Tag Archives: doa

Cara Mengamalkan Doa Nabi Yusuf AS Agar Anak Tampan dan Bercahaya



Jakarta

Ada sebuah tradisi di kalangan muslimin ketika ingin memiliki anak yang tampan dan bercahaya, yaitu dengan membaca doa Nabi Yusuf AS. Berikut adalah cara mengamalkan doa Nabi Yusuf tersebut!

Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Mereka akan mempersiapkan segalanya bahkan sejak sebelum sang buah hati lahir. Mulai dari perlengkapan kelahiran bayi, baju, mainan, dan lain sebagainya.

Tak lupa, orang tua juga selalu mendoakan bayi yang masih ada di dalam kandungan agar diberi kesehatan, kecerdasan, saleh, dan lain-lain. Tak jarang, para orang tua juga berdoa untuk ketampanan atau kecantikan sang bayi.


Biasanya, para orang tua akan berdoa dengan doa Nabi Yusuf AS agar mendapat rida Allah SWT dan diberikan keturunan yang rupawan tampan bagai nabi paling tampan tersebut.

Berikut cara mengamalkan doa Nabi Yusuf AS agar anak tampan dan saleh berdasarkan buku Mukjizat Surat Yusuf dan Maryam karya Rizem Aizid.

Persiapan Mengamalkan Doa Nabi Yusuf AS

Perlu diketahui terlebih dahulu, membaca doa Yusuf AS agar anak berparas rupawan tidak ada syariat atau tuntunan maupun sunahnya. Namun sebagian orang tetap mengamalkan ini sebagai bentuk ikhtiar.

Adapun syarat-syarat dalam membaca surah Yusuf agar harapan dan doa memperoleh anak tampan layaknya Nabi Yusuf AS adalah sebagaimana berikut:

1. Bersuci

Sebelum mengamalkan doa Nabi Yusuf AS dan memegang Al-Qur’an, hendaknya seorang muslim bersuci terlebih dahulu, baik dengan cara mandi besar maupun wudhu.

Al-Qur’an adalah kitab suci. Oleh karena itu, sudah sepantasnya orang yang akan memegang kitab suci itu haruslah dalam keadaan yang suci pula.

2. Memperhatikan Adab Membaca Al-Qur’an

Jika ingin mengamalkan doa Nabi Yusuf AS atau membaca surah Yusuf, maka seseorang harus memperhatikan adab dalam membaca Al-Qur’an. Seperti memegangnya dengan tangan kanan dan tidak merusaknya.

3. Memilih Tempat Bersih dan Suci

Agar harapan terkabul, maka seseorang harus memilih tempat yang bersih dan suci ketika membacanya. Hindari tempat-tempat kotor dan buruk seperti kamar mandi, kuburan, dan lain sebagainya.

4. Menghadap Kiblat

Meski sepele, menghadap kiblat sebelum mengamalkan doa Nabi Yusuf AS juga tidak boleh dilewatkan. Hal ini dianjurkan oleh syariat.

5. Membaca Surah Yusuf dengan Tartil

Bagian yang tak kalah penting adalah membaca surah Yusuf atau doa Nabi Yusuf AS dengan tartil. Artinya, seseorang harus tenang dan meresapi setiap maknanya.

6. Resapi Makna dan Artinya

Keenam, resapilah betul-betul makna dan arti dari setiap ayat yang dibaca. Hal ini sangat penting bagi perkembangan psikologi sang buah hati.

Cara Mengamalkan Doa Nabi Yusuf AS

Agar mengamalkan doa Nabi Yusuf AS lebih baik lagi, maka seorang muslim harus memperhatikan tiga hal di bawah ini.

1. Mengamalkan doa Nabi Yusuf AS di malam hari

Agar doa lebih terkabul maka seseorang perlu membaca doa Nabi Yusuf AS di malam hari. Sebab, Allah SWT telah memposisikan waktu sepertiga malam dan salat tahajud sebagai waktu terbaik untuk berdoa.

Allah SWT sudah menjanjikan bahwa apabila ada seorang hamba-Nya yang berdoa di malam hari, maka tidak akan terjadi kecuali doa tersebut dikabulkan oleh-Nya.

Di saat seperti inilah waktu yang tepat untuk meminta keturunan yang baik hatinya, amalnya, dan juga rupanya.

2. Yakin Doa Nabi Yusuf AS Bisa Menjadi Wasilah

Cara mengamalkan doa Nabi Yusuf yang kedua adalah dengan meyakini sepenuh hati bahwa surah Yusuf itu dapat menjadi perantara atau wasilah dikabulkannya doa oleh Allah SWT.

Jika keinginan yang dipanjatkan adalah seorang anak yang tampan dan saleh, maka ia harus meyakini dengan membaca surah Yusuf, akan lahir seorang anak yang tampan lahir dan batinnya.

3. Tawakal kepada Allah SWT

cara mengamalkan doa Nabi Yusuf yang terakhir adalah dengan bertawakal kepada Allah SWT.

Tawakal dalam konteks ini maksudnya adalah memperlihatkan ketidakmampuan seseorang dan menggantungkan semuanya kepada Allah SWT karena hanya Dia Yang Maha Kuasa.

Setelah semua usaha sudah dilakukan semaksimalnya, maka langkah selanjutnya adalah menyerahkan semua hasilnya kepada Allah SWT. Dia-lah yang Maha Mengatur dan paling tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa Sholat Dhuha dan Keutamaannya


Jakarta

Dhuha adalah waktu yang tepat untuk meminta rejeki. Umat Islam dianjurkan untuk berdoa ketika memasuki waktu tersebut.

Dalam buku Fasholatan Lengkap: Tuntunan Sholat Lengkap karya Cepi Burhanudin, umat Islam bisa mengerjakan sholat dhuha saat matahari mulai terbit dari jam 7 pagi hingga masuk waktu Dzuhur. Hukum mengerjakannya adalah sunnah dengan jumlah rakaat paling sedikit adalah dua, namun yang lebih utama adalah empat.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Dari Nu’aim bin Hammad Al Ghothofaniy, beliau pernah mendengar Nabi Muhammad shalallahu Alaihu Wasallam bersabda,


“Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at sholat di awal siang. Maka itu akan membuatmu cukup di akhir siang.” (HR. Ahmad)

Selain itu sholat dhuha juga bisa menghapus dosa-dosa kita. Dalam riwayat Abu Hurairah ra, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Siapa saja yang melaksanakan sholat Dhuha secara istiqamah, dosanya akan diampuni oleh Allah meskipun sebanyak buih di lautan.” (Hadis Riwayat Tirmidzi)

Kemudian masih banyak lagi hadis-hadis lainnya yang menjelaskan soal sholat dhuha.

Bacaan Doa Sholat Dhuha dan Artinya

Setelah mengerjakan sholat dhuha, hendaklah memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Menukil buku Doa & Dzikir Lengkap Sunnah: Prayer & Zikir Complete Sunnah karya Kustiana Mara, berikut bacaan doa sholat dhuha.

اَللّٰهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ
اَللّٰهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Bacaan latin: Allahumma innadduha’a duha’uka wal baha’a baha’uka wal jamala jamaluka wal quwwata quwwatuka wal qudrota qudratuka wal ‘ismata ‘ismatuka. Allaahumma ingkana rizqiy fissama’i, fa anzilhu wa ingkana fil ardi, fa akhrijhu wa ingkana mu’assaran, fa yassirhu wa ingkana haraman, fa thohhirhu wa ingkana ba’idan, fa qarribhu bihaqqi duha’ika wabaha’ika wajamalika waquwwatika waqudratika, atini ma ataita ‘ibadakash-sholihin.

Artinya: “Ya Allah, pada saat Dhuha ini, waktu adalah milik-Mu, kecantikan adalah kecantikan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, kekuasaan adalah kekuasaan-Mu, dan perlindungan adalah perlindungan-Mu. Ya Allah, jika rezeki berada di atas langit turunkanlah dan jika berada di dalam bumi, keluarkanlah. Jika sulit permudahkanlah, jika haram sucikanlah. Jika masih jauh, dekatkanlah. Dengan berkah waktu Dhuha ini, dengan keagungan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala berkah yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang sholeh.”

Zikir Sholat Dhuha

Selain memanjatkan doa, umat Islam juga dianjurkan untuk berzikir setelah melaksanakan sholat dhuha. Berikut zikir yang bisa dibaca sebagaimana dinukil dari buku Penuntun Mengerjakan Shalat Dhuha karya Huriyah Huwaida.

Dalam buku tersebut dikatakan bahwa zikir ini bisa dibaca sebanyak 100 kali. Berikut bacaannya:

Bacaan latin: Robbighfirli watub ‘alayya innaka antat-tawwabul ghofur.

Artinya: “Ya Allah, ampunilah saya dan terimalah taubat saya. Karena sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat dan ampunan.”

Keutamaan Sholat Dhuha

Sholat Dhuha memiliki berbagai keutamaan jika seseorang rajin melaksanakannya. Berikut adalah keutamaan Sholat Dhuha yang diambil dari buku “Berkah Shalat Dhuha” karya M. Khalilurrahman Al Mahfani.

  1. Bisa memiliki istana di surga
  2. Diampuni semua dosanya
  3. Dicukupi segala kebutuhannya
  4. Investasi amal
  5. Seperti orang bersedekah

Sedangkan menurut buku “Ampuhnya Fadhilah Dzikir & Doa Setelah Shalat Fardhu & Sunnah” karya H. M. Amrin Ra’uf, beberapa keutamaan saat seseorang mengucapkan doa dan dzikir setelah sholat Dhuha adalah:

  1. Dilancarkan segala urusan
  2. Disehatkan badannya
  3. Perekonomian akan baik
  4. Dijauhkan dari segala tipu daya
  5. Rezeki datang dari arah yang tak disangka-sangka

(hnh/lus)



Sumber : www.detik.com

Doa Bisa Menjadi Obat Segala Penyakit, Ini Haditsnya



Jakarta

Perintah berdoa termaktub dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan dijelaskan pula oleh Rasulullah SAW melalui beberapa hadits. Doa bahkan bisa menjadi obat berbagai penyakit.

Setiap mukmin diperintahkan untuk berdoa dalam berbagai kondisi. Termasuk ketika mengalami kesulitan dan membutuhkan pertolongan Allah SWT.

Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf Ayat 55, Allah SWT berfirman,


ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ

Artinya: Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Setiap Penyakit Ada Obatnya

Melalui buku Terapi Penyakit Hati, Ibnul Qayyim al- Jauzi menjelaskan bahwa doa bisa menjadi cara untuk mengobati penyakit.

Diceritakan, Syaikh Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah ditanya, “Wahai Syaikh, seseorang terkena musibah. Sebenarnya ia sadar, jika musibah itu berlangsung terus-menerus, nasibnya rusak di dunia dan di akhirat. Ia telah berusaha sungguh-sungguh mencegah musibah itu dengan berbagai cara, tapi musibah itu makin menjadi-jadi. Bagaimana ia mengatasinya? Bagaimana ia melepaskan diri dari musibah itu?”

Imam Ibnul Qayyim menjawab, “Alhamdulillah. Dengarkanlah wahai Saudaraku. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad riwayat Bukhari, Abu Hurairah menuturkan sabda Nabi Muhammad,

“Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya.”

Dalam Shahih Muslim, terdapat sabda Rasulullah riwayat Jabir bin Abdillah,
“Untuk setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat sesuai dengan penyakit, ia akan sembuh dengan izin Allah.”

Maksud hadits ini, apabila seseorang diberi obat yang sesuai dengan penyakitnya, dan waktunya sesuai dengan ketentuan Allah SWT, atas izin-Nya orang sakit itu akan sembuh.

Dalam Musnad Imam Ahmad, disebutkan sebuah hadis riwayat Usamah bin Syarik, di mana Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan kesembuhan. Dia ajarkan kepada orang yang Dia ajarkan dan tidak Dia pahamkan orang yang Dia bodohkan (yang tidak diberi petunjuk).”

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak menimpakan sesuatu penyakit kecuali memberikan pula obatnya, kecuali satu penyakit. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, penyakit apakah itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Penyakit tua’.”

Penyakit yang dimaksud dalam beberapa hadits ini meliputi penyakit hati, ruh dan fisik. Nabi Muhammad mengategorikan kebodohan sebagai salah satu penyakit. Obatnya adalah bertanya atau belajar kepada orang yang pandai atau lebih berilmu.

Abu Daud meriwayatkan penuturan Jabir bin Abdullah, “Kami keluar bepergian. Salah satu dari kami terkena batu sehingga kepalanya terluka. Ketika tertidur, orang itu bermimpi bersenggama dengan istrinya hingga mengeluarkan air mani. Ia pun bertanya kepada teman-temannya, ‘Apakah aku diizinkan untuk bertayamum?’

Mereka menjawab, ‘Engkau tidak perlu bertayamum. Bukankah engkau tahan air? Namun orang itu tetap mandi. Akibatnya, ia meninggal. Setelah tiba di Madinah, kami menghadap Rasulullah memberitahukan masalah yang dialaminya. Rasulullah menjawab, “Kalian telah membunuhnya. Allah akan membalas kalian. Mengapa kalian tidak bertanya apabila tidak mengerti Sesungguhnya obat orang bodoh adalah dengan bertanya. Orang tadi cukup bertayamum. Sedangkan untuk lukanya, jika amat dalam, ambilkanlah sepotong kain dan usapkanlah di atasnya. Selanjutnya ia dapat mencuci seluruh tubuhnya sehingga bagian yang luka tidak perlu terkena air.”

Rasulullah lantas menjelaskan, kebodohan adalah penyakit dan obatnya adalah kemauan untuk bertanya atau mencari ilmu. Allah SWT menjelaskan dalam al-Qur’an bahwa Al-Qur’an adalah asy-syifa (penyembuh).

Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Fussilat Ayat 44,

وَلَوْ جَعَلْنَٰهُ قُرْءَانًا أَعْجَمِيًّا لَّقَالُوا۟ لَوْلَا فُصِّلَتْ ءَايَٰتُهُۥٓ ۖ ءَا۬عْجَمِىٌّ وَعَرَبِىٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ هُدًى وَشِفَآءٌ ۖ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِىٓ ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍۭ بَعِيدٍ

Artinya: Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”.

Secara keseluruhan, Al-Qur’an adalah Syifa atau penyembuh, sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT di atas.

Maksud dari “penyembuh” dalam konteks ini adalah penyembuh hati dari kebodohan dan keraguan. Allah tidak menurunkan penyembuh yang lebih mujarab untuk mengobati penyakit daripada Al-Qur’an.

Doa Adalah Obat Penyakit

Dalam hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Abu Sa’id meriwayatkan, beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW menempuh suatu perjalanan jauh. Ketika tiba di salah satu perkampungan Arab, mereka mohon izin kepada penduduk setempat untuk singgah. Permohonan mereka ditolak. Kemudian mereka pun pergi.

Saat itu, kepala kampung dipatuk ular hingga pingsan. Warga sibuk berupaya mengobatinya, namun gagal. Seorang warga berkata, “Bagaimana jika kita mendatangi para musafir itu, barangkali ada di antara mereka yang dapat mengobati?”

Beberapa warga pun datang menemui para sahabat dan berkata, “Wahai Tuan-tuan musafir! Kepala dusun kami tersengat ular berbisa. Kami telah berusaha sekuat tenaga, namun tak berhasil menyembuhkannya. Barangkali ada di antara kalian yang bisa berbuat sesuatu.”

Salah seorang sahabat berkata, “Ya, aku akan mengobatinya walau kalian telah menolak kami untuk singgah di tempat ini. Aku akan mengobatinya dengan syarat kalian memberi kami sesuatu.”

Mereka pun setuju dan berjanji memberikan beberapa ekor kambing.

Salah seorang sahabat itu pun berupaya menyembuhkan sang kepala dusun. Ia membaca Surah Al-Fatihah sampai selesai. Atas izin Allah SWT, kepala dusun yang sakit itu pun bangkit dan sembuh total, seakan tak pernah terkena apa-apa.

Sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat, orang yang mengobati itu diberi beberapa ekor kambing seperti yang dijanjikan. Para musafir menghendaki agar kambing itu dibagi-bagikan.

Namun, orang yang mengobati berkata kepada teman-temannya, “Kita tidak akan melakukan apa-apa hingga kita bertemu dengan Rasulullah SAW. Kita akan menceritakan apa yang telah kita lakukan dan menunggu keputusan beliau.”

Mereka pun menghadap Rasulullah dan menceritakan kejadian itu. Beliau berkata, “Siapa yang memberitahumu bahwa Al Fatihah itu ruqyah? Engkau telah tepat melakukannya. Bagi-bagikan kambing itu dan berilah aku sebagian.”

Bacaan Al-Qur’an tersebut ternyata mampu menyembuhkan dan mengatasi penyakit secara total, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Al-Fatihah merupakan doa yang bisa dijadikan obat yang paling mudah. Seandainya dipakai untuk pengobatan secara baik, seseorang tentu akan melihat hasil menakjubkan.

Seorang sahabat Nabi pernah menuturkan, “Aku tinggal di Kota Makkah selama beberapa waktu. Aku menderita berbagai macam penyakit dan tidak menjumpai dokter maupun obat. Maka, aku mencoba mengobati diriku sendiri dengan Surah Al-Fatihah. Ternyata aku sembuh.

Karena itu, aku menyampaikan hal itu setiap kali ada orang yang mengeluh sakit. Setelah mempraktikkannya, kebanyakan mereka sembuh dengan cepat.”

Pelajaran yang dapat diambil dari beberapa kisah ini adalah bahwa segala macam zikir, ayat, dan doa bisa menjadi obat bermanfaat untuk penyembuhan.

Tapi terkabulnya doa sangat ditentukan oleh kekuatan dan kemauan keras orang yang bersangkutan. Datangnya kesembuhan sangat dipengaruhi oleh pelakunya.

Tidak terkabulnya suatu doa, kadang akibat adanya penghalang kuat yang menghalangi kemanjuran obat tersebut.

Ada beberapa sebab yang membuat doa terkabul, baik dalam menolak hal-hal yang tidak dikehendaki maupun mendapatkan hal-hal yang diharapkan.

Ketika berdoa mengharapkan kesembuhan atas suatu penyakit, hendaknya menanamkan dalam hati bahwa hanya Allah SWT Sang Maha Penyembuh.

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

Ini yang Dilakukan Rasulullah ketika Sedih dan Gundah


Jakarta

Rasulullah SAW pernah dilanda kesedihan dan kegundahan semasa hidupnya. Sejumlah riwayat menyebut beliau senantiasa membaca doa untuk mengatasi kesedihan dan kegundahan itu.

Riwayat tersebut dijelaskan Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Zadul Ma’ad yang diterjemahkan Tim Griya Ilmu. Riwayat-riwayat ini termuat dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Musnad Ahmad, dan Sunan Abu Dawud.

Baca Ya Hayyu Ya Qayyum

Disebutkan dalam Jami’ At-Tirmidzi melalui riwayat Anas RA, Rasulullah SAW mengucapkan ya Hayyu ya Qayyum apabila bersedih karena suatu hal. Berikut bacaan selengkapnya.


يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْتُ

Ya Hayyu, ya Qayyum birahmatika astaghitsu

Artinya: “Ya Allah Al-Hayyu (Yang Mahahidup), Al-Qayyum (Yang Maha Terjaga), dengan rahmat-Mu aku memohon keselamatan.”

At-Tirmidzi mengeluarkan hadits tersebut dalam Ad-Da’awaat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah mengatakan dalam sanadnya terdapat Yazid bin Abaan Ar-Raqaasyi, seorang rawi yang dhaif.

Baca Doa Qurb

Ibnu Abbas RA turut meriwayatkan hadits sebagaimana termuat dalam Shahih Bukhari dan Muslim, saat tertimpa kesusahan Rasulullah SAW biasa berdoa dengan bacaan:

لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمِ الْحَلِيمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ السَّبْعَ ، وَرَبُّ الْأَرْضِ، رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Laa ilaaha illallaahul ‘Azhimul Haliim. Laa ilaaha illallaahu Rabbul ‘arsyil ‘azhiim. Laa ilaaha illallaahu Rabbus-samaawaati sab’i wa Rabbul ardhi wa Rabbul ‘arsyil kariim

Artinya: “Tidak ada yang berhak disembah secara benar melainkan Allah yang Mahaagung dan Mahalembut. Tidak ada yang berhak disembah secara benar melainkan Allah, Rabb dari Arsy yang agung. Tidak ada yang berhak disembah secara benar melainkan Allah, Rabb dari langit (yang tujuh), Rabb dari bumi serta Rabb dari Arsy yang mulia.”

Imam Bukhari mengeluarkan hadits tersebut dalam Ad-Da’awaat bab Ad Du’a ‘Indal Karbi dan Muslim mengeluarkannya dalam Adz-Dzikr wad Du’aa bab Du’a al-Karbi.

Baca Kalimat Tasbih

Menurut riwayat lain yang berasal dari Abu Hurairah RA, saat mengalami kegundahan karena suatu hal, Rasulullah SAW memandang ke langit seraya berkata,

سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

Subhanallahil ‘azhim

Artinya: “Mahasuci Allah yang Mahaagung.”

Namun, apabila Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh dalam doanya, beliau mengucapkan,

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ

Ya Hayyu ya Qayyum

Riwayat di atas dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Ad-Da’awaat bab Maa Yaquulu ‘Inda al-Karbi. Dikatakan, dalam sanadnya terdapat Ibrahim bin Al-Fadhl Al-Makhzumi, seorang perawi yang matruk (dituduh dusta).

Dalam Sunan Abu Dawud terdapat riwayat dari Abu Bakar Ash-Shiddiq saat Rasulullah SAW mengajarkan doa untuk menghadapi musibah. Doa yang dimaksud sebagai berikut,

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُوْ؛ فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ؛ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Artinya: “Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau sandarkan urusanku kepada diriku sendiri biarpun sekejap mata. Perbaikilah segala urusanku, tidak ada yang berhak disembah secara benar melainkan Engkau.”

Hadits tersebut turut diriwayatkan oleh Ahmad dan Al Bukhari dalam Al-Adabu Al-Mufrad. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban.

(kri/lus)



Sumber : www.detik.com

Kumpulan Doa Meraih Kemenangan, Muslim Amalkan Yuk!


Jakarta

Doa meraih kemenangan dapat dipanjatkan oleh kaum muslimin. Pada dasarnya, umat Islam diperintahkan untuk berdoa kepada Allah SWT.

Dalam surah Al Mukmin ayat 60, Allah SWT berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ


Artinya: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

Doa termasuk ke dalam ibadah, sebagaimana disebutkan dalam buku Kumpulan Doa Mustajab Pembuka Pintu Rezeki tulisan KH Sulaeman bin Muhammad Bahri. Berdoa atau menyampaikan permohonan adalah ciri ibadah seseorang kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadits juga menjelaskan terkait pentingnya doa, beliau bersabda:

“Tiap muslim di muka bumi yang memohonkan suatu permohonan kepada Allah, pastilah permohonannya itu dikabulkan Allah atau dijauhkan Allah daripadanya suatu kejahatan, selama ia mendoakan sesuatu yang tidak membawa kepada dosa atau memutuskan kasih sayang.” (HR At Turmudzi)

Doa Meraih Kemenangan Berbagai Versi

Mengutip buku Doa dan Zikir Orang Sukses oleh Zaki Zamani, berikut sejumlah doa meraih kemenangan yang bisa dibaca oleh kaum muslimin.

1. Doa Meraih Kemenangan Versi Pertama

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالْفَوْزَ بالْجَنَّةِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ

Arab latin: Allahumma inni as’aluka mujibati rahmatika, wa ‘aza’ima maghfiratika, was-salamata min kulli ithmin, wal-ghanimata min kulli birrin, wal-fawza bil- jannati, wannajata mina-nar

Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu segala sesuatu yang menyebabkan turunnya rahmat-Mu, segala sesuatu yang memastikan ampunan-Mu, keselamatan dari segala dosa, keberuntungan dari setiap perbuatan baik, kemenangan dengan meraih surga dan keselamatan dari neraka,”

2. Doa Meraih Kemenangan Versi Kedua

Dalam buku Pegangan Hadits Arba’i An-Nawawi susunan Tim Mutiara, ada juga doa kemenangan versi lain yang dapat dibaca yaitu:

Rabbanaa wa syi’ ta kulla syai-ir rahmataw wa ‘ilman faghfir lil ladziina taabuu wattaba’u sabiilaka waqihim ‘adzaabal jahiim. Rabbanaa wa-adkhilhum jannaati adninillati wa’attahum wa man shalaha min aabaa-ihim wa azwaajihim wa dzurriyyaatihim innaka antal’aziizul hakiim. Waqihimus sayyiaati wa mantaqis sayyiaati yaumaidzin faqad rahimtah, wa dzaalika huwal fauzul ‘adhiim.

Artinya: “Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalanMu, dan peliharalah mereka dari siksa neraka yang menyala-nyala. Wahai Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang shaleh diantara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua, sesungguhnya. Engkaulah yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana dan peliharalah mereka dari balasan kejahatan, dan barangsiapa yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya, dan itulah kemenangan yang besar.”

3. Doa Meraih Kemenangan Versi Ketiga

اِنَّا فَتَحۡنَا لَكَ فَتۡحًا مُّبِيۡنًالِّيَـغۡفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِكَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهٗ عَلَيۡكَ وَيَهۡدِيَكَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِيۡمًاوَّ يَنۡصُرَكَ اللّٰهُ نَصۡرًا عَزِيۡزًا

Arab latin: Inna fatahna laka fat han mubina, liyoghfiro lakallahuma takodda min zambika wa maa ta’akhoro wa yutimma ni’matahu alayka wa yahdiyaka siroo tommustakii maa wayan surokallahu nasron aziiz.

Artinya: “Sesungguhnya kami telah membentangkan bagimu kemenangan yang gemilang. Agar dia mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang. Dan menyempurnakan nikmat-Nya atasmu. Dan dia memberi petunjuk di jalan yang lurus. Dan Allah akan memberikan pertolongan kepadamu dengan pertolongan yang mulia.”

4. Doa Meraih Kemenangan Versi Keempat

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الفلاح والنجاح

Arab latin: Allahumma inni as’alukal falaaha wannajaaha

Artinya: “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu, keberuntungan dan keselamatan,”

Itulah sejumlah doa yang dapat dibaca untuk meraih kemenangan. Jangan lupa diamalkan ya!

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Doa untuk Kedua Orang Tua dan Adabnya yang Harus Dipahami Muslim


Jakarta

Doa kedua orang tua menjadi bentuk bakti seorang anak. Berdoa menjadi cara berterima kasih kepada orang tua karena telah merawat dan membesarkan kita.

Allah SWT berfirman dalam surah Luqman ayat 14,

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ


Arab latin: wa waṣṣainal-insāna biwālidaīh, ḥamalat-hu ummuhụ wahnan ‘alā wahniw wa fiṣāluhụ fī ‘āmaini anisykur lī wa liwālidaīk, ilayyal-maṣīr

Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

Syaikh Bakar Abdul Hafizh dalam karyanya, Al-Ad’iyah fi Al-Qur’an Al-Karim, Tafsiruha wa Ma’aniha, mendefinisikan kata doa secara bahasa berarti memanggil dengan suara, dan ucapan.

Doa Kedua Orang Tua: Arab, Latin dan Terjemahannya

Doa untuk kedua orang tua tercantum dalam surah Al Isra ayat 24 yang berbunyi,

رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرً

Arab latin: Rabbir-ḥam-humā kamā rabbayānī ṣagīrā

Artinya: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.”

Selain itu, ada juga doa kedua orang tua versi lainnya yang dapat dibaca. Berikut lafaznya yang dirangkum dari arsip detikHikmah,

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

Arab latin: Rabbighfir lī, wa li wālidayya, warham humā kamā rabbayānī shaghīrā

Artinya: “Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil.”

Adab pada Kedua Orang Tua

Mengutip buku Pelajaran Adab Islam 2 oleh Ahmad dan Abdul Fatah, berikut sejumlah adab yang harus diperhatikan pada kedua orang tua.

1. Taat kepada Kedua Orang Tua

Seorang muslim harus taat kepada kedua orang tua yang membesarkannya selama mereka tidak mendurhakai Allah SWT. Bahkan, hukum menaati kedua orang tua menjadi kewajiban bagi seorang muslim.

2. Tidak Mendahului dalam Berkata-kata

Mempersilakan serta membiarkan orang tua untuk berkata-kata terlebih dahulu dapat menyenangkan hati orang tua. Hal ini dicontohkan dalam hadits riwayat Abdullah bin Umar RA, ia berkata:

“Kami pernah bersama Nabi SAW di Jummar, kemudian Nabi bersabda: ‘Ada sebuah pohon yang ia merupakan permisalan seorang muslim’ Ibnu Umar berkata: ‘Sebetulnya aku ingin menjawab pohon kurma. Namun karena aku yang paling muda di sini maka aku diam,’ Lalu Nabi SAW pun memberi tahu jawabannya (kepada orang-orang): ‘ia adalah pohon kurma.” (HR Bukhari)

3. Selalu Mendoakan

Sebagai seorang anak, hendaknya kita selalu mendoakan orang tua sebagaimana yang telah diajarkan Allah melalui Al-Qur’an. Jasa mereka yang besar tentu tidak dapat diukur dengan materi.

Itulah doa kedua orang tua beserta adabnya yang harus dipahami oleh kaum muslimin. Jangan lupa diamalkan ya!

(aeb/erd)



Sumber : www.detik.com

5 Keutamaan Doa Nabi Yunus, Salah Satunya Dikabulkan Hajat


Jakarta

Nabi Yunus AS memanjatkan sebuah doa kepada Allah SWT ketika ia ditelan di dalam perut paus. Doa yang diamalkannya tersebut mengandung banyak keutamaan dan hikmah yang bisa diteladani muslim.

Dikisahkan oleh Ibnu Katsir dalam buku Kisah Para Nabi, kisah bermula saat Nabi Yunus AS sedang berdakwah kepada kaumnya yang melenceng dari ajaran tauhid agar mereka kembali kepada Allah SWT.

Singkat cerita, kaum tersebut tidak mau mendengarkan Nabi Yunus AS sehingga membuatnya kesal dan meninggalkan kaum itu. Nabi Yunus AS pun meninggalkan kaumnya dengan menggunakan kapal bersama dengan beberapa orang yang lain.


Di tengah perjalanan, terjadilah badai yang amat dahsyat sehingga awak kapal terpaksa menurunkan sebagian beban kapal ke dalam laut. Namun, beban kapal masih juga belum berkurang dan kapal masih akan tenggelam.

Berakhirlah Nabi Yunus AS yang terpilih untuk dilemparkan ke dalam laut. Seketika itu pula, muncul paus yang sangat besar dan langsung melahap Nabi Yunus AS ke dalam perutnya.

Di dalam keadaan yang gelapnya malam dan gelapnya perut paus, Nabi Yunus AS memanjatkan doa kepada Allah SWT. Doa ini termakub dalam potongan surah Al Anbiya ayat 87. Berikut lafal doanya.

لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ

Arab-latin: Allā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn(a)

Artinya: “Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.”

5 Keutamaan Doa Nabi Yunus AS

1. Dikabulkan Segala Permintaannya

Mengutip buku Zikir-zikir Pembersih dan Penentram Hati karya M. Rojaya, keutamaan doa Nabi Yunus AS yang pertama adalah dapat melancarkan permintaan seseorang.

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Doanya Dzun Nun (Nabi Yunus AS) saat berdoa di dalam perut ikan, laa ilaaha illa anta subhanaka inni kuntu minal zalimin. Tidaklah seorang muslim berdoa dalam hal apa pun, melainkan Allah akan mengabulkannya.” (HR Al Hakim)

2. Dimudahkan Hadapi Kesulitan

Keutamaan doa Nabi Yunus AS yang selanjutnya adalah dapat mempermudah seseorang dalam menghadapi masalah dan kesulitan.

Apabila seseorang sedang dihadapkan dengan sebuah masalah, hendaknya ia memperbanyak membaca doa Nabi Yunus AS dengan harapan Allah SWT akan membukakan jalan keluarnya.

3. Berserah Diri kepada Allah SWT

Dinukil dari arsip detikJatim, keutamaan doa Nabi Yunus AS selanjutnya adalah dapat dimudahkan ketika menghadapi ujian dan sebagai bentuk berserah diri kepada-Nya.

4. Diampuni Dosa-dosa

Ketika melakukan kesalahan, maka hendaknya seseorang segera bertobat sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Yunus AS. Seseorang bisa berharap dengan doa ini Allah SWT akan segera mengampuni dosa-dosa yang diperbuat dan menerima tobatnya.

5. Pujian pada Allah SWT

Setelah mendapat nikmat yang begitu besar, maka sebaiknya ia bersyukur atas nikmat tersebut.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa Sholat Syuruq, Kapan Sebaiknya Dipanjatkan?


Jakarta

Sholat syuruq adalah ibadah sunnah yang dikerjakan ketika matahari terbit. Seperti sholat pada umumnya, ada bacaan yang dipanjatkan yaitu doa sholat syuruq.

Dalil terkait pengerjaan sholat syuruq tercantum dalam sebuah hadits yang berbunyi,

“Siapa yang sholat Subuh berjamaah, lalu duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian sholat dua rakaat, ia akan mendapatkan pahala haji dan umrah sempurna (diulang tiga kali).” (HR Tirmidzi)


Mengutip dari buku Super Lengkap Shalat Sunah oleh Ubaidurrahim El-Hamdy, isyraq atau syuruq berasal dari kata syarq yang artinya timur, terbit dan menerangi. Secara sederhana, sholat syuruq diartikan sebagai sholat dua rakaat setelah matahari terbit dan meninggi, kurang lebih satu tombak dalam pandangan mata.

Doa Sholat Syuruq dan Waktu Membacanya

Dijelaskan oleh Ibnu Watiniyah dalam Kitab Lengkap Shalat, Shalawat, Zikir, dan Doa bahwa doa sholat syuruq dipanjatkan setelah mengerjakan amalan tersebut. Berikut bacaannya,

أَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عَافِيَةً وَجَاءَالشَّمْسُ مِنْ مَطْلَعِهَا.اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِيْ خَيْرَهَذَا الْيَوْمِ وَادْفَعْ عَنِّيْ شَرَّهُ. اَللَّهُمَّ نَوِّرْ قَلْبِيْ بِنُوْرِ هِدَايَتِكَ كَمَا نَوَّرْتَ اْلأَرْضَ بِنُوْرِ شَمْسِكَ اَبَدًا. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Arab latin: Alhamdulillahil ladzi ja’alal yauma ‘afiyataw waja-‘asy syamsu min mathla’iha. Allahummar-zuqni khaira hadzal yaumi wadfa’ ‘annii syarrah. Allahumma nawwir qalbi binuri hidayatika kama nawwartal ardla binuri syamsika abada. Birahmatika ya arhamar rahimin.

Artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah menjadikan hari ini sejahtera dan telah terbit matahari dari tempatnya. Ya Allah, beri lah aku kebaikan hari ini dan jauhkan lah dariku keburukan hari ini. Ya Allah, terangilah hatiku dengan cahaya hidayah-Mu, sebagaimana telah Engkau terangi bumi dengan cahaya matahari-Mu terus-menerus. Dengan rahmat-Mu, wahai Yang Paling Pengasih di antara semua yang mengasihi.”

Apakah Sholat Syuruq Sama dengan Sholat Dhuha?

Sejumlah ulama menyamakan sholat syuruq dengan sholat Dhuha. Namun, sebagian lainnya menilai keduanya berbeda.

Masih dari buku yang sama, Imam Al Ghazali berpendapat bahwa sholat syuruq berbeda dengan Dhuha. Sebab, waktunya berbeda meski berdekatan. Ia menyebut waktu sholat syuruq adalah sejak matahari terbit yang mana terlewatnya waktu yang dilarang untuk sholat.

Penamaan syuruq sendiri merujuk pada waktu pelaksanaannya yaitu ketika matahari terbit atau ketika matahari memancarkan sinar. Artinya, sholat syuruq adalah amalan sunnah yang dikerjakan setelah sholat Subuh.

Tata Cara Sholat Syuruq

Berikut tata cara sholat syuruq yang dikutip dari buku Rahasia Kedahsyatan Shalat Sunah Setahun Penuh oleh Ustaz M Kamaluddin S Pd I MM.

1. Membaca niat sholat syuruq dua rakaat dengan lafal berikut,

Usalli Sunnata Isyraq Rak’ataini Lillaahi Ta’aalaa, Allahu Akbar.

Artinya: “Aku niat sholat sunnah syuruq dua rakaat karena Allah ta’aalaa, Allah Maha Besar.”

2. Pada rakaat pertama usai membaca surat Al-Fatihah, bacalah surat An Nur ayat 35,

۞ ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشْكَوٰةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍ ۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّىٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَٰرَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِىٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِى ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُ ۚ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَٰلَ لِلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Arab latin: Allāhu nụrus-samāwāti wal-arḍ, maṡalu nụrihī kamisykātin fīhā miṣbāḥ, al-miṣbāḥu fī zujājah, az-zujājatu ka`annahā kaukabun durriyyuy yụqadu min syajaratim mubārakatin zaitụnatil lā syarqiyyatiw wa lā garbiyyatiy yakādu zaituhā yuḍī`u walau lam tamsas-hu nār, nụrun ‘alā nụr, yahdillāhu linụrihī may yasyā`, wa yaḍribullāhul-amṡāla lin-nās, wallāhu bikulli syai`in ‘alīm

Artinya: “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

3. Saat rakaat kedua setelah membaca Al-Fatihah, dilanjutkan membaca surat An nur ayat 36-38

فِى بُيُوتٍ أَذِنَ ٱللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ يُسَبِّحُ لَهُۥ فِيهَا بِٱلْغُدُوِّ وَٱلْءَاصَالِ

Arab latin: Fī buyụtin ażinallāhu an turfa’a wa yużkara fīhasmuhụ yusabbiḥu lahụ fīhā bil-guduwwi wal-āṣāl

Artinya: “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS An Nur: 36)

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَٰرَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلْقُلُوبُ وَٱلْأَبْصَٰرُ

Arab latin: Rijālul lā tul-hīhim tijāratuw wa lā bai’un ‘an żikrillāhi wa iqāmiṣ-ṣalāti wa ītā`iz-zakāti yakhāfụna yauman tataqallabu fīhil qulụbu wal-abṣār

Artinya: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS An Nur: 37)

لِيَجْزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا۟ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Arab latin: Liyajziyahumullāhu aḥsana mā ‘amilụ wa yazīdahum min faḍlih, wallāhu yarzuqu may yasyā`u bigairi ḥisāb

Artinya: “(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS An Nur: 38)

4. Setelah melaksanakan sholat syuruq, dianjurkan membaca Al-Quran untuk mendapat petunjuk yang akan diperoleh dengan membacanya secara tadabbur. Selain itu, baca juga doa sholat syuruq seperti yang telah dipaparkan sebelumnya.

(aeb/lus)



Sumber : www.detik.com

Arti Allahumma La Tahrimna, Doa Salat Jenazah Takbir ke-4


Jakarta

Salat jenazah terdiri dari empat takbir dan setiap takbirnya memiliki bacaan tertentu. Salah satu bacaan takbir itu adalah doa dengan lafaz allahumma la tahrimna ajrohu walaa taftinnaa ba’dahu wagfirlanaa walahu.

Bacaan allahumma la tahrimna ajrohu walaa taftinnaa ba’dahu wagfirlanaa walahu adalah doa yang dibaca setelah takbir keempat saat salat jenazah. Ini merupakan doa takbir keempat versi pendek.

Arti Allahumma La Tahrimna

Mengutip buku Panduan Sholat Wajib & Sunnah Sepanjang Masa Rasulullah karya Ustadz Arif Rahman, berikut arti bacaan allahumma la tahrimna pada takbir keempat salat jenazah.


اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ

Arab-latin: Allahumma la tahrimna ajrohu walaa taftinnaa ba’dahu wagfirlanaa walahu

Artinya: “Ya Allah janganlah Engkau rugikan kami atas pahalanya dan janganlah Engkau beri kami fitnah setelah meninggalnya serta ampunilah kami dan dia.”

Perlu diketahui, bacaan doa di atas harus dibedakan antara jenazah perempuan dan jenazah laki-laki.

Apabila jenazah yang disalatkan adalah laki-laki, maka bacaan doa setelah takbir keempat sesuai dengan yang sudah dijelaskan di atas. Sementara itu, apabila jenazah yang disalatkan berjenis kelamin perempuan, maka orang-orang yang menyalatkannya harus mengganti kata ganti hu menjadi ha.

Berikut bacaan doa setelah takbir keempat untuk jenazah perempuan.

اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهَا وَلَا تَفْتِنَا بَعْدَهَا وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهَا

Arab-latin: Allahumma la tahrimna ajrohaa walaa taftinnaa ba’dahaa wagfirlanaa walahaa

Artinya: “Ya Allah janganlah Engkau rugikan kami atas pahalanya dan janganlah Engkau beri kami fitnah setelah meninggalnya serta ampunilah kami dan dia.”

Doa Takbir ke-4 Versi Panjang

Ada versi bacaan doa salat jenazah takbir keempat ini yang lebih panjang. Dikutip dari buku Dirasah Islamiyah karya Al Mubdi’u dkk, berikut bacaannya.

Jenazah laki-laki

اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ.

Arab-latin: Allahumma la tahrimna ajrohu walaa taftinnaa ba’dahu wagfirlanaa walahu wa ikhwaaninaa-lladziina sabaquunaa bil iimaani wa laa taj’al fii quluubinaa ghillaa lilladziina aamanuu robbanaa innaka rouufurrahiim

Artinya: “Ya Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami, dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia, dan bagi saudara-saudara kita yang mendahului kita dengan iman, dan janganlah Engkau menjadikan unek-unek/gelisah dalam hati kami dan bagi orang- orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Jenazah perempuan

اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهَا وَلَا تَفْتِنَا بَعْدَهَا وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ.

Arab-latin: Allahumma la tahrimna ajrohaa walaa taftinnaa ba’dahaa wagfirlanaa walahaa wa ikhwaaninaa-lladziina sabaquunaa bil iimaani wa laa taj’al fii quluubinaa ghillaa lilladziina aamanuu robbanaa innaka rouufurrahiim

Artinya: “Ya Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami, dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia, dan bagi saudara-saudara kita yang mendahului kita dengan iman, dan janganlah Engkau menjadikan unek-unek/gelisah dalam hati kami dan bagi orang- orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Sholawat Nabi yang Benar Sesuai Sabda Rasulullah


Jakarta

Ada banyak macam sholawat nabi baik yang berasal dari Rasulullah SAW langsung maupun gubahan para ulama. Lantas, bagaimana bacaan sholawat nabi yang benar?

Nabi Muhammad SAW merupakan junjungan, kekasih, panutan, dan nabi besar bagi umat Islam. Wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk mengimaninya dan mengikuti setiap ajarannya.

Selain agar mendapat rida Allah SWT dan pahala dari-Nya, mengikuti perintah rasul juga bertujuan untuk menambah kecintaan kepada beliau sehingga kita termasuk dalam umat yang mendapat syafaatnya kelak di hari akhir.


Salah satu cara untuk menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah dengan memperbanyak membaca sholawat nabi. Allah SWT telah memerintahkan hal ini dalam surah Al-Ahzab ayat 56 yang berbunyi,

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ٥٦

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Menurut Tafsir Ibnu Katsir seperti diterjemahkan M. Abdul Ghoffar, maksud sholawat dari Allah SWT dalam ayat tersebut adalah pujian-Nya kepada Nabi SAW di kalangan malaikat dan sholawat dari malaikat adalah doa mereka untuknya. Demikian pendapat abul aliyah seperti dikatakan Imam Bukhari.

Ibnu Katsir turut menyebut riwayat yang berisi bacaan sholawat sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Berikut bacaannya.

Bacaan Sholawat Nabi yang Benar

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكَتْ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ

Allaahumma shalli ‘alaa muhammadin ‘abdika wa rasuulikan, kamaa shallayta ‘alaa ibraahiima, wa baarik ‘alaa muhammadin, wa ‘alaa aali muhammadin, kamaa baarakta ‘alaa ibraahiima

Artinya: “Ya Allah limpahkanlah sholawat buat Muhammad, hamba dan Rasul-Mu, sebagaimana telah Engkau limpahkan sholawat buat keluarga Ibrahim. Dan limpahkanlah berkah untuk Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah limpahkan berkah buat keluarga Ibrahim.” (HR Bukhari)

Bacaan Sholawat Lainnya

Selain bacaan sholawat di atas, berikut beberapa bacaan sholawat menurut hadits yang diambil dari buku Mari Bersholawat sesuai Tuntunan Nabi: Mengupas Seluk Beluk Sholawat dalam Tinjauan Syariat karya Abu Utsman Kharisman.

1. Hadits Abu Mas’ud Al-Anshoriy

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّد

Arab-latin: allaahumma sholli ‘ala muhammad an- nabiyyil ummiy wa ‘alaa aali muhammad

Artinya: “Ya Allah, bersholawatlah untuk Muhammad, seorang Nabi yang ummiy (tidak bisa membaca dan menulis), demikian juga untuk keluarga/pengikut Muhammad.” (HR Abu Dawud)

2. Hadits Kaab bin Ujroh

لَقِيَنِي كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ فَقَالَ أَلَا أُهْدِي لَكَ هَدِيَّةً خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ – – فَقُلْنَا قَدْ عَرَفْنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ قَالَ « قُولُوا:

“اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ”

Artinya: “Ka’ab bin Ujroh -semoga Allah meridhainya- bertemu dengan aku. Beliau berkata: Maukah engkau aku beri hadiah (hadits). Rasulullah shollallahu alaihi wasallam pernah keluar kepada kami dan kami berkata: Kami telah mengetahui bagaimana mengucapkan salam kepada anda. Bagaimana sholawat untuk anda? Nabi menyatakan: Ucapkanlah:

‘Allaahumma sholli ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad kamaa shollayta ‘alaa aali ibrahim innaka hamiidun majiid. allaahumma baarik ‘ala muhammad wa ‘alaa aali muhammad kamaa baarokta ‘alaa aali ibrahim, innaka hamiidun majiid’

Ya Allah, bersholawatlah untuk Muhammad dan untuk keluarga/pengikut Muhammad sebagaimana Engkau telah bersholawat untuk keluarga/pengikut Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarga/pengikut Muhammad sebagaimana Engkau memberkahi keluarga/pengikut Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. (HR Bukhari dan Muslim)

3. Hadits Abu Humaid As Sa’idy

أَنَّهُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ قَالَ « قُولُوا:

“اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ”

Artinya: “Mereka (para Sahabat Nabi) berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana bersholawat kepada anda? Nabi bersabda: Ucapkanlah:

‘Allaahumma sholli ‘ala muhammad wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyatihi kamaa shollayta ‘alaa aali ibrahim wa baarik ‘alaa muhammad wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyaatihi kamaa baarokta ‘alaa aali ibrahim innaka hamiidun majiid’

Ya Allah bersholawatlah untuk Muhammad dan kepada istri-istri beliau dan keturunan beliau sebagaimana Engkau bersholawat untuk pengikut Ibrahim dan berkahilah Muhammad dan para istri beliau serta keturunan beliau sebagaimana Engkau memberkahi pengikut Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

4. Hadits Abu Said Al-Khudriy

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا السَّلَامُ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَلِّي قَالَ قُولُوا

“اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ”

Artinya: “Dari Abu Said al-Khudriy ia berkata: Kami berkata: Wahai Rasulullah, ucapan salam kepada anda ini (telah kami ketahui). Bagaimana kami bersholawat? Nabi bersabda, Ucapkanlah:

‘Allaahumma sholli ‘alaa muhammad ‘abdika wa rosulika kamaa shollayta ‘alaa ibrahim wa baarik ‘alaa muhammad wa ‘ala aali muhammad kamaa baarokta ‘alaa ibrahim wa aali Ibrahim’

Ya Allah, bersholawatlah untuk Muhammad, hamba-Mu dan Rasul-Mu, sebagaimana Engkau telah bersholawat untuk Ibrahim. Berkahilah Muhammad dan keluarga/pengikut Muhammad sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarga/pengikut Ibrahim.” (HR Bukhari)

5. Hadits Tholhah bin Ubaidillah

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكَ قَالَ قُلْ “اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ”

Artinya: “Aku (Tholhah bin Ubaidillah) berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana bersholawat kepada anda? Nabi bersabda: ucapkanlah:

‘Allahumma sholli ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad kamaa shollayta ‘ala Ibrahim innaka hamiidun majiid. Wa baarik ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad kamaa baarokta ‘alaa aali ibrahim innaka hamiidun majiid’

Ya Allah, bersholawatlah untuk Muhammad dan keluarga/pengikut Muhammad, sebagaimana Engkau bersholawat untuk Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Berkahilah Muhammad dan keluarga/pengikut Muhammad, sebagaimana Engkau memberkahi keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR Ahmad)

6. Hadits Zaid bin Khorijah

إِنِّي سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَفْسِي فَقُلْتُ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكَ قَالَ صَلُّوا وَاجْتَهِدُوا ثُمَّ قُولُوا

“اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ”

Artinya: “Sesungguhnya aku bertanya langsung kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Aku berkata: Bagaimana (bacaan) sholawat untuk anda? Nabi bersabda: Bersholawatlah dan bersungguh-sungguhlah. beliau bersabda: Ucapkanlah:

‘Allaahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘alaa aali muhammad kamaa baarokta ‘alaa ibrahim innaka hamiidun majiid’

Ya Allah berkahilah Muhammad dan keluarga/pengikut Muhammad. Sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia.” (HR Ahmad)

7. Hadits Abu Hurairah

قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ قَالَ قُوْلُوْا

“اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ”

وَالسَّلَامُ كَمَا قَدْ عَلِمْتُمْ

Artinya: “Kami berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana bersholawat untuk anda? Nabi bersabda: Ucapkanlah:

‘Allaahumma sholli ‘ala muhammad wa ‘alaa aali muhammad wa baarik ‘alaa muhammad wa ‘alaa aali muhammad kamaa shollayτα wa baarokta alaa ibrohim wa aali ibrohim innaka hamiidun majiid’

Ya Allah, bersholawatlah untuk Muhammad dan keluarga/pengikut Muhammad. Berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad. Sebagaimana Engkau telah bersholawat dan memberikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga/pengikut Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Sedangkan bacaan salam, sebagaimana yang telah kalian ketahui.” (HR At-Thohawiy)

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com