Tag Archives: cryptocurrency

Bagaimana Masa Depan Pertukaran Crypto Pasca Pandemi?

Saat ini, pertukaran crypto telah menjadi debat terbaru dan terpanas di pasar keuangan. Dengan pertukaran DeFi peer-to-peer UNI dan saga SushiSwap, ranah ini menjadi arus utama yang menarik banyak trader harian dan investor institusional.

Konstantin Anissimov, Direktur Eksekutif di CEX.IO percaya bahwa masa depan pertukaran crypto di dunia pasca pandemi Covid-19 tampaknya sangat cerah mengingat arus masuk investor saat ini.

Baca Juga: Tokocrypto Resmi Perdagangkan Token SANDBOX (SAND)

CEX.IO telah mengambil langkah selanjutnya menuju pertumbuhan di dunia crypto dengan mengintegrasikan klien khusus untuk institusi ke lini bisnisnya saat ini. Yang pertama di pasar yang menerapkan strategi ini, Konstantin Anissimov, Direktur Eksekutif, sangat yakin bahwa platform ini menarik lebih banyak investor institusional dan korporal.

Alasan di balik pendekatan ini adalah untuk proporsional pertumbuhan berbagai perluasan kelembagaan dalam kurun waktu 3 tahun. Kompetensi pasar, jaminan harga, kepatuhan, dan kemanjuran adalah beberapa faktor yang dikerjakan secara luas sebelum peluncuran strategi ini sehingga memastikan portofolio yang stabil dan seimbang.

Perspektif ahli Konstantin Anissimov tentang masa depan pertukaran crypto dan industri cukup positif untuk pertumbuhan. Dia menyatakan bahwa cryptocurrency akan sangat mempengaruhi industri investasi dan kemungkinan besar akan mengambil posisi sebagai aset yang sepenuhnya matang namun akan terus masuk dalam kategori berisiko tinggi sampai teknologi blockchain berfungsi penuh di seluruh dunia.

Baca Juga: Akankah Bitcoin Meroket atau Jatuh?

Masalah utama lainnya yang dia yakini membutuhkan pekerjaan konstan adalah mengatur industri blockchain karena regulasi adalah peran kunci dalam membangun keandalan dan mendapatkan kepercayaan konsumen di seluruh dewan klien dan akan berdampak besar pada relevansi industri di masa depan dalam sektor keuangan dan investasi.

Dia lebih lanjut menyatakan karirnya yang menjanjikan, dalam jangka panjang, karena permintaan investor yang konstan untuk pengembalian investasi (ROI) yang semakin tinggi saat pasar konvensional sibuk berjuang untuk mengikuti keadaan yang sedang sulit ini.

Dia pun menambahkan minatnya untuk mendigitalkan sistem pensiun. Mempromosikan keuangan mini untuk memasuki pasar crypto dan meningkatkan peluang untuk menyebarkan pendapatan ini ke dalam kriptografi.

Tentu saja, jika memang pemikirannnya ini terwujud secara global, maka bukan hanya nasib pertukaran crypto, tetapi nasib crypto itu sendiri akan menjadi sangat cerah karena tingkat adopsi akan selalu mendongkrak optimisme investor terhadapnya yang akan menghidupkan segala sektor disekitarnya seperti pertukaran.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Korsel Ujicoba Penerbitan dan Transaksi Won Digital pada Tahun Depan

Bank Sentral Korea Selatan (Korsel) siap mengujicoba penerbitan dan transaksi won digital pada tahun depan. Langkah itu adalah lanjutan, setelah bulan lalu membentuk Dewan Penasihat Hukum.

Baca Juga: Inilah Strategi Veteran Bitcoin Yang Menghasilkan Keuntungan $ 10 Miliar

“Ujicoba itu akan serupa dengan proses peredaran uang kertas,” kata seorang pejabat Bank Sentral Korsel, dilansir oleh media lokal, KoreaHerald, 7 Oktober 2020.

Bank sentral mengatakan langkah terkait tidak dimaksudkan untuk mempersiapkan penerbitan won digital yang sebenarnya, tetapi bank membuat persiapan yang diperlukan untuk berjaga-jaga.

Sejumlah bank sentral di banyak negara mempercepat penelitian mereka tentang mata uang digital (CBDC) untuk mengantisipasi penurunan permintaan uang tunai (fisik/giral) dan munculnya aset kripto alias mata uang kripto oleh sektor swasta.

Bank sentral Tiongkok tampak lebih agresif dalam mempersiapkan penerbitan CBDC. Negeri Panda itu telah meneliti dan mengembangkan yuan digital sejak tahun 2014 dan mulai mengujicoba sejak medio tahun 2020. Mereka juga berencana mengujicoba lebih luas pada Olimpiade mendatang.

CBDC adalah wujud digital uang dan mata uang yang fisik. Kelak akan melengkapi dan menggantikan 10 persen uang giral itu, selayaknya uang elektronik yang masif sejak beberapa tahun terakhir.

CBDC yang sebagian besar berteknologi blockchain ataupun distributed ledger technology memastikan efisiensi dari segi waktu, biaya dan jangkauan mata uang, sebagaimana yang terjadi pada stablecoin USDT yang bernilai dolar.

Baca Juga: Kembangkan Teknologi Blockchain, Agen CIA Bisa Dapat Cuan



Sumber : news.tokocrypto.com

Harga Bitcoin Merosot Gara-Gara Trump Tunda Stimulus Covid-19 Kedua

Donald Trump tunda paket stimulus Covid-19 kedua hingga pemilu AS 2020 rampung digelar. Pengumuman ini datang di saat genting, yaitu jelang pemilu AS yang ditetapkan akan terlaksana pada 3 November mendatang.

Trump yang sedang dalam masa pemulihan ini memposting sebuah tweet :

“Kami membuat tawaran yang sangat murah hati sebesar $ 1,6 Triliun dolar dan, seperti biasa, dia (Nancy Pelosi) tidak bernegosiasi dengan itikad baik.”

Tweet Trump lebih lanjut, “Saya telah menginstruksikan perwakilan saya untuk berhenti bernegosiasi sampai setelah pemilihan ketika segera setelah saya menang, kami akan mengesahkan RUU Stimulus utama yang berfokus pada pekerja keras Amerika dan Bisnis Kecil.”

Menurut CNBC, Trump nampak bertentangan dengan dirinya sendiri, setelah mendesak partai Democratic dan Republican menyepakati paket stimulus pada 3 hari lalu.

Negosiasi stimulus Covid-19 telah berlangsung selama berbulan-bulan di AS, karena ekonomi AS yang memburuk dan jutaan warga AS jadi pengangguran dampak dari pandemi virus corona.

Baca Juga: Mengapa Bitcoin Bisa Bernilai?

Meski Nancy Pelosi sebagai Ketua DPR AS dan Steven Mnuchin sebagai Menteri Keuangan AS telah berbulan-bulan mendiskusikan hal ini, tapi dilaporkan bahwa Trump belum juga terlibat dalam hal ini.

Tak lama setelah tweet presiden AS tersebut, tren pasar saham terpancing dengan Dow Jones Industrial Average yang turun sebesar 1,3%.

Sementara pasar crypto juga bergejolak dimana harga Bitcoin turun hingga 1,4% dalam 7 hari terakhir. Dan, harga semua altcoin turun, termasuk DeFi YFI, turun lebih dari 55% dalam 30 hari terakhir.

Hal tersebut membuktikan bahwa ruang crypto masih berkorelasi dengan pasar saham. Beberapa analis berspekulasi kalau crypto butuh waktu beberapa tahun untuk memisahkan diri dari pasar saham tradisional. Tetapi fiat khususnya dolar AS masih jadi patokan dan referensi nilai cryptocurrency.

Trader mengantisipasi kesepakatan stimulus ekonomi kedua ini, karena banyak bisnis yang berjuang untuk bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Sayangnya, stimulus nampaknya telah mengeringkan likuiditas yang mendukung pasar. Bagaimana menurut Anda? Apakah keputusan Trump menunda stimulus kedua ini sudah tepat?

Baca Juga: Begini Prediksi Pengaruh Pemilu AS Terhadap Bitcoin

artikel ini dapat dibavca kembali disini.





Sumber : news.tokocrypto.com

Presiden Bank Sentral Eropa: Pandemi Percepat Adopsi Mata Uang Digital

Pandemi membuat tren dan pengadopsian pembayaran digital semakin meningkat, jelas Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Christine Lagarde.

Lebih dari itu, Lagarde juga mengindikasikan jajaran petinggi bank sentral akan segera mengumumkan putusan terkait dengan mata uang digital bank sentral Eropa dalam waktu dekat.

Melalui konferensi online yang diselenggarakan Deutsche Bundesbank pada 10 September 2020 lalu, ia menyatakan bahwa penduduk Uni Eropa menerima digitalisasi dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan penjualan melalui e-commerce yang meningkat hingga 20% selama bulan Februari hingga Juni, dengan total penjualan ritel yang menurun sebesar 1,2%.

“Pandemi hadir sebagai katalis, mempercepat transisi menuju kenormalan baru di industri digital,” ujar Lagarde. “Sebagian besar konsumen berharap untuk terus menggunakan layanan digital lebih sering dari yang mereka lakukan sekarang ini.”

Sebuah laporan pada bulan Agustus lalu dari Bank DBS Singapura juga menyatakan bahwa “Pandemi mempercepat langkah menuju masyarakat tanpa ketergantungan dengan uang (kertas).”

Baca Juga: Bank Sentral Thailand Luncurkan Proyek Percontohan Mata Uang Digital

Tidak sampai di situ, Lagarde juga menyatakan bahwa ECB mendukung perngembangan CBDC lebih lanjut untuk melangkah lebih maju menuju digitalisasi, selain juga mempercepat pengembangan pembayaran lintas batas yang lebih cepat dan lebih murah.

Beberapa waktu lalu juga, Presiden ECB ini menyatakan dirinya akan fokus memastikan lembaga Uni Eropa beradaptasi dengan lingkungan keuangan yang baru dan terbuka terhadap mata uang crypto lainnya.

“Eurosystem sejauh ini belum membuat keputusan apakah akan memperkenalkan Euro Digital. Namun, seperti banyak bank sentral lainnya di seluruh dunia, kami sedang melakukan penelitian terkait dengan manfaat, risiko, dan tantangan operasional dari pengimplementasian mata uang digital ini.”

Ia juga menambahkan hasil ini akan diumumkan dalam “beberapa minggu ke depan”.

Baca Juga: Bank Sentral Belanda Mulai Kembangkan Mata Uang Digital

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Paling Tidak Ada 3 Negara Mulai Bangun Mata Uang Digital Sendiri

Menurut sebuah laporan, ada tiga hingga lima negara di seluruh dunia yang sedang membangun sistem dasar dari mata uang digital bank sentral (CBDC) mengganti mata uang fiat kertas. Laporan ini memprediksi CBDC tersebut akan rilis paling tidak pada tahun 2030 nanti.

Lembaga yang berfokus pada FinTek di Belanda, dGen merilis laporan tersebut berdasarkan tren geopolitik CBDC pada 9 September 2020 lalu. Berjudul “CBDC: Geopolitical Ramifications of a Major Digital Currency”, laporan tersebut membahas lebih dalam terkait status mata uang fiat global utama seperti Dolar US, Euro, dan Yuan China.

Dihimpun dengan sumber referensi dari lembaga-lembaga seperti Bank Sentral Eropa (ECB), Standard Chartered Bank, dan Frankfurt School, lapora ini membuat beberapa prediksi ke depan terkait dampak CBDC pada sistem keuangan global.

Berdasarkan hal tersebut dGen memperkirakan setidaknya ada tiga hingga lima negara di seluruh dunia yang akan sepenuhnya mengganti mata uang nasional mereka ke dalam CBDC dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.

Meski demikian, laporan tersebut tidak memberikan gambaran pasti terkait negara mana yang akan mengalihkan mata uang fianya ke dalam uang digital. Laporan tersebut juga menguraikan kemajuan signifikan dalam CBDC dari segi hukum dan regulasi di beberapa negara. Setidaknya China telah berhasil membangun mata uang Yuan digitalnya, dan Swedia dengan pembangunan E-Krona serta rencana negara tersebut untuk bebas tunai pada tahun 2025.

Kemajuan yang sangat pesat dari Yuan digital juga membuat dGen memperkirakan bahwa kekuatan Euro akan digantikan dengan Yuan jikan Eropa tidak segera mengembangkan CBDC-nya sendiri.

Baca juga: 4 Jenis Investasi yang Harus Dicoba Sebelum Memasuki Usia 30 Tahun

Philipp Sandner, ketua Frankfurt School Blockchain Center, mengkritik ECB karena dirasa terlalu lambat menanggapi perkembangan pesat CBDC ini dengan mengatakan,

“Reaksi ECB terlalu lambat. Terutama, melihat manfaat dari CBDC untuk industri, misalnya saja, uang yang dapat diprogram, hal ini seperti diabaikan begitu saja. Terlebih ada Libra dan DC/EP (Yuan Digital), ECB seharusnya bereaksi cepat untuk mempertahankan posisi geopolitiknya.”

Dalam laporan tersebut, dGen juga menyampaikan pendapatnya terkait perkembangan Yuan Digital. Menurutnya, Yuan Digital cepat atau lambat akan menggeser popularitas dolar US saat ini.

CBDC sendiri merupakan representasi digital dari mata uang fiat suatu negara. Tujuannya untuk menyediakan transaksi tanpa uang tunai, mempercepat pembayaran, dan mengurangi biaya terkait pencetakan mata uang kertas.

Baca Juga: Perusahaan Publik AS Ini Tempatkan Asetnya $425 Juta ke dalam Bitcoin

artikel ini dapat anda baca kembali disini.



Sumber : news.tokocrypto.com

Industri Cryptocurrency dan Blockchain di Indonesia Alami Pertumbuhan Besar-besaran

Beberapa waktu lalu, proyek blockchain Onfo menemukan bahwa cryptocurrency menyebar empat kali lebih cepat di negara berkembang dibandingkan dengan negara maju. Salah satu yang penyebarannya paling luas adalah Indonesia. Tim Onfo memulai eksperimen untuk melihat seberapa cepat aset kripto memperoleh popularitas di empat negara berbeda yaitu Indonesia, Amerika Serikat, Rusia dan Jerman.

Pendiri Onfo, J.R. Forsyth, mencatat bahwa Indonesia menunjukkan peluang untuk “pertumbuhan besar-besaran”. Data yang dihimpun oleh Coinvestasi dari PPATK dan exchange Indodax menunjukan jumlah trader crypto di Indonesia mengalami kenaikan signifikan hingga 2.263% dari tahun 2015.

Perkembangan crypto di Indonesia dibandingkan dengan empat negara lain. Sumber: News.Bitcoin.

Studi yang dilakukan oleh Mckinsey&Company menunjukan jika Indonesia termasuk negara dengan tingkat adopsi digital tertinggi di dunia. Sedangkan riset dari Google dan Temasek mengungkapkan jika Indonesia memimpin pertumbuhan internet ekonomi di Asia Tenggara dengan 40% setahun. Nilai dari ekonomi mencapai Rp596.2 triliun dan diprediksi bisa menyentuh Rp1.937 triliun di 2025.

Dari data tersebut sangat mungkin jika crypto dan blockchain akan tumbuh subur di Indonesia. Negara ini diprediksi memiliki prospek ekonomi digital yang sangat baik di masa mendatang. Selain itu, regulasi di Tanah Air pun sudah  mengatur perihal Bitcoin dan bursa crypto melalui Bappebti.

Baca Juga: Daftar Platform Trading Bitcoin Legal di Indonesia

Adanya aturan dan hukum yang jelas tentu akan sangat membantu perkembangan mata uang digital di dalam negeri. Misalnya, dengan dibukanya berbagai bursa jual beli Bitcoin hingga banyaknya proyek blockchain yang memberikan inovasi.

Menurut data dari Asosiasi Blockchain Indonesia, tercatat 13 bursa cryptocurrency sudah terdaftar di Bappebti dan 152 proyek terkait crypto dan blockchain yang ada di Indonesia.

Baca juga:Indonesia Blockchain dan Cryptocurrency Landscape 2020

Mike Kennedy, CEO dari Interstellar menyampaikan pendapatnya pada Coinvestasi bahwa Indonesia memiliki potensi kuat sebagai pasar utama cryptocurrency dan blockchain di Asia.

“Saya sangat yakin bahwa Indonesia adalah pasar utama cryptocurrency dan blockchain. Negara ini memiliki potensi kuat di Asia karena ukuran, ekonomi digital, dan dukungan regulasi yang kuat.”

Mike Kennedy, CEO Interstellar

Peluang Besar Crypto di Indonesia Menarik Minat Investor

Sebagai negara berpenduduk terbanyak keempat di dunia, dan teknologi yang masih terus berkembang. Indonesia  tentu memilki peluang yang sangat besar untuk menjadi negara yang ramah terhadap dunia crypto dan blockchain. Oleh karena itu, banyak investor crypto yang tertarik untuk mengembangkan bisnisnya dan mendukung adopsi crypto di Indonesia.

Baca juga: Bank Sentral Lain Pertimbangkan Mata Uang Digital, Bagaimana dengan Indonesia?

“ Kami sangat akrab dengan pasar crypto di Asia, tapi ini adalah pertama kalinya kami belajar banyak tentang apa yang terjadi di Indonesia dan menurut kami hal itu sangat menarik. Tujuan kami adalah untuk mengetahui kondisi pasar di sini lebih jauh. Kami juga akan melihat kemungkinan yang terjadi di ruang P2P crypto. Kemudian membuat rencana lebih agresif menangani pengguna di pasar Indonesia, “ jelas Paul Murphy, CEO Cedmark.

Ia mengatakan ingin melihat produk DeFi yang menggunakan informasi kredit sebagai sarana untuk memberikan produk yang lebih fleksibel dan lebih mudah diakses.

Produk DeFi memang bisa jadi sangat menarik di dalam negeri. Sebab DeFi membuat proses investasi, pinjaman,dan transaksi lebih mudah tanpa perlu menggunakan rekening bank. Hal ini bisa menjadi solusi  karena di Indonesia tercatat 80% masyarakatnya belum memilki rekening bank.

“ Mungkin saya hanya seorang optimis kripto, tetapi saya pikir tidak dapat dihindari bahwa layanan keuangan termasuk pinjaman yang dibangun di atas kripto akan berdampak besar pada layanan keuangan. Dalam beberapa kasus akan jauh lebih besar daripada yang tersedia secara tradisional, “ jelas Paul Murphy lagi.

Teknologi Blockchain dan Crypto Bisa Membantu Proses Transaksi

Hadirnya teknologi blockchain dan crypto di Indonesia juga bisa membantu proses penyelesaian transaksi yang panjang. Menggunakan teknologi blockchain bisa membuat institusi menggunakan proses yang lebih singkat dan aman. Salah satu penyedia layanan infrasturktur blockchain adalah Stacs yang berasal dari Singapura. Perusahaan ini pun tertarik untuk masuk ke dalam negeri.

Mereka melihat kasus yang ada di Malaysia, di mana Bursa Malaysia menggunakan kontrak pintar untuk mengelola sekuritas seperti dana, obligasi ekuitas. Mereka menggunakan blockchain untuk mengurangi biaya penerbitan serta mengujinya sebagai registri yang efektif untuk melacak transaksi.

“ Hal ini dapat diterapkan di Indonesia, katakanlah menerbitkan Sukuk pada blockchain dan mengurangi biaya penerbitan lebih efektif dengan penyelesaian instan. Ini meningkatkan aktivitas sukuk di pasar serta melengkapi strategi pemerintah dalam likuiditas, “  ujar Isabelle Sumarli, Business Development Manager Hashstacs.

Platform  Hashstacs memungkinkan institusi menggunakan teknologi kontrak pintar untuk mengelola obligasi, dana, serta ekuitas dan keamanan.

“ Di Indonesia, badan pusat yang melakukan pencocokan perdagangan atau kustodian yang melayani masalah ini dapat menggunakan platform kami untuk menyelesaikan masalah ini dan menghemat lebih dari 2000 jam kerja penghematan biaya serta membantu mengurangi jeda perdagangan dan memperbaiki perdagangan, “ ungkap Isabelle Sumarli.


Indonesia memang masih terbilang cukup baru tentang crypto dan blockchain, di negara ini edukasi, pengembangan soal teknologi masih terus berlangsung. Namun dalam lima tahun terakhir ini Indonesia berhasil mengalami peningkatan pesat dan ini adalah hal yang sangat positif. Didukung oleh regulasi, teknologi, investor dalam atau luar negeri tentu perkembangan crypto dan blockchain Indonesia bisa meningkat lebih tinggi lagi di masa depan.

Bagaimana peningkatannya lima tahun yang akan datang ? Kita harus menunggu untuk mengetahui jawabannya, yang jelas pertumbuhan cryptocurrency di Indonesia tahun ini cukup positif meski kita dihantam pandemi yang berdampak pada ekonomi.

Baca Juga: Apa itu Yearn Finance? Panduan untuk Pemula!

artikel ini dapat dibaca kembali disini.



Sumber : news.tokocrypto.com

Yuk, Cari Tau Lebih Lengkap Tentang Bitcoin Gold Wallet

Sebagai aset kripto pertama dan terbesar di dunia, Bitcoin telah mengalami hard fork beberapa kali. Salah satunya menghasilkan sebuah koin bernama Bitcoin Gold Wallet. Meskipun berhubungan, koin ini berbeda dengan Bitcoin, lho. Tertarik untuk membelinya? Eits, sebelum itu, ketahui informasi selengkapnya terlebih dahulu, yuk!

Kenalan dengan Bitcoin Gold, Altcoin Hasil dari Hard Fork Bitcoin

Bitcoin Gold merupakan aset kripto yang diluncurkan pada 24 Oktober 2017, sebagai altcoin dari hasil hard fork Bitcoin. Hard fork merupakan kegiatan pengembangan dan perubahan aset kripto yang sudah ada, dengan menciptakan sebuah produk turunan yang baru. 

Umumnya, hard fork dilakukan untuk meningkatkan skala sebuah cryptocurrency seiring semakin bertumbuhnya para pelanggan. Namun, hard fork Bitcoin yang menghasilkan Bitcoin Gold ini dilakukan atas keinginan para pendirinya untuk membuat Bitcoin kembali terdesentralisasi.

Jika membahas lebih dalam, pembentukan Bitcoin Gold ternyata tidak terlalu berkaitan dengan sistem yang terdesentralisasi. Alasannya justru berhubungan dengan proses mining. Para pengembang Bitcoin Gold ingin mengadopsi algoritma mining yang bisa memudahkan proses mining, sehingga dapat dilakukan dalam skala besar. Tak terkecuali para miner dengan perangkat komputer rumahan.

Seiring perjalanannya, harga Bitcoin Gold mengalami perkembangan yang cukup besar. Dilansir dari Coindesk, harga satu koin Bitcoin Gold per tanggal 9 September 2021 mencapai 67.53 USD dengan volume trading sebesar 70.94 juta USD. Namun, layaknya aset kripto, tingkat volatilitas dari Bitcoin Gold tetap tidak dapat dihindari. Para investor tetap membutuhkan strategi khusus dalam menghadapi naik-turunnya harga koin ini.

Dalam jangka panjang, Bitcoin Gold akan terus melakukan pengembangan yang berkaitan dengan smart contract dan Blockchain, seperti jaringan fiat-crypto yang terdesentralisasi. Area pengembangan lainnya juga termasuk dApps beserta infrastruktur dari ekosistem Bitcoin Gold itu sendiri.

Perbedaan Mendasar antara Bitcoin dan Bitcoin Gold

Walaupun Bitcoin Gold memiliki keterkaitan dengan Bitcoin, terdapat perbedaan mendasar yang dapat terlihat dari kedua koin kripto tersebut, yaitu:

Sistem mining yang digunakan oleh Bitcoin adalah Proof of Work (PoW), sama halnya dengan yang digunakan oleh Bitcoin Gold. Perbedaannya terletak pada algoritma mining yang digunakan. Bitcoin menggunakan algoritma SHA256, sementara Bitcoin Gold menggunakan algoritma Equihash. Algoritma Equihash diciptakan dan dikembangkan oleh para pengembang Bitcoin Gold dalam mendukung aktivitas mining.

Perbedaan lainnya terdapat pada perangkat keras yang digunakan untuk mining. Para penambang Bitcoin membutuhkan perangkat bernama Application-Specific Integrated Circuit (ASIC), yaitu sebuah sirkuit yang terintegrasi secara khusus dengan aplikasi. Meskipun sangat canggih, perangkat ini juga dikenal mahal dan boros.

Sementara itu, para penambang Bitcoin Gold hanya memerlukan perangkat yang berbasis Graphics Processing Unit (GPU). Kehadiran Bitcoin Gold tentu membuka kesempatan bagi orang-orang dengan perangkat komputer rumahan untuk ikut serta dalam aktivitas mining.

Cara Mendapatkan Bitcoin Gold

Selain lewat mining, cara sederhana yang bisa dilakukan untuk memperoleh Bitcoin Gold adalah dengan membelinya. Bitcoin Gold bisa diperoleh melalui pembelian, layaknya cryptocurrency pada umumnya. Hingga kini, Bitcoin Gold sudah tersedia di berbagai exchange jual-beli aset kripto yang terpercaya dan sudah teregulasi Bappebti, salah satunya adalah Tokocrypto.

Nah, lewat Tokocrypto, Anda sudah bisa mengantongi sejumlah Bitcoin Gold hanya dengan 4 langkah saja, yaitu:

Pertama, Anda harus membuat akun di aplikasi Tokocrypto terlebih dahulu. Di tahap ini, Anda hanya perlu memasukkan nama lengkap, alamat email yang aktif, beserta password.

  • Lengkapi Data Diri dan Verifikasi

Setelah berhasil, Anda masuk ke tahap yang disebut dengan Know Your Customer (KYC). Pada tahap ini, Anda dapat mengisi data diri sesuai dengan identitas yang Anda miliki. Jika data sudah lengkap, maka selanjutnya Anda akan diarahkan untuk melakukan verifikasi. Tujuannya adalah untuk memastikan data yang Anda input sudah benar dan sesuai.

Selanjutnya, Anda bisa langsung deposit dana fiat dengan mentransfer ke wallet melalui transfer bank virtual account, dengan minimal deposit sebesar Rp50.000. Dana tersebut kemudian akan diubah secara otomatis oleh sistem Tokocrypto ke dalam bentuk BIDR. 

Jika Anda sudah punya aset kripto dan ingin melakukan deposit kripto, Anda juga bisa mengirimkannya ke dalam wallet Tokocrypto. Jadi, Anda hanya tinggal memilih koin yang ingin didepositkan, lalu pilih juga jaringan yang akan digunakan. Pastikan koin dikirim ke alamat yang terdapat pada akun Tokocrypto Anda, ya.

Di Tokocrypto, Bitcoin Gold (BTG) dapat diperdagangkan dengan BTC, BUSD, dan USDT. Dengan demikian, dana yang terdeposit harus dikonversikan menjadi satu dari ketiga koin pasangan BTG tersebut. Misalnya, Anda sudah memiliki sejumlah dana (BIDR) pada wallet Anda. Untuk membeli BTG, Anda harus konversi BIDR tersebut menjadi BTC, dengan cara membeli sejumlah BTC menggunakan BIDR. 

Pembelian ini dilakukan pada menu “Buy/Sell”, lalu Anda perlu pilih BTC dan klik tombol “Buy”, kemudian isi nominal sesuai dengan keinginan Anda. Setelah Anda berhasil memiliki BTC, barulah Anda bisa membeli BTG menggunakan BTC tersebut dengan tata cara yang sama.

Namun, jika Anda sudah memiliki sejumlah BTC sejak awal, maka Anda dapat langsung menggunakannya untuk membeli BTG dengan nominal yang Anda inginkan.

Ternyata, Bitcoin Gold Wallet (BTG) bisa diperoleh dengan cara yang amat mudah, bukan? Sebelum berinvestasi, pastikan Anda sudah memiliki strategi yang tepat dan disertai dengan manajemen risiko yang baik, ya. Untuk informasi seputar BTG dan aset kripto lainnya, kunjungi situs www.tokocrypto.com dan media sosial Tokocrypto di Instagram dan Twitter.





Sumber : news.tokocrypto.com

Lark Davis: Ethereum di Atas $10.000 Akan Terjadi

Ethereum terlihat sangat positif setelah berhasil menjalankan pembaruan London yang mengubah wajah Ethereum menjadi lebih baik.

Mekanisme pembakaran (burn) yang menjadikan Ether (ETH) anti-inflasi, telah menjadi daya tarik tersendiri untuk para investor lama, maupun baru.

Belum lama ini, pedagang cryptocurrency dan influencer YouTube, Lark Davis, mengatakan bahwa Ether siap untuk rally 190% dalam perjalanan untuk mencapai harga lima digit.

Dalam sebuah video baru, Davis memberi tahu ratusan ribu pelanggan YouTube-nya bahwa aset kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar tersebut sedang bersiap untuk terapresiasi di atas $10.000 berdasarkan faktor fundamental utama.

Davis mengatakan salah satu alasan mengapa harga Ethereum ditetapkan lebih dari dua kali lipat adalah karena penurunan pasokan di bursa.

Baca Juga: Mastercard Inggris dan Jose Mourinho Akan Luncurkan NFT Khusus

Menurut Davis, pasokan platform kontrak pintar terkemuka di bursa berada dalam tren turun yang kuat selama setahun terakhir karena pemegang mengunci Ethereum mereka dalam protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi) atau menggunakan ETH mereka untuk membeli token yang tidak dapat dipertukarkan (NFT).

“Dengan mekanisme pasokan yang bekerja sebagaimana adanya, hanya masalah waktu sebelum krisis pasokan Ethereum akhirnya mendongkrak harga secara serius,” ujarnya.

Davis juga mengutip cuitan dari platform intelijen blockchain IntoTheBlock, yang mengatakan bahwa jumlah bersih Ethereum yang keluar dari pertukaran crypto baru-baru ini mencapai rekor tertinggi baru.

“Jumlah bersih Ethereum yang meninggalkan bursa baru saja mencapai rekor baru. Ethereum senilai lebih dari $1,2 miliar meninggalkan bursa terpusat kemarin. Itu adalah angka yang mengejutkan.”

Davis juga menambahkan bahwa ketika Ethereum bernilai lebih dari satu miliar dolar sebelumnya meninggalkan pertukaran terpusat, harga crypto terbesar kedua naik dengan poin persentase dua digit dalam waktu sekitar empat minggu.

“Dan yang menarik, seperti yang ditunjukkan IntoTheBlock, terakhir kali Ethereum meninggalkan pertukaran terpusat satu miliar dolar atau lebih, Ethereum meningkat 60% dalam 30 hari.”

Baca Juga: Bagaimana Nasib Bitcoin Di Bulan Oktober Mendatang?

Davis juga mengatakan mengutip penelitian oleh perusahaan analitik blockchain Glassnode, yang menunjukkan bahwa sebagian besar pasokan Ethereum tidak bergerak dalam 90 hari terakhir. Ia pun mengatakan:

“87% dari pasokan Ethereum belum bergerak secara on-chain selama tiga bulan atau lebih. 87% dari pasokan! Itu adalah kegilaan..

Orang-orang bertahan untuk harga yang lebih tinggi, mereka tidak menjual di bawah level tertinggi sebelumnya. Mereka tahu puncak sepanjang masa baru akan datang. Mereka tahu penemuan harga akan datang. Mereka menonton dan melihat apa yang terjadi secara ekonomi dengan Ethereum saat ini. Mereka melihat berapa banyak, misalnya, Ethereum sedang dibakar saat ini…”

Secara fundamental, apa yang digaungkan oleh Davis itu terdengaar masuk akal. Kebutuhan yang meningkat pesat di tengah pasokan yang minim akan menggerek harga dengan cepat menuju angkasa dan memberi keuntungan yang mungkin tak terbayangkan. Kita lihat saja!



Sumber : news.tokocrypto.com

Serba-Serbi Blockchain dan 5 Karakteristik Utamanya

Istilah “blockchain” pasti sudah tidak asing di telinga Anda, terutama bagi pegiat aset kripto. Walaupun terdengar rumit, ternyata konsep teknologi blockchain ini sangatlah sederhana. Sebagai investor, penting untuk memahami arti dari blockchain beserta karakteristiknya sebagai pengetahuan dasar. Yuk, simak penjelasan selengkapnya!

Apa Itu Blockchain?

Secara sederhana, blockchain adalah ledger digital yang terdistribusi, di mana di dalamnya dapat menyimpan berbagai jenis data. Blockchain sendiri merupakan sejenis database. Umumnya, struktur penyimpanan database adalah berupa tabel, sedangkan blockchain terdiri dari blok dan rantai. 

Misalnya, ketika transaksi masuk ke dalam blockchain, transaksi tersebut akan dilempar ke jaringan komputer yang ada di seluruh dunia untuk divalidasi oleh user, dengan cara memecahkan teka-teki matematika. Setelah valid, transaksi dikelompokkan ke dalam blok untuk dihubungkan dengan blok lain menggunakan rantai, agar history transaksi terekam dengan jelas. Setelah itu, barulah transaksi berhasil.

Kemudian blockchain memiliki sistem terdesentralisasi, yang membuat segala hal yang terekam dalam blockchain akan disebar di seluruh jaringan. Masing-masing server dalam jaringan juga saling terikat satu sama lain, sehingga setiap perubahan akan langsung terlihat dan tercatat. Hal ini juga yang membuat blockchain menjadi teknologi yang terjamin aman, karena memiliki server yang berlapis dan sulit untuk dibobol.

Teknologi blockchain sendiri sudah digunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari perbankan, pemungutan suara, hingga yang paling populer saat ini adalah digunakan untuk cryptocurrency.

Mengapa Cryptocurrency Memakai Teknologi Blockchain?

Semuanya berawal dari koin pertama yang terdapat pada dunia cryptocurrency, yaitu Bitcoin. Di awal kehadirannya pada tahun 2009, Bitcoin dibangun di bawah protokol blockchain. Pencipta Bitcoin, Satoshi Nakamoto, memilih blockchain karena kemampuannya dalam merekam ledger secara transparan, sehingga transaksi dan kepemilikan Bitcoin bisa terlihat dan dapat menghindari pemalsuan.

Selain itu, penerbit aset kripto juga menghindari risiko yang dimiliki suatu sistem yang masih berada di bawah otoritas pusat maupun pihak tertentu, contohnya bank konvensional. Jika bank diretas, maka informasi nasabah akan berisiko tersebar luas. Lalu, jika suatu bank berada di bawah negara yang kepemimpinannya sedang tidak stabil, maka akan berdampak buruk pada mata uang negara tersebut.

Agar tidak mengulang kesalahan yang sama, para penerbit juga memilih untuk membangun dengan teknologi blockchain yang menawarkan banyak manfaat. Dengan blockchain, alur proses transaksi yang panjang bisa dipersingkat dan biaya transaksi dapat dipangkas. Ditambah lagi, transaksi jual-beli dapat dilakukan tanpa batas dengan menggunakan alat transaksi berupa aset kripto yang cenderung lebih stabil.

5 Karakteristik Utama dari Blockchain

Sebagai teknologi yang mendasari perputaran Bitcoin (BTC), Ether (ETH), dan cryptocurrency lainnya, blockchain memiliki 5 karakteristik utama, yaitu:

  • Ledger yang Terdistribusi

Seluruh informasi baik transaksi maupun perubahannya, akan tersimpan di dalam blockchain hingga salinannya. Para user dapat memvalidasi segala transaksi yang terjadi tanpa harus terikat dengan satu otoritas tertentu dan hanya mengandalkan perangkat komputer. 

Pada saat satu user mengalami kegagalan dalam memvalidasi, maka transaksi akan langsung dilempar ke user lain tanpa terjadi gangguan. Karakteristik ini membuat blockchain dianggap sebagai tempat penyimpanan yang terstruktur dan menjadi pilihan para penerbit cryptocurrency.

Sebagai suatu teknologi, karakteristik yang satu ini mutlak terdapat pada blockchain. Seluruh informasi termasuk catatan transaksi yang terjadi pada blockchain akan tersimpan secara digital. Dengan demikian, pengarsipan dokumen secara tradisional dan manual sudah tidak lagi dibutuhkan.

  • Kronologis disertai Catatan Waktu

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, blockchain terdiri dari blok-blok yang saling tersambung menggunakan rantai. Tiap blok menyimpan informasi yang berkaitan dengan suatu transaksi, kemudian terikat dengan blok sebelumnya yang juga berisi informasi tentang transaksi yang sama. 

Keterikatan antar blok ini menghasilkan rantai kronologi yang menyediakan jejak dari transaksi yang mendasarinya. Dengan demikian, setiap aktivitas yang dilakukan terhadap satu transaksi, misalnya pada Bitcoin, akan tercatat secara runtut dan dilengkapi dengan catatan waktu kapan aktivitas tersebut berlangsung. Hal inilah yang membuat transaksi dalam blockchain tidak bisa dipalsukan.

  • Disegel secara Kriptografis

Sesaat blok diterbitkan dalam jaringan dan terikat oleh rantai kronologis, blok ini sudah secara otomatis tersegel secara kriptografis dalam rantai. Maksudnya, rantai blok yang sudah dibuat tersebut tidak dapat dihapus, diubah, maupun diduplikasi. Hal ini menjadikan sistem penyimpanan blockchain memiliki ketahanan dan kepercayaan yang tinggi.

Selain itu, sistem penyimpanan pada blockchain juga cenderung jarang mengalami kegagalan. Sekalipun terjadi kegagalan, blockchain akan tetap ada, sambil mengeliminasi kegagalan yang baru saja terjadi. Oleh karena itu, data yang tersimpan dalam blockchain tidak akan pernah berubah.

Jika membahas penghapusan transaksi yang sudah terdapat pada blockchain, rasanya akan sulit untuk dilakukan. Pasalnya, kegiatan tersebut tidak akan dapat terlaksana apabila belum mendapat persetujuan dari semua pihak yang ada di jaringan. Seluruh pihak harus memberikan konsensusnya lebih dulu, baru bisa dilakukan penghapusan. Namun, di keadaan tertentu, aturan konsensus ini bisa saja diubah untuk penyesuaian.

Sekarang Anda sudah mengetahui mengenai serba-serbi blockchain beserta karakteristik utamanya, termasuk hubungan antara cryptocurrency dengan blockchain. Nah, sebagai investor, pastikan Anda menggunakan Tokocrypto sebagai exchange jual-beli, ya. Selain karena sudah terdaftar di BAPPEBTI, investasi di Tokocrypto juga sangatlah mudah. Daftarkan diri Anda di www.tokocrypto.com sekarang!



Sumber : news.tokocrypto.com

TikTok Memilih Oracle – Apa Artinya Ini untuk Pasar Cryptocurrency?

TikTok, platform video pendek yang lagi booming digunakan oleh para remaja bahkan orang dewasa di berbagai belahan dunia, telah memilih Oracle Corporation sebagai mitra teknologinya di Amerika daripada Microsoft.

Berita itu pun muncul pada saat yang genting setelah Presiden AS Donald Trump dengan tegas memutuskan bahwa TikTok harus menjual operasinya di Amerika Serikat sebelum 15 September, menetapkan bahwa aplikasi media sosial tersebut adalah ancaman bagi keamanan nasional karena diam-diam mengumpulkan informasi pengguna, seperti diungkapkan oleh analisis dari Wall Street Journal.

Baca Juga: Kampanye “Tetap Aman dan Legal” dari ABI dan Exchange resmi Bappebti

Menanggapi pilihan TikTok pada Oracle, Microsoft pun menerbitkan pernyataan resmi beberapa hari lalu:

“ByteDance memberi tahu kami hari ini bahwa mereka tidak akan menjual operasi TikTok AS ke Microsoft. Kami yakin proposal kami akan baik untuk pengguna TikTok, sekaligus melindungi kepentingan keamanan nasional.”

Jika president Trump masih memutuskan untuk melanjutkan pelarangan pada TikTok, ini dapat menciptakan peluang bagi platform media sosial terdesentralisasi lainnya untuk beraksi di AS.

Block.one, platform blockchain berkinerja tinggi yang menghosting platform media sosialnya ‘Voice’, akan menjadi salah satu yang dapat memanfaatkan pelaranganan TikTok di Amerika.

Jika kemitraan ini tidak memuaskan untuk sang Presiden, maka raksasa media sosial berbasis blockchain lainnya akan sangat diuntungkan, dan tentunya ini akan dapat menyebabkan ledakan pada pasar mata uang crypto dan juga Bitcoin (BTC).

Ethereum mungkin akan lebih diuntungkan daripada Bitcoin karena, Ethereum terkenal dengan platform terdesentralisasi.

Meski BTC sendiri tengah terkoreksi karena berbagai hal, salah satunya aksi jual para penambang, tentu saja ha-hal dari sisi fundamental akan dapat mengembalikan kepercayaan investor akan kekuatan sang crypto utama, sehingga adopsi dan aksi para perusahaan blockchain, khususnya di sektor media sosial seperti yang tengah dibahas ini, akan dapat memicu tren positif kembali pada pasar crypto dan meningkatkan gairah berinvestasi.

Pada saat pers, harga Bitcoin sudah menduduki Rp 160 juta karena ketidakpastian ekonomi di Amerika.

Intinya, semua bergantung dari pandangan pemerintahan AS terhadap kemitraan TikTok dan Oracle ini, apakah dirasa masih akan mengganggu dan meresahkan, atau justru akan dirasa baik-baik saja? Kita lihat saja!

Baca Juga: 6 Terobosan Proyek Harmony



Sumber : news.tokocrypto.com