Portofolio kripto raksasa manajer aset global, BlackRock, mengalami perubahan besar dalam sepekan terakhir. Data blockchain mengungkapkan bahwa perusahaan ini melepas Ethereum (ETH) dalam jumlah jumbo lebih dari $900 juta, sekaligus memperkuat kepemilikan Bitcoin (BTC)-nya.
Menurut laporan intelijen on-chain dari Arkham yang dikutip Finbold, posisi Ethereum BlackRock turun drastis dari 3,78 juta ETH (senilai $16,82 miliar pada 5 September) menjadi 3,66 juta ETH ($15,91 miliar pada 12 September). Artinya, dalam waktu hanya tujuh hari, BlackRock mengurangi kepemilikan sebesar 115.950 ETH, setara $913 juta atau sekitar Rp14 triliun.
Dilaporkan Finbold, akibat penjualan besar ini, pangsa Ethereum dalam portofolio kripto BlackRock anjlok dari 16,7% menjadi 15,7%, semakin menjauh dari posisinya sebagai aset kripto terbesar kedua setelah Bitcoin.
BlackRock Tambah Koleksi Bitcoin Lebih dari $2 Miliar
Di sisi lain, BlackRock justru semakin agresif mengakumulasi Bitcoin. Data menunjukkan kepemilikan BTC meningkat dari 747.470 BTC ($83,53 miliar) menjadi 751.400 BTC ($85,62 miliar) dalam periode yang sama. Penambahan sebesar 3.930 BTC ini bernilai lebih dari $2,09 miliar, membuat dominasi Bitcoin dalam portofolio kripto BlackRock naik dari 83,2% menjadi 84,4%.
Langkah ini mempertegas arah strategi BlackRock yang lebih bullish terhadap Bitcoin dibanding Ethereum.
Kepemilikan Ethereum BlackRock. Sumber: Arkham.
Aset Kripto BlackRock Tembus $101,5 Miliar
Meski melepas ETH dalam jumlah besar, total nilai portofolio kripto BlackRock justru melonjak menembus $101,53 miliar per 12 September. Pemulihan ini ditopang oleh reli Bitcoin mingguan sebesar 1,97% serta keuntungan signifikan dari posisi altcoin seperti SPX (+23,28%) dan TUA (+61,15%).
Sebaliknya, Ethereum justru tertahan, turun 2,43% ke $4.345, sehingga memicu kerugian lebih dari $900 juta yang belum terealisasi di alokasi ETH BlackRock. Meski begitu, ETH masih menjadi aset kripto terbesar kedua dalam portofolio BlackRock, jauh di atas aset minor lain seperti IMAGE ($561.000) dan JOE ($6.880).
Apakah Ini Pertanda BlackRock Tinggalkan Ethereum?
Perubahan alokasi ini menimbulkan spekulasi di pasar: apakah BlackRock mulai mengurangi eksposur terhadap Ethereum untuk fokus penuh pada Bitcoin?
Dengan portofolio kripto yang kini didominasi lebih dari 84% BTC, langkah BlackRock bisa menjadi sinyal kuat arah kepercayaan institusional terhadap Bitcoin di siklus pasar saat ini.
Namun, meski tertekan, posisi Ethereum di atas $15 miliar tetap menegaskan perannya sebagai “runner-up” dalam portofolio BlackRock.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Ethereum kembali mencatatkan performa gemilang dengan harga yang kini menyentuh $4,719.06 per ETH, mendekati rekor tertingginya di level $4,953.73.
Dengan kapitalisasi pasar mencapai $569.61 miliar USD dan volume perdagangan harian yang menyentuh $42.57 miliar USD, Ethereum semakin mengukuhkan posisinya sebagai aset kripto terbesar kedua setelah Bitcoin.
Kenaikan harian sebesar +4.37% dalam 24 jam terakhir, serta pertumbuhan harga sebesar +9.51% dalam sepekan, memperlihatkan tren optimis yang menular di pasar.
Bahkan, jika dibandingkan dalam jangka waktu tiga bulan terakhir, Ethereum berhasil tumbuh hampir +87%, menandakan daya tariknya semakin kuat di kalangan investor institusional maupun ritel.
Salah satu pendorong utama lonjakan harga Ethereum adalah ekosistem DeFi (Decentralized Finance) dan NFT (Non-Fungible Token) yang terus berkembang.
Sebagian besar aplikasi DeFi, protokol peminjaman, hingga marketplace NFT berjalan di jaringan Ethereum. Aktivitas tinggi ini secara langsung meningkatkan permintaan terhadap ETH sebagai bahan bakar transaksi.
Selain itu, arus masuk modal baru dari para kreator dan kolektor NFT kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Tren ini mendorong lonjakan biaya transaksi di jaringan, yang secara alami memperkuat posisi Ethereum di pasar.
Narasi “Ultrasound Money” dan Efek EIP-1559
Sejak implementasi EIP-1559, Ethereum tidak hanya menjadi alat transaksi, tetapi juga aset deflasi.
Mekanisme pembakaran sebagian biaya transaksi membuat suplai ETH berkurang secara bertahap, memperkuat narasi “ultrasound money”.
Investor melihat ETH bukan hanya sebagai aset teknologi, tetapi juga sebagai penyimpan nilai jangka panjang yang potensial melampaui Bitcoin dalam beberapa aspek utilitas.
Hal ini semakin relevan ketika pasokan ETH yang beredar tetap 120.70 juta unit, tanpa adanya batas pasokan maksimum resmi.
Dengan mekanisme pembakaran, tekanan inflasi terhadap Ethereum berhasil ditekan dan berpotensi memberi dampak bullish jangka panjang.
Adopsi Institusional dan Regulasi yang Lebih Jelas
Faktor lain yang turut memperkuat reli Ethereum adalah meningkatnya minat institusi besar. Beberapa laporan pasar menunjukkan bahwa dana lindung nilai dan perusahaan teknologi mulai mengalokasikan sebagian portofolio mereka ke Ethereum.
Hal ini didorong oleh keyakinan bahwa Ethereum akan menjadi tulang punggung aplikasi Web3 dan smart contract di masa depan.
Selain itu, arah regulasi kripto yang semakin jelas di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia memberi rasa aman bagi investor besar untuk masuk.
Regulasi yang lebih ramah menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan ETH sebagai aset kelas institusional.
Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Sabtu, 13 September 2025. Sumber: Tokocrypto.
Teknologi Ethereum 2.0 dan Skalabilitas
Perjalanan transisi Ethereum ke Ethereum 2.0 dengan mekanisme Proof of Stake (PoS) juga menjadi faktor fundamental yang terus menjaga momentum harga.
Dengan PoS, Ethereum mampu mengurangi konsumsi energi hingga lebih dari 99%, sekaligus meningkatkan keamanan jaringan.
Selain itu, perkembangan solusi layer-2 seperti Optimism, Arbitrum, dan zkSync membantu mempercepat transaksi dengan biaya lebih rendah.
Kombinasi ini semakin memperkuat narasi bahwa Ethereum adalah ekosistem blockchain yang paling siap menghadapi adopsi massal.
Prospek Menuju Rekor Tertinggi
Saat ini, Ethereum berada hanya beberapa ratus dolar dari rekor tertingginya di $4,953.73. Jika tren arus masuk modal berlanjut dan sentimen pasar kripto tetap positif, sangat mungkin ETH akan menembus rekor tersebut dalam waktu dekat.
Kenaikan harga +58.75% dalam 60 hari dan +86.99% dalam 90 hari terakhir menunjukkan momentum bullish yang konsisten.
Dengan kapitalisasi pasar yang hampir menembus $600 miliar, Ethereum semakin mempersempit jarak dominasi dengan Bitcoin.
Kini, Ethereum bukan lagi sekadar “mata uang kripto kedua setelah Bitcoin”. Dengan ekosistem yang luas, mekanisme deflasi, adopsi institusional, dan perkembangan teknologi yang progresif, ETH kini berada di garis depan revolusi blockchain global.
Lonjakan harga terbaru menjadi bukti nyata bahwa Ethereum tidak hanya relevan hari ini, tetapi juga siap menjadi tulang punggung dunia digital di masa depan.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Sebuah laporan terbaru mengungkap tren mengejutkan: para pengembang blockchain di Amerika Latin ternyata lebih memilih Ethereum dan Polygon sebagai ekosistem utama mereka, dibanding membangun protokol lapisan dasar baru yang masih berisiko.
Menurut riset dari konsultan Sherlock Communications, alasan utama dominasi ini terletak pada infrastruktur yang matang dan solusi nyata yang ditawarkan kedua jaringan tersebut. Ethereum dikenal dengan perangkat ramah pengembang, sementara Polygon unggul dalam fitur skalabilitasnya. Kombinasi ini membuat keduanya jadi magnet bagi talenta blockchain di kawasan tersebut.
“Realitas saat ini adalah bahwa Amerika Latin akan menjadi pusat pengembangan dan adopsi dalam ekosistem yang ada,” ujar Luiz Eduardo Abreu Hadad, peneliti blockchain di Sherlock. Ia menambahkan bahwa meskipun pengembang di wilayah tersebut mampu merancang platform baru, mayoritas lebih memilih bekerja dengan kerangka yang sudah terbukti.
DIlaporkan Coindoo, tren ini juga sejalan dengan pola global: komunitas pengembang kini cenderung memprioritaskan ekosistem dengan dokumentasi kuat, basis pengguna aktif, dan rekam jejak stabilitas, daripada menghabiskan sumber daya di rantai yang belum teruji.
Selain Ethereum dan Polygon, beberapa jaringan lain seperti Arbitrum, Avalanche, Optimism, BNB Chain, dan Base juga mulai populer. Namun, keunggulan Ethereum dan Polygon sebagai pionir tetap tak tergoyahkan di Amerika Latin.
Temuan ini semakin menegaskan bahwa masa depan adopsi kripto di kawasan tersebut akan banyak berpusat pada jaringan yang sudah mapan—mendorong inovasi lebih cepat dan lebih dekat ke dunia nyata.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Ethereum (ETH) kembali menunjukkan kekuatan pasar dengan mencatatkan kenaikan harga yang signifikan dalam 24 jam terakhir.
Berdasarkan data terbaru, harga ETH saat ini berada di level $4,535.90 per koin, naik sekitar +2.94% dalam sehari.
Dengan kapitalisasi pasar mencapai $549.44 miliar USD dan volume perdagangan harian sekitar $40.25 miliar USD, Ethereum memperkuat posisinya sebagai aset kripto terbesar kedua di dunia setelah Bitcoin.
Dalam 90 hari terakhir, Ethereum mengalami kenaikan luar biasa sebesar +78.25%, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek jangka panjang jaringan blockchain ini.
Bahkan dalam periode 60 hari, ETH telah naik hampir +50%, sebuah tren yang jarang terlihat di pasar yang penuh volatilitas.
Beberapa faktor utama yang mendorong kenaikan harga Ethereum antara lain:
Kesiapan Menyambut ETF Spot Ethereum Setelah keberhasilan ETF Bitcoin spot, para analis menilai persetujuan ETF Ethereum spot hanya tinggal menunggu waktu. Masuknya produk investasi institusional ini dipandang mampu mendorong arus modal besar ke ekosistem ETH.
Ekspansi Ekosistem DeFi dan NFT Ethereum tetap menjadi tulang punggung aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi) dan non-fungible tokens (NFT). Peningkatan adopsi aplikasi baru serta likuiditas yang mengalir ke dalam protokol berbasis ETH menjadi pendorong tambahan bagi reli harga.
Teknologi dan Skalabilitas Upgrade Ethereum yang terus berlangsung, terutama setelah transisi ke Proof-of-Stake melalui The Merge, menurunkan konsumsi energi dan meningkatkan efisiensi jaringan. Hal ini memberikan keyakinan lebih kepada investor institusi yang sebelumnya khawatir soal isu lingkungan.
Posisi Pasar Ethereum
Dengan harga saat ini, Ethereum masih berada sekitar -8.4% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa ($4,953.73).
Namun, sentimen pasar tampak semakin bullish. ETH tidak hanya berhasil menembus resistensi penting di kisaran $4,500, tetapi juga menegaskan level ini sebagai dukungan baru.
Kapitalisasi pasar Ethereum yang mencapai lebih dari $549 miliar USD mencerminkan dominasi besar di ekosistem kripto, menyumbang porsi signifikan dari total kapitalisasi pasar aset digital global.
Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Jumat, 12 September 2025. Sumber: Tokocrypto.
Prediksi Harga Ethereum ke Depan
Beberapa analis memperkirakan harga ETH dapat menguji kembali level $4,800 – $5,000 dalam waktu dekat jika momentum bullish terus berlanjut.
Level psikologis $5,000 diprediksi menjadi target utama investor dalam jangka pendek hingga menengah.
Namun, volatilitas tetap menjadi risiko utama. Jika koreksi terjadi, level dukungan kuat berada di kisaran $4,300 – $4,350, yang bisa menjadi titik masuk strategis bagi investor baru.
Secara teknikal, indikator momentum seperti Relative Strength Index (RSI) masih mendukung tren naik, meskipun mendekati area jenuh beli.
Hal ini menandakan adanya kemungkinan konsolidasi harga sebelum melanjutkan reli ke atas.
Secara keseluruhan, kenaikan harga Ethereum kali ini memperkuat statusnya sebagai pemain utama di dunia kripto.
Dengan dukungan faktor fundamental seperti perkembangan ekosistem, potensi hadirnya ETF spot, serta upgrade jaringan yang berkelanjutan, ETH memiliki peluang besar untuk menembus rekor tertinggi baru dalam waktu dekat.
Bagi investor, momentum ini bisa menjadi sinyal penting bahwa Ethereum bukan hanya sekadar aset spekulatif, tetapi juga infrastruktur finansial masa depan yang semakin mendapat legitimasi global.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Ethereum (ETH), kripto terbesar kedua setelah Bitcoin, kembali menjadi pusat perhatian setelah mencatatkan lonjakan harga harian sebesar +2,43% ke level $4.412,46 ETH.
Dengan kapitalisasi pasar mencapai $532,61 miliar USD dan volume perdagangan 24 jam lebih dari $40,36 miliar USD, Ethereum semakin mempertegas dominasinya sebagai altcoin nomor satu yang paling banyak diminati.
Dalam 24 jam terakhir, Ethereum bergerak di kisaran $4.296,71 hingga $4.450,42.
Meski belum menembus rekor tertingginya di $4.953,73, ETH menunjukkan tren kenaikan yang stabil.
Jika ditarik ke belakang, performa ETH sangat impresif:
Hari ini: naik +2,11% atau $90,84.
30 hari: menguat +2,44% atau $105,02.
60 hari: meroket +48,89% atau $1.445,46.
90 hari: melejit +74,84% atau $1.884,18.
Data tersebut membuktikan bahwa Ethereum sedang berada dalam fase bullish yang konsisten, menandakan adanya dukungan kuat dari investor jangka panjang maupun trader aktif.
Ethereum masih memegang status sebagai altcoin nomor satu dengan kapitalisasi pasar lebih dari $530 miliar USD, jauh meninggalkan pesaing seperti BNB, Solana, maupun XRP.
Status ini membuat ETH menjadi pilihan utama investor institusional yang ingin diversifikasi selain Bitcoin.
2. Adopsi Teknologi dan Ekosistem DeFi
Ethereum adalah tulang punggung ekosistem DeFi (Decentralized Finance), NFT, hingga berbagai dApps.
Meningkatnya aktivitas transaksi di sektor ini mendorong permintaan ETH sebagai bahan bakar utama jaringan.
3. Sentimen Positif Pasar Kripto Global
Kenaikan Bitcoin ke atas $110.000 telah menciptakan efek domino yang mengangkat altcoin.
Ethereum, sebagai aset kripto terbesar kedua, mendapatkan momentum lebih kuat karena dianggap sebagai aset “blue chip” di luar BTC.
Dengan implementasi Proof-of-Stake (PoS) dan meningkatnya jumlah ETH yang terkunci dalam staking, pasokan ETH yang beredar semakin terbatas.
Mekanisme ini berpotensi menciptakan tekanan harga naik karena permintaan terus meningkat sementara suplai berkurang.
Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Kamis, 11 September 2025. Sumber: Tokocrypto.
Prediksi Harga Ethereum: Tantangan dan Peluang
Melihat tren kenaikan dalam 90 hari terakhir yang hampir menyentuh +75%, Ethereum berpotensi menguji kembali level psikologis $5.000 dalam jangka menengah.
Namun, ada dua skenario yang mungkin terjadi:
Bullish Scenario: Jika Bitcoin terus stabil di atas $110.000 dan adopsi DeFi/NFT meningkat, ETH berpotensi menembus rekor tertinggi di $4.953 dan melaju ke kisaran $5.200–$5.500 dalam beberapa bulan ke depan.
Bearish Scenario: Jika pasar kripto terkena koreksi global akibat faktor eksternal seperti kebijakan moneter ketat atau aksi jual besar-besaran, ETH bisa kembali terkoreksi ke level support $4.000. Meski begitu, tren jangka panjang masih bullish.
Posisi Ethereum di Pasar Kripto
Dengan pangsa pasar lebih dari 18% dari total market cap kripto, Ethereum tetap menjadi aset dominan yang sulit tergeser.
Sirkulasi ETH sebanyak 120,70 juta token tanpa batas maksimum pasokan (unlike Bitcoin dengan 21 juta supply cap) memang sering menjadi kritik, tetapi mekanisme burning transaksi sejak EIP-1559 membantu menjaga ³⅗keseimbangan inflasi token.
Fakta bahwa Ethereum tetap berada di peringkat #2 dunia menunjukkan bahwa investor masih menganggapnya sebagai aset fundamental dalam portofolio kripto, bukan sekadar spekulasi.
Ethereum kini diperdagangkan di $4.412 dengan tren kenaikan yang konsisten.
Faktor fundamental seperti adopsi masif di sektor DeFi, mekanisme staking, dan dukungan komunitas menjadikannya salah satu aset paling menjanjikan di pasar kripto.
Meski risiko volatilitas tetap ada, prospek jangka panjang ETH tetap cerah. Jika momentum bullish berlanjut, Ethereum berpotensi mencetak rekor baru dan memperluas dominasinya sebagai altcoin terkuat.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Banyak orang masuk ke dunia crypto hanya karena melihat harga naik drastis atau mendengar cerita sukses orang lain. Masalahnya, tanpa analisis yang tepat, banyak juga yang berakhir rugi karena salah pilih aset. Di sinilah analisis fundamental (FA) jadi penting.
Berbeda dengan analisis teknikal (TA) yang fokus pada grafik harga dan pola pergerakan, analisis fundamental melihat nilai intrinsik sebuah proyek: seberapa solid teknologi, tim pengembang, dan apakah tokennya benar-benar punya kegunaan nyata.
Dalam artikel ini, kita akan membahas pengertian analisis fundamental, alasan mengapa ia penting, komponen utama yang harus diperhatikan, hingga tips strategi lanjutan untuk memilih aset crypto yang lebih aman dan berpotensi jangka panjang.
Apa itu Analisis Fundamental dalam Crypto?
Analisis fundamental adalah pendekatan untuk menilai suatu proyek crypto berdasarkan aspek paling fundamental (mendasar), seperti whitepaper, tim pengembang, tokenomics, komunitas, hingga keuangan, dan faktor-faktor yang ada di dalam jaringan proyek crypto tersebut.
Tujuannya tidak lain untuk mengetahui nilai intrinsik dari proyek tersebut. Apakah aset crypto undervalued atau overvalued, sehingga kamu bisa mempertimbangkan potensi proyek crypto tersebut ke depannya.
Kenapa Analisis Fundamental Penting?
Menurut data dari Dune, hingga September 2025, terdapat lebih dari 47 juta token crypto yang masih terus bertambah setiap harinya.
Banyak proyek crypto tersebut lahir dengan membawa narasi besar dan janji inovasi revolusioner. Mulai dari teknologi blockchain generasi baru, solusi keuangan terdesentralisasi (DeFi), hingga ekosistem metaverse yang digadang-gadang menjadi masa depan interaksi digital.
Namun, realitas di lapangan seringkali berbeda. Tidak sedikit dari proyek-proyek tersebut yang kehilangan arah pengembangan, gagal membangun basis pengguna, atau bahkan terhenti total karena masalah pendanaan, lemahnya manajemen, hingga skema penipuan (rug pull).
Memahami aspek fundamental menjadi aspek penting yang membantu investor memahami nilai sebenarnya dari sebuah aset dan potensi ke depannya—karena terdapat jutaan token crypto yang tersedia, kamu butuh filter untuk menyaring proyek potensial atau yang hanya hype.
Analisa Fundamental ini yang bisa menjadi salah satu filter tersebut, agar keputusan investasi kamu jadi lebih rasional, dan fokus pada aset yang memiliki peluang bertahan di tengah volatilitas pasar.
Terdapat tiga aspek utama yang dapat digunakan dalam analisis fundamental, yaitu faktor proyek, faktor keuangan, dan faktor on-chain. Penjelasan lengkapnya bisa kamu temukan pada artikel Apa Itu Altcoin Terbaik dan Bagaimana Cara Menilainya.
Selanjutnya, kita akan membahas metode untuk menghitung nilai sebuah proyek dan utility token crypto yang dapat menjadi acuan dalam pengambilan keputusan investasi.
Cara untuk Mengetahui Nilai Proyek & Utility Token Crypto
Untuk mengetahui nilai dari suatu proyek crypto maka kamu harus tahu nilai riil sebuah aset yang dihitung berdasarkan karakteristik fundamentalnya. Dalam saham, ini bisa berasal dari pendapatan, arus kas, atau potensi pertumbuhan. Namun, di crypto, penilaiannya lebih kompleks karena aset digital tidak memiliki pendapatan tetap atau aset fisik sebagai penopang.
Faktor utama yang membentuk nilai intrinsik crypto meliputi:
Utility (Kegunaan) – Masalah apa yang diselesaikan proyek? Apakah memiliki use case nyata?
Scarcity (Kelangkaan) – Apakah suplai token terbatas atau inflasi tinggi?
Network Value (Nilai Jaringan) – Seberapa besar dan aktif ekosistemnya?
Security (Keamanan) – Seberapa kuat blockchain terhadap serangan?
Contoh:
Bitcoin mendapatkan nilai dari suplai tetap 21 juta koin, desentralisasi, dan keamanan proof-of-work.
Ethereum memperoleh nilai dari perannya sebagai tulang punggung DApps dan smart contract.
Untuk menghitung nilai proyek crypto, ada 3 metode umum yang bisa digunakan, seperti:
Metcalfe’s Law
Metcalfe’s Law adalah sebuah konsep yang menjelaskan bahwa nilai sebuah jaringan (network) akan meningkat seiring dengan jumlah penggunanya. Lebih tepatnya, nilai tersebut akan tumbuh sebanding dengan kuadrat dari jumlah pengguna aktif.
Sederhananya:
Jika hanya ada 2 orang dalam sebuah jaringan, mereka hanya bisa saling terhubung 1 kali.
Kalau ada 5 orang, koneksinya bisa jauh lebih banyak karena tiap orang bisa berhubungan dengan beberapa orang lain sekaligus.
Semakin banyak orang yang bergabung, semakin banyak juga interaksi yang mungkin terjadi—dan ini membuat jaringan jadi jauh lebih berharga.
Artinya, pertumbuhan nilai tidak sekadar naik linear (sedikit demi sedikit), melainkan bisa meningkat secara eksponensial.
Bagaimana cara menerapkannya?
Metode ini sangat relevan untuk menilai potensi aset proyek crypto yang memiliki ekosistem kuat dan banyak pengguna aktif—dengan cara kalkulasi sebagai berikut:
Nilai Jaringan∝n2
n = jumlah pengguna aktif
Nilai jaringan = bertambah secara kuadrat dari n.
Mari kita coba masukkan rumusnya ke dalam salah satu proyek crypto populer yakni—Solana.
Data Q3 2025 dari Token Terminal menunjukan jika Solana memiliki 2,9 juta daily active addresses.
Maka:
Nilai Jaringan = (2,900,000)2 = 8.410.000.000.000
Jadi berdasarkan Metcalfe’s Law, Solana memiliki nilai proyek sekitar 8,41 triliun unit (ukuran relatif yang bisa digunakan untuk dibandingkan dengan jaringan lain, bukan dalam USD).
Artinya, jika jumlah pengguna aktif Solana terus meningkat, nilai jaringannya akan naik jauh lebih cepat dari pertumbuhan pengguna itu sendiri. Misalnya, kenaikan 10% pengguna bisa membuat nilai jaringan bertumbuh lebih dari 20%.
Meskipun berguna sebagai gambaran besar, Metcalfe’s Law bukan alat analisis yang sempurna. Ada beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan:
Oversimplifikasi Rumus ini hanya menghitung jumlah pengguna, tanpa melihat kualitas interaksinya. Jaringan dengan 1.000 akun pasif jelas jauh kurang bernilai dibandingkan 100 akun yang aktif bertransaksi setiap hari.
Akurasi Data Menentukan angka “active users” tidak selalu mudah. Di blockchain, satu orang bisa memiliki banyak alamat dompet. Selain itu, bot dan spam account dapat memperbesar angka pengguna aktif secara semu, sehingga hasil analisis bisa bias.
Keterbatasan Perbandingan Tidak semua blockchain bisa dinilai hanya dari banyaknya pengguna. Ada jaringan dengan user base lebih kecil, tapi unggul di aspek lain seperti kecepatan transaksi, biaya lebih murah, atau skalabilitas lebih tinggi. Faktor-faktor ini sama pentingnya, namun tidak tercermin dalam perhitungan Metcalfe’s Law.
Metode ini menghitung nilai proyek crypto berdasarkan biaya yang diperlukan untuk memproduksinya. Pada blockchain berbasis Proof of Work (PoW) yang bisa ditambang (mining) misalnya seperti Bitcoin, dengan biaya produksi mencakup:
Listrik untuk menjalankan perangkat keras penambangan.
Hardware (misalnya ASIC miner) yang digunakan untuk menambang. Biaya operasional lain seperti pendinginan, sewa tempat, hingga perawatan peralatan.
Dalam beberapa kasus, ketika harga pasar sebuah aset crypto turun di bawah biaya produksinya, para penambang berisiko mengalami kerugian dan sebagian memilih untuk menghentikan operasinya.
Berkurangnya jumlah penambang dapat menurunkan laju suplai koin baru yang masuk ke pasar. Jika pada saat yang sama permintaan tetap stabil atau meningkat, kondisi ini dapat menciptakan kelangkaan yang berpotensi mendorong harga kembali naik, mendekati atau bahkan melampaui biaya produksinya.
Maka dari itu biaya produksi sering dijadikan indikator batas bawah nilai wajar (intrinsic floor value) sebuah aset crypto berbasis Proof of Work.
Contohnya saat pasar bearish 2022, harga Bitcoin sempat jatuh ke $16.000, sementara biaya produksi rata-rata mencapai $20.998.
Selisih negatif sekitar -$4.998 artinya banyak penambang merugi setiap kali mereka menghasilkan 1 BTC dan penambang kecil atau yang tidak efisien terpaksa berhenti beroperasi karena tidak lagi menguntungkan.
Akibatnya, hashrate jaringan menurun, sehingga protokol Bitcoin melakukan difficulty adjustment yang secara otomatis menyesuaikan kesulitan menambang agar probabilitas penambang menemukan blok meningkat, sehingga potensi profitabilitas mereka juga naik dan membuat harga produksi sesuai dengan harga pasar.
Metode ini menilai nilai intrinsik crypto dengan cara memproyeksikan manfaat di masa depan—seperti volume transaksi atau tingkat adopsi, lalu menghitung kembali nilainya ke saat ini menggunakan discount rate. Konsepnya mirip dengan discounted cash flow (DCF) di analisis keuangan tradisional.
Bagaimana cara menerapkannya? Analis biasanya memperkirakan:
Use case yang mungkin berkembang di masa depan.
Tingkat adopsi (berapa banyak orang yang akan menggunakan).
Aktivitas transaksi (berapa banyak transaksi yang akan terjadi).
Setelah itu, proyeksi manfaat ekonomi tadi “didiskon” agar sesuai dengan nilai saat ini, karena uang atau manfaat masa depan nilainya selalu lebih rendah dibanding hari ini.
Mari kita coba ke satu proyek crypto populer yakni—TRON (TRX).
Tron mendapatkan nilai intrinsiknya dari perannya sebagai pembayaran digital, DeFi, dan transfer stablecoin.
Menurut data Token Terminal, total transaksi harian Tron mencapai 9 juta dengan rata-rata biaya transaksi $0.8186.
Dengan asumsi biaya rata-rata per transaksi adalah $0,8186, maka total biaya transaksi harian adalah:
9.000.000×0,8186=$7.367.400 per hari
Ini setara dengan biaya transaksi tahunan sebesar:
7.367.400×365=$2,689 miliar per tahun
Untuk menghitung nilai intrinsik Tron selama 10 tahun ke depan, kamu bisa menerapkan discount rate sebesar 10%. Dengan menggunakan rumus discounted value, total nilai terdiskon dari biaya transaksi Tron selama 10 tahun kedepan diperkirakan mencapai sekitar $16,52 miliar.
Jadi hasil estimasi discounted utility model nilai intrinsik Tron berdasarkan data tadi ada di $16,52 miliar.
Contoh tersebut hanya ilustrasi untuk menunjukkan cara kerja discounted utility model dalam memperkirakan nilai intrinsik Tron, sementara dalam kenyataannya biaya transaksi tidak tetap dan bisa berubah karena faktor jaringan, jenis transaksi, maupun insentif pengguna.
Penutup
Analisis fundamental crypto adalah metode untuk menilai nilai intrinsik sebuah proyek berdasarkan faktor mendasar seperti teknologi, tim pengembang, tokenomics, komunitas, dan data on-chain. Dengan lebih dari 47 juta token crypto yang beredar, FA menjadi filter penting untuk membedakan proyek potensial dari sekadar hype.
Tiga pendekatan populer untuk menghitung nilai proyek dan utility token adalah Metcalfe’s Law (mengukur nilai jaringan dari jumlah pengguna aktif), Cost of Production (biaya produksi sebagai batas bawah harga wajar), dan Discounted Utility Model (memproyeksikan manfaat ekonomi masa depan lalu mendiskontokannya ke nilai saat ini).
Memahami metode ini membantu investor mengidentifikasi aset undervalued atau overvalued, mengurangi risiko, dan fokus pada crypto dengan prospek jangka panjang.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda.
Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.
Referensi:
Cointelegraph. Intrinsic value of crypto: What is it and how to calculate it. 2024
CFX. Mengenal Analisis Fundamental dalam Aset Kripto. 2025
Data menunjukkan bahwa meskipun dalam 24 jam terakhir ETH hanya mengalami perubahan tipis sebesar +0.04%, tren jangka menengah memperlihatkan momentum positif:
30 hari terakhir: ETH sedikit terkoreksi -0.26% atau sekitar $11.20.
60 hari terakhir: harga melonjak +45.43%, setara dengan kenaikan $1,347.88.
90 hari terakhir: ETH bahkan naik +56.39%, dengan tambahan nilai $1,555.90.
Pergerakan ini menandakan bahwa Ethereum masih dalam fase bullish meskipun terdapat jeda konsolidasi di pekan terakhir.
Faktor Pendorong Harga Ethereum
1. Optimisme Menjelang Rekor Tertinggi (ATH)
Ethereum saat ini diperdagangkan mendekati level puncaknya, yaitu rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) di $4,953.73.
Sentimen pasar menilai bahwa jika kondisi makroekonomi mendukung dan arus modal terus mengalir ke aset digital, ETH berpotensi kembali menantang rekor tersebut.
2. Aktivitas DeFi dan NFT yang Stabil
Ekosistem Ethereum tetap menjadi rumah bagi mayoritas aplikasi DeFi (Decentralized Finance) dan NFT (Non-Fungible Token).
Meski tren NFT tidak sekuat puncaknya di 2021, sektor ini tetap menghasilkan volume transaksi signifikan.
DeFi juga terus berkembang dengan protokol-protokol baru yang menawarkan likuiditas tinggi. Keduanya berkontribusi pada permintaan ETH sebagai bahan bakar transaksi.
3. Peningkatan Infrastruktur Ethereum 2.0
Sejak transisi Ethereum ke mekanisme Proof-of-Stake (PoS) melalui The Merge, biaya energi jaringan berkurang drastis.
Upgrade lanjutan seperti sharding yang diantisipasi pada 2025-2026 memberi optimisme tambahan.
Investor menilai hal ini akan membuat jaringan Ethereum lebih efisien, cepat, dan ramah lingkungan, sehingga meningkatkan daya tarik ETH sebagai aset jangka panjang.
Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Rabu, 10 September 2025. Sumber: Tokocrypto.
4. Likuiditas dan Dukungan Institusional
Bursa kripto besar mencatat lonjakan volume perdagangan Ethereum, yang hari ini mencapai $30.04 miliar USD dalam 24 jam terakhir.
Selain itu, dukungan institusi keuangan besar terhadap ETH, baik sebagai aset investasi maupun sebagai infrastruktur blockchain untuk tokenisasi aset, mendorong kepercayaan investor.
Kondisi Pasar Saat Ini
Dengan total pasokan sirkulasi mencapai 120.70 juta ETH, Ethereum tetap menjadi kripto yang likuid dan banyak digunakan.
Meski volume perdagangan masih kalah dibanding Bitcoin, stabilitas ETH membuatnya menjadi salah satu aset favorit bagi investor jangka panjang maupun trader aktif.
Dalam 7 hari terakhir, ETH memang sedikit terkoreksi -0.34%, tetapi hal ini lebih mencerminkan fase konsolidasi setelah kenaikan signifikan dalam dua bulan terakhir.
Rentang pergerakan harga 24 jam di kisaran $4,277.85 – $4,381.23 menunjukkan adanya support kuat di level $4,300 yang bisa menjadi landasan untuk rally berikutnya.
Prospek Ethereum ke Depan
Jika momentum positif di sektor makroekonomi global, seperti ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral berlanjut, Ethereum berpotensi menembus kembali level psikologis $4,500 dalam waktu dekat.
Faktor fundamental jaringan yang terus berkembang, adopsi institusional yang meluas, serta tren tokenisasi aset di blockchain juga menjadi katalis besar bagi masa depan ETH.
Namun, investor tetap perlu memperhatikan risiko seperti potensi regulasi ketat di berbagai negara, volatilitas pasar kripto, dan persaingan dari blockchain alternatif yang menawarkan biaya transaksi lebih murah.
Ethereum menunjukkan ketahanan luar biasa dengan harga stabil di atas $4,300, didukung oleh kekuatan fundamental jaringan dan optimisme pasar.
Meski saat ini masih berada sedikit di bawah rekor tertinggi sepanjang masa, potensi untuk menembusnya kembali terbuka lebar.
Dengan kombinasi inovasi teknologi, adopsi institusional, dan pertumbuhan ekosistem DeFi, Ethereum tetap menjadi salah satu aset digital paling menjanjikan di era keuangan modern.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Agustus 2025 menjadi bulan yang penuh paradoks bagi aset kripto terbesar nomor dua, Ethereum.
Ketika harga ETH naik spektakuler dengan mencapai rekor tertinggi $4.957 pada 24 Agustus, namun pendapatan jaringan justru terjun bebas sebesar 44% menjadi hanya $14,1 juta, turun tajam dari $25,6 juta pada Juli.
Pendapatan dan Biaya Transaksi Menyusut
Dua indikator finansial utama menunjukkan turunnya performa Ethereum:
Pertama dari Pendapatan on-chain (dari token burn) yang menurun hingga 44% dari bulan ke bulan, menyusut menjadi $14,1 juta.
Kedua, biaya jaringan (fees) juga memperparah kondisi karena anjlok 20%, spesifiknya dari $49,6 juta menjadi $39,7 juta.
Sialnya, fenomena ini terjadi justru saat harga ETH naik lebih dari 240% sejak April, fenomena yang mencerminkan adanya pergeseran yang mendasar dalam ekonomi protokol Ethereum.
Dencun & Pectra: Upgrade yang Mengubur Popularitas Biaya
Penyebab utama penurunan pendapatan ini terkait peningkatan efisiensi blockchain yang dibawa oleh dua upgrade besar:
Dencun upgrade (Maret 2024): menurunkan biaya transaksi untuk layer-2 rollups, membuat aktivitas pengguna berpindah dari mainnet ke L2, dan mengikis basis pendapatan dari layer-1.
Pectra upgrade (Mei 2025): memperluas ruang blob, meningkatkan efisiensi publikasi data, serta memangkas biaya penggunaan smart account.
Walaupun langkah ini secara teknis menguatkan Ethereum sebagai fondasi Web3, mereka juga mengurangi insentif finansial jangka pendek bagi para validator dan pemegang token.
Pergerakan harga Ethereum (ETH/USDT) pada Selasa, 9 September 2025. Sumber: Tokocrypto.
Kritik dan Optimisme Silang
Penurunan drastis memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat. Salah satunya datang dari analis Messari yang menyebut Ethereum sedang menuju kematian.
Namun di sisi lain, banyak Juga pihak pro-Ethereum melihat ini sebagai perubahan paradigma, bukan keruntuhan.
Hal ini dibuktikan dengan aktivitas seperti jumlah alamat aktif harian (552.000, naik 21% YoY), total stablecoin on-chain ($165 miliar), dan DeFi TVL ($330 miliar) yang justru mencerminkan ekosistem yang hidup.
Institusional Percaya Saat Pendapatan Turun
Menariknya, penurunan pendapatan tidak menghalangi minat institusional. Justru sebaliknya, Ethereum tetap membara di kalangan investor besar:
Spot Ethereum ETF mencatat arus masuk signifikan: sekitar $4 miliar pada kuartal kedua 2025, menunjukkan permintaan investasi pasar tradisional yang kuat.
Etherealize, firma yang memfasilitasi adopsi institusional Ethereum, mengumpulkan $40 juta untuk memperkuat infrastruktur mainstream di industri keuangan.
Para investor percaya bahwa Ethereum menawarkan yield generatif melalui staking, menjadikannya seperti perusahaan yang menghasilkan keuntungan, bukan sekadar aset spekulatif.
Transformasi Ekonomi Lebih Penting daripada Metrik Jangka Pendek
Meski pendapatan jaringan turun drastis, Ethereum berhasil menunjukkan daya tahan harga dan relevansi institusional.
Upgrade yang menekan biaya transaksi memang mengganggu ekonomi on-chain, tetapi memperkuat skalabilitas dan adopsi jangka panjang.
Ethereum kini tampak sedang bertransformasi: dari platform aktif pengguna ke infrastruktur finansial global yang mumpuni.
Jika upgrade seperti Dencun dan Pectra dilihat bukan sebagai penurunan, tetapi lompatan strategis, maka fundamental ekosistem kripto ini malah lebih kokoh dibanding sebelumnya.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Di balik sunyiannya pasar tradisional, Fidelity Asset Management melakukan langkah strategis.
Secara diam-diam, mereka memperkenalkan produk keuangan inovatif berupa Dana pembendaharaan Tertokenisasi atau Fidelity Digital Interest Token (FDIT) di jaringan Ethereum.
Kehadiran FDIT mencerminkan saham dari Dana Pasar Uang Treasury yang diolah perusahaan di Ethereum.
Fidelity meluncurkan FDIT pada jaringan Ethereum, yang mewakili satu unit saham dari Fidelity Treasury Digital Fund (FYOXX).
Dana ini sepenuhnya dikelola di atas aset US Treasury dan kas, menawarkan exposure ke instrumen aman, tetapi dalam format blockchain ber-fiturnya, transaksi real-time, programmable, dan bisa diperdagangkan 24/7.
Pengelola institusional hanya perlu membayar biaya manajemen 0,20% per tahun, dan Bank of New York Mellon tetap menjaga custody aset tersebut.
Reliance Institution: AUM Telah Lampaui $200 Juta Meski ‘Quiet Launch’
Meski tidak pernah diumumkan resmi, Fidelity hanya menyinggung di pengajuan ke SEC.
Data menunjukkan dana FDIT sudah menguasai lebih dari $200 juta aset. Namun, jumlah pemegang token saat ini masih sangat terbatas: hanya dua alamat, dimana salah satunya mengontrol sebagian besar tokennya.
Langkah ini menempatkan Fidelity sebagai pesaing langsung terhadap BlackRock, yang lebih dulu meluncurkan BUIDL, Token Treasury fund terbesar dengan lebih dari $2 miliar AUM.
Total pasar tokenized Treasury sudah melampaui $7 miliar berkat produk dari Franklin Templeton, WisdomTree, dan lainnya.
Terobosan Besar
Keterlibatan institusional di blockchain semakin nyata. FDIT merupakan tanda nyata bahwa pemain terbesar di dunia keuangan mau mengadopsi keamanan dan efisiensi blockchain untuk menyediakan instrumen konservatif seperti Treasury funds.
Akibatnya, tokenisasi real-world assets (RWA) semakin tergeser. Akses instan, transparansi on-chain, serta settlement waktu nyata adalah nilai jual utama FDIT.
Bahkan, McKinsey memperkirakan pasar tokenized securities dapat menyentuh $2 triliun sebelum dekade ini berakhir.
Dengan demikian, Ethereum kini menjadi pionir RWA On-Chain. Ethereum, dengan smart contracts-nya, kini meng-host mayoritas tokenized Treasury (sekitar 72% dari total $10–11 miliar tokenized U.S. Treasuries).
Hal ini memperkuat posisinya sebagai infrastruktur utama untuk produk blockchain institusional.
Tantangan dan Catatan Penting
Pasar Masih Terbatas Dengan hanya dua pemegang token besar, fokus awal FDIT tampak ditujukan untuk institusi besar—belum untuk publik luas.
Regulasi dan Likuiditas RWA tokenisasi masih membutuhkan pengawasan ketat dan support dari regulasi. Likuiditas pasar tokenized Treasuries juga harus terus ditingkatkan agar layak adopsi massal.
Dengan peluncuran FDIT, Fidelity membuktikan bahwa masa depan pasar modal berada di persimpangan antara tradisi dan teknologi blockchain.
Aset aman seperti Treasury tidak lagi harus terkungkung di sistem lama—murah, transparan, dan cepat telah menjadi syarat baru.
Inilah saatnya institusi besar mulai menyusuri jalur kripto dengan legitimasi dan infrastruktur mapan—bukan untuk spekulasi, tapi untuk efisiensi nyata dan inklusi keuangan.
Ethereum pun dibuktikan bukan sekadar proto-kripto, melainkan platform dasar infrastruktur keuangan modern.
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi bukan ajakan menjual atau membeli.
Belajar investasi dan trading crypto tidak harus dimulai dengan modal yang besar. Cukup dengan modal kecil seperti Rp50.000 kamu sudah bisa belajar aset digital—cryptocurrency.
Lalu bagaimana cara untuk belajar investasi dan trading crypto dengan modal yang kecil dan risiko terkendali? Simak caranya di bawah ini yuk!
Kenapa Harus Mulai Investasi Crypto dengan Modal Kecil?
Banyak pemula yang ingin langsung untung cepat ketika melakukan investasi, baik itu investasi saham, emas, dan juga crypto. Sehingga langsung melakukan deposit dengan jumlah besar.
Saat investasi modal besar, memang dapat menghasilkan keuntungan yang juga besar. Tapi perlu diingat tujuan awal belajar crypto bukan mencari keuntungan instan, melainkan memahami:
Memahami cara beli crypto
Memahami cara kerja pasar
Mengenali risiko dan cara mengelolanya
Membangun disiplin investasi dan trading
Hingga menyiapkan fondasi untuk investasi jangka panjang
Selalu gunakan exchange crypto yang legal dan diawasi Bappebti, seperti Tokocrypto yang memungkinkan kamu untuk melakukan investasi crypto dengan modal deposit awal serendah Rp50.000.
2. Mulai Deposit dengan Jumlah Kecil
Cukup mulai dengan deposit Rp50.000 – Rp100.000 sudah bisa kamu gunakan untuk membeli aset crypto populer seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), atau Ripple (XRP).
3. Fokus pada Aset Crypto Blue Chip
Buat kamu yang masih pemula, sebaiknya jangan langsung mencoba koin baru yang harganya murah tapi berisiko tinggi. Fokuslah pada aset crypto dengan kapitalisasi pasar besar (blue chip), seperti BTC dan ETH, atau bisa juga dalam stablecoin seperti USDT dan PAX Gold jika ingin lebih stabil tapi tetap dapat eksposur crypto.
4. Gunakan Strategi Dollar Cost Averaging (DCA)
Dollar Cost Averaging atau DCA adalah strategi membeli crypto secara rutin dengan jumlah yang sama, misalnya beli Rp50.000 per minggu. Metode ini membantu dapat membantu kamu untuk belajar investasi secara konsisten, sekaligus menghindari pembelian impulsif dan risiko fluktuasi harga, karena pembelian dilakukan secara bertahap.
5. Belajar Self Custody
Setelah membeli, kamu bisa menyimpannya di wallet exchange atau wallet pribadi (seperti Trust Wallet, MetaMask, Phantom Wallet, atau Base Wallet). Buat kamu yang pemula, menyimpan di exchange seperti Tokocrypto, sebenarnya sudah cukup aman karena memiliki fitur Proof of Reserve dan keamanan berstandar global.
Tapi seiring waktu kamu juga perlu belajar tentang self-custody agar lebih memahami bagaimana cara kerja crypto secara langsung.
Apa Saja yang Harus Lakukan agar Risiko Terkendali?
1. Jangan Gunakan Uang Kebutuhan Sehari-hari
Pastikan modal yang digunakan bukan dana darurat atau uang untuk kebutuhan sehari-hari.
2. Pelajari Sebelum Membeli
Sebelum memutuskan membeli, pelajari crypto yang ingin kamu beli—perhatikan fundamental, analisa harga, siklus, hingga kegunaannya.
Jadilah sangat selektif, bayangkan jika kamu ingin berinvestasi di usaha dunia nyata, pastinya kamu akan mencari tahu apakah usaha tersebut punya fondasi yang kuat. Mulai dari siapa pendirinya, bagaimana model bisnisnya, apakah produknya punya demand, hingga bagaimana arus kas dan potensi pertumbuhannya. Begitu juga dengan crypto.
3. Diversifikasi
Cobalah alokasi ke beberapa aset crypto dengan karakteristik berbeda, dan jangan taruh semua modal yang kamu miliki di satu koin untuk memahami pola pergerakan harga, manajemen risiko, dan psikologi pasar.
Melakukan pembelian secara sekaligus dengan seluruh modal yang kamu miliki, gunakan strategi Dollar Cost Averaging atau menyisakan sebagian modal sebagai jaga-jaga jika ada peluang beli yang lebih menguntungkan.
5. Tetapkan Target dan Stop Loss
Latih diri untuk menetapkan target profit kecil (misalnya 5–10%) dan stop loss untuk membatasi kerugian—sesuai dengan analisa sederhana, seperti Support dan Resistance.
Belajar crypto tidak harus dimulai dengan modal besar. Justru, dengan modal kecil dan risiko terkendali, kamu bisa memahami cara kerja pasar crypto ini secara bertahap tanpa was-was.
Mulailah dengan exchange resmi dan terpercaya seperti Tokocrypto, fokus pada aset utama, gunakan strategi DCA, dan disiplin dalam mengelola risiko.
Selalu ingat, tujuan awalnya bukan mencari untung cepat, melainkan belajar memahami dunia crypto untuk investasi yang menguntungkan nantinya.
Siap mencoba membeli crypto pertama kamu dengan modal kecil hari ini? Mulai dengan deposit Rp50.000 dan dapatkan potongan trading fee di Tokocrypto!
DISCLAIMER: Investasi aset kripto mengandung risiko tinggi dan segala keputusan investasi yang diambil oleh Anda berdasarkan rekomendasi, riset dan informasi seluruhnya merupakan tanggung jawab Anda.
Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko investasi tersebut.
Konten ini hanya bersifat informasi, bukan ajakan menjual atau membeli.