Tag Archives: blockchain

Daftar Orang Terkaya di Dunia Berkat Kripto dan Blockchain

Kemunculan aset kripto dan blockchain telah menciptakan banyak orang kaya baru di dunia saat ini. Terlebih dunia kripto yang tengah booming dalam beberapa tahun ini, membuat arus pendapatan deras bagi sejumlah yang orang aktif di industri aset digital.

Forbes membuat daftar orang terkaya berkat kripto dan blockchain di dunia pada awal tahun 2022. Beberapa orang yang masuk daftar tersebut di antaranya Changpeng Zhao, Sam Bankman-Fried, dan Brian Armstrong.

Masuknya sejumlah miliarder tersebut dirasa wajar karena uang yang bisa mereka dihasilkan pada ekonomi kripto senilai $ 2 triliun. Setidaknya, dalam satu tahun terakhir pergerakan kripto disebabkan oleh booming-nya investasi aset kripto, inovasi Web3, non-fungible token (NFT) hingga pergerakan liar di Bitcoin.

Menurut data Forbes, terdapat 19 miliarder kripto dan blockchain yang masuk daftar orang terkaya di dunia 2022, atau lebih banyak 7 orang dari tahun sebelumnya. Sebagian besar dari mereka masuk daftar karena menghasilkan uang dari bisnis yang berhubungan dengan kripto dan teknologi blockchain.

Berikut daftar orang terkaya di dunia berkat kripto dan blockchain:

Changpeng Zhao

  • Kekayaan bersih: $ 65 miliar
  • Sumber kekayaan: Binance
  • Kewarganegaraan: Kanada
Changpeng Zhao, CEO Binance
Changpeng Zhao, CEO Binance. Foto: Getty Images.

Changpeng Zhao atau yang akrab disapa “CZ” adalah pendiri dan CEO Binance dan merupakan orang terkaya ke-19 di dunia. Forbes memperkirakan bahwa ia memiliki setidaknya 70% dari Binance, platform global terkemuka untuk perdagangan aset kripto.

Tahun 2021 lalu, Binance dilaporkan memfasilitasi sekitar dua pertiga dari semua volume perdagangan kripto, menghasilkan perkiraan pendapatan sekitar $ 16 miliar.

Pria berusia 44 tahun itu juga memegang sebagian kecil Bitcoin dan sejumlah BNB yang dirahasiakan, token asli Binance. Berdasarkan perkiraan tersebut, Forbes telah menaikkan evaluasi kekayaan CZ dari $ 1,9 miliar tahun lalu.

Baca juga: Apa Itu Aset Kripto Troy (TROY) dan VeThor (VTHO)?

Sam Bankman-Fried

  • Kekayaan bersih: $ 24 miliar
  • Sumber kekayaan: FTX
  • Kewarganegaraan: AS
Sam Bankman-Fried, CEO FTX
Sam Bankman-Fried, CEO FTX. Foto: FTX.

Sam Bankman-Fried merupakan CEO FTX, perusahaan exchange aset kripto. Ia pindah dari Hong Kong ke Bahama yang lebih ramah kripto pada akhir 2021 bersama perusahaannya FTX dan mampu mengumpulkan $ 400 juta pada Januari lalu dengan penilaian $ 32 miliar.

Operasi FTX di AS juga baru-baru ini dinilai oleh investor memiliki rata-rata volume trading sebesar $ 8 miliar. Dia memiliki sekitar setengah kepemilikan dari FTX dan FTT, token asli platform senilai lebih dari $ 7 miliar.

Brian Armstrong

  • Kekayaan bersih: $ 6,6 miliar
  • Sumber kekayaan: Coinbase
  • Kewarganegaraan: AS
Brian Armstrong, CEO Coinbase
Brian Armstrong, CEO Coinbase. Foto: Techcrunch.

Brian Armstrong adalah CEO dan pendiri Coinbase. Ia berhasil membawa Coinbasi melakukan IPO pada April 2021 dengan penilaian $ 100 miliar. Kapitalisasi pasarnya sekitar setengah dari angka tersebut, masih cukup bagus untuk menjadikan Armstrong –dengan 19% sahamnya– orang terkaya ketiga di crypto.

Gary Wang

  • Kekayaan bersih: $ 5,9 miliar
  • Sumber kekayaan: FTX
  • Kewarganegaraan: AS

Gary Wang merupakan salah satu pendiri dan Chief Technology Officer (CTO) FTX. Wang yang pemalu meluncurkan platform pertukaran crypto dengan Bankman-Fried pada tahun 2019. Wang memegang 16% saham dalam bisnis global FTX dan FTT senilai lebih dari $600 juta, token asli FTX.

Sebelum masuk ke crypto, Wang adalah seorang insinyur perangkat lunak di Google, di mana ia membantu membangun platform pemesanan online Google Flights. Dia belajar matematika dan ilmu komputer di MIT.

Chris Larsen

  • Kekayaan bersih: $ 4,3 miliar
  • Sumber kekayaan: Ripple
  • Kewarganegaraan: AS
Chris Larsen, Executive Chairman Ripple
Chris Larsen, Executive Chairman Ripple. Foto: Ripple.

Chris Larsen adalah salah satu pendiri dan Executive Chairman Ripple, yang token XRP-nya saat ini merupakan aset kripto terbesar ke-8.

Baca juga: Tokocrypto Market Signal 13 April 2022: Pasar Kripto Terjebak Zona Merah

Cameron Winklevoss dan Tyler Winklevoss

  • Kekayaan bersih: $ 4 miliar
  • Sumber kekayaan: Bitcoin
  • Kewarganegaraan: AS
Cameron Winklevoss dan Tyler Winklevoss
Cameron Winklevoss dan Tyler Winklevoss. Foto: Getty Images.

The Wingklevii, panggilan akrab dua bersaudara kembar identik ini menjalankan usaha perdagangan uang kripto dengan nama Gemini. selain perusahaan pertukaran uang kripto dan modal ventura, The Wingklevii ini pun memiliki Nifty Gateway sebuah platform lelang seni.

Ketika bitcoin meroket menjadi $ 58 ribu per koin pada Maret 2021 lalu, si kembar pun melesat menjadi miliarder. Kekayaan bersih mereka berdua jika digabungkan menjadi $ 6 miliar. Kini, kekayaan The Wingklevii diperkirakan Forbes sebesar $ 4 miliar.

Song Chi-hyung

  • Kekayaan bersih: $ 3,7 miliar
  • Sumber kekayaan: Upbit
  • Kewarganegaraan: Korea Selatan
Song Chi-hyung, pendiri Upbit
Song Chi-hyung, pendiri Upbit. Foto: Upbit.

Song Chi-hyung adalah pendiri exchange crypto terkemuka Korea Selatan, Upbit. Chi-hyung telah menguangkan pasar crypto Korea Selatan yang sedang booming senilai $ 46 miliar. Dia diperkirakan memiliki sekitar seperempat kepemilikan dari perusahaan induk Upbit, Dunamu, yang bernilai $ 17 miliar pada November 2021 lalu.

Barry Silbert

  • Kekayaan bersih: $ 3,2 miliar
  • Sumber kekayaan: Digital Currency Group
  • Kewarganegaraan: AS
Barry Silbert
Barry Silbert. Foto: CNBC.

Barry Silbert adalah pendiri grup Digital Currency Group. Silbert telah membangun konglomerat kripto yang terdiversifikasi. Perusahaan investasinya mengendalikan Grayscale, yang mengelola sekitar $ 28 miliar aset kripto, serta CoinDesk, perusahaan berita dan acara kripto populer.

Melalui banyak anak perusahaan, DCG Silbert telah berinvestasi di lebih dari 200 startup kripto. Sebelum crypto, Silbert adalah seorang bankir investasi dan pengusaha yang menjual platform perdagangan saham, Second Market ke Nasdaq pada tahun 2015 dengan jumlah yang tidak diungkapkan.

Jed McCaleb

  • Kekayaan bersih: $ 2,5 miliar
  • Sumber kekayaan: Ripple, Stellar
  • Kewarganegaraan: AS
Jed McCaleb
Jed McCaleb. Foto: Getty Images.

McCaleb menghasilkan sebagian besar kekayaannya dari Ripple Labs dan XRP, proyek aet kripto yang berfokus pada pembayaran yang ia dirikan pada tahun 2012. McCaleb meninggalkan proyek pada 2013 setelah berselisih dengan Larsen dan anggota tim lainnya.

Sejak itu, McCaleb telah menjual sebagian besar XRP-nya secara bertahap, mengikuti perjanjian pemisahan tahun 2014 yang dia buat dengan Ripple Labs. Dia adalah pendiri dan Chief Technology Officer (CTO) Stellar.

Baca juga: Mastercard Siap Terjun Eksplorasi Bisnis ke Metaverse dan NFT



Sumber : news.tokocrypto.com

Tidak Hanya Mastercard dan Adidas, Zara Juga Ke Metaverse

Metaverse semakin ramai dengan hadirnya brand fashion ternama, Zara, yang telah meluncurkan koleksi terbarunya di dunia virtual.

Koleksi yang disebut Lime Glam tersebut adalah produk pakaian dan aksesoris yagn bisa digunakan oleh para pengguna di platform Metaverse, Zepeto. Ini juga dijual di toko fisik mereka.

Memang, Metaverse sudah cukup terbukti mampu menjadi cara baru para brand fashion untuk memperkenalkan produk mereka, dengan cara yang benar-benar berbeda dan lebih kaya akan pengalaman. Inilah yang membuat Zara tertarik untuk memasukinya.

Sebelumnya, platform Metaverse dari Decentraland juga sudah akrab dengan penggunaan bisnis fashion, yang bahkan telah mengadakan pameran busana virtual dengan lancar dalam skala yang bisa dibilang besar. Ini sangat meriah dan panen pujian.

Baca juga: Mastercard Ajukan Belasan Merek Dagang untuk Metaverse dan Crypto

Dengan adanya Metaverse, mencoba sebuah fashion dari rumah saja pun dimungkinkan, sebelum benar-benar datang ke toko fisik dan memilikinya secara nyata. Konsep hebat ini memang bukan hal yang benar-benar baru, tetapi telah dicoba dan hasilnya luar biasa.

Di situs resmi Zara, juga menampilkan avatar yang menggunakan koleksi Lime Glam. Ini tentu bisa menjadi referensi awal bagi pengunjung situs sebelum benar-benar mencoba dan membelinya.

Selain untuk hal tersebut, aplikasi Zepeto juga menawarkan booth foto, dinding digital dan lantai untuk koleksi khusus semacam itu.

Baca juga: Volume Perdagangan Kripto di India Runtuh Setelah Pajak Baru Berlaku

Dengan tampilan yang berkonsep tiga dimensi, ini tentu mempermudah pelanggan mendapatkan gambaran yang lebih baik di awal secara digital, mengenai suatu produk yang ditawarkan.

Tentu saja, ini sejalan dengan ramalan para pakar tentang nilai pasar metaverse yang akan membesar, benar-benar besar, karena fungsi dan minat yang luas. Ini masihlah awal, metaverse akan benar-benar melewati imajinasi. Kita lihat saja!

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

NFT Snoop Dogg Resmi Diterbitkan di Blockchain Cardano (ADA)

Proyek NFT Clay Nation telah meluncurkan kolaborasi resmi dengan rapper Snoop Dogg serta investor kripto Champ Medici. Proyek ini menghadirkan clay animation, penjualan tanah virtual dan konten musik di blockchain Cardano (ADA).

Saat kolaborasi tersebut diungkapkan, Snoop Dogg dan pendiri Cardano, Charles Hoskinson, bertemu dalam acara Twitter Space pada 5 April lalu untuk membahas ekosistem Cardano, musik dan NFT.

Kemitraan dengan Cardano bukanlah pengalaman pertama Snoop Dogg di bidang NFT. Ia telah mengambil sejumlah langkah memasuki kripto dan Metaverse dengan membangun Snoopverse di Sandbox.

Baca juga: Tokocrypto dan FEB UGM Kolaborasi Dirikan BlockSpace, Tempat Belajar Ekosistem Blockchain

Clay Nation adalah proyek dari Clay Mates, merupakan koleksi NFT 10 ribu avatar yang memakai animasi tiga dimensi mirip tanah liat. Sebuah algoritma mencampuradukkan sejumlah atribut untuk menghasilkan beragam NFT Clay Nation yang unik.

Koleksi NFT kolaborasi Snoop Dogg tersebut diluncurkan bersamaan dengan prestasi baru yang dicapai jaringan Cardano.

Menurut Morgan Schofield, kepala pertumbuhan ekosistem Cardano, jaringan tersebut telah menerbitkan lebih dari empat juta token dalam 50 ribu proyek minting NFT.

Pertumbuhan jumlah karya seni NFT yang diterbitkan terkait dengan perkembangan Cardano serta industri NFT yang sedang panas.

“Seiring kami memperbesar kapabilitas Cardano, perkembangan ini akan terus melaju. Kepemilikan kedaulatan digital semakin mudah dan aman,” tulis Schofield melalui akun Twitter.

Baca juga: Robinhood Akhirnya Perdagangkan Shiba Inu (SHIB), Ada Kripto Lain?

Pavia, proyek Metaverse pertama pada Cardano, belum lama ini melaporkan sudah ada 22 ribu lebih pemilik NFT lahan virtual pavia.io. Angka tersebut didapat berdasarkan jumlah dompet unik.

Pavia, yang resmi meluncur sebagai metaverse pada bulan Januari lalu, mengambil nama kota kelahiran Gerolamo Cardano pada tahun 1501.

Cardano mengalami pertumbuhan pesat jumlah proyek dan aktivitas on-chain. Hampir 900 proyek membangun di atas Cardano, dimana 3,6 persen terdiri dari marketplace NFT dan 47,9 persen terdiri dari koleksi NFT.

Metaverse mengambil porsi 3,3 persen dan gaming 4,2 persen. Sementara itu, sektor DeFi yang besar di blockchain lain seperti Ethereum dan Avalanche, hanya menduduki porsi 1,7 persen di Cardano.

U.Today melansir, saat ini harga ADA diperdagangkan pada nilai US$1,02 menurut data CoinMarketCap, dan menduduki peringkat kedelapan sebagai aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Pendiri PayPal Beberkan Alasan Bitcoin Gagal Tembus $ 100.000

Pendiri PayPal, Peter Thiel beberkan alasan Bitcoin gagal tembus $ 100.000 yang menurutnya disebabkan oleh beberapa ‘musuh’. Thiel menyebut-nyebut Warren Buffet, Larry Fink, dan Jamie Dimon sebagai orang-orang yang menghambat pertumbuhan aset digital nomor satu ini. 

Thiel diketahui marah-marah kepada ketiga orang tersebut di Konferensi Bitcoin yang diselenggarakan di Miami. Thiel bahkan menyebut Warren Buffet sebagai ‘musuh nomor satu’ dan dengan berani serta secara terang-terangan menuliskan kata-kata ‘racun tikus’ pada layar tampilan saat sedang berpidato dalam acara tersebut. 

Lebih parahnya lagi, ketika suasana semakin panas, Thiel bahkan menyebut Buffet sebagai ‘kakek sosiopat dari Omaha’. Aksi Thiel ini disebabkan oleh komentar Buffet yang menurutnya merugikan pertumbuhan Bitcoin, lantaran komentar tersebut dinilai Thiel telah menimbulkan kekhawatiran pada calon investor. 

Baca jugaPrediksi Harga Bitcoin Hari Ini: Teknikal Analisis

“Saya tidak memiliki apa pun dan tidak akan pernah,” komentar Buffet tentang Bitcoin dalam sebuah wawancara. Buffet juga menyebutkan bahwa Bitcoin tidak punya nilai intrinsik dan bukan alat pertukaran yang tahan lama. Sementara salah satu mitranya, Chalie Munger, menyebut Bitcoin sebagai ‘penyakit kelamin’.

Selain Buffet, CEO JPMorgan, Jamie Dimon juga tak lepas dari caci maki Thiel. Dimon disebut Thiel sebagai ‘bias banker New York’. Sementara ketua BlackRock, Larry Fink disebut-sebut juga oleh Thiel karena dianggap sudah menyimpan sentiment anti-Bitcoin.

Baru-baru ini, surat pemegang saham justru menunjukkan bahwa Fink meningkatkan penggunaan Bitcoin dan crypto setelah gejolak geopolitik Russia – Ukraina pecah. 

Dalam pidatonya, Thiel berpendapat bahwa kritikus yang dia sebutkan itu menjadi alasan utama kenapa Bitcoin gagal mencapai $100K. “Mengapa Bitcoin belum naik menjadi $100K hingga satu juta dolar? Mengapa tidak menyatu dengan emas atau bahkan dengan pasar ekuitas secara lebih luar?” tanya Thiel dalam acara tersebut. 

Baca juga: Maksimalkan Cuan dengan Beli Koin Duluan

Selama acara berlangsung, Thiel cenderung memberikan pidato politis dan merenungkan apakah ‘gerakan musuh akan berhasil’ dalam menghentikan pertumbuhan Bitcoin ke $100K.

Akhir pidatonya, Thiel menyeret-nyeret Fed dan ketua SEC, Gary Gensler karena telah memilih untuk bersikap tidak peduli sehingga mereka harus membayar konsekuensinya di tahun-tahun mendatang.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Perhatikan! Inilah Titik Penting Agar Harga Bitcoin Menguat Lagi

Ada sejumlah titik penting bagi Bitcoin agar bisa menguat lagi, terkait erat dengan kebijakan The Fed, jika bank sentral AS itu gagal mengendalikan inflasi dan ekonomi menuju resesi.

Ketika artikel ini ditulis, Senin (11/4/2022) malam, nilai pasar aset kripto terdepak menjadi $ 1,8 triliun. Harga Bitcoin (BTC) sendiri tersengal-sengal gagal naik lebih tinggi daripada $ 43.000 per BTC. Senin malam kemarin, harga BTC bahkan ambrol hingga $ 40.800 per BTC. Kripto 20 besar lainnya setali tiga uang terhempas karena aksi jual massal.

TradingView Chart

Untuk memetakan penyebabnya, sejatinya cukup sederhana, yakni penguatan dolar AS. Pangkalnya adalah kebijakan Bank Sentral AS alias The Fed yang diprediksi akan jauh lebih agresif untuk menjual asetnya dan menaikkan lebih besar lagi suku bunga acuan.

Mari kita uraikan satu per satu, berdasarkan struktur fundamental yang umum. Pertama, relasi nilai dolar AS dan Bitcoin. Nilai Bitcoin tetap berpatokan pada nilai dolar AS, mengingat mata uang ini masih menjadi idaman banyak negara dan masih digunakan dalam perdagangan internasional, walaupun selama dua dekade banyak negara yang mulai membuang mata uang itu dari cadangan devisanya, seperti Rusia dan Tiongkok dan beberapa negara di Afrika. Pelemahan dolar sejak 1982 adalah fakta yang sulit dibantah.

Dinamika dolar AS ini dapat dengan mudah diukur dari indeks dolar AS (DXY). Artinya, jika indeks dolar melemah secara signifikan, maka itu akan menguatkan pasar kripto, termasuk Bitcoin. Dan sebaliknya, jika indeks DXY menunjukkan penguatan, maka pasar kripto tertekan. Relasi ini terjadi lebih sering daripada tidak, secara historis.

TradingView Chart
TradingView Chart

Rumusan sederhana ini dapat diterapkan pula pada pasar saham dan pasar jenis lainnya, termasuk emas.

Relasi seperti ini sudah terjadi, setidaknya antara Desember 2016 dan Desember 2017 silam. Pada 16 Desember 2016 indeks dolar mencapai kisaran 103,829, setelah melaju dari kisaran 71,211 pada 17 Maret 2008. Ini adalah capaian yang luar bisa bagi dolar, setelah melalui krisis ekonomi global kala itu.

Nilai 103,829 adalah resisten yang amat kuat yang sulit ditembus (termasuk ketika menguat pada medio Maret 2020), hingga akhirnya rontok di 88,727 pada 14 Februari 2018.

Apa yang terjadi pada Bitcoin kala itu adalah ledakan harga, menjulang dari kisaran US$708,50 per BTC menjelang akhir 2016, lalu memuncak di 20.000 per BTC pada 17 Desember 2017. Pada tanggal itu indeks dolar berada di kisaran 94, menjelang dolar AS menemui support level, yakni 88,601 pada 16 Februari 2018, lalu menguat.

Dan faktanya sejak awal tahun 2018 itu harga pasar kripto dan Bitcoin memanglah rontok karena green back sedang mengambil alih. Pada 15 Desember 2018 saja harga Bitcoin menemui kisaran US$3.288.

Baca Juga: Bitcoin Cenderung Sideways, Market Kripto Masuk Altseason?

Kebijakan The Fed Tentukan Harga Bitcoin

Nah, sejauh ini Anda bisa menemukan pola dari relasi Bitcoin dan dolar AS ini, dalam konteks narasi Bitcoin adalah “a new gold in a digital form“: langka, berseberangan dengan dolar AS sebagai akibat dari kebijakan The Fed.

Kedua, pasokan dan dinamika nilai dolar. Melemahnya dolar berpangkal dari banyaknya jumlah pasokan mata uang itu di dalam ekonomi. Ekonomi pasar bebas mengambil alih kendalinya, bahwa dolar yang banyak itu harus dialihkan ke aset yang lebih menguntungkan.

Perhatikan bahwa tahun 2008 masa di mana bank sentral AS menggelontorkan banyak dolar ke pasar demi menyelamatkan ekonomi. Itulah alasan lahirnya Bitcoin dari tangan Satoshi Nakamoto.

Jadilah pasokan dolar yang tak terkendali, menjurus kepada inflasi yang besar-besaran, ditambah datangnya pandemi pada Maret 2020, dolar rontok dan Bitcoin mulai dilirik lagi. Pandemi itu juga yang memaksa AS menggelontorkan dolar lagi ke ekonomi dengan menambah aset ke neraca keuangannya.

Hingga Desember 2021 The Fed sebenarnya sudah tidak bisa lagi menahan untuk mengendalikan situasi. Pasalnya inflasi di AS sudah mencapai lebih dari 7 persen secara year-on-year. Itu yang tertinggi sejak tahun 1982 di periode serupa. Parah! Para ahli pun menyudutkan The Fed, bahwa lembaga moneter raksasa itu sangat terlambat untuk mengatasinya, terlena dengan kebijakan pelonggarakan kuantitatif dan suku bunga acuan hampir nol persen.

Nah, tindakan The Fed apa? Seperti biasa yakni menarik dolar AS itu dari ekonomi dengan cara menjual aset keluar dari neraca keuangannya serta meningkatkan suku bunga acuan. Nah, karena pasokan dolar jauh lebih langka daripada sebelumnya, maka nilai dolar terdongkrak naik.

Ilustrasi Bitcoin.
Ilustrasi Bitcoin.

Pada November 2021 misalnya, indeks dolar masuk wilayah 93,985 melampaui resisten Maret 2020, yakni 93. Dan pada 8 April 2022 naik terus hingga di kisaran 100, mencoba membidik penguatan 20 Maret 2020, yakni 103.

Ingat, bahwa pada Januari 2021, walaupun indeks dolar masuk di wilayah support 90 dan mencoba menaik ke atas, Bitcoin malah ikut serta. Dalam hal ini belum ada sinyal dari kuat The Fed untuk mengantisipasi keadaan ekonomi dan dolar masih membanjiri pasar.

Lantas pada harapan pasar kripto di situasi yang belum terjadi sebelumnya seperti ini? Bahwa jika dolar terus menguat dan pasar kripto rontok, di titik mana ia akan berbalik arah?

Catatan awal untuk menjawab ini adalah dikembalikan lagi apakah kebijakan The Fed dalam relasi dengan harga Bitcoin ini, apakah akan sukses mengendalikan inflasi atau sebaliknya? Pasalnya, jikalau terlalu lambat ataupun agresif untuk menaikkan suku bunga misalnya, justru yang terjadi ada resesi gila-gilaan.

Ingatlah, dampak pandemi saja belum usai, ditambahkan parah oleh aksi militer Rusia ke Ukraina. Ini berdampak buruk pada naiknya harga energi di negara-negara barat. Inflasi parah! The Fed sejatinya dalam posisi dilematis dan terus terpojok.

Sejauh ini, sejumlah pengamat memperkirakan The Fed akan lebih agresif lagi untuk menaikkan suku bunga acuan dibandingkan di awal yang dimulai pada Maret 2022 lalu.

Jajak pendapat Reuters, 4-8 April 2022 lalu mengungkapkan, bahwa lebih dari 100 ekonom memperkirakan dua kenaikan setengah poin suku bunga tahun ini. Ini adalah langkah pertama sejak 1994 menjadi 1,25 persen-1,50 persen. Ini bisa terjadi pada Juni 2022.

Dari jajak pendapat yang sama, 85 dari 102 ekonom memperkirakan kenaikan sebesar 50 basis poin pada Mei 2022, dan mayoritas 56 yang masih solid mengatakan The Fed akan menindaklanjuti dengan 50 basis poin juga pada Juni. Singkat kata kebijakan ini sangat monumental dari sisi sejarah dalam konteks dan kondisi berbeda.

Arus Keluar Bitcoin Besar-besaran dalam 7 Hari dari Bursa, Sinyal Mega Bullish?
Ilustrasi aset kripto, Bitcoin.

Dari fakta itulah, para ekonom yakin jika kenaikan suku bunga sebesar itu benar-benar terjadi demi mengatasi inflasi yang tak terkendali, maka kemungkinan akan terjadi resesi, karena komponen pasar dipaksa untuk menghemat pengeluaran dalam investasi alias tidak ada ekspansi.

Potensi itu pun ditegaskan oleh Bank of America beberapa hari yang lalu. Bagi mereka, jika resesi terjadi, maka pasar valas, obligasi termasuk Bitcoin menjadi lirikan sejumlah besar pihak. Saham diperkirakan akan rontok besar. Artinya, arus modal keluar dari pasar saham dan akan masuk ke pasar kripto, karena The Fed gagal.

Hal senada disampaikan pula oleh Mohamed El-Erian Ekonom di Allianz beberapa hari lalu. Menurutnya kebijakan menaikkan suku bunga secara agresif kemungkinan akan menjadi kesalahan kebijakan yang lebih besar daripada salah menilai inflasi. The Fed berisiko mendorong ekonomi ke dalam resesi.

Baca Juga: Terungkap! Ini Bukti Konflik Kepentingan Mantan Pejabat SEC Terkait Ripple Labs

Ini Titik Terpentingnya Agar Bitcoin Bangkit

Benang merah inilah yang diuntai oleh pendukung pasar kripto, setidaknya oleh Mike Novogratz Pendiri Galaxy Digital. Asal tahu saja, perusahaan ini banyak menjalin kerjasama dengan sejumlah perusahaan investasi papan atas dalam menciptakan sejumlah produk investasi bernilai kripto.

Novogratz bilang begini, seperti yang dikutip dari Kitco: “Meskipun pasar bersiap untuk kebijakan The Fed yang agresif di paruh pertama tahun ini, bank sentral AS kemungkinan harus berhenti sejenak setelah ekonomi AS justru melambat. Inilah saatnya bagi Bitcoin menguat.” Kalimat itu ia gaungkan di acara konferensi akbar Bitcoin 2022 di Miami.

Mudah ditafsirkan, bahwa Novogratz justru sangat mengharapkan kenaikan suku bunga 50 basis poin itu terjadi pada tahun ini, karena ia percaya itu justru membawa dampak buruk pada ekonomi, yakni resesi. Tafsiran seperti ini cukup tercerminkan dari menguat tipisnya harga Bitcoin selama 3 pekan terakhir.

TradingView Chart

Situasi ini yang mungkin akan membuat The Fed banting setir, enggan melanjutkan kebijakannya menaikkan suku bunga dan berlanjut pada pelonggaran kuantitatif lagi alias menambah dolar AS ke pasar.

Hal ini selaras dengan anjuran El-Erian, bahwa The Fed jangan terpaku pada pasar keuangan yang membuatnya bertindak sangat agresif. Ia menyarankan The Fed untuk memulihkan sektor rill. Nah, secara teoritis ini adalah arah pelonggaran kuantitatif itu dan akan mengarahkan pasar masuk ke pasar kripto. Ini semakin menegaskan relasi antara kebijakan The Fed dan harga Bitcoin.

Namun jika skenarionya adalah kebijakan agresif sepanjang tahun ini, maka dampak positif seperti yang diharapkan The Fed, setidaknya baru bisa dirasakan pada tahun 2023. Ini adalah pola historisnya. Jika ini terjadi, maka dolar akan semakin menguat, melemahkan pasar saham dan kripto. Pun jika terjadi sebaliknya, maka skenario yang di pikiran Novogratz adalah yang terjadi: Bitcoin menuju ke utara.

Jadi, kita masih menantikan di awal Mei dan Juni 2022 ketika hasil rapat para petinggi The Fed diumumkan apakah sangat agresif sehingga berdampak negatif terhadap harga Bitcoin. Di antara hari-hari itu, kita hanya bisa menanti dan memantau. 

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Walikota Ini Masih Bela Bitcoin: BTC Harus Jadi Keseharian Kita

Francis Suarez, walikota Miami, Florida, mengungkap program “Visi Bagi Bitcoin Amerika 2024.” Ia menekankan AS harus memilih presiden pro-Bitcoin dan mengintegrasikan Bitcoin (BTC) ke dalam setiap aspek masyarakat serta memanfaatkan daya makro Bitcoin.

Suarez menyampaikan hal tersebut pada acara konferensi Bitcoin 2022 yang berlangsung di Miami pekan ini. Walikota pro-Bitcoin tersebut telah menjalankan sejumlah gerakan Bitcoin baik di tingkat kota maupun tingkat negara bagian Florida.

Stadion bola basket Miami Heat Arena diubah menjadi FTX Arena, setelah Komisi Miami-Dade County, Florida, menyetujui niatan bursa aset kripto FTX.com untuk mengubah nama arena itu.

Baca juga: Shiba Inu (SHIB) Tak Masuk Laman Acuan Harga Kripto di Raksasa CME Group Ini

Upah walikota sudah dibayar dalam BTC dan pegawai negeri sipil dapat memilih untuk diupah dalam aset kripto tersebut. Gaji tahunan walikota Miami adalah US$187.500 yang saat ini setara dengan sekitar 4 BTC.

“Saya perlu menyampaikan visi bagi negara ini. Visi ini simpel dan saya sebut Visi Bitcoin Amerika 2024,” jelas Suarez. Berikut adalah tiga poin visi tersebut, dilansir dari News.Bitcoin.com.

Pertama, Amerika harus memilih presiden dan petinggi negara yang pro-Bitcoin. Pasalnya, legislasi federal dapat mendorong AS maju di generasi berikutnya atau mundur ke belakang.

Kedua, Suarez menghimbau agar tahun ini Bitcoin perlu menjadi keseharian setiap lapisan masyarakat. Ia memberikan contoh, seseorang harus dapat memasuki toko dan membeli makanan ringan memakai satoshi.

Ketiga, hal terakhir yang dibutuhkan adalah memanfaatkan daya makro Bitcoin. Bitcoin memiliki kekuatan untuk mendemokrasikan dan menciptakan kekayaan bagi warga yang tidak memilik akses terhadap sistem keuangan.

“Terutama bagi warga miskin yang menjadi korban inflasi serta pembelanjaan negara yang mulai menjadi liar,” tambah Suarez.

Baca juga: Mengenal Aset Kripto Decred (DCR) dan Frax Share (FXS)

Walikota pro-Bitcoin itu menegaskan Bitcoin membantu masyarakat untuk mentransfer uang ke luar sistem perbankan secara efisien dan cepat. Hal ini memberikan kebebasan bagi warga yang berada di negara rezim sosialis dan komunis.

“Masyarakat dapat membelanjakan uang dengan bebas di negara sendiri dan membeli barang kebutuhan tanpa harus khawatir uang yang mereka pakai dikendalikan pemerintah yang mengawasi setiap keputusan mereka,” kata Suarez.

Walikota tersebut ingin menciptakan dunia yang memiliki kesejahteraan dan kedamaian. Bitcoin telah menjadi faktor yang mendukung hal tersebut di seluruh dunia.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Tokocrypto dan FEB UGM Kolaborasi Dirikan BlockSpace

Tokocrypto bersama dengan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) meluncurkan BlockSpace. Fasilitas ini untuk mempelajari lebih jauh penggunaan teknologi dan ekosistem blockchain, diharapkan bisa melahirkan inovasi dan meningkatkan literasi masyarakat di lingkungan kampus dan publik luas.

BlockSpace merupakan innovation center kedua yang didirikan oleh Tokocrypto berkolaborasi dengan perguruan tinggi. Sebelumnya, bersama Telkom University mendirikan Pojok Kripto sebagai upaya memberikan kontribusi positif untuk Indonesia melalui pemanfaatan teknologi blockchain. 

Teguh Kurniawan Harmanda, Chief Operating Officer (COO) Tokocrypto, mengatakan salah satu tujuan utama dengan adanya innovation center ini, Tokocrypto ingin mendorong generasi muda untuk #SiapLebih pintar mengenal dan berinovasi teknologi blockchain yang memiliki dampak dan memberikan solusi bagi kebutuhan masyarakat.

“Tokocrypto dengan bangga mengumumkan kolaborasi dengan FEB FEB UGM untuk menghadirkan BlockSpace. Tokocrypto menjadi startup pelopor yang mendirikan pusat inovasi untuk riset dan pengembangan ekosistem blockchain bagi dosen dan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa. Tantangan bagi kami saat ini adalah bagaimana mencari talenta terbaik di bidang blockchain yang dapat berkontribusi untuk Indonesia,” kata Manda.

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda. Foto: Tokocrypto.
Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda. Foto: Tokocrypto.

Baca juga: Alasan Indonesia Jadi Negara Pengadopsi Kripto Tertinggi di Dunia

Tokocrypto Dorong Riset Blockchain

Lahirnya pusat inovasi ini merupakan bentuk komitmen Tokocrypto melalui inisiatif TokoScholar untuk mengenalkan ekosistem blockchain kepada masyarakat luas. Terlebih blockchain memiliki banyak kegunaan dan keunggulan dari sisi keamanan, transparan dan kecepatan transaksi. Di masa depan, blockchain bisa memainkan peran penting di sektor pemerintahan, pendidikan, kesehatan, ekonomi dan akan menciptakan potensi yang besar.

Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA, memberikan apresiasi atas dibukanya BlockSpace di lingkungan kampus FEB UGM. 

“Kami menyambut baik dukungan yang diberikan Tokocrypto dengan mendirikan BlockSpace dalam rangka membantu meningkatkan literasi dan menstimulus riset terkait teknologi dan ekosistem blockchain. Dengan kerja sama ini, juga bisa diharapkan menjadi salah satu jalan mempersiapkan generasi muda FEB UGM yang memiliki kemampuan dan kompetensi untuk pengelolaan teknologi digital, khususnya blockchain,” tutur Didi.

Tokocrypto kolaborasi dengan FEB UGM bangun BlockSpace, tempat belajar ekosistem blockchain.
Tokocrypto kolaborasi dengan FEB UGM bangun BlockSpace, tempat belajar ekosistem blockchain.

Baca juga: Pajak Kripto Perlu Pembahasan Mendalam dan Untungkan Semua Pihak

Belajar Blockchain di BlockSpace FEB UGM

BlockSpace yang berlokasi di FEB UGM menjadi ruang bagi para dosen dan mahasiswa untuk dapat belajar dan mengambil kelas khusus untuk memahami teknologi blockchain, NFT, DeFi, GameFi dan lainnya. Adapun edukasi terkait investasi aset digital, peluang, tantangan serta mitigasi risiko.

Tokocrypto juga akan mendukung penuh segala bentuk penelitian berkaitan dengan blockchain untuk dosen dan mahasiswa FEB UGM. Hal ini diharapkan dapat memperdalam dan memperluas penetrasi teknologi blockchain ke seluruh penjuru Indonesia.

Riset PwC mengungkap teknologi blockchain dapat meningkatkan ekonomi global US$ 1,76 triliun pada tahun 2030. Sektor administrasi publik, pendidikan, dan kesehatan akan paling diuntungkan. Sementara, Kementerian Perdagangan RI mencatat teknologi 5G, Internet of Things (IoT), blockchain, kecerdasan buatan, dan cloud computing bisa mendorong ekonomi digital Indonesia menjadi Rp 4.531 triliun pada 2030.

Baca juga: Bitcoin Cenderung Sideways, Market Kripto Masuk Altseason?



Sumber : news.tokocrypto.com

Bitcoin akan Diterima di McDonalds dan Walmart

Langkah adopsi Bitcoin tampak akan kian semakin luas berkat dompet Lightning Network, Strike, yang telah bermitra dengan Shopify, NCR dan Blackhawk Network.

Jack Mallers, sosok di balik wallet Strike, mengatakan bahwa semua situs yang menggunakan transaksi kartu online Shopify, akan bisa memproses pembayaran menggunakan Bitcoin melalui Lightning Network.

Tentu saja, ini adalah dasar adopsi yang lebih luas bagi crypto utama, yang akan mengakar pada fundamental yang lebih kuat.

Mallers pun mengatakan:

“Setiap pedagang online yang menggunakan Shopify dapat menerima pembayaran tanpa jaringan boomer 1949, menerimanya secara instan, pembayaran tunai, tanpa perantara, tanpa biaya 3%.”

Selain itu, ada sajian yang mengungkapkan bahwa Bitcoin juga akan merambah perusahaan ritel besar seperti Walmart, McDonalds dan Best Buy.

Baca juga: Bitcoin Cenderung Sideways, Market Kripto Masuk Altseason?

Dan juga, NCR dan Blackhawk juga melayani Starbucks, Staples dan masih banyak lagi ritel besar di AS.

Meski secara rinci belum ada penjelasan mengenai bagaimana dan kapan Bitcoin akan hadir sebagai opsi pembayaran di perusahaan ritel tersebut, tetapi Mallers mengatakan bahwa sudah ada lebih dari 40.000 bisnis yang siap menerima BTC melalui Lightning Network.

Memang, mengadopsi jaringan layer-2 Lightning Network akan lebih baik lagi untuk menggunakan Bitcoin sebagai opsi pembayaran.

Mengapa? Itu karena jaringan ini mampu mempercepat proses transaksi sekaligus menekan biaya gas.

Ini mampu mendukung upaya Bitcoin untuk menjadi mata uang digital, sehingga tidak ada lagi keluhan terkait biaya dan kecepatan, meski sebenarnya BTC sendiri sudah jauh lebih cepat dibandingkan pengiriman uang tradisional, terlebih jika untuk pengiriman lintas negara.

Baca juga: Michael Saylor dan Cathie Wood: Bitcoin akan Mencapai $1 Juta

Mallers meyakini pula bahwa Lightning Network bisa menjadi solusi pembayaran sehari-hari, yang telah mendapatkan dukungan kuat dari pemuja Bitcoin, Jack Dorsey, CEO dari Twitter dan Block.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Mike Novogratz Prediksi Bitcoin Bernilai $500,000

Mike Novogratz sekali lagi menegaskan dukungannya atas prediksi masa depan senilai $500.000 untuk Bitcoin

CEO Galaxy Digital yang baru-baru ini menghadiri konferensi Bitcoin 2022 di Miami tersebut bahkan memberikan prediksinya disana, namun tentu saja ini bukan pertama kalinya ia mengungkapkan itu.

Mike Novogratz Yakin BTC Bernilai $500,000

Mike Novogratz telah menempatkan prediksi Bitcoin senilai $500.000 dalam setengah dekade. Di tahun 2022 ini, miliarder tersebut akhirnya berbagi pemikiran di balik prediksi itu. 

“Menurutnya, salah satunya faktor yang akan secara konsisten mendorong harga Bitcoin di masa depan adalah permasalahan ekonomi dan tingkat inflasi yang terus meningkat.

Seperti yang kebanyakan orang tahu, Federal Reserve telah bekerja tanpa henti untuk meningkatkan suku bunga dan hal-hal lain, tetapi miliarder itu mencatat bahwa begitu The Fed mulai mengambil jeda dari semua ini, maka aset digital akan melanjutkan pergerakannya ke atas.

Baca Juga: TokoMall Bakal Hadir di Indo NFT Festiverse, Festival NFT Terbesar di Indonesia

Inilah yang diharapkan Novogratz akan mendorong harga Bitcoin setinggi prediksi $500.000-nya.

Pergerakan Harga Bitcoin

Meski target tersebut masih jauh dari harga Bitcoin saat ini yang masih diperdagangkan pada rentan $43.000, sang CEO bahkan tidak menghentikan angannya pada $500.000 aja.

Pendukung dan maksimalis Bitcoin juga menjelaskan bahwa ia mengharapkan mata uang crypto raksasa tersebut pada akhirnya mencapai 1 juta Dollar.

Baca Juga: Shiba Inu Masuk Daftar Listing Operator ATM Bitcoin of America

Sementara itu, meski terobsesi pada Bitcoin, nyatanya aset tersebut bukan satu-satunya hal yang menjadi perhatian Novogratz selama konferensi Miami. 

Ia juga menyinggung Dollar Amerika Serikat dan mengutarakan harapan bahwa mata uang fiat itu akan terus menguat dengan pengelolaan yang baik dari ekonom negara setempat.

“Saya terus berdia dan mengharapkan para pengelola ekonomi AS tidak mengacaukannya.”

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

25% Milenial Berinvestasi di Crypto untuk Mendanai Masa Depannya

Generasi milenial tampaknya telah lebih melek soal kehidupan di hari tua, ataupun masa depan mereka, dengan berinvestasi jangka panjang, di antaranya adalah di aset kripto.

Investopedia telah melakukan sebuah survei yang melibatkan beberapa generasi, yakni Gen Z, Milenial, Gen X dan Boomer.

Menariknya, ada perubahaan sudut pandang yang drastis untuk menangani masa pensiun dari para generasi muda.

Survei yang disebut “ Literasi Keuangan Investopedia 2022” itu melibatkan 4.000 orang sebagai peserta, dengan masing-masing generasi adalah 1.000 orang.

Pertanyaan-pertanyaan dalam survei tersebut meliputi pengetahuan keuangan, kebiasaan, hal-hal yang membuat mereka khawatir dan rencana pensiun.

Yang menarik perhatian adalah, generasi muda rupayanya berpegang pada aset berisiko untuk mendanai masa tua mereka kelak.

Baca jugaMicroStrategy Kembali Memborong Bitcoin Sebanyak 4.197 Koin, Harga BTC Malah Turun

Dalam satu survei, didapatkan informasi bahwa 38% milenial memiliki kemungkinan yang sama untuk diinvestasikan dalam mata uang cryto seperti halnya di pasar saham.

25 persen dari itu mengatakan bahwa mereka mengandalkan crypto untuk membantu mendanai rencana pensiun mereka.

Dan bagi generasi muda, sumber informasi terkait keuangan, justru banyak didapatkan dari Youtube dan TikTok, yang sebenarnya adalah aplikasi hiburan dan tayangan.

Para generasi muda ini pun menyadari bahwa skor kredit adalah sangat penting, sehingga ini adalah fakta baru yang menarik karena di masa lalu, jumlah untuk pemaham skor kredit masihlah rendah.

Caleb Silver, Pemimpin Redaksi Investopedia mengatakan bahwa, hubungan generasi muda dan di atasnya dengan uang, investasi dan perencanaan keuangan telah berubah drastis hanya dalam beberapa tahun ke belakang ini.

Kelas aset baru seperti crypto dan NFT juga telah muncul tepat ketika jutaan orang mengambil langkah pertama mereka untuk berinvestasi.

Baca juga: Harga Coin WAVES Anjlok 18% Adanya Isu Manipulasi Market

Baginya, perubahan ini memerlukan pendekatan yang uptodate untuk pendidikan keuangan, serta segala tentang produk dan layanan keuangan baru yang bisa dipahami semua orang di berbagai lingkup usia, karena crypto benar-benar sedang berkembang.

Caleb pun merasa bertanggungjawab untuk  urusan literasi ini karena Investopedia memang ada untuk mendidik siapa saja yang tertarik dengan kelas aset investasi, termasuk crypto.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com