Tag Archives: trading bitcoin

Prinsip dan Kiat Trading Bitcoin Cs

Prinsip dan kiat trading Bitcoin Cs (aset kripto) tergolong relatif sederhana, tetapi menantang berkat volatilitasnya yang terkenal tinggi. Nilai artikel ini bersifat relatif dan sangat subjektif.

Soal volatilitas Bitcoin, sejak tahun 2018 sebenarnya sudah menurun, sebagai akibat dari dua faktor. Pertama, semakin banyaknya investor berwawasan jangka panjang dari kalangan institusional yang membeli Bitcoin.

Kedua, pasarnya kian beragam, tak hanya spot market, namun pula derivatif seperti kontrak berjangka. Ada pula yang menghadirkan dalam bentuk seperti saham, misalnya Grayscale Bitcoin Trust (GBTC). Sarana pendukungnya juga semakin banyak seperti layanan kustodian (misalnya oleh Fidelity) dan banyak lagi.

Semakin turunnya nilai mata uang dolar AS juga turut menjadi faktor meningkatnya permintaan terhadap Bitcoin dan beberapa aset kripto lainnya.

Turunnya nilai dolar AS didorong oleh beragam program stimulus pemerintah AS, termasuk penambahan pasokan uang beredar oleh The Fed. Langkah itu dianggap efektif untuk menormalkan kembali pertumbuhan ekonomi akibat pandemi.

Prinsip-prinsip Trading

Pertama, kami anggap Anda sudah mengetahui dan memahami apa itu Bitcoin, bagaimana cara kerjanya dan mengapa ia diciptakan oleh Satoshi Nakamoto. Termasuk pelajari baik-baik aset kripto yang ingin Anda perdagangkan.

APA ITU BITCOIN?

Mulailah dari whitepaper-nya, tujuan proyeknya, siapa di baliknya, keunggulan dan kelemahannya, peluang dan strateginya, sifat kelangkaan asetnya, teknologi blockchain-nya.

Termasuk kerjasama dan kemitraan, penambahan produk baru, termasuk kemantapan smart contract dan source code-nya (jikalau tersedia), regulasi, termasuk keandalan bursa aset kripto yang Anda gunakan. Ini yang kami sebut sebagai analisis fundamental.

Kedua, saya anggap Anda sudah mengetahui dan memahami prinsip dasar trading (perdagangan) alias jual-beli Bitcoin dan aset kripto lainnya, bahwa semakin banyak permintaan (demand) dari supply (penawaran), maka semakin tinggi harganya.

Ketiga, semua yang kami sampaikan di artikel ini bukanlah nasihat ataupun petunjuk investasi, tetapi sekadar langkah edukasi tentang kelas aset baru ini. Karena bagaimanapun juga Bitcoin misalnya masih tergolong “experimental money” sebagaimana yang tercantum di situsnya, Bitcoin.org.

Keempat, wajib dipahami bahwa perdagangan aset kripto sangat berisiko tinggi, karena Anda berpotensi kehilangan seluruh modal Anda, terlebih-lebih di pasar derivatif yang berfitur leverage.

Kelima, untuk trading jenis aset apapun, termasuk aset kripto, gunakanlah modal berupa “uang dingin” bukan “uang panas”.

Uang dingin adalah uang yang memang Anda persiapkan untuk digunakan untuk investasi, untuk trading.

Dan uang dingin itu harus Anda relakan untuk kelak hilang atas kerugian yang diakibatkan oleh Anda sendiri.

Sedangkan “uang panas” adalah uang untuk kebutuhan sehari-hari yang digunakan untuk bertahan hidup, makan sehari-hari, uang sekolah dan lain sebagainya. Jangan gunakan uang jenis untuk trading ataupun investasi.

Keenam, uang modal trading bukan berasal dari utang atau pinjaman dari pihak lain, baik itu personal atau bank ataupun kartu kredit.

Uang modal trading adalah modal dan milik Anda sendiri dan Anda harus siap dengan kehilangan sebagian atau semua modal itu.

Ketujuh, lakukan penelitian oleh Anda sendiri, bukan ikut-ikutan jejak atau langkah oleh orang lain. Jangan percaya orang lain, percaya dengan diri sendiri. Pernyataan orang lain hanyalah sekadar panduan relatif, bukan yang utama. Keputusan akhir berada di tangan Anda sendiri.

Kedelapan, pelajari baik-baik ilmu analisis teknikal alias membaca grafik/chart perdagangan.

Pelajari cara menggunakan indikator yang tersedia sebagai bagian dari strategi dalam mengambil keputusan.

Fasih ilmu analisis teknikal membuat Anda terhindar dari spekulasi terlalu tinggi, bahkan anggapan bahwa trading adalah judi.

Analisis teknikal sangat ampuh membantu Anda memutuskan kapan harus beli (entry) dan kapan harus jual (exit).

Ingatlah bahwa analisis teknikal pada dasarnya adalah ilmu statistik, di mana ada sekelompok probabilitas berdasarkan data masa lampau untuk memproyeksikan tren di masa depan.

Dalam analisis teknikal berlaku prinsip umum, bahwa “history repeat itself“, bahwa harga naik dan turun akan berulang, bahwa kenaikan di masa lalu, bisa terjadi kembali di masa depan dengan penguatan yang lebih besar.

Kesembilan, tentukan horizon time investasi/trading Anda. Apakah short term atau long term.

Untuk short term (harian atau pekan), Anda memerlukan analisis teknikal yang lebih rinci. Untuk long term, perlu analisis fundamental yang lebih rinci plus analisis teknikal.

Kesepuluh, bersikap tenang, jaga emosi dan tidak rakus alias serakah, karena ada pihak yang lebih besar modalnya daripada Anda dan memiliki pengetahuan yang lebih banyak daripada Anda.

Baca Juga: Memasuki Tahun Kerbau, BTC Mampu Menembus Area Resistensi

Kapan Saatnya Beli dan Jual?

Pertama, ini sangat tergantung pada horizon time investasi/trading Anda. Jika memilih short term, maka Anda memerlukan analisis teknikal yang lebih rinci, disiplin memantau dan tidak emosional.

Mengingat jika kenaikan tipis dalam tempo menit atau jam, maka modal Anda diharapkan cukup besar.

Kedua, indikator sederhana kapan beli dan jual, Anda bisa menggunakan indikator Moving Average (MA). Itu pun tergantung pada time frame (rentang waktu) yang Anda gunakan.

Misalnya untuk time frame 4 jam-1 harian yang umum digunakan, bisa menggunakan MA50 dan MA100. Atau time frame lebih tinggi, misalnya harian (daily), tambahkan MA200.

Untuk time frame yang lebih pendek, misalnya 1 menit, 5 menit, 15 menit, umumnya menggunakan MA5, MA8 dan MA13 sekaligus. Lazimnya digunakan dalam teknik scalping.

Ketiga, Moving Average adalah indiaktor harga bergerak rata-rata dalam kurun waktu tertentu yang prinsipnya menghaluskan data pergerakan harga alias sebagai penyaring.

Dalam time frame 1 menit misalnya harga bergerak naik turun cepat. MA membantu Anda mencari gerak harganya secara rata-rata, sehingga memudahkan Anda membaca tren harganya.

Keempat, katakanlah dalam time frame 4 jam, menggunakan MA50 dan MA200 (long term).

Jika garis MA50 bergerak ke atas menyilang (crossing) MA200, maka itu adalah indikasi kuat harga akan bergerak naik.

Dan sebaliknya, jika MA50 bergerak ke bawah menyilang garis MA200, maka itu adalah indikasi kuat harga akan bergerak turun.

Kelima, Perpotongan antara garis MA50 dan MA200 dalam time frame 4 jam adalah indikasi “Golden Cross” dan “Death Cross”.

Jika garis MA50 bergerak ke atas menyilang garis MA200, maka itu disebut sebagai Golden Cross dan sebaliknya, disebut Death Cross.

Keenam, Golden Cross menandakan harga akan terus bergerak naik dalam kurun waktu cukup panjang. Golden Cross terbaru di Bitcoin terjadi pada 5 Februari 2021 lalu.

BACA ANALISISNYA DI SINI

Ketujuh, Golden Cross sebelumnya lagi terjadi pada Oktober 2020. Harga Bitcoin bergerak naik dari US$10.697 yang memuncak pada US$41 ribu pada 8 Januari 2021. Perlu waktu sekitar 90 hari untuk naik sekitar 300 persen, dari dimulainya Golden Cross hingga puncak lalu terkoreksi (Death Cross).

Tetapi, antara Golden Cross dengan Golden Cross lainnya memiliki rentang waktu yang berbeda untuk naik tinggi.

Kedelapan, Anda bisa menggunakan indikator lainnya, sebagai tambahan untuk Moving Average, di antaranya: “Market Cipher A”, “Bitcoin Halvening Shadowed Past Dates”, “Super Trend”, “RSI” dan Squeeze Momentum”.



Sumber : news.tokocrypto.com

Yuk, Pahami Jenis Indikator Trading Paling Akurat. Disini!

Kini siapa, sih, yang tak tergiur oleh cuan yang didapatkan dari hasil trading bitcoin? Yaps, nilainya yang sungguh tinggi tak ayal membuat banyak trader ingin memilikinya. Namun, jangan salah! Dalam trading bitcoin, seorang trader tentunya membutuhkan indikator yang berguna untuk membantu mereka dalam memprediksi pergerakan harga. Lantas, ada apa saja, sih, indikator trading tersebut? Dan manakah yang paling akurat? Yuk, simak selengkapnya!

Indikator Teknikal beserta Fungsinya

Dalam mengamati pasar, seorang trader menggunakan sebuah formula matematis yang dikenal dengan indikator teknikal. Pada dasarnya indikator teknikal dalam trading aset kripto sama seperti yang digunakan pada saham dan forex. 

Mengapa Anda perlu menggunakan indikator teknikal? Karena indikator teknikal dapat membantu Anda untuk melakukan trading dengan arah yang jelas. Melalui penggunaan indikator teknikal, para trader dapat menganalisa maupun mengantisipasi perubahan harga di masa mendatang. Selain itu, indikator teknikal juga berfungsi untuk mengukur volatilitas dan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk entry ataupun exit

Indikator Trading Terbaik yang Umum Digunakan

Berikut adalah beberapa indikator trading terbaik yang bisa Anda gunakan:

MA merupakan indikator yang lazim digunakan oleh trader karena penggunaannya yang sederhana. Indikator ini digunakan untuk mengukur ke arah mana tren akan bergerak yang didasari dari perhitungan rata-rata token dalam periode tertentu (20, 50, an 200).

Nah garis MA berfungsi sebagai garis support dan resistance yang terbagi dalam: SMA (Simple Moving Average), WMA (Weighted Moving Average), dan EMA (Exponential Moving Average). Apabila keadaan market mengalami uptrend maka garis MA akan berada di bawah pergerakan harga, dan sebaliknya. 

Dilansir dari Inbizia.com, Joe Lee yang merupakan salah satu trader menyebutkan bahwa MA merupakan salah satu indikator terbaik untuk trading bitcoin karena mampu menunjukkan arah pergerakan harga dengan lebih mudah, sehingga Anda akan terhindar dari spekulasi. 

Bollinger Band adalah indikator yang dikembangkan oleh John Bollinger yang digunakan untuk mengukur volatilitas market. Nah, pada Bollinger Band terdapat 3 garis yang dapat Anda gunakan sebagai garis Support dan Resistance, yakni garis bawah, tengah, dan atas. 

Garis-garis tersebut bisa mengecil dan membesar karena volatilitas market yang tengah terjadi. Jika pergerakan harga dalam kondisi kurang kuat (sideways) maka garis akan merapat dan mengecil dan apabila pergerakan harga tengah kuat atau berfluktuasi maka garis akan bergerak membesar.

Ichimoku Cloud merupakan indikator yang menampilkan area Support dan Resistance melalui awan-awannya. Indikator ini dikembangkan oleh jurnalis bernama Goichi Hosoda dan dimuat dalam bukunya yang terbit pada tahun 1969 silam. Periode yang biasa digunakan pada setting default adalah 9, 26, 52. 

Adapun teori umum pada Ichimoku Cloud adalah apabila tren harga masih bullish, maka awan Ichimoku akan berada di bawah candlestick dan ini berfungsi sebagai Support. Begitu pula sebaliknya, ketika harga masih bearish, maka awan tersebut akan berada di atas candlestick dan berfungsi sebagaI Resistance

  • Relative Strength Index (RSI)

RSI merupakan indikator dengan batasan rentang terendah (0) hingga rentang tertinggi (100). Adapun periode RSI adalah 14, namun dapat diubah menjadi 12, 10, atau 9 hari untuk mendapatkan sinyal yang lebih sensitif. 

Rentang di bawah 30 disebut dengan area oversold dan rentang di atas 70 disebut dengan overbought. Apabila garis RSI menembus ke bawah garis rentang 70 ini menandakan sinyal bearish, sedangkan apabila garis RSI menembus ke atas garis rentang 30 ini menandakan sinyal bullish

  • Moving Average Convergence Divergence (MACD)

MACD diciptakan oleh Gerald Appeal pada tahun 1979. Umumnya, MACD digunakan untuk mengukur kekuatan tren yang sedang terjadi, mengukur momentum pasar, dan sebagai indikator apakah sedang terjadi divergensi bullish atau bearish

Indikator MACD memiliki dua garis, yakni garis sinyal dan garis MACD. Garis MACD sendiri merupakan selisih dari dua buah EMA (misal EMA 26 dan EMA 12). Cara membacanya adalah pada saat garis MACD memotong ke bawah garis sinyal maka ini merupakan sinyal jual, dan begitupun sebaliknya. 

Itulah beberapa indikator trading yang bisa Anda gunakan. Sebelum mendaftar dan trading bersama Tokocrypto, yuk tambah pengetahuan trading Anda dengan mengunjungi Tokonews ataupun ikuti media sosial Tokocrpto di Instagram dan juga Twitter untuk informasi terbaru lainnya.





Sumber : news.tokocrypto.com

Trading di Aplikasi Bitcoin untuk Android dan iOS dari Tokocrypto

Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, kini semua orang menggunakan fasilitas teknologi untuk melakukan berbagai hal. Hal ini pun turut berlaku di bidang financial, mulai dari perbankan hingga financial market turut menggunakan teknologi ini untuk mempermudah orang-orang dalam mengakses informasi mengenai keuangan mereka. 

Khususnya di financial market, jika dahulunya trading dilakukan secara konvensional seperti trader harus memantau dan mengecek pergerakan harga di market yang ada pada bursa efek secara langsung ataupun melalui telepon. Kini semuanya bisa diakses secara online via smartphone oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. 

Seiring dengan semakin diminatinya aset kripto, semakin banyak pilihan dan jenis exchange yang ada. Jika sebelumnya melakukan trading aset kripto dilakukan di exchange berjenis web wallet ataupun hardware wallet, kini bisa dilakukan melalui wallet seluler atau lebih dikenal dengan aplikasi pada smartphone Anda.

Tokocrypto sebagai platform exchange aset kripto pertama yang terdaftar dan juga merupakan exchange terpercaya dan terdepan di Indonesia telah meluncurkan aplikasi bitcoin untuk Android dan iOS pada bulan November 2020. Peluncuran aplikasi Tokocrypto ini memudahkan nasabah dalam melakukan jual-beli aset kripto, menyimpan dan juga mengirim aset kripto Anda melalui smartphone dengan mudah, terpercaya, dan aman.

Aplikasi bitcoin untuk Android dan iOS ini hadir dengan berbagai pilihan aset kripto yang dapat Anda lakukan transaksi jual-belinya, yaitu antara lain Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Binance Coin (BNB), Tether (USDT), Binance USD (BUSD), Ripple (XRP), Polkadot (DOT), Binance IDR (BIDR), Tron (TRX), dan DogeCoin (DOGE).

Fitur-fitur Aplikasi Bitcoin untuk Android dan iOS Tokocrypto yang Memudahkan

Nah, aplikasi bitcoin dari Tokocrypto ini kaya akan fitur-fitur antarmuka yang memudahkan Anda dalam penggunaannya. Apa saja sih fitur-fitur tersebut? Yuk, simak ulasannya dibawah ini!

Dari segi fitur keamanannya, aplikasi ini menjadikan keamanan sebagai prioritas utamanya. Hal ini dibuktikan oleh sudah terverifikasinya Tokocrypto oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) sebagai exchange yang berizin dan legal di Indonesia. Selain itu, aplikasi ini telah menerapkan teknologi Know-Your-Customer (KYC) dan 2 Factor Verification. Tak hanya itu, untuk memastikan Anda agar dapat bertransaksi dengan aman dan nyaman, aplikasi ini pun sudah mengadopsi teknologi trading Binance dan mendapatkan skor yang sangat tinggi yakni 9,35 serta sudah bekerja sama dengan institusi ASLI RI untuk verifikasi data nasabah dan Merkle Science and Confirm untuk analisa transaksi. 

Aplikasi Tokocrypto hadir dengan fitur yang memberikan kemudahan dalam transaksi trading Anda. Anda bisa menukarkan seluruh jenis aset kripto yang dimiliki ke rupiah yang kemudian dapat ditarik ke rekening bank dengan memilih kolom fiat untuk penarikan rupiah, lalu masukan nomor rekening dan nominalnya. Selanjutnya tekan tombol konfirmasi penarikan jika nama rekening tujuan dengan nama yang terdaftar pada akun Tokocrypto Anda sudah sama. Nah, withdraw ini dilakukan dengan proses yang cepat dengan batas waktu 24 jam. 

Selain itu, pada aplikasi Tokocrypto terdapat fitur filter, yang dapat Anda gunakan untuk melihat riwayat saldo dan transaksi di menu dompet dan adanya tab pesanan. Nah, fitur filter ini akan memudahkan Anda untuk melihat catatan pesanan.  Lalu, Anda juga bisa mendapatkan harga terbaik dengan order book di menu aplikasi dan Anda bisa favoritkan aset kriptonya agar memudahkan dalam akses trading berikutnya. 

Aplikasi Tokocrypto ini hadir untuk membuat transaksi trading Anda menjadi lebih sederhana. Pada aplikasi Tokocrypto ini terdapat semua fasilitas yang memudahkan pengalaman perdagangan aset dan mata uang digital Anda, baik untuk trader pemula yang baru memulai trading ataupun yang sudah berpengalaman.

Selain keamanan yang terjamin dan kemudahan dalam menggunakan aplikasinya, Tokocrypto juga memastikan setiap prosedur dapat berjalan dengan cepat. Karena Tokocrypto didukung oleh tim dukungan pelanggan khusus yang selalu siap membantu Anda selama 24 jam. Anda bisa menghubungi salah satu petugas pelanggan kami melalui Widget Dukungan Pelanggan yang ada pada aplikasi. 

Untuk dapat langsung melakukan transaksi jual-beli crypto di aplikasi Tokocrypto ini, langkah pertama yang dilakukan ialah mengunduh aplikasi bitcoin untuk Android dan iOS ini melalui Play Store atau App Store. Selanjutnya, Anda tinggal mendaftar dan menyelesaikan KYC. Setelah pendaftaran selesai dilakukan, Anda dapat melakukan penyetoran uang minimal Rp 50.000 ke Tokocyrpto VA. Setelah dana yang dikirim sudah masuk dalam bentuk BIDR (stable coin berbasis Rupiah dengan nilai 1 BIDR = Rp 1), Anda sudah mulai membeli aset kripto pertama kalian.

Itulah kemudahan trading aset kripto yang didapatkan jika Anda melakukannya bersama aplikasi Tokocrypto. Tunggu apa lagi? Yuk, mulai trading dan investasi aset kripto bersama Tokocrypto dan unduh aplikasinya untuk mendapatkan kemudahannya!



Sumber : news.tokocrypto.com

Mengenal Airdrop Crypto dan Perbedaannya dengan Bounty Crypto

Seperti peribahasa “Banyak jalan menuju Roma”, koin dan token kripto juga bisa diperoleh dengan banyak cara bahkan secara gratis. Beberapa cara yang paling diminati adalah melalui airdrop crypto dan bounty crypto. Sudah banyak proyek kripto ternama yang mengadakan program tersebut, yaitu dengan membagikan sejumlah aset kripto bagi para peserta. 

Namun, meski seringkali dianggap sama, keduanya adalah dua hal yang berbeda, lho! Eits, sebelum membahas perbedaan antara keduanya, mari pahami pengertian, cara kerja, juga jenisnya dari masing-masing program berikut ini!

Apa Itu Airdrop Crypto?

Airdrop crypto merupakan sebuah kegiatan membagikan sejumlah aset kripto kepada peserta secara cuma-cuma, dikirimkan secara langsung menuju wallet tanpa dikenakan biaya apapun. Sebenarnya, airdrop adalah teknik marketing yang dilakukan oleh penerbit suatu proyek aset kripto, yang umumnya masih dalam tahap awal atau merintis. 

Tujuan dari airdrop sendiri adalah untuk memberikan awareness dan menarik investor terhadap aset kriptonya. Selain itu, airdrop juga bisa bertujuan sebagai penghargaan bagi para investor yang sejak awal sudah berinvestasi aset kripto tersebut, sambil terus mendesentralisasikan distribusi token. 

Jenis Airdrop Crypto

Meski begitu, tidak semua airdrop crypto terjadi begitu saja. Terdapat beberapa jenis airdrop yang sering ditemukan dalam dunia kripto, yaitu:

1. Standard Airdrop

Jenis airdrop ini merupakan yang paling sederhana, di mana sejumlah aset kripto tersebut baru bisa diperoleh peserta setelah melakukan pendaftaran di proyek kripto. Misalnya dengan mendaftar ke newsletter seperti pada airdrop Ontology (ONT) di tahun 2018. Selain itu, Tokocrypto juga pernah mengadakan TTC Airdrop pada tahun 2019 dengan syarat registrasi akun di Tokocrypto dan gabung di grup Telegram Tokocrypto.

2. Exclusive Airdrop

Seperti namanya, jenis airdrop satu ini dikelola oleh suatu komunitas media sosial atau website yang sudah memiliki banyak audiens. Sehingga, proyek kripto akan “menitipkan” program airdrop miliknya di situs tersebut, contohnya  pada situs Airdrop Rating.

3. Bounty Airdrop

Di sisi lain, ada juga jenis airdrop di mana peserta diharuskan untuk melakukan beberapa aktivitas promosi mengenai proyek kripto di media sosial. Misalnya posting ajakan untuk ikut serta dalam kampanye dari proyek kripto tersebut.

4. Holder Airdrop

Jenis airdrop satu ini mengharuskan para peserta untuk hold atau menginvestasikan sejumlah aset terlebih dulu, baru bisa mendapatkan airdrop seperti pada airdrop Uniswap (UNI) dan 1inch pada 2020 lalu.

Apa Itu Bounty Crypto?

Airdrop crypto & Bounty crypto

Sementara itu, bounty crypto adalah kegiatan pembagian aset kripto bagi para peserta yang telah berhasil menyelesaikan task tertentu oleh penerbit proyek kripto tersebut. Bentuk task serta jumlah hadiah yang diberikan bergantung pada peraturan yang dimiliki oleh masing-masing proyek kripto. 

Bounty sendiri memiliki dua tujuan, yang pertama untuk mengumpulkan massa, sehingga pada saat Initial Coin Offering atau ICO, proyek kripto bisa memperoleh keuntungan yang besar. Tujuan lainnya adalah untuk memberikan insentif bagi para pihak yang berjasa terhadap keberlangsungan proyek setelah ICO.

Baca juga: Apa itu ICO (Initial Coin Offering)? Dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Jenis Bounty Crypto

Sama halnya dengan airdrop, terdapat beberapa jenis bounty yang umum ditemukan di dalam dunia kripto, yaitu:

1. Social Media Bounty

Seperti namanya, jenis bounty ini mengharuskan peserta mempromosikan mengenai ICO dari proyek kripto di media sosial, seperti Twitter maupun Facebook. Nantinya, dilakukan penilaian untuk menentukan jumlah reward berdasarkan engagement sesuai dengan kebijakan penerbit proyek, misalnya dengan melihat jumlah Like atau Retweet.

2. Blog Writing Bounty

Jenis bounty yang satu ini cocok untuk para blogger yang mempunyai audiens yang besar. Pasalnya, mereka bisa mengikuti bounty dengan membuat tulisan mengenai ICO dari yang akan digelar mendatang. Sama seperti Social Media Bounty, jenis ini juga dinilai berdasarkan engagement pada blog.

3. Forum Bounty

Forum Bounty adalah jenis bounty yang populer yang diadakan sebelum ICO. Seperti namanya, bounty ini terbuka bagi anggota forum Bitcointalk. Penilaian dilakukan dengan melihat seberapa banyak peserta mem-posting signature ICO yang diluncurkan oleh sebuah proyek kripto.

4. Bug Bounty

Berbeda dengan ketiga jenis bounty sebelumnya yang diadakan sebelum ICO, Bug Bounty diadakan setelah ICO. Jenis yang satu ini diadakan khusus bagi para developers untuk menguji dan mendeteksi apakah terdapat bug pada sistem blockchain proyek tersebut atau tidak, seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh exchange Bitrue.

5. Translation Campaign Bounty

Jenis bounty yang satu ini juga digelar setelah ICO. Sebab, bounty ini mewajibkan pesertanya untuk menerjemahkan dokumen penting dari proyek kripto ke dalam bahasa lain, agar persebaran informasi menjadi lebih luas. Umumnya, dokumen tersebut berupa white paper hingga situs resmi dari proyek. Jenis bounty ini tentunya menyasar para peserta yang punya keahlian sebagai penerjemah bahasa. 

Perbedaan Antara Airdrop Crypto dan Bounty Crypto

Perbedaan Antara Airdrop Crypto dan Bounty Crypto

Meski airdrop dan bounty terkesan serupa jika dilihat dari pengertiannya, keduanya merupakan dua hal yang berbeda. Berikut adalah perbedaan dari keduanya:

1. Jenis Task

Pada airdrop, terdapat beberapa program yang mengharuskan peserta untuk menyelesaikan task, dengan tingkat kesulitan yang cenderung rendah. Misalnya, peserta hanya perlu melakukan posting promosi mengenai proyek kripto di media sosial.

Sementara, task dalam program bounty biasanya membutuhkan keahlian khusus dari peserta untuk menyelesaikannya. Ambil contoh Bug Bounty yang hanya bisa diikuti oleh ahli komputer saja, tidak bisa diikuti sembarang orang. Sehingga, bounty sifatnya tidak hanya sebagai upaya promosi saja, melainkan juga pengembangan komunitas kripto.

2. Jumlah Partisipasi

Baik airdrop maupun bounty biasanya dilakukan dalam satu periode waktu tertentu. Namun, pada airdrop, peserta hanya bisa berpartisipasi sebanyak satu kali saja. Sementara untuk bounty, peserta bisa terus berpartisipasi selama kampanye bounty tersebut berlangsung, mengingat task yang dimiliki juga lebih rumit.

Itulah penjelasan mengenai perbedaan airdrop crypto dan bounty crypto. Keduanya bisa menjadi pilihan Anda dalam mendapatkan passive income dari aset kripto. Akan tetapi, pastikan Anda selalu waspada dan melakukan riset mengenai programnya sebelum berpartisipasi, ya. Karena tidak sedikit penipuan Rug Pull yang mengatasnamakan airdrop maupun bounty

Nah, untuk informasi dan edukasi lainnya seputar dunia aset kripto, segera kunjungi Tokonews dan gabung dengan grup Telegram dari Tokocrypto!



Sumber : news.tokocrypto.com