Tag Archives: bitcoin

ETF Bitcoin Banjir Modal, Harga BTC Siap Melonjak Menuju $165.000!

Bitcoin kembali mencetak reli besar, menembus level $123.000 hanya terpaut tipis dari rekor tertinggi sepanjang masa. Lonjakan ini dipicu oleh arus masuk masif ke ETF Bitcoin spot AS, yang dalam empat hari terakhir mencatat lebih dari $2,2 miliar.

Arus dana segar tersebut terjadi di tengah penutupan pemerintahan AS yang menunda persetujuan ETF kripto baru, sehingga fokus investor kembali tertuju pada produk Bitcoin. Data terbaru menunjukkan ETF Bitcoin berhasil meraup tambahan $676 juta pada Rabu dan $627 juta pada Kamis, menandai level arus masuk tertinggi dalam tiga minggu terakhir.

Prediksi Reli Lanjutan: Menuju $150.000?

Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Sabtu, 4 oktober 2025. Sumber: Tokocrypto.
Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Sabtu, 4 oktober 2025. Sumber: Tokocrypto.

Menurut Matt Mena, analis 21Shares, kombinasi arus masuk ETF dan potensi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi katalis utama reli Bitcoin. Ia menilai BTC berada dalam posisi kuat untuk menguji ulang level $124.000 dan bahkan berpotensi melesat ke kisaran $140.000 – $150.000 sebelum akhir 2025.

“Total kapitalisasi pasar kripto siap menembus $5 triliun, kurang dari 25% di atas level saat ini,” jelas Mena, sambil mengingatkan lonjakan besar pada Q4 2024 yang mencatat kenaikan 63% dalam tiga bulan.

Selain itu, analis JPMorgan juga memperkirakan harga Bitcoin bisa menembus $165.000 pada akhir 2025, dengan alasan aset ini masih dihargai lebih rendah jika dibandingkan dengan emas berdasarkan volatilitasnya.

Baca juga: Tren Bitcoin 6-10 October 2025: Ingat, Analisa Saya Selalu Kecepetan Seminggu

ETF Jadi Kunci Reli

Setelah sempat mengalami arus keluar hingga $750 juta pada Agustus, ETF Bitcoin kembali menunjukkan kekuatan besar pada September. Sementara itu, minat pada ETF Ethereum justru melambat.

Pasar kini menanti langkah perusahaan investasi besar seperti Vanguard, yang dikabarkan sedang mempertimbangkan membuka akses ETF kripto bagi kliennya. Jika terwujud, hal ini bisa menjadi pendorong tambahan untuk reli Bitcoin.

Uptober Kembali?

Fenomena reli di bulan Oktober yang populer disebut “Uptober” kembali menghantui pasar. Bitcoin kini hanya berjarak 1% dari rekor tertinggi sepanjang masa, sementara banyak analis percaya momentum ini bisa berlanjut hingga akhir tahun.

Dengan dukungan arus masuk ETF, potensi pemangkasan suku bunga, dan minat institusi yang terus meningkat, BTC berpeluang membuka babak baru reli kripto global.

Baca juga: ETF Jadi Penentu, Akankah Solana Oktober Ini Reli 30%?


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



Sumber : news.tokocrypto.com

Altseason Q4 2025 Dimulai? Bitcoin Kehilangan Dominasi

Pasar kripto kembali bergemuruh, Bitcoin kehilangan dominasi. Kapitalisasi pasar altcoin dilaporkan telah mencapai sekitar $1,15 triliun, memicu spekulasi bahwa altseason Q4 2025 resmi dimulai. Data terbaru menunjukkan Ethereum (ETH) semakin unggul dibandingkan Bitcoin (BTC), sementara dominasi BTC terus melemah ke level terendah dalam setahun.

Menurut grafik yang dipublikasikan oleh ourcryptotalk, altcoin berhasil keluar dari kisaran support $1,0 triliun hingga $1,15 triliun. Pergerakan ini menandakan kenaikan sekitar 15% sepanjang 2025, menambah optimisme pelaku pasar.

ETH Pimpin Pergerakan, Bitcoin Kehilangan Dominasi

Dilaporkan Coinfomania, Ethereum kini menunjukkan performa lebih kuat terhadap Bitcoin. Indeks kekuatan relatif (RSI) ETH/BTC melonjak ke level 60,99, naik signifikan dari level terendah 44 di pertengahan September. Artinya, dalam beberapa pekan terakhir ETH berhasil mengungguli BTC dengan peningkatan kekuatan relatif 38,6%.

Sementara itu, dominasi Bitcoin anjlok menjadi 58%, turun lebih dari 12% dari puncaknya di 66% pada paruh pertama 2025. Data ini memperlihatkan adanya rotasi modal besar-besaran dari BTC ke altcoin, sebuah pola klasik yang biasanya menandai dimulainya altseason.

Data Bitcoin Dominance pada tanggal 4 Oktober 2025. Sumber: CoinMarketCap.
Data Bitcoin Dominance pada tanggal 4 Oktober 2025. Sumber: CoinMarketCap.

Baca juga: Bitcoin Dominance Naik Lagi! Sinyal Pemulihan Besar di Depan Mata?

Jejak Historis: Pola yang Sama Terulang

Fenomena ini bukan hal baru. Pada 2017, kapitalisasi pasar altcoin melonjak dari $50 miliar menjadi $300 miliar, sementara dominasi BTC jatuh ke 33%. Pada 2021, altcoin besar seperti Solana dan Cardano ikut meroket, mendorong total kapitalisasi altcoin menembus $1,5 triliun ketika dominasi BTC melemah ke 40%.

Kini, dengan dominasi BTC di 58% dan kapitalisasi altcoin di $1,15 triliun, banyak analis percaya pasar altcoin masih punya ruang tumbuh hingga 50% lebih tinggi jika rotasi modal terus berlanjut.

Apa yang Memicu Tren Ini?

Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Sabtu, 4 oktober 2025. Sumber: Tokocrypto.
Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Sabtu, 4 oktober 2025. Sumber: Tokocrypto.

Tiga faktor utama diyakini mendukung narasi altseason kali ini:

  1. Arus masuk institusional ke ETF spot Ethereum, yang tercatat sebesar $234 juta pada 3 Oktober.
  2. Kebangkitan sektor DeFi, yang kembali menarik likuiditas ke berbagai protokol berbasis ETH.
  3. Rotasi musiman Q4, yang secara historis sering mendorong reli altcoin.

Dengan kombinasi indikator teknis — penguatan ETH terhadap BTC, penurunan dominasi Bitcoin, dan lonjakan kapitalisasi altcoin, pasar kripto memasuki tahap yang sangat mirip dengan awal altseason di siklus-siklus sebelumnya.

Meski begitu, risiko tetap ada. Dominasi Bitcoin bisa berbalik arah dengan cepat, sementara sentimen pasar masih sangat sensitif terhadap berita regulasi global. Namun, untuk sementara, sinyal altseason tampak semakin jelas di penghujung 2025.

Baca juga: AI Select Token: BNB, AVAX, Hingga HEMI Masuk Radar Hari Ini


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekarang!

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

Tokocrypto Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa keuangan.



Sumber : news.tokocrypto.com

Melambung Tinggi! Harga Bitcoin Tembus $122.000, Siap Ukir Sejarah

Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan dominasinya di pasar kripto global dengan kenaikan signifikan yang membawa harganya menembus level $122.041,28.

Dalam 24 jam terakhir, aset digital terbesar di dunia ini mengalami peningkatan +1,34%, sementara dalam rentang 90 hari terakhir, BTC sudah melonjak hampir 13%, menandakan tren bullish yang semakin solid menjelang kuartal akhir 2025.

Dengan kapitalisasi pasar mencapai $2,43 triliun USD dan volume perdagangan harian mencapai $83,19 miliar USD, Bitcoin kembali mengukuhkan statusnya sebagai aset paling dominan di dunia kripto, menguasai hampir separuh total kapitalisasi pasar global aset digital.

Baca Juga: Harga Bitcoin Melonjak ke $120 Ribu, Menuju ATH Baru

Data Kunci Kinerja Bitcoin

  • Harga saat ini: $122.041,28
  • Kenaikan 24 jam: +1,54%
  • Kenaikan 30 hari: +9,63%
  • Kenaikan 90 hari: +12,98%
  • Tertinggi 24 jam: $123.944,70
  • Rekor tertinggi sepanjang masa (ATH): $124.457,12
  • Kapitalisasi pasar: $2,43 triliun
  • Volume perdagangan 24 jam: $83,19 miliar

Faktor Utama di Balik Lonjakan Harga Bitcoin

1. Optimisme Pasar Global dan Permintaan Institusional

Kenaikan harga Bitcoin didorong oleh meningkatnya minat investor institusional terhadap aset digital setelah gelombang baru ETF Bitcoin spot terus mencatat arus masuk positif.

Data pasar menunjukkan peningkatan volume perdagangan besar dari bursa utama seperti Coinbase dan Binance, menandakan akumulasi besar oleh pelaku pasar kelas atas.

Selain itu, ketegangan geopolitik dan ketidakpastian makroekonomi global membuat investor kembali beralih ke Bitcoin sebagai “safe haven digital” yang tahan inflasi.

Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Sabtu, 4 oktober 2025. Sumber: Tokocrypto.
Pergerakan harga Bitcoin (BTC/USDT) pada Sabtu, 4 oktober 2025. Sumber: Tokocrypto.

2. Momentum Bullish dan Tren Teknis Kuat

Secara teknikal, pergerakan harga Bitcoin membentuk pola ascending channel, menandakan konsolidasi menuju breakout.

Dengan harga saat ini yang hanya terpaut kurang dari $2.500 dari rekor tertinggi sepanjang masa (ATH), tekanan beli terus meningkat seiring keyakinan pasar bahwa BTC akan segera menembus rekor tersebut.

Indikator Moving Average (MA50 dan MA200) menunjukkan tren jangka menengah dan panjang yang tetap bullish, sementara Relative Strength Index (RSI) berada di kisaran 65–70 — menunjukkan momentum kuat namun masih memiliki ruang untuk reli lanjutan sebelum jenuh beli.

3. Faktor On-Chain: Penurunan Pasokan di Bursa

Menurut analisis data on-chain, jumlah Bitcoin yang tersimpan di bursa sentral (CEX) terus menurun ke level terendah dalam lima tahun terakhir.

Ini menandakan bahwa lebih banyak investor memilih untuk memegang aset mereka di wallet pribadi — sinyal klasik bahwa tekanan jual menurun dan potensi kenaikan harga meningkat.

Selain itu, aktivitas whale (pemegang besar) meningkat dalam dua minggu terakhir, di mana dompet besar melakukan pembelian signifikan saat harga masih di kisaran $118.000–$120.000.

Analisis Teknikal: Siap Tembus All-Time High

Level Teknis Nilai (USD) Keterangan
Support 1 $119.000 Level psikologis bawah yang menahan tekanan jual
Support 2 $115.500 Zona aman sebelum pembalikan tren
Resistance 1 $124.000 Mendekati rekor tertinggi sebelumnya
Resistance 2 (Target Baru) $130.000 Potensi breakout besar jika menembus ATH

Dengan volume perdagangan yang tinggi dan tren harga yang konsisten naik, kemungkinan besar Bitcoin akan menguji ulang level $124.457,12 (ATH) dalam waktu dekat.

Jika berhasil menembusnya dengan volume besar, BTC berpotensi menuju $130.000–$135.000 dalam beberapa minggu mendatang.

Proyeksi Jangka Panjang Bitcoin

Berdasarkan analisis beberapa lembaga riset kripto dan laporan dari Bloomberg Intelligence, proyeksi harga Bitcoin dalam jangka menengah hingga panjang tetap positif:

  • Akhir 2025: Potensi mencapai $150.000
  • 2026–2030: Prediksi konservatif menempatkan BTC di kisaran $250.000–$300.000
  • Skenario ekstrem bullish: Jika adopsi institusional terus meningkat, BTC dapat menembus $500.000 dalam dekade ini

Baca Juga: Bitcoin Dominance Naik Lagi! Sinyal Pemulihan Besar di Depan Mata?

Bitcoin di Ambang Sejarah Baru

Kenaikan harga Bitcoin hingga menyentuh $122.000 menandai momentum baru bagi pasar kripto global.

Dengan dukungan teknikal yang solid, arus modal institusional yang meningkat, dan penurunan pasokan di bursa, semua indikator menunjukkan bahwa BTC tengah bersiap mencetak rekor tertinggi baru.

Jika tren ini berlanjut, Bitcoin bukan hanya akan menembus batas psikologis $125.000 — tetapi juga membuka babak baru reli besar yang dapat mengguncang seluruh pasar kripto.


Investasi dan trading kripto aman hanya di Tokocrypto. Ikuti Google News Tokonews untuk update berita crypto dan download aplikasi trading bitcoin & crypto sekaran

DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut. Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli

Tokocrypto berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.



Sumber : news.tokocrypto.com

INDODAX Tegaskan Posisi sebagai Platform Kripto Terpercaya Lewat Penghargaan Most Trusted Financial Brand Awards 2026

Jakarta, 31 Maret 2026 – PT Indodax Nasional Indonesia (INDODAX) kembali menorehkan prestasi dengan meraih dua penghargaan Most Trusted Financial Brand Awards 2026. Dalam penghargaan tersebut, INDODAX memperoleh penghargaan pada kategori Platform Pedagang Kripto dan Produk Digital Asset Custodians yang diselenggarakan oleh Investortrust. 

Ajang ini merupakan hasil kolaborasi antara Investortrust dan Infovesta Utama, dengan penilaian berbasis survei daring yang mengukur tingkat kepercayaan publik terhadap berbagai institusi dan layanan keuangan di Indonesia. Penghargaan ini sekaligus menjadi barometer konsumen dalam memilih brand, serta mendorong pelaku industri untuk terus menjaga integritas, menghadirkan inovasi, dan meningkatkan kualitas layanan.

Dengan lebih dari 9,8 juta pengguna, INDODAX secara konsisten mendorong literasi aset digital, kripto, dan teknologi blockchain di Indonesia sejak berdiri pada 2014. Upaya ini diwujudkan melalui INDODAX Academy, kanal edukasi yang menghadirkan berbagai materi seputar blockchain, Bitcoin, mining, hingga aset kripto lainnya.

Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, menyampaikan apresiasinya atas penghargaan tersebut. Menurutnya, pencapaian ini merupakan bentuk kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh terhadap layanan INDODAX di tengah pertumbuhan industri kripto nasional.

“Sebagai pionir crypto exchange di Indonesia, penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menjaga kepercayaan publik. INDODAX akan terus berfokus pada penguatan sistem keamanan, peningkatan kualitas layanan, serta mendorong pengembangan ekosistem kripto yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia,” ujarnya pada Selasa (31/03).

Aloysia menambahkan bahwa meningkatnya kepercayaan publik tidak terlepas dari konsistensi INDODAX dalam menghadirkan edukasi serta membangun pemahaman masyarakat mengenai aset kripto sebagai instrumen investasi digital.

“Edukasi menjadi fondasi penting dalam perkembangan industri kripto. Melalui INDODAX Academy, kami mendorong peningkatan pemahaman masyarakat agar mampu menerapkan manajemen risiko yang disiplin dan mengambil keputusan investasi yang lebih bijak,” tambahnya.

Seiring dengan pertumbuhan industri, INDODAX terus memperkuat posisinya melalui pengembangan fitur, peningkatan sistem keamanan, serta kolaborasi dengan berbagai mitra di sektor keuangan digital guna memastikan layanan yang andal dan perlindungan optimal bagi member.

***

Tentang INDODAX

INDODAX merupakan perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital atau Crypto Exchange yang didirikan oleh dua pegiat kripto dan Blockchain di Indonesia yakni, Oscar Darmawan dan William Sutanto. Berdiri resmi sejak 15 Februari 2014 dan sudah melayani lebih dari 9,8 juta member, INDODAX memperdagangkan aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan memiliki lebih dari 450+ aset kripto dari seluruh dunia yang bisa diperjualbelikan dengan pergerakan harga selama 24 jam.

Sebagai crypto exchange pertama di Indonesia, INDODAX sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital Aset Kripto (AKD AK) yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi perusahaan crypto exchange pertama di Indonesia yang mendapatkan dua sertifikasi internasional sekaligus pada tahun 2019, yaitu 9001:-2015 & 27001:2013.

Sejak berdiri dua belas tahun lalu, INDODAX selalu berfokus kepada pelayanan dan terus aktif memberikan edukasi melalui kanal edukasi yang dapat diakses secara gratis, yakni INDODAX Academy, investor kripto dapat secara bebas mengakses dan mempelajari seluk beluk kripto dan blockchain.

Media Sosial INDODAX dapat ditemukan melalui website:

Telegram                               : https://t.me/indodaxroom

Instagram                              : https://www.instagram.com/indodax/

Tiktok                                     : https://www.tiktok.com/@indodax

Twitter                                    : https://twitter.com/Indodax

Youtube                                  : https://www.youtube.com/c/indodax

Facebook                               : https://www.facebook.com/indodax

INDODAXAcademy            : https://indodax.com/academy

INDODAXPress Release   https://blog.indodax.com/newsroom-press-release





Sumber : blog.indodax.com

Bitcoin Ungguli Emas dan Saham di Tengah Gejolak Global, INDODAX Sebut Kripto Jadi Sorotan Investor

Jakarta, 24 Maret 2026 – Meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah memicu ketidakpastian di pasar keuangan global. Di tengah kondisi tersebut Bitcoin justru menunjukkan ketahanan dengan kenaikan sekitar 12% dalam 60 hari terakhir dan diperdagangkan di kisaran US$70.000 – US$71.000 per Selasa (24/03). Sebaliknya indeks S&P 500 turun sekitar 4%, sementara harga emas terkoreksi hingga 16% dan mencatatkan penurunan terbesar sejak 1983 dengan menyentuh level sekitar US4.400 per ons troi. Kondisi ini mendorong meningkatnya perhatian investor terhadap Bitcoin sebagai alternatif lindung nilai di tengah gejolak pasar.

Menanggapi dinamika pasar ini, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa kinerja kuat Bitcoin saat krisis bukanlah fenomena baru, melainkan pola yang sudah pernah terjadi seperti pada krisis pandemi COVID-19, ketegangan AS-Iran 2020, hingga konflik Rusia-Ukraina. 

“Karakteristik Bitcoin yang terdesentralisasi, dapat diperdagangkan 24 jam, serta tidak bergantung pada sistem perbankan konvensional menjadikannya relevan di tengah terganggunya stabilitas sistem keuangan akibat konflik geopolitik. Hal ini membuat Bitcoin memiliki fungsi praktis sekaligus potensi sebagai alternatif lindung nilai,” jelas Antony.

Kepala Strategi Logam JPMorgan, Greg Shearer menyebutkan penurunan harga emas dipicu oleh aksi sell-off di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur tengah yang meningkatkan kekhawatiran inflasi. Tekanan ini turut didorong oleh penguatan dolar AS serta meningkatnya keuntungan dari obligasi, sehingga membuat emas kurang menarik dibandingkan aset imbal hasil dan berpotensi mengubah pola pembelian emas oleh bank sentral.

Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah yang berdampak pada jalur distribusi energi global di Selat Hormuz, meningkatkan risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak. Kondisi ini mendorong ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Dalam kondisi tersebut, emas yang tidak memberikan imbal hasil rutin cenderung kehilangan daya tarik, khususnya bagi investor institusional.

Meski demikian, pasar kripto masih berada dalam fase volatil dengan sentimen yang cenderung berhati-hati. Faktor makro ekonomi seperti inflasi dan kebijakan suku bunga masih akan menjadi penentu arah pergerakan harga ke depan. Dengan demikian, investor disarankan untuk tetap memperhatikan manajemen risiko dan memahami dinamika pasar secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.

Sebagai platform perdagangan aset kripto terpercaya di Indonesia, INDODAX terus berkomitmen untuk menghadirkan layanan yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh masyarakat. INDODAX juga secara rutin mempublikasikan data Proof of Reserves (PoR) yang dapat diakses publik di CoinMarketCap, serta aktif mendorong literasi dan edukasi agar masyarakat dapat berinvestasi aset kripto secara bijak dan bertanggung jawab.

***

Tentang INDODAX

INDODAX merupakan perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital atau Crypto Exchange yang didirikan oleh dua pegiat kripto dan Blockchain di Indonesia yakni, Oscar Darmawan dan William Sutanto. Berdiri resmi sejak 15 Februari 2014 dan sudah melayani lebih dari 9,8 juta member, INDODAX memperdagangkan aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan memiliki lebih dari 450+ aset kripto dari seluruh dunia yang bisa diperjualbelikan dengan pergerakan harga selama 24 jam.

Sebagai crypto exchange pertama di Indonesia, INDODAX sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital Aset Kripto (AKD AK) yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi perusahaan crypto exchange pertama di Indonesia yang mendapatkan dua sertifikasi internasional sekaligus pada tahun 2019, yaitu 9001:-2015 & 27001:2013.

Sejak berdiri dua belas tahun lalu, INDODAX selalu berfokus kepada pelayanan dan terus aktif memberikan edukasi melalui kanal edukasi yang dapat diakses secara gratis, yakni INDODAX Academy, investor kripto dapat secara bebas mengakses dan mempelajari seluk beluk kripto dan blockchain.

Media Sosial INDODAX dapat ditemukan melalui website:

Telegram                               : https://t.me/indodaxroom

Instagram                              : https://www.instagram.com/indodax/

Tiktok                                     : https://www.tiktok.com/@indodax

Twitter                                    : https://twitter.com/Indodax

Youtube                                  : https://www.youtube.com/c/indodax

Facebook                               : https://www.facebook.com/indodax

INDODAXAcademy            : https://indodax.com/academy

INDODAXPress Release   https://blog.indodax.com/newsroom-press-release





Sumber : blog.indodax.com

Bitcoin Terkoreksi ke Sekitar US$70.000 Pasca FOMC, INDODAX: Sentimen Tertekan Suku Bunga Tinggi

Jakarta, 20 Maret 2026 – Harga Bitcoin mengalami penurunan ke kisaran US$70.000 setelah hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan sinyal kebijakan moneter yang masih cenderung ketat. Pergerakan ini dipengaruhi oleh faktor makroekonomi, termasuk revisi kenaikan  inflasi Amerika Serikat menjadi sekitar 2,7% serta suku bunga yang bertahan di kisaran 3,50%-3,75%.

Sebelumnya, Bitcoin sempat mengkuat mendekati US$76.000 pada Selasa (17/03) didorong arus masuk dana institusional ke spot Bitcoin ETF sebesar US$199,37 juta hingga sesi ketujuh berturut-turut, sementara total arus masuk selama tujuh hari mencapai US$1,16 miliar. Hal ini menunjukkan minat investor besar yang masih terjaga meski pasar mengalami volatilitas. Namun, setelah pertemuan FOMC, para investor melakukan penyesuaian yang mempengaruhi pergerakan harga, tercermin dari koreksi sekitar 7–8%.

Merespons hal tersebut, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, mengatakan bahwa pergerakan pasar saat ini dipengaruhi oleh hasil FOMC yang membentuk ekspektasi baru investor terhadap kebijakan moneter.

“Keputusan FOMC yang mempertahankan suku bunga acuan serta revisi naik proyeksi inflasi menunjukkan arah kebijakan The Fed yang masih cenderung hawkish. Pasar pun menangkap sinyal bahwa inflasi belum turun secepat harapan, sehingga likuiditas ke aset berisiko seperti kripto menjadi lebih terbatas. Namun, ini merupakan bagian dari penyesuaian pasar terhadap dinamika ekonomi global yang terus berkembang,” ujar Antony.

Dalam keputusan terbarunya, The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% dan menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi sekitar 2,7%. Ketua The Fed, Jerome Powell, menyampaikan bahwa penurunan suku bunga akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi, di tengah ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga energi. Kondisi ini membuat peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat menjadi lebih terbatas, sehingga mempengaruhi minat terhadap aset berisiko, termasuk kripto.

Pergerakan Bitcoin saat ini berada di kisaran US$70.000, dengan area US$70.000–US$72.000 menjadi level support penting yang dicermati oleh investor. Selama level ini mampu bertahan, pergerakan harga berpotensi tetap stabil dalam jangka pendek, didukung oleh arus masuk dana institusional yang membantu menyerap tekanan jual. Namun jika harga melewati level support ini, penyesuaian harga berpotensi berlanjut ke level yang lebih rendah.

Antony menambahkan, “Pada kondisi pasar saat ini, sentimen pasar cenderung dipengaruhi oleh faktor makroekonomi. Namun bagi investor, fase koreksi dan konsolidasi seperti ini dapat dimanfaatkan untuk menata kembali strategi investasi secara lebih bijak dengan manajemen risiko yang tepat dan fokus jangka panjang.”

Sejalan dengan dinamika ini, INDODAX menegaskan komitmennya untuk terus menyediakan ekosistem perdagangan aset kripto yang aman, transparan, dan mudah diakses oleh seluruh member. INDODAX juga aktif mendorong literasi dan edukasi masyarakat melalui INDODAX Academy, agar pengguna memahami risiko investasi dan pentingnya riset mandiri (DYOR).

Selain itu, penerapan strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) menjadi salah satu pendekatan yang dapat membantu investor menghadapi volatilitas pasar dengan lebih disiplin. Lewat edukasi yang berkelanjutan, INDODAX mengajak masyarakat untuk tetap rasional, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang dalam menyikapi peluang di pasar kripto.

***

Tentang INDODAX

INDODAX merupakan perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital atau Crypto Exchange yang didirikan oleh dua pegiat kripto dan Blockchain di Indonesia yakni, Oscar Darmawan dan William Sutanto. Berdiri resmi sejak 15 Februari 2014 dan sudah melayani lebih dari 9,8 juta member, INDODAX memperdagangkan aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan memiliki lebih dari 450+ aset kripto dari seluruh dunia yang bisa diperjualbelikan dengan pergerakan harga selama 24 jam.

Sebagai crypto exchange pertama di Indonesia, INDODAX sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital Aset Kripto (AKD AK) yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi perusahaan crypto exchange pertama di Indonesia yang mendapatkan dua sertifikasi internasional sekaligus pada tahun 2019, yaitu 9001:-2015 & 27001:2013.

Sejak berdiri dua belas tahun lalu, INDODAX selalu berfokus kepada pelayanan dan terus aktif memberikan edukasi melalui kanal edukasi yang dapat diakses secara gratis, yakni INDODAX Academy, investor kripto dapat secara bebas mengakses dan mempelajari seluk beluk kripto dan blockchain.

Media Sosial INDODAX dapat ditemukan melalui website:

Telegram                               : https://t.me/indodaxroom

Instagram                              : https://www.instagram.com/indodax/

Tiktok                                     : https://www.tiktok.com/@indodax

Twitter                                    : https://twitter.com/Indodax

Youtube                                  : https://www.youtube.com/c/indodax

Facebook                               : https://www.facebook.com/indodax

INDODAXAcademy            : https://indodax.com/academy

INDODAXPress Release   https://blog.indodax.com/newsroom-press-release





Sumber : blog.indodax.com

Data Inflasi AS Stabil di 2,4%, INDODAX: Pasar Kripto Cermati Arah Kebijakan The Fed

Jakarta, 12 Maret 2026 – Inflasi Amerika Serikat tercatat stabil pada 2,4% secara tahunan (year-on-year) pada Februari 2026 berdasarkan data Consumer Price Index (CPI) yang dirilis Biro Statistik Tenaga Kerja AS. Angka tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar dan menunjukkan tekanan harga yang relatif terkendali. Kondisi ini menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve serta sentimen di pasar aset berisiko, termasuk kripto.

Menanggapi data tersebut, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, mengatakan bahwa kondisi ini juga menandakan bahwa pelaku pasar saat ini masih berada dalam fase menunggu kepastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat, khususnya langkah suku bunga Federal Reserve.

“Angka inflasi Februari 2026 yang berada di 2,4% sesuai dengan ekspektasi pasar, sehingga sentimen investor cenderung lebih stabil. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar biasanya akan lebih fokus mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed karena kebijakan moneter masih menjadi faktor utama yang memengaruhi likuiditas dan pergerakan aset berisiko termasuk kripto. Untuk saat ini, pasar cenderung berada dalam fase menunggu sambil memperhatikan perkembangan data ekonomi berikutnya,” ujar Antony.

Berdasarkan laporan terbaru, inflasi bulanan Amerika Serikat pada Februari tercatat naik 0,3%, sedikit lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,2% pada Januari. Sementara itu, inflasi inti (core CPI) yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi tercatat naik 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan, sesuai dengan proyeksi analis. Stabilnya angka inflasi ini memperkuat pandangan bahwa tekanan harga di ekonomi AS masih relatif terkendali, meskipun tetap berada di atas target inflasi 2% yang ditetapkan oleh Federal Reserve.

Ekspektasi kebijakan moneter tersebut juga tercermin dalam proyeksi pasar yang dihimpun melalui  CME FedWatch Tool, yang menunjukkan peluang hampir 99% bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Maret. Sementara itu, probabilitas pemotongan suku bunga sekitar 25 basis poin pada April diperkirakan masih relatif kecil, yakni sekitar 11%. Kondisi ini membuat pasar kripto cenderung bergerak lebih defensif sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter berikutnya.

Di pasar kripto, respons investor terhadap rilis data inflasi terlihat relatif terbatas. Setelah laporan dirilis, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$69.000 dengan pergerakan yang relatif moderat dalam 24 jam terakhir. Hal ini mencerminkan sikap pelaku pasar yang masih menunggu perkembangan data ekonomi berikutnya serta arah kebijakan moneter global.

Selain faktor inflasi, dinamika geopolitik dan harga energi juga menjadi perhatian investor. Dalam beberapa pekan terakhir, volatilitas harga minyak meningkat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pergerakan harga energi ini berpotensi mempengaruhi tekanan inflasi pada periode berikutnya, serta berdampak pada aktivitas ekonomi secara lebih luas. Oleh karena itu, investor cenderung mencermati berbagai indikator ekonomi sebelum mengambil keputusan investasi.

Sejalan dengan itu, INDODAX turut mengimbau para investor untuk tetap mengedepankan manajemen risiko yang disiplin dan melakukan riset secara mandiri (DYOR), serta mempertimbangkan strategi investasi bertahap seperti Dollar Cost Averaging (DCA) untuk menghadapi volatilitas pasar kripto. Melalui berbagai inisiatif edukasi, INDODAX terus mendorong peningkatan literasi aset kripto di Indonesia sekaligus menyediakan platform perdagangan yang aman dan transparan bagi seluruh pengguna.

***

Tentang INDODAX

INDODAX merupakan perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital atau Crypto Exchange yang didirikan oleh dua pegiat kripto dan Blockchain di Indonesia yakni, Oscar Darmawan dan William Sutanto. Berdiri resmi sejak 15 Februari 2014 dan sudah melayani lebih dari 9,8 juta member, INDODAX memperdagangkan aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan memiliki lebih dari 450+ aset kripto dari seluruh dunia yang bisa diperjualbelikan dengan pergerakan harga selama 24 jam.

Sebagai crypto exchange pertama di Indonesia, INDODAX sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital Aset Kripto (AKD AK) yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi perusahaan crypto exchange pertama di Indonesia yang mendapatkan dua sertifikasi internasional sekaligus pada tahun 2019, yaitu 9001:-2015 & 27001:2013.

Sejak berdiri dua belas tahun lalu, INDODAX selalu berfokus kepada pelayanan dan terus aktif memberikan edukasi melalui kanal edukasi yang dapat diakses secara gratis, yakni INDODAX Academy, investor kripto dapat secara bebas mengakses dan mempelajari seluk beluk kripto dan blockchain.

Media Sosial INDODAX dapat ditemukan melalui website:

Telegram                               : https://t.me/indodaxroom

Instagram                              : https://www.instagram.com/indodax/

Tiktok                                     : https://www.tiktok.com/@indodax

Twitter                                    : https://twitter.com/Indodax

Youtube                                  : https://www.youtube.com/c/indodax

Facebook                               : https://www.facebook.com/indodax

INDODAXAcademy            : https://indodax.com/academy

INDODAXPress Release   https://blog.indodax.com/newsroom-press-release





Sumber : blog.indodax.com

Fatwa Muhammadiyah Soal Kripto: Sah untuk Investasi, INDODAX Dorong Edukasi Investor

Jakarta, 10 Maret 2026 – Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pada 4 Maret 2026 menerbitkan fatwa yang menyatakan bahwa aset kripto dapat dipandang sebagai aset digital bernilai yang memenuhi kriteria fikih mal mutaqawwam, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai instrumen investasi. Namun di Indonesia, fatwa tersebut juga menegaskan bahwa kripto tidak sah digunakan sebagai alat pembayaran karena volatilitas harga yang tinggi serta potensi menimbulkan mudarat dalam transaksi.

Menanggapi hal tersebut, Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai bahwa pandangan Muhammadiyah memberikan referensi penting bagi masyarakat Muslim dalam memahami posisi aset kripto dalam perspektif ekonomi syariah.

“Fatwa Muhammadiyah ini memberikan kejelasan bagi investor Muslim bahwa aset kripto dapat dipandang sebagai instrumen investasi dalam kerangka syariah. Pandangan ini juga menjadi momentum penting untuk mendorong ekosistem kripto Indonesia yang semakin matang. Namun sebagai instrumen investasi, aset kripto tetap memiliki karakteristik volatil yang perlu dipahami investor, sehingga literasi mengenai manajemen risiko dan pemahaman terhadap fundamental aset menjadi penting dalam berinvestasi di aset digital,” ujar Antony.

Dalam fatwa tersebut, Muhammadiyah menyebut bahwa aktivitas kripto yang diperbolehkan antara lain investasi jangka panjang, spot trading, serta staking produktif. Sementara itu, praktik yang dinilai tidak sesuai dengan prinsip syariah meliputi perdagangan berjangka (futures trading), penggunaan utang berbunga melalui leverage atau margin trading, manipulasi pasar seperti pump and dump, serta transaksi jual kosong (short selling).

Fatwa ini menjawab wacana yang berkembang di kalangan umat Islam  di Indonesia mengenai hukum aset kripto. Dengan jumlah sekitar 242 juta penduduk Muslim, Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, sehingga kejelasan pandangan syariah terhadap instrumen ekonomi digital seperti kripto menjadi semakin relevan bagi masyarakat.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui hasil Ijtima’ Ulama 2021 menyatakan bahwa kripto tidak sah digunakan sebagai alat transaksi karena mengandung unsur gharar (ketidakpastian), dharar (kerugian), dan qimar (perjudian). Namun terdapat pengecualian,  kripto dapat dinilai sah diperjualbelikan sebagai komoditi atau aset, asalkan memenuhi syarat sil’ah (komoditi) secara syar’i, memiliki underlying yang jelas serta manfaat ekonomi yang nyata.

Seiring dengan perkembangan tersebut, minat masyarakat terhadap aset kripto juga terus meningkat. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan jumlah investor kripto di Indonesia mencapai sekitar 20,70 juta pengguna hingga Januari 2026. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa aset kripto semakin dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif investasi di tengah dinamika ekonomi global, sehingga pemahaman mengenai manajemen risiko dan diversifikasi portofolio menjadi semakin penting bagi investor.

Sebagai pionir crypto exchange di Indonesia, INDODAX menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat literasi dan edukasi investasi yang bertanggung jawab bagi masyarakat. INDODAX juga telah terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan penerapan standar keamanan dan kepatuhan seperti Know Your Customer (KYC) dan Anti-Money Laundering (AML) guna mendukung ekosistem perdagangan aset kripto yang aman, transparan, dan berkelanjutan.

***

Tentang INDODAX

INDODAX merupakan perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital atau Crypto Exchange yang didirikan oleh dua pegiat kripto dan Blockchain di Indonesia yakni, Oscar Darmawan dan William Sutanto. Berdiri resmi sejak 15 Februari 2014 dan sudah melayani lebih dari 9,8 juta member, INDODAX memperdagangkan aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan memiliki lebih dari 450+ aset kripto dari seluruh dunia yang bisa diperjualbelikan dengan pergerakan harga selama 24 jam.

Sebagai crypto exchange pertama di Indonesia, INDODAX sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital Aset Kripto (AKD AK) yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi perusahaan crypto exchange pertama di Indonesia yang mendapatkan dua sertifikasi internasional sekaligus pada tahun 2019, yaitu 9001:-2015 & 27001:2013.

Sejak berdiri sebelas tahun lalu, INDODAX selalu berfokus kepada pelayanan dan terus aktif memberikan edukasi melalui kanal edukasi yang dapat diakses secara gratis, yakni INDODAX Academy, investor kripto dapat secara bebas mengakses dan mempelajari seluk beluk kripto dan blockchain.

Media Sosial INDODAX dapat ditemukan melalui website:

Telegram                               : https://t.me/indodaxroom

Instagram                              : https://www.instagram.com/indodax/

Tiktok                                     : https://www.tiktok.com/@indodax

Twitter                                    : https://twitter.com/Indodax

Youtube                                  : https://www.youtube.com/c/indodax

Facebook                               : https://www.facebook.com/indodax

INDODAXAcademy            : https://indodax.com/academy

INDODAXPress Release   https://blog.indodax.com/newsroom-press-release





Sumber : blog.indodax.com

Bitcoin Bergejolak, INDODAX Tekankan Pentingnya Manajemen Risiko

Jakarta, 4 Maret 2026 – Eskalasi konflik di Timur Tengah sejak ketegangan AS-Israel ke Iran pada Sabtu (28/2) kian meluas dengan penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, serta serangan balasan Iran ke fasilitas AS di sejumlah negara Teluk seperti Bahrain Qatar, Kuwait, Irak dan Uni Emirat Arab. 

Perkembangan ini memicu lonjakan harga energi, dengan minyak dilaporkan naik hingga US$80 per barel, memicu sentimen risk-off di berbagai kelas aset sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi serta stabilitas pasokan global. 

Di tengah tekanan tersebut, harga emas dunia menguat di kisaran US$5.100 per troy ons, seiring meningkatnya permintaan safe haven, sementara saham teknologi Amerika Serikat mengalami rebound terbatas. Pasar kripto yang beroperasi 24/7 menjadi salah satu indikator paling responsif dalam merefleksikan perubahan sentimen investor. 

Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat terkoreksi ke US$63.100 akhir pekan, lalu melonjak ke US$70.000 di awal pekan, dan kini bergerak di kisaran US$68.000, dengan kapitalisasi pasar kripto global sekitar US$2,33 triliun.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai volatilitas yang tinggi ini mencerminkan sensitivitas tinggi pasar terhadap perkembangan geopolitik dan risiko makro.

“Lonjakan dan koreksi dalam hitungan hari menunjukkan pasar sedang sangat headline-driven. Dalam situasi seperti ini, sentimen global dan dinamika kebijakan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham dan kripto,” ujarnya.

Pada fase awal gejolak, investor umumnya bersikap risk-off untuk menjaga likuiditas. Jika ketidakpastian berlanjut, sebagian investor mempertimbangkan aset yang lebih defensif. Antony menuturkan bahwa menghindari keputusan berbasis FOMO serta menerapkan diversifikasi portofolio dan manajemen risiko secara disiplin merupakan langkah paling rasional.

“Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, diversifikasi portofolio menjadi salah satu pendekatan yang banyak dilakukan, termasuk mengalihkan sebagian eksposur ke aset kripto yang lebih stabil seperti stablecoin Tether (USDT) atau USD Coin (USDC), atau aset kripto berbasis emas seperti Tether Gold (XAUT) yang tengah menguat, sembari tetap menjaga alokasi terukur pada aset utama,” jelas Antony.

Sejalan dengan itu, INDODAX menegaskan komitmen menjaga likuiditas, keamanan sistem, dan transparansi, sekaligus memperkuat edukasi risiko. Di tengah dinamika geopolitik, disiplin manajemen risiko serta memiliki perspektif investasi jangka panjang tetap menjadi kunci untuk bersikap rasional dan adaptif menghadapi ketidakpastian global.

***

Tentang INDODAX

INDODAX merupakan perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital atau Crypto Exchange yang didirikan oleh dua pegiat kripto dan Blockchain di Indonesia yakni, Oscar Darmawan dan William Sutanto. Berdiri resmi sejak 15 Februari 2014 dan sudah melayani lebih dari 9,8 juta member, INDODAX memperdagangkan aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan memiliki lebih dari 450+ aset kripto dari seluruh dunia yang bisa diperjualbelikan dengan pergerakan harga selama 24 jam.

Sebagai crypto exchange pertama di Indonesia, INDODAX sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital Aset Kripto (AKD AK) yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi perusahaan crypto exchange pertama di Indonesia yang mendapatkan dua sertifikasi internasional sekaligus pada tahun 2019, yaitu 9001:-2015 & 27001:2013.

Sejak berdiri sebelas tahun lalu, INDODAX selalu berfokus kepada pelayanan dan terus aktif memberikan edukasi melalui kanal edukasi yang dapat diakses secara gratis, yakni INDODAX Academy, investor kripto dapat secara bebas mengakses dan mempelajari seluk beluk kripto dan blockchain.

Media Sosial INDODAX dapat ditemukan melalui website:

Telegram                               : https://t.me/indodaxroom

Instagram                              : https://www.instagram.com/indodax/

Tiktok                                     : https://www.tiktok.com/@indodax

Twitter                                    : https://twitter.com/Indodax

Youtube                                  : https://www.youtube.com/c/indodax

Facebook                               : https://www.facebook.com/indodax

INDODAXAcademy            : https://indodax.com/academy

INDODAXPress Release   https://blog.indodax.com/newsroom-press-release





Sumber : blog.indodax.com

12 Tahun INDODAX, Pertegas Komitmen Bangun Ekosistem Kripto yang Berkelanjutan dan Kredibel

Jakarta, 2 Maret 2026 – Memasuki tahun ke-12, INDODAX melihat industri kripto Indonesia tengah memasuki babak baru yang semakin matang. Jika satu dekade lalu fokus utama masih seputar pertumbuhan pengguna dan volume transaksi, kini perhatian mulai bergeser ke arah yang lebih fundamental sperti tata kelola, literasi, perlindungan konsumen, serta keberlanjutan ekosistem hingga kontribusi terhadap perekonomian nasional.

Perubahan fase ini menjadi benang merah dalam gelaran “Indodax 12th Years Anniversary: On Chain, Forever Forward”. INDODAX mempertemukan regulator, pelaku industri, dan figur publik dalam satu forum untuk mendiskusikan arah masa depan industri kripto Indonesia secara terbuka dan konstruktif.

CEO INDODAX, William Sutanto, menyampaikan bahwa fase industri saat ini merupakan periode konsolidasi yang menuntut pendekatan lebih struktural dan berorientasi jangka panjang.

“Memasuki tahun ke-12, kami melihat industri kripto Indonesia mulai memasuki fase konsolidasi dan pendewasaan. Tantangannya bukan lagi soal membangun awareness, tetapi bagaimana membangun kepercayaan jangka panjang melalui tata kelola yang kuat, edukasi berkelanjutan, serta kolaborasi erat dengan regulator dan komunitas,” ujar William.

Menurut William, fase konsolidasi ini menuntut pelaku industri untuk memperkuat aspek keamanan dan transparansi sebagai fondasi utama. 

“Tahun ini kami memprioritaskan penguatan keamanan dengan meningkatkan investasi pada IT security. Sejalan dengan itu, kami juga menaikkan standar transparansi, salah satunya melalui publikasi Proof of Reserves sebagai bentuk komitmen keterbukaan kepada member. Langkah ini kami lakukan untuk memastikan kepercayaan publik tetap terjaga dalam berbagai siklus pasar, sehingga member dapat bertransaksi dengan aman, nyaman, dan berkelanjutan,” tambahnya.

Fokus tersebut juga menjadi sorotan dalam sesi panel diskusi “The Future of Crypto” bersama Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, serta CEO Malaka & Konten Kreator, Ferry Irwandi.

Dari sisi kebijakan, perkembangan kripto dinilai perlu ditempatkan dalam kerangka besar pembangunan infrastruktur keuangan digital nasional. Pertumbuhan adopsi yang pesat harus diimbangi dengan regulasi yang adaptif, perlindungan masyarakat, serta sistem pelaporan dan tata kelola yang kredibel di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Misbakhun menjelaskan bahwa pemerintah mengambil pendekatan yang fasilitatif terhadap industri ini.   

“Kripto ini pada dasarnya adalah infant industry atau industri yang masih muda yang perlu diberi ruang tumbuh dan grace period. Melalui Undang-Undang P2SK dan ruang demokratis seperti regulatory sandbox, negara hadir bukan untuk melarang, melainkan memfasilitasi inovasi seperti tokenisasi real-world asset agar tetap berjalan di dalam protokol perlindungan konsumen dan anti-pencucian uang,” tegasnya.

Dari perspektif publik, tantangan yang muncul bukan hanya soal volatilitas pasar, melainkan kualitas pemahaman masyarakat. Narasi yang didominasi hype, spekulasi, dan orientasi jangka pendek berpotensi menghambat proses pendewasaan industri aset digital di Indonesia.

Ferry Irwandi mengungkapkan bahwa, “Tantangan utamanya adalah masyarakat masih menjadikan kripto sekadar alat spekulasi dan mencari sinyal profit instan, mengabaikan inovasi blockchain di baliknya. Karenanya, tugas influencer bukan cuma menjual narasi manis dan probabilitas profit, tapi wajib mengedukasi fundamental dan manajemen risiko di pasar yang volatil ini.”

Hal ini menegaskan bahwa kolaborasi antara regulator, pelaku industri, dan figur publik menjadi kunci dalam penguatan ekosistem kripto. Inovasi perlu terus didorong, namun tetap berada dalam koridor tata kelola yang kuat, literasi yang memadai, dan prinsip perlindungan konsumen. Dengan fondasi tersebut, Indonesia berada pada momentum penting untuk menentukan arah industri kripto yang lebih kredibel dan berdaya saing di tingkat regional.

Melalui momentum ini, INDODAX menegaskan komitmennya untuk memperkuat edukasi publik, meningkatkan standar keamanan dan kepatuhan, serta berperan aktif dalam mendorong industri kripto Indonesia yang lebih matang, inklusif, dan berkelanjutan.

***

Tentang INDODAX

INDODAX merupakan perusahaan Pedagang Aset Keuangan Digital atau Crypto Exchange yang didirikan oleh dua pegiat kripto dan Blockchain di Indonesia yakni, Oscar Darmawan dan William Sutanto. Berdiri resmi sejak 15 Februari 2014 dan sudah melayani lebih dari 9,8 juta member, INDODAX memperdagangkan aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan memiliki lebih dari 450+ aset kripto dari seluruh dunia yang bisa diperjualbelikan dengan pergerakan harga selama 24 jam.

Sebagai crypto exchange pertama di Indonesia, INDODAX sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital Aset Kripto (AKD AK) yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi perusahaan crypto exchange pertama di Indonesia yang mendapatkan dua sertifikasi internasional sekaligus pada tahun 2019, yaitu 9001:-2015 & 27001:2013.

Sejak berdiri sebelas tahun lalu, INDODAX selalu berfokus kepada pelayanan dan terus aktif memberikan edukasi melalui kanal edukasi yang dapat diakses secara gratis, yakni INDODAX Academy, investor kripto dapat secara bebas mengakses dan mempelajari seluk beluk kripto dan blockchain.

Media Sosial INDODAX dapat ditemukan melalui website:

Telegram                               : https://t.me/indodaxroom

Instagram                              : https://www.instagram.com/indodax/

Tiktok                                     : https://www.tiktok.com/@indodax

Twitter                                    : https://twitter.com/Indodax

Youtube                                  : https://www.youtube.com/c/indodax

Facebook                               : https://www.facebook.com/indodax

INDODAXAcademy            : https://indodax.com/academy

INDODAXPress Release   https://blog.indodax.com/newsroom-press-release





Sumber : blog.indodax.com