All posts by 38

Bank of China: Yuan Digital Tidak Akan Menyebabkan Inflasi

Pengujian mata uang digital yang secara tertutup dilakukan oleh Bank of China, menyebabkan rasa penasaran yang luar biasa pada masyarakat Tiongkok. Baru-baru ini, bank memberi tanggapan secara resmi mengenai Yuan digital yang akan segera rilis dan bagaimana cara kerjanya.
19 April 2020 lalu, Seorang perwakilan bank mengonfirmasi hal tersebut dalam saluran China Central Television, uji coba mata uang digital baru (atau yang disebut DC/EP “Digital Currency/Electronic Payment”) telah dilakukan di kota-kota Shenzhen, Suzhou, Xiongan Area Baru, Chengdu, dan situs Olimpiade Musim Dingin yang akan datang.Namun, para peneliti tersebut menekankan pengujian ini belum mengisyaratkan peluncuran resmi untuk penggunaan publik. Perwakilan tersebut juga menambahkan:

“Pengujian secara tertutup pada Yuan digital ini tidak akan memengaruhi operasi komersial dari institusi yang terdaftar, dan juga tidak akan memengaruhi sistem penerbitan dan sirkulasi RMB, pasar keuangan, serta ekonomi sosial di luar lingkungan pengujian”

Untuk memastikan mata uang digital bank sentral tersebut tidak oversold, lembaga komersial akan membayar cadangan 100% ke bank sentral. Dengan kata lain, pada saat penerbitan nanti, People’s Bank of China yang akan pertama menukar mata uang digital dengan bank atau agen operasi lainnya. Agen-agen ini kemudian akan merilis mata uang digital ke dalam sirkulasi publik.

Baca juga: Terungkap, Dompet Digital Bank Sentral China Segera Rilis?

Desain Teknis dan Karakteristik Utama Yuan Digital

Bank telah menyelesaikan desain pada lapisan atas, dengan mata uang digital mengadopsi arsitektur dua-lapis (two-layer) dan sistem pengiriman dua-tingkat (two-tier).

Jika fungsi pembayaran perbankan online dan platform pembayaran turun karena sinyal jaringan yang buruk, teknologi DC/EP ini akan masuk ke dual offline dan memastikan yuan digital akan tetap bekerja secara efektif sama seperti kertas Yuan. Bank of China menjelaskan:

“Ketika tidak ada jaringan, selama dua ponsel yang dilengkapi dengan dompet digital DC/EP digunakan, fungsi transfer atau pembayaran tetap dapat direalisasikan. ”

Menurutnya juga, mata uang digital versi Tiongkok ini tidak terikat dengan rekening bank mana pun. Mereka juga mengklaim, hal ini bebas dari kendali sistem perbankan tradisional.

Tidak seperti cryptocurrency lainnya, Yuan digital diluncurkan oleh Bank Sentral Tiongkok dan didukung oleh kredit negara. Ini mirip dengan versi elektronik renminbi, mata uang resmi Republik Rakyat Tiongkok.

Lebih lanjut, mereka menegaskan, dibandingkan dengan Bitcoin, mata uang digital baru ini akan memiliki stabilitas inheren yang lebih besar. Pengujian mata uang digital bank sentral Tiongkok ini adalah bagian dari skema subsidi transportasi untuk pemerintah daerah dan pekerja perusahaan.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Maling…! Rp387 Miliar Pun Berpindah Tangan

Naas bagi sejumlah pengguna platform keuangan aset kripto ini. Akibat kelemahan sistemnya, maling dunia maya sukses mencuri token digital imBTC senilai US$25 juta atau setara dengan Rp387 miliar.
Platform keuangan itu bernama Lendf.me yang dikelola oleh perusahaan dForce asal Tiongkok. Mindao Yang, Pendiri DForce mengklaim kejadian itu sebagai sebuah “aksi peretasan” yang terjadi pada 19 April 2020 lalu, beberapa hari setelah Multicoin Capital, perusahaan asal Texas menanamkan dana investasi di dForce.

Satu hari sebelumnya, 18 April 2020 peretasan bermodus serupa terjadi di platform sekelas, yakni Uniswap. Dalam kasus Uniswap, token imBTC yang melayang antara US$300,000-1,1 juta.

Walaupun Uniswap tidak dikelola oleh dForce, namun diketahui bahwa Uniswap juga memanfaatkan protokol yang sama dengan di platform Lendf.me.

“Kami akhirnya mengetahui, bahwa peretas memanfaatkan kerentanan dalam standar ERC777 dari token imBTC dengan melakukan serangan ‘reentrancy‘. Mekanisme ‘panggilan balik’ itu memungkinkan peretas untuk menyetor dan menarik imBTC berulang kali sebelum saldo diperbarui. Kajian teknis soal itu disajikan oleh PeckShield,” kata Mindao akun dForce di Medium hari ini, Senin (20 April 2020).

Mindao mengakui serangan itu terjadi karena kelalaian dirinya sebagai pemimpin perusahaan.

“Saya seharusnya mengantisipasi dan mengambil tindakan untuk mencegahnya. Serangan ini tidak hanya merugikan pengguna kami, mitra kami dan rekan pendiri saya, tetapi juga saya pribadi. Aset saya juga dicuri dalam serangan itu,” katanya dengan nada menyesal.

Karenanya pihak perusahaan sudah mengambil langkah hukum dengan menghubungi pihak berwenang dan siap diselidiki. dForce juga sudah menghubungi sejumlah bursa aset kripto agar memblokir address aset kripto milik peretas, seandainya dedemit maya itu hendak menjual hasil curiannya.

PeckShield menyebutkan, bahwa serangan itu terjadi terkait dengan token imBTC. Nilai token yang dibuat di blockchain Ethereum itu 1 banding 1 terhadap nilai Bitcoin (BTC). Token itulah yang dijadikan jaminan (collateral) oleh pengguna di platform Lendf.me. imBTC sendiri dibuat oleh Perusahaan Tokenlon, yang juga sedang menyelidiki kasus ini.

“Secara teknis, logika utama di balik dua insiden itu adalah ketidakcocokan antara ERC777 pada token imBTC dan smart contract yang dibuat oleh perusahaan itu di platform keuangannya. Ini yang mungkin disalahgunakan oleh peretas untuk benar-benar membajak transaksi normal dan melakukan operasi ilegal tambahan,” jelas PeckShield hari ini melalui Medium. [red]



Sumber : news.tokocrypto.com

Stock to Flow: Satu Tahun Setelah Halving Bitcoin Diprediksi Berharga $23.000

Jika melihat sejarah Halving, harga Bitcoin akan naik berbulan-bulan sesudahnya. Mengacu pada model ini maka dalam rentang waktu 6 bulan setelah Halving yakni bulan November, harga Bitcoin akan menyentuh 10.889 dan akan mengalami penurunan tajam di 14 November menjadi 7.535.

Namun Bitcoin terus akan mengalami kenaikan dan penurunan harga sebelum akhirnya pada bulan Mei 2021 tepat satu tahun sesudah halving ketiga harga Bitcoin akan bernilai 23.001,38. Harga ini jika benar maka akan memecahkan rekor harga tertinggi Bitcoin sebesar 20.000 yang terjadi pada 2017.  Kemudian jika melihat grafik di bawah ini, maka Bitcoin akan berhasil menyentuh lebih dari 100.000 pada November 2021.

PlanB Merespon Prediksi Harga Bitcoin Sesudah Halving

PlanB analis yang membuat model ini pun berpendapat soal kenaikan harga Bitcoin karena halving dalam serangkaian tweet yang diunggah pada 16 April lalu. Menurutnya reward block halving akan menjadi momen penentu layaknya hidup dan mati.

“(Menurut pendapat saya) #bitcoin 2020 halving seperti tahun 2012 & 2016. Sesuai dengan model S2F saya mengharapkan harga 10x (urutan besarnya, tidak tepat) 1-2 tahun setelah  peristiwa halving, tulisnya.

Ia kembali menambahkan, “ halving akan membuat atau mengistirahatkan model  S2F. Saya berharap halving ini akan mengajarkan kita lebih banyak tentang dasar-dasar dan efek jaringan yang mendasarinya.

Baca juga: Pencarian Bitcoin Halving di Google Meningkat Signifikan

Namun prediksi ini tentu sangat tentatif, mengingat tengah terjadi krisis global yang sempat membuat harga Bitcoin terpengaruh. Padahal sebelumnya Bitcoin diklaim sebagai safe haven asset. PlanB pun merespon krisis ini. Ia menyoroti Dow Jones, bahwa korelasi saat ini adalah hasil dari krisis virus Covid-19 yang lebih luas dan bukan hal permanen bagi Bitcoin.

“Selama krisis semuanya berkorelasi. Apa selanjutnya yang menarik. Mereka tidak akan dikorelasikan selamanya (menurut saya), “

PlanB pun bahkan berjanji jika ia akan membuang model Stock to Flow jika gagal memenuhi apa yang direncanakan. Dilansir dari Cointelegraph, beberapa tokoh cryptocurrency terkenal pun mengkritik model ini untuk Bitcoin karena dianggap terlalu optimis.

Oleh karena itu sebaiknya model ini bukan dijadikan acuan utama untuk memprediksi harga Bitcoin di masa mendatang, model ini tampak ilmiah tetapi sebetulnya tidak ilmiah itu karena baru menggunakan dua data halving sebelumnya, data yang termasuk kecil untuk membuktikan model ini bisa dipercaya apalagi masih banyak hal yang perlu dipelajari dari Bitcoin dan bagaimana aset kripto itu terus berkembang di tengah ekonomi global yang dinamis.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Begini Cara Fed Mendorong Bitcoin All-Time-High di 2021

Federal Reserve AS atau yang sering disebut “The Fed” bisa menjadi dalang yang tidak terduga dari dorongan harga pada Bitcoin dalam beberapa bulan dan tahun yang akan datang.

Meskipun bank sentral AS tersebut, dalam tindakannya terhadap penyelamatan pasar ekuitas AS dari krisis penuh, mungkin tidak secara langsung membantu memasangkan tolak ukur pada industri cryptocurrency, para analis mencatat rebound All-Time-High baru bisa terjadi setelah 2021.

Jika tolak ukur tersebut menangkap harga all-time-high akan terjadi tahun depan, hal itu akan menjadi kejadian yang sangat bullish untuk Bitcoin meski masih memegang status sebagai aset berisiko besar.

Pasar Ekuitas AS Menunjukan Tanda-Tanda Kekuatannya Terhadap Gejolak Ekonomi

Pasar saham bertahan cukup baik terhadapt pandemi Covid-19 yang telah membuat ekonomi global menjadi macet.

Saat ini, S&P 500 diperdagangkan di bawah 12% dari jumlah awal mula tahun ini, dengan catatan terdapat rebound 10% sepanjang bulan lalu.

Kekuatan S&P 500 merupakan simbol dari seluruh pasar dan bahkan pernah memimpin outlier yang lebih kecil pada pasar seperti crypto untuk bisa rebound, dengan kenaikan Bitcoin dari posisi terendah pada pertengahan Maret lalu di $ 3.800 ke posisi tertunggi di $ 7.500.

Amazon, salahs atu perusahaan terbesar di dunia bahkan mampu melakukan rally ke all-time-high pada 15 April kemarin.

Baca juga: CEO Ballet Crypto Prediksi All Time High Bitcoin di 2020

Kinerja tersebut bahkan saat terjadi lonjakan jumlah pengangguran yang belum pernah terjadi sebelumnya benar-benar mengejutkan sejumlah investor, tetapi dibalik itu, seorang ekonom mencatat dalam sebuah cuitan baru-baru ini bahwa penting untuk memisahkan pengangguran yang berada pada satu titik waktu dari pasar keuangan. Ini merupakan upaya dalam penentuan harga sekarang dan masa depan.

“Jumlah pengangguran menggambarkan satu titik waktu, sementara pasar keuangan melalaikan mekanisme dalam penentuan harga sekarang dan mendatang. Jumlah tersebut merupakan data, sementara harga didorong oleh emosi persepsi, dan variable lainnya.”

Bitcoin Dapat Mengalami Kenaikan Berdasarkan Tindakan The Fed Pada Dukungan Pasar

Kekuatan ini sebagian berasal dari suntikan likuiditas besar-besaran yang dilakukan The Fed untuk mendorong perekonomian.

Seorang analis populer bahkan menegaskan tindakan ini akan membuat pasar saham dapat menetapkan all-time-high baru segera setelah tahun 2021.

“Mungkin saya akan terkejut untuk saat-saat ini mengingat semua tindakan yang dilakukan the Fed dapat merusak struktur pasar kembali. Apakah grafik akan membentuk huruf V? tidak , tapi saya pikir hal ini tidak akan menggerakan pasar. Saya rasa kita sedang melihat sesuatu yang akan menggambarkan All-Time-High baru di tahun 2021”, ujarnya terkait grafik di atas.

Jika kemungkinan ini dimainkan, maka Bitcoin akan sangat bullish. Hal ini disebabkan karena crypto telah membangun korelasi yang mencolok dengan pasar tradisional lain selama beberapa bulan terakhir.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Tanda Tangan Petisi “Bebaskan Siti Fadilah Supari” Hilang, Blockchain Jadi Solusi

Menurut pencetus petisi itu, Jandi Satrio Wibowo, sekitar 40 ribu tanda tangan menghilang begitu saja pada Sabtu, 16 April 2020 pagi, menjadi hanya sekitar 8 ribu. Padahal, pada Jumat, 17 April 2020, tanda tangan sudah hampir mencapai 50 ribu, kata Jandi seperti yang dilansir dari Vivanews.com. Petisi dibuat sejak 30 Maret 2020 lalu, bersama pencetus lain, yakni dr. Nyoman Kusuma.

Berdasarkan penelusuran Blockchainmedia.id, petang hari ini, Minggu (19 April 2020), jumlah tanda tangan naik kembali menjadi sekitar 15 ribu.

Jandi mengatakan kepada Vivanews, saat ini pihaknya sedang berusaha mengajak para simpatisan yang telah menandatangani secara online petisi tersebut untuk kembali mengakses petisi. Hal ini mereka lakukan sembari mencari solusi dan alternatif mengumpulkan dukungan yang lebih secured ke depannya.

Blockchain sebagai Solusi
Menanggapi peristiwa itu, Wisnu Uriawan peneliti blockchain asal Indonesia di pusat penelitian LIRIS, Perancis, mengatakan, bahwa teknologi blockchain bisa sebagai solusi alternatif untuk sistem petisi seperti itu.

“Mengingat teknologi blockchain bersifat irreversible, maka setiap tanda tangan (vote) bersifat permanent (kekal), tidak dapat ditarik kembali alias tidak dapat dihapus, sekalipun oleh pengelola platform petisi. Inilah yang mengukuhkan tingkat kepercayaan dalam petisi,” jelasnya kepada Blockchainmedia hari ini.

Perangkat untuk membuat petisi berbasis blockchain pun tersedia saat ini, tinggal mengembangkannya saja. Contoh percobaan terbaik adalah oleh Partai Demokrat Thailand yang menggunakan blockchain Zcoin untuk memilih ketua umum pada beberapa tahun lalu.

“Partai itu mengandalkan teknologi blockchain Zcoin untuk memilih pemimpin baru partai, selama 1-9 November 2018. Lebih dari 120 ribu suara dikumpulkan,” jelas Wisnu.

Sementara itu menurut Danny Baskara, Pendiri Vexanium Foundation, teknologi blockchain Vexanium juga bisa digunakan untuk sistem petisi seperti itu.

“Setiap pembuatan petisi atau referendum, semua vote/tanda tangan bersifat transparan dan tidak bisa diubah. Untuk setiap perubahan fitur di jaringan blockchain saja, kami menggunakan skema e-voting di tubuh blockchain itu sendiri. [red]



Sumber : news.tokocrypto.com

Transfer Bitcoin 17 Triliun, Biaya Kurang Dari Rp 15Ribu

Transaksi Bitcoin terbesar dalam nilai dollar AS hanya menghabiskan biaya sekitar satu sen atau jika di Rupiahkan hanya berada di sekitar Rp 1.500.

Transaksi yang dilakukan Jumat, 10 April 2020 lalu berhasil mentransfer sekitar 161.500 Bitcoin atau setara dengan 17 Triliun Rupiah hanya dengan biaya kurang lebih $0.70 atau 10.000 jika dirupiahkan. Transaksi tersebut merupakan transaksi Bitcoin terbesar saat ini dalam nilai total dollar AS.

Transaksi Internal Bitfinex

Transaksi ini pertama kali dilihat oleh pengguna Twitter KRMA_0 dan kemudian dikonfirmasi oleh TheCryptoAssociate. Transaksi ini berhasil diselesaikan hanya dengan biaya 0,00010019 BTC.

Paolo Ardoino, CTO Bitfinex, melalui Twitter pribadinya mengaku bertanggung jawab atas transaksi tersebut. Ia menjelaskan bahwa layanan itu sedang dalam pengisian ulang dompetnya melalui transaksi internal.

Berdasarkan perincian transaksi tersebut memang sebanyak 15.000 BTC dikirim ke dompet digital Bitfinex dan merubah nilai menjadi 146.500 BTC, lalu kemudian dikembalikan ke alamat semula.

Transaksi ini terjadi kurang lebih seminggu setelah layanan custody crypto Xapo berhasil memindahkan sebanyak 100.000 BTC atau sekitar 10 Triliun dalam Rupiah dengan biaya transaksi hanya sekitar Rp 4.000.

Baca juga: Bitcoin Whale Pindahkan $212 Juta dengan Biaya Transaksi $3.93

Transaksi Ini Berhasil Melampaui Nilai Tertinggi Sebelumnya

Dalam kedua kasus tersebut, hanya memakan biaya yang sangat sedikit dibandingkan dengan biaya layanan pengiriman uang tradisional. Misalnya, TransferWise, salah satu perusahaan pengiriman uang tradisional,  memerlukan biaya lebih dari $3.600 atau sekitar Rp 60 Juta hanya untuk mentransfer $1Juta atau sekitar 16 Miliyar dan membutuhkan waktu tiga hari untuk dapat menyelesaikan seluruh transaksi.

Dengan Bitcoin, biaya jelas jauh lebih sedikit dan transaksi dapat diselesaikan dengan instan. Transaksi ini juga tidak memerlukan pemeriksaan identitas atau perantara terpercaya pada saat prosesnya.

Transaksi pada Jumat lalu ini melampaui angka tertinggi sebelumnya dengan nilai $1 Miliar yang tercatat pada bulan September 2019. Namun, jumlah Bitcoin aktual terbesar yang pernah dipindahkan mencapai 500.000 BTC yang terjadi pada November 2011 silam dan hanya bernilai $1,32 Juta pada saat itu.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Nasib Ekonomi Global Setelah Pelonggaran Kuantitatif Tak Terbatas

Beberapa waktu lalu, Bank Sentral Amerika Serikat alias The Fed menelurkan kebijakan Unlimited Quantitative Easing (pelonggaran kuantitatif tak terbatas). Apa dampaknya terhadap ekonomi global dan Indonesia? Berikut wawancara kami dengan Douglas Tan Pendiri BullWhales, Senin (13 April 2020).

Resesi besar mengacu pada penurunan ekonomi dari tahun 2007-2009, setelah pecahnya gelembung perumahan AS dan krisis keuangan global. Resesi besar kala itu adalah yang terparah sejak Great Depression di AS pada tahun 1930-an.

Ketika resesi besar dimulai, The Fed menurunkan target suku bunganya mendekati nol, dan kemudian terpaksa menggunakan alat kebijakan moneter yang tidak konvensional termasuk pelonggaran kuantitatif.

Penting untuk disadari, bahwa pelonggaran kuantitatif adalah tindakan darurat yang digunakan untuk merangsang ekonomi dan mencegahnya jatuh ke dalam spiral deflasi.

Pelonggaran kuantitatif tak terbatas itulah yang memungkinkan The Fed menyuntikkan lebih banyak dolar AS lagi ke dalam pasar guna menyelamatkan ekonominya. Apakah saat ini kita berada di resesi besar?

+ Kebijakan Unlimited Quantitative Easing kali ini lebih masif daripada krisis 2008. Apakah bisa membawa Amerika Serikat ke hyperinflation?
Menurut The Fed, pertumbuhan ekonomi saat ini adalah fungsi dari balance sheet itu (jumlah QE, melalui pembelian aset di market). Padahal fakta di lapangan stock market naik sementara saja. Pelaku pasar juga mempertimbangkan banyak hal di luar sana, kendati likuiditas berhamburan.

BERITA TERKAIT  Kita, Dolar AS dan Bitcoin Itu

+ Dampak kebijakan QE terhadap peningkatan inflasi di AS sendiri kapan akan terasa?
Untuk main street (bisnis kecil dan individual), bantuannya baru digelontorkan oleh The Fed dengan stimulus US$2,3 terakhir, berbarengan dengan Cares Act dari Trump. Namun, tidak semua duit itu dialihkan ke main street.

Nah, terkait hyperinflation, hanya ketika beberapa kebijakan lagi dari The Fed, kemungkinan sampai US$10 triliun. Dan lagi ketika main street sudah bisa bekerja seperti semula, barulah inflasi itu mulai terasa. Diperkirakan 1-2 tahun lagi semenjak Unlimited QE itu diluncurkan.

+ Anda setuju dengan pendapat IMF dan JPMorgan, bahwa sekarang dunia sudah berada di resesi ekonomi global?
Pengertian resesi itu kalau ada perlambatan economic output, dalam hal ini adalah GDP. Ketika orang diminta untuk stay at home, beberapa jenis pengeluaran tidak dapat dilakukan, membatasi spending pada pos-pos tersebut, sehingga konsumsi rumah tangga secara makro akan mengalami penurunan. Sudah jelas ketika membandingkan data Q1 2019 dengan Q1 2020, kontraksi jelas terasa.

BERITA TERKAIT  Mata Uang Digital AS, Shopify dan “Lampu Hijau” untuk Libra

+ Kendati kelak pasar modal di AS rebound, bukankah utang pemerintah juga besar?
Itu dua hal dengan bidang disiplin yang berbeda. Namun Trump dalam beberapa pidato dan tweet-nya jelas menggunakan pasar saham sebagai proksi keberhasilan ekonomi AS.

Menurut data terakhir, pasar saham AS memiliki inflow terbesar dari buyback perusahaan, di mana buyback tersebut didanai oleh utang.

+ Jika pasar modal rebound dan utang pemerintah AS membesar, apakah berpotensi alih kesadaran banyak orang lagi untuk tidak berinvestasi ke saham?
Belum ada kajian khusus mengenai ini. Namun main street jelas harus memenuhi kebutuhan sandang dan pangannya terlebih dahulu. Menurut saya investasi saham masih jadi favorit dibandingkan investasi kelas aset yang lain.

+ Bagaimana nasib ekonomi Indonesia?
Dengan kebijakan Unlimited QE, supply uang di pasaran akan bertambah, entah tepat sasaran atau tidak.

Dengan mudahnya mengakses “sumber uang baru” ini, namun dengan output yang relatif sama bahkan menurun, akan mendorong terciptanya periode inflasi bahkan stagflasi.

QE juga adalah salah satu tools bagi bank sentral guna melakukan intervensi menurunkan kekuatan mata uangnya, agar kembali kompetitif dengan para mitra dagangnya, menyelamatkan nilai ekspor negara, di mana bank sentralnya melakukan kebijakan QE.

Skema ini dikenal dengan nama devaluasi. Ceteris paribus (hal lain diasumsikan sama), rupiah akan terapresiasi, terbukti dengan kebijakan QE terhadap main streetsebesar US$2,3 triliun minggu lalu seiring dengan fasilitas repo line yang baru didapatkan oleh Bank Indonesia, menguatkan nilai rupiah terhadap dolar AS secara sementara.

Hubungannya dengan ekonomi Indonesia, ketika mata uangnya tidak terdepresiasi secara jauh terhadap dolar AS adalah, pembiayaan impor lebih murah, pembiayaan pembayaran utang luar negeri (baik bunga maupun pokok) dalam denominasi lebih murah, serta pembentukan cadangan devisa dolar AS yang lebih solid untuk beberapa masa yang akan datang.

Perlu dicatat bahwa kepastian eksportir dan importir untuk melakukan dagang antar negara sangat erat kaitannya dengan kekuatan rupiah terhadap dolar AS, di mana komponen ekspor impor ini merupakan salah satu pilar dalam perhitungan Produk Domestik Bruto secara makro. [red]



Sumber : news.tokocrypto.com

Ransomware Bitcoin Masih Berpotensi Serang Rumah Sakit

Kendati sudah ada penurunan serangan sejak awal pandemi COVID-19, ransomwareBitcoin masih berpotensi menyerang rumah sakit.

Bill Siegel, CEO Coveware mengatakan dia melihat peningkatan aktivitas serangan ransomware “Mamba”, yang menghindari cara-cara lama yang mengirimkan phising software ke e-mail korban. Pelaku justru langsung menyerang dengan mengenkripsi file di komputer, berkat bantuan software khusus bernama “Jetico”.

“Kami tidak tahu mengapa serangan Mamba akan meningkat saat ini ketika pandemi COVID-19 dan rumah sakit masih berjuang mengatasi itu. Tetapi, saya pribadi berpendapat peretas yang sangat ahli lebih banyak punya waktu melakukan serangan itu dari rumah, bukan dari kantor,” kata Siegel.

Menurut laporan terbaru dari Chainalysis, jumlah serangan ransomware secara global telah menurun secara signifikan sejak COVID019 meningkat pada Maret 2020. Penurunan itu sangat signifikan, mengingat ada kekhawatiran yang berkembang atas dampak serangan ransomware terhadap rumah sakit dan organisasi kesehatan lainnya.

BERITA TERKAIT  Ransomware Bitcoin Ancam Distribusi Obat ke 100 Panti Jompo di Amerika Serikat

Rumah sakit adalah sasaran empuk ransomware. Emsisoft melaporkan, bahwa selama tahun 2019, setidaknya 764 penyedia layanan kesehatan di AS telah diserang. Pada pertengahan Maret, Emsisoft secara terbuka meminta pelakku untuk berhenti menargetkan rumah sakit, karena potensi dampak fatal selama krisis ini.

Kim Grauer, Ekonom Senior Chainalysis mengatakan, bahwa meskipun ada penurunan secara keseluruhan, beberapa rumah sakit mungkin berpotensi masih diserang

“Rumah sakit tampaknya menjadi korban dari beberapa serangan ransomware baru-baru ini, seperti ‘dopplepaymer ‘ dan ‘maze’,” kata Grauer.

Ransomware lazimnya menyerang beberapa komputer lembaga pemerintah, rumah sakit dan perguruan tinggi. Ia mampu mengenkripsi semua file sehingga korban tak bisa mengaksesnya sama sekali. Agar bisa diakses kembali, pelaku menampilkan pesan yang meminta tebusan berupa Bitcoin.

Pada Februari 2020 lalu misalnya, kelompok peretas bernama “Maze” meminta tebusan Bitcoin senilai Rp25,4 miliar. Peretas meminta tebusan 200 BTC. 100 BTC untuk memulihkan akses data. Dan 100 BTC lagi untuk menghapus salinan data yang sudah disebarkan. Dua dari lima kantor pengacara diretas dalam 24 jam menjelang 1 Februari 2020 lalu.

“Peretas juga menerbitkan data yang dicuri di dua situs web. Modusnya adalah Maze menyebut terlebih dahulu perusahaan yang diretas di situs webnya. Jika korban mereka tidak membayar, maka Maze menerbitkan sebagian kecil dari data yang dicuri sebagai bukti. Jika perusahaan membayar, Maze akan menghapus nama perusahaan/korban itu,” kata Callow dari Emsisoft kala itu.

Di bulan yang sama Universitas Maastricht, Belanda, pada Rabu (5 Februari 2020) mengatakan, bahwa pihaknya telah membayar tebusan sebanyak 30 Bitcoin (BTC) atau senilai 200 ribu euro (Rp3 miliar) kepada peretas. Hal itu dilakukan sebagai upaya membuka blokir yang menyerang sistem komputernya pada 24 Desember 2019.

Wakil Presiden Universitas Nick Bos mengatakan universitas telah memutuskan untuk membayar uang tebusan itu, daripada harus membangun kembali sistem teknologi informasi dari awal lagi.

“Serangan itu sangat berdampak buruk bagi aktivitas kami, mulai dari mahasiswa, dosen, peneliti dan staf. Ini sesuatu yang belum kami hadapi sebelumnya,” katanya waktu itu.

Menurut Nick, peretasan itu mungkin terjadi akibat kelalaian seorang staf universitas. Staf itu secara tak sengaja membuka sebuah surat elektronik yang berisi peranti lunak berkemampuan phising. [Cointelegraph/red]



Sumber : news.tokocrypto.com

Terungkap, Dompet Digital Bank Sentral China Segera Rilis?

Beberapa hari lalu muncul sebuah screenshot yang menunjukkan aplikasi dompet digital yang digunakan untuk melakukan pengujian ulang atau retestmata uang digital Bank Sentral China (CBDC). Dompet tersebut mengacu pada dompet miliki Agricultural Bank of China (ABC), salah satu dari empat bank besar di China, yang diketahui terlibat dalam percobaan Yuan Digital atau yang dikenal sebagai DCEP (Digital Currency/Electronic Payment).

Muncul juga, tautan yang mengarah pada situs abchina.com, tetapi situs tersebut kemudian hilang dan tidak dapat diakses sama sekali. Di dalam situs tersebut melampirkan alamat situs WeBank, yang merupakan saudara dari WeChat Pay, yang membuat spekulasi bahwa WeBank ikut berpartisipasi dalam pengujian tersebut.

Baca juga: Bank Sentral China Hampir Siap Luncurkan Digital Yuan

Menurut beberapa laporan, aplikasi ini hanya akan dapat diakses oleh pelanggan dengan daftar eksklusif di empat wilayah Shenzhen, Xiong’an, Chengdu and Suzhou.

Fasilitas yang Ditawarkan

Fitur-fitur pembayaran dalam aplikasi tersebut terlihat mencakup kemampuan dalam melakukan pembayaran ritel dengan memindai sebuah barcode, mengirim uang, membuat pembayaran, dan termasuk layanan pembayaran P2P.

Dalam mengelola dompet digital tersebut, pengguna dapat mengelola dana, menautkan dompet tersebut pada akun lain, dan meninjau semua transaksi.

Sudah empat bulan sejak berita mengenai dompet digital CDBC tersebut pertama kali muncul dan tak lama setelahnya terdapat berita mengenai “pengujian internal”. Ketika berita itu diluncurkan, terdapat pernyataan mengenai persidangan yang akan melibatkan empat bank besar negara, tiga perusahaan telekomunikasi dan Huawei.

Terselip harapan bahwa WeChat Pay milik Tencent ini akan ikut berpartisipasi sebagai salah satu penyedia dompet digital yang dominan dan memiliki unit mata uang digital.

Dua bulan lalu, terdapat laporan lain menguraikan 22 perusahaan yang terlibat dalam proyek ini, termasuk delapan yang disebutkan di atas dan Tencent. Namun, daftar tersebut tidak termasuk AliPay, perusahaan pembayaran digital terbesar di Tiongkok saat ini. Padahal AliPay memiliki banyak paten berkaitan dengan mata uang digital pada bank sentral.

Akan Segera Rilis?

Baru-baru ini, muncul berita yang mengatakan bahwa pengujian mata uang digital ini sudah selesai dan tinggal menunggu perubahan pada undang-undang untuk mata uang digital ini agar dapat terus maju.

Sementara itu, pada minggu lalu, Yao Qian, seorang Direktur di Komisi Regulasi Sekuritas China (CSRC), menuliskan sebuah artikel terkait masalah tersebut dan memberikan pernyataan mengenai alasannya bahwa pada tingkat ritel, harus ada kompetisi dalam distribusi mata uang digital ini, dan blockchain dapat digunakan dalam area tersebut.

Pada negara-negara lain, eksplorasi terkait mata uang digital pada bank sentral juga terus dilanjutkan, meski krisis pandemi Covid-19 ini.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Mengenal Emurgo Tracebilty Solution dan Rencananya untuk Memajukan Blockchain Indonesia

Emurgo salah satu perusahaan blockchain asal Jepang meluncurkan “ Emurgo Tracebility Solution ” yang akan memberikan solusi mengenai rantai pasokan (supply chain) dengan modern dan bernilai tambah bagi berbagai kepentingan rantai pasokan dan tentunya konsumen.

Perusahaan yang sebelumnya juga sukses dengan blockchain Cardanonya ini pun menyediakan layanannya di Indonesia dengan bekerja sama dengan sektor usaha kopi.

Baca Juga: Emurgo Gabungkan Blockchain dan Rantai Suplai

Mengapa Emurgo ingin bekerja sama dengan usaha kopi, apa kelebihan blockchain ini dibanding kompetitor lainnya, hingga pendapat Emurgo soal blockchain di Indonesia dan bagaimana perusahaan ini bisa membantu blockchain dalam negeri untuk terus berkembang.

Simak perbincangan eksklusif Tim Coinvestasi dengan Shunsuke Murasaki, CEO of Emurgo Indonesia di artikel berikut ini.


Di antara semua sektor usaha di Indonesia, Emurgo memutuskan bekerja sama dengan Blue Korintji Coffee, sebuah perusahaan kopi komersial. Apa dan mengapa memilih sektor ini terlebih dahulu?

Sebelumnya kami telah memerhatikan pasar kopi di Indonesia, itu merupakan pasar di mana pasar domestik dan internasionalnya memiliki volume perdagangan yang baik. Kami percaya bahwa sangat masuk akal jika sektor  atau usaha kopi di Indonesia memiliki platform untuk menginformasikan rantai pasokan kopi dari awal hingga akhir.

Salah satu usaha yang kami pilih adalah Blue Koerintji Coffee, dengan menggunakan Emurgo Tracebility Solution pelanggan di coffe shop tersebut bisa memperolah informasi dari mana kopi mereka berasal dengan hanya menggunakan QR code. Ini merupakan sebuah pengaplikasian yang menarik bagi industri kopi. Ke depannya tentu kami juga akan mencoba sektor lain.

Ingin mencoba sektor lain, kira-kira sektor apa yang ingin dieksplor oleh Emurgo ke depannya?

Kami sangat tertarik untuk memperluas solusi dari blockchain yang kami hadirkan ke bidang keuangan. Dalam waktu tiga tahun Emurgo Tracebility Solution ingin membantu berbagai pihak dan kepentingan di manapun untuk memberikan pelacakan rantai pasokan untuk mengakses modal yang relevan bagi bisnis yang ingin dijalankan.

Emurgo percaya jika teknologi blockchain dapat mengatasi masalah keuangan di dunia bisnis. Oleh karena itu, kami ingin bekerja sama dengan banyak perusahaan serta membangun jaringan mitra yang bisa masuk ke dalam entitas blockchain dan memanfaatkan teknologi ini.

Sekarang ini sudah banyak perusahaan blockchain, apa yang membuat Emurgo Tracebility Solution ini berbeda dibanding kompetitor yang ada?

Memang sudah banyak perusahaan blockchain yang ada, karena itu kami bisa mengbservasi lebih jauh dan memiliki pendekatan yang berbeda dengan kompetitor yang ada.

Emurgo lebih focus pada UKM dan brief yang mampu memberikan informasi dari hulu ke hilir untuk memberdayakan petani dan memberika aturan yang adil baik itu soal reputasi atau lainnya. Selain itu,  Emurgo Tracebility Solution ini telah dirancang dengan fleksibel dan dapat mengakomodasi segala proses bisnis di industri apapun. Pengoperasinnya juga sederhana dan mudah digunakan.

Pertanyaan selanjutnya, menurut Emurgo apa poin penting yang bisa di improve oleh Indonesia agar teknologi Blockchain di Indonesia bisa berkembang?

Kami rasa yang bisa dikembangkan adalah soal pendidikannya. Kami percaya jika lebih banyak orang perlu mengetahui teknologi ini secara lebih luas di pemerintahan, bank dan sektor swasta.

Emurgo juga ingin fokus ke edukasi soal blockchain, kami saat ini bekerja dengan universitas lokasi untuk membina mahasiswa sehingga mereka bisa bekerja sebagai intern di perusahaan blockchain. Kami mencari mitra baik dari universitas atau perusahaan yang membutuhkan peserta magang.

Saat ini kami masih memtusukan universitas mana lagi yang akan diajak kerja sama, kemungkinan kami akan memulainya pada semester baru karena saat ini situasi terkendala oleh Covid-19. Tapi sejauh ini kami sudah pernah menyelenggarakan workshop di Universitas Atmajaya, dan Telkom University.

Untuk mengetahui soal edukasi yang telah dilakukan oleh Emurgo, Anda dapat mengkasesnya di sini ya!

Seputar Cardano dan ADA

Pertanyaan di bawah ini akan mengulas seputar Cardano dan Mata Uang yang bekerja di blockchain tersebut yakni ADA.

Setelah membahsa Emurgo, kini kita beralih ke pembahasan soal Cardano dalam menghadapi krisis dan bagaimana ADA bisa terdampak atau tidak dengan peristiwa Bitcoin Halving yang diprediksi akan berlangsung di pekan ke dua bulai Mei.

Saat ini pandemik sedang berlangsung, bagaimana Emurgo dan Cardano (ADA) melalui ini?

Sejauh ini Emurgo Indonesia berjalan, kami masih memiliki banyak pertemuan dengan para pemangku kepentingan, kami melakukannya secara online. Kami juga berencana untuk mengubah model pendidikan secara online agar bisa beradaptasi dengan kondisi saat ini

Melihat Bitcoin Halving sebentar lagi, menurut Murasaki apakah ini bisa berdampak kepada ADA?

Saya tahu kalau momen Bitcoin Halving sangat dinantikan oleh Bitcoiners, tapi saya kira Cardano tidak akan terpengaruh banyak karena Cardano sendiri adalah proyek yang didasarkan serangkaian penelitian ilmiah yang berat dan dengan cepat telah membentuk ribuan stakepools dalam transisi ke desentralisasi. Komunitas Cardano juga solid sehingga mereka akan paham jika proyek yang kuat semacam ini tentu membutuhkan waktu untuk terus berkembang.

Bagaimana level adopsi Ada di Indonesia, dan apa rencana ke depan untuk meningkatkannya?

Kami merasa jika Emurgo Indonesia telah mampu membangun kesadaran tentang Cardano (ADA) di Indonesia, tetapi kami mengharapkan peningkatan eksponensial dari adopsi di tahun 2020 ini, ketika era Goguen yang merupakan smart contract yang datang di blockchain Cardano.

Informasi selengkapnya soal Emurgo dapat Anda temukan di sini



Sumber : news.tokocrypto.com