Category Archives: Domestik

Jadi Tempat Wisata dan Lokasi Bunuh Diri



Badung

DISCLAIMER: Informasi berikut ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapapun melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental terdekat.

Jembatan Tukad Bangkung kerap jadi tempat wisata karena lokasinya yang indah. Tapi di sisi lain, jembatan ini kerap dipilih orang untuk lokasi bunuh diri.

Jembatan yang berada di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali ini disebut-sebut sebagai jembatan tertinggi se-Asia Tenggara. Itu karena pilar tertinggi jembatan ini mencapai 71,14 meter, dengan pondasi pilar sepanjang 41 meter di bawah tanah.


Banyak wisatawan dibuat tertarik untuk singgah. Tidak heran jika jembatan penghubung tiga kabupaten, yakni Badung, Bangli, dan Buleleng ini ramai dikunjungi wisatawan saat hari libur, maupun di akhir pekan.

Pembangunan Jembatan Tukad Bangkung dimulai sejak tahun 2001. Panjangnya mencapai 360 meter dengan lebar 9,6 meter. Jembatan Tukad Bangkung memangkas jarak sepanjang 6 kilometer (km), dengan tujuan menggantikan jembatan lama yang letaknya berada 500 meter di arah selatan jembatan baru.

Jembatan Tukad Bangkung kemudian diresmikan penggunaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 28 April 2007. Jembatan Tukad Bangkung menjadi ikon wisata di wilayah ujung utara Gumi Keris.

Sering Jadi Lokasi Orang Bunuh Diri

Berdasarkan catatan tim detikcom, ada beberapa kejadian bunuh diri yang berlokasi di Jembatan Tukad Bangkung. Pada Sabtu (4/12/2023), seorang anggota TNI berinisial INTD (22) asal Desa Selanbawak, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan ditemukan tergantung di jembatan itu.

Yang terbaru, aksi bunuh diri dilakukan oleh kakak beradik berinisial KS (23) dan PY (5). Mereka melompat dari Jembatan Tukad Bangkung pada Minggu (26/5/2024).

KS nekat mengajak PY melompat dari jembatan untuk mengakhiri hidup karena motif ekonomi. KS dan PY merupakan dua dari empat bersaudara yatim piatu setelah ayah dan ibu mereka meninggal dunia.

Selama ini, KS yang merupakan anak kedua merupakan tulang punggung keluarga, sedangkan kakak pertamanya seorang perempuan dan kondisinya sakit-sakitan.

Jembatan Mau Dipasang Jaring Pengaman

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Badung, Wayan Darma berpendapat perlu ada strategi jangka pendek untuk antisipasi kejadian di tempat itu.

Salah satunya adalah pemasangan jaring di sisi sepanjang jembatan yang bisa jadi solusi pengaman bagi pengunjung. Mengingat pengawasan cukup sulit dilakukan di jembatan tersebut.

Selain memberi rasa aman, cara ini untuk mengantisipasi tindakan negatif yang mungkin saja bisa dilakukan seseorang. Terlebih, lokasi itu selalu ramai dikunjungi maupun dilintasi pengendara dari berbagai daerah.

“Wilayah itu ada potensi wisatanya, sehingga harus dijaga. Sekarang banyak orang datang. Tidak jauh dari sana juga ada beberapa objek wisata air terjun. Pemikiran saya sudah perlu ada pengamanan di sana. Ini akan saya sampaikan ke pimpinan. Sebab, itu perlu persetujuan. Saya sampaikan ke bupati melalui sekda,” kata mantan Camat Petang ini.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Sisi Gelap Cikapundung Riverspot: Bau Pesing-Air Berwarna Cokelat



Bandung

Bandung punya Cikapundung Riverspot yang sempat tenar. Namun sayang, aliran sungai di sini kini kondisinya bau pesing dan berwarna keruh kecokelatan.

Setelah membenahi kawasan Taman Cikapundung di Jalan Siliwangi, Pemkot Bandung kini menyasar perbaikan Cikapundung Riverspot di Jalan Dr Ir Sukarno.

Terlihat sejumlah pekerja tengah membersihkan dan memoles kembali area ruang terbuka hijau itu. Tak ada yang salah dari wajah Cikapundung Riverspot yang masih berbenah.


Namun, jika menengok ke bagian sungai, sisi gelap Sungai Cikapundung yang sedang surut pun terlihat. Di sungai yang dangkal, mudah ditemukan sampah-sampah bercampur dengan tanah yang mengendap di dasar sungai.

Padahal, terlihat jelas peraturan dilarang membuang sampah terpasang di area pagar sungai. Wajah Cikapundung yang seharusnya terbingkai sempurna dengan kecantikan Jalan Asia Afrika jadi tak terlihat menawan.

Sungai Cikapundung BandungSungai Cikapundung Bandung Foto: Wisma Putra/detikJabar

Jika berjalan ke area Jalan Dr Ir Sukarno menuju ke arah Jalan Asia Afrika, tercium aroma tak sedap seperti aroma pesing kencing dari sisi pagar sungai.

Dadang (39), salah satu petugas kebersihan di sekitar Cikapundung Riverspot mengaku sampah yang terdapat di sungai merupakan kiriman sehari-hari dari pedagang sekitar. Menurutnya, hal tersebut sudah jadi kebiasaan, sehingga meski sudah diingatkan sampah akan terus mudah ditemukan.

“Saya biasa nyapu di sini dari pagi sampai malem, kalau sampah itu bukan cuma ditemukan di pinggir jalan tapi juga sungai aja banyak sampah. Itu biasanya pedagang, jurig (cosplayer) juga buang sampah ke situ,” kata Dadang, Senin (27/5/2024).

Sepanjang jalan tersebut, juga tak ditemukan adanya tong sampah. Tapi, Dadang mengatakan hal itu bukan jadi penyebab pedagang sekitar buang sampah sembarangan. Sebab, tong sampah kerap dicuri oknum tak bertanggung jawab.

“Dulu ada tong sampah di dua titik, sekarang udah nggak boleh. Jadi cuma titik di pinggir jalan gitu, soalnya tong sampah itu suka diambil (dicuri),” ceritanya.

15 tahun menjadi petugas kebersihan, Dadang juga mengaku kerap menjumpai tingkah jorok para turis maupun warga lokal. Katanya, banyak orang yang kencing sembarangan di trotoar jalan itu. Jangan heran jika aroma tak sedap tercium saat berjalan-jalan di sekitar Jalan Asia Afrika.

“Toilet itu (Cikapundung Riverspot) soalnya nggak ada airnya. Jadi pada kencing sembarangan di deket sungai itu, di ke sanain (ke sungai). Terus kalau pagi itu orang mabok, muntah-muntah di jalan. Jadi saya biasanya bersihin pagi-pagi,” kata Dadang.

Kini, dari perbaikan yang berusaha Pemkot Bandung lakukan, Dadang berharap ada yang bisa berubah dari kota tempatnya lahir. Sebab menurutnya, warga Bandung pun akan malu jika wajah buruk kota dilihat para wisatawan.

“Ini kan baru mau diperbaiki lagi, ya semoga toilet sarana apapun semuanya ada, terus juga bebersih sungai mungkin, sama pedagang lebih teratur. Soalnya dibilangin gitu suka susah,” ujarnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Rumah Pesik Jogja, Milik Kolektor Barang Antik, Libatkan 44 Pemahat



Yogyakarta

Rumah Pesik langsung membetot mata karena begitu megah, tetapi berada di antara bangunan tua dalam gang sempit di Kotagede, Yogyakarta. Bagaimana bangunan semewah itu berada di sana?

Keberadaannya tidak sulit ditemukan dengan tembok luarnya yang berwarna hijau menyala. Bangunannya unik dengan penggabungan antara arsitektur Jawa, Thailand, Eropa, dan Yunani dengan wajah sebagai kafe, hotel, dan mini museum.

Rumah Pesik itu kini menjadi salah satu rujukan destinasi wisata terlebih jika mengunjungi Kotagede. Kini, rumah itu juga dijadikan penginapan.


Selain bangunannya yang megah, rumah atau penginapan itu mencolok karena beragam tanaman dan patung-patung berukuran besar di halaman.

Wisatawan bergantian keluar masuk Rumah Pesik. Untuk sekadar foto-foto atau nongkrong atau ada pula yang menginap di sana.

Dulu bangunan itu sama sekali tidak diniatkan untuk dipergunakan sebagai hotel, apalagi destinasi wisata.

Ternyata ada cerita panjang rumah megah itu dibangun di sana. Berikut kisahnya.

Rumah Persik awalnya adalah rumah tinggal milik pengusaha DHL Indonesia, Rudy J. Pesik. Dia juga pernah menjabat sebagai dirjen di Kementerian Industri Kemaritiman saat periode Presiden Sukarno. Dia sosok penting dalam pengembangan IT di Pertamina.

Menurut Roky, putra Rudy, dalam catatan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Geomansi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang berbincang langsung dengannya alasan rumah itu dibangun di sana terkuak. Ternyata, rumah Pesik termasuk dari bagian rumah kalang.

“Termasuk dari bagian rumah kalang, kalau orang di daerah sini disebutnya rumah kalang, orang yang pandai dagang. Jadi bangunan aslinya rumah kalang sudah lebih dari 100 tahun,” kata Roky dalam perbincangan dengan detikTravel.

Rumah Pesik itu kini difungsikan sebagai mini museum yang menyimpan koleksi barang-barang antik Rudy mulai dari keris hingga arca. Bentuknya masih dipertahankan seperti pertama kali rumah itu di beli.

Roky mengungkapkan sebelum dibeli oleh ayahnya, rumah itu adalah milik sepasang suami istri Amerika-Indonesia. Sang suami adalah orang Amerika sekaligus teman Rudy.

Singkat cerita, rumah itu harus dijual dan jatuhlah kepemilikannya kepada Rudy J. Persik. Akhirnya, rumah tersebut diberi nama Rumah Pesik yang diambil dari nama belakang Rudy.

Di awal pembangunannya, rumah itu hanya difungsikan sebagai rumah tinggal keluarga besar Rudy dan rekan-rekannya jika berkunjung ke Jogja.

“Secara arsitektur agak berantakan, kami aslinya hanya beli bangunan utamanya saja. Kalau yang bagian lain itu baru 20-25 tahun lah. Bertahap, karena kan kami belinya juga tidak sekaligus semua tanahnya,” kata Roky.

Bangunan selain rumah kalang yang kini menjadi mini museum adalah bangunan tambahan yang didirikan langsung oleh keluarga Rudy.

Bersama dengan 44 pemahat, pengerjaan dimulai dengan ide dasar rumah Joglo. Perpaduan Eropa dan Thailand memiliki makna personal. Rudy telah lama tinggal di Eropa sedangkan Thailand bak rumah kedua bagi keluarga Rudy.

Berbicara tentang Thailand, Rudy adalah salah satu tokoh yang pernah mendapat penghargaan dari Kerajaan Thailand atas kontribusinya di bidang IT.

“Dulu awalnya kami bisnis IT. Perusahaan IT yang pertama kali menterjemahkan komputer ke aksara Thailand. Dari situ Rudy mendapat penghargaan dari Kerajaan Thailand,” kata Roky.

Pembangunan Rumah Pesik mengikuti hobi Rudy sebagai kolektor barang antik. Keseluruhan ornamen adalah milik Rudy yang sudah ia kumpulkan sejak awal tahun 1980-an. Keris dan kayu menjadi seni yang paling menonjol karena dinilai sebagai barang antik yang paling berharga.

“Kalau ditanya barang antik apa yang paling berharga dari Indonesia, itu pertama keris, kedua kayu besar. Karena keris itu dibuat pada ratusan tahun lalu, kalaupun baru, akan berbeda dari aslinya. Kalau kayu karena suatu saat nanti pohon-pohon akan dilarang ditebang, yang sudah jadi suatu produk kayu besar. Jadi, itu sebabnya rumah ini banyak keris dan kayu,” kata Roky.

Kesukaan Rudy terhadap barang antik dimulai ketika dirinya tinggal di Belanda setelah lulus kuliah di tahun 1964. Di sana ia diberi hadiah tempat garam antik oleh orang yang dianggap bak “ayah angkat”.

Ya, garam merupakan penyedap utama dan satu-satunya di Eropa kala itu, sehingga kepemilikan tempat garam, apalagi antik sangatlah berharga. Namun, reaksi Rudy terlihat biasa saja hingga sang ayah angkat menyebutnya sebagai bangsa yang tidak menghargai budaya.

Kesan atas ucapan tersebut membekas di hati Rudy hingga memantapkan hatinya untuk menjadi kolektor barang antik hingga sekarang.

“Dulu ada pertanyaan, kenapa orang indonesia tidak menghargai antik? karena Indonesia tidak makmur, nanti ketika Indonesia sudah makmur, tidak hanya mikirin perut, rumah, pakaian, baru bangsa kamu akan menghargai barang antik,” kata Roky.

Roky kembali menuturkan bahwa Rumah Pesik akhirnya dikomersilkan menjadi kafe dan hotel diperuntukkan sebagai upaya mengenalkan budaya bangsa.

“Karena memang marketnya memang kalangan atas. Karena, kalau dilepas murah, orang-orang yang datang takutnya orang yang tidak menghargai seni, peninggalan sejarah, jual mahal nggak ramai. Pelan-pelan saja,” kata Roky.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Daya Tarik dan Tips Berkunjung ke Goa Rajo Waterfall



Bangli

Bali yang biasanya identik dengan pantainya yang indah, pura, dan kekayaan budaya. Tapi tahukah traveler jika Bali juga mempunyai hidden gems air terjun yang asri nan eksotis?

Salah satu destinasi air terjun terbaik di Bali adalah air terjun Goa Rajo. Air terjun itu terletak di Kabupaten Bangli.

Nama Goa Rajo yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai “Goa Raja” karena air terjun yang satu ini terletak di dalam gua.

Goa Rajo waterfall berlokasi di Jehem, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali. Traveler diperbolehkan memasuki area air terjun mulai pukul 08.00-18.00 WITA.

Air terjun Goa Rajo di Bangli, BaliAir terjun Goa Rajo di Bangli, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Untuk sampai ke Goa Rajo waterfall, traveler bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Dari area parkir, traveler akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sebelum mengeksplor keindahan Goa Raja waterfall, jangan lupa membayar tiket masuk sebesar Rp 25.000 per orangnya.

Gua Rajo tergolong air terjun yang hidden gem. Dari loket pembelian tiket, traveler akan berjalan kaki sejauh sekitar 700 meter atau dengan waktu tempuh sekitar 10-15 menit untuk sampai ke air terjun utama.

Traveler akan menuruni beberapa anak tangga dan jalan setapak yang kanan-kirinya ada pepohonan yang asri. Sepanjang jalur, traveler akan dibuat takjub dengan pemandangan sungai-sungai kecil, jembatan kayu, dan bebatuan.


Air terjun Goa Rajo di Bangli, BaliAir terjun Goa Rajo di Bangli, Bali (Ni Made Nami Krisnayanti/detikcom)

Di pertengahan jalan, traveler juga akan menemukan Candi Tebing, sebuah candi kecil yang disucikan oleh masyarakat sekitar. Setelah berjalan sekitar 10-15 menit, maka rasa lelah akan terbayar lunas. Traveler akan melihat langsung keindahan air terjun setinggi 55 meter dengan aliran airnya yang deras.

Penasaran apa saja daya tarik hingga tips berlibur ke Gua Rajo waterfall?

Berikut daya tarik dan tips saat berkunjung ke air terjun Gua Rajo:

Daya Tarik Goa Rajo Waterfall

1. Air Terjun di Dalam Goa

Air terjun ini terletak di dalam goa yang menjadikannya sangat eksotis dan unik. Ketinggiannya yang menciptakan gemuruh air yang menyenangkan, bersama dengan pencahayaan alami yang berkilauan dari atas, menciptakan suasana yang menakjubkan bagi pengunjung.

2. Spot Foto Bebatuan yang Ikonik

Tak jauh air terjun, terdapat bebatuan besar yang unik dan ikonik. Traveler bisa naik ke atas batu dan mengabadikan momen dengan latar belakang air terjun yang eksotis.

Dengan cahaya alami yang masuk dari atas goa, bebatuan ini menciptakan bayangan-bayangan menarik dan kontras yang sempurna untuk spot foto instagramable.

“Aku pertama kali ke sini. Air terjunnya unik, karena letaknya di dalam goa. Asri dan cantik banget. Di sekitarnya juga ada bebatuan besar, banyak yang foto di sana, termasuk aku,” ujar salah satu pengunjung, Indah Cahyani.

3. Kolam Alami yang Menyegarkan

Traveler yang tak ingin mandi di bawah air terjun, Goa Rajo waterfall memiliki dua buah kolam alami yang airnya tak kalah segar.

Di pinggir kolam traveler juga akan menemukan satu air terjun mini yang debit airnya tidak terlalu deras. Pinggiran kolam juga terbuat dari batu alam, komplit dengan beberapa bebatuan besar. Menambah kesan alaminya. Kolam alami ini juga menjadi lokasi favorit pengunjung untuk berfoto.

“Yang aku suka dari air terjun ini karena ada kolam alaminya. Jadi kita punya pilihan mau bermain di sekitar air terjun atau di kolam alami ini. Kolamnya juga nggak kalah cantik dan airnya seger,” kata Indah.

Tips Berkunjung ke Goa Rajo Waterfall

Jika traveler sudah berminat untuk berkunjung ke air terjun yang satu ini. detikTravel memberikan beberapa tips yang bisa traveler terapkan.

1. Persiapkan Perlengkapan yang Tepat

Pastikan untuk membawa perlengkapan yang sesuai untuk perjalanan ke air terjun, seperti alas kaki yang nyaman dan tahan air, pakaian yang cocok untuk aktivitas outdoor, serta perlindungan dari sinar matahari seperti topi dan tabir surya.

2. Perhatikan Cuaca

Sebelum pergi, periksa ramalan cuaca untuk daerah Bangli. Jika cuaca buruk atau hujan deras, pertimbangkan untuk menunda kunjungan traveler karena jalan menuju air terjun bisa menjadi licin dan berbahaya. Debit air pun akan meningkat saat hujan turun.

3. Perhatikan Keselamatan

Ikuti petunjuk keselamatan yang ada di sekitar air terjun. Jangan memanjat tebing atau melakukan aktivitas berisiko lainnya yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain.

4. Bersiaplah untuk Trekking

Goa Rajo waterfall membutuhkan sedikit perjalanan trekking untuk mencapainya. Pastikan traveler dalam kondisi fisik yang cukup baik untuk melakukan perjalanan ini.

5. Jangan Lupa Kamera

Pastikan untuk membawa kamera atau ponsel untuk mengabadikan momen-momen indah selama perjalanan traveler ke Goa Rajo waterfall.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Hidden Gems untuk Foto Kasual sampai Pre-wedding di Rumah Pesik



Yogyakarta

Traveler tau nggak sih ada spot menarik tersembunyi di Jogja yang biasa dipakai untuk foto pre-wedding bahkan yearbook, nih. Rumah Pesik jadi andalan photo hunter, baik untuk keperluan formal atau pun kasual, karena lokasinya yang unik.

Rumah Pesik sejatinya adalah rumah tinggal milik Rudy J. Persik yang kini dikomersilkan sebagai kafe, hotel, dan mini museum. Alasan tempat itu diburu banyak traveler sebagai spot foto karena gaya arsitekturnya yang unik.

Rumah di tengah permukiman Kotagede, Yogyakarta itu memiliki perpaduan antara ornamen Jawa dan Eropa, dihiasi arca patung bak era Yunani serta Romawi. Ada pula nuansa Thailand yang mencolok.


“Iya di sini hampir setiap hari ada yang sewa untuk Pre-wedding atau yearbook, jadi walaupun tidak ada tamu hotel tetap selalu ada pengunjung, apalagi akhir-akhir ini lumayan rame yang datang untuk sekadar foto-foto,” kata Slamet, staff Rumah Pesik Art and Heritage Hotel.

Biaya masuk ke Rumah Pesik cukup murah. Pengunjung cukup merogoh kocek Rp 25.000 atau membeli produk minuman atau makanan di kafe dan restonya. Tetapi jika ingin melihat koleksi keris dan arca lainnya milik Rudy di museum Rumah Kalang, pengunjung perlu menyiapkan Rp 25.000 lagi.

Meski dari luar terlihat seperti rumah biasa, namun ketika masuk pengunjung serasa dibawa melintasi berbagai benua di abad pertengahan. Dimulai dari atap bangunan Thailand yang mencolok hingga ornamen patung Buddha di dalamnya yang menawan.

Di area outdoor, traveler dapat langsung melihat kolam air mancur yang dikelilingi patung-patung Yunani bak masuk ke museum di Athena. Uniknya, di belakangnya persis berdiri pintu kayu Jawa gebyok dengan pahatan kayunya yang eksotis.

Rumah Pesik menyediakan beberapa pilihan paket social event package untuk traveler yang menginginkannya. Mulai dari Pre-wedding package, family photo package, graduation package, yearbook package, gathering package, dan weddings & engagement package. Seluruh paket itu dapat Traveler pesan melalui akun Instagram resmi @rumahpesik

Tidak hanya untuk formal occasion, casual pun boleh sangat di tempat ini. Pelayanan staffnya bintang 5, ditambah tempatnya yang mendukung untuk berfoto ria. Poin plusnya lagi, Rumah Pesik memiliki spot yang luas sehingga tidak usah khawatir mengantri jika ingin berfoto.

Jika lelah berkeliling dan berfoto, ada kafe dan restoran dengan berbagai menu yang tidak menguras kantong. Tersedia pula karaoke untuk pengunjung yang ingin bernyanyi melepas penat di situ.

Tempat ini untuk staycation bersama orang-orang tersayang cocok sekali. Namun, jangan kaget jika harga dibandrol cukup di atas rata-rata.

Dituturkan oleh Roky melalui catatan penelitian mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta, anak Rudy J Persik, Hotel Rumah Persik memang ditargetkan untuk golongan menengah ke atas agar setiap detail ornamen barang antik di Rumah Persik tetap terjaga.

Jadi tunggu apalagi? Datang dan kunjungi Rumah Pesik sekarang.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Nggak Angker, Justru Decak Kagum Saat Menyusuri Museum Taman Prasasti



Jakarta

Kesan angker saat menjejak bekas lahan pemakaman lawas memang tak terhindarkan karena mitos dan urban legend-nya selalu melekat. Namun sedikit berbeda dengan bekas pemakaman orang-orang asing yang tinggal di Batavia ini, di Museum Taman Prasasti.

Dahulu kala saat Belanda berada di Indonesia, area ini merupakan sebuah pemakaman modern. Makam itu dibangun pada 28 September 1795.

Kerennya, pemakaman modern itu disebut-sebut menjadi pemakaman modern pertama di dunia.


Saat menjajaki kawasan museum, detikTravel dipandu oleh Eko Wahyudi sebagai guide untuk mengelilingi museum dengan konsep open air ini, Rabu (29/5/2024).

‘Dibangun di atas tanah seluas 5,5 hektar pemakaman ini menjadi pemakaman yang prestisius akhirnya orang Belanda menyebutnya Kerkhof Laan atau pemakaman gereja. Kalau orang kita menyebutkan Kebon Jahe Kober,” kata Yudi pada detikTravel.

Pemakaman itu masih benar-benar menjadi pemakaman selama kurang lebih 180 tahun hingga kemudian perubahan dibuat oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1975.

Ali memerintahkan untuk memindahkan seluruh jenazah di pemakaman ini ke Pemakaman Menteng Pulo, Tanah Kusir, dan ada juga yang dibawa oleh keluarga.

Dari situlah cikal-bakal Museum Taman Prasasti hadir hingga saat ini.

Museum Taman Prasasti di JakartaMuseum Taman Prasasti di Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Yudi kembali meneruskan ceritanya. Dia bilang setelah pemindahan seluruh jenazah di tahun 1975, dua tahun kemudian prasasti nisan yang ada di pemakanan ini ditata ulang dalam area 1,3 hektar serta diresmikan menjadi museum pada 9 Juli 1977.

“Awalnya sih kalau tidak salah hanya untuk taman, (untuk) serapan karena kan di Jakarta susah ya mencari tanah serapan. Tetapi, di dalamnya ada benda-benda cagar budaya yang harus dilestarikan dan dilindungi, kemudian baru diresmikan jadi Museum Prasasti,” kata Yudi.

Di pemakaman itu banyak sekali orang-orang penting di zamannya mulai dari para pejabat-pejabat VOC hingga pelaku sejarah. Notabene nisan prasasti yang berada di sini memiliki nama-nama orang asing, namun ada juga dua orang Indonesia, yakni Soe Hok Gie dan Miss Riboet.

Sembari mengelilingi kawasan, Yudi bercerita tentang berbagai prasasti nisan yang ada di sini. Pertama adalah nisan berbentuk patung yang disebut crying lady. Cerita kelam membaluti prasasti nisan ini karena patung tersebut merupakan ilustrasi dari kesedihan seorang perempuan yang ditinggal mati oleh pasangannya, tak kuat menahan kesedihan itu akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

“Patung crying lady ini dibuat langsung oleh pemahat yang bernama Antonio Carminati dari Milan, Italia. Dia mendapatkan pesanan bahwa ada seorang dari keluarga yang meninggal, untuk mengenang putrinya yang tewas karena bunuh diri,” kata Yudi.

Tak ayal kemegahan nisan-nisan di Museum Taman Prasasti ini begitu keren karena merupakan mahakarya seni yang dibuat oleh para pemahat Eropa. Yudi juga menyebut ini lah yang membuat museum ini begitu unik dan istimewa karena terdapat koleksi nisan yang begitu indah.

“Ya kalau di sini sih kita menampilkan batu-batu nisan yang merupakan karya seni orang-orang Eropa di tahun itu, dibuat antara tahun 1600-an sampai 1900-an. Dan mungkin untuk saat ini agak sulitnya untuk menemukan hal-hal seperti itu karena batu nisan sendiri bahanya merupakan bahan marmer Carrara yang diimpor langsung dari Pegunungan Carrara di Italia, untuk orang-orang Hindia-Belanda atau yang lebih mayoritas beragama Katolik,” kata dia.

Museum Taman Prasasti di JakartaMakam Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti di Jakarta (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Ia juga menambahkan kalau untuk orang-orang VOC yang mayoritas menganut agama Protestan nisan yang digunakan masih berbahan baku batu andesit yang diimpor langsung dari India Selatan.

Kembali menyusuri nisan demi nisan, prasasti nisan tokoh penting lainnya adalah nisan Direktur STOVIA (School Tot Opleiding Van Indlandshe Arsten atau Sekolah kedokteran Bumi Putera) pertama yang bernama Dr. Hermanus Frederik Roll dan di makam yang sama dengan H.F Roll terdapat juga makam sang anak, yakni Frits Roll.

Adapun prasasti nisan dari pencetus berdirinya Kebun Raya Bogor yaitu Olivia Marianne Raffles yang merupakan istri pertama dari Gubernur Letnan Thomas Stamford Raffles. Olivia begitu gemar dengan tumbuhan-tumbuhan yang memutuskannya untuk tingga di Buitenzorg atau Bogor bersama sang suami.

Olivia meninggal karena penyakit malaria yang diidapnya, diketahui bahwa penyakit malaria saat itu memang tengah merajalela. Kepindahannya ke Bogor juga saat Olivia sedang dalam masa pemulihan penyakitnya dan Raffles pun membawa ahli taman dari Inggris untuk membuat dan menata ulang taman di pekarangan rumahnya.

Dan tempat yang paling disukai oleh Olivia adalah danau di depan rumahnya, yang kini dikenal sebagai danau yang berada di depan Istana Bogor.

“Sampai akhirnya kesehatan Olivia semakin memburuk, enam bulan menjelang kematiannya Olivia meminta suaminya untuk menemani full di area Istana Bogor. Sampai dia menghembuskan nafas terakhir di bulan November 1814 ya,” ujar Yudi.

Masih banyak lagi prasasti nisan dan peninggalan tokoh-tokoh yang berkaitan erat dengan sejarah Indonesia, museum ini memang terkesan menyeramkan karena memamerkan sekira 1.100 prasasti nisan. Namun ketika masuk dan mendapatkan informasi terkait sejarahnya, kesan tersebut menjadi hilang dan berubah jadi decak kagum.

Museum Taman Prasasti yang terletak di Jalan Tanah Abang 1, Jakarta Pusat ini buka dari hari Selasa-Minggu. Mulai dari jam 09.00-15.00 WIB. Dengan biaya masuk dewasa Rp 10.000 (weekend naik jadi Rp 15.000), mahasiswa Rp 5.000, anak-anak Rp 5.000, dan wisatawan asing Rp 50.000.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Tertinggi di Asia Tenggara-Tahan Gempa



Badung

Tahukah kamu, bahwa jembatan tertinggi se-Asia Tenggara ada di Bali? Berikut fakta-fakta menarik dari Jembatan Tukad Bangkung di Badung:

Terletak di Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, jembatan ini berada di antara dua bukit, sehingga jembatan berfungsi sebagai penghubung antara daerah di ketinggian bukit tersebut.

Adapun daerah yang terhubung oleh jembatan ini yaitu Kabupaten Badung, Kabupaten Buleleng, dan Kabupaten Bangli. Tentunya jembatan ini penting bagi ketiga warga kabupaten itu.


Jembatan Tertinggi di Asia Tenggara

Jembatan Tukad Bangkung diklaim sebagai jembatan tertinggi di Asia Tenggara. Hal ini dikarenakan pilar tertinggi jembatan ini mencapai 71,14 meter dengan pondasi pilar jembatan yaitu 41 meter di bawah tanah.

Pembangunan jembatan ini dimulai sejak 2001 dengan panjang jembatan mencapai 360 meter dengan lebar 9,6 meter. Jembatan Tukad Bangkung memangkas jarak sepanjang 6 kilometer (km), dengan tujuan menggantikan jembatan lama yang letaknya berada 500 meter di arah selatan jembatan baru ini.

Pada 28 April 2007, jembatan ini kemudian diresmikan penggunaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Biaya Pembangunan jembatan ini mencapai Rp 49 miliar dengan menggunakan sistem multiyears yang berasal dari dana APBD Provinsi Bali.

Fakta Menarik Jembatan Tukad Bangkung

Jembatan Tukad Bangkung memiliki keistimewaan yaitu selain menjadi jembatan tertinggi, jembatan ini juga sangat kokoh. Menggunakan teknologi balanced cantilever, jembatan ini diperkirakan dapat dipakai hingga mencapai 100 tahun lamanya.

Kokohnya jembatan ini dapat dilihat dengan konstruksi bangunan yang merupakan konstruksi tahan gempa dengan kekuatan sebesar 7 Skala Richter.

Masyarakat yang melewati jembatan ini juga dapat menyaksikan keindahan alam sebab dibangun tanpa menggunakan atap. Jembatan Tukad Bangkung juga menyediakan area parkir sehingga untuk masyarakat yang datang berkunjung.

Bahkan saat ini sudah tersedia banyak warung-warung yang menjual berbagai makanan dan minuman, sehingga wisatawan tidak perlu khawatir kelaparan selama singgah di sana.

Perawatan Infrastruktur Jembatan

Pemerintah Provinsi Bali secara aktif melakukan perawatan terhadap kondisi jembatan ini. Pada November 2020, pemerintah telah melakukan perbaikan pada pembatas trails yang ada pada bagian besi pembatas jembatan dan kini menggunakan besi hollow.

Pengecatan ulang untuk menghilangkan kesan kusam pada jembatan ini juga turut serta dilakukan. Ini menjadi salah satu upaya juga yang dilakukan untuk menghilangkan coretan-coretan akibat aksi vandalisme.

Cara Menuju ke Jembatan Tukad Bangkung

Jika Anda ingin berkunjung atau sekadar melewati Jembatan Tukad Bangkung, perjalanan Anda akan memakan waktu sekitar 80 menit dari Ngurah Rai atau sejauh 56 km dari Kota Denpasar.

Di sekitar jembatan juga terdapat wisata menarik lainnya. Sekitar 5 km dari jembatan Anda bisa bertemu dengan Air Terjun Nungnung. Dengan ketinggian air sekitar 70 meter dengan debit air yang cukup besar menjadikan air terjun ini menjadi tempat wisata yang sangat cocok untuk dikunjungi.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Bukan Kopi, Tempat Nongkrong Ini Suguhkan Minuman Rempah



Yogyakarta

Saat berada ke Jogja jangan lupa mampir ke Wiratea Spices Bar. Kedai minuman ini menyuguhkan racikan rempah dengan sensasi intimate bar, cocok untuk bernostalgia sekaligus berjejaring.

Datang ke sini jangan berharap bisa menemui musik kencang atau pekerja ber-WFC layaknya kafe atau tempat nongkron lain di Jogja. Wiratea memilih untuk menjadi kedai minuman yang kehadirannya dekat dengan pelanggan dan bisa menjadi rumah untuk berelasi.

Tidak ada Wifi, bahkan tidak ada colokan, meja pun didesain memang untuk pengunjung datang mengobrol. Tak lupa sapaan hangat barista yang sudah menjadi SOP-nya.


“Permisi kak, apakah ada kritik dan saran?” ujar Manda, sang barista.

Kalimat itu menjadi kalimat magis awal pembuka rentetan obrolan panjang. Jika antusias, barista akan melanjutkan. Jika seperlunya, barista akan memberi ruang.

“Karena memang tujuan kita di sini itu, kenapa gaada wifi, gaada colokan kabel, biar temen-temen disini fokusnya untuk ngobrol. Buat berjejaring. Kita dari barista juga berusaha buat semisal ada pengunjung sendiri, kita ajak buat ngobrol bareng, sampai akhirnya terbentuk komunitas maupun circle yang baik,” kata Manda.

Wiratea Spices Bar di YogyakartaWiratea Spices Bar di Yogyakarta (Arawinda Dea Alisia/detikcom)

Lokasinya tidak terlalu luas, dengan konsep outdoor di bawah remang lampu balon kekuningan. Tidak banyak kursi yang tersedia, maksimum kapasitasnya sekitar 25 orang. Jika hujan menerpa, seluruh pelanggan harus bermigrasi ke resto sampingnya yang sudah bekerja sama.

Uniknya, tanpa self claim apapun, pengunjung menautkan Wiratea sebagai bagian dari kafe bertemakan Ghibli. Padahal, Wiratea mengaku tidak terpikir ke arah sana sama sekali. Konsep yang mereka usung sejak awal adalah gaya humanis dan natural layaknya rempah yang berasal dari alam.

“Nah, itu tercetus setelah gambar-gambar muncul. Banyak yang bilang ghibli trus aku liat, oh iya juga,” kata Manda.

Buka hanya dari pukul 16.00 hingga 22.00 malam, Wiratea memang cocok dikunjungi untuk ngobrol santai bersama orang tersayang. Apalagi ditemani dengan minuman rempah yang menghangatkan badan.

Mayoritas menu di sini berupa minuman rempah. Kopi, susu, dan jus buah yang diracik bersama kunyit, jahe, atau kayu manis. Wiratea memberi jaminan garansi pada customer yang tidak menyukai rasa minuman rempah tersebut.

“Kalau kita memang 95% fokus dan main menunya di rempah. dicampur dengan kopi, susu, jus buah. ada beberapa menu yang enggak ada rempahnya tapi itu jadi opsi terakhir. Kita coba buat teman-teman yang nggak suka itu pelan-pelan aja gitu. karena kan ga yang terlalu strong,” kata Manda.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Taman Budaya Sentul City, Wisata Edukatif Sekaligus Outbond Seru


Mencari tempat wisata yang seru, asri, dan edukatif setelah suntuk semingguan bekerja? Taman Budaya Sentul City mungkin menjadi paket liburan yang lengkap untuk berwisata di akhir pekan.

Selain letaknya yang tidak terlalu jauh dengan ibu kota, beragam aktivitas seru, wisata edukatif, serta wisata alam yang menyegarkan bisa kamu temukan di satu tempat wisata ini.

Penasaran dengan apa saja aktivitas seru dan isi dari Taman Budaya Sentul City? simak pembahasan lengkapnya melalui artikel ini.


Daya Tarik Taman Budaya Sentul City

Dilansir website resmi Taman Budaya Sentul City, Jumat (31/5/2024), tempat rekreasi ini telah berdiri sejak 1994 serta menjadi tempat wisata dan piknik. Taman Budaya Sentul City menawarkan banyak program yang bisa dilakukan.

Berikut adalah program-progam wisata yang ditawarkan Taman Budaya Sentul City beserta harganya:

Program Rekreasi

Program rekreasi yang ditawarkan Taman Budaya Sentul City meliputi paket game seru, bermain paintball, bermain wahana tali untuk dewasa, camping, panahan, dan offroad.

Semuanya tersedia dalam masing-masing paket yang dibanderol dengan kisaran harga Rp 400 ribuan hingga Rp 600 ribuan. Tenang saja karena setiap paketnya sudah termasuk makan siang, coffee break, dan lainnya.

Program Edukasi

Paket pada program edukasi kebanyakan ditujukan untuk anak-anak seperti paket kids army, outbound tali untuk anak, dan camping kids.

Tetapi tenang karena untuk dewasa juga tersedia program wisata budaya yang di dalamnya mencakup permainan tradisional, melukis batik, dan membuat wayang.

Paket edukasi bisa dibanderol dengan harga mulai dari Rp 300 ribuan hingga Rp 600 ribuan.

Development Program

Paket yang ditawarkan dalam program ini hanya paket team building. Tetapi walaupun hanya satu di dalamnya mencakup berbegai permainan seru dan program pengasahan skill yang dilatih oleh seorang profesional.

Program ini ditujukan untuk membentuk kerja tim yang solid sehingga tugas atau pekerjaan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat, dan terarah.

Paket ini bisa kamu beli dengan harga Rp 475.000 per pax dan di dalamnya sudah termasuk flying fox, program pembentukan tim, makan siang, coffee break, hingga sertifikat.

Paket Meeting

Jika kamu bosan dengan suasana meeting di kantor yang sangat suntuk. Paket meeting Taman Budaya Sentul City bisa jadi pilihan.

Tempat ini menawarkan paket meeting setengah hari atau satu hari full. Di dalamnya sudah mencakup tempat meeting yang nyaman, asri, dan pemandangan yang memukau, perlengkapan meeting, makan siang dan malam, dan coffee break. Kamu dan kolegamu juga bisa memilih tempat yang semi outdoor atau indoor.

Selain menawarkan paket meeting, tempat ini juga menyewakan berbagai fasilitas Taman Budaya Sentul City. Untuk harga paket meeting setengah hari, tempat ini mematok Rp 350.000 dan untuk full satu hari Rp 450.000.

Paket Wedding

Jika kamu pengen punya acara lamaran, hajatan, atau pernikahan yang memorable, Taman Budaya Sentul menawarkan itu semua.

Kamu bisa menggunakan jasa wedding organizer, wedding photography/documentary, hingga venue untuk acara. Dikelilingi oleh pemandangan alam yang indah, acara yang diselenggarakan akan menjadi tak terlupakan.

Di sana ada taman luar ruangan yang tertata indah dan ruang fungsi yang dihias secara tradisional. Taman ini siap melayani hingga 1000 tamu dengan dekorasi premium.

Paket Private Hiking

Jika kamu merupakan seorang pecinta alam, paket hiking private sangat cocok untuk kamu coba. Berikut beberapa paket private hiking yang ditawarkan Taman Budaya Sentul sesuai dengan destinasinya.

  • Paket Curug Hordeng, Curug Kembar, Ciburial.
  • Paket Goa Garunggang & Leuwi Asih.
  • Paket Curug Cibingbin.
  • Paket Curug Hutan Pinus.
  • Paket Leuwi Hejo, Leuwi Lieuk, Leuwi Cepet.

Paket tersebut bisa kamu bandrol dengan harga mulai dari Rp 200 ribu yang didalamnya sudah termasuk tiket wisata, trekking pole, air mineral, dan P3K.

Wahana Retail

Selain paket yang ditawarkan, Taman Budaya Sentul juga menyediakan wahana retail yang sangat banyak dan seru tentunya.

Lebih tepatnya, tempat ini menyediakan berbagai wahana yang terbagi pada 3 zona yaitu Kids Zone, Teenagers Zone, Adult Zone. Berbagai wahana tersebut bisa kamu coba dengan harga mulai dari Rp 25.000.

Taman Budaya Sentul City terletak di Jalan Siliwangi Nomor 1, Sumur Batu, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasinya yang berada di kawasan Sentul membuat perjalanan dari Jakarta menjadi lebih dekat.

Jika berangkat dari Jakarta, contohnya dari Mampang Prapatan, kamu dapat menggunakan Tol Jagorawi dan keluar di Gerbang Tol Sentul Selatan. Dari pintu tol tersebut, jaraknya hanya sekitar 6 km atau 10 menit perjalanan dengan mobil.

Bagaimana jika kamu ingin menggunakan sepeda motor? Menurut informasi dari Google Maps, rutenya akan melewati Jalan Raya Bogor. Jika berangkat dari Mampang Prapatan, jaraknya sekitar 50 km atau memerlukan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam.

Jam Buka

Taman Budaya Sentul City memiliki 2 jam operasional yang berbeda untuk wahana outbound dan area food street. Untuk wahana outbound buka setiap hari dari pukul 08.00-17.00 WIB.

Sementara itu untuk kamu yang ingin menikmati kuliner lezat atau sekadar ngopi santai, area food street buka setiap hari mulai pukul 08.00-21.00 WIB. Jadi kamu bisa menghabiskan waktu lebih lama di Taman Budaya Sentul City.

Harga Tiket Masuk Taman Budaya City

Tidak ada biaya masuk ke Taman Budaya Sentul City, jadi cukup membayar tiket parkir apabila membawa kendaraan.

Itu dia ulasan mengenai Taman Budaya Sentul City yang isinya paket lengkap aktivitas seru, wisata edukatif, pemandangan asri, dan makanan lezat. Semoga bermanfaat.

(khq/khq)



Sumber : travel.detik.com

Melihat Wajah Baru Teras Cikapundung yang Kini Lebih Segar



Bandung

Pemkot Bandung telah menata ulang Teras Cikapundung. Mari lihat wajah barunya yang kini terasa lebih segar!

Program reaktivasi Teras Cikapundung diberi nama Gemericik (Gelaran Mengekspresikan Rindu Cikapundung). Program tersebut diinisiasi oleh Pj Wali Kota Bandung, Bambang Tirtoyuliono yang kemudian diresmikan bersama Pj Gubernur Jawa Barat, Bey Triadi Machmudin pada Sabtu (25/5).

Dalam program reaktivasi tersebut, Pemkot Bandung berambisi memperbaiki fasilitas Teras Cikapundung, serta menaruh beragam kegiatan dan acara setiap minggunya.


Rencananya, Disbudpar Kota Bandung bakal rutin menggelar acara musik tradisional setiap minggunya. Kemudian diikuti dengan reaktivasi kawasan Babakan Siliwangi Forest Walk dan Teras Cihampelas.

Harapannya, langkah tersebut dapat meningkatkan indeks kebahagiaan warga Kota Bandung, objek wisata ini tak berbayar dan bisa jadi wisata murah meriah bagi warga.

Wajah Teras Cikapundung setelah direaktivasi.Wajah Teras Cikapundung setelah direaktivasi. Foto: Anindyadevi Aurellia/detikJabar

Sekilas, tak banyak yang berubah dari reaktivasi taman tersebut. Namun terlihat seluruh bagian di ruang terbuka hijau itu dicat kembali dan diwarnai ulang.

Pijakan kayu pada jembatan yang rusak telah diperbaiki, serta dibangun pagar agar lebih aman bagi pengunjung anak-anak.

Perubahan ini pun dirasakan oleh Risna (20), mahasiswi yang tengah rehat berolahraga bersama temannya. Namun, kata dia, masih ada beberapa hal yang belum dioptimalkan.

“Iya sering olahraga di sini, jadi tahu kalau dicat ulang. Ditambah pagar juga, bagus biar aman kalau ada anak kecil. Cuma belum terasa banyak berubahnya di sarana, kayak tempat sampah. Soalnya tadi mau buang sampah bingung tempatnya di mana, ternyata ada tapi di ujung dan nggak kelihatan,” katanya.

Selain itu, bagian seberang amphitheater terdapat warung gorengan dan mi dadak. Sayangnya, bagian ini tampaknya belum sempat dibenahi oleh Pemkot Bandung. Sebab terlihat kursi makan ditutup spanduk seadanya dan terdapat bagian kursi yang rusak.

Area tamannya pun terlihat belum rapi. Sehingga terlihat seperti jalan buntu. Padahal menurut Badig (47), warga setempat, jalan setapak tersebut sebetulnya bisa jadi akses pejalan kaki dari arah Babakan Siliwangi Forest Walk.

“Kami sudah sampaikan di sini masih ada yang belum ditata lagi. Itu kan sebetulnya akses juga ke arah sana, jadi pejalan kaki itu nggak perlu dari depan, bisa dari akses yang ini juga. Tapi jalannya belum dibenahi, jadi sepertinya nggak bisa dilalui,” ucap Badig.

“Terus kursinya ini sebetulnya kursi sekrup, tapi kami baru bisa beri tali supaya bisa untuk duduk nyaman. Kursinya juga sudah agak rusak. Jadi mungkin yang sebelah sini juga bisa diperhatikan,” lanjutnya.

Badig yang juga menjadi Pengurus Komunitas Cikapundung, mengapresiasi langkah Pemkot Bandung dan menyambut baik penataan Teras Cikapundung. Hanya saja, sebagai pegiat alam ia memberikan masukan terkait beberapa hal.

“Sebetulnya desain awal itu kan nggak dipagar, sekarang dipagar biar aman ya itu betul. Tapi sebetulnya ada alasan kenapa nggak dipagar, itu supaya warga bisa lebih mudah ngambil dan naikkan kalau ada sampah nyangkut, atau musibah kemarin ada yang hanyut,” kata dia.

Teras Cikapundung Harus Dirawat

Badig mengaku, meskipun langkah reaktivasi ini dinilai masih bersifat seremonial, ia berharap pemerintah bisa lebih peka dengan kondisi Sungai Cikapundung dan berkoordinasi dengan komunitas yang terjalin antara Kecamatan Cidadap dan Coblong tersebut.

“Ya jujur ini seperti seremonial aja, ya kalau saya mangga selama tidak merugikan atau mengubah tata letak dan lainnya. Tapi warga kepeduliannya bukan ke arah situ. Kita ingin tetap ada perawatan, yang memang sekarang disupport dana oleh BBWS, tapi juga komunitas dilibatkan dalam diskusi serta adanya perhatian pada relawan yang nunggu atau bersih-bersih di sini,” ucap Badig.

Teras Cikapundung, Bandung.Teras Cikapundung, Bandung. Foto: Wisma Putra

Sebetulnya, Badig ingin warga kembali peduli dengan sampah di Sungai Cikapundung melalui sosialisasi dengan turun ke sungai dan bebersih bersama. Namun, Pemkot Bandung tak memberi izin dan sudah memasrahkan kebersihan sungai dengan petugas terkait.

Meskipun begitu, Badig berharap langkah awal dari Pemkot Bandung ini bakal terus terjaga konsistensinya. Teras Cikapundung mampu menarik wisatawan, sosialisasi sungai bebas sampah terus terjalankan, serta kemauan warga di sekitar sungai untuk menjaga kebersihannya juga terus terjaga.

“Ya kami menyambut baik, meski mungkin kemarin sempat komunikasi yang kurang bagus karena tiba-tiba ada pengecatan, peresmian, dll. Tapi kami berharap ini konsisten, terjaga kebersihannya, kegiatannya juga lebih aktif, fasilitasnya ditambah terutama tempat sampah,” kata dia.

“Silakan anggota kami juga bisa dilibatkan, kasih fasilitas alat kebersihan yang memadai. Kami cuma takut perawatannya tak diperhatikan lagi. Kalau saya bandingkan itu takutnya seperti Taman Regol yang diurus Pemkot Bandung dan jadinya kumuh,” harap Badig.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com