Tag Archives: detikers

Lampu Indikator Mobil Menyala Terus? Ini Arti dan Cara Mengatasinya


Jakarta

Lampu indikator mobil adalah salah satu komponen yang berfungsi menjadi petunjuk terkait kondisi mobil. Termasuk dari sisi bahan bakar hingga peringatan sistem, baik saat mesin menyala ataupun mati.

Jika lampu indikator mobil menyala terus, seringnya hal ini bisa jadi menandakan adanya masalah pada sistem kendaraan. Pahami berbagai arti dan cara untuk mengatasinya di bawah ini.

Arti Lampu Indikator Mobil

Secara umum, arti lampu indikator mobil yaitu untuk memberikan peringatan terkait kondisi khusus atau masalah yang terjadi pada mobil. Namun, sejatinya setiap lampu indikator punya arti.


Dikutip dari laman Astra Daihatsu dan Carsome Indonesia, berikut adalah beberapa arti lampu indikator mobil menyala yang sering dialami para pengguna mobil:

1. Lampu Indikator Pengisian Aki

Lampu aki menyala bisa jadi tanda beberapa masalah, seperti aki yang lemah atau rusak, alternator bermasalah, hingga sabuk penggerak yang kendor.

Cara Mengatasinya:
Segera cek ketersediaan dan kebersihan aki mobil. Pengendara juga bisa membawanya ke tempat servis terdekat.

2. Lampu Indikator Check Engine

Jika simbol menyala pada indikator artinya ada masalah dalam mesin mobil. Bisa jadi hal karena ada tutup bensin yang tidak rapat maupun sensor mesin yang harus diganti.

Cara Mengatasinya:
Cek kondisi tangki mobil dan pastikan tertutup rapat. Pastikan menggunakan bahan bakar dengan kualitas yang baik.

Apabila lampu indikator ini masih menyala terus, segera bawa ke bengkel servis terdekat untuk pengecekkan lebih menyeluruh.

3. Lampu Indikator ABS (Anti-lock Braking System)

Lampu rem ABS menyala ketika sistem pengecekkan berjalan dan mati sendiri. Namun, saat lampu ini terus menyala maka menandakan ada masalah di dalamnya.

Cara Mengatasinya:
Pastikanlah agar tidak ada kabel di dekat roda yang kendor atau rusak.

4. Lampu Indikator Fog

Fog lamp (lampu kabut) menyala jika kita mengaktifkannya di daerah tinggi atau berkabut. Fungsi lampu indikator adalah membantu penerangan jalan di tengah hujan maupun kabut yang menghalangi.

5. Lampu Indikator Rem Parkir

Simbol huruf “P” adalah tanda rem parkir yang sedang aktif. Ketika mobil berjalan dan lampu indikator ini masih menyala berarti rem tangan mobil belum dilepas atau dinonaktifkan.

Cara Mengatasinya:
Segera lepaskan rem tangan kemudi ketika berjalan. Selain bisa membuat mobil terasa lebih berat, ini juga akan membuat minyak rem tabung reservoir habis.

6. Lampu Indikator Tekanan Ban Mobil

Lampu indikator tekanan mobil menyala menandakan adanya tekanan angin dalam ban berkurang sebanyak 25% (dari jumlah seharusnya).

Lampu ini akan menyala beberapa detik, ketika mesin kendaraan menyala dan segera mati saat tekanan ban sudah dalam kondisi normal.

Cara Mengatasinya:
Segera periksa tekanan ban untuk melakukan pengisian angin.

7. Lampu Indikator Electric Power Steering (EPS)

Lampu EPS yang menyala berarti ada indikasi kerusakan pada stir mobil. Biasanya, hal ini juga diikuti dengan setir mobil yang terasa lebih berat.

Penyebab lampu indikator EPS menyala yaitu karena mobil terlalu sering menerjang banjir, atau minyak pada power steering sudah menipis.

Cara Mengatasinya:
Kurangi frekuensi melewati genangan air yang tinggi. Tujuannya agar kondisi mobil tidak semakin parah.

8. Lampu Indikator Busi Pijar

Apabila lampu indikator busi pijar menyala dan berkedip, ini tandanya ada masalah pada busi. Gejalanya adalah adanya guncangan saat mengendarai mobil.

Makanya, pengendara disarankan untuk selalu memeriksa dan mengganti busi mobil ketika sudah melewati jarak tempuh 40.000 – 60.000 kilometer.

9. Lampu Peringatan Power Steering

Lampu indikator peringatan power steering menyala berarti adanya masalah dengan power steering. Biasanya, penyebab nya adalah minyak power steering yang berkurang.

Meskipun tIdak ada dampak signifikan yang terjadi, namun hal ini cenderung membuat stir terasa menjadi berat.

10. Lampu Indikator Level Pendingin Rendah

Indikator level pendingin rendah disebabkan karena suhu temperatur cairan coolant atau pendingin mesin terlalu tinggi. Seringnya, hal ini menjadi tanda bahwa mobil sedang mengalami overheating.

Cara Mengatasinya:
Jika lampu indikator ini menyala, segeralah menepi sejenak dan matikan mesin mobil. Jangan membuka mesin, tunggulah hingga mobil lebih sejuk. Setelah itu, tambahkan cairan coolant ke dalam radiator mobil (hindari untuk mengisinya dengan air biasa).

Cara Mengatasi Lampu Indikator Mobil Menyala Terus

Lampu indikator mobil yang menyala terus perlu dilakukan pengecekan lebih lanjut. Berikut adalah beberapa cara untuk mengatasi lampu indikator mobil menyala terus:

  • Periksa bagian mesin dan komponen di dalamnya.
  • Cobalah untuk lepaskan kepala aki dan pasang kembali untuk cek masih layak atau tidak.
  • Melakukan service mobil berkala.
  • Lakukan pengecekan secara menyeluruh ke bengkel dan memperbaiki kerusakan yang ada.

Dari uraian di atas, diharapkan detikers tidak lagi mengabaikan lampu indikator yang menyala ya. Karena hal ini punya konsekuensi serius bagi keselamatan, kinerja mobil, dan biaya yang perlu dikeluarkan atas perbaikan di masa depan.

(khq/fds)



Sumber : oto.detik.com

Berapa Lama Charge Aki Motor? Segini Durasi dan Cara Isinya


Jakarta

Aki merupakan salah satu komponen penting dalam kendaraan. Saat ini aki terbagi menjadi dua jenis, yakni aki kering dan aki basah.

Salah satu keunggulan dari aki kering adalah lebih mudah dalam perawatannya atau sering disebut maintenance free (MF). Selain itu, aki kering juga bisa di-charge ulang.

Nah, banyak pengendara motor yang tak tahu kalau aki kering ternyata bisa di-charge. Lantas, nge-charge aki motor berapa lama? Simak durasi waktu pengisian dayanya dalam artikel ini.


Charge Aki Motor Berapa Lama?

Mengutip situs Planet Ban, normalnya aki motor memiliki tegangan antara 12,3 sampai 12,6 volt ketika mesin dalam keadaan mati. Saat mesin dinyalakan atau sedang dikendarai, tegangan akinya sekitar 13,7 hingga 14,2 volt.

Kalau voltase aki motor berada di bawah 12,3 volt, maka bisa dipastikan aki sudah mulai tekor. Hal tersebut menjadi pertanda jika aki perlu di-charge ulang.

Nah, waktu nge-charge aki motor bisa berbeda-beda. Hal itu tergantung dari kapasitas aki hingga jenis pengisian daya yang digunakan.

Jika menggunakan metode pengisian cepat, waktu yang dibutuhkan untuk mengisi aki motor 12 volt sekitar 30 menit hingga 1 jam. Apabila kamu menggunakan alat charge normal, proses pengisian dayanya bisa memakan waktu lebih lama, yakni sekitar 5-10 jam.

Walau memakan waktu yang lama, tetapi lebih disarankan untuk menggunakan alat charge normal. Langkah ini dilakukan agar daya yang masuk ke aki dapat terisi secara maksimal sekaligus mencegah terjadinya overcharged.

Cara Charge Aki Kering Motor

Apabila aki kering sudah mulai habis atau tekor, sudah saatnya untuk melakukan charge ulang. Agar tidak salah dalam prosesnya, simak langkah-langkahnya di bawah ini:

  1. Lepas atau copot aki kering dari sepeda motor terlebih dahulu.
  2. Kemudian, tentukan pengisian daya yang cocok untuk aki kering. Langkah ini dapat mencegah overcharging pada aki kering.
  3. Setelah itu, hubungkan aki kering dengan alat charge khusus aki. Pastikan posisi polaritasnya sudah tepat, yakni dengan menghubungkan terminal positif ke positif dan negatif ke negatif.
  4. Sesuaikan pengaturan charge dengan jenis aki kering. Saat ini, sudah tersedia banyak alat charge aki yang bisa mendeteksi jumlah pengisian secara otomatis.
  5. Pastikan tempat saat mengecas aki berada di area terbuka dan tidak dekat dengan bahan-bahan yang mudah terbakar.
  6. Tunggu aki kering selesai di-charge. Pastikan kamu memperhatikan proses pengisian ulang aki kering agar tidak terlalu lama.
  7. Jika sudah, lepaskan charger dari aki kering.
  8. Terakhir, lakukan pengujian aki kering yang telah di-charge ulang, apakah berhasil atau gagal.

Jika aki kering berhasil di-charge ulang, maka kendaraan bisa dihidupkan kembali. Namun jika gagal, maka kendaraan masih sulit dinyalakan.

Meskipun nantinya kendaraan bisa menyala, tapi hal tersebut tak akan bertahan lama karena aki kering sebenarnya sudah tekor. Jika terjadi hal seperti itu, satu-satunya cara adalah dengan membeli aki kering baru di toko-toko.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Charge Aki

Mengutip laman Wahana Honda, aki kering yang sudah lemah atau tekor masih bisa di-charge ulang. Namun dengan catatan, aki kering masih dalam kondisi sehat atau normal. Lalu, teknik pengecasannya harus menggunakan charger khusus aki.

Ada sejumlah hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan charge aki kering, yaitu:

  • Selama sel-sel di dalam aki kering masih baik, maka aki bisa di-charge.
  • Aki dianjurkan di-charge karena setiap baterai (aki) pasti mengalami discharge. Discharge sendiri adalah berkurangnya tegangan aki ketika kendaraan tidak digunakan.
  • Apabila tegangan aki di bawah 12 volt maka dianjurkan untuk di-charge ulang.
  • Jika sel-sel aki kering masih dalam kondisi baik, biasanya setelah di-charge tekanan aki akan kembali normal.
  • Apabila kondisi aki tidak baik, meski bisa di-charge tetapi akan cepat tekor kembali.

Demikian penjelasan mengenai durasi charge aki kering sepeda motor. Semoga dapat membantu detikers!

(ilf/fds)



Sumber : oto.detik.com

Kapan Ganti Oli Mobil yang Tepat? Awas Kelewat, Efeknya Bisa Begini


Jakarta

Oli mobil harus rutin diganti untuk menjaga kualitas mesin dan kinerjanya. Sebagai pelumas, oli mencegah gesekan antara komponen satu dengan lainnya. Tanpa oli, komponen akan saling bergesekan sehingga rentan rusak.

Karena fungsi oli sangat vital, maka kita tidak boleh terlambat mengganti oli. Lantas kapan waktu yang tepat mengganti oli mobil agar mesin tetap awet? Simak penjelasannya di bawah ini, lengkap dengan tanda-tanda oli butuh diganti dan akibatnya jika telat ganti oli.

Kapan Seharusnya Mengganti Oli Mobil?

Ganti oli mobil umumnya dilakukan ketika jarak tempuhnya sudah mencapai 10.000 km. Dikutip dari situs Hyundai, jarak ini biasanya dicapai pada waktu 6 bulan.


Namun, waktu yang tepat mengganti oli mobil bergantung pada jarak tempuh mobil yang ditandai dengan jumlah kilometernya. Selain itu, penggantian oli juga bisa berdasarkan jangka waktu penggunaan.

Pada mobil yang sering dipakai, tentunya akan mencapai jarak 10.000 km tak sampai 6 bulan. Jika mobil jarang dipakai, oli sebaiknya tetap diganti 6 bulan sekali, meski belum mencapai jarak 10.000 km.

Berdasarkan situs Suzuki, mobil yang sering dipakai untuk jarak jauh dan menempuh medan berat, seperti tanjakan, kemacetan, muatan lebih berat, maka direkomendasikan untuk mengganti oli setiap 7.500 km.

Selain itu, detikers juga harus mengetahui kondisi mobil kamu. Mobil dengan masalah tertentu kemungkinan akan lebih cepat menghabiskan oli, sehingga harus ganti oli lebih cepat dari biasanya.

Tanda Mobil Harus Ganti Oli

Pemilik mobil juga harus peka dengan kondisi mobilnya. Dikutip dari situs Astra-Daihatsu, berikut ini tanda-tanda mobil harus ganti oli:

Salah satu tanda oli harus segera diganti adalah ketika kualitasnya sudah menurun. Kamu harus mengecek kondisi oli untuk mengetahui kualitasnya.

Oli baru memiliki tekstur yang licin, lengket, dan berwarna jernih. Ketika oli sudah berputar ke seluruh komponen dalam waktu lama, maka warnanya akan berubah menjadi keruh dan coklat gelap.

Warna oli yang gelap ini dikarenakan oli membersihkan permukaan dinding silinder mesin yang berkerak akibat oksidasi. Ketika sudah sangat keruh, maka itu tandanya oli mobil sudah harus segera diganti.

2. Akselerasi Terasa Lambat

Tanda lainnya adalah ketika akselerasi mobil sudah terasa lambat. Kualitas oli yang menurun akan menyebabkan gesekan yang lebih tinggi dalam mesin. Ini akan menyebabkan kinerja mesin menjadi kurang responsif karena mesin harus bekerja lebih keras.

3. Mesin Bergetar Lebih Kuat

Ketika mesin dalam keadaan idle, yaitu dalam kondisi diam tetapi mesin menyala, coba rasakan getarannya. Jika getaran mesin lebih kuat dari biasanya, maka kemungkinan menjadi tanda bahwa ada masalah dengan oli mesin.

Ketika oli mesin sudah diganti, biasanya getaran mesin akan terasa halus kembali. Pemilik mobil harus lebih sensitif terhadap getaran mesin, baik dalam kondisi idle maupun saat berjalan.

4. Suara Kerja Mesin Lebih Kasar

Selain getarannya, pemilik mobil juga harus peka dengan suara mobil. Saat mobil dinyalakan, cek apakah suaranya kasar atau tidak. Jika terdengar kasar atau berisik, maka kemungkinan oli sudah butuh diganti.

Akibat Terlambat Ganti Oli

Penting bagi pemilik untuk mencatat kapan dan pada jarak berapa terakhir kali mengganti oli. Jangan sampai lupa untuk mengganti oli jika sudah tiba waktunya. Dikutip dari situs Suzuki, berikut ini beberapa akibat jika terlambat ganti oli:

1. Mesin Cepat Panas

Ketika terlambat ganti oli, maka mesin akan menjadi cepat panas. Sebab oli yang buruk tidak akan melumasi mesin dengan baik, sehingga gesekan meningkat dan menyebabkan mesin overheating atau cepat panas. Jika ini bertahan dalam waktu lama, maka akan merusak komponen mesin dan bahkan bisa menyebabkan kebakaran.

Ketika komponen sering bergesekan karena oli sudah kotor, maka mesin akan terasa berat saat bekerja. Hal ini mengakibatkan akselerasi menjadi lambat dan suara mesin menjadi kasar. Bahkan saat oli habis, mesin tidak akan bisa dinyalakan sama sekali.

3. Bahan Bakar Semakin Boros

Kualitas oli yang sudah turun membuat mesin bekerja lebih keras, konsumsi bahan bakar pun jadi meningkat. Kamu pun akan semakin sering mengisi bahan bakar.

4. Kerusakan Turbocharger

Pada mobil dengan turbocharger, oli yang sudah kotor juga bisa merusak komponen ini. Turbo bekerja pada suhu tinggi, sehingga membutuhkan pelumas yang baik. Jika telat ganti oli, maka bisa membuatnya cepat rusak dan biaya perbaikannya mahal.

5. Penyumbatan Katalisator

Saat telat ganti oli, pembakaran mesin menjadi tidak sempurna. Hal ini membuat katalisator tersumbat dan rusak, sehingga mobil bisa jadi tidak lolos uji emisi.

6. Penurunan Performa Sistem Lainnya

Berbagai komponen mobil juga membutuhkan oli sebagai pelumas. Jika kekurangan pelumas atau oli kotor, maka bisa mempengaruhi pelumas lain, seperti oli transmisi dan gardan, sehingga menurunkan performa sistem lainnya.

Nah, sekarang detikers sudah tahu kan kapan waktu yang tepat untuk mengganti oli? Waspada jika kinerja mesin mobil terasa turun, yang bisa jadi mengindikasikan oli harus segera diganti.

(row/row)



Sumber : oto.detik.com

6 Cara Merawat Wiper Mobil agar Awet Tahan Lama


Jakarta

Wiper mobil memegang peranan penting agar dapat berkendara aman, terutama di musim hujan. Dengan mengaktifkan komponen ini, pengemudi bisa tetap memiliki visibilitas yang jelas saat menyetir selama hujan deras maupun ketika kaca terkena cipratan lumpur.

Wiper berguna untuk menyeka kaca mobil dari air dan membersihkannya dari kotoran. Komponen ini terpasang di kaca bagian depan dan belakang. Karena peranannya yang menyangkut keselamatan dan keamanan berkendara, wiper harus selalu dalam kondisi baik supaya kinerjanya optimal. Lantas, bagaimana cara merawat wiper mobil?

Cara Merawat Wiper Mobil

Merawat wiper mobil cukup mudah dan perlu dilakukan teratur agar fungsinya tetap baik. Dikutip dari website Auto2000, O’Brien, dan Wuling, berikut cara merawat wiper supaya tahan lama:


1. Cek Kondisi Wiper

Sama seperti komponen mobil lainnya, wiper mesti rutin diperiksa. Tujuannya saat terjadi masalah pada bagian-bagian wiper seperti karet dan poros, maka detikers mengetahuinya dan bisa langsung memperbaikinya. Dengan begitu, kondisi wiper tetap prima.

2. Rutin Bersihkan Wiper

Kotoran dan debu dapat menumpuk di area wiper. Penting untuk membersihkannya secara rutin agar tidak mengganggu performanya.

Cara membersihkan komponen ini tidak sulit, detikers bisa gunakan kain lembut yang dibasahi air sabun atau cairan pembersih yang tidak mengandung bahan kimia keras. Lanjut usapkan kain ke seluruh bagian wiper untuk menghilangkan kotoran yang menempel.

3. Hindari Paparan Matahari Langsung

Paparan sinar matahari langsung dalam waktu yang lama dapat merusak karet wiper. Begitu juga dengan cuaca dingin ekstrem. Sebab itu, detikers dapat memarkirkan kendaraan di tempat yang teduh dan terlindungi agar komponen ini awet tahan lama.

4. Angkat Wiper saat Kondisi Terik

Apabila terpaksa parkir mobil di tempat yang terik, disarankan mengangkat batang wiper. Hal ini supaya karet wiper tidak mengeras dan elastisitasnya tetap terjaga. Sebab kaca mobil yang panas dapat membuatnya mudah rusak.

5. Jangan Gunakan Wiper pada Permukaan Kaca yang Kering

Wiper mobil dirancang untuk digunakan pada permukaan kaca yang basah. Menggunakannya di kaca yang kering dapat menyebabkan komponen ini lebih cepat aus.

Sebaiknya basahi terlebih dahulu kaca dengan menekan tombol semprotan air sebelum wiper diaktifkan. Ini juga untuk memastikan agar karet wiper tidak cepat rusak saat bergerak di permukaan kaca yang kering.

6. Ganti Wiper Secara Berkala

Walau sudah dirawat dengan baik, wiper tetap perlu diganti secara berkala, terutama karetnya. Sebab komponen ini akan aus seiring berjalannya waktu. Karet wiper yang rusak kurang efektif saat membersihkan kaca mobil dan mampu menimbulkan goresan pada permukaan.

Waktu pemakaian wiper sekitar satu tahun. Tanda detikers perlu mengganti wiper kaca baru: jika terdengar suara berdecit saat digunakan, muncul goresan atau noda ketika wiper bergerak, dan visibilitas berkendara berkurang meski komponen ini sedang diaktifkan.

Nah, itu tadi sederet cara merawat wiper mobil agar awet tahan lama. Semoga membantu!

(azn/row)



Sumber : oto.detik.com

7 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan saat Berkendara di Musim Hujan


Jakarta

Berkendara selama musim hujan harus ekstra hati-hati. Pasalnya, kendaraan bisa sulit dikendalikan lantaran daya cengkeram ban berkurang dan tingkat visibilitas yang buruk saat hujan turun.

Gegabah saat menyetir di kala hujan bisa berisiko celaka yang berujung mengancam keselamatan. Karena itu, penting bagi pengendara menghindari sederet hal yang mampu menimbulkan bahaya. Apa saja?

7 Hal yang Mesti Dihindari saat Berkendara di Musim Hujan

Dilansir laman Top Gear, Auto2000, dan catatan detikcom, berikut sejumlah hal yang tidak boleh dilakukan pengendara ketika hujan:


1. Tidak Mengecek Kondisi Kendaraan

Kondisi mobil terutama ban harus optimal selama mengemudi di musim hujan. Untuk mengetahui baik buruknya kondisi kendaraan, tentu saja pengecekan rutin perlu dilakukan.

Pastikan seluruh komponen kendaraan baik dan tidak ada yang aus. Periksa kondisi telapak ban dan pastikan cukup tebal serta terpompa dengan tekanan angin yang sesuai agar bisa melaju pada permukaan jalan yang licin.

2. Berkendara dengan Kecepatan Tinggi

Permukaan jalan menjadi basah dan licin saat hujan sehingga traksi ban dengan jalan menurun. Ketika itu, efek aquaplaning bisa terjadi dan pengemudi dapat kehilangan kontrol atas mobilnya.

Jika detikers tidak berhati-hati, kondisi tersebut mampu menyebabkan kecelakaan. Oleh sebab itu, hendaknya berkendara dengan perlahan dan hindari kecepatan tinggi.

3. Membuntuti Kendaraan Lain

Detikers harus menjaga jarak aman saat berkendara, khususnya di kala hujan. Meski tidak mengebut, menjaga jarak penting agar memberi waktu untuk bereaksi terhadap apa pun yang mungkin terjadi selama mengemudi.

Apabila detikers membuntuti mobil lain terlalu dekat dan terjadi disfungsi padanya, tabrakan bisa saja terjadi. Selain itu, cipratan air dari kendaraan di depan dapat mengenaimu.

4. Menyalakan Lampu Hazard

Menyalakan lampu hazard ketika hujan bisa membahayakan keselamatan. Saat detikers hendak bermanuver ke kanan atau kiri, pengendara lain menjadi tidak tahu sehingga tabrakan dapat terjadi.

Lampu hazard dimaksudkan bagi mobil yang tidak bergerak dan berhenti di pinggir jalan. Sebagai gantinya, detikers dapat menyalakan foglamp saat menyetir di kala hujan.

5. Manuver Mendadak

Hendaknya menghindari manuver seperti pengereman tiba-tiba dan akselerasi yang cepat saat hujan deras. Sebab hal ini dapat menyebabkan kecelakaan beruntun. Yang paling baik adalah berkendara perlahan dan melakukan pengereman secara bertahap agar kendaraan tidak tergelincir.

6. Tidak Berhati-hati Melewati Genangan Air

Genangan air di sejumlah titik jalan dapat terbentuk saat hujan. Ketika menemui jalan seperti ini, disarankan agar tidak melewati genangan tersebut. Karena detikers mungkin tidak tahu seberapa dalam jalanan yang tidak rata itu. Bisa saja terdapat lubang cukup dalam yang membuat salah satu roda mobil terjebak dan sulit dikeluarkan.

7. Tidak Menggunakan Sabuk Pengaman

Sabuk pengaman harus selalu digunakan selama berkendara, terlepas musim hujan maupun tidak. Komponen ini disematkan pada mobil guna melindungi pengendara dari cedera serius akibat kecelakaan atau tabrakan. Jadi, jangan lupa kenakan sabuk pengaman ya.

Nah, itu tadi sederet hal yang mesti dihindari pengendara saat mengemudi di musim hujan.

(azn/row)



Sumber : oto.detik.com

Benarkah Ban Jadi Mudah Kempes saat Musim Hujan?


Jakarta

Di musim hujan, ban jadi salah satu komponen kendaraan yang perlu diperhatikan sebelum melakukan perjalanan. Kondisinya harus prima dengan telapak ban cukup tebal dan tekanan anginnya sesuai agar dapat bekerja maksimal pada permukaan jalan basah dan licin.

Namun, pengendara justru kerap mengeluhkan ban kempes selama musim hujan. Padahal, tekanan ban yang kurang rentan mengalami aquaplaning atau hilangnya cengkeraman pada permukaan jalan. Kondisi bisa berbahaya karena mampu membuat pengemudi kehilangan kontrol atas kendaraannya. Lantas, benarkah ban menjadi mudah kempes saat musim hujan?

Apakah Ban Mudah Kempes saat Musim Hujan?

Ban kendaraan biasanya mudah bocor atau kempes selama musim hujan. Terdapat sejumlah penyebab mengapa hal tersebut dapat terjadi. Dilansir Dilansir WBIR.com, Consumer Reports, dan Burt Brothers, berikut alasan ban menjadi mudah kempes di kala hujan.


1. Air Hujan Membawa Sampah

Sampah berupa benda tajam seperti puing-puing, paku, sekrup, hingga staples dari pinggir jalan atau tempat lainnya dapat terbawa air hujan sampai ke tengah jalan. Benda-benda itu berukuran kecil sehingga cukup sulit terlihat saat berkendara.

Barang tajam tersebut dapat menancap di ban saat kendaraan melaju. Akibatnya, ban berlubang atau bocor dan angin di dalamnya lambat laun berkurang.

Jikalau sampah tajam itu berukuran cukup besar sehingga terlihat, pengemudi bisa saja menghindarinya dan ban pun tidak akan bocor.

2. Suhu Udara Dingin

Ban memiliki tekanan udara di dalamnya. Selama musim hujan, suhu menurun sehingga udara cenderung terasa dingin. Pada suhu dingin, molekul tekanan udara internal ban tidak bergerak. Akibatnya, molekul itu tidak dapat mengisi ruang dalam ban.

Jika ruang tersebut tidak terisi, dinding ban akan mengempis dan membuat tekanan udara ban di dalamnya menurun. Inilah yang menyebabkan ban kempes saat hujan.

3. Karet Ban Mengeras

Udara dingin juga mampu membuat karet ban menjadi keras dan menyebabkan kempes. Ketika mulai mengeras, ban tidak efektif dalam meredam guncangan dari permukaan jalan yang tidak rata. Akibatnya, pengendara bisa merasakan guncangan lebih kuat meski kendaraan telah dilengkapi suspensi.

Saat ban mengeras dan rusak, komponen yang bersinggungan langsung dengan jalan ini mungkin tidak bisa kembali ke bentuk semulanya. Sehingga detikers perlu menggantinya sesegera mungkin untuk menghindari kerusakan lebih lanjut.

Nah, itu tadi penyebab ban mudah kempes saat musim hujan. Semoga menjadi informasi bermanfaat!

(azn/row)



Sumber : oto.detik.com

5 Penyebab Klakson Motor Tidak Bunyi dan Cara Memperbaikinya di Rumah


Jakarta

Klakson termasuk komponen penting pada sepeda motor. Komponen ini berfungsi untuk memberi peringatan atau isyarat kepada kendaraan dan pengguna jalan lain selama berkendara.

Sebelum bepergian, hendaknya mengecek kondisi klakson. Adakalanya komponen ini tidak berfungsi dengan baik, sehingga suaranya mengecil bahkan bunyi tidak terdengar sama sekali.

Kalau hal ini terjadi, detikers tidak perlu buru-buru ke bengkel. Sejumlah komponen yang berkaitan dengan klakson dapat dicek terlebih dahulu dan ditangani sendiri selagi bisa. Ketahui penyebab klakson tidak bunyi dan cara mudah memperbaikinya di bawah.


Penyebab Klakson Motor Mati

Klakson yang tidak berbunyi bisa disebabkan banyak faktor. Mengutip laman Wahana Honda dan Suzuki, berikut sejumlah penyebab dan cara mengatasinya.

1. Aki Melemah

Aki merupakan sumber energi dari sistem kelistrikan motor. Aki menyuplai arus listrik agar komponen seperti starter, lampu, hingga klakson dapat menyala.

Namun, aki yang bermasalah juga bisa mempengaruhi komponen lainnya. Contohnya, klakson menjadi tidak bersuara atau bunyinya tidak nyaring.

Solusinya, aki dapat diisi ulang dayanya. Jika masalahnya serius, aki bisa diganti baru.

2. Masalah pada Kabel Klakson

Posisi kabel klakson yang tidak presisi dapat menyebabkan bunyi yang keluar tidak lantang. Kabel yang terlepas, putus, atau terbuka juga bisa mempengaruhi suara klakson.

Bila kabel lepas, detikers dapat menyambungkannya kembali. Kalau bunyinya masih kurang terdengar atau melengking, kabel bisa diikat lebih kuat lagi.

Namun jika kabel putus atau terkelupas, maka perlu diganti yang baru agar klakson dapat berfungsi dengan normal.

3. Posisi Baut Platina Berubah

Posisi baut platina yang terletak di bagian belakang klakson bisa berubah, contohnya saat motor melewati jalan tidak rata. Nah, posisi yang berubah ini dapat mempengaruhi kinerja klakson.

Untuk mengatasinya, detikers bisa menyetel ulang baut platina dengan membuka mur pengunci menggunakan tang dan memutar baut tersebut memakai obeng. Tekan tombol klakson sambil memperbaikinya agar posisinya dapat presisi.

4. Sakelar Klakson Kotor

Cek saklar klakson dan lihat apakah kondisinya kotor atau tidak. Sakelar yang berkerak dan karatan mampu menghalangi arus listrik sehingga suara klakson bisa terdengar kecil bahkan tidak berbunyi.

Solusinya, detikers dapat melepas sakelar dan membersihkannya menggunakan ampelas halus. Cairan anti karat boleh ditambahkan untuk mencegah karatan muncul kembali.

5. Baut Klakson Kendur

Baut klakson yang kurang dipasang dengan kencang bisa membuat bunyi yang keluar tidak terdengar lantang. Agar klakson berfungsi dengan baik, detikers dapat melepaskan baut dan memposisikan ulang dengan benar.

Nah, itu tadi sederet penyebab Klakson motor tidak berbunyi dan cara memperbaikinya sendiri dengan mudah di rumah.

(azn/inf)



Sumber : oto.detik.com

Mobil Lebih Kuat Lewat Tanjakan Jika Berjalan Mundur, Mitos atau Fakta?


Jakarta

Saat berkendara ke luar kota, detikers mungkin akan menemukan jalanan yang menanjak dan menurun. Jangan anggap remeh jalanan yang menanjak dan menurun karena banyak pengendara yang kesulitan saat melewatinya.

Soalnya, sering terjadi kasus mobil gagal melibas tanjakan curam. Oleh sebab itu, banyak pengendara yang berpikir bagaimana cara melintasi tanjakan dengan benar dan aman.

Nah, salah satu caranya adalah dengan berjalan mundur. Sebab, beberapa orang meyakini jika mobil berjalan mundur maka akan lebih kuat menanjak.


Namun, apakah hal tersebut benar adanya? Simak pembahasannya dalam artikel ini.

Apakah Mobil Berjalan Mundur Lebih Kuat Di tanjakan?

Mengutip situs Spot Dem, sebenarnya mobil bisa lebih kuat menanjak dengan cara berjalan mundur jika mobil tersebut berpenggerak roda depan atau front wheel drive (FWD).

Sebab, gigi mundur (reverse) memiliki rasio gigi yang lebih rendah daripada gigi maju (drive). Oleh sebab itu, mobil yang berjalan mundur mungkin akan lebih kuat melibas tanjakan.

Saat mobil dalam gigi mundur, distribusi bobot juga berubah dengan beban yang lebih besar didistribusikan ke roda belakang. Mobil juga dapat menanjak dengan lebih mudah karena memiliki daya cengkeram yang lebih baik.

Apakah Aman Mobil Berjalan Mundur saat Nanjak?

Meski begitu, melintasi tanjakan dengan cara mundur dinilai kurang aman dan tidak efisien. Sebab, transmisi, mesin, dan komponen lainnya pada mobil disetel untuk bergerak maju dan berbelok, bukan mundur ke belakang.

Selain itu, bergerak mundur dan menanjak dapat memberikan tekanan pada mesin dan transmisi mobil. Hal ini bisa menyebabkan mesin cepat panas sehingga mengalami overheat dan memicu kerusakan pada komponen lainnya.

Dari segi keselamatan, berkendara mundur di tanjakan juga menyulitkan pengendara karena keterbatasan visual. Meski mobil keluaran terbaru sudah dilengkapi kamera belakang untuk mundur, tapi tetap saja berbahaya karena jarak pandangnya terbatas.

Tips Melintasi Tanjakan dengan Mobil

Daripada harus berjalan mundur yang bikin kamu repot sendiri, lebih baik bergerak maju ketika melewati tanjakan. Jika takut mobil tak kuat nanjak, ada sejumlah tips agar detikers lancar saat melalui tanjakan.

Mengutip situs Astra Daihatsu, berikut tips melewati jalanan menanjak dengan berkendara mobil:

1. Pakai Gigi Rendah

Jika kamu menggunakan mobil manual, gunakan gigi rendah atau 1 saat melintasi jalanan tanjakan. Pada mobil matic, kamu bisa memindahkan gigi dari ‘D’ ke ‘L’ agar mendapatkan torsi yang besar untuk melibas tanjakan.

2. Injak Gas Sesuai Kebutuhan

Saat melintasi jalanan yang menanjak, injak pedal gas sesuai kebutuhan. Apabila tanjakan dirasa curam dan panjang, maka diperbolehkan menginjak gas dalam-dalam agar mobil bisa melalui tanjakan.

Jika tanjakan tidak begitu curam, maka detikers tak perlu menginjak pedal gas terlalu dalam. Jadi, bisa disesuaikan dengan tanjakan yang dilalui.

3. Aktifkan Hill Start Assist

Beberapa mobil keluaran terbaru telah dilengkapi dengan fitur Hill Start Assist (HSA). Fitur keselamatan ini berfungsi untuk mengendalikan mobil agar tidak merosot ketika berada di posisi menanjak.

Biasanya, mobil yang sedang berhenti di tanjakan dan akan mulai jalan kembali, mobil akan sedikit mundur sebelum dapat berjalan maju. Dengan mengaktifkan fitur HSA, maka mobil tidak akan mundur saat pengemudi akan kembali melaju.

Selain itu, Hill Start Assist juga dapat mengendalikan mobil saat akan mulai menanjak agar akselerasi yang dihasilkan dapat berjalan mulus. Dengan begitu, roda mobil dapat berfungsi optimal dan meminimalisir terjadinya selip.

Demikian penjelasan mengenai apakah mobil berjalan mundur lebih kuat ditanjakan. Semoga bermanfaat!

(ilf/fds)



Sumber : oto.detik.com

6 Dampak Buruk Membiarkan Oli Motor Sampai Habis


Jakarta

Oli mesin merupakan salah satu komponen penting bagi sepeda motor. Fungsi utama dari oli adalah untuk melumasi, mendinginkan, dan membersihkan komponen di dalam mesin agar dapat bekerja secara optimal.

Pada umumnya, oli mesin perlu diganti setiap 3.000 km atau dalam waktu dua bulan sekali. Apabila kamu sering mengendarai sepeda motor, maka oli harus diganti lebih sering agar performa motor tetap optimal.

Sayangnya, banyak pengendara motor yang menyepelekan tentang mengganti oli mesin. Bahkan, oli sengaja tidak diganti hingga benar-benar habis. Kondisi itu ternyata bisa berdampak buruk bagi kesehatan mesin, lho.


Lantas, apa dampak yang ditimbulkan jika motor kehabisan oli mesin? Simak pembahasannya dalam artikel ini.

Penyebab Oli Mesin Motor Habis

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan oli mesin sepeda motor habis. Dilansir situs Wahana Honda, berikut sejumlah penyebabnya:

  1. Terjadi kebocoran pada seal oli akibat pengisian oli mesin yang melebihi kapasitas atau usia seal yang sudah tua.
  2. Terlalu banyak oli yang terbakar akibat kondisi shielding pada ring piston yang kondisinya sudah tidak baik.
  3. Oli mesin jarang diganti akibat pemakaiannya yang terlalu panjang. Misalnya, oli mesin baru diganti setelah menempuh jarak 10.000 km.

Akibat Membiarkan Oli Mesin Motor Sampai Habis

Mungkin, banyak pengendara motor yang sering lupa kapan waktunya mengganti oli mesin, sehingga tidak sadar jika oli sudah habis. Namun, jika kamu sering membiarkan oli motor sampai habis, maka siap-siap saja motor kesayanganmu mengalami berbagai kerusakan.

Berikut sejumlah dampak membiarkan oli mesin sepeda motor sampai benar-benar habis:

1. Terasa Getaran di Bagian Mesin

Dampak yang pertama dan umum dialami banyak pengendara adalah muncul getaran yang tidak nyaman di bagian mesin. Hal ini karena jumlah volume oli yang sudah habis sehingga tidak bisa melumasi komponen mesin.

Akibatnya, mesin harus bekerja lebih keras lagi yang memicu timbulnya gesekan besar, sehingga menyebabkan getaran sekaligus suara kasar dari mesin motor yang bikin tidak nyaman.

Salah satu alasan kenapa detikers perlu mengganti oli mesin secara rutin adalah agar performa motor tetap optimal. Kalau oli jarang diganti bahkan dibiarkan sampai benar-benar habis, maka dapat mempengaruhi performa mesin.

3. Boros Bahan Bakar

Dampak berikutnya adalah bahan bakar jadi lebih boros. Sebab, mesin motor harus bekerja lebih keras lagi karena oli sudah terkontaminasi kotoran.

Alhasil, mesin membutuhkan tenaga yang lebih besar agar dapat bekerja secara optimal. Nah, kondisi tersebut yang menyebabkan bahan bakar jadi lebih cepat habis.

4. Mesin Alami Overheat

Tak hanya sebagai pelumas, oli juga berfungsi sebagai pendingin mesin. Apabila kamu telat mengganti oli atau bahkan membiarkan oli sampai benar-benar habis, hal itu menyebabkan mesin lebih cepat panas hingga mengalami overheat.

Perlu diingat, mesin yang sudah overheat dapat mempengaruhi performa motor. Bahkan, motor bisa saja mengalami mogok karena suhu mesin sudah terlalu panas.

Oli mesin juga berperan penting dalam menjaga daya tahan dan keawetan mesin. Maka dari itu, jika kamu terlambat mengganti oli maka bisa ‘memangkas’ usia mesin motor. Soalnya, banyak komponen di mesin motor yang cepat rusak akibat jarang mengganti oli.

6. Turun Mesin

Dampak yang terakhir dan paling merugikan pemilik motor adalah turun mesin. Hal ini diakibatkan motor terus dikendarai sampai oli mesin benar-benar habis.

Biaya turun mesin tentu tidak sedikit, apalagi jika kerusakan yang ditimbulkan sudah merembet ke komponen lain. Bisa jadi, kamu harus mengeluarkan uang sampai jutaan rupiah hanya untuk memperbaiki mesin.

Daripada harus merogoh kantong dalam-dalam hanya untuk memperbaiki mesin yang rusak, sebaiknya detikers rutin mengganti oli secara rutin. Selain menjaga keawetan mesin, rutin mengganti oli juga mampu menjaga performa motor tetap baik.

Demikian enam dampak membiarkan oli mesin motor sampai benar-benar habis. Jangan lupa rutin ganti oli mesin, ya!

(ilf/fds)



Sumber : oto.detik.com

5 Tanda Air Radiator Mobil Habis dan Cara Mengisi Ulangnya dengan Benar


Jakarta

Radiator termasuk komponen penting pada mobil. Fungsinya sebagai pendingin mesin kendaraan. Agar dapat berfungsi maksimal, komponen ini memerlukan air radiator atau coolant.

Namun air radiator bisa habis dan harus segera diisi ulang. Jika tidak, sejumlah permasalahan yang dapat membahayakan mungkin terjadi. Lantas, apa ciri-ciri air radiator mobil habis?

Tanda Air Radiator Mobil Habis

Mengutip Auto2000 dan Astra Daihatsu, berikut ciri-ciri air radiator mobil habis dan perlu diganti:


1. Suara Mesin Kasar

Saat air radiator habis, suara kasar dari mesin bisa terdengar. Suara ini ditimbulkan dari suhu mesin yang meningkat sehingga mempengaruhi sistem pembakaran.

Ketika air radiator masih cukup, proses pembakaran mesin berjalan normal. Proses ini dapat berlangsung lebih cepat jika coolant habis sehingga suara knocking pada mesin bisa terdengar.

2. Performa Mesin Kurang Bertenaga

Air radiator yang habis dapat mempengaruhi kinerja mesin. Mesin akan menjadi kurang bertenaga saat mobil melaju pada putaran tinggi atau ketika pedal gas telah ditekan lebih dalam.

3. AC Kurang Dingin

Tanda air radiator habis dapat dilihat dari kondisi suhu AC mobil. Jika udara AC kurang terasa sejuk padahal sudah dinyalakan dalam waktu lama dan kondisi freonnya masih bagus, maka bisa jadi air radiatornya habis.

4. Mesin Mobil Overheat

Selama perjalanan, mesin mobil bisa mengalami overheat. Jika hal ini terjadi, kemungkinan menandakan air radiator yang habis. Jadi pastikan mengecek komponen radiator sebelum bepergian jauh dan kalau bisa siapkan air radiator cadangan.

5. Lampu Indikator Menyala Merah

Detikers juga dapat memperhatikan lampu indikator temperatur mobil di bagian dashboard. Apabila lampunya menyala merah atau arah jarumnya berada di tanda merah maka bisa mengindikasikan air radiator habis dan perlu diisi ulang.

Cara Mengisi Air Radiator Mobil dengan Benar

Jika air radiator habis maka detikers perlu segera mengisinya kembali. Dikutip dari laman Suzuki, berikut tata cara mengisi ulang air radiator secara mandiri dengan benar:

1. Pastikan Mesin dalam Kondisi Dingin

Sebelum mengganti air radiator, pastikan mesin mobil sudah dalam keadaan dingin. Jika mesin berkondisi panas, air radiator juga kemungkinan masih panas. Saat hendak mengisi ulang, air radiator panas itu dapat mengenai kulit dan menyebabkan luka.

Oleh sebab itu, matikan mobil dan tunggu hingga mesinnya benar-benar dingin agar pengisian ulang air radiator berjalan aman.

2. Periksa Level Air Radiator

Ketika hendak mengisinya, cek terlebih dahulu bagian luar tangki reservoir air radiator yang bertanda garis level air radiator. Apabila garisnya menunjukkan di bawah minimum, tandanya air radiator menipis dan perlu segera ditambahkan.

3. Cek Kondisi Air Radiator

Selain itu, periksa juga kondisi air radiatornya. Jika airnya masih bersih dan tersisa sedikit, detikers dapat langsung mengisi ulang coolant.

Namun bila warna airnya keruh, kamu perlu mengurasnya terlebih dahulu sebelum menambahkan air radiator baru. Sebab air yang keruh dapat menyebabkan pampat dan mempengaruhi performa mesin.

4. Hindari Isi Ulang dengan Air Biasa

Berdasarkan catatan detikcom, tidak dianjurkan mengisi radiator dengan air biasa. Sebaiknya gunakan coolant atau cairan khusus untuk radiator. Kandungan sejumlah bahan di dalam cairan tersebut dapat bantu radiator bekerja lebih optimal.

Air biasa mesti dihindari sebab mobil di masa kini memiliki mesin berkinerja dengan kompresi tinggi. Menggunakan air biasa dapat membuat radiator kurang bekerja maksimal. Bahkan pemakaiannya mampu menyebabkan overheat pada mobil diesel.

Selain itu, penggunaan air biasa di komponen radiator dikhawatirkan membuatnya mudah berkarat. Sehingga disarankan mengisi ulang air radiator dengan coolant.

5. Gunakan Bantuan Corong

Lubang tabung radiator berukuran kecil maka detikers dapat menggunakan corong untuk mengisi ulang coolant. Air radiator yang tumpah berisiko membahayakan apabila mengenai komponen mobil lain, seperti menyebabkan karatan dan korsleting pada sistem kelistrikan kendaraan.

6. Isi Air Radiator dengan Jumlah Tepat

Volume coolant yang diisi harus tepat, jangan sampai melebihi batas maksimal ataupun kurang. Detikers mungkin akan menemukan jarak antara tutup reservoir dengan batas maksimum yang cukup jauh. Tapi kamu tetap harus mengikuti batasnya saat mengisi ulang coolant lantaran itulah standar yang telah ditetapkan produsen mobil.

7. Tutup Tabung Radiator dengan Rapat

Setelah pengisian, tabung radiator harus ditutup dengan rapat. Tutup tabung berisiko terpental saat mesin dihidupkan jika tidak dipasang dengan kencang. Jika tutupnya terlepas, air radiator pun dapat tumpah ke berbagai komponen kendaraan.

Nah, itu tadi ciri-ciri air radiator mobil habis dan cara mengisi ulangnya dengan benar. Jadi, harap segera mengisi kembali coolant apabila sudah habis.

(azn/inf)



Sumber : oto.detik.com