Salvador yang telah mengesahkan Bitcoin sebagai alat pembayaran resmi di negara Amerika Tengah tersebut di Juni 2021.

Namun, permintaan Bitcoin akan melandai jika pemerintah bersikap ketat terhadapnya. Salah satunya ditunjukkan oleh Cina. Pemerintah negara tirai bambu tersebut telah menganggap segala hal yang berkaitan dengan cryptocurrency, misalnya penawaran koin perdana, sebagai tindakan ilegal sejak 2017.

Terlepas dari itu, semakin banyak negara terlihat lebih terbuka dan berniat mengikuti jejak El Salvador untuk memakai Bitcoin sebagai alat pembayaran resmi, salah satunya adalah Paraguay.

2. Dominasi Teknologi Token Lainnya

Bitcoin boleh jadi didapuk sebagai cryptocurrency pertama. Namun kini banyak koin alternatif yang menawarkan fungsi yang lebih unggul ketimbang Bitcoin.

Argumen utama mengenai betapa berharganya Bitcoin terletak pada permintaan dan penawarannya, yang didasarkan pada kepercayaan bahwa Bitcoin bernilai lantaran sifatnya yang langka.

Namun, dengan 6.000 lebih altcoin yang beredar di pasar, sebagian pihak malah memandang bahwa Bitcoin sebenarnya tidak langka. Mereka memandang bahwa terdapat 6.000 protokol lain yang bisa melakukan hal yang sama atau bahkan lebih unggul dibandingkan Bitcoin. 

Kelompok fans garis keras Bitcoin (Bitcoin maximalist) mempercayai bahwa Bitcoin bisa menjadi “aset utama” atau “emas”nya dunia kripto. Pendapat ini berdasarkan kapitalisasi pasar dan likuiditas dari Bitcoin sekarang yang memungkinkan Bitcoin untuk  diturunkan ke dalam instrumen derivatif dan merupakan daya tarik Bitcoin selain dari manfaat teknologinya.



Sumber : pluang.com

THR Nganggur Karena Mudik di Rumah, Investasiin Kemana ya?

Ramadan dan lebaran tahun ini masih dirayakan dalam keadaan pandemi ya, Sobat Cuan. Karena kasus COVID-19 yang tidak kunjung mereda, pemerintah mengambil keputusan untuk melarang kita mudik, nih. Karena mudik dilarang, tentunya uang Tunjangan Hari Raya (THR) yang disimpan untuk kebutuhan pulang kampung belum terpakai dong, ya?

Nah, untuk itu, ada baiknya kamu menjalankan tips mengelola uang THR demi mendulang cuan di masa depan. Yakni, dengan menginvestasikannya. Tapi, sebelum kita melangkah lebih jauh ke jenis investasinya, kita harus tentukan dulu prioritas kebutuhan di Hari Raya Idulfitri.

Baca juga: Yuk, Belajar Perencanaan Keuangan dengan Uang THR. Bagaimana Caranya?

Tips Mengelola Uang THR: Alokasi Kebutuhanmu Berdasarkan Prioritas 

  1. Sebelum kamu menginvestasikan THR-mu, kamu perlu mengalokasikannya untuk memenuhi kebutuhan orang tua atau keluargamu. Walaupun kita tidak mudik, namun aliran THR untuk keponakan dan orang tersayang tetap lancar.
  2. Selanjutnya, jangan lupa zakat, dan tidak lupa untuk mengeluarkan sedikit rezeki kita untuk fakir dan miskin.
  3. Prioritas ketiga adalah lunasi utang kalian menggunakan uang THR yang kamu terima. Sobat Cuan pasti ingin bisa kembali suci dari dosa-dosa finansial di hari yang fitri, kan?
  4. Terakhir, bagaimana nih, dengan dana darurat dan tabungan kalian? Aman kan? Kalau belum aman, yuk, sisihkan uang THR kalian untuk pos pengeluaran ini.

Nah, kalau semua pos sudah dialokasikan, kamu bisa menggunakannya untuk investasi. Tapi, kamu perlu ingat, bahwa memilih produk investasi yang tepat pun tidak mudah. Kamu juga perlu memperhatikan produk investasi sesuai dengan profil risikomu.

Profil risiko terdiri menjadi tiga nih Sobat Cuan, yang pertama adalah tipe konservatif (risk averse), yang kedua adalah tipe moderat (sedang), dan yang terakhir adalah tipe agresif (risk taker). Apa saja sih, perbedaannya?

Tipe-tipe Risiko Investasi

Kira-kira kamu tipe investor yang mana, nih? Yuk, kita simak satu persatu mulai dari risiko yang paling rendah.

  1. Tipe konservatif (risk averse)
    Kamu bisa disebut tipe konservatif jika kamu menghindari risiko dan cenderung “bermain aman”. Nah, jenis investasi yang cocok bagi kamu adalah tabungan, deposito, reksa dana pasar uang, atau reksa dana pasar tetap.
  2. Tipe moderat (sedang)
    Kamu mungkin masuk ke dalam golongan tipe moderat jika kamu siap menerima risiko dari fluktuasi harga sebuah aset. Selain itu, kamu pun selalu mengharapkan return lebih besar dari deposito dalam berinvestasi. Oleh karenanya, jenis investasi yang cocok bagimu adalah reksa dana campuran.
  3. Tipe agresif (risk taker)
    Sudah siap mental untuk merugi? Maka kamu bisa disebut sebagai investor agresif. Kamu rela mengambil risiko tinggi selama imbal hasilnya cukup mumpuni. Nah, golongan investor sepertimu cocok menempatkan dan di aset yang punya return tinggi. Di antaranya trading saham, valuta asing, komoditas, atau reksa dana saham.

Selain menentukan profil risiko, kamu perlu memperhatikan dua hal lainnya untuk mendapatkan cuan yang oke dalam berinvestasi. Yakni, jangka waktu dan jenis investasinya.

Baca juga: Perlu Patuh Peraturan, Berikut Ini Sanksi Perusahaan Jika THR Tidak Diberikan

Tipe-tipe Investasi Berdasarkan Jangka Waktu

  1. Jangka Panjang
    Kamu bisa mempertimbangkan instrumen saham ataupun aset kripto jika profil risikomu masuk golongan agresif dan memiliki tujuan investasi jangka panjang.
  2. Jangka Pendek
    Bagi investor yang memiliki tujuan jangka pendek, baiknya memasukkan dana investasi ke instrumen reksa dana pasar uang atau reksa dana pendapatan tetap.

Tips Mengelola Uang THR: Memilih Investasi yang Tepat

Belum bisa memilih instrumen investasi yang tepat? Tak usah khawatir, Sobat Cuan! Kita akan memnberikan beberapa rekomendasi bagi kamu yang masih bimbang dalam memilih aset investasi.

  1. Reksa Dana
    Investasi ini cocok banget untuk kamu yang merupakan newbie dalam dunia investasi. Reksa dana adalah instrumen keuangan yang mudah dan cocok untuk kamu yang tak mau “ambil pusing”. Sebab, kamu hanya perlu mempercayakan uang kamu ke manajer investasi.
  2. Emas
    Emas adalah aset safe haven, yaitu aset yang mampu menjaga nilai uang meski keadaan ekonomi sedang tidak baik. Apalagi berdasarkan data dari emas dunia, harga emas senantiasa menanjak naik. Sehingga, emas adalah langkah yang patut kamu pertimbangkan saat kamu memiliki uang yang berlebih.

Baca juga: Lebaran di Masa Pandemi, Yuk Atur Uang THR dengan 4 Cara Bijak Ini

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: MarketBisnis, CNBC



Sumber : pluang.com