Category Archives: Tokocrypto

Kinerja Bitcoin versus Aset Kripto Lain di Sektor DeFi

Bitcoin bolehlah sebagai aset kripto perkasa berdasarkan kapitalisasi pasarnya. Namun, kinerjanya jauh lebih mantap daripada aset kripto yang ada di sektor DeFi (Decentralized Finance).

Menurut penyedia data DeFiPulse , nilai kumulatif aset kripto yang “tersimpan” dalam aplikasi DeFi telah melonjak dari US$1 miliar pada 15 Juni 2020 menjadi US$1,65 miliar pada 26 Juni 2020. Ia tumbuh 65 persen dalam sebelas hari saja.

Pada saat yang bersamaan, harga aset kripto yang terkait sektor DeFi itu, juga tumbuh cepat. Taha Zafar, analis aset kripto mengatakan, kinerja Bitcoin jauh lebih unggul dibandingkan aset kripto di DeFi, seperti Aave (LEND), Kyber Network (KNC) dan Maker (MKR).

“Data menunjukkan, sementara Bitcoin naik 80 persen dalam tiga bulan terakhir, aset kripto di DeFi tampil lebih lebih baik, dengan kinerja lebih dari 100 persen dalam jangka waktu 90 hari,” kata Zafar.

Bahkan pada 26 Juni 2020, Coinmarketcap mencatat bahwa 6 dari 10 aset kripto berkinerja terbaik di 100 teratas, berfokus pada DeFi.

Kendati DeFi masih popular, Zafar memperkirakan Bitcoinakan mengalami reli, ketika sektor DeFi ini mengalami koreksi alias pelemahan. [Forbes/red]

Baca Juga: Apa Itu Bitcoin Forks? Panduan untuk Pemula



Sumber : news.tokocrypto.com

Tetap Untung Saat Market Lesu, Ini Solusinya buat Kamu!

Pergerakan di pasar aset kripto yang cenderung stagnan saat ini dapat dilihat dari dua sudut pandang oleh investor. Bagi mereka yang mempercayai masa depan industri dan teknologi blockchain, tentunya akan fokus pada investasi jangka panjang dan tidak terlalu terusik dengan kondisi pasar saat ini karena sudah memahami risikonya. Namun, tidak semua investor memiliki tujuan yang sama. Ada tipikal investor di kripto yang tetap ingin mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat dengan risiko yang minimal.

Dengan kondisi pasar yang sedang lesu, investasi di ETF Token bisa menjadi solusi bagi para investor yang tetap ingin mendapatkan cuan meskipun pasar sedang lesu. ETF (exchange-traded fund) sendiri dapat diklasifikasikan sebagai sekuritas dan bisa melacak pergerakan suatu investasi (misal emas atau saham) dimana investor tidak perlu membeli emas atau saham tersebut secara langsung. Sementara di pasar aset kripto, ETF pada aset kripto sendiri merupakan cara yang lebih aman untuk investor mendapatkan keuntungan tanpa harus terjun langsung ke pasar yang sangat fluktuatif. 

Lalu, bagaimana caranya?

Kamu bisa mulai berinvestasi dengan Tokocrypto ETF Token, token dengan leverage memberikan kamu exposure yang ditingkatkan terhadap harga aset kripto tanpa risiko likuidasi. Tokocrypto ETF Token adalah aset yang dapat diperdagangkan di pasar Tokocrypto. Setiap Tokocrypto ETF Token mewakili banyak posisi terbuka di pasar berjangka abadi. 

UP bertujuan untuk menghasilkan keuntungan dengan leverage ketika harga token naik, sementara DOWN bertujuan untuk menghasilkan keuntungan dengan leverage saat harga token turun. Keuntungan leverage ini berjumlah antara 1,5x dan 3x.

Bagaimana Tokocrypto ETF Token bekerja?

Dalam artian, semakin besar volatilitas yang terjadi di pasar maka akan semakin signifikan hal ini berpengaruh pada leverage token. Dengan Tokocrypto ETF Token, saat kamu memiliki leverage token dan momentum pasar sedang menguat, maka token tersebut juga akan meningkat nilainya. Namun, jika pasar sedang mengalami sideways, maka Tokocrypto ETF Token akan membantu dengan variabel leverage yang akan menyeimbangkan saat masa volatilitas sangat tinggi. Hal ini akan mengurangi efek jangka panjang dari hambatan volatilitas dari Tokocrypto ETF Token yang kamu miliki. 

Ada yang Baru Dari Fitur Tokocrypto ETF Token!

Pada awalnya, fitur yang diluncurkan pada November 2020 ini hanya memiliki 2 (dua) pilihan token yakni BTCUP dan BTCDOWN. Kini, Tokocrypto telah menambahkan token yang tersedia pada Tokocrypto ETF Token yaitu ETHUP dan ETHDOWN, BNBUP DAN BNBDOWN, DOTUP dan DOTDOWN, XRPUP dan XRPDOWN, juga ADAUP dan ADADOWN. Seluruh Tokocrypto ETF Token tersebut dapat diperdagangkan dengan pairing USDT mulai Selasa, 6 Juli 2021 lalu.

Pilihan menarik kan buat kamu yang bingung mau invest, tapi khawatir sama kondisi pasar yang fluktuatif. Yuk, cek detail informasinya di sini dan trading di Tokocrypto ETF Token sekarang!



Sumber : news.tokocrypto.com

CCID Tempatkan Bitcoin di Peringkat ke-12 sebagai Blockchain Terbaik Sedunia

Beda pihak beda pula cara menakarnya. Itulah yang dilakukan oleh Center for Information and Industry Development (CCID) di Tiongkok. Mereka menempatkan Bitcoin di peringkat ke-12 sebagai blockchain terbaik sedunia.

Menggunakan kategori kapitalisasi pasar, Bitcoin memang nomor wahid sedunia. Tetapi, tidak dengan takaran lain oleh CCID. Pada Global Public Blockchain Technology Assesment Index CCID ke-18 beberapa hari yang lalu, blockchain Bitcoin malah tidak masuk 10 besar dengan 106,2 poin. Maklumlah, CCID memang fokus pada kriteria yang amat berbeda.

Sumber: CCID via Chainnews.

Serupa dengan paparan indeks sebelumnya, CCID menggunakan kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi teknologi blockchain, yang meliputi teknologi dasar, penerapan, fitur, kinerja, keamanan, kreativitas dan desentralisasi.

Serupa dengan pemeringkatan sebelumnya, EOS tetap memimpin dengan 156,1 poin, diikuti oleh TRON dengan 138,43 poin dan Ethereum dengan 136,4 poin. Cryptocurrency terkemuka mencetak 20,4 poin dalam penerapan dan 24,7 dalam kreativitas, sementara tempat kedua masing-masing 28,4 dan 15,5 poin.

Peringkat ke-4 dan ke-5 ditempati oleh IOST dan LSK masing-masing dengan 130,3 dan 119,3 poin, sedangkan Ripple berada di peringka ke-14 dengan hanya 105 poin.

Sebenarnya kali ini Bitcoin bisa lebih bersenang hati. karena peringkatnya lebih tinggi daripada indeks yang lalu, yakni ke-17. Pada saat itu, Bitcoin hanya bernilai 43 poin dalam hal inovasi dan 19,9 poin untuk penerapannya. [red]

Berita Terkait: Jual atau Beli Bitcoin Untuk Saat Ini?



Sumber : news.tokocrypto.com

Tokocrypto Resmi Luncurkan Aplikasi Perdagangan Aset Kripto

Jakarta, 5 November 2020Tokocrypto, pedagang aset kripto terpercaya dan terdepan di Indonesia resmi meluncurkan aplikasi berbasis android untuk memudahkan para nasabah melakukan jual-beli aset kripto kapanpun dan dimanapun. 

“Berkembangnya teknologi Blockchain di Indonesia terlihat semakin pesat. Tentunya teknologi ini memberikan harapan bagi masyarakat luas agar dapat mengakses sistem keuangan yang terbuka dan transparan”, kata Pang Xue Kai, CEO dan Co-Founder Tokocrypto. 

Baca Juga: Analis Prediksi Harga Bitcoin Bisa Capai Rp215 Juta Segera!

Kai mengatakan, sesuai janjinya pada Indonesia Blockchain Week Agustus kemarin, Tokocrypto akan berusaha untuk menjadi gerbang bagi masyarakat Indonesia agar dapat mengakses sistem keuangan terdesentralisasi dengan mudah dan aman, serta menjadi sarana edukasi untuk lebih memahami teknologi blockchain dan aset kripto. 

Aplikasi Tokocrypto ini memungkinkan para nasabah untuk melakukan jual-beli aset kripto, menyimpan dan mengirim aset kripto melalui smartphone. Aplikasi ini diharapkan juga memberikan pengalaman transaksi yang menyenangkan dengan tampilan user interface yang simple dan mudah digunakan. 

Salah satu keunggulan utama dalam aplikasi ini adalah adanya dukungan teknis pelanggan yang siap membantu para nasabah dalam waktu 24 jam. Aplikasi ini juga memperdagangkan berbagai macam aset kripto seperti BTC, ETH, BNB, USDT, BUSD, XRP dan masih banyak lagi token-token lainnya. 

Baca Juga: Inilah 5 Manfaat Fitur Order Book Tokocrypto!

Dari segi keamanan, aplikasi ini didukung oleh teknologi Know-Your-Customer (KYC) dan 2FA. Tokocrypto juga mengadopsi teknologi keamanan terkini milik Binance, pedagang aset kripto terbesar di dunia. Tokocrypto juga bekerjasama dengan beberapa institusi dalam memastikan keamanan dan kepatuhan, yaitu dengan ASLI RI untuk verifikasi data nasabah serta Merkle Science dan Coinfirm untuk analisa transaksi. 

Aplikasi ini sudah dapat diunduh pengguna Android sejak tanggal 2 November 2020

“Dengan aplikasi ini, besar harapan kami agar Tokocrypto dapat menjadi rekan anda dalam memulai investasi aset kripto dengan segala kemudahan, fasilitas terbaik serta inovasi-inovasi yang kami berikan bagi seluruh nasabah kami. Baik investor pemula maupun trader profesional, Tokocrypto siap membantu anda”, tutup Kai.

Selain pengguna Android, pengguna perangkat iOS juga akan dapat segera mengakses aplikasi perdagangan aset kripto ini, sehingga siapa saja dapat bertransaksi di mana saja dan kapan saja dengan mudah dan aman.

Untuk pengguna Android, klik di sini untuk download Tokocrypto Mobile Apps di Play Store dan link ini untuk pengguna iOS

Selengkapnya tentang Tokocrypto Mobile Apps dapat dibaca di sini

 



Sumber : news.tokocrypto.com

Jual Atau Beli Bitcoin Untuk Saat Ini?

Fase konsolidasi Bitcoin (BTC) menunjukkan beberapa tanda pelemahan dalam waktu dekat. Bencmark crypto masih diperdagangkan dalam wilayah yang lebih rendah dari level $ 9.000 (Rp 127 juta), dan Support tepat dibawah level harga ini.

Seorang analis mengatakan bahwa ada tiga faktor yang tampaknya menunjukan adanya potensi bagi harga BTC untuk jatuh dalam bebeberapa hari atau minggu mendatang.

Penting untuk dicatat bahwa banyak analis telah mengklaim bahwa pergolakan dalam pola sideways saat ini adalah cara BTC untuk mengumpulkan kekuatan sebelum membuat gerakan besar-besaran kesalah satu arah.

Secara historis, perdagangan sideways yang intens seperti yang terlihat saat ini, biasanya diikuti oleh pergerakan besar.

Dengan demikian, bagaimana rentang perdagangan saat ini, itu akan cenderung menentukan potensi trend Bitcoin dalam beberapa minggu dan bulan ke depan.

Seorang analis baru-baru ini membagikan grafik yang menunjukkan bahwa ia tengah mengantisipasi bencmark cryptocurrency untuk turun dengan drastis menuju $ 7.500 dalam waktu dekat.

Dia menjelaskan bahwa tiga upaya terakhir untuk melampaui $ 10.000 (Rp 142 juta) telah menghasilkan rejeksi tegas yang patut diwaspadai.

Meskipun dia percaya bahwa menembus level ini adalah tentang “kapan, bukan jika,” dia masih berpikir itu BTC akan mengalami beberapa downside jangka pendek. Ia mengatakan:

“Ada sangat sedikit keraguan bahwa 10ribu adalah Resistance untuk ditembus dan bahkan dengan Retracement di sini, itu adalah pertanyaan kapan, bukan jika. 3 upaya dalam 9 bulan terakhir, masing-masing sama tinggi menghasilkan konsolidasi yang lebih lama pada Resistance sebelum tertahan. Jangan percaya [upaya] ke-4 BTC.”

Baca Juga: Cara Membeli Bitcoin Di Indonesia Dan Luar Negeri

Byzantine General, seorang analis dan juga trader cryptocurrency di Twitter, mengatakan bahwa BTC KELIHATAN di posisi bearish.

Ketiga alasannya adalah:

  1. Formasi Rounded Top seperti di bulan Februari
  2. Volume jual > volume beli
  3. Dibawah local Point Of Control (POC)

Dia juga mengatakan banyak perspektif bull dan bearish untuk setiap trader, artinya pasar diberada ketidakpastian. Dan, yang terbaik adalah untuk tidak trading pada saat ini.

Jika anda membeli BTC dibawah Rp 100 juta, jual sekarang. Jika anda seorang trader, bukan investor, jangan lakukan perdagangan.

Baca Juga: Bitcoin Berkolerasi dengan S&P 500, Analis Percaya Bahwa Nilai Pasar BTC Adalah $18.000



Sumber : news.tokocrypto.com

Tutorial Trading: Mengenal Sideways, Bullish dan Bearish

Dalam dunia trading baik itu saham, komoditas aset kripto maupun forex terdapat istilah yang sama terhadap kondisi pasar, kondisi pasar tersebut antara lain Bearish, Bullish dan Sideways, mungkin bagi para trader profesional istilah-istilah tersebut sudah sangat mengerti.

Apa Itu Bullish dan Bearish

Mungkin bagi para pemula masih ada yang belum paham dengan 3 istilah tersebut, nah pada artikel kali ini akan dijelaskan apa itu Bearish, Bullish dan Sideway.

Bearish

Bearish merupakan kondisi bursa ketika pergerakan harga yang diperdagangkan turun dalam jangka waktu yang cukup lama. Istilah Bearish sendiri diambil dari kata “Bear” yang berati beruang atau penjual.

kondisi bearish akan membuat harga menjadi menurun atau downtrend dikarenakan volume penjual lebih banyak dibanding pembeli. Pada kondisi bearish akan terjadi yang namanya panic sell atau aksi jual bersamaan. Dan dalam grafik kondisi bearish biasa ditandai dengan warna merah yang berarti harga mengalami penurunan.

Bullish

Istilah Bullish sendiri diambil dari kata “Bull” yang artinya banteng atau pembeli. Kebalikan dari Bearish, Bullish merupakan kondisi bursa harga saham, obligasi dan komoditas yang diperdagangkan naik dalam jangka waktu yang cukup lama.

Kondisi bullish terjadi karena pembeli lebih banyak dari pada penjual sehingga harga mengalami kenaikan. Dan jika dilihat dari grafik kondisi bullish biasanya ditandai dengan warna hijau yang artinya harga mengalami kenaikan.

Sideways

Sideways adalah kondisi dimana market sedang datar, dimana terjadi keraguan dalam market. Bull dan Bearish sama-sama kuat sehingga menyebabkan Sideways.

Ciri-ciri sideways adalah terbentuknya gunung kecil dan lembah yang dangkal dengan candle hijau dan merahnya berbentuk pendek-pendek , pergerakan market stabil tidak naik tidak juga turun.

Trend bullish akan berakhir pada saat jumlah buy terlalu banyak dan harga sudah terlalu tinggi. Di titik ini, para trader akan menutup posisi buy dan beralih ke posisi sell. Sedangkan sebaliknya, bearish akan berakhir pada saat posisi sell terlalu banyak dan para trader akan memulai posisi close dan beralih membuka posisi buy.

Itulah pengertian tentang Bearish dan Bullish serta Sideways. Kondisi pasar kripto memang sangat fluktuatif, kadang cryptocurrency bergerak naik dan kadang turun. Sah-sah saja kalau Anda ingin membeli kripto pada saat pasar sedang bullish. Atau sebaliknya, menjual semua kripto saat pasar sedang bearish. 

Alternatif lain bagi pemula untuk trading pada saat market sedang Sideways yaitu dapat melakukan Staking Coin. Apa itu staking coin? Simplenya staking adalah cara mendapatkan penghasilan tambahan dari aset crypto. Prinsipnya hampir mirip dengan deposito, di mana Anda menyetorkan nominal uang (dalam hal ini aset crypto), meminta bank untuk mengelolanya (token yang di invest), dan Anda akan mendapatkan return dalam bentuk bunga.

Tetapi perlu diingat, bahwa staking coin tidak bisa dilakukan pada semua coin, hanya kripto yang berbasis DeFi saja seperti Cosmos, Dash, Ether. Sedangkan untuk versi lokal, token berbasis DeFi pertama yang dapat distaking adalah Token TKO.

Apa itu Token TKO? Tokocrypto mengembangkan token CeDeFi hybrid pertama di Indonesia yang dibangun di atas Binance Smart Chain.

TKO merupakan gabungan dari keunggulan sistem keuangan terpusat (CeFi) dan sistem keuangan terdesentralisasi (DeFi) dan dibangun di atas Binance Smart Chain. Yuk cari tau selengkapnya tentang Token TKO di sini!



Sumber : news.tokocrypto.com

Mengapa Harga Bitcoin Relatif Lekat dengan Pasar Saham?

Beberapa pekan terakhir laju gerak harga Bitcoin relatif lekat dengan pasar saham. Pertanyaan pun membuncah, apakah Bitcoin adalah aset berisiko atau aset penyimpan nilai (store of value)?

Padahal secara historis publik mengamini bahwa Bitcoin selayaknya emas sehingga ia disebut sebagai store of value asset seperti emas. Namun, yang terjadi sebaliknya, yang disebut sebagai karakter “cointegrated” karena tidak berbanding terbalik dengan pasar saham.

Hal itu disebut oleh PlanB, nama samaran yang merancang model “Bitcoin Stock to Flow“. Katanya, Bitcoin dan pasar saham (indeks S&P 500) memiliki korelasi hingga 95 persen.

Di atas kertas, korelasi itu terjadi ketika dua aset (Bitcoin dan saham) bergerak bersama-sama, baik secara positif (naik) atau negatif (turun). “Cointegrated” mengukur penyebaran harga jangka panjang antara dua aset, yaitu kedua aset akhirnya kembali ke penyebaran historisnya meskipun ada pelebaran berkala.

Christopher Brookins di Forbes menyebutkan Bitcoin dan S&P 500 secara historis terkointegrasi. Ini menyiratkan bahwa Bitcoin adalah aset berisiko yang diuntungkan dari faktor makro dan moneter yang sama yang mendorong pasar modal, dalam penyebaran historisnya.

“Namun, memperpendek dataset pengujian ke beberapa tahun terakhir, kami tidak mendapati adanya kointegrasi itu. Pada secara statistik sangat lemah. Satu penjelasan yang mungkin untuk ini adalah bahwa Bitcoin secara historis berperilaku sebagai aset berisiko, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin telah mulai beralih ke penyimpanan aset bernilai. Validasi lebih lanjut untuk hipotesis ini adalah analisis antara emas (GLD) dan S&P 500 yang tidak menunjukkan kointegrasi dan hubungan yang juga lemah,” sebut Brookins.

Namun, Brookins beranggapan Bitcoin bisa berperilaku sebagai store of value asset, jikalau Bank Sentral AS alias The Fed mengalami kegagalan struktural dalam kebijakan moneternya (money printing), seperti yang terjadi di Jepang. [Forbes/red]

Baca Juga: Bitcoin Disebut Lebih Popular Daripada Bank-Bank Besar 



Sumber : news.tokocrypto.com

Mengenal Exponential, Weighted dan Simple Moving Average

Moving Average, atau juga disingkat MA, adalah garis yang didapat dari perhitungan harga sebelum hari ini, yang menghitung pergerakan harga rata-rata dari suatu aset dalam suatu rentang waktu tertentu.

Misalnya dalam rentang 5 hari (1 minggu), 20 hari (1 bulan), 60 hari (3 bulan), maupun 120 hari (6 bulan). Jadi dapat dikatakan Moving Average 60 berarti pergerakan harga 3 bulan ke belakang. Berikut adalah beberapa jenis MA yang dapat kita gunakan untuk membantu dalam menganalisa harga.

Jenis-jenis Moving Average Untuk Menganalisa Harga

#1 Simple Moving Average

Simple Moving Average (SMA) adalah aritmatika Moving Average yang dihitung dengan menambahkan harga penutupan aset untuk sejumlah periode waktu dan kemudian dibagi sejumlah periode waktu tersebut.

Dalam SMA, data yang dimasukkan adalah sama bobot. Ini berarti bahwa setiap hari dalam kumpulan data memiliki tingkat kepentingan yang sama dan berbobot sama. Karena setiap hari baru berakhir, titik data yang tertua dibuang dan yang terbaru ditambahkan.

SMA dapat dirumuskan sebagai berikut:

rumus simple moving average

Mari kita ambil contoh kasus, misalnya harga sebuah aset dalam 15 hari berturut-turut adalah: 20, 24, 22, 21, 20, 18, 17, 22, 26, 30, 31, 34, 33, 30 dan 28. Dengan perhitungan rumus di atas, maka kita akan mendapatkan nilai SMA-nya sebagai berikut:

Hari Closing SMA 5
1 20
2 24
3 22
4 21
5 20 21,4
6 18 21
7 17 19,6
8 22 19,6
9 26 20,6
10 30 22,6
11 31 25,2
12 34 28,6
13 33 30,8
14 30 31,6
15 28 31,2

 

Dengan mengetahui nilai SMA-nya, maka dapat dibuat grafik sebagai berikut:

grafik nilai simple moving average

#2 Weighted Moving Average

Weighted Moving Average adalah usaha untuk memforecast dengan beberapa data terakhir dengan memberikan bobot yang berbeda-beda. WMA kurang lebih memiliki kemiripan dengan SMA, kecuali dalam hal memberikan bobot pada data yang terbaru. Sama seperti SMA, WMA juga setiap harinya membuang harga penutupan yang tertua dan menambahkan yang terbaru.

WMA mengalikan faktor untuk memberikan bobot yang berbeda untuk data pada waktu yang berbeda. Dalam sejumlah (n) hari, WMA hari terbaru memiliki berat (n), (n) terbaru kedua – 1, dll, hingga bobotnya ke satu.

WMA dapat dirumuskan sebagai berikut:

rumus weighted moving average

Misalnya dengan contoh yang sama seperti simulasi SMA di atas, dengan perhitungan rumus WMA di atas, maka kita akan mendapatkan nilai WMA seperti tabel berikut:

Hari Closing SMA 5 WMA 5
1 20
2 24
3 22
4 21
5 20 21,4 21,2
6 18 21 20,1
7 17 19,6 18,7
8 22 19,6 19,5
9 26 20,6 21,7
10 30 22,6 24,8
11 31 25,2 27,6
12 34 28,6 30,5
13 33 30,8 32
14 30 31,6 31,7
15 28 31,2 30,5

 

Dengan mengetahui nilai WMA-nya, maka dapat dibuat grafik sebagai berikut:

grafik nilai weighted moving average

#3 Exponential Moving Average

Exponential Moving Average (EMA) adalah jenis MA yang menyaring data secara infinite, dimana data-data lama tidak ada yang dibuang melainkan hanya dikurangi bobotnya secara eksponensial, namun bobotnya tidak sampai nol.

EMA memiliki kemiripan dengan WMA dalam hal membedakan bobot data antara data terdahulu dan yang terbaru, dimana dengan perhitungan ini, EMA dan WMA sama-sama lebih sensitif dengan pergerakan harga saham dibandingkan dengan SMA.

EMA dapat dirumuskan sebagai berikut:

rumus exponential moving average

Misalkan dengan contoh yang sama seperti simulasi SMA di atas, dengan perhitungan rumus EMA di atas, maka kita akan mendapatkan nilai EMA seperti tabel berikut:

Hari Closing SMA 5 WMA 5 EMA 5
1 20
2 24
3 22
4 21
5 20 21,4 21,2 17
6 18 21 20,1 17,3
7 17 19,6 18,7 17,2
8 22 19,6 19,5 18,8
9 26 20,6 21,7 21,2
10 30 22,6 24,8 24,1
11 31 25,2 27,6 26,4
12 34 28,6 30,5 28,9
13 33 30,8 32 30,3
14 30 31,6 31,7 30,2
15 28 31,2 30,5 29,5

 

Dengan mengetahui nilai EMA-nya, maka dapat dibuat grafik sebagai berikut:

grafik nilai exponential moving average

Dari penjelasan diatas yang kita dapatkan pengertian bahwa weighted moving average adalah metode yang menggunakan data dengan periode terakhir sebagai data historis untuk melakukan prakiraan chart.

Nah, itu dia jenis-jenis moving average di dalam chart, hal ini penting untuk Anda ketahui dan kuasai jika ingin dapat menganalisis keadaan pasar kripto. Pasar crypto merupakan pasar yang dinamis, dengan perkembangan teknologi dan blockchain yang semakin berkembang, mulai banyak bermunculan sistem-sistem baru di dalam ekosistem blockchain.

Mulai dari CeFi, DeFi, bahkan gabungan dari kedua hal itu (CeDeFi). Gerakan DeFi sejauh ini merupakan tren yang paling berdampak dalam ekosistem crypto dan blockchain dan telah dikenal sebagai salah satu cara penggunaan paling populer sejak 2019.

DeFi adalah sistem keuangan terbuka yang dibangun di atas blockchain yang bertujuan untuk menghadirkan layanan keuangan terbuka yang memungkinkan partisipasi dari semua tingkat investor tanpa adanya pihak sentral yang memegang keseluruhan dana, mirip sebagai pasar keuangan terbuka. Di mana pembeli bertemu dengan penjual langsung tanpa adanya perantara yang menengahi transaksi.

Kepopuleran DeFi pun mendorong pertumbuhan token-token yang berbasis DeFi. Tidak terkecuali Indonesia, Tokocrypto dengan Toko Token yang dibangun di atas Binance Smart Chain ini merupakan project DeFi pertama di Indonesia dan memiliki tujuan untuk memberi kemudahan kepada masyarakat yang belum memiliki akses ke fasilitas layanan perbankan.

Token TKO ini yang nantinya akan menjadi platform penukaran token dengan berbagai macam utilitas dan kemudahan bagi para pengguna nantinya. Penasaran kan dengan Token TKO ini? Yuk cari tau selengkapnya di sini!



Sumber : news.tokocrypto.com

Bitcoin Berkorelasi dengan S&P 500, Analis Percaya bahwa Nilai Pasar BTC Adalah $18.000

PlanB, pencipta Stock-to-Flow (S2F), telah menegaskan bahwa ada korelasi yang pasti antara Bitcoin dan pasar saham, termasuk indeks S&P 500.

Dalam serangkaian cuitan Twitter-nya, PlanB menulis bahwa berdasarkan situasi di pasar saham saat ini, BTC harusnya bernilai $ 18.000, dimana level harga ini terakhir terbentuk pada tahun 2017 silam.

Dia mengatakan bahwa alternatifnya adalah saat pasar saham jatuh karena data yang tersedia, itu akan menunjukkan bahwa kedua pasar memiliki pola yang sama.

Dalam cuitan pada 17 Juni, PlanB menyatakan bahwa kedua pasar juga berkoordinasi dengan “R Squared” pada nilai 95%.

Dia mengutip kejadian pada bulan Maret lalu ketika harga Bitcoin bereaksi bersamaan dengan S&P 500 yang menyoroti fiturnya sebagai variabel dependen yang sangat dipengaruhi oleh pergerakan di pasar saham.

Harga Bitcoin turun dan kemudian pulih pada bulan Maret, mengikuti pola yang juga terlihat di pasar modal.

PlanB mencatat bahwa “ini konsisten dengan model S2FX: $ 288ribu BTC di S2F56 -> itu menyiratkan S $ 4.300,” dengan mengutip bahwa nilai proyeksi Bitcoin diproyeksikan pada koin yang beredar dan juga pada pasokan yang ada.

Menariknya, S2F menyatakan bahwa dengan mempertimbangkan bahwa mata uang digital memiliki persediaan tetap, terlepas dari minat dalam penambangan, koin tersebut akan bernilai $ 288.000 atau lebih selama Halving berikutnya pada 2024.

Dan juga, PlanB bukanlah analis pertama yang menunjukkan korelasi harga pasar Bitcoin dengan pasar saham.

Baca Juga: Inilah Harga Bitcoin yang Perlu diperhatikan Untuk Jangka Menengah

Cuitan yang bermunculan seminggu ini telah menjadi sorotan. Disitu mengatakan bahwa pandemi corona mungkin menjadi faktor penyulit mengingat intervensi oleh bank sentral yang telah meningkatkan pasokan.

Dia menyiratkan bahwa pasar akan koreksi pada titik ini. Dikatakan juga bahwa koreksi akan jatuh tempo dalam beberapa minggu ke depan.

Ini berarti bahwa kekuatan makro akan terus memainkan peran besar dalam pasar koin, terutama Bitcoin.

Pada September tahun lalu pun, PlanB mengatakan bahwa Bitcoin adalah aset yang berkorelasi tetapi menyatakan bahwa situasi stres akan membuktikan seberapa tangguh trend yang dimiliki.

Pandemi corona telah memberikan ‘uji stres’ yang menekankan posisi itu.

Dia mengatakan bahwa korelasi menjadi jelas baru-baru ini karena Bitcoin tidak pernah berkorelasi dengan aset lain dalam 10 tahun terakhir.

“Bitcoin telah menjadi aset tidak berkorelasi 10 tahun terakhir, tetapi tes sesungguhnya adalah situasi stres (resesi), yang belum pernah kita alami sejak 2008, tetapi [itu] sudah dekat.”

Ini adalah alasan mengapa bank sentral belum menciptakan lingkungan yang memungkinkan untuk diversifikasi, ujarnya. (Coinspeaker)



Sumber : news.tokocrypto.com

Bertabur Cuan saat Halving Day, Apa Iya?

Saat ini aset kripto merupakan salah satu instrumen investasi yang kian populer dan diminati oleh masyarakat. Ada beberapa istilah dan tren yang perlu dipahami oleh masyarakat yang baru saja masuk di dunia kripto. Salah satunya adalah halving day.

Halving Day merupakan istilah dalam ekosistem kripto yang merupakan sebuah siklus empat tahunan yang mana setiap empat tahun jaringan Bitcoin merilis koin baru melalui proses penambangan. Kenapa empat tahunan? halving day akan terjadi ketika penambangan bitcoin sudah mencapai angka 210 ribu. Untuk mencapai 210 ribu membutuhkan waktu kurang lebih empat tahun.

Halving Day pertama kali terjadi pada tahun November 2012. Kemudian terjadi lagi empat tahun berikutnya di Juli 2016. Dan halving terakhir terjadi di Mei 2020. Sementara halving berikutnya akan terjadi pada tahun 2024.

Siklus empat tahuan ini banyak dinanti-nanti oleh para penambang Bitcoin. Kenapa? Karena pada fase ini para penambang bisa mendapatkan keuntungan yang signifikan.

Baca Juga: Inilah 6 Pilihan Investasi Aset Kripto Yang Akan Naik 2021

Kenapa menguntungkan para penambang?

Dalam halving day para penambang akan mendapatkan ‘upah’ yang menggiurkan dalam bentuk bitcoin. Sebagai contoh, pada halving day tahun 2012, para penambang mendapatkan ‘upah’ sebanyak 25 bitcoin. Empat tahun kemudian di 2016 penambang mendapatkan upah 12,5 bitcoin. Dan pada 2020 penambang mendapatkan upah 6,25 bitcoin.

Setelah halving day, harga jual bitcoin akan mengalami lonjakan yang signifikan. Memang, kenaikan harga tidak akan langsung terjadi saat itu juga. Biasanya butuh waktu satu tahun untuk terjadinya lonjakan harga tersebut.

Sebagai contoh, pada tahun 2012 ketika halving pertama kali terjadi harga 1 bitcoin hanya di kisaran US$ 12. Namun, selang setahun harganya meroket mencapai US$ 1.000. 

Pola serupa juga terjadi di tahun 2016. Setelah halving harganya 1 bitcoin turun di kisaran US$ 670 yang kemudian melonjak di tahun 2017 mencapai kisaran US$ 2.550 dan terus meroket. Di tahun 2020 tentunya pola ini terulang kembali di pertengahan Mei harga 1 bitcoin di kisaran US$ 8.000-an, namun dalam satu tahun harganya melompat jauh dengan puncaknya US$ 63.000 pada April 2021. 

Jadi meskipun di tiap siklusnya ‘upah’ yang didapatkan penambang terus menyusut, namun hal tersebut tidak mengurangi keuntungan yang dihasilkan oleh penambang. Karena cuan yang dihasilkan semakin berlipat-lipat ganda. 

Kalau bukan penambang apa yang harus dilakukan?

Tadi sudah dijelaskan dari sudut pandang penambang. Namun, meskipun kamu bukan penambang kamu juga bisa mendapatkan keuntungan. Tetapi tetap harus jeli dan cermat memahaminya.

Bila melihat siklus dan pola yang terjadi pra dan paska halving, maka salah satu cara yang paling mudah untuk diterapkan adalah dengan membeli atau menyimpan bitcoin sebelum terjadi halving. Bitcoin yang kamu punya cukup disimpan dan didiamkan selama beberapa waktu hingga pada saat harga mulai naik, kamu yang menentukan kapan keuntungan yang ingin kamu dapatkan ketika menjualnya.



Sumber : news.tokocrypto.com