Tag Archives: nama

Daya Tarik, Harga Tiket, dan Lokasi


Jakarta

Taman MBS Serang adalah tempat wisata dengan beraneka wahana permainan seru dan memiliki suasana sejuk. Kalian yang ingin mengajak anak berwisata, taman ini bisa menjadi pilihan utama.

Nama MBS adalah singkatan dari Mahoni Bangun Sentosa. Taman wisata ini baru diresmikan pada 2020. Taman ini didesain unik dengan bangunan ala Eropa maupun gaya tradisional Nusantara.

Simak informasi lengkap mengenai Taman MBS Serang dalam artikel ini, mulai dari daya tarik wisata, harga tiket masuk, lokasi dan jam buka.


Daya Tarik Taman MBS Serang

Dikutip dari situs Pemkot Serang dan akun Instagram @mahonibangunsentosa, berikut ini sejumlah daya tarik dari Taman MBS Serang:

Wahana Permainan

Taman MBS Serang cocok dikunjungi bersama anak-anak karena memiliki berbagai wahana permainan yang membuat mereka senang. Wahana permainan ini antara lain mainan pesawat, trampolin, mini shuttle car, ekskavator anak, dan crane anak.

Aktivitas Seru

Selain naik wahana permainan, ada berbagai aktivitas seru yang bisa dilakukan di Taman MBS Serang, antara lain berenang, flying fox, main panahan, naik kuda keliling kawasan, main paintball, outbound anak, arena ketangkasan Super Jawara, dan naik ATV.

Spot Selfie

Bagi pengunjung yang suka berfoto-foto, Taman MBS Serang memiliki banyak spot selfie, seperti bangunan bergaya Eropa, lukisan 3D, rumah jamur, dan sebagainya. Pengunjung juga bisa berfoto sambil bersantai di gazebo bambu atau rumah jerami.

Penginapan Bergaya Tradisional

Bagi yang ingin menginap, detikers bisa memilih penginapan bertema rumah tradisional daerah-daerah di Indonesia, seperti rumah Papua, rumah Baduy, dan rumah Lumbung. Kalian juga bisa menginap di bumi perkemahan di dalam bangunan berbentuk saung-saung.

Harga Tiket Taman MBS Serang

Harga Tiket Masuk

Harga tiket masuk ke Taman MBS Serang adalah Rp 25 ribu per orang. Jika ingin naik wahana atau melakukan aktivitas seru lainnya, maka akan dikenakan biaya lagi.

Harga Tiket Wahana Permainan

Berikut ini harga sejumlah wahana permainan yang dikutip dari akun WhatsApp Business Taman MBS Serang:

  • Arena Super Jawara: Rp 10 ribu
  • Panahan: Rp 25 ribu (15 anak panah)
  • Paintball: Rp 40 ribu – Rp 100 ribu
  • ATV: Rp 40 ribu
  • Flying Fox: Rp 20 ribu
  • Mainan pesawat: Rp 10 ribu
  • Mainan shuttle car: Rp 10 ribu
  • Mainan ekskavator dan crane: Rp 10 ribu
  • Perahu gowes: Rp 10 ribu
  • Trampolin: Rp 5 ribu
  • Menunggang kuda: Rp 20 ribu – Rp 25 ribu
  • Berenang: Rp 15 ribu per orang
  • Outbound anak: Rp 35 ribu – Rp 40 ribu
  • Bumi perkemahan: Rp 25 ribu

Lokasi dan Jam Buka Taman MBS Serang

Taman MBS berlokasi di Link Cideheng Kidul, Kelurahan Kemanisan, Kecamatan Curug, Kota Serang, Provinsi Banten. Jaraknya sekitar 11 km dari pusat Kota Serang atau berjarak tempuh 30 Menit. Taman MBS Serang buka setiap hari pada pukul 08.00-17.00 WIB.

Demikian tadi informasi lengkap mengenai mengenai Taman MBS Serang dalam artikel ini, mulai dari daya tarik wisata, harga tiket masuk, lokasi dan jam bukanya.

(bai/row)



Sumber : travel.detik.com

Yeh Pikat nan Memikat di Desa Wisata Taro



Jakarta

Desa Wisata Taro memiliki pesona alam yang memukau. Salah satu permata tersembunyi adalah trekking menuju air terjun Yeh Pikat.

I Wayan Gede Ardika, pengelola Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Taro, menjelaskan nama Yeh Pikat berasal dari kata “Yeh” yang dalam bahasa Bali artinya air dan “Pikat” yang artinya menarik. Yeh Pikat merupakan sebuah air terjun yang terletak di sebelah barat Desa Taro.

“Makna nama itu, Yeh kan artinya air dan pikat itu berarti memikat hati kita untuk datang ke air terjun ini. Karena suasananya adem dan airnya bersih. Jadi memikat kita untuk datang dan berlama-lama disana,” kata Gede Ardika.

Bentuk air terjun yang cantik dengan dikelilingi tebing batu, membuat air terjun Yeh Pikat menjadi lokasi menarik berburu foto. Ukuran air terjun ini relatif kecil. Tingginya tidak lebih dari 6 meter dan aliran airnya pun tidak terlalu deras. Dengan begitu, traveler dapat berkunjung ke tempat wisata alam ini dengan aman.

Sebelum terkenal dengan air terjunnya yang cantik, Yeh Pikat juga sudah dikenal sebagai tempat untuk melukat dan membersihkan diri. Konon beberapa pancoran di areal Yeh Pikat bisa menyembuhkan penyakit.

“Sebelumnya yang terkenal itu pancoran Yeh Pikat, mitosnya dipercaya bisa menyembuhkan penyakit. Misalnya untuk sakit mata, sakit kepala, dan sakit perut. Pancurannya itu ada lima,” kata Ardika.

Kepercayaan lain yang tumbuh di tengah masyarakat desa mengenai air terjun ini adalah kekuatan magisnya. Air terjun ini merupakan mata air campuhan, karena Yeh Pikat merupakan tempat pertemuan antara dua sungai. Selain melukat, masyarakat Taro Kaja (Taro Utara) juga menggunakan mata air di Yeh Pikat ini sebagai lokasi dilakukannya upacara pitra yadnya yaitu ngaben atau sering disebut “memanah”.

Yeh Pikat bisa menjadi salah satu air terjun yang tergolong hidden gem. Untuk sampai ke air terjun ini, traveler harus menuruni ratusan anak tangga dan melakukan susur sungai. Pemandangan tebing batu yang besar nan eksotis akan menemani perjalanan traveler untuk sampai ke Yeh Pikat.

Untuk mengeksplor keindahan Yeh Pikat Waterfall, traveler dikenakan biaya sebesar Rp 25.000 untuk wisatawan domestik dan Rp 75.000 untuk wisatawan domestik komplit dengan pemandu. Air terjun ini buka mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WITA.

“Waktu terbaik untuk berkunjung itu pagi hari, karena masih sejuk, banyak burung, dan matahari juga belum terlalu menyengat,” kata Ardika.

Traveler juga bisa mencoba aktivitas trekking ke Yeh Pikat Waterfall di Desa Taro yang berada di Tegallalang, Gianyar, Bali itu dengan harga Rp 250.000 per orangnya dengan minimal 5 orang. Biaya ini sudah termasuk agenda trekking ke Yeh Pikat, Pura Agung Gunung Raung, dan The Fire Flies Garden. Traveler juga sudah mendapatkan fasilitas pemandu dan coffee break.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Masa Lalu Kelam Jalan Gandhi di Medan: Pernah Jadi Lokasi Pembantaian



Medan

Setiap sudut kota Medan menyimpan cerita sejarah. Salah satunya di jalan Gandhi yang disebut pernah menjadi lokasi pembantaian.

Mendengar nama jalan Gandhi, warga Medan pasti tahu cerita-cerita yang beredar di baliknya. Konon, jalanan ini dikenal angker karena jadi lokasi penyiksaan tahanan.

“Dulu saya sering lewat situ tahun 1990-an lah karena saya pengantar obat ke apotek-apotek Jalan Gandhi. Memang dulu jalan ini terkenal angker karena jadi lokasi penyiksaan para tahanan-tahanan pemberontak,” ungkap warga Medan bernama Aan.


Aan mendapat cerita dari para pegawai apotek, dahulu saat melintasi jalan ini sering tercium bau menyengat dan juga suara teriakan halus dari dalam gedung.

“Sebenarnya nggak ramai dan sepi karena kan penjara dan itu kan tertutup ya, sering lah dengar nangis sama teriak-teriak. Tapi kalau malam nggak ada yang berani lewat, kalau dari cerita orang tua dulu, itu memang tempat penjara G30SPKI,” ujarnya.

Kabarnya penjara atau tempat penyiksaan di Jalan Gandhi itu sudah berubah menjadi sebuah gedung yayasan suatu komunitas etnis Tionghoa.

Pada masa dulu, Jalan Gandhi Medan ini akan ditutup portal pada sore hari dan akan kembali dibuka pada ke-esokan harinya.

“Malam itu di Jalan Gandhi itu tutup, dulu ada portalnya jadi kalau yang bisa masuk itu pagi sampai jam 1-2 siang nah dari sore jam 3 udah tutup portal, memang nggak boleh masuk lagi,” ucapnya.

Warga Medan lainnya, Indri juga mengenang masa-masa dulu saat dirinya mendengar cerita dari sang ayah tentang kelamnya Jalan Ghandi tersebut.

“Penjara Gandhi ini masih beroperasi sampai masa Presiden Soeharto. Tetangga saya tahun 1983 masih ditahan di situ sekitar 1 tahun. Dulu itu penjara paling sadis penyiksaannya, kalau masuk situ habis disiksa seluruh badan, ada bak air tapi airnya bau kali dengan segala macam kotoran, para tahanan direndam di situ,” tutur Indri.

Sejarawan Medan Buka Suara

Sejarawan Kota Medan M Azis Rizky Lubis membenarkan bahwa Jalan Gandhi pada tempo dulu menyimpan kenangan kelam oleh masyarakat Kota Medan. Ia menyebutkan bahwa lokasi penyiksaan ini sudah ada saat zaman penjajah.

“Pada masa orde baru, Jalan Gandhi ini termasuk jalan yang ditakuti masyarakat karena kalau sudah tertangkap oleh zaman rezim orde baru ya nanti akan dibawa ke Jalan Gandhi itu. Jadi bangunan ini penjara atau tempat penyiksaannya bukan seperti umumnya tapi lebih tepatnya bangunan ini jadi tempat penyiksaan,” kata Aziz.

“Orang-orang mendengar namanya saja takut apalagi melintasi ke situ. Bahkan tahun 1970-an itu muncul lagu yang menggambarkan betapa seramnya melintasi jalan tersebut,” lanjutnya.

Azis kemudian menggambarkan beragam penyiksaan yang diterima oleh tahanan di bangunan tersebut seperti dipukuli dengan sadis, kemudian direndam di dalam air kotor.

“Cukup sadis saat itu ya, mereka juga nggak langsung dieksekusi tapi diserang dulu mentalnya kemudian fisiknya. Nah biasanya sore itu sudah tidak diperbolehkan masuk untuk melintas karena untuk penyiksaan biasanya dilakukan pada tengah malam,” tutup Azis.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Anak Rambut Gimbal hingga Embun Es


Jakarta

Dataran Tinggi Dieng memiliki banyak keunikan sehingga menjadi tempat wisata unggulan di Jawa Tengah. Terlebih pada waktu-waktu tertentu, wisatawan akan berdatangan ke Dieng untuk menikmati sejumlah atraksi.

Dataran Tinggi Dieng berada di dua daerah, yaitu Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Kebanyakan destinasi wisata berada di Kabupaten Banjarnegara. Sebelum traveler pergi ke sana, simak dulu 7 hal unik Dieng berikut ini.

7 Keunikan Wisata Dataran Tinggi Dieng

Berikut ini 7 keunikan dari Dataran Tinggi Dieng yang traveler wajib ketahui:


1. Anak Bajang Rambut Gimbal

Salah satu yang paling unik di Dieng adalah adanya anak bajang berambut gimbal. Anak-anak ini berambut gimbal alami dan dipercaya sebagai keturunan leluhur Dieng,yaitu Kyai Kolodete.

Dalam acara Dieng Culture Festival yang digelar tiap tahun, anak-anak ini akan diruwat dengan memotong rambut gimbalnya untuk menghilangkan keburukan. Orang tua anak tersebut akan memberikan hadiah sesuai permintaan si anak.

2. Desa Tertinggi di Pulau Jawa

Dieng memiliki desa yang letaknya tertinggi di Pulau Jawa, yakni di ketinggian 2.306 mdpl. Tempat ini bernama Desa Sembungan yang berpenduduk sekitar 1.300 jiwa. Desa ini dipercaya sebagai desa induk di kawasan Dieng.

3. Negeri di Atas Awan

Lokasinya yang berada di ketinggian, membuat Dieng memiliki pemandangan alam yang menakjubkan. Dieng juga dijuluki sebagai negeri di atas awan. Dieng juga memiliki beberapa spot menarik untuk menyaksikan matahari terbit dan terbenam.

4. Punya 22 Kawah

Dieng adalah dataran vulkanik aktif yang bisa mengeluarkan gas beracun sewaktu-waktu. Dahulu, Dieng adalah sebuah kawasan gunung berapi yang terdiri dari Gunung Prau, Gunung Jimat, Bukit Rogo Jembangan, dan Tlerep. Kini gunung-gunung tersebut menjadi lembah alam di kawasan Dieng.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut ada 22 kawah di kawasan Dieng. Di Kabupaten Banjarnegara, antara lain terdapat Kawah Timbang, Kawah Sinila, Kawah Sigludug, dan Kawah Sileri.

Di Kabupaten Batang antara lain terdapat Kawah Sibanger, Kawah Wanapria, Kawah Wanasida, dan Kawah Siglagah. Di Kabupaten Wonosobo, terdapat Kawah Sikidang, Kawah Sikunang, Kawah Pulosari, dan Kawah Pakuwojo.

5. Tempat Dewa Bersemayam

Konon, Dieng merupakan tempatnya para dewa bersemayam. Nama Dieng berasal dari bahasa Jawa Kawi, yaitu ‘di’ dan ‘hyang’. Di berarti tempat atau gunung, sedangkan Hyang berarti dewa/dewi/leluhur. Maka Dihyang atau Dieng berarti pegunungan tempat para leluhur atau para dewa bersemayam.

Dari sebuah prasasti yang ditemukan, Dieng dahulunya dipakai sebagai tempat ibadah. Prasasti Gunung Wule yang berasal dari tahun 861 Masehi mencatat instruksi kepada seseorang untuk menjaga bangunan suci di area yang disebut Dihyang.

6. Penghasil Carica

Keunikan lainnya, Dieng merupakan penghasil buah carica. Buah ini mirip pepaya namun ukurannya lebih kecil dan teksturnya lebih renyah. Buah ini berasal dari dataran tinggi Andes Amerika Selatan. Carica sering dibuat manisan dan sering menjadi oleh-oleh wisatawan.

7. Embun Es Dieng

Yang terakhir adalah adanya fenomena embun es Dieng. BMKG menjelaskan fenomena embus es atau frost di Dieng merupakan salah satu aspek cuaca yang istimewa.

Fenomena ini muncul saat suhu udara sangat dingin dan embun yang terkondensasi membeku. Akibatnya, lapisan es yang muncul akan menutupi tumbuhan dan permukaan tanah.

Embun es biasanya berlangsung pada periode waktu terbatas, terutama saat kemarau (Juni – Oktober). Meski Indonesia merupakan negara tropis dengan iklim hangat, frost dapat terjadi pada wilayah dataran tinggi apabila beberapa syarat kondisi cuaca terpenuhi.

Demikian tadi 7 hal unik Dataran Tinggi Dieng yang menjadikan tempat wisata ini menarik, antara lain adanya anak bajang berambut gimbal, hingga kemunculan embun es.

(bai/row)



Sumber : travel.detik.com

Gereja Katedral Jakarta, Megah dan Mewah Berdampingan dengan Masjid istiqlal



Jakarta

Gereja Katedral amat megah. Berada di jantung kota Jakarta, gereja itu bersebelahan dengan Masjid Istiqlal.

Gereja tersebut menjadi sebuah destinasi bagi wisatawan domestik dan wisatawan asing saat berkunjung ke Kota. Gereja itu akan selalu terbuka untuk wisatawan yang penasaran melihat kemegahan di dalamnya.

Wisatawan yang beragama Katolik maupun lainnya tak perlu mengeluarkan kocek ketika berkunjung ke gereja yang masuk daftar cagar budaya itu. Yang menonjol dari bangunan gereja itu adalah gaya arsitektur Neo-gothic.


Dibangun mulai 1891, gereja itu dinamai nama Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga. Kemudian, pada 1901 gereja tersebut muali dikenal dengan Gereja Katedral Jakarta karena terdapat cathedral atau tahta uskup di dalam gereja tersebut.

“Gereja Katedral Jakarta tuh sebenernya punya nama sendiri, namanya ‘Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga’. Disebut Gereja Katedral karena di dalam gereja itu ada suatu bangku yang spesial untuk Bapak Uskup namanya cathedra, maka disebutlah Gereja Katedral,” ucap Petugas Museum Katedral Jakarta, Lili, kepada detikTravel, Sabtu (13/7/2024).

Tak hanya wisatawan lokal saja yang datang ke Gereja Katedral Jakarta ini tapi juga banyak dari wisatawan mancanegara yang datang untuk melihat langsung megahnya salah satu ikon Kota Jakarta ini. Jika ingin melihat keadaan di dalam Gereja Katedral, wisatawan diperbolehkan melihat namun harus mematuhi aturan yang ada seperti tidak boleh melewati pagar.

“Bisa masuk dari pintu utama tapi memang ada pagar, kita (wisatawan) tidak boleh melintasi pagar itu, ada kegiatan maupun nggak ada kegiatan memang nggak bisa melewati,” kata Lili.

Saat melihat area dalam gereja, kemegahan arsitektur yang menawan membuat wisatawan seakan terhipnotis dengan maha karya yang dibuat. Namun yang perlu diperhatikan saat berada di dalam gereja, tentunya ketika sedang ada kegiatan tetap harus mengikuti aturan yang sudah ditetapkan.

Selain bisa melihat gereja dari dalam, pengunjung juga bisa melihat Museum Gereja Katedral yang letaknya berada di samping gereja, Di sana terdapat banyak jejak-jejak sejarah yang menjadi saksi perjalanan gereja tersebut, di dalam museum ini juga pengunjung bisa melihat catatan-catatan sejarah dari awal mula gereja ini dibangun.

“Di museum banyak ya, ada tentang asal mula Gereja Katedral, ada bagian visi-misi dari waktu awal perintisan, terus ada kenang-kenangan dari dua Paus yang berkunjung ke Indonesia sama ya alat-alat liturgi yang zaman dahulu dipakai,” katanya.

Museum Katedral Jakarta dari paparan Lili buka pada setiap hari Selasa hingga Sabtu dari pukul 10.00 sampai 16.00 WIB. Sementara untuk Gereja Katedral setiap harinya buka dari jam 06.00 sampai pukul 21.00 WIB.

Dalam setiap harinya pengunjung yang datang ke Museum Katedral Jakarta menurut Lili bisa mencapai 300 wisatawan. Ia tak bisa mengira berapa jumlah wisatawan yang berkunjung ke Gereja Katedral karena wisatawan diperbolehkan langsung masuk gereja tanpa harus mengisi daftar hadir.

“Rata-rata ya 200 sampai 300 ada setiap hari itu weekday, weekend lebih rame bisa 300 sampai 400,” ujar dia.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Taman Benyamin Sueb, Tinggalan Cornelis Senen, Diresmikan Anis Baswedan



Jakarta

Nama dan pamor seniman asli Betawi Benyamin Sueb atau Bang Ben tak perlu diragukan lagi. Untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya dibuatlah Taman Benyamin Sueb yang terletak di Jatinegara, Jakarta Timur.

Taman Benyamin Sueb itu diresmikan pada 2018 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Anies Baswedan. Tujuan utama dari adanya taman ini tentunya bentuk apresiasi kepada Benyamin Sueb dan juga sebagai pusat pelestarian seni dan kebudayaan, wabil khusus budaya Betawi.

Bangunan Taman Benyamin Sueb ini dulunya merupakan bangunan peninggalan milik Meester Cornelis van Senen sekitar tahun 1625 hingga 1661. Saat Daendels menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia-Belanda bekas kediaman Meester Cornelis itu didirikan tiga bangunan utama yang masih kokoh hingga saat ini.


“Awal mula bangunan ini adalah lahan seluas 6.500 meter persegi milik Meester Cornelis Senen dia seorang penginjil yang taat hingga dia dipercaya oleh Pemerintah Belanda untuk mengembangkan wilayah sini pada tahun 1625 kurang lebih. Setelah itu Cornelis meninggal, sekitar 200 tahun kemudian datang Daendels dan bangunan ini dibangun sekitar 1811,” kata pengelola Gedung Taman Benyamin Sueb, Sri Heni Setiawati, kepada detikTravel, Selasa (16/7/2024).

Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian.Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

“Kemudian dibangun ada tiga gedung yang pertama ini gedung tengah yang biasa kita sebut gedung A, kemudian gedung B untuk sekretariat PNS, kemudian gedung C dimanfaatkan untuk kantin saat ini. Dulu tempat ini digunakan untuk villa, tempat tinggal, untuk transit pedagang-pedagang pada zaman Daendels,” kata Sri saat kami berbincang di Gedung A.

Saat pendudukan Jepang, bangunan itu digunakan oleh tentara Jepang, mulai dari 1942-1950. Kemudian, nama kawasan yang asalnya beranama Meester Cornelis itu diganti menjadi Jatinegara karena dianggap terlalu kental dengan unsur Belanda.

“Bangunan ini dulu (era Jepang) dipakai sebagai markas tentara Jepang,” kata Heni.

Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian.Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Dilanjut tahun 1950-an bangunan itu menjadi markas Komando Militer Kota Jatinegara atau Komando Militer Kota Jakarta Raya 0505 Jatinegara. Dan berjalannya waktu, lanjut Heni bangunan eks Kodim 0505 ini di tahun 2018 menjadi Taman Benyamin Sueb.

Kini kawasan Taman Benyamin Sueb bisa dikunjungi oleh masyarakat untuk mengenang jejak sang legenda Betawi tersebut. Seperti yang disebut di awal tadi, inisiasi adanya Gedung Taman Benyamin Sueb ini sebagai wadah pelestarian seni dan budaya Betawi serta budaya daerah lainnya.

“Jadi ini adalah keinginan pemerintah memberikan apresiasi kepada Benyamin ya, beliau adalah seniman multitalenta yang dia bisa berkesenian apa saja, dia menginginkan wadah atau tempat pengembangan dan pelestarian seni budaya. Maka, dibuatlah di sini jadi (Benyamin) ingin punya wadah untuk pelestarian budaya, tidak hanya Betawi saja jadi budaya dari mana saja,” katanya.

Di kawasan ini juga terdapat museum yang menampilkan beberapa penghargaan yang diraih oleh Bang Ben dan juga beberapa peninggalan beliau seperti rilisan musik hingga wardrobe yang pernah ia kenakan dulu kala. Kemudian bangunan lainnya di area Taman Benyamin Sueb ini juga kerap dipakai untuk latihan oleh berbagai sanggar di Jakarta.

Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian.Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Saat detikTravel berkunjung ke Taman Benyamin Sueb ini terdapat sanggar tari yang tengah berlatih. Walaupun namanya taman tapi tak seperti taman-taman lainnya yang terdapat permainan untuk anak atau arena rekreasi, melainkan taman yang dimaksud di sini sebagai wadah untuk pelestarian seni dan budaya.

Masyarakat yang ingin berkunjung ke museum di Taman Benyamin Sueb ini bisa dengan mudah menikmatinya tanpa dipungut biaya. Terletak tak jauh dari Stasiun Jatinegara di Jalan Jatinegara Timur Nomor 76, Jatinegara, Jakarta Timur dan buka mulai dari hari Selasa hingga Minggu sedari pukul 09.00 sampai 15.00 WIB, tutup di hari Senin serta libur keagamaan.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Baru Dibuka di Tangsel, Restoran dengan Playground yang Ada Mini Zoonya



Jakarta

Traveler yang sedang mencari tempat bermain anak dengan fasilitas lengkap di Tangerang Selatan bisa ke sini. Lokasinya juga gampang digapai dengan transportasi umum.

Nama tempat wisata baru di Tangsel ini adalah The Nice Garden Serpong. Lokasinya berada di Jl. Raya Serpong, Cilenggang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan. Lokasinya persis berada di tepi jalan raya.

Tempat ini itu tidak hanya menawarkan lokasi bermain anak-anak saja lho, namun juga terdapat restoran dua lantai dengan sajian kuliner nusantara.


“Kita kan memang pionernya tempat makan yang menyediakan playgroud ya dan kita ada beberapa cabang. Nah untuk di Serpong ini kita lebih menonjolkan restorannya tapi tetap ada tempat bemain dengan ragam pilihan untuk anak,” kata Muhammad Yusuf Mulyo Utomo, Kepala Cabang The Nice Garden Serpong, Selasa (16/7/2024).

Baru beroperasional semenjak Desember 2023, Yusuf mengatakan bahwa animo masyarakat sangat tinggi. Apalagi saat momen liburan sekolah kemarin.

“Selama 2 bulan terakhir kemarin animonya luar biasa, bahkan sampai jam makan malam itu masih ramai. Enggak hanya di restoran, tapi juga di area bermain juga masih ramai. Mungkin karena memang masyarakat mau memanfaatkan waktunya di momen liburan sekolah,” dia menambahkan.

The Nice Garden Serpong di Tangerang SelatanThe Nice Garden Serpong di Tangerang Selatan. (Syanti Mustika/detikcom)

Harga tiket dan jam operasional

Harga tiket masuk untuk anak-anak adalah Rp 30 ribu per orang, baik untuk weekend maupun weekday. Sedangkan harga tiket untuk pendampingnya (orang dewasa) Rp 20 ribu per orang.

“Harga tiket kita itu sudah mencakup bermain di playground dan mini zoo. Jadi anak-anak bebas bermain sepuasnya di playground kita,” kata Yusuf.

Banyak permainan yang bisa dicoba oleh anak-anak di sini, mulai dari perosotan, jungkit-jungkitan, ayunan, sepeda roda tiga hingga area bermain pasir. Juga ada area memanjat untuk memacu adrenalin si buah hati.

Di sini juga ada rainbow slide, yang bisa juga dimainkan oleh orang dewasa lho. Tenang saja, ada pemandu dan penjaga yang mengawasi kamu bermain. Ikuti saja arahannya dan berseluncur!

Puas bermain, anak-anak juga bisa bertemu dan berinteraksi dengan beragam hewan-hewan lucu dan unik lho. Di sini ada monyet albino, monyet tupai, domba Merino, Burung Makaw, Marmoset, Kura-kura Sulcata, Ikan Koi, Marmut, dan Cincila.

Untuk jam operasional, The Nice Garden Serpong buka setiap hari. Saat weekday mulai pukul 09.00-21.00 WIB dan weekend 08.00-21.00 WIB.

The Nice Garden Serpong di Tangerang SelatanThe Nice Garden Serpong di Tangerang Selatan Foto: (Syanti Mustika/detikcom)
The Nice Garden Serpong di Tangerang SelatanThe Nice Garden Serpong di Tangerang Selatan Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Menikmati kuliner secara prasmanan

Setelah puas bermain, traveler bisa bersantai di restoran dengan menikmati sajian masakan nusantara yang disajikan prasmanan. Ada ayam goreng, sup iga, cumi hijau, olahan ikan, dan lainnnya.

“Kita penyajiannya menu nusantara, konsepnya kita pakai prasmanan. Salah satu andalan kita ada sop iga, daging sapi lada hitam dan untuk sayurnya kita ada daun singkong. Kita juga ada ikan nila dan ayam goreng. Sejauh ini yang jadi best seller kita ayam goreng dan ikan gurame,” ujar Yusuf.

Untuk harga makanan dan minuman di sini bervariasi, mulai dari Rp 5.000. Dan cara pemesanannya, traveler memilih nasi dan lauk di bagian prasmanan, lalu menuju kasir untuk melakukan pembayaran.

Setelah pembayaran, traveler bisa memilih meja yang berada di area outdoor atau indoor (ruang ber-AC).

The Nice Garden Serpong di Tangerang SelatanThe Nice Garden Serpong di Tangerang Selatan Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Fasilitas

Teruntuk menunjang kenyamanan pengunjung, di sini terdapat musala, toilet, lahan parkir yang luas, area playground, area bermain indoor, restoran, dan minizoo.

“Waktu terbaik untuk datang ke sini adalah pagi, saat kita baru buka pada pukul 09.00 WIB (weekdays) dan 08.00 WIB (weekend). Kalau mau kumpul santai bersama keluarga bagusnya datang sore karena tidak terlalu panas. Jadi suasana sudah mulai agak sejuk,” kata Yusuf.

“Kita juga ada jual kopi dan aneka minuman. Walau segmen kita adalah keluarga, namun bagi anak muda yang ingin nongkrong bisa kok. Ngadem saja di ruangan yang ber-AC dan seruput minumnya sembari menikmati view area playground,” dia menambahkan.

The Nice Garden Serpong di Tangerang SelatanThe Nice Garden Serpong di Tangerang Selatan Foto: (Syanti Mustika/detikcom)

Tips dan himbauan bermain

Traveler yang ingin membawa anak-anak bermain ke The Nice Serpong perlu memperhatikan kenyamanan dan keamanan anaknya. Mulai dari pakaian hingga diawasi saat bermain.

“Teruntuk para orang tua, mungkin dikondisikan anaknya untuk pakai pakaian yang nyaman untuk beraktivitas. Kalau memang mau datang di waktu siang, bisa menggunakan topi. Juga disarankan karena memang di beberapa area outdoor kita kan berundak, jadi memang harus selalu dalam pengawasan orang tua,” kata Yusuf.

“Kita memang menyediakan tim buat pengawasan, namun tetap kita selalu himbau buat orang tua juga ikut mendampingi dan mengawasi,” ujar dia.

Cara menuju ke lokasi dengan transportasi umum

Bagi traveler yang ingin menuju The Nice Garden Serpong dengan kendaraan umum, gampang kok. Traveler bisa naik KRL dengan titik pemberhentian di Stasiun Serpong. Dari stasiun lalu sambung dengan naik angkot sekitar 5 menit saja. Bilang saja ke supir angkotnya jika traveler ingin menuju ke playground ini.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

Gedung Candra Naya Bertahan Dipeluk Gedung-gedung Modern nan Menjulang



Jakarta

Jakarta Barat memiliki kawasan Pecinan terluas di Indonesia. Salah satunya ditandai dengan bangunan-bangunan bernuansa Tionghoa, salah satunya Gedung Candra Naya.

Gedung Candra Naya berada di Jalan Gajah Mada Nomor 188, Jakarta Barat. Gedung itu dulu merupakan rumah tinggal milik Mayor Khouw Kim An dan didirikan pada abad ke-19.

Gedung Candra Naya tak terlihat dari jalan raya. Gedung itu diapit oleh bangunan-bangunan tinggi seperti hotel, perkantoran, dan apartemen.


Gedung Candra Naya memiliki tiga bangunan asli. Satu bangunan utama dekat lobi hotel sedangkan dua lainnya berada di kedua sisi bangunan utama tersebut. Sebetulnya dulu ada empat bangunan namun kini sudah berubah menjadi apartemen.

Petugas keamanan yang berjaga di Gedung Candra Naya, Lutfi mengatakan bangunan tersebut merupakan ruangan selir dan bangunan itu memiliki dua tingkat.

Jakarta Barat memang terkenal dengan Pecinan Glodoknya, di area tersebut berjejal berbagai makanan hingga bangunan-bangunan bernuansa Tionghoa. Namun beranjak sedikit dari kawasan tersebut ada bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang telah melegenda. Bangunan itu adalah Gedung Candra Naya.Gedung Candra Naya di Glodok, bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang melegenda. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Saat detikTravel berkunjung Gedung Candra Naya, Rabu (17/7/2024) Lutfi menceritakan beberapa hal tentang gedung yang telah menjadi cagar budaya itu.

“Ini bangunan ada tiga bangunan, sisi selatan sama sisi utara, nah ini bangunan induknya. Ini rumah Khouw Kim An, dulu dibelakang ada (bangunan) dua lantai nah itu tempatnya para selir, sekarang udah dibongkar dimakan sama apartemen,” kata Lutfi.

Dari catatan sejarah yang berada di gedung tersebut, belum ada tahun pasti kapan bangunan ini resmi didirikan, yang pasti bangunan ini sudah ada sebelum Khouw Kim An lahir. Jadi entah sang kakek Khouw Kim An (Khouw Tjeng Tjoan) atau sang ayah (Khouw Tian Sek), anggapannya bangunan ini dibangun tahun 1807 oleh Khow Tjeng Tjoan untuk merayakan kelahiran anaknya yakni ayah dari Khouw Kim An di tahun 1808.

“Yang dari sejarah itu kemungkinan sekitar 1800-an ini bangunan dibangun, sekarang yang orang tahu tuh rumahnya Mayor Khouw Kim An. Nah itu Khouw Kim An sendiri adalah penerus, dia sebagai cucu bukannya sebagai yang punya (pendiri) bangunan ini jadi ini peninggalan rumah kakeknya,” ujar Lutfi.

Jakarta Barat memang terkenal dengan Pecinan Glodoknya, di area tersebut berjejal berbagai makanan hingga bangunan-bangunan bernuansa Tionghoa. Namun beranjak sedikit dari kawasan tersebut ada bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang telah melegenda. Bangunan itu adalah Gedung Candra Naya.Gedung Candra Naya, bangunan lama berarsitektur Tionghoa yang melegenda. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Khouw Kim An sendiri lahir pada 5 Juni 1879, berjalannya waktu rumah peninggalan keluarganya itu ditempati olehnya. Melanjut dari catatan di Gedung Candra Naya, Khouw Kim An menempati bangunan ini pada tahun 1934.

Khouw Kim An diberikan jabatan oleh Pemerintah Belanda kala itu untuk mewakili etnis Tionghoa di Batavia, tahun 1905 karena karirnya dianggap mumpuni alhasil pangkat letnan disematkan kepadanya. Dan kurang dari sepuluh tahun Khouw Kim An sudah dua kali naik jabatan, di tahun 1908 menjadi kapten dan 1910 menjadi mayor.

Ketika Bangsa Jepang masuk ke Indonesia di tahun 1942, dalam catatan Khouw Kim An ditahan oleh Jepang dan meninggal dalam tahanan pada 13 Februari 1945. Sepeninggal Khouw Kim An bangunan ini pun beberapa kali beralih fungsi.

Alih Fungsi dari Pusat Perkumpulan Warga Tionghoa hingga Pusat Pendidikan Candra Naya

Setelah Perang Dunia Kedua berakhir di tahun 1946, bangunan ini dipakai menjadi tempat bagi Asosiasi Xin Ming (perkumpulan sosial) yang memiliki tujuan sebagai pusat informasi bagi etnis Tionghoa kala itu. Berbagai kegiatan banyak asosiasi ini lakukan di antaranya membuat klinik diagnostik yang menjadi awalan dari Rumah Sakit Sumber Waras.

Selain itu juga beberapa kegiatan olahraga seperti biliar, bulu tangkis hingga kungfu. Dan gedung tersebut juga sempat jadi pusat pendidikan SD, SMP, SMA yang bernama Candra Naya, di tahun 1965 atas permintaan Organisasi Persatuan Etnis untuk mengganti nama gedung menjadi Gedung Candra Naya.

Kini di area belakang bangunan utama Gedung Candra Naya terdapat sebuah kolam ikan yang indah. Menurut Lutfi kolam tersebut bukan bawaan dari bangunan lama.

Ia mengetahui setelah bertanya kepada salah satu pengunjung yang ternyata sempat mengenyam pendidikan di SD Candra Naya.

“Kolam ikan itu baru, dulu lapangan tempat latihan kungfu. Soalnya saya dapat informasi ini semuanya itu memang dari alumni SD dulu yang di sini, saya tanya umurnya udah berapa? Udah 60 tahunan,” kata dia.

Gedung Candra Naya saat ini seperti tak lekang dimakan zaman, walaupun sudah ratusan tahun berdiri daya tarik bangunannya masih terus terjaga. Arsitektur China klasik terlihat dari berbagai ukiran yang ada di setiap bangunan tersebut, Lutfi juga menyebut juga kerap datang arsitek yang ingin melihat bangunan Candra Naya.

“Ada beberapa arsitek yang datang ke sini, liat-liat bangunan ini katanya buat referensi dia gitu,” ujar Lutfi.

Bangunan yang statusnya sudah menjadi cagar budaya ini tetap bertahan di tengah gempuran gedung tinggi di sekelilingnya. Jika ingin langsung melihat keindahan bangunan ratusan tahun ini, kamu bisa datang setiap harinya mulai pukul 08.00 hingga 20.00 WIB.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Ini Makam Dadong Guliang, Pengabdi Ilmu Hitam Abad 18 di Bali



Klungkung

Desa Akah di Klungkung, Bali menyimpan kisah Dadong Guliang, pengabdi ilmu hitam yang hidup di abad 18. Makamnya konon ada di desa ini. Bagaimana kisahnya?

Desa Akah konon terbentuk karena wabah yang dibuat oleh seorang wanita sakti di desa itu yang bernama Dadong (nenek) Guliang.

Tokoh Budayawan desa Akah, Jero Mangku Made Kasta, mengatakan Dadong Guliang tidak sekadar cerita rakyat, tapi benar adanya. Buktinya berupa sebuah kuburan hingga keberadaan desa Akah yang dipindah atas titah Raja Klungkung kala itu.


“Dadong Guliang itu adalah sosok perempuan sakti yang berkelana dari Guliang Bangli, hingga akhirnya tiba di wilayah kami,” kisah Mangku Kasta beberapa waktu lalu.

Kuburan yang diyakini sebagai tempat peristirahatan Dadong Guliang itu berada di atas lahan pekarangan warga setempat.

Terdapat palinggih (tempat suci) dibalut kain poleng yang berdiri di samping sebuah pohon ancak besar. Pohon itu sebagai penanda kuburan Dadong Guliang.

Palingging di Desa Akah yang dikaitkan dengan Dadong Guliang, Klungkung, Bali, Minggu (19/5/2024). (Putu Krista/detikBali)Palingging di Desa Akah yang dikaitkan dengan Dadong Guliang, Klungkung. (Putu Krista/detikBali)

Kasta menuturkan, zaman dulu jarang ada nama jelas. Biasanya orang-orang hanya menyebut asal. Salah satunya Dadong Guliang ini.

“Kedatangannya ini ternyata membawa musibah karena Dadong Guliang memiliki kesaktian atau black magic yang tidak tertandingi. Bahkan, dengan kesaktiannya mampu menaklukkan tokoh-tokoh di desa Akah kala itu,” imbuhnya.

Karena dadong menebar magic di kawasan itu, warga resah hingga akhirnya melapor kepada Raja Klungkung.

Raja Klungkung kala itu menitahkan warga untuk mengungsi dari wilayah Tempek Pekarangan Uma Dalem (saat ini menjadi Dusun Hyang Api) ke sisi timur sungai (Tukad Kunyit) untuk menghindari sihir Dadong Guliang. Tempat pengungsian tersebut yang kemudian diberi nama Desa Akah.

“Dulu setelah ditinggal tempat itu sepi dan hanya tinggal dadong saja. Hingga saat ini masih ada bukti pohon-pohon besar di sisi barat sungai,” jelas mantan wakil bupati Klungkung ini.

Bukan hanya mengungsi, warga setempat juga sampai memindahkan Pura Dalem ke Banjar Pekandelan, Desa Pakraman Akah. Sedangkan bekas lokasi Pura Dalem yang lama kini sudah berubah menjadi carik (sawah) yang disebut Carik Dalem.

Demikian pula bekas pemukiman warga sebelum ditinggal mengungsi kini sudah berubah menjadi sawah. Tempat itu dinamai Carik Paumahan karena sempat ada rumah di sana.

Karena usia, ajal pun menjemput Dadong Guliang. Jenazah Dadong Guliang langsung dikuburkan di tegalan kawasan Dusun Hyangapi, tepatnya di tegalan milik keluarga Ketut Konten.

“Hingga saat ini keluarga ini yang masih rutin menghaturkan sesajen, termasuk warga dusun setempat,” sebut Mangku Kasta.

Kesaktian Dadong Guliang

Dadong Guliang dikenal memiliki kesaktian tinggi terutama dalam ilmu hitam (Penestian). Kesaktian itu ia gunakan untuk menyakiti warga setempat, bukan untuk membantu. Hingga pada masa itu, banyak warga desa adat yang meninggal akibat ulah sosok ini.

Menurut Mangku Kasta, Hyang Api adalah tempat itu dulunya sangat angker dan panas, tidak layak ditempati, serta merupakan kekuatan yang dahsyat.

“Hingga saat ini juga masih dipercaya jika ada anak menangis bisa memohon (agar anak tenang) di palinggih tersebut. Selain itu juga ada yang percaya di tempat itu bisa mohon keturunan,” terang Mangku Kasta.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Masjid Tua Al Mubarok, Berumur Ratusan Tahun, Tempat Sejuk buat Karyawan Jaksel



Jakarta

Di Jakarta Selatan terdapat salah satu masjid yang berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan. Masjid Tua Al Mubarok.

Masjid itu berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Dari sejarahnya, masjid tersebut merupakan peninggalan dari Syekh Arkanuddin atau Pangeran Adipati Awangga yang memiliki gelar Pangeran Kuningan yang berasal dari Cirebon.

Di masjid itu terdapat sebuah prasasti yang memastikan usia bangunan tersebut. Di sana tertulis masjid tersebut dibangun pada 1527.


Tahun tersebut bukan merujuk kepada bangunan mushola yang didirikan oleh Pangeran Kuningan bersama pasukannya, yang saat itu menempati kawasan tersebut. Tetapi, tahun itu merupakan pembangunan Masjid Tua Al Mubarok oleh warga di sekitar masjid. Lokasinya pas di mushala Pangeran Kuningan.

Musala yang dibangun Pangeran Kuningan dan pasukannya itu

Bendahara Masjid Tua Al Mubarok, Budi Raharjo, menceritakan kepada detikTravel, Jumat (19/7/2024) ada hal menarik dari pembangunan awal masjid tersebut, yakni berasal dari sebuah mimpi.

Konon, masjid yang dibangun oleh Pangeran Kuningan itu hanya terbuat dari kayu dan begitu sederhana.

“Nyi Imeh itu mimpi, dulu masjid ini terkenal dengan nama Masjid Rusak karena ya udah nggak terurus gitu. Di Masjid Rusak itu banyak orang datang pake jubah, pake pakaian putih ini dalam mimpinya, dia ngeliat banyak yang sembahyang di sini, itu akhirnya ngomong sama keluarga atau masyarakat di sini akhirnya dibangun lah masjid lagi,” kata Budi.

Masjid itu dibangun pada 1850 oleh Guru Simin dan Guru Jabir. Seiring berjalannya waktu, masjid itu kembali dimakan oleh zaman, sekiranya tahun 1915. Masjid Rusak kembali mengalami renovasi karena kala itu bangunannya masih terbuat dari kayu.

“Akhirnya di tahun 1925 itu digunakan sholat berjamaah rame-rame, kalau dulu kan mungkin hanya terbatas. Nah di tahun itu bangun untuk orang-orang banyak lah,” sambungnya.

Budi juga menerangkan kala pembangunan masjid pada 1925, bangunan masih kayu meskipun jamaah sudah banyak. Dan, secara terus menerus bangunan ini selalu diperbaiki oleh masyarakat.

Masjid Tua Al Mubarok berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Masjid ini telah berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan.Masjid Tua Al Mubarok berdiri tegak di pinggir Jalan Gatot Subroto yang tak jauh dari Museum Satriamandala. Masjid ini telah berumur ratusan tahun dan menjadi sebuah saksi perkembangan wilayah Kuningan. (Muhammad Lugas Pribady)

Barulah di tahun 1996 bangunan masjid diperbaiki dan menggunakan beton hingga bisa berdiri hingga saat ini. Pembangunan tersebut dikatakan oleh Budi atas inisiasi pengurus masjid kala itu di antaranya adalah Haji Wardi.

“1925 yang dibangun sama guru itu ya masjid dari kayu aja tapi besar, nah dari kayu pun itu udah berubah-ubah kan mulai dari zamannya siapa diperbaiki. Jadilah pengurus terakhir itu zamannya Haji Wardi dibangunlah masjid ini, ya sampai sekarang,” kata dia.

“Dari zaman dulu posisinya di sini zaman dulu nggak berubah titiknya di sini,” ujar Budi.

Kini, peninggalan lawas masjid itu tidak banyak lagi. Budi mengatakan satu barang yang tersisa hanya jam yang berada di dekat mimbar. namun ia juga tak yakin jam tersebut berada di dalam masjid sejak tahun berapa.

Makam Pangeran Kuningan

Selain membahas tentang perjalanan Masjid Tua Al Mubarok, Budi juga menjelaskan kenapa nama wilayah ini Kuningan adalah untuk mengenang Pangeran Kuningan yang berada di kawasan ini dari 1527 hingga meninggal pada 1579. Budi juga menjelaskan letak makam yang letaknya bukan di area masjid.

“Meninggalnya itu 1579 kalau dia datang 1527, dia meninggal dan sekarang makamnya ada di (area perkantoran) Telkom,” sebut dirinya.

detikTravel pun penasaran dengan keberadaan makam sang pangeran yang berada di tengah perkantoran. Merujuk cerita dari Budi dan informasi dar penjaga, Makam Pangeran Kuninganberada di dekat lobi gedung dan dekat dengan sebuah mini market.

Dengan sejarah yang membersamai masjid ini jadi cerita sendiri bagi para jemaah. Selain sebagai tempat beribadah, tempat ini juga kerap dipakai untuk tempat istirahat para karyawan-karyawan di sela pekerjaan mereka.

Suasana yang rindang dan sejuk menjadi idaman di tengah-tengah panas matahari dan bisingnya jalanan Ibu Kota. Masjid Tua Al Mubarok dan makam Pangeran Kuningan oleh pemerintah daerah telah ditetapkan sebagai Monumen Ordonansi No 238 tahun 1931 melalui Lembaran Daerah No 60 tahun 1972 dan juga menjadi situs sejarah.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com