Category Archives: Pluang

Simak 10 Cara Dapatkan Penghasilan Pasif dari Aset Kripto!

Semua pecinta aset kripto nampaknya paham bahwa cara paling umum dalam mendulang cuan di aset kripto adalah dengan trading. Hanya saja, fluktuasi harga yang kencang plus kecakapan ilmu trading mungkin tak dimiliki semua yang ingin berkecimpung di dalamnya. Sehingga, mereka butuh tips terkait investasi aset kripto yang bisa sesuai dengan profil risiko mereka.

Untungnya, kancah aset kripto tidak selebar daun kelor, Sobat Cuan! Banyak sekali peluang cuan di dalamnya yang bahkan bisa dilakukan oleh mereka yang hanya ingin punya pendapatan pasif.

Kalau kamu salah satunya, lebih baik kamu tak perlu galau dipermainkan fluktuasi pasar. Sebab, kamu bisa mencoba berbagai cara berikut ini supaya tetep cuan dan bebas jantungan di pasar kripto.

Baca juga: Ini Jenis Uang yang Tak Boleh Digunakan Demi Trading Kripto!

Tips Investasi Mendapatkan Pendapatan Pasif di Aset Kripto

1. Crypto Staking di Sistem Proof of Stake (PoS)

Beberapa blockchain memiliki protokol keamanan yang berbeda dari protokol konvensional dengan menggunakan sistem yang disebut algoritma konsensus. Sederhananya, algoritma konsensus adalah sistem algoritma yang digunakan di sistem blockchain demi memverifikasi transaksi atau membuka blok pertambangan baru.

Nah, salah satu algoritma konsensus tersebut adalah Proof of Stake (PoS). Di dalam algoritma konsensus ini, transaksi baru yang ditambahkan ke blockchain baru bisa diverifikasi jika disepakati oleh mereka yang memiliki koin cukup besar di sistem blockchain tersebut.

Lalu bagaimana caranya kamu mendulang cuan dari algoritma ini? Caranya adalah dengan melakukan crypto staking!

Dalam staking, yang perlu kamu lakukan adalah menaruh aset kriptomu di sebuah dompet digital. Nantinya, koin-koinmu yang terdapat di dalamnya akan dipinjamkan ke mereka yang berwenang untuk memvalidasi transaksi di sistem PoS (atau disebut validator). Tujuannya, agar sang validator bisa punya kekuatan lebih dalam memvalidasi transaksi di dalam sistem blockchain tersebut.

Sesudahnya, kamu akan mendapatkan imbalan berupa mata uang kripto yang baru dicetak. Mudah bukan?

Adapun aktivitas ini sangat populer di kalangan HODLers, yakni penimbun aset kripto jangka panjang. Jadi, kalau kamu juga penganut paham HODL, tidak ada salahnya mencoba aktivitas ini.

Baca juga: Ini Alasan HODL & Menabung Kripto Adalah Strategi Jitu Saat Pasar Bearish!

2. Menjalankan Masternodes

Mirip dengan PoS, aktivitas menjalankan masternode juga membutuhkan tumpukan koin kamu dengan imbal hasil. Masternode adalah sebuah node dalam blockchain yang berfungsi menjalankan peran tertentu. Biasanya, masternode diinisiasi oleh anggota komunitas untuk tujuan yang spesifik.

Salah satu contoh masternodes adalah DASH, yakni mata uang digital yang berfokus pada keamanan privasi. DASH meluncurkan masternodes untuk memfasilitasi fitur PrivateSend. Untuk dapat berpartisipasi, pengguna harus mengunci 1000 DASH atau sekitar US$230.000, atau setara dengan 6,45% hak suara dalam proyek tersebut.

Kalau proyek ini terlalu mahal buat kamu yang masih pemula, masih banyak kok proyek lain yang bisa kamu ikuti dengan modal yang lebih kecil.

3. Akun Kripto Berbunga, Investasi anti Ribet

Mirip dengan deposito, kamu juga bisa memperoleh margin dari menyetorkan kripto kamu dalam akun khusus. Aplikasi BlockFi merupakan salah satu penyedia jasa ini.

Dengan membuat BlockFi Interest Account (BIA), Bitcoin dan Ether kamu akan mendapat imbal hasil 6,2% pertahun. Lebih besar dari bunga deposito ya, Sobat Cuan!

Tapi syaratnya lumayan berat, kamu harus menaruh minimal 1 BTC atau 25 ETH pada akun tersebut. Sebab, BlockFi akan mengelola kripto kamu dengan meminjamkan lagi kepada pihak lain maupun korporasi yang membutuhkannya dengan syarat yang lumayan sulit.

Tenang saja, masih banyak kok aplikasi lain yang bisa kamu gunakan dengan syarat yang lebih mudah. Gimana, sudah tertarik gabung jadi sobat HODLers?

4. Jadi Bandar Kredit Kripto

Tips investasi kripto yang satu ini sangat familiar buat kamu yang biasa jadi bandar. Melalui aplikasi pinjaman, kamu bisa meminjamkan aset kamu kepada pedagang atau pengguna lain secara langsung.

Aplikasi seperti BTCPop, misalkan saja, menyediakan platform yang sudah menampilkan reputasi pengguna lain. Reputasi ini penting mengingat transaksi kamu tidak difasilitasi oleh lembaga intermediasi. Sangat mungkin bagi rekan bisnis kamu untuk mangkir atau mengalami gagal bayar.

Tapi, kamu bisa mengakalinya dengan mendiversifikasi aset dalam beberapa pinjaman. Kamu juga harus betul-betul teliti memilih peminjam dan reputasinya agar aset kamu tidak hilang digondol debitur mangkir.

5. Meminjamkan ke Bandar Margin

Kalau kamu tidak sanggup dengan risiko pinjaman langsung, kamu juga bisa kok menitipkan asetmu pada bandar margin. Beberapa aplikasi bursa aset digital akan memudahkanmu mendapat pendapatan pasif dengan risiko yang lebih minim.

Bitfinex merupakan salah satu platform yang menyediakan jasa peminjaman kepada pedagang leverage dengan margin yang cukup lebar. Kamu bisa jadi penyuplai aset kripto untuk mereka tanpa kena risiko dalam bentu menanggung gagal bayar debitur mereka. Akhirnya, kamu pun bisa mendapat cuan yang tajam, lho!

Menariknya lagi, margin yang kamu dapat berada pada tenor harian. Misalkan saja, saat ini Bitfinex menyediakan margin 0,003537% per hari. Jika diakumulasikan tahunan, tentu saja cuan kamu semakin menggiurkan.

Meski minim risiko dari debitur, bukan berarti kegiatan ini tidak ada risiko sama sekali. Tips investasi kripto yang satu ini berisiko kena hack. Apalagi, bursa kripto cukup sering kebobolan.

6. Tips Investasi Kripto Lewat Menambang Cloud

Singkatnya, aktivitas ini mirip dengan jasa penyewaan. Tapi, yang kamu sewa adalah perangkat keras penambangan kripto. Sehingga, kamu tidak perlu memiliki dan merawat perangkat ini untuk dapat menambang kripto dari cloud.

Operator yang populer untuk aktivitas ini adalah Genesis Mining dan HashNest. Kamu perlu membayar biaya harian jika ingin memakai perangkat mereka.

Meski begitu kamu perlu betul-betul mencermati kontrak tambangnya. Saat ini, membeli dan menahan kripto sudah lebih menguntungkan ketimbang menambang. Belum lagi risiko lain seperti hack dan scam.

7. Menjalankan Node Lightning Network

Tips investasi kripto satu ini cukup menarik, yakni dengan menjalankan node Lightning Network (LN). Adapun teknologi lapis kedua di jaringan blockchain Ethereum ini bermanfaat untuk meningkatkan jumlah transaksi sembari menjaga biayanya tetap rendah.

Menariknya lagi, node ini memungkinkan transaksi off chain. Artinya, transaksi ini masih tergolong transaksi kripto meski dilakukan di luar jaringan blockchain pada umumnya. Transaksi ini dikenal memang minim hambatan, mudah, dan murah.

Solusi lapis kedua ini menjawab kelemahan sistem blockchain, di mana teknologi itu kerap kewalahan dalam memproses seluruh transaksi yang terdapat di dalamnya. Cukup bermanfaat ya, Sobat Cuan. Tapi, kalau kamu bisa membuatnya, maka sistem Lightning Network bisa menjadi ladang cuan kamu, lho!

Kamu bisa memperoleh biaya transaksi yang diproses lewat jaringan yang kamu buat. Sayangnya, kamu harus ahli teknis kripto untuk menjalankan skema ini. Selain itu, imbalannya pun tidak tentu karena tergantung pada adopsinya.

Baca juga: Panduan Cara Menggunakan RSI Untuk Trading Crypto Bagi Pemula

8. Pinjaman DeFi

Salah satu tips investasi kripto yang sudah cukup populer adalah pinjaman DeFi.

Sifatnya yang tanpa izin, transparan, dan terbuka membuat skema pinjaman ini amat diminati. Platform yang populer mengediakan jasa ini, seperti Compound dan Aave, memungkinkan kamu menjadi kreditur dan debitur tanpa perantara juga minim resiko.

Caranya, kamu hanya tinggal mengunci aset kriptomu dalam smart contract. Kemudian, peminjam bisa akses smart contract kamu kalau sudah memenuhi prasyaratnya. Setelah selesai, kamu sudah bisa menikmati imbal hasil dari pinjaman yang kamu berikan!

Di Compound, kamu bahkan punya hak suara dalam pengelolaan teknis protokol dan keputusan integrasi aset baru. Pemegang token juga bisa memperoleh imbal hasil di atas rata-rata. Tapi tetap saja, skema ini rawan peretasan.

9. Investasi Kripto dengan Bertani Cuan

Yield farming bukan untuk investor dengan selera risiko konvensional. Tapi imbal hasilnya pun sebanding.

Melalui platform seperti Binance Smart Chain dan PancakeSwap, kamu bisa menyetorkan dua token dalam kumpulan untuk menjadi penyedia aset kripto (liquidity provider). Bagaimanapun, kamu harus paham segala resikonya dan teliti sebelum melakukan aktivitas ini ya, Sobat Cuan.

10. Pegang Token Dividend-Paying

Terakhir, salah satu cara terbaik dan termudah untuk mendapatkan penghasilan pasif di pasar kripto adalah dengan membeli dan menahan token ini. Saat ini, jenis utama token digital yang membayar dividen adalah token yang diterbitkan di bursa.

Sejumlah pertukaran aset digital telah mengeluarkan token mereka sendiri, yang memberi pengguna diskon biaya perdagangan dan, dalam beberapa kasus, memberi mereka hak atas bagian dari keuntungan platform.

Contoh token pertukaran bagi hasil meliputi KuCoin Token (KCS), yang membayar pemegang 50% dari biaya perdagangan KuCoin sebagai dividen. Bibox Tokens (BIX), yang membayar pemegang 45% dari keuntungan biaya perdagangan bersih Bibox.

Untuk mendapatkan dividen pada jenis token ini, kamu biasanya diminta untuk menahannya di bursa penerbit atau mempertaruhkannya menggunakan dompet eksternal. Semakin banyak token yang kamu pegang, semakin banyak pendapatan pasif yang dapat kamu peroleh.

Ternyata, banyak sekali cara bagi kamu untuk mendapatkan pendapatan pasif dari jagat kripto. Nah, salah satunya pun bisa kamu dapatkan di aplikasi Pluang melalui fitur Pluang Cuan!

Di Pluang Cuan, kamu bisa mendapatkan imbal hasil maksimal hingga 3,5% per tahun hanya dengan menabung Bitcoin dan Ethereum milikmu. Yuk, investasi di Pluang Cuan sekarang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Blocksocial, Finder



Sumber : pluang.com

4 Mitos Salah Kaprah Soal EIP 1559 di Hard Fork London Ethereum

Sobat Cuan investor aset kripto mungkin tahu akan rencana peningkatan jaringan Ethereum. Ya, di blok nomor 10.499.401, jaringan uji Ethereum Ropsten akan menjalani peningkatan, bagian dari “Hard Fork London“. Nah, ternyata banyak kabar yang simpang siur soal hal ini. Yuk kita kupas tuntas!

Sekilas Mengenai EIP 1559

Perubahan tersebut adalah yang pertama dari tiga rilis jaringan uji untuk hard fork London. Hal itu dilakukan menjelang aktivasi jaringan utama yang dijadwalkan sementara oleh pengembang Ethereum untuk pertengahan Juli.

Seperti termaktub dalam “Ethereum Improvement Proposals” (EIPs), dalam hard fork London akan terdapat lima perubahan kode, salah satunya EIP 1559.

“[EIP 1559] memperkenalkan perubahan pada header block, menambahkan jenis transaksi baru, dan mengubah perilaku pengguna di beberapa area (penambangan, transaksi, dan lainnya). Sangat disarankan agar berbagai proyek bisa membiasakan diri dengan EIP ini,” tulis Tim Beiko dari Ethereum Foundation.

Baca juga: Simak Penjelasan Regulasi Crypto di Indonesia Secara Singkat dan Padat!

Dari lima EIP di hard fork London, EIP 1559 bisa dibilang merupakan perubahan kode yang paling dinanti dan kontroversial dari semuanya. Sebab, upgrade Ethereum ini digadang-gadang akan menyusutkan biaya transaksi Ethereum, atau umum dikenal sebagai gas fees.

Selama ini, gas fees selalu menjadi momok di dalam sistem blockchain Ethereum. Sehingga, jika angka gas fees melorot, maka adopsi Ethereum diprediksi kian meluas. Kemudian, bukan tidak mungkin nantinya harga ETH pun meroket.

Mengapa demikian?

Nantinya, EIP 1559 akan memperkenalkan satu biaya transaksi standar, juga disebut ‘base fee’ atau biaya dasar. Tujuannya agar transaksi di Ethereum bisa bergerak secara dinamis menyesuaikan maraknya aktivitas di atas sistem blockchain Ethereum.

Nah, di dalam sistem transaksi bar ini, sistem Ethereum akan membakar ETH (burning) demi menstabilkan nilai Base Fee. Alhasil, pasokan yang lebih rendah terhadap permintaan yang lebih tinggi akan mengarah ke harga ETH yang meningkat.

Banyak Miskonsepsi Soal EIP 1559

Sayangnya, terdapat beberapa kesalahpahaman mengenai konsep EIP 1559 yang kerap dikhawatirkan penambang sejak upgrade ini diusulkan 2019 silam. Lantas, apa saja sih, mitos umum tentang EIP 1559 hard fork London?

Mitos 1: EIP 1559 Hard Fork London Ditujukan untuk Mengurangi Gas Fees Ethereum

Memang, EIP 1559 akan berimbas pada turunnya gas fees Ethereum. Hanya saja, hal tersebut bukanlah tujuan upgrade sistem tersebut. Tujuan utama dari implementasi sistem ini adalah untuk membenahi sistem perhitungan gas fees yang seolah “membabi buta”.

Saat ini, penentuan tarif gas fees dilakukan seperti lelang. Di mana, penambang hanya akan menambang jika pengguna bisa menawarkan gas fees yang sesuai dengan permintaannya. Namun imbasnya, biaya untuk mengirim transaksi juga ikut meroket, yang bikin pengguna jadi tak leluasa untuk beraktivitas di sistem blockchain Ethereum.

Nah, untuk itulah EIP 1559 akan diimpelementasikan. Yakni, untuk mengatur penentuan harga gas fees yang terkesan serampangan melalui standar biaya transaksi yang disebut Base Fee.

Melalui Base Fee, biaya transaksi tidak terlalu fluktuatif dan lebih dapat diprediksi. Caranya adalah dengan membuat model algoritmik untuk menyesuaikan biaya secara otomatis dengan faktor paling banyak 1,125 kali per blok.

Dengan EIP 1559 hard fork London, biaya diatur untuk naik dan turun berdasarkan penggunaan ruang blok. Jika blok diisi di atas “gas target” yang ditetapkan, biaya dasar akan meningkat 12,5%, dan sebaliknya.

Namun, perubahan pada cara kerja model biaya Ethereum ini tidak diharapkan untuk mengurangi biaya transaksi di Ethereum. Masalah tingginya biaya ini terutama disebabkan oleh terbatasnya kapasitas jaringan untuk memproses transaksi. EIP 1559 sendiri tidak akan mempengaruhi berapa banyak transaksi yang dapat ditangani jaringan sekaligus.

Baca juga: Apa Beda Blockchain Polkadot dengan Ethereum? Simak di Sini!

Mitos 2: EIP 1559 akan Bikin Kebijakan Moneter Ethereum Lebih Dapat Diprediksi

Seperti yang disebut di atas, EIP 1559 akan mengaktivasi skema burning ETH di sistem Ethereum. Alias, sistem Ethereum akan lebih memilih untuk menghancurkan ETH dibandingkan mendistribusikannya ke penambang.

Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada insentif finansial bagi para penambang sehingga jaringan tetap padat dan menjaga kestabilan nilai Base Fee.

Karena mekanisme pembakaran ini, EIP 1559 dapat memperkuat narasi tentang “suplai yang kian langka” seperti Bitcoin.

Akan tetapi, sulit untuk memprediksi dengan tepat berapa banyak Ether yang akan dibakar dari waktu ke waktu. Hal itu mengingat bahwa biaya dasar secara dinamis menyesuaikan aktivitas jaringan dan permintaan untuk ruang blok.

EIP 1559 memang memperkenalkan penyeimbang terhadap pasokan ETH yang terus meningkat. Namun itu tidak membuat kebijakan moneter jangka panjang Ethereum lebih stabil.

Sebaliknya, ini menimbulkan ketidakstabilan ekonomi ke jaringan dengan membuatnya tidak mungkin untuk mengontrol berapa total pasokan ETH dari waktu ke waktu.

Baca juga: Apa Itu Bitcoin Taproot? Simak Penjelasannya Secara Padat di Sini!

Mitos 3: Implementasi EIP 1559 akan Bikin Penambang Ethereum ‘Mogok’ dan Menyerang Jaringan.

Dengan implementasi Base Fee, terdapat anggapan bahwa penambang akan kehilangan 20% hingga 35% dari pendapatan mereka. Hal itu membuat munculnya petisi dari entitas penambangan di Ethereum untuk menghentikan EIP 1559 agar tidak diterima. Akibatnya, amandemen EIP 1559 pun telah diusulkan.

Berbagai usulan itu diantaranya mempertahankan biaya dasar agar tidak hangus. Lalu, meningkatkan pendapatan penambang dari sumber lain seperti subsidi blok dan melakukan penyesuaian pada algoritma penambangan Ethereum. Tujuannya, agar persaingan untuk penghargaan jaringan di antara para penambang lebih adil.

Terlepas dari tentangan dari anggota komunitas penambangan Ethereum, EIP 1559 diprediksi akan dirilis di jaringan utama Ethereum pada bulan Juli. Hal itu menimbulkan pertanyaan apakah penambang berpotensi menolak upgrade hard fork London dengan mematikan mesin mereka dan melemahkan keamanan jaringan.

Meskipun itu mungkin, ada sejumlah alasan mengapa sebagian besar penambang tidak mungkin membelot atau mencoba menyabot Ethereum sebagai akibat dari aktivasi EIP 1559.

Salah satu alasan utama adalah bahwa para penambang harus melupakan imbalan yang mungkin mereka peroleh dengan meningkatkan mesin mereka dan melanjutkan operasi.

Ada juga kenyataan bahwa penambang memiliki ‘landasan’ terbatas di Ethereum dan harus melepaskan 100% hadiah setelah jaringan beralih ke protokol konsensus proof-of-stake (PoS) awal tahun depan.

Baca juga: Fans Bitcoin Wajib Baca! Ini Prediksi Bitcoin Selama 2021 Dari 10 Pakar Top!

Mitos 4: EIP 1559 akan menyelesaikan masalah Miner Extractable Value (MEV) di Ethereum

Pendapatan penambang di Ethereum secara historis terdiri dari subsidi blok tetap dan biaya transaksi. Namun, sebagai akibat dari semakin populernya perdagangan frekuensi tinggi di bursa desentralisasi atau decentralized exchanges (DEX), pendapatan penambang dari MEV menjadi semakin menguntungkan.

Organisasi penelitian dan pengembangan Flashbots memperkirakan pendapatan harian dari MEV telah tumbuh pesat. Yakni, dari US$500.000 pada awal tahun ini menjadi lebih dari US$6 juta pada Juni.

Sebagai latar belakang, MEV adalah pendapatan yang dapat diperoleh penambang sebagai akibat langsung dari kemampuan mereka untuk memesan transaksi dalam satu blok. Hal ini sulit untuk diukur karena pendapatan penambang diperoleh dari pemesanan ulang.

EIP 1559 mengurangi kemampuan penambang untuk mengandalkan biaya transaksi sebagai cara untuk mengekstrak MEV dari pengguna. Tetapi kemampuan penambang untuk memesan transaksi dan mendapatkan MEV melalui cara lain akan tetap tidak berubah di bawah EIP 1559.

“Biaya transaksi yang dibayar orang untuk penyertaan [dalam satu blok] sebenarnya adalah persentase yang sangat kecil dari pasar MEV. Permainan ini pada dasarnya tidak berubah dan mitigasi tingkat protokol yang lebih dalam masih merupakan hal-hal yang belum kami jelajahi,” ujar peneliti Flashbots Philip Daian pada konferensi Ethereum virtual bulan Mei lalu.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Coindesk



Sumber : pluang.com

Metis Protocol, Solusi Layer 2 untuk Transaksi Cepat dan Biaya Rendah

Apa itu Metis Protocol?

Metis Protocol merupakan solusi Scaling Layer 2 untuk Ethereum yang memanfaatkan Optimistic Rollup guna menyediakan transaksi yang lebih cepat dan biaya lebih rendah, sekaligus menjaga standar keamanan tinggi yang menjadi ciri khas Ethereum.

Kerangka kerja ini tidak hanya mudah digunakan, sangat dapat diskalakan, dan sepenuhnya fungsional, tetapi juga memungkinkan migrasi yang lancar dari Web 2.0 ke Web 3.0. Tujuannya adalah merevolusi cara orang dan bisnis berkolaborasi dengan memanfaatkan Decentralised Autonomous Company (DAC) dalam Infrastruktur Layer 2 mereka.

Meskipun Ethereum telah menjadi cryptocurrency terbesar kedua berkat kontrak pintar, kesuksesannya membawa masalah skalabilitas yang mengakibatkan keterlambatan dan biaya tinggi, terutama biaya transaksi. Hal ini semakin memburuk seiring dengan peningkatan pengguna.

Sebagai respons terhadap masalah skalabilitas Ethereum, muncul alternatif seperti Solana atau Avalanche. Meskipun pengembang Ethereum merencanakan peningkatan jangka panjang, solusi scaling seperti Metis Protocol muncul untuk menjadikan transaksi Ethereum lebih cepat dan lebih ekonomis dalam jangka pendek hingga menengah.

Optimistic Rollups: Solusi Scaling Metis Protocol

Metis Protocol menerapkan Optimistic Rollups, konsep serupa dengan Optimism. Dengan menggabungkan beberapa transaksi ke dalam satu batch, biaya transaksi dapat dikurangi secara signifikan. Pendekatan ini menjadikan Metis jauh lebih efisien dari segi biaya dibandingkan Ethereum.

Dalam Metis, transaksi dieksekusi di Layer 2, sementara data transaksi diposting ke Layer 1 Ethereum untuk menjaga tingkat keamanan dan validasi. Langkah ini mempertahankan tingkat keamanan melalui desentralisasi, membuat Metis Protocol menjadi solusi Layer 2 yang dapat diandalkan.

Kelebihan dan Kekurangan 

Keunggulan

1. Biaya Rendah

Metis Protocol menawarkan biaya transaksi yang sangat rendah, menjadikannya salah satu solusi Layer 2 dengan biaya terendah di antara pesaingnya.

2. Dibangun di Atas Ethereum

Sebagai solusi Layer 2, protokol ini membangun fondasinya di atas Ethereum, platform kontrak pintar terkemuka di dunia. Ini memastikan ketersediaan keamanan dan keandalan tingkat tinggi.

3. Komunitas Kuat

MetisDAO didukung oleh komunitas yang kuat dan berbasis pada partisipasi aktif dari para anggotanya. Ini mencerminkan dukungan luas terhadap visi dan misi Metis Protocol.

4. Potensi Koneksi dengan Vitalik Buterin

Keunikannya terletak pada potensi koneksi dengan Vitalik Buterin, pendiri Ethereum. Keterlibatan ibu Vitalik di MetisDAO dan hubungan baik CEO MetisDAO dengan Vitalik menunjukkan jaringan yang solid.

5. Investor Kuat

Dengan dukungan dari investor terkemuka seperti Master Ventures, Oasis Capital, AU21, BMW Capital, Consensus Lab, Genblock Capital, dan M6, Metis Protocol memiliki basis finansial yang kokoh.

Kekurangan

1. Adopsi Terbatas

Meskipun memiliki potensi besar, MetisDAO masih merupakan platform yang relatif baru dengan adopsi terbatas dibandingkan dengan pesaing yang lebih mapan.

2. Kompetisi Ramai

Terdapat persaingan yang ketat di antara solusi Layer 2 Ethereum, seperti Arbitrum, Polygon, dan Optimism, yang memiliki adopsi pengguna yang lebih signifikan.

3. Tidak Menawarkan Teknologi Terobosan yang Signifikan

Metis Protocol, meskipun efektif, tidak memberikan terobosan teknologi yang signifikan dibandingkan dengan solusi serupa di pasaran.

Fitur Unik MetisDAO

1. Decentralized Autonomous Companies (DAC)

MetisDAO menyediakan alat untuk integrasi operasi bisnis dunia nyata ke dalam blockchain dengan mudah melalui konsep Decentralised Autonomous Companies (DAC). DAC menghilangkan perantara dan membuka era transparansi dalam pengelolaan bisnis.

2. Middleware Polis

Polis Middleware MetisDAO menyederhanakan komunikasi antara komponen di luar rantai dan di dalam rantai platform. Ini memungkinkan pengembangan dApps tanpa kerumitan, mempercepat inovasi dalam ekosistem Metis Protocol.

3. Integrasi IPFS

Dibangun dengan integrasi IPFS, Metis Protocol memanfaatkan keunggulan InterPlanetary File System (IPFS) dalam penyimpanan dan berbagi file secara terdesentralisasi. Ini menciptakan lingkungan yang efisien dan aman untuk penyimpanan data.

4. Koneksi Pribadi dengan Vitalik

Keberadaan koneksi pribadi dengan Vitalik Buterin membuka peluang kolaborasi dan dukungan yang berarti, memberikan Metis Protocol daya saing yang unik.

Bagaimana Cara Kerjanya?

Metis adalah platform “DAO-as-a-Service” berbasis blockchain layer 2 yang memungkinkan pengguna berinteraksi secara peer-to-peer untuk membangun DAC mereka sendiri. Pengguna dapat menggunakan toolkit on-chain untuk memulai kolaborasi, mengelola tugas, acara, keuangan, dan lainnya.

Dengan identitas dan reputasi individu yang persisten, Metis memfasilitasi pembangunan kepercayaan dan kolaborasi di dalam platformnya. Pengguna dapat mempertaruhkan aset digital dalam Kontrak Meta Staking untuk membentuk hubungan kolaboratif.

Metis memungkinkan individu membangun dan menjalankan perusahaan di blockchain, menciptakan ekonomi Web3 yang komprehensif dan berkelanjutan. Dengan teknologi Layer 2 dan infrastruktur DAO yang berpusat pada individu, Metis Protocol membuka peluang baru bagi pengguna blockchain.

Kesimpulan

Protokol ini menjanjikan kontribusi besar terhadap perkembangan ekosistem blockchain, membuka peluang bagi bisnis dan individu untuk berkolaborasi dengan cara yang transparan, efisien, dan demokratis. Dengan terus mengintegrasikan inovasi dan mendengarkan umpan balik komunitas, Metis Protocol dapat menjadi pemimpin dalam membangun masa depan Web3 yang inklusif dan berkelanjutan.

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang untuk investasi Saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!



Sumber : pluang.com

4. Menggunakan Support dan Resistance dalam Trading

4.1 Latar Belakang

Dalam aktivitas trading, memahami level support dan resistance menjadi suatu hal yang krusial. 

Dengan memahami kedua elemen ini, seorang trader dapat mengidentifikasi titik-titik yang menjadi indikator apakah harga suatu aset akan mengalami kenaikan atau penurunan.

Sobat Cuan bisa menentukan level yang optimal untuk melakukan transaksi beli atau jual. 

4.1.1 Sekilas tentang Support dan Resistance

Support dan resistance merujuk pada tingkat harga aset yang berperan sebagai “penghalang” dalam analisis teknikal, mencegah harga aset naik atau turun lebih jauh.

Memahami arti dari kedua istilah ini dan aplikasinya dalam praktik sangat penting untuk membaca grafik harga dengan benar.

Untuk mempermudah identifikasi dua hal tersebut, trader dapat menggunakan metode menentukan trendline terlebih dahulu.

4.1.2 Support

Dalam konteks grafik pergerakan harga, support dapat dijelaskan sebagai tingkat harga yang mampu menahan atau menghentikan penurunan harga lebih lanjut saat terjadi tren negatif pada suatu aset.

Ketika harga aset mencapai level support, diantisipasi bahwa harga akan rebound dan tidak terus menurun. Level support umumnya diperkuat oleh peningkatan volume pembelian.

Saat nilai aset mengalami penurunan, sejumlah investor melihat peluang untuk melakukan pembelian, berharap harga akan pulih.

Sementara itu, sebagian investor lainnya memilih untuk tetap memegang aset mereka tanpa menjualnya, meskipun harga menurun. Perilaku ini lah yang membentuk dasar dari level support.

4.1.3 Resistance

Kebalikan support, resistance adalah tingkat harga yang menghentikan kenaikan harga aset.

Saat tren harga terus meningkat, pada suatu titik harga aset akan berhenti atau terhenti, dan titik ini dikenal sebagai resistance.

Resistance dipicu oleh tindakan banyak investor yang menjual aset mereka untuk mengamankan keuntungan saat harga mencapai puncaknya.

Dengan meningkatnya volume penjualan aset, terbentuklah level resistance, menghambat kenaikan harga aset agar tidak terus melonjak.

4.2 Bagaimana Langkah Menetapkan Support dan Resistance?

4.2.1 Pendekatan Penetapan Trendline

Dalam memanfaatkan indikator support dan resistance, langkah awal yang perlu diambil oleh seorang trader adalah memperhatikan trendline, yaitu garis diagonal yang menunjukkan tren kenaikan atau penurunan harga suatu aset.

Dalam grafik yang di bawah, garis berwarna hitam mengindikasikan adanya tren kenaikan harga. Sementara garis horizontal berwarna biru memperlihatkan level support dan resistance. Adapun warna biru muda menunjukkan zona pergerakan saham, yang mendekati resistance-nya. Sedangkan zona berwarna merah muda menunjukkan pergerakan saham yang mendekati support-nya.

Trendline NVDA, Sumber: TradingView (2023, 2024)

Proses penetapan trendline membutuhkan setidaknya dua atau tiga kurva perubahan harga pada grafik, yang nantinya akan dihubungkan oleh trader untuk membentuk garis diagonal. Pada grafik di atas, trendline dibuat berdasarkan harga penutupan saham NVDA selama 3 bulan.

Meskipun demikian, penentuan trendline pada dasarnya bersifat subjektif dan tergantung pada preferensi masing-masing trader, di mana trader memutuskan pada tingkat harga mana ia ingin menggabungkannya.

Terdapat trader yang mengaitkan trendline dengan harga penutupan, sementara yang lain mempertimbangkan kombinasi antara harga pembukaan, penutupan, harga tinggi, dan harga rendah dalam penetapan trendline mereka.

4.2.2 Membeli Aset di Zona Support, Menjual di Zona Resistance

Setelah mengidentifikasi trendline, tugas mencari level support dan resistance akan menjadi lebih simpel. Level support dan resistance tercermin dalam garis biru muda yang tampak pada grafik sebelumnya.

Prinsipnya, seorang trader akan cenderung membeli aset ketika harganya berada di zona support, dan menjualnya ketika harga telah mencapai zona resistance.

Menetapkan zona support dan resistance yang akurat tidak selalu menjadi tugas yang mudah, dan selalu ada risiko bahwa tingkat support dan resistance dapat dilampaui, menyebabkan harga melanjutkan pergerakan naik atau turun melampaui batasan tersebut.

Penting untuk dicatat bahwa titik support dan resistance ini berperan sebagai alat bantu dalam proses pengambilan keputusan dalam trading, dan bukanlah acuan yang bersifat mutlak.

Oleh karena itu, selain pemahaman teknikal seperti mengenali level support dan resistance, pemahaman terhadap aspek-aspek lain, termasuk aspek fundamental, juga menjadi esensial sebelum memulai aktivitas trading.

4.2.3 Cara Menetapkannya

  1. Garis Horizontal

Menentukan titik support dengan metode ini sangat sederhana:

  1. Pilih saham di Pluang dan periksa sejarah pergerakan harganya pada waktu tertentu.
  2. Identifikasi titik terendah harga saham dalam periode tersebut.
  3. Tarik garis horizontal tepat di bawah titik terendah saham dan tentukan area ini sebagai area support saham.
Garis Horizontal AAPL, Sumber: TradingView (2023)
AAPL Horizontal Resistance, Sumber: TradingView (2024)
  1. Trend Line

Cara berikutnya adalah dengan menarik garis tren atau trend line, yang hampir mirip dengan metode pertama:

  1. Pilih saham di Pluang dan amati pergerakan harganya selama periode tertentu.
  2. Fokus pada pergerakan harga saham yang membentuk tren naik (uptrend) atau turun (downtrend).
  3. Tarik garis miring menghubungkan ujung titik terendah saham pada tren tersebut untuk menentukan area support.
Trendline NFLX, Sumber: TradingView (2023)
Trendline NVDA, Sumber: TradingView (2023)
  1. Moving Average

Moving average, garis yang terus berubah menampilkan rata-rata perubahan harga aset dalam periode tertentu, digunakan untuk menganalisis pergerakan harga saham dan menentukan titik support:

  1. Pilih saham Pluang dan lihat pergerakan harganya dalam periode tertentu.
  2. Gunakan indikator moving average dengan rentang waktu 9 hari (MA9) atau sesuai preferensi.
  3. Perhatikan posisi garis moving average (MA) terhadap harga; jika di bawah harga, berfungsi sebagai support, dan sebaliknya.
Simple Moving Average AAPL, Sumber: TradingView (2023, 2024)
  1. Fibonacci Retracement

Fibonacci retracement merupakan garis horizontal yang mencerminkan rasio bilangan fibonacci. Hal itu dapat digunakan untuk menentukan potensi support dan resistance pada grafik pergerakan harga saham:

  1. Pilih saham Pluang dan lihat pergerakan harganya dalam periode tertentu.
  2. Terapkan indikator fibonacci retracement pada grafik dengan menarik garis dari titik terendah (swing low) ke titik harga tertinggi (swing high).
  3. Identifikasi area support dan resistance pada titik harga yang bersinggungan dengan garis-garis Fibonacci.
Fibonacci NVDA, Sumber: TradingView (2024)
Fibonacci NVDA, Sumber: TradingView (2023)

4.3 Contoh Support dan Resistance

Sebagai ilustrasi, mari kita lihat contoh di bawah ini untuk mendapatkan pemahaman lebih baik tentang bagaimana trader sering menggunakan konsep support dan resistance dalam bursa efek.

Bayangkan seorang penjual pakaian yang awalnya menjual dengan harga Rp100 ribu karena produknya masih kurang dikenal. 

Namun, ketika model pakaian tersebut mulai diminati oleh banyak orang, harga naik menjadi Rp150 ribu dan tetap bertahan di pasar hingga mencapai titik jenuh, lalu kembali ke harga awal, yaitu Rp100 ribu.

Harga Rp100 ribu kemudian menjadi harga support, yang merupakan level terendah yang diyakini tidak akan turun lagi. Rentang harga antara Rp100 ribu sampai Rp150 ribu disebut sebagai rentang harga support.

Sebagai analogi untuk resistance, bayangkan harga cabe di musim paceklik. 

Seorang penjual cabe mungkin menjual dengan harga Rp250 ribu, yang jauh di atas rata-rata harga sebelumnya, yang biasanya hanya sekitar Rp100 ribu.

Meskipun penjual cabe masih berharap harga bisa naik lagi, jika tidak, Rp250 ribu menjadi harga tertinggi yang dianggap sulit untuk dilewati, dikenal sebagai resistance

Rentang harga antara Rp100 ribu sampai Rp250 ribu disebut sebagai rentang harga resistance.

4.3.1 Bagaimana Praktiknya dalam Perdagangan Saham?

Konsep support dan resistance ini digunakan oleh trader sebagai alat bantu dalam menganalisis pergerakan harga saham.

Dalam grafik pergerakan saham, support sering ditandai dengan garis horizontal. Trader dapat menentukan batas bawah harga dengan garis ini, di mana harga saham dianggap tidak akan turun lebih rendah dan kemungkinan akan kembali naik. Setiap trader mungkin memiliki garis support sendiri sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan mereka.

Sebagai contoh, gambar di bawah ini menunjukkan tiga titik terendah saham dalam suatu periode (nomor 1, 2, dan 3).

Jika ditarik garis melalui ketiga titik tersebut, akan terbentuk garis horizontal, yang disebut sebagai support. Semakin banyak titik terendah yang dapat dihubungkan untuk membentuk garis support, semakin kuat pula tingkat support tersebut.

Gambar di bawah ini menunjukkan pergerakan harga yang tidak pernah turun lebih rendah dari garis support.

Support Line BNBUSD, Sumber: TradingView (2024)

Sedangkan resistance ditandai dengan garis mendatar. Trader menghindari saham yang harganya menyentuh garis resistance karena dianggap tidak akan memberi keuntungan. Saham jenis ini akan mengalami penurunan harga karena telah mencapai harga tertingginya. 

Seperti gambar dibawah, terdapat titik tertinggi sebuah saham pada periode tertentu pada nomor 1, 2, 3, dan 4, sehingga dapat ditarik menjadi garis horizontal. Garis ini disebut dengan resistance.

Resistance Line DIS, Sumber: TradingView (2024)

Kekuatan resistance akan semakin tinggi jika jumlah titik tertinggi yang digunakan untuk membuat garis resistance tersebut semakin banyak.

Kendati, harga saham tetap dapat melewati titik support atau resistance, yang disebut sebagai break support atau break resistance.

Dua contoh di atas menunjukkan cara menentukan titik support dan resistance dengan metode classic support resistance, yaitu dengan menarik garis horizontal sederhana.

4.4 Seperti Apa Strategi Trading dengan Support dan Resistance?

Trading berdasarkan support dan resistance melibatkan pengenalan level-level harga penting pada grafik harga.

Strategi mudahnya adalah sebagai berikut:

  1. Identifikasi Level: Kenali level support dan resistance yang telah terbentuk menggunakan data harga historis.
  2. Konfirmasi Tren: Analisis tren pasar secara keseluruhan untuk menyesuaikan strategi trading dengan tren harga saat ini.
  3. Entry dan Exit: Pertimbangkan untuk membeli di dekat support dalam tren naik dan menjual di dekat resistance saat tren turun. Tempatkan order stop-loss tepat di luar level ini untuk manajemen risiko.
  4. Indikator Konfirmasi: Manfaatkan indikator teknikal seperti Moving Average, garis tren, dan pola candlestick untuk memvalidasi potensi strategi trading.

4.4.1 Faktor Psikologis di Balik Support dan Resistance

Level support dan resistance dipengaruhi oleh psikologi para pelaku pasar.

Support mencerminkan level harga di mana trader akan masuk ke pasar, sehingga kemungkinan harga aset tidak akan merosot lebih lanjut.

Saat harga aset mendekati level support, trader cenderung membeli aset karena mungkin telah melewatkan peluang beli di masa lalu.

Sebaliknya, resistance adalah tingkat harga di mana trader kemungkinan besar akan menjual aset, sehingga mencegah harga aset untuk terus naik.

Dalam skenario ini, trader akan segera menjual asetnya ketika harga mendekati level resistance karena mereka mungkin telah melewatkan kesempatan menjual di masa lalu.

Perilaku kolektif dari para pelaku pasar ini mempengaruhi dinamika pergerakan harga, menjadikan support dan resistance sebagai elemen penting dalam analisis pasar.



Sumber : pluang.com

Mending Beli iPhone atau Saham Apple? Yuk, Simak Ilustrasinya Berikut!

Sobat Cuan salah seorang penggemar iPhone? Dengan performa yang mumpuni dan kemudahan penggunaan dibanding jenis ponsel pintar lainnya, tak heran jika banyak pengguna yang fanatik terhadap gadget yang berlambang apel digigit itu.

Moncernya penjualan iPhone pun tercermin di dalam kinerja keuangannya. Hingga kini, kapitalisasi pasar saham Apple sendiri sudah menyentuh US$2,22 triliun. Bahkan, lebih besar dibanding Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sebesar US$1,2 triliun.

Kini iPhone yang awalnya dirilis 2007 lalu itu sudah berkembang dengan pesat, di mana model terakhirnya adalah iPhone 12 yang dirilis tahun lalu.

Produk ini tentunya juga menjadi salah satu pendorong tokcernya profit yang dibukukan perusahaan ini. Pada 2020, Apple membukukan laba sebesar US$63,93 miliar, atau tumbuh 1.470% dibanding 2007 yakni US$4,07 miliar.

Kelihatan menarik ya, Sobat Cuan? Kondisi itu tentu akan bikin kamu berpikir tentang cuan yang bisa kamu peroleh jika kamu memilih berinvestasi di saham Apple ketimbang membeli satu unit iPhone seri pertama 14 tahun silam.

Yuk, mari berandai-andai dan mengkhayal bareng ya, Sobat Cuan!

Saham Apple vs Beli iPhone: Mendingan Mana?

iPhone pertama kali dirilis pada tahun 2007 silam, tepatnya sekitar 14 tahun silam. Kala itu, calon pembeli harus mengantre panjang untuk bisa mendapatkan ponsel yang memang sudah ditunggu-tunggu tersebut.

Kala itu, harga iPhone seri pertama dibanderol US$499 untuk kapasitas 4 GB dan US$599 untuk kapasitas 8 GB. Dengan menimbang harga saham Apple saat itu US$3,75 per lembar saham, maka satu unit iPhone saat itu setara dengan 133 hingga 159 lembar saham Apple.

Sekarang, kita tiba di saat yang mendebarkan. 14 tahun kemudian, tepatnya di tahun 2021, harga satu lembar saham Apple sudah US$133 per lembar. Alias, bertumbuh 44 kali lipat sejak tahun 2007 silam!

Nah, dengan asumsi bahwa kamu tak menjual saham-sahammu, maka seharusnya kini kamu sudah mengantongi 133 hingga 159 lembar saham bernilai US$17.689 hingga US$21.147. Atau, kamu bisa membeli 22 hingga 26 unit iPhone 12 yang dibanderol rata-rata US$799 per buah.

Tetapi, memiliki iPhone generasi pertama juga bisa dijadikan investasi, kok. Argumen itu juga benar, karena untuk iPhone generasi pertama yang masih dalam keadaan rapi dan belum pernah digunakan ternyata bisa laku di harga US$1.000 di tangan kolektor.

Namun, kebanyakan dari pembeli menggunakan iPhone bukan untuk dijadikan investasi. Melainkan memang untuk penggunaan sehari-hari.

Jadi, mending mana Sobat Cuan? Beli iPhone atau beli saham Apple langsung?

Baca juga: WFH Bawa Berkah, Morgan Stanley Ramal Saham Apple Naik 15% di 2021

Saham Apple Mengajarkan Pentingnya Investasi Jangka Panjang

Kondisi di atas memperlihatkan bahwa investasi jangka panjang adalah hal esensial agar kamu bisa mencapai masa depan finansial.

Memang, fluktuasi harga aset memang bisa saja terjadi dalam jangka pendek dan mempengaruhi nilai portofoliomu. Namun, selama aspek fundamentalnya kuat, percayalah bahwa investasimu bisa berbuah manis di masa depan.

Selain itu, mendulang cuan adalah soal persepsi. Mereka yang membeli iPhone generasi pertama pun tentu juga bisa mendulang cuan dengan gawainya asal memanfaatkannya untuk kegiatan produktif. Misalnya, menggunakannya untuk memasarkan usaha mereka.

Baca juga: 8 Hal yang Perlu Kamu Tahu dari iPhone 12

Apakah Sudah Terlambat Membeli Saham Apple?

Nah, untungnya kamu masih belum terlambat untuk memiliki saham Apple. Sebab, prospeknya jangka panjang masih terbilang cukup mumpuni. Hal ini didukung oleh inovasi Apple ke depan yang diprediksi akan terus breakthrough plus merek Apple yang punya reputasi baik.

Di bulan ini, CNN Money melakukan survei terhadap 40 analis yang menyebut bahwa harga saham Apple dalam setahun ke depan akan mencapai US$160 per lembar. Atau, bertumbuh 20,3%.

Jadi, apakah kamu tertarik investasi di saham Apple? Kalau jawabannya adalah ya, kamu bisa memaksimalkan cuan dari investasi di instrumen tersebut dengan diversifikasi aset. Ya, apalagi kalau kamu mendiversifikasikannya dengan saham-saham lain yang berkinerja top!

Makanya, yuk investasi di Pluang S&P 500! Kamu bisa mengakses 500 perusahaan top Amerika Serikat, termasuk Apple, hanya dalam satu genggaman saja!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!



Sumber : pluang.com

7. Mengenal RSI, Si Osilator Paling Populer

7.1 Latar Belakang

Relative Strength Index atau RSI merupakan salah satu osilator paling populer.

Osilator memainkan peran penting dalam analisis teknikal karena jumlah informasi yang dapat mereka berikan serta kemampuan mereka untuk memimpin variasi harga, dan seringkali digunakan bersama dengan indikator tren.

Dalam tulisan ini, Sobat Cuan akan memahami lebih detail tentang RSI. 

7.1.1 Sekilas tentang RSI 

Relative Strength Index (RSI) adalah salah satu indikator teknis yang sering digunakan dalam analisis pasar keuangan.

Ditemukan oleh J. Welles Wilder, RSI membantu trader untuk mengidentifikasi kondisi pasar yang overbought (jenuh beli) atau oversold (jenuh jual). 

Skala nilai indikator ini berkisar antara 0 hingga 100.

Ketika RSI berada di atas 70, itu menunjukkan kondisi overbought, artinya harga mungkin sudah terlalu tinggi dan dapat segera mengalami penurunan.

Sebaliknya, berada di bawah 30, itu menunjukkan kondisi oversold, yang berarti harga mungkin sudah terlalu rendah dan dapat segera mengalami kenaikan.

7.2 Apa Itu Relative Strength Index

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, RSI adalah osilator yang memberikan gambaran tentang kekuatan dan arah pergerakan harga suatu aset. 

Indeks ini bertujuan untuk menunjukkan kapan harga sedang jenuh beli atau jenuh jual, dan kapan mungkin terjadi pembalikan.

Dalam skala 0-100, untuk menentukan kapan sekuritas jenuh beli atau jenuh jual, indikator ini mencakup satu level jenuh beli konstan (70 disarankan oleh Wilder) dan satu level jenuh jual (30 disarankan oleh Wilder).

Nilai RSI di atas level jenuh beli menunjukkan bahwa sekuritas sedang jenuh beli, sementara nilai RSI di bawah level jenuh jual menunjukkan bahwa sekuritas sedang jenuh jual.

Indikator ini memiliki satu pengatur panjang yang memungkinkan pengguna untuk memperoleh informasi tentang variasi harga jangka pendek atau jangka panjang, sering kali diatur sebagai 14 secara default. Nilai pengaturan default ini sering kali tidak berubah.

Adapun perhitungannya melibatkan perbandingan antara jumlah kenaikan harga (bullish) dan jumlah penurunan harga (bearish) selama periode tertentu.

Umumnya, periode default yang digunakan adalah 14, tetapi bisa disesuaikan sesuai preferensi trader.

7.2.1 Bagaimana Cara Kerjanya? 

Nilai RSI dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 

RSI = 100 – [100/(1 + RS)] 

RS = Average Gain / [Average Loss]

Average Gain atau Loss = Average Gain atau Loss Points selama periode tertentu

Nilai rata-rata ini mencakup poin kenaikan atau penurunan harga selama periode waktu tertentu (periode standar yang umum digunakan adalah 14). Penting untuk dicatat bahwa rumus ini menggunakan nilai positif untuk menghitung rata-rata kerugian.

Periode dengan harga turun dihitung sebagai nol dalam perhitungan kenaikan rata-rata, dan sebaliknya, periode dengan harga naik dihitung sebagai nol dalam perhitungan rata-rata kerugian.

Jumlah periode standar yang digunakan untuk menghitung nilai awal RSI adalah 14. 

Perhatikan tabel di bawah ini.

No Date Close Points Gain Points Loss 14 days Average Gains 14 days Average Loss RS RSI
1 3 Jul ’23 424 0 1        
2 5 Jul ’23 423 0 -1        
3 6 Jul ’23 421 0 -2        
4 7 Jul ’23 425 4 0        
5 10 Jul ’23 422 0 -3        
6 11 Jul ’23 424 2 0        
7 12 Jul ’23 439 15 0        
8 13 Jul ’23 460 21 0        
9 14 Jul ’23 455 0 -5        
10 17 Jul ’23 465 10 0        
11 18 Jul ’23 475 10 0        
12 19 Jul ’23 471 0 -4        
13 20 Jul ’23 455 0 -16        
14 21 Jul ’23 443 0 -12        
15 24 Jul ’23 446 3 0 4.44 3.01 1.5 60
16 25 Jul ’23 457 11 0 4.66 3.09 1.5 60
17 26 Jul ’23 455 0 -2 5.42 3.02 1.8 64
18 27 Jul ’23 459 4 0 5.42 3.03 1.8 64
19 28 Jul ’23 468 9 0 5.46 3.03 1.8 64
20 31 Jul ’23 467 0 0 6.06 2.80 2.2 68
21 1 Aug ’23 465 0 -2 5.90 2.82 2.1 68
22 2 Aug ’23 443 0 -22 4.83 2.97 1.6 62
23 3 Aug ’23 445 2 0 3.35 4.57 0.7 42
24 4 Aug ’23 447 2 0 3.53 4.21 0.8 46

Penjelasan:

Tabel di atas menunjukkan nilai RSI dari saham NVDA. Pada 14 baris pertama belum memiliki nilai RS. Hal ini karena untuk menghitung RS, kita harus lebih dahulu memiliki nilai rata-rata kenaikan atau penurunan saham selama minimal 14 hari.

Jumlah periode yang digunakan untuk menghitung nilai RSI di atas menggunakan nilai 14 hari yang umum digunakan para trader.

Setelah tersedia 14 periode data, perhitungan kedua dilakukan untuk menyelaraskan hasil, sehingga RSI hanya mendekati nilai 100 atau 0.

Dengan memahami perhitungan indikator ini, para trader dapat menggunakan indikator ini sebagai panduan untuk membuat keputusan investasi yang lebih baik.

Meskipun konsepnya mungkin terdengar rumit pada awalnya, keberhasilan dalam memahami dan mengaplikasikannya dapat meningkatkan keterampilan trading.

7.2.2 Plotting RSI

Setelah perhitungannya, indikator RSI dapat dipetakan di bawah grafik harga aset seperti yang ditunjukkan di bawah ini. Indikator ini akan naik seiring dengan meningkatnya jumlah dan besarnya pergerakan harga naik (up days). Sebaliknya, indikator tersebut akan turun seiring dengan meningkatnya jumlah dan besarnya pergerakan harga turun (down days).

RSI bisa tetap berada di wilayah overbought (kelebihan beli) untuk periode yang lama saat saham sedang dalam tren naik. Begitu pula, indikator ini bisa tetap berada di wilayah oversold (kelebihan jual) untuk jangka waktu yang lama saat saham berada dalam tren turun. Meskipun ini mungkin membingungkan bagi analis baru, memahami penggunaan indikator ini dalam konteks tren yang sedang berlangsung akan membantu menjelaskan isu-isu tersebut.

RSI NVDA, Sumber: TradingView (2024)

 

7.3 Mengapa RSI Penting?

Trader dapat menggunakan indikator ini untuk meramalkan perilaku harga sekuritas.

Selain itu, RSI membantu trader memvalidasi tren dan pembalikan tren. Indeks ini juga dapat mengidentifikasi sekuritas yang overbought (kelebihan beli) dan oversold (kelebihan jual).

Memberikan sinyal beli dan jual untuk trader jangka pendek. Sebagai indikator teknis, RSI dapat digunakan bersama dengan indikator lain untuk mendukung strategi trading

7.3.1 Modifikasi Level RSI untuk Sesuaikan dengan Tren

Mengetahui tren utama suatu sekuritas sangat penting agar pembacaan RSI dapat dipahami dengan benar. Sebagai contoh, Constance Brown, seorang teknisi pasar terkenal, mengusulkan bahwa pembacaan oversold oleh RSI dalam tren naik mungkin jauh lebih tinggi dari 30. Begitu juga, pembacaan overbought selama tren turun mungkin jauh lebih rendah dari 70.

Dalam grafik selama tren turun, RSI mencapai puncaknya mendekati 50 daripada 70. Hal ini dianggap oleh para trader sebagai sinyal yang lebih dapat diandalkan untuk kondisi bearish.

Banyak investor membuat garis tren horizontal antara level 30 dan 70 ketika tren kuat berlangsung untuk lebih baik mengidentifikasi tren keseluruhan dan ekstrem.

Di sisi lain, memodifikasi level RSI yang overbought atau oversold ketika harga saham atau aset berada dalam saluran horizontal atau kisaran perdagangan jangka panjang (dari pada tren naik atau turun yang kuat) biasanya tidak diperlukan.

Indikator kekuatan relatif tidak seandal dalam pasar yang sedang tren seperti dalam kisaran perdagangan. Kebanyakan trader memahami bahwa sinyal yang diberikan oleh RSI dalam tren naik atau turun yang kuat seringkali dapat salah.

7.3.2 Menggunakan Sinyal Beli dan Jual yang Sesuai dengan Tren

Konsep terkait fokus pada sinyal dan teknik trading yang sesuai dengan tren. Dengan kata lain, menggunakan sinyal bullish terutama ketika harga berada dalam tren bullish dan sinyal bearish terutama ketika saham berada dalam tren bearish dapat membantu trader menghindari alarm palsu yang dapat dihasilkan oleh RSI dalam pasar yang sedang tren.

7.3.3 Kelebihan Beli atau Kelebihan Jual

Secara umum, ketika indikator menembus angka 30 pada grafiknya, itu menunjukkan sinyal yang mendukung kenaikan harga (bullish), dan jika melintasi angka 70, itu merupakan indikasi penurunan harga (bearish).

Dengan kata lain, kita bisa menafsirkan bahwa nilai RSI sebesar 70 atau lebih mengindikasikan bahwa suatu sekuritas mungkin sedang mengalami kelebihan beli atau dinilai terlalu tinggi.

Ini bisa menjadi petunjuk potensial untuk pembalikan tren atau koreksi harga. Sebaliknya, bila pembacaan RSI berada pada 30 atau di bawahnya, ini menandakan kondisi kelebihan jual atau penilaian yang terlalu rendah.

Kelebihan beli merujuk pada situasi di mana sekuritas diperdagangkan pada tingkat harga yang melebihi nilai intrinsiknya.

Artinya, harganya lebih tinggi dari seharusnya, menurut para praktisi analisis teknikal atau analisis fundamental.

Para trader yang melihat tanda-tanda bahwa suatu sekuritas kelebihan beli mungkin mengantisipasi adanya koreksi harga atau pembalikan tren. Oleh karena itu, mereka dapat memutuskan untuk menjual sekuritas tersebut.

Konsep yang serupa berlaku ketika sebuah sekuritas, yang ditunjukkan oleh indikator teknis seperti indeks kekuatan relatif, dianggap sebagai kelebihan jual.

Ini dapat diartikan sebagai perdagangan pada tingkat harga yang lebih rendah dari seharusnya. Para trader yang memonitor tanda-tanda tersebut kemungkinan besar mengharapkan adanya koreksi harga atau pembalikan tren dan mungkin memilih untuk membeli sekuritas tersebut.

7.4 Interpretasi dan Rentang RSI dalam Tren

Selama periode tren, membaca Relative Strength Index (RSI) dapat memberikan wawasan berharga mengenai kondisi pasar.

Pada tren naik, RSI cenderung bertahan di atas 30 dan sering mencapai 70. Di sisi lain, pada tren turun, jarang RSI melampaui angka 70. Dalam beberapa kasus, bahkan RSI sering mencapai 30 atau di bawahnya.

Panduan ini membantu trader dalam mengevaluasi kekuatan tren dan mengenali potensi pembalikan.

Sebagai contoh, jika RSI tidak mampu mencapai 70 dalam serangkaian periode kenaikan harga selama tren naik, namun kemudian turun di bawah 30, itu bisa menjadi indikasi melemahnya tren naik dan potensi pembalikan turun.

Hal sebaliknya berlaku pada tren turun. Jika RSI tidak mencapai 30 atau di bawahnya dan kemudian melonjak di atas 70, itu bisa menunjukkan kelemahan tren turun dan kemungkinan pembalikan ke atas. Penggunaan garis tren dan rata-rata bergerak adalah alat teknis yang membantu dalam memahami sinyal RSI.

7.4.1 Contoh Divergensi RSI

Divergensi RSI terjadi ketika pergerakan harga tidak sejalan dengan arah RSI, mengindikasikan perubahan momentum sebelum perubahan harga yang sesuai.

Divergensi bullish muncul saat RSI menunjukkan kondisi oversold, diikuti oleh pembentukan titik terendah yang lebih tinggi, sementara harga membentuk titik terendah yang lebih rendah.

Ini dapat menandakan momentum bullish yang meningkat, dan ketika RSI melampaui wilayah oversold, trader dapat mempertimbangkan untuk membuka posisi beli baru.

Divergensi bearish, di sisi lain, muncul saat RSI mencapai kondisi overbought, diikuti oleh pembentukan puncak yang lebih rendah bersamaan dengan puncak yang lebih tinggi pada harga.

Contoh dalam grafik menunjukkan divergensi bullish ketika RSI membentuk titik terendah yang lebih tinggi seiring dengan harga membentuk titik terendah yang lebih rendah.

Meskipun divergensi dapat jarang terjadi dalam tren jangka panjang yang stabil, penggunaan pembacaan oversold atau overbought yang fleksibel dapat membantu trader mengenali lebih banyak sinyal potensial, menjadikan RSI sebagai alat yang efektif dalam pengambilan keputusan investasi.

7.5 Perbedaan Antara RSI dan MACD

Moving Average Convergence Divergence (MACD) adalah indikator momentum yang mengikuti tren, menampilkan hubungan antara dua rata-rata bergerak dari harga sekuritas. Perhitungan MACD dilakukan dengan mengurangkan Exponential Moving Average (EMA) 26-periode dari EMA 12-periode. Hasil perhitungan ini membentuk garis MACD.

EMA sembilan hari dari MACD, yang disebut garis sinyal, kemudian ditampilkan di atas garis MACD. Garis sinyal dapat berfungsi sebagai pemicu sinyal beli dan jual. Trader mungkin membeli sekuritas ketika MACD melintasi di atas garis sinyal dan menjual atau melakukan short-selling ketika MACD melintasi di bawah garis sinyal.

RSI MACD NVDA, Sumber: TradingView (2024)

RSI didesain untuk menunjukkan apakah suatu sekuritas berada dalam kondisi kelebihan beli atau kelebihan jual berdasarkan tingkat harga terkini. Perhitungan indikator ini menggunakan rata-rata kenaikan dan penurunan harga selama periode waktu tertentu. Periode waktu default adalah 14 periode, dengan nilai terbatas antara 0 hingga 100.

MACD mengukur hubungan antara dua EMA, sementara RSI mengukur momentum perubahan harga terkini berdasarkan tinggi dan rendah harga. Kedua indikator ini sering digunakan bersama-sama untuk memberikan para analis gambaran teknis yang lebih komprehensif tentang pasar.

Meskipun keduanya mengukur momentum aset, mereka mengukur faktor yang berbeda, sehingga terkadang memberikan indikasi yang saling bertentangan. Sebagai contoh, indikator ini mungkin menunjukkan pembacaan di atas 70 untuk periode yang berlangsung lama, menunjukkan kelebihan beli pada sisi pembeli.

Sementara itu, MACD dapat menunjukkan bahwa momentum pembelian masih meningkat untuk sekuritas tersebut. Kedua indikator ini dapat memberikan sinyal perubahan tren yang akan datang dengan menunjukkan divergensi dari harga (harga terus naik sementara indikator turun, atau sebaliknya).

7.6 Keterbatasan RSI

RSI membandingkan momentum harga yang bullish dan bearish, menampilkan hasilnya dalam suatu osilator di bawah grafik harga. Seperti kebanyakan indikator teknis, sinyal RSI paling dapat diandalkan ketika sejalan dengan tren jangka panjang.

Sinyal pembalikan yang sejati jarang terjadi dan sulit dibedakan dari sinyal palsu. Positif palsu, misalnya, dapat terjadi ketika terjadi persilangan bullish diikuti oleh penurunan tiba-tiba dalam saham. Negatif palsu, di sisi lain, terjadi ketika terjadi persilangan bearish, namun saham tiba-tiba melonjak ke atas.

Karena indikator ini mencerminkan momentum, ia dapat tetap berada dalam kondisi overbought atau oversold dalam waktu yang lama saat aset memiliki momentum yang signifikan ke arah tertentu. 

Oleh karena itu, RSI paling bermanfaat dalam pasar yang berayun (rentang perdagangan), di mana harga aset bergantian antara pergerakan bullish dan bearish.



Sumber : pluang.com

Mengenal Bitcoin Death Cross, Buah Bibir di Pasar Kripto Belakangan Ini

Koreksi tajam Bitcoin (BTC) dari level tertinggi sepanjang masa di US$64.900 telah mengubah sentimen investor menjadi negatif, setidaknya untuk jangka pendek. Lalu mungkin Sobat Cuan seringkali mendengar istilah pola ‘persilangan kematian’ atau death cross. Apa sih itu? Yuk kita kupas tuntas!

Bagi investor dan trader baru, nama death cross sendiri dinilai membawa banyak hal negatif dan prediksi ‘malapetaka’ yang akan datang. Sentimen ini dapat memicu kepanikan aksi jual, terutama jika pasar telah melewati fase bearish sebelum pola tersebut terlihat.

Namun, apakah death cross sesuatu yang harus ditakuti? Atau apakah itu semacam bola kristal ajaib yang memberi pertanda kepada para trader bahwa ‘kehancuran’ sudah dekat? Mari kita cari tahu dengan bantuan beberapa contoh.

Baca juga: 4 Mitos Salah Kaprah Soal EIP 1559 di Hard Fork London Ethereum

Apa Itu Death Cross?

Contoh Death Cross LTC/USDT. Sumber: Cointelegraph/Trading View

Death cross adalah kondisi di mana pergerakan harga rerata selama 50 hari (50-day Moving Average), melintasi rata-rata pergerakan harga jangka panjang, yang umumnya tercermin dalam MA 200 hari.

Persilangan chart ini dianggap bearish karena menunjukkan bahwa tren harga naik telah berbalik arah. Investor institusi yang besar umumnya tidak akan melakukan aksi beli di pasar yang melemah, sampai titik terendah diketahui. Karena hal ini, aksi beli ‘mengering’ dan investor yang memegang posisi bergegas keluar karena panik dan memperburuk penurunan harga tersebut.

Mengapa Death Cross Begitu Ditakuti?

Menilik dari sejarahnya, death cross merupakan gerbang dari periode terburuk dari beberapa kinerja beberapa kelas aset. Biasanya, ketika harga aset melalui persimpangan “maut” ini, tidak ada tanda-tanda bahwa harga tersebut akan membaik di kemudian hari.

Sebelum melihat beberapa contoh death cross di pasar kripto, mari kita lihat bagaimana pola tersebut mempengaruhi indeks S&P 500 antara tahun 1929 hingga 2019. Menurut Dorsey, Wright & Associates, LLC, penurunan rata-rata setelah pembentukan death cross adalah 12,57% dan penurunan median di angka 7,75%.

Namun, jika hanya melihat pada periode pasca-1950 semata, penurunan rata-rata harga aset terbilang 10,37% dengan median berada di 5,38%.

Death cross di indeks S&P 500 yang lebih kacau pernah terjadi pada 19 Juni 1930. Pada saat itu, indeks S&P 500 anjlok 78,84% sebelum mencapai titik terendah pada 15 September 1932. Death cross mengerikan berikutnya datang dengan koreksi 53,44% yang terjadi dari 19 Desember 2007 hingga 17 Juni. 2009.

Ini menunjukkan bagaimana dalam kasus tertentu, ‘persilangan kematian’ ini mampu memprediksi koreksi yang tajam. Namun, dua penurunan tajam lebih dari 50% dalam sejarah 90 tahun indeks tersebut menunjukkan bahwa pola tersebut tidak cukup andal untuk menimbulkan ketakutan instan pada para pedagang.

Baca juga: Simak Penjelasan Regulasi Crypto di Indonesia Secara Singkat dan Padat!

Death Cross Bitcoin Terjadi Baru-Baru Ini

Belakangan, persilangan ini menjadi buah bibir lantaran baru saja terjadi di pasar Bitcoin. Hal ini bikin pelaku pasar khawatir mengenai masa depan harga Bitcoin, sehingga pelaku pasar pun berbondong-bondong kabur dari pasar raja aset kripto tersebut.

Pada 21 Juni 2021, rata-rata pergerakan harga 50 hari Bitcoin akhirnya turun di bawah rata-rata pergerakan 200 harinya. Hal itu memicu investor ketar-ketir dan melakukan aksi jual. Harga Bitcoin pun sempat turun di bawah US$29.026, sebelum naik kembali di atas US$32.000.

Death Cross yang terjadi 21 Juni 2021. Sumber: Trading View

Mungkin saja, ada sejumlah penyebab mengapa persilangan maut itu bisa terjadi. Bisa jadi sentimennya adalah sikap pemerintah China yang menindak penambangan kripto dan melarang lembaga keuangan menawarkan layanan kripto. Sekadar informasi, pergerakan harga Bitcoin cenderung sensitif terhadap pemberitaan, terutama yang melibatkan Elon Musk atau Tesla.

Selain itu, penyebab persilangan maut itu sendiri adalah antisipasi investor atas death cross pada grafik harga Bitcoin. Ya, pelaku pasar sejatinya memang sudah meramal bahwa kondisi demikian akan terjadi. Sehingga, beberapa investor pun gelisah atau mungkin bergerak lebih cepat untuk menjual Bitcoin mereka. Sebagian lainnya mungkin memutuskan untuk menyerok Bitcoin di saat seperti ini atau bertahan dengan strategi yang sudah ada sebelumnya.

Baca juga: Apa Beda Blockchain Polkadot dengan Ethereum? Simak di Sini!

Death Cross Bitcoin? Bukan Saatnya untuk Khawatir

Namun, apakah death cross adalah sesuatu yang perlu ditakutkan oleh Sobat Cuan yang sedang gemar mengoleksi Bitcoin?

Dalam pandangan paruh kedua 2021, Kepala Strategi Teknis Piper Sandler Craig W. Johnson mengatakan bahwa harga Bitcoin sejatinya sama sekali tak terpengaruh dengan persilangan maut tersebut. Untuk memahami fenomena tersebut, ia menggali kinerja Bitcoin setelah ‘persilangan kematian’ yang terjadi sejak 2010 silam.

“Kami menguji kembali strategi Bitcoin sejak 2010. Dari tujuh persimpangan maut yang ditemukan selama jangka waktu ini, ternyata rata-rata kenaikan harga [Bitcoin] 30 hari ke depan setelah death cross adalah +11,2%,” tulis Johnson.

Ia menambahkan, meskipun datanya terbatas, persilangan maut tampaknya menjadi indikator yang kuno untuk Bitcoin. Berdasarkan hasil yang mengecewakan ini, pihak Piper Sandler memutuskan untuk mengoptimalkan rata-rata pergerakan jangka pendek dan jangka panjang untuk mengidentifikasi kenaikan 30 hari ke depan yang terbaik pasca death cross.

“Dengan memasuki posisi short Bitcoin ketika pergerakan rerata delapan hari melintasi di bawah pergerakan rerata 240 hari menghasilkan pengembalian tertinggi selama 10 tahun terakhir. Kenaikan rata-rata 30 hari setelah sinyal jual dari death cross yang dioptimalkan adalah +14,7%,” jelasnya.

Sehingga, Johnson menyimpulkan bahwa memang ada reaksi pasar yang berlebihan terhadap death cross tersebut. Kalau kamu sendiri bagaimana Sobat Cuan? Apakah kamu juga panik dengan yang disebut-sebut persilangan maut tersebut?

Harga Bitcoin yang lagi ambyar memang sepatutnya dimanfaatkan untuk aksi beli, atau akrab disapa dengan buy the dip. Kalau kamu mau melakukan aksi tersebut, yuk investasi Bitcoin di Pluang!

Baca juga: Apa Itu Bitcoin Taproot? Simak Penjelasannya Secara Padat di Sini!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Cointelegraph, Fortune, SeekingAlpha



Sumber : pluang.com

8. BOLL, Indikator Andalan Para Trader

8.1 Latar Belakang

Indikator Bollinger Band (Boll)merupakan salah satu indikator yang cukup populer dan sering digunakan para trader.

Indikator ini merupakan alat analisis teknikal yang berfungsi memprediksi tren pada suatu emiten. Seringnya Bollinger Band memang trader gunakan dalam scalping saham karena memberikan sinyal yang cukup akurat.

8.1.1 Sekilas tentang Bollinger Bands

Indikator ini dikembangkan oleh analis keuangan asal amerika yaitu John Bollinger pada 1980-an. 

John Bollinger merancang indikator ini untuk menemukan sinyal beli dan jual dengan cara mengidentifikasi suatu aset apakah mengalami jenuh jual (oversold) atau jenuh beli (overbought).

Boll berfokus khusus pada harga dan volatilitas aset. Sebab itu, akan lebih baik jika penggunaannya bersamaan dengan indikator lain untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat.

Bentuk dari Bollinger Band ini membentuk saluran di sekitar pergerakan harga suatu aset. Saluran ini terbentuk dari standar deviasi dan moving average

Kedua parameter inilah yang membuat Boll berfokus pada volatilitas sekaligus membantu melihat tren dan arah pembalikan. 

Oleh karena itu Bollinger Band tidak hanya digunakan untuk scalping saja, melainkan juga cocok untuk investasi jangka panjang karena bisa melihat tren harga.

8.2 Mengenal Bollinger Bands: Alat Teknikal Kuat untuk Para Trader

Bollinger Bands adalah alat analisis teknikal yang digunakan dalam perdagangan saham, crypto, dan aset lainnya.

Selain itu, alat teknikal ini juga tidak terikat pada kerangka waktu tertentu, yang berarti mereka berlaku untuk semua jenis grafik periode waktu.

BOLL terdiri dari tiga garis yang melingkari harga aset yang sedang dianalisis.

Garis tengahnya adalah rata-rata bergerak sederhana (simple moving average/SMA), sedangkan garis di atas dan di bawahnya menggambarkan seberapa jauh harga aset tersebut berdeviasi dari nilai rata-rata.

Fungsinya adalah untuk mengidentifikasi seberapa fluktuatif pasar dan memberikan petunjuk apakah harga sedang dalam kondisi terlalu banyak pembeli atau terlalu banyak penjual.

Ketika pasar lebih fluktuatif, lebar bollinger band akan melebar, dan ketika pasar kurang fluktuatif, lebar boll akan menyusut.

Trader menggunakan indikator ini untuk menghasilkan sinyal beli atau jual berdasarkan pergerakan harga terhadap garis-garis bollinger band. Misalnya, saat harga mendekati garis atas, itu bisa menandakan potensi pembalikan harga ke bawah, sedangkan jika harga mendekati garis bawah, itu bisa menunjukkan kemungkinan pembalikan harga ke atas.

Selain itu, boll juga berguna untuk mengidentifikasi apakah pasar sedang bergerak secara horizontal atau sedang tren, serta untuk mengukur kekuatan tren yang sedang terjadi. Alat ini membantu trader dalam analisis teknikal untuk membuat keputusan perdagangan yang lebih informatif.

8.2.1 Settings Bollinger Band

Pengaturan Bollinger Band terdiri dari tiga elemen utama yang perlu diatur:

8.2.1.1 Periode

Menentukan jumlah periode yang digunakan untuk menghitung rata-rata bergerak dan deviasi standar. Secara umum, angka standar adalah 20, yang merujuk pada 20 periode harga penutupan yang digunakan dalam perhitungan. Namun, periode dapat disesuaikan sesuai dengan preferensi dan kerangka waktu yang digunakan.

8.2.1.2 Standar Deviasi

Menentukan jumlah deviasi standar dari rata-rata bergerak yang digunakan untuk membentuk Bollinger Bands. Standar deviasi ini mengukur volatilitas pasar. Standar deviasi umumnya diatur pada 2, sehingga Bollinger Bands mencakup sekitar 95% dari pergerakan harga dalam periode waktu tertentu.

8.2.1.3 Simple moving average (SMA)

Bollinger Bands menggunakan rata-rata bergerak sebagai garis tengahnya. Anda dapat memilih jenis rata-rata bergerak, seperti simple moving average (SMA) atau rata-rata bergerak eksponensial (EMA). SMA umumnya dipilih dalam pengaturan Bollinger Bands.

Berikut adalah rumus untuk menghitung Bollinger Band (pada dua standar deviasi) berdasarkan simple moving average 20 hari:

Upper band = SMA 20 hari + (20 hari SD x 2)

Middle band = SMA 20 hari

Lower band = SMA 20 hari – (20 hari SD x 2)

8.2.2. Contoh Penggunaan Bollinger Band

Berikut adalah contoh penggunaan bollinger band dengan angka yang diambil secara hipotetis dalam perdagangan saham AS:

Misalnya, Anda menganalisis saham AAPL pada grafik 1 hari dengan pengaturan Bollinger Band periode 20 dan standar deviasi 2. Berikut adalah contoh penggunaannya:

Bollinger Band TSLA, Sumber: TradingView (2024)

 

Bollinger Band TSLA, Sumber: TradingView (2024)

8.2.2.1 Identifikasi Volatilitas

Bollinger Band melebar sebesar 14 poin, menunjukkan volatilitas yang rendah pada saham TSLA dalam periode tersebut.

8.2.2.2 Sinyal Beli dan Jual

Harga mendekati garis bawah bollinger band (233.14), memberikan sinyal potensial untuk beli. Anda dapat mempertimbangkan pembelian pada level tersebut.

8.2.2.3 Konfirmasi Tren

Harga berada di atas garis tengah bollinger band (247.72), menunjukkan tren naik yang kuat pada saham TSLA.

8.2.2.4 Batasan Harga

Harga mendekati garis atas bollinger band (262.30), yang bisa dianggap sebagai batasan harga atau level resistance. Anda dapat mempertimbangkan untuk menjual pada level tersebut.

8.3 Beda Bollinger Bands dengan Indikator Lain

Bollinger Band terdiri dari tiga garis: garis tengah adalah rata-rata bergerak sederhana, sementara garis atas dan bawah menggambarkan deviasi standar dari harga aset. 

Gabungan elemen ini memungkinkan bollinger band untuk tidak hanya menangkap tren melalui rata-rata bergerak tetapi juga mengukur volatilitas melalui deviasi standar.

Keunikan ini membuat bollinger band sangat berguna untuk mengidentifikasi periode volatilitas tinggi atau rendah. Saat pasar bergejolak, pita bollinger band melebar, sementara dalam kondisi pasar yang tenang, pita tersebut menyempit.

Trader dapat memanfaatkan informasi ini untuk mengantisipasi potensi pembalikan harga atau kelanjutan tren.

8.3.1 Perbandingan dengan Indikator Lain

a. Average True Range (ATR)

ATR adalah indikator volatilitas yang mengukur jarak antara level tertinggi dan terendah dalam suatu periode. Meskipun ATR memberikan informasi tentang volatilitas, tidak seperti Bollinger Band, ia tidak secara langsung memberikan gambaran tentang tren pasar.

b. Standard Deviation

Indikator standar deviasi mengukur sejauh mana harga aset berkisar dari rata-rata. Sementara standar deviasi digunakan dalam perhitungan Bollinger Band, indikator ini sendiri tidak memberikan informasi tentang tren.

c. CBOE Volatility Index (VIX)

VIX mengukur ekspektasi volatilitas pasar saham dalam waktu dekat. Meskipun berguna untuk mengidentifikasi volatilitas, VIX tidak memberikan gambaran tentang tren seperti yang dilakukan Bollinger Bands.

8.3.2 Kesimpulan

Kesimpulannya, bollinger band menyediakan analisis yang holistik dengan menggabungkan tren dan volatilitas, menjadikannya alat yang kuat dalam kotak perang trader.

Meskipun indikator lain seperti ATR, standar deviasi, dan VIX dapat memberikan informasi tentang volatilitas, mereka tidak sekomprehensif bollinger band dalam memberikan gambaran pasar secara keseluruhan.

Dengan menggunakan bollinger band bersama dengan indikator lain, trader dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang dinamika pasar dan membuat keputusan yang lebih informasional.

8.4 Memanfaatkan Bollinger Bands dalam Strategi Perdagangan

Bollinger Band merupakan alat yang efektif bagi para trader saham untuk mengidentifikasi kondisi kelebihan pembelian dan kelebihan penjualan berdasarkan konsep mean reversion, yang menunjukkan bahwa seiring berjalannya waktu, suatu aset cenderung untuk konvergen pada harga rata-ratanya.

Ketika harga berada dalam jarak dekat dengan pita atas, hal tersebut menandakan bahwa saham mungkin mengalami kelebihan pembelian dan dapat mengalami koreksi harga. Sebaliknya, ketika harga berada dekat dengan pita bawah, itu menunjukkan bahwa saham mungkin sedang kelebihan penjualan dan dapat siap untuk mengalami kenaikan harga.

Strategi ini dapat memberikan panduan berharga, terutama dalam pasar yang bergerak dalam kisaran, di mana trader dapat memutuskan untuk membuka posisi beli saat harga menyentuh pita bawah, dan membuka posisi jual pendek ketika harga menyentuh pita atas.

Meski demikian, ketika saham berada dalam tren kuat, sinyal-sinyal tersebut mungkin kurang efektif. Harga yang bergerak dalam tren dapat terus menerus bergerak di sepanjang pita atas atau bawah untuk periode waktu yang lama.

Salah satu cara bagi para trader untuk menyesuaikan strategi bollinger band dalam pasar yang sedang tren adalah dengan mengidentifikasi arah tren terlebih dahulu, kemudian hanya melakukan perdagangan sesuai dengan arah tersebut. Contohnya, jika trennya sedang naik, seorang trader dapat memilih untuk membuka posisi beli saat harga menyentuh pita bawah, namun tidak membuka posisi jual saat harga menyentuh pita atas. Sebaliknya, mereka dapat memanfaatkan sentuhan berikutnya pada pita bawah yang naik untuk menambahkan posisi mereka.

Penting untuk diingat bahwa meskipun bollinger band atau boll dapat menjadi alat teknis yang kuat bagi para trader saham, tidak ada satu pun indikator yang dapat menjamin kesuksesan perdagangan. Oleh karena itu, para trader selalu disarankan untuk tetap berhati-hati dan melakukan analisis yang cermat sebelum mengambil keputusan investasi.



Sumber : pluang.com

Langkah-Langkah dan Cara Menggunakan TradingView untuk Pemula

Trading membutuhkan kecakapan untuk menganalisis pergerakan harga sebuah aset menggunakan analisis teknikal. Namun, trader pemula mungkin kesulitan untuk melakukannya karena tidak begitu memahami seluk-beluknya. Apalagi, menghimpun data dan menerjemahkannya ke sebuah gambar.

Untungnya, di era internet seperti sekarang, trader bisa memanfaatkan satu tool bernama Tradingview untuk menganalisis harga aset dari sisi teknikal. Hanya saja, bagaimana tool ini bisa digunakan untuk trader pemula?

Nah, kalau Sobat Cuan adalah salah satu dari trader yang masih awam, yuk pelajari dasar-dasar TradingView di artikel ini!

Apa Itu TradingView?

TradingView merupakan platform berbasis peramban yang menampilkan grafik dan tren harga beragam instrumen investasi. Sebagai pemula, kamu juga bisa menggunakan platform ini untuk menyimak strategi trading pengguna lain atau membagikan analisis kamu sendiri lewat livestream.

Platform ini bermanfaat untuk semua lapisan trader, baik pemula maupun yang sudah mahir. Menu dasar dari TradingView untuk pemula sudah sangat membantu. Saat kamu sudah lebih andal menganalisis tren dengan berbagai indikator, platform ini pun masih bisa diandalkan kok, Sobat Cuan.

TradingView diluncurkan pada tahun 2011 di Ohio dan telah memiliki lebih dari 60 juta pengguna di seluruh dunia. Di sini, kamu bisa menganalisis berbagai emiten, komoditas, mata uang kripto dan lainnya dengan akun premium maupun gratis sesuai kebutuhanmu

Saat kamu sudah punya strategi dan template trading, kamu bisa mempublikasikannya kepada komunitas. Interaksi dengan komunitas itu akan membantu kamu mengembangkan kemampuan, juga mengujinya lewat backtesting.

Tertarik untuk mencoba menggunakan TradingView? Sekarang kamu juga bisa gunakan Pluang Web Trading yang didukung oleh TradingView dengan fitur yang canggih banget, lho! Cobain trading langsung di chart dengan Pluang Web Trading!

COBAIN WEB TRADING SEKARANG!

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Pluang Web Trading, cek laman ini: Optimalkan Trading dengan Pluang Web Trading!

Pelajari juga cara menggunakan Pluang Web Trading di sini:

Manfaat TradingView Untuk Pemula

Saat baru menjajal dunia trading, kamu mungkin belum berlangganan aplikasi analisis yang “cetar” seperti Bloomberg terminal. Mungkin, trader pemula enggan berlangganan aplikasi tersebut lantaran jarang digunakan, susah dipahami, dan mahalnya biaya berlangganan.

Nah, untuk itulah TradingView hadir. Yakni, untuk memberikan akses bagi seluruh trader untuk melakukan analisis teknikal dengan mudah. Tapi, sebelum menggunakannya, kamu harus memahami dulu cara kerjanya agar tidak terintimidasi dengan rumitnya grafis, tabel dan indikator yang rumit itu, bukan?

Platform seperti ini biasanya menyediakan opsi untuk kamu meng-customize chart dan indikator favoritmu. Jika kamu belum banyak tau tentang indikator analisis teknikal, kamu bisa membacanya terlebih dahulu disini ya, Sobat Cuan.

 

Panduan Membuka dan Menggunakan TradingView Bagi Pemula

Cara menggunakannya pun cukup simpel, Sobat Cuan. Tentu saja, kamu harus mengunjungi situs TradingView untuk mulai menggunakannya. Nantinya, kamu akan mendarat di tampilan seperti ini:

Tradingview

Setelahnya, kamu bisa mengklik tombol “Chart” (yang berada di kotak berwarna merah) untuk memilih data harga beberapa kelas aset. Di sini, kamu bisa memilih data harga saham, imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan seluruh kelas aset Pluang seperti emas, Bitcoin, indeks S&P 500, dan Ethereum, lho!

Nah, anggap saja kita ingin melihat pergerakan harga Bitcoin. Maka, kamu bisa memilih opsi BTC/USDT dan kamu pun akan mendarat di tampilan seperti ini:

Tradingview
Tampilan Tradingview

Tampilan layar TradingView bisa berbeda-beda tergantung personalisasi kamu sendiri. Namun, terdapat tampilan layar umum yang perlu kamu ketahui manfaatnya seperti yang terdapat di gambar di atas.

Sesuai tangkapan layar di atas, terdapat empat toolbar yang bisa kamu jelajahi dan manfaatkan. Berikut rincian toolbar berikut!

Toolbar 1

Toolbar ini berisikan tools mengenai tipe chart dan gambar yang bisa kamu terapkan langsung pada area grafik. Kamu bisa bereksplorasi atau meng-klik kanan untuk opsi tambahan. Di dalamnya, terdapat opsi seperti garis simpel hingga memasang posisi long atau short. Atau, kamu bisa menambahkan teks di area grafik jika kamu mau.

Toolbar 2

Di, sini kamu punya opsi untuk mengubah tampilan chart sesuai selera dan kebutuhanmu. Kamu bisa memilih candlestick, garis grafik, area dan banyak lainnya. Personalisasi akan membantu chart analisismu lebih mudah digunakan untuk analisis sesuai dengan risiko dan indikator yang kamu kehendaki.

Selain itu, toolbar ini juga memungkinkanmu untuk membandingkan grafik asetmu dengan aset lainnya. Misalnya, membandingkan harga Bitcoin dengan harga emas atau aset kripto lainnya. Di samping itu, kamu pun bisa mengubah rentang perdagangan, dari mulai hitungan menit hingga hitungan bulan.

Tak lupa, kamu pun bisa memanfaatkan berbagai preset indikator analisis teknikal dengan mengklik toolbar ini. Misalnya Moving Average dan Relative Strength Index (RSI),

Toolbar 3

TradingView bukanlah pialang atau broker yang bisa memfasilitasi kamu jual beli instrumen investasi tertentu. Tapi, mereka menyediakan opsi untuk terhubung dengan website pialang favoritmu agar transaksi lebih mudah melalui toolbar ini. Jika kamu ingin trading langsung di chart yang didukung oleh TradingView, cobain pakai Pluang Web Trading sekarang juga! Gratis untuk semua pengguna Pluang, Sobat Cuan!

Toolbar 4

Bagian ini berisikan berita perkembangan terbaru dan bersosialisasi dengan komunitasmu. Kamu bisa memperoleh data, daftar dan informasi yang kamu butuhkan disini.

Baca juga: Panduan Cara Menggunakan RSI Untuk Trading Crypto Bagi Pemula

Chart Area

Chart area adalah tampilan di mana grafik harga aset ditampilkan. Semua di area ini bisa kamu kostumisasi sesuai preferensimu. Aset mana yang ingin kamu analisis, dengan indikator dan tools apa, hingga display chart pun bisa kamu setel sesuai yang kamu inginkan.

Kamu juga bisa menyetel ulang jika tampilannya sudah terlalu berantakan lho, Sobat Cuan.

TradingView untuk pemula juga cukup mudah diaplikasikan. Kamu bisa memulai tutorial dengan tool di sisi kiri.

Opsi lain yang bisa kamu personalisasi adalah info grafis mengenai OHLC (open, high, low dan close prices), tombol beli dan tombol jual. Box merah menunjukkan harga jual terendah, sedangkan yang biru berisikan harga jual tertinggi. Diantaranya kamu bisa melihat bid-ask spread.

Kamu juga bisa mengubah skala, misalnya kamu ingin tahu harga terendah dan tertinggi dalam trading harian. Semua ini bisa kamu ubah juga pilihan warna dan lainnya. Saat tren menurun kamu pun bisa membacanya lewat personalisasi chart ini.

Penting untuk diperhatikan bahwa setidaknya kamu perlu memakai tiga indikator analisis teknikal secara bersamaan untuk menjamin akurasi analisis kamu.

Baca juga: Simak 10 Cara Dapatkan Penghasilan Pasif dari Aset Kripto!

Kelebihan TradingView untuk Pemula

Platform ini sangat bermanfaat terutama untuk kamu yang menyukai analisis teknikal atau baru mempelajarinya. Salah satu kelebihan utamanya adalah kamu tidak perlu memasang perangkat tambahan. Kamu bisa langsung mengaksesnya lewat browser dan personalisasi kamu bisa langsung membantumu menentukan keputusan berinvestasi.

Selain itu, platform ini juga bisa diakses bebas biaya bagi pemula. Tentu saja ada fitur yang bisa kamu akses lebih jauh jika kamu membayar biaya berlangganan. Tapi untuk pemula, opsi yang ditawarkan pun sudah tergolong lengkap.

Selain itu TradingView untuk pemula juga sudah bisa dipakai untuk mengatur pengingat tanpa harus terus online membuka aplikasinya. Jadi, saat momen tertentu kamu atur, TradingView tetap mengirimi kamu alert meski kamu sedang membuka aplikasi lain.

Kamu juga bisa mengetes strategi kamu dengan opsi backtesting. Fitur ini sudah termasuk di dalam aplikasi, lho.

Ini adalah poin paling pentingnya, kamu bisa memilih aset mana yang akan kamu perhatikan dengan jelas. Tak hanya mata uang kripto, saham, indeks dan komoditas juga bisa kamu analisis lewat platform ini.

Baca juga: Cara Jitu Memilih Saham dengan Modal Analisis Fundamental dan Teknikal

Kelemahan TradingView untuk Pemula

Komunitas yang kamu temui di TradingView amat beragam. Menarik untuk menyimak strategi dan konsep orang lain dan beberapa tipsnya mungkin berguna. Tapi, kamu harus waspada mengingat tak jarang strategi tersebut tidak lebih dari sekedar spekulasi.

Kalau kamu pengguna platform gratis, layanan konsumen TradingView mungkin akan jadi persoalan buatmu. Mereka tidak banyak mendukung pengguna gratis, jadi kamu harus beralih jadi pengguna berbayar kalau mau menggunakan fitur ini. Jangan khawatir Sobat Cuan, Pluang Web Trading ada buat kamu yang mau menggunakan fitur-fitur TradingView yang berbayar, kok! Pluang Web Trading didukung oleh TradingView, gratis untuk semua pengguna Pluang. Daftar / registrasi ke Pluang sekarang juga di sini!

Selain itu kendala seperti terbatasnya broker yang bekerja sama dan data dari pasar modal yang kurang akurat juga kerap dilaporkan pengguna.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan TradingView untuk pemula, kamu bisa mengoptimalkan penggunaan platform ini untuk meningkatkan kemampuan trading kamu ya. Jadi, apakah kamu sudah siap untuk trading? Yuk, mulai trading dengan aset-aset yang terdapat di Pluang!

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Binance, Trade Pro



Sumber : pluang.com

9. MACD, Definisi dan Jenisnya

9.1 Latar Belakang 

Moving Average Convergence Divergence (MACD) adalah salah satu indikator analisis teknikal yang sering digunakan oleh para trader. 

Sesuai dengan namanya, MACD memiliki beberapa komponen yakni moving average, momentum convergence, dan momentum divergence

Nah, indikator ini terdiri atas dua garis, yaitu garis MACD dan garis sinyal, yang biasanya bergerak lambat.

9.1.1 Apa Itu MACD? 

Moving Average Convergence Divergence (MACD) merupakan indikator dalam analisis teknikal yang menunjukkan hubungan antara dua moving average dalam tren harga aset. 

Moving average sendiri adalah rata-rata harga harian, baik pada saat pembukaan maupun penutupan perdagangan, yang diwakili dalam bentuk garis tren.

Jadi, apa manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan indikator MACD? MACD digunakan oleh para trader untuk memahami kapan harga aset tersebut akan mengalami pergerakan bullish atau bearish.

9.1.2 Sejarah MACD

Ditemukan oleh Gerard Appel pada 1979, indikator ini telah menjadi pilihan utama bagi trader di seluruh dunia selama bertahun-tahun.

Popularitasnya disebabkan oleh kemudahannya dan fleksibilitasnya, memungkinkan penggunaannya untuk menganalisis tren dan momentum.

Oleh karena itu, MACD sering diadopsi oleh trader yang beroperasi di berbagai pasar, termasuk saham, obligasi, komoditas, dan valuta asing.

9.2 Mengenal Jenis-jenisnya

9.2.1 Komponen dari MACD

MACD standar dihitung menggunakan EMA 12 hari dan EMA 26 hari. Kedua EMA didasarkan pada harga penutupan. MACD standar dihitung dengan cara mengurangkan EMA 26 dari EMA 12 hari untuk memperkirakan nilai konvergensi dan divergensi (CD). Grafik garis sederhana dari ini sering disebut sebagai ‘Garis MACD’. 

Mari kita lihat perhitungan matematika-nya terlebih dahulu, kemudian kita akan mencari tahu aplikasi dari MACD

Date Close 12 Day EMA 26 Day EMA MACD Line Signal Line
3-Jul-2023 192        
5-Jul-2023 191        
6-Jul-2023 192        
7-Jul-2023 191        
10-Jul-2023 189        
11-Jul-2023 188        
12-Jul-2023 190        
13-Jul-2023 191        
14-Jul-2023 191        
17-Jul-2023 194        
18-Jul-2023 194        
19-Jul-2023 195        
20-Jul-2023 193 191      
21-Jul-2023 192 191      
24-Jul-2023 193 192      
25-Jul-2023 194 192      
26-Jul-2023 195 192      
27-Jul-2023 193 192      
28-Jul-2023 196 193      
31-Jul-2023 196 193      
1-Aug-2023 196 194      
2-Aug-2023 193 194      
3-Aug-2023 191 194      
4-Aug-2023 182 194      
7-Aug-2023 179 193      
8-Aug-2023 180 192      
9-Aug-2023 178 191 191 -1  
10-Aug-2023 178 189 191 -1  
11-Aug-2023 178 188 190 -2  
14-Aug-2023 179 187 189 -3  
15-Aug-2023 177 185 189 -4  
16-Aug-2023 177 184 189 -5  
17-Aug-2023 174 182 188 -6  
18-Aug-2023 174 180 188 -7  
21-Aug-2023 176 179 187 -8  
22-Aug-2023 177 178 186 -9  
23-Aug-2023 181 177 186 -8 -4
24-Aug-2023 176 177 185 -8 -5
25-Aug-2023 179 177 185 -7 -6
28-Aug-2023 180 177 184 -7 -6
29-Aug-2023 184 177 184 -6 -7
30-Aug-2023 188 178 183 -5 -7
31-Aug-2023 188 179 183 -4 -7
1-Sep-2023 189 180 183 -3 -7
5-Sep-2023 190 181 183 -2 -7
6-Sep-2023 183 182 182 0 -6
7-Sep-2023 178 183 182 1 -5
8-Sep-2023 178 183 181 2 -4
11-Sep-2023 179 183 181 2 -3
12-Sep-2023 176 183 180 3 -2
13-Sep-2023 174 183 180 3 -1
14-Sep-2023 176 182 180 3 -1
15-Sep-2023 175 182 180 2 0
18-Sep-2023 178 181 179 2 1
19-Sep-2023 179 180 179 1 1
20-Sep-2023 175 180 179 0 2
21-Sep-2023 174 178 179 -1 2
22-Sep-2023 175 177 179 -2 2
25-Sep-2023 176 176 179 -3 1
26-Sep-2023 172 176 179 -3 1
27-Sep-2023 170 176 179 -3 0
28-Sep-2023 171 175 179 -4 0
29-Sep-2023 171 175 179 -4 -1
2-Oct-2023 174 174 178 -4 -2
3-Oct-2023 172 174 178 -4 -2
4-Oct-2023 174 174 178 -4 -3
5-Oct-2023 175 174 178 -4 -3
6-Oct-2023 177 173 177 -4 -3
9-Oct-2023 179 173 177 -3 -4
10-Oct-2023 178 174 177 -3 -4
11-Oct-2023 180 174 176 -2 -4
12-Oct-2023 181 174 176 -1 -4
13-Oct-2023 179 175 176 0 -3
16-Oct-2023 179 176 176 0 -3
17-Oct-2023 177 177 176 1 -3
18-Oct-2023 176 177 176 1 -2
19-Oct-2023 175 177 176 2 -2
20-Oct-2023 173 177 176 2 -1
23-Oct-2023 173 177 176 2 0
24-Oct-2023 173 177 176 2 0
25-Oct-2023 171 177 175 2 1
26-Oct-2023 167 176 175 1 1
27-Oct-2023 168 175 175 1 1
30-Oct-2023 170 174 174 0 1
31-Oct-2023 171 173 174 -1 1

Mari lihat tabel di atas mulai dari kiri:

  1. Kolom pertama merupakan tanggal, dimulai dari 3 Juli 2023.
  2. Di sebelah tanggal, terdapat harga penutupan dari emiten AAPL.
  3. Bila dilihat, terdapat 12 data pertama yang tidak memiliki nilai. Ini dikarenakan 12 data pertama (harga penutupan AAPL) digunakan untuk menghitung EMA 12 hari.
  4. Serupa dengan EMA 12 hari, EMA 26 hari menggunakan 26 data pertama untuk menghitung EMA 26 hari.
  5. Begitu kedua EMA 12 dan 26 hari berjalan sejajar (23 Agustus 2023), nilai MACD dapat dihitung.
  6. Nilai MACD = [EMA 12 hari – EMA 26 hari]. Sebagai contoh, pada 24 Agustus 2023, EMA 12 hari adalah 177, dan EMA 26 hari adalah 186. Oleh karena itu, MACD akan menjadi 177 – 186 = -8.

Ketika menghitung nilai Moving Average Convergence Divergence menggunakan EMA 12 & 26 hari dan menggambarkannya sebagai grafik, kita mendapatkan garis MACD, yang bergerak ke atas dan ke bawah melintasi garis tengah (garis 0).

Trader umumnya berpendapat bahwa saat menunggu garis MACD untuk melintasi garis tengah, sebagian besar pergerakan mungkin sudah terjadi, dan mungkin terlambat untuk mengambil posisi buy/sell.

Untuk mengatasi ini, terdapat penyempurnaan terhadap garis MACD.

Penyempurnaan ini datang dalam bentuk komponen Moving Average Convergence Divergence tambahan yang disebut garis sinyal (signal line) 9 hari. Garis sinyal 9 hari adalah rata-rata pergerakan eksponensial (EMA) dari garis MACD. Jika Anda memikirkannya, sekarang kita memiliki dua garis:

  1. Garis MACD
  2. EMA 9 hari dari garis MACD yang disebut juga garis sinyal.

Garis sinyal (signal line) biasanya digambarkan dengan warna merah dan garis yang berwarna biru adalah garis MACD.

Nah, jika nilai MACD berada di atas garis sinyal artinya harga memiliki kecenderungan trend naik, begitupun sebaliknya, jika garis MACD berada di bawah garis sinyal artinya harga cenderung turun.

9.3 Cara Bacanya

MACD AAPL, Sumber: TradingView (2023)

Trader biasanya mengenal dua jenis Moving Average Convergence Divergence dalam analisis teknikal, yakni crossover dan divergence.

Crossover adalah seni melihat tren garis MACD jika dibandingkan garis sinyalnya. 

Sebuah harga aset akan memasuki zona bearish jika garis MACD melintang di bawah garis sinyal. Yang artinya, trader harus segera melepas asetnya.

Sinyal bullish akan terjadi jika garis MACD melintang di atas garis sinyal, memberi petunjuk bahwa trader harus buru-buru membeli aset tersebut.

Beberapa trader akan langsung beraksi ketika garis MACD bergerak cepat mendekati garis sinyal, baik menuju ke bawah maupun ke atas.

Kendati, sebagian lain memilih untuk beraksi setelah garis MACD benar-benar memotong garis sinyal agar terhindar dari “jebakan”. Namun, hasil crossover akan lebih terpercaya jika mengulang tren yang pernah terjadi sebelumnya.

Sementara itu, divergence adalah suatu kondisi di mana garis MACD membentuk titik tertinggi dan terendah yang berseberangan dengan titik tertinggi dan terendah harga aset tersebut.

Kondisi bullish akan tercipta jika dua posisi terendah di garis MACD berkorespondensi dengan dua garis terbawah di harga aset.

9.4 Penggunaannya

Moving Average Convergence Divergence telah dikenal memiliki berbagai penggunaan di antara para trader, mulai dari mengikuti tren hingga metodologi kontrarian.

Penggunaan paling dasar diberikan dengan mengevaluasi tanda MACD, dengan tanda positif (fast EMa > slow EMA) menunjukkan tren naik dan tanda negatif (fast EMa < slow EMA) menunjukkan tren turun. 

Sobat Cuan bisa melihat bahwa penggunaan ini tidak berbeda dari penggunaan strategi simple MA cross.

Pengguna juga mungkin mengalami keterlambatan berlebih yang dihasilkan oleh pendekatan yang bersifat sederhana ini.

Keunggulan indikator dapat datang dari penggunaan Moving Average Convergence Divergence dengan garis sinyal dan histogram. 

Pendekatan yang lebih tepat waktu akan mengidentifikasi tren naik ketika indikator itu berada di atas garis sinyalnya (histogram di atas 0) dan tren turun ketika MACD berada di bawah garis sinyal (histogram di bawah 0). 

Pendekatan ini lebih baik memanfaatkan karakteristik puncak osilator Moving Average Convergence Divergence, sehingga memberikan wawasan yang lebih prediktif. Namun, peningkatan dalam waktu tidak datang tanpa biaya, dengan perdagangan yang lebih sering terjadi whipsaw.

MACD Pada S&P500, Sumber: TradingView (2022)

Perhatikan pada gambar di atas bagaimana penggunaan indikator itu dengan garis sinyal memungkinkan deteksi tren yang lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan Moving Average Convergence Divergence saja. 

Kita juga dapat melihat bahwa penggunaan indikator ini lebih responsif terhadap perubahan harga dalam jangka waktu singkat, yang dapat menyebabkan perdagangan yang tidak stabil. Hal ini terjadi karena osilator cenderung meningkatkan kebisingan dalam rangkaian input.

Mungkin juga menggabungkan keduanya untuk mengatasi kelemahan masing-masing, seperti membuka perdagangan berdasarkan sinyal MACD dan keluar dari perdagangan saat Moving Average Convergence Divergence melintasi garis sinyal.

Namun, tantangan utama muncul ketika pengguna harus menyesuaikan pengaturan indikator. Jika hanya menggunakan Moving Average Convergence Divergence, pengguna perlu mengoptimalkan dua pengaturan. Sebaliknya, jika menggunakan histogram, pengguna perlu mengoptimalkan tiga pengaturan, yang memerlukan lebih banyak daya komputasi.



Sumber : pluang.com