Tag Archives: cryptocurrency

Polkadot (DOT) Melonjak Ke 10 Besar Cryptocurrency, Kok Bisa?

Meskipun di industri cryptocurrency hal ini tidak pernah terjadi, namun cara ini ternyata efektif membuat total pasokan DOT yang semula hanya 10 juta token kini menjadi 1 miliar di Genesis. Redenominasi ini tidak mengubah nilai total kepemilikan investor, hanya membuat jumlah token meningkat.

Cara ini menimbulkan kesan DOT menjadi “lebih ergonomis” – sama seperti yang dikatakan pembuat platform Gavin Wood. Sebelumnya, pasokan awal Polkadot dibatasi hanya sebesar 10 miliar saja dan hal ini dianggap keputusan yang sembrono.

Sehingga Polkadot membutuhkan referendum komunitas untuk memecahkan masalah tersebut. Hasilnya, sejak bulan Juli sebanyak 86% dari komunitas setuju dengan redenominasi DOT. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya.

Token DOT sempat mengalami keuntungan yang dramatis. Sebelum devaluasi token DOT naik $ 2,92. Kemudian 1 September menjadi kenaikan tertinggi yaitu $ 6,84. Dan, pada saat pers, harga DOT adalah $4.25 menurut CoinGecko.

 

CoinGecko

 

Analis makro bernama Thomas Kuhn memberikan 3 alasan lain yang membuat posisi DOT tiba-tiba melonjak, yaitu: Proyek tersebut semacam peti perang yang layak memulai, sehingga mereka dapat mendanai tim yang kuat mengingat Polkadot adalah proyek yang cukup baru dibandingkan dengan Ethereum, misalnya.

“Selama bertahun-tahun, para pemegangnya sudah tidak tahan menunggu untuk ‘meninggalkan kapal’ pada kenaikan harga pertama,” jelasnya.

Tapi, DOT juga bukanlah proyek yang baru dikembangkan melainkan sudah 3 tahun. Faktanya, peristiwa yang dianggap paling penting adalah adanya referendum komunitas sehingga memungkinkan pemegang untuk mentransfer token mereka – yang sebelumnya sanagat sulit karena hanya melalui pertukaran “over-the-counter”, dan IOU. Jadi, kemampuan transfer yang diaktifkan membuat kapitalisasi pasar DOT melonjak

Transformabilitas dan redenominasi telah menyebabkan sedikit kebingungan karena volume perdagangan DOT juga melonjak dalam beberapa pekan terakhir, melampaui $ 1,4 miliar pada 27 Agustus. Lebih penting dari itu, setidaknya, ambisi komunitas DOT untuk membangun ekosistem pesaing Ethereum: telah terbentuk.

Sayangnya, uang kripto ini tidak diperdagangkan di pialang dalam negeri. Jika anda mau membeli token ini, anda harus ke pialang luar negeri, seperti Binance.

Baca Juga: Wow, Polkadot Menjual 500 Ribu Tokennya dengan Harga yang Tidak Diketahui



Sumber : news.tokocrypto.com

9 Negara ini Menunjukkan Peningkatan Minat yang Besar pada Cryptocurrency

Coinmarketcap telah mengungkapkan negara-negara teratas dengan peningkatan jumlah pengguna cryptocurrency terbesar. India, Pakistan, Kolombia, Kanada, dan Nigeria masuk ke dalam salah satu segmen yang menunjukkan negara-negara dengan pertumbuhan pengguna terbanyak pada kuartal pertama. Selanjutnya, ada negara-negara dengan pertumbuhan pengguna perempuan terbanyak, yaitu Yunani dan Rumania.

Pengguna Cryptocurrency Keseluruhan di Kalangan Dewasa Muda Naik 46%, Dipimpin Nigeria dengan 211%

Harga cryptocurrency terkemuka dan penyedia data pasar Coinmarketcap menerbitkan laporan pada hari Jumat yang menyoroti tren pasar dan pengguna kripto untuk kuartal pertama tahun ini. Perusahan tersebut menjelaskan mengenai data yang dianalisis berasal dari “data kapitalisasi pasar eksklusif dan pengetahuan dari pengguna dari basis besar pengguna kami.”

Selain tren harga cryptocurrency dan diskusi tentang peristiwa setelah crash pada tanggal 12 Maret 2020 lalu, Coinmarketcap menemukan dua tren lain yang dianggap “menjanjikan”.

Baca Juga: Deutsche Bank: Cryptocurrency Bisa Jadi Ancaman Stabilitas Politik dan Keuangan

Yang pertama dalah pertumbuhan kuartalan 43,24% dari pengguna perempuan di situs webnya dan yang lainnya adalah pertumbuhan kuartalan 46,4% dari pengguna muda (usia antara 18 dan 24).

Rincian laporannya sebagai berikut:

“Sehubungan dengan segmen pengguna dewasa muda (berusia 18-24), benua Oceania mengalami lonjakan terbesar hingga mencapai 151,95%, diikuti oleh Afrika dengan 91,47%.”

Secara khusus, Coinmarketcap menyebutkan sembilan negara mengalami peningkatan pengguna tertinggi di antara usia 18 dan 24 pada kuartal pertama ini dibandingkan dengan yang sebelumnya.

Sembilan negara dengan pertumbuhan pengguna setidaknya 80% dipimpin oleh nigeria, yang mengalami peningkatan hingga mencapai 210,6%, diikuti oleh Australia sebesar 158,07%, dan Spanyol sebesar 120,71%. Negara teratas lainnya adalah Kanada (112,45%), Meksiko(97,33%), Inggris (91,48%), Kolombia (85,07%), India (83,07%), dan Pakistan (81,79%).

Baca juga: Bitcoin Sebagai Mata Uang Kripto dengan Pertumbuhan Teratas

Peningkatan Pengguna Perempuan Keseluruhan Naik 43%, Dipimpin Yunani yang Naik Hingga 164%

Jumlah pengguna perempuan juga meningkat secara substansial di kuartal pertama, ungkap Coinmarketcap. “Meski kami secara konsisten melihat peningkatan jumlah pengguna perempuan, segmen ini melihat pertumbuhan yang kuat sebesar 43,24% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya,” perusahaan menjelaskan:

“Di dalam segmen pengguna perempuan, wilayah Amerika dan Eropa tumbuh lebih dari 50% pengguna.”

Perusahaan ini juga menyebutkan sembilan negara lain mengalami peningkatan jumlah pengguna perempuan tertinggi pada kuartal pertama dibandingkan dengan yang sebelumnya.

Yunani memimpin segmen tersebut dengan pertumbuhan 163,67%, diikuti oleh Rumania (145,09%), Argentina (98,23%), Portugal (89,95%), Indonesia (88,92%), Ukraina (86,68%), Czechia (85,6%), Kolombia (82,03%), dan Venezuela (80,23%). Selain itu, perusahan menemukan peningkatan 41% dalam jumalh pengguna yang lebih tua dari 65 tahun.

Menurut peringkat Alexa, Situs Coinmarketcap saat ini berada di peringkat ke 569 secara global untuk lalu lintas sistus dan keterlibatan pengguna. Pada bulan April lalu, perusahaan ini diakuisisi oleh Binance Capital management, yang mengoperasikan salah satu paltform perdagangan cryptocurrency terbesar di dunia.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Bitcoin Disebut Lebih Popular Daripada Bank-Bank Besar

Bitcoin disebut-sebut lebih popular daripada bank-bank besar. Ya, setidaknya itu versi media siber Tokenist, berdasarkan hasil survei mereka belum lama ini. Survei itu melibatkan 4.852 responden dari 17 negara.

Menurut survei itu jumlah orang yang lebih percaya Bitcoin dibandingkan bank-bank besar, meningkat hingga 29 persen dalam tiga tahun terakhir.

Sekitar 47 persen responden lebih percaya dengan Bitcoin daripada bank-bank besar yang menyediakan jasa transaksi keuangan lintas negara.

Survei itu juga menunjukkan perbedaan pandangan generasi soal Bitcoin dan bank tradisional. 51 persen generasi milenial lebih percaya dengan Bitcoin dibandingkan bank, meningkat 24 persen dibanding 2017 silam. Sementara 93 persen generasi di atas usia 65 tahun lebih mempercayai bank besar.

Sekitar 78 persen responden dari generasi milenial mengaku cukup akrab dengan Bitcoin, dan 14 persen di antaranya memiliki Bitcoin. Bahkan, dalam lima tahun mendatang, 44 persen responden generasi milenial berencana akan membeli lebih banyak Bitcoin lagi.

Kendati generasi milenial lebih mudah mengadopsi Bitcoin karena lebih melek teknologi, survei itu menunjukkan tingkat pengetahuan dan kepercayaan terhadap Bitcoin meningkat di semua kelompok usia dan jenis kelamin.

Berita Terkait:  Waspada! Bearish Bitcoin Membayang-bayangi

Sekitar 60 persen responden merasa Bitcoin adalah inovasi positif di bidang teknologi keuangan, dibanding 27 persen tiga tahun lalu. Lebih dari 45 persen responden lebih memilih Bitcoin sebagai investasi dibanding saham, properti dan emas.

“Tiga tahun lalu, sebagian besar bursa aset kripto yang memperdagangkan Bitcoin dan aset kripto lainnya masih baru, sehingga tingkat kepercayaannya rendah. Kini, tampak terjadi peningkatan kematangan dan kestabilan para penyedia jasa tersebut, sehingga mendongkrak minat para trader dan investor, ” jelas tim Tokenist. [decrypt.co/ed]

Berita Terkait: Negara Tirai Bambu Percaya dengan Blockchain, Bagaimana dengan Bitcoin?



Sumber : news.tokocrypto.com

4 Alasan Mengapa Harga Bitcoin Tidak Bisa Menembus $ 10.000

Saat harga Bitcoin (BTC) naik menjadi $ 10.180 di BitMEX, ia telah kembali terejeksi hingga ke leve $ 9.600. Rejeksi cepat ini adalah yang ketiga kalinya dalam 30 hari, harga Bitcoin telah terejeksi dari level Resistance $ 10.000.

Pada saat pers, harga BTC turun Rp 8 juta dalam waktu 24 jam.

Inilah empat faktor yang mungkin berkontribusi terhadap volatilitas ini adalah:

  1. Pertemuan Komite Pasar Terbuka Federak (FOMC) the Fed
  2. Likuidasi kontrak Short senilai $ 14 juta
  3. Ketahanan berkelanjutan dari area Resistance multi-tahun dari $ 10.000 – $ 10.500.
  4. Saham

Baca Juga: 4 Alasan Kenapa Kamu Harus Upgrade ke Tokocrypto 2.0

1.Pertemuan FOMC The Fed

Sebelumnya, the Fed telah mengadakan pertemuan FOMC tak lama sebelum lonjakan cepat dari volatilitas Bitcoin.

Ketua The Fed, Jerome Powell, menyatakan bahwa pasar kerja mungkin telah mencapai titik terendah dalam pertemuan itu.

Disisi fundamental AS, tingkat pengangguran pada awalnya diproyeksikan akan tetap dalam dua digit dan ini menjadi perhatian utama bagi investor.

Untuk berlindung dari risiko penurunan, investor cenderung memilih alternatif yang lebih aman seperti obligasi berisiko rendah.

Menurut analis pasar Welt Holger Zschaepitz, Powell mengatakan:

“Kami ingin investor mempertimbangkan risiko seperti pasar seharusnya. [Dia] mengatakan Fed tidak akan pernah menahan dukungan untuk ekonomi karena menganggap harga aset terlalu tinggi. Meletuskan gelembung aset akan melukai [para] pencari kerja.”

Meskipun data positif keluar dari pertemuan FOMC, pasar saham Amerika Serikat dan harga Bitcoin telah turun.

Baca Juga: Elquirex: Investasi Bitcoin Hingga 159%, Pinjaman Dengan Anggunan BTC

2. $16 Juta dalam Kontrak Futures BTC di Likuidasi

Dalam waktu 30 menit, posisi Short Bitcoin senilai $ 14 juta telah dilikuidasi pada BitMEX. Dibandingkan dengan bursa lain, harga BTC telah naik lebih tinggi di BitMEX sekitar $ 100.

Ketika harga Bitcoin mencapai level $ 9.600 dalam penurunan 4% dalam waktu kurang dari 15 menit, posisi Long senilai $ 2 juta lainnya pun juga telah dilikuidasi.

Secara total, dalam waktu kurang dari satu jam, sekitar $ 16 juta kontrak Futures telah dilikuidasi secara berurutan.

Ketika kontrak berjangka (futures) senilai puluhan juta dolar dilikuidasi dalam pergerakan harga yang sangat fluktuatif dalam waktu singkat, ini dapat menyebabkan harga BTC bergerak cepat ke arah mana pun.

Baca Juga: Membayar Ethereum Senilai Rp 36 Miliar Untuk Mengirim Rp 1.8 juta? Apa Yang Terjadi?

3.Resistance Multi-Tahun

Sejak pertengahan 2019, area antar level $ 10.000 – $ 10.500 telah bertindak sebagai zona Resistance yang kuat bagi Bitcoin.

Setiap kali harga BTC mencoba untuk keluar dari zona ini, maka harga akan mendapatkan perlawanan jual yang cukup kuat dan menekan.

Baru-baru ini, harga Bitcoin telah mencoba melampaui $ 10.000 sebelum jatuh kuat lagi hingga ke level $ 9.600.

Investor Cryptocurrency Koroush AK mengatakan bahwa langkah ini mengurangi pentingnya keberadaan level $ 9.850 sebagai level Resistance lain.

Dia berkata :

“Langkah ini penting. $ 9.850 sekarang kurang penting sebagai Resistance. $ 10.000 kini lebih penting.”

4.Saham

Seperti yang kita lihat, harga BTC turun drastis karena harga saham turun.

S&P 500 turun 6%, Dow Jones 7% dan Nasdaq 5%.

Walaupun ada beberapa waktu Bitcoin terlihat tidak memiliki korelasi positif dengan saham, namun, tidak bisa dipungkiri lagi, bahwah saat ini, BTC masih mengikuti aksi harga saham.

Sumber: Cointelegraph



Sumber : news.tokocrypto.com

Kabar Bitcoin dan Industri Crypto di Paruh Tahun 2021

Bitcoin dan pasar crypto memasuki tengah tahun dengan harga yang masih stagnan dan turun jauh dari all time highnya yg sempat mendekati $65.000. Walau begitu dalam enam bulan pertama tahun hal yang dicapai Bitcoin dan industri crypto lainnya.

Berikut hal-hal menarik yang terjadi di industri crypto di paruh tahun yang terdiri dari Januari hingga Juni 2021. Selengkapnya..

Bitcoin Koreksi dan Naik Kembali Hingga $40.000

Sebelumnya di Januari Bitcoin sempat alami koreksi hingga angka $27.700 dengan harga sebelumnya ada di $34.000 salah satu dugaan kuat penyebab turunnya harga aset ini karena investor ritel yang menjual kepemilikan mereka.

Walau koreksi, pada akhirnya di bulan ini Bitcoin pun berhasil naik kembali menyentuh $40.000, penyebabnya diduga karena Grayscale membuka kembali jasanya kepada investor baru di tanggal 13 Januari 2021.

Baca Juga: Yuk, Kenalan dengan Karya Seni NFT yang Populer!

Tesla Beli Bitcoin

Kabar yang cukup mengejutkan di bulan Febaruari adalah Tesla membeli Bitcoin yang bernilai 1,5 Miliar yang membuat harganya naik hingga sekitar $47.500 atau setara dengan Rp665.095.000.

Keputusan Tesla membeli raja aset crypto ini membuat sentimen di sekitar industri positif, hal ini turut berimbas dengan pergerakan harga termasuk pada altcoin. Selain itu ini menunjukan jika institusi mulai memiliki kepercayaan lebih terhadap Bitcoin.

NFT Jadi Perhatian

Bulan Maret adalah waktunya NFT, di bulan ini Non Funtagible Token atau token yang tidak dapat ditukarkan kian populer. Contohnya adalah lukisan Bepple yang memperoleh harga fantastis hingga $6,6 juta dollar.

Beberapa penyebab yang membuat NFT terkenal adalah keaslian karena hampir tidak mungkin dipalsukan, eksklusifitas yang menjadi nilai lebih bagi para kolektor dan selebritas yang mempublikasikan karya mereka dalam bentuk NFT.

Baca Juga: 3 Alasan Ini Sebabkan NFT Semakin Populer

Bitcoin Jatuh Karena Rumor

Di bulan April salah satu yang menjadi perhatian adalah jatuhnya harga Bitcoin dari $59.000 menuju ke $51.000. Jatuhnya Bitcoin disebabkan oleh berbagai rumor yang beredar salah satunya adalah Menteri Keuangan Amerika Serikat, akan segera menuntut beberapa institusi keuangan besar akibat menggunakan crypto sebagai alat pencucian uang.

Kemudian ada pula kabar yang menyatakan jika hash rate yang berhubungan dengan mining Bitcoin turun hingga 40% karena ada pemadaman listrik masal di Xinjiang, China. Turunnya harga Bitcoin ini pun diikuti oleh altcoins lain seperti Ethereum dan Binance Coin.

Meski Turun, Bitcoin Telah Naik 400%

Ketika sentimen pasar menyatakan Bitcoin sedang mengalami penurunan, namun analis dari ARK Investment menyatakan bahwa kenyataannya Bitcoin masih terlihat naik. Hal tersebut dinyatakan dengan data bahwa dalam satu tahun Bitcoin telah naik lebih dari 400% jika melihat dalam jangka waktu tahunan.

Ia melihat bahwa apresiasi ini cukup signifikan melihat sebelumnya Bitcoin berada di $9.500 atau Rp136,49 Juta hanya satu tahun yang lalu. Ia menekankan, walau jatuh 40%, Bitcoin sudah naik 400% sejak tahun lalu.

El Salvador Terima Bitcoin untuk Alat Tukar Sah

Bulan Juni El Salvador mengumumkan akan menjadikan Bitcoin sebagai alat tukar yang sah, keputusan negara tersebut pun sempat membuat IMF meradang. Namun El Salvador tidak gentar dan terus menjadikan rencana ini jadi kenyataan, negara yang berada di benua Amerika ini diketahui akan membagikan airdrop Bitcoin gratis pada warganya yang memenuhi syarat.

Keputusan El Salvador ini adalah keputusan yang sangat berani dan bisa menjadi batu loncatan bagi crypto utamanya Bitcoin untuk diadopsi lebih luas di sebuah negara.

sumber.



Sumber : news.tokocrypto.com

Kesalahan Trader Saat Lose/Kalah Trade

Saat kita kalah trade dan hilang uang adalah saat paling irasional bagi para trader. Kita pasti mengalami kombinasi dari perasaan ini:
1. Harga diri hancur karena analisa salah
2. Iri ada orang lain yang menang
3. Tekanan tambahan karena ada uang yang hilang, jadi merasa “harus balik + profit”

Kombinasi tadi akan membuat kita melakukan kebodohan. Nah, kebodohan-kebodohan yang kita lakukan bisa berpotensi menghilangkan uang kita bahkan menghancurkan account kita. Apa saja kebodohan dan kesalahan itu?

Baca Juga: Tiga langkah mudah deposit sebelum memulai trading

Double Down

Istilah di Indonesia mungkin “teknik kompensasi”. Saat kita kehilangan jumlah tertentu, misalkan 10 dolar, kita malah melakukan trading lagi dengan posisi yang lebih besar dari posisi trading sebelumnya, dengan resiko hilang yang 2 kali lipat lebih besar.

Harapannya akan menang dan menutup loss yang tadi. Hal ini adalah kesalahan besar yang dapat mengurangi uang di account Anda, apalagi jika tidak ada setup yang benar.

Baca Juga: Mengenal Pola Barting Penjebak Trader Aset Kripto

Langsung Trading Lagi (Revenge Trading)

Sama seperti double down, bedanya Anda tidak menggunakan posisi yang lebih besar 2 kali lipat. Intinya adalah langsung trading lagi berharap loss yang tadi bisa tertutup. Seharusnya yang Anda lakukan sebaiknya cukup berdiam diri dulu. Nanti lakukan analisa lagi saat sudah agak tenang.

Meninggalkan Strategi yang Kalah Saat Dipakai

Ini juga kesalahan. Misalkan Anda pakai fibonacci, lalu kalah 3x berturut-turut….Ya jangan selamanya berhenti pake fibonacci. Straterginya mungkin sedang tidakcocok di pasar dengan kondisi sekarang.

Sebuah setup atau strategi mungkin maksimal probabilitas berhasilnya 70%. Jadi ya pasti ada saat di mana setup dan strategi yang Anda pakai gagal.

Baca Juga: Tokocrypto 2.0 Berbasis Binance Cloud Siap Meluncur

Telling Yourself: Harus Balik Nih!

Let loss be loss, biarkan saja. Sama dengan WIN. Biarkan profit jadi profit.

Biarkan loss dan profit Anda jadi angka dalam statistik Anda, dan biarkan pikiran Anda tidak terbebani. After all, kita maunya profit dalam jangka panjang ya kan?



Sumber : news.tokocrypto.com

Jumlah Perempuan pada Bidang Crypto dan Blockchain Meningkat Pesat di 2020

Kepercayaan luas mengatakan sektor cryptocurrency dan blockchain hampir secara eksklusif didominasi oleh laki-laki. Namun, sebuah laporan yang dirilis oleh CoinMarketCap pada 30 April 2020 lalu mengatakan sebaliknya. Menurut analis tersebut, jumlah perempuan di industri cryptocurrency meningkat 43,24% pada kuartal pertama 2020.

Berikut perincian faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap pertumbuhan rekor ini dan mengapa jumlahnya bervariasi dari satu daerah ke daerah lain.

Perempuan Berinvestasi Lebih Banyak dalam Bitcoin

Sebuah studi yang diterbitkan pada bulan Desember 2019 lalu oleh sebuah operator pendanaan Bitcoin (BTC), Grayscale menunjukkan 43% investor yang tertarik pada Bitcoin adalah perempuan – naik dari 13% dari tahun sebelumnya – dan jumlah ini terus bertumbuh dengan aktif hingga saat ini.

Ketika kondisi keuangan global semakin menyesakkan, banyak orang mulai berinvestasi dalam real estat, emas, dan mata uang digital. Dengan asumsi bahwa perempuan cenderung lebih pesimis daripada laki-laki tentang ekonomi global, kepercayaan mereka pada mata uang digital justru meningkat secara signifikan pada tahun 2020. Dengan demikian, banyak perempuan menemukan tempat yang aman dengan aset digital ini.

Berbeda dengan yang lain, cryptocurrency menjadi investasi yang menjanjikan. Pengusaha Blockchain Nisa Amoils menunjukan ada peluang investasi yang menarik dari pasar sebagai salah satu alasan utama di balik meningkatnya minat perempuan terhadap uang digital, seperti dilansir dari Cointelegraph, ia mengatakan:

“Perempuan bisa mendapatkan lebih banyak pendapatan melalui perdagangan, investasi, dan pengeluaran virtual dengan Bitcoin. Serta token economy dapat mendemokan akses ke modal melalui, misalnya, penawaran token keamanan.”

Banyak platform perdagangan telah melihat peningkatan permintaan cryptocurrency. Sebagai contoh, pada bulan Maret lalu, pertukaran mata uang digital Coinbase mencatat lonjakan simpanan yang dibuat oleh penduduk AS dalam jumlah $ 1200, ukuran yang sama persis dengan cek stimulus virus korona yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat.

Pada saat yang sama, Bitcoin telah berlipat ganda nilainya selama dua bulan terakhir, hal ini ditambah dengan peristiwa halving yang terakhir, yang telah menyebabkan kehebohan di seputar industri cryptocurrency. Di sini, perempuan sama kompetennya dengan laki-laki. Secara khusus, menurut Grayscale, 49,8% perempuan memperkirakan emisi terbatas Bitcoin akan mengarah pada pertumbuhan harganya di masa depan.

Baca juga: 43 Persen Perempuan di AS Tertarik dengan Bitcoin

Trading Crypto Bukan “Klub untuk Laki-laki”

Pertumbuhan harga Bitcoin serta daya tarik investasi uang digital secara umum telah berkontribusi pada peningkatan jumlah perempuan dalam pertukaran mata uang kripto ini. Misalnya saja, seperti yang dilansir Cointelegraph pertukaran cryptocurrency Bithumb Global melaporkan bahwa perusahaannya mengalami pertumbuhan 30% dalam jumlah pengguna perempuan pada tahun 2020. Wakil presidennya Vincent Poon menjelaskan perempuan saat ini menggunakan uang digital untuk lindung nilai dana mereka, meskipun tidak semua berdagang secara proaktif:

“Saya pikir perempuan biasanya kurang terlihat ketika dikaitkan dengan investasi Bitcoin karena mengacu pada bagian teknisnya dan volatilitas Bitcoin. Saya pikir mereka hanya mencoba untuk mendiversifikasi atau melindungi portofolio mereka dan mulai melihat Bitcoin sebagai investasi alternatif karena hilangnya kepercayaan mereka pada sekuritas atau ekonomi tradisional lain secara keseluruhan selama pandemi ini. Lebih banyak perempuan membuka akun tetapi belum mengikuti aktivitas berdagang. Mereka sedang dalam tahap menjelajah.”

Cointelegraph menemumkan jumlah pengguna perempuan telah bertumbuh antara 22% hingga 160% di sebagian besar pertukaran crypto teratas sejak awal tahun. Khususnya, pada pertukaran aset digital CEX.io dan EXMO yang melihat peningkatan yang sama dalam jumlah pengguna perempuan seperti pada Bithumb Global.

Alexander Kravets, CEO CEX.io, berbagi statistik terbaru, “Sebagai bagian dari basis pengguna kami secara keseluruhan, CEX.IO telah melihat pertumbuhan 26,86% dari segmen pengguna wanita dari Q1 ke Q2 2020.” Maria Stankevich, kepala pengembangan bisnis di EXMO, mengatakan kepada Cointelegraph bahwa pertumbuhan terbesar terjadi pada jumlah perempuan yang berusia antara 18-24 dan 35-44 tahun. Ia juga menambahkan:

“Kami memperhatikan terkadang anggota keluarga trader VIP lainnya mulai melakukan trading. Mungkin hal itu terkait juga dengan fakta, keinginan mereka dalam mendapatkan beberapa keterampilan baru.”

Baca Juga: Likuiditas Kunci Bagi Kemajuan Pasar Crypto

CoinCorner, pertukaran crypto yang berbasis di Inggris mengungkapkan pangsa perempuan di dalam pasar di antara penggunanya sekarang mencapai 14,7%, dengan peningkatan sebesar 47% dalam jumlah pendaftaran perempuan yang terjadi pada Kuartal Pertama 2020. Joanne Goldy, spesialis pemasaran di CoinCorner, memberikan komentar terkait hal tersebut, “Dalam lima tahun pertama di CoinCorner, kami melihat minat yang terbatas dari khalayak perempuan, tetapi pendaftaran perlahan terus naik dari 10% menjadi 14% selama periode tersebut.”

Sementara itu, OKCoin melaporkan gelombang masuk pengguna perempuan yang lebih tinggi pada layanannya. Hong Fang, CEO dari pertukaran tersebut, mengatakan bahwa ada peningkatan sekitar 80% dalam lalu lintas pengguna perempuan pada Kuartal Pertama 2020, dengan 50% dari pengguna perempuan ini menjadi pengguna baru jaringan. Dia menambahkan bahwa 40% dari mereka berusia sekitar 25 hingga 34 tahun.

Jika melihat peningkatan yang sangat, itu ada pada Bitfinex. Pertukaran tersebut berhasil mencatat rekor tingkat pertumbuhan pengguna perempuan baru mencapai 162% hanya sepanjang tahun ini saja. Joe Morgan, manajer hubungan masyarakat senior bursa, mengatakan

“Pertumbuhan ini jelas menunjukkan minat yang meningkat pada aset digital di kalangan perempuan. Alasan mengapa perempuan memilih untuk membuat akun pada platform Bitfinex, mungkin ini dapat dikaitkan dengan sifat bisnis yang beragam dan juga inklusif. ”

Cryptocurrency Menjadi Mudah Digunakan

Pengadopsian teknologi blockchain dan cryptocurrency yang lambat tetapi stabil juga dapat berkontribusi pada meningkatnya jumlah perempuan yang ingin terlibat langsung dengan inovasi ini dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pada bulan Maret, platform keuangan 2gether mengungkapkan 23% pengguna aplikasi mereka adalah perempuan berusia antara 26 hingga 45 tahun dengan berbagai profesi misalnya akuntan, pengacara, dan ekonom. Seperti yang ditunjukkan dalam laporan, pengguna perempuan saat ini menggunakan cryptocurrency dengan cara yang sama seperti mereka menggunakan uang fiat.

Selain itu, Terra sebuah operator pembayaran crypto lainnya menunjukkan sebuah laporan bahwa 74% penggunanya adalah perempuan berusia akhir 30-an dan awal 40-an yang membayar dengan aset digital untuk misalnya pakaian, kopi, dan barang sehari-hari lainnya. Statistik juga menunjukkan, tidak hanya perempuan yang berusia milenial dan geek tetapi juga mereka yang tidak memiliki keahlian teknis atau pengetahuan dasar mulai menggunakan cryptocurrency.

Faktor Geografis

Data CoinMarketCap menunjukkan keterlibatan perempuan dalam industri kripto juga dapat bergantung pada faktor geografis. Sebagai contoh, jumlah pengguna cryptocurrency di AS dan Eropa, daerah yang tingkat permintaannya tinggi pada uang digital, meningkat sebesar 50% sejak awal tahun. Tren ini juga telah dibuktikan oleh statistik yang dirilis oleh 2gether, mengungkapkan bahwa perempuan Eropa yang menggunakan mata uang digital sebagian besar adalah kaum milenial dan Gen Xers yang berusia antara 26 hingga 45 tahun.

Pada saat yang sama, menurut CoinMarketCap beberapa negara menunjukkan peningkatan lebih dari 100% pada jumlah pengguna crypto perempuan. Di Eropa misalnya Yunani paling menonjol dengan rekor pertumbuhan hingga 163,67%. Nikolaos Kostopoulos, petugas adopsi pasar dan kemitraan di Harmony, mencatat faktor ekonomi dan tenaga kerja sebagai alasan utama di balik meningkatnya jumlah perempuan di pasar crypto Yunani, mengatakan:

“Ekonomi Yunani menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang stabil (pasca krisis pandemi), sementara pasar lowongan kerja juga berkembang. Gelombang baru profesional muda ini secara aktif mencari media-media yang dapat mengidentifikasi sebuah investasi alternatif. […] Demikian pula, blockchain adalah salah satu bidang dengan permintaan tinggi, selaras juga dengan perusahaan konsultan dan TI. Industri TI Yunani juga mengalami kenaikan jumlah perempuan yang aktif bergabung, dengan tren yang juga sama pada institusi di bidang teknik.”

Untuk jumlah perempuan-perempuan yang sudah bergabung pada ruang crypto, ada Rumania dengan 125,09% yang menyusul Yunani, diikuti juga oleh Portugal dengan 89,95%, Ukraina dengan 86,68% dan Republik Ceko dengan 85,6%. Di beberapa negara ini, pertumbuhan dapat dikaitkan dengan faktor ekonomi seperti produk domestik bruto yang rendah dan tingkat pengangguran yang tinggi, sementara pembangunan aktif di sektor IT juga merupakan pendorong utama pada negara-negara lain.

Alyona Karpinskaya, CEO dan pendiri agensi hubungan masyarakat PR-Blockchain yang berbasis di Ukraina menyatakan adanya peningkatan tajam dalam minat pengguna perempuan di Ukraina dalam cryptocurrency dapat dikaitkan dengan peningkatan jumlah perusahaan IT dan perempuan yang berlatar belakang pendidikan teknologi di negara tersebut. “Menurut data tahun 2019, jumlah perempuan yang bekerja di sektor TI Ukraina meningkat sebesar 62% dibandingkan dengan 2017,” ujarnya. Ia juga menambahkan, krisis finansial global juga bisa menjadi kontribusi terhadap arus ini.

“Karena pandemi COVID-19 dan karantina global, lebih dari 53% perusahaan IT Ukraina kehilangan pelanggan, yang akan menyebabkan kerugian finansial yang signifikan dan kebutuhan spesialis untuk mencari peluang keuangan alternatif.”

Dalam hal pengguna crypto perempuan-perempuan di negara-negara Asia, seperti Indonesia menunjukkan kemajuan terbesar, dengan peningkatan 88,92% dalam jumlah pengguna perempuan yang tertarik pada uang digital. Lalu di Korea Selatan, negara yang membuat langkah besar menuju legalisasi kripto, pengguna perempuan pada tahun 2020 dilaporkan menghabiskan lebih banyak crypto untuk berbelanja daripada penggunaan sebelumnya.

Baca juga: 9 Negara ini Menunjukkan Tingkat Minat yang Besar pada Cryptocurrency

Sementara itu, di Amerika Latin, Argentina tampaknya menjadi negara yang membuat langkah terbesar dalam keterlibatan perempuan di industri teknologi digital ini, dengan peningkatan sebesar 98% dalam jumlah pemegang cryptocurrency perempuan. Walter Salama, pendiri dan kepala operasi perusahaan pertambangan BitPatagonia yang berbasis di Argentina, mencatat semakin banyak perempuan Argentina yang terlibat dalam sektor TI sebagai salah satu alasan di balik lonjakan ini:

“Argentina berada di posisi yang luar biasa mengenai kewirausahaan di dunia dan juga rasio unicorn berdasarkan negara. Perempuan dari generasi ini (yang berusia 65+) menjadi pemimpin di banyak bdiang usaha. (…) Terkait dengan ekosistem Blockchain dan Cryptocurrency, di Argentina sendiri ada banyak perempuan yang berinvestasi dalam proyek dan pengadopsian awal Bitcoin. “

Dua negara Amerika Latin lainnya menunjukkan peningkatan terbesar terkait jumlah pengguna perempuan di industri crypto adalah Kolombia dengan 82,03% dan Venezuela dengan 80,23%. Alasan di balik pertumbuhan ini kemungkinan adalah inflasi tinggi, pembatasan transaksi valuta asing dan kurangnya kepercayaan masyarakat lokal terhadap mata uang nasional.

Pada saat yang sama, Afrika dan Cina menunjukkan tren negatif terkait jumlah perempuan yang tertarik pada cryptocurrency, catatan terakhir melaporkan adanya penurunan yang signifikan dalam tingkat pertumbuhan pengguna perempuan pada tahun 2020. Analis menghubungkan hal ini dengan pandemi virus corona dan sikap negatif pemerintah Tiongkok terhadap uang digital.

Contoh Sukses Perempuan dan Kesetaraan Gender

Di dunia cryptocurrency, ada lebih banyak perempuan yang tidak hanya trading menggunakan uang digital tetapi juga memasuki peran yang secara tradisional didominasi oleh laki-laki, misalnya menjadi seorang analis, pengembang dan pemimpin perusahaan. Pada saat yang sama, statistik menunjukkan perusahaan-perusahaan blockchain yang didirikan oleh perempuan dapat bersaing secara handal dengan yang dijalankan oleh laki-laki.

Perusahaan crypto besar seperti Bancor dan Binance adalah contoh nyata akan hal ini. Perusahaan-perusahaan ini sebelumnya didirikan oleh Galia Benartzi dan keduanya memiliki lebih dari 40% hingga 50% karyawan perempuan. Pertukaran crypto lainnya, Huobi yang memiliki lebih dari 1.300 karyawan, menunjuk Ciara Sun sebagai eksekutif wanita pertama perusahaan.

Semakin banyak perwakilan perempuan datang ke pasar crypto mengikuti contoh sukses perempuan lainnya, menurut Hong Fang dari OKCoin. Dia berkata: “Kami melihat lebih banyak pendiri startup dan pemimpin perempuan memasuki industri crypto. Tentu ini berdampak positif untuk menarik lebih banyak pengguna perempuan pada platform crypto. ”

Semakin banyak peserta dan pembicara perempuan di konferensi crypto adalah bukti nyata akan hal ini. Christophe Ozcan, penyelenggara KTT Blockchain Paris, mengatakan jumlah wanita yang berpartisipasi dalam konferensi meningkat dua kali lipat selama setahun terakhir:

“Kami telah menunjukkan pada acara kami sebelumnya di Paris Blockchain Summit peserta perempuan tumbuh sebesar 56% dan 22% lainnya sebagai Pembicara. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan edisi pertama kami pada 2018.”

Ozcan juga menambahkan, usia rata-rata peserta perempuan ada dikisaran 33 tahun, hal ini berarti peserta yang lebih dewasa lebih tertarik pada cryptocurrency. Tren ini juga dikonfirmasi oleh Eman Pulis, CEO Malta AI & Blockchain Summit, yang mencatat tingkat ketidaksetaraan jender yang rendah di sektor cryptocurrency: “Partisipasi perempuan pada semua tingkatan pada Emerging Tech membuat berita yang sangat menggembirakan, baik dalam hal kuantitas dan kualitas, delegasi yang terlibat dan para pembicara memberi sebuah pencerahan (terkait hal ini).”

Alyona Karpinskaya setuju, berkurangnya diskriminasi gender juga merupakan faktor pendorong pertumbuhan jumlah perempuan yang terlibat dalam kegiatan mata uang kripto. Oleh karena itu, tahun 2020 ini tampaknya dapat menjadi tahun untuk pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender lebih dari tahun-tahun sebelumnya. Jarred Thomas, manajer operasi di pertukaran cryptocurrency OKEx, membagikan pendapatnya:

“Selama beberapa tahun terakhir, lebih banyak perempuan melangkah di ruang crypto. Terlebih lagi, mereka menunjukkan keunikan, kreativitas, dan kepemimpinan mereka dalam crypto melalui kontribusi luar biasa mereka kepada industri ini.”

Namun, pertanyaannya tetap untuk menggambarkan semua ini adalah Akankah perempuan yang baru saja memasuki pasar cryptocurrency secara efektif ikut berpartisipasi pada ruang ini? Hsin-Ju Chuang dari Dystopia Labs mendidik orang-orang mengenai blockchain, menjelaskan alasan mengapa lonjakan jumlah perempuan di industri ini tidak selalu berarti mereka akan menjadi pengguna kripto profesional. Chuang juga mencatat pentingnya pemberian pengetahuan lebih lanjut mengenai hal-hal terkait:

“Sekarang ada lebih banyak perempuan pada puncak menara, apakah sebuah organisasi pendidikan mampu (dan secara aktif berusaha) menjangkau mereka, mendidik, dan membawa mereka lebih dalam ke angkasa? Atau bisa dikatakan mengubah mereka dari yang hanya spekulan menjadi peserta jaringan yang aktif? “

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Penegasan Bank Sentral AS: Kami Mencetak Dolar AS Secara Digital

Jerome Powell, Kepala Bank Sentral AS alias The Fed mengatakan di program 60 Minutes, bahwa mereka secara kelembagaan mencetak dolar secara digital, demi menyelamatkan ekonomi AS yang terdampak COVID-19.

Sebenarnya pernyataan bank sentral itu adalah yang kesekian kalinya sejak Maret 2020. Hanya saja pernyataan Powell ini adalah penegasan dan memiliki kaitan erat dengan harapan kenaikan harga bentuk investasi lainnya, seperti emas dan Bitcoin.

“Sebagai bank sentral, kami memiliki kemampuan mencetak/menerbitkan uang dolar AS secara digital. Caranya adalah kami membeli surat utang negara (obligasi) dan sejumlah sekuritas (saham) yang dijamin oleh pemerintah. Dan itu benar-benar menambah jumlah uang dolar AS yang beredar. Kami juga mencetak uang dolar fisik dan mendistribusikannya,” kata Powell.

Disebut sebagai kebijakan moneter, bank sentral memang memiliki kemampuan seperti itu pada kondisi-kondisi mendesak. Dengan menambahkan uang ke dalam ekonomi, diharapkan bisa menstimulus gerak ekonomi yang padam akibat pandemi COVID-19.

Masalahnya adalah, jikalau uang baru itu tidak digunakan secara baik, maka berpotensi menimbulkan inflasi atau malah hiperinflasi.

Ini yang mengakibatkan kemerosotan ekonomi lebih lanjut dan membuat uang tidak memiliki nilai dan harga barang dan jasa menjadi tinggi.

Jika fiat money alias uang yang diterbitkan oleh negara menganut pelonggaran kuantitatif seperti itu, maka Bitcoin berlaku sebaliknya, yakni pengetatan kuantitatif.

Bitcoin secara baku dibuat menjadi langka setiap 210.000 block atau setara 4 tahun sekali, yang disebut Bitcoin Halving.

Sejak 12 Mei 2020 lalu sampai tahun 2024 adalah Bitcoin Halving III, di mana imbalan terhadap penambang berkurang separuh dari 12,5 BTC per block menjadi 6,25 BTC per block. Itu yang sekaligus memperlambat laju pasokan Bitcoin ke dalam pasar melalui penambang, yakni hanya 900 BTC baru setiap hari. Inflasi juga berkurang menjadi 1,8 persen per tahun.

Namun, apakah dalam jangka panjang Bitcoin bisa menjadi raja investasi luar biasa menghadapai uang fiat bahkan emas, tidak seorang pun tahu.

Lagipula Bitcoin belum sanggup kembali ke US$13.000 per BTC seperti pada 2019 lalu, bahkan belum juga pulih melebih US$19 ribu seperti pada Desember 2017. Dalam moment masuk ke Bitcoin Halving pada 12 Mei 2020 lalu saja, Bitcoin enggan masuk ke level US$10ribu.

Pulih Sangat Lama

Di kesempatan yang sama, Powell juga mengatakan bahwa ekonomi bisa pulih pada akhir tahun 201 atau ketika vaksin COVID-19 yang efektif sudah ditemukan.

Namun, Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff, ekonom dari Universitas Harvard mengatakan kepada Bloomberg, pemulihan tidak akan berlangsung secepat itu.

“Memang kita berharap pemulihan berbentuk grafik V, sehingga kehidupan menjadi normal sebelum ada pandemi. Namun, dalam pandangan kami tidak satu pun dari itu yang mungkin benar,” kata Reinhart.

Mengapa? Sebab COVID-19 telah menghancurkan rantai perdagangan dan pasokan produk secara global. Dan itu akan memakan waktu lama bagi perusahaan untuk berbenah, katanya Reinhart.

“Mungkin saja akan terjadi gesekan sosial yang fenomenal dari situasi ini. Pun secara grafik, pemulihan akan terjadi dalam bentuk huruf U, bukan V. Sulit mengatakan kapan AS bisa kembali ke PDB 2019 per kapita. Namun, melihat situasi terkini, kita akan pulih 5 tahun lagi, kata Rogoff. [red]



Sumber : news.tokocrypto.com

Likuiditas Kunci Bagi Kemajuan Pasar Crypto

Dalam dunia cryptocurrency, likuiditas memiliki peranan penting tetapi terkait bagaimana cara mengukur tingkat likuiditas tersebut masih sangat bervariasi.

Di mana, ketika perekonomian sedang dalam keadaan tidak baik, banyak investor dan perusahaan yang telah melakukan evaluasi untuk menimbang-nimbang dampak yang akan ditimbulkan dalam jangka pendek – jangka panjang saat terjadinya ketidakpastiaan ekonomi seperti saat ini.

Sehingga, faktor likuditas sangat penting untuk saat ini di mana banyak investor atau perusahaan sedang membutuhkan sebuah aset yang mudah untuk diperdagangkan untuk memperoleh tambahan dana dalam bentuk uang tunai.

Oleh karena itu, tak jarang banyak investor yang lebih memilih berinvestasi ke jenis intrumen investasi yang memiliki tingkat likuiditas yang tinggi, salah satu produk investasi tersebut adalah emas.

Baca Juga: 9 Negara ini Menunjukkan Peningkatan Minat yang Besar pada Cryptocurrency

Hal ini juga menjadi tantangan bagi pasar crypto, karena adanya anggapan bahwa pasar crypto hanya dikuasai oleh segelintir investor saja. Sehingga, tingkat likuditas dalam perdagangan aset crypto menjadi dipertanyakan yang membuat pasar crypto tersebut menjadi tidak sehat.

Hal ini disebabkan hanya volume perdagangannya saja yang tinggi, namun kecepatan transaksi perdagangan untuk jual-beli masih dianggap masih kurang. Hal ini dikarenakan belum seimbangnya antara tingkat permintaan dan penawaran yang terjadi di sebuah cryptocurrency exchange.

Jadi, salah satu faktor yang menjadikan sebuah cryptocurrency exchange itu bisa dianggap sehat adalah ketika pasar crypto tersebut sangat likuid. Di mana, ada banyak penjual dan pembeli yang saling bertransaksi. Hal ini membuat pihak investor mendapatkan hasil keuntungan yang lebih maksimal dengan biaya transaksi yang rendah pula.

Baca Juga: Tokocrypto, Pedagang Aset Kripto Pertama yang Teregulasi di Indonesia, Berhasil Raih Pendanaan dari Binance

Namun, bila pasar crypto tersebut tidak likuid, pihak investor akan sulit untuk mencetak keuntungan dari transaksi jual-beli aset crypto mereka. Apalagi, biaya transaksi yang dibebankan kepada investor juga terbilang tinggi dibanding pasar crypto yang likuid.

Belum lagi, ada sejumlah cryptocurrency exchange yang tidak bekerja sama dengan pihak ketiga, yaitu kustodian. Hal ini juga membuat pihak investor yang berasal institusi enggan atau ragu untuk berinvestasi di sana. Karena, mereka harus bertanggung jawab atas dana yang diinvestasikan tersebut.

Sehingga, mereka tahu bahwa uang yang diinvestasikan tersebut memang benar-benar ada. Pasar crypto yang tidak bekerja sama dengan kustodian sulit untuk menciptakan pasar yang likuid, berbeda halnya dengan pasar crypto yang menjalin kerjsama dengan kustodian lebih memiliki tingkat likuiditas yang lebih tinggi.

Walaupun saat ini sudah banyak bermunculan layanan crypto non kustodian, namun tetap saja belum memberikan dampak besar dari sisi peningkatan likuiditas dalam pasar crypto.

Blockchain sebagai teknologi masa depan bagi keuangan di dunia, seperti diketahui mampu mengubah mekanisme perdagangan bursa saham Australia dengan perdagangan yang bisa dilakukan secara real-time bisa menjadi kuncinya.

Namun, hal-hal lain pun perlu juga diperhatikan seperti masalah keamanan bagi pihak investor dan lain sebagainya seperti tidak  mengkesampingkan layanan pihak ketiga (kustodian) untuk menjamin aset investor secara aman.

Sehingga, cryptocurrency exchange mampu menciptakan pasar crypto yang sehat bagi penjual dan pembeli crypto. Tak menutup kemungkinan, di masa depan bursa crypto bisa sebesar bursa-bursa perdagangan aset-aset lainnya seperti forex dan saham.

Sumber



Sumber : news.tokocrypto.com

Diduga Cuci Uang Rp577 Juta Pakai Bitcoin, Warga Australia Diringkus

Diduga mencuci uang (money laundering) menggunakan Bitcoin, seorang perempuan warga Australia diringkus.

“Seorang perempuan Australia (52 tahun) diringkus polisi di pusat perbelanjaan Sydney pada 1 Mei 2020, setelah diduga menjual Bitcoin (BTC) senilai AUS$60 ribu (US$38.800), setara Rp577 juta. Setelah didalami, ternyata ia adalah anggota sindikat pencucian uang di Australia yang aktif sejak tahun 2017, dengan nilai total uang yang dicuci mencapai US$3,2 juta (Rp48 miliar),” tulis media lokal Australia, Daily Mail Australia, 15 Mei 2020.

Dalam penangkapan itu, polisi menyita AUS $60 ribu dalam bentuk uang tunai, 3,8 BTC (senilai US$37.000 dengan harga saat ini) dan sebuah ponsel.

Kemudian, petugas mencari apartemen terdekat, menemukan lebih banyak ponsel, komputer dan perangkat penyimpanan elektronik, bersama dengan Bitcoin lainnya senilai US$11.700.

Sindikat Pencucian Uang

Polisi mengklaim bahwa perempuan itu terlibat di sindikat pencucian uang, sejak November 2018. Sedangkan sindikat itu sendiri aktif sejak tahun 2017. Sejak tahun itu pula nilai transaksi Bitcoin oleh sindikat mencapai AUS$5 juta (US$3,2 juta).

Berita Terkait: Pesan Rahasia Beberapa Menit Sebelum Bitcoin Halving

“Ini adalah penangkapan pertama yang dilakukan oleh divisi kejahatan siber, terkait mata uang digital di New South Wales, dan diyakini sebagai yang pertama di Australia. Menukarkan mata uang digital seperti Bitcoin secara ilegal adalah bentuk pelanggaran hukum di Australia,” kata Komandan Polisi Matt Craft. [Cointelegraph/red]



Sumber : news.tokocrypto.com