Tag Archives: wisata

Mengenal Salak Khas Jakarta yang Langka di Cagar Buah Condet



Jakarta

Maskot Jakarta ternyata bukan hanya ondel-ondel dan Monumen Nasional (Monas). Ternyata, di masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin salak condet menjadi salah satu ikon kota ini.

Salak condet ditetapkan sebagai maskot Jakarta karena keberadaannya yang langka dan hanya ada di kota ini.

Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 1796 Tahun 1989, yang menyebutkan penetapan salak condet (Salacca zalacca) dari jenis flora dan burung elang bondol (Haliastur indus) dari jenis fauna sebagai identitas atau maskot Jakarta.


Saat ini, salak condet memang sudah jarang untuk ditemui di pasar-pasar bahkan boleh dibilang sulit untuk menjumpainya, tak seperti jenis salak lainnya, seperti salak pondoh. Pusat budidaya salak condet pun satu-satunya hanya terdapat Agrowisata Cagar Buah Condet di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Cagar Buah Condet menjadi titik terakhir perkebunan buah asli Jakarta ini, keberadaannya yang langka membuat tempat ini begitu spesial. Karena masyarakat bisa langsung melihat dan merasakan bagaimana kekhasan buah dengan kulit bersisik ini.

Di Cagar Buah Condet terdapat ribuan pohon salak dan beberapa pohon salak di sini telah berumur puluhan tahun. detikTravel berkesempatan untuk menyambangi kebun salak ini, Selasa (28/5/2024).

Kebun yang luasnya kurang lebih 3,5 hektar itu tak hanya ditanami pohon salak saja tetapi terdapat beberapa pohon lainnya seperti Duku Condet (yang sama-sama buah khas Jakarta), pohon buah kecapi, durian, alpukat, buni, dan masih banyak lainnya.

Agrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta TimurAgrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Tentunya yang menjadi fokus agrowisata ini adalah pohon salak condet dan duku conder. Dua buah itu merupakan buah endemik yang hanya ada di Kota Jakarta. Menyoal rasa, memang salak condet memiliki rasa unik dan berbeda dengan jenis salak lainnya.

Syahrudin, koordinator petugas di Cagar Buah Condet, menyebutkan terdapat rasa yang khas dari salak condet. Dia menerangkan kalau rasa buahnya memiliki rasa yang berbeda-beda dengan sensasi rasa kesat yang minim.

“Ya pokoknya rasanya kalau kita makan lain rasanya. Kalau salak pondoh dari ujung ke ujung sama rasanya, kalau ini beda. Nah itulah keistimewaan Salak Condet, ada yang manis banget, ada yang manis-manis asem jadi rasanya nggak sama, ya kurang lebih begitu ada beberapa rasa,” kata Syahrudin kepada detikTravel.

Rasa penasaran pun hadir untuk mencoba buah Salak Condet ini, namun sayang pohon salak condet saat detikTravel sambangi belum semuanya berbuah. Hanya beberapa pohon saja yang sudah mulai berbuah dan belum matang, Syahrudin pun memberikan salak condet yang tingkat kematangannya baru 40% untuk menghilangkan rasa penasaran.

Agrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta TimurAgrowisata Cagar Buah Condet, budidaya salak condet dan duku condet, di Condet, Jakarta Timur (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Terpikir sejenak buah salak yang belum matang maksimal pasti memiliki rasa yang super asam dengan rasa pahit dan kesat. Tapi ternyata saat mencicipi, salak condet yang belum matang maksimal itu memiliki rasa yang dominan manis.

Untuk kamu warga Jakarta yang penasaran dengan buah asli kota ini bisa langsung datang untuk melihat dan mencicipi jika sudah ada yang berbuah. Syahrudin menjelaskan tak bisa memastikan kapan pohon-pohon salak ini berbuah karena tergantung cuaca, ia hanya bisa memperkirakan panen Salak Condet akan tiba pada akhir tahun nanti.

“Ya paling ini sekitar enam bulan dari sekarang dah,” ujar Syahrudin.

Agrowisata Cagar Buah Condet

Jam Operasional : Buka setiap hari, pukul 07.00 – 16.00 WIB

Tiket Masuk : Gratis

Lokasi : Jalan Kayu Manis No. 37, RT 7/RW 5, Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Cagar Buah Condet, Benteng Terakhir Salak Condet Khas Jakarta



Jakarta

Salak condet merupakan buah asli Jakarta, tetapi justru semakin langka dan sulit ditemukan. Agrowisata Cagar Buah Condet yang masih membudidayakannya.

Sejak dulu pamor salak condet sudah masyhur, khususnya di kawasan Jakarta. Namun, yang menjadi kekhawatiran saat ini adalah tak banyak tempat yang membudidayakan buah tersebut.

Kini, salak condet hanya terdapat di Agrowisata Cagar Buah Condet yang terletak di Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur. Berada di tengah perkampungan padat, kebun salak itu memang tak tampak dari jalanan.


Pengunjung perlu jeli untuk menemukan pintu masuk kebun salak tersebut. Setelah berhasil masuk ke kawasan itu, jangan heran jika belum melihat secara langsung pohon-pohon salak.

Sedikit menuruni beberapa anak tangga, di situlah tempat pohon-pohon buah khas Jakarta itu bertempat. Sekitar 3,5 hektar luas kebun ini penuh dengan pohon-pohon berduri, salak condet-lah yang jadi bintang utamanya agrowisata itu.

Karena penasaran dengan salak condet, detikTravel pun menyambangi dan menjelajahi kebun yang luas itu pada Selasa (28/5/2024). Sejauh mata memandang terlihat pohon-pohon berduri di sekeliling, namun tak terlihat sedikit pun tanda-tanda buah salak condet yang muncul.

Setelah masuk lebih dalam lagi di area perkebunan ini, tampaklah tiga orang petugas yang sedang ngaso. Dari tiga orang petugas itu di antaranya adalah Bapak Syahrudin, yang merupakan koordinator petugas di Agrowisata Cagar Buah Condet.

Salak Condet saat ini memang sudah suliy untuk ditemui di pasar-pasar, tak seperti jenis salak lainnya seperti salak pondoh. Pusat budidaya Salak Condet pun satu-satunya hanya terdapat di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.Budidaya salak condet di di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Bersama Syahrudin, detikTravel diajak berkeliling melihat-lihat pepohonan yang ada di Cagar Buath Condet. Selain buah salak, di tempat ini ternyata memiliki beberapa pohon-pohon buah yang sudah jarang ditemui, seperti pohon buah kecapi, buni, dan duku condet, yang sama seperti salak condet, menjadi buah khas Jakarta.

Ia bercerita sedari kecil memang tumbuh besar di kawasan in. Dan, sejak ia kecil pun kawasan itu sudah menjadi kebun salak condet. Syahrudin mengatakan beberapa pohon salak di Cagar Buah Condet sudah berusia puluhan tahun.

“Sejarahnya ini bahkan kata orang tua saya dulu denger-denger dari cerita, zaman presiden kita yang pertama tuh Bung Karno sempet jadi hidangan ke istana,” kata Syahrudin kepada detikTravel.

Lahan kebun itu dulu memang dimiliki oleh warga, Syahrudin mengatakan kebun itu dulu milik sang kakek yang dibebaskan dan dialih kelola oleh pemerintah pada tahun 2006. Kawasan perkampungan sekeliling Cagar Buah Condet ini dulu memang merupakan kebun salak, namun seiring waktu mulai berganti menjadi rumah-rumah.

“Kebanyakan orang kan jualin (tanah) tahu sendiri orange Betawi kan, apa-apa pengen naik haji atau pengen ngawinin anak terus pesta dengan cara gimana? Ya, jual tanahnya. Nah, dari pihak Pemda dan Pemprov DKI khususnya gimana caranya maskot DKI Jakarta tuh jangan sampai musnah, ya sisanya ini alhamdulilah 3,5 hektar dibebasin,” kata dia.

Salak Condet saat ini memang sudah suliy untuk ditemui di pasar-pasar, tak seperti jenis salak lainnya seperti salak pondoh. Pusat budidaya Salak Condet pun satu-satunya hanya terdapat di Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.Salak Condet makin sulit ditemui di pasar, berbeda dengan salak pondoh yang ada di mana-mana. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Di hamparan yang luas kebun Cagar Buah Condet, Syahrudin menyebut terdapat sekitar 1.500 pohon salak condet, 150 pohon duku condet, dan beberapa pohon buah lainnya.

Ia menerangkan keistimewaan salak condet tersebut dengan menyebut rasanya yang berbeda dari salak-salak lainnya.

Syahrudin kemudian membawa detikTravel ke pohon yang ia sebut sebagai pohon andalan ketika ada tamu yang berkunjung. Selayaknya pohon salak yang lain, tak ada yang membedakan dengan pohon salak pilihannya, tapi ia berucap bahwa salak di pohon ini rasanya lebih enak dibandingkan salak dari pohon lain.

Betul saja, saat mencicipi salaknya, yang belum matang sempurna, ternyata salak dari pohon tersebut terasa manis dan hanya sedikit rasa asam. Selain itu, tekstur yang renyah membuat Salak Condet itu semakin nikmat.

Kemudian, ia mengajak detikTravel ke pohon selanjutnya dan kembali menyodorkan salak untuk dicicipi agar mengetahui perbedaannya.

“Coba rasain apa yang bikin beda? Ini tuh (kematangan) sama kaya salak yang tadi belum terlalu mateng,” kata dia.

Rasa salak condet yang kedua memang berbeda dengan yang pertama. Kali ini, rasa asam dan sensasi kesat bercampur aduk di dalam mulut. Rasa manis pun terasa tipis yang diakhiri dengan pahit, itulah keistimewaan Salak Condet khas Jakarta.

“Ya pokoknya rasanya kalau kita makan lain rasanya. Kalau salak pondoh dari ujung ke ujung sama rasanya, kalau ini beda. Nah, itulah keistimewaan Salak Condet, ada yang manis banget, ada yang manis-manis asem jadi rasanya nggak sama, ya kurang lebih begitu ada beberapa rasa,” kata dia.

Saat ini, dengan banyaknya macam buah-buahan, eksistensi salak condet memiliki tantangan ekstra. Tetapi, dengan Agrowisata Cagar Buah Condet masih akan terus terjaga.

Tetapi, rasanya pilu saat Syahrudin mengatakan fakta tentang salak condet.

“Banyak sampai saat ini orang Jakarta yang nggak tahu kalau Salak Condet tuh masih ada,” kata Syahrudin.

Cagar Buah Condet ini terbuka untuk umum, tujuannya untuk mengenalkan lebih luas kepada masyarakat tentang buah yang pernah menjadi maskot Kota Jakarta.

“Tujuannya kan pemda bebasin ini supaya anak-anak sekarang, terutama di DKI Jakarta, jangan cuman pernah denger cerita ‘dulu punya maskotnya buah salak’. Alhamdulilah kurang lebih 3,5 hektar ini masih ada jadi mereka bisa tahu,” kata dia.

Dengan adanya Cagar Buah Condet menjadi suatu pengharapan agar buah khas Jakarta itu bisa terus lestari dan bisa dinikmati di masa mendatang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

This Is Bali, Kafe di Ubud, Nyentrik dan Unik Sejak di Pintu Masuk



Ubud

Kafe nyentrik yang satu ini berada di Jalan Goutama, Ubud. Desainnya estetik dan mencolok dengan dominasi warna oranye.

Jika sedang berlibur di Ubud, traveler wajib mampir ke salah satu kafe yang sedang viral. Kafe itu namanya This Is Bali.

Oliver, pemilik This Is Bali, menyebut pemilihan nama kafe itu berawal dari kecintaannya terhadap Pulau Bali dan berbagai makanan tradisional yang ada di Pulau Dewata.

Dia memang amat mengagumi Bali dan menyebut Bali sebagai tempat yang kaya akan budaya, keindahan alam, dan kelezatan kulinernya. Makanya, dia betah tinggal di Bali. Sudah 10 tahun dia berada di sana.

“Saya sudah lama tinggal di Bali, dan mengagumi keindahan Bali terutama dari segi kulinernya. Akhirnya dipilih nama Bali, untuk menggabungkan antara kualitas, budaya, dan kelezatan kuliner dalam satu tempat, yaitu di This Is Bali,” kata Oliver.

Bangunan yang terlihat mencolok, dengan warna putih bercampur oranye membuat traveler mudah menemukan This Is Bali di antara puluhan bangunan di Jalan Goutama. Kesan estetik dan hangat menjadi kesan pertama saat traveler masuk ke kafe ini.

This is Bali, kafe nyentrik di Ubud, BaliThis is Bali, kafe nyentrik di Ubud, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Kafe yang baru dibuka selama delapan bulan ini memiliki dekorasi instagramable dengan sentuhan Bali yang terkesan modern. Oliver menceritakan konsep unik dari kafe ini. Ia ingin membuat sebuah kafe yang hangat dan nyaman bak rumah sendiri. Komplit dengan desain unik khas Bali dengan sentuhan modern.

“Di Ubud sudah banyak kafe, namun saya punya mimpi untuk membangun kafe seperti home sweet home. Tentu dikolaborasikan dengan konsep khas Bali dan western, mulai dari desain dan menu makanan,” ujar Oliver.

Di sini traveler akan menemukan tempat duduk yang dibuat dengan konsep anti mainstream. Dari bentuk yang tidak simetris hingga ada yang dibuat bak melayang di udara.

Memiliki desain yang unik nan estetik membuat This Is Bali juga menjadi spot yang sip untuk berburu foto instagramable. Oliver menyebut, sebagian besar pengunjung pasti mengabadikan momen ketika berkunjung ke kafe ini. Tempat duduk yang dibuat melayang menjadi salah satu spot favorit pengunjung di This Is Bali.

Soal menu makanan, This Is Bali memadukan menu khas Bali dan western. Mulai dari dessert, signature bowls, hingga minuman yang siap menggoyangkan lidah.

Beberapa menu favorit khas This Is Bali yaitu Real Balinese Bowl, Coconut Brownies, dan Refreshing Tangerine. Semua menu dibanderol dengan harga mulai dari Rp 35 ribu hingga Rp 97 ribu.

This Is Bali juga menghadirkan pengalaman unik bagi traveler ketika ingin memesan menu. Traveler akan diberikan kartu dan sebuah stempel yang berisi beberapa pilihan menu dessert di This Is Bali.


This is Bali, kafe nyentrik di Ubud, BaliThis is Bali, kafe nyentrik di Ubud, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Step 1, traveler diminta untuk mengambil selembar kartu. Step 2, traveler wajib memilih dessert yang ingin dipesan. Setelah menentukan pilihan, traveler bisa langsung menstempel menu pilihan di atas kartu. Unik ya!

Karena tempatnya yang estetik dan menunya yang tak kalah lezat membuat kafe ini selalu ramai. Setiap harinya, This Is Bali bisa dikunjungi lebih dari 100 orang.

Oliver juga menyarankan untuk traveler yang ingin berkunjung bisa melakukan reservasi terlebih dahulu agar tak kehabisan kursi. This Is Bali buka setiap hari, mulai pukul 12.00 hingga 23.00 WITA.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bangunan Megah bak Kastil di Gang Sempit Kotagede



Yogyakarta

Membayangkan bagaimana indahnya jika arsitektur budaya Jawa, Thailand, Eropa, dan Yunani dipadukan maka Rumah Pesik-lah jawabannya. Lokasinya di Kotagede, Yogyakarta.

Berdiri kokoh masuk ke dalam gang sempit kawasan tua Kotagede, traveler tidak akan menyangka jika ada sebuah bangunan kuno dengan sentuhan arsitektur eksotis yang magical. Namanya adalah Rumah Pesik. Saat ini difungsikan sebagai kafe, hotel, dan mini museum.

“Awalnya buat keluarga aja sih, untuk ayah saya, lebih ke untuk pribadi, keluarga, kawan-kawan. Kadang kadang ada pejabat atau teman dari luar negeri datang, kita ajak ke sini,” kata Roky, anak dari Rudy J Pesik yang sekarang mengelola Rumah Pesik.


Ya, bangunan itu adalah rumah milik pengusaha ternama Rudy J Pesik. Dia pemimpin perusahaan jasa logistik DHL Indonesia.

Atas kecintaannya pada seni budaya, Rudy yang juga dikenal sebagai kolektor menyulap Rumah Pesik menjadi bangunan yang tiap sudutnya dihiasi ornamen bernilai seni tinggi.

Rumah Pesik dikelola menjadi sebuah hotel sejak sebelum pandemi covid-19. Namun, terhenti akibat Covid dan baru dibuka kembali sekitar 1 tahun.

Dituturkan oleh Roky, dari awal bangunan ini memang tidak didesain sebagai hotel, sehingga jumlah kamar yang banyak bukanlah suatu kesengajaan.

Rumah Pesik di Kotagede, YogyakartaRumah Pesik di Kotagede, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Setelah tutup bertahun-tahun, kini Rumah Pesik dibuka untuk umum. Jika hanya ingin berfoto-foto dan melihat saja, maka pengunjung dikenai biaya masuk Rp 25.000, namun jika menghabiskan waktu di kafenya dan membeli makan atau minuman maka biaya masuknya gratis.

Masuk ke Gang Soka, Kotagede, Rumah Pesik tidak akan sulit ditemukan. Jika dilihat dari luar bangunan ini mencolok dengan cat warna tembok hijaunya. Kemudian, masuk melewati salah satu dari ketiga pintu yang terbuka, traveler akan disambut bak terlempar ke dalam lorong waktu masa kerajaan.

Di salah satu pintu terdapat prasasti yang berisi daftar nama-nama tokoh penting dunia yang pernah menginap di sana, termasuk Lech Walesa, mantan Presiden Polandia pada tahun 1990-1995 dan penerima Nobel Perdamaian tahun 1993.

Sekilas jika dilihat dari luar, Traveler tak akan sangka jika di balik benteng hijau itu menyembunyikan bangunan-bangunan tinggi megah dengan arsitektur kental akan budaya. Terlihat bangunan dengan gaya arsitektur Thailand di dalamnya traveler bahkan akan menemukan patung arca buddha. Dari lantai duanya, pemandangan saat sunset begitu menakjubkan.

Bergeser ke sebelahnya, berdiri bangunan dua lantai dengan dominasi warna putih dengan gaya da vinci. Di pintu masuknya dijaga oleh dua patung ksatria Romawi yang membawa tombak. Untuk naik ke lantai duanya, traveler harus meniti tangga yang disekeliling temboknya dipenuhi foto keluarga besar Rudy J Persik.

Rumah Pesik di Kotagede, YogyakartaRumah Pesik di Kotagede, Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Beralih ke bangunan ketiga, tepat berdiri di belakang kolam air mancur, bangunan dengan arsitektur Jawa penuh pahatan kayu. Lalu di seberangnya terdapat kafe dan resto.

Terdapat rumah kalang, yang diketahui ternyata menjadi bangunan utama yang bentuknya masih dipertahankan sejak awal berdirinya Rumah Pesik. Rumah itu menjadi mini museum dan memuat koleksi koleksi Rudy mulai dari keris, patung, arca, hingga barang-barang antik peninggalan dari berbagai negara. Museum hanya dibuka by request pengunjung dan harus membayar tiket masuk Rp 25.000

Setiap sudutnya begitu menawan dengan konsep yang unik dan artistik. Traveler bebas bisa berswaphoto di setiap sudutnya, karena tidak ada pembatasan area bagi pengunjung kecuali masuk ke dalam kamar hotelnya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Rumah Pesik Jogja, Milik Kolektor Barang Antik, Libatkan 44 Pemahat



Yogyakarta

Rumah Pesik langsung membetot mata karena begitu megah, tetapi berada di antara bangunan tua dalam gang sempit di Kotagede, Yogyakarta. Bagaimana bangunan semewah itu berada di sana?

Keberadaannya tidak sulit ditemukan dengan tembok luarnya yang berwarna hijau menyala. Bangunannya unik dengan penggabungan antara arsitektur Jawa, Thailand, Eropa, dan Yunani dengan wajah sebagai kafe, hotel, dan mini museum.

Rumah Pesik itu kini menjadi salah satu rujukan destinasi wisata terlebih jika mengunjungi Kotagede. Kini, rumah itu juga dijadikan penginapan.


Selain bangunannya yang megah, rumah atau penginapan itu mencolok karena beragam tanaman dan patung-patung berukuran besar di halaman.

Wisatawan bergantian keluar masuk Rumah Pesik. Untuk sekadar foto-foto atau nongkrong atau ada pula yang menginap di sana.

Dulu bangunan itu sama sekali tidak diniatkan untuk dipergunakan sebagai hotel, apalagi destinasi wisata.

Ternyata ada cerita panjang rumah megah itu dibangun di sana. Berikut kisahnya.

Rumah Persik awalnya adalah rumah tinggal milik pengusaha DHL Indonesia, Rudy J. Pesik. Dia juga pernah menjabat sebagai dirjen di Kementerian Industri Kemaritiman saat periode Presiden Sukarno. Dia sosok penting dalam pengembangan IT di Pertamina.

Menurut Roky, putra Rudy, dalam catatan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Geomansi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang berbincang langsung dengannya alasan rumah itu dibangun di sana terkuak. Ternyata, rumah Pesik termasuk dari bagian rumah kalang.

“Termasuk dari bagian rumah kalang, kalau orang di daerah sini disebutnya rumah kalang, orang yang pandai dagang. Jadi bangunan aslinya rumah kalang sudah lebih dari 100 tahun,” kata Roky dalam perbincangan dengan detikTravel.

Rumah Pesik itu kini difungsikan sebagai mini museum yang menyimpan koleksi barang-barang antik Rudy mulai dari keris hingga arca. Bentuknya masih dipertahankan seperti pertama kali rumah itu di beli.

Roky mengungkapkan sebelum dibeli oleh ayahnya, rumah itu adalah milik sepasang suami istri Amerika-Indonesia. Sang suami adalah orang Amerika sekaligus teman Rudy.

Singkat cerita, rumah itu harus dijual dan jatuhlah kepemilikannya kepada Rudy J. Persik. Akhirnya, rumah tersebut diberi nama Rumah Pesik yang diambil dari nama belakang Rudy.

Di awal pembangunannya, rumah itu hanya difungsikan sebagai rumah tinggal keluarga besar Rudy dan rekan-rekannya jika berkunjung ke Jogja.

“Secara arsitektur agak berantakan, kami aslinya hanya beli bangunan utamanya saja. Kalau yang bagian lain itu baru 20-25 tahun lah. Bertahap, karena kan kami belinya juga tidak sekaligus semua tanahnya,” kata Roky.

Bangunan selain rumah kalang yang kini menjadi mini museum adalah bangunan tambahan yang didirikan langsung oleh keluarga Rudy.

Bersama dengan 44 pemahat, pengerjaan dimulai dengan ide dasar rumah Joglo. Perpaduan Eropa dan Thailand memiliki makna personal. Rudy telah lama tinggal di Eropa sedangkan Thailand bak rumah kedua bagi keluarga Rudy.

Berbicara tentang Thailand, Rudy adalah salah satu tokoh yang pernah mendapat penghargaan dari Kerajaan Thailand atas kontribusinya di bidang IT.

“Dulu awalnya kami bisnis IT. Perusahaan IT yang pertama kali menterjemahkan komputer ke aksara Thailand. Dari situ Rudy mendapat penghargaan dari Kerajaan Thailand,” kata Roky.

Pembangunan Rumah Pesik mengikuti hobi Rudy sebagai kolektor barang antik. Keseluruhan ornamen adalah milik Rudy yang sudah ia kumpulkan sejak awal tahun 1980-an. Keris dan kayu menjadi seni yang paling menonjol karena dinilai sebagai barang antik yang paling berharga.

“Kalau ditanya barang antik apa yang paling berharga dari Indonesia, itu pertama keris, kedua kayu besar. Karena keris itu dibuat pada ratusan tahun lalu, kalaupun baru, akan berbeda dari aslinya. Kalau kayu karena suatu saat nanti pohon-pohon akan dilarang ditebang, yang sudah jadi suatu produk kayu besar. Jadi, itu sebabnya rumah ini banyak keris dan kayu,” kata Roky.

Kesukaan Rudy terhadap barang antik dimulai ketika dirinya tinggal di Belanda setelah lulus kuliah di tahun 1964. Di sana ia diberi hadiah tempat garam antik oleh orang yang dianggap bak “ayah angkat”.

Ya, garam merupakan penyedap utama dan satu-satunya di Eropa kala itu, sehingga kepemilikan tempat garam, apalagi antik sangatlah berharga. Namun, reaksi Rudy terlihat biasa saja hingga sang ayah angkat menyebutnya sebagai bangsa yang tidak menghargai budaya.

Kesan atas ucapan tersebut membekas di hati Rudy hingga memantapkan hatinya untuk menjadi kolektor barang antik hingga sekarang.

“Dulu ada pertanyaan, kenapa orang indonesia tidak menghargai antik? karena Indonesia tidak makmur, nanti ketika Indonesia sudah makmur, tidak hanya mikirin perut, rumah, pakaian, baru bangsa kamu akan menghargai barang antik,” kata Roky.

Roky kembali menuturkan bahwa Rumah Pesik akhirnya dikomersilkan menjadi kafe dan hotel diperuntukkan sebagai upaya mengenalkan budaya bangsa.

“Karena memang marketnya memang kalangan atas. Karena, kalau dilepas murah, orang-orang yang datang takutnya orang yang tidak menghargai seni, peninggalan sejarah, jual mahal nggak ramai. Pelan-pelan saja,” kata Roky.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Daya Tarik dan Tips Berkunjung ke Goa Rajo Waterfall



Bangli

Bali yang biasanya identik dengan pantainya yang indah, pura, dan kekayaan budaya. Tapi tahukah traveler jika Bali juga mempunyai hidden gems air terjun yang asri nan eksotis?

Salah satu destinasi air terjun terbaik di Bali adalah air terjun Goa Rajo. Air terjun itu terletak di Kabupaten Bangli.

Nama Goa Rajo yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai “Goa Raja” karena air terjun yang satu ini terletak di dalam gua.

Goa Rajo waterfall berlokasi di Jehem, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali. Traveler diperbolehkan memasuki area air terjun mulai pukul 08.00-18.00 WITA.

Air terjun Goa Rajo di Bangli, BaliAir terjun Goa Rajo di Bangli, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Untuk sampai ke Goa Rajo waterfall, traveler bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Dari area parkir, traveler akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sebelum mengeksplor keindahan Goa Raja waterfall, jangan lupa membayar tiket masuk sebesar Rp 25.000 per orangnya.

Gua Rajo tergolong air terjun yang hidden gem. Dari loket pembelian tiket, traveler akan berjalan kaki sejauh sekitar 700 meter atau dengan waktu tempuh sekitar 10-15 menit untuk sampai ke air terjun utama.

Traveler akan menuruni beberapa anak tangga dan jalan setapak yang kanan-kirinya ada pepohonan yang asri. Sepanjang jalur, traveler akan dibuat takjub dengan pemandangan sungai-sungai kecil, jembatan kayu, dan bebatuan.


Air terjun Goa Rajo di Bangli, BaliAir terjun Goa Rajo di Bangli, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Di pertengahan jalan, traveler juga akan menemukan Candi Tebing, sebuah candi kecil yang disucikan oleh masyarakat sekitar. Setelah berjalan sekitar 10-15 menit, maka rasa lelah akan terbayar lunas. Traveler akan melihat langsung keindahan air terjun setinggi 55 meter dengan aliran airnya yang deras.

Penasaran apa saja daya tarik hingga tips berlibur ke Gua Rajo waterfall?

Berikut daya tarik dan tips saat berkunjung ke air terjun Gua Rajo:

Daya Tarik Goa Rajo Waterfall

1. Air Terjun di Dalam Goa

Air terjun ini terletak di dalam goa yang menjadikannya sangat eksotis dan unik. Ketinggiannya yang menciptakan gemuruh air yang menyenangkan, bersama dengan pencahayaan alami yang berkilauan dari atas, menciptakan suasana yang menakjubkan bagi pengunjung.

2. Spot Foto Bebatuan yang Ikonik

Tak jauh air terjun, terdapat bebatuan besar yang unik dan ikonik. Traveler bisa naik ke atas batu dan mengabadikan momen dengan latar belakang air terjun yang eksotis.

Dengan cahaya alami yang masuk dari atas goa, bebatuan ini menciptakan bayangan-bayangan menarik dan kontras yang sempurna untuk spot foto instagramable.

“Aku pertama kali ke sini. Air terjunnya unik, karena letaknya di dalam goa. Asri dan cantik banget. Di sekitarnya juga ada bebatuan besar, banyak yang foto di sana, termasuk aku,” ujar salah satu pengunjung, Indah Cahyani.

3. Kolam Alami yang Menyegarkan

Traveler yang tak ingin mandi di bawah air terjun, Goa Rajo waterfall memiliki dua buah kolam alami yang airnya tak kalah segar.

Di pinggir kolam traveler juga akan menemukan satu air terjun mini yang debit airnya tidak terlalu deras. Pinggiran kolam juga terbuat dari batu alam, komplit dengan beberapa bebatuan besar. Menambah kesan alaminya. Kolam alami ini juga menjadi lokasi favorit pengunjung untuk berfoto.

“Yang aku suka dari air terjun ini karena ada kolam alaminya. Jadi kita punya pilihan mau bermain di sekitar air terjun atau di kolam alami ini. Kolamnya juga nggak kalah cantik dan airnya seger,” kata Indah.

Tips Berkunjung ke Goa Rajo Waterfall

Jika traveler sudah berminat untuk berkunjung ke air terjun yang satu ini. detikTravel memberikan beberapa tips yang bisa traveler terapkan.

1. Persiapkan Perlengkapan yang Tepat

Pastikan untuk membawa perlengkapan yang sesuai untuk perjalanan ke air terjun, seperti alas kaki yang nyaman dan tahan air, pakaian yang cocok untuk aktivitas outdoor, serta perlindungan dari sinar matahari seperti topi dan tabir surya.

2. Perhatikan Cuaca

Sebelum pergi, periksa ramalan cuaca untuk daerah Bangli. Jika cuaca buruk atau hujan deras, pertimbangkan untuk menunda kunjungan traveler karena jalan menuju air terjun bisa menjadi licin dan berbahaya. Debit air pun akan meningkat saat hujan turun.

3. Perhatikan Keselamatan

Ikuti petunjuk keselamatan yang ada di sekitar air terjun. Jangan memanjat tebing atau melakukan aktivitas berisiko lainnya yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain.

4. Bersiaplah untuk Trekking

Goa Rajo waterfall membutuhkan sedikit perjalanan trekking untuk mencapainya. Pastikan traveler dalam kondisi fisik yang cukup baik untuk melakukan perjalanan ini.

5. Jangan Lupa Kamera

Pastikan untuk membawa kamera atau ponsel untuk mengabadikan momen-momen indah selama perjalanan traveler ke Goa Rajo waterfall.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Hidden Gems untuk Foto Kasual sampai Pre-wedding di Rumah Pesik



Yogyakarta

Traveler tau nggak sih ada spot menarik tersembunyi di Jogja yang biasa dipakai untuk foto pre-wedding bahkan yearbook, nih. Rumah Pesik jadi andalan photo hunter, baik untuk keperluan formal atau pun kasual, karena lokasinya yang unik.

Rumah Pesik sejatinya adalah rumah tinggal milik Rudy J. Persik yang kini dikomersilkan sebagai kafe, hotel, dan mini museum. Alasan tempat itu diburu banyak traveler sebagai spot foto karena gaya arsitekturnya yang unik.

Rumah di tengah permukiman Kotagede, Yogyakarta itu memiliki perpaduan antara ornamen Jawa dan Eropa, dihiasi arca patung bak era Yunani serta Romawi. Ada pula nuansa Thailand yang mencolok.


“Iya di sini hampir setiap hari ada yang sewa untuk Pre-wedding atau yearbook, jadi walaupun tidak ada tamu hotel tetap selalu ada pengunjung, apalagi akhir-akhir ini lumayan rame yang datang untuk sekadar foto-foto,” kata Slamet, staff Rumah Pesik Art and Heritage Hotel.

Biaya masuk ke Rumah Pesik cukup murah. Pengunjung cukup merogoh kocek Rp 25.000 atau membeli produk minuman atau makanan di kafe dan restonya. Tetapi jika ingin melihat koleksi keris dan arca lainnya milik Rudy di museum Rumah Kalang, pengunjung perlu menyiapkan Rp 25.000 lagi.

Meski dari luar terlihat seperti rumah biasa, namun ketika masuk pengunjung serasa dibawa melintasi berbagai benua di abad pertengahan. Dimulai dari atap bangunan Thailand yang mencolok hingga ornamen patung Buddha di dalamnya yang menawan.

Di area outdoor, traveler dapat langsung melihat kolam air mancur yang dikelilingi patung-patung Yunani bak masuk ke museum di Athena. Uniknya, di belakangnya persis berdiri pintu kayu Jawa gebyok dengan pahatan kayunya yang eksotis.

Rumah Pesik menyediakan beberapa pilihan paket social event package untuk traveler yang menginginkannya. Mulai dari Pre-wedding package, family photo package, graduation package, yearbook package, gathering package, dan weddings & engagement package. Seluruh paket itu dapat Traveler pesan melalui akun Instagram resmi @rumahpesik

Tidak hanya untuk formal occasion, casual pun boleh sangat di tempat ini. Pelayanan staffnya bintang 5, ditambah tempatnya yang mendukung untuk berfoto ria. Poin plusnya lagi, Rumah Pesik memiliki spot yang luas sehingga tidak usah khawatir mengantri jika ingin berfoto.

Jika lelah berkeliling dan berfoto, ada kafe dan restoran dengan berbagai menu yang tidak menguras kantong. Tersedia pula karaoke untuk pengunjung yang ingin bernyanyi melepas penat di situ.

Tempat ini untuk staycation bersama orang-orang tersayang cocok sekali. Namun, jangan kaget jika harga dibandrol cukup di atas rata-rata.

Dituturkan oleh Roky melalui catatan penelitian mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, anak Rudy J Persik, Hotel Rumah Persik memang ditargetkan untuk golongan menengah ke atas agar setiap detail ornamen barang antik di Rumah Persik tetap terjaga.

Jadi tunggu apalagi? Datang dan kunjungi Rumah Pesik sekarang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Nggak Angker, Justru Decak Kagum Saat Menyusuri Museum Taman Prasasti



Jakarta

Kesan angker saat menjejak bekas lahan pemakaman lawas memang tak terhindarkan karena mitos dan urban legend-nya selalu melekat. Namun sedikit berbeda dengan bekas pemakaman orang-orang asing yang tinggal di Batavia ini, di Museum Taman Prasasti.

Dahulu kala saat Belanda berada di Indonesia, area ini merupakan sebuah pemakaman modern. Makam itu dibangun pada 28 September 1795.

Kerennya, pemakaman modern itu disebut-sebut menjadi pemakaman modern pertama di dunia.


Saat menjajaki kawasan museum, detikTravel dipandu oleh Eko Wahyudi sebagai guide untuk mengelilingi museum dengan konsep open air ini, Rabu (29/5/2024).

‘Dibangun di atas tanah seluas 5,5 hektar pemakaman ini menjadi pemakaman yang prestisius akhirnya orang Belanda menyebutnya Kerkhof Laan atau pemakaman gereja. Kalau orang kita menyebutkan Kebon Jahe Kober,” kata Yudi pada detikTravel.

Pemakaman itu masih benar-benar menjadi pemakaman selama kurang lebih 180 tahun hingga kemudian perubahan dibuat oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1975.

Ali memerintahkan untuk memindahkan seluruh jenazah di pemakaman ini ke Pemakaman Menteng Pulo, Tanah Kusir, dan ada juga yang dibawa oleh keluarga.

Dari situlah cikal-bakal Museum Taman Prasasti hadir hingga saat ini.

Museum Taman Prasasti di JakartaMuseum Taman Prasasti di Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Yudi kembali meneruskan ceritanya. Dia bilang setelah pemindahan seluruh jenazah di tahun 1975, dua tahun kemudian prasasti nisan yang ada di pemakanan ini ditata ulang dalam area 1,3 hektar serta diresmikan menjadi museum pada 9 Juli 1977.

“Awalnya sih kalau tidak salah hanya untuk taman, (untuk) serapan karena kan di Jakarta susah ya mencari tanah serapan. Tetapi, di dalamnya ada benda-benda cagar budaya yang harus dilestarikan dan dilindungi, kemudian baru diresmikan jadi Museum Prasasti,” kata Yudi.

Di pemakaman itu banyak sekali orang-orang penting di zamannya mulai dari para pejabat-pejabat VOC hingga pelaku sejarah. Notabene nisan prasasti yang berada di sini memiliki nama-nama orang asing, namun ada juga dua orang Indonesia, yakni Soe Hok Gie dan Miss Riboet.

Sembari mengelilingi kawasan, Yudi bercerita tentang berbagai prasasti nisan yang ada di sini. Pertama adalah nisan berbentuk patung yang disebut crying lady. Cerita kelam membaluti prasasti nisan ini karena patung tersebut merupakan ilustrasi dari kesedihan seorang perempuan yang ditinggal mati oleh pasangannya, tak kuat menahan kesedihan itu akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

“Patung crying lady ini dibuat langsung oleh pemahat yang bernama Antonio Carminati dari Milan, Italia. Dia mendapatkan pesanan bahwa ada seorang dari keluarga yang meninggal, untuk mengenang putrinya yang tewas karena bunuh diri,” kata Yudi.

Tak ayal kemegahan nisan-nisan di Museum Taman Prasasti ini begitu keren karena merupakan mahakarya seni yang dibuat oleh para pemahat Eropa. Yudi juga menyebut ini lah yang membuat museum ini begitu unik dan istimewa karena terdapat koleksi nisan yang begitu indah.

“Ya kalau di sini sih kita menampilkan batu-batu nisan yang merupakan karya seni orang-orang Eropa di tahun itu, dibuat antara tahun 1600-an sampai 1900-an. Dan mungkin untuk saat ini agak sulitnya untuk menemukan hal-hal seperti itu karena batu nisan sendiri bahanya merupakan bahan marmer Carrara yang diimpor langsung dari Pegunungan Carrara di Italia, untuk orang-orang Hindia-Belanda atau yang lebih mayoritas beragama Katolik,” kata dia.

Museum Taman Prasasti di JakartaMakam Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti di Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Ia juga menambahkan kalau untuk orang-orang VOC yang mayoritas menganut agama Protestan nisan yang digunakan masih berbahan baku batu andesit yang diimpor langsung dari India Selatan.

Kembali menyusuri nisan demi nisan, prasasti nisan tokoh penting lainnya adalah nisan Direktur STOVIA (School Tot Opleiding Van Indlandshe Arsten atau Sekolah kedokteran Bumi Putera) pertama yang bernama Dr. Hermanus Frederik Roll dan di makam yang sama dengan H.F Roll terdapat juga makam sang anak, yakni Frits Roll.

Adapun prasasti nisan dari pencetus berdirinya Kebun Raya Bogor yaitu Olivia Marianne Raffles yang merupakan istri pertama dari Gubernur Letnan Thomas Stamford Raffles. Olivia begitu gemar dengan tumbuhan-tumbuhan yang memutuskannya untuk tingga di Buitenzorg atau Bogor bersama sang suami.

Olivia meninggal karena penyakit malaria yang diidapnya, diketahui bahwa penyakit malaria saat itu memang tengah merajalela. Kepindahannya ke Bogor juga saat Olivia sedang dalam masa pemulihan penyakitnya dan Raffles pun membawa ahli taman dari Inggris untuk membuat dan menata ulang taman di pekarangan rumahnya.

Dan tempat yang paling disukai oleh Olivia adalah danau di depan rumahnya, yang kini dikenal sebagai danau yang berada di depan Istana Bogor.

“Sampai akhirnya kesehatan Olivia semakin memburuk, enam bulan menjelang kematiannya Olivia meminta suaminya untuk menemani full di area Istana Bogor. Sampai dia menghembuskan nafas terakhir di bulan November 1814 ya,” ujar Yudi.

Masih banyak lagi prasasti nisan dan peninggalan tokoh-tokoh yang berkaitan erat dengan sejarah Indonesia, museum ini memang terkesan menyeramkan karena memamerkan sekira 1.100 prasasti nisan. Namun ketika masuk dan mendapatkan informasi terkait sejarahnya, kesan tersebut menjadi hilang dan berubah jadi decak kagum.

Museum Taman Prasasti yang terletak di Jalan Tanah Abang 1, Jakarta Pusat ini buka dari hari Selasa-Minggu. Mulai dari jam 09.00-15.00 WIB. Dengan biaya masuk dewasa Rp 10.000 (weekend naik jadi Rp 15.000), mahasiswa Rp 5.000, anak-anak Rp 5.000, dan wisatawan asing Rp 50.000.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bukan Kopi, Tempat Nongkrong Ini Suguhkan Minuman Rempah



Yogyakarta

Saat berada ke Jogja jangan lupa mampir ke Wiratea Spices Bar. Kedai minuman ini menyuguhkan racikan rempah dengan sensasi intimate bar, cocok untuk bernostalgia sekaligus berjejaring.

Datang ke sini jangan berharap bisa menemui musik kencang atau pekerja ber-WFC layaknya kafe atau tempat nongkron lain di Jogja. Wiratea memilih untuk menjadi kedai minuman yang kehadirannya dekat dengan pelanggan dan bisa menjadi rumah untuk berelasi.

Tidak ada Wifi, bahkan tidak ada colokan, meja pun didesain memang untuk pengunjung datang mengobrol. Tak lupa sapaan hangat barista yang sudah menjadi SOP-nya.


“Permisi kak, apakah ada kritik dan saran?” ujar Manda, sang barista.

Kalimat itu menjadi kalimat magis awal pembuka rentetan obrolan panjang. Jika antusias, barista akan melanjutkan. Jika seperlunya, barista akan memberi ruang.

“Karena memang tujuan kita di sini itu, kenapa gaada wifi, gaada colokan kabel, biar temen-temen disini fokusnya untuk ngobrol. Buat berjejaring. Kita dari barista juga berusaha buat semisal ada pengunjung sendiri, kita ajak buat ngobrol bareng, sampai akhirnya terbentuk komunitas maupun circle yang baik,” kata Manda.

Wiratea Spices Bar di YogyakartaWiratea Spices Bar di Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Lokasinya tidak terlalu luas, dengan konsep outdoor di bawah remang lampu balon kekuningan. Tidak banyak kursi yang tersedia, maksimum kapasitasnya sekitar 25 orang. Jika hujan menerpa, seluruh pelanggan harus bermigrasi ke resto sampingnya yang sudah bekerja sama.

Uniknya, tanpa self claim apapun, pengunjung menautkan Wiratea sebagai bagian dari kafe bertemakan Ghibli. Padahal, Wiratea mengaku tidak terpikir ke arah sana sama sekali. Konsep yang mereka usung sejak awal adalah gaya humanis dan natural layaknya rempah yang berasal dari alam.

“Nah, itu tercetus setelah gambar-gambar muncul. Banyak yang bilang ghibli trus aku liat, oh iya juga,” kata Manda.

Buka hanya dari pukul 16.00 hingga 22.00 malam, Wiratea memang cocok dikunjungi untuk ngobrol santai bersama orang tersayang. Apalagi ditemani dengan minuman rempah yang menghangatkan badan.

Mayoritas menu di sini berupa minuman rempah. Kopi, susu, dan jus buah yang diracik bersama kunyit, jahe, atau kayu manis. Wiratea memberi jaminan garansi pada customer yang tidak menyukai rasa minuman rempah tersebut.

“Kalau kita memang 95% fokus dan main menunya di rempah. dicampur dengan kopi, susu, jus buah. ada beberapa menu yang enggak ada rempahnya tapi itu jadi opsi terakhir. Kita coba buat teman-teman yang nggak suka itu pelan-pelan aja gitu. karena kan ga yang terlalu strong,” kata Manda.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Wiratea Spices Bar, Upaya agar Minuman Rempah Tak Punah



Jakarta

Anggapan rempah identik dengan jamu yang rasanya pahit ditepis oleh Wiratea Spices Bar Jogja. Kolaborasi antara cita rasa rempah yang otentik dipadu dengan minuman yang lebih populer bagi milenium hingga Gen Z, seperti kopi, susu, bahkan jus buah bisa traveler temui di sini.

Berlokasi di dalam Kampung Lawasan Heritage, Sleman, Yogyakarta, Wiratea adalah kedai minuman unik. detikTravel berbincang degan Fatah, si pemilik, tentang ide dan serba-serbi Wiratea beberapa waktu lalu.

Fatah mengisahkan bahwa dia awalnya seorang tim marketing di Kampung Lawasan Hotel. Saat bekerja di sana, dia melihat peluang menjanjikan di salah satu sudut hotel yang tidak terpakai.


Wiratea Spices Bar adalah slow bar yang 95% menawarkan minuman kopi yang diracik dengan rasa rempah seperti kunyit, jahe, hingga kayu manis. Tidak hanya kopi, ada pula susu hingga jus buah.

Untuk meneguk segelas minuman rempah, traveler hanya cukup mengeluarkan kocek mulai dari Rp 20.000. Lokasinya juga hanya bisa dikunjungi mulai dari pukul 16.00-22.00

Nah, ibu Fatah merupakan seorang penjual jamu gendong.

Peluang ruangan dan tradisi jamu dalam keluarga Fatah iu melahirkan Wiratea, yang dalam bahasa Jawa Kuno, wirati, yang artinya istirahat.

“Kepikiran konsep dari ibunya mas Fatah, memang karena pinginnya rempah-rempat itu nggak cuma orang-orang sepuh dan orang yang suka jamu doang,” kata Manda, Barista Wiratea Spices Bar Jogja.

Mengenalkan rempah untuk kalangan anak muda ternyata tidak mudah. Wiratea mencoba melakukan pendekatan lewat dekorasi kedai yang unik. Dengan bangunan 3 lantai di sudut teras hotel, nuansanya disulap bergaya humanis dan natural mengikuti asal sang rempah.

Dengan maksimum kapasitas 25 orang, kedai kecil itu berkonsep outdoor. Gambar-gambar dengan kertas menghiasi dinding bagian kasir sekaligus ruang bagi barista meracik minuman. Lambat laun, pengunjung melihatnya bak visualisasi anime ghibli.

Wiratea telah ada sejak Agustus 2022. Perjalanan hingga akhirnya mampu mewarnai ragam kedai kopi di Jogja butuh waktu 2 tahun perencanaan. Sampai pada titik 95% menu yang ditawarkan adalah minuman rempah.

“Kebetulan coffee shop di jogja udah banyak. Kalau kita bikinnya yang itu-itu aja susah bersaing,” kata Manda.

Proses barista mengenalkan minuman rempah pada customer dilakukan secara pendekatan personal. Wiratea berani menjamin garansi minuman baru jika customer tidak menyukai rasa minuman rempah itu.

“Ada beberapa menu yang enggak ada rempahnya tapi itu jadi opsi terakhir. kita coba buat temen-temen yang gasuka itu pelan-pelan aja gitu. karena kan ga yang terlalu strong,” Kata Manda.

Wiratea aktif mengikuti beragam event yang terselenggara baik di Jogja maupun luar. Terjauh, Wiratea pernah di dapuk sebagai welcome drink dalam acara Vietnam Internatinal Tourism Marker 2023.

Wiratea sendiri bekerja sama dengan pihak Kampung Lawasan Hotel, terlebih penyediaan ruang ketika hujan juga pemesanan makanan bagi customer. Menurut Manda, pikiran untuk membuka cabang baru belum ada, saat ini Wiratea fokus pada pendekatan dengan customer, mengikuti event, serta refreshment menu.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com