Tag Archives: keluarga

Merasakan Udara Sejuk Sembari Kulineran di Danau Setu Babakan



Jakarta

Sejuk, asri, damai, dan banyak pilihan makannya. Danau Setu Babakan mempunyai semua poin itu sehingga pas banget buat berwisata keluarga.

Jika kamu warga Jakarta dan tidak mempunyai waktu banyak untuk berlibur, melipir ke ujung selatan Jakarta untuk menuju ke kawasan Setu Babakan. Selain jadi tempat wisata edukasi, Setu Babakan juga punya danau yang asyik buat dinikmati.

Weekend adalah waktu yang pas untuk bersama keluarga, Sabtu (27/7/2024), detikTravel berkunjung destinasi ini. Terlihat deretan pedagang berjualan di dekat danau, banyak pedagang yang menjual makanan khas Betawi juga makanan lainnya.


Ada toge goreng, ketoprak, laksa, soto mie hingga jajanan lainnya. Menikmati kuliner di pinggir danau dengan angin sepoy-sepoy membuat hari yang cukup panas ini, jadi tak terasa panas.

Pepohonan besar di pinggiran danau seperti atap untuk pengunjung yang duduk-duduk di dekat danau. Menjelang tengah hari, kawasan Danau Setu Babakan mulai ditinggalkan oleh para pengunjung.

Biasanya memang ramai saat pagi hari untuk sarapan dan sore hari menjelang matahari terbenam. Menurut Aep, salah satu pedagang Soto Daging Betawi, mengatakan jika pengunjung beberapa minggu ini sedang sepi.

“Iya berubah jadi sepi aja gitu, biasanya rame hari Sabtu tuh udah beberapa minggu kaya begini aja,” katanya.

Aep juga menyebut lima tahun lalu masih banyak pengunjung yang menghabiskan waktu di Danau Setu Babakan ini. Biasanya Aep sudah berjualan di area ini sedari pagi hingga sore hari pukul 18.00 WIB.

“Ya namanya tempat begini jadi nggak tentu (pengunjungnya), ya tapi ada aja yang datang mah. Saya biasa jualan dari pagi, tadi aja jam lima subuh udah di sini, jualannya ya sampai jam 5 atau jam 6 lah. Kalau sepi mah jam 5 juga udah tutup,” kata Aep.

Dari pantauan di lokasi, sekitar pukul 13.00 WIB ternyata pengunjung mulai berdatangan kembali. Banyak dari pengunjung yang membawa anak-anaknya bersantai di Danau Setu Babakan.

Ahmad mengajak istri dan anaknya untuk makan siang tepi danau ini. Dia mengatakan suasana yang adem dan pilihan makanan yang beragam jadi penentu kedatangannya.

“Ini nganter anak ke sini pengen lihat ondel-ondel terus di sini wisata budayanya juga bagus. Iya ke (danau) sekalian cari makan aja, di sini enak dan nyaman untuk nyantai-nyantai, anginnya juga sejuk,” kata warga Depok itu.

Menurut pengunjung lainnya, Tia juga mengatakan liburan ke sini karena udaranya yang sejuk. Selain itu karena tak terlalu jauh dari kediamannya juga harga yang ditawarkan oleh pedagang di sini terbilang murah.

“Sengaja datang ke sini karena udaranya sejuk, lihat danau ya terus pengen ngerasain kuliner Betawi kan banyak di sini. (Ke sini) nyari yang deket-deket aja gitu loh terus murah meriah juga,” ujar Tia.

Untuk mengganjal perut di siang hari, detikTravel pun mencoba toge goreng khas Betawi yang nikmatnya meningkat saat dipadupadankan dengan bumbu oncom. Harga seporsi toge goreng ini hanya dibanderol Rp 15.000 saja.

Kudapan lainnya juga banyak di area ini, ada cakue, kue rangi, rujak, es potong, otak-otak hingga bakso bisa jadi pilihan untuk nongkrong di pinggir danau.

Bagi yang ingin berkunjung ke Danau Setu Babakan bisa melalui jalur pintu masuk Setu Babakan atau jika ingin langsung bisa tanya warga setempat untuk jalan langsung menuju ke area danau. Udara sejuk dengan suasana yang tenang, juga beragam kulinernya bisa jadi pilihan libur dekat juga murah yang ada di Jakarta.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Tahu Nggak, Rumah Ibu Bung Karno Ada di Bali Utara



Jakarta

Mungkin tak banyak orang tahu, jika ibu presiden pertama RI, Bung Karno berada di Bali. Rumah kecil itu sekarang telah menjadi cagar budaya.

Ibu Sukarno, Ni Nyoman Rai Serimben, berasal dari Buleleng, tepatnya berada di Dusun Bale Agung, Desa Paket Agung. detikcom berkesempatan datang ke kawasan Soekarno Heritage dan bertemu dengan Made.

Dia mengatakan di kawasan itu terdapat beberapa keluarga yang hidup seperti biasanya. Tidak ada pengamanan khusus atau larangan masuk kawasan cagar budaya ini. Namun, kawasan Soekarno Heritage tidak dibuka untuk umum.


Andai traveler ingin datang, harus ada pemberitahuan sebelumnya.

Cagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di BulelengCagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di Buleleng (Syanti Mustika/detikcom)

Sembari berkeliling, detikcom melihat beberapa rumah dan penghuninya saling bercengkrama. Juga terdapat lumbung padi yang masih berdiri kokoh dan digunakan masyarakat untuk menyimpan di musim panen.

Terlihat sebuah rumah panggung, yang dikatakan sebagai rumah tinggalnya kakek Soekarno yaitu Nyoman Pasek bersama istrinya Ni Made Liran, serta Made Pasek dan Nyoman Rai Srimben.

Naik ke rumah ini, kita bisa melihat silsilah lengkap dari keluarga ibunya Bung Karno. Terdapat sebuah papan yang menampilkan foto dan pohon silsilah keluarga mereka.

Di dinding-dinding rumah juga terpampang foto-foto Bung Karno bersama ibunya. Traveler juga bisa melihat patung Ni Nyoman Rai Serimben dengan pose duduk. Patung ini posisinya dekat dinding, namun berada di tengah-tengah.

Cagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di BulelengCagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di Buleleng (Syanti Mustika/detikcom)

Made pun menceritakan asal mula pertemuan ibu Bung Karno dengan ayahnya. Berasal dari keluarga beradat dan mengurus keagamaan, Serimben tak bisa sembarangan menikah. Sebagaimana adat Bali, tak boleh orang luar Bali mempersunting dirinya.

Rai Serimben di mata masyarakat sekitar dikenal sebagai wanita santun, gemar menari, dan punya keahlian menenun. Rai Serimben merupakan anak kedua dari pasangan I Nyoman Pasek dan Ni Made Liran. Diperkirakan ibunda Bung Karno itu lahir sekitar tahun 1881.

Pertemuan kedua orang tua Bung Karno

Singkat cerita, pada tahun 1890, Nyoman Rai Serimben bertemu dengan Raden Soekeni Sosrodiharjo, yang dia saat itu ditugaskan sebagai guru di Sekolah Rakyat (SR) 1 Singaraja (kini SDN 1 Paket Agung) oleh pemerintahan kolonial. Dia jatuh hati melihat Serimben menari.

” Dia jatuh cinta pada Serimben saat melihat Serimben menari rejang di Pura Bale Agung, tepat saat umanis galungan. Namun, mereka berdua sadar ada adat yang tidak bisa dilawan,” kata Made.

Lanjutnya, dua sijoli yang dimabuk cinta ini memutuskan untuk kawin lari. Tindakan Serimben ini sudah jelas melanggar aturan Bale Agung dimana tidak boleh menikah dengan ‘orang luar’.

Dikutip dari website Kemendikbud, pernikahan itu pun menyebabkan Raden Sukemi harus menjalani persidangan.

Pemerintah Belanda menganggap Sukemi menyebabkan kegaduhan di masyarakat, kegelisahan para tokoh, dan kekacauan pada sistem tatanan adat di Bale Agung. Dia dijatuhi sanksi denda sebesar 40 ringgit dan denda itu akhirnya dibayar Nyoman Rai Serimben dengan perhiasan yang ia miliki.

Cagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di BulelengCagar Budaya, Rumah Ibunya Bung Karno, Ni Nyoman Rai Serimben di Buleleng Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Sejak kawin lari, Serimben pun tak pernah pulang ke rumah gadisnya di perbekelan Bale Agung. Soekeni dan Serimben akhirnya tinggal di wilayah perbekelan Banjar Paketan tepatnya di rumah Pan Sedana Mertia.

Rumah yang ditinggali Soekeni dan Serimben sempat roboh karena usianya yang sudah terlampau tua. Namun rumah itu kembali dibangun dalam bentuk yang persis sama, hanya bahan bangunannya yang berbeda.

Semasa tinggal di rumah tersebut, Nyoman Rai Serimben melahirkan anak pertamanya, yakni Soekarmini. Raden Soekeni Sosrodiharjo, Nyoman Rai Serimben, dan Soekarmini akhirnya pindah ke Surabaya pada tahun 1900. Hingga akhirnya ia melahirkan Sukarno pada 6 Juni 1901.

Serimben pun tak pernah kembali lagi ke rumah gadisnya hingga mangkat pada Jumat Kliwon, 12 September 1958.

Megawati dan Puan Maharani pernah berkunjung

Made juga mengatakan putrinya Bung Karno, Megawati pernah datang ke rumah neneknya ini, Begitu juga Puan Maharani.

“Dulu. Sudah lama sekali Megawati datang ke sini. Puan juga pernah datang,” kata Made.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kisah Pulau Babi, Pernah Tenggelam ‘Ditelan’ Tsunami



Sikka

Di sebelah utara pulau Flores, ada pulau bernama unik. Namanya pulau Babi. Tak banyak yang tahu pulau ini pernah tenggelam ‘ditelan’ tsunami.

Pulau Babi merupakan sebuah pulau kecil yang berlokasi di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pulau ini menyajikan berbagai keindahan alam yang belum banyak dieksplorasi orang.

Lokasi Pulau Babi

Pulau Babi berlokasi di desa Parumaan, kecamatan Alok Timur, kabupaten Sikka. Meski seperti tak berpenghuni, namun Pulau Babi ternyata ditinggali oleh 30 kepala keluarga.


Kebanyakan dari mereka bekerja mengolah lahan perkebunan dengan bertani, beternak, dan juga bekerja sebagai nelayan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari.

Pulau Babi Ditelan Tsunami Dahsyat Tahun 1992

Pada 12 Desember 1992, pulau Babi pernah tenggelam akibat bencana tsunami dan gempa bumi dahsyat yang terjadi di pulau Flores bagian timur.

Akibat bencana alam tersebut, 263 orang meninggal dari 700 penduduk di pulau tersebut. Pasca bencana tsunami terjadi, pemerintah pun mengosongkan pulau tersebut.

Seluruh warga pulau Babi lantas dipindahkan ke desa Nangahale, kecamatan Talibura. Namun banyaknya lahan kosong di pulau Babi, membuat beberapa warga akhirnya kembali menghuni pulau itu.

Masyarakat yang kembali tinggal di pulau Babi akhirnya membangun kembali rumah mereka yang letaknya tidak jauh dari pesisir pantai.

Namun sekarang, mereka membuat rumah tempat tinggal dengan bentuk rumah panggung sebagai ciri khas masyarakat Bajo. Rumah itu dibangun menggunakan bahan-bahan lokal.

Daya Tarik Wisata Pulau Babi

Bencana tsunami dan gempa bumi yang melanda Pulau Babi pada 1992 silam merusak kehidupan laut di daerah tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, laut pun mulai pulih kembali.

Patahan laut di perairan Pulau Babi akibat bencana alam tersebut mulai ditumbuhi terumbu karang dan hidup ikan-ikan yang indah. Sehingga pulau Babi sekarang menjadi salah satu destinasi menyelam yang menakjubkan di Kabupaten Sikka.

Berikut 3 Daya Tarik Wisata Pulau Babi:

· Akibat bencana alam gempa bumi dan tsunami, tercipta patahan yang berbentuk jurang dengan panjang 100 meter dan kedalaman 10 hingga 20 meter. Patahan ini bisa dilihat jelas dari atas perahu motor

· Keindahan alam bawah laut, di mana pada dasar laut terdapat koral-koral berwarna, serta biota laut menarik lainnya.

· Pulau ini sangat cocok bagi penggemar olahraga air karena Anda bisa melakukan kegiatan snorkeling dan diving. Dengan jernihnya air laut dan kekayaan bawah laut, tentunya menjadikan tempat ini populer di kalangan wisatawan

Pesona bawah laut Pulau Babi juga pernah menjadi lokasi pengibaran bendera pada peringatan HUT RI yang ke-75, dengan melibatkan 22 penyelam lokal yang bersertifikat.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Pulau Air Raja yang Cantik tapi Terpencil di Batam



Batam

Di Batam, ada sebuah pulau yang cantik tapi terpencil. Namanya pulau Air Raja. Pulau ini menyimpan kisah legenda tersendiri. Seperti apa kisahnya?

Pulau Air Raja adalah salah satu pulau terpencil di kota Batam, kepulauan Riau. Pulau ini termasuk ke dalam wilayah kecamatan Galang dan kelurahan Air Raja.

Legenda Situs Perigi Air Raja

Keberadaan pulau ini tak bisa dilepaskan dari Situs Perigi Air Raja dan legenda di baliknya. Konon, sumber mata air itu punya khasiat tersendiri.


Di Pulau Air Raja, terdapat situs Perigi Air Raja. Dari situs itulah asal usul nama pulau ini berasal.

Alkisah, pada zaman dahulu, di masa pemerintahan Datuk Raja Munsang Arafah, rombongan Kerajaan Bintan berlayar menggunakan perahu Lancang Kuning ke Johor, Malaysia.

Rombongan kerajaan itu terdiri atas lima raja, 30 pengawal dan dua cucu kembar Datuk Raja Munsang Arafah. Di tengah perjalanan, perahu mereka dihantam badai besar, sehingga terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni.

Setelah tiga hari tiga malam terdampar, rombongan itu mulai kehabisan perbekalan. Mereka mencari sumber mata air ke seluruh penjuru pulau, namun setetes air pun tidak mereka temukan.

Kelima raja itu akhirnya berdoa kepada Tuhan untuk meminta pertolongan. Datuk Raja Munsang Arafah lalu memahat sebuah batu. Tiba-tiba saja, air mengalir dari batu yang dipahatnya.

Sang raja akhirnya membuat dua perigi yang diberi nama sesuai dengan cucunya, yaitu Putri Srikandi yang terletak di sebelah kiri dan Putri Cahaya Nilam di sisi kanan.

Datuk Raja Munsang Arafah beserta keluarga akhirnya tinggal di pulau ini sampai akhir hayat. Menurut warga setempat, air di perigi itu tidak akan pernah habis meski musim kemarau sekalipun.

Mata air dari perigi itu pun dipercaya berkhasiat dan bisa membuat panjang umur. Tak heran jika banyak wisatawan yang datang ke pulau Air Raja hanya untuk minum dan membawa pulang air dari perigi tersebut.

(wsw/msl)



Sumber : travel.detik.com

Fakta-fakta Aceh, Tuan Rumah PON XXI yang Tengah Disorot



Banda Aceh

Penyelenggaraan PON XXI di Aceh-Sumut tengah disorot publik karena banyak kontroversi. Berikut fakta-fakta menarik tentang Aceh, salah satu tuan rumah PON 2024.

Mulai dari venue pertandingan yang bobrok hingga makanan untuk para atlet yang dinilai tidak layak membuat Aceh tengah banyak diperbincangkan publik.

Dikenal dengan sebutan ‘Tanah Rencong’, Aceh memiliki karakteristik unik dan berbeda dari daerah lain di Nusantara. Provinsi ini terletak di ujung paling barat gugusan pulau Indonesia.


Aceh menjadi salah satu provinsi yang kaya akan sejarah, budaya, dan tradisi. Baik dari segi kuliner, budaya, hingga ragam sukunya. Aceh juga menawarkan pesona tersendiri yang patut untuk kita telusuri.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Aceh luasnya sekitar 56.839,09 km2. Menempati posisi strategis sebagai pintu gerbang lalu lintas di bagian barat Indonesia.

Berikut fakta-fakta unik yang perlu kamu ketahui tentang Aceh:

1. Dijuluki Sebagai Serambi Mekah

Sebagai provinsi paling barat di Pulau Sumatera, Aceh merupakan salah satu daerah pertama masuknya Islam di Indonesia. Selain itu, kota Aceh dikenal dengan tradisi Islam yang kuat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Dilansir dari laman resmi Pemerintahan Provinsi Aceh, Dosen Ilmu Sastra Universitas Sumatera Utara (USU) Supriyatno mengatakan Aceh merupakan bagian wilayah Indonesia pertama yang memeluk agama Islam.

Berdasarkan penuturannya, pada abad ke-7 Masehi wilayah Aceh pertama kali menerima kedatangan Islam yaitu Pasai, Aceh Utara dan Peurelak.

Pengaruh Islam terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh, termasuk dalam seni, musik dan arsitektur. Simbol budaya Aceh salah satunya adalah tari tradisional Saman yang dinamis dan penuh energi yang menjadi budaya keagamaan Islam di Aceh.

2. Kampung Bule di Desa Lamno

Kampung Bule di Indonesia ternyata ada lho di Aceh. Suku unik ini dikenal dengan Suku Lamno yang terletak di desa Lamno, pesisir barat Aceh.

Suku ini sangat istimewa karena warga Lamno memiliki ciri fisik berbeda dari kebanyakan orang Indonesia, yaitu hidung mancung, berpostur tinggi seperti orang Eropa, memiliki mata biru dan berambut pirang.

Warga desa Lamno adalah hasil kawin campur bangsa Portugis yang berdagang di Aceh dan menikahi penduduk setempat. Hal inilah menjadi saksi bisu dari percampuran budaya dan warisan genetik yang langka.

3. Bubur Memek dari Simeulue

Jika mendengar kata “memek”, kamu mungkin mengira ini adalah kata yang berkonotasi negatif. Namun di Aceh, khususnya di pulau Simeulue, “memek” adalah nama hidangan tradisional berbentuk bubur yang terbuat dari campuran pisang, beras ketan, santan, dan gula.

Bubur ini sering disajikan untuk menyambut tamu penting yang berkunjung ke Simeulue serta pada upacara adat. Salah satu warga Simeuleu, Almawati mengatakan mamemek memiliki arti mengunyah atau menggigit.

Memek, salah satu makanan khas Aceh.Memek, salah satu makanan khas Aceh. (Agus Setyadi)

Sejak zaman dahulu, nenek moyang mereka sering mengunyah beras ketan yang diolah dan dicampur pisang. Perlahan-lahan masyarakat menyebut makanan khas ini dengan sebutan memek.

“Masyarakat Simeuleu sejak zaman dahulu membuat bubur memek untuk disantap bersama keluarga, Hal inilah mewariskan makanan khas Simeuleu warisan leluhur,” Kata Almawati seorang warga Simeuleu.

Kuliner khas Pulau Simeulue ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia di tahun 2019. Rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut membuat bubur memek menjadi salah satu kuliner kebanggaan masyarakat Simeulue.

4. Bahasa Aceh yang Singkat dan Efisien

Bahasa Aceh juga memiliki keunikan tersendiri, terutama dalam hal singkatan beberapa kata yang digunakan sehari-hari. Contohnya kata “air kelapa” dalam bahasa Aceh diucapkan sebagai “Ie (air) dan Uk (Kelapa).”

Bahasa Aceh cenderung menggunakan kata-kata pendek namun tetap efektif dalam menyampaikan makna. Hal ini menunjukkan keefisienan komunikasi dalam budaya Aceh, dimana masyarakatnya terbiasa berbicara dengan cepat dan lugas.

5. Budaya Tarek Pukat

Budaya “Tarek Pukat” merupakan tradisi menangkap ikan yang dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat pesisir Aceh. Dalam tradisi ini, para nelayan menarik pukat atau jaring besar ke daratan bersama-sama.

Setelah ikan-ikan berhasil ditangkap, hasilnya akan dibagi rata di antara para nelayan. Selain sebagai mata pencaharian, budaya ini juga mencerminkan semangat kebersamaan dan solidaritas dalam masyarakat Aceh, terutama di komunitas pesisir.

Dengan kekayaan budaya dan tradisinya, Aceh bukan hanya sekedar provinsi di ujung barat Indonesia, tetapi juga simbol keberagaman dan kearifan lokal yang tetap hidup dan dihormati sampai hari ini.

Dari kuliner, suku, bahasa, hingga budaya gotong royong, Aceh menawarkan pesona unik yang membuatnya istimewa dan patut kita lestarikan.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

Rumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di Karawang



Karawang

Rumah Djiaw Kie Song di Karawang adalah destinasi wisata sejarah yang menyimpan kisah penculikan Soekarno-Hatta. Akses mudah dan tanpa tiket masuk.

Peristiwa bersejarah itu terjadi di Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada 16 Agustus 1945 atau sehari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pada hari itu, dua tokoh penting Indonesia, Sukarno dan Mohammad Hatta, diculik oleh golongan muda, di antaranya Soekarni, Shodancho Singgih, dan Jusuf Kunto. Mereka mendesak agar segera dilakukan proklamasi kemerdekaan.

Sukarno dan Hatta dibawa ke rumah seorang petani keturunan Tionghoa bernama Djiauw Kie Siong. Rumah Djiauw Kie Siong itu berada dii Dusun Bojong, Rengasdengklok, Kabupaten Karawang.


Rumah itu sudah ditempati Djiauw Kie Siong sejak 1920. Tetapi, rumah itu sudah tidak berada di tempat aslinya. Rumah itu telah dipindahkan dari tepi Sungai Citarum pada 1957

Kini, rumah Djiaw Kie Song itu tidak jauh dari pusat kota Karawang, hanya berjarak sekitar 19,9 km. Kendati telah dipindahkan, banyak elemen asli seperti bata merah, dinding kayu, dan genteng tradisional masih dipertahankan, menambah daya tarik bagi pengunjung.

Kini rumah itu masuk dalam daftar cagar budaya.

Ramai Setiap Agustus

Kini, rumah itu menjadi destinasi wisata. Menurut pemilik rumah, yang merupakan istri dari cucu Djiaw Kie Song, yang akrab disapa Bu Yanto, rumah itu biasa menerima pengunjung. Jam operasional dimulai dari pukul 08.00 hingga 17.00, tetapi jam tersebut dapat diperpanjang saat ada acara komunitas, terutama pada Agustus.

Ya, di bulan Agustus, banyak acara yang digelar di sini. Mereka menjadikan rumah itu tidak hanya sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga sebagai tempat ngumpul bareng menjelang 17 Agustus.

“Ramainya biasanya di bulan Agustus. Banyak sekali acara di sini pada bulan Agustus dan September, karena banyak peristiwa yang diperingati. Terakhir, komunitas pecinta alam sempat mengadakan acara di sini,” kata Bu Yanto dalam perbincangan dengan detikTravel.

Di bulan itu para pedagang di sekitar rumah turut ketiban rejeki. Mereka senang penjualan berlipat.

Mengenai perizinan untuk mengadakan acara, Bu Yanto menjelaskan, bahwa komunitas yang mengadakan acara di rumah bersejarah ini biasanya mengurus izin sendiri kepada RT dan RW, serta izin keramaian ke kepolisian.

“Tahapan untuk mengadakan acara di sini biasanya dimulai dengan izin dari saya atau suami. Namun, untuk perizinan di luar, seperti izin RT, RW, hingga izin keramaian ke kepolisian, itu mereka urus sendiri,” kata Bu Yanto.

Traveler tidak perlu khawatir mengenai biaya masuk, karena tidak ada biaya tiket yang dikenakan alias gratis. Pengunjung hanya pelru berdonasi sukarela yang digunakan untuk pemeliharaan bangunan.

Rumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di KarawangRumah Djiaw Kie Song, hidden gem wisata sejarah di Karawang (Asti Azhari/detikTravel)

Bangunan Tradisional

Bagi para traveler yang menyukai fotografi, rumah ini juga menawarkan banyak spot menarik. Struktur bangunan tradisional dengan bata merah dan atap genteng membuatnya sangat fotogenik, terutama saat matahari mulai terbenam.

Interior rumah yang kaya akan ornamen sejarah, seperti foto-foto lama dan replika kamar Soekarno, menambah daya tarik bagi wisatawan yang ingin menangkap momen unik melalui lensa kamera.

Rumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di KarawangRumah Djiaw Kie Song, Hidden Gem Wisata Sejarah di Karawang (Asti Azhari/detikTravel)

Lokasi Rumah Djiaw Kie Song sangat strategis di Karawang. Meskipun awalnya terletak di tepi Sungai Citarum, saat ini rumah ini berada di Kalimati, sebuah area yang telah berkembang pesat.

Akses menuju rumah ini cukup mudah dengan kendaraan pribadi, dan area parkir di sekitar rumah juga luas, sehingga nyaman bagi para pengunjung.

Bagi yang ingin membawa pulang oleh-oleh, rumah ini bersebelahan dengan warung yang menjual makanan dan minuman ringan, sehingga traveler dapat beristirahat sejenak sambil menikmati suasana sekitar.

Warung-warung kecil di sekitar lokasi juga menjadi tempat bertemunya pengunjung dan warga lokal, menciptakan suasana yang hangat dan autentik.

Traveler yang ingin belajar lebih banyak tentang sejarah juga akan menemukan bahwa rumah ini menyimpan banyak cerita yang jarang diungkapkan dalam buku sejarah.

Pemandu lokal, seperti Bu Yanto, cucu dari Djiaw Kie Song, siap memberikan wawasan mendalam mengenai peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di rumah ini, termasuk penculikan Soekarno-Hatta dan bagaimana rumah ini digunakan sebagai tempat merumuskan strategi perjuangan oleh para pemuda.

Bagi keluarga atau rombongan wisata yang berkunjung, rumah ini menawarkan suasana yang tenang dan nyaman untuk dijelajahi bersama. Lokasinya yang luas membuatnya ideal untuk berjalan-jalan, dan suasana pedesaan yang masih terasa memberikan pengalaman wisata yang berbeda dari hiruk-pikuk kota.

Dengan segala daya tariknya, Rumah Djiaw Kie Song tidak hanya penting dari segi sejarah, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang memperkaya pengetahuan traveler.

Jika Anda seorang traveler yang tertarik dengan wisata sejarah dan ingin memahami lebih dalam perjuangan bangsa Indonesia, rumah ini adalah destinasi yang wajib ada dalam daftar kunjungan traveler di Karawang.

Cara Menuju ke Rumah Djiaw Kie Song

Bagi yang memilih transportasi umum, traveler dapat naik angkot 07 atau 17 dari Stasiun Karawang menuju Tanjung Pura, dengan pemberhentian di daerah Bojong atau lampu merah menuju Rengasdengklok.

Waktu yang ditempuh jika menggunakan kendaraan roda 4 sekitar 40 menit, tetapi menyesuaikan juga dengan keramaian dan kondisi jalan menuju destinasi.

Rumah Djiaw Kie Song bukan hanya sekadar saksi sejarah penculikan Soekarno dan Mohammad Hatta pada 16 Agustus 1945, tetapi juga telah menjadi destinasi wisata yang menarik bagi para traveler.

Dengan akses yang mudah dan nilai sejarah yang kaya, rumah ini ideal bagi wisatawan yang ingin menjelajahi cerita kemerdekaan Indonesia. Traveler yang tertarik dengan sejarah akan menemukan pengalaman unik di rumah ini, di mana atmosfer perjuangan terasa di setiap sudutnya.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

5 Tips Sebelum Berkunjung ke Bali Zoo, Destinasi Favorit Keluarga di Bali



Jakarta

Bali Zoo adalah salah satu taman satwa paling populer di Bali yang menawarkan pengalaman wisata edukatif sekaligus menyenangkan. Terletak di Gianyar, Bali, Bali Zoo menjadi destinasi favorit keluarga yang ingin mengenal lebih dekat berbagai macam satwa dari seluruh dunia.

Tidak hanya melihat beragam hewan, pengunjung juga bisa merasakan pengalaman seru seperti Elephant Expedition, di mana kamu bisa berinteraksi langsung dengan gajah sambil menjelajahi Bali Zoo.

Agar kunjunganmu ke Bali Zoo semakin seru dan nyaman, berikut 5 tips yang bisa kamu ikuti!

1. Pakai Pakaian yang Nyaman

Saat berkunjung ke taman satwa Bali, kamu akan banyak berjalan-jalan di area terbuka. Kenakan pakaian yang ringan dan nyaman, seperti kaos dan celana pendek, serta sepatu yang cocok untuk berjalan jauh. Jangan lupa bawa topi dan kacamata hitam untuk melindungi diri dari terik matahari!


2. Bawa Sunblock dan Air Minum

Cuaca di Bali bisa cukup panas, jadi pastikan kamu membawa sunblock untuk melindungi kulit dari sinar matahari. Selain itu, bawa juga air minum sendiri agar tetap terhidrasi sepanjang perjalanan mengelilingi Bali Zoo.

3. Datang Lebih Awal

Agar kamu bisa menikmati semua atraksi dan aktivitas yang ada, usahakan datang lebih awal. Bali Zoo memiliki berbagai pertunjukan satwa yang diadakan pada waktu tertentu. Dengan datang pagi, kamu punya kesempatan lebih banyak untuk mengikuti setiap acara tanpa terburu-buru.

4. Coba Elephant Expedition

Selain melihat satwa dari jarak dekat, jangan lewatkan Elephant Expedition, salah satu atraksi andalan di Bali Zoo. Kamu bisa menaiki gajah dan menjelajahi area khusus sambil berinteraksi langsung dengan hewan besar ini. Pastikan untuk mencoba pengalaman unik ini bersama keluarga!

5. Beli Tiket Secara Online

Untuk menghindari antrean panjang, disarankan untuk membeli tiket masuk Bali Zoo secara online. Dengan begitu, kamu bisa lebih santai dan langsung menikmati keseruan di dalam taman. Kamu bisa membeli tiket dengan mudah di detikevent.

Dengan mempersiapkan semua kebutuhan sebelum berkunjung ke Bali Zoo, pengalaman liburanmu bersama keluarga pasti akan semakin menyenangkan dan tak terlupakan.

Ikuti tips-tips di atas agar perjalananmu lebih nyaman dan penuh keseruan. Jangan lupa, beli tiket secara online di detikevent untuk menghemat waktu dan menikmati Bali Zoo tanpa antre! Beli tiketnya sekarang juga di sini!

(ddn/fem)



Sumber : travel.detik.com

Cerita Mistis yang Menyelimuti Gedung Negara Cirebon



Cirebon

Di Cirebon ada satu bangunan bersejarah peninggalan era Hindia Belanda. Namanya Gedung Negara. Konon, cerita mistis menyelimuti gedung ini. Seperti apa?

Gedung Negara terletak di Kesenden, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Bangunan yang didominasi warna putih ini telah berdiri selama ratusan tahun dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kota Cirebon.

Menurut pegiat sejarah Cirebon, Putra Lingga Pamungkas, Gedung Negara dibangun sekitar tahun 1860-an. Dahulu, gedung ini digunakan sebagai rumah dinas dan kantor keresidenan Cirebon.


Lingga menjelaskan keresidenan merupakan bentuk pemerintahan pada masa Hindia Belanda yang setingkat dengan provinsi. Keresidenan Cirebon mencakup wilayah Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kuningan, Majalengka, Ciamis, dan Indramayu.

“Residen itu setingkat provinsi, gemeente setingkat kotapraja, bupati di kabupaten, district setingkat kecamatan, kewedanan setingkat desa, serta Gubernur Jendral yang menjadi setingkat presiden sebagai perwakilan atau penyambung lidah dari ratu Belanda,” tutur Lingga, belum lama ini.

Pembangunan Gedung Negara tidak terlepas dari hancurnya benteng Fort De Beschermingh, sebuah benteng yang dibangun oleh VOC pada sekitar tahun 1680 di Kebumen, dekat pesisir Cirebon. Saat masih berfungsi, benteng ini juga digunakan sebagai kantor oleh keresidenan Cirebon.

Namun, sekitar tahun 1840-an, terjadi ledakan bubuk mesiu di dalam benteng yang disebabkan oleh kelalaian seorang pegawai, yang mengakibatkan benteng tersebut hancur total.

Setelah Indonesia merdeka, Gedung Negara beberapa kali mengalami pergantian kepemilikan. Berdasarkan catatan, gedung ini pernah dikelola oleh pemerintah provinsi hingga Badan Koordinasi Daerah.

Gedung Negara CirebonGedung Negara Cirebon Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

Hingga kini, status kepemilikan Gedung Negara masih berada di tangan pemerintah. Pengunjung pun tidak diperbolehkan masuk ke dalam Gedung Negara.

Namun terdapat taman di samping gedung yang memiliki kandang rusa dan burung merak. Pengunjung bisa menghabiskan waktu dengan melihat dan memberi makan rusa, menjadikan tempat ini tujuan alternatif untuk berlibur di Cirebon.

Cerita Mistis Menyelimuti Gedung Negara

Sebagai bangunan tua, Gedung Negara memiliki beberapa cerita mistis. Salah satunya paparkan oleh penjaga Gedung Negara, Mulyono. Ia mengatakan memang ada beberapa orang yang pernah mengalami kejadian mistis di Gedung Negara.

“Memang ada saja beberapa tamu yang menginap di sini, terus pada minta pindah. Katanya, ada yang gangguin, kayak mendengar suara-suara seperti anak kecil, atau suara perempuan noni Belanda,” tutur Mulyono.

Meski sering mendengar cerita mistis, Mulyono mengaku tidak terlalu memedulikannya.

“Kalau bagi saya yang sudah lama bekerja di sini, hal seperti itu biasa saja,” katanya santai.

Gedung Negara memiliki beberapa ruangan, termasuk aula yang dipenuhi perabotan antik berusia ratusan tahun.

“Untuk kamarnya ada sekitar lima kamar, ada juga ruang tamu, ruang rapat, ruang tengah sama ruang keluarga,” pungkas Mulyono.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Tempat Rekreasi di Tengah Kota Purwakarta



Jakarta

Taman Surawisesa, salah satu ruang terbuka hijau di Kabupaten Purwakarta, bisa menjadi pilihan untuk bersantai. Sayangnya, masih ada pengunjung yang buang sampah sembarangan.

Berada di samping Taman Air Mancur Sri Baduga, Taman Surawisesa menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat, berolahraga, dan melakukan kegiatan edukatif bagi anak-anak. Lokasinya yang strategis, hanya 350 meter dari stasiun, memudahkan pengunjung untuk mengakses taman ini dengan berjalan kaki.

Taman itu juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti toilet dan tempat duduk. Daya tampung taman ini mencapai 1.000-1.500 orang


Nama Taman Surawisesa diambil dari nama Putera Prabu Siliwangi, dan pemerintah Kabupaten Purwakarta telah menyediakan berbagai fasilitas edukatif di taman ini. Salah satu daya tariknya adalah layar besar yang menayangkan film-film edukatif bertema sosial.

Teropong ini bisa dioperasikan melalui ponsel pintar berbasis iOS maupun Android, sehingga pengunjung dapat mengamati langit dan belajar tentang astronomi dengan mudah. Selain itu, Taman Surawisesa juga menjadi tempat populer untuk berolahraga.

Destriani, seorang warga Purwakarta, menjelaskan bahwa taman ini sering digunakan oleh masyarakat untuk jogging, bermain voli, dan senam pagi.

“Setiap hari biasa, ada yang senam atau anak-anak kecil bermain di lapangan. Kadang juga ada pameran binatang dari komunitas di sini, dan beberapa orang main bola,” ujarnya.

Meskipun taman ini memiliki banyak fasilitas yang menarik, kebersihan area masih menjadi tantangan. Destriani menambahkan bahwa masih ada sampah yang sering ditemukan di sekitar area panggung. “Ada aja wisatawan yang suka buang sampah sembarangan,” kata dia.

Namun demikian, taman ini tetap menjadi tujuan wisata yang ramai dikunjungi, terutama oleh wisatawan dari sekitar Jabodetabek yang dapat dengan mudah mencapai Purwakarta dengan kereta dari Stasiun Cikarang dengan biaya perjalanan sebesar Rp 4.000.

Harga tiket masuk ke Taman Surawisesa adalah gratis, sehingga siapa pun dapat menikmati fasilitas yang disediakan tanpa harus mengeluarkan biaya. Taman ini terus menjadi tempat favorit bagi warga lokal dan wisatawan yang ingin menikmati suasana hijau di tengah kesibukan kota.

Tertarik untuk mengunjungi Taman Surawisesa? Ajak keluarga atau teman-teman, dan jangan lupa untuk menjaga kebersihan saat berada di sana!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Lokasi hingga Jam Buka, Ada Apa Saja?


Jakarta

Living World Kota Wisata adalah mal yang berlokasi di kawasan Cibubur. Saat ini, mal ini jadi salah satu destinasi belanja dan hiburan kawasan Jabodetabek.

Living World Kota Wisata beralamat di Jalan Boulevard Kota Wisata Lt1-43B, Ciangsana, Kec. Gn. Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Mal Living World Kota Wisata

Dilansir situs Kota Wisata, mal Living World Kota Wisata dibuka pada 15 Maret 2024. Mal ini memiliki luas area 200.000 m2, dengan klaim menjadi mal terbesar dan terlengkap di area Cibubur.


Living World & Living Plaza dikembangkan oleh PT Sahabat Kota Wisata, yang merupakan sendiri merupakan joint venture antara Kawan Lama Group dan Sinar Mas Land.

Living World di Kota Wisata CibuburLiving World di Kota Wisata Cibubur. (dok. Sinar Mas Land)

Living World Kota Wisata terdiri dari lantai 1-3, ground floor, dan lower ground (LG). Sesuai namanya, pusat perbelanjaan ini mengusung konsep home living, lifestyle & eat-ertainment.

Ada Apa Saja di Living World Kota Wisata?

Living World Kota Wisata menyediakan beragam fasilitas untuk keluarga dan pengunjung dari segala usia. Mulai dari area makan dan restoran, pusat perbelanjaan, entertainment center, hingga event-event.

Berikut adalah daftar brand kuliner, toko kosmetik, hingga ritel yang ada di Living World Kota Wisata:

  • Ace
  • Informa
  • Informa Electronics
  • Selma
  • Kels
  • Toys Kingdom
  • Pet Kingdom
  • Ataru
  • Eye Soul
  • Thys
  • Chatime with Korean Snacks by Cupbop
  • Gindaco
  • Chatime Atealier
  • Go! Go! CURRY – Genki no Minamoto
  • AEON
  • KKV
  • Kidzooona
  • Funworld & Funworld Bowling
  • Cinema XXI with IMAX
  • Gramedia
  • Sociolla
  • The Body Shop
  • Guardian
  • Digimap
  • The People Cafe
  • Gion Sushi
  • Optik Melawai
  • Samsung
  • Tous Les Jours.

Jam Buka Living World Kota Wisata

Mengutip Instagram @livingworld_kotawisata (05/11/2024), Living World Kota Wisata buka setiap hari dari jam 10 pagi dan tutup di jam 10 malam WIB.

Sementara, untuk AEON Supermarket di dalamnya beroperasi dari jam 08.00 – 22.00 WIB.

Dengan berbagai pilihan yang ditawarkan, Living World Kota Wisata cocok jadi salah satu tempat tujuan berbelanja, makan, hiburan, atau sekadar bersantai di waktu berlibur bagi masyarakat di Jabodetabek.

(khq/fds)



Sumber : travel.detik.com