Tag Archives: hikmah

Hindari Polarisasi



Jakarta

Pancasila merupakan ideologi pemersatu bangsa yang digali dari akar budaya bangsa Indonesia yang mengandung nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi hingga sekarang, baik nilai-nilai agama, adat istiadat, kebersamaan, kesetaraan, keadilan, maupun perjuangan untuk melepaskan diri dari segala bentuk penjajahan. Nilai-nilai luhur ini mengkristal dalam rumusan Pancasila sebagai perwujudan filsafat kemanusiaan yang mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Falsafah Pancasila ini merupakan suatu pandangan hidup yang telah diyakini bangsa Indonesia sebagai suatu kebenaran oleh karena itu dijadikan falsafah hidup bangsa.

Polarisasi atau pembelahan sosial di Indonesia disebut mulai terjadi saat pemilu 2014. Sejumlah pakar menganalisis penyebab polarisasi sosial dan cara mengantisipasi agar bisa diredam atau bahkan dihilangkan dalam Pemilu 2024. Memang sesuatu yang tidak mudah, namun tetap harus berupaya agar bangsa ini tidak terbelah karena pemilu legislatif dan pilpres. Oleh sebab itu marilah kita simak nasihat Ulama yang disegani yaitu Hasan Bashri sebagai berikut, ” Cintailah sekedarnya dan bencilah juga sekedarnya. Hal ini sudah banyak kaum yang berlebihan dalam mencintai kaum lainnya hingga mereka binasa. Dan ada kaum yang berlebihan dalam membenci kaum lain hingga mereka binasa. Karena itu, janganlah berlebihan dalam mencintai dan jangan pula berlebihan dalam membenci. Saat pilpres akan terjadi mencintai idola calonnya dan membenci lawan politik idolanya, seperti nasihat diatas janganlah berlebihan memcintai dan berlebihan membenci, pilihlah yang moderat / pertengahan. Hingga akhir kontestasi, hati masing-masing tetap dingin dan tetap bisa hidup rukun dan harmonis. Tidak boleh terjadi pertentangan antar golongan, antar tetangga, bahkan perceraian suami istri karena beda pilihan Presiden.

Menjelang dan saat pelaksanaan kontestasi maupun setelahnya, hendaklah kita hati-hati atas pihak-pihak yang kurang jernih hatinya dan melakukan provokasi. Ada beberapa type orang seperti berlisan pandai dan berhati juga pandai, ada yang berhati pandai namun berlisan gagap. Sebaliknya orang munafik justru pandai berbicara, tapi hatinya gagap, karena semua ilmunya ada di mulutnya. Rasulullah Saw. bersabda, “Yang paling aku takutkan pada umatku ialah orang munafik yang pandai berbicara.” ( lihat al-Kamil fi Dhu’afa ar-Rijal, vol 3, hal 970 ).


Mencermati ajakan seseorang yang pandai bicara, hendaknya di saring dulu di hati, jika ajakan itu baik dan bermanfaat maka lakukan dan jika ajakan itu diperkirakan menjadi mudharat maka tinggalkanlah. Dalam situasi menjelang kontestasi sering muncul orang-orang yang berteriak dan menguak, maka hati-hatilah jika teriakan itu keluar dari lidah bukan dari hatinya. Ingatlah teriakan orang munafik dari lidah dan kepalanya. Sementara teriakan orang yang jujur atau benar berasal dari hati dan batinnya.

Saat ini beberapa fakta sudah kita hadapi dengan banyaknya informasi yang hoax, malah berita seperti ini menjadi viral karena para penyebar kurang teliti dalam seleksi kebenaran informasi atau bisa juga terdorong nafsu. Penulis prihatin yang terjadi akhir-akhir ini, khususnya informasi yang digunakan sebagai alat untuk meningkatkan citra dan menyerang pihak lain. Mari kita cermati opini dari Hasan Bashri, “Menyebut orang lain itu ada tiga macam, ghibah ( menggunjing ), buhtan ( fitnah ) dan ifki ( dusta ). Semuanya disebutkan dalam kitab-Nya.

Gibah adalah jika engkau membicarakan apa yang ada padanya, namun ia tidak menyukainya. Buhtan adalah jika engkau membicarakan apa yang tidak ada padanya. Ifki adalah jika engkau mengatakan apa yang sampai kepadamu. Ketiga sebutan tersebut dalam seharian kita sering dijumpai, padahal sesuai ajaran Islam ketiganya tidak menjadi tuntunan.

“Ghibah itu lebih berat dari zina. Seorang sahabat bertanya, ‘Bagaimana bisa? ‘ Rasulullah SAW. menjelaskan, ‘Seorang laki-laki yang berzina lalu bertobat, maka Allah SWT. bisa langsung menerima tobatnya. Namun pelaku ghibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang dighibahnya,” (HR At-Thabrani). Abu Hurayrah r.a. Berkata, ” ( Ghibah itu adalah ) seseorang dari kalian melihat debu pada orang lain, sementara gunung didepan matanya tidak terlihat.”
Begitu besarnya kerusakan akibat ghibah, sehingga Allah SWT. merasa perlu memberikan larangan dalam surah al-Hujurat ayat 12 yang berbunyi, ” Janganlah sebagian dari kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Pastilah ia merasa jijik kepadanya.”

Tafsir Al-Mukhtashar di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram). Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. dan menjalankan apa yang disyariatkan! Hindarilah kebanyakan dari tuduhan tanpa ada sebab-sebab dan alasan yang tepat, karena sebagian dari prasangka itu dosa seperti berburuk sangka kepada orang yang secara lahir tampak baik. Janganlah kalian mencari-cari aib orang-orang yang beriman. Janganlah salah seorang dari kalian menyebutkan tentang saudaranya dengan hal yang tidak disukainya, karena menyebutkannya dengan apa yang tidak disukainya itu seperti makan bangkai saudaranya. Sukakah salah seorang di antara kalian makan bangkai saudaranya sendiri? Maka hindarilah menggunjingnya karena hal itu semisal makan bangkai saudara sendiri. Bertakwalah kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sesungguhnya Allah Maha Menerima tobat dari hamba-hamba-Nya yang bertobat kepada-Nya, Maha Penyayang kepada mereka.

Bagaimana dengan fitnah ? Fitnah adalah salah satu dosa terbesar. Fitnah adalah perbuatan menuduh seseorang telah melakukan sesuatu padahal orang tersebut tidak melakukannya. Fitnah merupakan perbuatan yang sangat tercela karena bisa merusak nama baik diri sendiri, merusak nama baik orang lain, dan menimbulkan perpecahan. Dalam firman-Nya surah al-Baqarah ayat 191 yang artinya, “…Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan…”

Larangan berkata dusta dan melakukan kebohongan telah disampaikan di dalam al-Qur’an dan Hadis. Maka jauhilah perkataan-perkataan dusta dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa orang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan orang kepada neraka.

Oleh karena itu, ketiga prilaku ini kita hindari dan cintailah idola dengan sekedarnya serta jika benci lawan politik idola juga sekedarnya. Semoga Allah Swt. selalu membimbing kita semua untuk menghindari polarisasi.

(dvs/erd)



Sumber : www.detik.com

Mengenal Halaqah, Sistem Pendidikan Zaman Rasulullah



Jakarta

Halaqah merupakan tradisi yang umum dilakukan di lingkungan pesantren dengan pesertanya duduk membentuk lingkaran. Seorang guru yang dianggap mumpuni untuk mengajar dilingkari oleh para murid sehingga disebut halaqah.

Halaqah termasuk salah satu tradisi yang kerap dilakukan Rasulullah SAW. Sampai saat ini halaqah terus dilakukan oleh masyarakat yang lebih luas.

Halaqah juga sering diadakan oleh para mahasiswa di kampus. Kita bisa menjumpainya di masjid lembaga-lembaga tinggi tertentu.


Lantas, apa sih sebenarnya halaqah itu? Berikut penjelasannya.

Pengertian Halaqah

Secara etimologi, halaqah berasal dari Bahasa Arab halaqo, yahluqo, dan halqotan yang berarti lingkaran. Menurut istilah, halaqah merupakan perkumpulan dua orang atau lebih yang membahas urusan-urasan keilmuan, khususnya ilmu agama.

Haidar Putra Daulay dalam bukunya ‘Sejarah Pertumbuhan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia’ menuturkan, halaqah adalah metode belajar di mana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kyai sebagai gurunya. Kyai membacakan kitab-kitab yang dipelajari, sedangkan para santri mendengarkan dan mencatat.

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa halaqah merupakan sekumpulan individu muslim yang bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mempelajari, memahami dan mengamalkan Islam berlandaskan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam.

Sejarah Singkat Halaqah

Merangkum dari buku ‘Manajemen Halaqah Efektif’ oleh Muhammad Sajirun, halaqah merupakan pendidikan informal yang mulanya digagas oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam di rumah-rumah para sahabat terutama rumah Al-Arqam bin Abil Arqam. Pendidikan ini berkaitan dengan upaya dakwah untuk menanamkan akidah Islam serta pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan.

Setelah masyarakat Islam terbentuk, halaqah dilakukan di masjid dan dalam perkembangannya halaqah ini menjadi pendidikan formal dengan istilah madrasah atau sekolah. Sebelum berdirinya madrasah, pada zaman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dikenal dengan istilah shuffah dan kuttab atau maktab.

Shuffah menurut Abuddin Nata adalah tempat diajarkannya membaca dan menghafalkan Al-Qur’an dan dibimbing langsung oleh Rasulullah. Pada masa itu, kurang lebih ada 9 shuffah yang tersebar di Madinah.

Sedangkan, kuttab atau maktab merupakan tempat belajar tulis menulis dan pelajaran agama Islam tingkat dasar. Lalu berkembang menjadi madrasah pada abad ke-11 dan ke-12 SM dengan didirikannya Madrasah Nazamiyah oleh Nizham Al-Mulk.

Pada awalnya, madrasah hanya difokuskan untuk pembelajaran ilmu agama Islam dengan penekanan khusus dibidang fiqih, tafsir dan hadits. Namun, seiring berjalannya waktu, madrasah juga menyajikan pembelajaran ilmu pengetahuan umum yang oleh para ahli disebut dengan istilah pendidikan modern.

Unsur-Unsur Halaqah

Satria Hadi Lubis dalam bukunya ‘Menjadi Murabbi Sukses’ memaparkan ada dua unsur halaqah. Kegiatan halaqah tidak akan berjalan jika salah satunya tidak ada. Berikut adalah unsur-unsur halaqah:

1. Murabbi

Murabbi adalah sebutan untuk laki-laku sedangkan murabbiyah adalah sebutan untuk perempuan yang artinya pendidik atau pengasuh. Sosok yang membina para objek dakwah dalam sebuah halaqah.

Murabbi juga dapat disebut sebagai guru, mentor, pembina atau ustadz. Perannya yang multifungsi mengharuskan murabbi memiliki banyak keterampilan antara lain keterampilan memimpin, mengajar, membimbing dan bergaul.

2. Peserta Halaqah

Jumlah peserta halaqah dibatasi 3-12 orang. Hal tersebut dilakukan agar memberi ruang yang cukup untuk murabbi mengenal dan mengakrabkan diri dengan para peserta halaqah.

Pada akhirnya, salah satu tujuan halaqah yaitu menjalin ukhuwah (persaudaraan) dapat terealisir. Selain itu, alasan historis menjadi faktor utama karena Nabi Isa AS dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ketika membina pengikut dan sahabatnya berjumlah 12.

Itulah penjelasan mengenai pengertian halaqah, sejarah singkat serta unsurnya. Semoga dengan makin majunya pendidikan di era modern, halaqah tetap menjadi metode pendidikan.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Khutbah Jumat Bulan Muharram 1445 H: Menyikapi Tahun Baru Islam


Jakarta

Muslim mulai memasuki hari Jumat pertama di bulan Muharram 1445 H. Masih dalam momen Tahun Baru Islam, tidak ada salahnya khutbah Jumat masih mengangkat tema bagaimana cara menyikapi lembaran baru di tahun Hijriah ini.

Oleh karena itu berikut ini adalah contoh khutbah Jumat Bulan Muharram yang bisa dijadikan referensi oleh khatib. Khutbah berikut dikutip dari tulisan Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kecamatan Bojong Genteng Yudi Yansyah melalui laman resmi Kemenag Kanwil Kabupaten Sukabumi.

Contoh Teks Khutbah Jumat Bulan Muharram 1445 H

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، وَمَوْلَنَا مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ وَمَوَّالَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ.


اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ دَعَا بِدَعْوَتِهِ اِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْنَ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ :يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران: 102).

وَقَالَ فِي أَيَةٍ أُخْرَى : كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (آل عمران : 185).

Hadirin rahimakumullah,

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita kekuatan keimanan, ketaqwaan dan kesehatan. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, dan kepada semua pengikutnya yang setia sampai akhir zaman.

Pada saat ini sampailah kita kepada hari yang dimuliakan oleh Allah SWT yang disebut sebagai Sayyidul Ayyam (induk dari segala hari), Allah SWT masih memberikan umur panjang sampai saat ini. Allah SWT juga telah memberikan nikmat sehat serta nikmat istiqamah di dalam hati kita. Sehingga dengan nikmat tersebut, ringan melangkahkan kaki menyambut seruan azan, datang memenuhi panggilan Allah, menunaikan salat fardhu pada hari yang mulia ini.

Untuk itu kita bersyukur kepada Allah dengan memperbanyak mengucapkan hamdalah (alhamdulillahi robbil ‘alamin). Bersyukur dengan perbuatan, senantiasa istiqomah melaksanakan segala perintah Allah, dan menjauhi segala larangan-Nya.

Selanjutnya, sholawat mari kita bacakan untuk Nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan dengan memperbanyak sholawat, dalam kehidupan kita diberikan istiqamah, dan di akhir hayat ditutup dengan husnul khatimah, dan ketika menghadap Allah SWT mendapatkan syafaatnya, insya Allah. Aamiin.

Hadirin rahimakumullah,

Mari kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, di mana pun dan kapan pun kita berada, karena kita tidak mengetahui kapan ajal akan tiba. Ketika saat ajal telah mendekat, segala harta dan kedudukan tidak akan berguna lagi, demikian pula taubat dan penyesalan.

Alhamdulillah, pada hari Rabu, kita telah sampai pada akhir hari bulan Zulhijah 1444 Hijriah. Kemudian Allah SWT memberikan kita kesempatan untuk memasuki awal bulan Muharram 1445 Hijriah.

Mari kita merenungkan arti dan pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kesempatan hidup yang Allah berikan, sehingga kita dapat memulai awal Muharram 1445 Hijriah dengan semangat baru.

Pelajaran terbesar yang bisa kita ambil adalah bahwa Allah masih memberi kita kesempatan untuk melakukan introspeksi diri secara menyeluruh. Kita harus mengevaluasi keimanan, keislaman, ibadah, akhlak mulia, hubungan sosial, peningkatan ilmu, kewajiban, tanggung jawab, manajemen waktu, gaya hidup, dan semua aspek kehidupan kita selama tahun sebelumnya.

Introspeksi diri adalah kunci utama dalam kehidupan. Dengan merenungkan diri kita, kita dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan kita di masa lalu, melakukan perbaikan hari ini, dan merencanakan masa depan.

Melalui introspeksi diri, kita dapat menutupi kelemahan masa lalu dan meningkatkan kualitas diri pada hari ini dan masa depan. Hidup kita akan terus berkembang menuju arah yang benar dan lurus.

Dengan melakukan introspeksi diri, kita dapat memahami hakikat dan persoalan diri dengan jelas, menilai amal yang telah kita lakukan, dan meningkatkan kapasitas diri sebagai bekal untuk perjalanan panjang dan pasti menuju akhirat.

Introspeksi diri adalah kekayaan yang harus kita miliki, karena sangat penting dalam menjalankan kehidupan ini. Seperti yang dikatakan oleh Khalifah Umar RA,

حَاسِبُوْا أَنْفُوْسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا

Bacaan latin: Hasibu anfusakum qabla an tuhasabu.

Artinya: Hisablah, hitung-hitunglah diri kamu sebelum kamu dihisab oleh Allah SWT.

وَزِنُوْاهَا قَبْلَ أَنْ تُزَانُوْا

Bacaan latin: Wazinuha qabla an tuzanu.

Artinya: Timbang-timbang amal kamu sebelum amal kamu ditimbang oleh Allah SWT.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Mari kita bersiap untuk menghadapi hari di mana seluruh umat manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar di masa depan. Di sana, Allah akan meminta pertanggungjawaban atas segala keyakinan, iman, perkataan, dan perbuatan kita secara mendetail dan lengkap, tidak ada yang terlupakan. Apabila amal perbuatan kita baik, Allah akan memberikan balasan yang baik pula. Namun, jika amal perbuatan kita buruk, maka balasan yang diterima juga akan sesuai dengan hal tersebut.

Hadirin rahimakumullah,

Dalam kehidupan ini, ada tiga hal yang perlu kita refleksikan dan hitung-hitung, yaitu pertama, agama, yaitu Islam. Kita perlu bertanya pada diri sendiri sejauh mana pemahaman dan pengamalan kita terhadap ajaran agama ini. Sejauh mana kita menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, yang merupakan sumber utama ajaran agama?

Hadirin rahimakumullah,

Tentang masalah agama ini, kita harus selalu menghidupkan semangat belajar dalam diri. Karena agama Islam adalah ilmu, dan ilmu tidak akan kita peroleh kecuali dengan proses belajar dan mempelajarinya. Para ulama telah merumuskan ilmu agama Islam dengan cara yang sangat ilmiah, rinci, dan sistematis, sehingga memudahkan kita untuk memahami dan mengamalkannya. Secara keseluruhan, ilmu agama yang harus dipelajari dan diamalkan mencakup iman, akidah, ibadah, akhlak, muamalah, masalah keluarga, dan syariah.

Hadirin yang dirahmati Allah SWT,

Selanjutnya, terkait dengan urusan dunia, terdapat tiga hal yang perlu kita pertimbangkan.

Pertama, bagaimana cara kita menghadapi kehidupan dunia ini? Apakah kita mencintainya dengan berlebihan dan menjadikannya sebagai tujuan utama dalam hidup? Ataukah kita menganggap berbagai fasilitas dunia, seperti uang, rumah, dan kendaraan, hanya sebagai sarana untuk menjalani kehidupan, sementara cinta kita pada Allah SWT dan rasul-Nya lebih utama? Ingatlah, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa menghindari keserakahan terhadap dunia adalah kunci mendapatkan cinta Allah.

Kedua, perhatikan dari mana asal usul semua harta yang kita miliki. Apakah harta yang kita peroleh benar-benar berasal dari sumber yang halal, tidak dicampuri dengan yang haram seperti riba, penipuan, pencurian, atau hal-hal yang diragukan (syubhat)? Karena harta yang haram dan syubhat dapat menyebabkan hati menjadi sakit dan doa-doa kita tidak akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Akibatnya, keberkahan hidup kita di dunia akan hilang, dan di akhirat nanti kita akan menghadapi hukuman dari Allah SWT. Oleh karena itu, Allah SWT dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk mengonsumsi, menggunakan, dan memanfaatkan harta dari sumber yang halal dan yang telah diizinkan oleh-Nya.

Ketiga, bagaimana kita menggunakan dan memanfaatkan harta yang Allah SWT anugerahkan kepada kita? Meskipun harta yang kita peroleh berasal dari cara yang halal dan jenisnya pun halal, bukan berarti kita bisa menggunakannya secara sembarangan. Islam mengatur sistem pengeluaran, distribusi, dan pemanfaatan harta. Sebenarnya, harta yang Allah SWT titipkan kepada kita adalah modal untuk tujuan akhirat.

Oleh karena itu, Allah SWT mendorong kita untuk membelanjakan harta-Nya di jalan-Nya setelah memenuhi kewajiban-kewajiban yang ada, seperti zakat, nafkah, infak, sedekah, wasiat, dan sejenisnya. Dengan cara ini, harta yang Allah anugerahkan dapat bermanfaat bagi kepentingan akhirat.

Hadirin rahimakumullah,

Selanjutnya, masalah akhirat yang akan menjadi tempat tinggal kita selamanya. Terkait dengan hal ini, hanya ada dua kata kunci: ikhlaskan niat kita hanya karena Allah SWT dalam segala ucapan dan amal yang saleh, sebanyak mungkin yang kita bisa lakukan.

Oleh karena itu, hidup kita harus berfokus pada akhirat dan tidak boleh lebih mencintai dunia daripada akhirat, karena dunia akan musnah, termasuk jasad kita sendiri, sementara akhirat adalah keabadian yang abadi. Selain itu, jadikanlah kesuksesan di akhirat sebagai standar utama kesuksesan yang sejati.

Allah SWT berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (آل عمران : 185)

Artinya: “Semua yang bernyawa pasti mati. Nanti pada hari kiamat (akhirat) akan disempurnakan pahala kalian. Siapa yang dijauhkan (pada hari itu) dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dialah yang sukses. Dan tidak adalah kehidupan dunia ini melainkan kenikmatan yang menipu.” (QS Ali-Imran: 185)

Hadirin yang diberkahi Allah SWT,

Mari kita bersyukur atas nikmat umur yang telah diberikan Allah kepada kita, sehingga kita bisa menghirup udara segar di bulan Muharram 1445 Hijriah tahun ini. Mari kita lakukan introspeksi diri (muhasabatun nafsi).

Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk meningkatkan kualitas dalam agama, dunia, dan akhirat di tahun 1445 Hijriyah ini, dan semoga hidup kita pada tahun ini menjadi lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Aamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Demikian contoh khutbah Jumat bulan Muharram ketika memasuki tahun baru Islam. Semoga bermanfaat.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Muharram



Jakarta

Bulan Muharram adalah salah satu bulan suci yang dianggap sakral oleh umat Islam. Selama bulan tersebut, umat Islam diperintahkan untuk memperbanyak ibadah demi mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam bulan Muharram ini penulis fokus akan hikmah pada bulan Muharram:

1. Merupakan bulan yang suci. Tentu bagi umat Islam bulan yang penting untuk memperbanyak ibadah seperti: Menjalankan puasa pada tanggal 9 Muharram (puasa Tasua) dan puasa pada tanggal 10 Muharram (puasa Asyura). Puasa Ini dituntun oleh Rasulullah SAW dalam riwayat yang disampaikan Ibnu Abbas, “Artinya: Pada waktu Rasulullah SAW. dan para sahabatnya mengerjakan puasa Asyura, para sahabat menginformasikan kepada Nabi SAW bahwa hari Asyura diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Nabi bersabda: Tahun depan insyaallah kami akan berpuasa juga pada hari kesembilan. Kata Ibnu Abbas, akan tetapi sebelum mencapai tahun depan, Rasulullah SAW wafat (HR Muslim).


Dengan demikian, kita melakukan puasa Asyura dengan menambah satu hari sebelumnya yaitu hari Tasua, atau tanggal 9 di bulan Muharram. Kita disunahkan berpuasa selama 2 hari, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram. Setelah berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram dilanjutkan dengan memperbanyak sedekah. Dalam menyambut bulan Muharram diperintahkan agar memperbanyak pengeluran dari belanja kita sehari-hari untuk bersedekah, membantu anak-anak yatim, membantu keluarga, kaum kerabat, orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan. Semua itu hendaknya dilakukan dengan tidak memberatkan diri sendiri dan disertai keikhlasan semata-mata mengharap keridhaan Allah SWT. Mengenai hal ini Rasulullah bersabda:”Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarganya atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya. (HR Baihaqi).

2. Beberapa peristiwa penting terjadi pada hari Asyura. Bertaubatnya Nabi Adam AS setelah melanggar atas larangan-Nya dengan makan buah khuldi. Berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS, kapal Nabi Nuh berlabuh di bukit Zuhdi setelah melalui banjir bandang yang melanda saat itu. Ini juga menjadi penanda Nabi Nuh dan pengikutnya yang masih beriman selamat dari banjir bandang yang menghanyutkan hingga membinasakan banyak makhluk. Nabi Musa AS selamat dari serangan Firaun, di tanggal ini, Nabi Musa dan kaum Bani Israil selamat dari serangan kerajaan Firaun di Laut Merah.

Penulis mengambil pada peristiwa yang menimpa ketiga Nabi dan mencoba mengambil hikmah dari kejadian itu. Peristiwa Nabi Adam AS menunjukkan bahwa Allah SWT Maha Kuasa sebagai Sang Pencipta, Nabi Adam AS terlahir dan diberikan aturan, namun dilanggar sehingga diturunkan ke bumi. Saat itu Nabi Adam AS menyadari kesalahannya dan bertaubat, maka Allah SWT Maha Pengampun telah memberinya pengampunan.

Adapun peristiwa Nabi Nuh AS, Allah SWT menunjukkan padanya tentang kepatuhan dan keimanan. Saat Nabi Nuh AS mengajak anak dan istrinya bergabung dalam perahunya, keduanya menolak. Singkat cerita perahu dan penumpangnya selamat yang berlabuh di bukit Zuhdi dan anak serta istrinya tidak selamat. Mereka tidak patuh pada Nabi Nuh AS juga tidak beriman pada Allah SWT. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Hujurat ayat 15 yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.”

Peristiwa yang menimpa Nabi MusaAS dan umatnya kaum Bani Israil selamat dari pengejaran Firaun di Laut Merah. Beliau dan umatnya yang berjumlah sekitar lima ratus ribu orang selamat memasuki Gurun Sinai untuk kembali ke tanah leluhur mereka.

Dalam peristiwa itu Allah SWT telah menunjukkan kekuasaan-Nya pada seseorang berkuasa (Firaun) dan mengaku Tuhan, “Siapa yang lebih berkuasa, engkau apa Aku?” Ternyata saat ajal hampir mendatangi Firaun ada pengakuan diri kalau Allah SWT itu yang Maha Kuasa.

3. Muhasabah. Muhasabah atau introspeksi diri ini sangat penting dalam kehidupan seorang yang beriman. Dalam introspeksi ada unsur untuk menjadi sosok pembelajar, artinya selalu mengikuti perkembangan zaman. Unsur kedua, selalu berikhtiar untuk menjadi sosok unggul di masa depan dan yang terakhir adalah unsur untuk menjadi sosok yang berprestasi. Jika ketiga unsur ini sudah ‘mendarah daging’ dalam setiap muhasabah, Insya Allah kaum beriman akan mengisi kehidupan ini sebagai pelopor peradaban.

Sebagaimana firman-Nya yang mempertegas agar kita berikhtiar dalam surah al-Ankabut ayat 17 yang artinya, “Maka carilah rezeki di sisi Allah, kemudian beribadah dan bersyukurlah kepada Allah. Hanya kepada Allah kamu akan dikembalikan.” Kemudian dipertegas untuk setiap muslim menjadi orang berprestasi dengan firman-Nya surah al-Zalzalah ayat 7-8 yang artinya, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Dalam rekayasa bisnis selalu ada unsur evaluasi. Tujuan yang telah ditetapkan dan direncanakan, kemudian dilaksanakan. Hasil pelaksanaan ini akan dilakukan evaluasi, jika ada kelemahan dalam tujuan maka arah bisnis diubah dan jika ada kelemahan dalam eksekusi maka fungsi manajerial diperbaiki.

Muhasabah ini juga sangat penting bagi para pemimpin, apakah bupati, gubernur maupun presiden. Makin sering melakukan muhasabah dalam periode tertentu maka makin kecil penyimpangannya dari yang direncakan. Para pemimpin sering memberikan janji (saat sebelum terpilih) maka setelah amanah diperoleh merupakan saat merealisasikan, maka muhasabah akan membantu untuk mendekati yang dijanjikan.

Ya Allah, Engkau Maha Pemberi penerangan, bimbinglah kami semua dalam mengisi kehidupan tahun ini yang penuh dengan cobaan, akan menjadi lebih baik. Semoga Engkau berikan keberkahan pada kami semua di tahun 1445 H.

(nwk/nwk)



Sumber : www.detik.com

Khutbah Jumat 10 Muharram: Sejarah Anjuran Puasa Asyura



Jakarta

Salat Jumat pekan ini, 28 Juli 2023, bertepatan dengan hari Asyura. Dengan momentum tersebut, berikut adalah contoh khutbah Jumat mengenai keutamaan bulan Muharram dan sejarah anjuran puasa Asyura yang dapat dijadikan referensi oleh khatib.

Dalam sebuah hadits disebutkan, puasa pada bulan Muharram adalah puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan. Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

أَفْضَلُ الصَّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَريضَةِ صَلَاةُ اللَّيْل


Artinya: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam.” (HR Muslim dalam Shahih-nya bab Fadhlu Shaum Al-Muharram)

Mengutip buku Khutbah Jumat Sepanjang Tahun yang disusun oleh Muhammad Khatib, Kamis (27/7/2023), berikut naskah khutbah Jumat 10 Muharram tentang Sejarah Anjuran Puasa Asyura.

Teks Khutbah Jumat 10 Muharram: Sejarah Anjuran Puasa Asyura

Khutbah 1

الحمدُ لِلَّهِ الذِي جَعَلَ الْأَعْيَادَ بِالْإِفْرَاحِ وَالسُّرُورِ وَاضَاعَفَ لِلْمُتَّقِينَ جَزِيلَ الْأُجُورِ وَكَمِلُ الصِّيَافَة والصّلة للأرْحَامِ بِسَفِيهم المَسْكُورِ، فَسَبْحَانَ مَنْ أَحَلَّ الفطور احْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ الهُ اعادَ الأَعْيَادَ وَأَدْخِرُهَا بِكُلِّ عَمَلٍ مَبْرُورٍ و واطال الأَجَالَ إِلَيْهَا لِيَنَالُوا بِفَضْلِهَا الْجَزَاء الْمُوفُورِ اشهد ان لا اله الا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ العفو الْغَفُورُ وَاشهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ المشهور صَلَّى اللهُ عَلَى سَيّدِنَا مُحَمدٍ وَعَلَى اللِه وَاصْحَابِ الذِينَ كَانُوا يَرْجُونَ تِجَارَةً لَن تَبُورًا امَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَا الْإِخْوَانُ الْكِرَامِ أَوصِيكُمْ وَايَّايَ تَقْوَى اللَّهِ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مسلمون .

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan yang penuh berkah ini saya berpesan, khususnya pada saya pribadi dan umum pada jamaah. Marilah kita semua berupaya meningkatkan takwa kepada Allah SWT, dengan cara mengerjakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa merupakan alasan kita hidup di dunia, sekaligus tujuan dalam rangka meraih surga serta ridha Allah. Tepatlah kiranya, bila kita selalu diingatkan agar selalu meningkatkan takwa.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Tidak terasa saat ini kita memasuki bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Muharram merupakan bulan yang dimuliakan Allah SWT.

ان عدة الشهورِ عِندَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًافي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَواتِ وَالْأَرْضَ مِنهااربعة حرم

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,” (QS. At-Taubah: 36)

Di antara dua belas bulan dalam kalender Hijriah, ada empat bulan yang disebut “Asyhurul Hurum” (bulan yang haram), yaitu bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab. Bulan-bulan ini memiliki kemuliaan. Di antaranya Allah mengharamkan umat Islam untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang (membunuh dan berperang). Kecuali diserang oleh orang-orang kafir.

Imam At-Thabari menafsirkan ayat di atas dengan riwayat Ibnu Abbas RA: “Allah menjadikan bulan-bulan ini sebagai bulan suci dan mengagungkan kemuliaannya. Barang siapa yang berbuat dosa pada bulan ini, maka balasannya menjadi lebih besar, dan barang siapa yang beramal saleh pada bulan ini, maka pahalanya juga lebih besar.”

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Disebut bulan mulia karena bulan ini disebut “syahrullah” (bulan Allah), Rasulullah SAW bersabda,

أفضل الصيام بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ المُحَرَّمُ وأفضلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ.

Artinya: “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam”. (HR. Muslim)

Hadits ini mengindikasikan adanya keutamaan khusus yang dimiliki bulan Muharram, karena penamaannya disandarkan kepada lafzhul Jalalah (lafazh Allah). Para ulama menerangkan: Ketika makhluk disandarkan pada lafzhul Jalalah, itu pertanda ada pemuliaan pada makhluk tersebut, sebagaimana istilah Baitullah (rumah Allah) bagi masjid, atau lebih khusus Ka’bah dan naqatullah (unta Allah) istilah agi unta Nabi Saleh dan lain sebagainya.

Keutamaan bulan Muharram tidak disangsikan lagi. Namun, keutamaan itu tidak berarti bila tidak diisi dengan berbagai amalan-amalan ibadah yang berbobot, sehingga keutamaan itu benar-benar bernilai, baik secara individual maupun sosial.

Di antara ibadah yang paling dianjurkan adalah berpuasa. Amalan ini didasarkan pada beberapa hadits, di antaranya sabda Nabi: “Aku berharap pada Allah dengan berpuasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah.” Akhirnya Nabi SAW menjawab, “Kami (kaum Muslimin) lebih layak menghormati Musa daripada kalian.” Kemudian, Nabi SAW berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. (HR. Bukhari).

Dikisahkan bahwa Aisyah RA mengatakan, “Ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. Tapi ketika puasa bulan Ramadan menjadi puasa wajib, dan kewajiban puasa pada hari Asyura dihilangkan. Umat Islam boleh berpuasa pada hari itu jika dia mau, atau boleh juga tidak berpuasa jika ia mau.

Puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, yaitu sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10, dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal 9 dan 10 atau 10 dan 11. Ketiga, puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah memerintahkan untuk puasa pada hari Asyura, para sahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: ‘Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR Muslim)

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah

Mengingat besarnya pahala yang diberikan oleh Allah melebihi bulan lainnya, hendaknya kita tidak hanya berpuasa sunnah, tapi juga memperbanyak amalan-amalan ketaatan kepada Allah pada bulan Muharram ini, dengan membaca Al-Qur’an, berdzikir, shadaqah, puasa, dan lainnya.

Selain memperbanyak amalan ketaatan, jangan lupa berusaha menjauhi maksiat kepada Allah, sebab dosa pada bulan Muharram lebih besar dibanding dosa-dosa di bulan lain. Ibnu Qatadah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kedzaliman pada bulan Muharram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kedzaliman yang dilakukan di luar bulan Muharram.

Demikianlah khotbah yang bisa sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik, sehingga kita dapat tetap teguh memegang kebenaran, bersegera memperbaiki diri, dan menjauhi perbuatan maksiat yang bisa menodai hati kita. Amin…

بارك الله لي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُم بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيمِ وتقبل مني وَمِنكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العليم . أقولُ قَوْلِي هَذَا وَ اسْتَغْفِرُ اللهَ العظيم لي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَ المُسلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Mengatur



Jakarta

Kita buka dengan firman-Nya dalam surah al-Qashash ayat 68 yang berbunyi, “Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

Tuhanmu menciptakan sesuatu yang dikehendaki untuk diciptakan dan menentukan sesuatu yang dikehendaki untuk ditentukan (dalam hal ini adalah penegasan bahwa kebebasan menciptakan dan menentukan itu milik Allah SWT). Penentuan itu tidak dengan menyeleksi sebagian sesuatu dan menyisakan sisanya kepada seorang ciptaan, melainkan dikembalikan kepada Allah SWT. Maha Suci Allah dari pertentangan seseorang tentang ketentuan-Nya dan Maha Agung serta Maha Suci dari perbuatan syirik mereka. Kewenangan pengaturan terhadap kehidupan manusia oleh-Nya.

Tidak ada kewenangan sedikit pun ada pada manusia. Penegasan atas ketidakadaan wewenang ada pada surah an-Najm ayat 24-25 yang berbunyi, “Atau apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? (tidak!) Maka milik Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. “


Manusia yang diciptakan “istimewa” dari makhluk lain, menjadikan seseorang bisa meraih kehormatan dalam pangkat dan jabatan, harta maupun kepandaian. Tatkala seseorang mencapai tingkatan yang dianggap paripurna (dunia) seperti kaya raya, pimpinan suatu negara, bergelar akademik tertinggi, jika tidak berhati-hati dalam menjalankan kehidupan bisa menjadikan tergelincir. Kewenangan pimpinan suatu negara tentu sangat luas, dan kadangkala bisa berkawan dengan setan, maka jadilah pemimpin yang zalim. Sama halnya akan terjadi pada pengusaha yang kaya raya dan orang berpendidikan dalam tingkatan dan bentuk yang berbeda, maka bersikap tawaduk-lah akan menyelamatkan diri.

Ketahuilah bahwa Allah SWT menghendaki untuk menjadikan seorang hamba kuat menghadapi ketentuan-Nya, maka ia akan dihiasi oleh pancaran cahaya dari sifat-Nya. Saat takdir turun padanya dan cahaya Tuhan sampai padanya, maka ia akan menggantungkan diri pada-Nya bukan bersandar pada diri sendiri, sehingga ia kuat menanggung beban dan bersabar setiap ada kesulitan. Ia sadar bahwa kesulitan pun datangnya dari-Nya, sehingga ia rida atas apapun yang datangnya dari-Nya.

Di sini seseorang tersebut tidak ada rasa kebanggaan terhadap dirinya meskipun sejatinya dia hebat, karena kesadarannya dan kehebatannya merupakan pemberian-Nya. Ketika hati mencapai kelapangan, maka Allah Swt. akan menambahkan dengan limpahan anugerah dari sisi-Nya. Para ulama memberikan nasihatnya, “Barang siapa mempersiapkan diri akan menerima kucuran anugerah.” Nantinya akan diikuti sinyal-sinyal spiritual yang datang sesuai dengan kadar kesiapan hati masing-masing.

Oleh karena itu capaian seseorang hamba hendaknya bukan untuk menunjukkan “kehebatannya” namun gunakanlah sebagai wasilah menuju bekal akhirat. Berbangga pada hal-hal yang bersifat fana, merupakan tindakan sia-sia. Bangga atas harta kekayaan dengan banyaknya super car dalam garasinya, pergi dan pulang dengan private jet, kekuasaan yang kuat dan lain sebagainya, ini hanyalah pemuas nafsu syahwat dan lupa seakan menukar yang kekal pada yang sementara. Tontonan kekayaan seakan menunjukkan lembaga-lembaga anti rasuah kurang berani berbuat.

Kembali pada firman-Nya di atas, bahwa semua pengaturan kehidupan dunia dan akhirat hanya Allah SWT tidaklah etis jika seorang hamba yang menguasai aset besar dan mempunyai kekuatan besar ikut dalam pengaturan-Nya. Ikhtiar menjadi niscaya namun bukan ikut mengatur. Sebagian pihak sering kita dengar dengan semangat dan yakin bahwa seseorang ini pasti menang dalam kontestasi pilkada dengan segala strategi yang diterapkan, seakan lupa bahwa takdir bukan menjadi wewenangnya.

Sekali lagi ingatlah bahwa penggalan surah an-Najm ayat 24-25, “Maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.” Maksudnya jelas kalau kehidupan dunia dan akhirat milik Allah SWT sedangkan manusia tidak memiliki hak apapun atas keduanya, maka selayaknya manusia (siapapun dia) tidak ikut campur dalam hal yang bukan miliknya.

Rasulullah SAW bersabda, “Niscaya merasakan kelezatan iman, orang yang ridha menjadikan Allah SWT sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta Muhammad SAW sebagai Rasulnya.” (HR Muslim)

Semoga Allah SWT memberikan hidayah, rahmat dari sisi-Nya agar kita (apapun posisinya) tidak ikut mengatur yang menjadi kewenangan-Nya.

**

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI (Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih – Redaksi)

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Watak



Jakarta

Allah SWT. telah memberikan watak pada hamba-Nya untuk mengedepankan tujuan paling utama lalu yang lebih utama, mencari yang paling penting lalu yang lebih penting, menolak bahaya paling besar dari bahaya yang lebih kecil.

Anugerah watak demikian dari Sang Pencipta merupakan pemberian kelengkapan untuk menjalankan kehidupan. Maka ia tidak akan mendahulukan yang biasa daripada yang utama kecuali orang gagap / lalai dan tidak mengerti tingkatan keutamaan. Dalam bahasa manajemen kekinian adalah seseorang telah meletakkan skala prioritas dalam bertindak / perbuatan.

Banyak fakta dalam kehidupan kita seperti : sebagian orang yang menyibukkan diri dengan dunia, maka ia menjadi bodoh terhadap kemuliaan akhirat. Yang benar adalah isilah kehidupan duniamu dengan hal-hal yang menjadi bekal kehidupan akhiratmu. Maka janganlah kita mendahulukan dunia dari akhirat, mendahulukan yang biasa dari yang utama, mendekati hal-hal yang hina dan menjauhi hal-hal yang utama.


Oleh sebab itu, hendaknya kita hindari menjadi orang yang bodoh tentang hukum ( Al-Qur’an ), karena menjadikan seseorang melakukan dosa, makan yang haram dan menzalimi sesama serta mengabaikan shalat dan puasa. Ada juga yang bodoh tentang rendahnya dunia, membuat ia cenderung pada dunia. Bodoh tentang nilai akhirat, membuat seseorang akan mengutamakan dunia daripada akhirat. Bodoh tentang hari-hari Allah SWT. akan menjadikan kelalaian dan ketertipuan.

Watak dapat disebut karakter. Adapun beberapa karakter orang beriman adalah:

1. Rendah hati. Hamba yang dicintai Allah Subhanahu wa ta’ala adalah kaum beriman yang berkarakter tawadhu’, beradab, tenang dalam bersikap, dan tetap bermartabat di tengah kehidupan sosial. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Furqan ayat 63 yang artinya, “Adapun hamba-hamba Dzat Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” Adapun makna ayat ini adalah : Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih yang shalih berjalan di muka bumi dengan tenang dan penuh kerendahan hati. Apabila orang-orang jahil lagi bodoh menyapa mereka dengan melancarkan gangguan, mereka menjawab orang-orang itu dengan ucapan yang baik-baik, dan membalas omongan mereka dengan ucapan-ucapan yang di dalamnya tidak terkandung unsur dosa dan tidak merespon orang jahil dengan tindakan jahilnya. Sikap ini menjadi dasar bagi seorang pemimpin sehingga ia menjadi bagian dari masyarakat. Kondisi ini memungkinkan ia ( pemimpin ) dapat menyerap aspirasi rakyatnya dengan baik.

2. Semangat dalam shalat malam. Kekasih Allah Subhanahu wa ta’ala sangat paham kenapa mereka tidak ingin meninggalkan salat malam. Ada banyak sekali keutamaan shalat malam dalam al-Quran dan hadis shahih. Sebagaimana dalam firman-Nya pada surah al-Furqan ayat 64 yang artinya, “Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.” Keutamaan shalat malam adalah Pertama, shalat malam merupakan shalat yang paling utama setelah shalat maktubah (lima waktu).Sabda Rasulullah SAW. Artinya, ” Puasa yang utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram. Sebaiknya shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam ( HR. Muslim ). Kedua, keutamaan shalat malam jika dibanding dengan shalat siang itu seperti keutamaan sedekah yang dilakukan secara sirr (rahasia) dibanding sedekah yang dilaksanakan secara terang-terangan di depan publik. Selisih perbandingan antara keduanya adalah 70 kali lipat.Ketiga, shalat malam merupakan ciri orang shalih. Keempat, Allah SWT. membanggakan orang yang shalat malam pada malaikat dan kelima, do’anya dikabulkan Allah SWT.

3. Semangat berinfak. Berinfak dan bersedekah justru akan membuat rezeki semakin berlimpah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT. dalam surah al-Baqarah ayat 261. Di dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa orang yang berinfaq selayaknya orang yang menanam sebutir biji dan dia akan memanen tujuh kali lipat dari yang ditanamnya.

Ketiga karakter dasar manusia yang beriman ini jika dipelihara ( dijaga agar tidak terkontaminasi ), maka output perbuatannya akan bermanfaat bagi sesama yang ada di dalam lingkungannya. Akan berbeda jika karakter dasar orang beriman ini memperoleh amanah sebagai pemimpin, maka akan membuahkan kebaikan dalam sekali yang besar. Oleh karena itu dalam pesta demokrasi awal tahun depan ( Februari 2024 ), pilihlah para pemimpin maupun wakil rakyat yang bersifat rendah hati, senang ibadah pada malam hari dan tidak kikir/bakhil.

Ya Allah, kami mohon hadirkanlah negeri ini dengan pemimpin yang mempunyai karakter dasar orang beriman, hingga mencapai negeri yang harmonis dan berkemampuan.

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Begini Cara Nabi dan Para Sahabat Salat Sembunyi-sembunyi



Jakarta

Rasulullah SAW harus melewati berbagai rintangan dalam menyebarkan ajaran Islam. Terutama pada tahun-tahun pertama kenabian yang mengharuskan beliau dakwah secara sembunyi-sembunyi.

Jika tiba waktu salat, Nabi SAW dan para sahabat pergi ke tempat yang terpencil lalu secara sembunyi-sembunyi mengerjakan salat.

Begitu kata Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah-nya. Ia menyebut, hal tersebut dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat agar tidak dilihat kaumnya.


Diceritakan, suatu ketika Abu Thalib–paman Nabi–melihat Rasulullah SAW mengerjakan salat bersama Ali RA. Abu Thalib lantas menanyakan perihal salat itu. Setelah mendapat penjelasan yang cukup memuaskan, Abu Thalib menyuruh Rasulullah SAW dan Ali RA agar menguatkan hati.

Perintah salat termasuk wahyu yang pertama-tama turun, sebagaimana dikatakan dalam Sirah Nabawiyah karya Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri. Muqatil bin Sulaiman mengatakan, pada awal-awal Islam, Allah SWT mewajibkan salat dua rakaat pada pagi hari dan dua rakaat saat petang. Hal ini bersandar pada firman Allah SWT,

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَارِ

Artinya:”…dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi!” (QS Al Mu’min: 55)

Menurut pendapat Ibnu Hajar, Rasulullah SAW sudah pernah salat sebelum peristiwa Isra. Begitu juga para sahabat. Namun, ada perbedaan pendapat terkait adakah salat yang diwajibkan sebelum turunnya kewajiban salat lima waktu.

Ada yang berpendapat bahwa salat yang diwajibkan pada waktu itu adalah salat sebelum matahari terbit dan sebelum terbenamnya matahari.

Selain kewajiban salat, wudhu juga termasuk kewajiban yang pertama diturunkan. Dalam Mukhtashar Siratil-Rasul terdapat riwayat Al-Harits bin Usamah dari jalur Ibnu Luhai’ah secara maushul dari Zaid bin Haritsah yang menyebut bahwa pada awal-awal turunnya, malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW dan mengajarkan wudhu kepada beliau.

Setelah wudhu, beliau mengambil seciduk air lalu memercikkan ke kemaluannya. Ibnu Majah juga meriwayatkan hadits serupa.

Dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah dikatakan, Rasulullah SAW menjalankan dakwah secara sembunyi-sembunyi selama tiga tahun. Beliau menemui satu per satu kerabat dan sahabatnya untuk memperkenalkan Islam dan mengajaknya memeluk Islam.

(kri/rah)



Sumber : www.detik.com

Godaan



Jakarta

Dikisahkan bahwa Zaid ibn Arqam berkata, “Suatu saat, aku menemani Abu Bakar r.a. dan ketika ia meminta minum, seseorang membawakan air dan susu. Saat gelas didekatkan pada mulutnya, Abu Bakar menangis hingga para sahabat yang hadir pun menangis. Ketika para sahabat diam, Abu Bakar masih menangis. Ia terus menangis hingga para sahabat mengira bahwa sesuatu yang buruk terjadi, tetapi mereka tidak kuasa bertanya. Saat tangisannya reda dan ia mengusap kedua matanya, para sahabatnya bertanya, “Wahai Khalifah Rasulullah, apa yang membuat Tuan menangis?” Abu Bakar menjawab, “Aku pernah bersama Rasulullah Saw. lalu aku melihat beliau melindungi dirinya dari sesuatu, padahal aku tidak melihat ada orang lain di sana. Maka, aku bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa Baginda seperti melindungi diri dari sesuatu?” Rasulullah Saw. menjawab, “Dunia ini menjelma kepadaku dan aku berkata padanya, “Tinggalkanlah aku.” Namun, dunia datang lagi dan berkata, “Meskipun engkau selamat dan lepas dariku, tetapi orang yang setelahmu tidak akan lepas dariku.”

Dari kisah ini kita bisa mencermati dan menemukan maknanya yaitu, adanya kekhawatiran setingkat sahabat yang sebagai Amirul Mukminin terhadap ” dunia.” Karena dunia selalu menarik dengan pesona dan godaan kenikmatannya. Penulis bersenandung :

Gemerlapnya dunia, semua hamba mengakuinya.
Lezatnya jabatan dan pangkat jadikan kau lupa pada dirimu sendiri.
Hakikatmu melayang dengan kendaraan syahwat.
Tujuanmu kelewat, laksana ketiduran dalam bis.
Sulit dan sulit, tiada dokter yg mampu memberi obat.
Ketika hawa nafsu sudah bersarang di kalbumu.
Hanya bisa diobati, dengan mengusirnya.
Tunjukkan rasa takutmu yang menggetarkan, dengan mengingat hari akhir.
Tumbuhkan rasa rindumu yang menggelisahkan, dengan mengingat ayat-ayat-Nya.
Dunia memang diciptakan untukmu, namun engkau diciptakan untuk akhirat.
Taqwa dan tawakal kendaraanmu menuju Sang Pencipta.


Dunia memang menggoda, jika iman lemah dunia akan menjadi tujuanmu, akan berbeda bagi yang beriman. Jika tujuanmu dunia, engkau dapatkan dunia tiada akhirat, sebaliknya jika tujuan akhirat maka keduanya engkau dapatkan. Dunia merupakan musuh Allah Swt. karena ia mencegah jalan para kekasih-Nya. Ada penyair bersenandung :

Ketika orang pintar diuji dengan hadirnya dunia, ia melihatnya sebagai musuh berbaju teman dekat.

Dalam syair di atas memperjelas bahwa kehadiran dunia sangat dekat dengan kita sehingga tindakan hati-hati dalam memperlakukan dunia menjadi keniscayaan. Dunia menjadi musuh, saat ia mendominasi hati dan perbuatan seseorang dan melupakan hak-hak Allah Swt.

Amirul Mukminin Ali ibn Abu Thalib berkata dalam surat yang dikirimkan pada Salman al-Farisi, “Dunia itu bagaikan ular yang terasa lembut ketika disentuh tetapi racunnya akan membunuhmu. Maka, berpalinglah dari segala yang membuatmu kagum kepada dunia, karena sedikit sekali sisi dunia yang menyertaimu. Tanggalkan hasratmu terhadap dunia dan gantikan dengan sesuatu yang lebih abadi. Jadilah orang yang paling bahagia di dunia, seraya tetap mewaspadai tipuan dan perdayanya. Sebab, para pemilik dunia akan diliputi rasa senang hingga keadaan menendangnya ke dalam kehinaan dan kesengsaraan. Wassalam.” Surat Amirul Mukminin ini sesuai dengan firman-Nya dalam surah Ali Imran ayat 14 yang berbunyi, “Dijadikan indah pada ( pandangan ) manusia cinta kepada apa-apa yang dihasratkan, yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak berupa emas, perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup dunia.”

Surat Amirul Mukminin Ali ibn Abu Thalib dan ayat diatas, jelas sekali menunjukkan begitu besarnya godaan dunia terhadap perjalanan seseorang dengan tujuan akhirat. Maka harus selalu ingat do’a dari Syekh Abu Abbas al-Mursi r.a. ” Ya Allah, tundukkan urusan rezeki ini untukku, jagalah aku dari keranjingan dan kepayahan dalam mencari rezeki. Juga lindungilah aku dari kesibukan hati memikirkan rezeki dan kecemasan hati padanya, dari menghinakan diri kepada makhluk demi rezeki, dari berpikir dan mengatur dalam menghasilkannya, dan dari kekikiran, kebakhilan setelah memperolehnya.”

Dari do’a ini terdapat tiga periode penting yang pertama, saat Allah Swt belum memberinya rezeki. Kedua, kondisi setelah usaha membuahkan hasil dan ketiga, kondisi setelah selesai dengan urusan rezeki. Kondisi pertama, jika seseorang keranjingan mencari rezeki dan sampai meninggalkan kewajibannya maka bisa dikatakan ia telah kehilangan kepercayaan dan lemahnya keyakinan. Ingatlah jika jasmani yang mencari rezeki sudah dikuasai perasaan susah payah, maka dirinya akan dipalingkan dari menjalankan perintah Allah Swt. Ketenangan di hati dalam urusan rezeki hanya dengan bertawakal kepada-Nya. ” Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan ( keperluan )nya.” ( QS. ath-Thalaq ayat 3 ).

Saat kondisi kedua setelah mendapatkan hasil, maka sadarilah bahwa rezeki itu atas pemberian-Nya, maka janganlah bersombong keberhasilan itu atas usahamu. Sedangkan setelah selesai dengan urusan rezeki, maka hindarilah menjadi bakhil/ kikir karena rezekimu itu ada bagian untuk orang lain. Jadi menumpuk harta kekayaan atas hasil yang dibolehkan pun tiada guna kalau hanya sekedar berlandaskan nafsu tanpa dibelanjakan seperti yang dituntun-Nya. Apalagi saat ini sebagian kalangan pada berlomba dengan memamerkan kekayaan dari hasil yang tidak diperbolehkan ( hasil suap dan lainnya ). Memang disadari bahwa kekuasaan itu cenderung yang memegangnya untuk berbuat korupsi. Lain halnya seorang beriman yang menggunakan kekuasaan sebagai wasilah untuk bekal akhirat. Semoga Allah Swt. selalu memberikan ampunan saat kita terlena dan segera menyesali untuk memperbaikinya serta membimbing untuk menjalankan kewajibannya.

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Hukum Menafkahi Kedua Orang Tua Bagi Anak yang Sudah Berkeluarga



Jakarta

Dalam agama Islam konsep nafkah dalam keluarga memiliki arti penting. Terdapat beberapa ayat al-Quran dan hadis Nabi yang menjelaskan tentang pentingnya bagi seorang anak untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya, terutama saat orang tua tersebut sudah lanjut usia atau membutuhkan perawatan khusus.

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah: 33).

Memberikan perawatan kepada orang tua bisa dalam bentuk fisik, emosional, finansial dan lainnya. Selain dijelaskan dalam ajaran Islam, al-Quran, hadist dan penjelasan ulama, undang-undang di Indonesia juga mengatur tentang kewajiban anak kepada orang tua.


Imam Ar-Rofi’i, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-‘Aziz syarh al-Wajiz, juz 10 halaman 3, menjelaskan; sebab-sebab wajib nafaqah ada tiga:

1. Sebab pernikahan. Maka, suami atau bapak sebagai kepala rumah tangga berkewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya. Batasan bapak memberikan nafkah pada anaknya sampai anak masuk usia dewasa. Kadar nafkah yang wajib diberikan adakalanya bersifat pokok-pokok komoditi, seperti makanan, minuman, tempat tinggal dan kebutuhan pokok lainnya. Adapun layanan atau nafkah sifatnya kebutuhan tidak mendesak apalagi hanya bersifat aksesoris, orang tua boleh memberikan kebutuhan dan aksesoris tersebut, jika dipandang perlu dan bermanfaat untuk kepentingan anaknya.

Imam Ar-Rofi’i, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-‘Aziz syarh al-Wajiz, juz 10 halaman 3; menjelaskan sebab-sebab wajib nafaqah :
1. Sebab pernikahan. Maka suami atau bapak sebagai kepala rumah tangga berkewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya. Batasan bapak memberikan nafkah pada anaknya sampai anak masuk usia dewasa.

Kadar nafkah yang wajib diberikan adakalanya bersifat pokok-pokok komoditi, seperti makanan, minuman, tempat tinggal dan kebutuhan pokok lainya. Adapun layanan atau nafkah sifatnya kebutuhan tidak mendesak apalagi hanya bersifat aksesoris, orang tua boleh memberikannya jika dipandang perlu dan bermanfaat untuk kepentingan anaknya.

Dalam konteks keindonesian, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Dalam Pasal 26 ayat (1) UU 35/2014 menjelaskan, bahwa orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:

1. Mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak;

2. Menumbuh kembangkan
anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya;

3. Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak; serta

4. Memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada anak.

2. Budak yang dimilikinya. Maka bagi tuan atau pemilik budak berkewajiban memberikan nafkah kepada budaknya.

3. Kerabat. Pada hubungan anak dan orang tua masuk pada kewajiban nafaqah. Artinya, orang tua yang tergolong fakir, sementara anaknya punya kemampuan lebih di luar kebutuhan dan kewajibannya, maka ia wajib hukumnya memberikan nafkah kepada kedua orang tuanya.

Anak yang mampu memenuhi kebutuhan orang tuanya, meskipun ia sendiri sudah punya tanggung jawab menafkahi istri dan anaknya, maka perbuatan tersebut termasuk contoh perbuatan bakti (ihsan) bagi seorang anak kepada orang tua, dan itu hukumnya wajib.

Perintah berbakti kepada orang tua dijelaskan dalam al-Quran surah An-Nisa ayat 36,

…وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…”

Tentang pentingnya berbuat baik kepada kedua orang tua, dalam Surat lain disebutkan :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَناً إِمَّا يَبْلغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَهُمَا فلا تقل لهما أَي وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”(QS. Al-Isra’ ayat 23).

Batasan anak dapat membantu atau memenuhi kebutuhan kedua orang tua sesuai dengan batas kemampuan.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (QS. Al-Baqarah : 286)

لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖۗ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهٗ فَلْيُنْفِقْ مِمَّآ اٰتٰىهُ اللّٰهُ ۗ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا مَآ اٰتٰىهَاۗ سَيَجْعَلُ اللّٰهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُّسْرًا

“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan”. (QS. At-Talaq: 7).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan cara dalam urutan memberikan nafkah.

عَنْ جَابِرٍ أن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا ، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا ، بَيْنَ يَدَيْكَ ، وَعَنْ يَمِينِكَ ، وَعَنْ شِمَالِكَ

“Dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Mulailah (nafkah) dari dirimu, jika berlebih maka nafkah itu untuk ahlimu, jika berlebih maka nafkah berikutnya untuk kerabatmu, jika masih berlebih maka untuk orang-orang diantaramu, sebelah kananmu dan sebelah kirimu”. (HR. Muslim).

Kewajiban anak membantu kedua orang tua sesuai kemampuannya disebutkan dalam Undang-Undang Perkawinan Pasal 46 :

1. Anak wajib menghormati orang tua dan menaati kehendak mereka yang baik.

2. Jika anak telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya, orang tua dan keluarga dalam garis lurus ke atas, bila mereka itu memerlukan bantuannya.

Walhasil, dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan, bagi anak yang sudah berkeluarga, ia tetap punya kewajiban memenuhi kebutuhan kedua orang tuanya jika anak tersebut tergolong mampu, dan kedua orang tuanya tergolong membutuhkan.
Wallahu A’lamu.

Abdul Muiz Ali
Penulis adalah Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com