10 Pilihan Lokasi Liburan Long Weekend di Jakarta


Jakarta

Jakarta memiliki banyak pilihan liburan bersama teman dan keluarga. Destinasi wisata ini relatif mudah diakses dengan kendaraan umum, online, atau milik pribadi. Banyaknya pilihan tempat wisata memungkinkan warga Jabodetabek tidak bingung.

10 Lokasi Liburan Long Weekend di Jakarta

Berikut adalah beberapa pilihannya dikutip dari media sosial dan situs tempat wisata.

1. Monas

Warga Jakarta memanfaatkan libur panjang Hari Raya Waisak 2025 dengan berolahraga di Monas. (Taufiq/detikcom)Tugu Monas (Taufiq/detikcom)


Jam buka

Selasa-Minggu: 06.00-16.30, Senin tutup.

Tiket masuk

Tugu Monas

  • Dewasa: Rp 24.000
  • Pelajar/Anak-anak: Rp 6.000
  • Mahasiswa: Rp 13.000.

Ruang Museum, Ruang Kemerdekaan, dan Pelataran

  • Dewasa: Rp 8.000
  • Pelajar/Anak-anak: Rp 3.000
  • Mahasiswa: Rp 5.000.

Harga tiket masuk taman Monas gratis namun ada biaya parkir.

Lokasi

Lapangan Medan Merdeka, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat.

Monumen Nasional (Monas) adalah tugu ikonik setinggi 132 meter yang menjadi simbol Provinsi Jakarta. Spot wisata populer ini terletak di jantung Jakarta dan sangat mudah diakses dengan transportasi umum. detikers yang datang saat weekend berpeluang melihat pertunjukan air mancur menari.

2. Taman Mini Indonesia Indah (TMII)

TMII menjadi salah satu tujuan wisata warga saat liburan akhir tahun. Sejumlah warga mengaku ingin menyaksikan pertunjukan air mancur dan drone 'Tirta Cerita'. (MI Fawdi/detikcom)TMII (MI Fawdi/detikcom)

Jam buka

Setiap hari: 05.00-20.00

Tiket masuk

  • Orang: Rp 25 ribu
  • Mobil: Rp 35 ribu
  • Motor: Rp 25 ribu
  • Sepeda: Rp 10 ribu
  • Bus: Rp 60 ribu
  • Truk: Rp 60 ribu.

Pengunjung akan dikenakan biaya lagi saat masuk museum dan menikmati wahana.

Lokasi

Jl. Taman Mini Indonesia Indah, Ceger, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Komplek TMII setia menemani masyarakat Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata sejak 1975. TMII adalah miniatur keanekaragaman budaya Indonesia yang berpadu dengan aneka wahana dan atraksi terkini. Salah satu yang paling dikenal adalah kereta gantung dan tram mover yang telah diperbarui.

3. Dunia Fantasi (Dufan)

Pengunjung menaiki wahana Paralayang di Dunia Fantasi (Dufan), Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Selasa (1/4/2025). Sejumlah warga memanfaatkan libur Lebaran 2025 dengan berkunjung ke Dufan yang menyuguhkan sejumlah wanaha dan pertunjukan. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/nym.Wahana roller coaster Halilintar di Dufan (Sulthony Hasanuddin/nym/Antara)

Jam buka

  • Senin-Jumat: 10.00-17.00
  • Sabtu-Minggu: 10.00-19.00

Tiket masuk

Reguler

  • Senin-Jumat: Rp 260 ribu
  • Sabtu-Minggu: Rp 400 ribu
  • Belum termasuk tiket masuk Ancol

Annual Pass

  • Mulai dari Rp 415.000
  • Belum termasuk tiket masuk Ancol

Fast Trax

  • Senin-Jumat: Rp 375 ribu
  • Sabtu-Minggu: Rp 500 ribu
  • Belum termasuk tiket masuk Dufan dan Ancol

Premium

  • Senin-Jumat: Rp 650 ribu
  • Sabtu-Minggu: Rp 1 juta
  • Sudah termasuk Tiket Masuk Dufan
  • Belum Termasuk Tiket Masuk Ancol.

Lokasi

Jl. Lodan Timur Nomor 7, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

Dufan adalah arena yang cocok bagi penyuka adrenalin tinggi. Berbagai wahana di sini memang membutuhkan pengunjung bernyali, misal roller coaster halilintar dan tornado. Dufan sebetulnya ditujukan bagi semua umur, namun bagi keluarga yang membawa anak-anak sebaiknya mencari info terkait wahana di spot wisata ini. Beberapa wahana diperuntukkan bagi remaja dan dewasa, bukan usia anak.

4. Seaworld

Dalam rangka memeriahkan perayaan Imlek, Seaworld Ancol menggelar aksi barongsai dan liong di bawah air. Yuk, intip foto-fotonya.Aksi barongsai di Seaworld, Ancol (Agung Pambudhy)

Jam buka

  • Senin-Jumat: 09.30-16.30
  • Sabtu-Minggu: 09.00-16.30

Tiket masuk

  • Senin-Jumat: Sea World+Ancol Rp 110 ribu
  • Sabtu-Minggu: Sea World+Ancol Rp 130 ribu.

Alamat

Jl. Lodan Timur Nomor 7, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

Seaworld menjadi destinasi utama keluarga saat ada hari libur. Di sini, pengunjung dapat menyaksikan kehidupan laut dengan keragamannya. Salah satu wahana ikonik adalah terowongan antasena yang membuat pengunjung seolah membelah lautan dengan airnya yang biru dan aneka biota. Untuk pertunjukan favorit, salah satunya adalah waktu pemberian makan yang dilakukan tenaga berpengalaman.

5. Taman Margasatwa Ragunan

Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan (Jaksel) pada hari cuti bersama Waisak 2025, Selasa (13/5/2025).Taman Margasatwa Ragunan (Rumondang/detikcom)

Jam buka

  • Selasa-Jumat: 07.00-16.00
  • Sabtu-Minggu: 06.00-16.00

Senin tutup

Tiket masuk

  • Dewasa: Rp 4 ribu
  • anak-anak: Rp 3 ribu

Parkir

  • Bus, truk, mobil box besar: Rp 15 ribu per hari
  • Bus, truk, mobil box kecil, pick up besar: Rp 12.500 per hari
  • Mobil sedan, minibus, pick up kecil: Rp 6 ribu per hari
  • Sepeda motor dan kendaraan roda tiga: Rp 3 ribu per hari
  • Sepeda: Rp 1 ribu per hari.

Pengunjung dikenakan biaya lagi jika ingin menikmati wahana dan pertunjukan.

Lokasi

Jl. RM Harsono Rm Dalam Nomor1, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Kebun binatang Ragunan hampir selalu penuh tiap akhir pekan dan di musim liburan. Pengunjung rela antri mulai pagi untuk mendapatkan tiket dan melihat berbagai satwa langka. detikers bisa beli tiket online untuk menghindari antrean. Selama berinteraksi dengan satwa, pengunjung wajib mengikuti instruksi yang tersedia agar tidak ada yang terganggu.

6. Museum Nasional Indonesia

Sejumlah pegunjung melihat koleksi di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Selasa (6/5/2025).Museum Nasional Indonesia (Pradita Utama)

Jam buka

  • Senin-Kamis: 08.00-16.00
  • Jumat-Minggu: 08.00-20.00

Tiket masuk

Wisatawan Domestik

  • Anak-anak (usia 3-12 tahun): Rp 15 ribu per orang
  • Dewasa: Rp 25 ribu per orang

Warga Negara Asing (WNA)

  • Anak-anak dan Dewasa Rp50.000 per orang
  • WNA dengan izin tinggal sementara (KITAS) dikenakan tarif wisatawan domestik dewasa perorangan.

Lokasi

Jl. Medan Merdeka Barat Nomor 12, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat.

Destinasi yang juga dikenal sebagai Museum Gajah ini belakangan sangat diminati wisatawan segala usia. Wisatawan antusias mencoba fitur Mengenal Paras Nusantara yang memungkinkan pengunjung tahu aneka ras dalam dirinya. Pengunjung cukup menghadapkan wajahnya pada layar, kemudian menunggu hasil analisis mesin. Tujuan fitur ini adalah menegaskan keragaman ras dan budaya di Indonesia.

7. Kota Tua

Sejumlah warga tengah mengisi waktu libur Idul Fitri 1446 H di kawasan Kota Tua, Jakarta, Rabu (2/4/2025).Kawasan Kota Tua, Jakarta (Grandyos Zafna)

Jam buka

  • Lapangan: setiap hari 24 jam
  • Museum, kafe, spot wisata: sesuai kebijakan pengelola

Tiket masuk

Magic Art 3D Museum

  • Dewasa Senin-Jumat: Rp 60 ribu
  • Dewasa Sabtu-Minggu: Rp 80 ribu
  • Anak usia 3-17 tahun Senin-Jumat: Rp 40 ribu
  • Anak usia 3-17 tahun Sabtu-Minggu: Rp 50 ribu.

Museum Fatahillah

  • Pelajar: Rp 2 ribu
  • Mahasiswa: Rp 3 ribu
  • Dewasa: Rp 5 ribu.

Museum Wayang

  • Umum Senin-Jumat: Rp 10 ribu
  • Umum Sabtu-Minggu: Rp 15 ribu
  • Pelajar, mahasiswa, anak: Rp 5 ribu
  • Wisatawan mancanegara: Rp 50 ribu.

Museum Bank Indonesia

  • Individu: Rp 5 ribu bisa gratis untuk pelajar, mahasiswa, dan rombongan yang terverifikasi.

Museum Seni Rupa dan Keramik

  • Umum Selasa-Jumat: Rp 10 ribu
  • Umum Sabtu-Minggu: Rp 15 ribu
  • Pelajar, mahasiswa, anak: Rp 5 ribu
  • Wisatawan mancanegara: Rp 50 ribu.

Kota Tua adalah kawasan pusat kegiatan di masa kolonialisme yang masih dilestarikan hingga kini. Kawasan ini menjadi arena wisata sejarah yang tak pernah sepi pengunjung. Beberapa bangunan masih ada namun dialihfungsikan sesuai kebutuhan pengunjung. detikers yang ingin ke Kota Tua sebaiknya mengunjungi area di sore hari ketika cuaca tidak terlalu panas.

8. Museum MACAN

Adi Sundoro Buka Ruang Seni Anak di Museum MACANAdi Sundoro Buka Ruang Seni Anak di Museum MACAN (Tia Agnes/ detikcom)

Jam buka

  • Selasa-Minggu: 10.00-18.00 akses terakhir jam 17.30, Senin tutup.
  • Musem Macan buka kembali pada Sabtu (24/5/2025) pukul 10.00-18.00.

Tiket masuk

Dewasa

  • Senin-Jumat: Rp 70 ribu
  • Sabtu-Minggu: Rp 90 ribu

Pelajar dan mahasiswa

  • Senin-Jumat: Rp 60 ribu
  • Sabtu-Minggu: Rp 80 ribu

Lansia usia lebih dari 65 tahun

  • Senin-Jumat: Rp 60 ribu
  • Sabtu-Minggu: Rp 80 ribu

Anak usia 3-12 tahun

  • Senin-Jumat: Rp 50 ribu
  • Sabtu-Minggu: Rp 70 ribu
  • Anak usia kurang dari 3 tahun: gratis.

Lokasi

AKR Tower Level M, Jl. Panjang Nomor 5, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Museum MACAN menyajikan seni kontemporer dan modern dari Indonesia serta internasional. Koleksi yang disajikan berbeda sehingga selalu menarik dikunjungi setiap saat. Selama di museum pastikan taat pada aturan supaya tidak merusak koleksi dan menjaga kenyamanan pengunjung lain. Sebagai informasi, harga tiket dan koleksi yang bisa dilihat bergantung kebijakan pengelola.

9. Arena Masjid Istiqlal

Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi gelar pameran kebudayaan dan keagamaan di Masjid Istiqlal. Pameran bertajuk Masjid Istiqlal (Rifkianto Nugroho)

Jam buka

Setiap hari: 04.00-22.00

Tiket masuk

Gratis

Lokasi

Jl. Taman Wijaya Kusuma, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Masjid Istiqlal adalah wisata religi yang sudah pasti wajib dikunjungi selama di Jakarta. Masjid terbesar di Asia Tenggara ini sangat sejuk dan sangat tepat untuk istirahat serta menunaikan ibadah. Di sini tersedia juga aneka wisata kuliner yang bisa dicicipi pengunjung.

10. Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

Gereja Katedral JakartaGereja Katedral Jakarta (Ari Saputra)

Jam buka

  • Senin-Sabtu: 08.00-20.00, Rabu tutup
  • Minggu: 08.00-15.00

Tiket masuk

Gratis

Lokasi

Jl. Katedral Nomor 7B, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Gereja Katedral Jakarta ini berada tepat di depan Masjid Istiqlal seolah menjadi bukti toleransi masyarakat Indonesia. Katedral tampil dengan pesona neo gotik yang sangat memukau pengunjung. Gereja ini punya banyak jendela, detail bangunan yang kompleks, serta pegangan pintu yang tinggi.

Bagi detikers dan keluarga yang ingin berkunjung, sebaiknya rencanakan perjalanan dengan baik agar tidak terjebak macet dan antri lama. Jangan lupa update info untuk memastikan ketersediaan layanan di lokasi pilihan long weekend di Jakarta.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Balai Kota, Otopet, dan Parkir Rp 150 Ribu



Brisbane

Bayangkan Balai Kota Jakarta atau Surabaya atau balai kota di kota lain di Indonesia bukan hanya tempat rapat dan sidang, tapi juga ruang bermain ide, tempat belajar sejarah, bahkan spot wisata keluarga. Itulah yang disuguhkan di Brisbane, Australia, balai kota menjadi rumah bersama yang benar-benar terbuka untuk warganya.

Saya adalah Adjunct Professor Griffith University Australia. Sesudah melaksanakan pernikahan putri saya di New York pada awal Mei, sekarang ini saya sedang berada di Brisbane, kota pusat kegiatan Griffith University sekaligus ibu kota negara bagian Queensland.

Kota ini mempunyai sejarah panjang. Kemarin, saya lihat pembangunan bibir sungai Brisbane yang tercatat sejak 1800-an. Saya sempat juga ke City Hall atau Balai Kota Brisbane dan ada dua kegiatan menarik yang bisa juga dipertimbangkan dilakukan di Jakarta atau kota lain di negara kita.


Prof Tjandra Yoga Aditama, dari Brisbane AustraliaProf Tjandra Yoga Aditama, dari Brisbane Australia (koleksi pribadi)

Pertama, di lantai 3 Brisbane City Hall sekarang sedang berlangsung pameran budaya dengan berbagai koleksi setempat, dan gratis. Lalu, karena di City Hall Brisbane ada jam besar di atas bangunannya maka ada kegiatan “Tower Clock Tour” beberapa kali dalam sehari, juga gratis.

Dengan cara itu maka anggota masyarakat jadi makin menyatu dengan Balai Kotanya, tidak datang hanya untuk urusan-urusan resmi formal belaka. Balai Kota jadi makin ramah dengan warganya. Akan bagus kalau kegiatan seperti ini dilakukan juga di kota-kota besar di Tanah Air.

Di sini ada banyak sepeda yang bisa disewa warga. Bisa dipakai dengan aplikasi tertentu selama beberapa jam lalu dikembalikan lagi.

Yang menarik, di Brisbane disediakan juga otopet listrik sebagaimana di foto saya ini. Saya tadinya mau coba, tapi “takut jatuh”, maklum lansia 70 tahun. Di tengah kota juga disediakan bis gratis, baik yang “City Loop” maupun yang “Spring Hill Loop”.

Fasilitas transportasi umum lainnya juga amat memadai, baik bus, kereta maupun feri sepanjang sungai.

Saya sempat naik Feri dari ujung kota ke ujung di kota lainnya, pulang pergi selama dua jam, dan bayarnya hanya 50 sen dolar Australia atau Rp 5.000. Pemandangan dari dalam Feri amat memukau, baik siang atau malam hari, dengan jembatan yang indah dan lampu-lampu kota yang menawan, seperti di foto ke dua saya ini.

Kalau mau naik mobil pribadi maka tarif parkir mahal sekali. Saya lihat di sekitar Queen Street Mall masuk gedung parkir bayarnya sudah langsung 17,9 dolar Australia, sekitar Rp 190 ribu, tentu akan diprotes orang kalau diberlakukan di kota negara kita ya.

Kemarin saya jalan kaki dari South Bank ke tempat menginap dan melewati “Brisbane Convention and Exhibition Center”, ternyata tarif parkir di Convention Center ini adalah 15 dolar Australia (Rp. 157.500) untuk 2 jam pertama. Gawat banget kalau untuk kantong kita ya.

Tentang hal yang gratis, kemarin saya ke QAGOMA, Queensland Art Galery and Gallery of Modern Art, yang ternyata terbuka tanpa bayar. Kita tahu kalau di New York ada MOMA, Museum of Modern Art, yang tidak terlalu jauh dari 5th Avenue yang terkenal, dan MOMA ini selalu dipenuhi turis dan bayarannya cukup lumayan.

Nah, untuk Modern Art ini di Brisbane ada QAGOMA yang gratis ini. di akhir pekan juga ada beberapa “week end market” di Brisbane, yang tentu juga gratis, dan amat menarik karena tiga hal. Jual makanan-makanan enak, jual variasi produk lokal dan lihat penduduk Brisbane berjemur di lapangan terbuka di bawah sinar matahari terik di pinggir sungai Brisbane.

***

Prof Tjandra Yoga Aditama, dari Brisbane Australia, direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University Brisbane

(fem/fem)



Sumber : travel.detik.com

Di Bangunan Ini, Pribumi Kaya Zaman Belanda Menabung Uang Mereka



Mataram

Sebuah bangunan bercat cokelat dengan banyak jendela masih berdiri kokoh di pusat Kota Mataram, NTB. Di bangunan itu, pribumi kaya zaman Belanda menabung uang.

Bangunan dengan jendela besar dari kayu itu adalah bekas Bank Dagang Belanda. Bangunan yang berdiri di kawasan Ampenan, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu ternyata menyimpan sejarah panjang.

Dari luar, tidak ada lumut maupun jenis tumbuhan lain yang mengotori tembok bangunan tersebut. Hanya saja, catnya tampak sedikit terkelupas. Maklum, usia gedung bekas Bank Dagang Belanda itu sekitar 131 tahun alias lebih dari seabad.


“Sebenarnya nggak ada yang spesial atau khusus dari material bangunannya, materialnya seperti batu, bata, sama pasir pakai dari sini semua, nggak ada yang didatangkan langsung dari Belanda. Cuma yang membedakan itu ada pada perlakuan mereka saja,” kata budayawan Sasak, Lalu Sajim Minggu (25/5/2025).

Menurut Mik Sajim, sapaan akrabnya, orang-orang Belanda yang datang ke Ampenan punya beberapa teknik berbeda dengan kebanyakan warga pribumi saat membangun rumah.

“Misalnya, untuk pasir di aduk-aduk dulu berhari-hari, sampai jerih airnya, dan debunya sudah hilang. Untuk kapur, juga diaduk. Sedangkan untuk bata, juga direndam berhari-hari, agar saat dipasang, daya serapnya bisa menarik pasir, semen dan batu,” jelas Mik Sajim.

Tidak hanya itu, orang Belanda kala itu juga memperlakukan bata-bata yang digunakan untuk membangun gedung bekas Bank Dagang Belanda di Ampenan itu dengan spesial.

“Batu-batu yang dipakai benar-benar dibersihkan satu per satu, pokoknya nggak boleh kena debu. Kalau dari aspek tenik (kala itu), agar tidak ada rongga-rongga udara di dalamnya. Kalau masuk udara bisa menimbulkan korosi,” tuturnya.

Mik Sajim menjelaskan untuk material bangunan Bank Dagang Belanda kala itu, orang-orang Belanda menggunakan kapur asal Sekotong, Lombok Barat, sebagai bahan campuran. Sementara untuk kayu, mereka menggunakan kayu dari daerah Lingsar, Suranadi, Lombok Barat.

“Nah, kalau untuk batu, mereka pakai batu dari Jangkuk, Narmada. Dulu itu, batu-batunya dibersihkan satu per satu, biar nggak ada yang melekat. Saking kuatnya, lihat saja Jembatan Gantung di Gerung yang dibangun 1936 dan selesai 1938, bahan pembuatannya sama. (Saking kuatnya), nggak ada satu batu-pun yang lepas (sampai sekarang),” beber Mik Sajim.

Bekas bangunan Bank Dagang Belanda di dalam kawasan Eks Pelabuhan Ampenan itu dibangun pada akhir tahun 1800. Namun sejak para tentara Belanda mundur pada kisaran tahun 1941 dan tentara Jepang masuk, bangunan itu tak lagi dijadikan sebagai Bank Dagang.

Meski sudah berumur 131 tahun, bangunan ini tetap kokoh berdiri, seakan tak termakan usia. Lokasi bekas Bank Dagang Belanda ini berada di dalam kawasan eks Pelabuhan Ampenan, di Mataram.

Gedung tinggi dan kokoh ini berada di bagian kanan area eks Pelabuhan Ampenan. Untuk menjaga kebersihan, dan menghindari aksi vandalisme, pemerintah menutup area depan bank.

Bank Ini Hasil Politik Balas Budi Belanda

Bank Dagang Belanda dibangun pada 1894 atau abad 19. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Gedung ini dibangun sebagai bentuk politik etis atau politik balas budi pada abad 19, antara Belanda dengan pribumi.

“Jadi, ketika Belanda datang dulu, ada politik etis, atau politik balas budi yang dilakukan Belanda kepada pribumi. Ada beberapa upaya yang dilakukan (orang-orang Belanda kala itu), yakni perbaikan dalam bidang pendidikan, dan di bidang ekonomi. Nah, di bidang ekonomi ini pemerintah kolonial Belanda mendirikan pegadaian dan perbankan (salah satunya Bank Dagang Belanda di Ampenan),” ungkap Mik Sajim.

Dia menjelaskan Bank Dagang Belanda dulunya diperuntukkan sebagai tempat menabung para pribumi berduit.

“Ini (Bank Dagang Belanda) untuk memfasilitasi masyarakat sudah mulai bangkit perekonomiannya (usaha pertanian dan usaha lainnya). Pribumi yang kaya-kaya ini bisa menampung hasil pertaniannya pada bank yang dibangun tersebut,” beber Mik Sajim.

Dia bercerita, bekas Bank Dagang Belanda ini memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh bank-bank pada umumnya. Bank ini punya 12 jendela dengan ukuran besar. Posisinya ada di timur dan utara bangunan.

“Kalau tidak salah jumlahnya ada 12 jendela, ada di timur dan utara, pokoknya lengkap,” jelasnya.

Bekas Bank Dagang Belanda ini tidak lagi beroperasi sejak Jepang masuk ke Mataram. “Sekitar tahun 1942 (sudah tutup). Semoga bisa jadi cagar budaya (karena ini salah satu peninggalan sejarah) pada abad 19,” tandasnya.

Sementara itu, Zahra, warga Mataram mengaku tidak mengetahui keberadaan Bank Dagang Belanda di dalam kawasan eks Pelabuhan Ampenan.

“Baru tahu, soalnya kalau ke sini, area di situ (Bank Dagang Belanda) suka ditutup pagar. Jadi tidak kelihatan dari luar, saya tahunya itu bangunan saja, tapi tidak ada petunjuk berula papan informasi, kalau itu bekas Bank Dagang Belanda,” ujarnya saat ditemui di eks Pelabuhan Ampenan.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Dulu Miskin, Kini Kaya dan Mandiri Berkat Kearifan Lokal


Garut

Desa Saung Ciburial di Garut adalah destinasi tepat untuk kamu yang butuh healing dengan melihat pemandangan alam dan menghirup udara segar. Desa ini dianugerahi alam indah, subur, dan tradisi yang diolah menjadi destinasi wisata.

“Bersih, nyaman dan pemandangannya bagus,” tulis akun Charles Aritonang dalam google review. Dalam keterangan review tertulis, pemilik akun mengunjungi Desa Saung Ciburial sekitar satu bulan sebelumnya saat hari libur nasional.

Lokasi Desa Saung Ciburial

Desa Wisata Saung Ciburial berlokasi di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kawasan ini sebelumnya adalah Desa Sukalaksana, namun mengganti namanya sejak memutuskan mengolah poteni wisata.


Kepala Desa Sukalaksana saat itu Obon Sobana, bertekad membuat desanya sukses bertransformasi menjadi desa wisata. Desa ini menggunakan rumah palupuh yang merupakan tempat tinggal khas masyarakat setempat. Pemerintah desa juga menggunakan air Ciburial yang menghidupi masyarakat desa.

Sejak saat itu, Desa Sukalaksana dikenal sebagai Desa Wisata Saung Ciburial. Desa ini kemudian memanfaatkan seluruh potensinya hingga siap menyambut kunjungan wisatawan. Keindahan desa pelayanan yang baik sukses menggaet wisatawan dan meningkatkan pendapatan desa.

Desa Wisata Saung Ciburial saat ini dikelola BUMDesa Sukalaksana. Menurut Onon, potensi wisata pada akhirnya menjadikan desa lebih kaya dan mandiri. Desa Wisata Saung Ciburial atau Desa Sukalaksana tak lagi miskin serta tertinggal.

Tiket Masuk Desa Saung Ciburial

Pengunjung tak perlu bayar tiket masuk Desa Wisata Saung Ciburial yang terletak di kaki Gunung Cikuray. Namun, pengunjung dikenakan tarif untuk menikmati layanan di destinasi wisata tersebut.

Berikut tarif fasilitas Desa Wisata Saung Ciburial dikutip dari akun media sosialnya:

Paket wisata

  • Belajar pertanian: Rp 25 ribu minimal 40 orang
  • Kaulinan barudak lembur (Kabarulem): Rp 2 juta
  • Melukis di atas media: Rp 50 ribu minimal 40 orang
  • Pandai besi: Rp 20 ribu minimal 40 orang
  • Tracking kampung: Rp 30 ribu minimal 40 orang
  • Belajar pencak silat: Rp 25 ribu minimal 40 orang
  • Menangkap ikan (ngagogo): Rp 65 ribu per kg minimal 15 kg
  • Papalidan (river tubing): Rp 45 ribu minimal 40 orang
  • Belajar membuat kerajinan tenun: Rp 25 ribu minimal 40 orang
  • Atraksi domba Garut: Rp 3 juta
  • Pembuatan tas lipat: Rp 25 ribu minimal 40 orang
  • Fun games: Rp 30 ribu minimal 40 orang.

Paket penginapan

  • Saung Cikalapa 1 dan 2: Rp 1,5 juta 3 kamar
  • Saung Cikalapa 2: Rp 1,5 juta 3 kamar
  • Saung Ciburial: Rp 1,5 juta 4 kamar
  • Saung Cikahuripan 1 dan 2: Rp 1,5 juta 2 kamar
  • Saung Ciliang: Rp 500 ribu 1 kamar
  • Saung Cigintung Rp 2 juta 4 kamar
  • Saung Cigembor Rp 1,5 juta 2 kamar
  • Homestay: Rp 50 ribu 1 orang
  • Meeting room: Rp 1,5 juta.

Tersedia juga akomodasi lain yaitu paket makan dan sewa alat yang bisa dinikmati pengunjung. Detikers yang tertarik bisa melakukan pemesanan dulu dengan menghubungi langsung Instagram Desa Wisata Saung di @pesonasaungciburial.

Detikers bisa menggunakan kereta lebih dulu menuju Stasiun Garut dengan pilihan sebagai berikut:

  • Papandayan: Rp 195 ribu
  • Papandayan Panoramic: Rp 675 ribu
  • Cikuray: Rp 45 ribu.

Ketersediaan akses kereta bisa berubah setiap saat sesuai permintaan konsumen. Jadwal dan akses kereta bisa diakses di aplikasi KAI Access.

Selanjutnya, detikers bisa naik transportasi roda dua menuju Desa Wisata Saung Ciburial dengan waktu tempuh 42 menit. Rute perjalanan melewati Jl. Raya Samarang-Garut dan Jl. Raya Kamojang yang makin lama semakin sempit. Karena itu, pengunjung sebaiknya tidak menggunakan mobil kecil atau besar.

Pesona Tirta Setra Ciburial dan Wisata Lain di Desa Saung Ciburial

Salah satu spot wisata populer di Saung Ciburial adalah Tirta Setra Ciburial yang punya air bersih, jernih, dan menyegarkan. Tirta Setra Ciburial berasal dari mata air Ciburial yang telah lama memberi manfaat bagi warga desa.

Ciburial (bahasa Sunda) artinya adalah air yang memancar keluar dan tiap tetesnya selalu memberi manfaat. Sesuai filosofi Ciburial, warga desa berharap semua aktivitas yang dilakukan bermanfaat dan selalu berdampak baik pada pelestarian lingkungan.

Air dari mata air Ciburial ini menjadi kolam renang dan wahana snorkeling. Selain Tirta Setra Ciburial, masih ada lagi pesona Desa Wisata Saung Ciburial yang terdiri dari:

Teh kewer

Teh kewer berasal dari olahan biji buah tanaman kewer yang banyak tumbuh sekitar desa. Minuman ini punya rasa dan aroma yang sangat khas.

Domba Garut

Di Desa Wisata Saung Ciburial, pengunjung bisa ikut memberi pakan, merawat, dan membantu domba olahraga. Pengunjung juga bisa menyaksikan adu ketangkasan domba Garut sebagai bagian dari tradisi.

Kopi akar wangi

Minuman ini adalah perpaduan bubuk kopi dan tanaman akar wangi yang menghasilkan aroma khas. Jenis minuman ini adalah salah satu hidangan khas di Desa Wisata Saung Ciburial.

(row/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Wisata Kebun Melon di Pangandaran, Alternatif Long Weekend Dekat Jakarta


Pangandaran

Libur long weekend jelas menyenangkan dan selalu mengundang antusiasme. Sayang, harapan relaksasi dan healing kerap terbentur macet serta jarak destinasi wisata yang terlalu jauh. Akibatnya waktu liburan habis di perjalanan dan malah bikin lelah.

Bagi warga Jakarta, wisata petik melon di Pangandaran mungkin bisa jadi alternatif liburan. Pangandaran bisa diakses dengan kereta dan transportasi lain dari Jakarta menuju destinasi wisata pilihan. Akomodasi dan biaya yang diperlukan bisa dirancang dengan baik.

Lokasi Kebun Melon Milik Tuslam

Destinasi wisata ini berada di Dusun Ciledug RT 42/11, Desa Sukanagara, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Pantauan google maps menyatakan alamat itu terdata atas nama G_i Farm dengan visual terakhir diambil pada 2021.

Ada Apa di Kebun Melon Milik Tuslam?

Kebun ini menyediakan wisata petik melon yang dikelola Tuslam seorang warga setempat yang menimba ilmu di bidang pertanian. Pengunjung bisa memilih melon matang di pohon lalu memetiknya dengan alat yang telah disediakan.

Selanjutnya, melon tersebut ditimbang dan dibayar dengan harga yang telah ditetapkan pengelola. Harga melon jenis inthanon adalah Rp 35 ribu per kilogram. Pengunjung wajib membayar melon yang telah dipetik.

Dalam arsip detikcom dijelaskan, melon dibudidayakan dengan sistem hidroponik Nutritient Film Technique (NFT). Melon tidak menggunakan media tanam tanah sejak awal seperti pertanaman biasa.

Dikutip dari situs Hydroplanner, NFT adalah sistem pertanaman yang memberikan nutrisi pada tanaman lewat aliran air. Aliran air yang menyentuh akar tanaman sangat tipis hingga mirip lapisan film.

Air dialirkan lewat saluran sempit untuk menjamin semua akar tanaman mendapat nutrisi. Sirkulasi air diatur dengan sistem kelistrikan untuk menjamin tidak berhenti. Tanaman berisiko langsung mati jika aliran air dan nutrisi berhenti.

Tuslam terbukti berhasil menerapkan sistem hidroponik NFT pada budidaya melon inthanon. Dengan luasan kebun 130 meter persegi, Tuslam bisa menghasilkan melon hingga 30 kg per hari di masa panen. Populasi dalam kebun tersebut mencapai 150 tanaman jenis ithanon.

detikers bisa naik kereta menuju Stasiun Banjar dengan alternatif sebagai berikut dikutip dari KAI Access:

  • Pangandaran: Rp 275 ribu
  • Pangandaran panoramic: Rp 675 ribu
  • Serayu: Rp 63 ribu.

Perjalanan selanjutnya bisa menggunakan transportasi online atau angkutan umum setempat. Jarak Stasiun Banjar hingga kebun melon di Dusun Ciledug adalah 39,3 kilometer yang bisa ditempuh dalam waktu 1 jam saat lancar.

Pengunjung juga bisa menggunakan kendaraan pribadi dengan melewati jalan tol Cikopo-Palimanan. Sebelum berkunjung, pastikan telah update info untuk menjamin ketersediaan layanan petik buah di kebun melon milik Tuslam. Update info nisa memudahkan pengunjung menyusun itinerary menuju kebun melon.

(row/ddn)



Sumber : travel.detik.com

Wisata Rakit Danau Lido, Alternatif Liburan Murah dan Sejuk di Bogor


Jakarta

Danau Lido di Bogor, Jawa Barat adalah spot liburan alternatif bagi yang tidak bisa jauh dari Jakarta. Di sini tersedia beragam wahana rekreasi dan kuliner yang bisa dinikmat bersama keluarga.

Salah satu bentuk wisata yang jangan sampai terlewat adalah perahu rakit yang disewakan warga sekitar. Pengunjung tentunya wajib membayar biaya sewa sesuai lokasi tujuan.

Lokasi Danau Lido

Danau Lido terletak di Jl. Raya Bogor-Sukabumi Km 21, Watesjaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Luas Danau Lido awalnya 24 hektar namun menjadi hanya 11-12 hektar seperti dijelaskan dalam arsip berita detikcom.


Kedalaman Danau Lido adalah 9 meter dikutip dari tulisan Daya Dukung Perairan Danau Lido Berkaitan dengan Pemanfaatannya untuk Kegiatan Budidaya Perikanan Sistem Keramba Jaring Apung karya Fredrik Tambunan, dkk, dari IPB University. Danau Lido mengalami sedimentasi seluas 3 hektar akibat kegiatan yang tidak ramah lingkungan.

Kawasan yang juga disebut Situ Lido ini dikelilingi pemandangan hijau dan cuaca sejuk sehingga cocok sebagai lokasi wisata. Angin di sekitar Danau Lido bertiup sepoi dan tidak terlalu kencang sehingga terasa sangat nyaman.

Biaya Masuk Danau Lido dan Tarif Wisata Rakit

Wisata perahu rakit di Danau LidoWisata perahu rakit di Danau Lido (bonauli/detikcom)

Tarif Masuk Danau Lido

Danau Lido tidak menetapkan biaya masuk, kecuali wisatawan mengunjungi kawasan wisata yang dikelola pihak swasta. Pengunjung tentunya jangan sampai melewatkan perahu rakit yang dikelola masyarakat setempat.

Tarif Wisata Rakit Danau Lido

Biaya sewa perahu rakit Danau Lido adalah:

Keliling danau

  • WNI: Rp 150 ribu per kelompok
  • WNA: Rp 500 ribu per kelompok.

Antar jemput restoran

Perahu rakit untuk antar jemput tamu restoran biasanya dimiliki masing-masing tempat makan. Tamu bisa memilih makan di perahu rakit atau di dalam restoran. Untuk tamu yang memilih makan di perahu, menu akan dikirim dari restoran pilihan.

Danau Lido bisa diakses dengan mobil dan kereta dengan rute sebagai berikut:

Mobil

  • 2 jam 3 menit lewat Jl. Tol Jagorawi sejauh 78 km
  • 2 jam 10 menit lewat Jl. Tol Jagorawi dan Jl. Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi sejauh 83,6 km.

Kereta

  • Naik KRL tujuan Stasiun Bogor di Kota Bogor
  • Lanjut kereta Pangrango rute Bogor-Sukabumi turun di Stasiun Cigombong
  • Pengunjung bisa melanjutkan dengan perjalanan sejauh 2,7-3,4 km menuju Danau Lido.

Sejarah Danau Lido dari Masa ke Masa

Danau Lido BogorDanau Lido Bogor (bonauli/detikcom)

Danau Lido sebetulnya sudah lama dikenal sebagai tempat liburan dengan air jernih, tenang, dan hawa sejuk. Warga sekitar senang datang ke Danau Lido untuk cuci mata atau sekadar melihat pemandangan.

Menurut Ketua Paguyuban Kluster Wisata Rakit Danau Lido, Indra Jaya Lesmana, ikan di dalam danau bisa terlihat karena jernihnya air. Namun air jernih dan luasnya danau yang seperti tak bertepi perlahan menghilang akibat sedimentasi.

“Dulu warna air Danau Lido jernih, ikan-ikan masih bisa terlihat dari permukaan. Namun sedimentasi mengakibatkan danau makin keruh dan besarnya terus menyusut,” kata Indra.

Danau Lido mendapat sorotan lebih luas setelah memperoleh status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dikelola MNC Land. KEK MNC Lido City ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah nomor 69 tahun 2021, sementara peresmiannya dilakukan pada Jumat, 31 Maret 2023.

Fokus KEK MNC Lido City adalah pariwisata terintegrasi yang memudahkan pengunjung. Dalam perjalanannya, KEK ini ditengarai menyebabkan sedimentasi yang berisiko mengganggu keseimbangan lingkungan sekitar. Risikonya adalah bisa terjadi banjir besar di daerah hilir, karena Danau Lido berada di area hulu Sungai Cisadane.

Pemerintah lantas melakukan investigasi yang membuktikan KEK MNC Lido City melakukan reklamasi pada Danau Lido seluas 3 hektar. Pemerintah juga menggelar audiensi dengan masyarakat dan dinas terkait yang menghasilkan bukti KEK MNC Lido City belum memiliki izin lingkungan.

Dengan hasil tersebut, pemerintah menyegel KEK MNC Lido City dan melarang pembangunan. Perkara ini dikabarkan sudah naik ke tahap penyidikan sesuai arsip berita detikcom pada Senin (19/5/2025). Hingga kini, perkara KEK MNC Lido City dan izin lingkungannya masih berlanjut

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Bukit Fatukopa di NTT, Legenda Bahtera Nabi Nuh di Indonesia Timur


Jakarta

Bukit Fatukopa adalah destinasi wisata eksotik dengan puncak mirip perahu yang terletak di KEcamatan Fatukopa, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bukit kapur ini menjulang dengan banyak kisah legenda yang dipercaya antar generasi.

Salah satu legenda populer menyatakan, Bukit Fatukopa adalah bahtera atau perahu Nabi Nuh yang terdampar. Tidak jelas asal mula legenda tersebut dan penyebab perahu Sang Nabi bisa ada di bagian bumi Indonesia Timur.

Dikutip dari tulisan berjudul Produksi Film Dokumenter Fatukopa Karamnya Kapal Nuh di Tanah Timor karya Christin Takain dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Jawa Tengah, perahu Nabi Nuh yang sangat besar karam setelah menerjang air bah. Karena itu, bentuk puncak bukit mirip perahu.


Cerita lain menyatakan, Bukit Fatukopa adalah asal mula nenek moyang orang Timor. Karena itu, Suku Dawan sebagai salah satu kelompok masyarakat tertua dan terbesar di NTT menganggap tempat ini keramat. Siapa saja yang ingin mendaki bukit ini harus memperoleh izin ketua suku.

Sebagai informasi, Suku Dawan banyak berdiam di Kabupaten Kupang tak terkecuali Kecamatan Timor Tengah Selatan. Dikutip dari situs Kemdikbud dan Indonesia Kaya, Suku Dawan menyebut tempat tinggalnya sebagai Tanah Dawan dan bahasa yang digunakan adalah Bahasa Dawan. Suku Dawan digambarkan sebagai sekelompok orang yang pandai berburu.

Legenda Bukit Fatukopa

Bukit Fatukopa tidak boleh didaki apalagi yang dilakukan orang luar bukan dari suku setempat. Puncak Bukit Fatukopa hanya terbuka untuk ketua adat yang hendak melakukan persembahan pada leluhur. Ketua adat nantinya berkomunikasi dan akan memperoleh petunjuk dari orang-orang terdahulu.

Dalam tulisan tersebut dijelaskan, pengunjung yang nekat mendaki Bukit Fatukopa harus melakukan ritual adat lebih dulu. Ritual dilakukan bersama seorang usif, sebutan untuk pemimpin atau raja bagi masyarakat setempat. Pelaksanaan bertujuan meminta keselamatan dan kemudahan dalam pendakian hingga sampai di puncak.

Ritual dilakukan dengan membakar lilin, menuang minuman beralkohol tradisional sopi, dan membakar ayam kampung yang kemudian dinikmati bersama. Menurut tulisan tersebut, spot ritual adalah tempat yang disebut pohon batu Fatukopa. Tentunya, para pendaki ikut serta dalam ritual dari awal hingga selesai.

Para pendaki hanya bisa melanjutkan rencananya, jika leluhur sudah mengizinkan yang dikomunikasikan lewat ketua adat. Pendaki yang keras kepala akan mengalami kesulitan, celaka, hingga akhirnya tidak sampai puncak. Konsekuensi serupa terjadi jika pendaki nekat ke puncak tanpa melakukan ritual.

Menurut kepercayaan setempat. Bukit Fatukopa dijaga seekor kuda dan ular. Fosil kuda ini terdapat di bagian selatan bukit, sedangkan sosok ular jarang menampakkan diri kecuali pada orang yang diinginkan. Penjaga lain adalah para kera dengan wajah mirip manusia sebagai petugas pengusir manusia yang nekat naik ke puncak Bukit Fatukopa.

Terlepas dari benar tidaknya legenda Bukit Fatukopa, kisah turun temurun itu berhasil menjaga kelestarian alam lingkungan setempat. Bukit masih tampak hijau asri, vegetasi tumbuh tanpa hambatan, bersama biota lain. Seluruh kekayaan alam ini tidak dicuri atau dipindah-pindah tangan usil.

Detikers yang penasaran dengan Bukit Fatukopa di bisa kemah di Bukit Besteke untuk melihat langsung keindahan alamnya. Rute dari Jakarta ke Bukit Besteke adalah:

  • Jakarta-Kupang bisa ditempuh pesawat dengan harga tiket Rp 1,7 juta-2,3 juta sesuai tanggal keberangkatan, permintaan pengguna, dan keperluan transit
  • Kupang-Soe bisa ditempuh dengan mobil atau bus umum sejauh 108 km. Perjalanan memerlukan waktu kurang lebih 2 jam 36 menit dalam kondisi lancar.
  • Soe-Bukit Besteke ditempuh dengan mobil atau motor sejauh 68 km dengan waktu tempah 2-3 jam.

Berkemah di Bukit Besteke tidak dikenakan biaya seperti dikutip dalam google review. Namun, pengunjung harus membawa sendiri perlengkapan kemah ke Bukit Besteke yang dikelola masyarakat setempat. Pengunjung wajib membayar biaya sewa kamar mandi sebesar Rp 5 ribu di rumah penduduk serta tarif parkir Rp 20 ribu per mobil.

Selama berkemah, pengunjung wajib hati-hari karena tidak ada pagar pembatas atau petunjuk spot lokasi yang bisa didirikan tenda. Sebelum berkemah ke Bukit Besteke untuk melihat bukit Fatukopa, pastikan kendaraan mampu berjalan di medan berat.

(row/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Ini Dia, Pulau Terpadat dan Paling Kaya di Kepulauan Seribu


Jakarta

Pulau Kelapa tercatat sebagai wilayah dengan penduduk paling banyak sekaligus terkaya di Kepulauan Seribu, Jakarta. Paling kaya merujuk pada perputaran uang yang sangat aktif sehingga berdampak baik pada perekonomian warga.

Warga Pulau Harapan mengelola sektor wisata yang memang menjadi keunggulan wilayah tersebut. Sektor ini banyak dilirik wisatawan terutama pada saat libur. Para wisatawan bisa berenang, snorkeling, atau sekadar menikmati pantai bersama keluarga.

Pulau Paling Padat di Kepulauan Seribu

Penduduk Pulau Kelapa mencapai 7.708 jiwa berdasarkan data BPS Kabupaten Kepulauan Seribu tahun 2023, yang dikutip dari Kecamatan Kepulauan Seribu Utara Dalam Angka Kepulauan Seribu Utara tahun 2024. Jumlah tersebut terdiri dari 3.840 laki-laki dan 3.868 perempuan.


Kepadatan Pulau Kelapa mencapai 2.987,59 per km2 dan menjadi yang terbesar di seluruh wilayah administrasi Kabupaten Kepulauan Seribu. Pulau Kelapa sebetulnya adalah kelurahan yang terdiri dari 36 pulau lain. Sebanyak dua pulau berpenghuni sedangkan 34 lain tidak didiami penduduk. Dua pulau yang berpenghuni adalah Pulau Kelapa dan Pulau Kelapa Dua.

Pulau Paling Kaya di Kepulauan Seribu

Pulau Kelapa ternyata menjadi salah satu wilayah terkaya di Kepulauan Seribu, bersama Pulau Harapan. Perputaran uang di Pulau Kelapa sangat cepat, sehingga masyarakat bisa memperoleh pemasukan lebih banyak yang akan berdampak baik pada kehidupannya.

Dalam arsip berita detikcom, jumlah uang masuk dari usaha homestay dan akomodasi liburan lain bisa mencapai Rp 1,2 miliar. Pemasukan ini banyak diperoleh saat musim liburan ketika wisatawan berkunjung bersama keluarga dan teman terdekat.

Wisata di Pulau Kelapa

Dikutip dari Jadesta Kemenparekraf, spot wisata di Pulau Kelapa di Kepulauan Seribu adalah:

  • Snorkeling: Rp 500 ribu
  • Jelajah pulau: Rp 500 ribu
  • Wisata mancing: Rp 1 juta
  • Syukuran laut: Rp 300 ribu
  • Wisata kemah Rp 200 ribu
  • Penangkaran penyu sisik: Rp 25 ribu
  • Eduwisata Adopsi Karang: Rp 100 ribu
  • Wisata religi makam Sultan Maulana Mahmud Zakaria: Rp 50 ribu
  • Landmark Desa Wisata Pulau Kelapa: Rp 20 ribu

Di sini juga tersedia homestay yang dikelola masyarakat setempat dengan kisaran harga Rp 900 ribuan. Tarif sewa homestay bergantung kebijakan pengelola yang biasanya dipengaruhi fasilitas, layanan, view, dan kemudahan akses.

Sebelum berkunjung ke Pulau Kelapa sebagai kawasan paling padat dan salah satu yang terkaya, jangan lupa update ketersediaan layanan serta tarifnya. Info terbaru memungkinkan pengunjung menyusun itinerary liburan dengan baik.

(row/fem)



Sumber : travel.detik.com

Melepas Penat di Air Terjun Sikulikap



Karo

Jelang libur panjang akhir pekan alias long weekend, saatnya traveler melepaskan penat di pikiran dengan berkunjung ke air terjun Sikulikap.

Air terjun Sikulikap bisa jadi salah satu destinasi yang kamu kunjungi saat liburan long weekend. Suara air terjun yang jatuh dari ketinggian dapat menjadi cara untuk traveler melepas penat setelah lelah bekerja.

Berada di Kabupaten Karo, lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota Medan. Traveler hanya perlu menempuh perjalanan 90 menit untuk sampai ke lokasi ini.


Buat traveler yang datang dari arah Medan, pintu masuk air terjun Sikulikap berada tepat sebelum deretan penatapan yang ada di Desa Doulu, Kecamatan Sibolangit. Jalannya menurun, traveler perlu berhati-hati saat menuju lokasi wisata ini.

Di pintu masuk, kamu akan dikenakan biaya parkir yang sudah include dengan biaya masuk lokasi wisata. Terpampang di papan informasi, jika pengunjung menggunakan mobil maka akan dikenakan Rp 60 ribu dan traveler menggunakan sepeda motor dikenakan biaya parkir Rp 30 ribu.

Setelah memarkirkan kendaraan, traveler perlu berjalan kaki sekitar 10 menit ke lokasi air terjun Sikulikap. Jalannya yang akan ditempuh sudah dipasangi batako, jadi tidak sulit dilalui.

Meski begitu, traveler tetap perlu berhati-hati dan tetap menggunakan alas kaki yang sesuai agar tidak terpeleset. Selain itu, detikers juga harus berhati-hati dengan monyet liar yang berkeliaran di sekitar lokasi.

Setelah berwisata ke air terjun, kamu dapat bersantai di Elsierra Coffee. Kafe yang berada di wilayah Sikulikap ini menyajikan makanan dan minuman yang dapat kamu nikmati saat berkunjung ke sana.

Ketika malam hari di kafe ini, traveler akan mendengar beragam suara hewan seperti jangkrik dan monyet. Situasi ini terjadi karena lokasi kafe memang berada di tengah hutan.

Seorang pengunjung, Rere, mengungkap datang dari Medan ke lokasi itu untuk bersantai. Dia memilih ke Sikulikap karena lokasinya tidak jauh dari Kota Medan.

“Pas hari libur May Day ini kan, jadi ke sini dulu bersantai. Di sini juga nggak jauh kali dari Medan, jadi cocok untuk liburan mepet satu hari kayak gini,” ujar Rere.

Rere bercerita, di area ini dia selalu berkeliling terlebih dahulu sebelum akhirnya bersantai di kafe. Suasana kafe, menurut Rere, lebih dapat menikmati di malam hari.

“Kalau malam gini kita banyak dengar suara hewan, lebih enak untuk relaksasi,” sebutnya.

Hal yang selaras disampaikan pengunjung lainnya, Heru. Dia mengungkap, wisata ke Sikulikap dapat menjadi pilihan bagi warga Medan yang ingin berliburan.

“Ya nggak jauh, hemat biaya. Kemudian kalau kita udah di sini, kepikiran mau wisata yang lain juga banyak. Dari sini kan enggak jauh lagi dari Sidebu-debu dan beberapa tempat lain,” jelas Heru.

——–

Artikel ini telah naik di detikSumut.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Long Weekend Cobain Packrafting di Bantul, Bisa Minum Jamu Juga



Bantul

Libur long weekend, traveler bisa mencoba permainan packrafting yang seru di sungai Opak, Bantul. Selesai main, traveler bisa minum jamu yang menyegarkan.

Sungai Opak yang berada di Canden, Jetis, Bantul menawarkan spot untuk permainan rafting buat traveler. Wisatawan bisa menikmati sensasi menyusur Sungai Opak menggunakan packrafting.

Untuk menuju titik start susur sungai ini, wisatawan harus melintasi area persawahan. Namun jangan khawatir, jalur menuju ke titik start sudah bagus sehingga bisa dilalui mobil.


Sesampainya di titik start, pengunjung akan disambut pemandu susur sungai. Nantinya pemandu meminta setiap pengunjung mengenakan rompi pelampung, helm, dan satu packrafting.

Setelah itu, pemandu mengajak pengunjung untuk melakukan pemanasan dan cara menggunakan dayung terlebih dahulu sebelum akhirnya menyusuri jalan setapak hingga sampai di pinggir Sungai Opak.

Suasana susur Sungai Opak menggunakan packrafting di Canden, Jetis, Bantul, Rabu (16/4/2025).Suasana susur Sungai Opak menggunakan packrafting Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Setelah sampai di pinggir Sungai Opak, pengunjung akan langsung diajak untuk naik ke atas packrafting dan diminta untuk mendayung terlebih dahulu.

Apabila sudah terbiasa, pengunjung mulai mengikuti pemandu untuk menyusuri Sungai Opak. Penyusuran Sungai tersebut terbilang cukup menantang karena arusnya yang cukup kuat, namun tidak perlu khawatir karena di barisan depan dan belakang ada pemandu yang mengawasi.

Bebatuan yang ada di Sungai tersebut menjadi tantangan tersendiri karena bisa merubah arah laju packrafting. Sehingga pengunjung harus bisa mengendalikannya dengan dayung, di mana jika mau ke arah kanan maka sisi kiri packrafting yang didayung begitu pula sebaliknya.

Lurah Canden, Bejo WTP mengatakan susur Sungai Opak menggunakan packrafting mulai dirintis sejak tahun 2022 silam. Dia sengaja menggandeng para penambang pasir liar untuk mengelola wisata itu.

“Terus buat susur sungai pakai packrafting ini dan dapat bantuan dari pemerintah sampai swasta,” katanya di Canden, Bantul beberapa waktu lalu.

Meski arusnya Sungai Opak cukup deras, Bejo menyebut kegiatan itu tidak menegangkan. Namun pengunjung tetap merasakan sensasi yang lain dibandingkan rafting biasa, sebab satu packrafting hanya digunakan untuk satu pengunjung.

“Jadi pengunjung yang takut air juga tidak perlu khawatir, karena wisata susur sungai ini tidak menonjolkan adrenalin sebagai nilai jualnya. Tapi sensasi mendayung packcrafting secara individual yang menjadi nilai tersendiri,” ujarnya.

Secara teknis, pengunjung bisa memilih long trip dengan jarak tempuh sekitar lima kilometer dengan garis finis di Potrobayan, Pundong, Bantul. Sedangkan short trip dengan jarak tempuh sekitar dua kilometer. Untuk longtrip dikenakan biaya Rp 150 ribu per orang. Selanjutnya untuk short trip Rp 125 ribu per orang.

“Untuk longtrip pengunjung nanti berhenti di rest area pinggir sungai dan mencicipi jamu, jajanan tradisional serta makan siang. Kalau short trip di rest area hanya mencicipi jamu dan jajanan tradisional saja,” ucapnya.

Seusai main packrafting, beragam minuman jamu yang menyegarkan untuk wisatawan juga jadi daya tarik tersendiri. Menyoal alasan memberi jamu di rest area kepada pengunjung, Bejo mengaku karena di Canden terdapat kampung Kiringan. Di mana kampung tersebut sebagian besar bekerja sebagai penjual jamu.

“Kenapa kami menyajikan kamu karena di sini ada kampung yang isinya penjual jamu. Jadi sekalian kami kenalkan ke pengunjung kalau penjual jamu di Kota Jogja itu asalnya dari Kiringan,” ujarnya.

——–

Artikel ini telah naik di detikJogja.

(wsw/ddn)



Sumber : travel.detik.com