Tag Archives: volatilitas bitcoin

Pengamat: Bitcoin Bisa Kembali Sentuh $20,000 Awal Tahun Depan

Sejumlah pengamat aset kripto sepakat, bahwa penguatan hebat Bitcoin selama beberapa pekan terakhir akan diikuti oleh penguatan lebih hebat di masa mendatang. Pengamat lain malah meramalkan Bitcoin bisa kembali sentuh US$20 ribu pada tahun ini atau awal tahun 2021.

“Pada dasarnya, Bitcoin saat ini jauh lebih kuat daripada tiga tahun lalu, karena sejumlah faktor. Misalnya halving , peningkatan adopsi institusi, penggunaan dalam transaksi barang dan jasa, termasuk perusahaan publik AS yang berinvestasi di Bitcoin, kemudian PayPal yang menyediakan layanan jual-beli aset kripto,”kata Nicholas Pelecanos dari NEM, dilansir dari Forbes, 7 November 2020.

Kata Pelecanos lagi, secara historis, Bitcoin berkinerja sangat baik pada akhir dan awal tahun. Jadi, dia tidak akan terkejut jika Bitcoin bisa harga tertinggi sepanjang massa, [yakni US$20 ribu] pada tahun ini atau di awal 2021.

Pengamat lain, yakni Glen Goodman, menyoroti data terbaru dari Google Trends yang mencerminkan minat pencarian terhadap Bitcoin yang sedang melonjak, dibandingkan jauh beberapa pekan yang lalu.

Dalam rentang 90 hari yang terakhir secara global, sejak 8 Agustus 2020 hingga 17 Oktober 2020, tren minat cenderung menurun, dari skor 74 menjadi 45. Namun, setelah medio Oktober 2020 itu, minat naik drastis, menjadi 100, sebagai skor tertinggi pada data Google Trends.

Bagi Goodman, data itu mencerminkan arus minat pengguna Bitcoin dari kalangan retail. Bahkan ia mengakui itu sangat bagus bagi pasar Bitcoin, daripada lebih banyak dari kalangan institusi atau arus utama.

“Orang yang terlambat datang ini adalah ‘tangan lemah’ yang cenderung panik dan menjual saat tanda bahaya pertama. Ini adalah fenomena yang sama yang kita lihat di semua pasar aset, bukan hanya aset kripto. Perkembangan Bitcoin dan aset kripto lain yang lambat dan stabil justru akan menghasilkan kenaikan harga yang lebih berkelanjutan,” pungkasnya.

Baca Juga: Tokocrypto Resmi Luncurkan Aplikasi Perdagangan Aset Kripto

Sebelumnya, nada prediksi serupa datang dari Mike McGlone, Analis di Bloomberg Intelligence pada 5 November 2020 lalu, melalui satu kajian khusus dan mendalam.

Ia memrediksi bahwa harga Bitcoin bisa mencapai lebih dari US$35 ribu per BTC pada tahun 2021, berbanding harga 3 November 2020, US$13.700 per BTC.

“Pasokan tahunan Bitcoin akan turun menjadi kurang dari 2 persen pada tahun depan. Jika Bitcoin Halving sebelumnya berfungsi sebagai penunjuk arah, maka pada tahun 2021 akan menjadi tahun naik yang kuat. Jika Bitcoin naik hanya seperempat dari sekitar 1.375 persen pada tahun 2017, tahun setelah pasokan harian Bitcoin baru turun menjadi 1.800 BTC, maka harga Bitcoin akan melebihi US$35.000 pada tahun 2021 berbanding sekitar US$13.700 per BTC pada 3 November 2020,” tegas McGlone, 4 November 2020.

Volatilitas Rendah Berdampak Positif
McGlone juga menyoroti pengaruh volatilitas Bitcoin yang rendah terhadap apresiasi harga Bitcoin yang tinggi.

bitcoin kembali sentuh $20,000
Tingkat volatilitas harga Bitcoin yang semakin rendah, sejak tahun 2010. Sumber: Bitinfocharts.com.

Volatilitas Bitcoin yang menurun yang berbanding terbalik dengan aset lain menunjukkan bahwa Bitcoin semakin unggul dan lebih cenderung terapresiasi jika pola masa lalu adalah panduannya. Grafik kami menggambarkan volatilitas Bitcoin 180 hari turun mendekati titik terdalam 2015, di sekitar 36 persen. Dan untuk pertama kalinya jatuh di bawah Indeks Saham Nasdaq 100. Dari Oktober 2015, ketika volatilitas mencapai titik terendah 2017, Bitcoin meningkat sekitar 8.000 persen,” tulis McGlone menyiratkan penguatan harga Bitcoin yang terus menerus.



Sumber : news.tokocrypto.com

Tembus Rp 1,94 M, Harga Bitcoin Diramal Masih Bisa Menguat


Jakarta

Bitcoin (BTC) kembali menembus level US$ 117.000 atau sekitar Rp 1,94 miliar (asumsi kurs Rp 16.626) usai The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Penguatan harga ini juga didorong arus dana institusional yang masuk melalui ETF.

Pada perdagangan hari ini, Jumat (19/9), BTC berada di harga US$ 117.182. Harga BTC juga masih berpeluang menembus level psikologis di angka US$ 120.000 atau sekitar Rp 1,99 miliar jika level support berada di posisi US$ 117.000.

“Investasi kripto, terutama Bitcoin, saat ini tidak hanya bergantung pada sentimen ritel, tetapi sudah masuk ke dalam kerangka investasi institusi global. Arus masuk ETF menjadi bukti nyata bahwa aset digital semakin diterima sebagai instrumen keuangan utama,” ujar Vice President Indodax Antony Kusuma dalam keterangan tertulis, Jumat (19/9/2025).


Antony menilai, level psikologis harga BTC US$ 120.000 merupakan tonggak penting. Pasalnya, harga tersebut tidak hanya meningkatkan kepercayaan investor, melainkan juga berpotensi masuknya likuiditas baru dari institusi.

Sementara dari sisi ritel, Antony menyebut mayoritas investor masih menunjukkan sikap hati-hati. Berdasarkan data on-chain, terjadi penurunan pada New Address Momentum atau menurunnya alamat baru yang masuk ke pasar.

“Kehati-hatian ritel ini wajar, karena volatilitas Bitcoin memang tinggi. Namun, di sisi lain, aksi dari institusi justru menjadi fondasi utama reli kali ini,” jelasnya.

Namun begitu, Antony menilai arah jangka panjang Bitcoin tetap positif, khususnya di tengah perubahan kebijakan moneter global menyusul pemangkasan suku bunga yang berpeluang menambah likuiditas pasar. Menurutnya, momentum ini selalu menjadi katalis bagi pasar kripto.

Arus masuk ke ETF Bitcoin sepanjang pekan ini mencatat tren positif, meskipun sempat melambat saat keputusan FOMC belum diumumkan. Data ini memperkuat pandangan bahwa investor besar tidak terpengaruh gejolak jangka pendek, berbeda dengan investor ritel.

“Institusi berinvestasi dengan visi jangka panjang. Sementara ritel masih sering terjebak dalam pola fear and greed. Perbedaan perilaku ini yang membuat tren harga saat ini lebih stabil,” terangnya.

Ia menambahkan, fenomena ini juga menjadi pelajaran penting bagi investor kripto domestik untuk menyiapkan strategi akumulasi jangka panjang. Pasalnya jika tren arus masuk institusional terus berlanjut, pasar berpotensi melihat kapitalisasi BTC mendekati level tertinggi baru.

Indodax mencatat minat pengguna lokal tetap tinggi disusul peningkatan jumlah investor perseroan yang tumbuh hingga 9 juta lebih. Meskipun sebagian investor ritel masih menunggu konfirmasi tren, Antony menyebut aktivitas transaksi di Indodax tetap stabil.

“Pasar akan terus memantau langkah The Fed berikutnya. Jika siklus pemangkasan suku bunga berlanjut, maka ruang pertumbuhan Bitcoin semakin terbuka,” tegasnya.

“Investor Indonesia harus memahami bahwa volatilitas adalah bagian dari perjalanan Bitcoin. Dengan pemahaman yang benar, risiko bisa dikelola dan peluang bisa dimaksimalkan,” pungkasnya.

(acd/acd)



Sumber : finance.detik.com