Tag Archives: nama

Pulau Air Raja yang Cantik tapi Terpencil di Batam



Batam

Di Batam, ada sebuah pulau yang cantik tapi terpencil. Namanya pulau Air Raja. Pulau ini menyimpan kisah legenda tersendiri. Seperti apa kisahnya?

Pulau Air Raja adalah salah satu pulau terpencil di kota Batam, kepulauan Riau. Pulau ini termasuk ke dalam wilayah kecamatan Galang dan kelurahan Air Raja.

Legenda Situs Perigi Air Raja

Keberadaan pulau ini tak bisa dilepaskan dari Situs Perigi Air Raja dan legenda di baliknya. Konon, sumber mata air itu punya khasiat tersendiri.


Di Pulau Air Raja, terdapat situs Perigi Air Raja. Dari situs itulah asal usul nama pulau ini berasal.

Alkisah, pada zaman dahulu, di masa pemerintahan Datuk Raja Munsang Arafah, rombongan Kerajaan Bintan berlayar menggunakan perahu Lancang Kuning ke Johor, Malaysia.

Rombongan kerajaan itu terdiri atas lima raja, 30 pengawal dan dua cucu kembar Datuk Raja Munsang Arafah. Di tengah perjalanan, perahu mereka dihantam badai besar, sehingga terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni.

Setelah tiga hari tiga malam terdampar, rombongan itu mulai kehabisan perbekalan. Mereka mencari sumber mata air ke seluruh penjuru pulau, namun setetes air pun tidak mereka temukan.

Kelima raja itu akhirnya berdoa kepada Tuhan untuk meminta pertolongan. Datuk Raja Munsang Arafah lalu memahat sebuah batu. Tiba-tiba saja, air mengalir dari batu yang dipahatnya.

Sang raja akhirnya membuat dua perigi yang diberi nama sesuai dengan cucunya, yaitu Putri Srikandi yang terletak di sebelah kiri dan Putri Cahaya Nilam di sisi kanan.

Datuk Raja Munsang Arafah beserta keluarga akhirnya tinggal di pulau ini sampai akhir hayat. Menurut warga setempat, air di perigi itu tidak akan pernah habis meski musim kemarau sekalipun.

Mata air dari perigi itu pun dipercaya berkhasiat dan bisa membuat panjang umur. Tak heran jika banyak wisatawan yang datang ke pulau Air Raja hanya untuk minum dan membawa pulang air dari perigi tersebut.

(wsw/msl)



Sumber : travel.detik.com

Rawa Talanca, Cocok Dikunjungi si Mancing Mania di Sukabumi



Sukabumi

Buat kamu si Mancing Mania, saatnya agendakan perjalanan ke Sukabumi. Di sana ada Rawa Talanca yang asyik untuk dikunjungi para pehobi mancing.

Terik matahari siang itu menyengat kulit di Kampung Talanca, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Lokasinya yang tak jauh dari pesisir pantai Loji, membuat hawa panas terasa wajar.

Namun, di balik hawa panasnya yang hot, terdapat pemandangan menakjubkan. Sebuah rawa tenang yang membentang sejauh mata memandang. Sebagian permukaan airnya dihiasi oleh tanaman eceng gondok yang menjadi hiasan alami tempat tersebut.


Rawa ini dikenal sebagai Rawa Talanca, sesuai dengan nama kampung tempatnya berada. Rawa Talanca terbentuk akibat pendangkalan sungai yang kemudian menjadi kali mati.

Tanah yang timbul dari pendangkalan ini secara perlahan dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk bertani, sementara air yang terjebak di sana berubah menjadi rawa.

“Sejak saya kecil sudah ada Rawa Talanca ini. Dulu ada dua cabang sungai, satu langsung ke muara, satunya lagi ke daerah Talanca sini. Nah, aliran sungai kecil ini mati karena pendangkalan, sampai akhirnya berubah jadi rawa,” cerita Ponso, seorang warga Simpenan, kepada detikJabar.

Kini, Rawa Talanca menjadi sumber penghidupan bagi warga setempat. Air dari rawa ini dialirkan ke irigasi untuk mendukung area pertanian warga.

Pesona Rawa TalancaPesona Rawa Talanca Foto: Syahdan Alamsyah

Selain itu, rawa ini juga menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan. Cocok banget dikunjungi buat kamu-kamu yang hobi tarik ulur joran untuk menangkap ikan.

“Rawa Talanca ini memang spot mancing yang tidak ada duanya. Ikan di sini besar-besar, dan jenisnya juga beragam. Saya pernah dapat ikan nila yang beratnya sampai 2 kilogram,” ujar Ponso dengan mata berbinar.

Bagi warga setempat, Rawa Talanca bukan hanya sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga bagian penting dari kehidupan mereka sehari-hari.

Sejumlah warga bahkan sengaja membuat warung lengkap dengan spot mancing. Namun seiring berjalannya waktu, lokasi itu tak lagi ramai dikunjungi pemancing.

“Sengaja bikin bale, untuk yang mancing. Dulu itu sehari bisa sampai belasan orang mancing sampai malam menginap di bale, namun katanya ikan-ikan di sini sudah tidak seperti dulu lagi jadi malas nyamber umpan pemancing. Hanya beberapa saja yang masih rutin mancing tidak seramai dulu,” tutur Raram, pemilik warung di Rawa Talanca.

Raram menceritakan, ikan di rawa Talanca bebas dipancing asal tidak menggunakan jala, setrum dan racun.

“Dulu itu ada spanduk larangan. Hanya sudah rusak, jadi tidak terlihat,” lirihnya.

Aktivitas Raram kini hanya mengelola apa yang tersisa. Bekas-bekas kayu yang biasa digunakan untuk memancing pun kini sudah mulai terlihat lapuk.

“Sebenarnya kalau saja pemerintah mau, lokasi ini dijadikan tempat wisata pasti bakalan ramai. Lebih ditata lagi, dibuat cantik lagi. Karena pemandangan di sini memang bagus, banyak mangrove juga,” pungkasnya.

——

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Wisma Geha, Ruang Seni ‘Tersembunyi’ untuk Pemburu Konten



Jakarta

Penikmat seni dan pencari spot foto keren, dekat Gedung Sarinah bisa jadi pilihan. Wisma Geha menjadi tempat pameran seni.

Wisma Geha atau sekarang disebut dengan Jakarta Art Hub menjadi tempat seniman-seniman memamerkan karya-karya terbaik mereka. Bagi masyarakat Jakarta yang bosan nongkrong di kafe atau bosan nge-date ke mall, bisa datang ke Jakarta Art Hub.

Wisma Geha berada di Jalan Timor No. 25, Jakarta Pusat. Gedung lima lantai itu kini disulap dengan tiap lantai menjadi tempat pameran karya yang keren-keren. Saat ini, ada 11 galeri dengan karya seni dengan masing-masing kekhasan dan keunikannya.


detikTravel mengunjungi Jakarta Art Hub, Selasa (24/9/2024). Dari luar Gedung Geha tampak sebagai gedung perkantoran biasa yang mulai usang. Namun, segalanya berubah setelah memasuki area dalam gedung. Tiap lantai gedung itu memiliki warna cerah yang beragam.

Menurut perwakilan dari Jakarta Art Hub, Arkan, sebetulnya Jakarta Art Hub hanya sebuah nama untuk beberapa galeri yang ada di Gedung Wisma Geha.

“Jadi Jakarta Art Hub tuh cuma sekadar penamaan buat gedung ini, karena gedung ini kan udah punya nama Wisma Geha. Cuma gimana biar lebih autentik ketika orang mau datang ke galeri, karena kan ini banyak galeri di satu gedung ini jadi biar pengunjung nggak bingung untuk menyebut satu-satu galeri tapi langsung nyebut Jakarta Art Hub,” katanya saat dihampiri detikTravel di Jakarta Art Hub.

Arkan juga menerangkan Jakarta Art Hub bukanlah sesuatu konsep yang dirumuskan sejak lama, tetapi berjalan begitu saja seraya semakin bertambahnya galeri seni di gedung ini. Berawal hanya tiga galeri, kini Jakarta Art Hub menjadi rumah belasan galeri. Dia yakin jumlah itu akan terus bertambah.

“Awalnya (galeri) yang ada di gedung ini cuma Rubanah, Jagat terus akhirnya Art Agenda. Jadi, awalnya tiga galeri itu sebenarnya, belum ada penamaan Jakarta Art Hub. Akhirnya banyak galeri yang join di gedung ini akhirnya dibuatlah penamaan Jakarta Art Hub itu,” ujar dia.

Dan sampai kini sejak diresmikannya Jakarta Art Hub pada 2023 lalu, setiap galeri di sini rata-rata setiap bulannya melakukan pameran karya seni dari beragam seniman. Pada 22 September lalu telah usai gelaran pameran dan akan mulai kembali menggelar pameran oleh galeri-galeri itu pada 28 September hingga 27 Oktober 2024.

Dalam menggelar pameran, semua galeri akan menentukan kapan pameran digelar dan kapan pameran selesai, hal ini juga untuk menentukan ke depannya siapa seniman yang akan melakukan pameran di setiap galerinya. Dan tentunya untuk memudahkan pengunjung yang datang agar bisa menikmati karya secara bersamaan.

“Supaya serentak aja jadi ketika nanti pengunjung, buyer ataupun kolektor yang mau melihat atau datang itu bisa sekaligus,” kata Project Manager Artloka Gallery, Rafi.

Ia juga menyebutkan galeri itu mengusung karya-karya seni yang beraliran pop dan biasanya menggelar pameran 3 minggu sampai 1 bulan untuk setiap karya senimannya.

“Artloka sebenarnya bukan yang terlalu segmented tapi kita melihat ke seniman-seniman masa kini aja sih, ya ngikutin tren tapi lebih banyak ke (karya seni) pop,” kata Rafi.

Pengunjung yang ingin datang ke Jakarta Art Hub ini cukup melakukan registrasi sebelum masuk. Setelah itu pengunjung diperkenankan untuk menjajal setiap lantainya yang kurang lebih terdapat 2 hingga 3 galeri seni yang bisa dijajal.

Jakarta Art Hub ini biasa beroperasi sedari Selasa hingga Minggu, mulai pukul 11.00 hingga 19.00 WIB. Dan untuk bisa melihat-lihat karya di Jakarta Art Hub ini pengunjung tak perlu mengeluarkan kocek alias gratis.

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com

Kampoeng Gallery, Kafe Antik di Jaksel Pas buat Long Weekend



Jakarta

Di tengah pesatnya perkembangan kafe kekinian yang mengutamakan gaya minimalis, terdapat sebuah kafe dengan tema barang antik bernama “Kampoeng Gallery”. Pas, buat mengisi long weekend-mu.

Kafe barang antik itu berada di pusat kota Jakarta Selatan, yakni di Kebayoran lama, pas di samping Stasiun Kebayoran. Traveler hanya perlu menuju pintu keluar dan berjalan sedikit maka akan terlihat suasana tempat nongkrong dengan tulisan ‘Kebayoran Vintage/Kampoeng Gallery’.

Berada di gang yang tersembunyi dengan papan nama kafe yang sederhana, kafe itu ternyata penuh warna. Dinding-dindingnya dipenuhi beraneka lukisan dan rak-rak yang diisi dengan buku-buku, pajangan, dan barang-barang antik.


Gagasan membuka Kampoeng Gallery ternyata merupakan pelampiasan hobi si pemilik Ivan Moningka. Dia senang mengoleksi barang bekas.

Kampoeng Gallery di Kebayoran Lama, Jakarta SelatanIvan Moningka, pemilik Kampoeng Gallery di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Syanti Mustika/detikcom)

“Saya memiliki hobi sejak saya SMA dalam mengoleksi barang bekas dan saya suka sekali dengan musik. dari sinilah saya mencari kaset, piringan hitam, CD yang susah ditemukan di berbagai toko maupun koleksi orang lain,” kata Ivan dalam perbincangan dengan detikTravel beberapa waktu lalu.

“Saat saya hunting musik kesukaan saya, bertemulah dengan berbagai buku-buku, poster hingga benda-benda unik yang akhirnya saya jadikan koleksi,” dia menambahkan.

Menggali Nostalgia di Tengah Kota Modern

Kampoeng Gallery yang berada dekat di Pasar Kebayoran LamaKampoeng Gallery yang berada dekat di Pasar Kebayoran Lama (Yenny Mustika Sari/detikcom)

Ketika memasuki Kampoeng Gallery, traveler disambut dengan atmosfer yang akan membawa kembali ke masa lalu. Dekorasi yang menciptakan suasana vintage, seperti berbagai macam barang-barang antik, bangku-bangku dan meja yang sederhana.

Bahkan, Lukisan yang menghiasi dinding kafe menawarkan keindahan, menciptakan ruang yang nyaman, dan penuh dengan rasa seni yang mendalam dan juga rak buku yang dipenuhi dengan koleksi literatur klasik menambah kesan nostalgia.

Menjaga Tradisi di Tengah Tren Serba Modern

Kampoeng Gallery di Kebayoran Lama, Jakarta SelatanKampoeng Gallery di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Syanti Mustika/detikcom)

Di era maraknya kafe kekinian sering kali mengedepankan desain sleek dan high-tech, Kampoeng Gallery mengandalkan daya tarik barang antik. Bagaimana sebuah tempat dapat mempertahankan nilai-nilai dan gaya klasik di tengah dominasi tren kafe kekinian.

Dengan interior yang tidak hanya dipenuhi dengan koleksi barang-barang antiknya saja, Kampoeng Gallery memberikan adanya pengalaman yang menghubungkan visual nostalgia yang mendalam.

Memadukan sentuhan Klasik Kampoeng Gallery adalah contoh yang baik tentang bagaimana sebuah kafe dengan desain antik dapat mempertahankan tradisi bersaing di dunia modern.

Dengan menyatukan kebutuhan dan ekspektasi pengunjung seperti menu makan dan minuman yang bervariatif, terdapat colokan yang mendukung jika traveler ingin WFA menciptakan ruang yang nyaman dan fungsional sambil tetap mempertahankan sentuhan klasik.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Fakta-fakta Aceh, Tuan Rumah PON XXI yang Tengah Disorot



Banda Aceh

Penyelenggaraan PON XXI di Aceh-Sumut tengah disorot publik karena banyak kontroversi. Berikut fakta-fakta menarik tentang Aceh, salah satu tuan rumah PON 2024.

Mulai dari venue pertandingan yang bobrok hingga makanan untuk para atlet yang dinilai tidak layak membuat Aceh tengah banyak diperbincangkan publik.

Dikenal dengan sebutan ‘Tanah Rencong’, Aceh memiliki karakteristik unik dan berbeda dari daerah lain di Nusantara. Provinsi ini terletak di ujung paling barat gugusan pulau Indonesia.


Aceh menjadi salah satu provinsi yang kaya akan sejarah, budaya, dan tradisi. Baik dari segi kuliner, budaya, hingga ragam sukunya. Aceh juga menawarkan pesona tersendiri yang patut untuk kita telusuri.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Aceh luasnya sekitar 56.839,09 km2. Menempati posisi strategis sebagai pintu gerbang lalu lintas di bagian barat Indonesia.

Berikut fakta-fakta unik yang perlu kamu ketahui tentang Aceh:

1. Dijuluki Sebagai Serambi Mekah

Sebagai provinsi paling barat di Pulau Sumatera, Aceh merupakan salah satu daerah pertama masuknya Islam di Indonesia. Selain itu, kota Aceh dikenal dengan tradisi Islam yang kuat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Dilansir dari laman resmi Pemerintahan Provinsi Aceh, Dosen Ilmu Sastra Universitas Sumatera Utara (USU) Supriyatno mengatakan Aceh merupakan bagian wilayah Indonesia pertama yang memeluk agama Islam.

Berdasarkan penuturannya, pada abad ke-7 Masehi wilayah Aceh pertama kali menerima kedatangan Islam yaitu Pasai, Aceh Utara dan Peurelak.

Pengaruh Islam terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh, termasuk dalam seni, musik dan arsitektur. Simbol budaya Aceh salah satunya adalah tari tradisional Saman yang dinamis dan penuh energi yang menjadi budaya keagamaan Islam di Aceh.

2. Kampung Bule di Desa Lamno

Kampung Bule di Indonesia ternyata ada lho di Aceh. Suku unik ini dikenal dengan Suku Lamno yang terletak di desa Lamno, pesisir barat Aceh.

Suku ini sangat istimewa karena warga Lamno memiliki ciri fisik berbeda dari kebanyakan orang Indonesia, yaitu hidung mancung, berpostur tinggi seperti orang Eropa, memiliki mata biru dan berambut pirang.

Warga desa Lamno adalah hasil kawin campur bangsa Portugis yang berdagang di Aceh dan menikahi penduduk setempat. Hal inilah menjadi saksi bisu dari percampuran budaya dan warisan genetik yang langka.

3. Bubur Memek dari Simeulue

Jika mendengar kata “memek”, kamu mungkin mengira ini adalah kata yang berkonotasi negatif. Namun di Aceh, khususnya di pulau Simeulue, “memek” adalah nama hidangan tradisional berbentuk bubur yang terbuat dari campuran pisang, beras ketan, santan, dan gula.

Bubur ini sering disajikan untuk menyambut tamu penting yang berkunjung ke Simeulue serta pada upacara adat. Salah satu warga Simeuleu, Almawati mengatakan mamemek memiliki arti mengunyah atau menggigit.

Memek, salah satu makanan khas Aceh.Memek, salah satu makanan khas Aceh. (Agus Setyadi)

Sejak zaman dahulu, nenek moyang mereka sering mengunyah beras ketan yang diolah dan dicampur pisang. Perlahan-lahan masyarakat menyebut makanan khas ini dengan sebutan memek.

“Masyarakat Simeuleu sejak zaman dahulu membuat bubur memek untuk disantap bersama keluarga, Hal inilah mewariskan makanan khas Simeuleu warisan leluhur,” Kata Almawati seorang warga Simeuleu.

Kuliner khas Pulau Simeulue ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia di tahun 2019. Rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut membuat bubur memek menjadi salah satu kuliner kebanggaan masyarakat Simeulue.

4. Bahasa Aceh yang Singkat dan Efisien

Bahasa Aceh juga memiliki keunikan tersendiri, terutama dalam hal singkatan beberapa kata yang digunakan sehari-hari. Contohnya kata “air kelapa” dalam bahasa Aceh diucapkan sebagai “Ie (air) dan Uk (Kelapa).”

Bahasa Aceh cenderung menggunakan kata-kata pendek namun tetap efektif dalam menyampaikan makna. Hal ini menunjukkan keefisienan komunikasi dalam budaya Aceh, dimana masyarakatnya terbiasa berbicara dengan cepat dan lugas.

5. Budaya Tarek Pukat

Budaya “Tarek Pukat” merupakan tradisi menangkap ikan yang dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat pesisir Aceh. Dalam tradisi ini, para nelayan menarik pukat atau jaring besar ke daratan bersama-sama.

Setelah ikan-ikan berhasil ditangkap, hasilnya akan dibagi rata di antara para nelayan. Selain sebagai mata pencaharian, budaya ini juga mencerminkan semangat kebersamaan dan solidaritas dalam masyarakat Aceh, terutama di komunitas pesisir.

Dengan kekayaan budaya dan tradisinya, Aceh bukan hanya sekedar provinsi di ujung barat Indonesia, tetapi juga simbol keberagaman dan kearifan lokal yang tetap hidup dan dihormati sampai hari ini.

Dari kuliner, suku, bahasa, hingga budaya gotong royong, Aceh menawarkan pesona unik yang membuatnya istimewa dan patut kita lestarikan.

(wsw/fem)



Sumber : travel.detik.com

Mengenal Daerah Jatinegara, Asal Kakek Pemain Bola Eliano Reijnders



Jakarta

Eliano Reijnders sedang hangat dibicarakan karena akan menjadi pemain naturalisasi untuk Timnas Indonesia. Ternyata, kakek dari atlet ini orang Jatinegara, lho.

Darah Indonesia bisa dikatakan kental di tubuh Eliano Reijnders. Ibu Eliano, Angelina Syane Lekatompessy, lahir di Jakarta dan kakeknya lahir di Meester Cornelis atau saat ini dikenal Jatinegara.

Bicara tentang Jatinegara, banyak hal menarik yang bisa dijelajahi di sana. Apalagi traveler pecinta sejarah dan barang antik bisa memuaskan hasrat di sini.


detikcom telah merangkum nih, Kamis (19/9/2024) tempat menarik di Jatinegara alias kampungnya kakek Eliano, yang bisa kamu datangi.

1. Pasar Jatinegara atau Pasar Jembatan Item

Barang bekas tak selalu identik dengan sesuatu yang tak terpakai. Di Jakarta ada beberapa pasar loak yang cukup populer. Berikut dua diantaranya.Di Pasar Jembatan Item Jatinegara dan Kebayoran Lama inilah lumayan sudah tersohor dan sellau jadi pilihan warga Ibu Kota berbelanja. Nggak semua barang bekas itu tak terpakai, ada juga kok barang bekas yang masih memiliki nilai ekonomi.Barang bekas tak selalu identik dengan sesuatu yang tak terpakai. Di Jakarta ada beberapa pasar loak yang cukup populer. (Agung Pambudhy/detikcom)

Traveler pecinta thrifting hingga barang antik bisa nih datang ke Pasar Jatinegara. Banyak benda-benda menarik yang bisa kamu buru lho. Tak hanya barang seconds, di sini juga menjual barang-barang baru kok.

Beragam barang yang bisa kamu temukan di sini, seperti HP, speaker, vacum cleaner, lukisan, kaset, uang kuno, jam tangan, hingga mainan anak.

Pasar barang bekas ini ada yang buka 24 jam, ada juga yang hanya sampai sore. Di sini tk hanya jualan di toko-toko saja, para pedagang juga banyak menggelar dagangannya di pinggir jalan.

2. Stasiun Jatinengara

PT KAI mengatur pola operasi KA jarak jauh keberangkatan dari Stasiun Gambir dengan akan diberhentikan di Stasiun Jatinegara meski tadinya tak berhenti di sana. (dok KAI)Stasiun Jatinegara (dok KAI)

Stasiun Jatinegara tidak sebatas rumah untuk kereta saja. Ada cerita sejarah menarik di sekitarnya, salah satunya stasiun ini adalah bangunan kedua. Bangunan pertama Stasiun Jatinegara berada 600 meter dari lokasi yang sekarang.

Dulu nama Stasiun Jatinegara yaitu Meester Cornelis. Daerah Meester Cornelis awalnya merupakan tanah milik seorang pemuka agama Kristen Bernama Cornelis van Senen. Setelah meninggal dunia pada 1661, para pengikutnya mengabadikan nama Meester (majikan) Cornelis sebagai nama wilayah bekas properti tanah milik mendiang. Ketika pendudukan Jepang, penamaan wilayah Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara.

Stasiun Jatinegara juga telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang terdaftar di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dengan nomor registrasi RNCB.19990112.02.000503 berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.13/PW.007/MKP/05 dan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 011/M/1999

3. Museum Benyamin Sueb

Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian.Taman Benyamin Sueb terletak di Jatinegara, Jakarta Timur. Taman ini untuk mengenang kiprah dan pengaruhnya Benyamin Sueb selama berkesenian. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)

Terdapat beberapa bangunan di Taman Benyamin Sueb, salah satunya adalah Museum Benyamin Sueb. Di dalam area museum, terdapat berbagai macam peninggalan dari Benyamin Sueb, mulai penghargaan-penghargaan, rilisan musik hingga beberapa wardrobe yang pernah dikenakan oleh Bang Ben.

Taman Benyamin Sueb dibuka untuk umum, jadi masyarakat yang ingin berkunjung ke tempat ini bisa datang di hari Selasa hingga Minggu, mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB untuk operasional museum.

Lokasi museum nggak jauh kok dari Jembatan Item. Kamu bisa jalan kaki ke sini setelah berburu barang antik.

4. Wisata religi

Di sekitar pasar Jatinegara, traveler bisa mengunjungi beberapa tempat ibadah. Sebit saja Vihara Avalokitesvara yang terletak di Jalan Jatinegara Timur dan vihara Amurva Bhumi yang terletak di kelurahan Balimester.

Berkeliling lagi, traveler bisa berkunjung ke Gereja Koinonia yang memiliki loteng dengan pemandangan ke 4 arah mata angin di bagian atasnya.

detikcom menyarankan traveler untuk mencoba walking tour sekitar Jatinegara biar semakin kenal dengan sejarah di sana. Banyak kok tur yang menawarkan keliling Jatinegara.

(sym/fem)



Sumber : travel.detik.com

Profil Geopark Karangsambung yang Diakui UNESCO Global Geopark



Kebumen

Geopark Karangsambung di Kebumen akhirnya diakui sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark. Bagaimana profil geopark ini? Mari kita simak:

Geopark Karangsambung-Karangbolong terletak di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Wilayahnya membentang seluas 543.599 km². Kawasan ini terbagi menjadi tiga segmen utama yang memiliki karakteristik geologi yang berbeda.

Pertama, ada kawasan Karangsambung yang terletak di bagian utara dan merupakan cagar alam geologi yang kaya akan batuan metamorf derajat tinggi dan batuan beku.


Kemudian ada kawasan Sempor, yang terletak di bagian tengah. Ini adalah area yang memiliki bentuk lahan fluvial dan denudasional, dengan hamparan perbukitan yang menunjukkan proses geomorfologi yang kompleks.

Terakhir di bagian selatan, ada Kawasan Pesisir Ayah menonjol dengan karakteristik karst dan vulkanik tua, menampilkan bentuk-bentuk lahan hasil dari proses vulkanisme dan sedimentasi yang telah berlangsung selama jutaan tahun.

Geopark ini memiliki beragam fitur geologi yang menarik, termasuk 41 situs geologi, 8 situs biologi, dan 10 situs budaya. Geomorfologi kawasan ini mencakup berbagai bentuk lahan seperti fluvial, denudasional, dan struktural, yang menunjukkan sejarah geologi yang panjang dan beragam.

Batuan di kawasan ini meliputi batuan metamorf derajat tinggi, batuan beku basa hingga ultrabasa, serta batuan sedimen laut.

Perubahan batuan dan proses vulkanisme yang terjadi di kawasan ini memberikan karakteristik unik pada setiap bagian Geopark Karangsambung-Karangbolong, menjadikannya tempat yang kaya akan pengetahuan geologi dan ekologi.

Sejarah Geologi Geopark Karangsambung

Dilihat dari sejarah geologinya, Kawasan Geopark Karangsambung terbagi ke dalam beberapa periode waktu. Setiap periode mewakili tahap penting dalam proses pembentukan geologi kawasan tersebut.

Berikut Penjelasan Setiap Periode Waktu Geopark Karangsambung:

1. Masa Awal Pembentukan Pulau Jawa/Pra-Tersier (117-55 juta tahun yang lalu)

Pada periode ini, Pulau Jawa mulai terbentuk. Geologi kawasan ini didominasi oleh batuan yang terbentuk dari proses geologi awal. Ini mencakup pembentukan dasar-dasar geologi yang menjadi fondasi untuk perkembangan lebih lanjut.

2. Masa Sedimentasi Longsoran Laut Dalam (55-25 juta tahun yang lalu)

Selama periode ini, terjadi pengendapan sedimen di laut dalam. Longsoran sedimen dari daratan dan laut membentuk lapisan-lapisan batuan sedimen yang penting dalam sejarah geologi kawasan ini.

3. Masa Gunung Api Purba OAF (25-16 juta tahun yang lalu)

Pada periode ini, aktivitas vulkanik besar-besaran terjadi. Gunung api purba yang dikenal sebagai OAF (Old Active Field) aktif, menghasilkan lava dan material vulkanik yang berkontribusi pada pembentukan bentang alam.

4. Masa Pembentukan Paparan Karbonat (16-10 juta tahun yang lalu)

Pada masa ini, terjadi pembentukan paparan karbonat, yang meliputi batuan kapur dan formasi geologi karbonat lainnya. Proses ini menciptakan fitur-fitur karst yang khas di kawasan tersebut.

5. Masa Gunung Api Purba Halang (10-2 juta tahun yang lalu)

Periode ini ditandai dengan aktivitas vulkanik dari gunung api purba yang dikenal sebagai Halang. Aktivitas ini berkontribusi pada pembentukan struktur geologi baru di kawasan ini.

6. Masa Pembentukan Endapan Aluvial dan Pantai (<2 juta tahun yang lalu)

Pada periode terakhir ini, terjadi pembentukan endapan aluvial di daerah pesisir dan pantai. Proses ini melibatkan pengendapan material di sepanjang sungai dan pantai, membentuk fitur geologi yang ada saat ini.

Geopark Karangsambung Diakui UNESCO Global Geopark

Geopark Karangsambung-Karangbolong awalnya mendapatkan status Geopark Nasional pada bulan November 2018. Pengakuan ini merupakan langkah awal untuk meningkatkan profil geopark ini dalam skala nasional.

Pada 2022, proses pengusulan menuju UNESCO Global Geopark (UGGP) dimulai, sebagai upaya untuk mendapatkan pengakuan internasional. Untuk memenuhi kriteria UGGP, dilakukan beberapa perubahan mendasar pada tahun 2023.

Pertama, wilayah Geopark diperluas dari mencakup 12 kecamatan menjadi 22 kecamatan, yang meliputi 374 desa. Perluasan ini bertujuan untuk mencakup lebih banyak situs geologi dan budaya, serta melibatkan lebih banyak masyarakat lokal dalam pengelolaan geopark.

Kedua, nama Geopark diubah menjadi Geopark Kebumen dengan tema “The Glowing Mother Earth of Java,” untuk lebih mencerminkan karakteristik dan nilai-nilai kawasan tersebut.

Perubahan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan profil geopark di tingkat internasional tetapi juga menjadikannya sebagai pusat pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, sambil tetap menjaga kelestarian alam dan warisan geologinya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Dulu Diskotek Hits, Kini Gedung Ini Kisahnya Tragis



Medan

Gedung di Medan ini sudah terbengkalai selama bertahun-tahun. Dulunya, gedung ini adalah sebuah diskotek hits. Namun akhirnya, kisahnya berujung tragis.

Traveler yang melintasi Jalan Gatot Subroto Medan pasti bisa melihat dengan jelas gedung ini. Bangunan ini ternyata punya kenangan mengerikan yang diingat warga Medan saat itu.

Gedung eks M City itu terletak di Jalan Gatot Subroto. Letaknya berseberangan dengan bundaran SIB. Tak ada aktivitas apapun yang tampak dari gedung tersebut.


Dari luar gedung, kondisi fisik gedung tampak tak terawat dengan dinding atap yang sudah jebol. Selain itu, halaman dalam gedung juga ditumbuhi rumput liar dan semak belukar.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, gedung ini sudah terbengkalai beberapa tahun terakhir. Terlebih pasca mengalami kebakaran hebat pada akhir tahun 2009 lalu.

Banyak warga Medan yang masih mengenang tragedi kebakaran tersebut. Bagaimana tidak, kebakaran ini menewaskan 20 orang, termasuk di antaranya ajudan Gubernur kala itu.

Warga Medan Dihantui Kisah Mistis

Pasca kebakaran tersebut, nama M City kemudian berganti nama menjadi Elegant. Warga Medan Mirna mengaku mengalami pengalaman mistis saat berada di lokasi yang sudah berganti nama.

“Dulu pernah ke sini waktu ganti nama jadi Elegant. Pernah waktu itu tutup mata terus di dalam room VIP itu berasa ramai dan banyak suara minta tolong. Penjaganya juga bilang pernah beberapa kali juga dengar suara minta tolong,” ungkap Mirna.

Tak hanya itu, beberapa masyarakat juga bercerita kenangan saat rekan ataupun sahabatnya selamat dalam tragedi mengerikan tersebut.

“Saya saksi hidup karyawan di tempat itu waktu kejadian kebakaran. Saat itu pergantian shift pukul 20.30 WIB. Rekan saya menjadi korban pada kebakaran itu, mereka meninggal karena asap yang tebal,” tutur Sinaga.

“Itu salah satu tempat yang merenggut nyawa kakak angkat, namanya Dara, dia meninggal akibat sesak napas tapi tidak terbakar hangus,” tutur Rama, warga Medan lainnya.

Dulu Diskotek Hits

Sejarahwan Budi Agustono mengungkapkan tempat hiburan malam M City ini populer di awal tahun 2000-an. Bahkan, dulunya hanya kalangan menengah atas yang sering nongkrong di sini.

“Tahun awal 2000an M City ini menjadi pusat hiburan sangat elit. Banyak sekali kelas menengah atas yang sebagian besar nongkrongnya di M City ini, itu sangat terkenal dan relatif bebas saat itu,” ujar Budi.

Budi bercerita bahwa M City dulunya banyak dipilih sebagai tempat nongkrong lantaran memiliki banyak fasilitas dan memberikan rasa nyaman kepada pengunjungnya.

“Di Medan tahun 2000an itu semacam urban entertaiment yang salah satunya diskotek atau tempat hiburan M City. Sebelum terbakar sangat populer sekali. Selain diskotek kan juga ada hotel, ada spa dan tempat itu relatif aman karena mungkin waktu itu ada wilayah Olo Panggabean jadi relatif terjaga dan menimbulkan penikmat hiburan malam tahun 2000-an awal,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Bukan Ubud, Sawah Hijau nan Viral Ini Ada di Bandung



Bandung

Tak perlu jauh-jauh ke Ubud, Bali untuk menyaksikan pemandangan sawah nan hijau. Cukup ke Bandung saja, traveler bisa melihat pemandangan sawah seindah Ubud.

Pemandangan persawahan selalu menjadi daya tarik bagi wisatawan. Objek wisata yang menampilkan persawahan biasanya terdapat di Ubud, Bali.

Namun kali ini traveler bisa menikmati pemandangan alam dengan sepuas-puasnya di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Area persawahan tersebut menunjukkan pemandangan yang menarik.


Di tengah-tengah sawah itu terdapat jalan setapak penghubung Kampung Cihamerang, Desa Batu Karut, dan Kampung Cisema, Desa Mangunjaya, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung.

Pada lokasi tersebut terdapat beberapa saung yang kerap digunakan warga untuk beristirahat kala tengah menanam padi. Sehingga suasana persawahan tetap asri dan sejuk.

Area persawahan tersebut kali ini telah menjadi primadona masyarakat. Hal tersebut terjadi kala beberapa warga mengunjungi lokasi tersebut dan mengunggahnya di sosial media. Bahkan masyarakat mengenal lokasi tersebut dengan nama Cisema Banjaran.

Banyak masyarakat bekunjung ke lokasi persawahan tersebut sambil berolahraga. Kemudian beberapa warga lainnya datang dengan menggunakan sepeda.

Beberapa masyarakat ada yang datang hanya menikmati beberapa kuliner hingga berswafoto. Mereka mayoritas datang bersama keluarga dan kerabatnya.

Kondisi ramainya wisata pemandangan sawah di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung.Pemandangan sawah di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. Foto: Yuga Hassani/detikJabar

Warga Banjaran, Weni Maulani (47) mengatakan, sengaja mengunjungi lokasi tersebut pasca viral di sosial media. Dirinya datang bersama anak-anaknya sejak pagi hari.

“Iya sengaja dateng ke sini dari Banjaran. Saya dari jam 7 pagi sudah di sini,” ujar Weni, kepada detikJabar, Minggu (6/10/2024).

Weni mengaku mengetahui tempat tersebut sejak dahulu. Namun kata dia, semenjak tempat tersebut viral menjadi banyak dikunjungi orang-orang.

“Memang sudah tahu tempat ini. Cuma dulu mah belum seramai ini, karena udah viral jadi sudah ramai, banyak warung-warung juga,” katanya.

Pihaknya mengaku sangat menikmati area persawahan tersebut. Sehingga dirinya bisa menikmati kuliner dan pemandangan yang ada.

“Memang baru ke sini lagi. Tadi makan baso tahu aja. Saya pengen mah lebih diperbanyak gazebo-gazebonya. Jadi lebih tertata lagi lokasinya,” jelasnya.

Sementara itu, warga setempat, Dedi (42) mengungkapkan awalnya terdapat beberapa orang yang bersepeda ke lokasi tersebut. Kemudian orang tersebut langsung membuat video dan menggunggah ke sosial media.

“Ini mulai ramai itu awalnya sekitar sebulan yang lalu ada yang maen sepeda, terus di upload videonya ke sosial media. Setelah itu ramai, dan viral aja sekarang,” kata Dedi.

Dedi menjelaskan area persawahan tersebut merupakan milik warga. Sehingga objek wisata tersebut tidak ditarif biaya apapun.

“Sawah milik warga, dan ini juga akses jalan warga. Jadi memang iya engga di tarif aja,” bebernya.

Dengan banyaknya masyarakat datang ke lokasi tersebut banyak warga yang terbantu. Pasalnya beberapa warga memutuskan untuk berjualan di lokasi tersebut.

“Alhamdulillah bisa membangun ekonomi masyarakat. Mohon dijaga kebersihannya. Terus kalau bisa jangan mengganggu sawahnya,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di detikJabar.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Eksplorasi Sejarah di Pasar Baru, Cek 4 Bangunan Ikonik di Sana


Jakarta

Pasar Baru bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang buat traveler di Jakarta. Ada apa saja ya?

Ternyata di pusat perbelanjaan tradisional yang legendaris di Jalan Pasar Baru, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat itu tersimpan banyak cerita menarik tentang masa kejayaannya sebagai salah satu pusat perdagangan tertua di Jakarta.

Traveler bisa merasakan nuansa kolonial yang masih terasa kental sambil menelusuri bangunan-bangunan bersejarah, toko-toko tua yang telah berdiri sejak zaman Belanda. Selain itu, jejak-jejak penting yang mencerminkan perjalanan ekonomi, budaya, dan kehidupan sosial kota ini dari masa ke masa.


Setidaknya terdapat empat bangunan bersejarah di kawasan Pasar Baru yang ditetapkan oleh Anies Baswedan, di antaranya ialah Vihara Sin Tek Bio, Toko Tio Tek Hong, bangunan Toko Kompak dan bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Berikut empat bangunan bersejarah di Pasar Baru:

1. Vihara Sin Tek Bio

Umat Konghucu Berdatangan Kelenteng Sin Tek BioUmat Konghucu Berdatangan Kelenteng Sin Tek Bio (Tsarina Maharani/detikcom)

Vihara Sin Tek Bio dengan nama Vihara Dharma Jaya merupakan salah satu vihara yang menjadi bagian dari sejarah di Jakarta diperkirakan sejak 1698. Terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, wihara itu menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan perkembangan masyarakat Tionghoa di Indonesia, khususnya Ibu Kota.

Vihara Sin Tek Bio menjadi pusat spiritual sekaligus simbol penting bagi masyarakat Tionghoa yang telah lama mendiami kawasan tersebut. Di dalam vihara ini, terdapat beberapa altar pemujaan yang dihiasi dengan beberapa patung dewa-dewa dan leluhur, menambah suasana sakral dan penuh khidmat di setiap sudut ruangan.

Wihara ini didominasi oleh nuansa merah yang melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan, sementara lilin-lilin besar yang terus menyala memenuhi ruangan utama, menyebarkan cahaya hangat dan menciptakan atmosfer spiritual yang mendalam, di mana umat datang untuk berdoa, memohon berkah, dan mencari ketenangan batin.

“Banyak jemaat datang dari mana-mana, jika nanti masuk banyak sekali dewa-dewanya karena disumbangkan dari si jemaat-jemaat itu. Tapi, setiap klenteng itu punya dewa utama. Nah, dewa utama di sini yang diangkat sebagai tuan rumahnya. Ini adalah dewa bumi, kenapa dewa bumi, karena ada hubungan dengan pendiri-pendirinya adalah petani karena petani mereka berdoa ke dewa bumi supaya subur,” kata Farid Mardhiyanto, cofounder Jakarta Good Guide, pada Sabtu (5/10/2024).

“Altar utama itu yang di tengah. Biasanya kalau jemaat sembahyang, pertama di altar itu untuk menaruh dupa, kemudian itu yang kedua yang altar utamanya si tuan rumahnya. Itu wajib. Kemudian, barulah mereka berkeliling untuk milih dewa Kwan Im, dewa kesehatan, dewa jodoh kah, keberuntungan kah dan sebagainya,” Farid menambahkan.

Walaupun Pasar Baru kini dipadati oleh gedung-gedung, toko-toko yang menjual barang-barang dan elektronik, serta kafe kontemporer Vihara Sin Tek Bio tetap mempertahankan kesederhanaan dan keagungannya. Banyak orang yang mengunjungi vihara ini bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk merasakan sentuhan sejarah di setiap sudut vihara.

2. Toko Tio Tek Hong

Toko Tio Tek Hong ditetapkan melalui Kepgub Nomor 239 tahun 2022 dan diperkirakan sudah ada sejak 1900. Toko Tio Tek Hong didirikan oleh Tio Tek Hong, seorang pengusaha Tionghoa yang inovatif.

Pada saat itu, Batavia sedang berkembang sebagai pusat perdagangan yang ramai, dengan pengaruh kolonial Belanda yang kuat. termasuk Tio Tek Hong memanfaatkan peluang untuk membuka usaha yang melayani kebutuhan masyarakat luas.

“Nah toko Tio Tek Hong pertama didirikan oleh beliau, gedung itu berubah menjadi toko populer. Dulu adalah toko Tio Tek Hong. Dia jual yang pertama alat kelontong sampe kemudian akhirnya beliau menjual chronograph, dan juga gramofon, dan piringan hitam,” kata Farid.

“Kemudian, pada 1940-an gedung itu dijual karena Tio Tek Hong mulai turun gara-gara krisis ekonomi. Akhirnya, beliau mulai menjual tokonya, terus kemudian balik nama. Tokonya dibeli oleh perusahaan rekaman dan di situlah tempat direkam pertama kalinya lagu Indonesia Raya. Jadi lagu Indonesia Raya direkam ke piringan hitam untuk pertama kalinya di rekaman toko populer ini. Namun, kepemilikan bukan Tio Tek Hong lagi,” ujar Farid.

3. Toko Kompak

Bangunan bersejarah itu didirikan di kawasan Jalan Pasar Baru, No 18A, Jakarta Pusat. Selain sejarah, bangunan itu memiliki daya tarik arsitektur yang kuat.

Bangunan itu dikenal dengan nama Sin Siong Bouw, kemudian diganti menjadi Toko Kompak akibat kebijakan pelarangan nama Tionghoa. Bangunan itu merupakan contoh arsitektur China selatan asli dengan interior warna merah.

Dikutip dari banner dipajang di besi Toko Kompak, bangunan itu didirikan pada abad ke-19, bahkan lebih tua dari Pasar Baru. Toko ini dahulu merupakan kediaman Majoor der Chinezen keempat Batavia yaitu (Tio Tek Ho).

4. Bangunan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman

Dikutip dari buku ‘Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang: Tragedi Lembaga Eijkman dan Vaksin Mut Romusha 1944-1945’ ditulis oleh J. Kevin Baird & Sangkot Marzuki pertama kali didirikan pada tahun 1888. Pendirinya merupakan peneliti dari Belanda yang populer pada saat itu yaitu Christiaan Eijkman.

Bangunan Lembaga Eijkman terletak di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, memiliki nilai sejarah yang tinggi. Bangunan berarsitektur kolonial ini awalnya lembaga ini berfokus pada penelitian penyakit tropis seperti malaria, beri-beri, dan kolera.

Temuan penting Eijkman mengenai penyebab dan pencegahan penyakit beri-beri hingga soal asal-usul manusia Indonesia. Memberikan beberapa sumbangsih penelitian di bidang biologi dan kedokteran.

Selama pandemi COVID-19, LBM Eijkman memainkan peran penting dalam penelitian terkait virus covid-19 dengan pengembangan vaksin Merah Putih. Namun, pada 2022, lembaga ini mengalami restrukturisasi, dan fungsinya digabungkan ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yaitu ketua BRIN Dr Laksana Tri Handoko, M.Sc.

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com