Tag Archives: bitcoin

CEO MicroStrategy Tepis Isu Margin Call saat Bitcoin Anjlok

Perusahaan MicroStrategy disinyalir akan mengalami margin call pada nominal sebesar US$ 205 juta. Kemungkinan ini bisa terjadi apabila jika BTC jatuh lebih jauh pada angka yang dikhawatirkan. Akan tetapi, CEO Michael Saylor telah memberikan pernyataan bahwasanya perusahaan “siap untuk HODL bila skenario buruk terjadi”.

HODL sendiri merupakan langkah untuk menahan aset merujuk pada strategi buy and hold di kalangan investor kripto.

Klaim yang sama juga datang dari Chief Technology Officer (CTO) MicroStrategy, Phong Lee pada awal bulan lalu. Ia meyakinkan kepada para pemegang aset Bitcoin tidak perlu khawatir saat datangnya “musim dingin kripto”.

“Sebutulnya Bitcoin harus terjun hingga setengah harga atau sekitar US$ 21.000 sebelum kita mengalami margin call,” ungkap Lee kepada investor saat rapat triwulan, Rabu (15/6).

Namun, pada kenyataannya pagi ini harga Bitcoin sempat meluncur turun dan berada di bawah angka US$ 21.000. Penurunan ini sendiri merupakan yang terendah selama 52 minggu, sebelum naik lagi pada angka US$ 22.260 saat tulisan ini terbit.

Baca juga: Mengenal Kripto Paris Saint-German Fan Token (PSG) dan Beam (BEAM)

Penurunan ini memaksa MicroStrategy untuk mengambil pinjaman dari Silvergate Bank sebesar US$ 205 juta pada Maret lalu hanya untuk menimbun Bitcoin. Jika harga BTC jatuh dan berada di bawah US$ 21.000 untuk periode yang lama, maka hal tersebut akan memicu margin call pada pinjaman MicroStrategy.

Saat skenario tersebut benar-benar terjadi, maka perusahaan menurunkan puluhan ribu Bitcoin ke pasar pada posisi bearish. Dari laporan pendapatan terbaru, saat ini MicroStrategy tengah memegang aset investor sebesar 129.218 BTC.

Kendati demikian, Michael Saylor selaku CEO MicroStrategy lewat media sosial Twitter menyatakan, dirinya bakal menggandakan permainan Bitcoin dalam perusahaannya. Dia mengatakan bahwa perusahaannya akan menghadapi badai pasar ini dengan tingkat keparahan yang jauh lebih besar.

Sementara itu, pinjaman di Silvergate Bank sendiri meminta jaminan sebesar US$ 410 juta. Saylor juga menjelaskan, bahkan jika harga Bitcoin anjlok di bawah harga US$ 21.000 dan memicu margin call, MicroStrategy masih memiliki aset BTC tambahan yang cukup sebagai jaminan.

Pasokan BTC itu tidak akan cukup untuk menjaminkan pinjaman jika harga BTC turun ke angka US$ 3.562.

“Dalam peristiwa seperti ini, perusahaan MicroStategy memiliki jaminan lebih lanjut untuk kedepannya,” ujarnya.

Baca juga: Peningkatan Suku Bunga Fed Diisukan Segera Datang, Ini Dampak ke Bitcoin

Faktanya, dalam jarak satu bulan lalu CTO MicroStrategy meyakinkan pemegang saham bahwa peristiwa seperti hari ini tidak akan pernah datang. Hal tersebut tidak sesuai dengan votalitas saat ini dan ketidakpastian kapan aset BTC akan berada pada titik terendah.

Bila harga Bitcoin semakin turun dan MicroStrategy tidak dapat mempertahankan US$ 410 juta dalam bentuk pinjaman, maka perusahaan terpaksa menjual Bitcoin dalam jumlah besar sekaligus mengembalikan pinjaman.

Hal itu akan membuat harga keuangan kripto akan menjadi lebih anjlok dan berpotensi menyebabkan efek riak di pasar dengan skala yang lebih luas.

Tetapi, Saylor dan MicroStrategy tetap pada keyakinannya, setidaknya di publik bahwa hari itu tidak akan pernah datang. Pasar pun akhirnya memberikan perhatian, dengan naiknya saham perusahaan hampir 3 persen hari ini, setelah terjun bebas 54 persen selama kehancuran kripto bulan lalu.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Peningkatan Suku Bunga Fed Segera Datang, Ini Dampak ke Bitcoin

The Fed atau dikenal bank sentral AS diisukan bakal kembali meningkatkan suku bunga untuk kedua kalinya secara berturut-turut sebanyak setengah poin persentase.

Peningkatan suku bunga ini dapat terjadi, saat melonjaknya harga konsumen. Lonjakan ini berujung pada peningkatan data rumah tangga dan faktor lainnya, yang menjadi indikasi jelas bahwa suku bunga akan naik lagi.

Hal tersebut diperkuat saat Ketua The Fed, Jerome Powell tidak dapat memberikan pernyataan kemenangan melawan inflasi. Kabar tersebut diketahui setelah data konsumen naik lebih dari ekspektasi, yakni sebesar 8,6 persen dalam data year-to-year.

“The Fed perlu menunjukkan tekad. Mereka tidak boleh terlihat kurang yakin untuk mengatasi inflasi yang membandel dan terus-menerus ini. Dua pertemuan berikutnya harus menjadi kenaikan setengah poin.” ungkap Kepala Strategi Ekuitas The Private Bank di Union Bank, Todd Lowenstein.

Baca juga: USDD Tron Turun dari $ 1, Ikuti Jejak UST?

Namun, the Fed menurut beberapa pihak tidak harus agresif, seperti beberapa waktu lalu melakukan pelepasan aset seperti obligasi. Selain itu, the Fed juga meningkatkan pencetakan uang dan suku bunga. Ini merupakan langkah “gila” yang dilakukan untuk mencoba melawan inflasi di depan mata.

Kekhawatiran pun datang dari segala sisi, yang mengklaim bahwa menaikkan suku bunga justru bukan sebuah jawaban untuk inflasi. Hal ini, justru hanya akan menjatuhkan ekonomi AS lebih keras. Di samping itu, hiperinflasi pun juga dinilai menjadi kekhawatiran tersendiri.

Apakah Bitcoin akan Merosot?

Ketika kenaikan suku bunga telah diterapkan, serta data AS menunjukkan sikap The Fed yang lebih agresif, maka selera risiko global akan menyusut.

Kenaikan ini akan berpengaruh pada minat pada pasar aset berisiko, seperti saham dan aset kripto. Kedua asset ini diperkirakan akan jatuh sehingga menyeret harga Bitcoin dan altcoin ke bawah. Semakin rendah dan terpuruk tanpa ada kejelasan kapan bottom akan tercipta.

Selama isu kenaikan suku bunga berlanjut, maka pasar kripto diperkirakan akan kembali melemah. Titik balik kebangkitan kripto baru bisa dilihat saat The Fed mereda, atau bahkan ketika dolar AS akhirnya jatuh.

Baca juga: Blockware: 8 Tahun Lagi 10% Penduduk Dunia Gunakan Bitcoin

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Blockware: 8 Tahun Lagi 10% Penduduk Dunia Gunakan Bitcoin

Perusahaan infrastruktur pertambangan dan jaringan Bitcoin, Blockware Solutions, merilis hasil riset yang menyebutkan di tahun 2030 10% penduduk dunia akan mempunyai atau mengadopsi Bitcoin. 

Pertumbuhan adopsi Bitcoin diprediksi akan lebih cepat dari perkiraan sejumlah ahli. Bahkan, hasil riset tersebut meneybutkan bahwa pertumbuhan adopsi BTC akan lebih kencang dari penggunaan internet. 

Dalam laporan yang dirilis pada Rabu, 8 Juni 2022,  perkiraan ini dihitung berdasarkan kurva adopsi dari sembilan jenis kategori teknologi disruptif. Diantaranya, mobil, tenaga listrik, smartphone, internet dan media sosial. Laporan ini pun menghitung kurva adopsi BTC sejak tahun 2009.

“Semua teknologi yang mendisrupsi mengikuti pola kurva S eksponensial yang serupa, tetapi […] teknologi berbasis jaringan yang lebih baru terus diadopsi jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan pasar,” tulis laporan tersebut. 

Sumber: Blockware Solutions

Baca juga: Mengenal Aset Kripto Ontology Gas (ONG) dan VIDT Datalink (VIDT)

Berdasarkan metrik Cumulative Sum of Net Entities Growth (CAGR) dan prediksi Bitcoin, laporan tersebut memperkirakan dalam 8 tahun ke depan 10% penduduk bumi atau sekitar 780 juta jiwa (berdasarkan jumlah perkiraan penduduk bumi 2022: 7,8 milyar) akan memilki Bitcoin.

 “CAGR 60% kami memperkirakan bahwa adopsi Bitcoin global akan menembus 10% pada tahun 2030,” tulis laporan itu. 

Prediksi terkait kurva adopsi BTC pun sebelumnya pernah dilakukan oleh sejumlah lembaga dan analis. Salah satu yang dibuat oleh mantan karyawan Google, Michael Levin.

Levin mengatakan, dalam 12 tahun  mendatang, mengutip laporan Visbitcoin, BTC akan mencapai 1 miliar pengguna pada tahun 2025. Prediksi serupa telah dibuat oleh analis Willy Woo. Mereka berdua setuju bahwa Bitcoin akan mencapai tonggak sejarah 1 miliar penggunanya dalam rentang waktu lebih cepat setengahnya dari pertumbuhan pengguna internet. 

Sumber: Visbitcoin melalui Michael Levin

Baca juga: Token Kripto Metaverse Terus Tumbuh, meski Market Bearish

Pertumbuhan Pengguna BTC Berkembang Pesat

Adopsi aset kripto telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir. Menurut data dari TripleA, gateway pembayaran aset kripto global, pada tahun 2021, tingkat penggunaan aset kripto global mencapai rata-rata 3,9%, atau sekitar 300 juta pengguna. di seluruh dunia, 

Se,entara itu, platform data blockchain, Chainalysis tahun lalu mengungkapkan bahwa adopsi global Bitcoin dan aset kripto melonjak 881% dari Juli 2020 hingga Juni 2021. Di mana adopsi tertinggi akan terjadi di wilayah Asia. 

Pada bulan April, sebuah survei yang dilakukan oleh pertukaran aset kripto, Gemini menemukan bahwa adopsi kripto meroket pada tahun 2021 di negara-negara seperti India, Brasil dan Hong Kong.  Karena lebih dari setengah responden dari 20 negara yang disurvei menyatakan bahwa mereka mulai berinvestasi di kripto pada tahun 2021.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Market Awal Pekan: Bitcoin Terpuruk di Bawah Tekanan Inflasi Tinggi

Market aset kripto pada awal pekan ketiga Juni 2022, terlihat mengalami pelemahan harian terparah. Tampak “cuaca buruk” menyelimuti market pasca data inflasi tahunan Amerika Serikat pada Mei lalu, ternyata menyentuh 8,6% dan menjadi rekor tertingginya dalam empat dekade terakhir.

Melansir situs CoinMarketCap pada Senin (13/6) pukul 09.00 WIB, 10 aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar ada big cap kompak terjebak di zona merah dalam 24 jam terakhir. Nilai Bitcoin (BTC) saja turun 8,67% ke $ 25.825 per keping dalam sehari terakhir.

Sementara nasib altcoin lain seperti Ethereum (ETH) tidak jauh berbeda turun 10% ke $ 1.356 di waktu yang sama. Cardano (ADA), Solana (SOL) dan Dogecoin (DOGE) mengalami penurunan yang paling signifikan, masing-masing 13,78%, 13,43% dan 12,13%.

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan investor terlihat panik dan cenderung menghindari market kripto setelah AS mencetak inflasi tahunan 8,6% di Mei 2022. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari estimasi analis 8,3% dan merupakan laju inflasi terkencang sejak 1981.

“Kepanikan investor bukan tanpa alasan. Tadinya, mereka meyakini bahwa siklus inflasi tinggi di AS sudah selesai pada Maret lalu. Sehingga, mereka tak menduga bahwa inflasi Mei malah meroket. Hal ini membuat tekan The Fed akan mengerek suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin untuk bulan ini dan bulan depan,” kata Afid.

market aset kripto
Ilustrasi market aset kripto.

Baca juga: Nasib Aset Kripto LUNA 2.0 dan LUNC di Indonesia, Bisakah Diperdagangkan?

Korelasi Market Kripto dan Inflasi

Lebih lanjut Afid menjelaskan sebenarnya, inflasi bisa tak berkorelasi langsung dengan kinerja market aset kripto. Ia memberi contoh kasus di masa lalu, tingginya inflasi bisa berdampak baik bagi permintaan dan laju harga Bitcoin mengingat statusnya sebagai aset penyimpan kekayaan (store of value), seperti layaknya emas.

“Saat ini teori tersebut tampaknya tidak berlaku lagi. Kondisinya sudah berbeda. Market kripto sudah banyak dimasuki oleh investor institusi yang melihat dinamika makroekonomi sebagai indikasi untuk keputusan di pasar,” jelasnya.

Investor institusi yang sudah banyak masuk ke dalam market kripto, bisa mengurangi porsi aset berisiko di dalam portofolio mereka atau derisking. Dengan banyaknya jumlah dana kelolaan mereka di market cukup besar, aksi jual investor institusi bisa sangat mempengaruhi performa pergerakan aset kripto.

Ilustrasi market kripto
Ilustrasi market kripto.

Selain karena antisipasi data ekonomi, investor juga enggan all-out di market disebabkan harga beberapa aset kripto belum benar-benar menyentuh titik bottom-nya. Investor masih berpikir atau ragu-ragu untuk menjalankan strategi buy the dip.

Baca juga: Analisis Nilai Bitcoin yang Kembali Masuk ke Harga $ 30.000

Level Support Bitcoin Terus Turun

Nilai Bitcoin terus turun dari level resistensi $ 33.000 minggu lalu, yang mengindikasikan hilangnya momentum kenaikan. Itu menurunkan kemungkinan BTC bakal bisa reli dalam waktu dekat.

Perdagangan BTC secara kasar terlihar datar selama seminggu terakhir dan telah terbatas pada rentang perdagangan yang berombak. Level support awal terlihat di $ 25.000, yang mendekati harga terendah sejak 12 Mei lalu.

Afid menjelaskan momentum pada grafik harian telah melemah selama beberapa minggu terakhir, menunjukkan tren turun BTC dari November tahun lalu dapat berlanjut dalam jangka pendek. Tren turun didefinisikan oleh harga tertinggi yang lebih rendah dan harga terendah yang lebih rendah.

Grafik mingguan Bitcoin menunjukkan support/resistance, dengan RSI di bagian bawah. (Damanick Dantes/CoinDesk, TradingView).
Grafik mingguan Bitcoin menunjukkan support/resistance, dengan RSI di bagian bawah. (Damanick Dantes/CoinDesk, TradingView).

Level support BTC dalam grafik 200-week moving average, saat ini berada di $ 22.294. Namun, penurunan harga yang tajam pada akhirnya bisa stabil di $ 17.673, yang merupakan retracement 78% dari tren naik BTC sebelumnya dari Maret 2020 hingga November 2021,” tuturnya.

Menurut Relative Strength Index (RSI) pada grafik mingguan terlihat oversold, yang berarti tekanan jual bisa mereda selama beberapa minggu ke depan. Namun, pembacaan oversold tidak menunjukkan harga pasti yang rendah, terutama dalam konteks tren turun.

Baca juga: Tiga Alasan Harga Ethereum Berisiko Turun 25% di Juni 2022



Sumber : news.tokocrypto.com

Pasar Sepekan: Market Kripto Bergerak Labil, Investor Terlihat Ragu

Pergerakan market aset kripto dalam seminggu terakhir masih mengalami tekanan. Meski, sempat comeback di tengah pekan, rupanya hal tersebut sulit berlanjut. Pasalnya, investor masih “malu-malu kucing” untuk all-out dalam perdagangan aset kripto. 

Secara keseluruhan sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap kembali ke zona merah dalam satu hari terakhir. Misalnya saja, Bitcoin yang kembali diperdagangkan dengan nilai $ 30.070 atau turun 1,28% dalam 24 jam terakhir, seperti terpantau dari situs CoinMarketCap pada Jumat (10/6) pukul 15.00 WIB.

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan perdagangan aset kripto Bitcoin kemungkinan besar masih terus akan berada di sekitar level $ 30.000 dalam waktu dekat. Pasalnya, investor masih menunggu laporan inflasi ekonomi AS yang dapat memicu ekspektasi pasar.

“Pergerakan nilai Bitcoin kemungkinan besar masih akan sideways di level $ 30.000. Investor sepertinya masih bakal kurang bergairah masuk ke pasar kripto lantaran wait and see data inflasi AS terbaru dan dampak pengumuman kebijakan moneter Bank Sentral Eropa. Jika inflasi AS masih meradang, maka ada kemungkinan The Fed bakal mengerek suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin pada bulan ini,” kata Afid.

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono
Trader Tokocrypto, Afid Sugiono. Foto: Tokocrypto.

Baca juga: Analisis Nilai Bitcoin yang Kembali Masuk ke Harga $ 30.000

Seperti diketahui, Bank Sentral Eropa telah mengumumkan kenaikan suku bunga acuannya yang pertama dalam lebih dari satu dekade terakhir untuk mengatasi inflasi yang meroket. Kebijakan tersebut bisa jadi sinyal bagi The Fed untuk mengetatkan kebijakan moneternya. Diperkirakan inflasi di AS masih menembus jauh di atas 8%, level tertinggi dalam empat dekade.

“Ketika The Fed mengerek suku bunga acuannya, maka tingkat imbal hasil instrumen berpendapatan tetap bakal meningkat, begitupun dengan nilai dolar AS. Alhasil, aset berisiko jadi dipandang tidak menarik dan menjadi lebih mahal di mata investor,” jelas Afid.

Sentimen Negatif Masih Bayangi Market Kripto

Sentimen negatif juga datang dari Bank Dunia yang memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 4,1% menjadi 2,9% di tengah kekhawatiran inflasi. Sementara itu, dampak dari invasi Rusia ke Ukraina berlanjut dengan harga minyak mentah yang melonjak.

Di samping perkara makroekonomi, stagnannya transaksi perdagangan kripto juga disebabkan oleh keragu-raguan investor soal titik bottom harga aset kripto, sehingga belum melakukan strategi buy the dip. Meski, aset kripto diperdagangkan di rentang harga yang gitu-gitu aja dalam beberapa waktu terakhir, sebagian investor yakin bahwa titik harga saat ini bukanlah titik terendahnya.

“Keraguan ini buat market kripto jadi stagnan. Karenanya, market membutuhkan beberapa katalis baru untuk keluar dari kelesuan ini dan kemungkinan masih butuh waktu untuk market bullish,” pungkas Afid.

ilustrasi membeli bitcoin
Ilustrasi Bitcoin.

Baca juga: Persib Luncurkan Fan Token Kripto Ikuti Jejak AC Milan dan Barcelona FC

Nasib Token Kripto LUNA 2.0 di Indonesia

Pembahasan soal token aset kripto LUNA 2.0 (LUNA) masih terus ramai diperbincangkan. Afid menjelaskan saat ini token jaringan baru Terra, yakni LUNA belum bisa diperdagangkan di Indonesia, karena belum memiliki lisensi dari Bappebti. Oleh karenanya, airdrop sebagai kompensasi bagi investor yang terkena dampak dari keruntuhan jaringan Terra lama belum bisa direalisasikan.

“Airdrop LUNA akan dikirim ke alamat wallet terakhir di yang memiliki LUNC di Tokocrypto. Merekan berhak mendapatkan airdrop, tetapi kita masih dalam kajian untuk LUNA, kalo kita sudah listing LUNA bisa langsung diterima,” jelas Afid.

Melihat perkembangan yang ada saat ini, Afid mengatakan airdrop LUNA 2.0 belum bisa dilakukan di wallet akun Tokocrypto, karena aset kripto tersebut belum terdaftar di Bappebti. LUNA 2.0 masih menjalani pengkajian untuk memenuhi due diligence sebagai aset kripto terdaftar sesuai dengan Peraturan Bappebti No. 7 Tahun 2020 Tentang Penetapan Daftar Aset Kripto yang Dapat Diperdagangkan di Pasar Fisik Aset Kripto.

Untuk pembahasan mengenai perdagangan aset kripto LUNA 2.0 di Indonesia bisa simak di artikel TokoNews di link ini.

Baca juga: Bitcoin Kembali ke Harga $ 31 Ribu, Hati-hati False Breakout



Sumber : news.tokocrypto.com

4 Cara Simpan Bitcoin yang Aman pada Wallet Kripto

Tak bisa dipungkiri, dunia maya rentan sekali terjadi scam dan bisa dibilang tidak sepenuhnya ramah, termasuk ketika kita bertransaksi dan menyimpan aset kripto. Meski begitu, bukan berarti tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk mencegah terjadinya pencurian aset kripto. Berikut adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan dan kombinasikan untuk menyimpan aset kripto, termasuk Bitcoin, dengan lebih aman di wallet kripto.

4 Cara Menyimpan Aset Kripto yang Aman

Anda bisa melakukan 4 cara ini agar penyimpanan aset di wallet kripto lebih aman. Ini dia caranya!

1. Pilih wallet yang terpercaya

Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah memilih wallet yang terpercaya. Sekarang ini, ada banyak sekali jenis wallet kripto yang bisa Anda pilih. Jika dikelompokkan berdasarkan mekanisme kerjanya, wallet khusus menyimpan aset kripto bisa dibagi menjadi dua, yaitu hot wallet dan cold wallet.

Hot wallet merupakan jenis dompet kripto yang berupa suatu platform atau software. Dompet yang satu ini terhubung langsung dengan internet. Sedangkan, cold wallet adalah jenis penyimpanan aset kripto yang berupa hardware dan tidak terhubung langsung dengan internet.

Jika melihat mekanisme kerjanya, cold wallet menawarkan keamanan yang lebih baik dibandingkan dengan hot wallet karena tidak terhubung langsung dengan internet. Kunci pribadi (private key) Anda akan disimpan dalam sebuah perangkat keras yang memang didesain khusus menyimpan aset kripto. Kunci juga tidak bisa diubah menjadi teks biasa karena telah dilindungi oleh fitur keamanan microcontroller.

Apa itu altcoin seasons

Ilustrasi aset kripto.

Baca juga: Aset Kripto Lokal Bisa Tingkatkan Potensi Perekonomian Digital RI

Nah, ini dia ada tips dalam memilih wallet crypto yang terpercaya:

  1. Tentunya, fitur keamanan harus Anda perhatikan. Jika memilih hot wallet, pastikan Anda memilih website dengan https, bukan http. Karena ini tentunya akan menambah keamanan yang ekstra bagi dompet Anda. Jika cold wallet, pastikan dompet yang dipilih memiliki bahan yang kuat dan tahan lama
  2. Selanjutnya, kemudahan akses dari wallet pun harus diperhatikan. Jika Anda memilih hot wallet, setidaknya pilih yang bisa diakses melalui perangkat seluler. Sedangkan jika memilih cold wallet, pilih dengan bentuk dompet yang tidak terlalu besar
  3. Yang tak kalah penting, Anda juga harus tahu kemampuan penyimpanan dari wallet yang hendak dipilih. Apakah ia bisa menyimpan aset kripto yang hendak Anda beli atau tidak
  4. Selain itu, Anda bisa memilih dompet yang bisa mengkonversi satu aset kripto menjadi aset kripto lainnya. Nah, dengan adanya fitur ini akan menguntungkan pemilik jika ingin melakukan arbitrase aset kripto. Salah satu dompet yang mempunyai fitur ini ialah Exodus
  5. Terakhir, hendaknya Anda harus mengetahui apakah dompet yang ingin dipilih kompatibel atau cocok dengan berbagai macam perangkat. Karena setiap pengguna memiliki sistem operasi yang berbeda. Misalnya pada iOs, Android, Windows, Linux, mereka berbeda. Makanya, Anda harus memilih dompet yang bisa mendukung berbagai sistem operasi tersebut agar bisa lebih fleksibilitas.

Baca juga: Hot Wallet dan Cold Wallet, Mana yang Lebih Aman?

2. Gunakan beberapa wallet

jenis wallet kripto untuk menyimpan aset kripto

Ada baiknya ada membagi aset kripto dan menyimpannya dalam beberapa wallet yang berbeda. Kebanyakan pemilik hanya akan menggunakan hot wallet atau online wallet untuk aset kripto dalam jumlah kecil. Sisanya akan disimpan dalam beberapa cold wallet atau hardware khusus penyimpanan aset kripto.

Langkah ini sangat efektif untuk mencegah kerugian dalam jumlah besar. Anda masih bisa menyelamatkan sejumlah aset kripto jika ada satu wallet yang terserang virus atau ancaman keamanan lainnya.

3. Menerapkan multi-signature

Bagi pemilik aset kripto yang jumlahnya besar, terdapat opsi perlindungan multi-signature. Proteksi keamanan ini juga umum digunakan oleh perusahaan yang memiliki aset kripto. Dengan multi-signature ini, maka sebuah wallet akan memiliki beberapa kunci pribadi atau private keys. Aset kripto tidak akan bisa diakses jika kunci pribadi tersebut tidak lengkap. Akses juga tidak akan diberikan jika kunci pribadi lengkap namun terdapat kesalahan pada salah satu atau beberapa kunci.

Katakanlah Anda menerapkan wallet dengan tiga kunci pribadi. Anda memegang salah satu kunci dan dua sisanya dipegang pihak lain. Anda tidak akan bisa mengambil aset kripto yang tersimpan jika pihak lain yang memegang kunci pribadi tidak memberikan persetujuan.

Ilustrasi aset kripto.

Ilustrasi aset kripto.

Baca juga: Tips Kelola Gaji untuk Investasi Kripto #SiapLebihCuan Bareng Tokocrypto dan GoPay

4. Simpan private key atau seed phrase secara offline

Pada dasarnya, tiap aset kripto dilengkapi dengan sebuah private key atau seed phrase sebagai perlindungan pertama. Aset kripto hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki private key atau seed phrase tersebut. Bentuknya pun kebanyakan tidak rumit. Pada aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin misalnya, seed phrase hanya berupa deretan huruf dan angka.

Kebanyakan pemilik aset kripto biasanya akan menyalin kata kunci tersebut dalam bentuk tulisan manual, bukan file digital. Bahkan, mereka yang memiliki aset kripto dalam jumlah besar akan menyimpan kertas catatan tersebut dalam kotak penyimpanan khusus atau brankas yang disediakan oleh perusahaan penyimpanan dengan keamanan tingkat tinggi. Tak jarang pula orang mengukir seed phrase dari aset kripto mereka pada lempengan logam sehingga tidak mudah luntur atau rusak karena waktu.

Aset kripto dengan kapitalisasi tinggi seperti Bitcoin memang memerlukan perlindungan ekstra. Semakin besar nilai aset kripto yang Anda miliki, semakin besar pula ancaman keamanan yang mengintai. Untuk itu, perlindungan terbaik bisa Anda kombinasikan dengan cara di atas ketika penyimpanan aset pada wallet kripto.

Jika sudah tahu cara menyimpan Bitcoin dengan aman, pastikan juga Anda tahu tips dan trik ini sebelum membeli Bitcoin.

Ingin mengetahui tips lainnya seputar aset kripto? Yuk, kunjungi website Tokocrypto, Instagram, Twitter, serta bergabung di komunitas Tokocrypto!





Sumber : news.tokocrypto.com

Bitcoin Akan Melonjak ke Titik Tertinggi, Jika Momen Ini Terjadi

Aset kripto Bitcoin mengalami momen fluktuasi besar dalam beberapa pekan terakhir. Nilainya bahkan sempat anjlok hingga USD28.694 pada pertengahan Mei 2022.

Kabar baiknya, nilai aset kripto terbersar di dunia tersebut perlahan melonjak sejak penutupan Mei 2022. Pada pekan pembuka Mei 2022, Bitcoin berhasil kembali ke angka USD30.000 per tokennya.

Analis Altcoin, Austin Arnold mengungkapkan antusiasmenya atas masa depan token kripto tersebut setelah masa-masa penurunan pada Mei 2022 lalu.

Ia mengutip salah satu analisa dari layanan perdagangan aset kripto, Santiment yang juga mengungkapkan hal senada.

“Bitcoin, menyoroti pekan besar lainnya yang dipenuhi dengan perdagangan besar. Bitcoin menduduki posisi kedua di antara delapan non-stable coins dalam volume perdagangan total sepakan terakhir” tulis pemilik akun @santimentfeed pada Rabu, 3 Juni 2022.

Austin menampilkan bahwa perdagangan aset kripto Bitcoin tersebut disandingkan dengan beberapa aset lainnya, seperti ETH, BNB, DOGE, SOL, ADA, DOT, dan AVAX.

 Ia menjelaskan bahwa perdagangan aset kripto pada dasarnya tetap memenuhi konsep dasar yang dipahami mayoritas investor.

Baca juga: Persib Luncurkan Fan Token Kripto Ikuti Jejak AC Milan dan Barcelona FC

“BTC mengalami perdagangan, setiap penjualan akan disertai pembelian, begitu juga setiap pembelian diiringi penjualan,” ujar Austin.

Austin juga mengutip keterangan dari analis lainnya, yakni GlassNode yang mengungkapkan bahwa penjualan aset kripto tersebut mengalami perlambatan dalam beberapa periode terakhir.

“Penambang BTC telah menjadi jaringan distribusi sejak momen sell-off. Neraca penambang mengalami penurunan penjualan dari tingkat puncak nerasa 5.000 menjadi 8.000 BTC per bulannya,” tulis GlassNode di akun Twitter resminya @glassnode.

Menurut GlassNode, jumlah tersebut merupakan indikasi perlambatan kebiasaan belanja hingga 3.300 BTC per bulan.

Menanggapi fakta tersebut, Austin berpendapat bahwa para penambang secara kolektif memilih untuk mengambil sejumlah keuntungan dari penahanan aset kripto tersebut. Menurut Austin, hal tersebut menjadi latar belakang melambatnya tren fluktuasi Bitcoin dalam beberapa momen terakhir.

Namun di balik hal tersebut, Austin justru mengungkapkan optimismenya.

“Kabar baiknya adalah penurunan penjualan memperlambat tren, sehingga tampaknya tren akan berbalik lagi (menanjak, red), namun kita membutuhkan lebih banyak waktu dan informasi,” ujarnya.

Austin juga berpendapat bahwa analisa dan data tersebut membuat para investor dapat melalui masa-masa krusial nilai Bitcoin dengan kepercayaan diri yang lebih besar.

Tidak hanya itu, Austin juga menyajikan analisa lain dari Will Clemente yang menampilkan potensi kenaikan nilai Bitcoin secara fantastis.

Baca juga: Prediksi Harga Ethereum (ETH) Hari Ini: Teknikal Analisis (Update Setiap Minggu)

Austin mengungkapkan bahwa tidak hanya sejumlah penambang yang berusaha mengambil keuntungan dengan memperlambat tren dan menahan penjualan. Di sisi lain, terdapat sejumlah institusi yang juga memiliki pergerakan strategis pada aset kripto tersebut.

“Sangat menarik melihat arus masuk berkelanjutan ke Bitcoin oleh Canadian Purpose, Bitcoin ETF,” tulis Will Clemente.

Dalam keterangan tersebut, Canadian Purpose telah menambahkan 11.350 BTC dalam sebulan terakhir. Hal tersebut dinilai sebagai langkah yang sangat agresif di pasar kripto.

“Mereka secara agresif menambahkan Bitcoin ke aset pendanaan mereka lagi, saya pikir ini tentang cara membuat perbedaan di pasar,” ujar Austin berkomentar pada kabar tersebut.

Austin menerangkan bahwa pergerakan nilai Bitcoin dalam jangka pendek merupakan sebuah misteri. Namun terdapat gambaran besar yang dapat dilihat dengan jelas.

Austin memperkenalkan gagasan tentang “Bitcoin Halving” yang menempatkan Bitcoin sebagai aset kripto yang sangat menjanjikan.

Menurut analisa Austin, Bitcoin telah menetapkan jumlah 21 juta Bitcoin yang dapat beredar di pasar. Jumlah tersebut merupakan besaran tetap yang tidak akan berubah.

Uniknya, beberapa aset Bitcoin terakhir tentu tidak akan dipublikasikan atau ditambang dalam jangka waktu yang cukup panjang di masa depan. Ia mengungkapkan bawah setiap 10 menit, terdapat satu blok Bitcoin yang ditambang.

Jumlah tersebut terus menurun sejak tahun 2009 yang masih mendistribusikan total 50 blok. Penurunan juga terjadi pada 2012 yang menyusut menjadi 25 blok. Hal tersebut berlanjut hingga catatan 2020 lalu yang juga menampilkan penurunan hingga 6,25 BTC per blok.

“Anda tentu pernah mendengar, alasan penting menghitung harga untuk aset apapun berdasar penawaran dan permintaan,” ujar Austin.

Hal tersebut merujuk pada konsep permintaan dan suplai. Austin menjelaskan bahwa apabila permintaan BTC dalam jumlah tetap sementara pasokan terpotong separuhnya, maka hal tersebut akan mendorong kenaikan nilai secara besar-besaran.

“Kita telah melihatnya berulang kali,” ujar Austin.

Baca juga: 52% Investor Kaya di Asia Memiliki Kripto, Indonesia Salah Satunya

Austin mendefinisikan kondisi tersebut sebagai salah satu katalis yang lazim untuk mendorong pertumbuhan jaringan Bitcoin. Namun dampak dari pemotongan jumlah pasokan tersebut tidak terasa secara spontan dan biasanya mendekati puncaknya sekitar 12-18 bulan.

“Misalnya pada 2020 itu terjadi dan kemudian hampir secara harfiah 12 bulan kemudian kami mencapai puncak,” ujar Austin.

Austin memperkirakan momen Bitcoin Halving berikutnya terjadi pada bulan Maret 2024 dan telah dimulai saat ini. Namun ia juga mengungkapkan bahwa situasi faktual dapat berbeda dengan analisanya.

“Apabila tidak ada hal lain, ini akan menjadi katalis utama dan harga akan naik jika permintaan tetap sama,” ucap Austin.

Dalam keterangan lanjutannya, Austin juga menjelaskan beberapa kondisi yang harus dipenuhi untuk dapat mencapai posisi idela tersebut. Hal tersebut hanya berlaku pada aset yang jumlahnya tidak dapat dimanipulasi tanpa izin.

Austin membandingkan situasi Bitcoin dengan mata uang konvensional Dollar Amerika Serikat. Ia menjelaskan tentang kebebasan penyedia uang untuk menambah jumlah sebaran uang di pasar. Ia berpendapat bahwa hal tersebut yang menjadi dasar penurunan nilai uang dari masa ke masa.

“Jadi uang USD100 pada 1913 bernilai satu sen hari ini, pada dasarnya tidak berharga sama sekali hari ini karena mereka terus mencetak,” jelas Austin.

Pada kesimpulan analisanya, Austin menjelaskan dua katalis utama tersebut, yakni pasokan dan kendali aset berpotensi menjadikan Bitcoin memiliki kekuatan luar biasa di masa depan.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Investor Kakap ini Prediksi Bitcoin akan Injak Harga $ 250 Ribu

Investor modal ventura asal Amerika Serikat Tim Draper mempunyai prediksi terkait peningkatan harga Bitcoin di akhir tahun ini. Ia menyebutkan, bahwa BTC bisa saja menginjak harga $ 250 ribu atau setara dengan Rp 3,6 milyar (kurs Rp 14,433).

Hal itu ia katakan dalam sebuah wawancara di channel Youtube milik Scott Melker, alias Wolf of All Streets, 25 Mei 2022. Draper mengatakan, bahwa BTC bisa terbang ke harga tersebut diperkirakan akan terjadi akhir tahun ini atau awal tahun depan. 

“Ya, akhir tahun ini atau awal tahun depan,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan alasan mengapa dia yakin dengan prediksi tersebut. Salah satunya adalah massifnya penggunaan Bitcoin di tahun ini oleh kalangan perempuan. “Satu hal yang mungkin akan terjadi – dan saya tidak tahu persis kapan – adalah bahwa para wanita akan mulai menggunakan bitcoin,” katanya.

Menurutnya, sebelumnya hanya satu dari 14 pemegang BTC dari kalangan perempuan. Namun, saat ini angkanya terus melonjak. Kini, jumlah pemegang BTC dari sisi gender hampir setara.  “Sekarang, itu seperti satu dari enam dan saya pikir pada akhirnya akan seimbang,” katanya.

Sementara itu, sebuah survei yang rilis oleh perusahaan jasa keuangan kripto, Blockfi di bulan Maret menemukan bahwa hampir satu dari tiga wanita Amerika mengatakan berencana untuk membeli aset kripto di tahun 2022. Selain itu, 60% dari sepertiganya mengindikasikan bahwa mereka berniat untuk melakukannya dalam tiga bulan ke depan.

Baca juga: Potensi Aset Kripto dan NFT di Rumah Tangga hingga Industri Olahraga

Alasan mengapa bertambahnya perempuan yang memegang BTC bakal berpengaruh besar pada pasar, Draper mengatakan, bahwa perempuan saat ini menjadi entitas yang mendominasi pengeluaran ritel. 

“Perempuan mengendalikan sekitar 80% dari pengeluaran ritel, dan pengecer belum menyadari bahwa mereka dapat menghemat 2%. Mereka dapat menghemat 2% hanya dengan menerima Bitcoin daripada mengambil kartu kredit yang dikeluarkan bank. Dan itu bisa mengubah segalanya,” ujarnya.

Lebih dari itu, ia masih optimis dengan masa depan Bitcoin. Terlepas dari goncangan ekonomi yang baru dirasakan paska-pandemi COVID-19, dan melonjaknya inflasi di sejumlah negara, ia masih percaya BTC masih menjadi lindung nilai yang baik.

“Saya masih optimis dengan bitcoin karena ini merupakan lindung nilai yang bagus terhadap inflasi.Ketika spekulan pergi, pada akhirnya akan menyimpang dari saham teknologi,” ujarnya. 

Dominasi BTC Meningkat

Sejak awal Mei 2022, terdapat peningkatan dominasi Bitcoin. Meningkatnya dominasi ini tercatat setelah terjadi guncangan di pasar crypto setelah jaringan Terra hancur. 

Sejak 8 Mei 2022, BTC dominance naik hampir 7 poin. Saat ini dominasi Bitcoin terhadap altscoin berada di level 46-47%. 

BTC D. Sumber: Tradingview
Market Cap BTC Dominance.

Baca juga: Analisis Nilai Bitcoin yang Kembali Masuk ke Harga $ 30.000

Meningkatnya dominasi BTC memberi sinyal bahwa investor saat ini lebih tertarik dan merasa aman untuk menyimpan asetnya di Bitcoin dibanding altscoin. Ini menjadi pertanda juga bahwa pelemahan akan terjadi di sejumlah altcoin

Sementara itu, pergerakan harga Bitcoin saat ini masih melanjutkan tren bearish. Selama 9 pekan berturut-turut BTC ditutup dengan chart merah. Pergerakan ini merupakan salah satu yang terburuk sepanjang BTC ada.

Saat laporan ini ditulis, Ahad, 5 Juni 2022 (16.00 WIB), BTC diperdagangkan di level $ 29.667. Aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar ini pada pekan lalu sempat menyentuh harga di atas $ 32 ribu. Namun, pertahanan di level tersebut tak berlangsung lama, dan pada akhirnya mengantarkan kembali BTC ke harga di bawah $ 30 ribu.



Sumber : news.tokocrypto.com

Bitcoin Kembali ke Harga $ 31 Ribu, Hati-hati False Breakout

Harga Bitcoin kembali pulih dan menunjukan rally singkat ke harga $ 31 ribu pada perdagangan Rabu, 8 Juni 2022. Meski level ini adalah titik resistensi kuat bagi BTC, namun sejumlah analis skeptis dengan pergerakan tersebut. 

Pergerakan harga jangka pendek Bitcoin saat ini mengingatkan pada aksi pasar pada 6 Juni lalu. Di mana saat itu BTC mampu memompa harga hingga ke level $ 31 ribu-32 ribu. Namun, aksi jual cepat mendorong harga BTC kembali tenggelam ke harga di bawah $ 30 ribu. 

BTC/USDT 4 H. Tradingview

Analis crypto dan pengguna Twitter pseudonim il Capo Of Crypto, membuat sebuah analisis yang menyoroti BTC saat ini masih terjebak pada level $ 31 ribu selama 60 hari. Di mana ketika menginjak level tersebut BTC kembali memantul. 

grafik Bitcoin
Grafik Bitcoin.

Baca juga: Tokocrypto Market Signal 8 Juni 2022: Pasar Kripto Comeback ke Zona Hijau

Namun, menurut il Capo, yang perlu diwaspadai adalah rentang redistrubusi BTC yang menunjukan adanya potensi clean break atau penurunan ke harga $ 21-23 ribu. 

“ Terobosan bersih dari kisaran rendah = leg terakhir turun dikonfirmasi = 21.000-23.000,” tulis il Capo. 

Sementara itu, menurut analis pasar dan pengguna Twitter pseudonim Rekt Capital peregrakan 200 hari EMA (rata-rata pergerakan eksponensial) sebagai indikator utama yang harus diperhatikan.

Menurut Rekt Capital level support di harga $ 20.000 perlu diwaspadai investor maupun ritel. “Maka itu bisa menyarankan bagian bawah $BTC dekat dengan area ~20.000,” tulis Rekt Capital. 

Sumber: https://twitter.com/rektcapital/status/1534165559394410496

BTC Belum Sentuh Harga Terendah

Namun, yang tak kalah penting untuk perhatikan adalah terkait dengan siklus BTC yang saat ini cenderung mirip dengan siklus 2018. 

Kontributor CryptoQuant, Venturefounder, menyebutkan jika ditilik dari pola historis setelah siklus halving bitcoin sebelumnya, maka harga terendah makro BTC saat ini berada di level $ 14-21.000. Ia menganalisis bahwa kemungkinan level tersebut akan terbentuk di enam bulan ke depan. 

Baca juga: Apa Itu Aset Kripto Gifto (GTO) dan Mithril (MITH)?

“Dalam 670 hari ke depan, BTC akan menyerah dalam 6 bulan ke depan dan mencapai titik terendah ($14-21.000), kemudian memotong sekitar $28-40.000 di sebagian besar tahun 2023 dan berada di ~$ 40.000 lagi setelah halving berikutnya (2024),” tulis Venturefounder di akun Twitternya. 

Pergerakan historis BTC selama tahun 2018, cukup relevan dengan fenomena saat ini. Saat itu, setelah mencapai $ 3.100 pada Desember 2018, Bitcoin berhasil pulih ke $ 13.800, namun tujuh bulan kemudian BTC kembali ke titik terendahnya pada Maret 2020 di harga $ 3.600.

“Siklus 2018 terbawah, turun 28% dari harga realisasi. Perlu diingat harga realisasi hari ini adalah $ 24.000, bisa lebih rendah pada saat siklus terendah,” ujarnya.

“Kami mungkin tidak berada di titik terbawah siklus, tetapi kami berada dalam kisaran titik terendah siklus BTC. Ini adalah yang terbaik yang dapat Anda lakukan ketika mengatur waktu siklus pasar.”

Sumber





Sumber : news.tokocrypto.com

Alasan Bitcoin Jadi Investasi yang Lebih Baik daripada Emas

Banyak orang yang membicarakan soal peluang investasi aset kripto, terutama Bitcoin (BTC) untuk jangka panjang. Terlebih diskusi yang terjadi selalu mengaitkan Bitcoin dengan emas. Bahkan pendukung kripto sering sebut Bitcoin sebagai “emas digital”.

Melihat situsi ekonomi global yang semakin mengerikan akibat dampak dari angka inflasi tertinggi selama empat puluh tahun terakhir di Amerika Serikat, banyak analis keuangan merekomendasikan emas sebagai investasi untuk melindungi dari volatilitas dan kemungkinan penurunan nilai dolar AS.

Tapi di sisi lain, tidak hanya emas, Bitcoin juga digadang-gadang memiliki sifat lindung nilai yang tidak kalah baiknya dalam menghadapi inflasi. Tetapi pertanyaannya, apakah BTC itu sebenarnya investasi yang lebih baik daripada emas?

Mari kita lihat beberapa argumen konvensional yang dikutip Cointelegraph untuk membandingkan antara investasi emas dan Bitcoin.

Penyimpanan Nilai

Salah satu alasan paling umum banyak investor membeli emas dan Bitcoin adalah karena keduannya memiliki riwayat sejarah yang dapat mempertahankan nilainya saat melalui masa ketidakpastian ekonomi.

Fakta sejarah tersebut telah didokumentasikan dengan baik, dan tidak dapat disangkal bahwa emas telah menawarkan beberapa perlindungan kekayaan terbaik secara historis, tetapi tidak selalu mempertahankan nilainya. Grafik di bawah ini menunjukkan bahwa perdagangan emas, juga telah mengalami penurunan harga yang lama.

Harga emas
Harga emas. Sumber: TradingView.

Dari grafik di atas, seseorang yang membeli emas pada bulan September 2011, harus menunggu hingga Juli 2020 untuk bisa mendapatkan untung atau setidaknya balik modal.

Dalam sejarah Bitcoin, tidak pernah membutuhkan lebih dari tiga hingga empat tahun untuk harganya kembali dan melampaui level tertinggi sepanjang masa, menunjukkan bahwa pada garis waktu jangka panjang, BTC bisa menjadi penyimpan nilai yang lebih baik.

Baca juga: Market Awal Pekan: Bitcoin Sukses Perkasa, tapi di Bawah Tekanan The Fed

Harga Cenderung Naik

Emas secara historis dipandang sebagai lindung nilai yang baik terhadap inflasi karena harganya cenderung naik seiring dengan kenaikan biaya hidup. Namun, melihat lebih dekat pada grafik untuk emas dibandingkan dengan Bitcoin, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Dari grafik di bawah ini menunjukkan bahwa emas telah melihat kenaikan sederhana sebesar 21,84% selama dua tahun terakhir, harga Bitcoin telah meningkat 311%.

Emas vs grafik 1 hari BTC/USDT. Sumber: TradingView.
Emas vs grafik 1 hari BTC/USDT. Sumber: TradingView.

Di seluruh dunia, di mana biaya hidup secara keseluruhan meningkat lebih cepat daripada yang dapat ditangani kebanyakan orang, memegang aset yang dapat melebihi kenaikan inflasi sebenarnya membantu meningkatkan kekayaan daripada mempertahankannya.

Sementara, volatilitas dan penurunan harga pada tahun 2022 sangat menyakitkan, Bitcoin memang masih memberikan lebih banyak keuntungan bagi investor jangka panjang.

Simpanan Aman saat Ketidakpastian Geopolitik

Emas sering disebut sebagai “komoditas krisis”, karena dikenal memiliki nilainya selama masa ketidakpastian geopolitik. Orang-orang diketahui berinvestasi dalam emas ketika ketegangan konflik perang dunia meningkat.

Emas disebut sebagai logam krisis, jika ekonomi masuk ke dalam resesi lagi, emas akan naik sebagai komoditas. Sayangnya, bagi orang-orang yang berada di zona konflik atau daerah lain yang rentan terhadap ketidakstabilan, membawa benda berharga, seperti emas adalah proposisi yang berisiko, menjadi sasaran penyitaan dan pencurian aset.

Bitcoin menawarkan opsi yang lebih aman bagi orang-orang dalam situasi ini, karena mereka dapat bepergian tanpa takut kehilangan dana mereka. Begitu mereka mencapai tujuan, dapat menyusun kembali dompet kripto dan memiliki akses ke kekayaan mereka.

Sifat digital Bitcoin dan ketersediaan beberapa pasar terdesentralisasi dan pertukaran peer-to-peer memberikan peluang lebih besar untuk memperoleh Bitcoin.

apakah bitcoin aman
Ilustrasi Bitcoin. Sumber: Shutterstock.

Baca juga: Kenal Lebih Aset Kripto Golem (GLM) dan Optimism (OP)

Alternatif Aset saat Dolar AS Terus Kehilangan Nilainya

Mata uang dolar AS menguat dalam beberapa bulan terakhir, tetapi tidak selalu demikian. Selama periode di mana nilai dolar jatuh terhadap mata uang lain, investor diketahui berbondong-bondong ke emas dan Bitcoin.

Meskipun emas telah menjadi aset utama selama ribuan tahun, emas tidak digunakan atau diterima secara luas dalam masyarakat digital modern dan bahkan oleh kebanyakan orang di generasi muda, belum pernah melihat koin emas secara langsung.

Untuk situasi ini, Bitcoin mewakili opsi yang lebih familiar yang dapat diintegrasikan ke dalam gaya hidup masyarakat yang digunakan atau diaplikasikan secara digital, dan tidak memerlukan keamanan ekstra atau penyimpanan fisik.

Bitcoin yang Langka

Banyak investor dan pakar keuangan menunjukkan sifat kelangkaan dan kendala pasokan emas, setelah bertahun-tahun produksi menurun sebagai alasan aset tersebut merupakan investasi yang baik.

Ilustrasi Bitcoin
Ilustrasi Bitcoin. Sumber: Shutterstock.

Baca juga: Melihat Potensi dan Tantangan Besar Metaverse di Indonesia

Diperlukan waktu lima hingga sepuluh tahun bagi tambang baru untuk mencapai produksi, yang berarti peningkatan pasokan yang cepat tidak mungkin terjadi. Meskipun demikian, diperkirakan masih ada lebih dari 50.000 metrik ton emas di dalam tanah, yang akan dengan senang hati digali oleh para penambang jika terjadi kenaikan harga yang signifikan.

Di sisi lain, Bitcoin memiliki pasokan tetap sebesar 21 juta BTC yang diproduksi dan diterbitkan. Sifat keterbukaan dari blockchain Bitcoin memungkinkan lokasi setiap Bitcoin diketahui dan diverifikasi.

Tidak ada cara untuk benar-benar menemukan dan memvalidasi semua toko emas di planet ini, yang berarti pasokan sebenarnya tidak akan pernah benar-benar diketahui. Karena itu, Bitcoin memenangkan perdebatan kelangkaan dan ini adalah bentuk uang tersulit yang diciptakan oleh umat manusia hingga saat ini.



Sumber : news.tokocrypto.com