Tag Archives: rasulullah saw

Doa untuk Orang Sakit, Amalan Sahih dari Rasulullah SAW



Jakarta

Sakit merupakan ujian yang diberikan Allah SWT kepada umatnya. Ketika kita mendengar orang lain atau orang terdekat kita sakit tentu kita ingin mendoakan kesembuhannya. Beberapa doa untuk orang sakit dan amalan telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sejumlah hadis.

Sakit merupakan berkah yang Allah SWT berikan kepada umatnya. Hal ini terkandung dalam hadits berikut,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ


Artinya: “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa- dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun- daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sakit menggugurkan dosa-dosa pengidapnya. Selain itu, sakit juga membuat hamba Allah untuk mengingat selalu nikmat sehat yang tidak akan disadari jika tidak ada sakit. Sakit sebagai berkah juga sebaiknya harus diusahakan kesembuhannya agar tidak berlarut-larut.

Bacaan Doa untuk Orang Sakit

Dalam riwayat yang disahihkan oleh Imam Nawawi dalam buku Zikir yang Berkaitan dengan Sakit dan Mati menjelaskan bahwa Rasulullah SAW meruqyah orang yang sakit sembari membaca sebuah doa. Berikut bacaan doa untuk orang sakit yang dibaca Rasulullah SAW,

إِلَّا لَهُ كَاشِفَ لَا الشّفَاءُ، بِيَدِكَ النَّاسِ ، رَبَّ الْبَأْسَ امْسَحِأَنْتَ

Artinya: “Hapuskanlah segala penyakit, wahai Rabb semua manusia, dengan tangan (kekuasaan)Mu; tiada yang dapat menyembuhkannya kecuali hanya Engkau.”

Abu Dawud dan At-Tirmidzi juga meriwayatkan doa lain dari Rasulullah SAW untuk kesembuhan orang lain. Doa ini dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk dibacakan sebanyak tujuh kali di hadapan orang yang sakit. Berikut bacaan doanya:

أَسْأَلُ اللهَ العَظِيْمَ رَبَ العَرْشِ العَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

Artinya: “Aku memohon kepada Allah yang agung, Tuhan arasy yang megah agar menyembuhkanmu,”

Doa paling mudah untuk diingat juga telah diriwayatkan oleh Imam Muslim ketika Rasulullah SAW menjenguk Sa’ad bin Abi Waqqash. Doa ini bisa mudah kita ingat karena langsung meminta kesembuhan kepada-Nya sembari juga menyebut orang yang kita doakan agar sembuh, bunyinya,

اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا، اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا

Bacaan latin: Allāhummasyfi Sa’dan. Allāhummasyfi Sa’dan. Allāhummasyfi Sa’dan.

Artinya: “Tuhanku, sembuhkan Sa’ad. Tuhanku, sembuhkan Sa’ad. Tuhanku, sembuhkan Sa’ad,”

Doa tersebut juga dapat diaplikasikan muslim. Nama Sa’ad dalam doa di atas bisa disesuaikan dengan nama orang yang sedang sakit dan hendak didoakan.

Di samping itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan muslim yang sakit untuk memohon kesembuhan dirinya sendiri. Doa tersebut diriwayatkan di dalam Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim melalui Siti Aisyah melalui Buku Zikir yang Berkaitan dengan Sakit dan Mati oleh Imam Nawawi menyampaikan,

“Rasulullah SAW apabila sedang sakit beliau menggabungkan kedua telapak tangannya, lalu meniup keduanya dengan membacakan kedua tangannya surah Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq, dan Surah An-Nas. Kemudian, Rasulullah SAW mulai mengusapkan kedua telapak tangannya ke seluruh tubuhnya dimulai dari kepala, wajah, lalu ke bagian depan dari tubuhnya. Hal ini beliau sebanyak tiga kali.”

Hal ini dilakukan Rasulullah SAW secara mandiri ketika beliau mengidap penyakit. Siti Aisyah berkata, “Ketika beliau sakit, beliau (Rasulullah SAW) memerintahkan aku untuk melakukan hal tersebut kepada Rasulullah SAW”. Perihal perintah Rasulullah SAW kepada Siti Aisyah ini dilandasi Rasulullah SAW yang sedang mengidap penyakit berat sehingga susah baginya melakukan doa tersebut.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW membacakan ta’awudz atau doa untuk sebagian keluarganya dengan mengusapkan tangan kanannya. Bacaan doa yang dilafalkannya adalah sebagai berikut.

شفاء لا الشافي، أنتَ اهْفِ الْبَأْسَ ، أَذَهِبِ النَّاسِ رَبَّ اللَّهُمْ سَقَماً يُغَادِرُ لَا شِفَاءٌ شِفَاؤُكَ إِلَّا

Artinya: “Ya Allah, Rabb manusia (semuanya), lenyapkanlah segala penyakit; sembuhkanlah, Engkaulah Tuhan Yang menyembuhkan; tiada, kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan suatu penyakit pun.”

Beberapa doa untuk orang sakit dan amalan di atas merupakan hadis yang meriwayatkan Rasulullah SAW ketika mengalami sakit maupun mendoakan orang sakit. Semoga kebaikan serta limpahan rahmatnya juga dapat kita dapatkan sebagai umatnya di hari akhir kelak.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa Masuk Masjid Nabawi, Perhatikan saat Berkunjung



Jakarta

Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW setelah Masjid Quba ketika dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah. Masjid Nabawi menjadi tempat istimewa bagi umat muslim, bahkan ada doa ketika masuk ke dalamnya.

Terletak di Kota Madinah, Masjid Nabawi menjadi tempat bersejarah yang ditinggali Nabi Muhammad SAW ketika memimpin umat Islam selama bertahun-tahun.

M. Irawan dalam bukunya yang berjudul Keajaiban Masjid Nabawi menjelaskan bahwa di Masjid Nabawi terdapat makam Rasulullah SAW dan para sahabat-sahabat Nabi. Masjid ini juga menjadi salah satu tujuan utama para jamaah haji dan umroh untuk melakukan ibadah.


Sebelum berkunjung ke Masjid Nabawi, pahami bacaan doa masuk Masjid Nabawi dan adab yang harus dilakukan berikut.

Bacaan Doa Masuk Masjid Nabawi

Mengutip dari buku Fiqih Sunnah 3 karya Sayyid Sabiq berikut bacaan doa masuk Masjid Nabawi:

أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Latin: A’udzu billahil-‘azhimi wa bi wajhihil-karimi wa sulthanihil-qadimi min asy-syaithani ar-rajimi, bismillahi Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa alihi wa sallim. Allahumma igfir li dzunubi wa-ftah li abwaba rahmatika.

Artinya: “Hamba berlindung kepada Allah yang Maha Agung, kepada wajah-Nya yang Mulia, dan kepada kekuasaan-Nya yang Mahadahulu, dari setan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah; ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad beserta keluarga Beliau. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba dan bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu untuk hamba.”

Doa ini juga dianjurkan untuk dibaca setiap masuk masjid-masjid yang lainnya.

Adab Masuk Masjid Nabawi

Masjid Nabawi memiliki keistimewaan dari masjid-masjid lainnya sehingga ketika hendak masuk ke dalam masjid perlu memperhatikan adab-adabnya. Berikut ini adalah adab masuk Masjid Nabawi berdasarkan buku Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq karya Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi:

1. Tenang dan Tidak Tergesa-Gesa

Adab pertama ketika memasuki Masjid Nabawi yaitu usahakan dalam keadaan tenang dan tidak tergesa-gesa. Dianjurkan pula untuk memakai wewangian serta pakaian yang bagus. Kemudian masuk ke dalam masjid dengan mendahulukan kaki sebelah kanan.

2. Membaca Doa Masuk Masjid

Ketika kaki masuk ke dalam masjid, baca doa masuk Masjid Nabawi dengan bacaan yang telah disebutkan di atas.

3. Melakukan Sholat Tahiyatul Masjid

Setelah membaca doa masuk Masjid Nabawi, dianjurkan untuk datang ke Raudhah Asy-Syarif terlebih dahulu kemudian melakukan sholat tahiyatul masjid di sana dengan rasa tenang dan khusyu.

4. Menuju Makam Rasulullah SAW dan Sahabat Nabi

Setelah melakukan sholat tahiyatul masjid, bisa dilanjutkan dengan mendatangi makam Rasulullah SAW dan sahabat Nabi. Ketika sampai ke makam, hadaplah ke makam, lalu mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW.

Kemudian bergeser ke sebelah kanan dan mengucapkan salam kepada Abu Bakar As-Shiddiq RA. Selanjutnya bergeser lagi dan mengucapkan salam kepada Umar bin Khattab RA.

5. Menghadap Kiblat dan Berdoa

Setelah mengunjungi makam Rasulullah SAW dan sahabatnya, kemudian menghadap ke arah kiblat dan berdoa untuk dirinya, kekasih, saudara, dan umat Islam pada umumnya. Bagi yang berziarah, hendaknya tidak mengeraskan suara kecuali hanya sekadar dapat didengar oleh dirinya sendiri.

Tak hanya itu, tidak dianjurkan pula untuk mengusap makam dan menciumnya karena hal tersebut termasuk perbuatan yang dilarang oleh Rasulullah SAW.

Itulah bacaan doa masuk Masjid Nabawi dan adab-adab yang harus dilakukan. Dengan membaca doa dan memperhatikan adab-adab saat berkunjung di Masjid Nabawi, umat muslim insyaAllah akan mendapatkan keberkahan dan manfaat dari ibadah yang dilakukannya. Semoga artikel ini dapat menjadi manfaat bagi detikers yang berencana untuk berkunjung ke Masjid Nabawi.

(dvs/dvs)



Sumber : www.detik.com

Doa Buka Puasa 21 Ramadan dan Jadwal Hari Ini



Jakarta

Puasa Ramadan 2023 sudah memasuki hari ke-21. Berikut bacaan doa buka puasa 21 Ramadan dan jadwalnya di wilayah Jakarta, Surabaya, dan kota besar lainnya.

Membaca doa buka puasa termasuk salah satu sunnah dalam berpuasa. Hal ini disebutkan dalam sejumlah kitab hadits shahih.

Selain itu, doa orang yang berpuasa juga termasuk doa mustajab. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,


ثلاث لا ترد دعوتهم الصائم حتى يفطر والإمام العادل والمظلوم

Artinya: “Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berdoa, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzalimi.” (HR Tirmidzi)

Doa Buka Puasa Arab, Lain, dan Artinya

Ada sejumlah doa buka puasa yang dibaca oleh Rasulullah SAW. Menukil Kitab Al Adzkar karya Imam an-Nawawi berikut bacaan doa buka puasa yang shahih,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah

Artinya: “Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah.” (HR Abu Dawud dalam Kitab Sunan Abu Dawud)

Selain itu, Imam an-Nawawi juga meriwayatkan doa buka puasa dalam Kitab Ibnu Sunni, dari Ibnu Abbas RA, “Jika Rasulullah SAW berbuka puasa beliau membaca:

Allaahumma laka shumnaa wa ‘ala rezekika aftharnaa fataqabbal minnaa innak antas samii’ul ‘aliim

Artinya: “Ya Allah, kepada-Mu kami berpuasa dan atas rezeki-Mu kami telah berbuka, maka terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ada juga doa buka puasa dengan lafaz berikut,

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa’ala rizqika afthartu. Birrahmatika yaa arhamar roohimin

Artinya:” Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. Dengan rahmat-Mu wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Melansir detikHikmah, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai waktu membaca doa berbuka puasa. Sejumlah ulama menyebut, doa berbuka puasa dibaca setelah berbuka atau pertama kali membatalkan puasa dengan air, kurma, atau semacamnya.

Pendapat tersebut bersandar pada kata yang tertera dalam doa buka puasa sebagaimana diriwayatkan Abu Dawud, yang artinya, “Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah.”

Sementara itu, pendapat lain mengatakan bahwa doa buka puasa dapat dibaca sebelum berbuka, sedangkan pendapat lain tidak menetapkan waktu dalam membacanya.

Jadwal Buka Puasa Hari Ini

  • Jakarta: 17:56 WIB
  • Surabaya: 17:32 WIB
  • Medan: 18:35 WIB
  • Bandung: 17:57 WIB
  • Makassar: 18:07 WITA
  • Jayapura: 17:43 WIT
  • Yogyakarta: 17:41 WIB

Jadwal buka puasa hari ini untuk wilayah lainnya bisa dilihat DI SINI.

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com

Hadits Hamba Sahaya Melahirkan Tuannya sebagai Tanda Kiamat



Jakarta

Ada salah satu riwayat hadits Rasulullah SAW menyebutkan perihal hamba sahaya melahirkan tuannya. Keadaan tersebut dijelaskan Rasulullah SAW sebagai salah satu tanda dari datangnya hari kiamat.

Hadits itu bersumber dari Umar bin Khattab RA. Ia bercerita, para sahabat tengah duduk-duduk bersama Rasulullah SAW hingga datang seorang laki-laki yang berpakaian putih, rambut hitam, tidak memiliki bekas sehabis perjalanan, dan tidak ada seorang pun yang mengenalnya.

Dikutip dari Riyadhush Shalihin Juz 1 karangan Imam an-Nawawi dan Mida Latifatul Muzammirah, S.S, laki-laki tersebut meminta Rasulullah SAW untuk menyebutkan tanda-tanda datangnya hari kiamat. Berikut keterangan hadits selengkapnya.


قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ السَّاعَةِ. قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنْ أَمَارَتِهَا. قَالَ: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِى الْبُنْيَانِ

Artinya: Lelaki itu kemudian mendekatkan dirinya pada Rasulullah SAW dan bertanya, “Kapan hari kiamat?” Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” Ia bertanya lagi, “Kalau begitu, terangkan tanda-tanda kiamat?” Rasulullah SAW menjawab, “Jika hamba sahaya telah melahirkan majikannya dan orang-orang fakir miskin yang tidak bersepatu, tidak berpakaian telah berlomba-lomba membangun gedung besar.” (HR Muslim)

Dalam riwayat lain, menurut Said Hawwa dalam buku Al Islam, lelaki yang menghampiri Rasulullah SAW dan para sahabat tersebut diketahui adalah Malaikat Jibril. Hadits tersebut menyebut, tujuan kedatangan Malaikat Jibril itu untuk mengajarkan agama pada para sahabat (HR Muslim, At Tirmidzi, dan An Nasa’i).

Tafsir Hadits Hamba Sahaya Melahirkan Tuannya

1. Makna Budak yang Sebenarnya

Ada beragam pendapat yang menafsirkan salah satu tanda-tanda hari kiamat pada hadits sebelumnya. Salah satunya pendapat yang datang dari Syaikh Nawawi dalam buku 6 Pilar Keimanan.

Menurutnya, hadits tersebut hendak menggambarkan kekacauan pada akhir zaman. Saat itu, marak penjualan ibu hingga kerap terjadi pembelian ibu sendiri tanpa diketahui oleh sang pembeli yang notabene adalah putra kandungnya.

Pendapat kedua datang dari penjelasan para ulama dalam Syarah An Nawawi ‘ala Muslim. Secara bahasa, al amah dalam hadits tersebut diartikan sebagai budak perempuan yang ditawan di medan perang.

Sebab itu, para ulama tersebut berpendapat, kalimat hamba sahaya melahirkan tuannya sebagai tanda kiamat diartikan sebagai tanda meluasnya praktik perbudakan di masa mendatang hingga lahirlah anak-anak hasil hubungan antara budak dan majikannya.

Anak-anak tersebut kemudian menjadi tuan atas ibunya sendiri. Jadi, status anak-anak dari hamba sahaya tersebut mengikuti dari status ayahnya yang seorang tuan.

“Telah banyak hamba sahaya menjadi orang merdeka dengan kepemilikan sumpah (milkul yamin). Secara syariat diketahui bahwa anak-anak yang lahir dari hamba sahaya menjadi orang merdeka,” demikian keterangan Syarah An Nawawi ‘ala Muslim yang diterjemahkan Dr. Umar Sulaiman al Asygar dalam buku Ensiklopedia Kiamat.

Hamka dalam Tafsir al-Azhar Jilid 3 juga turut menjelaskan bahwa ada kemungkinan hadits tersebut bermakna seorang petualang yang tanpa diketahui asal usulnya diadopsi oleh seorang budak. Namun lama kelamaan, anak tersebut menjadi sombong setelah meraih kekuasaan.

2. Makna Budak sebagai Kiasan

Pendapat sebelumnya ditentang oleh pendapat dari Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Sebab, menurutnya, perbudakan sudah banyak terjadi dan budak perempuan yang melahirkan anak untuk majikannya sudah terjadi di zaman Rasulullah SAW.

Pendapat ini juga didukung oleh Syeikh Mustofa Dib al-Bugha dan Syeikh Muhyiddin Mistu dalam Kitab al-Wafi fi Syarh al-Arba’in al-Nawawiyyah. Hadits hamba sahaya melahirkan tuannya merupakan bentuk kiasan dari maraknya perbuatan durhaka pada orang tua.

Lebih lanjut, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Kitab Fath al Bari yang dikutip dari laman Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia berpendapat, hadits itu juga dapat menunjukkan meluasnya praktik durhaka seorang anak pada ibunya pada akhir zaman. Kata tuan tersebut merupakan pengibaratan anak yang bertindak semena-mena pada ibunya bak tuan memperlakukan budaknya.

“Pandangan ini juga sejalan dengan konteks hadis yang berbicara tentang salah satu tanda kiamat, yaitu golongan rendah menjadi tinggi, dan orang tua yang seharusnya menjadi penguasa didominasi oleh anaknya sendiri,” demikian penjelasan dari situs tersebut.

Perbuatan durhaka sebagai tanda hari kiamat tersebut digambarkan hingga seorang ibu atau ayah menjadi takut pada anaknya sendiri seperti hamba sahaya yang takut pada tuannya. Menurut mereka, hal itu terjadi pada fase peluruhan waktu (fasad al-zaman) dan pembalikan tatanan kehidupan (inqilab al-ahwal).

(rah/erd)



Sumber : www.detik.com

Doa Malam Lailatul Qadar Lengkap: Arab, Latin dan Artinya



Jakarta

Malam lailatul qadar termasuk malam istimewa di bulan Ramadan. Umat muslim bisa memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk mengharapkan keutamaan malam lailatul qadar.

Dalam Al-Qur’an tercatat bahwa malam lailatul qadar lebih mulia dari malam seribu bulan. Dalam surat Al-Qadr ayat 1-5 Allah SWT berfirman:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ ٥


Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam lailatul qadar, tahukah engkau apakah malam lailatul qadar itu ? Malam lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turunlah malaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala urusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar.” (QS Al Qadr: 1-5)

Malam lailatul qadar ini terdapat pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, tepatnya pada malam ganjil. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

Artinya: “Carilah malam lailatul qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Doa Malam Lailatul Qadar

Mengutip Kitab Al Adzkar karya Imam an-Nawawi, berikut bacaan doa malam lailatul qadar Arab, latin, dan artinya:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Arab latin: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan suka mengampuni. Karena itu, ampunilah aku.”

Imam an-Nawawi menukil doa tersebut dari riwayat dengan sanad shahih dalam Kitab At-Tirmidzi, Kitab An-Nasa’i, dan Kitab Ibnu Majah. Imam At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini adalah hasan shahih.”

Adapun bunyi hadis riwayat Imam At-Tirmidzi adalah sebagai berikut:

وَعَنْ عائشة رضي الله عنها: قالت: «قلت: يا رسولَ الله إِنْ وَافَقْتُ ليلةَ القَدْرِ ، ما أَدْعُو به؟ قال: قُولي: اللهم إنك عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُ الْعَفْوَ فاعْفُ عَنِّي» أخرجه الترمذي

Artinya: “Dari sayyidah Aisyah ra, ia bercerita, ia pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jika aku kedapatan menjumpai lailatul qadar, bagaimana doa yang harus kubaca?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Bacalah, ‘Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī,”” (HR At-Tirmidzi).

Para ulama mazhab berpendapat bahwa, dianjurkan memperbanyak doa ini dalam malam tersebut. Dianjurkan pula membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir, dan doa-doa yang dianjurkan dalam tempat-tempat yang suci dan terhormat.

Kapan Malam Lailatul Qadar?

Tidak ada yang tahu kapan terjadinya malam lailatul qadar. Namun beberapa hadits menjelaskan bahwa malam seribu bulan ini terdapat pada hari-hari terakhir Ramadan.

Ada sebuah hadits yang menyebut bahwa malam lailatul qadar terletak pada tujuh malam terakhir. Hadits ini diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الأَوَاخِرِ

Artinya: “Dituturkan dari Ibn Umar RA beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW, melihat lailatul qadar dalam mimpi pada tujuh malam terakhir (dari bulan Ramadan). Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Aku ditunjukkan kebenaran mimpimu. Maka barang siapa mencarinya, hendaknya ia mencari pada tujuh malam terakhir.”

(dvs/lus)



Sumber : www.detik.com

Bacaan Doa Tiba di Kampung Halaman Lengkap dengan Artinya



Jakarta

Sudah menjadi salah satu tradisi, apabila menjelang Lebaran tiba maka para muslim akan berbondong-bondong untuk mudik. Dalam hal ini, Rasulullah SAW menganjurkan untuk membaca doa ketika tiba di kampung halaman.

Menurut Nasaruddin Umar dalam buku Kontemplasi Ramadan, mudik bagaikan sebuah kelengkapan pada Hari Raya Idul Fitri. Tujuan utama mudik ialah untuk bersilaturahmi dengan orang tua dan sanak keluarga yang berada di kampung halaman.

Tidak hanya itu, bahkan ada beberapa yang mudik ke kampung halaman untuk berziarah ke makam orang tua. Mudik ke kampung halaman ini diwarnai dengan kegiatan silaturahmi atau semacam reuni dengan keluarga terdekat dan teman-teman sepermainan di masa kecil.


Sesampainya di kampung halaman sebagai umat Islam kita dianjurkan untuk membaca doa tiba di kampung halaman. Doa ini termuat dalam hadits tentang safar.

Doa Tiba di Kampung Halaman

Merujuk pada buku Doa & Dzikir Umrah Amisya: Kumpulan Doa dan Dzikir Ibadah Umrah berikut bacaan doa tiba di kampung halaman:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَصَرَنِي بِقَضَاءِ نُسُكِي وَحَفَظَنِيْ مِنْ وَعْتَاءِ السَّفَرِ حَتَّى أعُوْدَ إِلَى أَهْلِ . اَللهُمَّ بَارِكْ فِي حَيَاتِي بَعْدَ الْعُمْرَةِ وَاجْعَلْنِي مِنَ الصَّالِحِيْنَ.

Arab latin: Alhamdulillaahil ladzzii nasharanii bi qadhaa’I nusukii wa hafadzanii min wa’tsaa’is safari hattaa a’uuda ilaa ahlii. Allaahummaa baarik fii hayaatii ba’dal umrati waj’alnii minash shaalihiin

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepadaku untuk melaksanakan ibadah dan telah menjaga diriku dari kesulitan bepergian sehingga aku dapat kembali lagi. Ya Allah, berkatilah dalam hidupku setelah melaksanakan umrah dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang saleh.”

Umat Islam juga dianjurkan untuk membaca doa begitu mulai memasuki kampung halaman. Mengutip Kitab Al-Fiqhu al-Islamiyyuu wa Adilatuhu karya Wahbah az-Zuhaili doa ketika melihat perbatasan kampung halaman,

باسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ إنِّي أسألُكَ خَيْرَها وَخَيْرَ أهلها وَخَيْرَ ما فِيها وأعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّها وَشَرّ أهلها وَشَرّ مَا فِيهَا

Bismillâh allâhumma innî as-aluka khaira hâdzihi-s-sûqi wa khaira mâ fîhâ wa a’ûdzubika min syarrihâ wa syarri mâ fîhâ. Allâhumma innî a’ûdzubika an ushîba fîhâ yamînan fâjiratan au shafqatan khâsiratan

Artinya: “Ya Allah, aku memohon Engkau memberiku kebaikan negeri ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan apa saja yang ada di dalamnya; dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan negeri ini, kejahatan penduduknya, serta kejahatan apa pun yang ada di dalamnya.”

Sementara itu Ali Manshur di dalam buku Untaian Mutiara Doa Solusi Problematika Umat: Bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, menjelaskan hadits yang terkait dengan kembali bepergian dan melihat kampung halaman. Hadits ini dikeluarkan Imam Muslim dalam Shahih-nya.

وَحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُلَيَّةَ، عَنْ يَحْيَ بْنِ إِسْحَاقَ قَالَ: قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكِ: أَقْبَلْنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ أَنَا وَأَبُوْ طَلْحَةَ وَصَفِيَّةُ رَدِيْفَتُهُ عَلَى نَاقَتِهِ، حَتَّى إِذَا كُنَّا بِظَهْرِ الْمَدِينَةِ، قَالَ: «آيبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ». فَلَمْ يَزَلْ ذَالِكَ حَتَّى قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ.

Artinya: “Dan Zuhair bin Harb telah menceritakan padaku: Ismail bin Ulayyah telah menceritakan kepada kami: Dari Yahya bin Ishaq, ia berkata: Anas bin Malik berkata: Kami bersama Nabi Muhammad SAW, sata dan Abu Thalhah dan Shafiyyah menunggang untanya, sehingga ketika kami melihat Madinah, beliau berdoa: “Kami kembali dengan bertaubat, beribadah dan memuji kepada Tuhan kami.” Maka demikian itu berlangsung sampai kami memasuki Madinah.”

Di dalam Kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi menjelaskan mengenai kewajiban sebagai seorang muslim untuk berdoa dan berzikir kepada Allah SWT.

Hal ini diriwayatkan dalam Kitab At-Tirmidzi, dari Abdullah bin Busr RA seorang sahabat dari Nabi Muhammad SAW dia mengatakan bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aturan-aturan Islam telah banyak bagiku. Karena itu, beritahukan kepadaku sesuatu yang bisa menjadi peganganku,” Beliau berkata, “Hendaknya lidahmu senantiasa basah karena berzikir kepada Allah SWT.”

Bukan hanya itu, diriwayatkan dalam Kitab At-Tirmidzi, dari Abu Sa’id Al Khudri RA, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW ditanya, “Manakah ibadah yang paling utama derajatnya di sisi Allah SWT pada hari kiamat?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah SWT.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah SAW, bagaimana dengan orang yang berperang di jalan Allah SWT?” Beliau menjawab, “Kalaulah dia menebas dengan pedangnya terhadap orang-orang kafir dan musyrik hingga pedang tersebut patah dan dilumuri darah, maka orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah SWT lebih utama derajatnya dibandingkan dengannya.”

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

4 Doa Iftitah yang Bisa Diamalkan saat Salat



Jakarta

Doa iftitah adalah doa yang dapat dibaca sebagai pembuka dalam salat. Hukum dari membaca doa iftitah ini adalah sunnah.

Hal ini juga didukung oleh pendapat mayoritas imam besar mazhab dari Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Berikut pendapat ketiga mazhab tersebut yang dikutip dari buku Kitab Sholat Empat Mazhab oleh Syeikh Aburrahman Al-Jaziri,

“Membaca doa iftitah tidak disunnahkan bagi makmum, setelah imam memulai bacaan dalam setiap rakaat,” tulis Syeikh Aburrahman Al-Jaziri.


Dalam pelaksanaannya, doa iftitah dibaca setelah rukun takbiratul ihram dan sebelum membaca ta’awudz dalam setiap salat, baik salat fardhu maupun salat sunnah. Namun, dalam pelaksanaan salat jenazah, doa iftitah tidak dianjurkan untuk dibaca karena salat jenazah dianjurkan untuk dikerjakan secara singkat.

Mengutip buku Menyelami Makna Bacaan Shalat oleh Fajar Kurnianto, untuk bacaan doa iftitah sendiri memiliki beberapa versi. Berikut adalah beberapa versi bacaan yang diambil dari hadits Rasulullah SAW.

4 Versi Pilihan Doa Iftitah dan Artinya

1. Bacaan Doa Iftitah Versi Pertama

للهم باعِدُ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمُشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ. اللهم نَقْنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللهم اغسِلُنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Arab latin: Allahumma baaid baynii wa bayna khotoyaaya kamaa baa’adta baynal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii min khotoyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad danas. Allahummagh-silnii min khotoyaaya bil maa-iwats tsalji wal barod.

Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana dibersihkannya kain yang putih dari kotoran. Ya Allah, basuhlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, es, dan embun.” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

2. Bacaan Doa Iftitah Versi Kedua

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَات وانا كنيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَيْنَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Arab latin: Wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samawaati wal ardha haniifam muslimau wamaa ana minal musyrikiina. Inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahirabbil ‘aalamiina. Laa syariikalahu, wabidzalika umirtu wa anaa minal muslimiin.

Artinya: “Aku hadapkan wajahku kepada Zat yang telah memulai penciptaan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, dalam keadaan lurus mengarah kepada Al-Haq, lagi berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadah sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri.” (HR Muslim dari Ali bin Abu Thalib)

3. Bacaan Doa Iftitah Versi Ketiga

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اِهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Arab latin: Allahumma robba jibroo-iila wa mii-ka-iila wa isroofiila, faathiros samaawati wal ardhi ‘aliimal ghoibi wasy syahaadah anta tahkumu bayna ibaadika fiimaa kaanuu fiihi yakhtalifuun, ihdinii limakhtulifa fiihi minal haqqi bi-idznik, innaka tahdi man tasyaa-u ilaa shirootim mustaqiim.

Artinya: “Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum untuk memutuskan apa yang mereka pertentangkan. Tunjukkan lah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki.” (HR Muslim)

4. Bacaan Doa Iftitah Versi Keempat

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ

Arab latin: Allahu akbar kabiiro, allahu akbar kabiiro, allahu akbar kabiiro, walhamdulillahi katsiiro, walhamdulillahi katsiiro, walhamdulillahi katsiiro, wa subhanallahi bukrotaw washilaa, wa subhanallahi bukrotaw washilaa, wa subhanallahi bukrotaw washilla a’udzu billahi minasy syaithooni min nafkhihi, wa naftshihi, wa hamzih.

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Aku berlindung kepada Allah dari tiupan, bisikan, dan godaan setan.” (HR Abu Daud)

Itulah beberapa bacaan doa iftitah yang bisa kita amalkan ketika salat. Semoga dapat membantu ya, detikers!

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Hadits Ziarah Kubur sebagai Pengingat Mati dan Akhirat



Jakarta

Ziarah kubur telah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia, terutama menjelang Ramadan dan saat Hari Idul Fitri. Di balik ziarah kubur ini, ternyata Rasulullah SAW menyebut ada hikmah yang bisa diambil oleh manusia, apa itu?

Menukil buku Fiqih Doa & Dzikir Jilid 2 susunan Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, terdapat hadits riwayat Buraidah bin Al-Hashib, di mana Rasulullah SAW bersabda:

إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ، فَزُورُوْهَا


Artinya: “Sungguh dahulu aku melarang kamu ziarah kubur, maka ziarahilah ia.” (HR Muslim, Ahmad, Nasa’i & lainnya.)

Dalam riwayat Imam Ahmad ada penambahan bahwa Rasulullah SAW menuturkan:

فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ

Artinya: “Sungguh ia mengingatkan kamu akan akhirat.” (HR Ahmad)

Selain itu, dalam hadits lain yang diriwayatkan Muslim, ada yang berbunyi:

فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَزُوْرَ فَلْيَزُرْ، وَلَا تَقُوْلُوْا: هُجْرًا

Artinya: “Barang siapa ingin ziarah maka hendaklah dia ziarah, dan jangan kamu mengucapkan ‘hujran’.” (HR Muslim)

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani melalui Ahkaamul Janaa’iz wa Bid’ihaa mengungkap, tujuan disyariatkannya ziarah kubur sebagaimana memahami hadits di atas. Menurutnya, peziarah bisa mengingat kematian dan orang mati, serta meyakini bahwa ada kehidupan akhirat yang menjadi tempat kembalinya manusia setelah meninggalkan dunia.

Begitu juga yang dikemukakan oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali dalam Syarah Riyadhush Shalihin, “Illat atau alasan dalam ziarah kubur adalah untuk mengingat akhirat, melembutkan hati, meneteskan air mata, mengingat kematian, dan memperpendek angan-angan.”

Dalam buku Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq turut berpendapat hikmah ziarah kubur untuk mengingat (kematian) dan mengambil pelajaran. Bila tujuannya benar demikian, menurutnya mengunjungi makam orang kafir juga diperbolehkan.

Adab Ziarah Kubur

Melalui riwayat Buraidah bin Al-Hashib di atas pula, Rasulullah SAW mengajarkan adab berziarah kubur yang baik dan benar.

Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr menyebut kata ‘hujran’ pada hadits tersebut memiliki arti, “Semua yang batil dari perkataan”. Untuk itu, muslim yang berziarah hendaknya tidak berdoa dengan meminta kepada penghuni kubur, memohon pertolongan mereka, tawasul dengan mereka, meminta keberkahan dari mereka, dan selainnya yang termasuk kebatilan serta kesesatan.

Adapun sebaiknya, saat mengunjungi makam, peziarah memohonkan ampunan Allah SWT untuk ahli kubur. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Aisyah RA, beliau menuturkan:

“Sungguh (malaikat) Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Rabbmu memerintahkanmu untuk datang kepada peghuni Baqi, dan memohonkan ampunan untuk mereka’,” Aisyah berkata, “Aku mengatakan, ‘Bagaimana yang aku ucapkan untuk mereka wahai Rasulullah SAW?”

Beliau SAW bersabda:

قُوْلِي: السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلَاحِقُوْنَ

Artinya: “Ucapkanlah; Salam atas penghuni pemukiman yang terdiri dari orang-orang mukmin dan muslim. Semoga Allah merahmati orang-orang terdahulu dari kita dan orang-orang belakangan. Sungguh kami -insya Allah- benar-benar akan menyusul kamu.” (HR Muslim)

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Doa untuk Pengantin Baru Sesuai Sunnah Lengkap



Jakarta

Doa untuk pengantin baru adalah doa yang dimaksudkan untuk memohon kepada Allah SWT agar pernikahan pengantin baru tersebut menjadi berkah. Doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT juga diharapkan menjadi pemandu yang mengiringi langkah baru insan manusia yang baru menikah agar menjadi penopang ibadah yang lebih lagi dibandingkan semasa lajang.

Dengan membina rumah tangga, Allah SWT akan memberikan rezeki yang berkecukupan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al Qur’an surah An Nur ayat 32 yang berbunyi,

وَاَنْكِحُوا الْاَيَامٰى مِنْكُمْ وَالصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَاِمَاۤىِٕكُمْۗ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَاۤءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ


Artinya: “Nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu, baik laki-laki maupun perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Kumpulan Doa untuk Pengantin Baru

Ada doa yang diucapkan kepada pengantin dengan beberapa peruntukan. Dikutip dari buku Doa dan Zikir Makbul karya Abu Hurairah Abdul Salam, berikut adalah beberapa di antaranya,

1. Doa untuk Pengantin

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

Arab Latin: “Baarokalaahu laka wabaaroka ‘alaika wajama’a bainakumaa fii khoirin.”

Artinya: “Semoga Allah Memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, dan semoga Allah menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.”

2. Doa Pengantin Pria kepada Pasangannya

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Arab Latin: “Alaahumma inni as-aluka khoirohaa, wakhoiro maa jabaltahaa ‘alaihi, wa-a’uuzubika min syarrihaa, wasyarrimaa jabaltahaa ‘alaihi.”

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan perempuan atau budak ini dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kejelekan perempuan atau budak ini dan apa yang telah Engkau ciptakan dalam wataknya.”

Ada doa lain yang bisa diamalkan juga dijelaskan dalam Kitab Induk Doa dan Zikir Terjemah Kitab al-Adzkar karya Imam an-Nawawi. Berikut beberapa di antaranya.

3. Doa untuk Pengantin Lainnya

Surah Ar Rum ayat 21 adalah salah satu doa yang bisa dipanjatkan oleh pasangan pengantin baru. Doa ini bisa dijadikan sebagai permohonan agar pasangan pengantin memiliki rumah tangga yang baik.

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Artinya: “Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

4. Doa Memohon Berkah bagi Pengantin

Doa memohon berkah sekaligus menggapai ridha Allah SWT adalah termaktub dalam surah Al Mumtahanah ayat 12 yang berbunyi,

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اِذَا جَاۤءَكَ الْمُؤْمِنٰتُ يُبَايِعْنَكَ عَلٰٓى اَنْ لَّا يُشْرِكْنَ بِاللّٰهِ شَيْـًٔا وَّلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِيْنَ وَلَا يَقْتُلْنَ اَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِيْنَ بِبُهْتَانٍ يَّفْتَرِيْنَهٗ بَيْنَ اَيْدِيْهِنَّ وَاَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِيْنَكَ فِيْ مَعْرُوْفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Wahai Nabi, apabila perempuan-perempuan mukmin datang kepadamu untuk mengadakan baiat (janji setia) bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, terimalah baiat mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

5. Doa untuk Pengantin dari Rasulullah

Mengutip riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah SAW mendoakan untuk pengantin yang baru menikah sebagai berikut.

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

Artinya: “Semoga Allah memberkahimu di waktu bahagia dan memberkahimu di waktu susah, serta semoga Allah mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan.” (HR Abu Dawud)

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Subhanal Malikil Quddus, Wirid Rasulullah setelah Salat Witir



Jakarta

Subhanal Malikil Quddus adalah wirid yang dibaca Rasulullah SAW setelah salat Witir. Beliau membacanya sebanyak tiga kali.

Hal tersebut dijelaskan dalam Kitab Al-Wafa karya Ibnul Jauzi dengan bersandar pada riwayat Sa’id bin Abdirrahman bin Abza dari bapaknya, dia berkata,

“Rasulullah SAW melakukan salat Witir dengan membaca surah al-A’la, surah Al-Kafirun, lalu membaca surah Al-Ikhlas. Dan jika beliau selesai Witir, beliau membaca “Subhanal Malikil Quddus (Mahasuci Dzat Yang Maha Merajai dan Dzat Yang Mahasuci) sebanyak tiga kali. Beliau mengeraskan suaranya pada bacaan ketiga.” (HR Ahmad dan Al-Maqdisy dalam Kitab Al-Ahadits Al-Mukhtarah)


Selain itu, diriwayatkan dari Abu Abdirrahman bin Abza, dia berkata, “Ketika Rasulullah SAW salat Witir beliau membaca surah Al-A’la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas. Jika salam, beliau membaca, “Subhanal Malikil Quddus.” Beliau memperpanjang bacaan ketiga.” (HR Ahmad dan Al-Maqdisy dalam kitab Al-Ahadits Al-Mukhtarah)

Subhanal Malikil Quddus artinya Maha Suci Dzat Yang Maha Merajai dan Dzat Yang Maha Suci .

Keutamaan Bacaan Subhanal Malikil Quddus

Menurut sebuah riwayat yang termuat dalam Sunan At-Tirmidzi, bacaan Subhanal Malikil Quddus kelak akan menjadi saksi dan berbicara pada hari kiamat.

Dari Musa bin Hizam, Abd bin Humaid dan perawi yang lain, dari Muhammad bin Bisyr, dari Hani bin Utsman, dari ibunya, yaitu Humaidhah binti Yasir, dari neneknya Yusairah, ia termasuk orang-orang yang berhijrah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada para perempuan,

“Hendaklah kalian membaca tasbih, tahlil, dan taqdis (Subhanal Malikil Quddus), dan hitunglah semua itu dengan jari-jari kalian. Sebab, sesungguhnya ia akan menjadi saksi yang akan ditanya dan akan berbicara pada hari kiamat. Jangnlah kalian lalai untuk berzikir karena jika kalian lalai darinya maka kalian melupakan rahmat Allah.” (Shahih Abu Dawud; Misykaatul Mashaabiih, dan Silsilatul Ahaadiitsdh Dha’ifah)

Tentang Salat Witir Rasulullah SAW

Rasulullah SAW mengerjakan salat Witir setiap malam. Diriwayatkan dari Aisyah RA, dia berkata, “Tiap malam Rasulullah SAW melakukan salat Witir. Beliau mengakhiri witirnya sampai waktu sahur.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad)

R. Syamsul dan M. Nielda dalam buku Tuntunan Ibadah Ramadan dan Hari Raya menjelaskan, salat Witir merupakan salat sunah yang berbeda dengan salat sunah Tarawih. Salat Tarawih ini biasanya hanya dilaksanakan pada malam bulan Ramadan saja, sedangkan salat Witir ini boleh dilaksanakan setiap malam baik di bulan Ramadan di bulan-bulan yang lain.

Salat Witir ini dilaksanakan paling sedikit 1 rakaat dan paling banyak 11 rakaat. Pendapat lain juga mengatakan bahwa jumlah rakaat salat Witir maksimal berjumlah 13 rakaat. Menurut pendapat paling kuat, salat Witir dikerjakan paling banyak 11 rakaat.

Salat Witir ini dilaksanakan dengan satu kali salam setiap dua rakaat kemudian ditutup dengan salat 1 rakaat. Contohnya, jika seseorang hendak melaksanakan salat Witir 3 rakaat, maka dilaksanakan 2 rakaat terlebih dahulu kemudian setelah salam berdiri lagi untuk salat 1 rakaat karena (2 rakaat + 1 rakaat).

Misalnya hendak melaksanakan 5 rakaat maka dilaksanakan 2 rakaat terlebih dahulu, kemudian setelah salam berdiri lagi untuk salat 2 rakaat, dan terakhir kemudian setelah salam berdiri lagi untuk salat 1 rakaat begitu pun seterusnya.

Waktu Pelaksanaan Salat Witir

Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi dalam Kitab Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah Sayyid Sabiq, menjelaskan mengenai waktu dan hukum salat Witir

Para ulama telah sepakat bahwa waktu salat Witir ini setelah salat Isya sampai saat menjelang fajar Subuh. Dari Abu Mas’ud Al-Anshari RA, ia mengatakan, “Adalah Rasulullah SAW salat Witir di awal malam, di pertengahan malam, dan di akhir malam.” (HR Ahmad dengan sanad yang shahih).

Dianjurkan juga untuk mengerjakan salat Witir di awal waktu bagi seseorang yang khawatir tidak bisa bangun di sepertiga malam terakhir, namun sangat dianjurkan salat Witir di sepertiga malam terakhir bagi mereka yang merasa yakin bisa bangun pada waktu itu.

Dari Jabir RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ ظَنَّ مِنْكُمْ أَنْ لَا يَسْتَيْقِظَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ ظَنْ مِنْكُمْ أَنَّهُ يَسْتَيْقِظُ آخِرَهُ فَلْيُوتِرُ آخِرَهُ فَإِنْ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَحْضُورَةٌ وَهِيَ أَفْضَلُ.

Artinya: “Barang siapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, maka hendaklah dia melakukan witir di awal malam. dan barang siapa yang merasa mampu bangun di akhir malam, maka hendaklah dia witir di akhir malam, karena salat di akhir malam dihadiri (para malaikat) dan ia lebih utama.” (HR Muslim)

Salat Witir ini hukumnya sunnah muakkadah, sehingga Rasulullah SAW sangat menganjurkan dan memberikan dorongan untuk mengerjakan salat Witir.

Dari Ali RA, dia berkata, “Sesungguhnya salat Witir tidak bersifat wajib seperti salat-salat fardhu kalian. Namun Rasulullah SAW melakukan salat Witir, kemudian beliau berkata: “Wahai para pecinta Al-Qur’an, salat witirlah kalian, karena sesungguhnya Allah itu witir (ganjil), Dia menyukai sesuatu yang ganjil.” (HR Ahmad dan Ashabus Sunan. Dihasankan oleh At-Tirmidzi)

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com