Tag Archives: hikmah

detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Pentingnya Memiliki Sikap Qanaah



Jakarta

Qanaah merupakan sikap terpuji dalam Islam. Qanaah diartikan merasa cukup atas apa yang diberikan oleh Allah SWT.

“Apa itu qanaah bapak ibu? Yaitu merasa cukup (atas) apa yang ada,” ujar Prof Nasaruddin Umar dalam detikKultum detikcom, Jumat (21/4/2023).

Sikap qanaah dicintai oleh Allah SWT karena mereka yang memiliki sifat ini tidak hidup secara berlebih-lebihan. Dalam Al-Qur’an sikap qanaah tercantum pada surat Al A’raf ayat 31,


يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ خُذُوا۟ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

Artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan,”

Prof Nasaruddin Umar menerangkan, sifat qanaah berarti sadar akan apa yang dibutuh bukan malah sebaliknya. Untuk apa memiliki harta yang banyak tapi tidak bisa dinikmati?

Dalam hal ini, ia mencontohkan seseorang yang kaya raya namun mengalami sakit sehingga tidak bisa makan apapun yang ia mau.

“Maka itu, merasa cukup apa yang ada penting buat kita,” ujar Prof Nasaruddin.

Menurutnya, segala sesuai yang berlebihan bahkan termasuk kekayaan jika tidak dapat dinikmati tak ada gunanya. Terlebih kekayaan tersebut membuat seseorang merasa tidak tenang karena dihasilkan dari hal-hal yang dilarang Allah.

“Kita syukuri apa yang ada. Sekali lagi, kita bukan mencari yang banyak. Lebih baik gubuk tapi surga daripada istana tapi isinya neraka,” katanya.

Prof Nasaruddin mengatakan bahwa kebahagiaan bukan terletak pada kemewahannya. Sebab, kebahagiaan dan ketenangan tidak dapat dijual, lain halnya dengan hal-hal materil yang bisa dibeli.

Selengkapnya detikKultum Prof Nasaruddin Umar: Qanaah dapat disaksikan di SINI.

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Khutbah Jumat di Bulan Syawal Tema Hakikat Kemenangan



Jakarta

Jumat pekan ini, (28/4/2023), umat Islam sudah memasuki bulan Syawal. Berikut contoh naskah khutbah Jumat di bulan Syawal dengan tema “Hakikat Kemenangan di Bulan Syawal.”

Pemerintah RI menetapkan 1 Syawal 1444 H jatuh pada Sabtu, 22 April 2023. Itu artinya masyarakat muslim Indonesia melangsungkan Hari Raya Idul Fitri, setelah menjalankan puasa selama sebulan penuh. Idul Fitri juga kerap disebut sebagai hari kemenangan. Namun, kemenangan seperti apa?

Penjelasannya akan diterangkan dalam materi khutbah Jumat di bulan Syawal yang membahas “Hakikat Kemenangan di Bulan Syawal” yang dinukil dari buku Khutbah Jumat Sejuta Umat oleh Muhammad Khatib.


Teks Khutbah Jumat Tema “Hakikat Kemenangan di Bulan Syawal”

الْحَمدُ لِلّٰهِ الَّذِى وَعَدَ الَّذِيْنَ اَمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِى مِنْ تَحْتِهَا الأَنْهَارُ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً مُعْتَرِفٍ بِالْعَجْزِ و َالْاصْرَارِ وَ أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ بِالرِّسَالَةِ الْمُنِيْرَةِ إِلَى جَمِيْعِ الْخَلَائِقِ وَالبَشَرِ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نُوْرِ الْأَنْوَارِ وَسِرِّ الْأَسْرَارِ، وَتِرْيَاقِ الْأَغْيَارِ وَمِفَتَاحُ بَابِ الْيَسَارِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الْمُخْتَارِ عَلَى اࣤلِهِ الأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقَرَارِ

أَمَّا بَعْدُ : فَيَا أَيُّهَ الْإِخْوَانِ رَحِمَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Pada kesempatan yang mulia ini, tidak lupa, saya berpesan kepada kita sekalian. Marilah kita tetap dan selalu berusaha meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, terlebih lagi setelah kita selesai melaksanakan ibadah puasa selama bulan Ramadan. Dimana inti tujuanya adalah membentuk manusia yang bertaqwa.

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Kini kita tengah berada di bulan Syawal. Ramadan meninggalkan kita. Tidak ada kepastian apakah di tahun mendatang kita masih bisa berjumpa dengannya, menggapai keutamaan-keutamaannya, memenuhi nuansa ibadah yang dibawanya, ataukah justru Allah SWT telah memanggil kita. Kita juga tidak pernah tahu dan tidak pernah mendapat kepastian apakah ibadah-ibadah kita selama bulan Ramadan diterima oleh Allah SWT atau tidak. Dua hal yang belum pasti inilah yang membuat sebagian besar ulama terdahulu berdoa selama enam bulan sejak Syawal hingga Rabiul Awal agar ibadahnya selama bulan Ramadan diterima, lalu dari Rabiul Awal hingga Syaban berdoa agar dipertemukan dengan bulan Ramadan berikutnya.

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Secara etimologi, arti kata ‘Syawal’ adalah peningkatan. Hal itu merupakan target ibadah puasa. Pasca Ramadan, diharapkan orang-orang yang beriman meraih derajat ketakwaan, seorang muslim yang terlahir kembali seperti kertas yang masih bersih. Sehingga di bulan Syawal ini kualitas keimanannya mengalami peningkatan. Tidak hanya kualitas ibadah tetapi juga kualitas pribadinya, yang selama di bulan Ramadan dilatih secara lahir batin. Tentunya kita tidak ingin ibadah yang kita lakukan dengan susah payah di bulan suci tidak membuahkan apa-apa yang bermanfaat untuk diri kita. Kita semua mengharapkan adanya perubahan yang signifikan, sekarang dan seterusnya. Menjadi orang-orang yang selalu taat dan patuh kepada Allah SWT dan meninggalkan semua larangan-Nya. Bukankah kemuliaan seseorang itu tergantung pada ketaqwaannya?

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗ

Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT adalah orang yang paling bertakwa.” (QS Al-Hujurat: 13)

Akan tetapi, fenomena yang kita lihat di masyarakat justru sebaliknya. Syawal, seakan-akan bulan yang ditunggu-tunggu agar terlepas dari belenggu dan bebas melakukan kegiatan apa saja seperti sediakala. Di antara indikatornya yang sangat jelas, adanya perayaan Idul Fitri dengan pesta atau dengan kegiatan yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman, dibukanya kembali tempat-tempat hiburan yang sebulan sebelumnya ditutup. Kemaksiatan seperti itu justru langsung ramai sejak hari pertama bulan Syawal. Na’udzubillah!

Lalu setelah itu, masjid-masjid akan kembali sepi dari jemaah salat lima waktu. Lantunan ayat suci Al-Qur’an juga tidak lagi terdengar, yang ada justru umpatan, luapan emosional, dan kemarahan kembali membudaya. Bukankah ini semua bertolak belakang dengan arti Syawal? Bukankah ini seperti mengotori kain putih yang tadinya telah dicuci dengan bersih kembali penuh noda.

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Apa yang terjadi sekarang ini juga menunjukkan kepada kita, bahwa ibadah puasa yang dijalankan selama sebulan penuh jelas gagal. Karena tidak mampu mengantarkan seseorang meraih derajat ketakwaan dan mengubah menjadi muslim sejati yang menjadi tujuan utama puasa. Padahal banyak sekali pelajaran berharga yang bisa kita jadikan ukuran seberapa tinggi nilai prestasi ibadah kita. Kata para ulama keberhasilan seseorang di bulan Ramadan itu diukur dengan amal perbuatannya setelah bulan Ramadan. Orang yang berhasil mendapat ampunan dan mendapatkan pahala yang besar akan semakin rajin beribadah dan semakin baik akhlaknya. Sebaliknya orang yang tidak mendapatkan ampunan akhlak perbuatannya tidak akan berubah bahkan mengalami kerugian di bulan Ramadan.

Banyak orang yang mengatakan, ketika kita masuk bulan Syawal berarti kita menuju kemenangan dalam melawan hawa nafsu. Kita dikatakan kembali suci. Namun, benarkah kita meraih kemenangan tersebut? Benarkah kita kembali suci setelah beribadah puasa sebulan penuh?

Tentu saja, pertanyaan-pertanyaan tersebut kembali kepada diri kita, apakah selama bulan Ramadan kita betul-betul tulus dalam beribadah, apakah puasa yang kita jalankan betul-betul atas dasar iman dan semata-mata hanya mencari ridha Allah SWT? Jika kita tidak demikian, maka kita termasuk orang-orang yang gagal dalam meraih kemenangan bulan Ramadan.

Hadirin jemaah Jumat rahimakumullah,

Di bulan Syawal ini, marilah kita intropeksi diri dan melakukan evaluasi terhadap nilai amal ibadah, dengan tujuan agar setelah Ramadan berlalu kita menjadi lebih baik daripada sebelum Ramadan. Alangkah naifnya kita ini, sudah diberi kesempatan di bulan suci yang penuh ampunan dan rahmat, masih saja tidak berubah atau mungkin lebih parah. Hari ini harus lebih baik daripada kemarin. Kegagalan masa lalu harus kita jadikan pelajaran berharga dan tidak akan kita ulangi lagi. Kita harus ingat peringatan Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka celakalah ia.”

Kemudian apa yang mesti kita lakukan untuk memulai lembaran baru di bulan Syawal ini?
Berangkat dari kaidah umum dari hadits Nabi SAW tersebut, dan mengingat makna bulan Syawal, maka yang harus kita adalah istiqamah yaitu menetapi agama Allah SWT dan berjalan lurus di atas ajarannya. Sebagaimana yang di perintahkan:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ – ١١٢

Artinya: “Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Hud: 112)

Bentuk istiqamah dalam amal ibadah adalah dengan mengerjakan secara terus-menerus. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Nabi SAW, bahwa beliau SAW bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ

Artinya: “Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah SWT adalah yang terus menerus (kontinu) meskipun sedikit.” (HR Bukhari & Muslim)

Istiqamah berarti berpendirian teguh atas jalan yang lurus. Berpegang pada akidah Islam dan melaksanakan syariat dengan teguh. Tidak mudah goyah dalam keadaan bagaimana pun. Sifat yang mulia ini menjadi tuntutan Islam seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

“Katakanlah (Wahai Muhammad), ‘Sesungguhnya Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepada Aku bahwa Tuhan kamu hanyalah Tuhan yang satu; maka hendaklah kamu teguh di atas jalan yang betul lurus (yang membawa kepada mencapai keredhaan-Nya).” (QS Fushilat:6)

Istiqamah merupakan daya kekuatan yang diperlukan sepanjang hayat manusia dalam melaksanakan tuntutan Islam, mulai dari amalan hati, amalan lisan dan anggota tubuh badan. Jelasnya, segala amalan yang dapat dirumuskan dalam pengertian ibadah baik fardhu ‘ain atau fardhu kifayah keduanya memerlukan istiqamah. Istiqamah juga merupakan sikap jati diri yang teguh dan tidak berubah oleh pengaruh apapun. Sikap ini akan memotivasi seseorang untuk terus berusaha dalam mencapai kesuksesan di segala bidang. Bidang agama, politik, ekonomi, pendidikan, penyelidikan, perusahaan perniagaan, dan lain-lain.

Istiqamah dalam meneguhkan iman dan melaksanakan kebajikan akan mendatangkan kebahgiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Seperti yang dinyatakan di dalam Al-Qur’an.

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah SWT,” kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya (surga) kamu akan memperoleh apa yang kamu sukai dan apa yang kamu minta. (Semua itu) sebagai karunia (penghormatan bagimu) dari (Allah SWT) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Fussilat: 30-32)

Hadirin Jemaah Jumat rahimakumullah,

Jika demikian halnya maka amal-amal yang telah kita biasakan di bulan Ramadan, hendaknya tetap dipertahankan selama bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya. Membaca Al-Qur’an setiap hari, salat malam yang sebelumnya kita lakukan dengan Tarawih, di bulan Syawal ini hendaknya kita tidak meninggalkan salat Tahajud dan Witirnya. Infak dan sedekah yang telah kita lakukan juga kita pertahankan.

Demikian pula nilai-nilai keimanan yang tumbuh kuat di bulan Ramadan. Kita tak takut lapar dan sakit karena kita bergantung pada Allah SWT selama puasa Ramadan. Kita tidak memerlukan pengawasan siapapun untuk memastikan puasa kita berlangsung tanpa adanya hal yang membatalkan sebab kita yakin akan pengawasan Allah SWT (ma’iyatullah). Kita juga dibiasakan berlaku ikhlas dalam puasa tanpa perlu mengumumkan puasa kita pada siapapun. Nilai keimanan yang meliputi keyakinan, ma’iyatullah, keikhlasan, dan lainnya ini hendaknya tetap ada dalam bulan Syawal dan seterusnya. Bukan malah menipis kemudian hilang seketika!

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Memang tidak banyak amal khusus di bulan Syawal dibandingkan bulan-bulan lainnya. Akan tetapi, Allah SWT telah memberikan kesempatan berupa satu amal khusus di bulan ini berupa puasa Syawal. Ini juga bisa dimaknai sebagai tolok ukur dalam rangka meningkatkan ibadah dan kualitas diri kita di bulan Syawal ini. Dan keistimewaan puasa sunnah ini adalah, kita akan diganjar dengan pahala satu tahun jika kita mengerjakan puasa enam hari di bulan ini setelah sebulan penuh kita berpuasa Ramadan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامُ الدَّهْرِ

Artinya: “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun.” (HR Muslim)

Bagaimana pelaksanaannya? Apakah puasa Syawal harus dilakukan secara berurutan atau boleh tidak?

Sayyid Sabiq di dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa menurut pendapat Imam Ahmad, puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan, boleh pula tidak berurutan. Dan tidak ada keutamaan cara pertama atas cara kedua. Sedangkan menurut madzhab Syafi’i dan Hanafi, puasa Syawal lebih utama dilaksanakan secara berurutan sejak tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal. Lebih utama.

Jadi, tidak ada madzhab yang tidak membolehkan puasa Syawal di hari selain tanggal 2 sampai 7, selama masih di bulan Syawal. Ini artinya, bagi kita yang belum melaksanakan puasa Syawal, masih ada kesempatan mengerjakannya. Akan tetapi, hendaknya kita tidak berpuasa khusus di hari Jumat tanpa mengiringinya di hari Kamis atau Sabtu karena adanya larangan Rasulullah SAW yang juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani.

Jemaah Jumat yang dirahmati Allah SWT,

Demikianlah khutbah yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga menjadi spirit bagi kita semua untuk lebih meningkatkan mutu ibadah, baik ibadah spiritual maupun ibadah sosial. Kita memohon kepada Allah SWT, semoga keberkahan Ramadan terus menyertai kita, meskipun kita telah meninggalkannya. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ وَنَفَعَنِي وإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَذِكْرِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيمُ ، أَقُوْلُ قَوْلِى هٰذَا وَاسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ .

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Ashabiyah



Jakarta

Dalam Islam fanatisme disebut dengan ashabiyah. Sebenarnya dalam kadar tertentu, ashabiyah sah-sah saja dan merupakan hal yang wajar. Ashabiyah dalam kadar yang terukur disebut solidaritas. Namun dalam kadar yang berlebihan, ashabiyah menjadi sesuatu yang tidak sehat. Karena itu dikenal sebuah istilah fanatik buta, dimana fanatisme membutakan pikiran individu.Ashabiyah ini diperlukan dalam kepemimpinan dan kekuasaan, hal ini terbukti beberapa Partai maupun Organisasi Kemasyarakatan yang unggul karena mempertahankan ashabiyah. Untuk Partai yang ingin berkembang akan meningkatkan sikap ini, dengan melakukan beberapa kegiatan seperti latihan kepemimpinan dan lain-lain.

Peran ashabiyah menurut Ibnu Khaldun, suatu suku mungkin dapat membentuk dan memelihara suatu negara bila suku tersebut memiliki karakteristik sosial-politik tertentu atau ashabiyah. Karakteristik sosial-politik ini adalah kekuatan penggerak partai politik, organisasi kemasyarakatan maupun negara. Ashabiyah juga mempunyai peran untuk perluasan negara yang sebelumnya sebagai landasan tegaknya negara tersebut. Bila ashabiyah kuat, maka negara akan luas, sebaliknya bila ashabiyah lemah, maka luas negara relatif terbatas.

Kekuasaan akan terpelihara jika rezim didukung oleh kekuatan partai politik penyokong dan kekuatan itu karena kader partai yang mempunyai kekuatan ashabiyah. Namun demikian, ingatlah bahwa kekuasaan itu membuat penguasanya mempunyai kecenderungan untuk melakukan korupsi. Disini peranan iman menjadi penting. Jika kaum beriman yang berkuasa, mereka selalu mengingat akan pengawasan oleh Sang Pencipta sehingga tindakannya tidak melebihi takarannya.


Ingatlah bahwa Allah Swt. mempunyai kuasa siapa yang dikehendaki berkuasa maupun terhina. Firman-Nya dalam surah ali-Imran ayat 26 yang berbunyi, “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Jelas dalam ayat di atas agar utusan-Nya menyampaikan bahwa kekuasaan mengatur, mengurus, menetapkan dan mencabut, semuanya adalah di tangan-Nya. Pemilik kekuasaan dan menetapkan yang diberi kekuasaan maupun mencabut kekuasaan, maka jika seseorang hamba memperoleh kekuasaan janganlah menikmati kekuasaan itu dengan hidup berfoya-foya. Sebagian orang akan terpesona dengan kenikmatan dunia dan kadang menjadi tujuan hidupnya, inilah bahaya yang selalu mengintipnya dan saat berpaling pada-Nya maka tergelincirlah ia. Posisi saat berkuasa gunakanlah dengan menabur kebaikan dan jadikan wasilahmu untuk bekal akhirat yang memberatkan timbanganmu. Memang ujian sebagai penguasa akan jauh lebih berat daripada sebagai masyarakat kebanyakan. Namun tidak demikian bagi orang-orang beriman, hal itu sama ringannya karena tujuan hidupnya adalah akhirat dan mengambil dunia sesuai bagiannya saja, cukup tidak kurang dan tidak berlebih.

Kita kembali menyimak kehidupan sebelum Islam datang, solidaritas di kalangan masyarakat Arab dibangun berdasarkan hubungan darah. Kesukuan memegang peranan penting dalam masyarakat Arab. Seseorang bisa dilindungi atau diperangi karena faktor kesukuan. Sebuah konflik dan aliansi bisa terjadi karena faktor kesukuan juga. Maka pada masa pra Islam, fanatisme kesukuan sangatlah kuat.

Salah satu misi dari risalah Islam adalah mengganti fanatisme berdasarkan suku menjadi solidaritas berdasarkan ajaran agama. Hal ini berhasil dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad mengikat suku-suku yang berbeda bahkan agama yang berbeda dalam satu ikatan perjanjian yang dinamakan Piagam Madinah.Isi dari Piagam Madinah merupakan ruh dari undang-undang banyak negara. Penulis katakan bahwa tatakelola kenegaraan itu telah diatur dengan baik oleh Islam melalui Piagam Madinah itu.

Islam tidak mengajarkan ashabiyah yang berlebihan, solidaritas berdasarkan keyakinan ini yang bisa menumbuhkan Ukhuwah ( persaudaraan ) diantara umat muslim. Persaudaraan ini bisa menciptakan suasana saling tolong-menolong, nasihat-menasihati dan kerjasama dalam memenuhi kebutuhan hidup. Peningkatan derajat ukhuwah ini akan menumbuhkan keeratan dalam hubungan antar orang dan antar organisasi, menumbuhkan ekonomi jika pemenuhan kebutuhan dapat diatasi sesama saudara.

Ashabiyah menjadi penting dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan hidup bergairah karena sosial dalam saling bantu-membantu, harga-menghargai dan saling memberi nasihat. Ashabiyah hendaknya dijauhkan dari Cinta yang berlebih maupun kebencian yang melewati batas. Penulis menutup dengan senandung syair :

Cinta dan Benci

Ketika cinta menjadi menu
Semua terlihat indah nan menawan
Sang kekasih tiada cela, seakan sempurna adanya
Mata tidak bisa menelisik keburukan, menjadi tumpul
Puja-puji selalu datang bagai banjir bandang
Kau lupa telah menoleh dan tiada memandang pada-Nya
Ketika kebencian menjadi selimutmu
Semua yang kau lihat hanyalah cacatnya
Cacian dan makian bagai senapan lepaskan peluru dari mulut
Itu beda cinta dan benci
Cinta hakikat hanya pada-Nya, bencilah pada maksiat

Semoga dengan memahami makna ashabiyah, cinta dan benci dapat menghindarkan terjadinya polarisasi di tengah masyarakat

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Kepemimpinan



Jakarta

Keberhasilan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan merupakan hasil dari faktor kepemimpinan. Tanpa kepemimpinan yang visioner dan strategis, banyak suatu negara yang tidak berkembang dan juga perusahaan yang tidak bisa bertahan. Seorang yang buta huruf dan menerima wahyu pada usia 40 tahun, menempati peringkat nomor satu menurut Michael Hart dalam bukunya The 100 Most Influential Persons in History diterbitkan tahun 1978. Dia adalah Nabinya umat Islam, Muhammad Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw. mempunyai ciri kepemimpinan yang menonjol seperti Sidik, Amanah, Adil, Fathona, Tabligh, dan Ketaqwaan.

Sidik, selama hidupnya Beliau tidak pernah berdusta baik sebelum diangkat sebagai Rasul maupun sesudahnya. Perubahan besar terjadi saat Beliau keluar dari gua Hira dengan membawa Risalah kenabian. Dengan sifat-sifat yang jujur Beliau menyatakan bahwa dirinya sebagai utusan Allah Swt. Sifat sidik yang sudah tertanam dalam dirinya akan membentuk karakter dan kepribadian sebagai pemimpin yang senantiasa jujur dan adil.


Amanah, julukan Al-Amin ( dapat dipercaya ) kepada Rasulullah Saw. merupakan kemuliaan akhlaknya. Seorang pemimpin yang amanah tentu akan menghindari KKN ( korupsi, kolusi dan nepotisme ) dan prestasi kepemimpinannya akan menghasilkan yang gemilang. Amanah merupakan perintah Allah Swt. dalam firman-Nya surah an-Nisa ayat 58 yang berbunyi, ” Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah-amanah itu kepada pemiliknya.” Jelas bahwa suatu jabatan tidak bisa kita remehkan tanggung jawabnya, apalagi bahwa jabatan tersebut dianggap sebagai jalan menuju hidup mewah. Ini yang harus dihindari. Ingatlah bahwa Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, dengan memimpin kurang lebih dua tahun menjadikan rakyat miskin sulit ditemukan meskipun dirinya menjadi miskin.

Adil, sebagai seorang pemimpin berlakulah adil, tidak membeda-bedakan perlakuan hanya karena memandang golongan dan derajat seseorang. Hal ini sesuai perintah-Nya pada surah an-Nahl ayat 90 yang berbunyi, ” Berlakulah adil dalam segala hal tidak pilih kasih, tidak berat sebelah dan semena-mena.”
Dikisahkan seorang wanita bangsawan kedapatan mencuri dan akan diberlakukan hukum potong tangan, lalu datanglah Usama bin Zaid ( orang dekat Nabi ) meminta dispensasi hukuman pada wanita tersebut. Rasulullah Saw. menjawab, ” Seandainya Fathimah binti Muhammad sendiri yang mencuri niscaya aku akan potong tangannya.” Inilah semua sama dalam kedudukan dimata hukum dan tidak ada yang diistimewakan.

Fathonah, adalah berpandangan luas, bijaksana dalam membuat keputusan dan cerdik dalam mengatur strategi. Oleh karena itu Allah Swt. telah memberikan kecerdasan kepada para Nabi dan Rasul untuk berdakwah pada jalan yang di ridhoi-Nya. Sikap fathonah yang dimiliki menjadikan Rasulullah Saw. sampai saat ini kurang lebih 14 abad yang lalu menjadi panutan para pemeluk Islam yang jumlah sepertiga penduduk bumi.

Tabligh, mempunyai makna penyampaian. Sedang menurut istilah, merupakan kegiatan menyampaikan ajaran Allah Swt. dan Rasulnya pada orang lain. Rasulullah Saw. menyampaikan petunjuk yang disampaikan Allah Swt. sesuai maksud dan tujuan wahyu yang diturunkan-Nya.

Sedangkan ciri-ciri Rasulullah Saw. dari sikap fathonah dan tabligh adalah :
1. Pandai memberi nasihat yang baik dan tidak menyinggung perasaan. Dengan kecerdasan dan pandangan yang luas, maka nasihatnya bisa diterima.
2. Cerdas dalam bertutur kata dan mengajak kebaikan.
3. Pandai menyampaikan kabar kebaikan.
4. Cerdas beribadah.
5. Cerdik dalam bersosial / bermasyarakat.

Mari kita simak pendapat seorang pemikir terkemuka abad kesembilan belas, yaitu Thomas Carlyle. Ia menyampaikan ceramah yang berjudul ” The Hero as Prophet ” kepada hadirin yang sebagian besar adalah orang Kristen pada tanggal 8 Mei 1840. Diantara sanjungannya tentang Muhammad Saw. Ia berkata, ” Pria yang jujur dan taat; jujur dalam perbuatan, perkataan, dan pikiran. Bagi mereka, dia selalu berarti. Seorang pria yang agak pendiam; diam ketika tidak ada yang perlu dikatakan; tapi tegas, bijak, tulus ketika berbicara; selalu memberi pencerahan atas persoalan. Inilah ucapan yang memang benar-benar berharga!”
Dia melanjutkan dan berkata, ” Saya bermaksud mengatakan bahwa saya bisa melihat semua kebaikan pada dirinya.” Dengan demikian banyak cendekiawan Barat yang ikut menyanjung Muhammad Saw. seperti firman-Nya dalam surah al-Insyrah ayat 4 yang berbunyi, ” Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu. “

Seperti yang diungkapkan oleh Warren Bennis, seorang penulis tentang kepemimpinan, ” Pemimpin adalah orang yang melakukan hal yang benar, manajer adalah orang yang melakukan dengan benar. ” Keduanya ada pada diri Muhammad Saw. sehingga kinerja Beliau dalam sepuluh tahun pengembangan Islam yang dimulai dari kota Madinah sampai wilayah jazirah Arab. Kinerja ini penulis simpulkan sangat gemilang. Oleh karena itu jika pada saatnya negeri ini melakukan pilihan pemimpin, maka carilah pemimpin dengan ciri-ciri tersebut diatas meskipun tidak persis sama.

Semoga model kepemimpinan ini bisa menjadikan inspirasi generasi muda muslim untuk meraih dan mendarma baktikan pada negeri tercinta ini.

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(erd/erd)



Sumber : www.detik.com

Khutbah Jumat Singkat Bulan Syawal tentang 3 Amalan Baik



Jakarta

Khutbah Jumat singkat bulan Syawal tentang amalan baik bisa menjadi referensi khatib salat Jumat. Mengingat, Syawal adalah bulan peningkatan amal ibadah setelah sebelumnya menjalani puasa Ramadan.

Bulan Syawal sebagai bulan peningkatan amal ini turut dijelaskan Amirulloh Syarbini dan Sumantri Jamhari dalam buku Dahsyatnya Puasa Wajib dan Sunah Rekomendasi Rasulullah. Secara bahasa, kata Syawal (Arab: Syawwal) artinya peningkatan amal.

Dikatakan sebagai bulan peningkatan amal karena pada saat bulan Ramadan, umat Islam diperintahkan untuk melaksanakan puasa sebulan penuh ditambah dengan berbagai amal sunnah, seperti Tarawih, membaca Al-Qur’an, zakat, sedekah, dan lainnya.


“Berbagai amalan tersebut dapat meningkatkan keimanan seseorang. Sehingga, setelah melewati bulan Ramadan, iman seorang muslim dipastikan akan meningkat. Maka, ketika masuk bulan Syawal, seharusnya terjadi peningkatan ibadah dibandingkan bulan-bulan lainnya,” jelas buku tersebut.

Melansir situs Kemenag Jawa Barat, berikut contoh naskah khutbah Jumat singkat dengan tema “Tiga Amalan Baik”.

Khutbah Jumat Singkat

Assalamu’alaikum Wr.Wb

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Hadirin Yang Terhormat

Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang dan ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti. Kadang naik kadang turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis. Kadangkala dipuji tapi pada suatu saat kita dicaci. Jangan harapkan ada keabadian perjalanan hidup.

Oleh sebab itu, agar tidak terombang-ambing dan tetap tegar dalam menghadapi segala kemungkinan tantangan hidup kita harus memiliki pegangan dan amalan dalam hidup. Tiga amalan baik tersebut adalah Istiqomah, Istikharah dan Istighfar.

1. Istiqomah yaitu kokoh dalam aqidah dan konsisten dalam beribadah.

Begitu pentingnya istiqomah ini sampai Nabi Muhammad SAW berpesan kepada seseorang seperti dalam Al-Hadits berikut:

عَنْ أَبِيْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قُلْ لِيْ فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُهُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ. (رواه مسلم).

“Dari Abi Sufyan bin Abdullah Radhiallaahu anhu berkata: Aku telah berkata, “Wahai rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu bertanya kepada orang lain selain engkau. Nabi menjawab: ‘Katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah’.” (HR. Muslim)

Orang yang istiqamah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang keimanan bersama dalam tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada persoalan hidup, ibadah tidak ikut redup, kantong kering atau tebal, tetap memperhatikan haram halal, dicaci dipuji, sujud pantang berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas kenikmatan, ia tidak tergoda melakukan kemaksiatan.

Orang seperti itulah yang dipuji Allah Swt. dalam Al-Qur’an surat Fushshilat ayat 30:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatahkan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat: 30)

2. Istikharah, selalu mohon petunjuk Allah dalam setiap langkah dan penuh pertimbangan dalam setiap keputusan.

Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu perbuatan. Akan tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan yang tanpa batas dan batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama. Maka seorang muslim yang benar, selalu berpikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan atau mengucapkan sebuah ucapan serta ia selalu mohon petunjuk kepada Allah.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ. (رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة).

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Orang bijak berkata “Think today and speak tomorrow” (berpikirlah hari ini dan bicaralah esok hari).

Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakitkan orang lain maka tahanlah, jangan diucapkan, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa sakit. Tapi ucapan itu benar dan baik maka katakanlah jangan ditahan sebab lidah kita menjadi lemas untuk bisa meneriakan kebenaran dan keadilan serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Mengenai kebebasan ini, malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk memberikan rambu-rambu kehidupan, beliau bersabda:

أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدًا عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقٌ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ. (رواه البيهقي عن جابر).

Jibril telah datang kepadaku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat akan mati, cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatu saat pasti berpisah juga dan lakukanlah apa yang engkau inginkan sesungguhnya semua itu ada balasannya. (HR. Baihaqi dari Jabir)

Sabda Nabi Muhammad SAW ini semakin penting untuk diresapi ketika akhir-akhir ini dengan dalih kebebasan, banyak orang berbicara tanpa logika dan data yang benar dan bertindak sekehendaknya tanpa mengindahkan etika agama . Para pakar barangkali untuk saat-saat ini, lebih bijaksana untuk banyak mendengar daripada berbicara yang kadang-kadang justru membingungkan masyarakat.

Kita memasyarakatkan istikharah dalam segala langkah kita, agar kita benar-benar bertindak secara benar dan tidak menimbulkan kekecewaan di kemudian hari.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ وَلاَ عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ.

Tidak akan rugi orang yang beristikharah, tidak akan kecewa orang yang bermusyawarah dan tidak akan miskin orang yang hidupnya hemat. (HR. Thabrani dari Anas)

3. Istighfar yaitu selalu introspeksi diri dan mohon ampunan kepada Allah Rabbul Izati.

Setiap orang pernah melakukan kesalahan baik sebagai individu maupun kesalahan sebagai sebuah bangsa. Setiap kesalahan dan dosa itu sebenarnya penyakit yang merusak kehidupan kita. Oleh karena ia harus diobati.

Tidak sedikit persoalan besar yang kita hadapi akhir-akhir ini yang diakibatkan kesalahan kita sendiri. Saatnya kita introspeksi masa lalu, memohon ampun kepada Allah, melakukan koreksi untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah dengan penuh keridhaan Allah.

Dalam persoalan ekonomi, jika rezeki Allah tidak sampai kepada kita disebabkan karena kemalasan kita, maka yang diobati adalah sifat malas itu. Kita tidak boleh menjadi umat pemalas. Malas adalah bagian dari musuh kita. Jika kesulitan ekonomi tersebut, karena kita kurang bisa melakukan terobosan-terobosan yang produktif, maka kreativitas dan etos kerja umat yang harus kita tumbuhkan.

Akan tetapi adakalanya kehidupan sosial ekonomi sebuah bangsa mengalami kesulitan. Kesulitan itu disebabkan karena dosa-dosa masa lalu yang belum bertaubat darinya secara massal. Jika itu penyebabnya, maka obat satu-satunya adalah beristighfar dan bertobat.

Allah berfirman yang mengisahkan seruan Nabi Hud Alaihissalam, kepada kaumnya:

“Dan (Hud) berkata, hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. Hud: 52)

Jamaah yang dimuliakan Allah

Sekali lagi, tiada kehidupan yang sepi dari tantangan dan godaan. Agar kita tetap tegar dan selamat dalam berbagai gelombang kehidupan, tidak bisa tidak kita harus memiliki dan melakukan Tiga amalan di atas yaitu Istiqomah, Istikharah dan Istighfar.

Mudah-mudahan Allah memberi kekuatan kepada kita untuk menatap masa depan dengan keimanan dan rahmat-Nya yang melimpah. Amin

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ.

(kri/erd)



Sumber : www.detik.com

Adab



Jakarta

Adab adalah norma atau aturan mengenai sopan santun berdasarkan nilai-nilai budaya atau aturan agama. Norma tentang adab seringkali digunakan dalam pergaulan yang terjadi antar manusia, antar tetangga, dan antar kaum bahkan dalam organisasi. Oleh karena itu adab juga digunakan oleh para pendiri negeri ini masuk dalam dasar negara kita pada sila kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab.”

Dalam sila kedua ini mengandung pengertian bahwa merupakan makhluk yang beradab yaitu manusia memiliki keadilan yang setara di mata Tuhan. Dalam kata lain, hakikatnya manusia harus adil baik dalam hubungan dengan diri sendiri, adil kepada manusia lain, adil kepada masyarakat, bangsa dan negara, serta adil kepada lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa. Nilai yang terkandung dalam sila kedua Pancasila ini yaitu persamaan derajat ataupun kewajiban dan hak, saling mencintai, saling menghormati, keberanian membela kebenaran dan keadilan, toleransi dan gotong royong.

Nilai-nilai diharapkan menjadi pedoman atau diterapkan di kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, karena dengan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab dapat memberikan manusia pemahaman dan pandangan terhadap manusia sebagai makhluk sosial pada hakikatnya.


Sebutan orang beradab sesungguhnya berarti bahwa orang itu mengetahui aturan tentang adab atau sopan santun yang ditentukan dalam agama Islam. Tetapi seiring berkembangnya waktu, kata beradab dan tidak beradab dikaitkan dengan segi kesopanan secara umum. Dalam agama Islam, adab berasal dari dua sumber utama, yaitu Al-Qur’an dan sunah yang merupakan perbuatan serta kata-kata Nabi Saw. Keduanya merupakan panduan bagi umat Muslim dalam menjalankan aktivitas sehari-hari agar menjadi orang yang beriman dan berakhlak.

Kedudukan adab dalam Islam lebih tinggi dari ilmu. Imam Malik pernah berkata kepada muridnya, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Begitu pula yang diperintahkan ulama-ulama lainnya.
Islam lebih meninggikan dan memuliakan orang-orang yang memiliki adab/akhlak daripada mereka yang berilmu. Ini juga yang menjadi misi utama kenabian Rasulullah Saw. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlakul karimah.” (HR. Bukhari).

Adab menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan, baik kehidupan sendiri, keluarga, maupun sosial. Dengan adab, seorang Muslim yang sejati akan menjadi mulia di hadapan Allah Swt. dan Rasul-Nya serta sesama manusia. Kehidupan berpolitik pun tentu ada adabnya, sehingga dalam kontestasi pileg, pilkada dan pilpres tentu tetap mengedepankan kesantunan untuk menghindari terjadinya polarisasi yang tajam. Bagaimana adab dalam bersikap ?terhadap perbedaan pendapat seperti di organisasi sosial, organisasi perusahaan dan organisasi sosial politik. Perbedaan pendapat merupakan hal yang sering terjadi, jika itu terjadi maka lakukan pendekatan dengan menyampaikan argumentasi yang melandasinya, tentu dengan cara yang santun. Jika tetap terjadi perbedaan maka diamlah karena kita bagian dari organisasi itu, atau dirasa tidak nyaman dan merasa tidak bisa berkontribusi maka putuskan dengan sikap kesatria untuk mundur.

Dalam Islam telah memberikan penjelasan tentang adab/akhlak yang ada dalam Al-Qur’an lebih dari 1.400 ayat. Adab izin masuk rumah, adab menuntut ilmu, adab menundukkan pandangan, adab bicara dengan Wali Allah dan lain-lain. Artinya seluruh kehidupan manusia telah diatur rinci dalam Islam dan menjadi pegangan hidup. Bagi orang beriman adab yang sesuai ajaran Islam akan selalu menjadi pedomannya, hingga terbentuknya masyarakat yang beradab dan harmonis. Satu contoh tentang berbicara dengan Wali Allah, kita tidak diperkenankan berbicara kepada para wali Allah dengan nada yang tinggi karena mereka seperti Nabi Muhammad Saw. sebagaimana ilmu mereka adalah ilmu Nabi dan juga mereka adalah pewarisnya. Adapun firman-Nya tentang tersebut diatas dalam surah al-Hujurat ayat 2 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya ( suara ) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti ( pahala ) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.”

Adab menjadi salah satu amal yang bisa ditanamkan kepada diri sendiri sebagai bekal pahala di akhirat kelak. Disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Tirmidzi, Nabi Saw bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia.”

Jika adab ditinggalkan, maka seorang muslim akan merugi karena hidupnya kurang bermakna di dunia dan tidak menambahkan timbangannya saat di hisab. Saat kontestasi tahun depan, maka pilihlah pemimpin yang bisa berlaku adil dan beradab. Semoga Allah Swt. selalu memberikan hidayah agar kita selalu ingat dan menjalankan adab sesuai tuntunan-Nya.

Aunur Rofiq

Ketua DPP PPP periode 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia)

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih – Redaksi)

(lus/lus)



Sumber : www.detik.com

Sunan Gresik, Wali Songo Pertama di Tanah Jawa



Jakarta

Proses masuknya Islam ke Indonesia tak lepas dari peran wali songo. Wali songo yang paling tua dan termasuk orang Islam pertama yang masuk tanah Jawa bernama Maulana Malik Ibrahim atau biasa dikenal dengan Sunan Gresik.

Hal tersebut dikatakan dalam buku Sejarah Kelam Majapahit: Jejak-jejak Konflik Kekuasaan dan Tumbal Asmara di Majapahit karya Peri Mardiyono.

Asal Muasal Sunan Gresik

Masykur Arif dalam buku Wali Sanga: Menguak Tabir Kisah Hingga Fakta Sejarah menjelaskan bahwa Sunan Gresik memiliki sejumlah gelar atau nama lain. Misalnya, Maulana atau Syekh Maghribi karena ia dianggap berasal dari daerah Maroko, Afrika.


Selain itu, dalam pengucapan orang Jawa, Maulana Maghribi disebut Maulana Gribig atau Sunan Gribig.

Masyarakat setempat juga menjulukinya sebagai kakek bantal. Hal itu disebabkan ia menjadi tempat berkeluh kesah masyarakat, tempat istirahat di kala pikiran sedang kacau, tempat menyandarkan diri saat sedang tidak ada pegangan hidup.

Selain itu, ada yang mengatakan bahwa nama Malik Ibrahim ialah Makdum Ibrahim Asmara. Kata “Asmara” merupakan pengucapan orang Jawa yang berasal dari kata Samarkand atau Asmarakandi.

Hingga saat ini belum dapat dipastikan dari mana Maulana Malik Ibrahim berasal. Namun, para sejarawan sepakat bahwa ia bukanlah asli orang Jawa melainkan merupakan pendatang di tanah Jawa.

Maulana Malik Ibrahim diperkirakan datang ke Gresik pada tahun 1404 M. Menurut catatan Stamford Raffles dalam The History of Java, Maulana Malik Ibrahim adalah seorang ahli agama yang berasal dari Arab. Sementara J.P. Moquette memberikan keterangan bahwa Sunan Gresik berasal dari daerah Iran.

Dakwah Sunan Gresik di Tanah Jawa

Zulham Farobi dalam buku Sejarah Wali Songo menceritakan mengenai kisah Maulana Malik Ibrahim yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.

Pada saat itu, Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim datang untuk memberikan pandangan baru mengenai kasta masyarakat.

Sesuai ajaran Islam, bahwa kedudukan tiap manusia itu sama. Allah SWT tidak pernah membeda-bedakan manusia, sebab bagi-Nya derajat manusia di mata-Nya itu sama.

Maka ketika Syekh Maulana Malik Ibrahim memberikan pandangan tersebut, masyarakat dari kasta sudra dan waisya banyak yang tertarik. Mereka mulai saling bergaul satu sama lain dan tidak membeda-bedakan.

Beberapa tahun Syekh Maulana Malik Ibrahim berdakwah di Gresik, ia tidak hanya membimbing umat Islam untuk mengenal dan mendalami agama Islam, melainkan juga memberi pengarahan agar tingkat kehidupan rakyat gresik menjadi lebih baik.

Ia bahkan memiliki gagasan untuk mengalirkan air dari gunung untuk mengairi lahan pertanian penduduk. Dengan adanya sistem pengairan yang baik ini, lahan pertanian menjadi subur dan hasil panen pun berlimpah.

Hampir sepanjang kisah hidup Sunan Gresik dihabiskan untuk menyebarkan dan mengenalkan agama Islam. Ia akhirnya wafat pada tahun 1419 M. Belum ada informasi yang jelas mengenai di mana ia wafat. Satu-satunya informasi yang didapatkan hanya tahunnya saja, yaitu 1419 M.

Di samping itu, ada sumber lain yang menyebut Sunan Gresik adalah wali songo yang paling tua tetapi bukan orang Islam pertama yang masuk tanah Jawa. Ketika itu, sudah ada beberapa kelompok kecil umat Islam di pesisir utara Pulau Jawa.

Rata-rata dari mereka adalah kaum saudagar yang mengadakan perjalanan dagang diiringi maksud menyebarkan agama Islam. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya makam seorang wanita yang bernama Fatimah binti Maimun, yang meninggal pada tahun 475 H atau 1082 M di Leran, Gresik.

Selain itu, ditemukan beberapa batu nisan di Jawa Timur, yaitu di daerah Trowulan dan Troloyo, dekat situs Istana Majapahit, yang menunjukkan bahwa sebelum Maulana Malik Ibrahim menginjakkan kaki di Pulau Jawa, sudah ada umat Islam.

Batu-batu nisan tersebut menunjukkan bahwa itu adalah kuburan umat Islam karena terdapat kutipan-kutipan dari Al-Qur’an dan rumus-rumus yang saleh.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Khutbah Jumat Akhir Syawal tentang Empat Tanda Orang Istiqomah



Jakarta

Khutbah Jumat akhir Syawal tentang pentingnya menjaga istiqomah bisa menjadi salah satu referensi khatib saat salat Jumat. Hal ini lantaran mendekati akhir bulan Syawal, animo dan momentum masyarakat dari bulan Ramadan dapat dirasakan menurun dalam keistiqomahan beragama.

Berdasarkan ketetapan hasil sidang isbat Kementerian Agama (Kemenag), bulan Syawal berakhir pada 21 Mei 2023 mendatang.
Sementara itu, berdasarkan keputusan PP Muhammadiyah yang penentuan kalendernya menggunakan perhitungan dari posisi geometris bumi, matahari, dan bulan, Syawal berakhir pada 20 Mei 2023.

Istiqomah sendiri secara bahasa berarti konsisten, sikap teduh berpendirian khususnya dalam berkeyakinan. Al-Maraghi melalui buku Tafsir al Maraghi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan istiqomah adalah teguh dalam beriman sehingga tidak tergelincir, serta ibadah dan itikad-itikad nya tidak dilanggar.


Allah SWT berulang kali menyinggung mengenai pentingnya beristiqomah khususnya dalam beragama. Salah satunya termaktub dalam Al-Qur’an Surah Hud ayat 112 yang berbunyi,

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Arab Latin: “Fastaqim kamā umirta wa man tāba ma’aka wa lā taṭgau, innahū bimā ta’malūna baṣīr(un).”

Artinya: “Maka, tetaplah beristiqomahlah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Melihat pentingnya istiqomah dalam Islam, berikut ini adalah contoh naskah khutbah Jumat akhir Syawal dengan tema tanda orang istiqomah yang dilansir dari laman BDK Bandung Kemenag RI.

Contoh Teks Khutbah Jumat Akhir Syawal

Assalamualaikum Wr. Wb

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kita kepada takwa. Dan kita diperintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sebagaimana disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 102,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Shalawat dan salam kepada sayyid para nabi, nabi akhir zaman, rasul yang syariatnya telah sempurna, rasul yang mengajarkan perihal ibadah dengan sempurna. Semoga shalawat dari Allah tercurah kepada beliau, kepada istri-istri beliau, para sahabat beliau, serta yang disebut keluarga beliau karena menjadi pengikut beliau yang sejati hingga akhir zaman.

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah,

Sebelumnya ada dua adab penting pada hari Jumat saat mendengarkan khutbah Jumat yang perlu diterangkan. Pertama, diam dan tidak berbicara saat mendengar khutbah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad SAW bersabda,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ . وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

Artinya: Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jumat, ‘”iamlah, khotib sedang berkhutbah!” Sungguh engkau telah berkata sia-sia.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua, dilarang al-habwah, yaitu duduk sambil memeluk lutut saat mendengarkan khutbah. Dari Sahl bin Mu’adz dari bapaknya (Mu’adz bin Anas Al-Juhaniy), ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الْحُبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ

Artinya: “Rasulullah SAW melarang dari duduk dengan memeluk lutut pada saat imam sedang berkhutbah.” (HR Tirmidzi dan Abu Daud)

Kali ini kami akan mengangkat tema mengenai bagaimanakah tanda seseorang itu istiqomah. Karena setiap hari kita terus mengulang ayat ini di dalam salat,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَصِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7).

Ayat ini berisi perintah untuk meminta terus istiqomah di atas jalan yang lurus. Shirathal mustaqim menurut Ibnu Katsir adalah:

Mengikuti jalan Nabi

Mengikuti generasi salaf dari para sahabat seperti Abu Bakar dan ‘Umar

Mengikuti kebenaran

Mengikuti Islam

Mengikuti Al-Qur’an

Ibnu Katsir rahimahullah mengungkapkan bahwa semua pengertian di atas itu benar dan semua makna di atas itu saling terkait. Siapa yang mengikuti Nabi Muhammad SAW dan mengikuti sahabat sesudahnya yaitu Abu Bakar dan Umar, maka ia telah mengikuti kebenaran. Siapa yang mengikuti kebenaran, berarti ia telah mengikuti Islam. Siapa yang mengikuti Islam, berarti ia telah mengikuti Al-Qur’an (Kitabullah), itulah tali Allah yang kokoh. Itulah semua termasuk ash-shirothol mustaqim (jalan yang lurus). Semua pengertian di atas itu benar saling mendukung satu dan lainnya. Walillahil hamd. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1:213.)

Bagaimana kita bisa istiqomah pada jalan yang lurus? Syafiq Al-Balji rahimahullah berkata bahwa ada empat cara untuk istiqomah,

1. Tidak Meninggalkan Perintah Allah Akibat Musibah

Pertama, tidak meninggalkan perintah Allah karena sedang mengalami musibah. Tetap istiqomah walaupun mendapatkan musibah. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al Insyirah ayat 5,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Ayat ini pun diulang setelah itu dalam surah Al Insyirah ayat 6,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Tentang ayat di atas, Qatadah rahimhuallah berkata, “Satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan.”

Ingatlah hikmah di balik musibah sungguh luar biasa. Pertama, musibah itu sebagai ujian, siapakah yang mampu bersabar.

Kedua, mntuk membersihkan hati manusia dan supaya lepas dari sifat-sifat buruk karena ketika musibah datang, maka kesombongan, ujub, hasad berubah menjadi ketundukan kepada Allah. Ketiga, iman seorang mukmin menjadi kuat.

Keempat, musibah menunjukkan kuatnya Allah dan lemahnya manusia. Kelima, dengan adanya musibah, kita jadi semangat berdoa dengan ikhlas.

Keenam, musibah itu untuk membangunkan seseorang yang sedang lalai. Ketujuh, nikmat itu baru dirasakan kalau kita mengetahui lawannya. Kita baru rasakan nikmat sehat ketika kita mendapatkan sakit.

Kedua, tidak meninggalkan perintah Allah karena kesibukan dunia. Ketiga, tidak mengikuti komentar orang lain dan mengedepankan hawa nafsu sendiri. Keempat, beramal sesuai Al-Qur’an dan sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hilyah Al-Auliya’, 8:17, dinukil dari At-Tadzhib Al-Maudhu’i li Hilyah Al-Auliya’, hlm. 50).

2. Tidak Meninggalkan Perintah Allah Akibat Sibuk Dunia

Tidak meninggalkan perintah Allah walaupun sibuk dengan urusan dunia. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan tentang salat pada suatu hari di mana beliau bersabda,

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوراً وَبُرْهَاناً وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ وَلاَ بُرْهَانٌ وَلاَ نَجَاةٌ وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَأُبَىِّ بْنِ خَلَفٍ

Artinya: “Siapa yang menjaga salat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, keselamatan pada hari kiamat. Siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan kelak. Nantinya di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR Ahmad)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitab Ash-Shalah wa Hukmu Taarikihaa (hlm. 37-38) mengenai hadits di atas,

Siapa yang sibuk dengan hartanya sehingga melalaikan salatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Qarun.

Siapa yang sibuk dengan kerajaannya sehingga melalaikan salatnya, maka ia akan dikumpulkan bersama Fir’aun.

Siapa yang sibuk dengan kekuasaannya sehingga melalaikan salat, maka ia akan dikumpulkan bersama Haman (menterinya Fir’aun).

Siapa yang sibuk dengan perdagangannya sehingga melalaikan salat, maka ia akan dikumpulkan bersama Ubay bin Khalaf.

3. Tidak Ikut Komentar Orang Lain

Tidak mengikuti komentar orang lain dan mengedepankan hawa nafsu sendiri. Dalam hadits disebutkan,

مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ

Artinya: “Barangsiapa yang mencari ridha Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridha manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

4. Beramal sesuai Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.

Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al Hasyr ayat 7,

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”

Dalam hadits Al-‘Irbadh bin Sariyah disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة

Artinya: “Hati-hatilah dengan perkara baru dalam agama. Karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Demikian tanda kita bisa istiqomah, kesimpulannya adalah tidak meninggalkan perintah Allah tatkala kita tertimpa musibah, tidak meninggalkan perintah Allah karena kesibukan dunia, tidak mengikuti komentar orang dan hawa nafsu sendiri, beramal sesuai Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian khutbah pertama ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ومَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com

Nama Ayah Sunan Ampel, Wali yang Dakwah di Tanah Jawa



Jakarta

Sunan Ampel adalah salah satu tokoh wali songo yang berdakwah di Pulau Jawa. Nama ayah Sunan Ampel adalah Sunan Maulana Malik Ibrahim atau biasa dikenal dengan Sunan Gresik.

Hal tersebut dijelaskan dalam buku Wali Sanga karya Masykur Arif. Sunan Gresik sendiri adalah tokoh wali songo pertama yang menyebarkan agama Islam di Jawa.

Pendapat mengenai nama ayah Sunan Ampel tersebut bersandar pada beberapa teks sejarah, seperti Babad Tanah Jawi, Sejarah Dalem, dan Silsilah Sunan Kudus.


Dikatakan, Sunan Ampel atau Raden Rahmat merupakan keturunan Ibrahim Asmarakandi, nama lain Sunan Gresik. Beberapa kitab turut menyebut bahwa jika dilihat dari silsilah ayahnya, Sunan Ampel bernasab dengan Nabi Muhammad SAW.

Dalam buku Sejarah Peradaban Islam Terlengkap Sunan Ampel karya Rizem Aizid diceritakan, pada masa kecilnya, Sunan Ampel dikenal dengan nama Raden Rahmat yang lahir di Campa pada tahun 1401 M.

Nama “Ampel” diidentikkan dengan nama tempatnya bermukim dalam waktu yang lama yaitu di Ampel atau Ampeldenta yang kini menjadi salah satu bagian wilayah di Surabaya.

Beberapa versi menyebutkan bahwa Sunan Ampel masuk ke Pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama dengan Sayyid Ali Mutadha yang merupakan adiknya. Sebelum ke Jawa mereka singgah terlebih dahulu di Palembang dan menetap selama tiga tahun.

Kedatangan Sunan Ampel menurut Babad Gresik yaitu ketika Kerajaan Majapahit sedang dilanda perang saudara dan kekacauan terjadi di mana-mana membuat Prabu Sri Kertawijaya penguasa Majapahit saat itu mengundang Raden Rahmat atau Sunan Ampel untuk mengajarkan agama kepada penduduk Jawa.

Di Kerajaan Majapahit, Sunan Ampel diberi kebebasan untuk mengajarkan agama Islam kepada penduduk Majapahit dengan syarat tanpa paksaan dan kekerasan. Selanjutnya, ia dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila atau putri Tumenggung Arya Teja, Bupati Tuban. Sejak saat itulah, ia terkenal dengan sebutan Raden Rahmat.

Dalam versi yang lain ada pula yang mengatakan bahwa Sunan Ampel menikahi putri dari Adipati Tuban, Nyai Gede Nila.

Dakwah Sunan Ampel

Perjalanan Raden Rahmat atau Sunan Ampel menuju Ampeldenta yang saat ini masuk dalam wilayah Surabaya, mengandung banyak cerita sejarah dan dakwah.

Masih dalam sumber yang sama, rute perjalanan rombongan Sunan Ampel itu melalui Desa Krian Wonokromo, terus memasuki Kembangkuning. Selama dalam perjalanan, Raden Rahmat menyempatkan diri berdakwah kepada penduduk setempat yang dilaluinya.

Dakwah yang pertama kali dilakukannya cukup unik, yaitu membuat kerajinan berbentuk kipas yang terbuat dari akar tumbuh-tumbuhan tertentu yang dianyam bersama rotan.

Kipas-kipas itu diberikan dengan cuma-cuma kepada penduduk alias tidak perlu membelinya. Namun, para penduduk yang diberi kipas cukup menukarnya dengan kalimat syahadat.

Para warga yang menerima kipas itu merasa sangat senang. Lantaran kipas tersebut bukanlah sembarang kipas karena akar yang dianyam bersama rotan itu ternyata merupakan obat bagi mereka yang terkena penyakit batuk dan demam.

Dari situ lah, pengikut Sunan Ampel mulai banyak jumlahnya. Sunan Ampel juga terkenal sebagai orang yang ramah dan berbudi pekerti yang baik kepada orang lain. Selain itu, ia juga mudah beradaptasi dengan masyarakat setempat.

Ketika Sunan Ampel membangun tempat ibadah, ia menyesuaikan nama tempat tersebut dengan budaya dan kebiasaan orang Jawa. Ia tidak memberikan nama Arab pada tempat ibadah tersebut ia memberikan nama tempat ibadah tersebut dengan sebutan langgar.

Ketika menyebut menyembah Allah SWT, ia juga tidak menggunakan bahasa Arab seperti salat melainkan ia menyebutnya dengan sembahyang yang berasal dari kata sembah dan hyang (Tuhan).

Dengan demikian, di tangan Sunan Ampel Islam beradaptasi sesuai dengan kondisi masyarakat lingkungan setempat. Karena itulah, Islam mudah dimengerti dan gampang diterima oleh masyarakat.

(kri/kri)



Sumber : www.detik.com

Berapa Tahun Nabi Muhammad Tinggal di Madinah untuk Berdakwah?



Jakarta

Periode dakwah Nabi Muhammad SAW diketahui terbagi ke dalam dua kota yaitu, Makkah dan Madinah. Berapa tahun Nabi Muhammad SAW tinggal di Madinah untuk berdakwah?

Perjuangan dakwah periode Madinah yang dilakukan Rasulullah SAW tidaklah mudah. Di tempat baru semasa hijrah ini, tak sedikit fitnah didapati Rasulullah SAW selama menyebarkan ajaran Islam.

Dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam yang disusun oleh Abu Achmadi dan Sungarso, ketidaksukaan Yahudi, kebencian kaum munafik, dan permusuhan kaum Quraisy kerap kali menimbulkan perseteruan yang berujung pada peperangan di masyarakat Madinah.


Berbagai persoalan semasa berdakwah di kota yang dulu dikenal dengan Yatsrib ini berhasil diatasi oleh Rasulullah SAW. Pada puncaknya, beliau berhasil menaklukkan Kota Madinah dan menjadikannya bagian dari wilayah kekuasaan Islam.

Berapa Tahun Nabi Muhammad SAW Tinggal di Madinah?

Kedatangan Nabi Muhammad SAW di Madinah pada 12 Rabi’ul Awwal tahun pertama Hijriah merupakan awal dari dimulainya dakwah. Menurut keterangan hadits, Nabi Muhammad SAW tinggal di madinah selama 10 tahun di Madinah hingga akhir hayatnya.

Adapun sebelumnya, 13 tahun setelah menginjak usia 40 tahun awal kenabian, Nabi Muhammad SAW berdakwah di Makkah. Melansir buku Ringkasan Shahih Muslim oleh M. Nashiruddin al-Albani, keterangan tersebut didasarkan pada sebuah hadits yang mahsyur di kalangan ulama,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : أَقَامَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةٌ يُوْحَى إِلَيْهِ ، وَبِالْمَدِينَةِ عَشْرًا ، وَمَات وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِيْنَ سَنَةً

Artinya: Ibnu Abbas Radhiyallahu’anhu berkata, “Rasulullah tinggal di Makkah selama 13 tahun sejak beliau menerima wahyu dan tinggal di Madinah selama 10 tahun. Beliau wafat dalam usia 63 tahun.” (HR Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan redaksi serupa yang menyebutkan Nabi Muhammad SAW tinggal di Madinah selama sepuluh tahun. Dari Ibnu Abbas RA,

“Rasulullah SAW tinggal di Makkah selama 15 tahun. Selama tujuh tahun beliau mendengar suara dan melihat cahaya tanpa ada wahyu dan selama delapan tahun beliau menerima wahyu. Beliau tinggal di Madinah selama 10 tahun.” (HR Muslim)

Selama kurang lebih tinggal 10 tahun di Madinah, Nabi Muhammad SAW fokus pada penguatan Islam dan dakwah. Setelah Rasulullah SAW mendapatkan perintah untuk hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau berangkat dan tiba di Madinah pada 12 Rabi’ul Awwal.

Dikutip melalui buku Pendidikan Agama Islam karya Bachrul Ilmy, setidaknya ada empat substansi dakwah pada periode dakwah Madinah.

Empat substansi tersebut adalah pembinaan akidah, ibadah, dan mu’amalah kaum muslim, pembinaan ukhuwah atau persaudaraan untuk menyatukan kaum muslim, pembinaan kader-kader perjuangan untuk mempertahankan wilayah dakwah, dan memetakan pertahanan dan sosial untuk menjaga stabilitas Madinah.

Adapun cara dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah di antaranya sebagai berikut.

Cara Dakwah Nabi Muhammad SAW di Madinah

1. Memberdayakan Masjid

Rasulullah SAW membangun dua masjid selama di Madinah yang dijadikan sebagai pusat kegiatan dakwah, yaitu Masjid Quba yang dibangun saat kedatangan pertamanya dan Masjid Nabawi yang kemudian dijadikan untuk mendidik para sahabatnya dan mengatur pemerintahan.

2. Melakukan Perjanjian dengan Kaum Yahudi

Selama dakwah di Madinah, Rasulullah SAW melakukan perjanjian untuk memperkokoh posisi kaum muslimin dari gangguan penduduk asli, bangsa Arab, maupun Yahudi. Hal ini juga dilakukan bertujuan secara umum untuk menjaga stabilitas di Madinah.

Perjanjian tersebut selanjutnya melahirkan Piagam Madinah. Piagam ini berisi sepuluh bab, di antaranya pembentukan ummat, hak asasi manusia, persatuan seagama, persatuan segenap warganegara, golongan minoritas, tugas warga negara, melindungi negara, pimpinan negara, politik perdamaian, dan bab terakhir merupakan penutup.

3. Mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Anshar

Rasulullah SAW berhasil mempersaudarakan dua kaum muslimin, yakni Muhajirin dan Anshar. Rasulullah SAW menganjurkan untuk kedua kaum tersebut untuk saling memupuk persaudaraan dan melarang adanya sentimen kesukuan. Hal ini dilakukan untuk semakin memperkuat umat Islam.

4. Mendirikan Pasar

Rasulullah SAW mendirikan pasar yang tidak jauh dari Masjid Nabawi agar supaya membangun perekonomian rakyat sekaligus sebagai sarana dakwahnya. Pasar ini dibangun untuk mendidik umat dalam mengatur roda perekonomian yang adil berdasarkan ajaran Islam.

Begitulah pembahasan kali ini mengenai berapa tahun Nabi Muhammad SAW tinggal di Madinah sekaligus strategi dakwah yang digunakan beliau di sana.

(rah/rah)



Sumber : www.detik.com