All posts by 37

Hal yang Harus Diketahui Sebelum Membeli Bitcoin atau Aset Kripto Pertamamu!

Artikel ini berisi tentang beberapa hal yang perlu dipahami sebelum mengambil lompatan dan memulai investasi aset kripto:

Penting memahami bahwa gerakan kripto global adalah tentang desentralisasi kontrol keuangan, desain dan penyelesaian keuangan. Saat yang tepat untuk melakukan investasi aset kripto dan memahami cara kerjanya adalah ketika anda ingin mencari penyelesaian akan masalah-masalah yang dihadapi seperti kesal karena harus membayar biaya transaksi yang besar untuk memindahkan uang, kesal karena bank tutup di hari Minggu dan tanggal merah dan sebagainya. Dengan kripto, para nasabah tidak perlu bergantung terhadap bank, karena siapapun bisa menjadi bank nya sendiri dengan adanya aplikasi perdagangan aset kripto

Baca Juga: Bitcoin akan Capai $ 400.000 Dalam Siklus Bulls Berikutnya Jika Sejarah Berulang

Terdapat begitu banyak jenis aset kripto saat ini, dan penting bagi para trader untuk memahami mengapa beberapa diantaranya lebih banyak digunakan daripada yang lain. Mirip dengan bagaimana mata uang nasional memiliki harga yang berbeda dan tingkat inflasi yang berbeda, hanya karena harganya murah bukan aset tersebut bagus. Riset perlu dilakukan. Sebagai contoh, hanya akan ada 21 juta bitcoin yang beredar, yang mungkin kedengarannya tidak banyak. Tetapi pada kenyataannya, bitcoin dapat dibagi menjadi potongan-potongan kecil. Para trader dapat memiliki sebagian kecil dari satu bitcoin. Bitcoin dapat di denominasi sedikit demi sedikit. 

Saat ini terdapat 1,7 miliar orang di dunia yang tidak memiliki rekening bank, tetapi dengan smartphone, mereka dapat mengunduh dompet kripto yang memungkinkan mereka bertransaksi dengan siapapun, kapanpun dan dimanapun di dunia ini. Jika peduli terhadap inklusi keuangan, ini adalah cara yang bagus untuk membawa miliaran orang ke dalam struktur keuangan global

Beberapa orang membeli aset kripto karena ingin berinvestasi di kelas aset baru. Sebagian orang lainnya menggunakan aset kripto untuk pembayaran lintas batas. Hal ini karena aset kripto menggunakan jaringan peer-to-peer yang segera mengkonfirmasi dan menyelesaikan transaksi dalam waktu yang singkat. Di Indonesia, aset kripto dinilai legal sebagai sebuah komoditi yang diperjualbelikan di bursa berjangka. 

Masa pandemi seperti ini jauh lebih aman untuk melakukan transaksi dalam bentuk digital dibandingkan dengan menggunakan uang kertas. Di aset kripto, kita dapat menemukan stablecoin, yaitu aset kripto dengan nilai yang setara dengan mata uang nasional. Salah satu contohnya adalah USDT (setara dengan USD) atau BIDR (setara dengan Rupiah Indonesia). Stablecoin juga menggunakan jaringan peer-to-peer yang sama untuk menyelesaikan transaksi. 

Sangat penting untuk selalu menggunakan kata sandi yang kuat dan amankan dompet dan semua info dengan 2 Factor Authentication. Hal ini dilakukan untuk mencegah peretas mengakses aset kripto anda.

Baca Juga: Bitcoin Jadi Aset Wajib Dimiliki oleh Investor di 2025

 



Sumber : news.tokocrypto.com

Nic Carter: Kenaikan Harga Bitcoin karena Potensi Inflasi

Nic Carter, tokoh pendukung Bitcoin dari Castle Island Ventures menegaskan, bahwa kenaikan harga Bitcoin hingga US$18.000 per BTC karena potensi inflasi yang terjadi di masa depan.

“Ya, memang banyak orang saat ini fokus pada dampak inflasi yang mungkin terjadi 10 tahun ke depan, akibat bertambahnya pasokan uang dolar AS. Bitcoin pun dipandang sebagai aset untuk melindungi nilai uang dari inflasi itu,” jelas Carter dalam wawancara di Bloomberg, Kamis (19/11/2020).

Bagi Carter, inflasi memang berdampak pada kenaikan nilai aset kripto, termasuk Bitcoin, sebagaimana wacana umum yang mengemuka di komunitas aset kripto itu sendiri, karena Bitcoin yang jumlahnya kian langka, dianggap sebagai alat untuk melindungi nilai uang akibat inflasi.

Dia tak menampik kenyataan, semakin banyak jumlah investor yang sadar dan peduli terhadap Bitcoin dan berinvestasi terhadapnya, walaupun sebenarnya inflasi besar di masa depan belumlah pasti.

Baca Juga: XRP Memasuki Siklus Bull Baru yang Bisa Membawanya Melonjak Menuju $1

“Keadaan ekonomi makro yang penuh ketidakpastian dan ketakutan akan munculnya suku bunga negatif dan inflasi adalah pendorong utama kenaikan harga Bitcoin. Faktor eksternal itu, yang jauh lebih menarik dan terkadang terlalu diremehkan,” katanya.

“Kali terakhir kita melihat bull run seperti ini adalah pada tahun 2017. Ketika itu sangat sulit bagi investor institusi untuk mengukur nilai asli aset kripto itu, termasuk mengakses sejumlah alat yang tepat untuk mengambil keputusan berinvestasi. Pun dapat dikatakan tidak ada sama sekali. Kalau pun ada, kurang bisa dipercaya. Satu-satunya yang besar dan mendukung investor besar masuk ke Bitcoin adalah CME, tetapi mereka muncul di ujung, ketika Bitcoin sudah terlebih dahulu terjun dari kisaran US$19-20 ribuan per BTC. Hari ini, produk investasi Bitcoin oleh CME itu justru sangat likuid,” kata Carter.

Ucap Cater lagi, dan selama 3 tahun terakhir inilah banyak perusahaan besar menyediakan banyak tools dan beragam layanan agar investor besar bisa lebih banyak mengalirkan modalnya ke Bitcoin.

“Layanan itu mempermudah mereka,” kata Carter.

Carter juga setuju dengan pendapat bahwa skema Initial Coin Offering (ICO) yang dulu sempat ranum, mulai tahun ini akan pudar. Khususnya di Amerika Serikat (AS) itu akan terjadi, karena SEC sudah sangat-sangat tegas mengawasi dan menindak sejumlah kasus buruk, dampak dari ICO itu.

“Lagipula, harga aset kripto hasil dari ICO jauh lebih volatil daripada Bitcoin itu sendiri,” imbuhnya.

Baca Juga: Amankah Bitcoin Jika Komputasi Kuantum Semakin Canggih?

Bitcoin Tumbangkan Kinerja Emas
Fakta utama yang tak dapat dipungkiri adalah, emas yang dianggap unggul sebagai aset penjaga nilai uang, justru kalah telah dibandingkan Bitcoin.

inflasi
Perbandingan kinerja Bitcoin dengan emas dan sejumlah aset bernilai lainnya, sepanjang tahun 2020. Sumber: Tradingview.com.

Per 19 November 2020, pukul 14:54 WIB, sepanjang tahun ini, emas hanya sanggup tumbuh 22,4 persen. Sedangkan Bitcoin melejit 142 persen, memuncak lebih dari US$18.000 per BTC belum lama ini.

Dolar AS yang diprediksi justru akan ambruk pasca pemulihan pandemi COVID-19, di rentang waktu serupa sudah minus 4,18 persen.



Sumber : news.tokocrypto.com

Analis Memprediksi Altseason akan Datang pada Awal Tahun Depan

Pergerakan kuat dari Bitcoin (BTC) minggu ini telah mengubah Altcoin dalam prosesnya. Dalam 24 jam terakhir, crypto utama ini telah mendapatkan keuntungan lebih dari 8% yang sempat menyentuh Rp 260 juta.

Dengan bentuknya saat ini, banyak analis mengharapkan Bitcoin segera menembus level tertinggi sebelumnya. Analis ConnorNix memperkirakan kita akan melihat pengujian ulang $17.100 (Rp 242 juta), yang akan diikuti oleh kenaikan menjadi $ 20.000 (Rp 283 juta).

Baca Juga: Perbandingan Pasar Bitcoin dan Forex

Dampak ke Pasar Altcoin

Sebelumnya, kita melihat dampatk ke Altcoin, yang telah mengalami pendarahan selama rally hampir tujuh minggu Bitcoin. Dominasi Bitcoin turun serendah 62%, membuat harga altcoin naik sebentar.

Namun, itu hanya berumur pendek. Dominasi Bitcoin kembali naik dan altcoin mengalami penurunan.

Saat ini, kapitalisasi pasar Bitcoin mencapai 67% dari total kapitalisasi pasar crypto menurut CoinMarketCap.

Namun, semuanya tidak hilang begitu saja. Analis bernama akun @Stillman__ melihat adanya kesamaan dengan Altseason sebelumnya, dalam pola crypto Altcoin utama saat ini.

Dia menyimpulkan bahwa pasangan ALT / BTC telah mencapai atau mendekati titik terendah.

“Jika Alt Action menyerupai 2016, – maka Alt terendah pada pasangan ALT-BTC yang kuat kemungkinan besar akan masuk atau hampir masuk. Saya menekankan kata kuat di sini karena sampel kami dari 2016 semuanya berakhir dengan performa terbaik. – Posisi terendah USD bahkan lebih mungkin sudah masuk .”

altseason@CryptoMichNL berbagi pandangan serupa. Seperti ConnorNix, @CryptoMichNL percaya bahwa Bitcoin akan mengalami koreksi.

Baca Juga: Apa Yang Bisa Kita Beli Dengan Bitcoin?

Ini, dia memperkirakan, akan diikuti oleh pergerakan harga selama berminggu-minggu untuk BTC, memberikan bantuan pada Altcoin dari serangan gencar yang mereka derita hingga saat ini.

altseasonSetelah ini, ia memperkirakan penurunan Bitcoin terakhir akan mendahului Altseason baru yang diperkirakan akan terjadi pada Januari – Maret 2021.

Namun, dia juga menambahkan bahwa jika BTC turun, altcoin juga ikut turun.

Bagaimana aksi harga Bitcoin hingga akhir tahun ini akan menjadi pembuktian dari pandangan Altseason ini karena membutuhkan penyusutan dari minat beli terhadap sang crypto utama yang tentu saja masih terlihat kurang potensial jika melihat struktur pergerakan Bitcoin saat ini. Kita lihat saja!

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Perbandingan Pasar Bitcoin dan Forex

Tidak perlu jauh-jauh untuk untuk menilai pasar keuangan terbesar dan tenar di dunia, yakni aset kripto (Bitcoin Cs) dan forex alias valas. Volume perdagangan di pasar mata uang fiat itu mencapai US$6,6 triliun setiap hari. Sedangkan total kapitalisasi pasar seluruh aset kripto mencapai US$444,6 miliar saat ini.

Baca Juga: Deutsche Bank: Mata Uang Digital Bank Sentral Akan Gantikan Uang Tunai!

Dengan angka-angka tersebut, tidaklah mengejutkan bahwa kedua sektor pasar bernilai itu menjadi sangat popular di era digital. Tetapi, bagaimana sebenarnya perbandingan keduanya. Lalu, manakah yang paling menguntungkan di iklim ekonomi saat ini?

Ada beragam kesamaan antara kedua pasar tersebut, terutama keduanya langsung berurusan dengan objek bernilai atau mata uang alias currency, karena objek itu bisa digunakan untuk menukar objek lainnya, misalnya barang dan jasa.

Selain itu, kedua pasar itu memiliki tingkat volatilitas yang mirip, di mana mata uang fiat dan aset kripto mengalami fluktuasi harga signifikan dalam kurun waktu 24 jam.

Hal lain, kedua pasar itu bisa diakses secara online, misalnya melalui platform daring dan akun demo forex ini.

Sebagai sebuah cara yang praktis, hal ini menyebabkan uang fiat dan aset kripto popular, seperti Bitcoin, semakin dapat diakses oleh pemula dan trader paruh-waktu.

Kemajuan teknologi menghilangkan banyak halangan yang sebelumnya mengelilingi pasar modal ini dan menghubungkan akses terhadap perangkat analisa serta beragam indikator teknikal.

Kendati serupa, ada pula perbedaan mencolok antara pasar valas dan pasar aset kripto. Salah satu perbedaan utama adalah terkait likuiditas, atau seberapa mudahnya suatu aset bisa dibeli dan dijual.

Soal ini, mata uang fiat memiliki likuiditas sangat tinggi, sementara sifat aset seperti Bitcoin yang memiliki jumlah terbatas dan kurs tinggi menjadikannya lebih sulit diperdagangkan.

Di level fundamental, kedua aset juga memiliki respons berbeda terhadap bermacam faktor geopolitik dan makroekonomik.

Artinya, cara trader memperdagangkan aset-aset ini bergantung kepada kondisi pasar secara umum.

Baca Juga: PayPal Persilahkan Warga AS Beli Bitcoin di Aplikasinya

Peluang Cuan
Dampak makroekonomi sangat menarik, terutama mengingat sifat ekonomi sekarang yang volatil, yang terdampak oleh pemilu AS dan pandemi COVID-19.

Faktor-faktor berdampak dramatis terhadap nilai mata uang global, yang dilemahkan oleh permintaan yang menurun serta tindakan quantitative easing yang meminimalisir pemasukan kapital di seluruh dunia.

Sebaliknya, aset kripto seperti Bitcoin mulai mencerminkan kinerja emas selama pandemi. Hal ini menyoroti Bitcoin sebagai aset safe-haven dan alat simpan nilai di masa ekonomi yang volatil.

Bitcoin memiliki banyak kesamaan dengan emas, termasuk jumlahnya yang terbatas dan relatif tahan banting terhadap kondisi makroekonomi yang berpengaruh terhadap mata uang fiat.

Mengingat hal tersebut, dapat dikatakan aset kripto menawarkan jalur lebih sesuai untuk untung di iklim saat ini, selama investor memiliki akses terhadap pasar aset kripto untuk membeli Bitcoin.



Sumber : news.tokocrypto.com

Survei: Pandemi Covid-19 Tingkatkan Minat Beli Bitcoin

Data survei dari Grayscale Investments menunjukkan pandemi virus Covid-19 berperan dalam keputusan investor baru untuk membeli Bitcoin.

Ketika harga Bitcoin naik menuju $18.000, trader mencoba untuk mengamankan level all time high, lonjakan investor institusional yang mengikuti  Bitcoin (BTC) terus berlanjut.

Baca Juga: Mata Uang Digital Justru Diprediksi Buat Bitcoin Melambung!

Kali ini, investor institusional dan ritel sama-sama tertarik untuk mengakumulasi Bitcoin, dan data dari pasar turunan kripto menunjukkan investor institusional mendorong volume Bitcoin ke level tertinggi baru.

covid-19 tingkatkan minat beli bitcoinVolume BTC futures berdasarkan bursa. Sumber: Digital Asset Data

Menurut penelitian dari Grayscale Investments, yang saat ini memegang lebih dari $9,8 miliar aset yang dikelola, pandemi virus ini mungkin menjadi pendorong utama reli Bitcoin saat ini.

Baca juga: Grayscale Kini Miliki Setengah Juta Bitcoin!

Menurut survei tahunan perusahaan, 83% dari semua investor Bitcoin baru memulai investasi aset ini dalam 12 bulan terakhir, saat infeksi COVID-19 masih belum memuncak. 38% dari semua investor Bitcoin yang diwawancarai bergabung dalam empat bulan terakhir. 63% mengatakan bahwa gangguan ekonomi yang disebabkan oleh COVID-19 secara positif memengaruhi keputusan mereka untuk membeli BTC.

Bitcoin Menjadi Arus Utama

Survei Grayscale juga menunjukkan bahwa Bitcoin menjadi lebih umum dengan masyarakat umum dan kelas investor. Prospek di antara mereka yang belum berinvestasi di Bitcoin telah berubah drastis sejak 2019. Pada tahun 2020, 55% investor yang diwawancarai menyatakan minatnya untuk memperoleh atau beli Bitcoin, peningkatan yang substansial dari 36% pada tahun 2019.

Hampir setengah dari peserta survei percaya bahwa cryptocurrency akan dianggap sebagai media pertukaran utama pada akhir dekade ini.

Tren investor yang tertarik pada narasi penyimpanan nilai Bitcoin kemungkinan akan meningkat. Ada kemungkinan bahwa adopsi arus utama dapat datang lebih cepat daripada yang diharapkan oleh kebanyakan pakar dan investor.

Akankah Minat Beli Bitcoin Turun Setelah COVID-19 Hilang?

Pertanyaan tentang bagaimana harga Bitcoin akan bereaksi terhadap pemberantasan COVID-19 adalah pertanyaan yang valid di benak sebagian investor. Menurut Jonathan Hobbs, penulis The Crypto Portfolio dan mantan pengelola dana aset digital, efek pandemi akan terasa lama setelah dikendalikan.

“ Ketika dunia akhirnya sembuh dari Covid-19, ekonomi masih akan dililit hutang. Dan bank sentral akan terus mencetak uang untuk mencoba dan menggelembungkan hutang tersebut. Ini seperti yang telah mereka lakukan sejak krisis keuangan 2008. Ini berarti narasi kelembagaan Bitcoin sebagai lindung nilai inflasi kemungkinan akan berlanjut lama setelah pandemi selesai, ” katanya dilansir dari Cointelegraph.

Stimulus ekonomi besar-besaran dan perluasan kebijakan moneter akibat dampak negatif virus Covid-19 telah mengubah lanskap ekonomi di masa mendatang.

Salah satu hal positif utama yang diidentifikasi oleh investor adalah proses investasi Bitcoin yang mudahdan kemampuannya untuk mendapatkan nilai ketika ada volatilitas di pasar tradisional. Faktor-faktor ini kemungkinan besar akan terus bertahan, bahkan ketika pandemi berakhir.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

YFI Bisa “Moon” Karena Membentuk Pola yang Sangat Bullish

YFI, token tata kelola dari Yearn.finance, telah melihat beberapa volatilitas yang sangat besar selama beberapa hari dan minggu terakhir, dengan pembeli yang mengirimkannya meroket lebih dari 100% dari posisi terendah baru-baru ini sementara sekarang mencoba untuk menahannya di atas level Resistance yang penting.

Tekanan jual di Resistance ini telah bertahan kuat selama beberapa hari dan minggu terakhir, dengan perlawanan keras dari pembeli untuk memicu beberapa pergerakan turun saat mencapai level ini.

Baca Juga: Mata Uang Digital Justru Diprediksi Buat Bitcoin Melambung!

Namun, kenaikan menunjukkan tanda-tanda kekuatan besar hari ini dan sekarang bergerak untuk mengubah level ini menjadi Support. Bertahan di atasnya dapat memungkinkan sektor DeFi yang dikumpulkan untuk mendorong lebih tinggi, karena YFI telah menjadi indikator patokan untuk fragmen pasar ini.

Seorang trader pun juga mencatat bahwa pola Bullish secara historis mendukung prospek teknis YFI saat ini.

Dia percaya bahwa ini bisa berarti bahwa crypto DeFi ini siap untuk melihat beberapa kenaikan yang signifikan dalam waktu dekat, berpotensi mengarah ke wilayah bawah level $ 20.000.

Setelah Resistance disini tertembus, crypto tersebut akan dapat melihat kenaikan parabola yang memungkinkannya untuk menetapkan level tertinggi baru.

Saat berbagi pemikirannya tentang kemanakah YFI akan membentuk trend dalam waktu dekat, seorang analis menjelaskan bahwa dia mengamati level Resistance dikawasan $ 20.000 yang lebih rendah.

Baca Juga: Apa Yang Bisa Kita Beli Dengan Bitcoin?

Dia mencatat bahwa penembusan di atas level ini (yang digambarkan di $ 18.808.44) bisa mengirimnya terbang menuju level tertinggi sebelumnya.

“Jumlahkan seperti ini untuk $ YFI pada jangka menengah. Kami menghancurkan area target itu dan kami pergi ke bulan sekali lagi.”

YFI membentuk pola bullish

Secara garis besar, level $18.000 kini menjadi titik kunci terdekat bagi harga untuk memvalidasi potensi trend Bullish-nya, dimana selama level ini mampu berperan sebagai Support, potensi kenaikan lanjutan pun masih tersaji dipasar yang akan mampu bergerak lebih tinggi lagi setelah mampu menembus level pada gambar diatas.

Namun, jika BTC mendadak turun, maka semua altcoin akan ikut turun. Jika anda HODL, masih bukan waktu yang tepat untuk membeli altcoin. Namun, jika anda seorang trader veteran, ini adalah waktu yang bagus.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Mata Uang Digital Justru Diprediksi Buat Bitcoin Melambung!

Brian Kelly dari CNBC mengatakan bahwa dirinya percaya mata uang bank sentral dapat membuat Bitcoin dan pasar mata uang crypto melonjak ke harga yang lebih tinggi lagi.

Dalam episode terbaru dari Fast Money, CEO dari perusahaan investasi mata uang digital BKCM itu mengatakan perbedaan mencolok antara pasokan tetap Bitcoin dan uang yang saat ini dicetak seakan tidak ada habisnya oleh pemerintah. Terlebih, sistem ini sepertinya tidak akan berbeda ketika mata uang fiat tersebut berubah menjadi digital.

Berita Terkait: Ini 6 Alasan Bitcoin Lebih Baik dari Fiat

Dolar, Euro, dan Yuan Digital Faktor Bitcoin Melambung

“Terkait euro atau yuan atau dolar digital, (mereka) ini sebenarnya bukanlah saingan Bitcoin, karena proposisi nilai inti Bitcoin adalah ia memiliki pasokan tetap. Saya tidak dapat membayangkan ketika Bank Sentral Eropa (ECB) mengeluarkan mata uang digital yang memiliki pasokan tetap. Bahkan, menurut saya, akan lebih mudah bagi mereka untuk mencetak lebih banyak uang secara digital. Saya sebenarnya berpikir itu akan menambah risiko bagi pemegang mata uang fiat dan hal ini membuat alasan mengapa Bitcoin adalah produk seperti emas digital.”

Brian Kelly tidak mengatakan secara spesifik terkait dengan tujuan dari harga Bitcoin, tetapi ia percaya rally pasca-halving terakhir pada Bitcoin belum berakhir.

Baca Juga: Deutsche Bank: Mata Uang Digital Bank Sentral Akan Gantikan Uang Tunai!

Ia juga menambahkan bahwa kemunduran yang ada pada Bitcoin mungkin disebabkan dari penjualan yang dilakukan oleh orang-orang yang membeli Bitcoin pada tahun 2017-2018.

Dalam jangka panjang, ia memprediksi total nilai pasar keseluruhan Bitcoin akan mencapai lebih dari 3 miliar USD.

“Biasanya, keuntungan baru akan didapatkan setahu setelah halving berlangsung, tetapi kali ini bahkan dengan waktu tujuh bulan kita sudah memasuki masa keuntungan tersebut…”

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Citibank: Bitcoin Bisa Sentuh US$300 Ribu, Desember 2021

Bank raksasa internasional Citibank mengungkapkan bahwa harga Bitcoin bisa menyentuh  US$300 ribu per BTC pada Desember 2021.

Ramalan agresif oleh bank raksasa itu “dibocorkan”, pada Sabtu 14 November 2020 oleh akun Twitter “Alex, @classicmacro”. Ramalan itu dalam tertuang dalam satu laporan khusus yang ditujukan Citibank kepada klien institusi.

Baca Juga: Beli Bitcoin Tahun 2013, Senator Ini Konsisten Dukung Aset Kripto

bitcoin

Laporan yang diedarkan sangat terbatas itu berjudul sangat spesifik, yakni “Bitcoin: The 21 st Century Gold” yang disusun oleh Tom Fitzpatrick (Managing Director Citibank untuk Wilayah New York).

Baca Juga: Pasang Sabuk Pengaman! Harga BTC Akan Terus Ngegas Hingga Desember 2021

Fitzpatrick merujuk pada grafik mingguan Bitcoin dan menggunakan analisis teknikal (TA) dari tertinggi dan terendah sebelumnya, untuk menentukan sasaran US$318.000 pada Desember 2021.

“Analisis teknikal semacam itu nilainya kecil. Sejauh ini tidak ada akurat dalam memrediksi target dengan technical analysis. Namun, yang kita tahu adalah harga kemungkinan akan terus naik,” komentar ClassicMacro.

Eksekutif Citibank bank itu menggunakan “langkah eksponensial” Bitcoin 2010-2011 sebagai “tanda besar yang mengingatkan” pada pasar emas tahun 1970.

bitcoin

Emas telah mengalami 50 tahun kisaran harga US$20-35 yang dibatasi, sebelum penembusan terjadi setelah perubahan kebijakan fiskal oleh pemerintahan Nixon pada tahun 1971.

Pemisahan emas dari mata uang fiat, pandemi COVID-19 dan keinginan bank sentral untuk mengejar kebijakan pelonggaran kuantitatif yang agresif dapat menyebabkan ledakan pertumbuhan harga Bitcoin di masa depan, menurut Fitzpatrick.





Sumber : news.tokocrypto.com

Deutsche Bank: Mata Uang Digital Bank Sentral Akan Gantikan Uang Tunai!

Deutsche Bank (DB), lembaga perbankan terbesar di Jerman, yakin keberadaan mata uang digital bank sentral (CBDC) akan menggantikan uang tunai di masa depan.

Deutsche Bank Research menerbitkan laporan baru berjudul “What we must do to rebuild” pada 10 November lalu. Laporan tersebut berisikan estimasi ekonomi dan proposal dalam membantu ekonomi global yang dilanda pandemi virus corona.

Baca Juga: Robert Kiyosaki: Bitcoin Kalahkan Emas dan Perak

Revolusi Mata Uang Digital

Laporan tersebut menyatakan pandemi Covid-19 ini telah mempercepat revolusi uang digital. Menurut pihak DB, revolusi ini pada akhirnya akan memungkinkan CBDC seperti yuan digital China atau e-krona Swedia untuk menggantikan uang tunai dalam jangka panjang.

Selain itu, DB juga meminta pemerintah dan perusahaan swasta lain di Jerman untuk mencari alternatif selain kartu kredit, dengan menyatakan:

“Pembatasan sosial yang dilakukan di seluruh dunia dan sikap jaga jarak sosial meningkatkan penggunaan kartu dibandingkan dengan uang tunai. Untuk merespon lebih lanjut, perusahaan dan pembuat kebijakan seharusnya merancang alternatif pada kartu kredit dan menghapus biaya perantara. […] Untuk saat ini, sistem pembayaran digital regional harus diutamakan. Dalam jangka panjang, mata uang digital bank sentral akan menggantikan uang tunai. “

Laporan ini juga memperingatkan para pemangku kebijakan Eropa terkait dengan risiko yang ada jika mereka tidak dengan segera mengembangkan proyek mata uang digital mereka sendiri sebagai respon terhadap kemajuan sistem pembayatan di China dan Swedia.

Baca juga: Visa Gunakan Blockchain, Bantu Integrasi Mata Uang Digital Bank Sentral 

Pihak bank juga berpendapat, ketertinggalan ini akan memaksa penerapan kebijakan yang seharusnya dilakukan penggerak pertama:

“Jika negara lain tidak mengejar hal ini, mereka mungkin akan terpaksa mengadopsi mata uang digital dan kebijakan negara lain sebagai media pembayaran.”

Solusi Mata Uang Digital

DB juga  meminta Eropa mengembangkan solusi mata uang digital untuk memperkuat Euro dan geopolitik yang ada. “Untuk melakukan ini, kita harus memiliki solusi pembayaran Eropa yang independen,” tulis Deutsche Bank Research.

Meskipun Deutsche Bank mendorong percepatan pengembangan mata uang digital global, sejumlah negara belum mau terburu-buru untuk menerbitkan CBDC.

Pada bulan Oktober 2020, Jerome Powell dari Federal Reserve Amerika Serikat menyatakan, AS tidak memiliki kekhawatiran terkait dengan negara lain yang sudah menerbitkan CBDC. Ketua Fed itu mengatakan, pemerintah AS tidak akan membuat keputusan untuk mengeluarkan dolar digital sampai risiko terkait CBDC seperti serangan dunia maya dan privasi rampung.

Selain itu, pejabat di Selandia Baru dan Rusia juga menyatakan sikap yang sama dan menyatakan akan mengambil pendekatan lebih dalam.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Robert Kiyosaki: Bitcoin Kalahkan Emas dan Perak

Robert Kiyosaki, pengusaha dan motivator ternama mengakui Bitcoin mampu mengalahkan kinerja emas dan perak. Pernyataan itu menegaskan lagi dukungannya terhadap Bitcoin, selain emas yang dia unggulkan sejak tahun 1971 sebagai store-of-value asset.

Baca Juga: Perusahaan Investasi: Blockchain Akan Memimpin Globalisasi Digital

“Bitcoin naik mengalahkan emas dan perak. Artinya sekarang Anda harus membelinya sebanyak yang Anda mampu. Dolar AS merana dan perak masih terjangkau. Selama dolar AS jatuh, bukan harga yang jadi pertimbangan untuk membelinya, tetapi seberapa banyak emas, Bitcoin dan perak yang kaumliki,” kata Kiyosaki melalui Twitter, 13 November 2020 lalu.

Faktanya memang demikian, selama tahun 2020, emas hanya mampu tumbuh 50 persen. Sedangkan Bitcoin lebih disukai, hingga berkinerja baik hingga lebih dari 100 persen. Kini Raja Aset Kripto itu naik tinggi lebih dari US$16.000 per BTC.

Bukan kali itu saja Kiyosaki berkicau mendukung Bitcoin, bahkan hampir setiap hari, termasuk di Kanal Youtube-nya.

Yang terbaru sebelum itu, pada 4 November 2020 terkait pilpres AS, dia mengatakan siapapun nanti yang menang, tetaplah membeli emas, perak dan Bitcoin.

“Bitcoin lahir pada tahun 2009, musuh nyata The Fed dan Kementerian Keuangan. Tetaplah membeli emas, perak dan Bitcoin,” kata penulis buku Rich Dad, Poor Daditu.

Kaitan Bitcoin dengan melemahnya kinerja bank pernah ia utarakan pada Agustus 2020 lalu. Dia menyarankan lebih pro Bitcoin lagi, karena menurutnya bank akan mengalami krisis.

Kiyosaki sangat terkenal dengan sikap moderatnya terhadap teknologi digital, khususnya yang terkait dengan teknologi keuangan alias fintech. Selain emas yang tetap ia sokong sejak ia berusia muda, kehadiran Bitcoin yang kian popular di kalangan generasi milenial saat turut mendapatkan dukungan Kiyosaki.

Bahkan jauh sebelum resesi akibat pandemi COVID-19, Kiyosaki sudah jauh-jauh memprediksi ada gonjang-ganjing ekonomi akibat kegagalan bank sentral dan pasar saham yang memang sudah retak.

Ketika itu ia menyarankan publik untuk memulai kembali mengakumulasi emas secara besar-besaran termasuk perak yang tergolong kurang popular.

Dan pada Agustus 2020 lalu, kita menyaksikan harga emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa dan perak melonjak gila-gilaan akibat resesi ekonomi yang belum pernah ada sebelumnya setelah tahun 2008, akibat pandemi parah.

Di sisi lain, Bitcoin sebagai kelas aset baru yang sifat langkanya mirip seperti emas dan perak, didukung penuh oleh Kiyosaki. Sudah berulangkali dia bicara soal dukungannya itu di Twitter dan di beragam kesempatan, bahkan di channel Youtube-nya.

Dia juga pernah bilang bahwa krisis akan menimpa sejumlah bank-bank besar, masih terkait dampak resesi saat ini. Oleh sebab itu, katanya masyarakat sangat disarankan mengakumulasi lebih lagi terhadap emas dan Bitcoin.

“Mengapa Buffett keluar [menjual sebagian sahamnya] dari bank? Bank bangkrut. Krisis perbankan besar akan tiba tak lama lagi. Apakah kelak Bank Sentral AS dan Kementerian Keuangan akan mengambil alih sistem perbankan dan menggelontorkan lebih banyak uang kepada warga. Mungkin bukan waktunya memikirkan itu. Berapa banyak emas, perak dan Bitcoin yang Anda miliki?” kata Kiyosaki, 21 Agustus 2020 lalu.

Pernyataan Kiyosaki itu mengacu pada langkah taipan Warren Buffett belum lama ini yang menjual sebagian sahamnya di sejumlah bank besar dan berinvestasi di perusahaan tambang emas, Barrick.

Ia kembali menegaskan itu pada 22 Agustus lalu: “Buffett membeli untuk Menjual. Dia menjual [saham] CocaCola, Asuransi Geico, pisau cukur Gillette. Dia sekarang menjual emas Barrick. Emasnya berharga US$1000 untuk menambang. Dijual seharga US$2000. Barrick memiliki banyak emas untuk dijual di masa masa depan. Cerdas! Berapa banyak Bitcoin, emas dan perak yang harus Anda jual di masa depan?” 

Baca Juga: Perbandingan Pasar Bitcoin dan Forex

Sentimen Kuat dan Buas
Selama tahun 2020 memang terbukti emas kalah dibandingkan Bitcoin. God’ Money itu hanya tumbuh 50 persen, sedangkan Bitcoin mampu tumbuh lebih dari 100 persen. Kini Raja Aset Kripto itu naik tinggi lebih dari US$16.000 per BTC.

Beberapa aset kripto lain, seperti Ether (ETH), Cardano (ADA), Ripple (XRP) harganya diproyeksikan akan terus menguat di masa depan.

Pun dari segi fundamental pun sangat apik, karena bank-bank mulai melirik aset kripto sebagai bagian dari layanannya kepada nasabah.

Sebut saja di Korea Selatan, Swiss dan khususnya di Amerika Serikat, akibat restu oleh Badan Pengawas Dolar AS (OCC).

Sejumlah bank-bank besar di AS sendiri malah terus menggenjot teknologi blockchain-nya sendiri agar sistem transfer uang mereka sama efisien dengan aset kripto masa kini.

Lihat pula PayPal, Square dan MicroStrategy yang kian erat memeluk Bitcoin.



Sumber : news.tokocrypto.com