Category Archives: Domestik

Rasakan Pengalaman Jadi Warlok Desa Taro Bisa Menginap di Homestay Ini



Gianyar

Traveler memiliki kesempatan untuk merasakan menjadi warga lokal atau warlok di Desa Taro, Tegallalang, Gianyar, Bali. Caranya, menginap semalam di homestay yang satu ini.

Desa Wisata Taro merupakan desa tertua di Bali. Desa itu masih mempertahankan budaya dan tradisi lokalnya.

Berada di desa ini serasa melangkah mundur ke masa lalu, di mana kehidupan berjalan lebih lambat dan lebih dekat dengan alam.

Sebagai desa wisata, Desa Taro menyuguhkan beragam destinasi dan aktivitas menarik bagi wisatawan yang berkunjung. Namun, jika ingin mencoba pengalaman berbeda, traveler dapat mencoba menjadi warlok Desa Taro dalam semalam.

Desa Taro memiliki dua buat homestay yang dapat disewa oleh pengunjung untuk mendapatkan pengalaman berlibur yang berbeda. Lokasi homestay ini tak jauh dari konservasi Lembu Putih. Traveler bisa menikmati sensasi menginap sembari melihat hewan sakral dari Desa Taro.

“Kita di sini mengelola dua homestay milik desa. Terdapat dua kamar dengan jenis yang sama. Uniknya lokasi homestay ini berada di dalam kawasan konservasi Lembu Putih, jadi pengunjung bisa sambil menikmati kecantikan hewan sakral ini,” kata I Wayan Gede Ardika, pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Taro.

Homestay di Desa Taro dibangun dengan gaya arsitektur Bali yang khas, memberikan nuansa autentik yang memperkaya pengalaman menginap. Bangunan homestay berbentuk segitiga dengan ornamen kayu yang kental.

Karena terletak di kawasan konservasi Lembu Putih, homestay ini menawarkan pemandangan sawah yang menakjubkan dan suasana yang tenang, cocok untuk relaksasi. Beberapa fasilitas yang akan traveler dapatkan di kamar yakni, AC, kulkas, lemari pakaian, meja kerja, wifi, king bed, meja kursi teras, dapur, toilet, dan meja kursi balkon.


Traveler yang ingin bermalam di homestay ini akan dikenakan biaya mulai dari Rp 500.000 per malamnya. Untuk traveler yang menginap dapat melakukan check in pukul 14.00 WITA dan check out pukul 12.00 WITA.

Karena lokasinya yang strategis dan harganya yang ramah di kantung, menurut Ardika homestay Desa Taro memiliki tingkat okupansi hingga 100% loh. Bagi traveler yang ingin menginap, bisa melakukan reservasi terlebih dahulu ke Instagram @desawisatataro, jangan sampai kehabisan ya!

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Kafe ala Studio Ghibli di Kemang, Olah Makanan dari Hasil Kebun Sendiri



Jakarta

Di Kemang, Jakarta Selatan ada tempat nongkrong yang sejuk dan vibesnya seperti rumah-rumah di film besutan Studio Ghibli.

Mandira’s Garden merupakan kafe yang mengusung konsep apa yang ditaman, itu yang disajikan. Ya, makanan dan minuman yang dijual di tempat ini sebagian besar merupakan hasil kebun sendiri.

Daya tarik cafe ini selain konsep kebun adalah adanya ikon dari Studio Ghibli yakni Totoro. Monster lucu itu mejeng di beberapa bangunan di Mandira’s Garden dan tentunya jadi spot favorit pengunjung untuk berfoto.


detikTravel pun datang berkunjung ke kafe berkonsep kebun itu. Sesampainya di sana, kesan nyaman langsung hadir begitu melewati gerbang masuk.

“Jadi ownernya pengen menetapkan beberapa tema aja sih kaya tahun ini kita Ghibli karena banyak customer kaya ‘tempatnya kaya (di film) Ghibli ya, jadi mungkin bisa lah dibuat ala-ala Ghibli. Tahun sebelumnya kita bikin Alice in Wonderland sih,” jelas Ranis sebagai salah satu staf di Mandira’s Garden, Sabtu (22/6/2024).

Kafe ala Studio Ghibli di KemangKafe ala Studio Ghibli di Kemang Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Area yang luas dan banyak ditanami tumbuh-tumbuhan serasa berada di rumah sendiri, kemudian deikTravel mencari tempat duduk yang nyaman.

Ternyata memang, setelah berkeliling dan mengobrol dengan salah satu staf cafe yang bernama Ranis, memang Mandira’s Garden mengedepankan bahan-bahan organik dari kebun sendiri.

“Untuk cafe ini mulai berdirinya tuh dari tahun 2016 jadi tujuan dari pendirinya ini kan sebenarnya dari keluarga sih, terus buka cafe ini tuh karena dari keluarganya itu kurang makan makanan sehat lah. Jadi si pendirinya itu mulai sadar bahwa makanan sehat tuh penting gitu loh jadi dia mulai menanam kecil-kecilan sayuran organik,” kata Ranis.

“Awal berdirinya ini nggak langsung restoran, awalnya tuh cuma jual kaya jamu sama sayur-sayurannya aja jadi cuma bener jual sayur-sayuran organiknya aja. Semakin ke sini makin banyak yang kaya ‘bisa nggak sih ngerasain masakannya langsung’ makanya ownernya ini berpikir ‘oh mungkin bisa kali ya kita buka resto dengan konsep garden to table’ jadi dibuat lah Mandira’s Garden,” sambungnya.

Pemilik dari Mandira’s Garden ini adalah Lisa Mandira. Berawal dari keinginan hidup sehat dengan pola konsumsi yang baik jadi lahirlah Mandira’s Garden ini.

Kafe ala Studio Ghibli di KemangKafe ala Studio Ghibli di Kemang Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Jumlah tanaman yang ada di cafe ini juga sudah tak terhitung, Ranis mengatakan bisa hampir 100 lebih, dengan berbagai jenis tanaman.

“Banyak banget sih bisa mungkin seratus karena pada dasarnya kalau organik tuh kan kita tanpa menggunakan pestisida dan bahan-bahan kimia lainnya,” sebutnya.

detikTravel pun dalam kunjungan ini memesan minuman mix juice buah mangga dan nanas serta kudapan bitterballen. Walaupun terlihat sederhana namun rasa yang disuguhkan serasa berada di rumah sendiri yang disandingkan dengan suasana cafe ini.

Kafe ala Studio Ghibli di KemangKafe ala Studio Ghibli di Kemang Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Kudapan tersebut jadi salah satu kudapan favorit yang dipesan oleh para pengunjung, adapun makanan berat yang juga sering dipesan adalah nasi rames dan pasta pesto basil. Ranis pun menuturkan semua bahan yang dipakai merupakan hasil dari kebun cafe ini.

“Kalau di sini mostly nasi ya, kita di sini ada nasi rames. Itu dia udah ada proteinnya, ada sayurannya, dan segala macem. Itu sih yang lebih sering, kita juga ada menu pasta pesto basil jadi saos pesto basilnya itu kita produksi sendiri dari daun basilnya itu,” terang Ranis.

Sebagai informasi, menu sayuran di Mandira’s Garden tak tetap dengan satu bahan saja karena tergantung sayuran apa yang tengah mereka panen. Ini lah yang jadi salah satu daya tarik dari Mandira’s Garden.

Kafe ini menjual sayuran-sayuran hasil kebun serta tanaman jika pengunjung berminat untuk membelinya, juga menjual buah-buahan dari hasil panen kebun sendiri ataupun petani sekitar.

“Untuk sayuran organik kita jual juga kita jual per pack, kalau untuk tanaman yang ada di sini kita juga jual kalau misalkan ada yang mau beli. Untuk sayuran kita start dari Rp 12.500 per 200 gram, kalau untuk tanaman kita start dari Rp 50.000 sampai Rp 125.000 tergantung tanamannya,” papar Ranis.

Jam Buka dan Lokasi

Mandira’s Garden buka setiap hari, Senin sampai Jumat buka dari jam 11.00 hingga 20.00 WIB. Untuk hari Sabtu, jam bukanya mulai dari jam 08.00 sampai 20.00 WIB.

Sedangkan untuk hari Minggu, kafe buka mulai jam 08.00 hingga 17.00 WIB. Mandira’s Garden terletak di Jalan Kemang Timur No 55, Jakarta Selatan.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Jogja Rasa Bandung di Kafe Rumah Rasa Kaliurang



Yogyakarta

Rumah Rasa Kaliurang adalah kafe estetik yang menawarkan pengalaman unik seolah memasuki negeri dongeng. Dengan vibes penuh taman bunga dan dominasi warna krem, kafe ini menjadi destinasi favorit bagi banyak orang.

Pengunjung seolah diajak mengingat kenangan pulang ke rumah nenek yang bikin betah. Jauh dari jalan raya, tentu ketenangan yang membawa damai dapat traveler temui di sini.

Ahmad, barista di Rumah Rasa, berbagi cerita tentang pesona kafe yang dimiliki oleh Ika, seorang pengusaha dari Yogyakarta.


Suasana dan Lokasi

Rumah Rasa Kaliurang berlokasi di Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Terletak di sekitar area Karang Pramuka Kaliurang, kafe ini bukan berada di pinggir jalan besar, tetapi sedikit masuk ke dalam, menjadikannya sebuah hidden gem yang patut dicari.

“Jalan menuju ke sini sudah mulus dan aksesnya mudah, walaupun agak meliuk liuk jalannya,” kata Ahmad.

Dari tempat duduk di kafe, pengunjung dapat menikmati latar belakang hutan-hutan penuh pepohonan hijau yang menambah kesan sejuk dan alami.

Konsep dan Desain

Konsep kafe ini homey, layaknya di kebun teras rumah sendiri. Kafe ini dikelilingi oleh banyak tanaman rimbun, namun tetap terpapar cahaya matahari yang cukup, menciptakan suasana yang nyaman dan menenangkan.

“Orang sering menyebut suasananya ‘vibes Bandung banget’,” ungkap Ahmad.

Di tembok kafe, terdapat tulisan yang berbunyi, “Aku adalah warna, kamu adalah kata, kita adalah rasa,” yang menambah keunikan dan keindahan tempat ini.

Berkunjung kemari jangan lupakan untuk berfoto di setiap sudutnya yang estetik

Fasilitas Lengkap

Rumah Rasa Kaliurang menyediakan berbagai fasilitas lengkap seperti WiFi, toilet, mushola, rumah pohon, area outdoor dan indoor, serta parkir mobil dan motor. Dengan suasana yang mengingatkan pada kunjungan ke rumah nenek saat liburan, tempat ini benar-benar adem dan bikin betah.

“Kafe ini cocok untuk work from cafe, nongkrong, atau berkumpul bersama keluarga,” jelas Ahmad.

Menu dan Spesialisasi

Menu di Rumah Rasa didominasi oleh Western food, dengan andalan utama pizza. Ahmad menyebut Pizza lah yang paling dipesan oleh pengunjung. Keunikan lainnya adalah produksi keju sendiri bernama Keju Montkaas yang bisa dibeli untuk dibawa pulang

“Susunya kami ambil dari peternak sekitar,” tambahnya.

Meskipun harga makanan di sini sedikit tidak ramah kantong pelajar, pengalaman yang dirasakan akan luar biasa, dengan setiap sudut yang estetik dan cocok untuk berfoto.

Kanestayi Villa

Selain kafe, Rumah Rasa juga memiliki villa khusus untuk staycation bernama Kanestayi Villa, yang berarsitektur gaya peninggalan zaman Belanda. Villa ini menawarkan pengalaman menginap yang unik seperti di rumah.

Lokasi villanya tepat di samping kafe membuatnya menjadi pilihan yang tepat bagi pengunjung yang ingin menghabiskan lebih banyak waktu di lingkungan yang tenang dan indah.

Jam Operasional dan Pengalaman Pengunjung

Kafe ini buka dari Rabu hingga Sabtu pukul 09.30-19.30, dan pada hari Selasa dari pukul 14.00-19.30. Pengunjung yang datang biasanya untuk nongkrong atau bersama keluarga, dan saat long weekend atau liburan, kafe ini seringkali sampai close order karena penuh.

“Kami tutup pada Minggu dan Senin,” jelas Ahmad.

Dengan keindahan alamnya, suasana yang nyaman, dan berbagai fasilitas yang ditawarkan, Rumah Rasa Kaliurang benar-benar menghadirkan pengalaman seolah berada di negeri dongeng.

“Kami ingin pengunjung merasa seperti di rumah sendiri, tapi dengan sentuhan magis dari alam,” kata Ahmad.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Pantai Marunda Masih Dilirik Wisatawan, meski Ada Sampah Berserakan



Jakarta

Pantai di Jakarta tak cuma Ancol, ada juga Marunda. Pantai itu masih dilirik oleh wisatawan, meski masih ada sampah yang berserakan.

Ternyata pantai Marunda di Jakarta Utara masih menjadi pilihan masyarakat sebagai tempat rekreasi keluarga. Bukan hanya karena tak perlu mengeluarkan kocek yang besar, lebih dari itu, bagi pengunjung pantai ini juga cukup nyaman dengan segala keterbatasan.

Bila berbicara tentang fasilitas, Pantai Marunda mungkin tak seperti pantai-pantai lain, sebut saja pantai Ancol. Perbandingannya sangat jauh.


Di Pantai Marunda tak ada wahana untuk bermain anak-anak. Bahkan untuk toilet pun masih terbatas. Namun dengan keterbatasan fasilitasnya, Pantai Marunda masih sangat dicintai oleh para pengunjung.

Liliana yang merupakan warga Tambun, Bekasi misalnya. Ia memutuskan pilihan untuk berkunjung ke pantai ini sehabis melancong ke Rumah Si Pitung yang tak jauh dari lokasi pantai.

Pantai MarundaPantai Marunda Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Bersama rombongan ia ingin menikmati sore yang nikmat di pinggiran pantai yang berbeda. Karena tak ada pasir yang indah di Pantai Marunda.

“Dalam rangka liburan awalnya buka-buka (internet) jalan-jalan ke mana ya, terus keluar lah Pantai Marunda ini jadi ‘Marunda aja yuk’ murah juga kan bayar cuma Rp 2.000,” ungkapnya kepada detikTravel, Selasa (2/7/2024).

Saat ditanyai, ia baru pertama kali datang ke Pantai Marunda. Kesan yang ia sebutkan cukup baik untuk pantai yang katanya kotor. Baginya dengan harga yang murah, rasanya setimpal juga dengan kualitas yang disuguhkan di pantai ini, namun masih dalam koridor yang nyaman.

“Sejujur-jujurnya kotornya cuma ke area sini aja sih, dari awal depan nggak kayaknya. Ya juga murahlah masuk Rp 2.000,” terangnya.

Dalam kesempatan di Pantai Marunda ini, detikTravel juga masih melihat sampah-sampah yang berserakan di beberapa titik pantai. Ada petugas kebersihan di pantai ini yang setiap hari membersihkan sampah-sampah bekas pengunjung ataupun yang terbawa dari laut.

Pantai MarundaWarung di pantai Marunda Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Di beberapa titik pantai pun, terutama di deretan warung terlihat ada beberapa tempat sampah baru. Karena masih memiliki warna yang cerah, hal ini pun dikonfirmasi oleh salah satu pedagang yang bernama Lina.

“Masalah sampah sih udah agak mendingan apalagi sekarang udah diadain tempat sampah, kalau waktu itu kan masih ada yang buang sembarangan,” ucap Lina sambil memperhatikan dagangannya.

Sedari kecil memang dirinya tinggal di wilayah Marunda dan telah melihat perubahan yang besar dari segi pengurangan sampah. Selain adanya petugas kebersihan, kesadaran pengunjung dan pedagang akan sampah ini juga sudah meningkat.

Jadi pengunjung pun bisa betah untuk berlama-lama saat berada di Pantai Marunda. Alhasil dagangannya pun banyak dibeli oleh pengunjung ketika pantai ramai.

Pantai MarundaAnak-anak berenang di pantai Marunda Foto: Muhammad Lugas Pribady/detikTravel

Lina serupa dengan pedagang lainnya yang menjual berbagai macam makanan dan minum seperti makanan laut, layaknya kerang ijo hingga mie instan ataupun minuman-minuman dingin.

“Ya lumayan dah cukup, Sabtu-Minggu meningkat lah lumayan. Apalagi pas libur sekolah ini lumayan lah dapet Rp 100.000 ya alhamdulilah,” pungkas Lina.

Pengunjung di Pantai Marunda ini banyak melakukan aktivitas yang berbeda. Ada yang tengah asyik berkaraoke, memancing, berenang di laut hingga duduk santai di beton-beton penyangga ombak sembari melihat matahari terbenam.

Udara di Pantai Marunda pun cukup sejuk, tak begitu panas atau lembab seperti pantai biasa, jadi membuat banyak pengunjung di sini betah untuk berlama-lama.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Gratis, Bebas Asap Rokok, Fasilitas Lengkap



Jakarta

Siapa bilang taman-taman keren hanya ada di Jakarta Pusat atau Jakarta Selatan, ternyata di Jakarta Utara juga terdapat taman yang keren dengan fasilitas lengkap. Taman Sungai Kendal.

Di taman itu terdapat taman bermain anak-anak, skatepark hingga area hijau yang luas. Asyiknya lagi semua fasilitas semua bisa dinikmati tanpa harus mengeluarkan biaya sepeser pun.

Taman Sungai Kendal terletak di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, taman itu berdiri di area seluas kurang lebih 3,5 hektar. Sejak diresmikan pada 2019, taman itu langsung menjadi primadona warga untuk menghabiskan waktu luang mereka, mulai pagi, siang, hingga sore.


detikTravel datang untuk melihat secara langsung penampakan taman yang fasilitasnya lengkap itu. Di awal masuk, parkiran yang luas bisa untuk ditempat beberapa mobil dan juga puluhan motor dan untuk bisa mencapai ke area bermain, pengunjung perlu melewati jembatan-jembatan yang pas untuk dijadikan spot berfoto juga lari tipis-tipis.

Selagi berjalan di jembatan, pengunjung juga disuguhkan dengan kolam-kolam yang berada bawah jembatan tersebut, terlihat beberapa ikan yang muncul ke permukaan namun terdapat larangan untuk memancing ikan di Taman Sungai Kendal ini.

Setelah melewati jembatan-jembatan tersebut, barulah terlihat taman-taman bermainnya. Di buka dengan permainan-permainan jadul seperti ular tangga yang berukuran besar, namun sayang cat pada area bermain sudah sedikit memudar. Dari area ini, terdapat dua jembatan yang bisa pengunjung akses untuk menuju area bermain yang lebih besar.

Taman Sungai Kendal, Cilincing, Jakarta UtaraTaman Sungai Kendal, Cilincing, Jakarta Utara (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

Di sana terdapat area bermain anak-anak yang sudah ramai didatangi oleh pengunjung, wahana perosotan jadi pilihan anak-anak yang bermain di sini. Mereka rela mengantre untuk bergiliran mencobanya, selain perosotan ada pula ayunan yang tak kalah ramainya dijajal oleh anak-anak.

Dan di ujung dekat area bermain ini terdapat lapang serbaguna dan juga skatepark yang bisa digunakan oleh pengunjung dengan gratis. Selagi anak-anak bermain dengan riang, para orang tua yang mengantar bisa duduk manis di bawah pohon-pohon yang rindang.

Suasana dan cuaca di taman ini pun begitu berbeda dengan image Jakarta Utara yang berdebu, Taman Sungai Kendal ini begitu tenang dan juga angin berhembus dengan sejuk. Hal-hal tersebutlah yang menjadi pilihan para warga sekitar untuk membawa anak-anak mereka berkunjung ke taman ini.

Ajeng yang merupakan warga Bakti Cilincing mengungkapkan sudah beberapa kali datang ke taman ini, sedari dulu ia senang untuk berkunjung ke taman ini. Terlebih saat memiliki buah hati, saat diajak ke taman ini sang anak begitu senang karena bisa eksplor kawasan ini dan bermain permainan.

“Sering udah beberapa kali ke sini dari sebelum nikah sampai sekarang punya anak sering beberapa kali karena lebih dekat aja dari rumah saya, nggak terlalu jauh gitu jadi gampang lah untuk ke sininya juga. Terus di sininya juga aman untuk anak-anak karena bebas rokok, fasilitasnya juga cukup sih untuk duduk, piknik, atau untuk main anak-anak tuh cukup cuma ya diperbaiki aja sih sedikit soalnya masih ada beberapa sampah,” kata Ajeng dalam perbincangan dengan detikTravel, Senin (1/7/2024).

Taman Sungai Kendal, Cilincing, Jakarta UtaraTaman Sungai Kendal, Cilincing, Jakarta Utara (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

Di taman tersebut, Ajeng dan keluarganya tengah asyik menikmati udara yang sejuk. Sang anak yang bernama Naya pun yang sudah berkeringat sehabis bermain dan mencoba perosotan serta ayunan.

Senada dengan Ajeng, Neneng pun datang bersama keluarga ke Taman Sungai Kendal ini, dengan fasilitas lengkap dan area yang luas ini tak ada pungutan biaya untuk pengunjung yang ingin memasukinya.

“Udah beberapa kali sih datang ke sini, soalnya kan deket terus taman bermainnya juga enak buat anak-anak. Terus anak-anak juga bisa eksplor ke mana-mana gitu jadi ada banyak aktivitas sih di sini, selain gratis tempatnya juga nyaman dan bersih,” kata Neneng.

Bahkan ia menunjukkan salah satu anaknya yang hampir setiap hari datang ke taman ini, walaupun ia menyebut jarak rumah ke taman ini cukup jauh sekiranya tiga kilometer. Namun yang membuatnya dan keluarga kerap datang ke sini karena terdapat transportasi JakLinko.

“Ini nih sering hampir setiap hari, padahal lumayan jauh juga loh jaraknya sekitar tiga kiloan ya, daerah Cakung kita Jalan Baru. Udah gitu ada JakLinko gratis juga kan jadi mempermudah,” kata dia.

Neneng biasa menghabiskan waktu di taman ini sedari pukul 14.00 WIB atau pukul 15.00 WIB, dan akan kembali ke rumah saat menjelang adzan maghrib. Ya, jam operasional Taman Sungai Kendal ini dibuka pada pukul 07.00 hingga 17.00 WIB.

Pengamanan Dalam (Pamdal) Wilayah Rorotan, Jakarta Utara, Susiarti mengatakan masyarakat yang datang ke taman di momen libur sekolah ini mengalami peningkatan. Walaupun peningkatannya tak signifikan tapi terlihat dari banyak yang datang di hari biasa.

“Untuk libur sekolah di hari biasa itu masih seperti biasa tapi agak meningkat sedikit ya. Kalau setiap weekend rame walaupun nggak ada libur sekolah tetap rame, biasanya kalau rame itu di sore di jam setengah empat sore sampai magrib itu rame,” ujar Susiarti.

Taman Sungai Kendal, Cilincing, Jakarta UtaraTaman Sungai Kendal, Cilincing, Jakarta Utara (Muhammad Lugas Pribady/detikTravel)

Susiarti juga mengatakan banyak masyarakat yang datang ke sini membawa keluarganya sebagai tempat rekreasi. Karena dengan banyaknya fasilitas bermain untuk anak, jadi membuat anak merasa senang saat diajak ke Taman Sungai Kendal ini.

“Kalau keluarganya yang datang ke sini ya mereka mengajak putra dan putrinya ya untuk bertamasya, mengenal lingkungan ‘ini loh taman kita yang indah, yang kita kunjungi nggak harus berbayar di sini fasilitas semuanya gratis’. Jadi putra dan putri mereka itu cukup bahagia juga antusias, cukup memberikan semangat dan kebahagiaan bagi putra-putri mereka,” katanya.

Jadi buat kamu warga Cilincing dan sekitarnya nggak usah jauh-jauh cari taman yang lengkap dan sejuk, tinggal datang ke Taman Sungai Kendal saja. Di taman ini juga sudah disediakan toilet yang bersih dan juga mushola.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

7 Tempat Nongkrong Asik di Bogor, View Bagus & Ada Live Music!


Jakarta

Selain tempat wisata, di Bogor juga banyak tempat dan kafe yang asik untuk nongkrong. Tempat-tempatnya pun aesthetic, homey, dan punya view yang bagus. Cocok pula untuk WFC.

Sambil nongkrong bisa sing along karena ada live music yang menemani. Beberapa tempat juga pet friendly, jadi boleh bawa peliharaan tersayang ke sini. So, di mana saja sih tempat nongkrong yang asik di Bogor ini? Cek di bawah.

Rekomendasi Tempat Nongkrong Asik di Bogor

Berikut beberapa tempat nongkrong asik di Bogor dengan rating tinggi dan banyak review di Google.


1. Roofpark Cafe & Restaurant

Lokasi dan Jam Buka:

  • RAJA FO Bogor, Jl. Raya Pajajaran No. 3 Minggu-Jumat (10.00-22.00), Sabtu (10.00-23.00)
  • RAJA FO Puncak, Jl. Raya Cimacan Senin-Rabu (10.00-22.00), Kamis-Jumat & Minggu (10.00-23.00), Sabtu (10.00-00.00).
Roofpark Cafe & RestaurantRoofpark Cafe & Restaurant Foto: Instagram @roofpark

Roofpark Cafe & Restaurant memiliki konsep taman cantik yang dipenuhi pohon rindang, tanaman, serta bunga warna-warni. Kafe ini bisa dibilang tempat nongkrong cukup populer di Kota Bogor dan di Puncak.

Menu di sini banyak dan komplet, mulai dari hidangan utama, camilan, dan dessert. Ada makanan tradisional, western, hingga Eropa. Di sini ada juga live music untuk sing along dan temani waktu nongkrong bersama teman-teman.

2. POPOLO Coffee

Lokasi:

  • Jl. Loader No. 9, Baranangsiang
  • Jl. Rena Wijaya, Baranangsiang
  • Jl. Rasamala, Curugmekar
  • Sumur Batu, Sentul.

Jam Buka: Senin-Sabtu (09.00-20.00).

POPOLO CoffeePOPOLO Coffee Foto: Instagram @popolocoffee

Kalau ingin nongkrong di tempat dengan suasana homey, teduh, dan dikelilingi kehijauan, bisa ke POPOLO Coffee. Kafe aesthetic ini juga pet friendly, jadi kamu bisa bawa hewan peliharaan tersayang ke sana.

Di sini tersedia banyak minuman kopi dan non kopi. Ada juga menu pasta, rice bowl, dan aneka fries untuk mengganjal perut.

3. Warung Kopi Nako

Lokasi:

  • Jl. Pajajaran Indah V No. 7, Baranangsiang
  • Taman Yasmin, Jl. KH. R. Abdullah Bin Muhammad Nuh
  • Taman Budaya, Jl. Siliwangi No. 1, Babakan Madang,
  • Sentul City, Cijayanti.

Jam Buka: Minggu-Jumat (08.00-23.00), Sabtu (08.00-00.00).

Warung Kopi NakoWarung Kopi Nako Foto: Instagram @kopinako.sentul

Kopi Nako jadi tempat nongkrong pilihan banyak orang, terutama anak muda. Kedai kopi kontemporer ini punya ciri khas bangunan tinggi, tempat luas, dan tempat duduknya yang tribun.

Menu yang disajikan bervariasi. Mulai dari aneka kopi tentunya, minuman non kopi, camilan, sampai hidangan berat. Ada juga es krim kalau sekadar ingin yang simpel.

4. Raindear Coffee & Kitchen

Lokasi:

  • Jl. Bina Marga No. 7, Baranangsiang
  • Taman Budaya, Jl. Siliwangi No. 1, Sentul City.

Jam Buka:

  • Setiap hari (10.00-22.00)
  • Minggu-Jumat (08.00-22.00), Sabtu (08.00-23.00).
Raindear Coffee & KitchenRaindear Coffee & Kitchen Foto: Instagram @raindearcoffee

Kafe aesthetic untuk nongkrong lainnya yaitu Raindear Coffee & Kitchen. Tempatnya luas, seat banyak, dan ada live music yang bakal menemanimu.

Makanan dan minuman di sini sudah tersertifikasi halal. Menunya pun beragam, ada hidangan utama hingga camilan dan dessert yang lezat. Seperti sop buntut, steak, spaghetti, pizza, nachi, hingga waffle. Minumannya ada kopi dan non kopi.

5. Third Wave Coffee & Roastery

  • Lokasi: Jl. Prof. Dr. H. Andi Hakim Nasoetion, Tegallega
  • Jam Buka: Setiap hari (08.00-23.00).
Third Wave Coffee & RoasteryThird Wave Coffee & Roastery Foto: Instagram @thirdwavecoffeeco

Third Wave Coffee & Roastery punya ambience yang nyaman sehingga cocok buat nongkrong maupun WFC. Interior dan dekorasinya unik, bagus banget untuk foto Instagramable.

Ada banyak opsi kopi, camilan, serta makanan berat di sini. Kopinya ada varian manual brew sampai black coffee. Makanannya ada sop buntut, carbonara, hingga croffle.

6. Awal Mula Coffee

  • Lokasi: Jl. Binamarga II No. 5A, Baranangsiang
  • Jam Buka: Minggu-Jumat (09.00-21.00), Sabtu (09.00-22.00).
Awal Mula CoffeeAwal Mula Coffee Foto: Instagram @awalmulacoffee

Awal Mula Coffee punya ambience serba putih yang aesthetic. Kafe ini luas, punya tempat duduk indoor outdoor, dan bisa untuk WFC.

Tersedia menu seperti sandwich, burger, caesar salad, churros, risoles, singkong keju, pastry, cookies, kue, hingga rice bowl dan nasi goreng untuk mengisi perut. Tentu saja ada kopi serta minuman non kopi seperti hot choco dan lychee ice tea di sini.

7. Pasir Angin Pas

  • Lokasi: Jl. Raya Pasir Angin, Megamendung
  • Jam Buka: Setiap hari, 08.00-21.00.
Pasir Angin PasPasir Angin Pas Foto: Instagram @pasiranginpas.official

Kalau ingin nongkrong di tengah-tengah hutan pinus, bisa datangi Pasir Angin Pas. Suasana alamnya yang sejuk dan view yang indah cocok banget untuk healing tipis-tipis. Di sini juga pet friendly lho.

Menunya banyak dan lengkap. Ada kopi, minuman non kopi, makanan berat Indonesia, Asia, hingga western. Ada pula aneka camilan dan hidangan penutup yang enak-enak.

Nah, itu tadi sederet tempat nongkrong asik dan aesthetic di Bogor. So, kamu tertarik ke tempat-tempat di atas nggak nih?

(row/row)



Sumber : travel.detik.com

4 Destinasi Wisata di Marunda, Jakarta Utara


Jakarta

Selain Ancol, Marunda bisa menjadi pilihan liburan traveler saat berada di Jakarta Utara. Berikut empat spot wisata di Marunda yang bisa dikunjungi.

Saat berkunjung dan berlibur ke Jakarta Utara, destinasi mana saja sih yang akan jadi tujuannya? Mungkin beberapa akan menjawab kawasan Ancol karena banyaknya pilihan dan wahana yang menarik di sana. Tapi selain kawasan Ancol, ada juga nih tempat menarik dan tentunya harganya lebih terjangkau.

Coba deh untuk sesekali berkunjung ke beberapa tempat tentunya selain hemat di kantong juga bakalan ngasih informasi sejarah yang seru. Atau menikmati suasana pantai yang tenang sambil menyaksikan matahari terbenam.


Kesampingkan terlebih dahulu pikiran tentang Jakarta Utara bikin penat jalanannya karena banyak truk-truk besar yang lewat hingga debu jalanan yang tebal. Anggap saja hal-hal tersebut sebagai proses untuk menikmati destinasi ini.

Berikut empat tempat di Marunda, Jakarta Utara:

1. Pantai Marunda

Pantai Marunda, Cilincing, Jakarta Utara diminati pengunjung pada momen libur sekolah kali ini. Biaya masuk terjangkau, pantai pun kian bersih.Pantai Marunda, Cilincing, Jakarta Utara diminati pengunjung pada momen libur sekolah kali ini. Biaya masuk terjangkau, pantai pun kian bersih. (Pradita Utama/detikcom)

Mungkin yang terbersit dalam pikiran dan ingatan tentang pantai ini adalah kotor dan banyak sampah. Ya, jika beberapa tahun lalu pantai tersebut memang memperlihatkan sisi yang seperti itu namun keadaannya sekarang telah berangsur membaik.

detikTravel berkunjung beberapa kali ke kawasan Pantai Marunda belakangan ini dan melihat tumpukan sampah itu mulai menghilang. Keadaan pantai cukup bersih tak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Saat ini, petugas PPSU dan petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup Pulau Seribu rutin membersihkan area pantai tersebut. Pantai Marunda pun nyaman untuk dikunjungi.

Waktu tepat untuk menikmati Pantai Marunda ini adalah saat sore hari dan biasanya pantai ini akan mulai ramai dikunjungi sedari pukul 14.00 WIB. Jangan khawatir jika perutmu lapar karena di sini juga banyak tersedia warung cemilan hingga rumah makan masakan khas pantai yang menggiurkan.

Harga tiket masuk: cukup membayar parkir, Rp 5.000 untuk motor dan Rp 10.000 untuk mobil. Jika datang di weekend akan ada biaya tambahan di pintu masuk sebesar Rp 2.000.

Jam buka: tak ada waktu tentu, biasanya pengunjung mulai meninggalkan pantai setelah matahari terbenam.

2. Rumah Si Pitung

Rumah Si Pitung di Marunda, Jakarta UtaraRumah Si Pitung di Marunda, Jakarta Utara (Pradita Utama/detikcom)

Situs cagar budaya ini perlu kamu datengin ketika berada di wilayah Marunda karena biar mengetahui informasi-informasi menarik di bangunan tersebut. Rumah Si Pitung bukan sejatinya rumah yang ditinggali oleh yang bernama Pitung tapi rumah tersebut dahulu milik Haji Marsani yang dijadikan tempat pelarian Pitung.

Naman Pitung sendiri terdapat banyak versi ada yang menyebut nama seseorang dan ada juga yang menyebut nama sebuah kelompok. Tama, yang merupakan pemandu di Rumah Si Pitung, menceritakan versi Pitung yang paling masuk akal adalah versi sebagai kelompok.

“Tujuh orang itu ada nama-namanya lagi tapi yang paling orang kenal itu tuh nama pemimpinnya tuh Radin Muhammad Ali Nitikusuma,” kata Tama saat ditemui detikTravel, Jumat (5/7/2024).

Cerita berbagai versi Pitung ini bakalan kamu dengar langsung jika berkunjung ke Rumah Si Pitung yang terletak di Jalan Kampung Marunda Pulo 2, Cilincing, Jakarta Utara.

Harga tiket masuk: Selasa – Jumat untuk dewasa Rp 10.000, mahasiswa dan anak-anak/pelajar Rp 5.000, rombongan dewasa Rp 7.500, rombongan pelajar/mahasiswa/anak-anak Rp 3.500, dan wisatawan mancanegara Rp 50.000

Untuk Sabtu dan Minggu, dewasa Rp 15.000, mahasiswa Rp 5.000, anak-anak/pelajar Rp 5.000, rombongan dewasa Rp 11.500, rombongan pelajar/mahasiswa/anak-anak Rp 3.750, dan wisatawan mancanegara Rp 50.000

Jam buka: 08.00 – 16.00 WIB, buka setiap hari kecuali hari Senin dan libur nasional.

3. Masjid Al Alam

Masjid Al Alam, Marunda, Jakarta UtaraMasjid Al Alam, Marunda, Jakarta Utara Foto: Pradita Utama/detikcom

Destinasi berikutnya di Marunda masih terdapat kaitannya dengan cerita Pitung. Konon, Pitung pernah singgah ke masjid yang dibangun pada abad ke-17 dan didirikan oleh Pasukan Fatahillah saat akan menyerang Sunda Kelapa.

Di Masjid yang tak terlalu jauh dari Rumah Si Pitung dan Pantai Marunda itu menyimpan segudang cerita yang menarik, juga bangunannya tak berubah sejak dulu. Masjid itu berada di Jalan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.

Hanya beberapa bagian sudah diperbaiki karena faktor usia, salah satu pengurus masjid Al Alam atau disebut juga Masjid Al Marunda, Kusnadi, mengatakan kalau masjid ini hanya dibangun dalam satu malam saja.

“Masjid Aulia Al Marunda ini dalam waktu semalam saja, itu cerita dari orang tua kita bahwa Masjid Aulia Al Marunda didirikan dalam waktu semalam oleh para aulia,” kata Kusnadi.

Selain sarat dengan cerita sejarahnya, masjid itu juga memiliki sumur yang dikenal dengan sumur tiga rasa. Dari rasa air biasa, asin hingga manis dan setiap orang yang mengangkut air tersebut akan berbeda rasanya,

Harga tiket masuk: gratis

Jam buka: untuk area bangunan Masih Al Alam lama dibuka hanya hingga jam 21.00 WIB, namun untuk area pendoponya dibuka 24 jam dan bisa digunakan untuk beristirahat.

4. Batik Marunda

Warga Rusunawa Marunda terus berkarya dengan memproduksi batik. DI Hari Batik Nasional ini, batik Marunda jadi babak baru batik Betawi.Warga Rusunawa Marunda terus berkarya dengan memproduksi batik. DI Hari Batik Nasional ini, batik Marunda jadi babak baru batik Betawi. (Pradita Utama/detikcom)

Jakarta Utara memiliki salah satu produksi batik yang menarik yaitu Batik Marunda, batik ini memiliki ciri khas motif flora dan fauna serta motif lainnya yang mencakup bangun Jakarta seperti Monumen Nasional (Monas) dan Museum Fatahillah.

Koordinator Produksi Batik Marunda, Mulyadi menjelaskan kalau Batik Marunda ini memiliki perbedaan dengan Batik Betawi. Jika Batik Betawi memakai warna cerah, maka Batik Marunda menggunakan warna yang lebih gelap.

“Yang membedakan batik kita dengan Batik Betawi dia kan cerah, kalau Batik Marunda lebih ke warna-warna gelap kayak merahnya maroon, orangenya agak tua gitu, birunya biru dongker,” kata dia.

Batik Marunda juga dibuat oleh ibu-ibu sekitar di Rusun Marunda, untuk masyarakat yang ingin melihat pembuatan Batik Marunda juga bisa datang ke Rusun Marunda blok A 10 dan untuk tempatnya pun berada di lantai dasar.

Harga tiket masuk: gratis

Jam buka: 10.00 – 17.00 WIB dari Senin – Sabtu

Jadi buat yang bingung untuk mencari destinasi wisata di Jakarta Utara bisa banget nih berkunjung ke beberapa tempat di atas. Silahkan jajal pengalaman menarik wisata di Jakarta Utara ini.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Batik Marunda Identitas Baru, Lahir dari Goresan Tangan Ibu-ibu di Rusunawa



Jakarta

Batik Marunda lahir dari tangan-tangan terampil ibu-ibu rumah tangga di Rusunawa Marunda, Jakarta Utara. Menjadi identitas baru khas Jakarta Utara.

Batik Marunda memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Yakni penggabungan motif flora juga fauna. Motif-motif tersebut diambil dari flora dan fauna yang ada di sekitar Jakarta, salah satunya motif wedelia seruni atau seruni rambat di Taman Ayodya.

Selain motif-motif flora dan fauna, batik Marunda juga memiliki motif lain layaknya bangunan-bangunan yang ada di Jakarta seperti Jakarta International Stadium (JIS), Monumen Nasional (Monas) atau kekhasan Betawi lain, seperti penari topeng.


Koordinator Produksi Batik Marunda, Mulyadi, mengatakan secara keseluruhan motif yang dimiliki oleh batik Marunda itu mencapai puluhan dan tentunya bervariasi.

“Banyak sih kalau dihitung-hitung kira-kira 50 lebih mah ada sih, saya nyatetin aja ada lebih (motif),” kata pria yang akrab disapa Mul dalam perbincangan dengan detikTravel, Jumat (5/7/2024).

Kendati sama-sama muncul di Jakarta, batik Marunda berbeda dengan batik Betawi. Perbedaan kedua batik itu terletak pada motif dan penggunaan warna yang dipakai.

Mul mengatakan jika batik Betawi biasa menggunakan warna yang cerah sedangkan Batik Marunda menggunakan warna-warna yang gelap.

“Yang membedakan batik kita dengan batik Betawi kalau batik Betawi dia kan cerah, kalau batik Marunda lebih ke kayak warna-warna gelap. Kayak merahnya merah marun, orange-nya agak tua gitu, birunya biru dongker,” kata Mul.

Batik Marunda diproduksi di Rusunawa Marunda Blok A 10 dan berada tepat di lantai dasar.

Sejak 2014

Mul menceritakan batik Marunda baru berumur satu dekade, tepatnya sejak 2014. Batik itu diawali dari program pembinaan yang diinisiasi oleh Iriana, ketika Joko Widodo masih menjabat sebagai Gubernur Jakarta pada 2013.

“Batik Marunda itu dari tahun 2014 waktu itu kita dari Dekranasda tuh pelatihan, pelatihannya berjenjang tiga bulan kelar terus tiga bulan ada lagi. Setelah itu kita berjalan dan udah diperkenalkan gitu,” kata Mul.

Dari pembinaan itulah kini pembuat batik Marunda di rusun mencapai 10 orang.

Biasanya untuk kain batik dengan motif yang rumit perlu waktu hingga dua minggu pengerjaannya, seperti motif pinisi. Namun bagi salah satu pecanting Batik Marunda, Saras, menyebut dalam satu hari bisa menorehkan malam ke dalam lima kain yang nantinya akan melalui proses selanjutnya untuk menjadi kain batik yang cantik.

“Kalau saya itu bisa lima, bisa juga enam,” kata dia.

Dalam setiap cairan malam yang ia goreskan dalam sebuah kain itu berbagai motif, tak ada motif andalan pelanggan yang spesial. Dari pemaparannya setiap motif Batik Marunda ini laku secara pemasaran jadi setiap hari ia bisa mencanting berbagai motif Batik Marunda.

“Cuma yang sering kita canting semua pesanan itu pasti semua motif, beragam sih maksudnya nggak selalu monoton satu motif,” kata Saras.

Batik Marunda merupakan batik yang dikerjakan semuanya menggunakan tangan atau yang dikenal juga dengan batik tulis. Saras menyebut batik Marunda memiliki kekhasan kendati motifnya sama tapi yang mencantingnya berbeda orang maka hasilnya pun akan memiliki perbedaan.

“Semuanya dikerjakan dengan tangan jadi setiap motif yang kita kerjakan itu pasti beda karena biar satu gambar, satu motif tangan kita tuh beda. Jadi satu kreasi orang itu nggak semua sama jadi kita tahu ‘oh ini motifnya yang ngerjain Ibu Misrida atau oh ini cantingannya Bu Saras,” kata dia.

Rata-rata ukuran kain yang dicanting oleh para ibu-ibu di Rusunawa Marunda ini sekitar 2,5 meter. Proses membatik untuk batik Marunda juga sama seperti proses batik lainnya, mulai dari menjiplak gambar, mencanting, memberikan warna, lorot atau menghilangkan malam pada kain hingga menjemurnya,

Setelah itu, kain batik Marunda pun siap untuk dipasarkan. Saras menyebut harga satu kain batik Marunda berada di kisaran Rp 1,5 juta.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Menelusuri Sisa Kejayaan Pabrik Gula Zaman Belanda di Sleman, Apa Masih Ada?



Sleman

Catatan sejarah menyebut pada masa kolonial Belanda sedikitnya ada 19 pabrik gula yang tersebar di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dikutip dari situs milik Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, beberapa di antara pabrik gula itu ada di kawasan Godean dan Gamping, Sleman.

Namun sayang, sekarang tidak tersisa artefak yang menunjukkan eksistensi keberadaan pabrik gula itu. Hanya tersisa pos-pos jaga yang hingga kini bertahan di sejumlah wilayah.


Dua pabrik gula yang cukup terkenal di wilayah Sleman Barat ini adalah Pabrik Gula Klatjie dan Pabrik Gula Rewoeloe. Bangunan Pabrik Gula Klatjie kini hilang, dan berganti gedung SMKN 1 Godean di Kalurahan Sidoagung, Godean.

Begitu pula Pabrik Gula Rewoeloe yang telah menjelma menjadi semak belukar di Kalurahan Sidomulyo, Godean.

“SMKN 1 Godean itu dulunya bekas pabrik gula. Sekarang difungsikan jadi sekolah. Bangunan aslinya (pabrik gula) sudah hilang,” jelas Ketua RT 02, RW 09, Senoboyo, Sidoagung, Godean, Rosiadi (43).

Rosiadi menuturkan, berdasarkan cerita para sesepuh kampungnya, perkampungannya dulu tak jauh dari kebun tebu. Tepatnya berada di sisi utara Kalurahan Sidoagung. Itulah mengapa ada pabrik gula di kalurahan ini pada zaman dulu.

Rosiadi lalu menceritakan cerita masa kecilnya tentang Dusun Sindren. Kawasan tersebut pada zaman dahulu adalah mess pegawai pabrik gula dan perkebunan tebu. Namun saat ini hilang tanpa bekas seiring berjalannya waktu.

“Dulu utara kampung ini kebun tebu, lalu dari cerita di sini ada Dusun Sindren, itu buat istilah mess pegawai sana. Perumahan Belanda tapi bangunan sekarang sudah tidak ada, tinggalan (jejak artefak) juga tidak ada,” katanya.

Pabrik Gula Klatjie Berubah Jadi SMKN 1 Godean

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMKN 1 Godean, Barmawi Umar membenarkan bahwa dulunya kompleks sekolah adalah bekas Pabrik Gula Klatjie. Namun tidak diketahui tahun berapa eksistensi pabrik tersebut.

Dia menuturkan saat sekolah berdiri, sudah tidak ada artefak bangunan Pabrik Gula Klatjie. Bahkan hingga saat ini tidak tersisa satu pun bangunan yang menjadi penanda pabrik gula di Sleman Barat ini.

“Sekarang semua sudah hilang, pabrik gula di sini memang ada. Terus tobongnya, tapi hilang, tahun berapa tidak diketahui,” kata Umar saat ditemui di SMKN 1 Godean.

Pabrik Gula Klatjie yang hilang kini telah menjadi bangunan SMKN 1 Godean, Jumat (21/6/2024).Pabrik Gula Klatjie yang kini berganti jadi bangunan SMKN 1 Godean, Jumat (21/6/2024). Foto: Dwi Agus/detikJogja

Umar menuturkan menuturkan SMKN 1 Godean berdiri pada Agustus 1965. Berdasarkan catatan referensi biografi sekolah, tak ada sisa artefak. Namun disebutkan bangunan sekolah memang berdiri di atas bekas Pabrik Gula Klatjie.

“Sekolah berdiri Agustus 1965. Sisa artefak tidak ada, jadi saat dibangun itu langsung bangunan baru. Bangunan sekolah yang ada saat ini bukan dari bekas pabrik gula zaman dulu,” ujarnya.

Pabrik Gula Rewoeloe Habis Tak Ada Sisa

Sama halnya dengan Pabrik Gula Klatjie, Pabrik Gula Rewoeloe juga hilang tak bersisa. Kami menyusuri lokasi yang diduga sisa pabrik gula Rewoeloe. Namun hanya tersisa sebuah secuil batu tembok yang berukuran kecil.

Untuk menyusuri sisa artefak ini tidaklah mudah. Lokasinya berada di belakang pabrik roti di kawasan Dusun Pirak Bulus, Sidomulyo, Godean. Diawali dengan berjalan kaki di perkebunan yang tembus ke pematang sawah.

“Kiri jalan ada pintunya, jalan di setapak pematang sawah, itu berada di tengah sawah sisa artefaknya. Bekasnya pabrik gula seperti hanya itu,” ujar warga sekitar Sigit.

Berdasarkan pantauan, lokasi ini telah menjadi kawasan persawahan. Namun kondisinya kering karena sedang tidak ditanami padi. Sementara di sekelilingnya adalah semak belukar yang tak terawat.

“Pintu kecilnya itu memang pintu lama, tapi kalau sisa bangunan memang sudah lama tidak ada. Hanya batu tembok itu saja, hilangnya tahun berapa juga kurang begitu tahu,” katanya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com