Tag Archives: kebakaran

Suka Lupa Cabut Charger Ponsel dari Stopkontak? Awas Ini Bahayanya


Jakarta

Setelah selesai mengisi daya ponsel, seharusnya charger langsung dicabut dari stopkontak. Namun, masih ada aja orang yang lupa mencabut charger ponsel.

Kebiasaan ini ternyata bisa merugikan penghuni rumah lho. Charger yang dibiarkan menancap ke stopkontak terlalu lama bakal panas sehingga berpotensi memicu masalah lainnya.

Memang apa saja risiko tidak cabut charger ponsel? Berikut ini penjelasannya.


Risiko Charger Tidak Dicabut dari Stopkontak

Inilah beberapa hal yang bisa terjadi kalau tidak mencabut charger ponsel dari stopkontak, dikutip dari Voice7 News.

1. Boros Listrik

Selama charger masih tersambung ke stopkontak, daya listrik akan terus tersedot. Jika dibiarkan, penghuni malah boros energi sehingga tagihan listrik membengkak.

2. Perangkat Rusak

Selain itu, adaptor akan panas kalau terlalu lama tercolok ke stopkontak. Kondisi ini membuat performa charger berkurang, bahkan cepat rusak.

3. Kebakaran

Kasus ekstremnya, charger yang terus menempel ke stopkontak bisa memicu percikan api. Panas yang berlebih dari aliran listrik berisiko menimbulkan ledakan atau kebakaran.

Cara Aman Pakai Charger Ponsel di Rumah

Untuk menjaga keselamatan penghuni rumah dan kondisi charger, ikuti cara aman menggunakan charger ponsel berikut ini.

  • Segera cabut charger dari stopkontak saat daya ponsel sudah penuh.
  • Gunakan charger berlisensi dan spesifikasinya cocok dengan ponsel.
  • Isi daya ponsel di tempat dengan ventilasi yang baik.
  • Jangan mengisi daya ponsel semalaman.

Itulah alasan penghuni rumah harus mencabut charger ponsel dari stopkontak usai. Semoga bermanfaat!

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(dhw/das)



Sumber : www.detik.com

Wajib Tahu! Ini 5 Jenis APAR yang Harus Ada di Tiap Bangunan


Jakarta

Kebakaran merupakan salah satu insiden dengan risiko paling besar yang bisa terjadi di lingkungan tempat tinggal, kantor, hingga area industri. Oleh karena itu, setiap bangunan diwajibkan memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang sesuai dengan standar keamanan.

APAR dirancang untuk memadamkan api pada tahap awal sebelum menjadi kebakaran besar. Memahami jenis-jenis APAR yang sesuai dengan klasifikasi kebakaran, sangat penting untuk keselamatan dan perlindungan aset.

Melansir dari situs IFSEC Global, ada lima jenis utama APAR yang dapat digunakan di berbagai bangunan, masing-masing dirancang untuk mengatasi jenis kebakaran tertentu. Berikut ini penjelasannya.


1. APAR Air (Water & Water Mist)

Jenis APAR ini umumnya digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas A, dengan jenis kebakaran yang disebabkan oleh bahan padat seperti kertas, kain, plastik, dan juga kayu. APAR air dengan label merah, dinilai efektif menanggulangi kebakaran kelas A karena mampu menurunkan suhu bahan yang terbakar dengan cepat.

Namun, APAR air tidak boleh digunakan pada kebakaran yang disebabkan oleh minyak, gas, dan listrik, karena dapat mengakibatkan korsleting dan ledakan. APAR air dengan jenis water mist extinguisher dapat digunakan pada beberapa kelas kebakaran (A, B, C, dan F) karena menghasilkan kabut air halus yang tidak menghantarkan listrik, serta minim residu.

APAR ini sering ditemukan di toko, perkantoran, sekolah, hotel hingga gudang.

2. APAR Busa (Foam)

APAR dengan label krem ini sangat efektif untuk mengatasi kebakaran kelas A dan B. Jenis ini dapat digunakan untuk kebakaran bahan padat serta cairan mudah terbakar seperti bensin ataupun cat.

Busa pada alat ini bekerja dengan menutup permukaan cairan yang terbakar sehingga mencegah uap bahan bakar beraksi dengan oksigen. Namun, penggunaannya tetap harus hati-hati dan tidak disarankan untuk kebakaran yang melibatkan minyak goreng atau peralatan listrik dengan tegangan tinggi.

3. APAR Serbuk Kering (Dry Powder)

APAR dengan label biru ini dikenal sebagai APAR paling serbaguna. Dry powder extinguisher dapat digunakan untuk kebakaran kelas A, B, dan C, termasuk kebakaran akibat gas seperti butana atau propana.

Ada juga versi khusus serbuk logam (Kelas D), untuk memadamkan kebakaran yang melibatkan logam seperti magnesium dan alumunium. Meski efektif, alat ini memiliki kekurangan, yaitu residu serbuk bisa mengganggu sistem elektronik dan sulit dibersihkan, sehingga tidak disarankan untuk digunakan di area perkantoran dan rumah.

4. APAR Karbon Dioksida (C0₂)

Untuk area perkantoran, terlebih pada ruang server, jenis APAR ini wajib tersedia. IFSEC Global, menyebutkan bahwa APAR dengan label hitam ini sangat ideal untuk kebakaran listrik dan cairan mudah terbakar (Kelas B).

Kelebihan APAR jenis ini adalah tidak meninggalkan residu, sehingga aman untuk digunakan pada peralatan elektronik jadi cocok untuk di perkantoran. Namun, pengguna harus berhati-hati karena suhu gas C0₂ yang keluar sangat dingin dan bisa menyebabkan frostbite (cedera kulit yang terjadi karena paparan suhu sangat dingin).

5. APAR Kimia Basah (Wet Chemical)

Untuk dapur atau area memasak, APAR kimia basah adalah pilihan terbaik. APAR jenis ini dirancang khusus untuk kebakaran kelas F, yaitu akibat minyak goreng dan lemak.

APAR ini bekerja dengan menyemprotkan cairan kimia alkali yang membentuk lapisan busa pelindung di atas minyak panas, mendinginkan area terbakar, dan mencegah api menyala kembali. Selain itu, alat ini juga dapat digunakan pada kebakaran kecil kelas A.

Memahami jenis-jenis APAR dapat membantu untuk menentukan mana yang cocok digunakan untuk kebakaran di kelas tertentu. Semoga bermanfaat.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(abr/abr)



Sumber : www.detik.com

Sebelum Terlambat, Begini Cara Cek Kebocoran Listrik di Rumah



Kebocoran listrik merupakan kerusakan pada arus listrik yang bisa mengancam keselamatan. Kebocoran listrik dapat menyebabkan sengatan listrik ketika menyentuh area yang mengalami kebocoran, korsleting listrik, hingga kebakaran.

SPV Teknik PLN ULP Sawangan Depok Yudhi Maharsa Jaya mengungkapkan kebocoran listrik dapat berbahaya terutama jika berada di dekat besi dan air karena listrik dapat dengan mudah menyambar ke sekitarnya.

“Misalkan jalur kabel itu melewati besi. Nah itu mungkin ada sedikit sengatan, (meskipun) kebocorannya masih kecil, bisa tersetrum lah bahasa kasarnya,” kata Yudhi kepada detikProperti beberapa waktu lalu.


“(Aliran dekat air) Itu ngaruh juga karena kalau setahu saya, saya pernah kejadian terkait instalasi yang bocor,” lanjutnya.

Cara Mengetahui Ada Kebocoran Listrik

Sayangnya, kebocoran listrik terkadang tidak terdeteksi sejak awal karena jarang orang mengecek kondisi listrik di rumah. Padahal kebocoran listrik sebenarnya bisa dicek. Yudhi mengatakan pengecekannya pun tidak harus memanggil pihak PLN, pemilik rumah dapat melakukan sendiri di meteran listrik yang biasanya terpasang di depan rumah. Namun, ini hanya berlaku pada meteran listrik pra bayar yang memiliki tombol. Berikut caranya.

1. Matikan dan cabut semua kabel perangkat elektronik di rumah

2. Matikan aliran listrik di rumah

3. Tekan angka ’44’ lalu enter

4. Lihat angka yang tertera pada meteran listrik. Apabila angka ‘0 (nol)’ yang muncul maka tidak ada kebocoran. Namun, apabila ada angka 1, 2, atau angka dengan koma, itu pertanda listrik di rumah bocor.

“Harusnya kan itu menunjukkan angka 0. Tapi misalkan ada angka 1, 2, atau 1,3, nah itu kan ada kebocoran di sisi instalasi,” jelasnya.

Penyebab Kebocoran Listrik

1. Kabel Listrik Sudah Tua

Yudhi mengatakan kualitas kabel listrik dapat mempengaruhi ketahanan bahan isolatornya. Umumnya kabel yang sudah dipakai cukup lama, terjadi penurunan kualitas Disarankan untuk mengecek kondisi kabel-kabel tua di rumah atau bisa cek secara menyeluruh jika tidak mengetahui lokasi kabel yang sudah tua.

“Dari kabel yang sudah usianya sudah lama. Kabel di instalasi kita, lampu, stop kontak, dan peralatan elektronik,” sebut Yudhi.

2. Pemasangan Kabel yang Tidak Sesuai

Kesalahan yang kerap terjadi dan sangat berbahaya adalah kabel di rumah dipasang asal-asalan tidak memikirkan standar keamanan. Kesalahan pemasangan ini bukan hanya mengenai lokasi dan posisinya, melainkan jenis kabel yang dipakai. Meskipun bentuk kabel sama, ternyata setiap besaran arus listrik jenis kabel yang digunakan berbeda lho. Yudhi menuturkan penyambungan kabel yang sembarangan dan tidak sama besarannya dapat menyebabkan arus listrik bocor.

“Dari sisi pemasangan mungkin ada sambungan atau kabel yang masih terbuka, tidak terisolasi dengan baik, itu juga bisa menyebabkan kebocoran atau korsleting,” tuturnya.

3. Kabel Stop Kontak Berbeda Dipakai Bersambung

Pemakaian kabel stop kontak yang disambung begitu banyak dapat menyebabkan kebocoran listrik. Jika didiamkan dari kabel tersebut bisa muncul percikan api yang dapat menyebabkan kebakaran.

Itulah penyebab dan tanda kabel listrik mengalami kebocoran, semoga membantu.

Punya pertanyaan soal rumah, tanah atau properti lain? detikProperti bisa bantu jawabin. Pertanyaan bisa berkaitan dengan hukum, konstruksi, jual beli, pembiayaan, interior, eksterior atau permasalahan rumah lainnya.

Caranya gampang. Kamu tinggal kirim pertanyaan dengan cara klik link ini

(aqi/das)



Sumber : www.detik.com

Ada Mobil Pribadi Berstrobo ‘Tot Tot Wiu Wiu’, Kasih Jalan Nggak?



Jakarta

Pengguna mobil pribadi yang memakai strobo dan sirene masih banyak beredar di jalan raya. Padahal, mobil pelat putih/hitam tidak berhak menggunakan strobo dan sirene dan bukan kendaraan prioritas.

Di media sosial ramai dibahas sebuah mobil Toyota Land Cruiser berpelat putih dengan strobo dan sirene meminta diprioritaskan. Video viral itu diunggah akun Instagram Dashcam Owners Indonesia. Pengendara Land Cruiser berstrobo itu terus membunyikan sirene dan lampu dim agar pengendara di depannya minggir dan memberikan jalan.

Namun, mobil di depannya tetap bertahan di lajurnya dan tidak memberikan ruang untuk Land Cruiser menyalip. Hingga akhirnya, Land Cruiser itu menjauh dan tidak mencoba menyalip mobil yang merekam video.


[Gambas:Instagram]

Menurut Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, hanya ada tujuh pengguna jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan. Sesuai pasal 134 UU No. 22 Tahun 2009, kendaraan prioritas adalah:

1. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas;

2. Ambulans yang mengangkut orang sakit;

3. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas;

4. Kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia;

5. Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara;

6. Iring-iringan pengantar jenazah; dan

7. Konvoi dan/atau kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Polri.

Kendaraan pribadi dengan pelat nomor putih/hitam tidak termasuk di dalamnya. Begitu juga kendaraan yang berhak menggunakan strobo/sirene. Perangkat strobo atau sirene terbatas untuk beberapa kendaraan seperti kendaraan Polri, mobil jenazah, mobil tahanan, pengawalan Tentara Nasional Indonesia, pemadam kebakaran, ambulans, serta Palang Merah Indonesia (PMI), dan beberapa kendaraan angkutan barang khusus lainnya.

Belajar dari kejadian di video tersebut, perlukah kita memberikan jalan kepada pengguna mobil dengan strobo/sirene meski mereka bukan kendaraan prioritas?

Praktisi keselamatan berkendara yang juga Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, mengatakan dari kacamata defensive driving tak sebaiknya kita sebagai pengguna jalan saling berbagi.

“Saya menyikapi pengemudi yang menggunakan strobo/sirene sih biasa aja. Nggak perlu emosi, main hakim sendiri, merasa paling benar. Toh men-judge bukan urusan dan tanggung jawab kita juga. Cukup paham bahwa mereka kurang paham aturan dan etika,” kata Sony kepada detikOto, Selasa (23/7/2024).

Dari video viral tersebut, Sony juga mengatakan lajur kanan hanya untuk mendahului. Terlepas dari pengguna strobo/sirene atau bukan, jika kendaraan lebih cepat maka bisa mendahului dari lajur kanan.

“Nah, terkait ada stobo/sirene atau nggak sebaiknya tetap kasih jalan jika bisa. Apalagi kendaraan yang di belakangnya lebih cepat untuk mendahului di lajur kanan. Kan memang aturannya lajur kanan untuk menyusul. Jadi jangan melihat prioritas dari stobonya, tapi dari lajurnya,” sebut Sony.

Hal senada juga disampaikan instruktur safety driving di Rifat Drive Labs (RDL) dan Road Safety Commission Ikatan Motor Indonesia (IMI) Erreza Hardia. Menurut Reza, kita sebagai warga sipil tidak berhak memberikan tindakan kepada para pelanggar pengguna strobo ilegal.

“Kalau mau naik kasta di jalan, berikan jalan itu aja sih. Tidak perlu jadi penegak peraturan, itu tugas polisi. Tidak perlu juga menghalangi karena kita bisa jadi pemicu dan tidak ada kewenangan apa pun selain sebagai pengguna jalan menjaga keselamatan diri dan orang lain. Maka jagalah dan berilah dia jalan karena itu bagian dari hazard di jalan. Dia sedang butuh bermanuver ekstrem dan sirene serta strobo sebagai tanda komunikasi dia dengan pengguna jalan lain,” ucap Reza kepada detikOto, Senin (22/7/2024).

(rgr/dry)





Sumber : oto.detik.com

Kapan Ganti Oli Mobil yang Tepat? Awas Kelewat, Efeknya Bisa Begini


Jakarta

Oli mobil harus rutin diganti untuk menjaga kualitas mesin dan kinerjanya. Sebagai pelumas, oli mencegah gesekan antara komponen satu dengan lainnya. Tanpa oli, komponen akan saling bergesekan sehingga rentan rusak.

Karena fungsi oli sangat vital, maka kita tidak boleh terlambat mengganti oli. Lantas kapan waktu yang tepat mengganti oli mobil agar mesin tetap awet? Simak penjelasannya di bawah ini, lengkap dengan tanda-tanda oli butuh diganti dan akibatnya jika telat ganti oli.

Kapan Seharusnya Mengganti Oli Mobil?

Ganti oli mobil umumnya dilakukan ketika jarak tempuhnya sudah mencapai 10.000 km. Dikutip dari situs Hyundai, jarak ini biasanya dicapai pada waktu 6 bulan.


Namun, waktu yang tepat mengganti oli mobil bergantung pada jarak tempuh mobil yang ditandai dengan jumlah kilometernya. Selain itu, penggantian oli juga bisa berdasarkan jangka waktu penggunaan.

Pada mobil yang sering dipakai, tentunya akan mencapai jarak 10.000 km tak sampai 6 bulan. Jika mobil jarang dipakai, oli sebaiknya tetap diganti 6 bulan sekali, meski belum mencapai jarak 10.000 km.

Berdasarkan situs Suzuki, mobil yang sering dipakai untuk jarak jauh dan menempuh medan berat, seperti tanjakan, kemacetan, muatan lebih berat, maka direkomendasikan untuk mengganti oli setiap 7.500 km.

Selain itu, detikers juga harus mengetahui kondisi mobil kamu. Mobil dengan masalah tertentu kemungkinan akan lebih cepat menghabiskan oli, sehingga harus ganti oli lebih cepat dari biasanya.

Tanda Mobil Harus Ganti Oli

Pemilik mobil juga harus peka dengan kondisi mobilnya. Dikutip dari situs Astra-Daihatsu, berikut ini tanda-tanda mobil harus ganti oli:

Salah satu tanda oli harus segera diganti adalah ketika kualitasnya sudah menurun. Kamu harus mengecek kondisi oli untuk mengetahui kualitasnya.

Oli baru memiliki tekstur yang licin, lengket, dan berwarna jernih. Ketika oli sudah berputar ke seluruh komponen dalam waktu lama, maka warnanya akan berubah menjadi keruh dan coklat gelap.

Warna oli yang gelap ini dikarenakan oli membersihkan permukaan dinding silinder mesin yang berkerak akibat oksidasi. Ketika sudah sangat keruh, maka itu tandanya oli mobil sudah harus segera diganti.

2. Akselerasi Terasa Lambat

Tanda lainnya adalah ketika akselerasi mobil sudah terasa lambat. Kualitas oli yang menurun akan menyebabkan gesekan yang lebih tinggi dalam mesin. Ini akan menyebabkan kinerja mesin menjadi kurang responsif karena mesin harus bekerja lebih keras.

3. Mesin Bergetar Lebih Kuat

Ketika mesin dalam keadaan idle, yaitu dalam kondisi diam tetapi mesin menyala, coba rasakan getarannya. Jika getaran mesin lebih kuat dari biasanya, maka kemungkinan menjadi tanda bahwa ada masalah dengan oli mesin.

Ketika oli mesin sudah diganti, biasanya getaran mesin akan terasa halus kembali. Pemilik mobil harus lebih sensitif terhadap getaran mesin, baik dalam kondisi idle maupun saat berjalan.

4. Suara Kerja Mesin Lebih Kasar

Selain getarannya, pemilik mobil juga harus peka dengan suara mobil. Saat mobil dinyalakan, cek apakah suaranya kasar atau tidak. Jika terdengar kasar atau berisik, maka kemungkinan oli sudah butuh diganti.

Akibat Terlambat Ganti Oli

Penting bagi pemilik untuk mencatat kapan dan pada jarak berapa terakhir kali mengganti oli. Jangan sampai lupa untuk mengganti oli jika sudah tiba waktunya. Dikutip dari situs Suzuki, berikut ini beberapa akibat jika terlambat ganti oli:

1. Mesin Cepat Panas

Ketika terlambat ganti oli, maka mesin akan menjadi cepat panas. Sebab oli yang buruk tidak akan melumasi mesin dengan baik, sehingga gesekan meningkat dan menyebabkan mesin overheating atau cepat panas. Jika ini bertahan dalam waktu lama, maka akan merusak komponen mesin dan bahkan bisa menyebabkan kebakaran.

Ketika komponen sering bergesekan karena oli sudah kotor, maka mesin akan terasa berat saat bekerja. Hal ini mengakibatkan akselerasi menjadi lambat dan suara mesin menjadi kasar. Bahkan saat oli habis, mesin tidak akan bisa dinyalakan sama sekali.

3. Bahan Bakar Semakin Boros

Kualitas oli yang sudah turun membuat mesin bekerja lebih keras, konsumsi bahan bakar pun jadi meningkat. Kamu pun akan semakin sering mengisi bahan bakar.

4. Kerusakan Turbocharger

Pada mobil dengan turbocharger, oli yang sudah kotor juga bisa merusak komponen ini. Turbo bekerja pada suhu tinggi, sehingga membutuhkan pelumas yang baik. Jika telat ganti oli, maka bisa membuatnya cepat rusak dan biaya perbaikannya mahal.

5. Penyumbatan Katalisator

Saat telat ganti oli, pembakaran mesin menjadi tidak sempurna. Hal ini membuat katalisator tersumbat dan rusak, sehingga mobil bisa jadi tidak lolos uji emisi.

6. Penurunan Performa Sistem Lainnya

Berbagai komponen mobil juga membutuhkan oli sebagai pelumas. Jika kekurangan pelumas atau oli kotor, maka bisa mempengaruhi pelumas lain, seperti oli transmisi dan gardan, sehingga menurunkan performa sistem lainnya.

Nah, sekarang detikers sudah tahu kan kapan waktu yang tepat untuk mengganti oli? Waspada jika kinerja mesin mobil terasa turun, yang bisa jadi mengindikasikan oli harus segera diganti.

(row/row)



Sumber : oto.detik.com

Dulu Diskotek Hits, Kini Gedung Ini Kisahnya Tragis



Medan

Gedung di Medan ini sudah terbengkalai selama bertahun-tahun. Dulunya, gedung ini adalah sebuah diskotek hits. Namun akhirnya, kisahnya berujung tragis.

Traveler yang melintasi Jalan Gatot Subroto Medan pasti bisa melihat dengan jelas gedung ini. Bangunan ini ternyata punya kenangan mengerikan yang diingat warga Medan saat itu.

Gedung eks M City itu terletak di Jalan Gatot Subroto. Letaknya berseberangan dengan bundaran SIB. Tak ada aktivitas apapun yang tampak dari gedung tersebut.


Dari luar gedung, kondisi fisik gedung tampak tak terawat dengan dinding atap yang sudah jebol. Selain itu, halaman dalam gedung juga ditumbuhi rumput liar dan semak belukar.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, gedung ini sudah terbengkalai beberapa tahun terakhir. Terlebih pasca mengalami kebakaran hebat pada akhir tahun 2009 lalu.

Banyak warga Medan yang masih mengenang tragedi kebakaran tersebut. Bagaimana tidak, kebakaran ini menewaskan 20 orang, termasuk di antaranya ajudan Gubernur kala itu.

Warga Medan Dihantui Kisah Mistis

Pasca kebakaran tersebut, nama M City kemudian berganti nama menjadi Elegant. Warga Medan Mirna mengaku mengalami pengalaman mistis saat berada di lokasi yang sudah berganti nama.

“Dulu pernah ke sini waktu ganti nama jadi Elegant. Pernah waktu itu tutup mata terus di dalam room VIP itu berasa ramai dan banyak suara minta tolong. Penjaganya juga bilang pernah beberapa kali juga dengar suara minta tolong,” ungkap Mirna.

Tak hanya itu, beberapa masyarakat juga bercerita kenangan saat rekan ataupun sahabatnya selamat dalam tragedi mengerikan tersebut.

“Saya saksi hidup karyawan di tempat itu waktu kejadian kebakaran. Saat itu pergantian shift pukul 20.30 WIB. Rekan saya menjadi korban pada kebakaran itu, mereka meninggal karena asap yang tebal,” tutur Sinaga.

“Itu salah satu tempat yang merenggut nyawa kakak angkat, namanya Dara, dia meninggal akibat sesak napas tapi tidak terbakar hangus,” tutur Rama, warga Medan lainnya.

Dulu Diskotek Hits

Sejarahwan Budi Agustono mengungkapkan tempat hiburan malam M City ini populer di awal tahun 2000-an. Bahkan, dulunya hanya kalangan menengah atas yang sering nongkrong di sini.

“Tahun awal 2000an M City ini menjadi pusat hiburan sangat elit. Banyak sekali kelas menengah atas yang sebagian besar nongkrongnya di M City ini, itu sangat terkenal dan relatif bebas saat itu,” ujar Budi.

Budi bercerita bahwa M City dulunya banyak dipilih sebagai tempat nongkrong lantaran memiliki banyak fasilitas dan memberikan rasa nyaman kepada pengunjungnya.

“Di Medan tahun 2000an itu semacam urban entertaiment yang salah satunya diskotek atau tempat hiburan M City. Sebelum terbakar sangat populer sekali. Selain diskotek kan juga ada hotel, ada spa dan tempat itu relatif aman karena mungkin waktu itu ada wilayah Olo Panggabean jadi relatif terjaga dan menimbulkan penikmat hiburan malam tahun 2000-an awal,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ngeri Banget Cairan Kimia Tumpah di KBB, Ini yang Harus Dilakukan Pengendara



Jakarta

Cairan kimia dari truk milik salah satu perusahaan tumpah di Jalan Raya Purwakarta-Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Cairan kimia tersebut menyebabkan lebih dari 100 orang pengendara motor-mobil mengalami luka dan merusak 200 unit kendaraan.

Peristiwa itu terjadi pada Selasa (24/12/2024). Polisi menyatakan sebanyak 104 orang mengalami luka-luka akibat cairan kimia yang tumpah dari sebuah truk di sepanjang Jalan Purwakarta-Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Empat di antaranya luka berat.

“Sampai sekarang ada korban terdampak dari bocornya cairan B3. Yang terdata sampai saat ini lebih lebih dari 100 orang luka ringan, kemudian luka berat ada empat orang,” kata Kapolres Cimahi AKBP Tri Suhartanto dilansir Antara.


Berdasarkan pemeriksaan petugas kesehatan, mayoritas korban cairan kimia itu mengalami perih pada bagian mata hingga kulit melepuh. Sedangkan yang dibawa ke rumah sakit karena mengalami luka bakar yang cukup berat akibat percikan soda api itu.

Sedangkan untuk jumlah kerusakan sepeda motor dan mobil ada sebanyak 200 unit. Kerusakan didominasi karena cairan kimia yang menempel pada kendaraan hingga tidak bisa dihilangkan dan ada juga mesin kendaraan mati akibat cairan tersebut.

Erreza Hardian, instrultur awak dan pengawas angkutan B2 Lembaga Pendidikan Pertamina Training & Consulting, mengatakan di setiap angkutan akan ada simbol. Simbol tersebut perlu dipahami setiap pengendara yang berada di sekitar truk pengangkut bahan kimia.

“Minimal secara visual jelas sih, misal beberapa waktu lalu ada tabung gas bertekanan, atau ada gambar seperti tengkorak, atau ada tangan kemudian tabung bahan kimia yang artinya korosif atau artinya mampu mengiritasi kulit hingga gatal-gatal dan mengelupas serta merusak jaringan hidup, atau gambar tengkorak yang artinya racun,” beber Reza dalam keterangan tertulis kepada detikOto, Jumat (27/12/2024).

Jadi, menurut Reza, antisipasinya adalah sebaiknya pengendara di sekitar truk pengangkut bahan kimia memberikan prioritas. Segera menjauh dan jadikan truk pengangkut bahan kimia itu sebagai potensi bahaya.

“Ketika antisipasi sudah dilakukan dan ada bahaya lain berupa kebocoran, maka sebagai pengguna jalan yang awam, segera melaporkan kejadian ke 112 atau telepon emergency di kota Anda, sayangnya berbeda nih tiap kota/provinsi,” ujar Reza.

Selanjutnya, sambil menunggu bantuan datang, tanyakan pengemudi atau awak tentang dokumen MSDS atau Lembar Data Keselamatan Bahan. Ini biasanya ada pada dokumen pengiriman.

“Atau saat ini juga ada aplikasi di smartphone yang dapat kita gunakan yaitu ADR, perjanjian terkait pengangkutan internasional barang berbahaya melalui jalan darat, kalau di awak dan di kendaraan tidak dapat kita temukan,” sebutnya. Di dalam dokumen itu akan dijelaskan nama barang dan kode serta emergency response jika terpapar.

Tindakan Pertolongan Pertama

Jika bahan kimia tersebut tekena mata, segera bilas dengan air sebanyak-banyakya. Lepas lensa kontak. Jika terjadi iritasi, hubungi dokter.

Jika kontak kulit, cucilah bagian kulit yang terkontaminasi bahan ini dengan air dan sabun. Lepaskan pakaian. Cuci pakaian sebelum digunakan. Segera lakukan pengobatan medis jika terjadi iritasi berkelanjutan.

Kalau terhirup, jauhi paparan. Pindahkan korban ke udara terbuka agar dapat bernapas dengan nyaman.Segera lakukan pengobatan medis jika terjadi iritasi saluran pernapasan dan pusing berkelanjutan.

Bila tertelan lebih dari 500 ml, segera berikan 1 sampai 2 gelas air. Kemudian segera panggil/bawa ke dokter (pengobatan medis) jika terjadi kondisi yang gawat darurat. Jangan berikan sesuatu melalui mulut yang dapat mengakibatkan muntah atau rasa mual. Bahan kimia yang tertelan kemungkinan dapat terabsorpsi ke dalam paru-paru yang dapat mengakibatkan pneumonitis (chemical pneumonitis), sehingga perlu penangan yang tepat.

Menurut Reza, ada beberapa gejala atau efek jika terjadi kontak dengan bahan kimia itu. Gejala dan tanda iritasi kulit berupa rasa terbakar, kemerahan, atau membengkak. Gejala dan tanda iritasi mata dapat berupa rasa terbakar dan kemerahan pada mata sementara. Jika material produk masuk ke dalam paru-paru, gejala dan tanda yang muncul antara lain batuk, tersedak, tersengal-sengal, kesulitan bernapas, tekanan pada dada, napas pendek, dan atau demam.

“Awal munculnya gejala pada saluran pernapasan mungkin terjadi beberapa jam setelah terpapar. Menghirup uap dengan konsentrasi yang tinggi mungkin menimbulkan gangguan sistem saraf pusat dengan tanda-tanda pusing, kliyengan, sakit kepala, mual, dan hilangnya koordinasi gerak. Inhalasi yang terus-menerus mungkin dapat menyebabkan ketidaksadaran dan kematian. Efek terhadap sistem pendengaran yaitu hilangnya pendengaran sementara dan atau telinga berdenging,” beber Reza.

“Ini hanya sebagian contoh dan ada juga jika terjadi kebakaran, maka inilah acuan kita sebagai pengguna jalan yang kebetulan berada di lokasi kejadian untuk memperkecil risiko parahnya korban kecelakaan yang lain,” pungkasnya.

(rgr/din)



Sumber : oto.detik.com

9 Dampak Mobil Sering Terjebak Macet Seperti Saat Mudik


Jakarta

Situasi macet, termasuk saat mudik perlu diwaspadai oleh pengguna mobil karena bisa berdampak buruk bagi mesin dan komponennya. Risiko makin besar seiring makin seringnya terjebak macet.

Dampak Mobil Sering Terjebak Macet

Berikut ini sejumlah dampak mobil sering terjebak macet yang dirangkum dari situs Pertamina Lubricants dan Suzuki Indonesia:

1. Mesin Terlalu Panas

Dampak utama dari macet adalah mesin yang menjadi panas atau overheating. Hal ini terjadi karena mobil terus berjalan dengan kecepatan sangat rendah, sehingga aliran udara yang masuk ke dalam radiator terhambat dan membuat suhu mesin naik.


Mesin yang terlalu panas akan berdampak pada hal lain, seperti merusak komponen-komponen mesin, bahkan bisa menyebabkan kerusakan permanen jika tidak segera diatasi.

2. Mobil Terbakar

Masalah overheat karena macet juga bisa membuat mobil terbakar. Dalam beberapa kasus kebakaran mobil, penyebabnya adalah kombinasi mesin overheat, masalah kelistrikan, atau kebocoran bahan bakar.

Hal ini biasanya terjadi pada mobil yang kurang perawatan. Untuk itu selalu cek kondisi kabel listrik dan saluran bahan bakar sebelum melakukan perjalanan panjang. Waspadai juga ketika muncul asap atau bau terbakar, maka segera matikan mesin dan keluar dari mobil.

3. Merusak Komponen Rem

Kondisi macet membuat pengemudi lebih sering menggunakan rem karena lebih sering berhenti. Dengan demikian, rem juga bisa mengalami overheat sehingga mudah menyebabkan kerusakan komponen, misalnya kampas rem dan cakram.

Suhu mesin yang naik signifikan akibat macet membuat oli lebih cepat teroksidasi dan tercemar partikel kotoran. Hal ini membuat kualitas oli menurun dan mengurangi kemampuan pelumasannya.

Kualitas oli yang tidak prima juga akan meningkatkan risiko gesekan dan keausan pada komponen mesin. Pastikan untuk mengganti oli sebelum mudik.

5. Komponen Transmisi Rusak

Selain rem, komponen transmisi bisa cepat rusak akibat mobil sering terjebak macet. Terutama pada mobil bertransmisi otomatis, komponennya harus bekerja lebih keras karena mobil terus menerus melakukan stop and go.

Ketika transmisi bekerja lebih berat, akan terjadi overheating pada sistem transmisinya dan membuat komponen cepat rusak. Untuk itu, saat berhenti lama, sebaiknya pindahkan tuas ke posisi netral.

6. Boros Bahan Bakar

Saat macet, mesin mobil akan terus bekerja meski tanpa bergerak. Meski demikian, pembakaran akan tetap terjadi, sehingga bahan bakar lama kelamaan akan cepat habis dibandingkan dalam kondisi lalu lintas normal.

7. Polusi Udara

Kemacetan juga menyebabkan polusi udara yang terpusat pada satu area. Hal ini bisa menyebabkan masalah lingkungan dan masalah kesehatan pada pengemudi serta penumpang.

Gas karbon monoksida (CO) dari banyak kendaraan bisa dengan mudah masuk ke dalam kabin mobil melalui celah ventilasi. Hal ini bisa menyebabkan pusing, mual, hingga keracunan.

8. Dampak Kelelahan dan Stres

Dampak lain pada manusia adalah kelelahan dan stres. Mengemudi dalam waktu lama tanpa pergerakan signifikan akan menurunkan konsentrasi dan kondisi fisik. Emosi juga bisa meningkat akibat macet, sehingga risiko terjadi pertengkaran dengan pengguna jalan lain semakin besar.

9. Pengeluaran Membengkak

Terakhir, karena banyak dampak negatif yang telah disebutkan di atas, maka pengeluaran bisa semakin membengkak, mulai dari memperbaiki kerusakan mesin, rem, transmisi, hingga bahan bakar yang boros.

Risiko macet saat mudik, atau dalam kehidupan sehari-hari, tentunya harus dipertimbangkan pengguna mobil. Untuk mencegah risiko ini, pengendara bisa memilih rute atau mengatur jadwal perjalanan agar terhindar dari macet.

(bai/row)



Sumber : oto.detik.com

Mobil Terbakar Gegara Pasang Dashcam



Jakarta

Kebakaran mobil bisa saja terjadi akibat berbagai sebab. Tapi, ada beberapa penyebab umum yang bisa bikin mobil terbakar. Apa saja?

Seperti dikutip Kantor Berita Bernama, Departemen Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Sarawak mengatakan ada beberapa penyebab yang berisiko bikin mobil terbakar. Sebagian besar kebakaran mobil terjadi akibat sistem kabel listrik yang kelebihan beban. Hal itu bisa terjadi akibat modifikasi sembarangan.

Direktur Departemen Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Sarawak Jamri Masran mengatakan, ketika sistem kabel listrik kelebihan beban, suhu dapat naik dengan cepat dan menyebar. Hal itu dapat menyebabkan kebakaran.


“Berdasarkan statistik dan temuan kami, ketika sebuah mobil terbakar, itu biasanya karena masalah elektrikal. Jarang karena masalah mesin. Kalau karena mesin, itu biasanya karena kebocoran oli,” katanya.

“Pemilik kendaraan memodifikasi kendaraannya, menambahkan aksesori seperti sound system dan radio yang membutuhkan power tinggi. Jika mereka membuat klaim (garansi) ke pabrikan, tidak akan diterima karena kendaraan dimodifikasi,” sebutnya.

Pemilik kendaraan disarankan untuk tidak melakukan modifikasi sembarangan yang dapat menyebabkan kelebihan beban pada sistem kabel listrik yang akhirnya bisa menyebabkan kebakaran.

Mobil Terbakar karena Kesalahan Pemasangan Dashcam

Di Malaysia, belum lama ini terjadi kebakaran mobil Jaecoo J7. Pabrikan Jaecoo langsung melakukan investigasi terhadap kebakaran mobil tersebut.

Setelah penyelidikan menyeluruh, kebakaran mobil tersebut ternyata disebabkan oleh pemasangan dashcam yang tidak tepat di bengkel pihak ketiga di luar jaringan Jaecoo.

“Kami sangat menyarankan kepada pelanggan agar demi keselamatan, hindari melakukan modifikasi di pusat layanan yang tidak resmi yang dapat membatalkan garansi kendaraan JAECOO Anda. Pastikan semua pekerjaan perawatan dan perbaikan hanya dilakukan oleh pusat layanan yang resmi,” tulis Jaecoo dalam pernyataannya.

(rgr/dry)



Sumber : oto.detik.com

Tips Aman Tinggalkan Mobil Listrik Berhari-hari di Garasi



Jakarta

Pakar kendaraan listrik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi membagikan tips atau cara aman meninggalkan mobil listrik berhari-hari di garasi rumah. Harapannya, insiden BYD Seal keluar asap di Palmerah, Jakarta Barat, tak terulang lagi di masa depan.

Agus menjelaskan, ketika mobil listrik mau ditinggal lama, maka pastikan ruang garasinya tak panas atau lembab. Maka, pilihlah tempat yang sejuk dan berventilasi baik. Hal tersebut untuk menjaga suhu kendaraan tetap ideal.

“Terkait tips umum agar lebih aman bila ingin EV (electric vehicle) ingin ditinggal cukup lama maka perlu diperhatikan kondisi area penyimpanan tidak panas maupun lembab tapi sejuk dan berventilasi baik,” ujar Agus Purwadi saat dihubungi detikOto, Kamis (15/5).


Selain itu, kata Agus, ada satu komponen mobil listrik yang perlu mendapat perhatian lebih, yakni baterai. Dia mengingatkan, pastikan baterai tidak kosong atau terlalu penuh saat kendaraan ditinggal berhari-hari di garasi.

“Kemudian (yang harus diperhatikan lagi), kondisi muatan baterai kendaraan tidak kosong ataupun terisi penuh. Pastikan muatan baterai di angka sekitar 50 persen atau sesuai rekomendasi dari pabrikannya,” ungkapnya.

Proses pemadaman mobil listrik BYD Seal yang terbakar di dalam garasi rumah di Jakbar.BYD Seal mengeluarkan asap. Foto: Dok. istimewa

Di kesempatan yang sama, Agus Purwadi juga menyampaikan analisisnya mengenai kasus BYD Seal yang mengeluarkan asap di Palmerah, Jakarta Barat. Dia mengira, ada tiga pemicu utama di balik insiden tersebut.

Pertama, kata Agus, kepulan asap tersebut berasal dari baterai kendaraan. Sebab, komponen itu mudah bermasalah ketika overheat atau terlalu panas. Kerusakan pada baterai tak melulu memunculkan api, melainkan bisa hanya kepulan asap.

Kedua, lanjut dia, ada kerusakan di sistem kelistrikan seperti hubung singkat. Kondisi tersebut bisa memicu panas berlebih dan menyebabkan asap atau kebakaran.

“Lalu yang ketiga, komponen elektronika daya. Kerusakan pada komponen elektronika daya seperti inverter atau charger bisa juga menyebabkan masalah (di kendaraan),” ungkapnya.

Meski punya analisis pribadi, namun Agus menyarankan agar publik menunggu hasil pemeriksaan tim BYD Indonesia. Sebab, perusahaan asal China itu berjanji akan melakukan investigasi secara menyeluruh.

“Untuk lebih jelasnya maka sebaiknya bisa tunggu hasil investigasi Tim BYD yang pasti sedang menangani secara serius dan mendalam karena saat ini merupakan market leader baik di Indonesia maupun dunia,” kata dia.

(sfn/din)



Sumber : oto.detik.com