Category Archives: Tokocrypto

Mengenal Parameter Waktu Pada Chart

Setelah menentukan jenis charts yang hendak digunakan untuk menganalisis suatu aset, Anda juga harus menentukan periode waktu yang ingin ditampilkan pada charts tersebut. Misalnya untuk periode: 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 1 talun, 3 tahun, 5 tahun, dan seterusnya. Setelah menentukan periode charts, langkah selanjutnya adalah memilih jangka waktu untuk tiap sesi (range) yang diwakili satu buah bar ataupun satu buah candle. Misalnyasatu buah bar atau candle untuk mewakili pergerakan harga selama:

  • Satu menit : disebut dengan One minute charts.
  • Lima menit : disebut dengan Five minutes Charts.
  • Satu jam : disebut dengan One hour Charts.
  • Satu hari : disebut dengan Daily charts.
  • Satu minggu : disebut dengan Weckly charts.
  • Satu bulan : disebut dengan Monthly charts.
  • Satu tahun : disebut dengan Yearly charts.

Jadi, apabila kita menentukan Periode: 1 minggu, dengan menggunakan Daily charts, maka di dalam chart tersebut akan ditampilkan lima batang bar/candle (Senin – Jumat) yang masing-masing mewakili pergerakan harga selama satu hari.

Range yang paling umum digunakan adalah daily charts dengan periode satu sampai dua tahun. Weekly charts ataupun monthly charts bisa digunakan untuk menganalisis periode yang lebih panjang. Sedangkan minutes charts biasanya hanya digunakan oleh para short-term traders yang memiliki pandangan (vien) untuk beberapa hari sampai dengan beberapa minggu saja. Hampir semua software untuk charting menyediakan menu dasar ini, namun kelengkapan dan variasinya tergantung pada masing-masing perusahaan yang menyediakan software tersebut.



Sumber : news.tokocrypto.com

Momen Halving Bitcoin Akan Berdampak Besar Pada Ruang Crypto

Pada bulan Mei 2020, hadiah Bitcoin yang ditambang akan menjadi 6,25. Momen halving telah lama diprediksi akan memberi tekanan pada harga. Seorang analis menunjukkan pentingnya langkah ini dengan membandingkannya dengan komoditas terbatas lainnya.

Analis PlanB mencuit grafik unik yang melihat rasio Stock-to-Flow (S2F) Bitcoin. Rasio ini adalah metrik yang membandingkan jumlah yang tersedia dengan tingkat produksi. Ini sering digunakan dengan logam mulia untuk memprediksi keuntungan produksi.

Grafik ini terkait dengan artikel yang ditulis oleh PlanB tahun lalu. Ia mencatat bahwa Bitcoin saat ini memiliki rasio Stock-to-Flow 25 (sekarang 27).

Ini berarti bahwa pada tingkat produksi saat ini, akan diperlukan 27 tahun untuk menambang jumlah yang ada sekarang. Namun, Halving akan menyebabkan angka ini menjadi dua kali lipat, karena hadiah dikurangi setengahnya.

PlanB telah menunjukkan bahwa selama sepuluh tahun terakhir, terdapat korelasi yang sangat jelas antara harga pasar Bitcoin dan rasio S2F-nya. Dia memperkirakan bahwa jika trend ini terus berlanjut, cryptocurrency andalannya dapat segera memiliki kapitalisasi pasar sebesar $ 1 Triliun, atau $ 55.000 per koin.

Analisis yang diajukan oleh PlanB cukup meyakinkan. Ini memperkuat argumen dari analis lain yang telah memperkirakan lonjakan harga besar karena Halving.

Namun, yang patut dicatat adalah fakta bahwa Bitcoin masih dalam proses. Untuk terus mempertahankan nilai, ia harus terus mencapai adopsi massal dan tetap mendominasi ruang cryptocurrency.

Lightning Network belum digunakan secara massal dan masih banyak projek yang sedang berjalan. Solusi ini mempunyai dampak yang signifikan terhadap Bitcoin karena solusi ini menyelesaikan masalah dalam Bitcoin.

Apakah Bitcoin akan tetap mendominasi di ruang cryptocurrency? Akankah harga menjadi $55.000 (Rp 927 Juta)?

sumber





Sumber : news.tokocrypto.com

Bitcoin Capai Reli Terpanjang Sejak 2020, Efek Inflasi AS Turun

Bitcoin telah mengalami reli terpanjang pertamanya sejak tahun 2020 bertepatan dengan angka inflasi AS terbaru yang menunjukkan penurunan. Hal ini membuat investor kripto senang menyambut market di awal tahun 2023.

Menurut data CoinMarketCap, nilai Bitcoin (BTC) pada Jumat (13/1) pukul 08.00 WIB terpantau diperdagangkan di US$ 18.816, naik 3,57 persen dalam 24 jam terakhir. Sementara, Ethereum (ETH) juga meningkat tipis 0,36 persen di harga US$ 1.408.

Melihat pergerakan Bitcoin yang menguat bersama Ethereum dan kripto lainnya, membuat investor optimis di tengah tanda-tanda ekonomi makro yang positif. Dengan desas-desus tentang perlambatan inflasi, dan potensi The Fed memperlambat kenaikan suku bunga, BTC telah mengalami kenaikan beruntun selama delapan hari.

Reli Bitcoin

Data inflasi AS buat market Bitcoin dan Ethereum naik. Foto: Reuters.
Data inflasi AS buat market Bitcoin dan Ethereum naik. Foto: Reuters.

Baca juga: Ava Labs Gandeng Amazon Percepat Adopsi Blockchain, AVAX Naik 16%

Ada banyak optimisme yang muncul saat data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) Amerika Serikat diumumkan. Data inflasi AS di bulan Desember yang diumumkan Kamis (12/1) malam menunjukkan penurunan menjadi 6,5 persen dari kenaikan 7,1 persen di bulan November.

Laju inflasi yang lebih lambat kemungkinan akan membuka jalan bagi Federal Reserve untuk menurunkan laju kenaikan suku bunga menjadi 25 basis poin per pertemuan dari 50 pada bulan Desember (dan 75 sebelumnya).

Faktor pendorong itu yang membuat Bitcoin telah mengalami reli terpanjang sejak era pandemi tahun 2020, bersama dengan kenaikan beberapa kripto top lainnya di pasar. Selain itu, tampaknya perspektif positif lebih nyata daripada harapan.

Inflasi AS Melemah

Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.
Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.

Baca juga:

Dikutip Coindesk, Steven Lubka, anaging director of Swan Bitcoin’s private client department, mengatakan dia memperkirakan inflasi Amerika Serikat akan terus melemah pada paruh pertama tahun 2023. Hal tersebut akan memberi ruang bagi The Fed untuk membatasi kembali kebijakan pengetatan moneternya.

Lubka memperingatkan, bagaimanapun, bahwa harga konsumen pada paruh kedua tahun ini mungkin tidak begitu jinak dan bahwa bank sentral mungkin harus berurusan dengan ekonomi yang melemah atau bahkan resesi bersamaan dengan kenaikan inflasi.

Sementara itu, proyeksi dari Financial Times memperkirakan data inflasi AS akan menunjukkan tingkat penurunan selama enam bulan berturut-turut. Mereka sempat memprediksi inflasi AS bulan Desember kemungkinan menunjukkan penurunan sebesar 6,5% dan terbukti bahwa proyeksi itu benar.



Sumber : news.tokocrypto.com

Cara Bitcoin Bergerak Lebih Kuat Setelah Krisis Ekonomi

Dunia sekarang menghadapi krisis keuangan terburuk dalam beberapa dekade. Kekhawatiran akan resesi selama bertahun-tahun telah dimulai. Gejolak ekonomi akan memainkan peran dalam mendorong teknologi Bitcoin dan blockchain menjadi perhatian utama. Terdapat 3 kunci yang akan memainkan peranan tersebut.

Penerapan Bitcoin akan Terus Meningkat

Para kritikus mengomentari keputusan Bank Sentral AS untuk mencetak triliunan dolar dalam membantu mengurangi tingkat pengangguran di dalam negara yang semakin meningkat. Langkah ini jelas akan menyebabkan inflasi, yang nantinya akan memiliki dampak luar biasa pada ratusan juta orang di negara-negara berkembang yang mengandalkan Dolar sebagai pelindung nilai terhadap uang fiat nasional mereka yang lemah.

Sederhananya, selama beberapa dekade, Dolar telah menjadi mata uang terpercaya di luar perbatasan Amerika Serikat. Dengan hegemoni yang sekarang dalam bahaya, Bitcoin dan kripto muncul sebagai sesuatu yang menarik untuk dijadikan sebagai alternatif. Bahkan sebelum krisis saat ini, negara-negara mulai dan semakin merangkul mata uang kripto ini. Apalagi, ketakutan terhadap melemahnya Dolar akan mempercepat proses ini.

Baca Juga: Bitcoin Belum Menjadi Safe Haven Asset di Tengah Ketidakstabilan Global 

Perbincangan mengenai Aset Safe Haven Meningkat

Krisis ekonomi saat ini telah membuktikan bahwa kerangka moneter global saat ini jauh lebih lemah dari yang dibayangkan sebelumnya. Bitcoin telah lama menawarkan alternatif, karena memungkinkan aset disimpan dan digunakan tanpa bergantung pada institusi terpusat.

Sementara penurunan harga Bitcoin dalam beberapa minggu terakhir mungkin membuat frustasi, pada saat yang sama pemegang Bitcoin dapat dengan tenang mengetahui bahwa koin mereka tidak dapat disita atau didevaluasi oleh otoritas pusat. Fakta ini sangat pasti untuk mendorong adopsi oleh mereka yang sekarang telah kehilangan kepercayaan pada sistem keuangan lama. Terlepas dari nilai sekarang, dalam hal ini Bitcoin terbukti menjadi opsi yang sangat aman untuk menjaga aset.

Blockchain Akan Semakin Kuat

Banyak yang telah terjadi dengan altcoin dalam menawarkan sedikitnya halangan dalam ruang mata uang kripto. Beberapa mata uang altsmenawarkan kegunaan dan menjanjikan, tetapi tidak memiliki tujuan yang unik. Sekarang ini adalah waktu yang cocok untuk memperkuat platform blockchain.

Penampungan kolektif dari altcoin yang terlemah akan menciptakan rally di sekitar trader yang berjanji untuk adopsi massal pada altcoin. Ini akan menguntungkan Bitcoin dan para pesaingnya. Ini juga akan memberikan investor institusional dan pemegang bisnis besar sebuah pilihan jelas ketika mencari platform yang solid untuk digunakan. Proses ini mungkin akan menyakitkan bagi beberapa investor individu dan pendukungnya, tetapi akan menciptakan lingkungan yang lebih sehat dalam pengadopsian blockchain jangka panjang.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Shiba Inu Kolaborasi dengan Bugatti Group & CoinGate, Nilai SHIB Naik?

Shiba Inu kembali meramaikan pemberitaan di industri aset kripto karena membuat kemitraan penting. Baru-baru ini Shiba Inu mengumumkan kerja sama dengan Bugatti Group dan CoinGate untuk pengembangkan project kriptonya.

Sesuai perkembangan terakhir, Shiba Inu dilaporkan telah bermitra dengan brand premium Bugatti Group yang berbasis di Montreal. Buggati Group adalah produsen tas, koper, tas bisnis, dan produk sanitasi yang terkenal. Mereka telah berkecimpung dalam bisnis ini sejak tahun 1940-an dan terkenal karena menawarkan desain yang unik dan bahan yang unggul.

Tujuan kemitraan masih belum jelas untuk saat ini. Namun, kemungkinan akan mengembangkan project NFT bersama ataupun koleksi fashion terbaru.

Bugatti Group

Baca juga: Kisah Trader Kripto Muda Cuan Rp 109 Miliar Masih Tinggal Bersama Ibu

Bugatti Group juga baru-baru ini mengikuti tren seputar peluncuran koleksi NFT dengan meluncurkan karya aset digital mereka miliknya sendiri. Sebagai bagian dari pengumuman, mereka memperkenalkan Bugatti Group Genesis NFT Collection.

Pemilik koleksi NFT ini menerima manfaat eksklusif seperti saluran media sosial eksklusif bersama dengan diskon untuk pembelian dan pembelian di masa mendatang.

Shiba Inu telah merilis klip video pendek dari tas tangan Bugatti Group yang menampilkan logo Shiba Inu yang dikustomisasi di atasnya. Ini adalah kemitraan penting bagi SHIB dalam dua tahun terakhir keberadaannya di pasar.

CoinGate

shibaswap

Baca juga: Hong Kong Berambisi Jadi Pusat Kripto Global, Mungkinkah?

SHIB juga mendapat untung dari kemitraan dengan CoinGate melalui Wix, platform SaaS global. Kolaborasi baru ini akan memanfaatkan platform Wix yang telah beroperasi di Spanyol, Lituania, Jerman, dan Belanda untuk memperluas pengunaan SHIB sebagai solusi pembayaran kripto di berbagai toko online.

Selain SHIB, Wix akan menawarkan pembayaran dalam Bitcoin dan 70 koin kripto lainnya, serta dalam mata uang fiat paling populer, seperti EUR, USD, dan GBP.

Harga SHIB sempat melonjak karena berita kolaborasi ini. Menurut data CoinMarketCap, nilai Shiba Inu (SHIB) pada Jumat (13/1) pukul 11.00 WIB terpantau diperdagangkan di US$ 0,000009477, naik 1,13 persen dalam 24 jam terakhir.



Sumber : news.tokocrypto.com

Penampakan Fase Bull Trap di Bitcoin

Maret kemarin merupakan bulan yang sangat spektakuler bagi Bitcoin. Anjlok cepat pada 12 Maret 2020, tidak menekan daya beli warga dunia terhadap Raja Aset Kripto itu. Kendati rebound-nya tidak terlalu menyenangkan, karena enggan masuk ke level 7 ribu, namun saya menemui ada sejumlah titik “mantulnya”, termasuk penampakan fase bull trap di Bitcoin.

Oleh: Muhammad Kurnia Bijaksana
Analis teknikal aset kripto

Kita dapat memperhatikan bahwa di timeframe 1 minggu, harga Bitcoin sedang berusaha naik dan berusaha menembus area sekitar US$6.200 setelah terpuruk ke sekitar US$3.900 3 minggu lalu dan gagal menutup di atas US$7100 minggu lalu.

Skenario Bullish: Tren Naik
Di timeframe harian, terlihat bahwa Bitcoin sedang membentuk trend naik perlahan. Terlihat dengan terbentuknya Higher Lows dan Higher Highs seperti pada gambar.

BERITA TERKAIT  Menakar Risiko Investasi Bitcoin

Skenario Bearish: Hanyalah Retracement
Namun jika kita lihat di timeframe mingguan, kita dapat lihat bahwa kenaikan 3 minggu lalu hanyalah sebuah koreksi dari penurunan yang sedang terjadi.

Terlihat bahwa harga Bitcoin telah tertolak tepat di titik 50% fibonacci retracementdan gagal menembus titik harga tersebut di minggu berikutnya.

Ditambah lagi kemungkinan terjadinya wick-filling yang memungkinkan harga kembali ke titik rendah sekitar US$3.900.

Kondisi Dunia yang Sedang Kacau
Harga aset kripto lainnya akan cenderung mengikuti harga Bitcoin dengan pola yang hampir sama. Jika kita amati, di luar pasar aset kripto, semua instrumen keuangan, kecuali emas sedang menunjukkan tanda-tanda bearish yang sangat tinggi di tengah pandemi Covid-19 ini. Akankah harga aset aset kripto mengikuti mereka?

Walaupun Bitcoin digadang-gadang sebagai “uncorrelated asset” atau harganya tidak terpengaruh oleh instrumen lain (misalkan saham), namun berdasarkan price action belakangan ini, harga aset kripto mengikuti trend instrumen lain seperti index saham DJIA, NIKKEI, IHSG, dan lain sebagainya, yang merupakan cerminan kondisi ekonomi dunia saat ini.

Bull Trap
Jika kita menelaah kondisi pasar dunia sekarang, sangatlah meyakinkan bahwa kita sedang berada di fase bull trap, di mana setelah harga turun, orang masih yakin akan naik lagi karena ada kenaikan sekejap (di index Dow Jones ditunjukkan dengan kenaikan seperti pada gambar), hanya untuk turun lagi lebih jauh.

Penulis meyakini hal ini dikarenakan adanya stimulus ekonomi yang besar, namun kondisi dunia masih belum membaik akibat pandemi Covid-19.

Trend Indeks Saham Dow Jones.
Ruang bull trap.

Kesimpulan
Beberapa minggu dan bulan ke depan kita dapat melihat apakah benar Bitcoin dan aset kripto lainnya bisa membuktikan dirinya sebagai uncorrelated asset dan safe haven di tengah-tengah krisis global.

BERITA TERKAIT  Harga Bitcoin Terangsang Tatkala Perang Dagang Kian Tegang

Bisa jadi sekarang-sekarang adalah masa terbaik untuk berinvestasi di aset kripto, atau mereka akan ikut turun dan hancur seperti instrumen lainnya. [*]



Sumber : news.tokocrypto.com

Tokocrypto Raih Penghargaan dari PPATK

Tokocrypto meraih penghargaan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) atas partisipasinya dalam pengukuran Financial Integrity Rolling on Money Laundering and Terrorism Financing (FIR on ML/TF) Tahun 2022. Penghitungan FIR bertujuan untuk mengukur tingkat komitmen penyedia jasa keuangan dalam mendukung PPATK dan Aparat Penegak Hukum.

VP Corporate Communication Tokocrypto, Rieka Handayani, mengatakan Tokocrypto menjadi satu-satunya Calon Pedagang Fisik Aset Kripto di Indonesia yang menerima penghargaan FIR on ML/TF dari PPATK. Selama proses rangkaian penilaian dan evaluasi yang panjang, Tokocrypto akhirnya berhasil mendapatkan kategori Baik.

“Kami sangat bangga menerima penghargaan dari PPATK dalam partisipasi mengikuti penilaian FIR on ML/TF Tahun 2022. Penghargaan ini akan menjadi pendorong semangat kami untuk meningkatkan atau mempertahankan standar kepatuhan yang tinggi terhadap upaya pemberantasan pencucian uang dan pendanaan terorisme,” kata Rieka.

Good Corporate Governance

Ilustrasi Tokocrypto. Foto: Tokocrypto.
Ilustrasi Tokocrypto. Foto: Tokocrypto.

Baca juga: Bitcoin Naik di Atas Rp 318 Juta, Top Altcoin Raih Keuntungan Dua Digit

Tokocrypto senantiasa lalu menjadi mitra pemerintah dengan menjalankan prinsip Good Corporate Governance. Pemberantasan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dan tindak pidana pendanaan terorisme (TPPT) telah menjadi komitmen Tokocrypto sejak lama. Sebelumnya, Tokocrypto juga mendapat penghargaan dari PPATK atas Komitmen dan Keterlibatan Aktif dalam Kegiatan Mutual Evaluation Review (MER) Indonesia oleh Financial Action Task Force (FATF).

“Komitmen untuk patuh pada regulasi yang berlaku sangat penting untuk menciptakan kepercayaan di antara industri, regulator, dan pelanggan. Kami selalu aktif melakukan pelaporan transaksi dan menerapkan verifikasi know-your-customer (KYC) yang ketat. Untuk tahun 2023, kami tetap akan fokus pada peningkatan pemanfaatan teknologi guna memperkuat sistem keamanan dan kembali melakukan audit ISO 27017 dan 20701,” tutur Rieka.

Soal penggunaan aset kripto untuk tujuan ilegal seperti pencucian uang dan pendanaan terorisme serta pengembangan senjata pemusnah massal, sudah diatur dalam Peraturan Bappebti Nomor 6 Tahun 2019 tentang Penerapan Program APU-PPT Terkait Penyelenggaraan Pasar Fisik Komoditi di Bursa Berjangka.

Patuh Regulasi

Ilustrasi pedagang aset kripto di Indonesia, Tokocrypto. Foto: Dimas Ardian/Bloomberg
Ilustrasi pedagang aset kripto di Indonesia, Tokocrypto. Foto: Dimas Ardian/Bloomberg

Baca juga: Market Kripto Kembali Reli Panjang, Adakah Risiko Bull Trap?

Adanya kewajiban penerapan program Penerapan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU PPT) oleh para Calon Pedagang Fisik Aset Kripto sesuai dengan yang diatur dalam PerBa, seperti kewajiban Proses Uji Tuntas Pelanggan (Customer Due Diligence Process), kewajiban pemantauan transaksi, adanya kewajiban pelaporan setiap transaksi Aset Kripto yang mencurigakan kepada PPATK dan Bappebti, dan peran serta direksi dalam penerapan APU-PPT.

“Tokocrypto selalu memberitahukan setiap perubahan sistem, bisnis proses, dan peraturan dan tata tertib yang dimiliki. Kami juga rutin memonitori setiap transaksi dan melaporkan ke Bappebti dan PPATK terhadap transaksi yang mencurigakan,” pungkas Rieka.



Sumber : news.tokocrypto.com

Bitcoin Naik di Atas Rp 318 Juta, Top Altcoin Raih Keuntungan Dua Digit

Tahun 2023 dimulai dengan catatan positif karena pasar menunjukkan reli yang luar biasa dengan Bitcoin dan altcoin lainnya menunjukkan keuntungan dua digit. Ini menjadi kabar yang baik untuk investor aset kripto.

Tahun 2022 secara kolektif adalah salah satu “musim dingin kripto” yang paling sulit dalam sejarah. Jatuhnya harga dan runtuhnya dua raksasa aset kripto yang memiliki market cap besar telah memperburuk keadaan pasar.

Sementara itu, komunitas kripto juga mengantisipasi reli positif pada 2023, terbukti di awal tahun ini, pasar telah memberikan hasil seperti yang diharapkan investor maupun trader.

Bitcoin Naik Lampaui Rp 318 Juta

Harga Bitcoin Bergerak Agresif
Harga Bitcoin Bergerak Agresif.

Baca juga: Kontestan El Savador Pakai Kostum Tema Bitcoin di Miss Universe 2022

Bitcoin (BTC), yang melayang di sekitar kisaran US$ 16.000, akhirnya kembali menyentuh harga US$ 21.075 selama akhir pekan. Terpantau dari situs CoinMarketCap pada Senin (16/1) pukul 08.30 WIB, harga BTC naik 22,89 persen selama tujuh hari terakhir dan mencapai US$ 21.126 atau sekitar lebih dari Rp 318 juta.

Tidak hanya Bitcoin, altcoin utama lainnya, termasuk Ethereum, juga menunjukkan keuntungan lebih dari 21,4 persen selama tujuh hari terakhir. Dari level terendah bulanan lalu di kisaran harga US$ 1.160, kini ETH menyentuh US$ 1.566 pada saat artikel ini ditulis.

Salah satu altcoin utama dengan perolehan terbanyak adalah Solana, yang menunjukkan kenaikan 71 persen selama tujuh hari terakhir capai harga US$ 23,20.

Kapitalisasi Pasar Kripto

Ilustrasi aset kripto
Ilustrasi aset kripto

Baca juga: 3 Prediksi Teratas Harga Bitcoin untuk Tahun 2023, Bakal Naik?

Kenaikan harga BTC juga memompa kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan hingga hampir menyentuh US$ 1 triliun. Menurut data Coingecko, kapitalisasi pasar kripto global juga sempai melewati US$ 1,02 triliun.

Kenaikan kapitalisasi ini tercatat mencapai 15,5 persen year-to-date. Meski demikian, angkanya masih turun 50 persen dari kapitalisasi pasar kripto sebelum runtuhnya ekosistem Terra di US$ 1,88 triliun.

Kenaikan market kripto pada akhir-akhir ini didorong oleh faktor Consumer Price Index (CPI) atau Indeks harga konsumen Amerika Serikat (AS) yang diumumkan turun pada Kamis (12/1) malam WIB. Sesuai dengan prediksi para ekonom, CPI Desember turun 0,1 persen dari November menjadi 6,5 persen.

Pasar kripto secara umum berada dalam reli hijau. Namun, tidak jelas apakah ini adalah akhir dari bear market selama setahun dan awal dari reli bullish penuh.



Sumber : news.tokocrypto.com

Ketua CMT Digital: Trading Bitcoin Tetap Kuat Meskipun Kondisi Global Terpuruk

“Trading Bitcoin tidak jauh berbeda,” menurut kepala perdagangan dan pengembangan bisnis CMT Digital, Brad Koeppen kepada Cointelegraph melalui surat elektronik pada 31 Maret 2020. “Volatilitas dan volume trading menunjukkan kenaikan ketika BTC dijual pada pasar tradisional tetapi volatilitas tinggi bukanlah hal baru dalam Bitcoin.”

Referensi permasalahan yang terlihat di sekitar bursa crypto saat penurunan besar Bitcoin antara 11 dan 13 Maret, Koeppen mencatat bahwa ini “bukan hal baru” pada pasar crypto.

Apakah Bitcoin Terpisah dari Pasar Lain?

Selama penurunan besar-besaran Bitcoin di paruh pertama Maret 2020, koin tampaknya bergerak selaras dengan aksi jual di pasar utama.

“Saya tidak terkejut bahwa perdagangan Bitcoin sejalan dengan pasar biasa selama krisis ini. Likuiditas sangat mahal sehingga orang berbondong-bondong menjual aset, termasuk Bitcoin.”

“Terkadang Bitcoin adalah satu-satunya pasar yang terbuka sehingga ada beberapa gerakan dalam Bitcoin yang tidak bergerak bersamaan dengan perpindahan pada pasar biasa, tetapi saya berharap Bitcoin memiliki korelasi yang rendah atau tidak sama sekali dengan pasar biasa dalam jangka panjang”, ujar Koeppen.

Selama beberapa minggu terakhir, harga Bitcoin telah bergerak sedikit lebih independen dari keseluruhan dari penurunan yang dialami oleh pasar biasa.

Baca juga: Cara Bitcoin Bergerak Lebih Kuat Setelah Krisis Ekonomi

Bagaimana Semua Ini Berpengaruh pada Halving Event Bitcoin Mendatang?

Bitcoin diperkirakan akan menyelesaikan Halving Event sekitar Mei 2020. Beberapa orang melihat peristiwa itu sebagai indikasi bahwa harga akan segera meningkat, dengan catatan bahwa Halving berkaitan erat dengan penurunan jumlah koin baru secara teratur dalam memasuki sistem. Sejarah mencatat, harga aset memang naik setelah Halving Events Bitcoin.

Ketakutan global terhadap pandemi saat ini, berjalan selaras dengan ketidakpastian yang ada pada pasar biasa. Hal ini dapat menjadi faktor dalam perkembangan pasar crypto mendatang.

“Halving Events adalah momen yang sangat dinanti-nanti dalam siklus hidup Bitcoin. Saya tidak memiliki pandangan tentang arah harga yang mengarah ke Halving Events tetapi saya berpikir akan ada peningkatan aktivitas di pasar”, ujar Koeppen.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa

“Pasar Bitcoin penuh dengan orang-orang spekulan dan Halving Events memunculkan lebih banyak trader yang ingin berspekulasi tentang harga ini. Hal tersebut sebenarnya dapat menyebabkan volatilitas yang berkepanjangan di pasar. Saya pikir Halving nanti akan berdampak positif pada harga Bitcoin dalam jangka panjang. Tetapi saya menganggap bahwa peristiwa itu tidak akan terlalu memiliki dampak besar pada harga

Pasar dan industri perdagangan ini memang memiliki beragam harapan pada peristiwa Halving tersebut. Banyak yang menganggap bahwa Bitcoin sekarang ini adalah arus utama perkembangan aset itu sendiri dibanding dengan peristiwa Halving empat tahun lalu.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Mengenal Skala Arithmetic Dan Skala Logarithmic Dalam Pembentukan Harga

Pada pengaturan skala di dalam menu charting yang digunakan di dalam trading Aset Kripto, umumnya terdapat dua pilihan, yaitu: Skala Arithmetic dan Skala Logarithmic.

Skala Arithmetic mempunyai Garis Skala Harga (GSH) dengan jarak yang sama pada setiap kelipatan kenaikan satuan nilai harga.

Contoh:
Skala antara “1 ke 2” sama jaraknya dengan “5 ke 6′” karena nilainya sama-sama naik satu. Begitu juga jarak skala antara kenaikan 5 ke 6 dengan kenaikan 9 ke 10, dan seterusnya. Meskipun demikian, jika dinilai secara persentase, kenaikan harga 1 ke 2 sama dengan peningkatan 100%, sedangkan kenaikan dari 5 ke 6 hanya naik sebesar 20%.

Contoh chart yang menggunakan skala Archimetric

Skala Logarithmic menggunakan perhitungan Garis Skala Harga (GSH) yang berbeda dengan skala Arithmetic. Pada Logarithmic, jarak semakin mengecil karena tidak dihitung berdasarkan kenaikan dalam satuan nilai harga, melainkan mengikuti peningkatan secara persentase.

Contoh:
Jarak antara “1 ke 2” sama dengan jarak antara “2 ke 4” atau “5 ke 10”, dan seterusnya, karena dianggap sama-sama mengalami kenaikan nilai 100%.

Contoh chart yang menggunakan skala Logarithmic

Jadi kesimpulannya, skala Arithmetic menggunakan perhitungan berdasarkan peningkatan dalam satuan nilai harga, sedangkan Logarithmic berdasarkan peningkatan secara persentase. Skala Logarithmic umumnya berkinerja lebih baik jika menggunakan time horizon long-term (di atas satu tahun).



Sumber : news.tokocrypto.com