Category Archives: Domestik

Air Terjun Ini Lebih Terkenal di Mata Turis Asing daripada Warlok Bali



Gianyar

Di Bali, ada sebuah air terjun yang lebih dikenal oleh turis asing dibandingkan oleh warga lokal (warlok) Bali sendiri. Air terjun Kanto Lampo namanya.

Sejumlah turis asing terlihat berdiri mengular di Air Terjun Kanto Lampo. Mereka menanti giliran untuk bisa berfoto dengan latar air terjun cantik tersebut.

Jangan heran jika ada lebih banyak turis asing yang berkunjung ke air terjun ini dibandingkan dengan wisatawan domestik, bahkan warga lokal (warlok) Bali sendiri. Fenomena tersebut sudah biasa terjadi di Bali.


Petugas Pemasaran Air Terjun Kanto Lampo, Ita Pratistita, menuturkan air terjun yang ditemukan pada tahun 2016 silam itu memang lebih populer di kalangan pelancong asing.

“Jumlah wisatawan asing sampai 80 persen, sedangkan sisanya domestik,” ungkap dia.

Menurut Ita, jumlah pengunjung Air Terjun Kanto Lampo saat musim liburan bisa mencapai 1.000 turis. Sedangkan saat hari biasa hanya 500 pelancong. Adapun, wisatawan domestik ramai saat libur sekolah dan Lebaran.

Saat kami pelesiran ke Air Terjun Kanto Lampo. memang terlihat bagian besar pengunjung saat itu merupakan turis asing.

Sejumlah konten kreator asing dan pemengaruh mancanegara pelesiran ke sana lalu mengunggah foto maupun video selama pelesiran di sana.

Ita menjelaskan kenapa Air Terjun Kanto Lampo banyak dikunjungi turis asing karena objek wisata tersebut viral di dunia maya.

Wisatawan berfoto di jembatan bambu di kawasan objek wisata Air Terjun Kantolampo, Gianyar, Bali, Sabtu (12/4/2025).Wisatawan berfoto di Air Terjun Kanto Lampo Foto: Gangsar Parikesit/detikBali

Hal itu juga yang membuat pengelola Air Terjun Kanto Lampo, warga Banjar Kelod Kangin, menerapkan tiket yang sama untuk wisatawan asing dan domestik yakni Rp 25 ribu per orang. Padahal, sejumlah objek wisata di Pulau Dewata menerapkan tarif berbeda antara pelancong asing, domestik, dan pemegang KTP Bali.

Menurut Ita, daya tarik Air Terjun Kanto Lampo adalah batu berundak yang jadi latar air terjun. Selain itu, bebatuan besar yang berada di sungai mempercantik objek wisata tersebut.

Momen terbaik datang ke Air Terjun Kanto Lampo pada pukul 07.00-09.00 Wita. Saat itu, objek wisata tersebut belum dipadati oleh wisatawan sehingga bisa puas berfoto di air terjun.

Buat traveler yang ingin melali (jalan-jalan) ke Air Terjun Kanto Lampo jangan khawatir. Objek wisata tersebut sudah dilengkapi beragam fasilitas seperti tempat parkir, kamar mandi, ruang ganti, hingga food court.

Sayangnya, pengelola Air Terjun Kanto Lampo belum menyiapkan transaksi nontunai. Traveler perlu menyiapkan uang tunai. Selain itu, objek wisata yang berada di Desa Adat Beng, Gianyar, Bali tersebut juga belum dilengkapi musala.

Tiket masuk seharga Rp 25 ribu cukup sepadan untuk menikmati air terjun dan rindangnya pepohonan di sana. detikers juga bisa berendam di kolam, treking menyusuri tepi sungai, singgah ke Goa Tan Hana, hingga berfoto lalu menggunggahnya di media sosial.

——-

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Wisata Pulau Tidung, Idola di Hari Libur



Jakarta

Pulau Tidung di Kepulauan Seribu sudah populer sebagai tempat snorkeling. Jika libur panjang tiba, sudah dipastikan yang yang ke sana.

Adalah Rudy Hartono (45), seorang pengusaha snorkeling di Pulau Tidung sejak tahun 2013. Jarak rumahnya hanya selemparan batu dari Pelabuhan Tidung.

Di rumahnya ada 160 unit alat snorkeling yang disewakan. Mulai dari jaket pelampung, masker-snorkel dan fins. Namun belakang, yang paling sering digunakan hanya jaket pelampung dan masker-snorkel.


Pak Rudy bercerita bahwa tiap libur panjang, alat-alat snorkeling dipastikan habis tersewa. Tak ada lagi hubungan langsung dengan wisatawan, biasanya operator yang langsung menghubunginya seminggu sebelum tiba di sana.

Usaha alat snorkeling di Pulau TidungUsaha alat snorkeling di Pulau Tidung Foto: (bonauli/detikcom)

“Kalau long weekend pasti untung, kemarin waktu Lebaran kami sampai tolak ratusan permintaan,” katanya.

H-7 Lebaran, alat-alat itu sudah di-booking untuk turis-turis China. Seminggu setelah Lebaran, barulah wisatawan domestik yang mendominasi.

Jika ada long weekend, ia bisa mendapat cuan Rp 10-15 jutaan karena alat tersebut akan digunakan dua kali dalam sehari, pagi dan sore.

“Wisatawan yang datang dari Jumat itu biasanya snorkeling di Sabtu pagi. Sementara yang datang di Sabtu pagi, nyampe sini siang. Jadi mereka snorkeling sore-sore,” ungkapnya.

Pulau Tidung di Kepulauan TidungPulau Tidung di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Alat snorkeling itu disewakan seharga Rp 15 ribu per hari. Meski tak ada libur panjang, weekend selalu membawa berkah. Minimal 30-50 alat snorkelingnya keluar dari kandang.

Sebagai warga Pulau Tidung, ia melihat potensi lain selain wisata bawah airnya, yaitu teripang dan ikan buntal yang melimpah di sana. Jalur ekspor coba ia tempuh lewat tangan ketiga.

Namun itu semua tidak mudah, butuh modal besar untuk bisa menjalankan bisnis kedua tanpa mengabaikan sewa snorkeling yang sudah jadi sumber nafkahnya. Ia kemudian mendaftar sebagai nasabah BRI dua tahun lalu.

Jalan terbuka, pinjaman KUR (Kredit Usaha Rakyat) sebesar Rp 35 juta diberikan oleh BRI. Sebagian uang itu digunakan untuk modal usaha baru dan sisanya ditabung.

Usaha alat snorkeling di Pulau TidungUsaha alat snorkeling di Pulau Tidung Foto: (bonauli/detikcom)

Usaha teripang kering dan ikan buntal tersebut ia kirimkan ke China. Teripang dan kulit ikan buntal yang dikeringkan dijadikan bahan makanan, bagian dalam ikan buntal dijual sebagai bahan benang operasi.

Namun usaha ini tak bisa menghasilkan uang cepat, pengerjaannya butuh waktu sampai sebulan. Oleh sebab itu, usaha snorkelingnya menjadi dana pendukung.

“Modal Rp 80 juta untuk beli teripang dan ikan buntal ke nelayan. Teripang per kilonya nanti dijual Rp 1,8 juta, dan ikan buntal Rp 3 juta per kilo,” ungkapnya.

Usaha alat snorkeling di Pulau TidungTeripang yang sudah dikeringkan Foto: (bonauli/detikcom)

Menurut Pak Rudy, usaha teripang ini masih jarang dilirik. Perhitungannya tak sampai 5 orang yang masih menggeluti usaha ini, karena modal yang cukup besar.

Bertangan dingin, dua usaha itu berkembang pesat. Berhasil melunaskan pinjaman pertama, Pak Rudy kembali melakukan pinjaman kedua dengan nominal Rp 50 juta, sebagai dana darurat.

Mantri BRI Redi (32) yang berhubungan langsung dengan Pak Rudy berkata bahwa usaha miliknya bisa dibilang melejit. Kedua usaha itu mendapat dukungan penuh dari BRI, apalagi ini termasuk UMKM dari Pulau Tidung.

“Semoga usahanya tambah maju dan terus mengembangkan potensi dari Pulau Tidung,” tutupnya.

Usaha alat snorkeling di Pulau TidungIkan buntel yang dikeringkan Foto: (bonauli/detikcom)

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com

Tentara Buntung Ikut Upacara Bendera



Jakarta

Kepulauan Seribu begitu populer sebagai tempat wisata, khususnya snorkeling. Tapi siapa sangka, ada ‘pantangan’ untuk masuk ke pulau yang satu ini.

Pulau Karya berada di seberang Pulau Panggang, cukup dekat dari Pulau Pramuka. Pulau ini menjadi tempat pemakaman umum (TPU) bagi warga pulau sekitar.

Namun ada yang menarik dari pulau itu. Masa lalunya membuat pulau itu kosong tak berpenghuni dan menjadi seperti sekarang.


Sopyan Hadinata (38), seorang warga asli Pulau Panggang bercerita bahwa Karya hanyalah hutan belantara di masa lalu. Era Soeharto membuat pulau itu berganti status menjadi tempat latihan tembak tentara.

Tak ada yang curiga, latihan singkat dilakukan dan suara senapan bergaung sampai Pulau Panggang. Warga akhirnya tahu apa makna ‘latihan tembak’ itu setelah kerusuhan tahun 1998 terjadi.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Pembangunan dilakukan di sana, rencananya pulau itu akan dijadikan sebagai pusat pemerintahan. Rumah dinas pejabat, Polres, markas pemadam kebakaran hingga TNI direncanakan.

“Waktu pembangunan kita kaget ada puluhan tengkorak di sana,” ucap Iyan (sapaan akrab) lewat sambungan telepon pada Jumat (25/4).

Waktu berlalu, semua fasilitas telah dibangun. Tapi tak ada yang betah di sana. Kabar bahwa pulau itu angker mulai tersebar.

“Yang paling terkenal itu tiap 17an, ada upacara bendera di sana. Tapi yang baris itu hantu tentara,” ucap pria beranak empat itu.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Menurut pengakuan warga, mereka seakan diberi penampakan singkat sewaktu upacara. Sesekali penampakan bendera merah putih yang hendak dikibarkan, sedang yel-yel, atau tentara yang sedang baris-berbaris.

“Tapi ya gitu, badan tentaranya nggak lengkap. Ada yang buntung tangannya, kepalanya, matanya jatuh,” jelasnya.

Dari cerita yang beredar, ternyata tak hanya Pulau Karya yang jadi tempat eksekusi. Pulau-pulau kecil tak berpenghuni di Kepulauan Seribu memang kerap jadi ‘latihan tembak’ pada saat itu.

Tidak ada larangan resmi, namun wisatawan yang hendak kemping di sana harus berhati-hati. Tak jarang, mereka datang untuk meminta bantuan.

“Dulu kan rumah dinas itu masih dipakai sama pejabat yang datang ke sini. Tentara itu suka datang minta odol atau sabun, pakai seragam lengkap. Begitu ditanya ke markas TNI, nggak ada yang ngaku. Dari situ tahu, kalau itu hantu,” jawabnya.

Kini Polres telah dipindahkan. Rumah dinas hampir rubuh, dengan karat dan rayap yang menggerogoti bangunan. Warga masih sering ke sana karena merasa tidak perlu takut, toh mereka hidup berdampingan.

Pulau Karya di Kepulauan SeribuPulau Karya di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

“Warga suka nyuci ramai-ramai di sana karena airnya bagus, tidak seperti di Panggang, asin. Pantainya juga bagus. Anak muda juga main bola kalau sore di sana,” ungkapnya.

Pulau ini dibuka untuk umum, meski begitu traveler yang ingin berwisata ke sana wajib ziarah ke makam leluhur untuk izin.

“Dulu itu ada juru kunci, namanya Uwa Man. Kalau kita mau main di sini, dia nanti panggil penunggu-penunggunya terus bilang kalau anak-anak ini jangan diganggu,” kenangnya.

Kini Uwa Man telah meninggal. Istrinya yang dulu menemaninya sudah pindah dari sana. Itulah mengapa, wisatawan diminta untuk ziarah ke makam bersama warga pulau untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

(bnl/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Pulau di Kepulauan Seribu Ini Penduduknya 100% Muslim



Jakarta

Nama Pulau Pramuka, Tidung atau Pari familiar terdengar sebagai tempat wisata air yang indah. Tapi, apakah kamu akrab dengan nama Pulau Panggang?

Bertetangga dengan Pulau Pramuka, Panggang memilih identitas sebagai pemukiman warga. Leluhur pulau ini terkenal dengan keislamannya yang kental hingga kini.

Tahun 90an, nama Pulau Panggang bergaung sebagai tempat wisata bagi turis. Banyak bule yang mampir ke Pulau Panggang selagi menunggu kapal ke Pulau Pramuka. Tadinya warga senang karena bisa jadi cuan. Tapi lama-kelamaan, sisi negatiflah yang nampak.


“Bule-bule suka pakai baju bikini ke tengah jalan. Naik sepeda dilihatin anak-anak, jadi diusir,” katanya.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuPulau Panggang di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Warga akhirnya keberatan dengan pembukaan pariwisata di sana, apalagi 100% warga di sana beragama muslim. Siapa sangka, di zaman itu, turis Eropa sampai Asia telah lebih dulu mengenal Panggang.

“Pulau Panggang menolak wisatawan karena adab pakaian yang terbuka, dulu di sini agamis, kental banget,” lanjutnya.

Namun karena adanya penolakan, pemerintah mengalihkan pariwisata ke Pulau Pramuka di tahun 2015. Kini pulau itu ramai oleh wisatawan asing dan domestik di akhir pekan. Sementara Panggang benar-benar sesak dengan rumah penduduk. Bahkan homestay pun tidak ada.

Walaupun sekarang jadi pulau pemukiman terpadat di Kepulauan Seribu, Panggang juga punya cerita horor seperti Pulau Karya.

“Tahun 90an, pernah ada turis China dari Jakarta naik speed boat sekeluarga,” ucapnya.

Pulau Panggang di Kepulauan SeribuPulau Panggang di Kepulauan Seribu Foto: (bonauli/detikcom)

Namun saat itu cuaca buruk. Kapal itu tak dapat menahan gelombang dan terbalik. Istri dari keluarga itu jadi satu-satunya korban tidak selamat, sementara ayah dan anak-anaknya selamat.

“Dia dievakuasi di Pulau Panggang. Kulitnya putih bersih,” kata Iyan.

Entah mengapa, malam setelah kejadian seorang warga kesurupan. Warga pulo (sebutan untuk orang Kepulauan Seribu) itu tiba-tiba berbahasa China.

“Sejak itu dia dipanggil ‘Si Cantik’,” katanya.

Warga mengaku bahwa sesekali Si Cantik akan menampakkan diri di dermaga Pulau Panggang. Ia pun menjadi ‘penghuni’ dermaga yang diakui.

(bnl/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Hidden Gem Bogor Favorit Turis Arab



Bogor

Pesona Danau Lido di Bogor tak hanya memikat wisatawan lokal, tapi juga sukses meluluhkan hati turis Timur Tengah. Dengan rakit kayu sederhana, mereka menyusuri danau sambil menyantap nasi kebuli dan shawarma-sebuah pengalaman unik yang kini jadi primadona wisata tersembunyi di selatan Bogor.

Hanya sekitar 5 menit dari pintu keluar tol Cigombong, perahu rakit Danau Lido menjadi tempat wisata hidden gem Bogor. Setiap hari, ada saja pengunjung yang datang untuk berkeliling menikmati keindahan Danau.

Namun di musim-musim tertentu, misalnya pertengahan tahun, Danau Lido justru penuh dengan turis timur tengah. Mereka berkeliling Danau Lido dengan perahu rakit sambil makan siang.


“Tahun kemarin ada 627 pemandu yang membawa turis Arab ke sini,” kata Indra J Lesmana (35), ketua UMKM kluster perahu rakit Danau Lido yang kini menjadi binaan BRI.

Angka itu memang fantastis, tapi sebenarnya sudah jauh berkurang. Di era kejayaannya sebelum pandemi, Danau Lido dapat mencatat 1.600 pemandu, satu kelompok bisa sampai 10 turis. Tak terbayang betapa ramainya Danau Lido saat itu.

Wisata perahu rakit di Danau LidoWisata perahu rakit di Danau Lido (bonauli/detikcom)

“Kebanyakan mereka bawa turis Arab dari Puncak, Sukabumi dan Cianjur,” dia menambahkan.

Indra mengatakan bahwa turis-turis Arab sangat senang dengan atraksi ini. Mereka bisa makan sambil berkeliling danau dengan santai.

Jumlah perahu rakit di Danau Lido sekitar 24 unit, warga sekitar memiliki dua atau tiga perahu sekaligus. Mereka menjadi mitra dari Rumah Makan Yuliana Lido (RMYL).

Sebenarnya di sekitar danau ada beberapa rumah makan dengan konsep serupa, berkeliling danau dengan rakit. Namun perahu rakit itu tidak lagi dikelola oleh warga, melainkan swasta. RMTY menjadi satu-satunya restoran yang bermitra dengan kluster perahu rakit.

Wisata perahu rakit di Danau LidoWisata perahu rakit di Danau Lido (bonauli/detikcom)

Melihat banyaknya turis Arab, RMYL membuat menu khusus Arab. Isinya tak jauh beda dengan menu biasa hanya ada tambahan shawarma dan nasi kebuli yang khas timur tengah. Selain itu, papan penunjuk berbahasa Arab yang ada di seisi rumah makan mempertegas banyak tamu Arab singgah di sini.

Zaman semakin berkembang, selain turis yang bertambah, kecanggihan teknologi disempurnakan dengan adanya digitalisasi. BRI mempermudah pembayaran perahu rakit dan rumah makan dengan kode QRIS.

“Awalnya agak sulit, karena kebanyakan di sini kan orang tua. Tapi seiring berjalannya waktu, mulai pada ngerti kalau anak-anak muda bayar itu pakai QRIS,” kata pria asli Cigombong itu.

Wisata perahu rakit di Danau LidoWisata perahu rakit di Danau Lido gunakan QRIS (bonauli/detikcom)

Pengecekan pembayaran perahu rakit pun semakin mudah karena terekam dalam sistem. Apalagi QRIS BRI bisa menerima pembayaran dari berbagai bank.

Nurmawan (53) datang dari Depok hanya untuk menikmati ikan bakar Danau Lido yang terkenal tidak bau tanah atau lumpur. Benar saja, begitu tiba, ia memesan sekilo ikan nila bakar dengan nasi, lalapan dan sayur kangkung tumis. Awalnya ia ragu, karena porsinya terlihat besar. Mengunyah sambil melihat pemandangan membuat hidangan habis tak bersisa.

“Memang betul enak, ikannya segar,” katanya.

Ibu satu anak itu pun merasa tidak repot karena pembayaran dapat dilakukan dengan menggunakan QRIS BRI. Habis sampai Rp 200 ribuan, ia tak perlu repot memikirkan uang kembalian.

Wisata perahu rakit di Danau LidoWisata perahu rakit di Danau Lido (bonauli/detikcom)

Peran BRI di Danau Lido

Fahmi Hidayat, pemimpin BRI Bogor Dewi Sartika (Bordes), mengakui bahwa turis-turis yang datang ke Danau Lido adalah berkah sekaligus tantangan yang harus dihadapi.

“Tantangan yang kita lihat adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan wisatawan,” ucapnya pada detikTravel, Jumat (21/3).

BRI sedang mencoba untuk bekerjasama dengan ekosistem kluster perahu rakit Danau Lido. Dalam hal ini, Fahmi mengatakan bahwa BRI memberikan pendampingan seperti kursus bahasa Arab sederhana.

Wisata perahu rakit di Danau LidoWisata perahu rakit di Danau Lido (bonauli/detikcom)

“Minimal menyebutkan harga, tawar menawar atau bilang iya,” ujar dia.

Wisata perahu rakit di Danau LidoPilihan menu arab di wisata perahu rakit di Danau Lido (bonauli/detikcom)

Ia juga mengapresiasi RMYT yang menggunakan menu berbahasa Arab. Nasi kebuli yang masuk dalam daftar menu juga sangat didukung karena memberikan rasa ‘rumah’ saat mereka sedang jauh dari negaranya.

“Memang ya karena konsumennya dari saudara-saudara kita dari Timur Tengah ya mau tidak mau ya minimal kebuli ada-lah gitu,” kata dia.

(bnl/fem)



Sumber : travel.detik.com

4 Desa Wisata Cantik di RI yang Butuh Perhatian



Lampung

Indonesia adalah negeri kepulauan yang kaya akan desa wisata cantik. Dari sekian banyak desa wisata di RI, ada empat yang butuh perhatian pemerintah. Apa saja?

Desa wisata di Indonesia menyimpan banyak permata tersembunyi yang tersebar dari pesisir hingga pegunungan. Desa-desa ini tentu saja memiliki keanekaragaman alam dan budaya yang patut dikunjungi wisatawan.

Namun empat desa wisata berikut ini butuh perhatian lebih agar pengembangan yang berbasis potensi budaya lokal, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat dapat membuka jalan menuju masa depan pariwisata yang lebih berkelanjutan. Berikut empat desa wisata tersebut:


1. Desa Wisata Teluk Kiluan di Lampung

Desa wisata Kiluan Negeri di Lampung dikenal karena keberadaan kawanan lumba-lumba yang bermigrasi di Teluk Kiluan. Lumba-lumba yang saling berenang berkejaran dengan kapal menciptakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Teluk Kiluan LampungTeluk Kiluan Lampung Foto: Nopi_kikie/d’traveler

Laguna Gayau dan pantai-pantai berbatu di teluk Kiluan juga menjadi bagian dari kekayaan alam pesisir yang ditawarkan di desa wisata ini. Sayangnya, di balik keindahan tersebut, teluk Kiluan menghadapi realitas keterbatasan infrastruktur, akses layanan kesehatan yang minim, serta persoalan pengelolaan sampah.

2. Desa Wisata Wonokitri di Jawa Timur

Berada di ketinggian hampir 2.000 mdpl, desa wisata Wonokitri di Kabupaten Pasuruan ini menjadi gerbang menuju kawasan Bromo dari sisi utara.

Tidak hanya menawarkan lanskap pegunungan yang menakjubkan, Wonokitri juga menjadi pusat budaya masyarakat Suku Tengger, yang masih mempertahankan adat dan tradisi dalam kehidupan sehari-hari.

Kebun Edelweis WonokitriKebun Edelweis di desa wisata Wonokitri Foto: (Muhajir Arifin/detikcom)

Budidaya bunga edelweiss yang bersifat sakral, kini telah dikembangkan sebagai bagian dari ekowisata berbasis konservasi di desa wisata itu.

Di balik sektor pariwisata yang terus tumbuh, ternyata desa Wonokitri juga dihadapkan dengan risiko kerusakan alam, contohnya longsor akibat deforestasi. Tantangan itu mendorong kebutuhan terhadap praktik agroforestri yang berkelanjutan di desa ini.

3. Desa Wisata Pulau Derawan di Kalimantan Timur

Di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Pulau Derawan menawarkan pemandangan bawah laut yang memesona. Terumbu karang, penyu hijau, ubur-ubur tak menyengat, hingga pari manta menjadikan perairannya salah satu kawasan biodiversitas laut yang penting.

Namun, di balik pesonanya, pulau Derawan menghadapi tantangan seperti abrasi pantai, pemukiman yang kian padat, dan berkurangnya hasil tangkapan laut.

4. Desa Wisata Dayun di Riau

Kunjungan Sandiaga Uno ke Desa Wisata Dayun, Siak, Riau.Desa Wisata Dayun di Siak, Riau. Foto: Dok. Kemenparekraf

Desa wisata Dayun di Kabupaten Siak, Riau, berdiri di tengah bentang alam gambut yang kaya, sekaligus rentan. Di sini, berbagai spesies langka seperti harimau Sumatera dan burung rangkong menemukan rumahnya.

Desa wisata Dayun pernah dikunjungi oleh Menparekraf Sandiaga Uno kala itu. Sebagai andalan, desa ini mengedepankan wisata edukasi berbasis alam dan buatan.

Namun, perubahan fungsi lahan untuk industri dan perkebunan sawit, ditambah dengan ancaman kebakaran hutan, menempatkan desa wisata Dayun dalam tekanan sehingga butuh perhatian dari pemerintah.

Tantangan seperti perubahan iklim, keterbatasan infrastruktur, dan tekanan ekonomi memperlihatkan perlunya pendekatan pembangunan yang berbasis komunitas dan kolaborasi lintas sektor.

Lewat kolaborasi lintas sektor, desa-desa wisata ini tidak hanya menjadi destinasi perjalanan, tetapi juga bisa menjadi cermin masa depan pembangunan berkelanjutan Indonesia.

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn pun mengajak anak-anak muda dari multi-disiplin ilmu untuk berkontribusi langsung di desa-desa tersebut lewat program Genera-Z Berbakti.

“Genera-Z Berbakti merupakan bagian dari campaign Bakti BCA. Tahun ini kami mengadakan call for proposal. Kami memanggil anak-anak muda di kampus-kampus seluruh Indonesia dari multi-disiplin ilmu. Mereka diberi kesempatan untuk join mengidentifikasi masalah, kemudian turun, live in, dan berkontribusi langsung di empat desa binaan Bakti BCA,” terang Hera.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Menyelami Dunia Kopi di Pasar Santa



Jakarta

Pecinta kopi pasti sudah tidak asing dengan Kedai Dunia Kopi di Pasar Santa. Kedai kopi ini sederhana tapi istimewa.

Wangi kopi menyeruak dari lantai basement Pasar Santa, Jakarta Selatan. Plang kedai ‘Dunia Kopi’ tampak di tengah bangunan. Jajaran toples kopi dengan kapasitas 5 kg tertata rapi di etalase.

Pak Suradi (53), pemilik Dunia Kopi tampak sibuk menghitung pesanan. Ia pindah dari satu gerai ke gerai lain. Mungkin bagi yang tidak biasa akan bingung, karena ternyata Pak Suradi memiliki banyak gerai dalam satu lantai.


“Sekitar 40an gerai, termasuk untuk gudang,” ucap pria asal Purwodadi itu.

Dunia Kopi ada sejak tahun 2000, saat itu baru satu kios yang ia miliki. Lambat laun, usahanya menapaki tangga kepopuleran, terlihat dari banyaknya wisatawan internasional yang datang ke sana.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Malahan awal-awal itu yang datang bule-bule,” katanya.

Usahanya ini memang sudah lama ia cita-citakan dengan tujuan mengenalkan nama Indonesia lewat kopi.

“Di sini (Indonesia) banyak kopi, masa nggak bisa aku kelola dengan baik,” katanya pada detikTravel, Rabu (30/4).

Saat pertama kali berjualan, hanya dua jenis kopi yang dijual yaitu Arabika dan Robusta. Kopi arabika cenderung dengan citarasa yang kompleks, sementara robusta lebih ke rasa pahit. Kalau pohon arabika tumbuh di ketinggian 1.000-2.000 mdpl, pohon kopi robusta tumbuh di ketinggian lebih rendah, di bawah 700 mdpl.

“Dulu hanya 6 toples saja, sekarang kita buat ekosistemnya, langsung dari petani dari seluruh Indonesia. Jenisnya kita tambah jenisnya, ada robusta, arabika, liberika dan escelsa,” jawabnya.

Dunia Kopi Pasar SantaPak Suradi pemilik Dunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

Varietas kopi yang ditawarkan juga beragam, mulai dari yellow honey, black honey, sigararutang, sampai yellow bourbon. Bisa dibilang hampir lengkap, tak ayal banyak pelanggan yang hilir mudik di sana.

Di tiap kios, pegawai Dunia Kopi sibuk menimbang kopi. Pelanggan mencatat pesanan mereka dan memilih jenis kopi. Kalau ragu, mereka bisa langsung mencicip kopi di sudut basement, Pak Suradi menyiapkan kios khusus untuk mencicipi kopi. Maklum, kebanyakan pembeli adalah reseller kelas kakap.

“Semua boleh minum kopi, gratis. Ajang promosi lah begitu, bagi-bagi gratis, tidak dibatasi,” ungkap pria kelahiran Blora itu.

Untuk kopi gratis ini saja, ia bisa habis 5-10 kg per hari. Kedai kopi itu beroperasi dari pukul 06.00 WIB sampai 18.00 WIB dengan total karyawan 25 orang, penjualan sehari tak kurang dari satu ton.

Modal yang kuat sudah harus disiapkan. Selidik punya selidik, ternyata Pak Suradi menyuntik usahanya dengan dana pinjaman dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) sampai 4 kali.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Pinjaman pertama itu Rp 100 juta, pinjaman kedua Rp 200 juta, pinjaman ketiga Rp 300 juta dan terakhir lunas tahun ini Rp 500 juta,” ucapnya.

Selain dukungan modal, Pak Suradi juga merasa sangat terbantu dengan syarat-syarat KUR. Saking sibuknya, berkas-berkas it ditandatangani di kedainya, suatu kemudahan bagi UMKM.

Pak Suradi berkata bahwa turis yang paling banyak datang belakangan ini adalah orang Korea dan Jepang. Mereka sengaja memilih kopi sebagai oleh-oleh. Turis China, Malaysia dan Singapura juga masih daftar 5 turis yang paling banyak singgah.

“Kemarin dari Jepang beli sampai dua koper penuh. Mereka suka kopi Toraja, luwak dan gayo. Tapi paling favorit luwak,” ungkapnya.

Sepanjang usahanya, ia ingat akan satu turis asal Rusia. Turis ini beli kopi sampai dua karung, jenis kopi Bali. Satu hari beli satu karung, semua untuk oleh-oleh. Mereka datang saat weekday.

Beda lagi dengan wisatawan domestik, sukanya kopi robusta dan arabika, datangnya saat weekend. Dunia kopi terasa seperti tempat wisata di Sabtu pagi.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Mereka datang naik sepeda, ke sini ngopi gratis. Di sini tempatnya nyaman untuk ngumpul dan nggak dibatasi,” jawabnya.

Per 100 gram, kopi ini dijual dengan harga paling murah Rp 13 ribu dan yang paling mahal Rp 20 ribu yaitu excelsa ijen dan liberika Jambi.

Sukses dan tidak pelit ilmu, Pak Suradi membuka kelas barista untuk anak-anak yatim dan pesantren secara gratis. Ada pula kelas umum untuk mereka yang baru mau belajar, biayanya Rp 500 ribu sampai mahir.

Jay (35) adalah trainer dan mekanik mesin kopi di Dunia Kopi. Sejak berkarir sebagai barista di sana pada tahun 2019, ia telah melatih sekitar 300 orang, termasuk peserta disabilitas netra dan rungu.

“Bangga sih sebenarnya, apa yang selama ini diinginkan anak-anak barista tercapai, banyak bule uang suka kopi datang ke Indonesia,” jawabnya.

Pak Suradi tak merasa rugi dengan itu semua. Ia malah senang bisa menjadi perpanjangan tangan dan bermanfaat bagi sekitar. Ia berterima kasih juga pada BRI yang telah mendukungnya selama ini.

“Maju terus untuk pelayanannya, sukses untuk BRI,” katanya.

Dunia Kopi Pasar SantaDunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

Pariwisata Lewat Kopi

Perkembangan pariwisata kopi tak lepas dari perhatian Pengamat Ahli Pariwisata Profesor Azril Azhari. Sebagai pecinta kopi, ia bangga nama kopi Indonesia mulai dilirik oleh dunia.

“Ini sangat bagus, tapi sekali lagi sayang karena kita hanya fokus pada kopinya saja,” ungkap mantan dosen Universitas Indonesia itu.

Sejatinya, proses alami yang terjadi pada kopilah yang membuat rasanya mewah. Sebut saja kopi luwak, proses fermentasi yang terjadi di lambung luwak lah yang membuat cita rasa kopi itu jadi berbeda.

“Kopi yang bagus itu sudah difermentasi, kalau di luar negeri itu dibuat jadi tidak alami,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof Azril mengatakan bahwa sejak dipetik memang kopi Indonesia mengalami proses alami. Kopi dijemur di panas matahari sehingga kering dengan perlahan.

“Di luar negeri itu keringnya dipaksa lewat oven, di sini dijemur di jalanan,” katanya sambil tertawa.

Pada tahun 2018, Prof Azril mematenkan batik dari ampas kopi. Saat dipakai, batik akan mengeluarkan wangi semerbak layaknya kopi yang dihidangkan.

Dunia Kopi Pasar SantaPak Suradi bersama reseller Dunia Kopi Pasar Santa Foto: (bonauli/detikcom)

“Harusnya bukan cuma kopinya tapi semua aspek kopi, ampasnya dijadikan bahan untuk spa, sementara sejarah kopi di Maluku dan Sumatera dijadikan paket wisata ‘Spicy Road’, melihat kembali bagaimana VOC menguasai kita di zaman itu,” jawab Prof Azril.

Wisata jalur rempah Indonesia, itulah yang menjadi impian dari Prof Azril. Pendiri ilmu pariwisata Indonesia itu ingin agar kopi Indonesia terus maju dan mengharumkan nama bangsa.

“Indonesia itu sudah terkenal rempah-rempahnya dari dulu, ini tinggal pemerintah saja bagaimana mendukungnya,” tutupnya.

(bnl/bnl)



Sumber : travel.detik.com

Menjelajahi Kapal Hantu dan Hutan Dinosaurus di Lampung



Lampung

Liburan di pantai biasanya identik dengan bermain pasir dan berenang. Tapi di Lampung, kamu malah bisa menjelajahi kapal hantu hingga hutan dinosaurus.

Jungle Sea, sebuah theme park unik yang terletak di pesisir Lampung Selatan akan membawa pengunjung tidak hanya bisa menikmati keindahan pantai, tapi juga merasakan sensasi bermain di tengah wahana penuh adrenalin.

Wahana itu adalah Ghost Ship alias Kapal Hantu hingga petualangan seru di Hutan Dinosaurus. Mengusung konsep yang menggabungkan wisata alam dengan hiburan keluarga, Jungle Sea berdiri megah di atas lahan seluas 4,2 hektar.


Di area seluas itu, pengunjung bisa menjelajahi lebih dari 20 wahana bermain yang menawarkan pengalaman seru, mulai dari wahana edukatif hingga permainan yang memacu adrenalin.

Salah satu daya tarik utama adalah Ghost Ship, sebuah wahana rumah hantu berkonsep kapal karam yang menyajikan suasana mistis di tengah ombak pantai. Adrenalin pengunjung diuji saat mereka melintasi lorong-lorong gelap dengan efek suara dan visual menyeramkan.

Ghost Ship, wahana rumah hantu berkonsep kapal karam bersuasana mistis di tengah ombak pantai.Ghost Ship, wahana rumah hantu Foto: Tommy Saputra

Reza Adikresna, Owner Jungle Sea, mengungkapkan bahwa konsep taman hiburan ini memang terinspirasi dari keinginannya menghadirkan pengalaman wisata pantai yang berbeda dari biasanya.

“Jungle Sea ini hadir di Lampung Selatan untuk memberikan sensasi berbeda dari biasanya. Biasa theme park ini ada di tengah kota, jadi ini wahana pertama yang ada pantainya. Disini ada total 20 wahana bermain di lahan seluas 4,2 hektare, ke depannya direncanakan akan diperluas menjadi 25 hektare,” kata dia.

Sedangkan Hutan Dinosaurus menjadi wahana favorit keluarga, terutama anak-anak yang penasaran berpetualang di antara replika dinosaurus raksasa yang tampak hidup berkat teknologi suara dan gerak mekanis.

Wahana Hutan Dinosaurus di Jungle SeaWahana Hutan Dinosaurus di Jungle Sea Foto: Tommy Saputra

Ada juga beberapa spot foto bertema alam Jepang hingga Yunani yang Instagramable. Jungle Sea juga menyediakan area kuliner dan panggung hiburan yang rutin menampilkan pertunjukan musik serta atraksi seni.

Menurut Reza, Jungle Sea juga menjadi bentuk dukungan untuk mendongkrak pariwisata Lampung Selatan, sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar.

“Kami berharap Jungle Sea bisa jadi magnet wisata baru, apalagi letaknya strategis dekat dengan kota dan mudah dijangkau. Selain itu, kami juga libatkan warga lokal dalam operasional dan pengembangan wahana di sini,” tambahnya.

Dengan harga tiket yang ramah di kantong yakni Rp 50 ribu untuk per orang, detikers bisa mencoba seluruh wahana yang lengkap untuk segala usia, Jungle Sea menjadi destinasi liburan keluarga yang menawarkan sensasi berbeda di tepi pantai, hanya di Lampung Selatan.

“Untuk sekarang ini masih promo di harga Rp 50 ribu itu bisa sepuasnya bermain di semua wahana. Promo ini berlaku hingga 3 bulan ke depan,” imbuh Reza.

——-

Artikel ini telah naik di detikSumbagsel.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

Makam Misterius di Jalur Pantura Lasem, Konon Milik Intel Zaman VOC



Lasem

Jalur Pantai Utara (Pantura) Lasem menyimpan makam yang sederhana namun misterius. Konon, makam itu milik ‘agen rahasia’ pada zaman VOC.

Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Jalur Pantura yang membelah wilayah Lasem di kabupaten Rembang, Jawa Tengah tersembunyi sebuah makam sederhana penuh misteri.

Terletak tidak jauh dari badan jalan. Tepat di sebelah utara Jalur Pantura masuk Dukuh Caruban, Desa Gedongmulyo, Lasem. Tak jauh dengan lokasi Sungai Kiringan atau Kairingan, atau sebelah timurnya, makam ini dikenal masyarakat sebagai makam Mbah Galio atau Mbah Sedandang.


Tidak sedikit yang percaya, ia bukan orang biasa, melainkan seorang inteligen sekaligus pengawal setia Raden Panji Margono, tokoh perlawanan terhadap VOC Belanda dalam Perang Kuning di Lasem.

Sepintas melihat, makam ini nyaris tidak mencolok. Diteduhi pohon tua dan dilindungi cungkup kayu yang sangat sederhana. Keberadaannya seolah terlupakan oleh modernitas. Namun, bagi sebagian masyarakat Lasem, makam ini adalah saksi bisu perjuangan heroik di masa lampau.

“Nama Mbah Galio memang tidak muncul dalam buku-buku sejarah resmi, tapi dalam penuturan masyarakat tua, beliau adalah orang kepercayaan Raden Panji Margono. Perannya cukup penting dalam Perang Kuning melawan VOC yang terjadi sekitar abad ke-18,” ujar Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Forkmas) Lasem, Ernantoro, Minggu (4/5/2025).

Menurut Ernantoro, Mbah Galio bukan sekadar pengawal. Ia disebut-sebut sebagai mata-mata ulung, sebagai seorang intelijen pemberi informasi dalam mengatur strategi perang.

Makam misterius di Pantura Lasem, Rembang, Minggu (4/5/2025). Konon makamnya Mbah Galio (Mbah Sedandang) pengawal Raden Panji Margono, tokoh pemimpin Perang Kuning.Makam misterius di Jalur Pantura Lasem Foto: Mukhammad Fadlil/detikJateng

Ia mampu menyamar dengan sangat baik, bahkan hingga dianggap orang biasa oleh masyarakat umum. Karena kesederhanaan dan kemisteriusannya, ia dijuluki Mbah Sedandang, sosok yang selalu membawa dandang (panci tradisional untuk mengukus) dan berpakaian seperti rakyat jelata.

“Konon, beliau sering muncul tiba-tiba di tempat berbeda. Ini yang membuatnya dijuluki sebagai intelijen. Dia suka nyamar dengan memikuk dandang tiap ke mana-mana. Namun, hingga kini, keberadaan dan identitas aslinya tetap menjadi teka-teki,” tambah Ernantoro.

Perang Kuning sendiri merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perlawanan lokal Lasem terhadap kolonialisme Belanda.

Dipimpin oleh Raden Panji Margono, perang ini melibatkan jaringan perlawanan rakyat yang tersebar hingga ke pelosok desa. Banyak tokoh penting yang gugur, dan sebagian jejaknya terkubur oleh waktu, salah satunya adalah Mbah Galio.

Meski tidak tercatat dalam arsip resmi kolonial, makam Mbah Galio tetap dihormati oleh warga sekitar. “Tempat ini sering dianggap angker, tapi sebenarnya tidak,” ungkap Ernantoro.

Forkmas Lasem kini tengah mengusulkan agar situs makam Mbah Galio dijadikan cagar budaya lokal, sebagai upaya pelestarian sejarah lisan yang masih hidup di tengah masyarakat.

“Sejarah tidak selalu harus tertulis. Selama masih hidup dalam ingatan kolektif, ia layak dihormati dan dilestarikan,” pungkasnya.

Di tengah lalu lintas kendaraan berat dan debu jalanan Pantura, makam Mbah Galio berdiri diam, menyimpan cerita tentang keberanian, pengabdian, dan misteri yang belum terpecahkan.

——-

Artikel ini telah naik di detikJateng.

(wsw/wsw)



Sumber : travel.detik.com

View-nya Bikin Takjub! Khofifah Ajak Wisatawan Coba Jembatan Kaca di Bromo



Probolinggo

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi Jembatan Kaca Seruni Point yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo.

Khofifah mengaku takjub atas keindahan Gunung Bromo yang disuguhkan dari sisi Jembatan Kaca Seruni Point. Ia optimis bahwa ikon wisata yang menawarkan sensasi berbeda ini akan menjadi magnet bagi pariwisata di kawasan TNBTS Probolinggo.

Khofifah melanjutkan, keberadaan Jembatan Kaca ini diharapkan bisa memaksimalkan waktu kunjungan wisatawan, utamanya wisatawan mancanegara yang datang dengan kapal Cruise.


“Kalau di daerah Jawa Tengah bisa dua hari untuk mengunjungi Borobudur dan Prambanan yang ditambah wisata budaya di Jogja, kemudian dilanjutkan ke Jawa Timur harapan kami juga bisa dua hari di Bromo dan sekitarnya,” kata Khofifah, Minggu (4/5/2025).

Rencana tersebut disebutnya sangat mungkin, ketika nantinya pentas budaya dan tenant-tenant di sekitar Jembatan Kaca bisa diperkuat. Sehingga ada tambahan titik di Bromo yang bisa dinikmati keindahannya oleh wisatawan di siang maupun sore hari.

Keindahan Bromo sendiri disebutnya juga sudah mendapat pengakuan dari berbagai pihak baik lokal maupun internasional. Terutama di media sosial, banyak exposure atau promosi terhadap keindahan Bromo.

“Dan berbagai lembaga juga memberikan review yang luar biasa. Tentu ini jadi benefit yang baik bagi Bromo, Probolinggo, Jawa Timur dan Indonesia,” ucapnya.

Untuk itu, melalui Jembatan Kaca Seruni Point ini, Khofifah mengajak seluruh masyarakat untuk bisa berkunjung dan menikmati eksotisnya Gunung Bromo dari sisi lain.

“Sekarang kita berdiri di atas jembatan kaca Bromo, dan bisa disampaikan pada dunia bahwa sisi sisi eksotis Bromo juga bisa dilihat dari titik ini selain di kawah Bromo, pasir berbisik, Seruni Point,” tuturnya.

Khofifah menegaskan bahwa keamanan tetap menjadi prioritas dalam pengoperasian Jembatan Kaca tersebut. Akan ada pembatasan di saat wisatawan baik dalam dan luar melewati jembatan Kaca Seruni Point.

“Saya rasa ini jadi area dimana kita bisa punya peluang lebih luas menikmati keindahan yang Allah anugerahkan di bumi Probolinggo,” kata Khofifah.

“Mudah mudahan hadirnya jembatan kaca ini bisa menguatkan gravitasi seluruh wisatawan untuk masuk area wisata Bromo yang luar biasa ini,” katanya.

Artikel ini sudah naik di detikJatim. Simak selengkapnya di sini.

(ddn/ddn)



Sumber : travel.detik.com