Category Archives: Domestik

Saung Ciburial, Dulu Miskin, Kini Mendunia!



Jakarta

Dari pelosok terpencil hingga panggung nasional, Desa Sukalaksana di Garut, Jawa Barat menulis ulang kisahnya. Sebuah desa yang dulu menjadi kantong kemiskinan, kini menjelma menjadi destinasi wisata ‘Desa BRILian’ yang menginspirasi. Bagaimana bisa?

Udara segar pegunungan menyambut di Desa Sukalaksana, Kecamatan Samarang, Garut, Jawa Barat. Desa itu berjarak sekitar 10 km dari jantung kota Garut. Dikenal sebagai Desa Wisata Saung Ciburial, tempat ini menawarkan ketenangan dan keindahan alam yang asri. Keasrian desa itu dulu tidak bikin warganya berkecukupan.

Ya, Desa Sukalaksana adalah desa tertinggal dulu. Namun, berkat ide kreatif Kepala Desa Oban Sobana dan dukungan berbagai pihak, termasuk Bank BRI, desa tersebut bertransformasi menjadi destinasi wisata yang memikat.


“Dulu desa ini bisa disebut desa miskin di Garut,” kata Siti Julaeha, pengelola Bumdes Desa Sukalaksana, kepada detikcom.

Desa itu merupakan pemekaran, namun bukan berada di sisi jalan utama. Nah, Kades Oban menyadari desa itu harus mampu membiayai operasional dengan potensi yang dimiliki. Dia berguru ke Yogyakarta, tepatnya ke Desa Petingsari. Pulang dari Desa Petingsari, Oban langsung mempraktikkan apa yang didapatkan dari Jogja itu; membangun Desa Sukalaksana menjadi desa wisata.

“Desa wisata enggak usah kita buat yang aneh-aneh, sesuatu yang diada-adakan, kenapa kita tidak coba kalau di sini (memiliki potensi desa) dan kita kembangkan, itu sebenarnya inspirasi pertamanya,” ujar Siti.

Oban dan Bumdes serta warga lokal menyepakati untuk memanfaatkan rumah khas desa itu, rumah palupuh, yang kemudian dibangun sebagai ikon desa komplet dengan sumber mata air bernama mata air Ciburial di belakangnya.

Desa Seukalaksana itu kemudian juga dikenal sebagai Desa Saung Ciburial. Untuk mengembangkan pariwisata, desa itu mengusung konsep natural. Kemudian, dikembangkan pula kearifan lokal yang autentik, mulai dari perkebunan sawi yang terkenal, budidaya domba Garut, hingga teh kewer dan kopi.

“Lebih pure menyajikan tentang desa,” kata Siti.

Pengunjung juga bisa menyaksikan permainan tradisional anak-anak, pencak silat Gajah Putih yang mendunia, dan berbagai kerajinan lokal.

Kini, Desa Wisata Saung Ciburial dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sukalaksana.

BRI turut berperan penting dalam pengembangan desa wisata ini. Bantuan yang diberikan berupa peralatan, dana, dan pendampingan.

“BRI mulai datang sekitar sebelum pandemi 2019-an,” kata Siti.

Dukungan ini sangat membantu, terutama dalam pengembangan fasilitas dan pemberdayaan masyarakat. Istimewanya lagi, Desa Sukalaksana menyabet predikat juara 1 Desa BRILian 2021.

Desa Sukalaksana memiliki luas wilayah 203.426 hektare dengan jumlah penduduk 4.991 jiwa (data 2021). Keberhasilan Desa Wisata Saung Ciburial menjadi bukti bahwa potensi desa dapat dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

(fem/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Cerita Mata Air Asin yang Diburu Warga Tasikmalaya buat Lebaran



Tasikmalaya

Menjelang Lebaran, sebuah sumber mata air dengan rasa asin banyak diburu oleh warga Tasikmalaya. Mereka menggunakan air asin itu untuk membuat ketupat.

Penjualan air asin Tanjung di Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Warga tasik mulai terlihat antre untuk membeli sumber mata air yang dijadikan bahan pembuatan ketupat tersebut.

Mata air asin Tanjung ini merupakan salah satu keunikan yang ada di Tasikmalaya. Jika biasanya mata air punya rasa tawar, tapi sumber mata air Tanjung malah mengeluarkan air asin.


Oleh masyarakat, air ini kerap dimanfaatkan untuk membuat ketupat. Selain bisa memberi rasa yang khas pada ketupat, air asin Tanjung ini juga dipercaya membuat ketupat lebih tahan lama dan bisa awet sampai seminggu.

Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak dulu dan membawa berkah bagi daerah setempat. Sejumlah warga terlihat sudah memadati Kampung Cukang, Kelurahan Tanjung, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, tempat di mana sumber air asin Tanjung ini berada.

Ketua Pengelola air asin Tanjung, Iman Hermansyah (42) mengatakan pembeli air asin Tanjung mulai ramai sejak awal bulan Ramadan.

“Dari tanggal 5 Ramadan sudah ramai masyarakat yang membeli air asin Tanjung untuk membuat ketupat Lebaran. Penjualan meningkat sekitar 60 persen dari hari-hari biasa,” kata Iman.

Iman mengatakan mereka yang membeli air asin Tanjung untuk bahan pembuatan ketupat, tidak hanya datang dari wilayah Tasikmalaya saja, melainkan dari berbagai daerah.

“Pembeli tidak hanya warga Tasikmalaya, dari luar seperti Ciamis, Banjar, Garut dan daerah lainnya juga ada,” kata Iman.

Tak sedikit pula mereka yang datang, membeli dalam jumlah banyak dengan tujuan untuk dijual kembali.

“Selain mereka membeli untuk membuat ketupat di rumah, ada juga mereka yang akan menjual lagi,” jelasnya.

Harga jual air asin ini relatif murah, satu galon dijual dengan harga Rp 10 ribu saja.

“Kalau jeriken biru yang 35 liter Rp 15 ribu, kalau galon Rp 10 ribu,” papar Iman.

Hasilkan Ketupat dengan Rasa yang Khas

Iman membenarkan membuat ketupat dengan air asin Tanjung akan memberikan cita rasa yang khas serta tekstur ketupat yang lebih kenyal dan tahan lama.

“Air Tanjung itu keistimewaannya seperti ada pengawet alami. Rasa ketupat atau lontong jadi beda, agak kenyal juga. Terus ketupat kalau pakai air asin Tanjung bisa bertahan sampai 6 hari,” ujar Iman.

Dia juga berharap penjualan di Lebaran kali ini akan semakin meningkat sehingga warga bisa mendapatkan cuan yang maksimal.

Mata air unik yang memiliki rasa asin bernama Air Tanjung di Tasikmalaya.Mata air unik yang memiliki rasa asin bernama Air Tanjung di Tasikmalaya. Foto: Faizal Amiruddin/detikJabar

“Biasanya semakin dekat Lebaran semakin membeludak, kalau stok banyak,” kata Iman.

Sumber mata air unik ini dikelola oleh pihak RW dengan melibatkan warga. Setidaknya ada 21 warga yang dilibatkan dalam bisnis pemanfaatan Air Tanjung ini.

Sehari ada 3 atau 4 orang yang jaga. Mereka bertugas melayani pembeli, menampung air dan lain-lain. Warga yang bekerja tentu dapat upah, sisanya disetor ke kas RW.

Secara swadaya masyarakat mengelola air itu dengan cara menampungnya ke bak-bak penampungan. Kemudian dari bak dialirkan ke dua tangki air kapasitas 1000 liter.

Air Tanjung memang perlu ditampung sebagai stok, karena volume mata air tidak besar. Penasaran dengan rasanya yang menurut warga asin, beberapa bulan lalu kami pernah mencoba mencicipi air Tanjung tersebut.

Rasa asin memang ada, tapi tak terlalu kentara. Lidah justru merasakan gurih. Seperti air kelapa, tapi air kelapa tua yang hambar.

Beberapa saat setelah menenggak, tenggorokan terasa kering seperti usai minum air laut. Begitu kira-kira rasa dari mata air unik ini.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Perahu Rakit Danau Lido, Dulunya Transportasi Kini Jadi Wisata



Bogor

Selain kawasan Puncak yang sejuk, Danau Lido belakangan ini menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan Arab maupun lokal. Menikmati udara sejuk seraya bersantap di atas rakit di tengah danau terasa romantis sekaligus magis.

Danau Lido di Cigombong – Bogor awalnya merupakan rawa-rawa yang kemudian dibendung untuk menjadi tempat peristirahatan bagi pejabat Belanda. Dua bangunan bergaya Belanda di pinggir danau merupakan salah satu warisan yang tersisa.

Bertahun-tahun warga sekitar menjadikan danau ini sebagai tempat untuk memancing atau bertambak. Warga luar banyak yang berkunjung sekedar untuk berkeliling menyusuri danau dengan rakit, cuci mata dan menikmati sejuknya udara Bogor.


Seiring itu bermunculan warung dan restoran bagi para pengunjung yang tak membawa bekal. Bahkan ada satu restoran terapung di tengah danau, namanya Rumah Makan Yuliana Terapung (RMYT). Beralas anyaman batang-batang bambu rumah makan itu dikelola keluarga Indra Jaya Lesmana (37).

Danau Lido BogorIndra Jaya Lesmana Ketua Kluster Perahu Rakit Danau Lido Foto: (bonauli/detikcom)

“Orang tua saya memulainya sejak 1993,” kata Indra membuka percakapan saat ditemui detiktravel, Senin (10/3).

Ia pribadi mengaku baru diminta terlibat langsung ketika ayahnya berpulang pada 2015. Kala itu ia masih pegawai bank BUMN di Jakarta Kota. Namun ibunya terus membujuk agar melanjutkan mengelola RMYT. Sekitar 4 tahun lalu Indra akhirnya memenuhi permintaan tersebut.

Selain mengelola RMYT, ia juga mengembangkan rakit-rakit bambu yang biasa digunakan wisatawan berkeliling danau seluas 11,9 hektare itu. Batang bambu dipilih yang memiliki panjang 12-13 meter, diikat berjejer sedemikian rupa hingga memiliki lebar 2-3 meter. Agar lebih seimbang, pada bagian tengah di bawah rakit diberi pelampung berupa styrofoam.

Danau Lido BogorDanau Lido Bogor Foto: (bonauli/detikcom)

Di bagian tengah perahu ada bangunan sederhana dengan bagian depan yang agak luas layaknya teras. Untuk penggeraknya rakit dilengkapi dengan mesin temple di bagian belakang. Detiktravel bersama beberapa mantri dari BRI, sempat mencoba berkeliling danau dengan rakit ini. Total ada enam orang di atas perahu, selain pengemudi di buritan.

“Jika berkeliling danau tarifnya Rp 150 ribu, sementara untuk turis asing Rp 500 per kelompok. Namun kalau cuma antar jemput ke rumah makan ongkosnya cuma Rp 30 ribu,” kata Indra.

Siang itu, detiktravel melihat beberapa wisatawan lokal maupun berparas Timur Tengah terlihat berkeliling danau dengan rakit. Sapuan angin yang lembut membuat kami betah untuk duduk di dalam rakit. Rakit bergerak halus dan stabil. Pepohonan yang hijau di sekeliling danau menambah rasa kerasan di atas perahu.

“Dulu danau ini memiliki warna yang jernih, ikan-ikan masih bisa terlihat dari permukaan danau. Namun sedimentasi membuat danau semakin keruh, dan luasnya menyusut,” kata Indra.

Danau Lido BogorRumah Makan Yuliana Terapung (RMYT) Foto: (bonauli/detikcom)

Salah seorang pengunjung, Ayu (39) yang datang bersama keluarga terlihat, siang itu terlihat enjoy berkeliling danau dengan rakit. Ia mengaku sudah beberapa kali berkunjung ke Danau Lido.

“Konsep restoran terapungnya unik dan paling penting makanannya enak,” ujarnya.

Melihat potensi wisata tersebut, sekitar 4-5 tahun lalu BRI turun tangan membentuk Kluster Wisata Rakit Danau Lido. Indra terpilih menjadi ketua paguyuban kluster.

Menurut Indra, dengan modal sekitar Rp 15-18 juta pinjaman dari KUR BRI beberapa pengelola memodifikasi rakit dengan atap berbentuk helikopter dan bentuk lainnya menjadi miniatur rumah makan terapung.

“Satu rakit bisa diisi 10-15 orang. Mereka bisa makan di dalam atau di luar,” terangnya. Menu makanan akan dikirim dari RMYT.

Danau Lido BogorDanau Lido Bogor Foto: (bonauli/detikcom)

Indra mengaku bergabung dengan BRI karena diajak Pak Omen. Dia tergolong sesepuh di paguyuban rakit. BRI dipilih karena memang cuma bank ini yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut.

“Kalau yang lain jauh,” ucapnya seraya tersenyum menunjukkan kelegaan akan hadirnya BRI.

Tak cuma memberi bantuan modal, BRI juga memberi mereka pelatihan. Terutama saat pandemic Covid-19 menerjang. Aktivitas wisata nyaris lumpuh karena operasional di sekitar Danau Lido dibatasi hanya pukul 16.00-20.00 WIB. Pendapatan mereka otomatis terjun bebas. Kehidupan ekonomi keluarga pun megap-megap.

Di saat kritis itulah BRI hadir memberi keringan cicilan utang mereka. Selain itu juga memberi pelatihan melalui zoom, seperti kiat-kiat meningkatkan pelayanan di tempat wisata (hospitalty), dan lainnya.

“Semua itu sangat membantu kami,” kata Indra.

Saat ini paguyuban perahu rakit sedang mengajukan pendanaan ke lewat program Desa Brilian. Kalau nanti berhasil rencananya akan dipakai untuk mengganti bangku-bangku kayu di perahu dengan bangku yang ada busanya. Indra juga berharap agar BRI terus memberikan pelatihan lainnya kepada mereka.

Tempat wisata ini buka pukul 10.00-19.00 WIB setiap hari, tapi di bulan puasa wisata rakit beroperasi mulai pukul 16.00 WIB. RMYT dan perahu rakit tutup saat Hari Raya Idul Fitri dan buka kembali pada Lebaran ke-3.

Peran BRI dalam kemajuan Perahu Rakit Danau Lido

Danau Lido BogorPimpinan BRI Bogor Dewi Sartika (Bordes) Fahmi Hidayat Foto: (bonauli/detikcom)

Pimpinan BRI Bogor Dewi Sartika (Bordes) Fahmi Hidayat menceritakan POV-nya bermitra dengan UMKM perahu rakit di Danau Lido. Ia menjelaskan bahwa BRI mencoba mengembangkan ekosistem kluster yang memang sudah ada.

“Jadi kita ekosistem sehingga kita ketika akan edukasi literasi keuangan terkait dengan simpanan maupun pinjaman, terkait dengan digital payment dan lain sebagainya, itu lebih gampang tersampaikan,” ucapnya pada Jumat (21/3) di KC BRI Bordes.

Paguyuban yang sudah berjalan di Danau Lido bisa dikatakan erat. BRI mencoba memberdayakan klaster tersebut dengan menjaga komunikasi lewat mantri hingga pimpinan wilayah. Karena dengan adanya komunikasi, maka fasilitas-fasilitas seperti pendanaan untuk modal akan lebih mudah disampaikan.

Fahmi mengatakan bahwa BRI membantu klaster ini dengan fasilitas pendanaan di masa pandemi. BRI tak hanya memikirkan profit, tapi juga bagaimana merawat usaha atau nasabah yang terkena pandemi, sehingga dibuatlah restrukturisasi.

“Harapan kami dengan kami adakan klaster, mereka lebih berkembang secara ekonomi pendapatan mereka jauh lebih berkembang. Saya yakin ketika dikelola dengan baik bersama-sama BRI dan Pemda ya, Pemda itu bisa desa, bisa kabupaten bersama-sama dengan masyarakat, ini potensi yang luar biasa untuk dikembangkan,” pungkasnya.

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com

7 Pesona Palembang di Balik Sorotan Rendang Hilang: Sejarah dan Wisata



Jakarta

Palembang, kota yang belakangan ini menjadi sorotan, memiliki daya tarik yang jauh melampaui kontroversinya. Palembang pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya, memiliki Sungai Musi, dan kuliner khas pempek.

Palembang sedang disorot setelah konten kreator Willie Salim dinilai merusak citra masyarakat Palembang. Kegaduhan itu bermula ketika Willie membuat konten memasak 200 kilogram daging rendang di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) pada Selasa (18/3/2025). Di tengah proses memasak, Willy meninggalkan lokasi untuk pergi ke toilet.

Saat kembali lagi, rendang 200 kilogram yang belum masak sempurna itu sudah habis direbut warga. Rendang tersebut raib hanya dalam waktu semenit.


Kejadian itu menuai reaksi dari berbagai kalangan, termasuk di media sosial. Banyak yang menyudutkan warga Palembang terkait peristiwa hilangnya rendang itu. Warga Palembang juga tidak terima hingga melaporkan Willie ke kepolisian.

Peristiwa itu menjadi sorotan yang kontras dengan citra Palembang yang kaya akan budaya dan kuliner. termasuk, lokasi pembuatan konten itu di Benteng Kuto Besak (BKB).

Berikut fakta tentang Palembang ibu kota Sumatera Selatan dan Benteng Kuto Besak:

1. Tentang Benteng Kuto Besak

BKB, yang menjadi salah satu landmark Kota Palembang, adalah tempat bersejarah peninggalan Kesultanan Palembang yang berada di Jalan Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Dilansir palembang.go.id, menurut sejarah, Benteng Kuto Besak merupakan bagian bangunan istana keraton Palembang Darussalam dari abad ke-18.

BKB dibangun pada 1772 dengan diprakarsai oleh Sultan Muhammad Bahaudin bin Susuhunan Ahmad Najmuddin Adi Kesumo yang memerintah kesultanan Palembang pada saat itu. BKB diresmikan pada 23 Februari 1790. Artinya, lama pembangunan Benteng Kuto Besak sekitar 18 tahunan.

Benteng Kuto Besak memiliki tinggi sekitar 9,9 meter kaki, dengan panjang 288,75 meter x 183,75 meter, dan tebal dinding 1,99 meter. Benteng itu berdiri mengarah ke arah tenggara dan Sungai Musi. BKB terbuat dari batu bata yang direkatkan oleh bahan yang terbuat dari batu kapur. Bahan tersebut didatangkan dari daerah pedalaman Sungai Ogan.

BKB dibangun dengan tujuan menjadi dinding pertahanan (bastion) kerajaan Palembang Darussalam dari serangan musuh sekaligus dijadikan sebagai tempat pusat kesultanan Palembang pada masa Sultan Mahmud Badaruddin II (1803-1821).

2. Kota Tertua di Indonesia

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia berdasarkan prasasti Sriwijaya atau Prasasti Kedudukan Bukit. Prasasti itu berangka tahun 16 Juni 682.

Dulu Palembang adalah ibu kota Kerajaan Sriwijaya, sebuah kerajaan maritim yang berpusat di muara Sungai Musi, Sumatera Selatan. Kerajaan itu berkembang menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan di Asia Tenggara pada abad ke-7 M.

3. Sungai Musi

Sungai Musi menjadi jantung kota sejak zaman Sriwijaya. Sungai itu membelah Palembang menjadi dua bagian yaitu Ilir di utara dan Ulu di selatan. Sungai Musi merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera dengan panjang 750 km.

4. Julukan Kota

Palembang memiliki beberapa julukan yang melekat, diantaranya: Bumi Sriwijaya, Kota Pempek, dan Venice of the East.

5. Landmark Palembang:

  • Jembatan Ampera: ikon kota yang menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir, menjadi simbol kemegahan Palembang, dibangun pada tahun 1962. Nama Ampera kependekan dari Amanat Penderitaan Rakyat, sebagai slogan bangsa Indonesia pada tahun 1960.
  • Benteng Kuto Besak: benteng peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam, menyimpan sejarah perjuangan melawan penjajah.
  • Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I: salah satu peninggalan Kesultanan Palembang. Pendirinya adalah Sultan Mahmud Badaruddin I Jaya Wikramo. Pembangunan masjid ini memakan waktu 10 tahun, dari tahun 1738 sampai 1748. Peletakan batu pertama pembangunan masjid dilakukan pada 1 Jumadil Akhir 1151 H (1738 M). Masjid ini pertama kali diresmikan pemakaiannya pada 26 Mei 1748.
  • Pulau Kemaro: pulau yang berada di tengah Sungai Musi dan memiliki kelenteng yang sangat indah.
  • Al-Qur’an Al-Akbar: Al-Qur’an raksasa dengan ukiran indah, menjadi daya tarik wisata religi.

6. Kuliner Palembang

  • Pempek: makanan khas berbahan dasar ikan dan sagu, dengan berbagai jenis seperti pempek kapal selam, lenjer, dan adaan.
  • Tekwan: sup ikan dengan bola-bola sagu, bercita rasa gurih dan segar.
  • Model: mirip tekwan, tetapi dengan tambahan tahu dan isian telur.
  • Martabak HAR: martabak dengan cita rasa khas India yang sudah sangat legendaris

7. Pariwisata Palembang:

  • Wisata Sejarah:

    Mengunjungi situs-situs bersejarah seperti Benteng Kuto Besak, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, dan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya.

  • Wisata Sungai Musi:

    Menikmati keindahan Sungai Musi dengan naik perahu atau kapal wisata, mengunjungi Pulau Kemaro, dan menikmati suasana malam di tepi sungai.

  • Wisata Kuliner:

    Mencicipi berbagai kuliner khas Palembang di pasar tradisional atau restoran terkenal.

  • Wisata Belanja:

    Mengunjungi pusat perbelanjaan modern atau pasar tradisional seperti Pasar 16 Ilir untuk mencari oleh-oleh.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Terkuak, Jakarta Kalah Macet dari Bandung



Jakarta

Kemacetan lalu lintas masih menjadi momok di banyak kota besar, tak terkecuali di Indonesia. Platform TomTom Traffic baru saja merilis daftar kota termacet di dunia dan hasilnya cukup mengejutkan. Kota mana saja yang masuk daftar?

TomTom Traffic Index enggak cuma asal tebak, namun memakai data perjalanan rata-rata dan tingkat kemacetan yang dihitung secara detail. Termasuk, memakai ‘mata-mata’ berupa floating car data (FCD) yang diambil dari kecepatan dan lokasi kendaraan secara real-time. Data itu didapat dari fitur GPS di perangkat pengguna.

Metode ‘Detektif’ Kemacetan Ala TomTom Traffic

TomTom Traffic ini seperti detektif yang menganalisis kemacetan. Mereka enggak cuma lihat jalanan yang macet, tapi juga faktor-faktor lain yang bikin macet makin parah. Ada tiga faktor utama yang mereka amati.


Yang pertama, faktor kurasi-statis, yang seperti identitas’ jalan, mulai dari ukuran, kapasitas, batas kecepatan, sampai jenis jalannya, kemudian faktor dinamis yang merupakan penyebab lalu lintas berubah-ubah, di antaranya perbaikan jalan, cuaca buruk, dan kemacetan itu sendiri. Kemudian, yang ketiga adalah faktor statis, yakni waktu perjalanan optimal di kota tertentu.

Dengan faktor-faktor itu, bisa diketahui kapan jalanan seharusnya lancar. Dengan menggabungkan semua data ini, TomTom Traffic bisa memetakan kota mana yang paling ‘menyiksa’ buat para pengendara.

Kota-Kota ‘Neraka’ Lalu Lintas di Indonesia

Ini dia daftar kota termacet di Indonesia:

  1. Bandung, Jawa Barat: Waktu tempuh rata-rata per 10 km: 32 menit 37 detik
  2. Medan, Sumatera Utara: Waktu tempuh rata-rata per 10 km: 32 menit 3 detik
  3. Palembang, Sumatera Selatan: Waktu tempuh rata-rata per 10 km: 27 menit 55 detik
  4. Surabaya, Jawa Timur: Waktu tempuh rata-rata per 10 km: 26 menit 59 detik
  5. Jakarta: Waktu tempuh rata-rata per 10 km: 25 menit 31 detik

Kota Termacet di Dunia

Ternyata, kota termacet di dunia itu ada di Barranquilla, Kolombia. Waktu tempuh rata-rata per 10 km di sana mencapai 36 menit 6 detik! Wah, bisa sembari nonton drakor di jalan tuh!

Kalau di Asia, kota termacetnya ada di Kolkata, India. Waktu tempuh per 10 km di sana mencapai 34 menit 33 detik.

Di Asia Tenggara, kota termacetnya ada di Davao City, Filipina. Waktu tempuh mencapai 32 menit 59 detik untuk jarak 10 km. Filipina juga enggak mau ketinggalan macetnya.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Tak Ada yang Tahu Siapa Pendirinya



Lombok Timur

Ada sebuah masjid tua di Lombok Timur yang punya misteri. Tidak ada orang yang tahu siapa pendiri masjid tersebut. Kok bisa?

Masjid Songak merupakan situs budaya di Desa Songak, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Warga menyebutkan sebagai masjid bengan (tua).

Sebutan itu bukan tanpa alasan. Sebab, Masjid Tua Songak telah berdiri sejak lama. Bahkan, masjid itu telah ada sebelum masyarakat di Desa Songak bermukim.


Walhasil, tidak satu pun masyarakat desa setempat yang mengetahui waktu pendirian masjid tersebut.

“Pada dasarnya semua orang di Desa Songak ini tidak tahu persis kapan didirikan masjid ini,” ungkap Murdiyah, salah satu tokoh lembaga adat di Desa Songak, ketika ditemui di pelataran Masjid Tua Songak, Minggu (23/3/2023).

Sampai saat ini, belum ada bukti maupun catatan sejarah mengenai waktu dan tokoh yang mendirikan Masjid Tua Songak. Maka dari itu, waktu pendirian dan sosok yang membangun masjid itu belum terungkap.

Saat ditemukan, di dalam masjid hanya terdapat beberapa benda, seperti tombak dan juga gulungan berisi teks khotbah. Berbagai benda yang dianggap bersejarah itu hingga kini masih disimpan di Masjid Tua Songak.

Namun, menurut Murdiyah, beberapa sumber dari hasil penelitian para akademisi mengungkapkan keberadaan masjid tersebut telah ditemukan 30 tahun sebelum Gunung Samalas meletus. Menurut catatan sejarah, Gunung Samalas meletus pada tahun 1.258 Masehi.

Murdiyah juga menuturkan asal muasal keberadaan Desa Songak. Salah satu desa di Pulau Lombok ini pertama kali ditempati seorang tokoh bernama Guru Kodan yang berasal dari Jurang Koak.

“Konon Guru Kodan ini asalnya dari Desa Leaq atau dikenal dengan Desa Pamatan, beliau dan pengikutnya awalnya dahulu mengungsi ke Jurang Koak karena letusan Gunung Samalas,” tutur Murdiyah.

Guru Kodan dan pengikutnya mendatangi Desa Songak dan menemukan Masjid Kuno Songak. Sejak saat itulah Guru Kodan dan pengikutnya menetap di desa tersebut.

Masjid Sudah Direnov Berulang Kali

Masjid Tua Songak sudah dilakukan beberapa kali direnovasi. Tujuannya supaya bisa dimanfaatkan untuk beribadah oleh masyarakat desa setempat.

Pantauan detikBali, beberapa struktur bangunan sudah dilakukan perbaikan, seperti lantai masjid yang dipasangi keramik dan bagian atap dari ilalang sudah dilakukan peremajaan. Bangunan masjid juga mengalami perluasan di area teras agar bisa menampung jemaah lebih banyak.

“Ada sebuah kaidah Nahdlatul Ulama yang mengatakan peliharalah apa adanya dan manfaatkanlah sebagaimana fungsinya, jadi ini yang kami pegang selama ini,” terang Murdiyah.

Situs Budaya Masjid Tua Songak di Desa Songak, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, NTB, tampak dari halaman depan, Minggu (23/3/2025). (Sanusi Ardi W/detikBali)Situs Budaya Masjid Tua Songak di Desa Songak, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, NTB (Sanusi Ardi W/detikBali)

Berdasarkan kaidah itu, tutur Murdiyah, masyarakat Desa Songak melakukan pemeliharaan bangunan masjid dan menggunakan sebagaimana fungsinya, yakni sebagai fasilitas untuk beribadah. “Jadi ini tujuan kami merehabnya supaya bisa digunakan untuk beribadah,” ungkapnya.

Meski berulang kali direhabilitasi, beberapa keaslian bentuk bangunan masih dipertahankan. Salah satunya empat tiang yang menjadi penyangga di dalam areal masjid. Luas masjid juga masih dipertahankan sampai sekarang, yakni 9×9 meter persegi.

“Itu kami tidak boleh ubah. Sampai sekarang ukurannya tetap sama, yaitu 9×9 meter. Kalau di bagian atap itu sudah diperbaiki 15 tahun sekali. Begitu juga dengan lantainya, kami pasang keramik supaya masyarakat nyaman beribadah,” ungkap Murdiyah.

3 Ritual Adat di Masjid Tua Songak

Terdapat tiga ritual khusus di Masjid Tua Songak, yaitu Ritual Bubur Beaq yang dilaksanakan pada Muharram, Bubur Puteq pada Safar, dan Maulid Adat pada Rabiul Awal. Bubur Puteq dilaksanakan seperti ritual batiniah, yaitu zikir dan doa.

Sementara Bubur Beaq adalah ritual khusus bagi orang-orang yang lahir pada Safar. “Mereka ke sini biasanya mengambil air untuk diminum setelah zikir dan doa supaya sifat-sifat buruk pada dirinya bisa hilang,” jelas Murdiyah.

Kemudian, Mulud Adat dilakukan pada 12 Rabiul Awal, tepat saat kelahiran Rasulullah SAW. Sesuai keyakinan masyarakat setempat, orang-orang beramai-ramai untuk membuat Minyak Songak, obat yang terkenal manjur di Lombok.

Proses pembuatannya dilakukan secara tradisional dan dikerjakan selama satu malam suntuk sebelum matahari terbit.

“Setelah Minyak Songak ini selesai dibuat oleh masyarakat di tempatnya masing-masing, barulah keesokan harinya mereka membawanya ke masjid untuk dibacakan doa dan zikir oleh para tokoh adat dan tokoh agama,” tutur Murdiyah.

Tak hanya minyak, masyarakat Desa Songak yang memiliki senjata pusaka juga dibawa ke masjid untuk dimandikan air kembang atau yang disebut ‘wukuf’.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Nonton Aksi Mendebarkan di Trans Studio Cibubur



Depok

Manfaatkan momen Jakarta yang lebih sepi dan nikmati liburan Lebaran penuh keseruan di Trans Studio Cibubur! Yuk, ajak keluarga dan teman-teman untuk merasakan pengalaman tak terlupakan.

Saat Lebaran tiba, Jakarta berubah menjadi lebih lengang karena banyak warga yang mudik ke kampung halaman. Ini adalah kesempatan emas untuk menikmati berbagai destinasi wisata tanpa harus terjebak kemacetan! Jika kamu mencari tempat liburan seru bersama keluarga, Trans Studio Cibubur adalah pilihan yang tepat!

Trans Studio Cibubur menawarkan pengalaman tak terlupakan dengan beragam wahana kelas dunia di dalam Indoor Theme Park. Aksesnya pun super mudah! Hanya 15 menit dari Jakarta melalui Tol JORR, kamu bisa sampai dengan cepat dan nyaman.


Atraksi Spesial: S.W.A.T RAID Vs CLOWN CRAZE SHOW

Lebih dari sekadar taman bermain, Trans Studio Cibubur menghadirkan atraksi spektakuler S.W.A.T RAID Vs CLOWN CRAZE SHOW yang berlangsung mulai 28 Maret hingga 7 April 2025. Dalam pertunjukan ini, kamu akan menyaksikan aksi heroik pasukan S.W.A.T dalam menghadapi para penjahat berkostum Clown yang meneror kota.

Kenapa wajib nonton?

  • Pertunjukan penuh aksi dengan efek spesial ala film Hollywood
  • Durasi 30 menit yang mendebarkan dan memukau
  • Pengalaman imersif yang cocok dinikmati bersama keluarga
  • Wahana Ekstrem dan Edukatif untuk Semua Usia

Selain menikmati show spektakuler, kamu juga bisa menjajal berbagai wahana seru di Trans Studio Cibubur, seperti:

  • Boomerang Hyper Coaster
  • Alien Taxi
  • Pacific Rim & Formula Kart
  • Snow Playground
  • Science Center

Jangan lewatkan kesempatan menikmati keseruan ini dengan harga spesial:

Periode 1-7 April 2025: Tiket hanya Rp195.000 dari harga reguler Rp325.000.

Tiket bisa dibeli langsung di loket tiket atau secara online di www.transentertainment.com. Jangan sampai kehabisan.

Jam Operasional Selama Libur Lebaran

1-7 April 2025: 11.00 – 19.00 WIB (buka setiap hari Senin-Minggu)

(ddn/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Bukit Fatukopa yang Keramat di Timor Tengah Selatan



Timor Tengah Selatan

Bukit Fatukopa adalah destinasi alam memukau di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Lebih dari itu, bukit ini dianggap keramat oleh masyarakat.

Bukit Fatukopa memadukan keindahan alam, sejarah, dan keunikan budaya. Bukit ini dikenal sebagai bukit kapur yang ditumbuhi vegetasi khas hutan tropis. Bukit ini memberikan suasana asri yang jarang ditemui di tempat lain.

Dalam bahasa Atoin Meto, Fatukopa berarti “Batu Kapal” (Fatu = Batu, Kopa = Kapal). Nama ini diberikan karena bentuk batu kapur di bukit tersebut menyerupai kapal jika dilihat dari sudut tertentu.


Menurut legenda, bukit ini dianggap sebagai bahtera Nabi Nuh yang karam, sekaligus dipercaya sebagai asal mula nenek moyang orang Timor.

Sebagai tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat Suku Dawan, pendakian ke Bukit Fatukopa harus melalui izin kepala suku setempat.

Dari Kota So’e, ibu kota Kabupaten TTS, Bukit Fatukopa dapat ditempuh dengan perjalanan sekitar satu jam menggunakan kendaraan roda dua atau empat. Jaraknya sekitar 57 kilometer (km) dengan rute yang cukup menantang.

Jalan menuju lokasi dipenuhi pepohonan lebat dan medan yang terjal, tapi pemandangan alam sepanjang perjalanan membuat setiap tantangan terasa sepadan.

Bukit ini menawarkan pemandangan yang luar biasa, terutama saat matahari terbit dan terbenam. Cahaya keemasan yang memancar dari matahari memberikan nuansa eksotis yang menambah pesona Fatukopa.

Vegetasi tropis yang tumbuh di sekitar bukit semakin memperindah suasana alami dan menghadirkan kedamaian bagi siapa saja yang berkunjung.

Meskipun medan menuju Bukit Fatukopa cukup sulit, beberapa fasilitas sederhana tersedia, seperti area parkir, toilet, dan area camping. Tidak ada biaya tiket masuk untuk mengunjungi bukit ini, menjadikannya pilihan wisata yang terjangkau.

Namun, pengunjung disarankan memastikan kendaraan dalam kondisi prima karena kondisi jalan yang terjal dan menantang. Bagi mereka yang mencari pengalaman berbeda, Bukit Fatukopa adalah destinasi yang ideal.

Selain keindahan alam, tempat ini juga menawarkan perjalanan yang penuh petualangan, serta kesempatan untuk menyelami budaya lokal masyarakat Suku Dawan.

Bukit Fatukopa terbuka untuk pengunjung setiap hari, mulai dari pagi hingga malam hari. Fleksibilitas waktu ini memungkinkan wisatawan menikmati pesona Fatukopa kapan saja sesuai keinginan.

Bukit Fatukopa bukan sekadar tujuan wisata, tapi perpaduan antara keindahan alam, kisah legenda, dan pengalaman budaya yang mendalam.

Dengan pemandangan yang menawan dan suasana yang tenang, Bukit Fatukopa menawarkan pengalaman yang sulit dilupakan. Jadi, jika Anda ingin menjelajahi keajaiban alam di Nusa Tenggara Timur, Bukit Fatukopa adalah destinasi yang tidak boleh dilewatkan.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Di Sel Ini, KH Hasyim Asy’ari Pernah Dipenjara Tentara Jepang



Mojokerto

Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari ternyata pernah dipenjara di Mojokerto. Begini penampakan di dalam selnya:

Pahlawan Nasional sekaligus pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang itu rela ditahan di dalam penjara dan disiksa oleh tentara kolonial Jepang demi mempertahankan akidah Islam.

Mbah Hasyim dipenjara di kamar nomor 2, blok tahanan Lapas Kelas IIB Mojokerto. Sampai sekarang, kamar sel penjara itu masih ada dan dipertahankan bentuknya.


Kepala Lapas Mojokerto Rudi Kristiawan, menjelaskan pihaknya sengaja menjaga sel nomor 2 ini menjadi tempat yang bersejarah. Sebab di sel ini lah Mbah Hasyim pernah ditahan oleh tentara kolonial Jepang.

“Sebagai penghormatan kami kepada beliau sebagai tokoh dan pahlawan nasional pendiri NU. Seperti kata Bung Karno, jasmerah, jangan melupakan sejarah,” terangnya kepada wartawan di lokasi, Sabtu (22/3/2025).

Tapak Tilas Sel KH Hasyim Asy'ari di MojokertoTapak Tilas Sel KH Hasyim Asy’ari di Mojokerto Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim

Dari luar, kamar nomor 2 di blok tahanan Lapas Kelas IIB Mojokerto ini berbeda dengan sel lainnya. Sebab terdapat lambang NU pada sisi kanan dan kiri pada atas pintu sel.

‘Kapasitas 5 Orang’ terukir persis di atas pintunya. Namun pada kenyataannya kamar ini dihuni oleh 13 orang tahanan.

Begitu memasukinya, ciri khas bangunan bikinan Belanda sangat jelas, dindingnya tebal dan jendelanya besar. Kamar berukuran 5×4 meter setinggi 5,5 meter ini dilengkapi 2 ventilasi udara dan teralis besi yang masih kokoh.

Mayoritas bangunan sel ini tetap sama sejak dibangun pada zaman penjajahan. Kecuali lantai keramik putih, toilet di sebelah kiri pintu, warna dinding, serta perkakas di dalamnya.

Kehadiran KH Hasyim Asy’ari atau Mbah Hasyim begitu terasa di dalamnya. Sejumlah foto kakek KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dipajang rapi di tembok. Beberapa kitab suci Al-Qur’an juga tertata rapi di rak.

Bahkan, warna dinding dipertahankan hijau karena identik dengan warna Nahdlatul Ulama (NU), organisasi masyarakat terbesar di Indonesia.

Kisah Penahanan KH Hasyim Asy’ari

Rudi menjelaskan, Mbah Hasyim ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh tentara kolonial Jepang karena menolak seikerei. Yaitu ritual membungkuk ke matahari saat terbit sebagai penyembahan ke Dewa Matahari atau Amaterasu, serta penghormatan kepada Hirohito, Kaisar Jepang zaman itu.

Tentu saja pendiri Ponpes Tebuireng ini tegas menolaknya karena bertentangan dengan akidah Islam. Awalnya, Mbah Hasyim ditahan di Lapas Jombang pada minggu kedua Maret 1942.

Namun gelombang unjuk rasa para santri membuat penahanannya dipindahkan ke Pendjara Poerwotengah yang kini menjadi Lapas Kelas IIB Mojokerto di Jalan Taman Siswa, Kota Mojokerto pada 11 April 1942.

Selama di Pendjara Poerwotengah, Mbah Hasyim ditempatkan di sel nomor 2. Ia mengalami penyiksaan yang pedih. Jemarinya dihantam palu berulang kali oleh serdadu Nippon. Meski begitu, ia tetap teguh pada akidahnya. Bahkan, ia berulang kali khatam Al-Qur’an dan Hadist Imam Bukhari.

“Almarhum KH Hasyim Asy’ari ditahan di sini selama 4 bulan. Keteguhan dan kekuatan spiritualnya mengalahkan rasa sakit penyiksaan tentara Jepang,” jelasnya.

Tentara kolonial Jepang lantas memindahkan Mbah Hasyim ke Penjara Kloben atau Bubutan di Surabaya pada 18 Agustus 1942. Sekitar 3 bulan kemudian, ia dibebaskan berkat diplomasi para kiai besar, serta perjuangan para santri dan pahlawan zaman itu. Salah satunya peran KH Abdul Wahab Chasbullah, pendiri NU dan Ponpes Tambakberas, Jombang.

Pemerhati sejarah Mojokerto, Ayuhanafiq menuturkan Mbah Hasyim tiba di Pendjara Poerwotengah pada 11 April 1942 menjelang magrib. Santri Mbah Hasyim, Mansyur Solikhi menyaksikan langsung pemindahan ulama besar Indonesia ini.

Sebab kala itu, Mansyur juga ditahan tentara Jepang di sel nomor 1 yang bersebelahan dengan sel Mbah Hasyim. Santri Ponpes Tebuireng ini ditahan sejak Maret 1942 karena terlibat rayahan, yaitu menjarah harta milik orang Belanda pada masa transisi penjajahan.

Selama di Pendjara Poerwotengah, Mansyur akrab dengan Abdoel Djalil, sipir kenalan ayahnya. Sehingga ia mudah mendapatkan kiriman makanan dari orang tuanya. Termasuk selimut untuk mengurangi dinginnya lantai penjara. Kala itu, ia merelakan selimutnya untuk sang guru.

“Saat Mbah Hasyim sudah masuk ke sel tahanan, Mansyur Solikhi memanggil Djalil yang baru selesai memeriksa tiap ruangan. Ia menyerehkan selimutnya kepada Djalil agar diberikan kepada Mbah Hasyim,” ungkapnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJatim.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ini Nih Pulau Terpadat di Kepulauan Seribu



Jakarta

Kepulauan Seribu popular sebagai tempat liburan dengan keindahan pantainya. Tapi ternyata ada satu pulau yang bukan tempat liburan dan berpredikat sebagai pulau dengan populasi terpadat.

Adalah Pulau Panggang yang bukan destinasi wisata dan merupakan pulau dengan populasi terpadat di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pulau Panggang berada di Kecamatan Pulau Seribu Utara.

Pulau Panggang memiliki luas 0,09 km persegi dengan jumlah penduduk kepala keluarga 2.003.


detikTravel mendapat kesempatan untuk berkeliling langsung ke pulau itu. Rumah penduduknya cenderung rapat-rapat, menyisakan gang-gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh motor dan sepeda sebagai jalur transportasi.

Imelda (25), lulusan perawat dari Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Yogyakarta, merupakan seorang yang lahir dan besar di pulau itu. Asli putri daerah, anak kesembilan dari sebelas bersaudara itu mengakui bahwa Pulau Panggang memang sangat padat.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuImelda, warga Pulau Panggang di Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

“Pulau Panggang bukan pulau liburan, cara berpakaian turis tidak bisa diterapkan di sini,” kata Imelda pada Senin (24/3).

Pulau Panggang Saat Ramadan

Bertepatan dengan bulan Ramadan, Imelda menceritakan kebiasaan warga yang tak biasa. Kalau biasanya berburu takjil jadi kegiatan saat ngabuburit, di Pulau Panggang lain lagi. Tidak ada yang berdagang takjil di sana, warganya membuka pesanan menu berbuka dalam grup obrolan Whatsapp.

“Enggak semua orang punya warung, ada yang PO juga. Jadi warga pesan di room chat lalu nanti diantar,” kata dia.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuPemukiman di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

Kondisi itu dikonfirmasi oleh Nining Kurnia (32), seorang ibu rumah tangga dengan empat anak. Sebagai warga pendatang dari Depok, Jawa Barat, dirinya cukup kaget dengan kebiasaan di Pulau Panggang.

“Iya, di sini enggak ada takjil. Kalau mau pesan lewat grup chat,” kata dia.

Nining menikah dengan pria asli Pulau Panggang, bahkan suaminya masih keturunan wali di sini. Setiap lebaran hari pertama, ia dan keluarga akan nyekar dan ziarah ke makan keluarga suami.

“Tapi kalau bukan keturunan wali di sini, biasanya nyekar di (lebaran) hari kedua,” kata dia.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuPulau Karya (bonauli/detikcom)

Tempat Pemakaman Umum (TPU) penduduk berada di seberang pulau, yaitu Pulau Karya. Hanya beberapa wali saja yang dikubur di area timur Pulau Panggang.

Imelda juga berkata hal senada. Dirinya biasanya nyekar di hari kedua. Ia ingat betul, usai salat Ied, warga akan berbondong-bondong naik motor (perahu motor) lalu menyeberang ke Pulau Karya.

“Ramai sekali, motor antre panjang mau masuk pulau,” kata dia.

Budaya lain saat Ramadan adalah petasan. Anak-anak di Pulau Panggang biasanya berkumpul di area pelabuhan untuk bermain petasan bersama. Bunyi petasan bersahut-sahutan, asap mesiu menyeruak mengisi langit-langit.

Sudah jadi budaya, anak-anak itu terlihat sangat piawai menyalakan petasan yang ‘masuk angin’. Mereka bahkan tak segan untuk melemparkan petasan ke sesama. Sesekali, orang tua yang lewat menghardik mereka untuk hati-hati. Namun, anak-anak itu tetap santai melanjutkan perang petasan. Sementara remaja-remaja tanggung sibuk main bola di lapangan.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuAnak-anak bermain petasan di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

Kumandang salat di masjid menggema seisi pulau. Pria dewasa bergegas menunaikan salat dan tarawih di masjid. Mereka berbaris mengambil air wudhu.

“Oiya, air di sini itu asin, bukan payau,” ucap Nining memberitahu satu lagi fakta tentang Pulau Panggang.

Tak semua rumah memiliki tampungan air hujan, beberapa menggali sumur untuk kebutuhan rumah tangga. Namun, kebanyakan warganya membeli air dari daratan untuk kebutuhan masak dan mandi. Untuk air minum, mereka lebih suka membeli air galon.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuPulau Panggang di Kepulauan Seribu (bonauli/detikcom)

Nining mengaku mengalami culture shock saat pertama kali datang ke Panggang. Sekujur tubuhnya melakukan penolakan dengan siraman air asin yang dilakukan tiap hari.

“Awalnya alergi sebadan-badan. Tapi lama-lama sudah biasa. Cuma kalau airnya lagi jelek, ya luka-luka,” ujarnya sambil menunjukkan bekas luka alergi pada tangan dan kaki.

Ada yang datang menetap, sebagian ingin pergi. Imelda adalah salah satu warga yang berkeinginan untuk melanjutkan hidup di luar pulau. Mimpinya, meraih sukses di Kuwait.

“Mungkin karena sudah dari kecil di sini, jadi sudah bosan. Sekarang mau berjuang untuk keluar dari sini,” katanya sambil tersenyum manis.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com