Category Archives: Tokocrypto

Alibaba Sokong Dana bagi Startup Blockchain

QEDIT, sebuah startup pengembang teknologi blockchain, belum lama ini mendapatkan sokongan dana investasi dari Ant Financial, anak perusahaan Alibaba Group yang bergerak di bidang keuangan. about Tak hanya Ant Financial yang menyokong QEDIT, perusahan lainnya ikut serta, yakni WMWare dan RGAX, anak perusahaan Reinsurance Group, Amerika Serikat dan Meron Capital.

“Ant Financial memiliki visi serupa dengan QEDIT untuk melindungi privasi data, terlebih-lebih untuk sektor keuangan sangat penting memiliki ukuran baru. Bersama QEDIT, Ant Financial akan menyediakan kemampuan seperti itu, sebagai bagian dari layanan blockchain kami,” kata Geoff Jiang, Wakil Presiden Ant Financial kepada Coindesk.

Bukanlah rahasia umum bahwa Alibaba menggenjot penelitian, pengembangan dan investasi besar-besaran di bidang teknologi keuangan. Mereka paham betul perihal potensinya untuk membawa efisiensi bisnis di tingkat yang lebih tinggi.

BERITA TERKAIT Lacak Produk, Nestle dan Carrefour Pakai Teknologi Blockchain

Alibaba, perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma kini sudah mengantongi 90 paten teknologi blockchain. Alibaba menempati peringkat pertama dunia di antara perusahaan dan organisasi yang lain, berdasarkan riset iPR Daily, 4 September 2018. Jikalau dengan hitungan “matematika polos” terhitung sejak ditemukannya teknologi blockchain oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2008, maka Alibaba mematenkan karyanya satu setiap tahun.



Sumber : news.tokocrypto.com

eFishery Bangun Koperasi Digital Berbasis Blockchain, Apa Itu?

Startup akuakultur, eFishery mengumumkan pendirian koperasi digital berbasis teknologi blockchain untuk pengembangan sektor perikanan di Indonesia. Entitas yang dinamakan Koperasi Multipihak Tumbuh Bersama Pembudidaya ini diumumkan dalam perayaan 10 tahun berdirinya eFishery di Bandung, Rabu (11/10).

Dilaporkan Tempo, Co-founder & CEO eFishery, Gibran Huzaifah, menjelaskan koperasi digital tersebut menggabungkan seluruh komponen dalam ekosistem yang dibangun eFishery. “Kita membentuk koperasi multipihak yang para pembudidaya, agen pakan, buyer, suplier itu bisa tergabung di koperasi dan transaksinya bisa terwujud di koperasi ini,” jelasnya.

“Yang menarik dari koperasi ini basisnya digital dan blockchain. Jadi karena transaksi ini bisa menghubungkan keseluruhan datanya dan akhirnya bisa punya insentif yang lebih banyak supaya semua pemainnya ini bisa makin sejahtera. Jadi kolaborasi ini yang jadi semangat koperasi ini.”

Dorong Pertumbuhan

Gibran mengklaim koperasi yang dibentuk eFishery tersebut menjadi koperasi multipihak pertama di Indonesia. Koperasi nantinya akan menggunakan data blockhain yang dibangun dan akan terhubung langsung dengan global buyer.

“Ini koperasi multipihak pertama untuk sektor perikanan,” ungkap Gibran.

eFishery bangun koperasi digital berbasis blockchain. Sumber: YouTube eFishery.
eFishery bangun koperasi digital berbasis blockchain. Sumber: YouTube eFishery.

Baca juga: Mastercard Uji CBDC dengan Jaringan Ethereum di Australia

Dilansir DealStreetAsia, Chief Product Officer dan salah satu pendiri eFishery, Chrisna Aditya, menjelaskan dengan adanya koperasi multipihak, 200.000 mitra petani ikan akan memperoleh pakan ikan dan menjual produk mereka dengan mudah menggunakan aplikasi, sehingga mereka dapat lebih fokus pada budidaya.

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, secara langsung menyerahkan sendiri Surat Keputusan Pendirian Badan Hukum Koperasi Multipihak Tumbuh Bersama Pembudidaya pada Gibran mewakili eFishery di acara seremoni 10th Annifishery di Sasana Budaya Ganesha Bandung, Rabu (11/10).

Teten menilai tepat langkah eFishery mendirikan koperasi. “Dari suatu kegiatan ekonomi produksi yang melibatkan banyak pihak itu memang cocok dengan koperasi multipihak sehingga sirkular ekonominya ini untuk memperbesar langsung pihak yang terlibat, dan ini sangat bagus, dan saya kira ini akan sangat men-support ekosistem. Dan ini melibatkan petambak-petambak kecil dan menyebar di berbagai tempat,” katanya.

Adopsi Blockchain untuk Sektor Perikanan

Peresmian koperasi digital milik eFishery hadir tak lama setelah pengumuman bursa ikan berbasis blockchain yang dibangun atas kolaborasi ID FOOD dan D3 Labs. Anak perusahaan ID FOOD, PT Perikanan Indonesia berencana untuk menggunakan platform pelelangan ikan real-time berbasis teknologi blockchain sebagai salah satu langkah penting dalam mendorong digitalisasi perdagangan ikan yang sebelumnya bersifat manual.

Bursa Ikan Berbasis Blockchain Hadir di Indonesia. Sumber: D3 Labs.
Bursa Ikan Berbasis Blockchain Hadir di Indonesia. Sumber: D3 Labs.

Baca juga: Bursa Ikan Berbasis Blockchain Hadir di Indonesia

Program ini dikenal dengan nama Indonesia Fishery eXchange (IFX) dan diharapkan segera beroperasi. Kolaborasi ini menggunakan aplikasi yang dikembangkan oleh D3 Labs untuk menciptakan Indonesia Fishery eXchange (IFX), sebuah platform bursa ikan real-time yang mengadopsi teknologi blockchain sebagai pilar utama dalam proses digitalisasi perdagangan ikan yang selama ini masih mengandalkan sistem manual. Rencananya, platform ini akan segera memulai operasinya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Dengan penggunaan teknologi blockchain, IFX diharapkan akan memberikan sejumlah manfaat signifikan bagi industri perikanan, seperti pemantauan stok ikan yang lebih efisien, proses lelang yang lebih transparan, kemudahan dalam transaksi digital, sistem Know Your Customer (KYC), dan manajemen akun yang cermat untuk mencegah adanya transaksi dari pihak pembeli yang tidak sah. Lebih dari itu, IFX juga akan mengintegrasikan diri dengan pasar penjualan digital di luar negeri.


Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

DISCLAIMER: Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi Anda. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Tokocrypto tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi Anda.



Sumber : news.tokocrypto.com

Mastercard Uji CBDC dengan Jaringan Ethereum di Australia

Mastercard baru-baru ini menyelesaikan uji coba central bank digital currency (CBDC) bekerja sama dengan Reserve Bank of Australia (RBA) dan Digital Finance Cooperative Research Centre (DFCRC). Proyek ini mengeksplorasi kemampuan Mastercard untuk mengaktifkan transaksi CBDC di jaringan blockchain Ethereum publik.

Secara khusus, Mastercard menunjukkan bagaimana teknologinya memungkinkan pemegang CBDC percontohan untuk membeli non-fungible token (NFT) yang terdaftar di blockchain Ethereum publik. Untuk mengaktifkan hal ini, solusi tersebut mengunci jumlah CBDC yang diperlukan pada platform RBA sambil mencetak token yang dibungkus di Ethereum.

Hal ini menunjukkan kemampuan Mastercard untuk mempertahankan kontrol dan kepatuhan yang diperlukan bahkan ketika bertransaksi CBDC di blockchain publik seperti Ethereum. Perusahaan memanfaatkan penawaran Jaringan Multi Token dan Kredensial Kripto yang berfokus pada standar verifikasi dan interoperabilitas yang dapat diskalakan.

“Mastercard telah melihat adanya permintaan dari konsumen untuk berpartisipasi dalam perdagangan di berbagai blockchain, termasuk blockchain publik,” kata Richard Wormald, Presiden Australasia di Mastercard.

Selain Mastercard, proyek ini juga melibatkan perusahaan pembayaran Australia Cuscal dan pasar NFT Mintable.

Membuka Jalan Masa Depan Perbankan di Australia

Ilustrasi perdagangan aset kripto di Australia. Sumber: Shutterstock.
Ilustrasi perdagangan aset kripto di Australia. Sumber: Shutterstock.

Baca juga: Inflasi AS Diumumkan Tetap Tinggi, Ini Reaksi Pasar Kripto dan Bitcoin

Zach Burks , CEO dan pendiri Mintable, peserta program pengembangan Start Path Mastercard mengatakan: “Potensi besar NFT terlihat jelas selama percontohan CBDC progresif ini. Bersama Mastercard, kami telah mengidentifikasi kasus penggunaan di mana mata uang digital dan NFT dapat dengan mudah dihubungkan, sehingga berpotensi menghilangkan penipuan dan pencurian, mengakhiri hilangnya dokumentasi dan catatan, dan membuka kemungkinan baru untuk perdagangan.

“Mintology, cabang B2B Mintable, membuat NFT lebih mudah diakses dan bernilai dengan penggunaan baru yang inovatif. Meskipun mata uang digital masih dalam tahap awal, NFT sudah digunakan untuk media baru, gamifikasi, identitas digital, program loyalitas, tiket, otentikasi, sertifikasi, dan banyak lagi.”

Nathan Churchward , pemimpin domain, pembayaran di Cuscal, menambahkan: “Sangat menyenangkan bisa bermitra lebih jauh dengan Mastercard untuk mendukung masa depan perbankan dan pembayaran di Australia.”

Proyek percontohan CBDC Reserve Bank of Australia (RBA) dengan Digital Finance CRC (DFCRC) mengeksplorasi potensi kasus penggunaan CBDC di Australia. Proyek ini melibatkan RBA yang mengeluarkan CBDC ‘percontohan’ skala terbatas yang merupakan klaim hukum nyata terhadap RBA. CBDC percontohan digunakan oleh peserta industri terpilih untuk menunjukkan bagaimana CBDC dapat digunakan untuk menyediakan layanan pembayaran dan penyelesaian yang inovatif kepada rumah tangga dan bisnis Australia.


Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading jadi lebih mudah.

DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.



Sumber : news.tokocrypto.com

Panduan Token Sekuritas bagi Pemula

Panduan Token Sekuritas bagi Pemula merupakan langkah awal yang penting bagi individu yang ingin memahami dunia investasi dan perdagangan sekuritas digital. Dalam era modern ini, teknologi blockchain telah membuka pintu bagi banyak orang untuk berpartisipasi dalam pasar keuangan secara lebih inklusif. 

Namun, bagi pemula, memahami konsep dasar token sekuritas, cara membeli dan menjualnya, serta potensi risiko yang terkait adalah langkah krusial. Artikel ini akan membantu membimbing Anda melalui konsep-konsep penting dalam token sekuritas dan memberikan wawasan yang diperlukan agar Anda dapat membuat keputusan investasi yang lebih baik di dunia yang terus berkembang ini.

Pengenalan

Sekuritas adalah instrumen keuangan yang memiliki nilai dan dapat diperdagangkan. Namun, definisi ini memiliki variasi yang bergantung pada hukum di berbagai yurisdiksi. Instrumen-instrumen sehari-hari seperti saham, obligasi, dan opsi dapat digolongkan sebagai sekuritas, sesuai dengan kriteria hukum setempat. Ini berarti instrumen tersebut akan tunduk pada pengawasan ketat dari pihak regulator.

Artikel ini akan membahas bagaimana teknologi blockchain siap mengubah lanskap pasar keuangan melalui konsep token sekuritas.

Apa Itu Token Sekuritas?

Token sekuritas, atau security token, adalah bentuk token yang diterbitkan di blockchain dan mewakili kepemilikan dalam perusahaan atau aset tertentu. Penerbitan token dapat dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk perusahaan dan pemerintah, dengan tujuan yang serupa dengan instrumen keuangan tradisional seperti saham atau obligasi.

Manfaat Token Sekuritas

Untuk memahami konsep ini lebih baik, bayangkan jika sebuah perusahaan ingin mengeluarkan saham dalam bentuk token. Token-token ini dapat dirancang dengan hak yang sama seperti saham tradisional, seperti hak suara dalam pengambilan keputusan dan hak atas dividen.

Keuntungan dari pendekatan ini sangat beragam. Seperti halnya kripto dan jenis token lainnya, token sekuritas memanfaatkan sifat unik blockchain dalam penerbitan aset. Beberapa sifat tersebut mencakup transparansi, penyelesaian transaksi yang cepat, tanpa jeda operasional, dan kemampuan untuk dibagi-bagi.

Transparansi

Pada ledger publik blockchain, identitas peserta tetap anonim, namun informasi lainnya tetap dapat diaudit. Semua orang dapat melihat smart contract yang mengatur token dan melacak riwayat penerbitan serta kepemilikan.

Penyelesaian Cepat

Proses kliring dan penyelesaian transaksi sering dianggap sebagai hambatan dalam transfer aset tradisional. Meskipun perdagangan dapat terjadi hampir secara instan, pengalihan kepemilikan bisa memakan waktu lama. Di blockchain, proses ini otomatis dan bisa selesai dalam hitungan menit.

Selalu Aktif

Pasar keuangan tradisional terbatas pada jam kerja tertentu dan liburan. Di sisi lain, pasar aset digital aktif sepanjang waktu, setiap hari sepanjang tahun.

Dapat Dibagi-Bagi

Ketika aset seperti seni atau real estat ditokenisasi, mereka dapat dipecah menjadi bagian-bagian kecil yang dapat diakses oleh investor yang mungkin tidak dapat berinvestasi sebelumnya. Sebagai contoh, sebuah lukisan senilai $5 juta bisa dibagi menjadi 5.000 token senilai US$ 1.000 masing-masing. Hal ini meningkatkan aksesibilitas dan tingkat fleksibilitas investasi.

Namun, penting juga untuk diingat bahwa beberapa token sekuritas dapat memiliki batasan terkait hak suara atau dividen, terutama jika saham ekuitas digunakan sebagai dasar penerbitan token.

Token Sekuritas vs Token Utilitas: Apa Perbedaannya?

Token sekuritas dan token utilitas memiliki banyak kesamaan dalam hal teknis. Keduanya dikelola oleh smart contract, dapat ditransfer ke alamat blockchain, dan diperdagangkan di bursa atau melalui transaksi peer-to-peer.

Namun, perbedaan utama terletak pada aspek ekonomi dan peraturan yang mengatur keduanya. Kedua jenis token ini dapat diterbitkan melalui Initial Coin Offering (ICO) atau Initial Exchange Offering (IEO), yang memungkinkan startup atau proyek untuk mengumpulkan dana untuk pengembangan ekosistem mereka.

Dalam pertukaran dana, pengguna menerima token digital yang memberikan hak keikutsertaan dalam jaringan proyek tersebut, baik dalam waktu dekat maupun di masa depan. Token-token ini dapat memberikan hak suara kepada pemegangnya atau berfungsi sebagai mata uang khusus untuk mengakses produk atau layanan di dalam ekosistem proyek.

Sebaliknya, token utilitas tidak memiliki nilai intrinsik. Jika proyek berkembang dan sukses, pemegang token tidak memiliki klaim atas keuntungan, sebagaimana halnya dengan beberapa sekuritas tradisional. Mereka dapat dianggap seperti poin loyalitas yang dapat digunakan untuk membeli barang atau dijual, tetapi tidak memberikan kepemilikan dalam bisnis yang menerbitkannya.

Sebagai hasilnya, nilai token utilitas sering ditentukan oleh spekulasi. Banyak investor membeli token ini dengan harapan harga akan naik seiring dengan perkembangan ekosistem proyek. Namun, jika proyek gagal, pemegang token memiliki sedikit perlindungan.

Token sekuritas, meskipun diterbitkan melalui proses yang mirip dengan token utilitas, memiliki pendistribusian yang berbeda, yang dikenal sebagai Security Token Offering (STO). Dalam konteks investasi, token sekuritas mewakili instrumen yang sangat berbeda.

Meskipun keduanya ada di blockchain, token sekuritas tetap dianggap sebagai sekuritas, sehingga tunduk pada peraturan yang ketat untuk melindungi investor dan mencegah penipuan. Dalam hal ini, STO lebih mirip dengan Initial Public Offering (IPO) daripada ICO.

Secara umum, saat investor membeli token sekuritas, mereka sebenarnya membeli ekuitas, obligasi, atau derivatif. Token-token ini berfungsi sebagai kontrak investasi yang memberikan hak kepemilikan atas aset off-chain.

Apa yang Membuat Token Disebut Sekuritas?

Saat ini, dunia blockchain masih menghadapi ketidakjelasan hukum yang signifikan. Regulator di berbagai negara terus berusaha mengejar perkembangan teknologi keuangan baru ini. Terdapat kasus-kasus di mana entitas yang menerbitkan token dengan keyakinan bahwa mereka adalah token utilitas kemudian dianggap sebagai sekuritas oleh Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat atau lembaga regulator serupa di negara lain.

Salah satu metrik yang digunakan untuk menilai apakah suatu transaksi cenderung menjadi “kontrak investasi” adalah Howey Test. Test ini mencoba menentukan apakah investor dalam proyek bersama (common enterprise) mengharapkan keuntungan dari upaya promotor atau pihak ketiga.

Howey Test pertama kali diperkenalkan oleh pengadilan Amerika Serikat sebelum era blockchain, sehingga penerapannya pada token baru menjadi kompleks. Meskipun begitu, tes ini tetap menjadi alat yang digunakan oleh regulator untuk mengklasifikasikan aset digital. Tiap yurisdiksi mungkin memiliki pendekatan yang berbeda, namun logika umumnya sama.

Token Sekuritas dan Era Keuangan yang Terprogram

Dengan pertumbuhan pasar saat ini, tokenisasi dapat mengubah secara fundamental ekosistem keuangan tradisional. Investor dan institusi dapat mengambil manfaat besar dari pendekatan sepenuhnya digital terhadap instrumen keuangan.

Selama bertahun-tahun, ekosistem basis data terpusat telah menciptakan banyak hambatan. Institusi-institusi harus menghabiskan sumber daya untuk mengelola proses administratif yang melibatkan data eksternal yang tidak selalu kompatibel dengan sistem internal mereka. Kurangnya standar di seluruh industri menambah biaya bisnis dan memperlambat penyelesaian.

Blockchain adalah basis data bersama yang dapat berinteraksi dengan pengguna dan bisnis. Fungsi-fungsi yang dulunya dikelola oleh server institusi sekarang dapat diintegrasikan dengan ledger yang digunakan oleh industri lainnya. Dengan tokenisasi sekuritas, kita dapat menghubungkannya dengan berbagai sistem, mempercepat penyelesaian transaksi, dan meningkatkan kompatibilitas global.

Dari sini, otomatisasi dapat mengelola proses yang sebelumnya memakan banyak waktu, seperti Know Your Customer (KYC) / Anti-Money Laundering (AML), penahanan investasi untuk jangka waktu tertentu, dan banyak lagi, dengan kode yang berjalan di blockchain.

Penutup

Token sekuritas sepertinya menjadi salah satu hasil logis dari evolusi industri keuangan. Meskipun menggunakan teknologi blockchain, jenis aset ini jauh lebih mirip dengan sekuritas tradisional daripada mata uang kripto atau token lainnya.

Namun, tantangan regulasi masih harus diatasi. Dengan aset yang dapat dengan mudah dipindahkan di seluruh dunia, otoritas harus mencari cara untuk mengatur penerbitan dan peredaran token dengan efektif. Beberapa orang berpendapat bahwa smart contract yang mengkodekan aturan tertentu dapat otomatis mengatasi masalah ini. Proyek-proyek seperti Ravencoin, Liquid, dan Polymath telah berusaha untuk memfasilitasi penerbitan token sekuritas.

Jika token sekuritas makin sukses, operasi lembaga keuangan dapat diubah secara signifikan. Pada akhirnya, penggunaan token berbasis blockchain sebagai pengganti instrumen tradisional dapat menjadi pemicu integrasi antara pasar keuangan konvensional dan dunia kripto.


Jika kamu ingin mengetahui lebih dalam mengenai aset kripto atau cryptocurrency, bisa baca artikel “Belajar Crypto untuk Pemula Mulai Dari Sini.”

Sumber: Binance Academy Indonesia



Sumber : news.tokocrypto.com

Suku Bunga The Fed Bakal Naik Lagi Sebelum 2023 Berakhir, Nasib BTC?

The Fed dilaporkan kembali pertimbangkan kenaikan suku bunga kembali sebelum 2023 berakhir. Hal ini dipicu setelah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengadakan pertemuan pada Rabu (11/10),untuk meninjau angka inflasi karena data PPI AS lebih tinggi dari perkiraan.

Keinginan The Fed ini memberikan sinyal peringatan untuk aset-aset berisiko tinggi, seperti Bitcoin (BTC) dan pasar kripto yang lebih luas bakal berada di bawah tekanan jual lebih lanjut.

FOMC Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga

Sesuai laporan, pejabat Fed sedang mempertimbangkan kenaikan suku bunga satu kali lagi sebelum akhir tahun. Meskipun ada beberapa pendapat yang bertentangan, semua anggota dengan suara bulat sepakat mengenai pentingnya mempertahankan kenaikan suku bunga sampai bukti substansial membuktikan kembalinya inflasi ke tingkat tahunan yang diinginkan sebesar 2%.

Ringkasan pertemuan kebijakan bulan September berbunyi: “Mayoritas peserta menilai bahwa satu kali kenaikan lagi dalam target suku bunga dana federal pada pertemuan mendatang kemungkinan akan tepat, sementara beberapa pihak menilai kemungkinan kenaikan lebih lanjut tidak diperlukan.”

Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.
Ilustrasi Bank Sentral AS, The Fed. Foto: Shutterstock.

Baca juga: Standard Charted Ramal Ethereum Capai Rp 125 Juta pada Tahun 2026

Keputusan pengetatan moneter lebih lanjut dapat memberikan tekanan pada ekuitas dan pasar kripto. Pada hari Kamis (12/10), Departemen Tenaga Kerja AS akan merilis lebih banyak data Indeks Harga Konsumen (CPI) yang akan memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai tindakan The Fed di masa depan.

Pasar kripto yang lebih luas berada di bawah tekanan dengan harga Bitcoin merosot di bawah US$ 27.000. Pada saat berita ini dimuat, Bitcoin diperdagangkan turun 1,07% dengan harga US$ 26.828 dengan kapitalisasi pasar US$ 523 miliar.

Harga Bitcoin Lesu

Dilaporkan Coingape, Santiment, sebuah platform analitik on-chain, menyatakan bahwa meningkatnya jumlah kontrak berjangka dan opsi Bitcoin yang beredar mungkin menjadi faktor dalam kinerja pasar kripto yang relatif lesu di bulan Oktober.

Secara historis, ketika open interest Bitcoin melampaui US$ 7 miliar, hal ini sering kali menandakan tingkat keserakahan investor. Saat ini, tingkat bunga terbuka berada di US$ 6,19 miliar.

Baca juga: Daftar 28 Altcoin yang Lakukan Token Unlock Pekan Ini

Menurut analis kripto yang dikenal sebagai Altcoin Sherpa, kondisi Bitcoin saat ini menyerupai periode yang ditandai dengan volatilitas yang signifikan, tanpa adanya terobosan yang jelas.

Analis tersebut membandingkan dengan tahun 2019, ketika harga Bitcoin menunjukkan fluktuasi, bergerak di atas dan di bawah EMA 200 hari, disertai dengan lonjakan harga yang sporadis. Altcoin Sherpa mengantisipasi bahwa masa-masa menarik akan tiba pada tahun 2024-2025 dan menyarankan untuk bertahan hingga saat itu.

Semua perhatian akan tertuju pada data makro menjelang minggu ini yang dapat memberikan kejelasan lebih baik ke depannya.


Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading kripto jadi lebih mudah.

DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.



Sumber : news.tokocrypto.com

Dominasi Bitcoin Meningkat Lagi, Migrasi dari Altcoin ke BTC Naik!

Dominasi Bitcoin telah meningkat menjadi 51,2%, mendekati level tertinggi dalam dua tahun sebesar 52% yang terlihat pada bulan Juni. Dengan data ini, bagaimana pergerakan harga BTC selanjutnya?

Meskipun Bitcoin turun sedikit setelah ketegangan antara Israel dan Hamas dimulai, BTC berusaha mempertahankan level US$ 27.000.

Sementara BTC berusaha mempertahankan levelnya saat ini, dominasi BTC telah mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Dominasi Bitcoin

Menurut data TradingView, dominasi Bitcoin telah meningkat menjadi 51,2%, mendekati level tertinggi dalam dua tahun sebesar 52% yang terlihat pada bulan Juni.

Mengevaluasi peningkatan dominasi Bitcoin, para ahli mengatakan bahwa peningkatan ini menunjukkan bahwa investor berbondong-bondong beralih ke Bitcoin, aset kripto pertama dan terbesar di dunia, daripada altcoin.

Chart dominasi Bitcoin. Sumber: TradingView.
Chart dominasi Bitcoin. Sumber: TradingView.

Baca juga: Suku Bunga The Fed Bakal Naik Lagi Sebelum 2023 Berakhir, Nasib BTC?

Para ahli sebagian besar mengaitkan peningkatan ini dengan ketidakpastian ekonomi akibat krisis Timur Tengah yang sedang berlangsung dan mengatakan bahwa wajar jika Bitcoin, yang dipandang sebagai tempat berlindung yang aman di pasar kripto, meningkatkan dominasinya, terutama di saat ketidakpastian.

Apa Itu Dominasi Bitcoin?

Dominasi Bitcoin adalah parameter penting dalam dunia cryptocurrency karena mencerminkan seberapa besar peran Bitcoin dalam ekosistem tersebut. Dengan memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang BTC.D, kita dapat melihat bagaimana perilaku investor dan perubahan pasar dapat memengaruhi seluruh ekosistem kripto.

Ketika BTC.D rendah, ini sering menunjukkan bahwa investor lebih tertarik pada altcoin atau mata uang kripto lainnya. Mereka mungkin melihat potensi pertumbuhan yang lebih besar dalam altcoin daripada dalam Bitcoin.

Selain itu, kondisi seperti ini dapat disebabkan oleh ketidakpastian atau keraguan terhadap Bitcoin, sehingga uang dialihkan ke aset kripto alternatif. Sebaliknya, ketika dominasi Bitcoin meningkat, hal itu bisa menunjukkan bahwa investor kembali ke Bitcoin sebagai tempat berlindung.

Ilustrasi Bitcoin
Ilustrasi Bitcoin.

Baca juga: Mining Bitcoin Gratis Yang Terbukti Membayar

Hal ini sering terjadi ketika Bitcoin mengalami kenaikan harga yang signifikan atau ketika pasar secara umum mengalami volatilitas yang tinggi. Investor mungkin memandang Bitcoin sebagai aset yang lebih stabil atau aman dalam situasi seperti ini.

Namun, penting untuk diingat bahwa dunia kripto sangat dinamis, dan perubahan dalam dominasi Bitcoin bisa terjadi cepat. Perilaku pasar, pengumuman berita, atau perkembangan teknologi baru dapat mempengaruhi arah uang yang mengalir dalam ekosistem tersebut. Oleh karena itu, para investor dan pelaku pasar harus selalu memantau BTC.D dan berbagai faktor lainnya untuk membuat keputusan investasi.


Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading jadi lebih mudah.

DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.



Sumber : news.tokocrypto.com

Standard Charted Ramal Ethereum Capai Rp 125 Juta pada Tahun 2026

Para peneliti di Standard Chartered Bank baru-baru ini mengeklaim bahwa Ethereum (ETH), aset kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, dapat naik hingga 500% dari harganya saat ini pada tahun 2026.

Standard Chartered Bank memprediksi Ethereum mungkin sudah mencapai harga US$ 4.000 atau sekitar Rp 62 juta pada akhir tahun 2024. Dan puncaknya terjadi pada tahun 2026 dengan harga US$ 8.000 atau Rp 125 juta per ETH.

Dikutip Crypto Potato, prediksi bullish bank tersebut mengikuti perkiraan optimis serupa untuk Bitcoin (BTC), yang diklaim dapat mencapai US$ 120,000 sebelum tahun 2025.

Mengapa ETH Bisa Meroket?

Berdasarkan laporan penelitian yang diterbitkan oleh bank pada hari Rabu (11/10), dominasi Ethereum dibandingkan dengan platform smart contract lainnya dikombinasikan dengan peningkatan teknis yang akan datang kemungkinan akan mendorong nilai token gas aslinya.

“Kami pikir dominasi Ethereum dalam platform kontrak pintar, seiring dengan munculnya penggunaan dalam game dan tokenisasi, memiliki potensi untuk mendorong ETH ke level US$ 8.000 pada akhir tahun 2026 (kelipatan 5x dari harga saat ini sebesar US$ 1.600),” tulis Geoffrey Kendrick, kepala penelitian valas dan kripto Standard Chartered Bank.

Momentumnya tidak akan berhenti di situ: Kendrick menduga bahwa angka US$ 8.000 hanya akan menjadi langkah awal menuju “penilaian struktural jangka panjang” sebesar US$ 26.000 hingga US$ 35.000 – kisaran harga yang ditetapkan oleh bank pada bulan September 2021 .

Penilaian ini mengasumsikan kasus penggunaan yang belum terwujud untuk ETH, meskipun integrasi dalam bidang game dan tokenisasi kemungkinan akan mendukung pengembangannya, kata analis tersebut.

Ilustrasi Standard Chartered. Sumber: Standard Chartered.
Ilustrasi Standard Chartered. Sumber: Standard Chartered.

Baca juga: CEO Binance Membuat Prediksi Bitcoin Pasca Halving yang Berani

Sejak tahun 2021, Ethereum telah mengalami peningkatan besar-besaran dalam “The Merge,” yang mentransisikan jaringan ke mekanisme konsensus bukti kepemilikan pada bulan September 2022.

Peningkatan ini hanya menandai yang pertama dari lima tonggak pengembangan utama , namun semuanya dimaksudkan untuk menyederhanakan penyimpanan data Ethereum, meningkatkan skalabilitas, mempertahankan desentralisasi, dan pada akhirnya membuka potensinya.

Pandangan ke Depan Ethereum

Beberapa peningkatan yang akan datang, termasuk “protodank-sharding,” akan “membantu memperkuat dominasi Ethereum di bidang smart contract, sehingga meningkatkan rasio P/E (jika bukan pendapatannya) selama beberapa tahun ke depan,” kata Kendrick.

Bulan lalu, analis JP Morgan menulis bahwa mereka kecewa dengan kinerja jaringan Ethereum sejak peningkatan Shanghai pada bulan April, namun protodank-sharding mungkin bisa menjadi penyelamat. Dijadwalkan akan berlangsung pada akhir tahun ini, peningkatan ini akan meningkatkan throughput transaksi Ethereum dan kinerja jaringan secara umum.

Di luar perubahan jaringan asli, Standard Chartered mengatakan harga ETH juga dapat memperoleh keuntungan dari pengurangan separuh Bitcoin yang akan datang pada bulan April. Potensi persetujuan ETF spot untuk kedua aset di Amerika Serikat sama-sama bullish.

“Kami memperkirakan ini akan terjadi pada akhir tahun 2024, setelah pemilu AS,” tulis Kendrick.

Faktor-faktor tersebut dapat membawa ETH melampaui US$ 4.000 pada akhir tahun 2024, menurut analis – naik 2,5x dari harga saat ini.


Pastikan kamu hanya melakukan investasi dan trading kripto di platform terpercaya, seperti Tokocrypto. Dengan berbagai fitur yang mumpuni serta ekosistem yang luas, trading jadi lebih mudah.

DISCLAIMER: Artikel ini bersifat informasi dan bukan merupakan tawaran atau ajakan untuk menjual dan membeli aset kripto apa pun. Perdagangan aset kripto merupakan aktivitas berisiko tinggi.



Sumber : news.tokocrypto.com

Kenali Triangle Pattern, Teknik untuk Prediksi Harga Pasar

Sudah menjadi hal yang biasa di kalangan trader dalam menggunakan teknik pola grafik sebagai alat untuk melihat pergerakan arah pasar, tak terkecuali trader aset kripto. Pola grafik yang digunakan juga beragam jenisnya, salah satunya adalah Triangle Pattern. Pola ini dianggap bisa memprediksi harga pasar, lho. Penasaran? Berikut informasi selengkapnya!

Apa Itu Triangle Pattern dan Bagaimana Proses Terbentuknya

Triangle Pattern merupakan bagian dari continuation pattern pada analisis teknikal, di mana pola ini menunjukkan apakah suatu tren yang terjadi cenderung berlanjut atau tidak. Pola ini diberi nama triangle dikarenakan bentuknya adalah segitiga, sehingga lebih mudah untuk dibaca dan dipahami.

Segitiga dibentuk saat ujung trendline (garis tren) atas dan bawah bertemu di sisi kanan, sehingga menjadi sebuah sudut yang terlihat sebagai puncak dari segitiga. Trendline atas ditarik dengan menghubungkan titik-titik tertinggi pada grafik, sementara trendline bawah menghubungkan titik-titik terendah.

Trader yang menggunakan pola ini cenderung bertujuan untuk menangkap breakout (pergerakan harga yang menembus level harga tertentu) yang terjadi pada akhir trendline. Dengan pola ini, trader juga dapat lebih mudah mengatur timing yang tepat dan pengambilan keputusan pada saat trading, karena sinyal bullish maupun bearish lebih mudah teridentifikasi.

3 Jenis Triangle Pattern dan Cara Kerjanya

Triangle Pattern sendiri terdiri dari 3 jenis dengan cara kerja yang berbeda-beda, yaitu:

1. Ascending Triangle

Pola ini terbentuk saat harga menembus trendline atas diikuti dengan volume yang meningkat. Trendline atas harus berbentuk horizontal sebagai resistance, sementara trendline bawah meningkat secara diagonal. Hal ini menunjukkan bahwa para pembeli meningkatkan tawaran mereka secara sabar dan perlahan.

Akhirnya, para pembeli pasti akan tidak sabar dan bergegas untuk cari aman dengan menawar hingga menembus harga resistance pada trendline atas (breakout), sehingga pembelian akan terus meningkat saat uptrend (pasar bullish). Berkat fenomena cari aman tersebut, trendline atas tidak lagi resistance, tetapi menjadi support.

Di pola Ascending Triangle, tentu pergerakan harga akan menjadi lebih sempit. Akan tetapi, dikarenakan terbentuk pada saat uptrend, maka sentimen pasar akan tetap bullish secara keseluruhan. Selain itu, pola ini juga dianggap sebagai kelanjutan dari tren lama (continuation pattern) dan umumnya digunakan untuk memasuki posisi long.

2. Descending Triangle

Sesuai namanya, pola ini merupakan kebalikan dari Ascending Triangle dan dianggap sebagai pola breakdown (menurun). Pada pola ini, trendline bawah harus horizontal  sebagai support, sementara trendline atas menurun secara diagonal dan menyentuh ujung trendline bawah untuk membentuk puncak segitiga.

Saat harga jatuh dan melewati trendline bawah, downtrend akan berlanjut (pasar bearish). Berkat breakdown tersebut, trendline bawah yang tadinya merupakan support berubah menjadi resistance. Sementara itu, para trader akan mengambil ancang-ancang sesaat setelah breakout terjadi.

Karena berlawanan dengan pola sebelumnya, Descending Triangle didominasi oleh sinyal pasar yang bearish sehingga naik-turunnya harga tidak akan terlalu bergejolak. Pola ini juga dianggap sebagai continuation pattern dan umumnya digunakan untuk memasuki posisi short.

3. Symmetrical Triangle

Pola ini terbentuk saat trendline atas menurun secara diagonal bersamaan dengan trendline bawah yang naik secara diagonal dan bertemu membentuk sebuah sudut. Biasanya, pola ini dikembangkan ketika pasar sedang berada di kondisi yang penuh keraguan atau abu-abu.

Di situasi ini, trader akan mengalami kebingungan dalam mengambil langkah, sehingga titik tertinggi dan terendah akan bertemu di puncak segitiga. Akan tetapi, saat trader mulai mengetahui arah mana yang akan dituju, mereka langsung masuk dengan volume yang besar, baik ke atas maupun ke bawah. Di saat ini pula breakout akan terjadi.

Pola Symmetrical Triangle jarang terbentuk secara sempurna, sehingga para trader harus bisa menahan kesabaran sejenak dan mulai masuk setelah melihat sinyal kritis pasar dan arah pergerakan grafiknya. Biasanya, pergerakan harga akan kembali ke arah yang sama seperti arah pada saat sebelum pola terbentuk (continuation pattern).

Tips dalam Menggunakan Triangle Pattern bagi Trader

Jadi, Triangle Pattern berguna untuk melihat apakah suatu tren akan berlanjut atau tidak. Trader juga bisa memanfaatkannya untuk memprediksi arah mana yang akan dituju oleh pasar. Ada beberapa tips yang bisa membantu untuk mengurangi risiko saat trading dengan pola ini, di antaranya:

1. Saat Memasuki Posisi Long dan Short

Saat masuk posisi long dengan Ascending Triangle, Anda dapat menetapkan stop-loss  di sekitar titik terendah yang paling baru muncul. Namun, jika ternyata pasar mengarah lebih turun dari titik tersebut, tren berarti sudah memuncak sehingga penjualan akan mendominasi (bearish).

Sebaliknya, saat memasuki short dengan Descending Triangle, Anda dapat menetapkan stop-loss di titik yang mendekati dengan titik tertinggi yang paling baru terjadi. Hal ini akan membantu mengurangi risiko jika ternyata sinyal bullish mendominasi.

2. Menentukan Waktu yang Tepat untuk Keluar

Saat ingin keluar dari pasar, tentu Anda ingin mengantongi profit. Untuk itu, Anda bisa memanfaatkan garis vertikal yang berada di titik pembukaan segitiga dan keluar saat pergerakan harga yang sama telah terjadi. Misalnya, Anda masuk pasar Bitcoin dengan Ascending Triangle yang dibuka di harga $7, maka Anda harus exit setelah harga meningkat sebesar $7 juga agar bisa mendapat cuan.

3. Mengecek Jumlah Volume

Sebagai trader, Anda harus bisa memastikan bahwa sinyal breakout yang ditangkap bukan merupakan sinyal palsu. Caranya dengan mengecek apakah jumlah volume sudah cukup banyak untuk menunjukkan bahwa tren masih akan berlanjut. Jika cenderung kecil, maka ada baiknya Anda menunggu sejenak sebelum masuk ke pasar.

4. Melihat Grafik di Masa Lampau

Sebelum memutuskan untuk entry, Anda harus melihat pergerakan grafik trading aset kripto di masa lampau. Dari sana, Anda dapat melihat Triangle Pattern yang terbentuk sambil mempelajarinya, sehingga saat mencobanya langsung Anda sudah bisa menemukan pola yang berkelanjutan.

Itulah penjelasan mengenai Triangle Pattern beserta tips dalam menggunakannya. Jadi, apakah Anda sudah siap untuk mencobanya langsung? Oh iya, dalam jual-beli aset kripto, pastikan Anda memilih Tokocrypto sebagai exchange yang terpercaya, ya! Yuk, daftar dan selesaikan KYC di www.tokocrypto.com dan dapatkan informasi menarik lainnya seputar trading dan investasi aset kripto.



Sumber : news.tokocrypto.com

Uang Fiat Meradang, Bitcoin Tak Tergoyang

Sejumlah data menunjukkan Amerika Serikat di ambang resesi ekonomi berikutnya, yang bisa berdampak secara global. Sejumlah ahli bahkan berpendapat resesi itu akan terjadi pada tahun 2020. Bagaimana nasib Bitcoin yang disebut-sebut sebagai safe haven? Nah, mengingat Bitcoin belum teruji dalam situasi resesi global, namun sejumlah data historis menunjukkan Bitcoin memberikan imbal hasil lebih tinggi ketika situasi ekonomi sedang lesu. Di sinilah bukti bahwa ketika uang fiat meradang, bitcoin tak tergoyang.

Dilansir dari CNBC Indonesia, pada November 2018, disebutkan pasar saham anjlok, karena investor pindah ke obligasi negara dan imbal hasil utang perusahaan yang membengkak lebih tinggi. Pandangan investor, pada kenyataannya, mungkin, bahkan lebih suram daripada para ekonom. Goldman Sachs dan JP Morgan melihat pertumbuhan melambat menjadi di bawah 2 persen pada paruh kedua tahun 2019. Tetapi pada saat yang sama, kedua perusahaan itu memperkirakan Federal Reserve menaikkan suku bunga empat kali, sementara para ekonom lainnya percaya The Fed mungkin harus bergerak dengan lebih lambat. Para ekonom menunjukkan sejumlah faktor pertumbuhan yang lebih lambat, tetapi pemuncak daftar faktor yang menakutkan bagi pasar adalah kenaikan suku bunga The Fed serta dampak dari tarif impor dan perang perdagangan. Para ekonom tidak memperkirakan resesi terjadi pada tahun 2020.

“Itu tergantung pada Fed. Jika mereka terus mengikuti lintasan saat ini (kenaikan suku bunga), saya pikir (ada resesi di) paruh pertama tahun 2020,” kata Joseph LaVorgna, kepala ekonom Amerika di Natixis, dilansir dari CNBC International. LaVorgna memperkirakan pertumbuhan 2,5 persen tahun depan, meskipun lebih lambat di paruh kedua.

Dalam situasi resesi, harga indeks saham akan jatuh cukup dalam dan investor mengalihkan uangnya ke jenis aset lain, seperti emas. Resesi ekonomi di Negeri Paman Sam itu tentu membawa dampak pada situasi ekonomi global termasuk Indonesia, seperti resesi tahun 2008 silam, di mana sejumlah mata uang negara lain mengalami pelemahan terhadap dolar AS.

Emas masih menjadi pilihan utama. Namun, sejak tahun 2013 harga emas justru trun dan kini relatif stabil. Bagaimana dengan Bitcoin? Bitcoin diperkenalkan oleh Satoshi Nakamoto pada tahun 2008 sebagai sistem pembayaran lintas negara melalui Internet secara peer-to-peer. Karena Bitcoin tidak dikendalikan oleh negara, maka nilainya relatif independen terhadap situasi ekonomi mikro dan makro. Artinya ia berdiri sendiri berdasarkan hukum permintaan dan penawaran.

Mudahnya sebut saja ia spekulatif, tetapi diadopsi secara mantap oleh sejumlah besar perusahan, seperti Ameritrade, E*trade, Fidelity Investment, CME, Nasdaq. Adopsi ini kian menguatkan tingkat likuiditasnya di tingkatan global. Artinya Bitcoin tahun 2019 jelas berbeda dengan tahun 2017, di mana pemain ritel lebih banyak. Hari ini sejumlah produk terkait Bitcoin juga digemari oleh kalangan institusi sebagai kelas aset baru yang menjanjikan.

Namun, mengingat karakteristik Bitcoin seperti emas, yakni ada pengurangan suplai dan jumlahnya terbatas, maka nilai Bitcoin sangatlah unik. Ini berbeda dengan uang fiat yang sejatinya tak terbatas, sehingga rentan terhadap inflasi dan menekan nilainya ketika ada gejolak ekonomi, terlebih-lebih uang fiat digunakan di pasar modal, di mana ada uang publik yang dipertaruhkan di dalamnya.

Berdasarkan penelitian Grayscale terbaru, untuk menandai besaran krisis, dapat mengacupada derajat liquidity risk (resiko sejumlah aset turun besar berbanding harga belinya). Salah satu komponen untuk mengukurnya adalah besaran utang dalam sistem keuangan. Grayscale mengacu pada rasio utang global tahun 2018, yang sudah mencapai US$250 triliun dan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai lebih dari 300 persen. Jelas Grayscale, kendati volatilitas mengecil pada beberapa tahun belakang, namun resiko likuiditasnya masih tinggi.

Nah, bagaimana performa Bitcoin terhadap resiko likuiditas aset-aset lain? Grayscale mengambil 5 contoh terbaik berikut ini.

Utang Tinggi Yunani

Peristiwa ditutupnya semua bank di Yunani selama 3 minggu pada tahun 2015, gara-gara semakin banyak warga Yunani yang menarik uang secara tunai. Hal itu disebabkan Pemerintah Yunani gagal membayar utang luar negerinya, ditambah isu Yunani ingin keluar dari Uni Eropa. Kekacaubalauan terjadi hingga tiga bulan lamanya. Ketika sebagian besar harga indeks saham dan mata uang ikut merosot, Bitcoin malah mampu cetak untung hingga 28 persen pada periode 20 April-10 Juli 2015. Sedangkan aset lainnya rata-rata minus 1,7 persen. Bitcoin hanya bersaing dengan poundsterling dengan raihan 4,1 persen.

Yuan Dilemahkan Sang Tuan

Pada Agustus 2015-Desember 2016, Bank Sentral Tiongkok memutuskan memotong suku bunga acuannya sebesar 1,9 persen. Tapi investor pasar modal di negeri itu sudah keburu menjual aset-aset berisikonya. Pada periode 20 Agustus 2015-20 Januari 2016, Bitcoin memberikan imbal hasil hingga 53 persen (10 Agustus-20 Januari 2016). Sedangkan kelas aset lainnya rata-rata minus 10 persen. Hingga Desember 2016 pula nilai mata uang yuan melemah hingga 11 persen terhadap dolar AS. Inilah pendorong pembelian Bitcoin untuk melindungi nilai uangnya.

Gerimis “Brexit” di Inggris

Pada 24 Juni 2016 Inggris membuat dunia terperanjat, ketika hasil referendum menunjukkan bahwa rakyat Inggris ingin terpisah dengan Uni Eropa (Brexit). Satu hari setelah pengumuman itu, harga poundsterling ambruk hingga minus 8,1 persen dan euro jatuh tak terbendung hingga minus 2,4 persen. Sementara itu Bitcoin bullish dengan imbal hasil hingga 7,1 persen. Bitcoin hanya bersaing ketat dengan Indeks harga emas COMEX, yakni 4,7 persen dan yen 3,9 persen. Hingga akhir tahun 2016, poundsterling dan euro terus melemah.

Gara-gara Bapak Trump

September-Desember 2016 terjadi gonjang-ganjing politik seputar pemilihan Presiden Amerika Serikat plus situasi geopolitik global. Dua bulan sebelum pemilu presiden, suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS melebihi ekspektasi para pelaku pasar. Aksi jual saham dan aset berisiko tinggi lainnya pun tak terbendung. Pada periode 7 September 2016-10 November 2016 Bitcoin mampu memberikan imbal hasil hingga 17,2 persen. Di posisi kedua ditempati oleh Bloomberg Comodity Index 0,5 persen, selebihnya justru rata-rata minus 3,5 persen.

Goyangan Perang Dagang

Ketegangan perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok turut mendorong banyak orang membeli Bitcoin. Sebenarnya ketegangan itu dimulai pada 2017, lalu dipertegas pada 5 Mei 2019, di mana Presiden Trump memerintahkan kenaikan bea masuk barang-barang impor dari Tiongkok dari 10 persen menjadi 25 persen. Hal itu mendorong kenaikan Bitcoin hingga memberikan imbal hasil hingga 47 persen pada periode 5 Mei-31 Mei 2019. Yen Jepang hanya memberikan 2,1 persen, sedangkan yang lainnya rata-rata minus 2 persen. Grayscale menyimpulkan, kendati Bitcoin menguat, khususnya ketika terjadi devaluasi mata uang fiat, bukan berarti Bitcoin dapat disebutkan sebagai “investable asset“. Tetapi, fakta demikian menunjukkan Bitcoin sangat tangguh menghadapi situasi makro ekonomi yang melemah dan Bitcoin memberikan imbal hasil lebih tinggi berbanding jenis aset lain dan mata uang fiat lain.



Sumber : news.tokocrypto.com

Investor Saham, Tommy Yu: Bitcoin Bagus Sebagai Investasi Alternatif

Tommy Yu, investor saham kawakan asal Indonesia mengakui potensi Bitcoinsebagai alat investasi masa depan. Katanya, Bitcoin saat ini masih dalam tahap sangat awal, selayaknya surat elektronik (e-mail) atau Internet ketika pertama kali muncul.

“Menurut saya Bitcoin sebagai alat investasi yang bagus selain saham dan emas. Agar Bitcoin dapat berkembang, Bitcoin harus mendapatkan trust yang lebih besar dari para pendukung baru dan komunitasnya. Semakin banyak penerimaan dan kepercayaan terhadap Bitcoin, maka nilainya akan semakin naik. Menurut saya itulah tantangan bersama,” kata Tommy, pengasuh kanal Youtube JSXPRO ID ini kepada Blockchainmedia.id hari ini, Senin, (27/05).

Menyinggung perihal cara trading Bitcoin, Tommy mengakuinya sangatlah mudah. Tapi, katanya, yang perlu diperhatikan adalah soal volatilitas harganya yang sangat tinggi.

“Saya harus mengakui volatilitas harga Bitcoin itu sangat tinggi, bahkan melebihi saham. Kalau di saham ada batas atas dan bawah (autoreject). Sedangkan di kripto ini tidak ada batasan dan murni karena supply and demand. Kemudian dibandingkan dengan valas, terkadang volatilitas Bitcoin ini malah lebih ekstrem. Hal ini menurut saya wajar, sebab likuiditasnya yang jauh lebih kecil daripada perdagangan valas,” tegasnya.

Namun demikian, Tommy menyebutkan, itu dikembalikan kepada risk tolerance masing-masing trader dalam memilih instrumen investasi.

“Jika risk tolerance-nya rendah, mungkin lebih cocok di saham. Sedangkan jika risk tolerance-nya cukup besar, crypto trading bisa jadi alternatif,” ujarnya. [vins]



Sumber : news.tokocrypto.com